05 Maret 2015

madah empatpuluhtiga

"Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak memerlukan itu, karena dia lah yang menunjukkan apa yang diakui benar dan harus berlaku." Paul Natorp

1970. Suatu malam di Tehran Iran, Husayniah Irsyad. Dua malam berturutturut, tempat aktifitas  intelektual keagamaan yang didirikan Khomeini itu akan membincang tema yang ganjil. Anakanak muda Iran saat itu sepertinya tak bakal menyangka, Ali Syariati, mentor yang ingin mereka dengarkan ceramahnya akan membincang tema unik: agama versus "agama."

Di kuliah itu, Ali Syariati mengajukan tesis di balik sejarah, sesungguhnya agama selama ini bukan berjuang melawan keyakinan nontheis, yakni pemahaman terhadap noneksistensinya Tuhan. Agama dari waktu ke waktu selalu melawan "agama" itu sendiri. Dengan kata lain, tokoh revolusi Iran itu ingin mengatakan: sepanjang sejarah, agama monotheis, yakni keyakinan yang percaya satu tuhan, selalu berhadaphadapan dengan agama yang percaya banyak tuhan.

Dalam ceramahnya itu , Ali Syariati membuktikan bahwa sepanjang sejarah perkembangan manusia, kehidupan masyarakat selalu menyertakan pemahaman tentang Tuhan yang tak mungkin kosong. Sejarah mula manusia, dari kelompok yang sederhana sampai peradaban yang kompleks, selalu diisi oleh keyakinankeyakinan religius dan spiritual. 

Dengan kata lain, atheisme adalah konsep yang tak pernah ditemukan dalam sejarah. Sebab sepanjang sejarah peradaban, atheisme sebagai keyakinan kolektif tak pernah ada dalam kehidupan purba manusia.

Dengan maksud itu artinya Ali Syariati ingin mengatakan agama sebenarnya adalah nilai esensial yang inheren dalam diri manusia. Di mana, keyakinan terhadap satu kekuatan yang mengatasi seluruh alam adalah keniscayaan yang tak bisa ditampik kesadaran manusia. Di titik itulah, apa yang disebut agama multitheis, dari Ali Syariati adalah agama yang menyimpang dari nilainilai esensialitas manusia.

Tapi adakah ia seorang penganjur fundamentalisme di sini? Yakni orang yang membangun iman tunggal untuk menerjang agamaagama yang lain? Sebab dalam tesisnya itu, bisa saja penganut tuhan yang mono, menangkap maksud sentimentalisme keyakinan monotheis Ali Syariati terhadap keyakinankeyakinan di luar lingkup imannya.

Atau dalam bahasanya itu, agama versus  agama sebenarnya adalah maksud yang ia tujukan kepada penganut monotheisme itu sendiri. Dengan katakatanya yang konon disenangi anakanak muda di masanya itu, agama dalam tanda kutip, bukanlah merujuk pada agama yang lain, melainkan agama monotheis itu sendiri.

Di sinilah Ali Syariati tak sekedar penganjur fanatisme, tetapi fanatisme yang dibangunnya adalah fanatisme yang kritis terhadap iman yang selalu dipugar dan dikontruksi terus menerus tanpa henti. Iman yang tiada mengenal batas pertumbuhan dan titik final. Iman yang virtualitasnya terus menjadi. Yakni iman dengan jalan suluk yang menghindari katup penutup sebagai tanda keterpenuhan. "Tiada akhir dalam tuhan" sebutnya jika tuhan adalah tujuan segala sesuatu.

Sebab itulah agama dalam tanda kutip ia artikan sebagai agama yang beku dan kaku dalam sejarah perkembangan manusia. Agama yang kaku itu, menariknya adalah keyakinan yang selalu melegitimasi keadaan status quo. Agama yang beku disebutnya agama yang kufr, yakni agama yang mendehumanisasi manusia dengan legitimasi teksteks untuk membiarkan konteks yang statis dan jumud.

Sebab itulah ia memiliki arti yang lain tentang kafir. Kufr, disebutkannya dalam tradisi keagamaan Islam bukanlah berarti arti dari nonagama, sebab sejak semula tak ada yang berarti nonagama. Kufr yang berarti menutup atau menanam adalah keadaan yang menutup diri dari kebenaran. Di dalam arti ini, kufr berarti tertutupnya pintupintu kebenaran dari iman. "Di dalam hati manusia" ungkapnya,  "kebenaran itu ada, tetapi karena alasanalasan tertentu, kebenaran tertutup oleh tirai kebodohan."

Kufr yang juga dalam bentuk jamak kafir, memiliki arti yang tidak sematamata lawan dari tauhid. Sebab dari yang dibilangkan Asghar Ali Engineer,  terma kafir dalam teks primer Islam, pertama kali diturunkan berkenaan dengan orangorang yang lalim dan zalim dalam memperlakukan manusia.  Kaitannya dengan kekuasaan, makna tersirat kafir sesungguhnya menghardik orangorang beriman yang menggunakan kekuasaannya untuk menipu dan berbuat semenamena terhadap bawahannya.

