25 Januari 2016

bunker dan seekor anak kucing

Sore kemarin sepulang dari TB Paradigma, saya menyempatkan singgah di Bunker. Bunker adalah istilah untuk menyebut rumah yang kami sewa sebagai sekretariat. Kalau mau dilihat, rumah yang kami tempati sebenarnya sudah tidak layak huni. Atapnya banyak yang reyot bocorbocor. Temboknya sudah retakretak. Lantainya saja banyak yang terisi pasir. Kalau hujan, jangan bilang, kamu bisa mancing ikan di dalamnya. Kalau bukan ruang tengah yang bertegel, barangkali tak ada yang mau tinggal di sana.

Sejarahnya panjang mengapa kami bisa tergusur sampai ke sana. Itupun sebenarnya kami hanya menumpang. Asli menumpang bung! Karena berdasarkan perjanjian, kami harus angkat kaki dari tempat itu. Hanya saja, pemiliknya masih berbaik hati agar kami menempatinya. Kabarnya, tempat itu akan dia jadikan koskosan, tapi karena masih menunggu waktu yang tepat ia urungkan niatnya.

Yang mesti kamu tahu, selain tempatnya yang di bawah hunian layak. Kata bunker bisa menjelaskan karakter hunian tempat kami. Dulu tempat kami memiliki pandangan yang luas menghadap ke selatan. Sedangkan di sebelah barat ada bekas bangunan yang diruntuhkan. Akibatnya, di sebelah barat juga memiliki pandangan yang luas.

Namun, setahun belakangan tepat di depan pintu, dibangun rumah berlantai tiga. Sedangkan lahan kosong yang ditinggal bangunan runtuh ditumbuhi semaksemak belukar. Akhirnya, karenanya rumah kami jadi tempat yang tersembunyi. Bahkan nyaris tidak kelihatan kalau kamu melewatinya dari sebelah barat. Bagi orangorang yang lewat pasti tidak menyadari kalau di situ ada rumah berdiri.


24 Januari 2016

Sulhan Yusuf: "Ini Mirip-Mirip Komunis"

Kemampuan menulis selalu ditopang dengan kemampuan membaca. Begitu pesan pembuka yang disampaikan Sulhan Yusuf ketika memberikan kuliah umum di Inaugural Class Sekolah Literasi Paradigma Institute, 24 Januari, berlokasi di TB Paradigma Ilmu, Pabbentengan, Makassar.

Tidak ada penulis yang baik, sebelum menjadi pembaca yang baik, dijelaskan Sulhan adalah rumusan paten bagi siapa pun yang ingin menjadi penulis. Hubungan ini sifatnya komplementer, yang satu hanya bisa bekerja kalau yang lain diandaikan secara bersamaan.

Di pertemuan perdana ini, Sulhan juga menjelaskan tentang maqammaqam literasi. Maqam pertama adalah tingkatan baca dan tulis. Tingkatan baca tulis adalah kemampuan elementer tiap orang. Di tingkatan kedua, menulis karena kewajiban. Orang menulis sering karena tuntutan profesi. Orang menulis hanya memenuhi tuntutan kerja. Kedua maqam ini disebutkan Sulhan terjadi hanya karena ada tekanan eksternal. Terkadang katanya, mahasiswa menulis karena didorong oleh dosen yang memerintahkannya. Di tingkatan ini seseorang belum seperti di maqam ketiga, maqam ruhani. Maqam ruhani diungkapkan Sulhan, karena tulismenulis sudah merupakan panggilan ruhani.

Setiap maqam menurut pria berkepala plontos ini, harus diikat dengan apa yang disebutnya asas kejujuran. Baginya banyak penulispenulis yang sering tidak jujur dalam menulis. Banyak penulis yang memiliki kemampuan literasi yang baik, malah kadang tidak jujur. "Bahkan dari pengalaman saya, ada beberapa tulisan saya yang sering dimanfaatkan pihak tertentu dengan cara copy paste. Bahkan mau diikutkan lomba," bebernya.

Di maqam ruhani, ungkap Sulhan, tulisan menjadi sidik jari bagi penulisnya. "Kata kak Alwy Rahman, melalui sidik jari, seseorang dapat mengekalkan identitasnya." "Makanya kalau menulis, seseorang mudah dikenali dari tulisannya," lanjutnya.

Internalisasi, kata Sulhan mirip dengan aktifitas makan yang dibutuhkan oleh seorang penulis pemula. Namun, sebagai konsep, ruhani membutuhkan makanan ruhani pula untuk dikelola qalbu. Ruhani, disebutkan banyak membutuhkan asupanasupan gizi lebih dari sekedar makanan biasa. Hal ini karena qalbu akan menjadi powerfull lebih dari kualitas sebelumnya. Kaitannya dengan bacaan, diharapkan pagi penulispenulis muda harus banyak melahap habis bacaanbacaan berkualitas. Tujuannya, tambah Sulhan, itu akan mendorong lahirnya tulisantulisan yang berkelas.

Kelas literasi kali ini tidak jauh berbeda dengan kelas angkatan pertama. Semua yang terlibat bisa menyetor tulisannya berupa cerpen, novel, puisi, berita, esai, kritik sastra, drama, atau opini. Semua bisa memilih beragam genre tulisan yang dibagi menurut fisksi atau non fiksi. "Sebenarnya kalau dibilang kelas baru bukan juga, karena peserta kelas lama juga bisa nimbrung di kelas yang baru. Lagian tidak ada yang namanya penulis hebat di sini. Semuanya sama," jelas Ceo Paradigma Insitute ini.

Di pertemuan perdana ini juga dijelaskan mekanisme teknis kelas literasi. "Kelas dibuka tiap pekan pukul 14.00. Syarat utamanya setiap anggotanya wajib membawa tulisan sebagai bahan omongan di saat kelas berlangsung. Jadi, barang siapa yang ingin datang dengan hanya membawa gagasan tanpa tulisan maka dengan sendirinya akan ditolak," tegas Sulhan.

Di tengah penyampaiannya, Rezky, salah satu peserta baru mempertanyakan soal bagaimana caranya menghilangkan rasa kurang percaya diri ketika mem-publish karya tulis sementara akan ada orang yang mengklaim bahwa itu bukan karya kita sebenarnya. "Itu karena kita tidak jujur dalam menulis, kalau kita menulis dengan jujur mustahil kita akan takut. Kalau memang ada bagian tulisan kita yang mengutip, maka jujurlah sertakan dari mana Anda mengutip," tangkas Sulhan.

