01 Februari 2020

Bagaimana si Raja dan si Kaisar Berlagak Bodoh



Charles Darwin ( 1809–1882)
Seorang naturalis dan ahli geologi Inggris
Dikenal atas kontribusinya kepada teori evolusi


SAYA sedang membaca daftar 25 film terbaik 2019 dari blog khusus mengulas perkembangan film terbaru lalu seketika berpikir untuk menulis fenomena aneh bin ajaib beberapa minggu belakangan ini: Keraton Agung Sejagad dan Sunda Empire. Setelah awal tahun 2020 dibuat heran atas banjir Jakarta dan gempa di beberapa wilayah, tiba-tiba kita dibuat kaget, bagai semut bermunculan dari dalam tanah, muncul gerombolan orang-orang yang berseragam mirip tentara Spanyol di abad 18 dan mengaku-ngaku memiliki kekuasaan seluruh dunia. Kali pertama saya melihatnya di layar kaca, alih-alih membayangkan keberanian mereka seperti tentara kerajaan Inggris yang gagah berani mengacung-acungkan bedil ketika Eropa masih menjadi lahan konflik, mereka malah lebih nampak seperti seorang komandan Jepang di acara Benteng Takeshi yang memimpin pasukan kelas pekerja menggunakan helm pengaman dan tidak lama malah berakhir di sel penjara. Mereka yang dipimpin seorang raja dan ratu ini, memang seperti kerumunan semut yang dipimpin seorang raja dan ratu walaupun sarang mereka tidak disembunyikan di dalam tanah. Justru kerajaan yang mereka buat didekorasi menyerupai kerajaan sesungguhnya. Tidak jelas apa tugas mereka selain kepercayaan diri mengklaim sebagai kerajaan titisan dari masa silam. Beberapa tahun lalu saat Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden, beberapa kawan saya banyak memberikan alasan mengapa pria asal Solo ini pantas menjadi presiden. Satu di antara alasan itu berbunyi Jokowi sudah ditakdirkan seperti diramalkan dalam babad Jawa sebelum kedatangan sosok pemimpin maha adil dan jujur yang bakal mengambilalih kepemimpinan dunia. Saya bergidik kali pertama mendengarnya oleh karena keyakinan itu diceritakan dengan cara tertentu dan keberadaan  pemimpin-yang-sebenarnya itu menjadi tanda akhir dunia sebelum alam semesta betul-betul kiamat. Manusia memang senang membangun kisah dan menjadikannya sebagai narasi keyakinan. Beberapa waktu lalu, seolah-olah dunia memiliki bentuk baru setelah bermunculan sekelompok orang yang membalikkan temuan sains dengan mengatakan dunia ini seperti bidang datar. Narasi tentang dunia seperti ini di masa sekarang layak dikatakan bodoh oleh karena sains sudah membuktikan bahwa dunia tidak sesederhana dataran lapangan sepak takraw. Tapi apa boleh buat, orang-orang seperti ini senang dengan narasi bumi datar seperti sama senangnya mereka terhadap keyakinan di akhir dunia nanti seluruh bulu janggut mereka akan dikonversi menjadi surat kepemilikan bidadari di surga kelak. Bagi masyarakat suku-suku di sekitar sungai Amazon, seperti juga sapi bagi umat Hindu atau burung elang bagi Mesir kuno, meyakini ular sebagai hewan suci. Sejarah asal-usul kedatangan mereka di muka bumi diyakini berasal dari rahim ular. Di kawasan sekitar sungai Amazon, Anda tidak akan berani mengemukakan pemikiran Charles Darwin bahwa sesungguhnya kita berasal dari monyet, oleh sebab  narasi Anda tidak cocok dengan kehidupan mereka. Kera atau monyet lebih suka hidup di atas pepohonan yang tidak seperti ular-ular di sungai Amazon yang banyak berkembang biak di dalam sungai. Jadi narasi semacam sejarah asal-usul, kekuasaan, mitos, dan kerajaan, seperti masyarakat yang hidup di sekitar sungai Amazon sangat dekat dengan cara hidup mereka sehari-hari. Belakangan saya baru tahu, mengapa tetua suku-suku di sekitar sungai Amazon  meyakini ular sebagai nenek moyang mereka selain daripada bentuk sungai Amazon yang membentang panjang meliuk-liuk seperti ular raksasa. Dengan menceritakan ini saya tidak ingin memaksa Anda untuk mengatakan orang seperti Ki Ageng Rangga Sasana atau Totok Santoso Hadiningrat berasal dari ular atau hewan sejenisnya. Itu mustahil dapat dipecahkan oleh ahli genetika beratus-ratus tahun dari sekarang mengingat sama tidak masuk akalnya mengatakan bahwa dua orang ini seorang raja dan mampu mengendalikan nuklir dari jarak jauh. Di grup whatsapp yang beranggotakan da’i-da’i, seseorang dengan yakin mengirimkan beberapa alasan mengapa fenomena ini muncul: Pertama ia mengatakan ini ada hubungannya dengan motif ekonomi karena seragam ala militer yang mereka pakai tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan diperjualbelikan seperti pengepul sarang burung walet membelinya dari peternakan burung walet. Logika ini dapat kita gandakan ke hal-hal semisal mereka membutuhkan kartu anggota kekaisaran, iuran kelompok, rapat kerajaan, menyewa gedung kerajaan, perabotan dan souvenir kerajaan, pernak pernik senjata, sampai tidak lupa perhiasaan yang mencerminkan gemerlap perhiasaan raja-raja. Tidak mungkin semua ini mereka pinjam di museum terdekat kecuali semua itu dibeli menggunakan uang. Kedua, orang yang mengirimkan pesan singkat di WA menyebut fenomena ini berhubungan dengan keinginan masyarakat yang menghendaki status sosial dengan cara instan. Di Jakarta, sangat mudah menemukan ibu-ibu berkumpul di sudut-sudut kafe mal  berkacamata hitam sembari bercerita tentang kucing peliharaan mereka. Mereka ini tidak kalah mentereng dari artis-artis sosialita yang senang mengoleksi tas dan sepatu hingga membutuhkan lemari membumbung tinggi sampai ke puncak langit-langit rumah. Saya ingat figur Tikus dalam buku ditulis Roanne van Voorst ”Tempat Terbaik di Dunia”. Suatu waktu Roanne menginginkan dirinya berbelanja perlengkapan laptop ke mal dengan mengajak Tikus. ”Saya tidak layak masuk ke tempat seperti itu, itu tempat orang-orang kaya” begitu kurang lebih pengakuan Tikus karena merasa minder dan inferior dengan tempat mentereng seperti itu. Saya kadang juga seperti Tikus, kikuk ketika ingin memasuki gedung megah yang berisikan orang berpenampilan necis dan berdasi, seperti sama khawatirnya saya berbicara dengan orang seperti pemelihara kucing  itu tadi, atau artis pengoleksi tas-tas mahal. Kehidupan kadang tidak adil karena memelihara orang-orang yang status sosialnya ditentukan dari barang-barang yang dimilikinya dan mengucilkan orang-orang lapisan bawah yang dekil dan kumal. Karena ketidakadilan inilah anggota kerajaan Sunda Empire dan Solo Sejagad Raya menciptakan narasinya sendiri dengan membuat simbol-simbol sosial yang menandakan suatu kekuasaan tertentu. Dalam suatu foto saya melihat Ki Ageng Sasana—”penguasa” Sunda Empire—nampak pede menggunakan seragam hijau pekat mirip seorang jenderal. Satu-satunya saya ingat dari itu adalah warna baret yang ia kenakan menyerupai tentara keamanan PBB yang pernah saya saksikan dalam film Dunia Sophie, dan sosok Wiranto ketika Soeharto masih sehat wal alfiat menjadi presiden orang tua kita. Di belakang Soeharto, di seragam Wiranto, tersemat di dada kirinya kotak-kotak mini seolah-olah menyerupai bendera negara-bangsa yang dijejerkan seperti saat kita melihatnya di sampul atlas saat dulu kala. Saya yakin pangkat jasa perang dipakai Ki Ageng Sasana seperti ditunjukkan Wiranto ketika menjadi panglima ABRI, adalah palsu belaka yang bisa didapatkan di pasar loak. Tapi apa boleh buat, ia mendaku mampu mengendalikan kekuasaan dunia dan banyak yang memercayainya sebagai sosok dengan status sosial tertentu. Seorang filsuf pernah mengatakan sudah tabiat manusia menyenangi masa lampau sampai ia patut disebut mahluk aquarian. Saat ini sangat sulit menemukan orang yang memiliki hobi mengoleksi prangko beralbum-album selain karena prangko sudah tidak diciptakan lagi, dan juga dunia lebih mudah terhubung melalui surat elektronik. Banyak orang setelah terbuai iklan suka menganti androidnya menjadi jauh lebih canggih karena berpikir dunia akan terus maju ke depan meninggalkan masa lalu. Orang seperti ini tidak seperti para pengoleksi prangko yang menyimpan kenangan masa lalunya dengan cara mengoleksinya seperti museum menyimpan benda-benda purba. Para pengikut kekaisaran macam Sunda Empire dan Solo Sejagad Raya dikatakan pengirim pesan WA tadi seperti pengoleksi perangko yang merindukan suasana kerajaan seperti masa lalu. Dari poin ketiga ini membuat saya bertanya-tanya, apakah sebegitu romantiskah cara kita berpikir untuk menyukai dan menghendaki kehidupan ini berputar ke masa lalu? Kalau memang demikian, mengapa kita tidak sekalian saja mengembalikan masa ini sampai di zaman Nabi Nuh, tepat saat ia selesai membuat perahu raksasa, dan membiarkan orang semacam ini tenggelam saat banjir bandang tiba sebelum meraka merasuki pikiran kita di layar kaca? Saya dibuat seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa ketika menonton sesi Ki Ageng Rangga Sasana berbicara di forum ILC mengenai Sunda Empire yang diklaimnya sudah berdiri sebelum Firaun membangun piramid dan mati dikubur di dalamnya. Anhar Gonggong, sejarawan yang ditangkap kamera saat Rangga Sasana berbicara hanya semringah tahu bahwa ocehan Rangga ini tak lebih dari bualan belaka. Roy Suryo yang sempat menyangga sejarah PBB diceritakan Rangga Sasana disebut tidak paham sejarah. Perbedaan orang bodoh dan orang cerdas dilihat dari betapa seringnya orang bodoh mengatakan semua hal yang tidak ia ketahui dibanding orang cerdas, yang menyampaikan sedikit dari yang ia ketahui. Terlalu berlebihan mengatakan raja gadungan ini bodoh kecuali di saat ia sedang berbicara seolah-olah yang ia sampaikan merupakan bagian dari sejarah yang hilang yang semua itu membutuhkan kecerdasan tersendiri untuk berkibul. Dengan kata lain, Rangga Sasana sedang memeragakan prinsip kebohongan bahwa satu kebohongan hanya dapat diterima dengan benar jika ia mencipatakan kebohongan yang lain. Itu artinya, di sepanjang ia kita berikan waktu berbicara mengenai keyakinannya, sama artinya kita memberikan ia kesempatan untuk menyusun mata rantai kebohongan. Nahasnya, kebohongan kadang sering kali mengembangbiakkan kebodohan melalui cara yang tidak pernah kita sadari, seperti cara kita mendengar bualan dungu semacam ini tanpa menurunkan mereka dari panggung pemberitaan. 

