20 Januari 2020

Ayam dan Pembebasan dari Layar Tv


1984


AKHIRNYA, saya merasa agak lega setelah berhasil menulis uraian film yang nyaris selesai, jika saja Banu tidak segera bangun dan menyergap saat sedang menghadapi tuts laptop yang entah mengapa demikian mengasyikan pagi ini. Kopi masih belum tandas sepenuhnya dan resensi yang saya tulis sudah mencapai sekitar 700 kata saat Banu mengambil alih pekerjaan ketikan melalui tangannya yang diacungkan di depan layar. Banu baru saja bangun dan layar sampai saat ini masih jadi perhatian utamanya selain setiap sudut rumah yang ingin ia jelajahi menggunakan kedua kakinya yang semakin hari menjadi terampil menopang seluruh bobot tubuhnya. Banu, sejak ia mulai bosan dengan sekeranjang mainannya, sudah kami antisipasi agar tidak terpikat gawai yang semakin hari sulit dilepaskan dari dunia orang dewasa. Hape cerdas yang hari demi hari kian membuat orang seperti anak ayam kehilangan induknya dan membuat otak semakin mirip manisan kismis, sudah kami akali agar Banu jauh dari benda pemecah umat itu. Alternatifnya, ia kami sediakan tontonan melalui televisi lagu-lagu anak yang didownload melalui youtube setiap kali gawai mengalihkan perhatiannya. Sampai sekarang, setelah sepulang dari Bulukumba, Banu lebih menyukai lagu ”kukuruyuk” yang memperlihatkan segerombolan ayam betina lari tungganglanggang menyigi rerumputan setelah dilepas dari kandangnya. Ia mulai bosan dengan lagu berbahasa Inggris yang berhasil mengajarkannya koor ”ha-ha” setiap kali seorang anak menyebut nama-nama bagian bis yang diakhiri kata ”wa-ha-ha”. Ayam menjadi binatang yang menarik minatnya setelah ia lebih suka menunjuk cicak ketika ia melihatnya menempel di langit-langit rumah. Setiap pagi, saat di Bulukumba, bersama kakeknya—yang dipanggil Ance—ia sudah berada di halaman di samping rumah yang menjadi ”bengkel” kerja Bapak. Di situ hampir selusin ayam katai berkeliaran bebas di sela-sela kayu dan besi-besi tua dan beragam alat pertukangan di samping tiang pancang tali-temali jemuran. Kandang yang berjejer mirip kerangkeng kecil sebagiannya diisi ayam katai lain yang masih dijinakkan. Sisanya adalah ayam bangkok berdaging keras jika ia dijadikan opor ayam. Melihat binatang kecil bergerak gesit dan berbulu emas dengan dua kaki yang seperti dipangkas membuat Banu terperangah dan mulai menyukainya. Sejak saat itu, setiap kali kami menyebut kata ayam, ia praktis mengacungkan tangannya sama seperti ketika penyabung ayam melatih leher ayam aduannya menjadi tegak berdiri. Gerakan itu berarti juga ia ingin segera berada di mana ayam-ayam itu hidup saban hari. Kata ayam praktis membuat Banu otomatis terdorong selalu ingin melihat ayam sebagai hiburan paginya. Otaknya seolah-olah sudah terprogram ketika kata itu disebut. Kebiasaan ini demikian ia sukai sampai akhirnya kami harus kembali ke rumah yang berarti tidak ada satu ekorpun ayam berkeliaraan. Satu-satunya hewan berjenis unggas hanyalah burung pipit dan jenis burungan bangau yang saban hari bertengger di kerumunan pohon putri malu yang sudah menyerupai tinggi pohon klengkeng Thailand di tanah lapang sebelah rumah. Konon tanah itu sudah dimiliki seseorang yang berdarah Thionghoa. Ayam tetangga yang dikandang sedemikian rupa di depan rumah sebelah juga sudah tidak kelihatan lagi. Besar kemungkinan ayam kampung itu sudah menjadi santapan di saat lebaran haji tempo hari. Toh jika ada sisa kehidupan unggas dari sana hanyalah kandang bambu berbentuk kubah yang tergeletak dibiarkan begitu saja. Di halaman rumah, satu-satunya tanda kehidupan diisi jejeran bunga asoka, daun kuping gajah, kamboja, lidah mertua, dan beberapa tanaman hias entah apa namanya yang menyerupai rumput jepang. Dua hari lalu, pohon cabai yang berhasil tumbuh setelah layu nyaris mati, membuahkan tiga biji cabai. Tentu saja saya seketika mengambil langkah strategis sesegera mungkin dengan mengguntingnya di malam hari dan menjadikannya penyedap ikan goreng dari pada mati membusuk seperti pernah dilakukan sebelumnya. Tanaman ditanam sendiri dan buahnya dinikmati sendiri bakal lebih subur kemudian hari jika tidak segera dihargai. Akibat tidak memelihara ayam, yang berarti kami tidak dapat diingatkan melalui kokoknya ketika pagi hari, kami ganti dengan kumpulan lagu-lagu anak berisi ayam-ayam tadi itu. Aneh memang hal ini tidak membuat kami seperti orang yang memiliki jiwa seni tinggi oleh karena kami lebih mirip peternak unggas yang tiap pagi mendengar ”kokok-kotek” ayam melalui tv. Tapi, strategi ini lumayan berhasil setelah sebelumnya membuat Banu mengacung-acungkan tangannya kepada ayam-ayam elektronik di layar kaca tv. Belakangan kami menyadari ia memiliki kemauan lebih dari sekadar melihat ayam dengan memukul-mukul layar tv menggunakan tongkat bekas gantungan bajunya. Jika Banu beralih perhatian dan ayam di layar kaca nampak berubah seperti hewan yang membosankan, satu-satunya pilihan selain siaran TVRI bagi kami adalah sinetron Indosiar yang entah mengapa menjadi tontonan yang mirip cara Orba mendoktrin warganya. Seperti kisah novel 1984 karangan George Orwell, kisah murahan Indosiar itu tayang nonstop tanpa jeda dari pagi hingga sore hari seolah-olah setiap orang menginginkannya. Ceritanya entah dicomot dari mana: pengalaman istri-istri yang diberlakukan semena-mena suami yang gemar berselingkuh dan pada akhirnya entah bagaimana caranya Dewi Fortuna bakal membuat istri teraniaya menjadi pemenang di akhir kisah. Takdir pada akhirnya, di kisah itu, akan berpihak selama perempuan teraniaya bersabar hingga kantung matanya mengering. Dengan cara klise kadang perselingkuhan suami diawali dengan cara yang sama di setiap episode, si suami bakal tanpa sengaja menabrak seorang wanita sambil menunduk-nunduk. Cara mereka ini membuat siapa pun tak perlu membaca kisah kisah cinta seperti Romeo dan Juliet atau Laila dan Majnun oleh sebab untuk jatuh cinta Anda tidak membutuhkan kegilaan. Seperti ditunjukkan perempuan pelakor di sinetron itu, Anda—jika perempuan—hanya butuh sedikit tekat dan keberanian terang-terangan merebut hati suami orang. Cara ini saya lihat cukup ampuh membuat hati istri suami yang Anda rebut melongos dan kalah. Tentu perilaku ini jarang kita temukan di dunia nyata, tapi jika Anda berminat coba saja. Siapa tahu Anda berhasil dan seketika menjadi kaya raya berkat harta benda suami yang berhasil Anda rebut. Sinetron ini saking sering diputar membuat saya semakin yakin bahwa perempuan-perempuan teraniaya memang ada di dunia nyata. Mereka sama tertindasnya dengan istri-istri di sinetron yang entah sampai kapan akan berakhir. Perbedaannya cuma satu, kekerasan perempuan teraniaya di dunia nyata tidak dimulai dari seorang pria yang tidak sengaja menabrak seorang perempuan cantik yang kebetulan mantan pacarnya, yang kebetulan baru saja berpisah dengan suaminya, yang kebetulan saling jatuh cinta, yang kebetulan secara sembunyi-sembunyi memadu kasih di kafe-kafe memanfaatkan waktu jam makan siang. Dan sialnya yang kebetulan saya saksikan sepenuh hati. Sudah bisa ditebak bagaimana kelak jalan ceritanya. Saya mengambil remote tv menyetel ulang lagu ”kukuruyuk” kesukaan Banu tanpa ayam, tanpa beban.