Sementara itu salah satu peserta baru, Jahir, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kelas literasi Paradigma Institute. "Di sini ternyata ada tiga hal yang dieksplore, pertama tindakan menulis, kedua tindakan membaca, dan ketiga yakni kemampuan mempersentase. Jadi sekali ikut bisa tiga kualitas yang diasah," ungkapnya setelah mengikuti kuliah umum.

Bukan Ajang Tanding

Ditemui pasca kelas perdana, bersama pesertapeserta baru, Sulhan, kembali membeberkan bahwa di kelas literasi tidak ada ajang tanding. "Kelas literasi bukan ajang tanding. Setiap peserta memiliki pertofolio yang akan dijadikan sebagai bahan evaluasi. Prinsipnya setiap pekan, peserta menabung tulisannya untuk dijadikan naskah evaluasi. Sehingga setiap minggu kita bisa melihat sejauh apa perkembangannya. Cara kerja seperti ini dianggap efektif untuk menghilangkan suasana persaingan antara peserta." Katanya diselasela perbincangan.

Output dari mekanisme yang diterapkan, Sulhan katakan akan ditandai dengan publikasipublikasi yang ditujukan ke korankoran lokal. Publikasi adalah salah satu capaiancapaian yang memang menjadi tujuan dari kelas literasi. Bahkan Sulhan menabalkan, setiap tulisan yang dikumpulkan bisa diterbitkan menjadi suatu karya tulis berupa buku.

Paradigma Institute, dijelaskan Sulhan selama ini sudah banyak menginisiasi penerbitan beberapa karya tulis buku. Untuk menyebut diantaranya adalah Airmatadarah, Dari Rumah Untuk Dunia, Ziarah Cinta dari beberapa penulis. Bahkan, bocornya, tahun ini Paradigma Institute sedang menyiapkan beberapa naskah untuk diterbitkan.

Di kelas literasi sikap solidaritas dan altruis merupakan semangat bersama yang sampai hari ini menjadi ikatan bersama. Bahkan kelas literasi tidak sama sekali dibebankan biaya pendaftaran dan administrasi. "Tidak ada uang apapun yang dipungut. Ini miripmirip komunis" canda Sulhan. "Intinya cara kami menjalankan kelas literasi menggunakan prinsip kerjasama," tambahnya.

Dari bocoran yang didapatkan melalui sumber yang tak ingin disebutkan namannya, kelas tahun ini "berani" menerbitkan semacam buletin yang terbit perdana di bulan Januari. "Kala nama selebarannya, ini mengingatkan bahwa dulu perjuangan literasi ditopang dengan selebaranselabaran macam begini. Bahkan koran dimulai dari selebaranselebaran" jelasnya sambil memperlihatkan selembar kertas copyan putih. Disebutkan pula, Kala akan terbit tiap pekan dengan memuat tulisantulisan kelas literasi Paradigma Insitute. "Iya, rencananya Kala akan terbit tiap pekan, kalau mau bisa digandakan," pungkasnya.

23 Januari 2016

Buku, Tuhan dan Kucing-kucing Kesepian

Untuk urusan membeli buku, kadang saya jadi irasional. Apalagi kalau membeli buku yang lama dicaricari. Tanpa banyak perhitungan walaupun uang sekadarnya, hasrat memiliki buku jauh lebih besar dibandingkan urusan bertahan hidup. 

Saya pikir beberapa hari kurang makanan tidak akan membuat saya menjadi pengemis, apalagi mati kelaparan. Sejak dulu saya punya prinsip, orang gila  yang tidak memiliki apaapa bisa bertahan hidup, apalagi orang yang punya akal sehat. Di manamana, akal sehat kalau digunakan dengan baik pasti akan memberikan jalan keluar. Makanya saya berani berkorban membeli buku.

Berani berkorban inilah yang saya sebut irasional. Anda boleh sepakat atau justru memiliki pendapat  berbeda tentang rasional tidakkah sikap berkorban itu sebenarnya. Tapi saya memiliki pendapat orang yang melakukan bom bunuh diri, rela mati demi meninggalkan orangorang yang dicintainya karena suatu alasan di luar akal sehat. Kalau dia berpikir rasional mana mungkin dia mau mengambil sikap yang destruktif seperti itu. Rela berkorban dalam kasus bunuh diri, bisa panjang urusannya kalau kita mempersoalkan dahulu apa itu tindakan rasional, apakah melakukan sesuatu demi tujuan yang jauh lebih besarlah yang disebut rasional. Atau karena tindakan yang diambil telah ditimang dengan ukuranukuran tertentulah suatu tindakan disebut rasional?

Yang pastinya, akal sehat saya hanya bekerja pasca membeli buku. Terutama bagian ketika bagaimana memperpanjang hidup dengan kekurangan uang. Saat inilah saya harus memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Memutar otak yang saya bilang tentu bukan arti harfiahnya, malah saya kira anda tahu maksud yang dirujuk istilah itu. Di pikiran saya, salah satu cara untuk bertahan ialah memanfaatkan relasi pertemanan. Ini cara yang selalu berhasil saya lakukan. Terutama saat hidup kere di kampus.

Biasanya, lapar secara berjamaah jauh lebih baik dibandingkan sendirisendiri. Di saat itulah akal bersama akan bekerja lebih canggih ketika itu dibandingkan tanpa ikatan kebersamaan. Hidup bersama kawanan memiliki dampak buruk, sikapsikap manja akan terbersit jika ada halhal yang sebenarnya bisa dilakukan secara sendiri, malah meminta bantuan kepada kawan yang ada. Hidup kawanan tidak bisa menjadikan Anda seperti elang, tapi malah membuat Anda jadi seperti seekor kucing.

