25 Februari 2017

Menulis Pahlawan

Mesti dipahami menulis itu bukan tindakan heroik. Atau suatu usaha untuk menunjukan sikap kepahlawanan.

Pahlawan atau hero, memang penokohan yang dicitrakan tanpa cela, atau kesalahan. Dengan begitu pahlawan adalah sosok ideal yang mengatasi segala kecacatan. Dalam segala kisah heroik, pahlawan kadang merumuskan dirinya sebagai sosok yang mengatasi masalah dengan cara "sekali pukul", sebab itulah hero selalu dielu-elukan. Selalu dibangga-banggakan.

Menulis, akibat bukan tindakan heroik, maka dia juga bukan tindakan "sekali pukul". Menulis itu berbeda, dia berproses, dilatih, dan dilatih. Karena itulah wajar jika tidak ada tulisan yang "lengkap", "utuh", dan "universal". Menulis dengan itu adalah tindakan merevisi ide, dan menyusun gagasan. Lagi, lagi, dan lagi.

Atas semua itu, selalu ada tulisan pertama, tulisan kedua, tulisan ketiga, dan begitu seterusnya, hingga sedikit demi sedikit otot kepenulisan terbentuk secara alamiah dan menyempurna. Sampai akhirnya seseorang mahir menyusun gagasan dalam seluruh karya tulis selanjutnya.

Mengapa banyak yang susah menciptakan gagasannya dalam bentuk karya tulis? Itu karena sebagian besar orang-orang selalu mengangap menulis adalah tindakan kepahlawanan. Padahal, menulis itu sederhana, yakni mau berlatih diri, terus dan terus. Menciptakan tulisan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Akhirnya, menulis sebagai suatu aktivitas hanya soal komitmen dan kemauan yang keras. Selama kita masih memiliki gagasan, sesederhana apa pun itu, yakin dan percaya, menulis bukan pekerjaan yang susah dan rumit.


24 Februari 2017

Literasi Kenangan Melawan Pusara Waktu

---terinspirasi dari gagasan Alwy Rachman dalam Anging Mammiri karya Abdul Rasyid Idris.

Bagi penyair, kenangan memudahkan “pekerjaan” kesusastraannya menjadi lebih dinamik. Bahkan kenangan menjadi senyawa aktif untuk menghidupkan bahasa.

Penyair, dan pekerjaan sejenisnya adalah orang-orang yang teguh meriwayatkan kenangan sebagai bagian dari kehidupan eksistensialnya. Masa sekarang kenangan mesti direbut dari “memori buatan” alat-alat canggih, semisal gadget.

Agar kenangan dapat terus mengabadi, maka tiada jalan lain dengan mengangkatnya sebagai literasi kenangan.

Juga, musuh abadi kenangan kadang muncul menjadi berupa sosok-sosok iliterasi. Sosok-sosok iliterasi adalah siapa pun yang hari ini selalu antipati terhadap segala upaya literasi agar dapat terus bergerak dan bekerja sebagaimana fitrahnya.

Sosok iliterasi yang paling nyata di era sekarang, selain teknologi memori buatan adalah negara. Kadang negara menjadi tokoh antagonis untuk memberangus aktivitas anak-anak bangsa demi mengabadikan kenangannya.

Kenangan yang tak lain adalah saudara kembar sejarah, dianggap berbahaya jika itu diparaskan dalam bentuk literasi. Sejarah barangkali memang medan yang selalu dapat dikontrol negara, tapi literasi yang bersifat spontan dan otentik adalah geliat yang sulit diringkus negara demi penertiban ingatan.

Negara yang memusuhi kenangan bisa melakukan apa saja. Apabila dikembalikan kepada perangkat kerja negara berupa aparatus ideologi, maka negara dalam wujudnya yang paling terang adalah totalitarianisme.

Pengalaman Indonesia setengah abad merupakan ilustrasi kongkrit bagaimana kenangan diberangus dan diberlakukan secara diametrial dengan sejarah (ingat sejarah 65). Sejarah yang bersifat derivatif dan analitik, membuat dirinya menjadi kisah yang mudah ditekuk berdasarkan suatu sistem pemikiran tertentu.

Sementara kenangan yang diliterasikan, akibat sifatnya yang spontanik dan otentik memudahkan dirinya bebas bergeliat di antara tenunan sejarah yang dibuat negara.

Itulah sebabnya, sejarah versi negara dan kenangan versi penyair (sastrawan dlsb) merupakan dua ekstrim yang sulit dipertemukan dalam meja dialog. Imbas totalitarianisme negara, meja dialog disingkirkan demi memusuhi kenangan yang transparan menjadi cermin pengingat peristiwa masa lalu.

Literasi kenangan bagi saya pribadi adalah suatu upaya sederhana untuk menyandingkan partikularitas-subjektif berhadap-hadapan dengan segala sistem yang berusaha mengkerangkeng ingatan, negara misalnya. Itu artinya, literasi kenangan yang memerdekakan ingatan mesti mengetahui satu-satunya cara untuk melawan hanya dengan meriwayatkan ingatan menjadi periwayat kenangan.

Akhirnya ini akan kembali kepada suatu kalimat dahsyat: ikatlah ilmu hanya dengan cara menulisnya. Hanya denga menulis, seseorang bakal mengabadi, ucap Pramoedya Ananta Toer.