07 Januari 2020

Tak Ada Melati di Kota Ini



Tak Ada Yang Gila di Kota Ini
Film ini lolos mengikuti
 program kompetisi Short Film  

Sundance Film Festival 2020 
yang akan dihelat pada 23 Januari hingga 2 Februari 2020
di Park City, Utah, Amerika Serikat
.


NAMANYA lumayan aneh: Kembe (”e” dibaca mirip ”e” dalam Jahe). Dia tinggal di bekas bioskop tua. Asal usul Kembe misterius seperti asal mula namanya. Satu hal sering terlihat, dari jauh di dalam bioskop selain gubuk terpalnya adalah onggokan becak tua yang konon dipakai suaminya. Jarang ada orang berani masuk di dalam gedung bioskop setelah lama tidak terurus. Dindingnya kehitaman dilumuri lumut kering. Di atas, langit memenuhi atapnya yang bolong. Di halaman depannya, selain berdiri lampu jalan tanpa aliran listrik, tumbuh semak-semak belukar menjadi makanan kambing liar.

Kembe jarang keluar dari gubuknya. Toh jika ia keluar dia hanya terlihat memetik daun ubi yang tumbuh di sekitar halaman bioskop. Bagi yang pernah melihatnya, Kembe berkulit gelap dengan rambut panjang diikat sanggul. Tubuhnya kecil dengan raut muka seolah-olah seperti orang baru bangun tidur. Semasa saya SMA nama Kembe jadi bahan bully. Namanya dipakai untuk menggelari teman-teman yang kami kerjain.

Banyak kasak-kusuk beredar di seputar kehidupan Kembe. Ia kerap disebut gembel peminta-minta. Sering dituduh tidak waras. Bahkan beberapa orang menyebut ia suka menculik anak-anak.

Nasib Kembe masih tergolong mujur dibandingkan—sebut saja— Melati si gila, yang sering ditemui di beberapa sudut kota Bulukumba. Kembe setidaknya masih memiliki tempat tinggal, walaupun seadaanya di dalam bekas bioskop tua. Ia masih memiliki keluarga, meski jarang terlihat seperti apa penampakan mereka.

Melati sering terlihat mengenakan baju daster sambil mengacung-acungkan gayung ke udara. Seperti Kembe, kulitnya hitam dimakan panas matahari. Rambutnya urakan hitam kecoklatan menyiratkan bau tanah. Tidak ada yang tahu pasti di mana Melati tinggal (pernyataan ini sebenarnya kurang relevan bagi orang gila. Memangnya orang gila punya rumah tetap?).

Seperti galibnya orang gila, tidak ada cerita pasti mengapa Melati sampai kehilangan akal sehat. Melati, seperti sering dialami, tiba-tiba dapat ditemukan di pinggir jalan tanpa tahu dari mana dia datang, siapa keluarganya, bagaimana ia bisa gila, dan siapa yang menelantarkannya.

Orang gila seperti Melati, praktis menjadi orang yang kehilangan relasi sanak keluarga, perhatian, tanpa hak dan kewajiban, serta kehilangan asal usul.

Kehilangan akal sehat, dengan kata lain, membuat orang gila seperti Melati menjadi mahluk yang terputus dari semua variabel kehidupan.

Sering tersiar kabar, Melati menjadi bulan-bulanan tukang becak. Kadang terlihat becak terpakir tanpa tuannya di jalan sepi tanpa penerangan. Dia jadi objek perundungan seksual para tukang becak yang tidak mampu mengontrol berahinya.

Di pikiran pengayuh becak yang tidak seberapa penghasilannya itu, Melati sudah lebih dari cukup dari pada mencari perempuan sewaan. Melati tidak perlu dibayar, atau mesti dibooking melalui tawar menawar harga. Tukang becak tidak suka itu, dan para tukang becak yang seharian mengayuh di kota yang tidak sama sekali membutuhkannya, tidak menginginkan semua itu. Mereka hanya butuh sedikit nekat menyergap Melati di tengah jalan dan menidurinya di semak belukar, atau di tempat-tempat sepi tanpa penerangan.  

Orang gila seperti Melati, sebagai objek seksual diangkat Eka Kurniawan dalam cerpen Tidak Ada Orang Gila di Kota Ini—yang oleh Wregas Bhanuteja dialihwahanakan ke dalam film pendek berjudul sama dibintangi Oka Antara dan Sekar Sari (film ini berhasil memenangi anugerah film pendek terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2019).

Jalan cerita Tidak Ada Orang Gila di Kota Ini cukup membuat hati bergidik. Ibarat zaman Abad Pertengahan di Inggris, ketika suatu kota dihadapkan pada wabah berisikan orang-orang gila yang kemudian ditangkap dan dibuang jauh di tengah hutan. Alih-alih kota memberikan fasilitas, dan kehidupan lebih baik, para orang gila ini malah ditangkap dan dijual dijadikan bahan tontonan seks seperti pertunjukan sirkus di setiap musim liburan.

Cerita ini seperti disampaikan Wregas adalah kenyataan yang melukiskan kegelisahannya berkaitan dengan hirarki kekuasaan.

”Di mana orang yang memiliki power yang lebih, akan menindas orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat pribadinya. Yang di bawahnya, akan menindas yang di bawahnya lagi, dan yang paling tidak berdaya adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kuasa. Bahkan, kuasa atas dirinya sendiri,” sebagaimana dikutip dari mainmain.id.

Perkara kekuasaan, kegilaan, dan seksualitas, sudah jauh hari ditelusuri sosiolog Prancis Michel Foucault, yang menemukan adanya pertautan di antara ketiganya. Dengan kata lain, kegilaan dan seksualitas, seperti pendakuan Foucault adalah wacana kekuasaan yang senantiasa diatur, dikontrol, dan dikendalikan. Itu artinya kategori normal tidak normal, boleh tidak boleh, sehat tidak sehat dalam wacana seksualitas senantiasa merupakan produk pengetahuan kekuasaan.

Melati si gila, beruntung tidak hidup dalam imajinasi penceritaan Eka Kurniawan, atau seperti di era Abad Pertengahan. Walaupun demikian, ia masih tetap menjadi sasaran berahi lelaki sekelas tukang becak kere yang kebelet ingin melampiaskan hasratnya. Ia sering diculik dan disekap, dan ditidurkan di semak-semak atau di bangunan kosong tak berpenghuni. Seperti pendakuan Foucault, kekuasaan bisa berlaku di mana saja, ia produktif menciptakan korbannya. Untuk kasus ini, Melati-lah korbannya.



04 Januari 2020

Doa Seorang Penulis Medioker dan Kutukan Buku Pertama


Jejak Dunia yang Retak



DELAPAN tahun lalu saya menerbitkan buku pertama—sebenarnya ini karya borongan bersama empat orang lainnya. Jadi ini bukan murni karya saya. Buku itu diberi judul Jejak Dunia yang Retak. Kata pengantarnya ditulis Eko Prasetyo, penulis kiri kawakan spesialis ”orang miskin”. Penutupnya ditambal Dul Abdul Rahman, novelis asal Makassar spesialis ”dunia hantu-hantu lokal”.

