12 Februari 2016

twitt tentang twitter

Tempo hari saya bikin akun twitter baru. Maksudnya akun lama yang diaktifkan kembali. Entah mengapa tibatiba saya ingin main twitter. Kalau dilihat waktunya, twitter saya di buat tahun 2013. Tahun itu saya resmi jadi netizen twitter. Namun, karena saat itu menganggap twitter ribet, saya urung membukanya. Sebabnya sederhana belaka, saya tak paham istilahistilah yang dipakai twitter.

Kala itu membuat twitter hanya untuk mencari wadah agar tulisan diblog bisa diposting. Rencananya selain facebook, twitter akan saya gunakan untuk mengupload tulisan. Namun sayang, karena jarang dibuka, akhirnya tanpa sepengetahuan, akun saya ditangguhkan.

Itu saya tahu ketika ingin memposting tulisan. Tibatiba akun sulit ditembus. Pikir saya barangkali pasword yang saya lupa. Setelah dicoba ulangulang malah tidak mau. Akhirnya jalan lain saya tempuh. Lewat mesin pencari, saya buka jejak rekaman akun saya. Ketika masuk dan loading, malah di situ ditulis akun saya di tangguhkan.

Berbagai hal dilakukan agar akun saya dapat aktif kembali. Mulai dari searching bagaimana cara membuka akun twitter yang terblokir, sampai mencoba kembali berbagai kata yang sering dijadikan pasword. Dicoba berkalikali tidak pernah berhasil. Sampai akhirnya saya malas mengurusinya.

Bertahuntahun saya tinggalkan twitter dan lebih suka main facebook. Main fb itupun hanya sekedar melihatlihat perkembangan status orangorang. Terkadang malah jalanjalan ke dinding orangorang yang menarik perhatian. Selebihnya hanya sekedar upload tulisan via blog.

Jadi nyaris hampir jejak rekam fb hanya memuat tulisantulisan blog. Saya bisa dikata orang yang jarang memuat status. Pikir saya tak ada menariknya bikin status kalau hanya sekedar hanya ingin mendapatkan komentar. Toh kalau iya, saya ingin komentar yang ada tentang tulisantulisan yang diupload.

Saya agak lupa kapan saya membuat akun facebook. Sebab memang bukan saya yang membuatnya. Saat itu belum ada kemauan seperti kebanyakan orang yang ramai gegara booming fb. Tapi entah mengapa seorang teman membuatkan saya akun. Katanya biar tidak ketinggalan jaman. Sejak saat itu akhirnya saya punya akun baru. Sekiranya itu terjadi antara 2007 atau 2008.

Ketika mengoperasikan fb tak ada kesulitan menggunakannya. fb ternyata mudah digunakan. Barangkali tampilannya yang membuat begitu. Saat itu saya juga baru tahu bahwa fb prinsipnya jejaring pertemanan. Dan sewaktuwaktu kita bisa mengungkapkan apa yang dipikir dan dirasakan dalam kolom status.

Karena situs jejaring pertemanan, saya juga mulai mencari mukamuka yang saya kenali. Kalau ada yang dikenali tidak pikir panjang langsung saya ajak berteman. Kadang juga dari nama yang saya ketahui membuat aktivitas itu semakin gampang. Saya tinggal klik dan menunggu dikonfirm. Begitu seterusnya sampai saya capek sendiri.

Semenjak dibuat, akun fb saya sudah punya lebih seribuan teman. Entah teman yang betulbetul teman atau hanya sekedar kenal tampang. Bahkan ada yang semula bukan teman, tapi karena sering mengomentari akhirnya jadi teman. Bahkan tibatiba diajak teman begitu saja. Kalau kenal saya konfirmasi, kalau tidak saya biarkan.

Sampai sekarang ada orangorang yang tidak saya konfimasi. Mereka entah mengapa mengajak saya berteman. Mungkin pernah melihat atau merasa pernah terlibat dalam satu momen dengan saya. Entahlah. Yang pasti adaada saja yang nangkring di daftar tunggu pertemanan.

Saya bukan sombong, tapi pilihpilih teman. Jaman sekarang yang serba transparan saya harus berhatihati pilih teman. Apalagi banyak teman yang anehaneh. Kadang adaada saja yang diposting. Bahkan bawabawa iman segala. Pusing saya.

Yang buat heran, grup yang “sejuta” jumlahnya. Sedikitsedikit grup. Sebentarsebentar grup. Lagilagi grup. Memangya grup bisa bikin bahagia? Justru bikin jengkel. Sedikitsedikit masuk notifikasi yang tidak jelas. Apalagi yang muat situs “tantetante.”