Literasi kenangan apabila diacu berdasarkan garis waktu, merupakan kerja literatif yang menengahi tegangan masa lalu dengan masa depan. Dengan kenangan, seseorang dapat menghidupi kembali masa lalu dan menerangi masa depan di waktu kekiniannya. Itulah sebabnya mengapa kenangan sangat mudah membuat seseorang mengalami “perasaan mengabadi”, suatu perasaan yang sulit ditampik.

Kenangan memang urusan masa lalu, tapi secara eksistensial dia sulit diantisipasi. Apalagi jika itu kemudian ditangkap menjadi literasi kenangan. Maka dengan sendirinya itu merupakan cara seseorang menghidupi diri dan membesarkan masa depannya.

23 Februari 2017

Literasi Kenangan

Barangkali memang ingatan manusia itu terbatas. Sebab itulah teknologi datang.

Bagi yang menjadikan media sosial sebagai kehidupan keduanya pasti mengalami; suatu pagi di suatu tempat tiba-tiba sebait penggalan "status" datang kembali, atau sebuah gambar yang benar-benar sudah kita lupakan, tiba-tiba menyeruak mengintrogasi ingatan.

Atas itu seketika suatu peristiwa dikenang kembali. Mungkin juga dirayakan kembali. Atau bahkan sudah tidak berarti apa-apa.

Tapi, manusia memang mahluk yang selalu merindukan masa silam. Bahkan, dalam perspektif tertentu "sejarah" yang memiliki tiga bilah waktu, senantiasa memproyeksikan masa depan tanpa bisa menghapus sepenuhnya masa lalu.

Itulah sebabnya, kenangan sangat penting. Di waktu sekarang, ketika masa depan begitu dipuja, kenangan adalah satu-satunya jalan agar manusia tidak lupa: siapa dirinya.

Bagi penyair, kenangan bukan sebatas gejala memori yang menghubungkan ingatan dengan masa lalu, melainkan suatu cara untuk menghadirkan bahasa yang puitik. Di situ kenangan alih-alih bukan ikhwal yang statik, tapi menjadi api dinamis yang menghidupi kehidupan kesastraan sang penyair.

Dalam novel The Sea, John Banville mendenotasikan: masa lalu berdetak di dalam diri saya, berirama bagai jantung kedua (Alwy Rachman dalam Anging Mammiri).

Masa lalu sebagai jantung kedualah yang seyognanya juga harus dialami orang-orang yang setiap detik dikepung gadget. Imbas memori yang dicabut dari diri dan direkam melalui memori buatan, membuat jantung berdetak tanpa "sejarah".

Ibarat penyair, orang-orang yang dikepung gadget harus dihidupi masa lalu sebagai jantung yang benar-benar berdetak dalam diri. Membuatnya menjadi mahluk yang benar-benar hidup "di dalam" kenangannya.

Karena itulah kenangan harus diperjuangkan. Tanpa itu kita akan tenggelam dalam pusara waktu. Era kiwari perjuangan atas kenangan ialah dengan cara melawan musuh tercanggih manusia: teknologi.

Teknologi (facebook dlsb) mungkin saja punya daya menyulut ingatan, tapi itu hanya sebatas citra bahasa, gambar, atau "status". Dengan kata lain itu bukan kenangan.

Kenangan bukan apa yang ditampakkan bahasa dan gambar teknologi. Kenangan tiada lain adalah peristiwa di balik bahasa yang tampak. Segala ikhwal yang "hidup" di balik ingatan.

Karena itulah selain diperjuangkan, kenangan mesti dirayakan, dibesarkan, dan dimerdekakan.

Kala kenangan banyak ditimbun segala macam ingatan, ketika yang "permukaan" lebih banyak mendapat sorotan tinimbang "kedalaman", maka hanya ada satu usaha untuk memerdekakan kenangan: literasi.

Literasi kenangan, sama seperti bahasa Pierre Nora yang mengungkapkan bahwa ingatan adalah saudara kembar sejarah. Ingatan sebagai sejarah juga menemukan legitimasinya dari literasi (Alwy Rachman dalam Anging Mammiri). Itu artinya, literasi adalah jalan kenangan agar terus dapat berjuang melawan lupa (permukaan).


Itulah sebabnya, tiada siapa pun paling menghormati kenangan selain periwayat ingatan. Periwayat ingatan, bukan sekadar menorehkan kembali ingatan, tapi lebih dalam dari itu, meliterasikan kenangan.

Hatta, kala kiwari, kita perlu banyak orang-orang yang mau meriwayatkan kenangannya. Membentuk "monumen kenangannya" di hadapan artefak teknologi yang memangkas kenangan dengan memori buatannya.

Sehingga kita tidak pernah akan benar-benar lupa; dari mana kita berasal, yang semuanya direkam bulat dalam kenangan.

Tapi, mungkin saja banyak orang yang memusuhi pekerjaan meriwayatkan kenangan. Dengan kata lain mereka menolak dengan sendirinya literasi kenangan. Memusuhi segala upaya ketika kenangan diabadikan dalam karya literasi.

Mungkin, di sana banyak cacat, atau luka yang belum sembuh total. Dan, mungkin juga di dalam kenangan orang banyak mengalami kesakitan yang sangat, sebab di situ banyak peristiwa yang kelam dan dendam.

Orang-orang macam inilah yang biasanya di suatu pagi sontak kaget ketika ingatan di masa lalu dimunculkan kembali di hadapannya. Akibat memori buatan teknologi, akibat mereka tidak mampu memerdekakan kenangannya dengan cara literasi kenangan.