Namun, di saat lapar, kucing bisa menjadi hewan yang baik. Dia rela memberikan pertolongan bagi sejumlah kawanannya. Ketika memiliki sedikit makanan, pasti dia menyisihkan seperempatnya biarpun itu hanya berupa tulang ikan. Kesetiakawanan kucing, sering saya temukan di dalam hati temanteman di saat waktu makan siang atau malam. Di saat pagi malah jarang karena memang di waktu itulah kami bertahan tanpa makanan.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kucingkucing juga terkadang egois. Apalagi jika menyangkut musim kawin. Terkadang di masamasa itu kucingkucing jadi sensitif. Hingga itu berefek kepada saat berbagi rezeki. Jangankan berbagi, untuk mengajak makan bersama saja batang hidungnya tidak bakalan kelihatan. Toh kalau muncul, perutnya sudah besar akibat makan bersama kucing jenis hello kitty. Saya yang sudah kepalang lapar, harus mencari kucingkucing kesepian yang bernasib sama.

Ada artikel yang sempat saya baca mengenai bagaimana sikapsikap orang berhubungan dengan buku. Bahkan sikap bagimana manusia memberlakukan buku dibaginya bertingkattingkat berdasarkan kesenangan dan kecintaan. Disebutkan bahkan ada orang yang membeli rumah hanya untuk menampung jutaan buku yang dipunyai. Juga, banyak orang yang mempunyai ribuan buku, dituliskan justru tak satupun pernah dibacanya. Orangorang macam ini, disebutnya dengan suatu istilah yang saya lupa namanya. Semacam istilah dalam ilmu psikologi.

Menggilai buku juga disebut sebagai suatu sikap yang mendua. Ada orangorang yang senang melihat keindahan bukubuku dijejer di rakrak buku. Ada orang yang memang memiliki buku atas dorongan ilmu pengetahuan. Juga, banyak orang yang mengoleksi buku atas kesenangan semata. Sikap ini miripmirip kolektor prangko. Yang dilihatnya bukan isi bukunya itu sendiri, melainkan malah berupa gambargambar yang nampak dari cover atau halamanhalamannya.

Bahkan, perlakuan negatif terhadap buku juga sempat disebut dalam artikel yang saya sudah lupa di mana menemukannya. Perlakuan negatif ini berupa aksiaksi kekerasan yang ditunjukkan dengan cara merampas bahkan sampai membakar. Motivasinya bisa saja karena kebencian terhadap ilmu pengetahuan, atau memang ingin menghilangkan ilmu pengetahuan dari peredaran peradaban. Yang terakhir ini, banyak ditemukan di negerinegeri yang belum menyadari arti penting bukubuku. Bahkan ada negeri yang sudah berperadaban, justru menghilangkan bukubuku karena khawatir kekuasaan pemerintahannya terganggu.

Untuk tingkatan tertentu, memang ada orang yang seperti kesurupan kalau ingin memiliki buku. Mereka bisa jadi orang gila kalau melihat paginapagina tersusun rapi. Kesadarannya bahkan langsung lenyap seketika. Yang ada hanya b-u-k-u di dalam kepalanya. Tiada yang lain. Mungkin Tuhan juga hilang. Bahkan buku itu sendirilah Tuhannya. Orang jenis ini sangat jarang ditemui. Tapi yakin dan percaya, mereka bisa jadi berada di sekitar Anda.

Saya belum sampai ke tingkat yang demikian. Buku belum menjadi Tuhan bagi diri saya. Ilmu tauhid masih bekerja dengan baik di kepala saya, mana Tuhan sesungguhnya, mana buku ciptaan Tuhan. Walaupun terkadang yang terjadi lewat buku saya mengenal Tuhan. Begitu pula saya masih bisa tahu lewat buku, orang bisa menjaga kesadarannya. 

Itulah sebabnya, semalam saya rela membeli buku walaupun harihari ke depan saya harus mencari kucingkucing yang senasib. Karena saya tahu, bersama kucingkucing lapar, Tuhan kerap datang untuk bilang "sembunyikan cakarmu, walau belangmu berbeda." Di situ saya jadi sadar, lewat kelaparan bersama kucing senasib, kita bisa bersamasama duduk dengan Tuhan sembari bincangbincang tentang buku baru yang sempat dibeli.

22 Januari 2016

Ibu Jum dan Ibu Mince

Ketika masih duduk di sekolah dasar, saya sangat menyukai pelajaran olah raga. Kesenangan terhadap pelajaran olah raga sebenarnya adalah hal yang lumrah untuk anak kecil seusia saya. Maklum bisa lari kesana kemari. Karena itu perlu diingat, kata olah raga sebenarnya tidak tepat, karena di kepala saya waktu itu olah raga hanyalah jenis bermain yang dijadikan mata pelajaran. Paling pas kalau menyebut hal itu sebagai bermainmain belaka.

Bedanya saat bermain olah raga, saya mengenakan seragam berwarna merah muda dengan bis garisgaris di pundak. Di bagian lengan dan celana berwarna merah hati. Jadi tidak femininfeminin amat. Buktinya masih ada warna merah yang mendominasi seragam saya.

Namun saya tidak bisa berkelit kalau mengatakan baju olahraga saya kepunyaan lakilaki. Soalnya kerah lehernya berbentuk V. Itu loh kerah khusus perempuan. Ceritanya karena saya anak kedua, sering kali saya harus rela menerima bekas baju kepunyaan Ima, kakak saya. Sebenarnya ini hanya berlaku bagi kaos oblong dan seragam sekolah. Jadi sabar dulu, tidak semuanya saya pakai. Masak saya harus pakai rok atau baju dress perempuan!? Gila apa!

Akhirnya setiap pelajaran olahraga, saya harus menahan malu berjamjam lantaran pakaian yang saya kenakan. Untung saja setelan celana trainingnya tidak berbeda antara lakilaki dan perempuan. Bisa dobel rasa malu saya. Untuk mengurangi rasa malu saya ini, saya menggunakan baju lapis berupa kaos oblong untuk menutupi celah kerah yang sudah melar itu. Dengan begitu, jadilah saya murid yang paling seringkali berkeringat pertama kali. Panas, Bung!

Selain kerah model V yang bikin malu, warna baju yang sudah lumayan pudar juga bikin masalah tersendiri. Bayangkan kalau di antara gerombolan teman sekelas, hanya saya yang memiliki baju berwarna lusuh. Saya seperti anak tahun lalu yang dipaksa mengulang kelas akibat nilainya anjlok, lantaran baju yang saya kenakan berwarna berbeda. Yang lain bajunya berwarna kinclong, sementara hanya saya seorang seperti siswa tua.