Yang kafir inilah disebut Ali Syariati sebagai agama dalam sejarah yang ambivalen terhadap agama yang sesungguhnya. Dan agama yang sesungguhnya bagi Syariati adalah agama yang dikatakannya revolusioner. Dalam ceramahnya itu,  agama yang revolusioner disebutnya sebagai agama yang memiliki "kemampuan untuk mengkritik kehidupan dalam seluruh aspek materil, spiritual dan sosialnya." Di sini, kemampuan itu punya maksud yang persis disebutnya seperti nabinabi: memberikan misi dan menghancurkan tatanan status quo.

Nampaknya agama yang revolusioner sudah pasti bukan agama yang disebut Marx sebagai candu masyarakat. Justru, agama yang melenakan semacam candulah yang dirasarasai harus dienyahkan. Agama yang demikianlah agama dalam tanda kutip, agama legitimasi, agama yang kufur.

Agama yang revolusioner saya rasa adalah agama yang punya keyakinan untuk membangun masyarakat yang bisa hidup adil dan sejahtera. Agama yang melihat kenyataan yang timpang harus tumbang dari perlakuan korup institusinya. Dan sudah jelas bukan agama yang kini tampak besar akibat layar kaca dengan atributatribut formalnya. Sebab agama yang kufur kata Syariati punya dua bentuk: tampak dan sembunyisembunyi.

Akhirnya yang sembunyisembunyi inilah yang sebenarnya berbahaya. Sebab agama tanda kutip juga disebut Syariati sebagai agama yang menyediakan tuhantuhan yang lain. Di dalam teologi dan sejarah, tuhan yang banyak sudah gamblang diungkap nabinabi sebagai berhalaberhala yang dipuja. Sementara yang tersembunyi, juga banyak tuhantuhan yang lain, yang diamdiam justru kita puji. Di mana di luar kita tundukkan, tetapi di dalam betapa akbarnya kita pertuhankan.

Syahdan, sesungguhnya bukan juga dalam sejarah agama yang monotheis selalu melawan agama yang punya banyak tuhan itu. Tetapi juga mungkin kita.

04 Maret 2015

madah empatpuluhdua

Dua hal yang tak disenangi Marx: alienasi dan nilai lebih. Di jaman industrialisasi tumbuh subur, bondongbondong masyarakat Eropa beralih kerja. Lahanlahan ditinggalkan, dan akhirnya pabrikpabrik penuh buruh. Di sanalah alienasi terjadi dan nilai lebih dicuri. Alienasi menghasilkan keterasingan, sementara nilai lebih berarti penghisapan.

Sebab itulah Marx menghardik sistem kerja di pabrikpabrik.  Di sana banyak buruh terasing dari kemanusiaannya. Alienasi tidak saja merenggut kebebasan buruh, tapi kehidupan sosialnya. Juga dari cara kerja yang disebutnya tak adil.  Buruh diberlakukan semenamena dengan mencuri waktu yang dimilikinya.

Apa yang dibenci Marx sebenarnya adalah konsekuensi kemajuan rasionalitas yang ditemukan dari kesadaran manusia. Semenjak terang kesadaran tak dikuasai dogma gereja, kesadaran manusia menemukan sejarah baru; industrialisasi. Melalui rasionalitaslah industri bisa besar dan massif menyebar. Tapi dari penyebaran yang massif itu juga berarti semakin luasnya penghisapan dan alienasi.

R. Dahrendorf dalam essay in the theory od society, melihat di zaman industri yang disebut kapitalisme itu punya ciri khas selain penguasaan atas milik pribadi, yakni penerapan yang ia sebut "rasionalitas pasar." Di saat itu, apa yang disebut "pasar" adalah tempat yang penting di mana pertukaran diberlangsungkan. Dalam konteks inilah tujuantujuan diorganisasikan melalui cara efektif dan efisien.

Tapi zaman juga sudah banyak berubah, kapitalisme juga sudah banyak berganti rupa. Termasuk kekuasaan yang menjadi sumbet legitimasinya. Kapitalisme tak mungkin menyandarkan kekuasaannya seperti yang disebut Weber sebagai sumber kharisma. Sebab tak ada yang sakral yang bisa juga disebut kesucian sebagai sumber kekuasaan. Di bawah kapitalisme kepatuhan tak didapatkan melalui otoritas tradisi sebagaimana kekuasaan di zaman sebelumnya bekerja, melainkan apa yang disebut kontrak. Denganyalah sebenarnya kesepakatan dibangun, tanpa harus melibatkan kepasrahan.

Keterlibatan yang terpaksa inilah menjadikan buruh lebih nampak sebagai mahluk yang tak berdaya apaapa dihadapan kapitalisme. Mereka terpaksa harus menjual tenaganya melalui legitimasi kontrak kerja. Dan malangnya, tenaga yang mereka miliki dan dikeluarkan saat bekerja tak sebanding dengan upah yang mereka terima. Inilah keadaan yang dicela itu: penghisapan.

