16 Februari 2019

Sadar Diri dan Obrolan Sederhana dari Sebuah Cerpen


GNOTHI SEAUTON. Setelah membaca cerpen ini* kali kedua --semenjak beberapa tahun lalu—saya baru menyadari cerpen ini merefleksikan keadaan masyarakat sekarang, terutama ketika saling bertemu.

Sudah jarang terlihta --dan juga pergaulan diri sendiri--masyarakat sekarang yang saling terbuka satu sama lain ketika berada di dalam komunitasnya. Tapi, jangan dulu komunitas terdekatnya, di dalam keluarga saja sekarang malah seperti tidak saling mengenal. Maksudnya, sudah pasti saling mengenal, saling tahu sesama keluarga inti, namun tidak untuk hal-hal yang personal dan fundamen. Interaksi tetap berjalan, hanya saja tidak saling menjiwai.

Cerpen ini menariknya menawarkan insight yang mesti dipikirkan. Pertama, seperti yang saya bilang di atas, yakni tentang "kedekatan" dengan orang-orang terdekat. Kedua, mengenai keterbukaan. Coba ingat-ingat, kapan terakhir kita ngobrol bersama saribatangta, tentang segala ihwal, tentang ceruk-beruknya kehidupan, yang saling mengerti, saling menguatkan antar keduanya. Ini menyerupai saat kita mendapatkan teman bicara yang menjadi kawan kritis, bicara curhat saling membantu jiwa masing-masing.

Ketiga, kalau tidak ada ditemukan yang saya sebut di atas, bisa jadi teman ngopi Anda hanya sekadar teman semeja. Bukan kawan kritis yang mampu mengajak Anda berbenah diri. Kalau yang seperti ini, berarti pertemanan Anda tidak berkualitas. Ternyata teman Anda cuma selevel kaleng-kaleng.

Belakangan banyak saya menyaksikan orang-orang ketika saling bertemu hanya berkutat di soal politik, pekerjaan, atau masalah perempuan. Tidak pernah sama sekali ada pergaulan yang bebas terbuka tapi seperti saya sebut di atas. Mungkin bisa Anda katakan, "ah tidak juga, mungkin itu hanya perasaan Anda saja. Saya sejauh ini baik-baik, kok." "Saya selama bergaul santai-santai, kok. Tidak usah terlalu serius dipikirkan. Ini hanya dunia, bung."

Tepat. Ini memang  perasaan saya. Dunia sekarang memang selalu dilihat dari aspek rasional dan seperti Barat, materialistik. Tapi, justru karena itu, semuanya hendak diukur, ditimbang, dan dinilai sesuai isi kepala Anda, bukan isi hati Anda. Sederhananya, semuanya mesti berdasarkan asas untung rugi. Itulah sebabnya,  banyak pertemanan hanya sekadar sambil lalu. Kualitas relasinya mentok tanpa bisa lebih dalam lagi. Hanya sekadar kumpul-kumpul belaka.

Di cerpen ii, Puthut EA juga mengisyaratkan satu hal: manusia modern yang dirundung kemendesakan rutinitas mesti sekali-sekali menengok dirinya. Issengi alenu. Begitu sering diingatkan orang tua-orang tua di kampung. Frase ini mengingatkan  saya kepada kuil Apolo di Delphi Yunani yang tertulis di atas gerbangnya: "gnothi seauton" (kenali dirimu).

Kalau di konteks masyarakat Yunani, frase ini berarti tahulah dirimu di hadapan dewa-dewa. Engkau mahluk terbatas yang mesti menghormati dewa-dewa. Jangan sekali-kali melawan takdirmu sebagai manusia fana.

Tapi, untuk konteks sekarang, perkataan ini lebih kurang sama dengan arti di atas. Kita mesti tahu diri. Siapa dan apakah kita ini sebenarnya.

Malangnya, selama kita tidak tahu diri, sering berdiskusiki menjadi ajang saling serang. Seolah-olah Anda adalah satu-satunya yang benar. Kalau sudah begini, sudah tidak patut dibilang obrolan, tapi kampanye.

Omong-omong, hanya itu yang ingin saya katakan.

--

* Cerpen berjudul Obrolan Sederhana Karangan Puthut EA dalam bukunya Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, terbitan Insist Press

07 Februari 2019

Berani Berkata Benar dari Yunani Antik: Pharresia


Judul : Pharresia: Berani Berkata Benar
Penulis : Michel Foucault
Penerjemah : Haryanto Cahyadi
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun Terbit : Mei 2018
Tebal : 209 Halaman
ISBN : 978-979-1260-78-7

Pertama patut diapresiasi atas usaha Haryanto Cahyadi sebagai penerjemah mengingat buku ini bisa dikatakan sebagai teks filsafat. Bahasanya yang ringan dan mudah dicerna membuat pembaca merasa nyaman membacanya. Apalagi ini adalah Michel Foucault, filsuf yang lumayan berat pemikirannya –setidaknya bagi saya— lewat tangan Cahyadi dapat lebih mudah mengurai pokok-pokok gagasan yang ditranskip dari ceramah seminarnya di tahun-tahun belakangan sebelum ia wafat.

Diambil dari rangkaian kuliah Foucault di Universitas California, Berkeley, buku ini mengelaborasi hubungan wacana dan kebenaran dari suatu tilikan risikonya. Dengan kata lain, buku ini menawarkan suatu sikap keberanian –yang jarang dijumpai—dalam mengungkapkan kebenaran di saat banyak wacana menutupinya, dan tentu saja ketika semua pihak takut menyatakannya.

