03 Februari 2020

Bagaimana Jika Tidak Pandai Merawat Gigi


PECAHAN TERAKHIR. Saya bukan orang yang pandai merawat gigi. Di umur sekarang banyak gigi saya keropos akibat jarang dibersihkan. Sikat gigi bukan perangai alamiah saya walaupun istri saya rajin membeli dan mendorong mengganti sikat gigi tiap tiga bulan sekali. Sejak menikah beberapa tahun lalu, salah satu kebiasaan inilah paling mencolok. Rasa-rasanya belum pernah saya temukan orang seperti Lola yang gemar mengganti sikat gigi. Dibandingkan dengannya, saya bisa menggunakan sikat gigi yang sama berbulan-bulan sampai sikatnya seperti rumput layu sementara istri saya mudah saja menggantinya setiap dua bulan atau tiga bulan sekali. Di kamar mandi cukup mudah menandai sikat giginya dibandingkan punya saya dengan melihat warna dan kualitas bulunya. Sikat gigi Lola nyaris menyerupai sikat gigi baru tanpa ada bekas sedikitpun odol mengering di sela-sela bulu sikatnya. Sementara saya, tidak usah dibayangkan. Cukup Anda menengok sikat gigi Anda dan membawanya beberapa tahun ke depan. Jika Anda melihatnya menyerupai sikat pembersih kloset, nyaris menyerupai itulah penampakan sikat gigi saya. “Pergiki bersihkan karang gigita”, ucap Lola ketika kami saling memamerkan kebersihan gigi. “Lain kalipi”, jawab saya sekenanya hanya untuk menghentikan percakapan dari jawaban yang sebenarnya sudah ia tahu. Lola paling getol menyuruh saya membersihkan karang gigi. Gigi istri saya nyaris tidak memiliki karang gigi oleh karena ia begitu rajin membersihkan setiap malam dan setiap pagi. Saya justru malah khawatir jika membersihkan karang gigi malah membuat gigi saya semakin renggang satu sama lain. Karang gigi seolah seperti batu karang di pesisir pantai yang kokoh menahan gempuran ombak. Semakin besar ombak yang datang semakin kokohlah ia menyerap unsur-unsur zat yang membuatnya semakin keras. Beberapa kali saya ingin memaksakan diri membersihkan karang gigi yang menumpuk bertahun-tahun akibat kebiasaan merokok dan minum kopi, tapi seketika saja saya urungkan karena meyakini berurusan dengan dokter gigi di negeri ini sama seperti saat Anda dipalak preman pasar saat Anda tidak sengaja bertemu di gang sempit di malam hari. Dompet Anda tiba-tiba raib yang membuat hati seketika mencelos dan putus asa menyerupai kulit kering kurma. Kemarin sepulang dari toko serba ada, Lola membeli sekantung kacang goreng bawang yang menjadi cemilan kegemaran kami berdua. Baru malam tadi ia membuka dan menyimpannya di toples plastik agar lebih mudah diambil menggunakan tangan. Sejak pagi kemarin hingga siang ini saya bersusah payah bisa menyelesaikan satu tulisan agar bisa segera selesai. Semalam saya dan Lola saling mencuri waktu ketika Banu telah lelap tertidur. Lola mesti menyelesaikan beberapa laporan mengenai asessment anak sekolah yang ia tangani dari minggu kemarin, dan saya dengan esai yang entah enak dibaca atau tidak. Baru siang ini lah sambil menulis saya imbangi dengan mengemil kacang yang dibeli Lola yang tanpa saya sadari ada yang bergerak-gerak aneh di dalam mulut saya ketika belum lama saya nikmati. Kopi sudah hampir tandas. Nampaknya ada gigi saya yang copot tanpa diminta. Gigi geraham saya pecah dan pecahan terakhir itulah yang jatuh menyerupai gilingan kacang. Kekhawatiran saya selama ini akan semakin menjadi-jadi, belum genap berusia setengah abad gigi saya tanggal satu demi satu.

02 Februari 2020

Scientific Temper, Fantasi Mayoritas, dan Ku Klux Klan



Poster film Mississippi Burning (1988)
Film dokumenter yang berkisah
tentang pengadilan pembunuhan
tiga aktivis Mississippi.
Di film ini memperlihatkan kekejaman
Ku Klux Klan sebagai perkumpulan kulit putih
paling rasis di Amerika Serikat