Gramsci tokoh komunisme Italia, juga melihat hal yang sama. Penghisapan memang kejam. Tapi, menurutnya penghisapan yang dialami kaum proletar lebih halus ketimbang kontrak kerja yang memperantarai keterlibatan kaum buruh. Ada yang lebih membahayakan di mana mekanisme kekuasaan atas tenaga buruh sebenaranya adalah sesuatu yang sebenarnya disepakati. Artinya, kesepakatan yang sebelumnya melalui kontrak hanya bisa diberlangsungkan melalui aturanaturan rasional. Hegemoni begitu ia menyebut istilahnya adalah keadaan penghisapan oleh kaum borjuis, yang terjadi secara kultural.

Di sini, barangkali Gramsci tak saja bicara pada konteks kaum buruh yang terperdaya oleh sistem industri kapitalisme, melainkan juga kepada masyarakat pekerja yang massif ditemui hampir seluruh Eropa. Maksudnya, Gramsci melihat penghisapan yang dialami oleh masyarakat pekerja tidak  hanya pada dimensi ekonomi, tapi juga pasa dimensi kultural.

Pada saat itu, keadaan akan seolaholah menjadi situasi yang natural. Alienasi dan penghisapan menjadi hal yang nampaknya wajar. Apalagi dalam era kapitalisme lanjutan, kaum pekerja banyak diberikan pesangon untuk menetralisir kontradiksi yang dialaminya. Karena itulah perlawanan yang diharapkan Marx sulit untuk dimungkinkan. Kaum buruh sudah terlanjur netral dalam melihat keadaan yang dialaminya. 

Tapi sebenarnya, tidak semua kaum buruh mau tunduk dengan keadaan. Sebab masih banyak kita lihat serikatserikat yang dibentuk untuk merumuskan agenda perjuangan kelas yang disponsori Marx. Organisasiorganisasi perjuangan yang masih bergerak menghimpun kekuatan. Mereka berpolitik dan berjuang untuk keluar dari keadaan yang alienatif dan terbelakang. Sebab mereka juga tahu, tenaga mereka bukan modal yang semenamena dapat digunakan sebagaimana mesin yang terus dapat digunakan.

03 Maret 2015

madah empatpuluh satu

Tik tik tik bunyi hujan di atas genteng
Airnya turun tidak terkira, cobalah tengok
Pohon dan ranting basah semua...

Saya tak tahu, apakah lagu ini mampu menenangkan hati kita ketika musim penghujan. Apalagi hujan yang tak hentihenti. Tapi dahulu, dari atap genteng yang bocor, sebagai rasa syukur, Ibu Soed mencipta lagu ini saat hujan datang. Hujan jadi penanda betapa manusia dan alam, bisa akrab dan manja. "Cobalah tengok pohon dan ranting" alam yang disambut akrab, jadi "basah semua."

Mulai saat itu, berawal dari rumah kontrakannya di jalan Kramat, Jakarta, lagu itu menjadi pelipur negeri bagi anakanak ketika hujan. Hujan, akhirnya, melalui lagu itu jadi peristiwa alamiah yang disambut riang. Hujan lewat lagu itu, jadi peristiwa yang mengundang syukur dan tafakur.

Tapi, saya tak tahu apakah lagu ini masih akrab di telinga anakanak kiwari. Juga, apakah hujan bisa mendatangkan syukur agar kita bisa bertafakur. Hanya saja, bagi yang tumbuh bersama lagu itu, hujan di waktu sekarang tak sekadar bunyi di atas atap genteng bertalutalu. Hujan, bagi yang akrab dengan lagu ini, mungkin bisa membuat gerutu mengutuk air bah yang tak ingin kita alami.

Di kotakota besar, yang sudah sesak beton berlapislapis, merasai hujan sebagai bencana. Air yang jatuh, dengan volume bertonton banyaknya malah bisa membuat sebuah kawasan jadi kumuh. Sebab, suatu kota dengan bangunan yang padat, tak pernah memperhitungkan bagaimana air tanpa henti jatuh dari langit bisa disalurkan. Karena itulah banjir datang, dan air menggenang jadi soal.

Barangkali ini adalah soal bagaimana manusia memandang tempat mukimnya. Alam, dunia yang kita huni sekarang, sudah kita tekuklututkan di bawah kendali otoritas manusia. Semenjak cogito cartesian menerangkan supremasi rasio manusia, praktis keberadaan alam menjadi entitas inferior. Alam menjadi objek subordinat hirarki kekuasaan akal manusia. Itulah mengapa, sains sebagai media rasio bekerja, menempatkan alam menjadi realitas tak bernilai apaapa.