Merupakan suatu keberanian ketika mengungkapkan kebenaran di samping harus menanggung risiko, seperti, kehilangan nyawa, mungkin. Bukankah disebut keberanian, seperti Sokrates, misalnya, yang menghadapi risiko difitnah dan kemudian dibunuh, dari pekerjaannya sebagai filsuf untuk mengungkapkan kebenaran? Galileo Galilei, misalnya, atau, di tanah air ada seorang Munir?

Sokrates, Galileo Galilei, dan Munir –begitu juga orang seperti mereka—ketika tanpa khawatir menyatakan kebenaran walaupun risiko menghadang disebut –dalam istilah Yunani Antik—sebagai parrhesia.

Tapi tidak semata-mata risiko. Parrhesia yang secara etimologi berarti “mengatakan segala sesuatu” memiliki kekhususan yang khas karena tidak semua pernyataan yang dinyatakan dalam rangka mengatakan sesuatu disebut pharresia.

Secara peyoratif pharressia hanyalah sikap tanpa bobot ketika seseorang sekadar mengungkapkan apa saja yang terlintas di pikiran dan hatinya. Bukankan seseorang selalu mengatakan sesuatu melalui apa yang ia pikirkan dan rasakan? Apakah sesuatu yang dinyatakannya memang perlu diungkapkan karena dirasa benar atau memang benar? Apakah mengatakan yang memang benar itu disebut pharresia?

Di bagian awal buku ini, Foucault menerangkan beberapa kualifikasi yang dimiliki pharresiastes (pengungkap kebenaran) ketika mengambil sikap pharresia.

Artinya selain risiko, tanpa tiga kualifikasi yang disebut di antaranya adalah kewajiban, keberanian, dan posisi, seseorang belum disebut sebagai pengungkap kebenaran. Dengan kata lain yang bersangkutan belum menempuh sikap pharresia.

Sebagai contoh: risiko sudah pasti menuntut keberanian, tapi bukannya disebut pharessia ketika seorang raja menyatakan kebenaran terhadap rakyatnya mengingat posisinya sebagai penguasa. Risikonya pun nyaris muskil. Tidak ada yang menghalang-halanginya apalagi membatasinya dalam mengungkapkan kebenaran. Raja adalah raja sejauh ia menggunakan hak istimewanya sebagai penguasa absolut.

Bagi si raja, tidak ada juga kewajiban yang menjadi dorongan etik untuk menyatakan sesuatu. Ia bahkan dalam banyak kasus tidak dikenai kewajiban dalam menyatakan sesuatu. Mengingat ia adalah raja, justru ia dalam hubungannya dengan wacana sering kali bukan pihak yang memiliki kewajiban sebagai pengungkap kebenaran.

Tapi, berbeda bagi seorang hamba. Dilihat dari situasinya seorang hamba adalah pihak yang tidak memiliki kekuasaan. Meski terkadang kekuasaan yang justru menindasnya. Ia juga dari segi profesi bukan siapa-siapa dalam struktur kekuasaan kerajaan. Tapi, ketika ia mampu menyatakan ketidakadilan kepemimpinan ketika diperhadapkan kepada sang raja, dan di baliknya ia akan menerima risiko kemurkaan raja, bahkan kehilangan nyawanya, maka ia sesungguhnya sedang menerapkan pharresia.

Jika dilihat dari statusnya, posisi si hamba jauh di bawah sang raja. Ini yang menyebabkan keterusterangan sang hamba menjadi pharresia. Pharessia dengan kata lain tidak sama sekali datang dan diungkapkan dari “atas”, tetapi ia dimunculkan dari “bawah”.

Dari penjelasan di atas, pharessia berhubungan pula dengan posisi. Dalam kasus di atas pharessia tidak dimiliki seorang raja karena statusnya sebagai orang yang berkuasa, ia juga dari awal memiliki kebebasan berbicara. Namun kepada si hambalah pharessia itu ditemukan. Ia meski tidak memiliki hak berbicara, namun dari sisi posisinya dalam menyatakan kebenaran bermakna keberanian.

Yang patut diperhatikan adalah pada bagian-bagain awal buku ini. Dengan runut Foucault menjelaskan makna asal kata pharessia beserta konteksnya dalam bidang politik dan filsafat. Setelah itu pharessia diterangkan dengan lugas oleh Foucault melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam naskah sastra Yunani Antik.

Di dalamnya kita akan banyak menemukan pengertian lain parrhesia dari naskah-naskah drama semisal Euripides yang berpusat pada tokoh-tokoh seperti Phoinissai, Hippolytos, Bakhai, Elektra, Ion, dan Orestes. Melalui kisah merekalah Foucault menerangkan berbagai sisi arti parrhesia.

Terlepas dari tahu tidaknya kita terhadap naskah-naskah drama itu, uraian Foucault yang mengikutkan sedikit demi sedikit latar belakang dan kejadian-kejadian demi menerangkan parrhesia dalam naskah itu sedikit banyaknya ikut menolong orang seperti saya yang asing dengan cerita-cerita drama dalam buku ini dapat lebih mudah dipahami.

***

Kiwari, ketika semua orang memiliki kesamaan hak berbicara, pharessia berangsur-angsur kehilangan momentumnya. Nyaris pharessia atau keberanian berbicara benar sulit dibedakan dengan semakin banyaknya orang berbicara. Semakin bebas alam demokrasi, semakin tidak relevan lagi pharresia mendudukkan posisinya sebagai bagian dari kritiknya terhadap tatanan yang mengancam.

“yang paling pertama, mereka bebas. Kebebasan dan berbicara bebas (pharresia) marak di mana-mana; siapa pun diperbolehkan melakukan apa yang ia sukai… Begitulah, setiap orangakan menata cara hidupnya sendiri dengan kesenangannya.” (hal. 93)

Demikianlah, ucapan Sokrates dalam Politeia-nya Platon berkaitan dengan hubungan kebebasan yang menjadi ciri demokrasi dengan pharresia yang banyak disalahgunakan oleh warga negara. Sesuatu yang dialami oleh banyak negara demokrasi modern sekarang ini.

