04 Maret 2016

sepatu

Saya agak kurang yakin kapan punya perhatian lebih terhadap sepatu. Kalau diingat itu sudah lama. Sejak sekolah dasar saya kira. Di kelas sekira 5 atau 6, sepatu sudah saya anggap penting.

Sepatu kala itu jadi bagian penampilan. Saya kira walaupun mau jelang umur belasan, sudah ada kesadaran semacam itu. Karenanya, sepatu seperti bendabenda lain harus bisa menunjang penampilan. Sepatu kala itu harus bagus. Kalau perlu bermerek.

Kala itu ada Bata, merek sepatu yang sering saya dengar. Starmoon, Newera, Carvill, Kasogi, dan Speec, beberapa merek yang lain. Di televisi juga sering saya lihat merek macammacam. Terutama jelang musim sekolah. Kala itu biasanya sehabis bulan ramadhan. Iklan sepatu banyak diputar.

Yang saya ingat, sebelumnya ada jenis sepatu yang tidak bermerek. Bentuknya lebih mirip sepatu kungfu. Di film kungfu Jacky Chan, sepatu kayak itulah yang sering dipakainya. Kalau menontonya saya sering mengingatnya. Sepatu itu ringan. Tidak rumit dipakai. Fleksibel, cuman agak licin.

Sepatu macam begini yang gandrung. Banyak kala itu memakainya. Caranya dipakai dengan kos dilipat pendek. Kalau kaosnya panjang, sering kali dilipat. Karena sering cara itu, kaos yang dipakai punya lekuk tumit baru yang terbentuk.

Sepatu itu itu tidak muncul di televisi. Iklan pun tidak. Cuman aneh kenapa banyak dipakai. Juga disenangi. Mungkin karena ringan. Dan berwarna hitam.

Yang terakhir itulah jadi pertimbangannya. Sekolah melarang pakai sepatu macammacam. Apalagi warnawarni. Harus hitam. Bukan yang lain. Selain itu, memang sepatu ini murah.

Kalau di toko sepatu, yang model ini justru tidak mejeng di etalase. Sepatu ini cuman ada di pasar. Biasa berjejer diikat karet gelang. Di susun menumpuk. Di selasela jualan macammacam. Kadang bersebelahan dengan ikanikan yang dijual. Karena itu gampang ditemukan. Kalau mau, tinggal cari di sekitar penjual ikan.

Sejarah sepatu ini entah dari mana. Misterius. Tibatiba banyak yang memakainya. Kala itu saya kira dari Cina. Soalnya mirip yang saya lihat di televisi. Yang memakai pertama kali juga entah.

Tapi, sepatu itu juga yang saya pakai. Ukurannya tidak besar. Nomor enam kalau diingat. Seperti juga lainnya, saya suka memakainya. Memang ringan. Juga hitam tentunya.

Bahan sepatu ini agak lunak. Kayak mirip kain terigu. Tapi lumayan tebal. Kalau hujan, atau basah, sepatu ini mudah kering. Bawahannya juga sederhana. Terbuat dari karet keras. Licin.

Sekolah masa itu punya bangsal. Ukurannya lumayan lebar. Dua lapangan bulutangkis jadi perbandingannya. Agak besar memang. Bangsal, lantainya dari semen yang dipoles isi baterai. Di atasnya atap seng jadi katupnya. Teduh.

Di situlah saya sering bermain. Macammacam. Kadang sepak bola. Gala asin. Sering juga kasti. Beberapa kali hanya berlari. Cuman kalau berlari, sepatu itu harus dilepas. Sudah saya bilang, licin.

Namun, kadang sepatu itu dipakai juga berlari. Jadi ini sebenarnya jenis mainan yang agak aneh. Pertamatama kami berlari sekencangnya. Beramairamai. Biasa berkelompok. Setelah lari beberapa meter, dengan sepatu yang licin, kami perosotan. Meluncur sejauhjauhnya. Siapa terjauh dia jawaranya. Di bangsal itulah kami berlari. Di lantai yang juga licin.

Karena berbahan kain, sepatu itu mudah sobek. Biasa sobekannya karena tekanan di ujung kaki. Makanya tidak jauh di ujung sepatu. Kadang malah tepat antara pertemuan alas dan jahitannya. Walaupun agak susah dijahit, kadang cara yang dipakai direkatkan handyplas menutupinya. Setelah itu disemir biar hitam. Beres.

Lumayan lama saya pakai sepatu macam itu. Sobek juga berulangulang. Akhirnya rusak jua. Di buang.

Sepatu yang baru saya tak ingat merek apa. Kali ini membeli bukan di pasar; toko Bata. Nama toko ini saya kira banyak yang tahu. Sampai sekarang mereknya masih ada. Di toko merek itulah saya dapat sepatu baru. Tetap hitam.

Sepatu itu lumayan awet, sampai SMP. Hingga jelang dua SMP sepatu itu masih saya pakai. Saat SMA, sepatu saya lebih mirip pantofel. Juga warna hitam.

Sekarang, di televisi banyak iklan sepatu. Orangorang juga senang pakai sepatu. Mereknya macammacam. Klasemennya juga beragam. Dari olahraga sampai resmi. Sepatu gunung sampai kantoran. Warna hitam sampai kuning terang. Ruparupa.

Iklan agaknya seperti teksteks kitab agama. Di dalamnya ada iman. Rasanya sulit mau mengelak. Sudah jadi doktrin. Bahkan ideologi. Karena itu satu level dengan agama. Taat.

Sepatu, saya kira, akibat dari iklan berubah fungsi. Tidak sekedar alas kaki. Sepatu jadi branding orangorang berpenampilan. Sepatu, di mata banyak orang harus mampu mendongkrak penampilan. Sepatu jadi life style.