INI waktu yang tepat untuk menyeduh kopi setelah beberapa jam bermain bersama Banu yang belum lama pulas sambil menetek. Ia pelan-pelan mulai menutup mata tanpa sedikitpun melepas hisapan mulutnya dari payudara ibunya sampai akhirnya membuatnya benar-benar tandas bersama hujan yang menggantung di atas mega seolah-olah tertutup kapas berwarna abu-abu. Tadi pagi hujan benar-benar membuat kami bertiga seperti beruang kutub yang kandas di atas dipan. Seolah-olah kami bertiga baru saja pulang berburu dan menghabiskan tiga ton ikan salmon saat mereka bermigrasi kembali dari laut ke sungai untuk beranakpinak. Kami jatuh tertidur setelah subuh mulai ikut bergerak bersama jarum jam dan tiba-tiba di depan rumah terdengar bunyi klakson mobil. ”Itu mobil sampah”, telinga saya menangkap suara Lola yang saya yakin tidak sekalipun ia membuka mata saat mengucapkan kalimat itu. Bunyi klakson itu membangunkan kami bertiga. Banu bersuara lirih dan saya bergegas menuju ruang dapur mengambil sisa-sisa makanan yang membuat hidung menangkap udara pesing dari dua tempat sampah tidak jauh dari kamar mandi. Di rumah kami sengaja memisahkan sampah sehari-hari dengan popok banu yang bertumpuk bagai roti berisi kacang giling. Saya percepat langkah dan di saat itulah saya menyadari, mobil sampah itu membangunkan kami tepat pada pukul sembilan lewat setelah saya melihat jam dinding saat mengangkut sampah ke depan rumah, mengambil kunci pagar, dan kemudian membukanya. Hujan masih terus turun dan saya kaget melihat penampilan menyeramkan tukang sampah yang lebih mirip pembunuh psikopat ala film-film Hollywood dari pada penampilan tukang sampah umumnya. Bukannya menggunakan seragam warna jeruk, ia justru menggunakan mantel hujan berwarna hitam dengan tudung kepala yang nyaris menyembunyikan wajah aslinya. Jika saja saat ia berdiri membatu menunggu seseorang membuka pagar menyodorkan sampah diiringi petir berkilat-kilat di balik punggungnya, lengkaplah ia menyerupai adegan film triller Hollywood yang menceritakan seorang pembunuh sedang melakukan aksinya di saat hujan gelap terjadi. Saat saya menutup pagar imajinasi saya malah dikuasai oleh sekelompok orang yang disebut Ku klux Klan (KKK). Lagi-lagi karena tudung mantel tukang sampah yang datang lebih malas dari tukang kredit itu. Maklum mantel menjadi benda paling sering saya saksikan belakangan ini, ditambah sinetron-sinetron ala ”istri-istri teraniaya” Indosiar yang mendahului filmya dengan pengakuan isi hati seorang perempuan dengan menggunakan mantel bertudung menyerupai penyihir abad 18. Namun seketika saya sadar Ku Klux Klan bukan fenomena bangsa ini seperti saat perkumpulan ini hadir di Amerika sekitar satu abad lalu yang menggunakan jubah tudung tinggi dengan ujung yang terlihat seperti nasi tumpeng. Tapi, tetap saja benih-benih rasialis seperti menjadi ideologi Ku Klux Klan nyata sering ditemukan di Indonesia. Di masa lalu, fenomena Ku Klux Klan pada akhirnya melahirkan figur seperti Malcom X atau Martin Luther King yang bangkit mengorganisir kesadaran orang kulit hitam. Di Indonesia tidak ditemukan kumpulan orang bejubah mirip Ku Klux Klan denga ritual-ritual kelompok yang menyerupai acara keagamaan, malah di sini tumbuh organisasi abal-abal disebut kerajaan dengan seragam menyerupai kostum kerajaan Brunei Darussalam, yang sudah pasti tidak mungkin melahirkan figur seperti Martin Luther King mengkonsolidasikan ketakutan, kekhawatiran, kekesalan, ketimpangan masyarakat kulit hitam menjadi organisasi perlawanan. Tinimbang mengkhayalkan pertistiwa itu malah kenyataannya dunia memiliki leluconnya sendiri dengan  menciptakan raja-raja ilusionis seperti yang terakhir muncul dari kerajaan entah di mana dengan gelar King Of the King. Di TVRI tempo hari, seorang pembicara bernama Sudirman Said menjelaskan fenomena kemunculan si pembuat pesawat bernama Chaerul yang ia kaitkan dengan semangat Scientific Temper. Saya menyaksikan dengan seksama seperti seriusnya dua orang pembicara lainnya di dalam monitor yang berasal dari Unhas dan seorang dari perwakilan organisasi guru. Saintifik temper pertama kali diperkenalkan sahabat Soekarno, Jawaharlal Nehru dari India sekitar tahun 60-an untuk membentengi masyarakat India dengan ilmu pengetahuan dari kepercayaan takhayul yang banyak ditemukan saat itu. Saintifik temper intinya merupakan cara pandang bagi seseorang yang melihat sesuatu fenomena dengan pendekatan rasional dan ilmiah. Sekarang saintifik temper (perangai ilmiah) banyak diadaptasikan orang-orang berpikiran terbuka di semua lini kehidupan. Chaerul seorang montir pembuat pesawat disebut Sudirman orang yang sedikit banyak menerapkan sikap perangai ilmiah saat membuat pesawatnya. Konon semangat perangai ilmiah ini ”diambil” Nehru dari semangat kebebasan Imanuel Kant, filsuf dua abad lalu yang terkenal dari slogannya berbunyi sapere aude! Di luar negeri, seperti diceritakan Sudirman yang menyekolahkan anaknya di Australia, memiliki suatu momen pembelajaran dengan mengundang pekerja profesi  di hadapan siswa-siswa untuk menceritakan seluk beluk pekerjaaannya dan apa pentingnya bagi kehidupan umum. Agar lebih mudah dipikirkan, bayangkanlah Anda sebagai orang tua siswa diundang ke dalam kelas oleh sekelompok anak-anak untuk membicarakan profesi Anda. Biar lebih mudah lagi pikirkanlah jika Anda di waktu sekarang berprofesi sebagai supir mobil ekspedisi, yang berarti Anda mesti menceritakan pekerjaan Anda dengan rincian dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini: Kemana Anda pergi sehari-hari dan jam berapakah Anda pulang ke rumah? Dalam pekerjaan, mobil apa yang Anda pakai? Barang apa saja yang Anda bawa? Tidakkah Anda capek berkeliling dari satu daerah ke daerah lain? Dengan siapakah Anda bekerja, tidak bosankah bersamanya setiap hari? Apakah Anda mempunyai seragam, berapa gaji Anda, di mana Anda berisitirahat jika capai, untuk apa Anda bekerja, berapa kali ban mobil Anda pecah, siapa atasan Anda? Saat menceritakan ini semua sudah tentu tidak membuat Anda mesti berpikir panjang dan menyiapkannya sejak Anda berangkat dari rumah oleh karena begitulah pekerjaan Anda sehari-hari. Sekarang bayangkan jika profesi Anda dilihat dari pendekatan saintifik temper seperti anak-anak sekolah di negeri Kanguru yang mengundang Anda. Kemungkinan Anda akan mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Dengan apa mesin mobil Anda dapat berbunyi? Mengapa orang-orang memerlukan barang yang Anda bawa? Berapa kali putaran ban jika jarak pekerjaan Anda bisa menghasilkan putaran ban sebanyak 329 kali dalam dua menit? Apakah mobil anda menggunakan listrik atau mesin uap? Bisakah Anda menjelaskan kerja energi mobil Anda? Apakah ada perbedaan waktu jika mobil Anda pulang dalam keadaan kosong dengan saat berpergiaan dipenuhi banyak barang? Berapa kecepatanya? Bagaimana pekerjaan Anda menyehatkan tubuh Anda? Bisakah Anda…bagaimanakah Anda…mengapa bisa… Di luar negeri pertanyaan semacam ini kemungkinan akan sering Anda temui karena paradigma pendidikan mereka sudah menerapkan sains sebagai alat kehidupan sehari-hari. Di dunia sosial ada tokoh bernama Auguste Comte—pendiri Sosiologi—yang pernah bermimpi bakal lahir suatu masyarakat yang lebih tertarik mencari tahu mengapa hujan dapat turun ke bumi daripada disibukkan menjawab apakah banjir adalah ulah manusia atau takdir Tuhan. Sekarang, saya mulai khawatir tidak mampu menahan tawa menyaksikan selingan video di jaringan whatsapp. Seorang pemuda menangis tersedu-sedu oleh karena musholanya dirusak segelintir orang di Minahasa Utara. Ia menangis sementara gerombolan orang-orang di sekitarnya berdesak-desakkan merekam kejadian itu menggunakan gawai dan sebagian yang lebih banyak lagi memenuhi area mushola dengan teriakan-teriakan takbir seolah-olah Perang Khandak bakal terjadi kembali. Ini sudah pasti bukan perkumpulan Ku Klux Klan seperti tersebar di Eropa yang mencari-cari penganut Yahudi atau orang berkulit hitam, melainkan segolongan umat Islam yang marah rumah ibadahnya dirusak. Coba bayangkan apakah pemuda dari kerumunan massa yang marah ini bakal kesulitan menjawab pertanyaan saintifik temper dari anak-anak yang bersikeras ingin tahu apa gunanya pekerjaan mengkafir-kafirkan orang yang tidak sealiran? Di depan kelas, ia mungkin akan lebih suka membayangkan siswa-siswa di hadapannya seperti umat Nabi Musa berabad-abad silam yang mesti dibebaskan dari pengaruh tukang sihir Fir'aun, yang membuatnya bersemangat mengemukakan dalil-dalil agama daripada memberikan penjelasan ilmiah mengapa agama dan sains alih bertentangan dan mesti bergandengantangan menyelesaikan problem kemiskinan umat manusia? Jika Anda menemukan orang semacam ini, menurut Auguste Comte orang ini masih membayangkan kita hidup di Abad Pertengahan. Ia merasa satu-satunya jalan demi menjawab semua persoalan adalah dengan menengok apa yang termaktub di dalam kitab suci dan membiarkan sains dan akal budinya berhenti sebelum bisa digunakan. Dari pada membayangkan si orang ini yang salah mengartikan kelas ilmiah sebagai majelis agama, bagaimana jika anak-anak di sekitar Anda selain diajarkan ilmu agama, Anda berikan juga soal-soal yang mesti dipecahkan menggunakan pendekatan saintifik temper. Jika Anda guru, coba bayangkan Anda adalah seorang ilmuwan yang sedang berusaha memecahkan suatu kasus melalui pertanyaan-pertanyaan saintifik bersama murid-murid di depan kelas, daripada berpikir seolah-olah Anda adalah nabi yang berhak menilai benar salahnya isi kepala orang-orang. Mungkin saja suatu waktu percobaan demikian bakal melahirkan orang seperti Chaerul atau Nehru dari kelas sederhana yang Anda ampu, dan malah bukan menciptakan pribadi halusinatif atau golongan pemarah yang berpikir merekalah wakil Tuhan paling absah. Tentu di pagi hari Anda tidak ingin pintu rumah Anda digedar-gedor seseorang seperti tukang sampah yang berlagak bagai psikopat versi Hollywood itu, hanya karena Anda berbeda keyakinan.