Ibu Mince, dialah pengampu pelajaran olahraga. Kalau tidak salah ingat itulah nama guru yang memiliki gaya rambut lakilaki. Yang saya ingat pasti adalah karakternya yang keras dan lumayan galak. Bayangkan dia seorang guru dengan gaya tomboy plus memiliki gaya mengajar dengan suara lantang. Saya pikir itu adalah karakter yang dipilihnya lantaran olahraga memang pelajaran yang membutuhkan gaya belajar outdoor. Selain digerakkan oleh abaaba, suara lantang adalah faktor dominan tersampaikannya ilmu keolahragaan. Makanya, dengan cara begitu Ibu Mince nampak seperti marahmarah kalau mengajar kami.

Di bawah tatapan matanya yang lumayan membuat takut, Ibu Mince selalu menjadi motivator bagi kami. Saya saja, dengan gaya kerasnya yang khas tomboy, akhirnya menjadi murid yang tibatiba memiliki semangat berolahraga. Kalau ada pelajaran lari atau sepakbola, jangan dikira, saya bisa berubah tibatiba bak pemain profesional. Bagaimana tidak, jika loyo sedikit, siapsiap saja dapat teriakan lantang dari Ibu Mince.

Di sekolah, bisa dibilang Ibu Mince-lah yang paling jarang berpakaian formal layaknya guru. Itu hampir setiap hari saya lihat. Ibu Mince mudah dikenali sebagai guru olahraga dari pakaian trainingnya. Dia dengan setelan bak pelatih olahraga, dengan cepat jadi guru yang gampang dikenali. Dari jauh kalau kita menengok di kantor guru, maka Ibu Mince-lah yang paling pertama dikenali. Barangkali hanya hari Senin saja Ibu Mince berpakaian khas seorang guru, itu karena hanya untuk mengikuti upacara bendera.

Kalau diingatingat, baru Ibu Mince saja yang saya ketahui perempuan yang mengampu pelajaran olahraga. Selama di SMP dan SMA, semua guru olahraga saya lakilaki. Makanya Ibu Mince gampang saya ingat dari sekian guruguru sewaktu saya SD. Selain ibu Mince saya masih mengingat Ibu Jum dan Ibu Bene. Ibu Jum adalah guru agama saya. Dan Ibu Bene adalah wali kelas saya ketika duduk di kelas enam. Selain mereka, saya hanya mampu mengingat sebagian wajahwajah guru yang pernah mengajari saya di waktu SD. Ibu Bene nanti akan saya tulis di waktu yang lain. Dia punya kesan tersendiri bagi saya.

Sementara Ibu Jum, yang saya ingat adalah guru yang murah senyum. Dia perempuan yang tidak terlalu tinggi. Badannya bisa dibilang pendek. Ibu Jum bagi saya guru yang luar biasa. Sebagai guru agama Islam, dia mampu menempatkan diri dengan baik diantara mayoritas guru yang berkeyakinan Nasrani. Saya tidak tahu bagaimana ia mengelola perbedaan, namun dari caranya bergaul, saya menilai dia guru yang memang tahu apa arti keyakinan yang berbeda.

Di kelas enam, pejaran agama Islam digabung menjadi satu kelas dari kelas 6A dan 6B. Karena saya kelas 6B maka saya harus pindah ke ruangan kelas 6A. Di situlah saya bersama muridmurid beragama Islam dikumpulkan untuk mengikuti pelajaran yang diampu Ibu Jum. Sementara di kelas 6B dipakai untuk pelajaran agama Kristen.

Di kelas 6A, Ibu Jum dengan tenaga terlatihnya, harus berhadapan dengan puluhan murid yang dikumpulkan jadi satu. Betapa sabarnya Ibu Jum berhadapan dengan kami muridmuridnya yang kebanyakan badung. Tapi Ibu Jum selalu tersenyum, disitulah kekuatannya. Sedangkan kami melalui senyumnya akhirnya luluh setelah diceritakan kisahkisah Nabi.

Kalau yang membuat senang dari pelajaran olahraga karena bisa bebas bergerak kemana saja, pelajaran agama justru kami harus berdesakdesakkan mencari tempat duduk. Bayangkan kalau kapasitas bangku hanya untuk murid sekelas harus menampung dua kelas sekaligus. Tapi, untung tidak semuanya pindah, sebab tidak semua beragama Islam. Hanya saja, tetap kami merasa harus berdesakdesakkan karena menginginkan duduk di tempattempat strategis. Kalau saya menyebut tempat strategis, berarti itu bangku yang berada di posisi belakang. Atau duduk di belakang siswa yang memiliki tubuh besar.

Tapi yang membuat senang di pelajaran agama adalah saya bisa bertemu dengan temanteman di kelas 6A. Kalau sudah begini, kami bisa kembali membicarakan pertandingan bola antara kelas 6A dan 6B. Biasanya yang mewakili kelas 6A adalah Gani, siswa yang memiliki kepala yang sedikit besar. Atau Zainuddin, siswa keturunan Bugis yang pintar mengocek bola. Kalau Ibu Jum melihat tingkah kami yang berkerumun pada satu meja di sudut ruangan, pasti dia kira kami sedang mendiskusikan pelajaran yang dibawanya. Padahal kami sedang merancang kapan pertandingan dilaksanakan. Dan, ujungujungnya kalau bukan pulang sekolah, pasti di saat pelajaran olahraga nanti.

Di kelas 6B ada Nur Oktavia. Dia tetangga saya ketika tinggal di jalan Lalamentik. Nur murid yang cerdas di kelas kami. Saya bersama Taufik, teman yang juga tinggal tak jauh dari rumah, sering berjalan kaki ke rumahnya untuk belajar bersama. Padahal yang saya maksud adalah menyalin tugastugas PR. Tapi kalau urusan sepakbola, bukan Nur andalannya. Randi-lah jagoan kami, teman yang memiliki warna rambut hampir menyerupai warna rambut jagung. Atau Ake, sapaan Imran, yang memiliki kecepatan berlari. Dan sesekali dilengkapi Amir, yang sering asal menendang saja. Sedangkan saya, yang penting bisa mencetak gol itu sudah luar biasa.