Makanya, saya heran kalau ada sepatu sampai harga jutaan. Barangkali itu akibat hukum ekonomi. Harga jadi mahal seiring permintaan. Pasar tercipta karena ada penawaran dan jual beli. Yang aneh, biar mahal bagaimana, beberapa merek tetap laku terjual.

Kiwari, anakanak muda senang bersepatu. Banyak merek dipakai. Bahkan cara memfungsikannya anehaneh. Sepatu gunung dipakai seharihari; sepatu olahraga dipakai masuk kantor; sepatu pantofel jadi simbol parlente. Bahkan sepatu boot, yang konon untuk prajurit juga dipakai. Yang terakhir mudahmudahan bukan karena militerisme.

Akhirnya, sepatu, sekarang bukanlah sepatu belaka. Dia jadi mode; gaya hidup.


02 Maret 2016

Merawat Benci

Entah mengapa saya perlu merawat benci. Terutama kepada orangorang tertentu. Ini penting bagi saya. Tujuannya untuk membuat rivalitas.

Agak susah memang mau bilang sehat. Di dalam satu kecenderungan yang sama, orangorang butuh pecut. Dan pecut saya rasa emoh. Mungkin jumawa kalau saya jauh lebih bisa.

Rasa sinis, atau mungkin benci, tentu tak mungkin saya umbar. Apalagi saya nyatakan terbuka. Efek sosialnya akan buruk. Saya suka menyembunyikannya. Bagi saya, tak penting orangorang tahu. Lagian buat apa orang yang saya siniskan tahu. Tidak penting.

Saya rasa memang harus demikian. Hidup memang ajang saing. Bahkan agama nyatakan lomba di jalan kebaikan. Tapi, entahlah yang saya punyai ini suatu kebaikan. Atau janganjangan tidak etis. Merawat sikap sinis. Menjaga rivalitas.

Saya belakangan ini belajar menulis. Bisa dibilang itu saya lakukan karena berusaha ambil jalan literasi. Soal menulis sudah lama saya lakukan. Cuman, gairah menulis belum seperti kayak sekarang. Kiwari, seperti ada hasrat mau menulis terus. Apa saja. Yang penting saya suka.

Di dunia literasi inilah saya menanam pohon sinisme. Saya mendefinisikan rival. Memetakan lawan. Dan, benci atau rasa tidak suka jadi sumbernya. Di sini saya kira, saya jadi orang yang jahat. Tapi, apalah arti jahat sesungguhnya, kalau itu sudah jelma aksara. Di dalamnya kejahatan bisa jadi baik, atau sebaliknya.

Saya yakin, di luar sana banyak orang yang tak suka saya. Saya maklum. Juga, saya bisa saja tak suka beberapa orang. Itu wajar.

Jadi ini hanya problem biasa. Hanya soal pribadi saya.

Dalam beberapa lingkait, konflik memang penting. Terutama konflik laten. Dengan itu aktifitas manusia diselenggarakan. Saling membangun relasi. Kasih sayang, senyuman. Namun, juga cemburu. Semua itu kualitaskualitas pribadi yang timbul tenggelam di balik hubungan sosial. Tanpa itu, tak ada manusia. Barangkali hanya mahluk jernih tanpa cela. Manusia, mahluk yang penuh cela, dan tentu celah.

Jadi tak usah merasa lengkap. Manusia mahluk yang butuh kerja sama. Karena itulah dia jadi utuh. Keutuhan ini biasanya ditemukan dalam bentukbentuk ikatan kolektif. Bisa keluarga, komunitas, organisasi, partai, atau juga negara. Hubungannya bisa ketemu karena agama, hobi, suku, latar belakang, ilmupengetahuan, ideologi, cinta, dan macammacam. Tapi hakikat di balik hakikat, semua itu digerakkan atas peristiwa berhadaphadapan; persitegangan; permusuhan; konflik.

Saya merasa, yang harmoni hanya akan melihat yang baik. Ikatan yang terlalu dekat bikin susah objektif. Saya butuh dasar penolakan, sikap berbeda agar punya cara lain. Apalagi kalau soal penilaian. Seorang kawan butuh musuh agar kejahatannya tampak. Seorang lawan butuh kawan agar kebaikannya muncul.

Antonio Gramsci bilang, bersamasama sekaligus menentang. Itu dia sebut skandal kontradiksi. Inilah yang saya maksud. Bersama sekaligus menentang. Saya bangun rivalitas. Saya bangun skandal pertentangan.

Agak susah mau bilang tidak ada persaingan. Itu terlalu naif. Hubungan macam mana pun selalu mengandaikan dua sumbu. Dua ujung yang berbeda. Di dua ujung itu masingmasing berdiri. Berjalan ke arah yang berlawanan dan menengok ke belakang, siapa yang telah panjang mengambil garis. Saat itulah persaingan sudah dimulai. Sejak berdiri di atas garis.

Banyak orang purapura rendah hati. Membikin diri dengan semangat moralitas tertentu. Bicara soalsoal krusial. Mengajarkan hal ihwal substansial. Namun sial, di waktuwaktu tertentu mengucap perpecahan, bikin benteng dengan menjelekjelekkan. Bicara universal, tapi parsial. Di kawankawan dekat omong bual. Menyudutkan kelompokkelompok tertentu dengan dalildalil. Itu banyak. Membuat orangorang jadi marginal.

01 Maret 2016

bahrulamsal for literacy; maret omongomong hannah arendt

Bulan Februari segera berakhir. Besok sudah Maret. Awal Februari bahrulamsal for literacy pertama kalinya gelar bincangbincang ringan, soal novel “Titisan Cinta Leluhur” dan “Djarinah” karya perempuan Bantaeng, Atte Sherlynia Maladevi. Waktu itu penyertanya juga seorang perempuan; Jusnawati. Dia diundang agar mau bicarakan karya tulisnya yang terbit di koran Fajar. Saat itu isinya tentang dua novel tadi. Kalau boleh bilang dia meresensinya.