01 Februari 2020

Bagaimana si Raja dan si Kaisar Berlagak Bodoh



Charles Darwin ( 1809–1882)
Seorang naturalis dan ahli geologi Inggris
Dikenal atas kontribusinya kepada teori evolusi


SAYA sedang membaca daftar 25 film terbaik 2019 dari blog khusus mengulas perkembangan film terbaru lalu seketika berpikir untuk menulis fenomena aneh bin ajaib beberapa minggu belakangan ini: Keraton Agung Sejagad dan Sunda Empire. Setelah awal tahun 2020 dibuat heran atas banjir Jakarta dan gempa di beberapa wilayah, tiba-tiba kita dibuat kaget, bagai semut bermunculan dari dalam tanah, muncul gerombolan orang-orang yang berseragam mirip tentara Spanyol di abad 18 dan mengaku-ngaku memiliki kekuasaan seluruh dunia. Kali pertama saya melihatnya di layar kaca, alih-alih membayangkan keberanian mereka seperti tentara kerajaan Inggris yang gagah berani mengacung-acungkan bedil ketika Eropa masih menjadi lahan konflik, mereka malah lebih nampak seperti seorang komandan Jepang di acara Benteng Takeshi yang memimpin pasukan kelas pekerja menggunakan helm pengaman dan tidak lama malah berakhir di sel penjara. Mereka yang dipimpin seorang raja dan ratu ini, memang seperti kerumunan semut yang dipimpin seorang raja dan ratu walaupun sarang mereka tidak disembunyikan di dalam tanah. Justru kerajaan yang mereka buat didekorasi menyerupai kerajaan sesungguhnya. Tidak jelas apa tugas mereka selain kepercayaan diri mengklaim sebagai kerajaan titisan dari masa silam. Beberapa tahun lalu saat Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden, beberapa kawan saya banyak memberikan alasan mengapa pria asal Solo ini pantas menjadi presiden. Satu di antara alasan itu berbunyi Jokowi sudah ditakdirkan seperti diramalkan dalam babad Jawa sebelum kedatangan sosok pemimpin maha adil dan jujur yang bakal mengambilalih kepemimpinan dunia. Saya bergidik kali pertama mendengarnya oleh karena keyakinan itu diceritakan dengan cara tertentu dan keberadaan  pemimpin-yang-sebenarnya itu menjadi tanda akhir dunia sebelum alam semesta betul-betul kiamat. Manusia memang senang membangun kisah dan menjadikannya sebagai narasi keyakinan. Beberapa waktu lalu, seolah-olah dunia memiliki bentuk baru setelah bermunculan sekelompok orang yang membalikkan temuan sains dengan mengatakan dunia ini seperti bidang datar. Narasi tentang dunia seperti ini di masa sekarang layak dikatakan bodoh oleh karena sains sudah membuktikan bahwa dunia tidak sesederhana dataran lapangan sepak takraw. Tapi apa boleh buat, orang-orang seperti ini senang dengan narasi bumi datar seperti sama senangnya mereka terhadap keyakinan di akhir dunia nanti seluruh bulu janggut mereka akan dikonversi menjadi surat kepemilikan bidadari di surga kelak. Bagi masyarakat suku-suku di sekitar sungai Amazon, seperti juga sapi bagi umat Hindu atau burung elang bagi Mesir kuno, meyakini ular sebagai hewan suci. Sejarah asal-usul kedatangan mereka di muka bumi diyakini berasal dari rahim ular. Di kawasan sekitar sungai Amazon, Anda tidak akan berani mengemukakan pemikiran Charles Darwin bahwa sesungguhnya kita berasal dari monyet, oleh sebab  narasi Anda tidak cocok dengan kehidupan mereka. Kera atau monyet lebih suka hidup di atas pepohonan yang tidak seperti ular-ular di sungai Amazon yang banyak berkembang biak di dalam sungai. Jadi narasi semacam sejarah asal-usul, kekuasaan, mitos, dan kerajaan, seperti masyarakat yang hidup di sekitar sungai Amazon sangat dekat dengan cara hidup mereka sehari-hari. Belakangan saya baru tahu, mengapa tetua suku-suku di sekitar sungai Amazon  meyakini ular sebagai nenek moyang mereka selain daripada bentuk sungai Amazon yang membentang panjang meliuk-liuk seperti ular raksasa. Dengan menceritakan ini saya tidak ingin memaksa Anda untuk mengatakan orang seperti Ki Ageng Rangga Sasana atau Totok Santoso Hadiningrat berasal dari ular atau hewan sejenisnya. Itu mustahil dapat dipecahkan oleh ahli genetika beratus-ratus tahun dari sekarang mengingat sama tidak masuk akalnya mengatakan bahwa dua orang ini seorang raja dan mampu mengendalikan nuklir dari jarak jauh. Di grup whatsapp yang beranggotakan da’i-da’i, seseorang dengan yakin mengirimkan beberapa alasan mengapa fenomena ini muncul: Pertama ia mengatakan ini ada hubungannya dengan motif ekonomi karena seragam ala militer yang mereka pakai tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan diperjualbelikan seperti pengepul sarang burung walet membelinya dari peternakan burung walet. Logika ini dapat kita gandakan ke hal-hal semisal mereka membutuhkan kartu anggota kekaisaran, iuran kelompok, rapat kerajaan, menyewa gedung kerajaan, perabotan dan souvenir kerajaan, pernak pernik senjata, sampai tidak lupa perhiasaan yang mencerminkan gemerlap perhiasaan raja-raja. Tidak mungkin semua ini mereka pinjam di museum terdekat kecuali semua itu dibeli menggunakan uang. Kedua, orang yang mengirimkan pesan singkat di WA menyebut fenomena ini berhubungan dengan keinginan masyarakat yang menghendaki status