Platon dalam konteks yang tidak jauh berbeda dari Sokrates juga menyatakan bahwa berbahayanya pharresia bukan karena ia bisa dilakukan oleh setiap warga negara paling buruk sekalipun, melainkan kebebasan berpendapat yang dimiliki setiap warga negara berpeluang besar menjadikan negara kehilangan konsesus mengenai apa yang baik dan ideal bagi dirinya karena setiap warga negara bebas mengekspresikan kemauannya dengan bebas.

“Bahaya utama kebebasan dan berbicara bebas dalam demokrasi adalah hasil yang timbul manakala setiap orang punya cara hidupnya sendiri,gaya hidupnya sendiri…karena tidak ada logos (wacana) bersama, tidak mungkin ada persatuan demi polis.”(Hal.93)

Berkaca kepada perkataan Sokrates dan Platon, rasa-rasanya di sini di waktu sekarang ruang publik penuh disesaki wacana dari setiap orang. Masing-masing atas nama demokrasi dengan bebas tanpa kualifikasi moral tertentu dapat berkata apa saja, mengkritik apa saja seturut isi hati dan pikirannya. Keadaan yang tidak mencerminkan sebagai pelaku pengungkap kebenaran. Keadaan yang sama sekali bukan pharresia.

24 Januari 2019

Literasi Desa Labbo: Dari Desa, Oleh Desa, dan Untuk Desa


Ini bocoran saja: dua hari lalu saya didadak Sulhan Yusuf agar segera meresensi buku teranyar dari salah satu desa di Bantaeng --kabupaten di Sulawesi yang mencuri perhatian kita 1 dekade belakangan--"Literasi Dari Desa Labbo". Buku kumpulan tulisan yang tempo hari sudah saya ketahui cikal bakal kedatangannya. Tapi, berhubung masih diikat kesibukan lain, saya akhirnya baru bisa menulis ini di sela-sela pertemuan akhir kelas kuliah yang saya ampu. Sembari memberikan final mahasiswa, saya mencuri waktu agar tulisan yang dibuat ini dapat rampung dan dinikmati sesuai pesanan.

Bukan rahasia lagi, cara untuk mengapresiasi buku-buku yang diterbitkan orang-orang dekat atau komunitas yang sevisi, kami-kami sering saling "memesan", saling mendukung, dan juga saling menyemangati entah dengan cara apa. Resensi ini salah satu wujudnya.

Saya yakin di balik terbitnya buku ini, "pesanan" adalah kekuatannya. Seperti dituliskan dari catatan penyunting, buku ini lahir atas dasar inisiatif warga Desa Labbo yang ingin mengabadikan ingatan, pengamatan, dan pengalamannya mengenai apa saja yang berkaitan dengan Desa Labbo.

"Buku ini merupakan hasil dari proses panjang aktivitas literasi di Desa Labbo, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sejak kepala desa dijabat oleh Subhan Yakub, saya sudah ikut mendorong program-program literasi yang dicanangkan Pemerintah Desa Labbo, mulai dari pembenahan perpustakaan desa hingga pelatihan literasi untuk Karang Taruna."

Di atas, kutipan saya ambil untuk membunyikan makna "pesanan" yang dimaksud. Yakni hasil kalkulasi tukar tambah pengetahuan dan pengalaman dari siapa pun yang terlibat dari macam-macam kegiatan di atas.

Mulai dari kepala desa, kepala dusun, mahasiswa, ibu rumah tangga, aktivis, pendamping desa, dan warga desa, adalah orang-orang yang gotong royong mengafirmasi "pesanan" dari aktivitas bermatra literasi.

Dengan kata lain, "pesanan" itu berwujud pemberdayaan dari desa, oleh desa, dan untuk desa. Ya, buku ini bisa dibilang adalah hasil rembukan warga desa untuk menghasilkan sesuatu bagi desa mereka.

Itulah sebabnya, kalau ada yang mengetahui gerak-gerik para penulis di buku ini, mereka bergerak atas "pesanan" yang sama, visi yang sama, dan beruntungngnya bisa bertahan dalam frekuensi yang sejajar.

Mereka, walaupun datang dari beragam profesi, latar belakang pendidikan berbeda, usia, dan kecenderungan politik yang saling membelakangi, bisa demikian kejadiannya karena lahir dari hasil ijtimak bersama: menerbitkan buku.

Dari sisi ini, imajinasi tentang desa mesti digugat. Kadang desa diidentikkan terbelakang, tidak dinamis, dan sulit berkembang. Bahkan, desa dari kacamata ilmu-ilmu sosial mainstream, didudukkan sebagai lokasi pinggiran dengan kota sebagai pusatnya. Sebab dari itu, desa selalu dipandang wilayah yang tidak layak diperjuangkan dan tidak mesti diprioritaskan.

Hadirnya buku ini ibarat gugatan tentang semua itu. Bukan padi, buah-buahan, atau hasil ternak saja, melainkan buku sebagai penanda signifikan yang menjadi catatan kritis mengenai pergeseran aktivitas warga desa.

Buku yang identik bagi kalangan terdidik, di Desa Labbo diusahakan menjadi lebih liberal lagi. Ia didudukkan sama dengan sawah, kebun, dan ladang sebagai area atau benda yang menjadi pusat pikiran warga desa.

Seketika warga desa bertransformasi bukan saja akrab dengan perkakas pertanian dan perkebunan, tapi juga dengan laptop, jaringan wifi, buku, jurnal, catatan koran, laporan desa, dan siaran televisi yang semuanya menjadi semesta baru membentuk wacana di keseharian mereka.