Dan juga, teknologi, dunia berubah total. Mesinmesin dibuat massif.  Dan, menggantikan tenaga manusia, mesin bekerja atas dasar efisiensi dan efektifitas. Akhirnya, robotrobot merambah sudutsudut hutan. Mengubahnya jadi lapang, dan merusaknya. Sontak hutan berubah menjadi kawasan yang tandus. Dimanfaatkan tanpa pernah tahu bagaimana mengembalikannya. Di hutan, lagu Ibu Soed tak pernah sampai.

Berkat teknologi, manusia memanipulasi alam liar menjadi hunian yang akrab. Alam dimanusiakan agar lebih sesuai kehendak manusia. Hingga akhirnya, kemajuan teknologi terlalu jauh memanfaatkan alam demi kepentinga manusia. Teknologi tanpa sadar, telah mengubah alam menjadi momok miterius. Kiwari, alam bisa datang menuntut balas; berupa longsor; berupa banjir; berupa penyakit, tsunami, puting beliung, kebakaran. Hingga entah berupa apa lagi.

Tapi sebenarnya, yang jadi soal, hasrat manusia ketika membangun tempattempat baru. Di kota besar, tampak sekali hasrat manusia menaklukkan daerahdaerah lapang untuk manfaat hunian baru. Namun, di daerah yang dihuni itu, manusia kota sudah tak hirau kepada alam sekitar. Rumahrumah mereka justru menjadi monumen hasrat yang egois.  Tanah dilapis betonbeton. Udara dibuat cemar. Dan, suarasuara tidak pernah berhenti.

Hujan di kotakota juga cara bagaimana alam menunjukkan kegagalan perencanaan pembangunan. Ruang hijau terbuka berbanding sedikit semakin tingginya gedunggedung. Hari ke hari, tibatiba beberapa gedung sudah kokoh berdiri. Barangkali ini percepatan urbanisasi. Tapi, siapa memperhitungkan alam?

Yang ada, ruang yang dipermak harus menjadi tempattempat modal bergerak. Sebab itulah, keindahan ornamen perlu, apalagi keamanan suatu lingkungan. Tanpa semua itu, tiada modal mengalir.  

Sudah tentu banyak pertukaran mengalir ditempattempat kapitalisasi berlangsung. Mungkin, melebihi banyak air hujan yang jatuh. Sampai di sini betapa sedikitnya rasa syukur kita.

Hujan, saat mukim-mukim belum sepenuhnya dari beton dan tembok, sudah pasti banyak mengundang takjub, juga tentu syukur. Apalagi banyak harapan bergantung dari jatuhnya air hujan.

01 Maret 2015

madah empatpuluh

Siapa yang bakal menyangkai, bahwa bangsa ini sebenarnya lahir dari anakanak muda. Tapi, itulah sejarahnya.

Di masa perjuangan Indonesia, pemuda memang punya andil. Tanpa 28 Oktober, barangkali sejarah akan berbeda. Kita tak tahu pasti, apa yang bakal terjadi jika di saat itu tak ada inisiatif dari pemuda untuk berembuk mengadakan kongres dengan agenda yang besar. Juga sulit dibayangkan tanpa sumpah pemuda yang heroik itu, suatu niat begitu agung diperjuangkan. Barangkali tanpa itu, sejarah hanya kepunyaan bapakbapak pejuang militer dan tuantuan pemerintah. Juga sejarah perjuangan akan panjang  berlarutlarut dan kejadian sudah pasti akan  jauh berbeda. Atau bahkan Indonesia adalah negeri yang bisa saja tidak berbentuk kesatuan.

Tapi itu sudah terjadi, pemuda terlibat dan berjuang dengan gigih. Di masa silam mereka menjadi golongan yang sadar suatu negeri harus bersatu dan berpadu. Tak ada sekat untuk menyebut suatu negeri yang merdeka. Dan dari perjuangan mereka, ada momentum yang bergayung sambut setelahnya. Indonesia sebagai negeri yang diidamkan pelanpelan dibentuk.

Sebab itulah Pramoedya Ananta Toer meringkas sejarah negeri ini adalah sejarah kaum muda.

Tapi, tidak bisa juga kaum muda adalah satusatunya determinan dalam membentuk sejarah Indonesia. Karena sebagai sebuah peristiwa, sejarah dibentuk dari berbagai macam kemungkinan, dari beragam cara dan lintasan kejadian. Sementara banyak peran aktif orangorang saat itu, di luar kaum muda, juga turut terlibat dalam membentuk suatu kejadian sejarah. Singkatnya di masa itu, kaum muda beserta yang lainnya bersatu dalam satu peristiwa yang berproses dan menjadi.

Yang patut dihargai dari sejarah bangsa adalah keberanian kaum muda. Orangorang semacam Tabrani, Sanusi Pane, W.R Supratman, Muh. Yamin dll. yang terlibat aktif dalam kongres kepemudaan adalah orangorang yang sudah merelakan berbagai macam resiko dapat datang menghadang. Mereka sudah pasti mengetahui resiko yang akan mendatangi mereka, sebab di saat itu Hindia Belanda adalah negeri yang dikuasai oleh kumpenikumpeni berkulit putih. Sementara dalam hal hak untuk berkumpul bagi anakanak pribumi atau terpelajar harus memiliki ijin dari pemerintahan Hindia Belanda.