Soal bagaimana persisnya forum mini itu, sudah sempat saya ulas di bawah tajuk “Yang Tinggal dari ‘Geliat Atte dalam Dua Novel.’” Saya sebagai penanggung jawab penuh page bahrulamsal for literacy merasa harus menulisnya. Biar bagaimanapun ini salah satu metode menjaga semangat literasi.

Kala Maret nanti bahrulamsal for literacy sudah punya agenda. Barangkali di dua minggu pertama. Kali ini soal pemikiran Hannah Arendt, perempuan filsuf abad 20. Perkara yang mau dibincangkan soal manusia dan kebebasan. Penyertanya seorang muda; Muhajir.

Muhajir, saya kira cukup familiar. Terutama buat kawankawan dekat. Dia alumni UNM, pegiat filsafat dan ilmu pendidikan. Akhirakhir ini ikut terlibat di kelas menulis PI. Juga sempat nimbrung di HMI MPO Makassar. Pemuda asal Pangkep ini sudah sering diundang di pelbagai forum. Kali ini saya mengajaknya. Senang hati dia mengiyakan.

Mengapa Hannah Arendt? Dua hal jawabannya. Pertama, Muhajir sedang membaca buku ihwal Hannah Arendt. Kedua, agar kawankawan bisa berkumpul ocehoceh soal manusia dan kebebasan.

Belakangan ini banyak perkara ruang publik yang dipolitisir. Kelompokkelompok banyak bermunculan mencuri hakhak publik. Mekanismenya lewat paradeparade, baris berbaris, wacana publik dikotori kepentingan kelompok. Yang publik akhirnya jadi bising karena hasrat menguasai. Yang sosial akhirnya jadi privat.

Ruang publik sejatinya medan konstelasi wacana, ide, dan pemikiran. Salurannya tentu lewat praktikpraktik pertukaran budaya, ekonomi, kemudian pendikan. Di situ orangorang bebas melakukan pertukaran demi mengembangkan potensi kemanusiaannya. Namun malang itu jadi terhambat akibat kepentingan kelompok tertentu. Ini yang tidak fair.

Yang problematis dari itu, di mana tempatnya kebebasan? Bukankah kebebasan itu tidak dimungkinkan jika ada pihak yang dominan? Bukankah jika ada dominasi justru itu berarti penguasaan? Lantas siapakah yang menguasai? Berhakkah suatu kelompok berkuasa atas kelompok lain? Kalau sudah begitu, apakah kebebasan itu keharusan individual atau konstruksi kelompok? Kalau kebebebasan itu ada, lantas bagaimana mengembangkannya? Semua ini jadi soal. Ini perkara yang harus dijawab tuntas.

Masalahmasalah ini saya kira tengah terjadi. Ruang publik tibatiba berubah jadi dominasi privat. Skala nila atas agama, ras, dan suku kerap jadi ukuranukuran publik. Orangorang lupa bahwa ada yang namanya kepentingan bersama. Ada yang namanya nalar publik.

Itulah mengapa ada politik. Mekanisme yang dipakai untuk mengatur banyak orang. Saluran kolektif yang keluar dari ikatan parsial. Perlu ada politik universal. Barangkali pula politik yang otentik.

Politik otentik, kirakira inilah yang diperlukan. Kalau Arendt bilang, politik otentik itu adalah ruang yang mengadaikan manusia terbebas dari hirarki, kungkungan kekuasaan. Setelah itu diperlukan tindakan untuk masuk ke dalam ruang publik sebagai manusia yang otentik, merdeka dan otonom.

Soal manusia kadang juga jadi pelik. Bebaskah manusia, atu justru jadi “benda” di bawah suatu wewenang. Jika bebas, bagaimana jika dia hidup dalam kelompok? Apakah penting mengutamakan kelompok, atau justru kepentingan pribadi? Kalau mengutamakan kelompok, apakah masih berartikah manusia itu punya kebebasan? Tidakkah bisa keduaduanya? Lantas bagaimanakah caranya?

Perkara di atas kadang harus menyinggung termaterma yang akrab dengan filsafat. Dari situ baru kemungkinankemungkinan ditemui; budayakah, ekonomikah, politikkah, atau bahkan agama. Mungkinkah manusia bebas dari ikatan semua itu. Manusia yang tidak terikat hukumhukum sosialnya. Manusia yang par excellence bebas?


29 Februari 2016

catatan kelas menulis PI pekan 6

Ini pekan yang panjang, terutama Kelas Menulis PI. Sudah jauhjauh hari tulisan diposting, sudah jauh sebelumnya kritik diajukan. FB jadi media, untuk tulisan dapat masukan. Sebelumnya tidak ada macam begitu. Ini hal yang baru.

Sudah dua pekan hujan urung berhenti. Langit jadi basah, hitam. Tak sering malah bikin waswas. Apakah kawankawan mau datang, biar pun hujan enggan pergi. Makassar memang sering basah, tapi asa harus diasah.

Karena itulah sudah pekan ke 6. Kelas menulis sudah sampai di sini, akhir Februari. Banyak yang datang, sedikit yang bertahan. Yang begini hukum alam. Siapa nyaman dia pasti bertahan.

Selalu ada harap kelas ini bukan tempat singgah. Kelas ini diharap jadi rumah, home. Begitu kirakira prinsip yang mau ditanam. Saling asah, asuh, dan asih. Makanya sampai sekarang kelas ini bisa bertahan. Tak ada yang mulukmuluk. Yang penting, saling perhatian, saling beri masukkan, sesekali kritik.