--sudah terbit di Kalaliterasi dengan judul Bagaimana si Raja dan si Kaisar Membodohi Kita

21 Januari 2020

Kebodohan itu Abadi



Albert Einstein. 
Fisikawan pengembang Teori Relativitas.
Kata Einstein Perbedaan genius dan kebodohan adalah
kegeniusan itu terbatas 


SETELAH mendapatkan kabar kemenangan AC Milan atas Udinese akhir pekan kemarin, kesenangan saya jadi terancam dan diringsek kabar dari Bandung ini. Mesti saya akui, Milan kian hari semakin surut dari hati saya, walaupun memang sebenarnya masih ada sebagian diri ini yang ingin diakui sebagai milanisti. Tapi tetap saja, sumber masalah pagi ini bukan berasal dari nasib Milan yang angin-anginan. Rasa-rasanya saya ogah saja membaca isinya. Untuk kasus ini, membaca headline judul saja daripada isinya sudah lebih dari cukup untuk mengatakan ada masalah kian akut dari cara orang memahami dan mempraktikkan agama. Tapi yang namanya manusia yang tertarik kepada sesuatu yang belum dijangkau kepalanya, mendorong saya menggerakkan jempol membuka tautan ini. Tidak membutuhkan waktu lama jaringan otak saya menangkap inti pesan Tirto ini, kecuali saya merasa dibawa kembali kepada masa-masa ketika agama lebih banyak menginspirasi orang untuk saling membantu dan menopang. Saya pernah membaca suatu ulasan As Laksana bahwasannya golongan pertama dan paling cepat menempuh perjalanan menuju neraka adalah orang yang memelihara kebodohan dengan segenap jiwanya. Membaca berita ini saya bisa langsung saja menambah kedalam daftar “orang-orang yang cepat masuk neraka” kepada pengambil kebijakan macam ini di nomor urut kedua. Orang macam ini bukan saja bodoh, tapi sekaligus menunjukkan bahwa kebodohan mereka telah menodai bagaimana cara mereka menjalankan keimanan. Saya terkekeh, tidak bisa dibayangkan fungsi “lazimnya” masjid di batok kepala mereka. Itu artinya masjid hanya bisa dipakai sekadar salat berjamaah belaka, dan jika ada tugas lain dari itu barangkali hanya bertugas menyediakan acara buka puasa bersama jika musim Ramadan datang. Toh, jika ada fungsi masjid menyangkut “hidup-mati” seperti ini, tiada lain hanya berupa pengumuman di subuh hari bahwa seorang hamba Allah bernama Fulan bin Fulan telah meninggal dunia akibat infeksi saluran kencing. Kadang saya berpikir jika revolusi sosial benar-benar terjadi, orang semacam inilah yang pertama-tama digantung oleh massa rakyat di lapangan alun-alun. Sesekali mungkin ada yang melemparkan batu atau tai untuk memastikan, kelak mereka jika masuk neraka dalam keadaan bau dan berlumuran tai. Coba bayangkan, selain bergelimang dosa orang macam ini malah masuk neraka tanpa mandi sekalipun. Anda barangkali masih mengingat mengenai sekelompok orang yang salat di jalan terbuka sementara masjid mereka paksa alihfungsikan menjadi hanya sekadar tempat kencing dan tidur belaka. Patut dicurigai jangan-jangan majelis keagamaan macam MUI telah dialihfungsikan menjadi badan tukang gusur. Saya ingin mengatakan bisa jadi MUI di Bandung adalah “kakitangan” segerombolan massa yang pernah mencoreng sejarah perubahan sosial Tanah Air melalui aksi jalanan yang lebih mirip nomor serial sinetron televisi. Tapi, di negeri ini Anda tidak berwenang apalagi punya hak mencela majelis keagamaan macam MUI. Memang aneh, mereka kita yakini bukan Tuhan yang otomatis mahluk manusia yang berdaging dan bisa saja berdagang untuk mencari keuntungan. Ini sebenarnya secara tidak langsung memberikan kita peluang untuk mengkritiknya selama sepak terjang mereka atasnamakan sebagai manusia yang bisa saja salah. Kenyataan lapangan berbeda, kita sudah terlanjur khawatir mendapatkan kutukan ketika semua itu dilakukan oleh sebab mereka kita anggap sudah seperti raja-raja di masa silam yang dialiri titisan darah dewa-dewa. Seolah-olah kita ini sedang hidup di masa Socrates yang tengah berkeliling di pasar-pasar mencari cara mengubah pasar menjadi forum dialog, tapi takut jika dewa-dewa di puncak gunung Olimpus segera mengirimkan petir bagi kita sebagai sasarannya. Seandainya kisah Socrates tidak pernah terjadi di mana bukan ia yang diwajibkan meminum racun cemara, dan sebaliknya yang dijatuhi hukuman mati adalah pemuka dewan, barangkali kita tidak akan menemukan orang-orang bodoh dan gila seperti Don Quixote yang menggunakan kekuasaannya tanpa tahu resep pakai. Masalah kita hari ini, sebagian besar dari kita terlanjur menerima mereka dan dengan senang hati menganggap mereka layak menduduki jabatan strategis macam ini. Kata mereka, ini sudah takdir Tuhan!