Namun beserta berbagai macam organisasi saat itu, suatu peristiwa nasional akhirnya dapat terselenggarakan. Suatu noktah sejarah akhirnya berhasil mempertemukan berbagai kaum muda dari penjuru nusantara. Dan agendanya jelas, bahwa perlu adanya satu persatuan yang menaungi seluruh negeri nusantara melalui satu gerakan nasional. Dari peristiwa itu ada kemauan dan tekad yang besar, dan juga keberanian.

Keberanian mereka adalah suatu sikap yang lahir dari kesadaran akan pentingnya suatu negeri yang bersatu dalam satu identitas. Yang mana suatu identitas saat itu adalah cara untuk keluar dari dominasi sekatsekat yang memisahkan tujuan Indonesia sebagai negeri yang satu. Itulah sebabnya, di bawah Hindia Belanda saat itu, suatu identitas yang mempersatukan akan menjadi kekuatan pembanding dari penjajahan yang selama itu terjadi. Dan itulah yang dirasa penting untuk dilakukan, yaitu keinginan untuk bersatu.

Namun sebenarnya apa yang dirasakan sebagai suatu tekad dan keberanian untuk bersatu, adalah rangkaian panjang yang berproses tanpa henti di bawah penjajahan pihak sekutu. Proses itu adalah suarasuara pembebasan yang tak padam sebab apa yang universal samasama dirasakan oleh semua masyarakat nusantara. Penjajahan yang banyak mengambil korban dan ketidakadilan yang menelan kesejahteraan masyarakat adalah keadaan yang tak bisa ditoleransi. Sebab itulah, pemerintahan manapun yang banyak berbuat tak adil dan sewenangwenang tak manusiawi memperlakukan masyarakat, maka di dalam keadaan itu selalu ada kesadaran yang muncul untuk menerobos keadaan yang menindas.

Dan dari keadaan yang berlarutlarut itu, dari pemerintahan yang sewenangwenang , apalagi berasal dari negeri nun jauh di seberang, tak ada hak sama sekali untuk melakukan perbuatan semenamena. Maka dari itulah, kaum muda bangkit dan berjuang. Menyusun suatu organisasi untuk memperbaiki keadaan yang telah lama dianiaya oleh pihak asing.

Dalam sejarah, pertemuan yang diprakarsai oleh pemudapemuda saat itu, adalah momentum yang memiliki gaung yang panjang. Setelah dua tahun dari kongres pertama, maka lahirlah ikrar janji untuk memiliki satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Satu, di sini adalah simbol yang ingin kukuh dan merdeka dari pecahpecah yang bisa mendatangkan kelemahan dalam berjuang. Satu, di sini berarti ikrar yang ingin solid atas kesamaan nasib yang dihadapi. Satu, di sini adalah satu untuk membangun suatu negeri yang tak gampang untuk dipreteli oleh pihak asing.

28 Februari 2015

madah tigapuluhsembilan

“Kehidupan adalah yang mestinya bukan suatu kemalangan dan jalan menuju ketiadaan adalah satusatunya yang baik dalam kehidupan”  Arthur Schopenhauer.

Jika ada anak dalam usia muda yang sudah berhenti berdoa,  Leo Tolstoy-lah orangnya. Di usia 16, doktrin religius telah mengecewakannya. Doa ia tinggalkan, puasa tak dilakukannya, juga gereja tak lagi ia kunjungi. Sampai akhirnya di usia 18, keyakinan kristen ortodoks jadi sesuatu  yang ia sebut "doktrin religius yang tak berperan dalam kehidupan." Di usia 18, Tolstoy praktis dalam arti tertentu, menjadi atheis. "Pada usia 18 tahun, aku tak lagi mempercayai apapun yang pernah diajarkan."

Tolstoy barangkali gamang. Di usia mudanya, ia membaca filsafat Yunani, pemikiran Voltaire, Schopenhauer, dan juga Kant. Untuk nama terakhir ini, bisa kita katakan adalah filsuf yang memang tak menolak dan tak mengimani tuhan: agnostik. Dan Tolstoy sepertinya juga demikian, "apa yang bisa kupercayai tak bisa kukatakan sama sekali, aku percaya tuhan atau aku mengingkari tuhan, tapi tak bisa kukatakan apa itu tuhan." Sampai di sini sepertinya ada kesamaan Kant dan Tolstoy: orang yang membiarkan tuhan pada sesuatu titik taksa.

Sebuah imankah yang dialami Tolstoy? Nampaknya dari pengakuannya yang ia tulis dalam A Confession, memang bukan iman yang sekali ringkas dengan batas pengertian ketat. Iman, seperti yang ia ungkapkan dalam A Confession adalah sebuah suluk yang tak tergesagesa menemukan jawaban. Iman yang sabar berjalan di pinggir tubir antara tabir dan bibir yang tak kuasa mengucap.