Omongomong soal kritik, kali ini jadi perkara yang panjang. Pola baru diajukan, kalau setiap karya dapat jatah diintrogasi. Soalnya pekan sebelumnya kurang maksimal, malah tidak fair.

Perlu dibilang ulang di sini, di kelas ada dua mekanisme dipakai. Ini pola kami belajar. Pertama, mekanisme yang punya tugas menarasikan karya tulis. Di mekanisme ini, kawankawan punya waktu untuk membahasakan ide tulisnya, mulai dari motif sampai bentuk tulisan. Tahap ini kawankawan punya kemungkinan mau menceritakan kembali karya tulisnya atau dengan tujuan apa tulisan itu diniatkan.

Kedua, mekanisme kritik. Ini sering dibilang tahap introgatif. Maksudnya tak ada karya tulis yang bersih. Semua punya cela. Makanya di sini perlu penggeledahan. Perlu kritik. Dua hal bisa terjadi di sini, sebagai tersangka, penulis diintrogasi apa motifmotif dia menulis karya bersangkutan. Kenapa temanya demikian, kenapa judulnya demikian. Tapi ini jarang ditanyakan. Kritik belum sampai mau singgung halhal macam itu.

Kemungkinan kedua kritik struktur dan konten. Analisanya ditujukan kepada struktur kalimat dan gagasan apa sebagai isinya. Kadang, di sini juga sering ada kesalahan ejaan. Bahkan kata sering jadi soal.

Mekanisme kedualah jadi perkara panjang. Tulisan kawankawan digeledah satusatu. Dipreteli. Kemungkinan kedua yang jadi alur. Kalimat per kalimat dikritik. Susunannya. Kesalahan ejaannya. Macamamacam.

Lewat mekanisme itu tiap kawankawan jadi waswas sekaligus senang. Waswas karena banyak kritik dijukan, senang karena ada perbaikan.

Kalau mau dirangkum, ini hal yang jadi problem di kelas pekan ke 6:

Pertama, masalah klasik. Soal ejaan yang sempurna. Kadang "yang disempurnakan" bisa menjadi anutan kalau menulis itu berarti berproses. "EYD" akronim yang sering di dengar itu, tidak begitu saja jadi pakem. Sejarah kesusastraan juga bilang begitu, kalau bahasa itu berkembang. Perkembangannya bisa oleh banyak hal, tapi kebudayaan paling dominan di situ.

Kadang suatu kata atau bahkan cara mengucap tiap kebudayaan berbeda. Apalagi bahasa yang beragam. Sejak Indonesia lahir, bahasa Indonesia juga lahir. Bahasa budaya tetap bertahan, namun Indonesia sebagai bangsa merdeka punya bahasa kolektif. Itulah sebabnya bahasa budaya bukan bahasa nasional. Yang lokal hanya berlaku pada teritori tertentu. Tapi bahasa Indonesia, dari ujung Sumatera sampai ekor timur jauh, jadi bahasa nasional.

Semenjak itu, banyak penyempurnaan kalau bahasa juga butuh aturan. Kalau tidak bahasa jadi medan yang rentan karena waktu dan perubahan. Makanya perlu pembakuan agar punya cara yang sama. Karena akan jadi perkara bila bahasa cair, bisa jadi berbeda. Lewat proses sedemikian, bahasa akhirnya terus dijaga lewat ejaan yang disempurnakan. Bukan dibekukan.

EYD akhirnya jadi patok buat orangorang yang mau menurunkan bahasa lisan jadi tulisan. Aksara yang ditulis harus taat aturan. Bahasa yang diverbatimkan harus ikut EYD.

EYD itu penting, makanya di kelas ini hal pertama yang jadi sorotan. Hasilnya, masih ada beberapa kawankawan yang kurang peka. Misalnya, kalau bahasa asing harus dimiringkan. Kalau yang benar itu bukan "muda" jika mau menyebut tidak susah, tapi "mudah." Bukan "kesustraan" tapi "kesusastraan", bukan "dirumah" tapi "di rumah". Dan, jenisjenis perkara yang dilanggar. Ini memang soal klasik. Barangkali lolos dari tahap editing.

Perkara editing kadang banyak yang lupa. Sesi ini sering disebut bukan bagian proses kreatif menulis. Banyak yang mau karya tulisnya langsung jadi begitu saja. Seolaholah tanpa itu karya tulis sudah jadi belaka. Padahal tidak. Editinglah justru proses menulis sebenarnya. Di situlah, mulai ada perhatian lebih soal ide, kata, kalimat, sampai paragraf. Perhatiannya apakah sudah koherenkah gagasan, tertata baikkah kalimat, sudah baiikkah kata yang dipakai, juga betulkah yang sudah ditulis. Singkatnya, di sini penulis harus berpikir dua kali dibanding tahap pertama saat menulis.

Kedua, soal struktur berpikir. Kalau yang ini kawankawan sudah banyak paham. Tapi, beda struktur pikir, beda struktur kalimat. Boleh dibilang beda yang dipikirkan, beda juga yang telah dituliskan. Ini juga sering jadi soal. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menurunkan gagasannya lewat susunan kalimat yang runut. Lewat kalimat yang runut, pasti ditunjang struktur berpikir yang kokoh. Kadang banyak kalimat jadi runyam akibat struktur pikiran yang berantakan. Sudah bisa dipastikan, orangorang yang punya struktur pikir yang baik, kalau bikin susunan kalimat pasti rapi.