Nah, setelah menyepakati di kelas saat pelajaran agama, maka pelaksanaannya kami sepakati saat pelajaran olahraga tiba. Di saat itulah kami bertaruh kelas siapa yang paling hebat. Di bangsal, sebuah lapangan semen yang beratap seng, tempat yang kami pilih. Kebetulan di situlah Ibu Mince sering mengumpulkan kami. Berhubung sepakbola adalah ujian yang diberikan, maka pertandingan adalah ajang untuk mengumpulkan nilai sebanyakbanyaknya. Maka jadilah pertandingan sengit lantaran ingin mendapatkan nilai bagus, siapa kelas terhebat, dan suara lantang Ibu Mince yang berteriakteriak.

Di saat itulah saya akan menjadi olahragawan profesional. Dengan baju yang sudah lusuh, tak ada alasan takut kotor. Malah baju yang sudah kusam itu memberikan aura positif kepada saya, bahwa karena lamanya dipakai, dia seperti jimat yang dituruntemurunkan. Ditambah suara lantang Ibu Mince, apa daya seluruh kemampuan harus dikerahkan. Sepakbola jadi ajang pembuktian diri. Biarpun baju sudah terlanjur kepunyaan perempuan, tetap saya seorang lakilaki. Tepatnya pesepakbola lakilaki.

Saya lupa kelas siapa yang memenangkan pertandingan saat itu. Kalau dihitunghitung, kelas 6A yang sering kali keluar sebagai pemenangnya. Tapi yang terpenting kalau kalah masih ada pertandingan lainnya. Kami bisa kembali bertemu di permainan kasti. Juga bisa kembali dibicarakan di kelas Ibu Jum. Kapan waktu yang tepat melakukan pertandingan lainnya. Selama pelajaran agama masih tetap digabung, kami selalu membuat kesepakatan tentang pertandinganpertandingan lainnya. Ibu Jum pasti juga senang, kami akan terlihat semakin alot berdiskusi. Pasti nilai kami bakalan bagus. Insyaallah.

Dari kabar yang saya dapat dari Nur, Ibu Jum sudah pensiun mengajar. Alhamdulillah dia sehat. Yang saya tahu, rumah Ibu Jum tidak jauh dari sekolah. Rumahnya terletak pas di depan pagar sekolah. Sedangkan Ibu Mince masih aktif mengajar walaupun pasti sudah tidak semuda dulu. Oh iya, Nur ternyata masih tinggal di Kupang, dan dia sudah berkeluarga. Dari dialah saya memastikan kalau namanama Ibu Jum dan Ibu Mince tidak salah ingat. Ternyata saya benar. Ingatan saya kadang buruk. Tapi tidak dengan Ibu Mince dan Ibu Jum. Semoga mereka sehat selalu.


Sementara baju olahraga yang menyerupai warna pink itu, sudah lama tak saya temukan. Bisa jadi dia berakhir jadi kain lap semaktu saya tamat SD. Fajar, adik saya sudah pasti tak mau memakainya. Warnanya sudah pasti lebih kusam. Apalagi karet di bagian kerahnya sudah pasti rombeng. Namun, saya ingat betul nama sekolah yang disablon di belakang baju kaos olahraga yang hampir empat tahun saya pakai. Kali ini saya tak perlu memastikannya kepad Nur, yang punya ingatan bagus. Kalau kamu sempat melihat tulisan SD N 1 BONIPOI KUPANG tertera di baju sekolah anakanak di NTT, maka dipastikan saya orang yang pertama bilang kalau itu nama sekolah tempat Ibu Jum dan Ibu Mince mengajari saya, dua guru yang susah saya lupakan.

20 Januari 2016

Agora a la Cafe Dialektika

Singkat saja. Malam ini saya menyambangi Cafe Dialektika. Lumayan jauh saya ke sini, kirakira hampir sepuluh kilo lebih dari tempat saya mangkal. Aktifitas saya belakangan ini hanya berputarputar di sekitar kampus UNM, tapi lantaran ada bedah film, maka saya kemari.

Cafe Dialektika sepengetahuan saya digagas oleh anakanak muda yang senang menghabiskan waktu dengan berdiskusi. Mereka kalau saya tidak salah duga adalah mahasiswamahasiswa Stimik Dipa dan Unhas yang berkomitmen untuk menghadirkan wadah diskusi yang nyaman. Makanya sudah sering saya melihat kegiatankegiatan mereka yang diupload di dunia maya. Bagi saya, merekamereka ini memiliki kepekaan untuk menjemput kebutuhan intelektualisme anakanak muda dengan menyediakan tempat yang mereka sediakan.

Beberapa waktu silam, ketika pertama kali saya kemari, salah satu orang menyebut bahwa tempat ini dirancang tidak sebagaimana cafe umumnya. Perlu diingat kata kafe hanya mengacu kepada beberapa meja kursi yang mereka sediakan bagi pengunjung yang datang untuk menikmati kopinya. Kopi yang umumnya disediakan di cafe, tidak disediakan di tempat ini. Nyatanya kopi dan beberapa menu yang disediakan hanya berupa suguhan ala kadarnya tanpa barista khusus.


Walaupun seduhan kopi yang disediakan masih mengandalkan eksperimen, branding yang ditonjolkan tempat ini terletak pada setting suasananya. Dengan memanfaatkan pojok rumah dan garasi, anakanak muda ini menyulap ruang apa adanya jadi tempat yang nyaman untuk berdiskusi. Selain itu mereka juga menyulap bagian dalam rumah seperti perpustakaan mini. Banyak buku yang bisa kalian temukan di sini, walaupun tidak mencapai ribuan buku di dalamnya.

Konsep intelektualismelah yang jadi jualan kafe ini. Dari namanya saja, kita bakalan menyimpulkan bahwa penggagas tempat ini adalah orangorang yang bergelut dengan ilmupengetahuan. Makanya, mereka tidak menjual selera atas kopi, melainkan menciptakan ruang belajar yang nyaman bagi mahasiswamahasiswa. Didukung dengan akses wifì, tempat ini saya pikir lumayan asik untuk dijadikan tempat bercengkrama membincang apa saja.