Memang dalam buku yang ditulis itu kita akan terkejut bahwa di masa mudanya Tolstoy adalah anak muda yang menjadikan ritualritual agama sebagai bahan olokan. Masa mudanya adalah masa yang bisa diringkas dengan kosakata foyafoya. Di sana ia menulis pernah menjadi seorang penjudi, pemabuk, pencuri, pemalak, berzina atau segala kejahatan yang terjadi di zamannya. Di tahuntahun itu, adalah masa yang penuh “kengerian, perasaan muak sekaligus kepiluan.” Di tahuntahun ini, di mana ia pernah menjadi tentara yang bertempur dalam Perang Krim adalah tahun yang penuh depresi. Suatu masa di mana ia hampir bunuh diri.

Tapi itu tak pernah terjadi.  Tapi juga depresi yang ia alami tak hilang begitu saja. 10 tahun lamanya ia hidup dalam kegamangan.

Tolstoy gamang dan merasakan perlu ada yang mesti diperbaiki.  Hidup yang ia alami nampak hanya sebagai apa yang ia sebut tiruan dari hidup yang sebenarnya. Kegamangannya terhadap arti hidup sebenarnya adalah suatu yang sering kali menelusup dalam kesehariannya.  Ia menulis: “aku tak tahu apa yang harus dilakukan atau bagaimana menjalaninya. Aku merasa tersesat dan menjadi patah semangat…kondisi itu selalu terekspresikan dalam pertanyaan untuk apa? Akan kemana?”

Dan hidup yang tak terperiksa adalah hidup yang tak layak dijalani.

Hidup Tolstoy sebenarnya adalah hidup yang sejahtera; rumah yang megah, tanah ladang yang luas, pekerjapekerja yang banyak, juga tulisantulisan yang cemerlang. Tapi di kehidupannya yang mencukupi itu, selalu saja ada masgul terhadap apa yang telah dicapainya. Suatu ekses dari masa mudanya yang menghendaki apa sebenarnya arti dari kehidupan.

Tolstoy pasti banyak mencari jawaban di bukubukunya, atau bisa saja mengajak diskusi siapa pun tentang apa maksud sebenarnya hidup. Tapi suatu yang sulit ia duga, jawaban yang selama ini dicarinya justru ada pada kehidupan petanipetani di sekitarnya. Yakni kumpulan orangorang yang tak pernah mempersoalkan hidup dengan serius dan gamblang.

Sebab pertanyaan adalah pintu masuk keraguan yang tak bisa ditangkap rasio. Sementara dalam petanipetani yang ia saksikan tak pernah mengawali suatu hari dengan mempertanyakan apa sebenarnya arti hidup. Justru dalam kehidupan yang sahaja dari petani yang tak pernah repot atas kegamangan filsafat, merasakan ketentraman hidup yang sentosa. Petanipetani yang ia lihat adalah orangorang yang legowo tanpa harus mempersoalkan hidup yang memang untuk dijalani dengan iman yang tak mulukmuluk. Iman yang tak muluk itulah sepertinya adalah iman yang menentramkan dan menenangkan. Tanpa pertanyaan. Tanpa kebimbangan.

Itulah mengapa dalam pengakuannya, Tolstoy menyimpulkan bahwa pengetahuan rasional tak mampu memberikan jawaban apaapa. Ia menyebutnya “di wajah eksistensi tanpa tujuan, pilihan rasional hanya bunuh diri.” Barangkali inilah suatu transformasi iman yang rasional menuju iman yang nirrasional. Yakni iman yang membuatnya hidup bukan iman yang membuatnya bertanyatanya.

Sebenarnya tranformasi yang dialaminya bukanlah suatu guncangan yang tidak melibatkan rasionalitas, tapi justru, seperti juga Kant,  menganggap rasio adalah jalan yang tak memberikan ujung yang pasti, sebuah jalan buntu. Namun tidak seperti Kant yang agnostik, di akhir perjalanan pencariannya yang panjang, Tolstoy yakin bahwa iman bukanlah perkara yang sematamata hanya melibatkan pekerjaan rasionalitas, melainkna justru suatu yang melampaui; keterlibatan batin.

Di sanalah ia menemukan jawaban. Pada tempat yang memang seharusnya ia kunjungi. Dan seperti juga Gautama yang disebutkannya mengalami hal yang gundah atas eksitensi hidup yang penuh penderitaan. Tolstoy akhirnya menjadi orang yang di tahuntahun terakhir hidupnya menjadi seorang pengelana dan petapa.

Dan dari ajaran spiritual yang dirumuskan para petapa; cinta kasih, Tolstoy banyak mempengaruhi filosofi nonkekerasan yang dianut dari Gandhi hingga anarkisme.

“'Hiduplah mencari Tuhan, maka kau tak kan hidup tanpa Tuhan,’ Dan lebih dari sebelumnya, semua di dalam diriku dan di sekitarku menyala, dan cahaya itu tak lagi meninggalkanku”

27 Februari 2015

madah tigapuluhdelapan

"Tidak ada misi yang lebih rumit, lebih gawat, daripada pergulatan orang dengan jiwanya sendiri.."