sosial dengan cara instan. Di Jakarta, sangat mudah menemukan ibu-ibu berkumpul di sudut-sudut kafe mal  berkacamata hitam sembari bercerita tentang kucing peliharaan mereka. Mereka ini tidak kalah mentereng dari artis-artis sosialita yang senang mengoleksi tas dan sepatu hingga membutuhkan lemari membumbung tinggi sampai ke puncak langit-langit rumah. Saya ingat figur Tikus dalam buku ditulis Roanne van Voorst ”Tempat Terbaik di Dunia”. Suatu waktu Roanne menginginkan dirinya berbelanja perlengkapan laptop ke mal dengan mengajak Tikus. ”Saya tidak layak masuk ke tempat seperti itu, itu tempat orang-orang kaya” begitu kurang lebih pengakuan Tikus karena merasa minder dan inferior dengan tempat mentereng seperti itu. Saya kadang juga seperti Tikus, kikuk ketika ingin memasuki gedung megah yang berisikan orang berpenampilan necis dan berdasi, seperti sama khawatirnya saya berbicara dengan orang seperti pemelihara kucing  itu tadi, atau artis pengoleksi tas-tas mahal. Kehidupan kadang tidak adil karena memelihara orang-orang yang status sosialnya ditentukan dari barang-barang yang dimilikinya dan mengucilkan orang-orang lapisan bawah yang dekil dan kumal. Karena ketidakadilan inilah anggota kerajaan Sunda Empire dan Solo Sejagad Raya menciptakan narasinya sendiri dengan membuat simbol-simbol sosial yang menandakan suatu kekuasaan tertentu. Dalam suatu foto saya melihat Ki Ageng Sasana—”penguasa” Sunda Empire—nampak pede menggunakan seragam hijau pekat mirip seorang jenderal. Satu-satunya saya ingat dari itu adalah warna baret yang ia kenakan menyerupai tentara keamanan PBB yang pernah saya saksikan dalam film Dunia Sophie, dan sosok Wiranto ketika Soeharto masih sehat wal alfiat menjadi presiden orang tua kita. Di belakang Soeharto, di seragam Wiranto, tersemat di dada kirinya kotak-kotak mini seolah-olah menyerupai bendera negara-bangsa yang dijejerkan seperti saat kita melihatnya di sampul atlas saat dulu kala. Saya yakin pangkat jasa perang dipakai Ki Ageng Sasana seperti ditunjukkan Wiranto ketika menjadi panglima ABRI, adalah palsu belaka yang bisa didapatkan di pasar loak. Tapi apa boleh buat, ia mendaku mampu mengendalikan kekuasaan dunia dan banyak yang memercayainya sebagai sosok dengan status sosial tertentu. Seorang filsuf pernah mengatakan sudah tabiat manusia menyenangi masa lampau sampai ia patut disebut mahluk aquarian. Saat ini sangat sulit menemukan orang yang memiliki hobi mengoleksi prangko beralbum-album selain karena prangko sudah tidak diciptakan lagi, dan juga dunia lebih mudah terhubung melalui surat elektronik. Banyak orang setelah terbuai iklan suka menganti androidnya menjadi jauh lebih canggih karena berpikir dunia akan terus maju ke depan meninggalkan masa lalu. Orang seperti ini tidak seperti para pengoleksi prangko yang menyimpan kenangan masa lalunya dengan cara mengoleksinya seperti museum menyimpan benda-benda purba. Para pengikut kekaisaran macam Sunda Empire dan Solo Sejagad Raya dikatakan pengirim pesan WA tadi seperti pengoleksi perangko yang merindukan suasana kerajaan seperti masa lalu. Dari poin ketiga ini membuat saya bertanya-tanya, apakah sebegitu romantiskah cara kita berpikir untuk menyukai dan menghendaki kehidupan ini berputar ke masa lalu? Kalau memang demikian, mengapa kita tidak sekalian saja mengembalikan masa ini sampai di zaman Nabi Nuh, tepat saat ia selesai membuat perahu raksasa, dan membiarkan orang semacam ini tenggelam saat banjir bandang tiba sebelum meraka merasuki pikiran kita di layar kaca? Saya dibuat seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa ketika menonton sesi Ki Ageng Rangga Sasana berbicara di forum ILC mengenai Sunda Empire yang diklaimnya sudah berdiri sebelum Firaun membangun piramid dan mati dikubur di dalamnya. Anhar Gonggong, sejarawan yang ditangkap kamera saat Rangga Sasana berbicara hanya semringah tahu bahwa ocehan Rangga ini tak lebih dari bualan belaka. Roy Suryo yang sempat menyangga sejarah PBB diceritakan Rangga Sasana disebut tidak paham sejarah. Perbedaan orang bodoh dan orang cerdas dilihat dari betapa seringnya orang bodoh mengatakan semua hal yang tidak ia ketahui dibanding orang cerdas, yang menyampaikan sedikit dari yang ia ketahui. Terlalu berlebihan mengatakan raja gadungan ini bodoh kecuali di saat ia sedang berbicara seolah-olah yang ia sampaikan merupakan bagian dari sejarah yang hilang yang semua itu membutuhkan kecerdasan tersendiri untuk berkibul. Dengan kata lain, Rangga Sasana sedang memeragakan prinsip kebohongan bahwa satu kebohongan hanya dapat diterima dengan benar jika ia mencipatakan kebohongan yang lain. Itu artinya, di sepanjang ia kita berikan waktu berbicara mengenai keyakinannya, sama artinya kita memberikan ia kesempatan untuk menyusun mata rantai kebohongan. Nahasnya, kebohongan kadang sering kali mengembangbiakkan kebodohan melalui cara yang tidak pernah kita sadari, seperti cara kita mendengar bualan dungu semacam ini tanpa menurunkan mereka dari panggung pemberitaan. 