Malam ini Cafe Dialektika membedah film Agora. Pembedahnya teman ngopi saya, Muhajir. Film ini sudah dua kali saya tonton. Yang saya ingat, film ini berusaha menarasikan tiga keyakinan (Pagan, Yahudi, dan Kristen) yang hidup dalam satu masa dan tempat yang sama. Kalau tidak salah setting film ini sekitar tiga abad pasca kelahiran Yesus di Alexandria. Hypatia seorang perempuan filsuf yang menjadi tokoh sentral dalam film garapan Alejandro Amenábar ini, diceritakan mendapatkan rintanganrintangan akibat semakin kuatnya pengaruh kristiani. Di tengahtengah kecamuk tiga keyakinan, Hypatia teguh berpendirian tetap mengikuti filsafat sebagai jalan hidupnya. Sampai akhirnya dia harus mati akibat keyakinan yang dipegangnya.

Kirakira begitulah jalan cerita Agora. Film ini saya fikir masih layak disaksikan bersamaan dengan menguatnya fundamentalisme keyakinan yang banyak membahayakan kehidupan bermasyarakat akhirakhir ini. Konflik yang dikandung dalam film ini, tidak jauhjauh dari situasi belakangan yang juga menguatkan segregasi akibat keyakinankeyakinan sempit beragama. Singkatnya, Agora bisa menjadi film untuk meninjau kembali polapola hubungan antar keyakinan di masyarakat.

Saya pikir komunitas semacam Cafe Dialektika ini, patut diapresiasi sebagai wadah baru bagi ruang bersama berbagi informasi. Kuat dugaan saya, asumsi inilah yang juga mendasari sebab berdirinya tempat ini. Visi yang mereka bangun inilah yang menjadikan Cafe Dialektika berbeda dengan tempat lain. Sejauh pengamatan saya, selain tempat ini, juga sudah berdiri Be Smart Cafe yang beroperasi di sekitar jalan Talasalapang. Sedikit berbeda dengan Cafe Dialektika,  Be Smart Cafe juga membuka kelas bahasa inggris bagi anakanak usia sekolah. Yang menyamakan kedua tempat ini adalah kemasan suasana yang diset dengan interior intelektual, juga menawarkan programprogram kelas menarik yang bisa kita ikuti.

Baiklah tulisan ini harus segera berakhir, film Agora juga baru saja berakhir. Saatnya Muhajir akan membedah Agora dari macammacam pendekatan dan perspektif. Saya datang jauhjauh ke sini hanya untuk melihat Muhajir membedah film ini. Apalagi saya sudah diingatkan oleh salah satu pengelolah Cafe Dialektika untuk datang kemari. Banyak yang datang kemari. Hitungan saya hampir tigapuluh orang. Saya pikir ini suatu yang membahagiakan. Muhajir sudah memulai persentase. Saya sudahi dulu.


Literasi Berbasis Kelas

Masihkah marxisme dibutuhkan? Entahlah. Pertanyaan ini saya pikir sudah pernah diajukan intelektual kiri manapun. Tapi, saya merasa duduk bersama adikadik mahasiswa ini, membuat gairah baru tentang marxisme.

Sore ini jelang magrib yang datang, kami mengakhiri perbincangan tentang marxisme. Kami tak tahu betul apa gunanya membincang marxisme dari apatisme mahasiswa. Namun, kami belajar berkomitmen, mereka datang menyediakan segelas kopi dan forum, dan saya datang membawa serpihserpih ingatan tentang Marx dan pikirannya.

Hari ini pertemuan kedua. Kami menghabiskan waktu hampir dua jam di kantin yang ditinggal libur mahasiswa. Seperti biasa saya membawa paper untuk melengkapi diskusi. Kali ini untuk menjaga agar tidak kesanakemari, persentase saya niatkan berdasarkan tulisan yang saya sediakan.

Mustahil meringkas kebesaran pemikiran Marx dalam dua jam. Tapi, dialog tetap berlanjut. Dua jam membahas pengantar, dan tiga hari pertemuan lanjutan yang masih tersisa. Kedepan kami bersepakat, masih bertemu di tempat yang sama, tentu dengan beberapa gelas kopi yang disuguh.

Pertemuan ini tak mungkin terlaksana tanpa Aam Ahmad, mahasiswa antropologi yang seringkali datang lebih awal. Dia juga yang kerap mengorbankan pulsanya untuk menghubungi kawankawannya yang lain. Yunasri Ridho yang kerap menghubungi saya untuk mengingatkan jadwal diskusi. Dia mahasiswa pendidikan kewarganegaraan yang memiliki bakat menentang pancasila. Kali ini dia tak datang, padahal dia sering menginisiasi pertemuan macam begini. Info yang saya dapat dia pergi mengikuti kuliah umum di daerah jauh dari kota.

Kemudian ada Herman dan Adiyat, dua mahasiswa yang setia nongkrong berlamalama di dalam kampus. Akhirakhir ini saya sangat jarang bertemu mahasiswa macam mereka. Yang mau hidup a la proletar tanpa makanan berjamjam. Mereka tipe mahasiwa yang bisa lama berbicara kalau sudah menghidu asap rokok. Juga mereka selalu punya pertanyaanpertanyaan canggih kalau diskusi.

Sebelumnya sudah ada Heri Sitakka dan Hirdjayadi. Heri ini adalah komando salah satu organisasi intra di kampus orange. Semangatnya membuat programprogram kajian seringkali mempertemukan saya sebagai pembicaranya. Hirdjayadi adalah senior Adiyat, dia mahasiswa angkatan tua entah semester berapa. Saya curiga dia berlamalama dikampus karena masih betah dengan suasana kebebasan kampus. Makanya dia begitu bebas menetukan nasibnya di kampus.

Yang terakhir Muh. Asrul. Sekarang dia diamanahi organisasi hijau hitam. Barubaru ia secara demokratis ditunjuk menjadi ketua umum. Itulah mengapa belakangan ini Asrul sibuk pulangpergi mengkonsolidasikan orangorang sebagai pengurusnya. Sibuk sanasini menyambangi mukim senior mengharap masukan. Di rumah kosnyalah saya sering menginap.

Saya sudah cukup lama tidak bergelut dengan wacana marxisme. Dulu di masa mahasiswa, marxisme menjadi salah satu arus utama wacana kampus. Bahkan saya bernah bergabung di salah satu organisasi yang begitu memuja marxisme-leninisme sebagai panduannya. Ada anekdot ketika saya menjadi mahasiswa, kalau belum akrab dengan marxisme, maka belum afdol disebut aktivis mahasiswa. Ini jadi semacam kebanggaan kalau MDH dapat dikunyah tiap hari di dalam kampus.