Begitulah ungkapan Duong  Thu Huong. Tulisannya dalam Beyond Illusions, begitu menggetarkan. Dalam katakatanya itu ada getir, sekaligus tentu saja, getar.

Di tahuntahun komunisme berjaya di Vietnam, getir sekaligus getar itu menjadi hal yang menjulang dalam sorak sorai revolusi tanpa batas. Tapi juga, akhirnya harus redup untuk sebuah jalan yang telah ditetakkan partai: realisme sosialis.

Di Vietnam, seperti negerinegeri ketika komunisme akbar dipuja, sastra dan seni hanya berarti bahwa realisme sosialis adalah satusatunya ekspresi yang mampu membangun kebudayaan yang luhur. Maka, akhirnya itu jadi kebijakan, partai mengambil alih, dan sastra serta seni hanya bisa bicara dua hal: revolusi dan aturanaturan sastra partai.

Tapi pernah suatu saat partai sadar dan berbenah. Di tahun 1987, pasca perang yang amuk dengan pihak sekutu, partai mengambil cara yang tak lazim. Melalui pidato Nguyen Van Linh, ketua partai saat itu, kaum sastrawan dan intelektual dihimbau terlibat secara bebas dan kritis untuk membangun dan menangani Vietnam yang ambruk akibat perang. Akhirnya katup  dibuka, dan segera saja suarasuara yang sembunyi dari radar kekuasaan, menguap kemanamana.

Suasana itu akhirnya menyediakan suatu kondisi seperti yang diungkap Linh, dalam Beyond Illusions, kepada suaminya "kita tidak hidup untuk menyenangkan hati orang lain. Kita hidup sesuai dengan keyakinan kita." Linh menyebut itu dalam arti yang ideal, dalam arti bagaimana seharusnya tugas seorang penulis: jujur terhadap kenyataan.

Vietnam sebelum itu adalah suatu negeri yang diproyeksi dan dicanang revolusi, negeri yang mengolokngolok tuantuan tanah. Di Vietnam kala itu, seperti negeri yang membebaskan seluruh tanah untuk dikelola komunekomune. Tak ada tanah yang berbasis pribadi. Tiada yang berbau individual. Tanah di masa itu adalah saatsaat di mana padi adalah juga urusan negara.

Sontak proyek land reform itu menjadi semacam mantra yang membebaskan, tapi juga sebenarnya menghisap tumbal. Pembebasan tanah jadi program yang massif dari revolusi yang sedang berjalan. Tanah yang dikelola komune, adalah penyamarataan seperti yang dilakukan Mao di China. Tapi land reform justru bukan imune, justru banyak yang sakit, banyak yang justru kelaparan. 

Yang jadi tumbal, yang jadi sakit, adalah orangorang yang kehilangan tanahnya dan harus bekerja dengan tanah yang kering. Bahkan berita pun dibuatbuat, seperti ditulis Duong dalam novel ke duanya, penuh kebohongan "para pemimpin komune memerintahkan kami ke sini untuk dipotret, untuk korannya para tukang foto itu.

Orangrang dikibuli dengan gambargambar padi berlatar subur dan petani yang bahagia bekerja, namun sebenarnya itu hanyalah bagian kecil dari keadaan yang sebenarnya. Yang sebenarnya tak ada tanah subur yang dibebaskan. Yang ada hanyalah pengerahan besarbesaran petani ke bidangbidang tanah yang tak menghasilkan panen apaapa. Yang ada hanya berita manipulatif yang disebarkan demi menyangga revolusi.

Sebab itulah akhirnya di suasana bebas itu  banyak yang berani bersuara atas kebohongankebohongan kemajuan revolusi. Sastrawan menulis syair juga novel, seniman membangun panggung dan kaum cendikia mengungkap kenyataan. Demi suatu yang luhur: kejujuran atas yang terjadi.

Drastis tak ada lagi beritaberita kebohongan tentang kemajuan yang dipesan partai. Tak ada lagi ungkapan yang memujimuji revolusi.

Tapi suarasuara yang kritis nampaknya justru menjadi gema yang menyulut panas kekuasaan. Kritik berbalik arah terhadap partai yang diamdiam memang menilap kekayaan. Akhirnya banyak yang marah seperti tuantuan kepala partai yang menimbun harta. Sehingga jika kekuasaan jadi gerah, maka selanjutnya kita tahu, yang ada adalah pembungkaman. Sebab itulah kritik seperti memang hanya suara yang seperti uap. Cepat hilang. Sempat panas kemudian hilang tanpa sisasisa, oleh kekuasaan.

Suara yang sempat menjulang saatsaat itu, sudah tentu suara getar Duong Thu Huong. Perempuan yang sempat diusir dari partai ini akhirnya juga menanggung nasib sebagai seorang yang diasingkan. Tulisantulisannya menjadikannya sebagai orang yang karib dengan penjara tanpa pengadilan. Dan dari situ tahun 1990 ia didepak dari partai komunis Vietnam.

