03 Februari 2020
Bagaimana Jika Tidak Pandai Merawat Gigi
02 Februari 2020
Scientific Temper, Fantasi Mayoritas, dan Ku Klux Klan
INI waktu yang tepat untuk menyeduh
kopi setelah beberapa jam bermain bersama Banu yang belum lama pulas sambil
menetek. Ia pelan-pelan mulai menutup mata tanpa sedikitpun melepas hisapan
mulutnya dari payudara ibunya sampai akhirnya membuatnya benar-benar tandas
bersama hujan yang menggantung di atas mega seolah-olah tertutup kapas berwarna
abu-abu. Tadi pagi hujan benar-benar membuat kami bertiga seperti beruang kutub
yang kandas di atas dipan. Seolah-olah kami bertiga baru saja pulang berburu
dan menghabiskan tiga ton ikan salmon saat mereka bermigrasi kembali dari laut
ke sungai untuk beranakpinak. Kami jatuh tertidur setelah subuh mulai ikut
bergerak bersama jarum jam dan tiba-tiba di depan rumah terdengar bunyi klakson
mobil. ”Itu mobil sampah”, telinga saya menangkap suara Lola yang saya yakin
tidak sekalipun ia membuka mata saat mengucapkan kalimat itu. Bunyi klakson itu
membangunkan kami bertiga. Banu bersuara lirih dan saya bergegas menuju ruang
dapur mengambil sisa-sisa makanan yang membuat hidung menangkap udara pesing
dari dua tempat sampah tidak jauh dari kamar mandi. Di rumah kami sengaja
memisahkan sampah sehari-hari dengan popok banu yang bertumpuk bagai roti
berisi kacang giling. Saya percepat langkah dan di saat itulah saya menyadari,
mobil sampah itu membangunkan kami tepat pada pukul sembilan lewat setelah saya
melihat jam dinding saat mengangkut sampah ke depan rumah, mengambil kunci
pagar, dan kemudian membukanya. Hujan masih terus turun dan saya kaget melihat
penampilan menyeramkan tukang sampah yang lebih mirip pembunuh psikopat ala
film-film Hollywood dari pada penampilan tukang sampah umumnya. Bukannya
menggunakan seragam warna jeruk, ia justru menggunakan mantel hujan berwarna
hitam dengan tudung kepala yang nyaris menyembunyikan wajah aslinya. Jika saja
saat ia berdiri membatu menunggu seseorang membuka pagar menyodorkan sampah
diiringi petir berkilat-kilat di balik punggungnya, lengkaplah ia menyerupai
adegan film triller Hollywood yang menceritakan seorang pembunuh sedang
melakukan aksinya di saat hujan gelap terjadi. Saat saya menutup pagar
imajinasi saya malah dikuasai oleh sekelompok orang yang disebut Ku klux Klan
(KKK). Lagi-lagi karena tudung mantel tukang sampah yang datang lebih malas
dari tukang kredit itu. Maklum mantel menjadi benda paling sering saya saksikan
belakangan ini, ditambah sinetron-sinetron ala ”istri-istri teraniaya” Indosiar
yang mendahului filmya dengan pengakuan isi hati seorang perempuan dengan
menggunakan mantel bertudung menyerupai penyihir abad 18. Namun seketika saya
sadar Ku Klux Klan bukan fenomena bangsa ini seperti saat perkumpulan ini hadir
di Amerika sekitar satu abad lalu yang menggunakan jubah tudung tinggi dengan
ujung yang terlihat seperti nasi tumpeng. Tapi, tetap saja benih-benih rasialis
seperti menjadi ideologi Ku Klux Klan nyata sering ditemukan di Indonesia. Di
masa lalu, fenomena Ku Klux Klan pada akhirnya melahirkan figur seperti Malcom
X atau Martin Luther King yang bangkit mengorganisir kesadaran orang kulit
hitam. Di Indonesia tidak ditemukan kumpulan orang bejubah mirip Ku Klux Klan
denga ritual-ritual kelompok yang menyerupai acara keagamaan, malah di sini
tumbuh organisasi abal-abal disebut kerajaan dengan seragam menyerupai kostum
kerajaan Brunei Darussalam, yang sudah pasti tidak mungkin melahirkan figur
seperti Martin Luther King mengkonsolidasikan ketakutan, kekhawatiran,
kekesalan, ketimpangan masyarakat kulit hitam menjadi organisasi perlawanan.
Tinimbang mengkhayalkan pertistiwa itu malah kenyataannya dunia memiliki
leluconnya sendiri dengan menciptakan
raja-raja ilusionis seperti yang terakhir muncul dari kerajaan entah di mana
dengan gelar King Of the King. Di TVRI tempo hari, seorang pembicara bernama
Sudirman Said menjelaskan fenomena kemunculan si pembuat pesawat bernama
Chaerul yang ia kaitkan dengan semangat Scientific Temper. Saya menyaksikan
dengan seksama seperti seriusnya dua orang pembicara lainnya di dalam monitor
yang berasal dari Unhas dan seorang dari perwakilan organisasi guru. Saintifik
temper pertama kali diperkenalkan sahabat Soekarno, Jawaharlal Nehru dari India
sekitar tahun 60-an untuk membentengi masyarakat India dengan ilmu pengetahuan
dari kepercayaan takhayul yang banyak ditemukan saat itu. Saintifik temper
intinya merupakan cara pandang bagi seseorang yang melihat sesuatu fenomena
dengan pendekatan rasional dan ilmiah. Sekarang saintifik temper (perangai
ilmiah) banyak diadaptasikan orang-orang berpikiran terbuka di semua lini
kehidupan. Chaerul seorang montir pembuat pesawat disebut Sudirman orang yang
sedikit banyak menerapkan sikap perangai ilmiah saat membuat pesawatnya. Konon
semangat perangai ilmiah ini ”diambil” Nehru dari semangat kebebasan Imanuel
Kant, filsuf dua abad lalu yang terkenal dari slogannya berbunyi sapere aude!