20 Januari 2020

Ayam dan Pembebasan dari Layar Tv


1984


AKHIRNYA, saya merasa agak lega setelah berhasil menulis uraian film yang nyaris selesai, jika saja Banu tidak segera bangun dan menyergap saat sedang menghadapi tuts laptop yang entah mengapa demikian mengasyikan pagi ini. Kopi masih belum tandas sepenuhnya dan resensi yang saya tulis sudah mencapai sekitar 700 kata saat Banu mengambil alih pekerjaan ketikan melalui tangannya yang diacungkan di depan layar. Banu baru saja bangun dan layar sampai saat ini masih jadi perhatian utamanya selain setiap sudut rumah yang ingin ia jelajahi menggunakan kedua kakinya yang semakin hari menjadi terampil menopang seluruh bobot tubuhnya. Banu, sejak ia mulai bosan dengan sekeranjang mainannya, sudah kami antisipasi agar tidak terpikat gawai yang semakin hari sulit dilepaskan dari dunia orang dewasa. Hape cerdas yang hari demi hari kian membuat orang seperti anak ayam kehilangan induknya dan membuat otak semakin mirip manisan kismis, sudah kami akali agar Banu jauh dari benda pemecah umat itu. Alternatifnya, ia kami sediakan tontonan melalui televisi lagu-lagu anak yang didownload melalui youtube setiap kali gawai mengalihkan perhatiannya. Sampai sekarang, setelah sepulang dari Bulukumba, Banu lebih menyukai lagu ”kukuruyuk” yang memperlihatkan segerombolan ayam betina lari tungganglanggang menyigi rerumputan setelah dilepas dari kandangnya. Ia mulai bosan dengan lagu berbahasa Inggris yang berhasil mengajarkannya koor ”ha-ha” setiap kali seorang anak menyebut nama-nama bagian bis yang diakhiri kata ”wa-ha-ha”. Ayam menjadi binatang yang menarik minatnya setelah ia lebih suka menunjuk cicak ketika ia melihatnya menempel di langit-langit rumah. Setiap pagi, saat di Bulukumba, bersama kakeknya—yang dipanggil Ance—ia sudah berada di halaman di samping rumah yang menjadi ”bengkel” kerja Bapak. Di situ hampir selusin ayam katai berkeliaran bebas di sela-sela kayu dan besi-besi tua dan beragam alat pertukangan di samping tiang pancang tali-temali jemuran. Kandang yang berjejer mirip kerangkeng kecil sebagiannya diisi ayam katai lain yang masih dijinakkan. Sisanya adalah ayam bangkok berdaging keras jika ia dijadikan opor ayam. Melihat binatang kecil bergerak gesit dan berbulu emas dengan dua kaki yang seperti dipangkas membuat Banu terperangah dan mulai menyukainya. Sejak saat itu, setiap kali kami menyebut kata ayam, ia praktis mengacungkan tangannya sama seperti ketika penyabung ayam melatih leher ayam aduannya menjadi tegak berdiri. Gerakan itu berarti juga ia ingin segera berada di mana ayam-ayam itu hidup saban hari. Kata ayam praktis membuat Banu otomatis terdorong selalu ingin melihat ayam sebagai hiburan paginya. Otaknya seolah-olah sudah terprogram ketika kata itu disebut. Kebiasaan ini demikian ia sukai sampai akhirnya kami harus kembali ke rumah yang berarti tidak ada satu ekorpun ayam berkeliaraan. Satu-satunya hewan berjenis unggas hanyalah burung pipit dan jenis burungan bangau yang saban hari bertengger di kerumunan pohon putri malu yang sudah menyerupai tinggi pohon klengkeng Thailand di tanah lapang sebelah rumah. Konon tanah itu sudah dimiliki seseorang yang berdarah Thionghoa. Ayam tetangga yang dikandang sedemikian rupa di depan rumah sebelah juga sudah tidak kelihatan lagi. Besar kemungkinan ayam kampung itu sudah menjadi santapan di saat lebaran haji tempo hari. Toh jika ada sisa kehidupan unggas dari sana hanyalah kandang bambu berbentuk kubah yang tergeletak dibiarkan begitu saja. Di halaman rumah, satu-satunya tanda kehidupan diisi jejeran bunga asoka, daun kuping gajah, kamboja, lidah mertua, dan beberapa tanaman hias entah apa namanya yang menyerupai rumput jepang. Dua hari lalu, pohon cabai yang berhasil tumbuh setelah layu nyaris mati, membuahkan tiga biji cabai. Tentu saja saya seketika mengambil langkah strategis sesegera mungkin dengan mengguntingnya di malam hari dan menjadikannya penyedap ikan goreng dari pada mati membusuk seperti pernah dilakukan sebelumnya. Tanaman ditanam sendiri dan buahnya dinikmati sendiri bakal lebih subur kemudian hari jika tidak segera dihargai. Akibat tidak memelihara ayam, yang berarti kami tidak dapat diingatkan melalui kokoknya ketika pagi hari, kami ganti dengan kumpulan lagu-lagu anak berisi ayam-ayam tadi itu. Aneh memang hal ini tidak membuat kami seperti orang yang memiliki jiwa seni tinggi oleh karena kami lebih mirip peternak unggas yang tiap pagi mendengar ”kokok-kotek” ayam melalui tv. Tapi, strategi ini lumayan berhasil setelah sebelumnya membuat Banu mengacung-acungkan tangannya kepada ayam-ayam elektronik di layar kaca tv. Belakangan kami menyadari ia memiliki kemauan lebih dari sekadar melihat ayam dengan memukul-mukul layar tv menggunakan tongkat bekas gantungan bajunya. Jika Banu beralih perhatian dan ayam di layar kaca nampak berubah seperti hewan yang membosankan, satu-satunya pilihan selain siaran TVRI bagi kami adalah sinetron Indosiar yang entah mengapa menjadi tontonan yang mirip cara Orba mendoktrin warganya. Seperti kisah novel 1984 karangan George Orwell, kisah murahan Indosiar itu tayang nonstop tanpa jeda dari pagi hingga sore hari seolah-olah setiap orang menginginkannya. Ceritanya entah dicomot dari mana: pengalaman istri-istri yang diberlakukan semena-mena suami yang gemar berselingkuh dan pada akhirnya entah bagaimana caranya Dewi Fortuna bakal membuat istri teraniaya menjadi pemenang di akhir kisah. Takdir pada akhirnya, di kisah itu, akan berpihak selama perempuan teraniaya bersabar hingga kantung matanya mengering. Dengan cara klise kadang perselingkuhan suami diawali dengan cara yang sama di setiap episode, si suami bakal tanpa sengaja menabrak seorang wanita sambil menunduk-nunduk. Cara mereka ini membuat siapa pun tak perlu membaca kisah kisah cinta seperti Romeo dan Juliet atau Laila dan Majnun oleh sebab untuk jatuh cinta Anda tidak membutuhkan kegilaan. Seperti ditunjukkan perempuan pelakor di sinetron itu, Anda—jika perempuan—hanya butuh sedikit tekat dan keberanian terang-terangan merebut hati suami orang. Cara ini saya lihat cukup ampuh membuat hati istri suami yang Anda rebut melongos dan kalah. Tentu perilaku ini jarang kita temukan di dunia nyata, tapi jika Anda berminat coba saja. Siapa tahu Anda berhasil dan seketika menjadi kaya raya berkat harta benda suami yang berhasil Anda rebut. Sinetron ini saking sering diputar membuat saya semakin yakin bahwa perempuan-perempuan teraniaya memang ada di dunia nyata. Mereka sama tertindasnya dengan istri-istri di sinetron yang entah sampai kapan akan berakhir. Perbedaannya cuma satu, kekerasan perempuan teraniaya di dunia nyata tidak dimulai dari seorang pria yang tidak sengaja menabrak seorang perempuan cantik yang kebetulan mantan pacarnya, yang kebetulan baru saja berpisah dengan suaminya, yang kebetulan saling jatuh cinta, yang kebetulan secara sembunyi-sembunyi memadu kasih di kafe-kafe memanfaatkan waktu jam makan siang. Dan sialnya yang kebetulan saya saksikan sepenuh hati. Sudah bisa ditebak bagaimana kelak jalan ceritanya. Saya mengambil remote tv menyetel ulang lagu ”kukuruyuk” kesukaan Banu tanpa ayam, tanpa beban.