Tapi novelnovelnya, juga Beyond Illusions, sebenarnya getir yang memotret sebuah negeri yang dimanipulasi dengan rencanarencana partai. Suatu hal yang ia sebut "memandang menembus topengtopeng," saat semuanya bersuara berdasarkan pesanan partai. Saat banyak yang hanya mengumbar kesenangan rakyat dari sejumlah beritaberita, ceritacerita yang dipelintir dari kenyataan sebenarnya.

Saat itulah Duong menulis "kita kaum intelektual, misi kita bukannya memupukmupuk kebanggaan rakyat kita, melainkan meninjau sedalamdalamnya cacat dan kelemahannya yang fatal, untuk menemukan dan menunjukkannya lebih awal dari yang lainlain."

Karena itulah Duong menulis keadaan yang getir di negerinya sendiri.  Tapi sampai di sini saya tidak tahu, apakah tulisan Duong  di negeri ini juga dapat membuat orang bergulat dengan jiwanya sendiri.


26 Februari 2015

madah tigapuluhtujuh

"Masalah manusia adalah yang paling penting dari segala masalah"

Begitulah Ali Syariati memandang sebuah persoalan. Dimulai dari manusia dan menuju manusia. Sebab "agamaagama di masa lalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya di atas dunia, dan memaksanya agar mengorbankan dirinya di hadapan para dewa atau tuhan." Jika ia pernah mengatakan "dari mana kita mesti mulai?", maka soal utamanya bisa jadi adalah manusia.

Nampaknya humanisme tidak selamanya milik barat. Ali Syariati, kawan karib Sartre ini, juga punya cara membilangkan humanismenya dengan daya yang meletupletup. Humanismenya, yang meletupletup itu, ia sebut sebagai "mahluk bidimensional, rekan Allah, sahabatNya, pemegang amanatNya dan murid utamaNya... yang dikaruniai misi agung agar dilaksanakannya di muka bumi."

Dengan begitu, manusia yang bidimensional diyakininya sebagai orangorang yang punya misi khusus, orangorang yang datang di muka bumi untuk menyelenggarakan suatu adab hidup. Suatu yang ia sebut misi agung.

Tapi, misi agung, di abad dua puluh satu, adalah misi yang bisa jadi soal sebenarnya. Agama, yang juga punya semangat humanisme, nampaknya seperti yang dibilang Syariati, justru adalah "agama-agama yang merendahkan manusia." Manusia bukan titik koordinat semua garis bermula. Ia hanyalah satu garis dari titik yang berpusat dari tuhan.

Di abadabad yang lalu, di hadapan keyakinan dominan gereja, pusat itu dirubuhkan. Dan hingga kini, pusat telah berbeda. Manusia menjadi poros, sehingga dari sanalah semua soal dan jawaban disusun.

Tapi, sekali lagi ini abad dua puluh satu. Agama punya jawaban yang juga tak pernah surut. Semangat yang tak surut itu muncul dengan wajah yang tak ingin kusam di abad kemajuan ini: fundamentalisme.

Dengan itulah misi agung dipandang memang mesti agung. Tak ada yang boleh mencemari yang asal dan dasar, itulah sebabnya tak ada campur tangan manusia di dalamnya. Manusia, mahluk yang memang sumber kesalahan itu, tak punya hak untuk membangun sebuah dunia. Apalagi menjamin segala isinya.

Maka itulah kita tak pernah salah memahami Will Durant, agama memang punya seribu nyawa. Dengan nyawa yang tak kurangkurang, sebuah keyakinan dipupuk diladang yang semakin luas. Dunia harus kembali kepada asal di mana agama pertama kali datang. Segala yang berubah bisa jadi ikhtiar yang melenceng dari rencana awal. Sejarah harus disusun kembali. Agama harus menjadi panglima di segala yang telah melenceng.

Walaupun kita juga tahu, di dalam narasi sejarah, agama dengan semangat yang ingin kembali ke asal, malah juga harus menilap nyawa yang lain: manusia.

Itulah mengapa Ali Syariati yakin, masalah yang sebenarnya bukanlah soalsoal metafisis di atas kepala manusia, melainkan apa yang ada dalam benak manusia itu sendiri. Ini artinya, apa yang menjadi soal sebenarnya adalah benak yang mudah muncul di dalamnya prasangka atas dunia yang jamak.

Dan agama, yang sebenarnya bermula dari yang sunyi, di abad dua puluh satu, tak bisa juga memandang "misi agung di muka bumi," sebagai perjuangan santun di bentang  lalu lalang orangorang. Nampaknya, agama yang sunyi, seperti wahyu pertama kali turun di gua hira, visi yang turun di pohon bodhi, juga drama kesunyian nabinabi tak sempat menyentuh, seperti  yang A.N. Whitehead bilang: Tuhan Sang Sahabat.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...