Di luar negeri, seperti diceritakan Sudirman yang menyekolahkan anaknya di
Australia, memiliki suatu momen pembelajaran dengan mengundang pekerja
profesi di hadapan siswa-siswa untuk
menceritakan seluk beluk pekerjaaannya dan apa pentingnya bagi kehidupan umum.
Agar lebih mudah dipikirkan, bayangkanlah Anda sebagai orang tua siswa diundang
ke dalam kelas oleh sekelompok anak-anak untuk membicarakan profesi Anda. Biar
lebih mudah lagi pikirkanlah jika Anda di waktu sekarang berprofesi sebagai
supir mobil ekspedisi, yang berarti Anda mesti menceritakan pekerjaan Anda
dengan rincian dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini: Kemana Anda pergi
sehari-hari dan jam berapakah Anda pulang ke rumah? Dalam pekerjaan, mobil apa
yang Anda pakai? Barang apa saja yang Anda bawa? Tidakkah Anda capek
berkeliling dari satu daerah ke daerah lain? Dengan siapakah Anda bekerja,
tidak bosankah bersamanya setiap hari? Apakah Anda mempunyai seragam, berapa
gaji Anda, di mana Anda berisitirahat jika capai, untuk apa Anda bekerja,
berapa kali ban mobil Anda pecah, siapa atasan Anda? Saat menceritakan ini
semua sudah tentu tidak membuat Anda mesti berpikir panjang dan menyiapkannya
sejak Anda berangkat dari rumah oleh karena begitulah pekerjaan Anda
sehari-hari. Sekarang bayangkan jika profesi Anda dilihat dari pendekatan
saintifik temper seperti anak-anak sekolah di negeri Kanguru yang mengundang
Anda. Kemungkinan Anda akan mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Dengan
apa mesin mobil Anda dapat berbunyi? Mengapa orang-orang memerlukan barang yang
Anda bawa? Berapa kali putaran ban jika jarak pekerjaan Anda bisa menghasilkan
putaran ban sebanyak 329 kali dalam dua menit? Apakah mobil anda menggunakan
listrik atau mesin uap? Bisakah Anda menjelaskan kerja energi mobil Anda?
Apakah ada perbedaan waktu jika mobil Anda pulang dalam keadaan kosong dengan
saat berpergiaan dipenuhi banyak barang? Berapa kecepatanya? Bagaimana
pekerjaan Anda menyehatkan tubuh Anda? Bisakah Anda…bagaimanakah Anda…mengapa
bisa… Di luar negeri pertanyaan semacam ini kemungkinan akan sering Anda temui
karena paradigma pendidikan mereka sudah menerapkan sains sebagai alat
kehidupan sehari-hari. Di dunia sosial ada tokoh bernama Auguste Comte—pendiri
Sosiologi—yang pernah bermimpi bakal lahir suatu masyarakat yang lebih tertarik
mencari tahu mengapa hujan dapat turun ke bumi daripada disibukkan menjawab
apakah banjir adalah ulah manusia atau takdir Tuhan. Sekarang, saya mulai
khawatir tidak mampu menahan tawa menyaksikan selingan video di jaringan
whatsapp. Seorang pemuda menangis tersedu-sedu oleh karena musholanya dirusak
segelintir orang di Minahasa Utara. Ia menangis sementara gerombolan
orang-orang di sekitarnya berdesak-desakkan merekam kejadian itu menggunakan
gawai dan sebagian yang lebih banyak lagi memenuhi area mushola dengan
teriakan-teriakan takbir seolah-olah Perang Khandak bakal terjadi kembali. Ini
sudah pasti bukan perkumpulan Ku Klux Klan seperti tersebar di Eropa yang
mencari-cari penganut Yahudi atau orang berkulit hitam, melainkan segolongan
umat Islam yang marah rumah ibadahnya dirusak. Coba bayangkan apakah pemuda
dari kerumunan massa yang marah ini bakal kesulitan menjawab pertanyaan
saintifik temper dari anak-anak yang bersikeras ingin tahu apa gunanya
pekerjaan mengkafir-kafirkan orang yang tidak sealiran? Di depan kelas, ia
mungkin akan lebih suka membayangkan siswa-siswa di hadapannya seperti umat
Nabi Musa berabad-abad silam yang mesti dibebaskan dari pengaruh tukang sihir Fir'aun,
yang membuatnya bersemangat mengemukakan dalil-dalil agama daripada memberikan
penjelasan ilmiah mengapa agama dan sains alih bertentangan dan mesti
bergandengantangan menyelesaikan problem kemiskinan umat manusia? Jika Anda
menemukan orang semacam ini, menurut Auguste Comte orang ini masih membayangkan
kita hidup di Abad Pertengahan. Ia merasa satu-satunya jalan demi menjawab
semua persoalan adalah dengan menengok apa yang termaktub di dalam kitab suci
dan membiarkan sains dan akal budinya berhenti sebelum bisa digunakan. Dari
pada membayangkan si orang ini yang salah mengartikan kelas ilmiah sebagai
majelis agama, bagaimana jika anak-anak di sekitar Anda selain diajarkan ilmu
agama, Anda berikan juga soal-soal yang mesti dipecahkan menggunakan pendekatan
saintifik temper. Jika Anda guru, coba bayangkan Anda adalah seorang ilmuwan
yang sedang berusaha memecahkan suatu kasus melalui pertanyaan-pertanyaan
saintifik bersama murid-murid di depan kelas, daripada berpikir seolah-olah
Anda adalah nabi yang berhak menilai benar salahnya isi kepala orang-orang.
Mungkin saja suatu waktu percobaan demikian bakal melahirkan orang seperti
Chaerul atau Nehru dari kelas sederhana yang Anda ampu, dan malah bukan
menciptakan pribadi halusinatif atau golongan pemarah yang berpikir merekalah
wakil Tuhan paling absah. Tentu di pagi hari Anda tidak ingin pintu rumah Anda
digedar-gedor seseorang seperti tukang sampah yang berlagak bagai psikopat
versi Hollywood itu, hanya karena Anda berbeda keyakinan.