Dengan kata lain, sebagian warga desa yang akrab dengan pekerjaan-pekerjaan tanah, berubah ikut naik ke ketinggian bagaimana mengabsraksi ide dan gagasan dalam dunia literasi --sesuatu yang demikian jauh dari keseharian mereka.

Berkat itu semua, Desa Labbo berhasil meraih penghargaan Perpustakaan Desa terbaik dari seluruh perpustakaan desa se-Tanah Air. Tentu ini hanya salah satu program dari sekian banyak program desa yang bergerak dengan visi literasi.

Sekarang konteks masyarakat desa tidak jauh berbeda keadaannya dengan masyarakat kota, para kontributor di buku ini masih mempertahankan oleh apa yang disebut sosiolog Prancis, Emile Durkeim sebagai "kesadaran kolektif". Ihwal inilah yang memandu hal-hal di atas dapat mewujud menjadi satu buku seperti ini.

Patut dicurigai jangan-jangan warga kota sudah tidak mampu lagi memiliki kemampuan seperti warga Desa Labbo. Selain berwatak individualis dan dinamisnya aktifitas profesi, sulit rasanya membayangkan, satu kelurahan, misalnya, mau keluar sejenak dari spekulatifya hidup kiwari demi melakukan kerja kultural semacam menerbitkan buku.

Di sisi ini kita mesti mengacungi jempol buat warga Desa Labbo. Kendati tidak semua, mereka yang menulis untuk buku ini telah memosisikan dirinya sebagai figur-figur publik, walaupun untuk desa mereka saja. Figur publik di sini, tentu mereka yang mengedepankan urusan umum sebagai urusan pribadi mereka.

Dengan kata lain, mereka bekerja dan menulis tentu untuk kemajuan bersama. Kemajuan Desa Labbo sendiri.

Walaupun tema tulisan buku ini macam-macam, tapi barangkali kecintaan terhadap desa mereka-lah sehingga buku ini dapat terbit di hadapan khalayak. Itulah sebabnya, sulit menemukan narasi yang mampu mengikat keseluruhan dan keberagaman tulisan di buku ini yang juga mengikutkan fiksi di dalamnya.

Literasi Dari Desa Labbo terdiri16 artikel, 16 esai, 11 cerita, 4 puisi. Editor atau penyunting buku ini, barangkali sedikit kesulitan mengkamar-kamarkan baik genre, tema, isi dan jenis tulisan dalam buku ini. Dari sisi ini mungkin pembaca bisa menilai dan mengkritisinya, bahwa akan jauh lebih baik jika sebuah buku mesti berdiri di dalam satu genre tulisan saja.

Satu hal yang pasti, kehadiran buku ini yang merupakan buah tangan langsung para warga Desa Labbo, walaupun sifatnya tidak umum, adalah gejala tersendiri bahwa di desa-desa sekarang, terutama di Sulawesi Selatan, tengah terjadi perubahan senyap memformulasikan ulang modal utama apa yang bisa dimaksimalkan di desa bersangkutan. Uniknya semua itu tidak lagi didasakan kepada tradisi lisan, sesuatu yang khas masyarakat desa, melainkan beralih menjadi tradisi tulisan.

Perubahan tradisi keberaksaraan ini besar kemungkinan akan mengubah pola pikiran, sumber daya, mengikut hasil-hasil apa saja yang lahir dari potensi desa. Bukan lagi hasil-hasil bumi saja, tapi bisa saja bakal lahir potensi lain yang lebih besar karena ditunjang dengan kegiatan-kegiatan literasi.

Dilihat dari sisi ini, walaupun demikian masih jauh, kegiatan literasi adalah salah satu syarat terjadinya transformasi masyarakat agar lebih maju dan kreatif. Merupakan teka-teki, apa yang nanti bakal terjadi, bukan saja di Sulawesi saja, jika semua desa di Indonesia bergeliat yang sama seperti Desa Labbo. Menarik mengamati perkembanganya.

Terakhir, jika Anda sudah sampai di bagian ini, Anda bakal mengerti bahwa tulisan ini bukanlah sepenuhnya resensi. Biarlah pembaca lain yang melakukannya, atau warga Desa Labbo sendiri yang mengisi tugas itu. Tulisan ini hanya berusaha menempatkan dirinya pada keberpihakan yang sama, bahwa --meminjam istilah Alwy Rachman-- gerak-gerik perababan yang baik, tidak dimulai kecuali dari aktifitas literasi di dalamnya. Ihwal yang menjadi modal sejarah Bugis-Makassar, seperti sudah kita ketahui selama ini.

Judul                         : Literasi dari Desa Labbo
Penulis                     : Sulhan Yusuf, dkk.
Penerbit                   : Liblitera
Edisi                         : Pertama, Desember 2018
Tebal                        : 374 hal
ISBN                        : 9786026646170

08 Januari 2019

Ahlan Wa Sahlan 2019, Berusia Panjang Dikutuk Bernasib Sial!


Cover buku Soe Hok Gie ”Zaman Peralihan”. 
Gie adalah aktivis dan mahasiswa Fakultas Sastra 
Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969

MEMILIKI usia yang panjang nampaknya bisa menjadi masalah tersendiri. Pertama, sebagai sepuh, ketebalan pengalaman kehidupan yang berlapis-lapis bakal membuat kehidupan ibarat video game yang sudah tamat berkali-kali. Tidak ada tantangan. Semua kunci dan jalan-jalan rahasia tidak bakal membuat diri semringah merasakan sensasi yang ndakik-ndakik.