07 Januari 2020

Tak Ada Melati di Kota Ini



Tak Ada Yang Gila di Kota Ini
Film ini lolos mengikuti
 program kompetisi Short Film  

Sundance Film Festival 2020 
yang akan dihelat pada 23 Januari hingga 2 Februari 2020
di Park City, Utah, Amerika Serikat
.


NAMANYA lumayan aneh: Kembe (”e” dibaca mirip ”e” dalam Jahe). Dia tinggal di bekas bioskop tua. Asal usul Kembe misterius seperti asal mula namanya. Satu hal sering terlihat, dari jauh di dalam bioskop selain gubuk terpalnya adalah onggokan becak tua yang konon dipakai suaminya. Jarang ada orang berani masuk di dalam gedung bioskop setelah lama tidak terurus. Dindingnya kehitaman dilumuri lumut kering. Di atas, langit memenuhi atapnya yang bolong. Di halaman depannya, selain berdiri lampu jalan tanpa aliran listrik, tumbuh semak-semak belukar menjadi makanan kambing liar.

Kembe jarang keluar dari gubuknya. Toh jika ia keluar dia hanya terlihat memetik daun ubi yang tumbuh di sekitar halaman bioskop. Bagi yang pernah melihatnya, Kembe berkulit gelap dengan rambut panjang diikat sanggul. Tubuhnya kecil dengan raut muka seolah-olah seperti orang baru bangun tidur. Semasa saya SMA nama Kembe jadi bahan bully. Namanya dipakai untuk menggelari teman-teman yang kami kerjain.

Banyak kasak-kusuk beredar di seputar kehidupan Kembe. Ia kerap disebut gembel peminta-minta. Sering dituduh tidak waras. Bahkan beberapa orang menyebut ia suka menculik anak-anak.

Nasib Kembe masih tergolong mujur dibandingkan—sebut saja— Melati si gila, yang sering ditemui di beberapa sudut kota Bulukumba. Kembe setidaknya masih memiliki tempat tinggal, walaupun seadaanya di dalam bekas bioskop tua. Ia masih memiliki keluarga, meski jarang terlihat seperti apa penampakan mereka.

Melati sering terlihat mengenakan baju daster sambil mengacung-acungkan gayung ke udara. Seperti Kembe, kulitnya hitam dimakan panas matahari. Rambutnya urakan hitam kecoklatan menyiratkan bau tanah. Tidak ada yang tahu pasti di mana Melati tinggal (pernyataan ini sebenarnya kurang relevan bagi orang gila. Memangnya orang gila punya rumah tetap?).

Seperti galibnya orang gila, tidak ada cerita pasti mengapa Melati sampai kehilangan akal sehat. Melati, seperti sering dialami, tiba-tiba dapat ditemukan di pinggir jalan tanpa tahu dari mana dia datang, siapa keluarganya, bagaimana ia bisa gila, dan siapa yang menelantarkannya.

Orang gila seperti Melati, praktis menjadi orang yang kehilangan relasi sanak keluarga, perhatian, tanpa hak dan kewajiban, serta kehilangan asal usul.

Kehilangan akal sehat, dengan kata lain, membuat orang gila seperti Melati menjadi mahluk yang terputus dari semua variabel kehidupan.

Sering tersiar kabar, Melati menjadi bulan-bulanan tukang becak. Kadang terlihat becak terpakir tanpa tuannya di jalan sepi tanpa penerangan. Dia jadi objek perundungan seksual para tukang becak yang tidak mampu mengontrol berahinya.