Syahdan, orang-orang memang mudah lupa, bahkan dengan dirinya sendiri. Kenangan, akibatnya bagi orang-orang demikian hanya sebatas citra penampakan, bukan peristiwa yang mengundang air mata dan kemerdekaan.

21 Februari 2017

Makassar Kota Dunia, Kota Literasi?

Mengimajinasikan Makassar sebagai kota dunia tidak akan cukup jika tanpa melibatkan warisan sejarah yang dimilikinya: literasi.

Kota Dunia harus juga diekspresikan sebagai kota yang ramah literasi. Dengan cara membudayakan baca tulis sebagai etika kewargaan, pembangunan perpustakaan di pusat keramaian, atau kalau perlu ada juga pete-pete smart literasi, merupakah sedikit langkah untuk merealisasikan peristiwa itu.

Tapi, semua itu hanya menjadi pepesan kosong jikalau pemerintah kota bukan menjadi agen terdepan dalam mewujudkan targetan semacam itu.

Artinya, jika mengacu kepada geliat literasi yang mengemuka dan kian masif di kalangan anak muda di lima tahun belakangan ini, dan juga semakin banyaknya komunitas kreatif-literasi di kalangan pemuda, menjadi tanda bagi pemerintah bahwa di tengah masyarakat kota sedang terjadi transformasi sunyi menuju masyarakat yang bercorak literatif.

Kepekaan terhadap masyarakat yang bercorak literatif, harus ditunjukkan pemerintah kota dengan menyandingkan literasi sebagai bagian dari slogan yang selama ini menjadi kampanye Makassar Kota Dunia. Sehingga selain soal “lihat sampah ambil (LISA)”, “smart people, smart city”, dan industri lorong, wacana Kota Dunia Kota Literasi juga menjadi satu wacana yang menggenapi kekosongan variabel sebagai impian kota yang maju.

Akan jauh lebih dahsyat, jika selain menjadi wacana, Makassar kota dunia kota literasi menjadi program kongkrit di dalam kebijakan kota pemerintah Kota Makassar. Semisal, jika ada program penghijauan lorong-lorong, maka akan ada juga program lorong smart berupa didirikannya perpustakaan mini. Jika ada smart pete-pete, maka akan ada juga pete-pete smart literasi. Atau program-program strategis semacamnnya yang mengintegrasikan literasi sebagai bagian dari programnya.

Kembali ke soal I Lagaligo sebagai warisan literasi, bukan saja teks sejarah yang berbicara atas makna di dalam teksnya itu sendiri, melainkan suatu teks terbuka agar masyarakat Kota Makassar dapat menyerap semangat literasi yang dikandungnya bagi kehidupan ini.

I lagaligo juga bukan sekadar epos sejarah yang berbicara masa lalu, tapi –mengacu kepada pernyataan sebelumnya, merupakan teks yang mengacu pula kepada kehidupan saat ini. Dengan cara begitu, makna yang dikandungnya dapat berlaku universal dan mampu menjangkau lapisan generasi dari waktu ke waktu.

Itu sebabnya, I lagaligo sekaligus juga teks sejarah yang menjangkau masa depan dengan kekuatan simboliknya. Karena itu I lagaligo berisikan ajaran dan cerita rakyat yang dapat menjadi modal kuat bagi generasi sekarang untuk memahami makna kehidupannya saat ini.

Era kiwari, tanpa literasi, makna hidup bagi generasi sekarang hanya akan menjadi generasi pemamah informasi tanpa bisa mereproduksi kembali segala informasi yang ditemukannya.

Tanpa literasi yang baik, generasi sekarang akan lebih banyak mengecap informasi tanpa sedikit pun mampu menemukan makna. Artinya, dari massifnya informasi, di era kiwari, generasi muda tidak mampu membangun hubungan kebermaknaan dengan seluruh informasi yang ditemuinya.

Meminjam analisis Jean Baudrillard, hilangnya hubungan kebermaknaan antara informasi dengan kesadaran manusia, hanya menciptakan kebimbangan realitas akibat tidak kompatibelnya informasi yang dikelola berdasarkan kebutuhan manusia itu sendiri. Lebih jauh, hilangnya hubungan kebermaknaan akan berdampak jauh terhadap krisis eksistensi manusia.

Generasi tanpa literasi akan hilang dalam sejarah dunia. Apalagi kota tanpa topangan literasi tidak akan dikenal dunia sebagai pusat kemajuan yang memang menempatkan literasi sebagai salah satu faktor utama kesejahteraan kota. Dalam hal ini, kesejahteraan bukan saja sekadar variabel dalam konteks ekonomi dan sosial belaka, tapi juga bagian inheren di dalam “pencerahan” masyarakat kota.


Sejarah sudah menjadi bukti, kebudayaan tanpa topangan literasi yang kuat akan gampang diombang-ambing situasi zaman. Apalagi Kota Makassar, akan sangat teledor jika mengabaikan warisan literasi sejarahnya yang membuatnya menjadi raja di masa lalu ketika ingin memproyeksikan diri sebagai Kota Dunia.

Seperti dikatakan sebelumnya, sosok-sosok anak muda yang belakangan bermunculan dengan kiprahnya di dalam dunia literasi menjadi modal berharga bagi perealisasian Kota Makassar sebagai kota literasi. Sebagai bagian dari warga kota, sosok dengan kiprah di dunia literasi, menjadi variabel yang juga sangat menentukan dalam membuka peluang literasi sebagai wacana perkotaan selain dari pemerintah itu sendiri.

