22 Januari 2015

madah empat

Menjadi manusia dan memilih menjadi manusiawi adalah dua ihwal yang berbeda. Apalagi di dalam situasi yang dibilangkan Ulrich Beck; masyarakat berisiko. Beck mencurigai dan juga meresahkan pencapaian yang telah direkam dalam peradaban saat ini. Terlalu banyak hal yang di luar perhitungan, terlalu banyak resiko. Peradaban atau masyarakat yang kita sebut modern, sudah terlalu banyak menciptakan kemajuan, tetapi juga kesenjangan.  Lahirnya kapitalisme hanya berpusat di dalam pusaran kekuasaan, di luarnya; ada kaum miskin kota yang tergusur; buruh yang tak diupah; petani yang kehilangan lahan; nelayan yang tak kunjung melaut; dan kita sendiri yang masih saja resah terhadap nasib yang paspasan. Di dalam nasib yang paspasan itulah menjadi manusia atau memilih menjadi manusiawi adalah urusan yang bisa subtil. Walau terlalu banyak bahaya. Terlalu banyak resiko.

Di saat resiko kemajuan menciptakan dunia yang penuh bopeng, justru kita hidup dengan topeng.  Itulah barangkali saat ini menjadi manusia adalah hal yang massal. Yakni berbuat atas pikiran yang massal, selera yang massal dan akhirnya juga sikap yang massal. Yang massal, atau yang dalam permisalan Herbert Marcuse sebagai manusia satu dimensi, adalah orangorang yang sudah sama dengan yang lain. Menjadi manusia disaat ini bisa berarti menjadi yang massal, menjadi bagian yang tercerabut dari dimensi kritisisme hingga akhirnya menjadi bagian dari kelompok yang kukuh membangun kesepakatan terhadap dunia yang sudah bopeng. Sementara arti dari kesepakatan berarti menutup ruang untuk alternatif, sebuah minat yang berbeda dan juga sikap yang berlainan.

Tetapi terlalu banyak bahaya. Terlalu beresiko.

Tetapi bukankah sebuah topeng adalah sebuah kamuflase. Sebuah tempat untuk bersembunyi? Ini dia masalahnya.  Zizek, filsuf yang eksentrik di abad ini menyatakannya dalam satu permisalan; ideologi bukan apa yang bermain di atas bahasa dan pemikiran, tetapi apa yang telah dan akan diperbuat. Topeng atau sikap yang massal, bisa jadi adalah sebuah ideologi, sebuah kesadaran semu. Tetapi mengapa manusia tak jemu menjadi yang massal? Sebabnya sudah jelas, ialah bukan dari  what you think tetapi what you do.

Oleh karenanyalah yang semu itu kita lakukan berulangulang hingga tak bisa lagi dibilang. Angka sudah di luar limit atas kedunguan kita. Di kehidupan yang berporos atas produk, kita tidak lagi kikuk untuk ramai dalam massal hiruk pikuk. Atau dalam bahasa Baudrillard kita yang massal itu menjadi konsumtif. Dan nampaknya segalanya memang berputar dalam satu prinsip yang ajeg; nilai lebih ke nikmat lebih.

Dan di balik nilai lebih itulah kita mencumbu nikmat lebih, sebagai sikap yang di afirmasi dan dikonfirmasi pasar. Kita, yang menjadi manusia, atau yang massal, sudah selalu ingin dan di dalam zona yang nyaman. Di sanalah pojok dunia yang kita huni dan sebenarnya penuh bopeng itu. Di mana dengan topeng kita hidup tanpa pernah untuk memilih kembali menjadi manusia yang manusiawi.  Barangkali ini usaha yang sudah usang dan bisa jadi sudah jarang. Sebab janganjangan kita beranganangan dibalik topeng yang sudah nyaman untuk menyusun skenario.

Skenario atau jalan cerita yang disusun bangun, selalu mengandaikan situasi yang kritis dan juga taktis. Yang kritis dalam cerita biasanya adalah plot yang menegangkan agar di sana ada situasi yang tibatiba di rembukkan kembali, atau bahkan adalah momen yang akan menentukan jalannya cerita selanjutnya. Tanpa situasi yang kritis dalam sebuah alur, maka cerita menjadi kisah yang hanya menciptakan emosi yang datar. Sementara yang taktis adalah cara bagaimana sang tokoh keluar dari situasinya yang kritis. Dengan cara yang taktis yang kritis itu dijaga hingga akhir cerita.

Yang malang, skenario yang kita susun selama ini justru skenario yang lain dari plotplot yang kritis dan taktis. Hidup kita malah tak pernah mengalami plot yang kritis oleh karena memang kita tak bersiap menyusun taktis yang lengkap. Maka barangkali wajar jika kita, yang massal ditilap zaman. Yang kritis dan taktis sepertinya sama yang dimaksudkan oleh Sokrates dalam ungkapannya yang masyur; hidup yang tak terperiksa adalah hidup yang tak layak dipersiapkan. 

Sebenarnya menjadi manusiawi adalah menjadi “yang pribadi” yang terus memeriksa, sigap dan tanggap agar sikap tidak tilap oleh gelap. Semuanya agar tidak menjadi yang massal. Dan ini butuh berani dan nyali. Sebab menjadi pribadi adalah sikap yang siap menghadapi yang kritis dengan taktis. Menjadi pribadi berarti mengambil resiko yang lain, apalagi hidup di zaman seperti ini terlalu berbahaya, terlalu beresiko.

madah tiga


Belakangan ini waktu senggang jadi demikian langka. Nampaknya dinamika zaman yang dimisalkan Giddens ibarat juggernaut, memang bukan main-main: berlari kencang dan tanpa arah.