01 Februari 2020
Bagaimana si Raja dan si Kaisar Berlagak Bodoh
![]() |
Charles Darwin ( 1809–1882)
Seorang naturalis dan ahli geologi Inggris
Dikenal atas kontribusinya kepada teori evolusi
|
SAYA sedang membaca daftar 25 film
terbaik 2019 dari blog khusus mengulas perkembangan film terbaru lalu seketika
berpikir untuk menulis fenomena aneh bin ajaib beberapa minggu belakangan ini:
Keraton Agung Sejagad dan Sunda Empire. Setelah awal tahun 2020 dibuat heran
atas banjir Jakarta dan gempa di beberapa wilayah, tiba-tiba kita dibuat kaget,
bagai semut bermunculan dari dalam tanah, muncul gerombolan orang-orang yang
berseragam mirip tentara Spanyol di abad 18 dan mengaku-ngaku memiliki
kekuasaan seluruh dunia. Kali pertama saya melihatnya di layar kaca, alih-alih
membayangkan keberanian mereka seperti tentara kerajaan Inggris yang gagah
berani mengacung-acungkan bedil ketika Eropa masih menjadi lahan konflik,
mereka malah lebih nampak seperti seorang komandan Jepang di acara Benteng
Takeshi yang memimpin pasukan kelas pekerja menggunakan helm pengaman dan tidak
lama malah berakhir di sel penjara. Mereka yang dipimpin seorang raja dan ratu
ini, memang seperti kerumunan semut yang dipimpin seorang raja dan ratu
walaupun sarang mereka tidak disembunyikan di dalam tanah. Justru kerajaan yang
mereka buat didekorasi menyerupai kerajaan sesungguhnya. Tidak jelas apa tugas
mereka selain kepercayaan diri mengklaim sebagai kerajaan titisan dari masa
silam. Beberapa tahun lalu saat Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden,
beberapa kawan saya banyak memberikan alasan mengapa pria asal Solo ini pantas
menjadi presiden. Satu di antara alasan itu berbunyi Jokowi sudah ditakdirkan
seperti diramalkan dalam babad Jawa sebelum kedatangan sosok pemimpin maha adil
dan jujur yang bakal mengambilalih kepemimpinan dunia. Saya bergidik kali
pertama mendengarnya oleh karena keyakinan itu diceritakan dengan cara tertentu
dan keberadaan pemimpin-yang-sebenarnya
itu menjadi tanda akhir dunia sebelum alam semesta betul-betul kiamat. Manusia
memang senang membangun kisah dan menjadikannya sebagai narasi keyakinan.
Beberapa waktu lalu, seolah-olah dunia memiliki bentuk baru setelah bermunculan
sekelompok orang yang membalikkan temuan sains dengan mengatakan dunia ini
seperti bidang datar. Narasi tentang dunia seperti ini di masa sekarang layak
dikatakan bodoh oleh karena sains sudah membuktikan bahwa dunia tidak
sesederhana dataran lapangan sepak takraw. Tapi apa boleh buat, orang-orang
seperti ini senang dengan narasi bumi datar seperti sama senangnya mereka
terhadap keyakinan di akhir dunia nanti seluruh bulu janggut mereka akan
dikonversi menjadi surat kepemilikan bidadari di surga kelak. Bagi masyarakat
suku-suku di sekitar sungai Amazon, seperti juga sapi bagi umat Hindu atau burung
elang bagi Mesir kuno, meyakini ular sebagai hewan suci. Sejarah asal-usul
kedatangan mereka di muka bumi diyakini berasal dari rahim ular. Di kawasan
sekitar sungai Amazon, Anda tidak akan berani mengemukakan pemikiran Charles
Darwin bahwa sesungguhnya kita berasal dari monyet, oleh sebab narasi Anda tidak cocok dengan kehidupan
mereka. Kera atau monyet lebih suka hidup di atas pepohonan yang tidak seperti
ular-ular di sungai Amazon yang banyak berkembang biak di dalam sungai. Jadi
narasi semacam sejarah asal-usul, kekuasaan, mitos, dan kerajaan, seperti
masyarakat yang hidup di sekitar sungai Amazon sangat dekat dengan cara hidup
mereka sehari-hari. Belakangan saya baru tahu, mengapa tetua suku-suku di
sekitar sungai Amazon meyakini ular
sebagai nenek moyang mereka selain daripada bentuk sungai Amazon yang
membentang panjang meliuk-liuk seperti ular raksasa. Dengan menceritakan ini
saya tidak ingin memaksa Anda untuk mengatakan orang seperti Ki Ageng Rangga
Sasana atau Totok Santoso Hadiningrat berasal dari ular atau hewan sejenisnya.
Itu mustahil dapat dipecahkan oleh ahli genetika beratus-ratus tahun dari
sekarang mengingat sama tidak masuk akalnya mengatakan bahwa dua orang ini
seorang raja dan mampu mengendalikan nuklir dari jarak jauh. Di grup whatsapp
yang beranggotakan da’i-da’i, seseorang dengan yakin mengirimkan beberapa
alasan mengapa fenomena ini muncul: Pertama ia mengatakan ini ada hubungannya
dengan motif ekonomi karena seragam ala militer yang mereka pakai tidak
diberikan secara cuma-cuma, melainkan diperjualbelikan seperti pengepul sarang
burung walet membelinya dari peternakan burung walet. Logika ini dapat kita
gandakan ke hal-hal semisal mereka membutuhkan kartu anggota kekaisaran, iuran
kelompok, rapat kerajaan, menyewa gedung kerajaan, perabotan dan souvenir
kerajaan, pernak pernik senjata, sampai tidak lupa perhiasaan yang mencerminkan
gemerlap perhiasaan raja-raja. Tidak mungkin semua ini mereka pinjam di museum
terdekat kecuali semua itu dibeli menggunakan uang. Kedua, orang yang mengirimkan
pesan singkat di WA menyebut fenomena ini berhubungan dengan keinginan
masyarakat yang menghendaki status sosial dengan cara instan. Di Jakarta,
sangat mudah menemukan ibu-ibu berkumpul di sudut-sudut kafe mal berkacamata hitam sembari bercerita tentang
kucing peliharaan mereka. Mereka ini tidak kalah mentereng dari artis-artis
sosialita yang senang mengoleksi tas dan sepatu hingga membutuhkan lemari
membumbung tinggi sampai ke puncak langit-langit rumah. Saya ingat figur Tikus
dalam buku ditulis Roanne van Voorst ”Tempat Terbaik di Dunia”. Suatu waktu
Roanne menginginkan dirinya berbelanja perlengkapan laptop ke mal dengan
mengajak Tikus. ”Saya tidak layak masuk ke tempat seperti itu, itu tempat
orang-orang kaya” begitu kurang lebih pengakuan Tikus karena merasa minder dan
inferior dengan tempat mentereng seperti itu. Saya kadang juga seperti Tikus,
kikuk ketika ingin memasuki gedung megah yang berisikan orang berpenampilan
necis dan berdasi, seperti sama khawatirnya saya berbicara dengan orang seperti
pemelihara kucing itu tadi, atau artis
pengoleksi tas-tas mahal. Kehidupan kadang tidak adil karena memelihara
orang-orang yang status sosialnya ditentukan dari barang-barang yang
dimilikinya dan mengucilkan orang-orang lapisan bawah yang dekil dan kumal.