Seperti dikatakan sejarawan Hilmar Farid, keberadaan sosok yang bergelut di dunia literasi akan sangat berpengaruh di dalam membangun suatu kebudayaan.

Di masa lalu, salah satu topangan literasi digalakkan orang semacam Karaeng Pattingaloang yang melakukan kontak kebudayaan dengan media tulis menulis.

Karaeng Pattingaloang dalam melakukan kerja literasinya,  memiliki kamar khusus sebagaimana intelektual Eropa yang dilengkapi perpustakaan buku, atlas, dan peta dunia. Melalui tiga “benda” yang masih langka digunakan di zamannya ini, Karaeng Pattingaloang membangun hubungan diplomasi serta surat menyurat dengan perwakilan raja-raja semisal raja Spanyol di Manila, Raja Portugis di Goa, dan Raja Inggris serta penguasa-penguasa di Mekkah.

Tidak sekadar membangun interaksi dengan negeri-negeri luar, Karaeng Pattingaloang juga membangun hubungan diplomatik untuk bekerja sama dalam bidang-bidang strategis tertentu. Sebagai kota dunia saat itu, Makassar sudah menjadi kota dagang dengan memiliki kantor perwakilan Portugis, Belanda, Inggris, Spanyol, Denmark dan Tiongkok.

Komunikasi antara beragam negeri ini juga berarti terjadi relasi kultural dengan model kebudayaan lain.  Hal ini terbukti dengan sosok Karaeng Pattingaloang yang seorang polyglot dengan menguasai bahasa Latin, Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis, Arab, Melayu, dan juga bahasa lokal Makassar yang dijadikan bahasa komunikasi saat itu.

Dengan kemampuan bahasa demikian, Karaeng Pattingaloang menjadi sosok yang memiliki keanekaraman dan kekayaan pengetahuan yang tersebar berdasarkan purna bahasa yang menjadi modal utamanya dalam mengafirmasi ilmu pengetahuan.

Sampai di sini Karaeng Pattingaloang merupakan prototype bagaimana literasi dan kerja-kerja intelektualnya adalah faktor fundamental yang mengkofigurasikan kebudayaan jadi lebih maju. Tanpa literasi, kebudayaan hanyalah paras manusia yang akan banyak mengalami krisis kemanusiaan.

Melalui ketokohan Karaeng Pattingaloang, setidaknya ada tiga hal yang menjadi indikator penting untuk memproyeksikan sosok yang berkiprah dalam dunia literasi. Pertama, adalah kemampuan dan kesadarannya terhadap bahasa. Selain digunakan dalam tulis menulis, beragam bahasa yang dikuasai Karaeng Pattingaloang merupakan pintu pertukaran menuju beragam kebudayaan selain dari kebudayaannya sendiri.

Kedua, perpustakaan. Telah disebutkan sebelumnya, Karaeng Pattingaloang memiliki kamar kerja yang dilengkapi buku-buku serta atlas dan peta dunia. Tiga benda ini menandai aspek kemodernan yang sudah dikenal Karaeng Pattingaloang. Bahkan, menurut catatan sejarah, ketika pertama kali pasca teleskop ditemukan Galieo Galilei, Karaeng Pattingaloang juga memesan dan memiliki benda yang menginspirasi perubahan di Eropa ini langsung dari asalnya.

Ketiga adalah etos kerja selayaknya seorang intelektual modern saat ini. Akibat pandangan dunianya yang kosmopolit, etos keilmuan yang dimilikinya menjadi sikap paling mendasar yang mempelopori seluruh kegiatan intelektualnya. Tanpa sikap ini Karaeng Pattingaloang tidak akan mampu menyandingkan dirinya sebagai orang yang berhadapan dengan raja-raja dunia saat itu.

Sekarang,  Makassar adalah kota yang berada di antara tegangan sejarah tradisi literasinya dengan kemodernan sebagai alam kemajuan dunia saat ini. Yang paling memungkinkan saat ini, Makassar harus mendamaikan dua tegangan yang dimilikinya sebagai modal kebudayaan agar mampu diidentifikasi sebagai kota dunia. Tentu dengan mengambil tradisi literasi sebagai modal sejarah yang menjadi warisan tradisinya.

Namun akan sangat miris jika slogan Makassar Kota Dunia tidak melihat literasi sebagai wacana strategis dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan warganya. Sebagai misal, belum berkembangnya pusat-pusat informasi dan pengetahuan berupa jaringan kuat komunitas literasi, jaringan informasi berbasis website dan jaringan perpustakaan dengan perpustakaan komunitas, jaringan toko buku, dan kampung-kampung buku yang sedikit banyak akan membangun atmosfer Makassar sebagai kota ramah literasi.

Hatta, Makassar kota dunia kota literasi, berarti ikut mewarisi sejarah panjang peradaban literasi Bugis-Makassar yang menjadi modal utama menuju Makassar sebagai kota dunia.