Saya belum yakin apakah mereka sudah sempat membaca Das Capital. Atau paham betul MDH sebagai basis filsafat marxisme. Atau memahami konsep perjuangn kelas yang dianjurkan Marx. Juga pentingnya membangun organisasi revolusioner seperti yang diwajibkan Lenin. Tapi, dari duduk bercengkrama bersama mahasiswamahasiswa macam mereka, saya kira suatu awal yang baik mengenal kembali marxisme.

Apakah marxisme masih penting? Saya kira iya. Kalau tidak, mana mungkin saya mau duduk bersama mereka. Menghabiskan suatu sore di pojok kantin kampus yang ditinggal libur. Saya kira dari sini, literasi berbasis kelas bisa mulai dirumuskan.


18 Januari 2016

es krim idaman


Di waktu kecil saya sering berjalan kaki hampir setengah kilo ketika turun dari bemo menuju ke sekolah. Jadi setelah naik bemo dari rumah sesekira tujuh sampai delapan kilo, saya harus turun untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Maklum karena saat itu jalur bemo tidak lewat pas di depan sekolah. Tidak apaapalah, hitunghitung olahraga. Oh iya, saat itu saya masih duduk manis di sekolah dasar.

Jadi mudah ditebak, selain menjadi murid yang taat akibat pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila) di sekolah, saya merangkap jadi olahragawan cilik yang kuat. Bagaimana tidak, bayangkan jarak rumah yang jauh dari sekolah, pasti akan banyak memakan waktu selama di perjalanan. Apalagi kalau sebagai murid teladan mamak, masuk tepat waktu adalah idaman mamakmamak seluruh Indonesia. Nah karena inilah, Bahrul kecil sekaligus imutimut harus melangkahkan kakinya dengan gaya berjalan jalan cepat. Bung, setiap pagi saya seperti olahragawan Olimpiade.

Sering kali saya merasa kasihan dan jengkel di setiap pagi lantaran sering diacuhkan sopir bemo. Tentu saja saya jengkel dengan sopir bemo yang enggan mengangkut anak kecil seperti saya. Dipikiran mereka apa untungnya mengangkut anak kecil seperti saya, mengetahui nama menterimenteri saja tidak. Sudah pasti akan membuat sesak berdiri di belakang sopir, dan ketika turun, cepatcepat mengambil langkah seribu tanpa membayar. Dasar anakanak tak tahu diuntung. Puki mak!!

Dan kamu tahu kan kepada siapa saya kasihan? Benar, ya diri saya sendiri ini, ketika berdiri sendirian di pinggir jalan menunggu bemo sialan. Sampai seragam basah akibat keringat sementara banyak bemo yang lewat begitu saja di hadapan Bahrul kecil yang lugu anak kesayangan mamak. Betulbetul miris nasib anak ini. Pasti akan telat setiba di sekolah.

Saat itu di ibu kota Kupang, bemonya tidak seperti bemobemo di tempat lain. Berbeda dari Makassar, di Kupang bemobemonya dipermak jadi bemo yang gaul. Cat bemonya warnawarni mulus mengkilap. Setiap bemo punya namanama khusus yang tertera di samping badan bemo. Di depannya tidak lengkap kalau tidak memasang semacam bamper khusus. Belum dengan macammacam lampu hiasan yang disematkan. Stikerstiker aksesoris yang membuat indah bagianbagian tertentu bemo. Dan ini yang paling khas, setiap bemo berlombalomba memiliki soundsystem paling canggih seantero semesta untuk menghibur penumpangnya dengan lagulagu super kencang. Kalau sudah begitu, jika kalian ingin melihat diskotik berjalan, tengoklah bemobemo di kota Kupang. Dahsyat benar.

Bemobemo seperti itu sangat tidak disukai ibuibu yang sudah beranak pinak berjutajuta anak hingga menambah kepadatan penduduk, tapi sangat disenangi anakanak muda sekolah dan kuliahan. Perlu dicatat, Bahrul kecil juga (ingin) suka naik bemo yang gaulnya bukan main itu, tapi bagi sopirsopir bemo yang ratarata masih muda lebih tertarik mengangkut cewekcewek sekolahan yang sudah mulai bermekaran buah dadanya. Jadi hanya dua warna yang disukai sopirsopir bemo bangsat itu; biru dan abuabu. Merah jangan ditanya, seperti pemerintah orba, itu sudah jelas tidak diangkut.

Tapi keadilan tuhan tidak akan kemanamana. Masih ada yang ingin mengangkut Bahrul kecil beserta anakanak SD yang terlanjur dimusuhi pemerintahan bemobemo gaul. Mereka adalaha sopirsopir dengan kumis tebal di atas mulutnya yang hitam akibat banyak menghisap rokok Bentoel biru. Mereka inilah dewa penyelamat kami yang masih kuat memegang perintah agama, bahwa angkutlah anakanak kecil itu, sesungguhnya rejeki bersama mereka. Maka dengan iman yang mengendap bersama asap rokok di dalam dada, diangkutlah kami anakanak Adam yang malang ditinggal bemobemo yang dikutuk oleh seluruh ibuibu tua bangka.

Bemobemo kesayangan neneknenek yang sering pergi ke gereja di hari minggu ini, merupakan antitesa dari bemobemo gaul pengangkut cewekcewek biru abuabu. Kalian tahu kan apa itu antitesa? Tidak tahu!? Masak harus saya jelaskan berjamberjam tentang antitesa yang banyak ditemukan di filsafat itu? Persetan!! Kalian cari saja sendiri di kamus Ilmi yah? Sorry maksud saya bukan kamus kepunyaan Ilmi, tapi ilmiah.

Oke. Yang saya mau bilang bemobemo semacam ini selain keberadaannya sudah hampir punah, di masa itu mereka kalah telak dengan bemobemo yang sungguh mengkilat catnya itu. Mereka kalah pada dua hal; tampilan fisik mobil, dan banyak tidaknya penumpang. Kekalahan ini implikasi dari bemo mereka yang memang lebih mirip besi tua belaka. Tapi mereka masih punya kekuatan yang menjadikan mereka pemenang. Bemobemo tua ini masih punya kesetiaan mengangkut ibuibu tua atau anakanak kecil yang terlantar di tengah jalan. Nah, bemo macam inilah yang sering menyelamatkan saya ketika berangkat ke sekolah.