Di pikiran pengayuh becak yang tidak seberapa penghasilannya itu, Melati sudah lebih dari cukup dari pada mencari perempuan sewaan. Melati tidak perlu dibayar, atau mesti dibooking melalui tawar menawar harga. Tukang becak tidak suka itu, dan para tukang becak yang seharian mengayuh di kota yang tidak sama sekali membutuhkannya, tidak menginginkan semua itu. Mereka hanya butuh sedikit nekat menyergap Melati di tengah jalan dan menidurinya di semak belukar, atau di tempat-tempat sepi tanpa penerangan.  

Orang gila seperti Melati, sebagai objek seksual diangkat Eka Kurniawan dalam cerpen Tidak Ada Orang Gila di Kota Ini—yang oleh Wregas Bhanuteja dialihwahanakan ke dalam film pendek berjudul sama dibintangi Oka Antara dan Sekar Sari (film ini berhasil memenangi anugerah film pendek terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2019).

Jalan cerita Tidak Ada Orang Gila di Kota Ini cukup membuat hati bergidik. Ibarat zaman Abad Pertengahan di Inggris, ketika suatu kota dihadapkan pada wabah berisikan orang-orang gila yang kemudian ditangkap dan dibuang jauh di tengah hutan. Alih-alih kota memberikan fasilitas, dan kehidupan lebih baik, para orang gila ini malah ditangkap dan dijual dijadikan bahan tontonan seks seperti pertunjukan sirkus di setiap musim liburan.

Cerita ini seperti disampaikan Wregas adalah kenyataan yang melukiskan kegelisahannya berkaitan dengan hirarki kekuasaan.

”Di mana orang yang memiliki power yang lebih, akan menindas orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat pribadinya. Yang di bawahnya, akan menindas yang di bawahnya lagi, dan yang paling tidak berdaya adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kuasa. Bahkan, kuasa atas dirinya sendiri,” sebagaimana dikutip dari mainmain.id.

Perkara kekuasaan, kegilaan, dan seksualitas, sudah jauh hari ditelusuri sosiolog Prancis Michel Foucault, yang menemukan adanya pertautan di antara ketiganya. Dengan kata lain, kegilaan dan seksualitas, seperti pendakuan Foucault adalah wacana kekuasaan yang senantiasa diatur, dikontrol, dan dikendalikan. Itu artinya kategori normal tidak normal, boleh tidak boleh, sehat tidak sehat dalam wacana seksualitas senantiasa merupakan produk pengetahuan kekuasaan.

Melati si gila, beruntung tidak hidup dalam imajinasi penceritaan Eka Kurniawan, atau seperti di era Abad Pertengahan. Walaupun demikian, ia masih tetap menjadi sasaran berahi lelaki sekelas tukang becak kere yang kebelet ingin melampiaskan hasratnya. Ia sering diculik dan disekap, dan ditidurkan di semak-semak atau di bangunan kosong tak berpenghuni. Seperti pendakuan Foucault, kekuasaan bisa berlaku di mana saja, ia produktif menciptakan korbannya. Untuk kasus ini, Melati-lah korbannya.



04 Januari 2020

Doa Seorang Penulis Medioker dan Kutukan Buku Pertama


Jejak Dunia yang Retak



DELAPAN tahun lalu saya menerbitkan buku pertama—sebenarnya ini karya borongan bersama empat orang lainnya. Jadi ini bukan murni karya saya. Buku itu diberi judul Jejak Dunia yang Retak. Kata pengantarnya ditulis Eko Prasetyo, penulis kiri kawakan spesialis ”orang miskin”. Penutupnya ditambal Dul Abdul Rahman, novelis asal Makassar spesialis ”dunia hantu-hantu lokal”.

Buku esai ini, di malam ia dilaunching, saya hadiahkan kepada pacar saya—sekarang istri saya. Rasa-rasanya malu sendiri jika membuka buku pemberian itu. Tepat di halaman pertamanya ditulis kata-kata puitis berwarna, alamak, pink! Kata-kata itu jika diukur dari waktu sekarang bernada sok-sok romantis dan norak. Saat kata-kata itu ditulis, jangan ditanya, siapa yang sadar ketika orang sedang kasmaran.

Buku itu dicetak di Jogja oleh penerbit indi Makassar, Carabaca . Sekali tempo dua atau tiga tahun pasca buku itu beredar, seseorang memfotonya di antara lapakan buku di Jogja. Sekarang buku itu ”habis” dengan cara entah bagaimana. Konon buku itu ada yang membeli, tapi saya lebih yakin buku itu lebih banyak habis dibagi-bagi atas dasar (((kemanusiaan))).

Seperti kata Dul Abdul Rahman di epilognya, kutukan penulis pemula ada pada buku kedua. Jika seorang penulis berhasil menerbitkan buku kedua berarti ia lolos dari kutukan betapa sulitnya menerbitkan buku kedua. Itu artinya, jika penulis sudah melahirkan karya keduanya, seperti seorang ibu melahirkan selusin anak, buku ketiga, keempat, kelima dan seterusnya bakal meluncur turun mulus dari rahim kepenulisannya.

Buku pertama diterbitkan bisa jadi keberuntungan pemula. Beruntung saat itu kenekatan menerbitkan buku sedang berada di titik puncak. Beruntung saat itu ada empat penulis lain mau berkolaborasi mengumpulkan tulisannya. Beruntung saat itu ada modal mencetaknya. Beruntung saat itu ada penerbit mau menerimanya. Dan lebih beruntung lagi ada yang rela membelinya.

Sekarang, kutukan itu masih berlaku. Selain Asran Salam yang sudah menelurkan dua karya setelahnya, kami berempat masih tepekur nyaman dibelai mantra kutukan buku pertama.

Tahun 2016 bernomor ISBN 9786028003421 sebuah buku berjudul Telinga Palsu terbit. Esai saya berjudul Antropologi Toilet ikut terpilih ke dalam 100 literasi pilihan Tempo Makassar ini. Tulisan diambil di rentang 2014-2016 yang terbit di Tempo Makassar itu dikurasi dan dieditori Irmawati Puan Mawar. Ini juga belum bisa disebut buku sendiri.

Di laptop sudah kebiasaan membuat folder nama khusus setiap tahun. Itu saya lakukan untuk mengklasifikasi tulisan saya selama setahun penuh. Itu artinya ada folder bertarikh 2020, 2019, 2018, sampai 2010, tahun pertama ketika saya mulai mendisiplinkan mengumpulkan tulisan. Tahun 2019 tercatat 85 esai saya tulis dan 65 yang berhasil saya selesaikan.  2020 entah berapa banyak esai mampu saya hasilkan.

Harapan saya di tahun ini tidak muluk-muluk: bisa salat awal waktu, dan terbebas keluar dari kutukan buku pertama.

23 Desember 2019

Agnes, Bissu, dan Rezim Pengetahuan




Seorang Bissu sedang
melakukan ritual adat lengkap
menggunakan pakaian adatnya



DI BULUKUMBA, Agnes menjadi nama favorit di lingkungan waria. Sudah menjadi kebiasan para waria mencantol nama-nama artis beken sebagai tanda ”hijrah” mereka.