Saya heran saja grup yang segudang itu. Tidak tahu apa manfaatnya. Seakanakan bergabung di grup sudah bisa bikin sesuatu. Orang bikin grup kan dasarnya punya tujuan. Ada maksud. Tapi kalau hanya kumpulkumpul teman buat apa?

Sekarang akun twitter saya telah aktif kembali. Agak kecewa juga setelah sekian lama baru dipulihkan. Sebabnya saya hanya punya sedikit followers. Kata teman twitter beda dengan facebook. Kalau twitter agak susah dapat followers. Kita harus aktif ngetwitt, kalau tidak sepi pengunjung. Apalagi kalau dilihatlihat hanya orangorang “tertentu” yang main twitter. Makanya agak susah mendapatkan followers.

Baiklah mudahmudahan twitter senyaman facebook kala dimainkan. Saat ini saya masih cobacoba mengetahui cara tepat menggunakannya. Berusaha mengikuti kebiasaan orangorang bermain twitter. Juga agar dapat memiliki teman di sana. Apalagi kebiasaan posting tulisan saya. Mudahmudahan selancar facebook. Cao.


10 Februari 2016

yang tinggal dari "geliat atte dalam dua novel"

Jusnawati bilang, tulisannya mengandung dua hal; segi informatif dan evaluatif. Berdasarkan itulah dia membangun perspektif. Di tulisannya, dia banyak omong tentang hal yang patut diketahui, dan yang patut dievaluasi. Ini posisi yang dia tempuh.

Dia memberi tahu, Titisan Cinta Leluhur dan Djarina, dua novel yang patut dibaca. Setidaknya yang senang dengan sejarah suatu kaum. Jusna bilang kalau dia tidak suka baca sejarah. Tapi, dari dua novel yang diresensinya, dia mulai mempertimbangkan minatnya.

Pemaparan Jusna lumayan banyak. Saya agak kurang perhatikan. Tidak tahu kawankawan yang lain. Banyak suara bising. Motormotor berkejaran. Apalagi mobil yang macet. Tapi ada hal yang saya tangkap. Hubungannya dengan nuansa feminin yang dibilangnya.

Di warkop yang ramai sayupsayup saya dengar Jusna juga bilang kalau Titisan Cinta Leluhur punya judul yang filosofis. Judulnya menarik, ada kesan filosofis. Begitu dia bilang. Tapi dia kritik balik, bahwa dia tidak menemukan kesan yang sama. Seakanakan novel itu bercerita yang lain. Tidak ada kesan titisan cinta leluhur , begitu katanya. Ini kritik pertama.

Kedua Jusna ajukan kepada Djarina. Novel kedua yang diresensinya. Katanya tak relevan antara sinopsis dan isi novel. Di sinopsisnya, Djarina disebut membahas Bantaeng era pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, tapi Jusna tangkap justru disitu tak ada ulasan yang disebut di bagian sinopsis. Jusna ajukan pertanyaan: apakah sinopsis itu ditulis langsung penulisnya atau penerbit bukunya. Ini kritik kedua.

Lanjutan dari kritik kedua. Ini dari saya. Kalau disebut sinopsis mewakili keseluruhan isi novel, Djarina novel yang abai terhadap relevansi ceritanya. Ketika seseorang berdasar sinopsis memilih memiliki bukunya, tapi justru isinya berbeda, nanti disebut penipuan. Bisa jadi. Ini hanya prasangka saja. Sahsah saja.

Tapi yang dibilang Jusna menarik. Dia menemukan unsur feminin di dalam dua novel karangan Atte Maladevi ini. Juga unsur lokalitas. Dia sebut unsur keperempuanan begitu kuat di dalamnya. Ini patut dicontoh, katanya. Terutama yang ditunjukkan tokoh Djarina.

Di sisi lain Andi Reski tidak sepakat. Katanya banyak hal yang bisa diulas. Bukan saja kandungan nilai perempuan. Tapi maskulinitas tokohnya. Bilang Andi Reski, justru tokoh lakilaki dalam novel Titisan Cinta Leluhur juga patut diperhatikan. Justru Djarinah hanya jadi media bagaimana tokohtokoh di sekitarnya dikenal. Terutama maskulinitasnya.

Selanjutnya tentang nama Djarina. Nama yang sama dalam dua novel harus mengandung pertanyaan. Ini Jusna yang soalkan. Dia punya indikasi kalau dua novel Atte saling berhubungan. Itu bisa terjadi kalau ceritanya saling terkait. Atau saling menyahuti. Seperti novel Pram.

Tapi saya bilang bisa juga tidak. Banyak penulis sering gunakan nama yang sama untuk cerita yang beda. Putu Wijaya misalnya, selalu pakai Pak Ami dan Ibu Ami dihampir cerpencerpennya. Juga beberapa cerpen Eka Kurniawan. Ceritanya berbeda dengan nama yang sama.