Buku esai ini, di malam ia dilaunching, saya hadiahkan kepada pacar saya—sekarang istri saya. Rasa-rasanya malu sendiri jika membuka buku pemberian itu. Tepat di halaman pertamanya ditulis kata-kata puitis berwarna, alamak, pink! Kata-kata itu jika diukur dari waktu sekarang bernada sok-sok romantis dan norak. Saat kata-kata itu ditulis, jangan ditanya, siapa yang sadar ketika orang sedang kasmaran.

Buku itu dicetak di Jogja oleh penerbit indi Makassar, Carabaca . Sekali tempo dua atau tiga tahun pasca buku itu beredar, seseorang memfotonya di antara lapakan buku di Jogja. Sekarang buku itu ”habis” dengan cara entah bagaimana. Konon buku itu ada yang membeli, tapi saya lebih yakin buku itu lebih banyak habis dibagi-bagi atas dasar (((kemanusiaan))).

Seperti kata Dul Abdul Rahman di epilognya, kutukan penulis pemula ada pada buku kedua. Jika seorang penulis berhasil menerbitkan buku kedua berarti ia lolos dari kutukan betapa sulitnya menerbitkan buku kedua. Itu artinya, jika penulis sudah melahirkan karya keduanya, seperti seorang ibu melahirkan selusin anak, buku ketiga, keempat, kelima dan seterusnya bakal meluncur turun mulus dari rahim kepenulisannya.

Buku pertama diterbitkan bisa jadi keberuntungan pemula. Beruntung saat itu kenekatan menerbitkan buku sedang berada di titik puncak. Beruntung saat itu ada empat penulis lain mau berkolaborasi mengumpulkan tulisannya. Beruntung saat itu ada modal mencetaknya. Beruntung saat itu ada penerbit mau menerimanya. Dan lebih beruntung lagi ada yang rela membelinya.

Sekarang, kutukan itu masih berlaku. Selain Asran Salam yang sudah menelurkan dua karya setelahnya, kami berempat masih tepekur nyaman dibelai mantra kutukan buku pertama.

Tahun 2016 bernomor ISBN 9786028003421 sebuah buku berjudul Telinga Palsu terbit. Esai saya berjudul Antropologi Toilet ikut terpilih ke dalam 100 literasi pilihan Tempo Makassar ini. Tulisan diambil di rentang 2014-2016 yang terbit di Tempo Makassar itu dikurasi dan dieditori Irmawati Puan Mawar. Ini juga belum bisa disebut buku sendiri.

Di laptop sudah kebiasaan membuat folder nama khusus setiap tahun. Itu saya lakukan untuk mengklasifikasi tulisan saya selama setahun penuh. Itu artinya ada folder bertarikh 2020, 2019, 2018, sampai 2010, tahun pertama ketika saya mulai mendisiplinkan mengumpulkan tulisan. Tahun 2019 tercatat 85 esai saya tulis dan 65 yang berhasil saya selesaikan.  2020 entah berapa banyak esai mampu saya hasilkan.

Harapan saya di tahun ini tidak muluk-muluk: bisa salat awal waktu, dan terbebas keluar dari kutukan buku pertama.

23 Desember 2019

Agnes, Bissu, dan Rezim Pengetahuan




Seorang Bissu sedang
melakukan ritual adat lengkap
menggunakan pakaian adatnya



DI BULUKUMBA, Agnes menjadi nama favorit di lingkungan waria. Sudah menjadi kebiasan para waria mencantol nama-nama artis beken sebagai tanda ”hijrah” mereka.

”Hijrah” di lingkungan waria bukan penanda perubahan di bidang agama, melainkan fenomena khas para waria ketika memilih hidup atau berpenampilan perempuan dengan mengubah identitas sehari-hari menggunakan nama-nama perempuan. Kebetulan, demi sensasi, nama-nama artis diambil sebagai pilihannya.

Selain Agnes, jangan tertawakan jika Anda menemukan seorang waria bernama Santi, atau nama-nama semisal Bela, Syahrini, Claudia, atau bahkan Manohara, sementara tak satupun paras mereka menyerupai artis bersangkutan.

Pemilihan nama ini bukan tanpa sebab. Kadang dipilih berdasarkan ketenaran artis terkait. Manohara misalnya, banyak dipilih berkat pernah mengguncang dunia hiburan. Selain cantik, Manohara dipandang mewakili sisi ”seksi” yang kerap menjadi tingkah dandan para waria.

Agnes, saya duga menjadi beken dipakai para waria setelah dia sukses membintangi Pernikahan Dini, sinetron kisaran tahun 2000-an dibintangi bersama artis awet muda, Sahrul. Sebab lain Agnes dipakai sebagai nama pergaulan para waria, karena Agnes artis segudang prestasi yang cukup mewakili spirit ”pemberontakan” kaum waria.

Umumnya di Bulukumba, waria lahir dari keluarga kelas bawah. Jadi bisa dipahami mengapa Agnes dipilih mewakili nama mereka. Kecenderungan jiwa feminin dalam diri waria sulit dimengerti komunitas terdekat mereka, yakni keluarga. Itulah sebabnya, sebelum hijrah tidak sedikit waria mengalami konflik dalam lingkungan mereka sendiri. Dalam konteks ini keadaan demikian sudah bisa menjelaskan pemberontakan apa yang dilakukan para waria ketika memilih meninggalkan keluarga dan memulai hidup mandiri bersama komunitas mereka.

Di dunia waria, terkhusus di Bulukumba, para waria mengembangkan pola hidup khas. Mereka menciptakan komunitas mandiri. Menciptakan dan menggunakan bahasa pergaulan sendiri yang unik dan terdengar aneh. Bekerja membuka salon-salon. Bekerja menjadi tukang make-up perkawinan, sering menjadi biduan di panggung-panggung pernikahan, dan tidak jarang menjadi ”kupu-kupu” malam.

Pola kehidupan di atas pelan tapi pasti menjadi kebudayaan tersendiri. Sebagai kaum marginal, pola ini secara tidak langsung menciptakan keadaan psikologi yang kokoh berkat saling menopang satu sama lain. Mereka sering terlihat saling mengunjungi berkumpul bersama di hari-hari tertentu. Sesekali mereka menggelar  festival sendiri sebagai ajang sosialisasi. Keadaan ini mendorong suatu eksosistem dan strategi adaptasi bagi kaum waria menghadapi stigma buruk di masyarakat.

Dalam konteks sosial, waria sering mendapatkan perundungan. Di Bulukumba, mereka dianggap sumber tulah. Nasib sial bakal dialami seseorang ketika bergaul bersama waria. Mereka sering dipandang jijik dan rendah bagi sebagian orang.

Tapi, pernah ada masa bagi sebagian anak muda SMA memiliki hubungan khusus dengan seorang waria. Bagi anak SMA semacam ini waria tidak sama sekali berbahaya. Mereka malah dianggap sebagai pihak yang mendatangkan untung. Itulah sebab, sering kali para waria di Bulukumba memiliki ”anak kesayangan” yang ia perhatikan layaknya seorang kekasih.

Bagi anak SMA yang ”berpacaran” dengan seorang waria, perhatian dari mereka sering ditranformasikan menjadi keuntungan membeli barang-barang dan diberikan uang saku.

Sekarang, dari amatan sederhana saya, apa yang saya tuliskan di atas nampak sedikit banyak berubah. Terutama ketika Bulukumba mencanangkan perda syariat Islam beberapa dekade lalu--mengakibatkan tidak ada lagi panggung ”elekton” yang dinyanyikan biduan waria.