”Hijrah” di lingkungan waria bukan penanda perubahan di bidang agama, melainkan fenomena khas para waria ketika memilih hidup atau berpenampilan perempuan dengan mengubah identitas sehari-hari menggunakan nama-nama perempuan. Kebetulan, demi sensasi, nama-nama artis diambil sebagai pilihannya.

Selain Agnes, jangan tertawakan jika Anda menemukan seorang waria bernama Santi, atau nama-nama semisal Bela, Syahrini, Claudia, atau bahkan Manohara, sementara tak satupun paras mereka menyerupai artis bersangkutan.

Pemilihan nama ini bukan tanpa sebab. Kadang dipilih berdasarkan ketenaran artis terkait. Manohara misalnya, banyak dipilih berkat pernah mengguncang dunia hiburan. Selain cantik, Manohara dipandang mewakili sisi ”seksi” yang kerap menjadi tingkah dandan para waria.

Agnes, saya duga menjadi beken dipakai para waria setelah dia sukses membintangi Pernikahan Dini, sinetron kisaran tahun 2000-an dibintangi bersama artis awet muda, Sahrul. Sebab lain Agnes dipakai sebagai nama pergaulan para waria, karena Agnes artis segudang prestasi yang cukup mewakili spirit ”pemberontakan” kaum waria.

Umumnya di Bulukumba, waria lahir dari keluarga kelas bawah. Jadi bisa dipahami mengapa Agnes dipilih mewakili nama mereka. Kecenderungan jiwa feminin dalam diri waria sulit dimengerti komunitas terdekat mereka, yakni keluarga. Itulah sebabnya, sebelum hijrah tidak sedikit waria mengalami konflik dalam lingkungan mereka sendiri. Dalam konteks ini keadaan demikian sudah bisa menjelaskan pemberontakan apa yang dilakukan para waria ketika memilih meninggalkan keluarga dan memulai hidup mandiri bersama komunitas mereka.

Di dunia waria, terkhusus di Bulukumba, para waria mengembangkan pola hidup khas. Mereka menciptakan komunitas mandiri. Menciptakan dan menggunakan bahasa pergaulan sendiri yang unik dan terdengar aneh. Bekerja membuka salon-salon. Bekerja menjadi tukang make-up perkawinan, sering menjadi biduan di panggung-panggung pernikahan, dan tidak jarang menjadi ”kupu-kupu” malam.

Pola kehidupan di atas pelan tapi pasti menjadi kebudayaan tersendiri. Sebagai kaum marginal, pola ini secara tidak langsung menciptakan keadaan psikologi yang kokoh berkat saling menopang satu sama lain. Mereka sering terlihat saling mengunjungi berkumpul bersama di hari-hari tertentu. Sesekali mereka menggelar  festival sendiri sebagai ajang sosialisasi. Keadaan ini mendorong suatu eksosistem dan strategi adaptasi bagi kaum waria menghadapi stigma buruk di masyarakat.

Dalam konteks sosial, waria sering mendapatkan perundungan. Di Bulukumba, mereka dianggap sumber tulah. Nasib sial bakal dialami seseorang ketika bergaul bersama waria. Mereka sering dipandang jijik dan rendah bagi sebagian orang.

Tapi, pernah ada masa bagi sebagian anak muda SMA memiliki hubungan khusus dengan seorang waria. Bagi anak SMA semacam ini waria tidak sama sekali berbahaya. Mereka malah dianggap sebagai pihak yang mendatangkan untung. Itulah sebab, sering kali para waria di Bulukumba memiliki ”anak kesayangan” yang ia perhatikan layaknya seorang kekasih.

Bagi anak SMA yang ”berpacaran” dengan seorang waria, perhatian dari mereka sering ditranformasikan menjadi keuntungan membeli barang-barang dan diberikan uang saku.

Sekarang, dari amatan sederhana saya, apa yang saya tuliskan di atas nampak sedikit banyak berubah. Terutama ketika Bulukumba mencanangkan perda syariat Islam beberapa dekade lalu--mengakibatkan tidak ada lagi panggung ”elekton” yang dinyanyikan biduan waria.

Apalagi seiring diberlakukan perda Islam, Bulukumba menjadi lahan subur pertumbuhan kelompok Islam tertentu yang memiliki pandangan kemanusiaan monolitik mendeskreditkan keberadaan mereka.

Di tambah lagi, ada beberapa spot publik di Bulukumba yang berubah yang otomatis mengubah pola interaksi dan pergaulan para waria. Di tempat-tempat yang dahulu banyak ditemukan waria, sekarang berubah menjadi ruang publik yang lebih terbuka dan sepi.

Toh sekarang, ketika banyak anak-anak muda mencari penghidupan menjadi penata rias profesional—lengkap dengan alat make up berharga mahal, kursus kecantikan, seminar, dan komunitas penata rias—mempengaruhi ladang pencarian para waria yang lebih dahulu bekerja sebagai penata rias. Praktis pengaruh ini ikut menyudutkan waria hanya menjadi pekerja salon sebagai tukang cukur belaka.



DALAM arena sastra, eksistensi perempuan bertubuh lelaki apik dinarasikan Pepy Al Bayqunie melalui Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki. Novel ini mengetengahkan pergolakan batin seorang bissu bernama Saidi. Ia sejak kecil mengalami transformasi pergolakan batin akibat tersisihkan dari keramaian masyarakat. Dari mata agama dan kehidupan sehari-hari, Saidi menjadi sosok terbelah. Ia terasing dan merasa tidak berharga sebagai manusia.

Identitas gender yang mendua, membuat Saidi tersingkir dari lingkungan terdekatnya. Ia tertolak dari lingkungan keluarga, dikecam agama, dan dihardik masyarakat. Saidi, dalam kisahnya bakal bertemu komunitas calabai, yang akan memberikannya warna dan identitas baru sebagai seorang bissu.

Faisal Oddang  melalui Sawerigading Datang dari Laut, sedikit banyak mengangkat eksistensi kaum minoritas tidak terkecuali bissu yang mulai kehilangan panggung di masyarakat. Di bawah judul Jangan Tanyakan Tentang Mereka yang Memotong Lidahku, Oddang mengangkat kisah percintaan dan pengkhianatan di antara dua bissu bernama Aku dan Upe.

Yang membuat cerpen ini berbeda dari kisah percintaan umumnya –suka sama suka antara bissu adalah tabu dan terlarang—adalah latar belakang sejarah Sulawesi Selatan ketika setelah era 50-an. Di masa itu terjadi ”pemberontakan” PKI dan bissu menjadi kaum minoritas ikut terseret pembantaian massal masa itu.

Bissu di cerita itu, walaupun memiliki kedudukan khusus dalam masyarakat Bugis kuno, tiba-tiba menerima kenyataan berbeda setelah rezim masyarakat berganti.  Aku dan Upe di cerpen itu dikisahkan menjadi korban dari narasi kekerasan berbasis negara.  Mereka dinilai kaum tidak beragama dan merupakan bagian dari golongan komunisme.