Ada kemungkinan kalau dua novel Atte berhubungan. Tidak pada ceritanya, tapi latarnya. Dua novelnya dihubungkan sejarah Bantaeng. Tradisi masyarakatnya. Juga bisa jadi tempatnya. Bisa dibilang dua novel Atte dipertemukan oleh konteks yang sama. Ini yang mungkin Jusna maksud. Yang disebut berhubungan. Tapi, entahlah…

Selebihnya diskusi dimulai, agak formal, padahal bukan itu mau saya. Niat awal ini hanya untuk ngobrol ringan tapi berbobot. Atau berbobot sambil santai. Dengan sedikit menyeruput kopi. Atau teh tarik seperti dipesan Itto. Yang lain kopi. Sedang saya teh susu.

Saya jelaskan sebelumnya Bahrulamsal For Literacy hanya ingin mengumpulkan beberapa kawankawan yang senang ngopi. Berdiskusi daripada lowong sembari online tanpa sadar. Lebih baik yang individual dikolektifkan. Waktu senggang jadi ilmu. Kebiasaan jadi pengetahuan. Itulah saya undang Jusnawati untuk diajak ngobrol bersama yang lain. Tentang tulisannya di koran tempo hari.

09 Februari 2016

geliat atte dalam dua novel


mojok a la bunker

Kami punya kebiasan baru di bunker. Bikin lapakan a la orang-orang Jogja. Jadi kalau siang datang cepatcepat kami bangun. Panas. Maklum bunker tanpa plafon. Setelah itu karpet dikeluarkan. Tepat di halaman belakang kami gelar.

Awalnya kebiasaan ini dilakukan oleh Jahir. Dulu jaringan agak susah di bunker. Makanya dia keluar dudukduduk di belakang, pakai matras a la pendaki. Tujuannya agar mudah menemukan jaringan.

Kebiasaan itu juga diikuti Indra, ipar Sabara Nuruddin. Biasanya kalau saya datang bertandang, dia sudah nongkrong di belakang. Pegang hape lengkap dengan headsetnya. Tidurtiduran dengan matras kepunyaan Ujhe.

Selang berapa lama kebiasaan itu ditiru Ridho. Apalagi setelah ia sering tinggal di bunker. Maklum selama ini dia nomaden. Baru kali ini dia betah di bunker. Karena siang panas, dia pun keluar. Ambil matras, digelar kemudian nongkrong sambil menatap gawainya.

Saya yang lama tak tinggal di bunker merasa cara itu bagian dari inovasi. Jauh ketika saya masih tinggal, tidak ada kebiasaan seperti yang dilakukan pemudapemuda tanggung ini. Wajar sebab dulu kamar depan masih berfungsi. Di situ entah kenapa justru ademayem. Tidak seperti ruangan lain, panas. Di sanalah saya sering menghabiskan waktu. Membaca dan tidur sepuasnya.

Sekarang, saat bunker hampir ditelan rumahrumah yang bermunculan, sudah jauh berbeda. Banjir kerap melanda. Sengsengnya semakin lapuk. Kayukayunya makin reyot. Dan, ruang depan yang dulu sering dipakai, sekarang malah lebih mirip gudang. Tak ada yang mau di situ. Gelap.

Satu yang abadi di bunker, panasnya itu tadi. Banyak yang meninggalkan bunker. Tapi panasnya tak mau hilanghilang. Setia seperti nasib melarat penghuninya. Karena itulah Jahir keluar lapakan. Indra nongkrong intimi gawainya. Dan, Ridho lama menghabiskan waktu di situ karena anginnya yang sepoisepoi.

Akhirnya sepulang dari Bulukumba saya tidak langsung ke rumah. Saya singgah di rumah Asrul. Menginap beberapa minggu di sana. Makan dan berak juga di sana. Bahkan kosan Asrul sudah saya anggap rumah.

Tapi ketika datang ke bunker, di halaman belakang sudah ada Ridho pulas tertidur. Saya kira gelandangan yang numpang menepi. Lantas cepatcepat saya ralat. Itu Ridho, kampret apa yang dia bikin di situ. Dia pakai matras di bawahnya. Dan, masyaallah. Tanpa baju tidur mirip orang kelaparan.

Maklum Ridho orangnya kurus. Namun melihatnya tidur di situ asyik juga. Di bawah rindang pohon karsen. Angin yang bertiup seirama awan di atasnya. Langit yang biru muda jadi atapnya. Amboi, plus segelas kopi yang dibuatnya.

Saya masuk ke dalam bunker. Panas. Saya keluar. Saya duduk di sampingnya. Agak lama saya duduk di situ, hanya sekedar cari angin. Tak lama berselang, memang betul kata saya, asyik.