Semua rahasia kehidupan baik yang tersembunyi di ceruk-ceruk bumi sampai yang terselip dalam ruas ruang kosong ayat-ayat kitab suci, bukan lagi hal baru. Semuanya nampak biasa saja. Sensasinya sudah aus, malah.

Kedua, lantaran panjangnya usia, dan sudah kebanyakan makan asam manis kehidupan, kematian adalah satu-satunya pilihan wajar daripada ikut menyaksikan zaman kemaruk yang bedebah ini. Daripada dibuat pusing bukan lagi tujuh keliling, mungkin lebih, atau bahkan lebih lagi….lebih baik mengakhiri hidup dengan tenang dengan rasa yang berkecukupan adalah salah satu kebijakan terakhir yang layak dirasakan.

Namun masalahnya, kapan kematian itu datang menjemput sepenuhnya-penuhnya hanya urusan malaikat Izrail dan juga Tuhan saja yang tahu. Si sepuh yang kulit-kulitnya melipir hanya bisa pasrah saja.

Soe Hok Gie untuk konteks ini pernah menerjemahkan nasib berdasarkan panjang umur seseorang. Menurutnya, celakalah orang dengan usia panjang. Dia bakal menemukan zaman pelik yang berbeda dari situasi tempat ia hidup. Dinamika perubahan yang kian cepat bakal membuatnya ketinggalan dalam menanggapi dan menentukan sikap.

Ini persis seperti ramalan Anthony Giddens, si sosiolog gaek Inggris, tentang zaman tunggang langgang, mirip juggernaut yang berlari dengan kecepatan maha ampun tanpa memberikan kesempatan bagi masyarakat memahami dan merenungi perubahan yang dihadapinya.

Yang lebih beruntung dari itu adalah orang yang mati muda. Soe Hok Gie adalah orang dari jenis ini. Dia wafat di puncak gunung Semeru. Mati dalam keadaan menjalani hobi yang disenanginya: mendaki gunung. Dengan kata lain, dia mati di saat-saat paling bahagia. Di saat-saat paling tenang dan sepi. Jauh dari hiruk pikuk politik yang kala itu sedang panas-panasnya.

Dan, orang paling beruntung dari keduanya menurut Soe Hok Gie adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan sama sekali. Orang-orang yang belum merasakan dentuman waktu, denyut aliran perut bumi, dan detak jantung kehidupan.

Bahkan, orang-orang yang hanya sempat singgah dalam rahim ibunya dan kemudian gugur entah kenapa, juga merupakan suatu keberuntungan pula. Ia bukan saja belum sempat berbuat apa-apa, namun juga dihindarkan dari kemungkinan-kemungkinan perbuatan buruk.

Orang-orang macam ini –jika sudah layak disebut manusia–bakal langsung dapat jalan pintas ke alam baka. Ia tidak mesti repot-repot lagi singgah di alam yang fananya minta dimaklumi ini. Ia jika sudah sampai di alam perhitungan, di hadapan Tuhan barangkali hanya tinggal disuruh memilih saja: mau surga atau neraka? Dua-duanya berpeluang menjadi dunia abadinya.

Omong-omong soal nasib sial, Logan dalam kisah X-Men adalah contoh orang paling tidak beruntung. Kemampuan genetik yang bisa meregenerasi jaringan sel-sel tubuhnya membuatnya cepat pulih ketika terluka. Sistem tubuh seperti ini membuat diri Logan tidak pernah merasakan sakit hati berkepanjangan. Berkat kemampuannya ini, Logan dikaruniai usia yang panjang. Tubuhnya senantiasa memperbaharui dirinya. Bahkan bisa jadi tidak menua sama sekali.

Konsekuensi usia panjang Logan—di semesta Marvel dia hidup sudah sejak abad 19 dan telah melalui banyak peperangan antara bangsa di dunia–membuatnya menanggung beban mental luar biasa. Ia sering mengalami trauma pasca perang. Sering kali pula ia mengalami mimpi-buruk tentang kekejian korban perang dan orang-orang terkasih yang sudah lebih dulu mangkat dari dirinya.

Berkat itu semua Logan menjadi pribadi yang secara fisik kuat tapi secara psikis adalah orang yang rentan terhadap trauma. Kenangan pahit masa lalunya ibarat hantu yang bersemayam di alam bawah sadarnya. Suatu waktu, ingatan masa lalunya menjadi katalisator yang bakal membuat pikirannya meledak. Hal ini besar kemungkinan akan terus terjadi seiring pemicu yang ia temukan dalam kehidupan masa kininya. 

Saya memiliki nenek yang berusia entah sudah berapa. Ketika sering menanyakan  berapa usia nenek melalui anaknya, yang juga adalah mamak saya, ia hanya mengatakan usianya sekitar 90 tahunan. Jawaban yang saat itu asal terka. Jawaban yang tidak memuaskan memang lantaran dia menyebut kata sekitar.

“Di kampung, tidak adami yang seusia dengannya. Dia maumi sendiri. Banyakmi seusianya lebih duluan meninggal.”

Itu jawaban mamak  jika saya mengejar lebih jauh berapa sebenarnya usia nenek saya itu.

Entah 90-an atau kurang, ketidakpastian akuratnya usia nenek menandai betapa lamanya ia hidup. Sampai-sampai usia sebenarnya–dan juga tanggal lahirnya–sudah tidak diketahui pula. Semoga ia diberikan umur panjang.

Sudah semenjak tiga tahun lalu nenek hanya bisa berbaring di tempat tidurnya. Makan, minum, bahkan berak, semuanya dilakukan di atas pembaringannya. Tungkai kakinya sudah tidak mampu membawanya berjalan. Terakhir kali ia hanya bisa mengesot jika ingin ke kamar mandi.