Ketiga, lingkaitnya dengan sudut pandang. Kehebatan seorang penulis bisa ambil sudut pandang yang tak didugaduga. Ini seperti seorang juru kamera yang memainkan angelnya. Di sudut mana dia arahkan kameranya. Banyak kameramen handal, ditunjang dengan lensa beratusratus pixel, tapi tidak memiliki sudut pandang yang unik saat ambil gambar. Banyak penulis dengan gagasan jernih, tapi tidak ditunjang sudut pandang yang berbeda.

Soal ini lebih banyak ditentukan dengan latihan. Banyak membaca karangan orang lain, dan mau belajar terus menerus.

Keempat soal insight. Yang ini bisa dua hal; pengetahuan dan pengalaman. Kawankawan hampir semuanya punya pengetahuan yang bagus. Tapi, barangkali minim pengalaman. Insight tumbuh seusia seberapa jauh gagasan dikembangkan. Mau buka ruang bagi halhal baru. Terutama jika soal pengetahuan mendalam. Yang terakhir kaitannya kuat dengan refleksi, kontemplasi.

Ada dua hasil karya, karya reflektif dan karya aplikatif. Yang pertama, tulisan yang bisa menggubah daya pikir. Karya yang bisa mengajak orang menimbang kembali soalsoal, macammacam. Yakni, karya yang mampu membuat orang tahu, bahwa "soalsoal" bukan sekedar soal belaka, tapi perkara penting. Bisa jadi karya begini bahkan mengubah sudut pandang orangorang. Ini kadang tulisan yang meresahkan.

Karya aplikatif, tulisan yang mengandung teknikteknik, tata cara, juga metode. Kalau yang ini tulisan yang mengajak orangorang lebih banyak berbuat, bukan berpikir. Tulisan karya begini banyak. Bahkan disukai orangorang.

Soal keempat inilah sekaligus diasah di kelas menulis PI. Bukan sekedar menulis, namun juga punya insight.

Barangkali empat hal itulah yang pokok. Kelas begitu panjang, sekaligus juga mengisi yang lenggang; pengetahuan yang bertambah.

Kali ini kelas ditutup sampai sekira pukul sembilan. Sebagian yang lain sudah pulang lepas magrib. Katanya tidak bisa berlamalama. Soalnya baru habis sakit. Yang lain memilih tinggal melanjutkan kelas yang dipending. Kritik karya dilanjutkan, sampai interupsi datang; kelas dilanjutkan pekan depan. Ada kawan yang harus diutamakan, dia belum tidur seharian. Makanya jelang malam agak kurang fit. Karena itu kelas disusul pekan depan.

Pekan depan kelas dimulai sedari siang; pukul satu. Tempatnya masih sama, sekretariat PI. Kawankawan, ini tantangan. Besokbesok butuh banyak energi, perhatian, kemudian juga waktu. Barangkali karena itu bisa maklum, tidak ada penulis yang lahir karena waktu lenggang. Setiap detik begitu penting. Karena itulah menulis berarti siap menderita.

Syahdan, di angkasa masih sama, setiap sudut penuh kabut mendung. Ini memang pekan yang kadung basah. Akhir Februari tinggal dibendung kenangan. Maret, selamat tiba. Jangan sungkan, asa sudah dibubung tinggitinggi..


27 Februari 2016

Menyoal Pelarangan Belok Kiri Fest

Di Jakarta, barubaru ini heboh soal pelarangan Festival Belok Kiri oleh Pusat Kesenian Jakarta. Alasannya, dikutip dari Tempo.co, kegiatan yang mau digelar 27 Februari sampai 5 maret 2016 ini, belum mengantongi surat ijin. Terkuak saat suratijin diurus, Polda Metro Jaya menunjukkan beberapa surat dari berbagai oganisasi masyarakat yang melarang acara itu digelar.

Sebelumnya, versi Agnes, yang mewakili penyelenggara, surat ijin sudah sempat dimiliki. Hanya saja menurut pihak  PKJ masih perlu mendapatkan surat ijin dari pihak kepolisian. Dari pengurusan selanjutnya inilah baru diketahui ternyata ada surat aduan yang melarang kegiatan yang dimaksud.

Festival Belok Kiri belakangan ini banyak menyedot perhatian di beberapa media sosial, terutama kaum muda. Dari laman Facebooknya, festival ini dibuat untuk mengangkat kesadaran terhadap praktikpraktik Orde Baru berupa pelanggaran HAM, kekerasan negara terhadap masyarakat, ketidak adilan sosial, diskriminasi, dan pembelokkan sejarah.

Aksiaksi pelarangan semacam ini kalau mau dibuat daftarnya bakal panjang. Dan uniknya, selain wacana keagamaan, isuisu yang berkaitan dengan sejarah Tanah Air juga jadi incaran pelarangan. Apalagi, kaitannya dengan peristiwa 65 dan komunisme, di semesta kesadaran bangsa masih dianggap sebagai kosakata yang haram.

Ini menandai betapa negara melalui perangkat hukum dan penegaknya belum mampu menjamin kebebasan  dan hakhak berserikat warganya untuk menyampaikan pendapat. Padahal secara undangundang, hal ihwa semacam itu sudah dijamin. Di sini, dari kasuskasus seperti ini, jadi simptom negara  inkonsisten terhadap aturan mainnya sendiri.

Yang mengkhawatirkan, justru negara di dalam konteks kekuasaannya, memanfaatkan sejumlah badan penegaknya melakukan upayaupaya preventif agar terjamin keamanan dan ketentraman. “Keamanan” dan “ketentraman,” dua kosakata yang sarat perspektif. Mengacu Zlavoj Zizek, dua kata itu jadi point de caption. Istilah ini merujuk bidang ideologis yang artinya tarik menarik di antara dua kepentingan. Bagi negara, “keamanan” dan “ketentraman” digunakan bagi situasi tanpa perlawanan, sedang bagi aktivisme politik tertentu itu bisa berarti keadaan yang menjamin kebebabasaannya.