Akhirnya saya memutuskan nginap semalam di bunker. Seperti yang sudahsudah, banyak nyamuk. Juga banyak yang lainnya; Ujhe, Muhajir, Jahir, dan sudah pasti Ridho. Di tambah satu orang lagi karpet dibagi. Posisi diatur. Tidur.

Paginya kami bangun satusatu. Ujhe yang paling dahulu. Kemudian entah Muhajir atau Jahir. Yang terakhir kalau bukan saya ya Ridho. Begitulah. Saya dan Ridho memang seperti partner sekaligus rival. Kalau tidur di dalam kelambu yang sama. Tapi soal mandi, saya sering marahmarah. Ridho mandinya bisa hampir satu jam. Makanya lebih baik saya lebih dulu mandi dibanding dia. Karena itu saya rivalnya.

Saat bangun ternyata bukan pagi. Sudah siang. Bunker berubah oven. Panas. Terbesitlah ide itu. Matras dikeluarkan. Spanduk dibentang jadi alasnya. Di halaman belakang kami berpindah tempat. Dudukduduk sambil ngopi. Sedikitsedikit diskusi tentang kenapa awan bisa terbentuk. Ini pertanyaan Ridho kalau sudah kehabisan kuota internet.

Kebiasaan itu terus berlanjut. Sampai sekarang. Tapi ada sedikit perubahan. Kali ini bukan lagi matras, tapi karpet plastik yang dipakai. Jadinya kami leluasa bergerak. Seperti orang piknik. Itu saya bikin agar banyak menampung orang. Kalau matras hanya bisa diduduki dua orang belaka.

Sekarang saya, Ridho, dan Muhajir, sedang di belakang bunker. Tepat di halamannya yang sempit. Lapakan a la angkringan Jogja. Muhajir bermain gitar flashnya. Ridho memotong kumisnya sambil ngopi, sesekali sambil menatap awan, kenapa dia bisa terbentuk. Dan, Saya, ambil laptop, menulis dan menulis.


08 Februari 2016

saat mamak datang

Pantas mamak datang. Ternyata hari ini libur. Semenjak kemarin dia sudah bilang akan datang. Saya iyakan saja. Dari Bulukumba, bersama adiknya tiba saat sore hari.

Otomatis mamak libur ngajar. Hari imlek dia manfaatkan jenguk nenek. Sudah berbulan dia tidak bertemu ibunya. Pasti dia rindu. Nenek saya memang tinggal satusatunya. Makanya perhatian begitu besar kepadanya.

Kemarin mamak tanya. Hubungannya dengan tesis saya. Saya bilang sedang diproses. Kapan selesainya. Bilang saya mungkin pertengahan tahun. Bulan juli agenda wisuda di kampus. Di bulan maret saya kurang yakin.

Mamak juga ingin bertemu Fajar, adik saya. Dia jarang pulang. Mamak sering menelpon Fajar, cuman jarang diangkat. Ima bilang hapenya rusak. Padahal Fajar punya dua hape. Karena itu mamak datang. Sekalian mengecek adik saya.

Mamak juga cerita tentang keadaan rumah. Di kampung rumah sedang direnovasi. Katanya tinggal ditegel. Kamar saya juga sudah bisa ditempati. Saya hanya senyum mendengarnya. Katanya bukubuku bawa saja ke Bulukumba. Nanti dipajang di almari. Saya bilang nanti saja. Saya masih suka melihat tumpukan buku.

Saya cerita ke mamak tentang Mochtar Pabottingi. Saya bilang kemarin dulu dia menerima permintaan pertemanan. Saya katakan, "terimakasih sudah di konfirm. Salam dari keluarga di Bulukumba" Pak Moçhtar balas dengan ucapan doa bagi sekeluarga di Bulukumba. Mendengar itu mamak senyamsenyum. Lain kali kalau sempat katakan dari cucu Jennang di Barebba, bilang mamak. Dia pasti tahu. Kata mamak terakhir dia datang saat kakaknya meninggal.

Mamak bilang sudah baca bukunya. Saya hanya bilang baru sedikit. Tidak sempat. Saya tanya kenapa rambut Mochtar putih, padahal terlihat muda. Mamak bilang memang begitu keturunan. Bapakmu saja rambutnya putih. Seperti sepupunya. Mendengar itu saya khawatir. Janganjangan belum tua saya sudah punya rambut putih.

Fajar juga sering omong. Barangkali dia kesal. Bukubuku saya banyak mengambil tempat. Katanya sama, bawa saja ke Bulukumba. Saya tolak permintaannya. Dia malah ngoceh, kalau begitu rapikan susunannya. Sudah banyak debu bertumpuk. Saya acuh saja.