Apalagi seiring diberlakukan perda Islam, Bulukumba menjadi lahan subur pertumbuhan kelompok Islam tertentu yang memiliki pandangan kemanusiaan monolitik mendeskreditkan keberadaan mereka.

Di tambah lagi, ada beberapa spot publik di Bulukumba yang berubah yang otomatis mengubah pola interaksi dan pergaulan para waria. Di tempat-tempat yang dahulu banyak ditemukan waria, sekarang berubah menjadi ruang publik yang lebih terbuka dan sepi.

Toh sekarang, ketika banyak anak-anak muda mencari penghidupan menjadi penata rias profesional—lengkap dengan alat make up berharga mahal, kursus kecantikan, seminar, dan komunitas penata rias—mempengaruhi ladang pencarian para waria yang lebih dahulu bekerja sebagai penata rias. Praktis pengaruh ini ikut menyudutkan waria hanya menjadi pekerja salon sebagai tukang cukur belaka.



DALAM arena sastra, eksistensi perempuan bertubuh lelaki apik dinarasikan Pepy Al Bayqunie melalui Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki. Novel ini mengetengahkan pergolakan batin seorang bissu bernama Saidi. Ia sejak kecil mengalami transformasi pergolakan batin akibat tersisihkan dari keramaian masyarakat. Dari mata agama dan kehidupan sehari-hari, Saidi menjadi sosok terbelah. Ia terasing dan merasa tidak berharga sebagai manusia.

Identitas gender yang mendua, membuat Saidi tersingkir dari lingkungan terdekatnya. Ia tertolak dari lingkungan keluarga, dikecam agama, dan dihardik masyarakat. Saidi, dalam kisahnya bakal bertemu komunitas calabai, yang akan memberikannya warna dan identitas baru sebagai seorang bissu.

Faisal Oddang  melalui Sawerigading Datang dari Laut, sedikit banyak mengangkat eksistensi kaum minoritas tidak terkecuali bissu yang mulai kehilangan panggung di masyarakat. Di bawah judul Jangan Tanyakan Tentang Mereka yang Memotong Lidahku, Oddang mengangkat kisah percintaan dan pengkhianatan di antara dua bissu bernama Aku dan Upe.

Yang membuat cerpen ini berbeda dari kisah percintaan umumnya –suka sama suka antara bissu adalah tabu dan terlarang—adalah latar belakang sejarah Sulawesi Selatan ketika setelah era 50-an. Di masa itu terjadi ”pemberontakan” PKI dan bissu menjadi kaum minoritas ikut terseret pembantaian massal masa itu.

Bissu di cerita itu, walaupun memiliki kedudukan khusus dalam masyarakat Bugis kuno, tiba-tiba menerima kenyataan berbeda setelah rezim masyarakat berganti.  Aku dan Upe di cerpen itu dikisahkan menjadi korban dari narasi kekerasan berbasis negara.  Mereka dinilai kaum tidak beragama dan merupakan bagian dari golongan komunisme.

Bissu adalah sekaum padri ”keagamaan” dalam tradisi lokal Bugis kuno yang memiliki tugas khusus di masa kerajaan Sulawesi Selatan.  Bissu diyakini suci dan mampu ”membaca” pesan langit yang berasal dari Dewata. Di masa kerajaan, bissu bertugas melayani raja sebagai penasihat yang dimintai pandangan ketika raja mengambil keputusan. Karena fungsinya ini bissu bukanlah orang sembarangan, dan memiliki prosesi khusus bagi seseorang saat terpilih menjadi bissu.

Bissu adalah gender kelima dalam kebudayaan Bugis kuno. Bissu bukan laki-laki (urane), dan bukan pula perempuan (makunrai). Bissu juga bukan laki-laki berperawakan perempuan (calabai), atau sebaliknya perempuan berperawakan laki-laki (calalai). Bissu walaupun memiliki kemiripan dengan calabai, ia tetap memiliki perbedaan khusus dengannya.

Bissu bukanlah waria walaupun sekilas mirip. Berbeda dari waria kerap berbusana rias mencolok, bissu memiliki busana khusus yang khas saat upacara-upacara adat.

Sharyn Graham menulis esai menarik mengenai pengalamannya mengikuti upacara adat seorang calon jamaah haji dipimpin bissu. Dalam esai berjudul Sulawesi's Fifth Gender (2007), ia menulis walaupun Ibu Qadri beragama Islam, ia masih mengikuti kebiasaan lokal melakukan upacara mengambil berkat di sebuah goa. Dalam esai itu, upacara adat yang diperuntukan bagi kepergian haji ibu Qadri bukan dipimpin seorang ulama atau kiai, tapi malah sekelompok bissu.

Kini eksistensi bissu tidak lebih dari sisa-sisa peninggalan kebudayaan Bugis kuno. Fungsinya hanya merawat benda-benda pusaka peninggalan kerajaan di rumah khusus penyimpanan. Mereka di mata umum, tidak jauh berbeda dari kaum waria. Sering dicibir  dan didesas-desuskan sebagai biang kerok nasib buruk dan orang musyrik. 



BAIK waria maupun bissu adalah korban pertautan rezim pengetahuan dan kekuasaan.  Adalah Michele Foucault yang menemukan bahwa di balik pengetahuan  menyangkut wacana terpatri praktik kekuasaan di dalamnya. Atau dengan kata lain, setiap wacana pengetahuan (ilmiah/diskursus) adalah bentuk dari beroperasinya kekuasaan.

Hubungan ini diteliti Foucault merentang jauh di belakang  di era sebelum abad pencerahan. Ia mendaku setiap era ataupun setiap zaman memiliki sistem berpikir sendiri yang disebutnya episteme.

Episteme inilah yang bakal menentukan cara berpikir masyarakat walaupun dihadapkan kepada kasus yang sama. Menurut  Foucault, lantaran tiap zaman mempunyai dasar sistem engetahun yang berbeda, maka kebenaran di tiap zaman adalah unik dan tidak memiliki kesamaan dengan zamanya.

Sebagai pakar sejarah, penelitian Foucault menemukan ekses negatif dari relasi pengetahuan dan kekuasaan. Ekses negatif ini berupa pembelahan sistem pengetahuan mengenai apa yang benar dan yang salah, apa yang normal dan tidak normal, dan apa yang sehat dan yang sakit menurut rezim wacana kekuasaan saat itu. Dalam tinjuannya, pemilahan ini bukan berarti tanpa tendensi selain dalam rangka mengokohkan rezim kekuasaan saat itu. 

Kekuasaan menurut Foucault bersifat produktif dan positif alih-alih negatif, menekan, dan menindas. Artinya, karena wujud kekuasaan tidak nampak, ia tidak bisa dipahami serta merta dirasakan. Padahal menurut Foucault kekuasaan melalui rezim pengetahuan bekerja melalui mekanisme kontrol dan pendisplinan tubuh.

Itu artinya, ketika Foucault turut berbicara seksualitas dan kekuasaan, ikut di dalamnya pula rezim wacana yang memproduksi pengetahuan mengenai apa atau siapa yang normal dan tidak normal, siapa yang sehat dan tidak sehat, dan siapa yang benar dan tidak benar.

Kategori pengetahuan macam demikian dapat dilihat ke dalam bidang yang lebih luas semisal bagaimana ilmu psikiatri mendefenisikan mental yang mengubah penanganan orang gila. Defenisi penyakit menurut dunia kedokteran mengubah pendekatan manusia terhadap pasien dengan isolasi, pengasingan, dan mengubah kelekatan sosial. 