Karena ketidakadilan inilah anggota kerajaan Sunda Empire dan Solo Sejagad Raya
menciptakan narasinya sendiri dengan membuat simbol-simbol sosial yang
menandakan suatu kekuasaan tertentu. Dalam suatu foto saya melihat Ki Ageng
Sasana—”penguasa” Sunda Empire—nampak pede menggunakan seragam hijau pekat
mirip seorang jenderal. Satu-satunya saya ingat dari itu adalah warna baret
yang ia kenakan menyerupai tentara keamanan PBB yang pernah saya saksikan dalam
film Dunia Sophie, dan sosok Wiranto ketika Soeharto masih sehat wal alfiat
menjadi presiden orang tua kita. Di belakang Soeharto, di seragam Wiranto,
tersemat di dada kirinya kotak-kotak mini seolah-olah menyerupai bendera
negara-bangsa yang dijejerkan seperti saat kita melihatnya di sampul atlas saat
dulu kala. Saya yakin pangkat jasa perang dipakai Ki Ageng Sasana seperti
ditunjukkan Wiranto ketika menjadi panglima ABRI, adalah palsu belaka yang bisa
didapatkan di pasar loak. Tapi apa boleh buat, ia mendaku mampu mengendalikan
kekuasaan dunia dan banyak yang memercayainya sebagai sosok dengan status
sosial tertentu. Seorang filsuf pernah mengatakan sudah tabiat manusia
menyenangi masa lampau sampai ia patut disebut mahluk aquarian. Saat ini sangat
sulit menemukan orang yang memiliki hobi mengoleksi prangko beralbum-album
selain karena prangko sudah tidak diciptakan lagi, dan juga dunia lebih mudah
terhubung melalui surat elektronik. Banyak orang setelah terbuai iklan suka
menganti androidnya menjadi jauh lebih canggih karena berpikir dunia akan terus
maju ke depan meninggalkan masa lalu. Orang seperti ini tidak seperti para
pengoleksi prangko yang menyimpan kenangan masa lalunya dengan cara
mengoleksinya seperti museum menyimpan benda-benda purba. Para pengikut
kekaisaran macam Sunda Empire dan Solo Sejagad Raya dikatakan pengirim pesan WA
tadi seperti pengoleksi perangko yang merindukan suasana kerajaan seperti masa
lalu. Dari poin ketiga ini membuat saya bertanya-tanya, apakah sebegitu
romantiskah cara kita berpikir untuk menyukai dan menghendaki kehidupan ini
berputar ke masa lalu? Kalau memang demikian, mengapa kita tidak sekalian saja
mengembalikan masa ini sampai di zaman Nabi Nuh, tepat saat ia selesai membuat
perahu raksasa, dan membiarkan orang semacam ini tenggelam saat banjir bandang
tiba sebelum meraka merasuki pikiran kita di layar kaca? Saya dibuat seperti
anak kecil yang tak tahu apa-apa ketika menonton sesi Ki Ageng Rangga Sasana
berbicara di forum ILC mengenai Sunda Empire yang diklaimnya sudah berdiri
sebelum Firaun membangun piramid dan mati dikubur di dalamnya. Anhar Gonggong,
sejarawan yang ditangkap kamera saat Rangga Sasana berbicara hanya semringah
tahu bahwa ocehan Rangga ini tak lebih dari bualan belaka. Roy Suryo yang
sempat menyangga sejarah PBB diceritakan Rangga Sasana disebut tidak paham
sejarah. Perbedaan orang bodoh dan orang cerdas dilihat dari betapa seringnya
orang bodoh mengatakan semua hal yang tidak ia ketahui dibanding orang cerdas,
yang menyampaikan sedikit dari yang ia ketahui. Terlalu berlebihan mengatakan
raja gadungan ini bodoh kecuali di saat ia sedang berbicara seolah-olah yang ia
sampaikan merupakan bagian dari sejarah yang hilang yang semua itu membutuhkan
kecerdasan tersendiri untuk berkibul. Dengan kata lain, Rangga Sasana sedang
memeragakan prinsip kebohongan bahwa satu kebohongan hanya dapat diterima
dengan benar jika ia mencipatakan kebohongan yang lain. Itu artinya, di
sepanjang ia kita berikan waktu berbicara mengenai keyakinannya, sama artinya
kita memberikan ia kesempatan untuk menyusun mata rantai kebohongan. Nahasnya,
kebohongan kadang sering kali mengembangbiakkan kebodohan melalui cara yang
tidak pernah kita sadari, seperti cara kita mendengar bualan dungu semacam ini
tanpa menurunkan mereka dari panggung pemberitaan.