Fajar pernah membuatkan lemari. Dia kumpul kayukayu bekas. Digergaji dipaku. Disusun. Seharian dia berjibaku. Dengan keringat, dan kejengkelan. Tak lama almari jadi. Setelah itu bukubuku diisi di dalamnya. Saya senang. Dia duduk di pintu, merokok.

Sayang bukubuku terus berdatangan. Saya membeli, dan mengoleksi. Fajar diam saja. Dia sudah tahu. Seiring waktu buku semakin banyak. Sampai sekarang. Terus bertambah.
Mamak kalau datang di kamar, sering mengambil buku. Kadang tanpa saya tahu. Dia membaca bukubuku berbau agama. Pernah dia mengambil buku tentang kopi. Barangkali karena sampulnya. Atau memang isinya. Dia bawa pulang ke Bulukumba. Mungkin untuk bapak. Di rumah bapak sering minum kopi. Mamak yang sering bikin.

Kali ini tidak ada susu dibawa mamak. Kalau datang dia sering bawa sekaleng susu. Katanya biar bisa dicampur kopi. Mamak hanya bawa beras. Bilangnya biar bisa saya bawa ke bunker. Saya iyakan saja. Soalnya beras di bunker tinggal sedikit.

Pagi tadi mamak sudah membangunkan. Shalat shubuh katanya. Saya bangun. Fajar bangun. Shalat shubuh. Setelahnya dari dapur muncul suarasuara. Orangorang juga sudah bangun. Air mengalir, barangkali berudhu. Saya lanjut tidur. Fajar keluar merokok. Dia memang kuat merokok. Mamak tahu itu. Tapi Fajar sudah besar.

Setelah itu mamak menggoreng pisang. Juga bikin teh. Tante Uni memasak. Puang Hera memotong sayur. Puang Aty tidak ada. Katanya dia ke Palopo. Bisa jadi urusan kampus. Saya abaikan saja.

Saya bilang mau keluar mengurusi berkas. Cuci foto. Scan KTP. Ijazah dan transkip nilai. Dan membikin surat peemohonan. Mamak bilang jangan lupa makan dulu. Dia sering cemas. Katanya saya jarang makan. Tidak seperti Fajar, kuat makan.

Tapi saya masih sibuk edit tulisan. Masih ada tiga tulisan belum rampung. Saya juga berencana bikin paper. Untuk diskusi tanggal 12 nanti. Saya jadi pembicara, soal Karl Marx. Belum lagi harus baca buku, dan sedikit diskusi.

Nenek sudah mandi. Juga sudah buang air. Diumurnya yang renta dia masih kuat cebok sendiri. Padahal nenek sudah tak kuat berjalan. Kadang dia dibopoh, agar tak jatuh tibatiba. Nenek sudah banyak lupa tentang anakanaknya. Namanamanya, bahkan orangnya. Kami hanya maklum. Bahkan sering dibuat bercanda.

Setelah mandi saya tanya mamak. Tentang buku yang dibacanya. Ketika di Bulukumba, mamak ambil satu buku saya. "Tiada Ojek di Paris" karya Seno Gumira Ajidharma. Dia sering membacanya kalau istirahat. Saya heran. Tumben. Katanya isinya bagus. Katanya jangan dibawa dulu. Biar mamak baca sampai habis. Begitu katanya.

Namun mamak lupa. Saya tidak tahu apa sudah tuntas dibaca. Intinya mamak tidak membawanya. Saya mengangguk saja. Tidak apaapa. Yang penting tidak semua buku diambilnya. Lagian kalau diambil pasti hanya di rumah. Tidak hilang. Seperti bukuku yang lain.

Ketika beranjak berangkat saya duduk sebentar dengan nenek. Sudah lama saya tidak melihatnya. Dia sedang duduk di teras rumah. Sendirian. Itu memang kebiasaannya. Barangkali mencari udara segar. Saya menghampirinya. Duduk di sebelahnya.

Agak lama dia memandang saya. Nenek bilang "igako anak?" Saya ketawa. Mamak yang melihat juga ketawa. Saya bilang dengan suara agak keras, " oppota pungnek" Nenek hanya senyamsenyum. Bahkan ketawa. Giginya sudah habis. Ompong.

Saya berpamitan. Nenek ketawa lagi. Saya salim tangannya. Kulitnya keriput. Cincin dijari manisnya. Saya cium keningnya beberapa saat. Baunya harum. Itu karena sudah mandi. Saya pamitan kepada mamak. Saya salim. Saya cium keningnya juga. Tidak bau apapa. Hanya bau rambutnya. Saya suka bau rambutnya. Bau khas mamak.