Rasanya sudah lama saya melihat nenek terakhir kali menggunakan mukena untuk salat. Kala itu ia masih sering saya temukan di atas kasurnya salat sambil duduk. Walaupun saya tahu, saat itu orientasi waktunya sudah mulai berubah. Kadar ingatannya pelan-pelan memudar. Itulah sebabnya, ketika salat, ia sering kali salah waktu. Bahkan, barangkali ia bisa melakukan salat dua kali dalam satu waktu.

Nenek tidak mengenal Soe Hok Gie. Dia sudah pasti tidak mengenal sepak terjang pemuda yang mati di usia yang lagi panas-panasnya itu. Apalagi ia tidak tahu kategori nasib sial Soe Hok Gie di atas. Dia juga tak tahu, dengan umurnya yang sudah sangat uzur itu, apakah termasuk bernasib sial layaknya ucapan Gie.

Satu hal yang pasti, jika seorang anak manusia berumur panjang, di usia uzurnya, ia kemungkinan bakal mengalami kehilangan ingatan–suatu hal yang dialami nenek saya sendiri. Ia bahkan sudah lupa siapa anak siapa ibu jika bertemu anak-anaknya. Kadang malah ia sering menganggap salah satu anak lelakinya sebagai bapaknya.

Ingatan memang sesuatu yang demikian lentur. Ia bisa melar sepanjang banyaknya peristiwa yang sudah dilakoni, yang sudah disaksikan, dan yang sudah didengarkan menjadi tugu kenangan. Sebaliknya, ia bakal menyusut kerisut sependek daya kenangan membangun tugu di dalamnya. Dengan kata lain, kuat tidaknya daya ingat seseorang, tergantung seberapa kokoh tugu kenangan dibangun selama ia hidup.

Ketika menulis ini di akhir tahun, tiba-tiba datang dengan sendirinya suatu perasaan yang interogatif dalam benak saya: sampai berapakah usiamu kelak anak muda? Berapa sisa jatah umurmu di dunia ini? Sebentar lagi pergantian tahun, sudahkah engkau banyak mengambil pelajaran dari ingatanmu sebelum kau kehilangan segalanya, termasuk ingatan yang paling intim darimu? Jangan sampai kau tergolong orang yang bernasib sial, berumur panjang dengan ingatan yang pendek?

*Telah tayang sebelumnya di Kalaliterasi.com

31 Desember 2018

Dengarlah Nyanyiaan Angin dan Akar-Akar Modernisme di Dalamnya


Identitas Buku:
Judul: Dengarlah Nyanyian Angin
Penulis: Haruki Murakami
Tebal Buku: IV + 119 halaman
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: Keempat, Oktober 2018
ISBN: 978-602-424-407-1

DENGARLAH Nyanyian Angin ditulis Murakami dengan pembukaan yang jitu. Dimulai dengan pernyataan yang singkat tapi sekaligus menggoda: “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

Bagi saya, kalimat ini pertaruhan Murakami dengan para pembacanya. Ibarat sedang berjudi, ia menaruh taruhan tinggi sejak di kalimat pertamanya. Jika ia kalah, si pembaca akan berhenti dan memikirkan hal lain tinimbang melanjutkan membacanya.

Namun jika menang –dan ini terjadi di setiap karangan-karangannya yang lain— ia layak menguasai benak pembacanya dengan dunia yang dikarangnya.

Kemenangan Murakami melalui kalimat pembukanya ibarat lubang hitam. Ia menarik dan sekaligus menyedot. Membawa arus perhatian pembaca masuk jauh lebih dalam kepada kalimat-kalimat apa yang bakal membawa pembaca merasakan dunia yang dibentangkan si pengarang. Dan seperti karangannya yang lain, dunia Murakami adalah dunia yang tidak biasa, dunia yang diliputi pernak-pernik emosi, kemuraman, gairah, kegelisahan, dan sekaligus ketidakpastian.

Dunia Dengarlah Nyanyian Angin berpusat kepada sosok Aku. Figur sentral tanpa nama namun menjadi pusat yang menggiring pembaca kepada kehidupannya yang khas anak muda: foya-foya, alkoholic, dan hidup dengan segala cara boleh.

Sang Aku adalah mahasiswa perguruan tinggi di Tokyo. Ia mengambil biologi sebagai disiplin ilmunya dan menyukai binatang. Memiliki hubungan cinta dan benci kepada dunia tulis menulis.
Suatu ketika si Aku berlibur di kota tempat tinggalnya di sebuah kota pelabuhan. Liburannya dimulai pada tanggal 8 Agustus 1970 dan berakhir pada 26 Agustus 1970. Di masa inilah batang tubuh kisah Dengarlah Nyanyian Angin bertopang.

Sadar tidak sadar disepanjang novel ini pembaca hanya diombang-ambingkanke dalam 18 hari sang aku ketika menghabiskan waktu liburnya dengan tipikal kehidupan anak muda yang sarat idealisme kebebasan.

Nezumi adalah figur kedua dalam kisah ini. Seorang pemuda kaya raya yang dikenal sang Aku di musim semi ketika di tahun pertama memasuki perguruan tinggi. Nezumi mengaku tak suka membaca buku, namun bercita-cita ingin menulis novel tanpa adegan seks dan kematian. Ketika sedang duduk di café ia lebih suka memesan panekuk dengan coca cola sebagai kuahnya. Mereka berkenalan dengan cara khas anak-anak muda pemuja kebebasan: mabuk-mabukkan.

Tanpa sengaja setelah menghabiskan berbotol-botol bir mereka sudah berada di dalam mobil Fiat hitam 600 milik Nezumi dengan kecepatan tinggi. Dalam keadaan mabuk mereka kecelakaan setelah memporak-porandakan pagar tanaman, halaman penuh bunga-bunga azalea, dan ringsek menabrak pilar bangunan.