Begitu pula kasus Belok Kiri Festival, “kiri” jadi diksi yang diperebutkan. “Kiri” di kesadaran bangsa Indonesia tidak sekedar sikap politik yang menandai semangat progresif, namun juga mengandung metafora yang muram. Pengertian yang terbangun  di dalamnya setua sejarah bangsa yang pernah mengalami konflik ideologi.

Sementara “kiri” juga bermakna semangat kebaruan untuk mau melihat dengan jujur seperti apa sejarah itu dibentuk. Di bangsa ini, “kiri” bukan selalu berarti sikap politik revolusioner yang pernah diadopsi PKI, melainkan punya semangat pembaharuan. Suatu sikap yang secara universal sama dengan tujuan dibentuknya negara.

Karena itulah, perlu ada festivalfestival, pertemuanpertemuan, rapatrapat, forumforum, sebagai media semangat pembaharuan digalakkan. Dan, ini yang jadi metonimi sebagai kerjakerja kebudayaan. Namun malang, yang namanya metonimi sering jadi perkara. Bukan karena persetujuan atau ketidaksetujuan, melainkan karena absennya pengetahuan.

Namun, negara nampaknya jadi anti kebudayaan. Begitu juga sikap Pusat Kesenian Jakarta. Rancu kiranya pusat kesenian ikut serta menghalanghalangi kegiatan serupa festival. Padahal kegiatan semacam itu bisa jadi suatu alternatif bagi kesenian yang dirasa agak hiper. Juga, suatu hipokrisi bila itu dilakukan atas dasar kebudayaan.

Kalau boleh gamblang, sikap kebudayaan yang anti kebudayaan nampaknya masih bawabawa “kasus lama.” Ini soal paradigma kebudayaan. Visi kebudayaan, juga kesadaran yang menyertainya. Tidak afdol kiranya jika negara tidak menyediakan gelanggang terbuka agar dialektika kebudayaan berproses. Bukankah dari situ bisa muncul tesistesis baru yang jadi tunas. Suatu yang bisa memberikan pengertian baru tentang sejarah indonesia.

Akhirnya, suatu bangsa tidak akan besar jika masih berkutat dengan aksi laranglarang. Belum bisa menjamin warganya menggunakan hak dasarnya sebagai mahluk berserikat. Juga, naif kiranya masih mengkhawatirkan suatu ide berkembang. Mau pintar bagaimana,  jika seorang anak kecil dilarang naik sepeda. Kapan majunya? Begitulah, negara kerap jadi The Father, orang tua yang penuh bahasa imperatif daripada naratif.

Menyoal Plagiarisme

Saya mulai risau. Soal plagiarisme. Dua hal yang bikin jadijadi. Pertama janganjangan sebagian besar karya tulis saya plagiat. Kedua, bisa jadi di luar sana banyak yang curi tulisan saya. Tapi, yang bikin akut, soal pertama. Apalagi kalau itu dilakukan dengan kesadaran penuh. Gawat.

Tempo hari sudah ada diskusi. Menyoal plagiarisme dan pencuri bahasa. Saya tak tahu apakah dua konsep itu berbeda. Saya tak sempat tanyakan. Atau mungkin itu punya arti yang sama. Kalau iya, jadi itu hanya soal teknis judul saja. Suatu teknik promosi.

Inti diskusi itu yang jadi perkara. Apa itu plagiarisme? Sejauh apa batasannya? Bagaimanakah bentuknya? Seperti apa jenisnya? Siapasiapa pelakunya? Siapa korbannya? Bagaimana plagiarisme dilakukan? Pada tekskah? Simbol; ide; gagasan? Atau niat barangkali?

Kalau mau dipersoalkan lebih jauh bisa berupa, bagaimanakah plagiarisme masuk dalam wacana ilmupengetahuan? Siapa yang berkepentingan di dalamnya? Apakah ini soal wewenang? Soal hak cipta? Sejauh manakah suatu karya disebut memiliki hak cipta? Lantas untuk apa hak cipta itu sebenarnya?

Pasca diskusi itu juga jadi soal. Banyak yang belum jelas betul. Termasuk perkara etik. Kejujuran.

Omongomong soal kejujuran, terutama soal ide, saya agak ragu kalau saya punya wewenang mau sebut itu murni karya saya. Banyak tulisan saya hasil replika atas karya orang lain. Apalagi itu karena didorong oleh gagasan yang saya daur ulang. Kalau sudah begitu, saya berjagajaga dari pelbagai prasangka: saya sematkan nama atau dari mana saya dapat ide yang dibilang. Aman.

Di Indonesia pernah jadi soal dalam sejarah kesusastraan. Misalnya, sebagian karya Chairil Anwar yang dianggap saduran dari beberapa karyakarya Willem Elsschot, Archibald MacLeish, E Du Perron, John Cornford, Hsu Chih-Mo, Conrad Aiken, WH Auden. Beberapa ahli bilang, kalau beberapa karya pelopor angkatan 45 ini hanya berupa peralihan bahasa asing ke bahasa Indonesia. Juga kasus “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” Buya Hamka yang disinyalir mengikuti cerita Musthafa al-Manfaluthi berjudul Magdalaine. Ini pernah ditulis Seno Gumira Ajidarma tahun 2008 yang dimuat di Kompas, Senin, 9 Juni.

Bahkan, sempat juga jadi buah bibir, atau sampai bikin ribut, karya Seno sendiri "Dodolidodolitdodolibret" yang jadi pemenang cerpen terbaik versi Kompas 2011. Walaupun di akhir tulisannya, Seno sudah mewanti cerpennya hanyalah versi ulang sendiri dari ceritacerita agama, namun tetap saja jadi soal, plagiatkah Seno? Cerita yang ditulis Seno sendiri juga ada yang mengaitkan dengan karya Leo Tolstoy karena kemiripan cerita dan plotnya. Lantas kalau sudah begini, apa soal?