---

Telah terbit di kalaliterasi.com

17 Februari 2017

Histrionic Personality Disorder dan Cuitan Sang Mantan dan Demokrasi

Sebenarnya banyak hal bisa dituliskan. Bisa saja salah satunya soal pilkada di beberapa daerah di Tanah Air. Termasuk pilkada Jakarta yang banyak menyedot perhatian. Yang menarik dari pilkada Jakarta, selain karena Jakarta adalah ibu kota Indonesia sehingga apa pun yang terjadi di Jakarta bisa menjadi “meriam” atas peristiwa yang bakal terjadi di Indonesia, juga karena Jakarta menyuguhkan calon kontroversial yang sudah membuat gempar hampir semua umat muslim di Tanah Air. 

Selain itu, dua kandidat lainnya juga tidak kalah penting mengapa pilkada Jakarta selalu mengisi ruang wacana masyarakat Indonesia. Keduanya adalah tokoh nasional dan atau bakal menjadi tokoh nasional. Perlu dicatat, kata tokoh di sini mengandung arti yang relatif. Tergantung dari sudut pandang apa orang melihatnya.

Pasca hari pencoblosan semua tegang. Jakarta menunggu hasil siapa yang bakal terpilih. Bahkan hampir semua orang tidak berani mengambil kesimpulan siapa bakal peroleh suara terbanyak. Beberapa lama setelahnya hasil mulai terlihat. Lembaga-lembaga survei merilis hasil quick count. Ahok-Djarot memimpin, dan Anis-Sandi menyusul setelahnya. Sementara Agus-Sylvi, siapa yang menduga, perolehan suaranya paling buncit. Bahkan perolehan suaranya tidak sampai 20 persen.

Tidak lama setelah hari belum berganti, sudah dapat dipastikan. Ahok-Djarot dan Anis-Sandi bakal melanjutkan pertarungannya di putaran kedua. Sekarang, warga Jakarta betul-betul dibuat sabar menanti pemimpin baru mereka. Sampai April nanti.

Poin penting dari pilkada Jakarta memberikan dua hal. Pertama, semakin menjelang hari pencoblosan, mantan presiden ke-6 Indonesia semakin sering ngetwit lewat akun Twitternya. Dan yang lucu adalah motif mendasar dari cuitan mantan presiden bertubuh gempal itu: seakan-akan SBY menjadi korban pihak yang menghalang-halangi langkah anaknya menjadi Gubernur baru Jakarta!

Dalam psikologi, gejala yang ditampakkan SBY menjelang hari pencoblosan dikenal dengan istilah histrionic personality disorder. Ini  sejenis penyakit mental. Tentu saya tidak akan menyatakan SBY mengalami gangguan mental. Ini akan menjadi pernyataan kontraproduktif mengingat beliau sudah dua periode  memimpin pemerintahan Indonesia. Mustahil seorang pemimpin negara mengidap penyakit mental dan mampu memimpin selama lima tahun berturut-turut. Apa kata dunia!

Tapi, mungkin saja SBY mengidap penyakit mental yang akrab di kalangan psikolog dengan sebutan post power syndrom. Penyakit ini sering menghinggapi orang-orang yang pernah menjadi seorang pemimpin. Atau tepatnya orang-orang yang tidak lagi menjadi penguasa. “Kehilangan” kekuasaan menjadi variabel sindrom ini yang ditandai keponya seseorang terhadap hampir segala hal seakan-akan masih memiliki kekuasaan seperti masa sebelumnya.

Saya mempunyai teman yang bisa diindikasikan mengidap post power syndrom. Gejala teman saya itu ditunjukkan dengan semakin seringnya dia mengatur segala macam tetek bengek keorganisasian seperti kala dia masih menjadi ketua. Bahkan, dalam hal mengeluarkan pendapat di forum-forum resmi, seakan-akan dia menjadi wakil organisasi yang pernah dipimpinnya. Omong sana-omong sini.  

Selain teman saya itu, saya juga mantan ketua lembaga kemahasiswaan di kampus dulu. Tapi, waktu itu saya belum tahu ada yang disebut penyakit “pasca kekuasaan” ini. Entah saya mengidapnya saat selesai "melaporkan" LPJ atau tidak. What ever-lah.

Kembali ke SBY. Post power syndrom ditanggalkan dulu. Anda sendiri saja yang menilai apakah SBY mengidap penyakit ini. Yang ingin saya ulas di sini soal histrionic personality disorder. Gangguan mental berupa seringnya seseorang mencari-cari perhatian seakan-akan menjadi korban dari perilaku tertentu.

Histrionic personality disorder (HPD) dijelaskan America Psychiatric Association sebagai gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola emosionalitas yang berlebihan dan suka mencari perhatian, termasuk keinginan yang berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Selain itu juga disertai dengan kebiasaan menggoda, suka mendramatisir keadaan/masalah, antusias yang berlebihan dan kelihatan agak genit.

Sekarang Anda sudah mulai paham apa yang dimaksud HPD, kemudian mengorelasikannya dengan tindakan SBY yang keseringan ngetwit di media sosial. Saya sendiri menilai hampir semua gejala yang disebutkan America Psychiatric Associaton dialami mantan presiden kita itu. Termasuk pada bagian “keinginan yang berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain”, apalagi di kalimat “suka mendramatisir keadaan/masalah, antusias yang berlebihan dan kelihatan agak genit”. Baiklah, “kelihatan agak genit” kita hapus saja jika Anda kurang setuju. Saya juga sulit membayangkan jika SBY berperilaku genit.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, saya enggan menyebut SBY mengidap penyakit ini, terutama dalam konteks kepemimpinannya saat menjadi presiden. Tapi, siapa bisa menduga pasca menjadi presiden, SBY malah mengalami gangguan emosional. Atau dengan kata lain, siapa tahu memang semakin ke sini SBY mengidap HPD. Bisa saja kan!?