Saya beranjak ke atas motor. Sebelumnya ucap salam. Dan berangkat pergi. Sekarang, di waktu magrib, mamak juga barangkali sudah berangkat pulang. Mudahmudahan tidak ada buku yang dibawa pulang. Saya khawatir sebab dari pagi ada buku yang dipegangnya. Saya tak tahu itu buku siapa. Mudahmudahan bukan punya saya.

---

Nb: Yang merayakan Imlek, selamat.


lukisan sialan

Kebiasaan ketika tulisan saya terbit di media cetak, saya cepatcepat membingkainya. Itu cara saya mengungkapkan kegembiraan. Hitunghitung ajang gagahgagahan. Terutama buat hiasan di dalam kamar.

Pernah suatu waktu ketika tulisan pertama terbit di media cetak, saya tidak sempat melihatnya. Nanti saya tahu ketika melihat langsung melalui versi onlinenya. Saat itu bahagia bukan main. Pertama kalinya tulisan saya dimuat.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Saya ingin, waktu itu tulisan pertama di media cetak akan saya abadikan. Caranya ya digunting dan dibingkai. Tapi sayang, saya terlambat tahu. Koran yang memuat tulisan saya berlalu begitu saja. Saya tak sempat memilikinya.

Sampai akhirnya saya mencobanya kembali. Tulisan demi tulisan saya buat. Lembar per lembar saya kirim. Penolakan demi penolakan saya alami. Itu sering terjadi, namun ini wajar. Tapi saya tak ingin menyerah. Saya yakin suatu saat tulisan saya pasti dimuat. Ini hanya soal waktu.

Beberapa media cetak saya coba. Akhirnya suatu hari tanpa didugaduga tulisan saya nongol. Saya hapal betul gambar muka di kolom itu. Itu foto saya. Itu tulisan saya. Di kolom opini, dia nangkring dengan tulisan seseorang yang lain. Puki mak! Bahagia bukan kepalang. Rasanya bukan main.

Cepatcepat saya membelinya. Saya baca kembali. Saya senang walaupun ada beberapa perubahan oleh editor koran bersangkutan. Itu tidak berpengaruh. Saya masih punya hati yang berbungabunga. Hati yang dirundung pelangi.

Saya pulang menggunting dan membingkainya. Itu tulisan kedua saya yang pertama saya bingkai. Kali ini akhirnya tuntas keinginan saya. Puas hati saya. Walaupun bukan tulisan pertama, tapi tak apalah. Yang kedua juga spesial. Seperti saya, anak kedua.

Akhirnya makin sering saya mengirim tulisan. Alhamdulillah beberapa kali dimuat. Jadinya saya punya beberapa bingkai tulisan. Itu kebiasaan yang saya lakukan. Seperti saya bilang tadi untuk mengungkapkan kebahagiaan.

Makanya kalau di kamar, saya narsis sendiri. Memandang pajangan tulisan saya yang digantung. Senyamsenyum sendiri. Adik saya biasa kesal. Katanya kalau sudah banyak tidak usah dibingkai, cukup dikumpul saja dalam satu map. Tapi saya tetap bersikukuh, setiap terbit akan saya bingkai.

Sekarang kalau tulisan terbit, saya cukup menyimpannya saja. Tidak dibingkai lagi. Cukuplah beberapa saja dibingkai. Soalnya saya tidak pernah lagi mendapatkan bingkai. Selama ini bingkai yang saya pakai hasil rampasan dari temanteman. Lagian semua itu sudah cukup.

Hingga berbulanbulan saya tidak tinggal di kamar. Saya belakangan banyak nginap di bunker. Jadinya saya jarang pulang. Baru kali ini akhirnya saya berkesempatan pulang. Ini karena panglima besar datang dari Bulukumba. Tapi ketika di kamar, saya lihat beberapa tulisan saya dikudeta oleh buah tangan Fajar, adik saya. Dia senang melukis dan menggambar. Sekarang gambarnya yang dibingkai. Menutupi tulisan saya.

Justru sekarang dia yang gagahgahan. Dengan gambar sialannya itu.

memikirkan kembali yang dasariah

Kelas menulis PI ramai. Seperti biasa. Cuman kali ini tempatnya berbeda. Sekarang di Unhas. Di tepi danau, di pelataran sebuah gedung.

Awalnya agak bingung. Kawankawan repot. Mencari tempat pertemuan. Sebabnya sejak awal hanya disebut danau Unhas.

Tapi yang sms langsung tahu. Di gedung IPTEK tempatnya.

Ini kelas ketiga. Sebahagian sudah dari awal berkumpul. Beberapa malah datang  dari sekretariat di dalam kampus. Mereka anakanak fakultas tehnik. Mereka peserta baru. Yang lain mukamuka lama.