Bissu adalah sekaum padri ”keagamaan” dalam tradisi lokal Bugis kuno yang memiliki tugas khusus di masa kerajaan Sulawesi Selatan.  Bissu diyakini suci dan mampu ”membaca” pesan langit yang berasal dari Dewata. Di masa kerajaan, bissu bertugas melayani raja sebagai penasihat yang dimintai pandangan ketika raja mengambil keputusan. Karena fungsinya ini bissu bukanlah orang sembarangan, dan memiliki prosesi khusus bagi seseorang saat terpilih menjadi bissu.

Bissu adalah gender kelima dalam kebudayaan Bugis kuno. Bissu bukan laki-laki (urane), dan bukan pula perempuan (makunrai). Bissu juga bukan laki-laki berperawakan perempuan (calabai), atau sebaliknya perempuan berperawakan laki-laki (calalai). Bissu walaupun memiliki kemiripan dengan calabai, ia tetap memiliki perbedaan khusus dengannya.

Bissu bukanlah waria walaupun sekilas mirip. Berbeda dari waria kerap berbusana rias mencolok, bissu memiliki busana khusus yang khas saat upacara-upacara adat.

Sharyn Graham menulis esai menarik mengenai pengalamannya mengikuti upacara adat seorang calon jamaah haji dipimpin bissu. Dalam esai berjudul Sulawesi's Fifth Gender (2007), ia menulis walaupun Ibu Qadri beragama Islam, ia masih mengikuti kebiasaan lokal melakukan upacara mengambil berkat di sebuah goa. Dalam esai itu, upacara adat yang diperuntukan bagi kepergian haji ibu Qadri bukan dipimpin seorang ulama atau kiai, tapi malah sekelompok bissu.

Kini eksistensi bissu tidak lebih dari sisa-sisa peninggalan kebudayaan Bugis kuno. Fungsinya hanya merawat benda-benda pusaka peninggalan kerajaan di rumah khusus penyimpanan. Mereka di mata umum, tidak jauh berbeda dari kaum waria. Sering dicibir  dan didesas-desuskan sebagai biang kerok nasib buruk dan orang musyrik. 



BAIK waria maupun bissu adalah korban pertautan rezim pengetahuan dan kekuasaan.  Adalah Michele Foucault yang menemukan bahwa di balik pengetahuan  menyangkut wacana terpatri praktik kekuasaan di dalamnya. Atau dengan kata lain, setiap wacana pengetahuan (ilmiah/diskursus) adalah bentuk dari beroperasinya kekuasaan.

Hubungan ini diteliti Foucault merentang jauh di belakang  di era sebelum abad pencerahan. Ia mendaku setiap era ataupun setiap zaman memiliki sistem berpikir sendiri yang disebutnya episteme.

Episteme inilah yang bakal menentukan cara berpikir masyarakat walaupun dihadapkan kepada kasus yang sama. Menurut  Foucault, lantaran tiap zaman mempunyai dasar sistem engetahun yang berbeda, maka kebenaran di tiap zaman adalah unik dan tidak memiliki kesamaan dengan zamanya.

Sebagai pakar sejarah, penelitian Foucault menemukan ekses negatif dari relasi pengetahuan dan kekuasaan. Ekses negatif ini berupa pembelahan sistem pengetahuan mengenai apa yang benar dan yang salah, apa yang normal dan tidak normal, dan apa yang sehat dan yang sakit menurut rezim wacana kekuasaan saat itu. Dalam tinjuannya, pemilahan ini bukan berarti tanpa tendensi selain dalam rangka mengokohkan rezim kekuasaan saat itu. 

Kekuasaan menurut Foucault bersifat produktif dan positif alih-alih negatif, menekan, dan menindas. Artinya, karena wujud kekuasaan tidak nampak, ia tidak bisa dipahami serta merta dirasakan. Padahal menurut Foucault kekuasaan melalui rezim pengetahuan bekerja melalui mekanisme kontrol dan pendisplinan tubuh.

Itu artinya, ketika Foucault turut berbicara seksualitas dan kekuasaan, ikut di dalamnya pula rezim wacana yang memproduksi pengetahuan mengenai apa atau siapa yang normal dan tidak normal, siapa yang sehat dan tidak sehat, dan siapa yang benar dan tidak benar.

Kategori pengetahuan macam demikian dapat dilihat ke dalam bidang yang lebih luas semisal bagaimana ilmu psikiatri mendefenisikan mental yang mengubah penanganan orang gila. Defenisi penyakit menurut dunia kedokteran mengubah pendekatan manusia terhadap pasien dengan isolasi, pengasingan, dan mengubah kelekatan sosial. 

Konsep sekolah mengubah arti terpelajar tidak terpelajar. Konsep kesehatan mengubah makna tubuh, konsep kecantikan mengubah dan menghadirkan salon, pola makan, diet, dan kursus olahraga. Defenisi agama mengubah makna perbedaan, iman, kafir, dan melahirkan taklid buta.

Sebagaimana penelusuran Foucault menyangkut praktik seksualitas di abad pertengahan, waria atau bissu  juga diketengahkan di dalam formasi wacana sebagai kaum yang layak dilecehkan, diisolasi, dan dibiarkan tanpa ada hubungan interaksi. Mereka menjadi golongan dilabelisasi berdasarkan defenisi-defenisi yang diberikan kekuasaan atasnya. 

Konsep seksualitas dan keimanan yang  secara monolitik hasil diskursus kekuasaan, menjadi cara pandang masyarakat di dalam menerima kehadiran mereka. Intinya, kelompok waria ataupun bissu, sulit keluar dari objektivikasi kekuasaan. Mereka senantiasa dipandang rendah, menyimpang, dan layak dikendalikan. Mereka tidak akan pernah diberlakukan layaknya manusia, yang punya hak sama seperti golongan masyarakat lain.


--sudah tayang di Kalaliterasi.com

16 Desember 2019

Teori Sosial Animal Farm


Judul : Animal Farm
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi: Pertama,Pertama,  Januari 2015
Tebal: 140 halaman
ISBN: 978-602-291-070-1



BINATANG Inggris, binatang Irlandia
Binatang di setiap negeri dan musim
Dengarkan kabar gembiraku
Tentang masa keemasan di hari mendatang

Cepat atau lambat saatnya akan tiba
Tirani manusia akan ditumbangkan
Dan ladang subur Inggris
Akan ditapaki oleh binatang saja

Kutipan lagu perlawanan di atas datang dari mimpi si Mayor, si babi Putih-Tengah Terhormat dalam novel klasik Animal Farm, karangan George Orwell. Si babi Mayor adalah pimpinan sekawanan binatang peternakan Manor milik Pak Jones yang meletupkan api revolusi demi melawan penindasan manusia.

Dalam pidato politiknya, si Babi Mayor menyebarkan propaganda kepada para binatang peternakan Manor, sekaligus menyampaikan mimpi dan pesan terakhirnya sebelum wafat.

Isi pidatonya mencengangkan! Ia, walaupun babi, pandai berargumen dan beretorika. Para binatang semula tidak menyadari keadaan apa-apa, seketika bergemuruh meneriakkan yel-yel pemberontakan. Di ujung pidato politik itulah, si Mayor memperdengarkan dan mengajarkan lagu di atas.

Di sesi pembukaan novel ini, pembaca akan menangkap kelugasaan maksud Orwell. Ini adalah novel satir. Orwell menggunakan karakter binatang demi menyindir tabiat manusia.