Di antara kesangsian itu, boleh saja disebutkan perilaku keseringan ngetwit SBY belakangan ini adalah tindakan curahan hati semata. Melalui konteks ini SBY tidak jauh berbeda dari seorang lelaki yang ditinggal nikah kekasihnya secara mendadak. Sehingga, tiada tempat senyaman media sosial untuk menyalurkan kesedihannya. Kalau yang ini lain persoalannya. Ini bisa saja sama halnya yang dibahas Hizkia Yosie Polimpung dan Priska Sabrina Luvita dalam salah satu rubrik di Indoprogress. Persoalan narsisme!

Jadi nampak akan jauh berbeda apa yang diandaikan sebagai tindakatan curhat dengan HPD itu sendiri. Perbedaan paling fundamental antara keduanya adalah melihar dari curahan hati pada situasi yang tepat dan keadaan yang tepat. Sementara HPD merupakan perilaku yang dibuat-buat dengan maksud memanipulasi lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.


Agar semakin terang saya sematkan seasli-aslinya dari Psikologiabnormal.wikispaces.com : Perbedaan antara orang-orang dengan gangguan tersebut (HPD) dengan orang-orang yang menunjukkan perasaannya di saat yang tepat (tindakan curhat) adalah dari sifat keadaan emosional mereka yang sepintas lalu dan maksud mereka memperlihatkan emosi yang berlebihan adalah memanipulasi orang lain daripada mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya...” Tanda kurung dari saya!

Diagnosa fenomena ini nampak terang jika perilaku SBY  ditelisik dalam konteks politik. Sebagai bapak AHY, tentu segala macam tindakannya akan dikaitkan dengan konteks pencalonan anaknya sebagai calon gubernur Jakarta. Apalagi sebagai ketua umum partai pendukung AHY, perilaku SBY, apap pun itu akan dibaca sebagai tindakan yang memiliki hubungan dengan anaknya yang sedang nyalon.

Konteks politik yang semakin memanas pasca hari pemilihan juga bisa mendasari perilaku SBY dianggap sebagai tindakan yang mengidap HPD. Selain itu, politik pencitraan yang sering kali menjadi jurus pamungkas SBY, menjadi postulat utama mengapa kesimpulan itu dapat diambil.

Sekarang yang geli jika perilaku SBY itu dikaitkan dengan kutipan terakhir yang saya potong di atas: “…Gangguan tersebut biasanya lebih banyak ditemukan pada wanita meskipun begitu tidak jelas apakah karena gangguan ini lebih biasa terjadi pada wanita atau karena orang-orang yang menyandang label perilaku histrionic diberi stereotip wanita”. Sudah tentu SBY bukan wanita. Namun mengkategorikan perilakunya sebagai wanita, itu yang geli-geli sedap.

Jika membandingkan mantan presiden Amerika Serikat –negara yang sering kali dirujuk “sang mantan”, Barack Obama, pasca menjadi warga biasa yang memilih bermain air berselancar di Kepulauan Necker di British Virgin Island, sementara SBY yang ingin banyak mendulang “air mata” melalui aktivitas politik ngetwitnya, maka ini menjadi suatu perbandingan yang dramatik. Mengapa demikian?

Perlu dipahami, Istilah histrionic berasal dari bahasa Latin yang berarti “aktor”. Di mana pun itu, siapa pun itu, ketika menjadi aktor dia sedang memainkan peran tertentu. Sedang bermain drama. Artinya, apa pun yang diperankan merupakan wajah palsu yang berbeda dari yang sebenarnya. Aktor sebaik apa pun perannya, di mana pun itu, hanya bersikap “seolah-olah”.

Itulah sebabnya, dalam kenyataannya HPD dianggap berbahaya. Penyakit ini sadar atau tidak memiliki kemampuan memanipulasi perasaan dan perannya demi mendulang perhatian. Yang berbahaya jika itu sudah melibatkan diri seolah-olah korban dari niat jahat tertentu.

Poin penting kedua, kemenangan Ahok merupakan cermin pencapaian demokrasi warga Jakarta. Banyak di antaranya memilih semata-samata bukan karena dorongan primordialisme. Mengingat figurnya yang paling banyak mendapat sorotan, dan aksi bela agama yang beberapa kali ramai dilakukan di Jakarta, sosok Ahok masih menjadi pilihan mayoritas warga Jakarta dalam menentukan figur politiknya.

Anis Baswedan yang juga merupakan keturunan Arab, sebagaimana Ahok, yang diikat takdir etnisitasnya, bisa melenggang ke putaran kedua, juga menjadi indikator demokrasi bahwa isu-isu “warga pribumi” yang dikaitkan dengan pilihan politik sudah tidak mempan untuk menentukan kesadaran politik warga Jakarta.

Demokrasi yang diandaikan negara-negara modern, selalu mengacu kepada keterlibatan pilihan bebas dan pilihan rasional. Tentu ini seiring dengan kedewasaan dan kematangan masyarakat dalam menjalani perannya sebagai warga negara. Irisan menjadi warga suatu provinsi dan atau menjadi warga negara di sisi lain, hanya bisa didamaikan dengan ikatan yang sama yang mendasari hubungan antar manusia. Rasionalitas yang menjadi “hukum universal” dan mengikat secara permanen dua peran sekaligus, sangat dibutuhkan dalam konteks perpolitikan saat ini.