--sudah terbit di Kalaliterasi dengan judul Bagaimana si Raja dan si Kaisar Membodohi Kita

21 Januari 2020

Kebodohan itu Abadi



Albert Einstein. 
Fisikawan pengembang Teori Relativitas.
Kata Einstein Perbedaan genius dan kebodohan adalah
kegeniusan itu terbatas 


SETELAH mendapatkan kabar kemenangan AC Milan atas Udinese akhir pekan kemarin, kesenangan saya jadi terancam dan diringsek kabar dari Bandung ini. Mesti saya akui, Milan kian hari semakin surut dari hati saya, walaupun memang sebenarnya masih ada sebagian diri ini yang ingin diakui sebagai milanisti. Tapi tetap saja, sumber masalah pagi ini bukan berasal dari nasib Milan yang angin-anginan. Rasa-rasanya saya ogah saja membaca isinya. Untuk kasus ini, membaca headline judul saja daripada isinya sudah lebih dari cukup untuk mengatakan ada masalah kian akut dari cara orang memahami dan mempraktikkan agama. Tapi yang namanya manusia yang tertarik kepada sesuatu yang belum dijangkau kepalanya, mendorong saya menggerakkan jempol membuka tautan ini. Tidak membutuhkan waktu lama jaringan otak saya menangkap inti pesan Tirto ini, kecuali saya merasa dibawa kembali kepada masa-masa ketika agama lebih banyak menginspirasi orang untuk saling membantu dan menopang. Saya pernah membaca suatu ulasan As Laksana bahwasannya golongan pertama dan paling cepat menempuh perjalanan menuju neraka adalah orang yang memelihara kebodohan dengan segenap jiwanya. Membaca berita ini saya bisa langsung saja menambah kedalam daftar “orang-orang yang cepat masuk neraka” kepada pengambil kebijakan macam ini di nomor urut kedua. Orang macam ini bukan saja bodoh, tapi sekaligus menunjukkan bahwa kebodohan mereka telah menodai bagaimana cara mereka menjalankan keimanan. Saya terkekeh, tidak bisa dibayangkan fungsi “lazimnya” masjid di batok kepala mereka. Itu artinya masjid hanya bisa dipakai sekadar salat berjamaah belaka, dan jika ada tugas lain dari itu barangkali hanya bertugas menyediakan acara buka puasa bersama jika musim Ramadan datang. Toh, jika ada fungsi masjid menyangkut “hidup-mati” seperti ini, tiada lain hanya berupa pengumuman di subuh hari bahwa seorang hamba Allah bernama Fulan bin Fulan telah meninggal dunia akibat infeksi saluran kencing. Kadang saya berpikir jika revolusi sosial benar-benar terjadi, orang semacam inilah yang pertama-tama digantung oleh massa rakyat di lapangan alun-alun. Sesekali mungkin ada yang melemparkan batu atau tai untuk memastikan, kelak mereka jika masuk neraka dalam keadaan bau dan berlumuran tai. Coba bayangkan, selain bergelimang dosa orang macam ini malah masuk neraka tanpa mandi sekalipun. Anda barangkali masih mengingat mengenai sekelompok orang yang salat di jalan terbuka sementara masjid mereka paksa alihfungsikan menjadi hanya sekadar tempat kencing dan tidur belaka. Patut dicurigai jangan-jangan majelis keagamaan macam MUI telah dialihfungsikan menjadi badan tukang gusur. Saya ingin mengatakan bisa jadi MUI di Bandung adalah “kakitangan” segerombolan massa yang pernah mencoreng sejarah perubahan sosial Tanah Air melalui aksi jalanan yang lebih mirip nomor serial sinetron televisi. Tapi, di negeri ini Anda tidak berwenang apalagi punya hak mencela majelis keagamaan macam MUI. Memang aneh, mereka kita yakini bukan Tuhan yang otomatis mahluk manusia yang berdaging dan bisa saja berdagang untuk mencari keuntungan. Ini sebenarnya secara tidak langsung memberikan kita peluang untuk mengkritiknya selama sepak terjang mereka atasnamakan sebagai manusia yang bisa saja salah. Kenyataan lapangan berbeda, kita sudah terlanjur khawatir mendapatkan kutukan ketika semua itu dilakukan oleh sebab mereka kita anggap sudah seperti raja-raja di masa silam yang dialiri titisan darah dewa-dewa. Seolah-olah kita ini sedang hidup di masa Socrates yang tengah berkeliling di pasar-pasar mencari cara mengubah pasar menjadi forum dialog, tapi takut jika dewa-dewa di puncak gunung Olimpus segera mengirimkan petir bagi kita sebagai sasarannya. Seandainya kisah Socrates tidak pernah terjadi di mana bukan ia yang diwajibkan meminum racun cemara, dan sebaliknya yang dijatuhi hukuman mati adalah pemuka dewan, barangkali kita tidak akan menemukan orang-orang bodoh dan gila seperti Don Quixote yang menggunakan kekuasaannya tanpa tahu resep pakai. Masalah kita hari ini, sebagian besar dari kita terlanjur menerima mereka dan dengan senang hati menganggap mereka layak menduduki jabatan strategis macam ini. Kata mereka, ini sudah takdir Tuhan!