Bebauan politik demikian menyengat ketika kisah dibuka dengan orasi politik si babi Mayor. Politik, seperti isi pidato si babi Mayor, digambarkan Orwell sebagai wahana pendongrak kesadaran. Tanpa diduga-duga isi mimpi si Mayor mampu mengubah keadaan peternakan semula adem ayem menjadi penuh prasangka, saling curiga, dan saling serang, terutama kepada umat manusia.

Animal Farm dengan kata lain merupakan fabel politik yang sampai sekarang masih dibaca banyak orang, dan relevan diketengahkan. Cerita olok-olok Orwell kepada politik kekuasaan memperlihatkan tabiat manusia ibarat permainan. Ketika bersinggungan dengan kekuasaan, karakter manusia demikian mudah berubah-ubah sesuai kepentingan iklim politik.  

Dalam Animal Farm, akibat pidato Mayor si inspirator pemberontakan, peternakan berubah menjadi bukan seperti peternakan biasa. Di dalamnya agenda-agenda perlawanan disusun dan direncakan. Suatu kehidupan dengan suhu tinggi politik sedang berlangsung—yang tidak diketahui si pemilik peternakan, Tuan Jones.

Kelak pasca si Mayor wafat, imbauan politiknya dipatenkan jadi ajaran disebut binatangisme. Oleh babi pelanjut bernama Snowball dan Napoleon, binatangisme diaplikasikan menjadi paradigma kehidupan binatang. Inti ajaran ini berbunyi: ”semua mahluk berkaki empat dan bersayap adalah kawan. Semua mahluk berkaki dua adalah musuh”.

Tepat di bagian cerita ini, agaknya Orwell implisit menyitir ideologi komunisme. Lebih tepatnya Orwell sedang berkisah jalan cerita ideologi komunisme dari peralihan pemikiran Marx menjadi ajaran marxisme. Dari Uni Soviet berdiri hingga runtuh kembali.

Menariknya, tidak sekadar menjadi ajaran perlawanan, marxisme seolah-olah jatuh menjadi semata-mata dogma. Dari figur babi Snowball dan Napoleon, marxisme diejek hanya sekadar ambisi kekuasaan semata—seperti kelakuan Snowball dan Napoleon yang kelak memberikan penafsiran baku dan tunggal atas imbauan si Mayor (Ibarat Lenin dan kelak Stalin yang menafsirkan pikiran Marx semata-mata menurut mereka).

Walaupun begitu, terbuka kemungkinan Orwell tidak sekadar menyinggung-nyinggung komunisme. Anasir perubahan dari semangat pembebasan penindasan menjadi nafsu birokratisme juga banyak dialami ideologi-ideologi dunia.

Dengan kata lain, Animal Farm banyak menunjukkan ideologi apa pun bakal berubah dari bermaksud luhur menjadi kubur selama dikuasai dan dijalankan pribadi-pribadi seperti Snowball dan si Napoleon.

Peternakan Manor diisi beragam jenis karakter binatang. Selain pimpinan si babi Mayor, berturut-turut yang ada tiga ekor anjing bernama Bluebell, Jessie, dan Pitcher, sekumpulan babi-babi, burung dara, sekelompok ayam, dua kuda penarik kereta bernama Boxer dan Clover, Mauriel dan Benjamin, seekor kambing putih dan seekor keledai. Si kucing pemalas, seekor itik, Molie, si tolol, biri-biri, sapi, dan terakhir seekor gagak bernama Moses.

Bukan tanpa maksud Orwell menggunakan binatang demi meunjukkan gerak-gerik manusia. Karena ini adalah fabel, Orwell mengimposisikan karakter Animal Farm tidak sebatas corong cerita. Lebih jauh lagi adalah bagaimana Orwell bertindak ibarat sosiolog dalam membahas hirarki kekuasaan dalam masyarakat.

Tarik menarik kelas masyarakat

Kelas dalam khasanah ilmu sosiologi menjadi terma bersaing ketika dibicarakan dalam diskursus struktual fungsional dan struktural konflik. Dua paradigma ini memiliki perspektif  sama-sama khas mendudukkan posisi kelas masyarakat.

Paradigma struktural fungsional mengandaikan kelas sosial hasil alamiah  dari perbedaan posisi dan peran individu dalam masyarakat. Setiap individu akan menemukan peran dan posisinya seiring interaksinya di tengah kehidupan sosial.

Kekuatan sosial berupa modal ekonomi, pendidikan, budaya, dan simbolik menjadi faktor determinan pembentuk kelas masyarakat. Itu artinya, posisi seseorang dalam hirarki masyarakat tidak terlepas dari usahanya dalam mengelola sejumlah modal sosial di atas. Perbedaan strategi mengelola modal sosial inilah secara alami menimbulkan tingkatan sosial masyarakat.

Berbeda dari struktural fungsional, menurut struktur konflik kelas masyarakat justru terjadi karena intervensi kekuasaan. Bagi paradigma ini, kelas terjadi akibat dominasi golongan tertentu mengusai sejumlah modal sosial. Bahkan, kelas diciptakan demi melanggengkan kekuasaan kelas dominan atas kelas subordinat. Semakin banyak suatu golongan menguasi modal sosial, semakin berjenjang pula stratifikasi masyarakat terbentuk.

Kehidupan para binatang di peternakan Manor dimungkinkan dibaca melalui dua paradigma di atas. Bahkan, cerita gencatan senjata melawan pemilik peternakan dapat ditelusuri dari kedua paradigma ini, terkhusus paradigma konflik.

Semula, kehidupan para binatang peternakan Jones baik-baik saja, tapi berubah seketika saat si babi tua Mayor menyerukan kesadaran kelas. Keadaan sosial kehidupan para binatang semula harmonis. Setiap binatang bekerja berdasarkan peran masing-masing.

Menurut paradigma struktural fungsional, kehidupan peternakan Manor sudah mencapai apa yang diistilahkan sebagai titik keseimbangan (equiblirium). Keharmonisan ini bertahan lama sampai datang si Mayor mengutarakan isi mimpi dan pidato politiknya.

Dari tilikan paradigma konflik, peristiwa ini menandai suatu keadaan disebut sebagai kesadaran palsu. Keharmonisan hanyalah dalih kelas penguasa untuk melanggengkan status quo. Dalil ini walaupun diciptakan melalui prinsip-prinsip kerja sama, demokratis, dan keadilan, tidak serta merta dapat menutupi hakikat kenyataan sebenarnya, yang dalam paradigma konflik merupakan kontradiksi sistem kasta masyarakat.

Isi pidato si Mayor kian cepat mengubah stuktur kesadaran seluruh binatang peternakan. Kesadaran para binatang yang semula naif dinaikkan tarafnya menjadi kritis berkat orasi politik si babi tua Mayor.

Akhirnya, mereka menemukan makna baru dari realitas kehidupan mereka. Kenyataan yang selama ini dijalani tidak sesederhana apa yang mereka bayangkan. Di balik kenyamanan mereka sebagai hewan ternak sekonyong-konyong diartikan bagian penindasan tuan manusia pemilik peternakan.


--
Pos sebelumnya di komunitaslemolemo.blogspot.com


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...