Konteks politik yang mengikutkan variabel-variabel determinan semisal agama, ras, suku, dan jenis kelamin, boleh saja menjadi situasi yang tak terbantahkan sebagai konteks yang terberi. Takdir ini di situasi tertentu bisa saja mempengaruhi pilihan politik seseorang, atau bahkan menjadi situasi yang tak bisa ditolak, namun mengingat manusia sebagai homo politicon, tentu selalu ada situasi x yang menjadi faktor lain dalam menentukan pilihannya.

Artinya politik diandaikan sebagai medium bagi orang-orang rasional mengartikan dan mewakilkan kesadarannya ke dalam suatu tatanan. Dengan kata lain, pemerintahan sebagai suatu institusi merupakan lingkungan sosiologis bagi kerja sama antara warga demi menjalankan praktik politiknya. Tentu di dalamnya akan ditemukan hirarki kepemimpinan, dan pemimpin dari semua itu harus dinilai dari visi dan misinya dengan pertimbangan yang masuk akal.

Itulah mengapa,  figur rakyat dalam demokrasi begitu sentral. Selain rakyatlah yang menentukan siapa pemimpin yang bakal dipilih, rakyat pula yang sejatinya adalah pengontrol kekuasaan dalam sistem yang setara.

Namun, perlu diingat, di dalam pemerintahan yang demokratis, figur rakyat yang diadopsi ke dalam figur seorang pemimpin, seringkali mengalami tegangan dengan sosok-sosok dengan figur yang berbeda dari karakteristik rakyat itu sendiri. Semisal kualitas rasional yang menjadi karakter utama figur rakyat, pasti akan mendapat perlawanannya dari figur yang mencerminkan kekuatan berbeda berupa irasionalitas dlsb.

Maka akan terlihat jelas dalam kancah politik manapun, pertarungan yang sebenarnya hanya akan kembali kepada dua ekstrim: rasional vs anti rasional, tatanan vs chaos, rakyat vs gerombolan, birokratisme vs feodalisme, dlsb.

Syahdan, dilihat dari dua tegangan; rasional dan irasional, dalam berpolitik kadang membuat orang lelah dan membutuhkan kawan curhat. Bukan main variabel persoalan yang harus diperhitungkan. Bahkan, mungkin karena itu membuat orang akhirnya malah mengidap histrionic personality disorder. Apalagi dilakukan sambil curhat. Jangan sampai deh!


15 Februari 2017

Merumuskan 8 Jalan Literasi KLPI 2017

Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa KLPI di tahun 2017 mengalami perubahan format kelas. Pertama, jika mengembalikan kepada sistem keterlibatan anggota KLPI selama ini, tidak ada aturan mengikat sama sekali yang membuat kawan-kawan harus wajib mengikuti KLPI. Kebebasan ini awalnya memang menjadi kebiasaan yang sedari awal diberlakukan dalam kelas. Semenjak KLPI dimulai dari Agustus 2015 lalu, hingga KLPI jilid dua yang mulai bergerak awal Januari 2016, tidak ada aturan-aturan wajib yang berhak mengikat siapa pun agar dapat ikut di dalam kelas menulis ini. Jadi bisa dibilang KLPI hanya digerakkan atas kebebasan mandiri. Itu artinya, kesadaran kawan-kawan sendirilah yang mendorong kawan-kawan terlibat selama ini di KLPI.

Tapi, jika ada yang disebut aturan, maka hanya ada satu aturan wajib yang harus ditaati di KLPI, dan ini abadi. Yakni setiap kawan-kawan yang ingin terlibat di KLPI, wajib membawa satu karya tulis pribadi agar dapat ikut serta di setiap pertemuan yang diadakan di setiap hari Minggu. Kadang banyak kawan-kawan yang baru pertama kali ingin bergabung menanyakan jenis tulisan seperti apa yang diterima sebagai syarat utamanya. Untuk soal yang kerap ditujukan kepada “pengurus” KLPI ini, maka jawabannya tidak ada batasan genre tulisan apa yang harus dibawa ke dalam kelas. Selama itu merupakan karya tulis, yang genrenya terbentang dari fiksi ataupun nonfiksi, maka itu sah-sah saja bagi kawan-kawan.

Imbas tidak ada aturan wajib yang mengikat keterlibatan kawan-kawan bergabung selama KLPI berlangsung, maka menjelang akhir tahun 2016 intensitas kawan-kawan mulai melempem. Salah satu indikator dari problem ini adalah beberawa kawan-kawan yang datang di kelas dengan tangan kosong. Tanpa membawa tulisan. Kedua, banyak di antara kawan-kawan yang mulai jarang mengikuti kegiatan kelas akibat memiliki kesibukkan di tempat yang lain.

Dua problem ini sebenarnya merupakan cermin memudarnya penghayatan dan totalitas keterlibatan kawan-kawan terhadap “aturan main” dan keberlangsungan kelas selama ini. Kehadiran dengan tidak membawa tulisan berarti dengan sendirinya telah mengabaikan syarat wajib yang selama ini diterapkan. Berkurangnya totalitas berarti juga berkurangnya keterarahan visi kawan-kawan terhadap kelas yang selama ini dirintis bersama-sama.