Dari soal itu berkembang dua problem subtansial. Pertama tentang keorisinalitasan pengarang. Kedua, soal kematian pengarang. Yang pertama menyoal keagungan pengarang. Yang kedua mau bilang kalau pembaca punya posisi penting dalam menentukan kebesaran pengarang.

Orientasi problem pertama akan krusial jika diajukan kepada pertanyaan seberapa pentingkah sang pengarang dalam problem plagiarisme. Apakah karya yang rusak akan mempengaruhi kredibilitas sang pengarang? Ataukah itu akan jadi lain jika sudah terjadi pemutusan antara sang pengarang dengan karangannya seperti diorientasikan problem yang kedua.

Dua problem di atas hanya soal. Boleh jadi sudah jadi buah bibir. Apalagi wacana. Kalau yang terakhir baik jadi urusan para scholar. Agar jelas. Biar tuntas.

Sudah sering saya dengar kasus plagiarisme. Apalagi kejadiannya di pucukpucuk peradaban; kampus. Ini miris. Plagiarisme jadi lakon intelektual. Saya kira pasalnya bukan soal pengetahuan semata, tapi etika intelektual.

Soal etika intelektual juga soal iklim intelektual. Banyak kasus plagiarisme tumbuh karena tidak ditunjang iklim yang baik. Contoh kecil ada beberapa kawan yang saya tahu melakukan plagiarisme karena hidup di iklim intelektual yang buruk. Saya duga mereka melakukan itu karena tidak ditunjang wawasan literasi yang baik. Akibatnya mental meniru sudah jadi budaya.

Mental meniru saya kira sudah jadi urusan bawaan yang integral dari bangsa pasca kolonial. Banyak ahli menyitir soal mentalitas bangsa bekas jajahan. Hampir semua lini jadi medan tiruan. Semuanya hasil jiplakan. Yang soal kalau tidak ada proses daur ulang di dalamnya. Tidak ada usaha refleksi disertakan. Makanya mandiri itu penting. Mau mengambil apaapa yang dipunyai. Mengolahnya jadi hal yang baru. Dengan usaha sendiri, tenaga sendiri.

Jenis plagiarisme bisa berlapis. Lapis paling ringan ada yang bilang plagiarisme minimalis. Model ini ditampakkan dengan cara mengambil ide, gagasan, atau pikiran melalui pengungkapan bahasa yang lain, bahasa yang berbeda. Ini masih diragukan apakah masuk kategori plagiasi.

Yang kedua, plagiat jenis parsial. Model ini memadukan beberapa sumber dengan penggabungan menjadi bentuk baru. Walaupun ada ada unsur kreatifitas di dalamnya, tapi tetap tidak mengubah konten.

Plagiat berat adalah plagiat yang paling gampang ditemukan. Bahasa, ide, ataupun gagasan tak berubah sama sekali. Plagiator hanya memindahkannya belaka. Tanpa menyebut dari mana sumbernya. Ini model yang sering banyak orang lakukan.

Plagiasi saya kira bisa jauh ditarik di masa mitosmitos. Mitos Prometheus saya kira contoh bagaimana plagiasi atas ide ilmupengetahuan diwartakan. Atas nama ilmupengetahuan, Prometheus dikutuk karena mencuri api pengetahuan dewa tertinggi sebelum membagibagikannya kepada manusia. Akibatnya Prometheus dikutuk seumur hidup. Sanksinya abadi berupa cabikan patukan burung nasar di hati dan jantung bertahuntahun lamanya.

Plagiasi Prometheus adalah aksi pemberontakan. Tindakan yang diarahkan untuk melawan dominasi dewadewa. Pencuriannya dilakukan atas dasar semangat pencerahan kepada umat manusia. Dari kacamata dewadewa, Promotheus adalah pencuri ilmupengetahuan, tapi di mata manusia, dia adalah pahlawan yang memberikan terang cahaya ilmu.

Saya khawatir di balik pelarangan plagiasi, ada dominasi yang ingin kukuh berdiri. Suatu sistem yang butuh pengakuan. Wewenang yang tak ingin bergeser. Jadi ini hanya seolaholah soal orisinalitas, soal sumber, ide, gagasan, yang semuanya dijunjung untuk satu tujuan; kekuasaan.

Tapi, itu hanya dugaan saya saja. Sampai di sini plagiasi, yang berarti menculik itu, semua orang sepakat adalah tindakan yang sewenangwenang. Aktifitas kejahatan yang tidak etis. Kalau saja, ini hanya soal siapa dahulu menemukan apa, siapa yang lebih orisinal, dan dari mana ide gagasan itu ditemukan, saya kira tidak sesederhana itu plagiarisme.

Plagiasi jadi genting kalau memang suatu komunitas sudah melek literasi. Itu mengapa plagiarisme jadi marak, soalnya literasi di sekitar kita belum jadi obrolan. Belum jadi yang penting.


kalau kala buat kitakita

Ini sudah Jumat. Dari kemarin saya sering membuka email. Tujuannya mau lihat apakah sudah ada tulisan masuk. Tapi, sampai detik sekarang, belum ada.

Minggu lalu di kelas menulis PI sudah dibilang kalau jelang akhir pekan kawankawan bisa diingatkan. Maksudnya, soal tulisan. Jadi bila redaksi kekosongan tulisan, ada kawankawan yang bisa mengisi.