Juggernaut sebagai macan besar memang masalah. Pertama ia tak bisa dikendalikan, dan kedua ia buta tujuan. Itu sebabnya, waktu bagi masa sekarang demikian berharga. Tiap detik, menit, jam, bahkan hari mesti dikalkulasi menjadi kapital. Waktu adalah uang, begitu adagium masyarakat modern. Di titik ini, manusia modern kehilangan kepekaan atas waktu. Kehilangan penghayatan atas waktu.

Lalu untuk apa waktu dihayati? Martin Heidegger punya jawabannya. Filsuf gaek Jerman ini mengajukan satu pilihan, menjadi das Sein atau das Man?

Das Sein adalah istilah khas Heidegger bagi mahluk yang berkemampuan menanyakan eksistensinya selama di dunia. Das Sein secara etimologis berarti ”yang ada di sana”. Dalam bahasa khas fenomenology Heidegger, das Sein adalah satu-satunya mahluk berkesadaran yang mampu mengartikan keberadaannya di dunia melalui reflesksi pertanyaan kritis berupa mengapa kita terlempar (berada) di dunia ini?

Manusia, dengan kata lain, adalah mahluk penggelisah berkaitan dengan keberadaannya yang sudah ada ”di sana”, di dalam dunia.   Atau dalam bahasa yang lain ”yang di sana” tempat yang dikatakan sebagai dunia mukim tempat kita berada sudah selalu ”di sana”, dan akan tetap ”di sana”. Ini berarti ”yang sudah selamanya di sana” adalah dunia yang mesti dipertanyakan.

Mengapa sudah ada dunia ”yang sudah ada di sana?” atau, akhirnya menjadi mengapa aku ”sudah selalu ada di sana”. Das Sein, atau aku yang gelisah atas eksistensinya di dunia, di titik kesadaran tertentu, kata Heidegger akan berbalik mempertanyakan ”ada” itu sendiri. Apakah arti ”ada”? Bagi das Sein, apa sesungguhnya arti ber-Ada?

Bila menengok seluruh keberadaan, samakah beradanya aku dengan keberadaan yang lain? Yang lain bisa ada tetapi tidak mengada. Keberadaan ada secara eksistensi, tapi ia tidak bereksistensi. Ia sekadar ada namun tidak berkemampuan menyadari eksistensinya. Dengan kata lain, hanya das Sein, yang mampu mempersalahkan keberadaannya dalam ruang dan waktu. Dari cara demikian, kata Heidegger, das Sein adalah orang-orang yang ingin selalu mencandra ”Sang Ada” melalui penghatan atas waktunya.

Waktu pada akhirnya nampak tidak sederhana lagi. Ia medan manusia mengartikan keberadaannya. Hanya manusialah yang mengalami waktu demikian intim dari keberadaa lain. Keintiman ini demikian sublim sehingga manusia tidak sekadar ada di dalam waktu. Ia malah ”ada bersama waktu”. Ia tidak tenggelam begitu saja di dalam waktu, justru ”bersama” waktu ”di dalam waktu” dalam ”kemewaktuan” dirinya.

Melalui itulah waktu menjadi eksponen penghayatan manusia. Menjadi medium pembebasan. Itu artinya manusia mengada bukan sebagai ada yang lain semisal kursi, lilin, meja, bunga, buku dsb, yang hanya sekedar benda-benda tanpa menyertakan waktu.

Ada bersama waktu inilah waktu senggang berkemampuan memerdekakan manusia dari waktu berbasis kecepatan. Juggernaut memang cepat, tetapi ia belum tentu ”ada bersama waktu.” Sang Juggernaut sama halnya benda-benda yang lain. Dikontrol waktu, menerima waktu, di dalam waktu begitu saja. Ia bukan das Sein. Ia justru das Man, figur mayoritas yang diarak waktu tanpa ampun. Figur orang banyak yang kehilangan kepekaan atas waktu.

Maka di pacuan Juggernaut tak ada momen permenungan atas waktu. Tidak ada momen pembebasan. Suatu momen melihat waktu seperti pertama kali melihat tampakan-tampakan realitas. Saat pertama kali manusia terperanga dan terpesona.

Masyarakat modern sudah kehilangan pesona atas  segala hal. Tidak melihat seperti dari sudut mata anak kecil yang melihat gedung-gedung pencakar langit, luasnya angkasa, teriknya matahari, ramainya ibu kota. Ia terpesona atas segala kebaruan. Sesuatu demikian asing tapi sekaligus memukau.

Dan memang dunia telah kehilangan pesona. Ini sudah jauh hari dibilangkan Weber semenjak rasionalitas datang dan merengkuh serta menafsir dunia. Semenjak itulah dunia, yang belum ditaklukkan, menjadi kenyataan yang diefisienkan, diefektifkan dan ditakar. Oleh karena itulah, dunia akhirnya menjadi semakin rasional dan meninggalkan ketakjuban dari alam dunia yang maha dahsyat. Semenjak itulah kapitalisme berawal tumbuh dan tumbuh, hingga akhirnya hari ini, waktu ini.

Dan waktu di hadapan kapitalisme harus diburu cepat sebab tiada ruang selain pertukaran. Di saat inilah waktu senggang akhirnya menjadi konsumtif. Dan waktu yang ingin kita merdekakan dari koloni modal itu, memang suatu yang langka akhir-akhir ini.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...