Agak lama kami menunggu yang lain. Maklum ini pertama kalinya di Unhas. Sebelumnya di sekretariat PI. Yang belum tahu, sekretariat PI sebenarnya TB Paradigma Ilmu. Di Alauddin, Pabbentengang.

Di Unhas lumayan bagus. Pemandangannya indah. Sebab di pinggir danau. Cuman agak bising suarasuara yang lain. Banyak kelompok mahasiswa yang juga di situ. Rapat organisasi barangkali, mereka banyak. Syalnya birubiru. Saya duga mereka anak palang merah. Entahlah.

Kelas berjalan alot. Hampir semua membawa tulisan. Hanya saya yang tidak. Sanksinya jelas, bagi yang tidak, minggu depan dua tulisan harus disetor. Saya siap. Lagian saya punya banyak stok tulisan. Jadi minggu depan aman.

Tulisan kawankawan ratarata bagus. Saya pikir semuanya tahu itu. Cuman ada beberapa koreksi yang perlu. Pertama kesalahan ejaan. Ini lumrah. Saya kadang sering. Kawankawan malah lebih sering. Jadi banyak yang salah. Akhirnya mesti diperbaiki.

Kedua hampir sama dengan yang pertama. Kesalahan ketikan. Ini juga lumrah. Ada beberapa tulisan yang salah saya dapati. Akhirnya diperbaiki. Mudahmudahan tidak terulang kembali. Ini masalah dasar. Yang paling elementer.

Kalau dilihat masih banyak yang bingung. Terutama masalah ejaan yang disempurnakan. Ada satu dua peserta yang sulit membedakan bahasa lisan dan tulisan. Dua hal itu sebenarnya berbeda. Bahasa lisan lebih lugas. Bahkan bisa blakblakan. Bahasa tulisan lebih tersirat. Makanya perlu kesabaran.

Itu yang sering banyak lupa. Kesabaran. Menulis berarti mau bersabar. Menahan ego. Mengendapkan emosi. Kadang banyak yang lupa. Emosi jangan sampai bermain. Itu bahaya. Tulisan malah jadi ambisius. Tidak objektif. Justru subjektif.

Makanya perlu mau pelanpelan. Tulisan tak ada yang langsung jadi. Di balik karya tulis ada sabar yang berlipatlipat. Itu rahasianya. Setidaknya menurut saya. Kata lain setiap satu tulisan berarti sepuluh kesabaran. Dua tulisan duapuluh kesabaran. Tiga tulisan tigapuluh kesabaran. Seterusnya begitu.

Bayangkan tulisan yang sabar. Hasilnya pasti jernih. Karena ditunjang dengan berkalikali koreksi. Berkalikali pembacaan ulang. Ini artinya ada evaluasi. Ada editing. Mulai dari kesalahan ketik sampai kesalahan argumen. Kalau sudah begitu insyaallah. Tulisan itu bernas.

Ketiga, argumentasi. Ada tulisan yang saya pikir kurang argumentatif. Ini kadang karena tatanan pikir yang rusak. Argumentasi yang baik pikiran yang lurus. Logis. Rasional. Paragraf yang baik paragraf yang lurus. Runut. Ini karena tatanan pikir beres.

Keempat soal sudut pandang. Ini salah satu yang menentukan. Semua bisa menulis kasus bom jalan Thamrin. Tapi jarang yang punya ceruk landai. Maksudnya ruang kosong yang luput. Carilah itu. Ruang kosong yang banyak orang abaikan. Itulah banyak ulasan tentang sepatu polisi. Pakaian polisi yang mahal. Ledakan bom sudah biasa. Life style  polisi di lapangan yang jarang. Itu sudut pandang. Dari mana matamu melihat.

Tapi yang membuat tersentak K Niart. Dia guru saya. Diamdiam dia tidak tahu. Dulu dia sering mengoreksi tulisan saya. Itu dulu. Bahkan sampai sekarang. Di forum dia mengoreksi beberapa tulisan. Dia banyak ulas soal aturan menulis. Terutama yang elementer; penggunaan imbuhan dan awalan.

Dia bilang dia pending mengirim tulisan di media. Dia ingin kembali ke dasar. Itu yang membuat saya tersentak. Yang lain tak menyangka, di situ ada yang kritis. Bahwa perlu evaluasi. Mari menengok kembali. Yang dasar, yang kadang lupa.

Saya tak tahu apa maksud dasar di situ. Dia tak jelaskan panjang. Tapi saya duga, itu penting. Itu genting. Terutama bagi penulis yang lama belajar. Kadang perlu diingatkan. Bahwa menulis sebenarnya menengok terus ke dasar. Melihat kembali dari mana kau berniat. Untuk apa menulis. Dengan apa menulis. Katakata apa yang kau pakai. Ini yang dasar barangkali. Menurut saya dari yang dibilangnya.