Hari ini saya mendugaduga apakah dulu bemo karatan itu memang ikhlas mengangkut penumpang seperti saya. Barangkali mereka sedang berjudi dengan diri sendiri. Jadi hitunghitungannya mirip pembuktian tuhan Blaise Pascal (Pascal’s Wager), kalau diangkut kemudian penumpang turun dengan membayar maka sopir itu beruntung. Toh kalau pada akhirnya penumpang sialan tak tahu berterimakasih tibatiba langsung kabur tanpa membayar, maka sang sopir tetap mendapatkan keuntungan berupa amal kebaikan. Sehingga tak ada ruginya mengangkut anakanak ingusan yang belum mengerti apa itu pancasila. Oh iya, mesti diingat situasi ini hanya berlaku ketika sopirsopir berkumis itu memang sudah tak punya banyak pilihan hanya karena kekurangan angkutan.

Sampai sekarang jika melihat pete’pete’, yang saya kenang adalah bemobemo gaul nan aduhai itu. Mereka sudah jadi angkutan umum yang super memikat. Kalian harus tahu kata memikat di sini hanya berlaku bagi anakanak muda sekolahan. Bagi orangorang tua, mereka punya idola sendiri; bemobemo yang reyot dimakan karatan. Makanya ketika SMP, sering kali saya melampiaskan balas dendam kepada bemobemo yang dulu mengacuhkan saya di pinggir jalan. Caranya ketika turun, saya langsung berlari begitu saja tanpa membayar. Orang Makassar punya istilah untuk menyebut peristiwa semacam ini: Masih Mauko!!

Tapi sayang, aksi balas dendam itu pernah jadi boomerang. Untuk bemobemo yang pernah saya kerjai, akhirnya kapok mengangkut saya. Malangnya karena itu, saya jarang bisa naik bemo yang gaul, malah saya harus kembali turun kasta menaiki bemobemo kelas dua. Mensiasati agar hal ini tidak lagi terjadi, saya akhirnya ikut dalam gerombolan anakanak cewek ketika naik ke atas bemo. Dengan cara ini saya seperti ikan remora di mulut ikan hiu. Berdempetdempetan di sekitar cewekcewek penggila Spice Girl’s.

Kalian juga mesti tahu, bemobemo di Kupang juga memiliki asisten pembantu. Di Kupang mereka disebut Konjak. Konjak sering kali menggelantung begitu saja di bibir pintu bemo. Tugas mereka selain berteriak mencari penumpang, juga bertugas sebagai mesin kasir. Sumpah, dulu ketika melihat konjak, saya seperti melihat orang yang hebat luar biasa. Bayangkan kalau bemo sudah berlari kencang di jalanan, mereka dengan santainya bergelantungan dengan rambut terurai gondrong diterpa angin. Apalagi dengan kaus junkies seadanya dengan setelan celana jeans yang sobeksobek karena keseringan disikat. Pikiran saya langsug terbang kepada artisartis rock n roll tahun 90an.

Di saat saya bergerombol bersama cewekcewek jerawatan dengan baju seragam bercampur bau keringat dan parfum, konjakkonjak macam inilah yang seringkali menyortir penumpang macam saya ini. Dasar mata keranjang!! Konjakkonjak ini lebih senang mengangkut perempuanperempuan yang belum mengenal apa arti memakai kawat gigi di abad 20. Kalau angkutannya sudah penuh, baru konjak dan sopirnya menyungging senyum kemenangan. Tak lama setelah itu, baru musik Aqua diputar keraskeras…Come on Barbie, let's go party! Ah ah ah yeah, Come on Barbie, let's go party!Ooh wow, ooh wow…

Sebenarnya saya ingin bercerita tentang keinginan tersembunyi saya ketika lewat di depan toko milik seorang Cina. Satu toko yang terletak tepat di depan pintu masuk gereja tempat saya berjalan kaki. Ketika berjalan menuju sekolah, mata saya pasti tidak lepas dari kotak besar yang disebut slinding flat glass freezer. Itu loh kotak penyimpan es krim. Ke dalam kotak itulah pikiran saya tertuju. Bersemayam bersama es krim es krim yang saya tak tahu rasanya. Semenjak saya tahu ada yang disebut es krim, ingin rasanya saya membelinya. Satu saja. Itu sudah cukup. Lidah kecil Bahrul sangat ingin mencicipinya. Tapi sayang, saat itu hanya jadi anganangan belaka. Apa daya uang jajan tidak mencukupi. Itupun kalau ada. Kasihan.

Coba kamu bayangkan ketika berjalan di siang bolong dengan terik matahari yang seakanakan tinggal sejengkal. Panasnya bukan main. Dugaan saya sebelas duabelas gurun pasir di Afrika sana. Apalagi kalau itu terjadi di musim kemarau. Masya allah, panasnya minta ampun. Ingin rasanya masuk ke dalam gereja mencari air minum. Air ledeng juga tak masalah, yang penting kerongkongan tidak seperti di tusuk jarum. Ingin membeli es lilin apa daya, uang yang ada akan digunakan hanya untuk membayar konjak mata keranjang sialan. Saya kapok diteriaki makimakian khas ibu kota Kupang kalau langsung lari tanpa membayar. Maka membayangkan es krim yang tergeletak adem di dalam kotak penyimpann itu adalah fatamorgana yang memberikan semangat untuk hidup. Cukup membayangkan saja. Membelinya adalah mimpi di siang bolong saja. Malang betul nasib.

Makanya melalui tulisan ini, saya ingin meminta, kepada kamu, iya kamu. Jangan purapura tidak tahu. Kamu yang saya maksud, bukan orang di belakangmu itu!! Saya hanya ingin meminta, maaf, tepatnya memohon, itu pun kalau kamu berniat membantu saya. Tentang keinginan masa kecil yang tak kesampaian. Saya mohon yaa…Bisa tidak kamu membelikan saya satu es krim saja. Iya satu saja es krim. Hanya es krim belaka. Bisa kan? Pliss..


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...