--sudah terbit di Kalaliterasi
dengan judul Bagaimana si Raja dan si Kaisar Membodohi Kita
21 Januari 2020
Kebodohan itu Abadi
![]() |
| Albert Einstein. Fisikawan pengembang Teori Relativitas. Kata Einstein Perbedaan genius dan kebodohan adalah kegeniusan itu terbatas |
SETELAH mendapatkan kabar
kemenangan AC Milan atas Udinese akhir pekan kemarin, kesenangan saya jadi
terancam dan diringsek kabar dari Bandung ini. Mesti saya akui, Milan kian hari
semakin surut dari hati saya, walaupun memang sebenarnya masih ada sebagian
diri ini yang ingin diakui sebagai milanisti. Tapi tetap saja, sumber masalah
pagi ini bukan berasal dari nasib Milan yang angin-anginan. Rasa-rasanya saya
ogah saja membaca isinya. Untuk kasus ini, membaca headline judul saja daripada
isinya sudah lebih dari cukup untuk mengatakan ada masalah kian akut dari cara
orang memahami dan mempraktikkan agama. Tapi yang namanya manusia yang tertarik
kepada sesuatu yang belum dijangkau kepalanya, mendorong saya menggerakkan
jempol membuka tautan ini. Tidak membutuhkan waktu lama jaringan otak saya
menangkap inti pesan Tirto ini, kecuali saya merasa dibawa kembali kepada
masa-masa ketika agama lebih banyak menginspirasi orang untuk saling membantu
dan menopang. Saya pernah membaca suatu ulasan As Laksana bahwasannya golongan
pertama dan paling cepat menempuh perjalanan menuju neraka adalah orang yang
memelihara kebodohan dengan segenap jiwanya. Membaca berita ini saya bisa
langsung saja menambah kedalam daftar “orang-orang yang cepat masuk neraka”
kepada pengambil kebijakan macam ini di nomor urut kedua. Orang macam ini bukan
saja bodoh, tapi sekaligus menunjukkan bahwa kebodohan mereka telah menodai
bagaimana cara mereka menjalankan keimanan. Saya terkekeh, tidak bisa
dibayangkan fungsi “lazimnya” masjid di batok kepala mereka. Itu artinya masjid
hanya bisa dipakai sekadar salat berjamaah belaka, dan jika ada tugas lain dari
itu barangkali hanya bertugas menyediakan acara buka puasa bersama jika musim
Ramadan datang. Toh, jika ada fungsi masjid menyangkut “hidup-mati” seperti
ini, tiada lain hanya berupa pengumuman di subuh hari bahwa seorang hamba Allah
bernama Fulan bin Fulan telah meninggal dunia akibat infeksi saluran kencing.
Kadang saya berpikir jika revolusi sosial benar-benar terjadi, orang semacam
inilah yang pertama-tama digantung oleh massa rakyat di lapangan alun-alun.
Sesekali mungkin ada yang melemparkan batu atau tai untuk memastikan, kelak
mereka jika masuk neraka dalam keadaan bau dan berlumuran tai. Coba bayangkan,
selain bergelimang dosa orang macam ini malah masuk neraka tanpa mandi
sekalipun. Anda barangkali masih mengingat mengenai sekelompok orang yang salat
di jalan terbuka sementara masjid mereka paksa alihfungsikan menjadi hanya
sekadar tempat kencing dan tidur belaka. Patut dicurigai jangan-jangan majelis
keagamaan macam MUI telah dialihfungsikan menjadi badan tukang gusur. Saya
ingin mengatakan bisa jadi MUI di Bandung adalah “kakitangan” segerombolan
massa yang pernah mencoreng sejarah perubahan sosial Tanah Air melalui aksi
jalanan yang lebih mirip nomor serial sinetron televisi. Tapi, di negeri ini
Anda tidak berwenang apalagi punya hak mencela majelis keagamaan macam MUI.
Memang aneh, mereka kita yakini bukan Tuhan yang otomatis mahluk manusia yang
berdaging dan bisa saja berdagang untuk mencari keuntungan. Ini sebenarnya
secara tidak langsung memberikan kita peluang untuk mengkritiknya selama sepak
terjang mereka atasnamakan sebagai manusia yang bisa saja salah. Kenyataan
lapangan berbeda, kita sudah terlanjur khawatir mendapatkan kutukan ketika
semua itu dilakukan oleh sebab mereka kita anggap sudah seperti raja-raja di
masa silam yang dialiri titisan darah dewa-dewa. Seolah-olah kita ini sedang
hidup di masa Socrates yang tengah berkeliling di pasar-pasar mencari cara
mengubah pasar menjadi forum dialog, tapi takut jika dewa-dewa di puncak gunung
Olimpus segera mengirimkan petir bagi kita sebagai sasarannya. Seandainya kisah
Socrates tidak pernah terjadi di mana bukan ia yang diwajibkan meminum racun
cemara, dan sebaliknya yang dijatuhi hukuman mati adalah pemuka dewan,
barangkali kita tidak akan menemukan orang-orang bodoh dan gila seperti Don
Quixote yang menggunakan kekuasaannya tanpa tahu resep pakai. Masalah kita hari
ini, sebagian besar dari kita terlanjur menerima mereka dan dengan senang hati
menganggap mereka layak menduduki jabatan strategis macam ini. Kata mereka, ini
sudah takdir Tuhan!