20 Januari 2020

Ayam dan Pembebasan dari Layar Tv


1984


AKHIRNYA, saya merasa agak lega setelah berhasil menulis uraian film yang nyaris selesai, jika saja Banu tidak segera bangun dan menyergap saat sedang menghadapi tuts laptop yang entah mengapa demikian mengasyikan pagi ini. Kopi masih belum tandas sepenuhnya dan resensi yang saya tulis sudah mencapai sekitar 700 kata saat Banu mengambil alih pekerjaan ketikan melalui tangannya yang diacungkan di depan layar. Banu baru saja bangun dan layar sampai saat ini masih jadi perhatian utamanya selain setiap sudut rumah yang ingin ia jelajahi menggunakan kedua kakinya yang semakin hari menjadi terampil menopang seluruh bobot tubuhnya. Banu, sejak ia mulai bosan dengan sekeranjang mainannya, sudah kami antisipasi agar tidak terpikat gawai yang semakin hari sulit dilepaskan dari dunia orang dewasa. Hape cerdas yang hari demi hari kian membuat orang seperti anak ayam kehilangan induknya dan membuat otak semakin mirip manisan kismis, sudah kami akali agar Banu jauh dari benda pemecah umat itu. Alternatifnya, ia kami sediakan tontonan melalui televisi lagu-lagu anak yang didownload melalui youtube setiap kali gawai mengalihkan perhatiannya. Sampai sekarang, setelah sepulang dari Bulukumba, Banu lebih menyukai lagu ”kukuruyuk” yang memperlihatkan segerombolan ayam betina lari tungganglanggang menyigi rerumputan setelah dilepas dari kandangnya. Ia mulai bosan dengan lagu berbahasa Inggris yang berhasil mengajarkannya koor ”ha-ha” setiap kali seorang anak menyebut nama-nama bagian bis yang diakhiri kata ”wa-ha-ha”. Ayam menjadi binatang yang menarik minatnya setelah ia lebih suka menunjuk cicak ketika ia melihatnya menempel di langit-langit rumah. Setiap pagi, saat di Bulukumba, bersama kakeknya—yang dipanggil Ance—ia sudah berada di halaman di samping rumah yang menjadi ”bengkel” kerja Bapak. Di situ hampir selusin ayam katai berkeliaran bebas di sela-sela kayu dan besi-besi tua dan beragam alat pertukangan di samping tiang pancang tali-temali jemuran. Kandang yang berjejer mirip kerangkeng kecil sebagiannya diisi ayam katai lain yang masih dijinakkan. Sisanya adalah ayam bangkok berdaging keras jika ia dijadikan opor ayam. Melihat binatang kecil bergerak gesit dan berbulu emas dengan dua kaki yang seperti dipangkas membuat Banu terperangah dan mulai menyukainya. Sejak saat itu, setiap kali kami menyebut kata ayam, ia praktis mengacungkan tangannya sama seperti ketika penyabung ayam melatih leher ayam aduannya menjadi tegak berdiri. Gerakan itu berarti juga ia ingin segera berada di mana ayam-ayam itu hidup saban hari. Kata ayam praktis membuat Banu otomatis terdorong selalu ingin melihat ayam sebagai hiburan paginya. Otaknya seolah-olah sudah terprogram ketika kata itu disebut. Kebiasaan ini demikian ia sukai sampai akhirnya kami harus kembali ke rumah yang berarti tidak ada satu ekorpun ayam berkeliaraan. Satu-satunya hewan berjenis unggas hanyalah burung pipit dan jenis burungan bangau yang saban hari bertengger di kerumunan pohon putri malu yang sudah menyerupai tinggi pohon klengkeng Thailand di tanah lapang sebelah rumah. Konon tanah itu sudah dimiliki seseorang yang berdarah Thionghoa. Ayam tetangga yang dikandang sedemikian rupa di depan rumah sebelah juga sudah tidak kelihatan lagi. Besar kemungkinan ayam kampung itu sudah menjadi santapan di saat lebaran haji tempo hari. Toh jika ada sisa kehidupan unggas dari sana hanyalah kandang bambu berbentuk kubah yang tergeletak dibiarkan begitu saja. Di halaman rumah, satu-satunya tanda kehidupan diisi jejeran bunga asoka, daun kuping gajah, kamboja, lidah mertua, dan beberapa tanaman hias entah apa namanya yang menyerupai rumput jepang. Dua hari lalu, pohon cabai yang berhasil tumbuh setelah layu nyaris mati, membuahkan tiga biji cabai. Tentu saja saya seketika mengambil langkah strategis sesegera mungkin dengan mengguntingnya di malam hari dan menjadikannya penyedap ikan goreng dari pada mati membusuk seperti pernah dilakukan sebelumnya. Tanaman ditanam sendiri dan buahnya dinikmati sendiri bakal lebih subur kemudian hari jika tidak segera dihargai. Akibat tidak memelihara ayam, yang berarti kami tidak dapat diingatkan melalui kokoknya ketika pagi hari, kami ganti dengan kumpulan lagu-lagu anak berisi ayam-ayam tadi itu. Aneh memang hal ini tidak membuat kami seperti orang yang memiliki jiwa seni tinggi oleh karena kami lebih mirip peternak unggas yang tiap pagi mendengar ”kokok-kotek” ayam melalui tv. Tapi, strategi ini lumayan berhasil setelah sebelumnya membuat Banu mengacung-acungkan tangannya kepada ayam-ayam elektronik di layar kaca tv. Belakangan kami menyadari ia memiliki kemauan lebih dari sekadar melihat ayam dengan memukul-mukul layar tv menggunakan tongkat bekas gantungan bajunya. Jika Banu beralih perhatian dan ayam di layar kaca nampak berubah seperti hewan yang membosankan, satu-satunya pilihan selain siaran TVRI bagi kami adalah sinetron Indosiar yang entah mengapa menjadi tontonan yang mirip cara Orba mendoktrin warganya. Seperti kisah novel 1984 karangan George Orwell, kisah murahan Indosiar itu tayang nonstop tanpa jeda dari pagi hingga sore hari seolah-olah setiap orang menginginkannya. Ceritanya entah dicomot dari mana: pengalaman istri-istri yang diberlakukan semena-mena suami yang gemar berselingkuh dan pada akhirnya entah bagaimana caranya Dewi Fortuna bakal membuat istri teraniaya menjadi pemenang di akhir kisah. Takdir pada akhirnya, di kisah itu, akan berpihak selama perempuan teraniaya bersabar hingga kantung matanya mengering. Dengan cara klise kadang perselingkuhan suami diawali dengan cara yang sama di setiap episode, si suami bakal tanpa sengaja menabrak seorang wanita sambil menunduk-nunduk. Cara mereka ini membuat siapa pun tak perlu membaca kisah kisah cinta seperti Romeo dan Juliet atau Laila dan Majnun oleh sebab untuk jatuh cinta Anda tidak membutuhkan kegilaan. Seperti ditunjukkan perempuan pelakor di sinetron itu, Anda—jika perempuan—hanya butuh sedikit tekat dan keberanian terang-terangan merebut hati suami orang. Cara ini saya lihat cukup ampuh membuat hati istri suami yang Anda rebut melongos dan kalah. Tentu perilaku ini jarang kita temukan di dunia nyata, tapi jika Anda berminat coba saja. Siapa tahu Anda berhasil dan seketika menjadi kaya raya berkat harta benda suami yang berhasil Anda rebut. Sinetron ini saking sering diputar membuat saya semakin yakin bahwa perempuan-perempuan teraniaya memang ada di dunia nyata. Mereka sama tertindasnya dengan istri-istri di sinetron yang entah sampai kapan akan berakhir. Perbedaannya cuma satu, kekerasan perempuan teraniaya di dunia nyata tidak dimulai dari seorang pria yang tidak sengaja menabrak seorang perempuan cantik yang kebetulan mantan pacarnya, yang kebetulan baru saja berpisah dengan suaminya, yang kebetulan saling jatuh cinta, yang kebetulan secara sembunyi-sembunyi memadu kasih di kafe-kafe memanfaatkan waktu jam makan siang. Dan sialnya yang kebetulan saya saksikan sepenuh hati. Sudah bisa ditebak bagaimana kelak jalan ceritanya. Saya mengambil remote tv menyetel ulang lagu ”kukuruyuk” kesukaan Banu tanpa ayam, tanpa beban.