Mereka berdua selamat. Sambil duduk di atas kap mobil sesaat setelah tubuh mereka hampir dilumat kematian, tanpa merasa ada yang perlu dikhawatirkan, mereka melanjutkan perkenalan itu dengan kembali menenggak bir di bibir pantai yang tak jauh dari lokasi kecelakaan.  Setelah peristiwa ini mereka semakin akrab.

Seperti kisah ditulis Murakami lainnya, semisal Norgewian Wood atau Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, seringkali memiliki sosok perempuan yang dekat dengan tokoh utamanya. Di novel ini figur itu hanya ditulis sebagai seorang perempuan, tanpa nama dan usianya dibiarkan mengambang. Dengan kata lain sosok perempuan ini dikemukakan hanya sebagai seorang perempuan dengan karakter uniknya sebagai identitasnya.

Perempuan ini hanya memiliki sembilan jari setelah di masa kecil jari kelingkingnya putus dibabat mesin pemotong rumput. Dia bekerja di toko musik yang menjual piringan hitam. Dia tanpa segan mengaborsi janinnya setelah bercumbu dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya.

Pertemuan sang Aku dan si perempuan juga terbilang unik. Mereka bertemu dalam suasana yang hampir sama seperti pertemuan sang Aku dengan Nezumi. Hanya saja si perempuan ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri setelah mabuk berat di lantai kamar toilet.

Kesamaanpertemuan antara si Aku dan Si perempuan dengan si Aku dengan Nezumi adalah mereka bertemu di café Jay’s Bar, tempat mereka bertiga sering menghabiskan waktunya.

Setelah mencari alamat si perempuan melalui tas yang dibawanya, si Aku membawa sang perempuan pulang. Esoknya gadis ini marah menemukan dirinya dan si Aku telanjang di atas tempat tidur. Dia mengira mereka sudah saling bercinta. Tapi setelahnya, hubungan mereka membaik setelah gadis ini menelepon sang Aku dan mulai mengajaknya makan dan jalan-jalan. Seperti Nezumi, sang Aku juga kian dekat dengan si gadis dari waktu ke waktu.

Suatu ketika gadis ini memberitahukan kepada Aku kalau dia akan berpergian. Lama kemudian gadis ini mengakui bahwa dia sebenarnya tak berpergian tetapi menjalani aborsi sehingga dia membutuhkan beberapa waktu untuk berpisah dengan Aku.

Kisah ini diakhiri dengan sang Aku yang melanjutkan hidupnya dengan menikahi seorang perempuan dan hidup langgeng di Tokyo. Berkat perubahan polah membaca, Nezumi menjadi penulis novel, Jay’s Bar menjadi jauh lebih luas dari tahun-tahun sebelumnya dan si Gadis berjari empat tak tahu kemana rimbanya.

Terakhir si Aku kemudian pergi ke Amerika untuk mengunjungi makam penulis yang dikaguminya: Derek Heartfield. Penulis ini mati bunuh diri dengan menerjunkan dirinya dari balkon gedung Empire State Building, New York.

Sang Aku sosok kebebasan tipikal modernisme


Figur sang Aku adalah sosok yang hidup di era 70-an. Di masa ini paham modernisme sedang jaya-jayanya di seantero dunia. Jepang di masa itu mengalami tarik ulur antara nilai-nilai tradisionalisme dan semangat modernisme. Singkatnya Jepang sedang mengalami transformasi besar-besaran dari kehidupan berbasis tradisionalisme dengan keinginan untuk maju dari ide-ide progresif modernisme.

Dalam konteks ini figur sang Aku yang menjadi sosok sentral menjadi suara Murakami untuk menunjukkan risiko kebaruan yang ditawarkan paham modernisme.

Sang Aku sebagai tokoh dinarasikan sama dengan semangat ke-aku-an modernisme yang otonom, bebas, dan merdeka. Ia menunjukkan simbol pembebasan dari belenggu tradisi, norma-norma, dan pandangan hidup masa lalu yang banyak membatasi ruang gerak masyarakat.
  
Kehidupan sang Aku jelas memperlihatkan semangat pemberontakan terhadap itu semua, dan persis seperti inilah risikonya. Sang Aku menjadi manusia merdeka namun sekaligus juga kehilangan pegangan.

Itulah sebabnya, kehidupan sang Aku ditunjukkan dengan semangat kebebasan yang meluap-luap tapi tanpa jaminan masa depan. Toh jika ada masa depan maka itu diwujudkan dengan cara menjalani hidup saat ini dengan segenap kebebasannya tanpa ada kekuatan lain yang mengikat.

Nezumi juga tipikal lain dari semangat modernisme, terutama sikap anti kemapanannya. Ini ditunjukkannya dengan pendiriannya yang sangat membenci orang kaya walaupun ia sendiri adalah anak orang kaya. Semangat Nezumi adalah semangat generasi pasca baby boomers yang menginginkan keterputusan kebiasaan, tradisi, dan pandangan dunia dari generasi di atasnya.

Dengan kata lain seperti juga sosok sang Aku, Nezumi adalah wujud kebebasan modernisme terutama dari kaum mudanya yang hidup dengan cara berbeda dari generasi tua yang lebih patuh dan kaku terhadap aturan moralitas entah agama maupun tradisi.

Bagaimana dengan si gadis yang menjadi teman sang Aku? Ia, terutama saat dikisahkan mengaborsi janinnya, adalah risiko kebebasan yang lain. Jika tindakan ini dilakukan di luar dari konteks penceritaan barangkali akan berdampak lain.