20 Januari 2020
Ayam dan Pembebasan dari Layar Tv
![]() |
| 1984 |
AKHIRNYA, saya merasa agak lega
setelah berhasil menulis uraian film yang nyaris selesai, jika saja Banu tidak
segera bangun dan menyergap saat sedang menghadapi tuts laptop yang entah
mengapa demikian mengasyikan pagi ini. Kopi masih belum tandas sepenuhnya dan
resensi yang saya tulis sudah mencapai sekitar 700 kata saat Banu mengambil
alih pekerjaan ketikan melalui tangannya yang diacungkan di depan layar. Banu
baru saja bangun dan layar sampai saat ini masih jadi perhatian utamanya selain
setiap sudut rumah yang ingin ia jelajahi menggunakan kedua kakinya yang
semakin hari menjadi terampil menopang seluruh bobot tubuhnya. Banu, sejak ia
mulai bosan dengan sekeranjang mainannya, sudah kami antisipasi agar tidak
terpikat gawai yang semakin hari sulit dilepaskan dari dunia orang dewasa. Hape
cerdas yang hari demi hari kian membuat orang seperti anak ayam kehilangan
induknya dan membuat otak semakin mirip manisan kismis, sudah kami akali agar
Banu jauh dari benda pemecah umat itu. Alternatifnya, ia kami sediakan tontonan
melalui televisi lagu-lagu anak yang didownload melalui youtube setiap kali
gawai mengalihkan perhatiannya. Sampai sekarang, setelah sepulang dari
Bulukumba, Banu lebih menyukai lagu ”kukuruyuk” yang memperlihatkan
segerombolan ayam betina lari tungganglanggang menyigi rerumputan setelah
dilepas dari kandangnya. Ia mulai bosan dengan lagu berbahasa Inggris yang
berhasil mengajarkannya koor ”ha-ha” setiap kali seorang anak menyebut
nama-nama bagian bis yang diakhiri kata ”wa-ha-ha”. Ayam menjadi binatang yang
menarik minatnya setelah ia lebih suka menunjuk cicak ketika ia melihatnya
menempel di langit-langit rumah. Setiap pagi, saat di Bulukumba, bersama
kakeknya—yang dipanggil Ance—ia sudah berada di halaman di samping rumah yang
menjadi ”bengkel” kerja Bapak. Di situ hampir selusin ayam katai berkeliaran
bebas di sela-sela kayu dan besi-besi tua dan beragam alat pertukangan di
samping tiang pancang tali-temali jemuran. Kandang yang berjejer mirip
kerangkeng kecil sebagiannya diisi ayam katai lain yang masih dijinakkan.
Sisanya adalah ayam bangkok berdaging keras jika ia dijadikan opor ayam.
Melihat binatang kecil bergerak gesit dan berbulu emas dengan dua kaki yang
seperti dipangkas membuat Banu terperangah dan mulai menyukainya. Sejak saat
itu, setiap kali kami menyebut kata ayam, ia praktis mengacungkan tangannya
sama seperti ketika penyabung ayam melatih leher ayam aduannya menjadi tegak
berdiri. Gerakan itu berarti juga ia ingin segera berada di mana ayam-ayam itu
hidup saban hari. Kata ayam praktis membuat Banu otomatis terdorong selalu
ingin melihat ayam sebagai hiburan paginya. Otaknya seolah-olah sudah
terprogram ketika kata itu disebut. Kebiasaan ini demikian ia sukai sampai
akhirnya kami harus kembali ke rumah yang berarti tidak ada satu ekorpun ayam
berkeliaraan. Satu-satunya hewan berjenis unggas hanyalah burung pipit dan
jenis burungan bangau yang saban hari bertengger di kerumunan pohon putri malu
yang sudah menyerupai tinggi pohon klengkeng Thailand di tanah lapang sebelah
rumah. Konon tanah itu sudah dimiliki seseorang yang berdarah Thionghoa. Ayam
tetangga yang dikandang sedemikian rupa di depan rumah sebelah juga sudah tidak
kelihatan lagi. Besar kemungkinan ayam kampung itu sudah menjadi santapan di
saat lebaran haji tempo hari. Toh jika ada sisa kehidupan unggas dari sana
hanyalah kandang bambu berbentuk kubah yang tergeletak dibiarkan begitu saja.
Di halaman rumah, satu-satunya tanda kehidupan diisi jejeran bunga asoka, daun
kuping gajah, kamboja, lidah mertua, dan beberapa tanaman hias entah apa namanya
yang menyerupai rumput jepang. Dua hari lalu, pohon cabai yang berhasil tumbuh
setelah layu nyaris mati, membuahkan tiga biji cabai. Tentu saja saya seketika
mengambil langkah strategis sesegera mungkin dengan mengguntingnya di malam
hari dan menjadikannya penyedap ikan goreng dari pada mati membusuk seperti
pernah dilakukan sebelumnya. Tanaman ditanam sendiri dan buahnya dinikmati
sendiri bakal lebih subur kemudian hari jika tidak segera dihargai. Akibat
tidak memelihara ayam, yang berarti kami tidak dapat diingatkan melalui
kokoknya ketika pagi hari, kami ganti dengan kumpulan lagu-lagu anak berisi
ayam-ayam tadi itu. Aneh memang hal ini tidak membuat kami seperti orang yang
memiliki jiwa seni tinggi oleh karena kami lebih mirip peternak unggas yang
tiap pagi mendengar ”kokok-kotek” ayam melalui tv. Tapi, strategi ini lumayan
berhasil setelah sebelumnya membuat Banu mengacung-acungkan tangannya kepada
ayam-ayam elektronik di layar kaca tv. Belakangan kami menyadari ia memiliki
kemauan lebih dari sekadar melihat ayam dengan memukul-mukul layar tv
menggunakan tongkat bekas gantungan bajunya. Jika Banu beralih perhatian dan
ayam di layar kaca nampak berubah seperti hewan yang membosankan, satu-satunya
pilihan selain siaran TVRI bagi kami adalah sinetron Indosiar yang entah
mengapa menjadi tontonan yang mirip cara Orba mendoktrin warganya. Seperti
kisah novel 1984 karangan George Orwell, kisah murahan Indosiar itu tayang
nonstop tanpa jeda dari pagi hingga sore hari seolah-olah setiap orang
menginginkannya. Ceritanya entah dicomot dari mana: pengalaman istri-istri yang
diberlakukan semena-mena suami yang gemar berselingkuh dan pada akhirnya entah
bagaimana caranya Dewi Fortuna bakal membuat istri teraniaya menjadi pemenang
di akhir kisah. Takdir pada akhirnya, di kisah itu, akan berpihak selama
perempuan teraniaya bersabar hingga kantung matanya mengering. Dengan cara
klise kadang perselingkuhan suami diawali dengan cara yang sama di setiap
episode, si suami bakal tanpa sengaja menabrak seorang wanita sambil
menunduk-nunduk. Cara mereka ini membuat siapa pun tak perlu membaca kisah
kisah cinta seperti Romeo dan Juliet atau Laila dan Majnun oleh sebab untuk
jatuh cinta Anda tidak membutuhkan kegilaan. Seperti ditunjukkan perempuan
pelakor di sinetron itu, Anda—jika perempuan—hanya butuh sedikit tekat dan
keberanian terang-terangan merebut hati suami orang. Cara ini saya lihat cukup
ampuh membuat hati istri suami yang Anda rebut melongos dan kalah. Tentu
perilaku ini jarang kita temukan di dunia nyata, tapi jika Anda berminat coba
saja. Siapa tahu Anda berhasil dan seketika menjadi kaya raya berkat harta
benda suami yang berhasil Anda rebut. Sinetron ini saking sering diputar
membuat saya semakin yakin bahwa perempuan-perempuan teraniaya memang ada di
dunia nyata. Mereka sama tertindasnya dengan istri-istri di sinetron yang entah
sampai kapan akan berakhir. Perbedaannya cuma satu, kekerasan perempuan
teraniaya di dunia nyata tidak dimulai dari seorang pria yang tidak sengaja
menabrak seorang perempuan cantik yang kebetulan mantan pacarnya, yang
kebetulan baru saja berpisah dengan suaminya, yang kebetulan saling jatuh
cinta, yang kebetulan secara sembunyi-sembunyi memadu kasih di kafe-kafe
memanfaatkan waktu jam makan siang. Dan sialnya yang kebetulan saya saksikan sepenuh
hati. Sudah bisa ditebak bagaimana kelak jalan ceritanya. Saya mengambil remote
tv menyetel ulang lagu ”kukuruyuk” kesukaan Banu tanpa ayam, tanpa beban.