Saya kadang jumawa. Itu salah. Itu tidak layak.  Yang dasariah dari itu tak ada penulis yang sempurna. Yang ada penulis yang selalu mencoret kembali katakatanya. Kalimatkalimatnya. Tulisantulisannya. Sewajibnya memperbaiki yang salah. Bukan menguatkan yang baik. Itu dua yang berbeda.

Memperbaiki yang salah berarti mau belajar. Menguatkan yang baik berarti cepat puas. Memperbaiki yang salah berarti mengakui belum sempurna. Menguatkan yang baik belum tentu sempurna. Itulah saya merasa harus memperbaiki yang salah. Jumawa berarti menganggap sudah baik. Seharusnya mengakui yang salah itu yang etis.

Kembali ke dasariah artinya mengingat. Yang kurang. Yang awal. Yang pertama. Tulisan yang pertama pasti jelek. Pasti kacau balau.  Jadi ibarat cermin. Lewat cermin diperhadapkan kembali kepada kesalahan. Agar kita tahu yang mana yang kurang. Yang mana yang salah. Agar ada proses. Ini yang penting.

Yang dasar bukan berarti berbalik kebelakang. Itu berbeda.  Dasariah jauh lebih dari itu. Ini soal kedalaman. Melihat kembali ke bawah. Ibarat sumur. Seberapa dalam lubang yang digali. Seberapa banyak air yang  ditampung. Semakin dalam semakin banyak daya tampung air. Yang dasar artinya melihat ke lubang yang kita bikin. Sudahkah banyak air di sana.

Yang dasar juga masalah etis. Untuk apa menulis. Untuk siapa menulis. Ini pertanyaan yang harus pas jawabannya. Sebab banyak tulisan yang dibentuk karena tujuannya. Yang jadi soal kalau tulisan jadi heroik. Itu berarti karena ingin dipuja. Bisa juga tulisan jadi romantik. Yang ini karena masa lalu. Tujuan itu penting bagi nasib tulisan. Karena itu katakata bisa dipilih. Tidak mungkin memilih kata berat untuk pikiran yang ringan. Intinya lihat konteks.

Banyak yang bisa ditulis dari kelas menulis PI. Tapi saya justru menulis hal yang dibilang K Niart. Bagi saya sikap yang dia ambil adalah sikap pembelajar. Ini yang harus dicontoh. Terutama saya.

Kemudian ada yang lain. Soal bentuk cerpen dan esai. Saya sempat berdiskusi dengan Ecce. Panggilan Andi Reski JN. Saya tak tahu apa itu JN. Bukan itu yang penting. Yang penting obrolan saya. Di situ kami kembali mempersoalkan apa batasan esai dan cerpen. Bagaimanakah kalau ada esai tapi memuat unsur cerpen? Misalkan tulisan saya Malaikat Bukubuku. Saat saya anggap esai. Tapi ketika dibaca, K Niart justru bilang ini bisa juga disebut cerpen. Saya dan Ecce jadi bingung. Ini perlu dibahas kembali. Menurut saya penting.

Juga ada tanggapan dari Jusnawati. Hubungannya kritik saya terhadap cerpen Muhajir. Dia tidak sepakat kalau saya bilang penting arti sebuah nama. Apalagi dalam cerpen. Bagi dia tanpa nama karakter tokoh bisa dengan sendirinya terungkapkan. Jadi Jusna memilih menulis cerpennya dengan kata Aku sebagai tokohnya. Tanpa nama. Hanya Aku saja.

Itu juga bisa disoalkan lagi. Bagaimanakah penting suatu nama dalam cerpen. Apalagi dalam karya sastra. Apakah bisa tanpa nama. Ataukah nama ihwal yang krusial. Tanpa itu tokoh jadi anonim. Entahlah. Ini juga penting. Harus segera dibahas.

Terakhir tentang Kala. Saya mengimbau kepada semua. Kala butuh kontributor tulisan. Awalnya diniatkan menampung tulisan kawankawan. Di satu sisi saya merasa penting kawan memang berniat menulis untuk Kala. Saya punya semangat besar kepada Kala. Walaupun itu selembar kertas sederhana. Besokbesok ini bisa jadi penting. Kalau konsisten. Disiplin.


Sampai hampir magrib diskusi alot.  Kami bertukar pendapat. Saling bertanya. Kemudian dijawab, menjawab. Sore tinggal sebentar. Kami akhiri segera. Kelas literasi ramai. Seperti biasa. Bergegas pulang. Yang beda, minggu depan tempatnya di UNM. Di pelataran gedung Phinisi. Di pinggir jalan A.P Pettarani. 


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...