Tidak perlu diperpanjang apa sisi negatif dan dampak lanjutan bagi KLPI dari dua problem di atas. Sudah banyak catatan kelas sebelumnya yang mengulas hal itu.

Kedua, format baru bagi KLPI di tahun 2017 didorong akibat perlunya generasi lanjutan demi memperbaharui suasana dan keberlangsunga KLPI ke depannya. Alasan di balik ini tidak jauh berbeda dari beragam organisasi-organisasi yang sering kali melakukan perkaderan. Selain menambah kuantitas kawan-kawan yang akan meminati literasi sebagai kebutuhannya, juga menambah kualitas pengetahuan seiring semakin berkembangnya wacana literasi di permukaan.

Hubungan dengan alasan yang ke dua, maka alasan yang ketiga mengapa perlu ada format baru bagi KLPI, yakni jika ibarat literasi adalah agama, maka siapa pun yang meyakininya perlu mendakwahkannya. Itu sebabnya perlu ada keterlibatan sebanyak-banyaknya terhadap “agama literasi” ini. Sebagaimana dorongan ideologis mana pun, literasi harus menjadi “hantu” yang menggentayangi kesadaran siapa pun.

Itulah tiga alasan yang harus dikemukakan mengapa perlu ada perubahan format dan penyelenggaraan KLPI di tahun 2017 ini. Atas dasar ini, setelah menjalani beberapa perbincangan dan pendiskusian di hari Minggu kemarin, akhirnya diputuskan beberapa butir pokok yang harus dikerjakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pertama, berbeda dari format sebelumnya, pertemuan KLPI jilid 3 kelak hanya akan dilaksanakan selama dua pekan sekali. Pertimbanganya, di minggu pertama, bagi kawan-kawan yang hendak menuliskan karya tulisnya dapat memanfaatkan waktu yang tersedia untuk menyiapkan seluruh persiapan menulisnya mulai dari ide, sudut pandang, referensi, pendiskusian gagasan, dlsb agar dapat di tuliskan di minggu kedua.

Perubahan jadwal pertemuan ini sekaligus meredam intensitas pertemuan yang selama ini dirasa mendesak. Pertemuan sekali seminggu sudah tidak adaptabel dengan rotasi waktu yang dialami kawan-kawan akibat bertambahnya agenda lain kawan-kawan di luar KLPI.

Kedua, tempat kegiatan akan dilangsungkan di pelbagai tempat di Makassar yang dirasa sesuai dengan kesepakatan kawan-kawan. Artinya, jika selama ini pertemuan KLPI hanya dilakukan di sekretariat KLPI di Pabbentengan, maka ke depannya akan ada perubahan suasana akibat tempat pelaksanaannya yang akan berganti seiring waktu pelaksanaannya.

Ketiga, di KLPI jilid 3 hanya akan diselenggarakan selama 6 bulan belaka. Perubahan targetan ini imbas persedian “oksigen” kawan-kawan yang terbatas selama pertemuan satu tahun seperti yang telah direncakan sebelumnya. Sisi positif perubahan durasi ini akan memudahkan kawan-kawan mengevaluasi baik kemajuan maupun mundurnya targetan-targetan KLPI selama satu semester kelak.

Keempat, pokok yang paling mencolok dari format baru ini yaitu dirumuskannya delapan jalan bagi kawan-kawan untuk menempuh hidup literasi dengan “keringat dan air mata” selama di KLPI ke depannya. Delapan jalan ini kemudian diturunkan menjadi delapan materi yang akan diturunkan selama empat bulan berturut-turut dari enam bulan yang ditargetkan.

Delapan jalan yang dimaksud itu adalah: Pertama, kuliah umum Apa, Mengapa dan Apa Pentingnya Literasi bagi Kehidupan Saat Ini? Kedua, 10 Dosa Penulis Pemula. Ketiga, Klasifikasi dan Genre Tulisan. Keempat, Cara dan Pengorganisasian Ide ke Dalam Tulisan. Kelima, Teknik Kepenulisan Esai. Keenam, Teknik Kepenulisan Opini. Ketujuh, Teknik Kepenulisan Cerpen. Kedelapan, Teknik Kepenulisan Puisi.

Di samping delapan jalan wajib penempuh suluk literasi di KLPI selama enam bulan, akan ada jalan tarikat yang menjadi materi-materi khusus agar dapat menggenapi capaian makam kepenulisan siapa pun yang menempuhnya. Sebagaimana jalan tarikat di manapun, ini hanya dapat ditempuh bagi siapa pun yang serius dan ikhlas menjalani suluk literasi selama ber-KLPI.

Terakhir, delapan jalan suluk literasi akan diprogramkan selama empat bulan pertama dengan mengundang guru-guru yang telah melanglang bumi persada literasi berdasarkan spesialisasi dan tema yang sudah ditentukan. Dua bulan terakhir akan diisi dengan praktik menulis itu sendiri dengan tetap melibatkan kawan-kawan yang telah dahulu ikut di KLPI selama ini.

Hatta, mari bersyukur KLPI sudah sampai di sini. Sehormat-hormatnya bagi siapa pun yang sudah menyediakan nafasnya bagi keberlangsungan KLPI selama ini. 


Tulisan merupakan suara pribadi seorang penulis yang sifatnya subjektif, unik. Tulisan adalah ruang di mana 'penulis secara jelas menunjukkan diri sebagai individu karena di sinilah dia peduli dengan dirinya sendiri'. Rolland Barthes 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...