Kala, sudah sering dibilang, adalah media kolektif. Kepunyaan jamaah kelas menulis PI. Dengan sendirinya kawankawan yang terlibat punya peluang tulisannya dimuat. Apalagi memang dikhususkan buat karya kawankawan. Jadi konsepnya gampang, kawankawan menulis, Kala punya banyak stok.

Cuman, saya pikir kawankawan bisa lupa. Makanya perlu diingatkan. Siapa tahu ada beberapa tulisan yang bisa dimuat. Sembari di satu hal kawankawan menyiapkan tulisan buak kelas menulis besok.

Kemarin sempat belum terang, soal jumlah kata yang dimuat Kala. Saya bilang Kala minimal menerima tulisan 500-700 kata. Bisa juga paling maksimal 900. Tapi, itu jika hanya menampung satu puisi.

Juga, selama ini Kala mengkhususkan tulisan genre esai dan prosa. Bukan berarti genre tulisan lain tidak diterima. Selama dua jenis ini masih ada, maka tulisan itulah yang dipakai Kala. Sikap Kala ini tidak dengan sendirinya memandang model tulisan lain jauh lebih tidak baik dari jenis tulisan lain.

Kala menaruh prinsip, genre esai dan prosa adalah dua jenis tulisan yang bisa memadukan unsurunsur sastra dan ilmiah dalam satu tulisan. Sebab itulah dua genre ini dikhususkan, bukan diutamakan. Makanya, sampai pekan keenam, Kala masih memadukan dua genre ini di setiap terbitannya.

Soal tema, Kala bebas menerima tajuk apapun. Tidak ada tendensi atas suatu wacana. Akan jauh lebih baik kalau suatu soal menyitir isuisu aktual. Berusaha memproblematisir menjadi tulisan. Misal kemarin, Kala sudah memulai dengan isu LGBT. Saya kira banyak problem yang bisa diangkat jadi karya tulis. Pintarpintarnya saja kawankawan mengolahnya dari sudut pandang tertentu.

Sembari menunggu tulisan masuk, di edisi enam, baru satu puisi yang siap Kala muat. Saya kira masih ada dua hari. Banyak waktu bagi penulis Kala mau mengirim tulisannya. Kita tunggu saja.

Omongomong soal Kala, media ini masih sangat muda. Juga sangat sederhana. Cetakannya saja masih pakai print manual, kemudian dicopy, diperbanyak. Karena itulah Kala masih menaruh perhatian kepada sistem jejaring. Di tangan kawankawanlah Kala berlipat ganda. Soalnya, dari cetakannya sendiri, Kala hanya mampu dibuat 10-15 eksemplar. Makanya, kawankawan sendirilah distributornya.

Kala, karena itu bukan apaapa kecuali kawankawan turut andil. Satu hal yang menjadi visi Kala semenjak pertama dirumuskan, Kala bisa merembes masuk di lingkungan akademik tertentu, terutama kampus. Tidak ingin kalah dari media jumat, kalau bisa Kala juga ada di pintu masuk masjidmasjid. Jadi bacaan alternatif. Tapi, kalau yang ini bukan target utama. Hanya becandaan saja.

Kalau mau serius, Kala harus bisa jadi pemantik. Ajang sikut dengan semacam semangat berwacana. Ukurannya yang cuman selembar tak bisa jadi bacaan utama. Tulisan di dalamnya hanya bisa sebagai catatan sederhana atas suatu tema. Prosa di dalamnya hanya bisa jadi pelepas penat kalau pembaca mau bacaan pinggiran. Kala hanya bisa memancing, bukan menyimpulkan.

Itulah mengapa, di Kala tak ada simpulan apa pun. Mana mungkin dengan format yang begitu sederhana, Kala beraniberani menyimpulkan suatu perkara. Esaiesainya saja hanya sampai 700 kata, tidak mungkin mengambil suatu sikap akhir menyimpulkan. Padahal mengambil kesimpulan adalah tindakan terakhir dari diskursus. Kalau berdiskursus berarti banyak tahap diskusi. Kala bukan media macam itu. Kala bukan jurnal.

Kala ibaratnya hanya korek api. Dia hanya jadi bagian kecil suatu jejaring yang lebih besar. Itupun kalau mau dianggap bagian. Soalnya Kala hanya ecekecek. Toh paling jauh, Kala bermanfaat di kalangan yang terbatas. Bisa jadi pemancing diskusi ringan kala akhir pekan. Bukan buat semua orang. Itu jauh dari harapan. Kala hanya untuk kitakita saja.

Radarada malu mau bilang Kala itu buletin. Sepengetahuan kami, buletin itu punya banyak pagina. Disusun banyak tema. Memuat banyak penulis. Bahkan ditunjang dengan diskursus tertentu. Kala, menurut saya lebih cocok disebut selebaran belaka. Paling banter minibuletin.

Tapi, kalau Kala disematkan visi dan semangat kolektif yang besar, saya kira Kala bisa jadi buletin. Saya yakin semangat itu manifes di setiap aksara kawankawan. Buktinya Kala sudah jalan jelang dua bulan. Walaupun masih tampak sederhana. Sungguh sederhana.

Satu hal yang bisa jadi bocoran, Kala itu selebaran yang rentan. Musim hujan begini jangan cobacoba membacanya di luar. Tintanya luntur. Maklum cetakannya belum berkualitas. Nanti saja itu disoalkan.

Di luar hujan malah tambah deras. Tak tahu kapan mau berhenti. Saya yakin, kawankawan banyak yang memilih tinggal di rumah. Banyak bisa dilakukan; mulai dari tidur panjang; menonton film favorit; membaca buku; mainmain gawai; atau memilih menulis. Yang terakhir saya kira jauh lebih baik. Terutama kalau itu untuk Kala. Kalau itu tulisan untuk kitakita.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...