Konsep sekolah mengubah arti terpelajar tidak terpelajar. Konsep kesehatan mengubah makna tubuh, konsep kecantikan mengubah dan menghadirkan salon, pola makan, diet, dan kursus olahraga. Defenisi agama mengubah makna perbedaan, iman, kafir, dan melahirkan taklid buta.

Sebagaimana penelusuran Foucault menyangkut praktik seksualitas di abad pertengahan, waria atau bissu  juga diketengahkan di dalam formasi wacana sebagai kaum yang layak dilecehkan, diisolasi, dan dibiarkan tanpa ada hubungan interaksi. Mereka menjadi golongan dilabelisasi berdasarkan defenisi-defenisi yang diberikan kekuasaan atasnya. 

Konsep seksualitas dan keimanan yang  secara monolitik hasil diskursus kekuasaan, menjadi cara pandang masyarakat di dalam menerima kehadiran mereka. Intinya, kelompok waria ataupun bissu, sulit keluar dari objektivikasi kekuasaan. Mereka senantiasa dipandang rendah, menyimpang, dan layak dikendalikan. Mereka tidak akan pernah diberlakukan layaknya manusia, yang punya hak sama seperti golongan masyarakat lain.


--sudah tayang di Kalaliterasi.com

16 Desember 2019

Teori Sosial Animal Farm


Judul : Animal Farm
Penulis: George Orwell
Penerjemah: Bakdi Soemanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi: Pertama,Pertama,  Januari 2015
Tebal: 140 halaman
ISBN: 978-602-291-070-1



BINATANG Inggris, binatang Irlandia
Binatang di setiap negeri dan musim
Dengarkan kabar gembiraku
Tentang masa keemasan di hari mendatang

Cepat atau lambat saatnya akan tiba
Tirani manusia akan ditumbangkan
Dan ladang subur Inggris
Akan ditapaki oleh binatang saja

Kutipan lagu perlawanan di atas datang dari mimpi si Mayor, si babi Putih-Tengah Terhormat dalam novel klasik Animal Farm, karangan George Orwell. Si babi Mayor adalah pimpinan sekawanan binatang peternakan Manor milik Pak Jones yang meletupkan api revolusi demi melawan penindasan manusia.

Dalam pidato politiknya, si Babi Mayor menyebarkan propaganda kepada para binatang peternakan Manor, sekaligus menyampaikan mimpi dan pesan terakhirnya sebelum wafat.

Isi pidatonya mencengangkan! Ia, walaupun babi, pandai berargumen dan beretorika. Para binatang semula tidak menyadari keadaan apa-apa, seketika bergemuruh meneriakkan yel-yel pemberontakan. Di ujung pidato politik itulah, si Mayor memperdengarkan dan mengajarkan lagu di atas.

Di sesi pembukaan novel ini, pembaca akan menangkap kelugasaan maksud Orwell. Ini adalah novel satir. Orwell menggunakan karakter binatang demi menyindir tabiat manusia.

Bebauan politik demikian menyengat ketika kisah dibuka dengan orasi politik si babi Mayor. Politik, seperti isi pidato si babi Mayor, digambarkan Orwell sebagai wahana pendongrak kesadaran. Tanpa diduga-duga isi mimpi si Mayor mampu mengubah keadaan peternakan semula adem ayem menjadi penuh prasangka, saling curiga, dan saling serang, terutama kepada umat manusia.

Animal Farm dengan kata lain merupakan fabel politik yang sampai sekarang masih dibaca banyak orang, dan relevan diketengahkan. Cerita olok-olok Orwell kepada politik kekuasaan memperlihatkan tabiat manusia ibarat permainan. Ketika bersinggungan dengan kekuasaan, karakter manusia demikian mudah berubah-ubah sesuai kepentingan iklim politik.  

Dalam Animal Farm, akibat pidato Mayor si inspirator pemberontakan, peternakan berubah menjadi bukan seperti peternakan biasa. Di dalamnya agenda-agenda perlawanan disusun dan direncakan. Suatu kehidupan dengan suhu tinggi politik sedang berlangsung—yang tidak diketahui si pemilik peternakan, Tuan Jones.

Kelak pasca si Mayor wafat, imbauan politiknya dipatenkan jadi ajaran disebut binatangisme. Oleh babi pelanjut bernama Snowball dan Napoleon, binatangisme diaplikasikan menjadi paradigma kehidupan binatang. Inti ajaran ini berbunyi: ”semua mahluk berkaki empat dan bersayap adalah kawan. Semua mahluk berkaki dua adalah musuh”.

Tepat di bagian cerita ini, agaknya Orwell implisit menyitir ideologi komunisme. Lebih tepatnya Orwell sedang berkisah jalan cerita ideologi komunisme dari peralihan pemikiran Marx menjadi ajaran marxisme. Dari Uni Soviet berdiri hingga runtuh kembali.

Menariknya, tidak sekadar menjadi ajaran perlawanan, marxisme seolah-olah jatuh menjadi semata-mata dogma. Dari figur babi Snowball dan Napoleon, marxisme diejek hanya sekadar ambisi kekuasaan semata—seperti kelakuan Snowball dan Napoleon yang kelak memberikan penafsiran baku dan tunggal atas imbauan si Mayor (Ibarat Lenin dan kelak Stalin yang menafsirkan pikiran Marx semata-mata menurut mereka).

Walaupun begitu, terbuka kemungkinan Orwell tidak sekadar menyinggung-nyinggung komunisme. Anasir perubahan dari semangat pembebasan penindasan menjadi nafsu birokratisme juga banyak dialami ideologi-ideologi dunia.

Dengan kata lain, Animal Farm banyak menunjukkan ideologi apa pun bakal berubah dari bermaksud luhur menjadi kubur selama dikuasai dan dijalankan pribadi-pribadi seperti Snowball dan si Napoleon.

Peternakan Manor diisi beragam jenis karakter binatang. Selain pimpinan si babi Mayor, berturut-turut yang ada tiga ekor anjing bernama Bluebell, Jessie, dan Pitcher, sekumpulan babi-babi, burung dara, sekelompok ayam, dua kuda penarik kereta bernama Boxer dan Clover, Mauriel dan Benjamin, seekor kambing putih dan seekor keledai. Si kucing pemalas, seekor itik, Molie, si tolol, biri-biri, sapi, dan terakhir seekor gagak bernama Moses.

Bukan tanpa maksud Orwell menggunakan binatang demi meunjukkan gerak-gerik manusia. Karena ini adalah fabel, Orwell mengimposisikan karakter Animal Farm tidak sebatas corong cerita. Lebih jauh lagi adalah bagaimana Orwell bertindak ibarat sosiolog dalam membahas hirarki kekuasaan dalam masyarakat.

Tarik menarik kelas masyarakat

Kelas dalam khasanah ilmu sosiologi menjadi terma bersaing ketika dibicarakan dalam diskursus struktual fungsional dan struktural konflik. Dua paradigma ini memiliki perspektif  sama-sama khas mendudukkan posisi kelas masyarakat.

Paradigma struktural fungsional mengandaikan kelas sosial hasil alamiah  dari perbedaan posisi dan peran individu dalam masyarakat. Setiap individu akan menemukan peran dan posisinya seiring interaksinya di tengah kehidupan sosial.

Kekuatan sosial berupa modal ekonomi, pendidikan, budaya, dan simbolik menjadi faktor determinan pembentuk kelas masyarakat. Itu artinya, posisi seseorang dalam hirarki masyarakat tidak terlepas dari usahanya dalam mengelola sejumlah modal sosial di atas. Perbedaan strategi mengelola modal sosial inilah secara alami menimbulkan tingkatan sosial masyarakat.