07 Januari 2020

Tak Ada Melati di Kota Ini



Tak Ada Yang Gila di Kota Ini
Film ini lolos mengikuti
 program kompetisi Short Film  

Sundance Film Festival 2020 
yang akan dihelat pada 23 Januari hingga 2 Februari 2020
di Park City, Utah, Amerika Serikat
.


NAMANYA lumayan aneh: Kembe (”e” dibaca mirip ”e” dalam Jahe). Dia tinggal di bekas bioskop tua. Asal usul Kembe misterius seperti asal mula namanya. Satu hal sering terlihat, dari jauh di dalam bioskop selain gubuk terpalnya adalah onggokan becak tua yang konon dipakai suaminya. Jarang ada orang berani masuk di dalam gedung bioskop setelah lama tidak terurus. Dindingnya kehitaman dilumuri lumut kering. Di atas, langit memenuhi atapnya yang bolong. Di halaman depannya, selain berdiri lampu jalan tanpa aliran listrik, tumbuh semak-semak belukar menjadi makanan kambing liar.

Kembe jarang keluar dari gubuknya. Toh jika ia keluar dia hanya terlihat memetik daun ubi yang tumbuh di sekitar halaman bioskop. Bagi yang pernah melihatnya, Kembe berkulit gelap dengan rambut panjang diikat sanggul. Tubuhnya kecil dengan raut muka seolah-olah seperti orang baru bangun tidur. Semasa saya SMA nama Kembe jadi bahan bully. Namanya dipakai untuk menggelari teman-teman yang kami kerjain.

Banyak kasak-kusuk beredar di seputar kehidupan Kembe. Ia kerap disebut gembel peminta-minta. Sering dituduh tidak waras. Bahkan beberapa orang menyebut ia suka menculik anak-anak.

Nasib Kembe masih tergolong mujur dibandingkan—sebut saja— Melati si gila, yang sering ditemui di beberapa sudut kota Bulukumba. Kembe setidaknya masih memiliki tempat tinggal, walaupun seadaanya di dalam bekas bioskop tua. Ia masih memiliki keluarga, meski jarang terlihat seperti apa penampakan mereka.

Melati sering terlihat mengenakan baju daster sambil mengacung-acungkan gayung ke udara. Seperti Kembe, kulitnya hitam dimakan panas matahari. Rambutnya urakan hitam kecoklatan menyiratkan bau tanah. Tidak ada yang tahu pasti di mana Melati tinggal (pernyataan ini sebenarnya kurang relevan bagi orang gila. Memangnya orang gila punya rumah tetap?).

Seperti galibnya orang gila, tidak ada cerita pasti mengapa Melati sampai kehilangan akal sehat. Melati, seperti sering dialami, tiba-tiba dapat ditemukan di pinggir jalan tanpa tahu dari mana dia datang, siapa keluarganya, bagaimana ia bisa gila, dan siapa yang menelantarkannya.

Orang gila seperti Melati, praktis menjadi orang yang kehilangan relasi sanak keluarga, perhatian, tanpa hak dan kewajiban, serta kehilangan asal usul.

Kehilangan akal sehat, dengan kata lain, membuat orang gila seperti Melati menjadi mahluk yang terputus dari semua variabel kehidupan.

Sering tersiar kabar, Melati menjadi bulan-bulanan tukang becak. Kadang terlihat becak terpakir tanpa tuannya di jalan sepi tanpa penerangan. Dia jadi objek perundungan seksual para tukang becak yang tidak mampu mengontrol berahinya.

Di pikiran pengayuh becak yang tidak seberapa penghasilannya itu, Melati sudah lebih dari cukup dari pada mencari perempuan sewaan. Melati tidak perlu dibayar, atau mesti dibooking melalui tawar menawar harga. Tukang becak tidak suka itu, dan para tukang becak yang seharian mengayuh di kota yang tidak sama sekali membutuhkannya, tidak menginginkan semua itu. Mereka hanya butuh sedikit nekat menyergap Melati di tengah jalan dan menidurinya di semak belukar, atau di tempat-tempat sepi tanpa penerangan.  