07 Januari 2020
Tak Ada Melati di Kota Ini
NAMANYA lumayan aneh: Kembe (”e”
dibaca mirip ”e” dalam Jahe). Dia tinggal di bekas bioskop tua. Asal usul Kembe
misterius seperti asal mula namanya. Satu hal sering terlihat, dari jauh di
dalam bioskop selain gubuk terpalnya adalah onggokan becak tua yang konon
dipakai suaminya. Jarang ada orang berani masuk di dalam gedung bioskop setelah
lama tidak terurus. Dindingnya kehitaman dilumuri lumut kering. Di atas, langit
memenuhi atapnya yang bolong. Di halaman depannya, selain berdiri lampu jalan
tanpa aliran listrik, tumbuh semak-semak belukar menjadi makanan kambing liar.
Kembe jarang keluar dari gubuknya.
Toh jika ia keluar dia hanya terlihat memetik daun ubi yang tumbuh di sekitar
halaman bioskop. Bagi yang pernah melihatnya, Kembe berkulit gelap dengan
rambut panjang diikat sanggul. Tubuhnya kecil dengan raut muka seolah-olah
seperti orang baru bangun tidur. Semasa saya SMA nama Kembe jadi bahan bully.
Namanya dipakai untuk menggelari teman-teman yang kami kerjain.
Banyak kasak-kusuk beredar di seputar
kehidupan Kembe. Ia kerap disebut gembel peminta-minta. Sering dituduh tidak
waras. Bahkan beberapa orang menyebut ia suka menculik anak-anak.
Nasib Kembe masih tergolong mujur
dibandingkan—sebut saja— Melati si gila, yang sering ditemui di beberapa sudut
kota Bulukumba. Kembe setidaknya masih memiliki tempat tinggal, walaupun
seadaanya di dalam bekas bioskop tua. Ia masih memiliki keluarga, meski jarang
terlihat seperti apa penampakan mereka.
Melati sering terlihat mengenakan
baju daster sambil mengacung-acungkan gayung ke udara. Seperti Kembe, kulitnya
hitam dimakan panas matahari. Rambutnya urakan hitam kecoklatan menyiratkan bau
tanah. Tidak ada yang tahu pasti di mana Melati tinggal (pernyataan ini
sebenarnya kurang relevan bagi orang gila. Memangnya orang gila punya rumah
tetap?).
Seperti galibnya orang gila, tidak
ada cerita pasti mengapa Melati sampai kehilangan akal sehat. Melati, seperti
sering dialami, tiba-tiba dapat ditemukan di pinggir jalan tanpa tahu dari mana
dia datang, siapa keluarganya, bagaimana ia bisa gila, dan siapa yang
menelantarkannya.
Orang gila seperti Melati, praktis
menjadi orang yang kehilangan relasi sanak keluarga, perhatian, tanpa hak dan
kewajiban, serta kehilangan asal usul.
Kehilangan akal sehat, dengan kata
lain, membuat orang gila seperti Melati menjadi mahluk yang terputus dari semua
variabel kehidupan.
Sering tersiar kabar, Melati
menjadi bulan-bulanan tukang becak. Kadang terlihat becak terpakir tanpa
tuannya di jalan sepi tanpa penerangan. Dia jadi objek perundungan seksual para
tukang becak yang tidak mampu mengontrol berahinya.
Di pikiran pengayuh becak yang
tidak seberapa penghasilannya itu, Melati sudah lebih dari cukup dari pada
mencari perempuan sewaan. Melati tidak perlu dibayar, atau mesti dibooking
melalui tawar menawar harga. Tukang becak tidak suka itu, dan para tukang becak
yang seharian mengayuh di kota yang tidak sama sekali membutuhkannya, tidak
menginginkan semua itu. Mereka hanya butuh sedikit nekat menyergap Melati di
tengah jalan dan menidurinya di semak belukar, atau di tempat-tempat sepi tanpa
penerangan.
Orang gila seperti Melati, sebagai
objek seksual diangkat Eka Kurniawan dalam cerpen Tidak Ada Orang Gila di Kota
Ini—yang oleh Wregas Bhanuteja dialihwahanakan ke dalam film pendek berjudul
sama dibintangi Oka Antara dan Sekar Sari (film ini berhasil memenangi anugerah
film pendek terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2019).