Berbeda dari struktural fungsional, menurut struktur konflik kelas masyarakat justru terjadi karena intervensi kekuasaan. Bagi paradigma ini, kelas terjadi akibat dominasi golongan tertentu mengusai sejumlah modal sosial. Bahkan, kelas diciptakan demi melanggengkan kekuasaan kelas dominan atas kelas subordinat. Semakin banyak suatu golongan menguasi modal sosial, semakin berjenjang pula stratifikasi masyarakat terbentuk.

Kehidupan para binatang di peternakan Manor dimungkinkan dibaca melalui dua paradigma di atas. Bahkan, cerita gencatan senjata melawan pemilik peternakan dapat ditelusuri dari kedua paradigma ini, terkhusus paradigma konflik.

Semula, kehidupan para binatang peternakan Jones baik-baik saja, tapi berubah seketika saat si babi tua Mayor menyerukan kesadaran kelas. Keadaan sosial kehidupan para binatang semula harmonis. Setiap binatang bekerja berdasarkan peran masing-masing.

Menurut paradigma struktural fungsional, kehidupan peternakan Manor sudah mencapai apa yang diistilahkan sebagai titik keseimbangan (equiblirium). Keharmonisan ini bertahan lama sampai datang si Mayor mengutarakan isi mimpi dan pidato politiknya.

Dari tilikan paradigma konflik, peristiwa ini menandai suatu keadaan disebut sebagai kesadaran palsu. Keharmonisan hanyalah dalih kelas penguasa untuk melanggengkan status quo. Dalil ini walaupun diciptakan melalui prinsip-prinsip kerja sama, demokratis, dan keadilan, tidak serta merta dapat menutupi hakikat kenyataan sebenarnya, yang dalam paradigma konflik merupakan kontradiksi sistem kasta masyarakat.

Isi pidato si Mayor kian cepat mengubah stuktur kesadaran seluruh binatang peternakan. Kesadaran para binatang yang semula naif dinaikkan tarafnya menjadi kritis berkat orasi politik si babi tua Mayor.

Akhirnya, mereka menemukan makna baru dari realitas kehidupan mereka. Kenyataan yang selama ini dijalani tidak sesederhana apa yang mereka bayangkan. Di balik kenyamanan mereka sebagai hewan ternak sekonyong-konyong diartikan bagian penindasan tuan manusia pemilik peternakan.


--
Pos sebelumnya di komunitaslemolemo.blogspot.com


09 Desember 2019

Hije, Habermas, dan Disabilitas

Jurgen Habermas
Filsuf cum sosiolog Jerman
Dalam ilmu sosial dikenal sebagai penerus Critical Theory


RUMAH Hije lumayan besar untuk ukuran dirinya yang hidup sendiri saban hari sambil membuka kios kelontong di bilik kamar bagian kanan rumahnya. Jendelanya lebih sering terbuka dengan rang besi seukuran telunjuk orang dewasa dibandingkan pintu rumahnya.

Di situlah setiap kali ia bertemu pembeli bersama angin yang masuk berasal dari tepi-tepi sungai Bialo. Bersisian dipisahkan dua bilah daun jendela tepat menghadap pohon jambu monyet.

Konon, rumah lumayan besar itu dibangun saudara laki-lakinya. Hije, tiga bersaudara sebagai anak tengah. Belum genap satu tahun salah satu saudaranya meninggal dikarenakan kanker paru-paru. Orang sekampung merasa kehilangan, terutama Hije karena jika bukan saudaranya itu rumah Hije tidak sekokoh sekarang.

Tidak jelas betul kapan di jendela kiosnya itu dipasangi bel rumah. Yang pasti, berbeda dari rumah umumnya, yang dipasangi bel tepat di pintu utama rumah, di jendela itu, bel itu jauh lebih berfungsi, terutama bagi pembeli di kios Hije.

Telinga Hije bakal sulit menangkap suara teriakan pembeli jika ia berada di dapur, ruang belakang rumah saat ia membuat kue, hobinya itu. Hije penyandang disabilitas. Ia bisu sejak lahir.

Itulah sebab, bel rumah dipasang tidak jauh dari jendela kiosnya. Bunyi nyaring bel kios lebih efektif dibanding suara siapa pun yang memanggilnya.

Walaupun bel itu tidak cukup tinggi dipasang, kerap satu dua pelanggan saya dapati menunggu lama sambil marah-marah. Bel sudah dipencet berkali-kali, sementara dari tadi suara sudah dikencangkan melebihi suara angin.

Tapi, tetap saja Hije kadang datang terlambat. Kadang ketika ia salat, pelanggannya dibuat dongkol. Lama berdiri mirip narapidana meratapi nasib di balik jeruji besi. Makanya, bagi pelanggan tetap Hije, mereka sudah tahu kapan waktu yang pas buat berbelanja. Mereka seolah diam bersepakat, jangan datang di waktu-waktu Hije salat.

Hije sampai sekarang hidup sendiri. Di rumahnya tersimpan beberapa mesin jahit. Kerap ketika mamak di rumah ingin menjahit sesuatu, selain kepada teman dekatnya, ia akan pergi ke rumah Hije. Hije tidak menikah. Mamak, jika ke Bialo, Barabba, desa kediaman Hije, pasti menyempatkan singgah ke kediamannya.

Sejauh saya tahu, tidak banyak orang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat ketika bersama Hije. Mamak sejak kecil tumbuh bersama sepupunya. Bermain di sawah di waktu musim panen. Mencari ikan di sungai Bialo, pergi ke pasar membeli mainan...

Kala sepindah dari Kupang, pertama kali melihat Hije, saya mengira Hije saudara kembar mamak. Muka mereka berdua lumayan mirip. Hanya bentuk tubuh yang membedakan mereka berdua. Dan, keperawakan Hije seperti orang galak.

Mamak salah satu orang yang lancar berbahasa isyarat dengan sepupunya itu. Mungkin karena dari kecil sering bermain bersama mereka saling menghapal bahasa isyarat satu sama lain. Saya tidak tahu apakah Hije pernah belajar bahasa isyarat bagi penyandang bisu. Atau pernah sekolah di sekolah luar biasa. Tapi saya yakin seratus persen keahlian mamak menggerakkan tangan dan jarinya saat berkomunikasi bersama sepupunya itu karena dipupuk pengalaman bersama yang panjang.

Mamak tidak pernah menceritakan keahliannya ini. Sekalipun ia juga tidak pernah mengatakan tidak pernah belajar langsung mengenai bahasa isyarat bahasa orang bisu.

Hije kadang bersuara mirip erangan mempertegas isyarat tangannya. Mamak kadang langsung paham apa maksud Hije. Saya sering merasa lucu ketika melihat saudara sepupu ini saling berkomunikasi. Biasanya, di waktu-waktu tertentu mamak menjadi penerjemah ketika Hije menyampaikan sesuatu kepada kami keponakannya.

Ketika menjadi wartawan, saya pernah ditugasi meliput penyelengaraan ujian nasional di salah satu sekolah luar biasa di Makassar. Awal peliputan lumayan lancar setelah bertemu kepala sekolah dan beberapa guru saat wawancara.

Saya juga berkeliling masuk di kelas mengambil beberapa gambar sambil berusaha tidak menarik perhatian peserta ujian. Yang membuat saya kikuk adalah ketika saya ingin mengambil keterangan dari salah satu peserta ujian, yang otomatis penyandang disabilitas. Saya menunggu waktu istirahat. Mengamati calon narasumber saya dari kejauhan. Tapi siapa yang bakal saya pilih. Di hadapan saya realitas yang berbeda. Saya terasing dari lingkungan yang serba terbatas itu.