Orang gila seperti Melati, sebagai objek seksual diangkat Eka Kurniawan dalam cerpen Tidak Ada Orang Gila di Kota Ini—yang oleh Wregas Bhanuteja dialihwahanakan ke dalam film pendek berjudul sama dibintangi Oka Antara dan Sekar Sari (film ini berhasil memenangi anugerah film pendek terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2019).

Jalan cerita Tidak Ada Orang Gila di Kota Ini cukup membuat hati bergidik. Ibarat zaman Abad Pertengahan di Inggris, ketika suatu kota dihadapkan pada wabah berisikan orang-orang gila yang kemudian ditangkap dan dibuang jauh di tengah hutan. Alih-alih kota memberikan fasilitas, dan kehidupan lebih baik, para orang gila ini malah ditangkap dan dijual dijadikan bahan tontonan seks seperti pertunjukan sirkus di setiap musim liburan.

Cerita ini seperti disampaikan Wregas adalah kenyataan yang melukiskan kegelisahannya berkaitan dengan hirarki kekuasaan.

”Di mana orang yang memiliki power yang lebih, akan menindas orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat pribadinya. Yang di bawahnya, akan menindas yang di bawahnya lagi, dan yang paling tidak berdaya adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kuasa. Bahkan, kuasa atas dirinya sendiri,” sebagaimana dikutip dari mainmain.id.

Perkara kekuasaan, kegilaan, dan seksualitas, sudah jauh hari ditelusuri sosiolog Prancis Michel Foucault, yang menemukan adanya pertautan di antara ketiganya. Dengan kata lain, kegilaan dan seksualitas, seperti pendakuan Foucault adalah wacana kekuasaan yang senantiasa diatur, dikontrol, dan dikendalikan. Itu artinya kategori normal tidak normal, boleh tidak boleh, sehat tidak sehat dalam wacana seksualitas senantiasa merupakan produk pengetahuan kekuasaan.

Melati si gila, beruntung tidak hidup dalam imajinasi penceritaan Eka Kurniawan, atau seperti di era Abad Pertengahan. Walaupun demikian, ia masih tetap menjadi sasaran berahi lelaki sekelas tukang becak kere yang kebelet ingin melampiaskan hasratnya. Ia sering diculik dan disekap, dan ditidurkan di semak-semak atau di bangunan kosong tak berpenghuni. Seperti pendakuan Foucault, kekuasaan bisa berlaku di mana saja, ia produktif menciptakan korbannya. Untuk kasus ini, Melati-lah korbannya.



04 Januari 2020

Doa Seorang Penulis Medioker dan Kutukan Buku Pertama


Jejak Dunia yang Retak



DELAPAN tahun lalu saya menerbitkan buku pertama—sebenarnya ini karya borongan bersama empat orang lainnya. Jadi ini bukan murni karya saya. Buku itu diberi judul Jejak Dunia yang Retak. Kata pengantarnya ditulis Eko Prasetyo, penulis kiri kawakan spesialis ”orang miskin”. Penutupnya ditambal Dul Abdul Rahman, novelis asal Makassar spesialis ”dunia hantu-hantu lokal”.

Buku esai ini, di malam ia dilaunching, saya hadiahkan kepada pacar saya—sekarang istri saya. Rasa-rasanya malu sendiri jika membuka buku pemberian itu. Tepat di halaman pertamanya ditulis kata-kata puitis berwarna, alamak, pink! Kata-kata itu jika diukur dari waktu sekarang bernada sok-sok romantis dan norak. Saat kata-kata itu ditulis, jangan ditanya, siapa yang sadar ketika orang sedang kasmaran.

Buku itu dicetak di Jogja oleh penerbit indi Makassar, Carabaca . Sekali tempo dua atau tiga tahun pasca buku itu beredar, seseorang memfotonya di antara lapakan buku di Jogja. Sekarang buku itu ”habis” dengan cara entah bagaimana. Konon buku itu ada yang membeli, tapi saya lebih yakin buku itu lebih banyak habis dibagi-bagi atas dasar (((kemanusiaan))).

Seperti kata Dul Abdul Rahman di epilognya, kutukan penulis pemula ada pada buku kedua. Jika seorang penulis berhasil menerbitkan buku kedua berarti ia lolos dari kutukan betapa sulitnya menerbitkan buku kedua. Itu artinya, jika penulis sudah melahirkan karya keduanya, seperti seorang ibu melahirkan selusin anak, buku ketiga, keempat, kelima dan seterusnya bakal meluncur turun mulus dari rahim kepenulisannya.

Buku pertama diterbitkan bisa jadi keberuntungan pemula. Beruntung saat itu kenekatan menerbitkan buku sedang berada di titik puncak. Beruntung saat itu ada empat penulis lain mau berkolaborasi mengumpulkan tulisannya. Beruntung saat itu ada modal mencetaknya. Beruntung saat itu ada penerbit mau menerimanya. Dan lebih beruntung lagi ada yang rela membelinya.

Sekarang, kutukan itu masih berlaku. Selain Asran Salam yang sudah menelurkan dua karya setelahnya, kami berempat masih tepekur nyaman dibelai mantra kutukan buku pertama.

Tahun 2016 bernomor ISBN 9786028003421 sebuah buku berjudul Telinga Palsu terbit. Esai saya berjudul Antropologi Toilet ikut terpilih ke dalam 100 literasi pilihan Tempo Makassar ini. Tulisan diambil di rentang 2014-2016 yang terbit di Tempo Makassar itu dikurasi dan dieditori Irmawati Puan Mawar. Ini juga belum bisa disebut buku sendiri.

Di laptop sudah kebiasaan membuat folder nama khusus setiap tahun. Itu saya lakukan untuk mengklasifikasi tulisan saya selama setahun penuh. Itu artinya ada folder bertarikh 2020, 2019, 2018, sampai 2010, tahun pertama ketika saya mulai mendisiplinkan mengumpulkan tulisan. Tahun 2019 tercatat 85 esai saya tulis dan 65 yang berhasil saya selesaikan.  2020 entah berapa banyak esai mampu saya hasilkan.

Harapan saya di tahun ini tidak muluk-muluk: bisa salat awal waktu, dan terbebas keluar dari kutukan buku pertama.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...