Jalan cerita Tidak Ada Orang Gila
di Kota Ini cukup membuat hati bergidik. Ibarat zaman Abad Pertengahan di
Inggris, ketika suatu kota dihadapkan pada wabah berisikan orang-orang gila
yang kemudian ditangkap dan dibuang jauh di tengah hutan. Alih-alih kota
memberikan fasilitas, dan kehidupan lebih baik, para orang gila ini malah
ditangkap dan dijual dijadikan bahan tontonan seks seperti pertunjukan sirkus
di setiap musim liburan.
Cerita ini seperti disampaikan
Wregas adalah kenyataan yang melukiskan kegelisahannya berkaitan dengan hirarki
kekuasaan.
”Di mana orang yang memiliki power
yang lebih, akan menindas orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat
pribadinya. Yang di bawahnya, akan menindas yang di bawahnya lagi, dan yang
paling tidak berdaya adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kuasa.
Bahkan, kuasa atas dirinya sendiri,” sebagaimana dikutip dari mainmain.id.
Perkara kekuasaan, kegilaan, dan
seksualitas, sudah jauh hari ditelusuri sosiolog Prancis Michel Foucault, yang
menemukan adanya pertautan di antara ketiganya. Dengan kata lain, kegilaan dan
seksualitas, seperti pendakuan Foucault adalah wacana kekuasaan yang senantiasa
diatur, dikontrol, dan dikendalikan. Itu artinya kategori normal tidak normal,
boleh tidak boleh, sehat tidak sehat dalam wacana seksualitas senantiasa
merupakan produk pengetahuan kekuasaan.
Melati si gila, beruntung tidak
hidup dalam imajinasi penceritaan Eka Kurniawan, atau seperti di era Abad
Pertengahan. Walaupun demikian, ia masih tetap menjadi sasaran berahi lelaki
sekelas tukang becak kere yang kebelet ingin melampiaskan hasratnya. Ia sering
diculik dan disekap, dan ditidurkan di semak-semak atau di bangunan kosong tak
berpenghuni. Seperti pendakuan Foucault, kekuasaan bisa berlaku di mana saja,
ia produktif menciptakan korbannya. Untuk kasus ini, Melati-lah korbannya.
04 Januari 2020
Doa Seorang Penulis Medioker dan Kutukan Buku Pertama
| Jejak Dunia yang Retak |
DELAPAN tahun lalu saya menerbitkan
buku pertama—sebenarnya ini karya borongan bersama empat orang lainnya. Jadi
ini bukan murni karya saya. Buku itu diberi judul Jejak Dunia yang Retak. Kata
pengantarnya ditulis Eko Prasetyo, penulis kiri kawakan spesialis ”orang
miskin”. Penutupnya ditambal Dul Abdul Rahman, novelis asal Makassar spesialis
”dunia hantu-hantu lokal”.
Buku esai ini, di malam ia
dilaunching, saya hadiahkan kepada pacar saya—sekarang istri saya. Rasa-rasanya
malu sendiri jika membuka buku pemberian itu. Tepat di halaman pertamanya
ditulis kata-kata puitis berwarna, alamak, pink! Kata-kata itu jika diukur dari
waktu sekarang bernada sok-sok romantis dan norak. Saat kata-kata itu ditulis,
jangan ditanya, siapa yang sadar ketika orang sedang kasmaran.
Buku itu dicetak di Jogja oleh
penerbit indi Makassar, Carabaca . Sekali tempo dua atau tiga tahun pasca buku
itu beredar, seseorang memfotonya di antara lapakan buku di Jogja. Sekarang
buku itu ”habis” dengan cara entah bagaimana. Konon buku itu ada yang membeli,
tapi saya lebih yakin buku itu lebih banyak habis dibagi-bagi atas dasar
(((kemanusiaan))).
Seperti kata Dul Abdul Rahman di
epilognya, kutukan penulis pemula ada pada buku kedua. Jika seorang penulis
berhasil menerbitkan buku kedua berarti ia lolos dari kutukan betapa sulitnya
menerbitkan buku kedua. Itu artinya, jika penulis sudah melahirkan karya
keduanya, seperti seorang ibu melahirkan selusin anak, buku ketiga, keempat,
kelima dan seterusnya bakal meluncur turun mulus dari rahim kepenulisannya.
Buku pertama diterbitkan bisa jadi
keberuntungan pemula. Beruntung saat itu kenekatan menerbitkan buku sedang
berada di titik puncak. Beruntung saat itu ada empat penulis lain mau
berkolaborasi mengumpulkan tulisannya. Beruntung saat itu ada modal
mencetaknya. Beruntung saat itu ada penerbit mau menerimanya. Dan lebih
beruntung lagi ada yang rela membelinya.
Sekarang, kutukan itu masih
berlaku. Selain Asran Salam yang sudah menelurkan dua karya setelahnya, kami
berempat masih tepekur nyaman dibelai mantra kutukan buku pertama.
Tahun 2016 bernomor ISBN
9786028003421 sebuah buku berjudul Telinga Palsu terbit. Esai saya berjudul
Antropologi Toilet ikut terpilih ke dalam 100 literasi pilihan Tempo Makassar
ini. Tulisan diambil di rentang 2014-2016 yang terbit di Tempo Makassar itu
dikurasi dan dieditori Irmawati Puan Mawar. Ini juga belum bisa disebut buku
sendiri.
Di laptop sudah kebiasaan membuat
folder nama khusus setiap tahun. Itu saya lakukan untuk mengklasifikasi tulisan
saya selama setahun penuh. Itu artinya ada folder bertarikh 2020, 2019, 2018,
sampai 2010, tahun pertama ketika saya mulai mendisiplinkan mengumpulkan
tulisan. Tahun 2019 tercatat 85 esai saya tulis dan 65 yang berhasil saya
selesaikan. 2020 entah berapa banyak
esai mampu saya hasilkan.
Harapan saya di tahun ini tidak
muluk-muluk: bisa salat awal waktu, dan terbebas keluar dari kutukan buku
pertama.
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...