Maka jadilah saya mewancarai seorang anak cacat. Menanyakan bagaimana perasaannya menghadapi ujian nasional. Apakah ada kesulitan saat menjawab soal. Apakah ia senang dapat mengikuti ujian nasional walaupun jumlah muridnya tidak seberapa. Apakah ia senang bersekolah jauh dari rumahnya....

Orang penyandang disabilitas sering diabaikan dari lingkungan sosialnya. Mereka kerap mendapat perlakuan berbeda. Jika si penyandang berasal dari keluarga kelas bawah, maka "penindasan" dialami dua kali lipat dari biasanya. Tidak bisa dibayangkan belum kelar problem ekonomi, mereka diberikan lagi perlakuan diskriminatif dan eksklusi. Mereka otomatis jadi kelompok paling rentan mendapatkan perlakuan tidak adil.

Belum lama, Jokowi memilih satu staf khususnya dari penyandang disabilitas. Ini kabar gembira di samping ditemukan satu dua kasus mencuat penyandang disabilitas ditolak setelah lulus seleksi pegawai negeri sipil. Sekolah yang semakin eksklusif terhadap anak didik disabilitas. Fasilitas umum tidak ramah disabilitas, dan hak-hak publik penyandang disabilitas yang belum diapresiasi secara struktural dan kultural.

Hije ketika ke pasar umum lebih sering menggunakan angkutan umum--pete-pete, walaupun ia memiliki sepeda motor yang lebih sering terparkir diam di ruang tamunya. Licin tanpa noda tanah di kedua bannya. Kemungkinan besar Hije mampu menggunakan motornya meski demikian jarang yang menyaksikannya wara wiri di jalanan perkampungan.

Saya sering berpikir jika saja Hije memiliki anak, dengan sendirinya motor itu lebih banyak dipakai anaknya. Tapi, kenyataannya Hije belum menikah satu kali pun. Saya menduga di masa lalu, anak-anak muda malu jika bukan khawatir menikahi seorang perempuan "pepe" mirip Hije. Atau para lelaki muda yang mulai tumbuh jakunnya berpikir bakal kesulitan seumur hidup membina rumah tangga lantaran sulit berkomunikasi dengannya. Siapa yang tahan kelak sehari-hari menggunakan bahasa isyarat sambil menahan emosi kalau pengertian tidak dapat saling bertukar.

Dari sini bisa dibayangkan, bagaimana kedudukan sosial seorang penyandang disabilitas. Apalagi ia seorang perempuan kampung yang hidup di tengah-tengah budaya patriarki a la desa. Perempuan ketika tumbuh di dalam masyarakat menjunjung tinggi laki-laki, kerap diberlakukan berlainan dengan dalih tradisi.

Orang seperti Hije bakal tidak menikah sampai usianya berkepala lima. Keturunannya terputus sampai di dirinya saja, menanggung hidup secara sendiri sampai tua. Ia tidak dapat merasakan bagaimana hidup bersama sepasang anak, suami pengertian, dan keceriaan berumah tangga. Praktis karena ia "berbeda" semua pengalaman itu tidak pernah dirasakan.

Seandainya Hije tahu, sekarang ada SIM khusus bagi penyandang disabilitas, bisa jadi ia berani memacu kuda besinya tanpa takut dirazia karena persuratan tidak lengkap. Setidaknya ia tidak perlu repot menunggu angkutan umum yang mulai jarang beroperasi di kampungnya. Ia bakal lebih senang mengunjungi keluarganya, yang tentu pasti bakal menyambangi sepupunya, siapa lagi kalau bukan mamak--orang yang saya duga lebih mengerti berkomunikasi dengannya--ketika ada gosip-gosip yang perlu mereka bicarakan.

Tidak banyak saya ketahui tentang Hije selain kehidupan monotonnya: di rumah menjahit--ia terampil menjahit--pesanan orang-orang, menjaga kios kelontong, membuat kue, dan menunggu beras dari sawah yang dikerjakan orang, atau sesekali ke pasar membeli kebutuhan jahit menjahit dan dagangannya.

Saya ingat seorang filsuf cum sosiolog berbibir sumbing yang mengubah cacatnya menjadi titik tolak refleksi filosofisnya. Sewaktu kecil ia kesulitan berkomunikasi dengan orang lain akibat bentuk cacat mulutnya. Ia sering kali disalahpahami alih-alih dimengerti ucapannya. Kelak karena itu ia menjadi pakar ilmu sosial dengan tesis komunikasi sebagai diskursus pembebasan. Orang itu bernama Jurgen Habermas, pemikir berpengaruh abad 20.

Hije, atau pun penyandang disabilitas lainnya, bisa seperti Habermas yang mengubah keterbatasannya sebagai palung keinsafan. Bukan malah menerima nasib apa adanya belaka, tapi membuatnya selangkah lebih maju. Saya kira, Hije, dan orang sepertinya di satu momen kehidupannya sudah menemukan titik balik kesadaran, menciptakan peluang keuntungan di dalam kekurangannya. Buktinya, sampai sekarang Hije hidup mandiri dan bebas menjadi dirinya sendiri.

Sesungguhnya di dalam kesulitan terdapat kemudahan, begitu Tuhan nyatakan dalam kitab sucinya. Camkan! Bukan "setelah" kesulitan, tapi "di dalam" kesulitan terkandung kemudahan.

Selamat Hari Disabilitas Internasional.

01 Desember 2019

Geetha Rani, Guru Kepala Sekolah Tegas nan Tulus


Genre: Comedy
Sutradara: Sy Gowthamraj
Penulis naskah: Bharathi Thambi
Pemaian: Jyothika, Hareesh Peradi, Poornima Bhagyaraj
Durasi: 134 minutes
Studio: Dream Warrior Pictures



GURU, pahlawan tanpa tanda jasa saya kira slogan berbahaya. Dia bisa menjadi alasan berkelit bagi kekuasaan agar guru tetap diperlakukan seadanya. Guru tak mesti diperlakukan khusus. Toh, dia mesti ikhlas bekerja. Pagi hingga sore tanpa pamrih mendidik ribuan anak-anak negeri. Jika mengeluh dan meminta haknya dipenuhi ada slogan itu tadi. Guru bukan siapa-siapa. Dia tidak mesti mendapatkan jasa balasan dari pengabdiannya selama ini.

Nasib guru ditinjau dari slogan itu cukup mengenaskan. Waktu dan tenaganya selevel dengan kerja buruh pabrik. Pagi hingga sore, tanpa sekalipun menyisakan waktu bagi keluarga, dia mesti berada di sekolah. Di dalam kelas  ia dituntut kreatif  membaca gerak gerik siswa, di hadapan sistem dia dibebani tumpukan embel-embel administrasi, di mata publik gelagatnya dicibir berperilaku kasar mendidik anak, dan di hadapan pemerintah hak-haknya banyak tidak diapresiasi.

Melihat siklus kehidupan seorang guru cukup aneh. Di hadapan negara ia jadi objek kekuasaan demi  menjadi subjek kemajuan peradaban. Banyak waktunya tercurah mendidik anak-anak orang lain, sementara di saat bersamaan waktunya ”dirampas” demi mendidik keluarganya.

Dengan kata lain, seorang guru teralienasi dari kehidupan intinya. Tanpa sadar ia menjadi objek pekerjaannya sendiri.  Mengajar, membuat RPP, mengisi berkas administrasi, secara kontinyu membuatnya ”berjarak”. Ia dekat, tapi jauh dari segi perhatian dan pendidikan keluarga.

Tapi, walaupun demikian, siklus kehidupan guru menandai bagaimana ia kerap mengutamakan kehidupan publik (pendidikan) daripada kehidupan pribadinya (rumah tangga). Ia rela urusan keluarganya dinomorduakan demi kemajuan pendidikan. Orang rela mengutamakan kehidupan banyak orang daripada kepentingan pribadinya, saya kira orang yang memiliki kualitas keikhlasan luar biasa.

Ini yang membedakan kualifikasi guru dari profesi lain. Ia sehari-hari berkecimpung di dalam ”dunia manusia” yang memiliki beragam karakter, kepentingan, motivasi, kecenderungan dan tingkat pemahaman berbeda. Di dalam lingkungan serba dinamis itu, keikhlasan dan kesabaran adalah kunci.

Lalu, jika guru tidak dapat ditandai atas jasanya, bagaimana guru mesti diapresiasi atas kerja kerasnya mendidik ”peradaban”?

Saya berpikir, satu-satunya cara mengapresiasi kerja guru tiada lain mengamalkan seluruh didikan sang guru. Guru dihargai dengan cara kita berpikir, berperasaan, dan beramal sesuai amanah ilmu yang diperoleh darinya. Apabila semua itu ingin ditandai, saya kira itulah tandanya, tanda jasanya.



DUA hari ini netizen dihebohkan pidato menteri pendidikan baru. Nadiem tidak banyak berbasa-basi. Bahkan itu sudah ia ingatkan dari isi pidato awal. Inti pidato Nadiem berkisar lima hal.

Pertama, soal guru yang menjadi lokomotif utama penggerak generasi terdidik. Kedua, kecerdasan peserta didik tidak diukur dari hasil ujian. Ketiga, guru mesti menekankan karya murid tinimbang membebani murid menghapal isi pelajaran. Keempat dan kelima, guru mesti menjadi pelaku aktif di dalam kelas, dan mesti memahami kebutuhan berbeda setiap murid.

Isi pidato Nadiem sebenarnya klise jika dibandingkan dengan isi pidato Jokowi di hari Guru tahun 2017. Terlebih lagi dari yang pernah dicanangkan Anis Baswedan dan Muhadjir Effendy.

Satu-satunya membedakan pidato Nadiem dibanding menteri sebelumnya adalah cara ia disampaikan. Sehari sebelum resmi dibacakan, beredar video naskah pidatonya di lini masa. Seolah-olah Nadiem ingin menandai bagaimana ia gesit memanfaatkan media sosial. Satu ciri milenial dan teknologis yang menjadi latarbelakangnya selama ini.

Pidato Nadiem di hari guru besar kemungkinan akan berbeda jika diucapkan di hari pendidikan. Guru dan pendidikan dua hal berbeda walaupun tidak bisa dipisahkan. Itulah sebab, tema pidato Nadiem  tidak bertumpu di atas narasi besar pendidikan, melainkan kembali mengingatkan guru sebagai garda depan yang sehari-hari berada di dalam kelas bakal menentukan arah pendidikan.

Nadiem, dengan kata lain sedang berbicara tentang sosok pahlawan. Figur merdeka yang bakal menentukan nasib masa depan banyak orang.



DIA datang tanpa banyak bersuara. Ia melihat banyak keanehan di sekolah tempatnya bakal bertugas. Sekolah orang tidak mampu itu ibarat lingkungan pasar: murid merokok dan beberapa melompat pagar, kelas amburadul, siswa-siswi berlarian tak karuan di halaman.

Guru-gurunya? Jangan tanya. Ketika Geetha Rani kali pertama datang, guru-gurunya nongkrong di ruang guru asyik bersolek. Beberapa mengajar mendengarkan lagu  dari headset sementara murid-muridnya dibiarkan bermain. Bahkan, guru-guru lelakinya malah keluyuran lari dari tugas mengajar.

Geetha Rani, perempuan guru dalam film Raatchasi (2019), tidak main-main. Ia adalah guru baru sekaligus kepala sekolah ditugaskan di sekolah karut marut. Setelah mengamati keadaan buruk sekolah dipimpinnya, ia melakukan perubahan seketika.

Melihat keadaaan ini, bagi guru bermental kerupuk, sudah pasti bakal keok di hari pertama bertugas, dan mencari cara dipindahkan secepatnya. Tapi tidak bagi Geeta. Seakan-akan menepis anggapan masyarakat sekitar sekolah, ia malah bersemangat mengubah keadaan yang semula tidak mirip sekolah itu.

Dia pelan-pelan tapi tegas, mengubah seluruh kebiasaan buruk sekolah. Pertama ia membiasakan siswa-siswa mesti berkumpul setiap pagi sebelum masuk kelas. Kedua, ia menertibkan guru-guru bermasalah. Sebagiannya ia ”paksa” meng-upgrade pengetahuan belajar-mengajarnya. Ketiga, ia merenovasi gedung sarana prasarana sekolah. Keempat, ia membuka kelas minggu bagi anak-anak tidak sekolah ikut belajar di akhir pekan. Kelima, ia meroling setiap guru menjadi kepala sekolah harian di hari-hari berbeda. Keenam, ia mengundang orang tua murid membicarakan ide-ide perbaikannya. Intinya, Geetha Rani sedang melakukan perubahan besar-besaran nan mendasar di sekolah dipimpinnya.

Usaha revolusioner Geeta di sekolah seketika merebak seantero kampung. Sekolah dikenal sarang anak-anak nakal, murid keluarga miskin, dan guru malas, seketika diketahui banyak perubahan.

Tak disangka tindakan perbaikan Geeta membawa soal lain. Banyak pihak berkepentingan gerah atas gaya tegas kepemimpinannya–termasuk guru-guru di sekolah. Geeta dianggap banyak mengubah bukan saja keadaaan sekolah, tapi situasi status quo sosial-politik di daerah sekolah itu berdiri.

Saya tidak perlu lagi membicarakan jalan cerita film Kollywood ini (film berbahasa Tamil yang membedakan dengan Bollywood, film berbahasa Hindi). Tapi perlu saya katakan premis film ini tidak jauh berbeda dari film sejenis Taare Zameen Par (2008), Dead Poets Society (1989), atau Freedom Writers (2007), yang menempatkan peran signifikan guru mengubah penyelenggaraan pendidikan jauh lebih baik.

Seperti dua fim ini, Raatchasi dengan klise tapi begitu bersemangat mendudukkan peran ”sendirian” seorang guru, dari tindakan ”lokalnya” mengubah kebiasan buruk belajar di sekolah menjadi kembali bersemangat dan humanis.

Geetha Rani menciptakan kebiasan dan pendekatan baru dalam proses belajar mengajar.  Dari rumahnya, sepulang dari sekolah, dia menyusun strategi apa untuk mengubah eksosistem sekolah yang ideal. Pelan-pelan perubahan itu bakal mempengaruhi kehidupan sosial sampai di luar sekolah.  Ini, saya kira adalah salah satu pesan utamanya. Peluru pendidikan diciptakan di dalam kelas, dan bakal ”meledak” kelak ketika mereka berkiprah di dunia yang lebih luas.

Pelan-pelan adegan demi adegan film ini mengisi imajinasi saya tentang sosok guru diidealkan Nadiem. Guru yang disebutnya tidak mesti menunggu perintah dari ”atas”, guru yang mengutamakan karya siswa, guru yang pandai berinovasi di dalam kelas, guru yang menemukan pendekatan baru belajar mengajar, guru yang mengajak diskusi kelasnya, guru yang mesti menemukan bakat murid, guru yang….

Selamat Hari Guru, pahlawan tanpa tanda jasa.


--Telah tayang 25 November 2019 di Kalaliterasi.com


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...