Si gadis, yang tidak sama sekali menunjukkan guncangan moral pasca mengaborsi, menandai tindakannya itu hanyalah peristiwa biasa saja. Tidak ada implikasi moralitas yang mesti dipikirkan di situ. Artinya aborsi atau jenis tindakan semacamnya sangat biasa dilakukan oleh wanita yang hidup dengan semangat yang sama di masa itu.

Jari kelingking yang hilang dari tubuh si Gadis menunjukkan secara tersirat eksistensi perempuan seperti pendakuan scholar psikoanalisis dan filsuf Yunani purba Sigmund Freud dan Aristoteles, misalnya.

Kedua pemikir ini berpandangan perempuan merupakan makhluk tak lengkap atau seperdua manusia.

Berdasarkan asal usulnya, sebagai eksistensi, perempuan tidak diciptakan dalam bentuk yang final dan lengkap. Perempuan tidak sesempurna laki-laki dengan tubuh dan akal yang pasti, fix dan sehat. Jari tangan yang cacat dari si Gadis adalah penanda metaforik yang mencerminkan itu semua.

Pencarian Identitas

Hampir semua tokoh karangan Murakami adalah anak muda. Dalam Dengarlah Nyanyaian Angin tokoh-tokohnya adalah pemuda-pemuda dalam masa transisi menuju dunia dewasa.

Mereka adalah orang-orang di dunia antara, yakni di sisi lain ada dunia generasi tua dengan sistem kehidupan yang mengusung tradisionalisme sebagai dasar moralitasnya, dan di sisi seberang ada dunia baru yang menjanjikan perubahan seperti yang ditawarkan ide-ide modernisme.

Tokoh-tokoh dalam Dengarlah Nyanyian Angin disimbolkan sebagai masa transformatif yang sedang dialami masyarakat Jepang. Anak-anak muda dengan kata lain adalah representasi keinginan untuk maju dan berubah namun sekaligus gamang untuk kembali kepada pangkuan ajaran generasi tua yang dianggap kolot dan anti perubahan.

Kegamangan ini menunjukkan sifat khas yang ditimbulkan paham modernisme yang memiliki implikasi terhadap identitas kebudayaan Jepang.

Baik sang Aku maupun Nezumi merupakan perlambangan dari dialektika ini. Keduanya adalah sosok simbolik cermin masyarakat Jepang yang dilanda kegamangan atas pencarian identitas di antara dua sumber paradigma yang saling beradu di lapangan kebudayaan Jepang.

Walaupun demikian, pencarian identitas ini bukan berarti tidak membawa konsekuensi apa-apa, melainkan suatu tanggungan yang mendatangkan benturan antara nilai lama dan paham baru. Efeknya jelas kelihatan ketika kebebasan yang diadopsi tokoh si Aku dan Nezumi merupakan jenis “kebebasan dari” dan belum menyentuh sama sekali tahap yang disebut “kebebasan untuk”.

“Kebebasan dari” adalah semangat yang bertolak dari tatanan sistem yang mengikat dan imperatif. Kehidupan si Aku, dengan gaya hidup a la anak muda yang memuja kebebasan, tanpa aturan, dan tanpa tujuan menjadi suatu model pemberontakan yang dikatakan tanggung.

Tiadanya cita-cita, tujuan, atau harapan menandai alam kebebasan si Aku masih diliputi ruang yang masih samar-samar. Tidak ada tanggungan moral, risiko perjuangan, maupun pengorbanan atas idealitas masa depan menjadikan pemberontakan si Aku hanya bermain-main tanpa pernah bertanya “kebebasan untuk” apa yang sedang diperjuangkan?

Syahdan, seperti di awal tulisan ini, Murakami telah memenangkan perjudiannya. Buktinya, nyaris tanpa disadari buku ini mengusung ujung cerita yang hampir tanpa klimaks. Ia mengalir begitu saja dan tiba-tiba pembaca sudah berada di halaman terakhir, persis suara angin yang mengalun ringan tanpa pernah dipertanyakan. Mengalir dan mengalir.

---

Telah terbit di Kalaliterasi,com

27 Desember 2018

Vendredi si Teledor dan Revolusi di Pulau Harapan


Judul : Kehidupan Liar
Penulis: Michel Tournier
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Pertama,  November 2016
Tebal: VII+ 135 halaman
ISBN: 978-602-424-142-1

REVOLUSI di sini hanya berarti kiasan. Yang terjadi sebenarnya adalah rontoknya bertahun-tahun kehidupan yang telah dibangun Robinson Crusoe di pulau tempatnya terdampar. Dinding gua-gua, kebun-kebun, peternakan, sejumlah alat rumah tangga dan harta karun yang disimpannya di dalam ceruk-ceruk gua luluh lantak akibat ledakan dahsyat.

Ledakan itu berawal dari simpanan mesiu yang disembunyikan Robinson di bawah dinding gua. Tanpa sengaja Vendredi si Indian, pembantu Robinson yang diselamatkannya dari upaya ritual pembunuhan, melempar pipa rokok secara asal-asalan.

Tanpa mereka duga, pipa itu malah jatuh di atas gentong-gentong bubuk mesiu. Dan seperti sudah diceritakan di atas, kejadian sepele itu menimbulkan ledakan maha dahsyat memakan hampir seperdua pulau itu. Apa boleh buat ternyata peristiwa itu akan berdampak serius bagi keberlanjutan kehidupan mereka di pulau asing yang tidak tercetak peta itu.

Awal mula cerita

Kisah Robinson Crusoe yang dikarang Michel Tournier, dibuka dari karamnya kapal La Virginie di sekitar perairan Chili, Amerika Selatan. Saat itu abad 18, masa ketika kapal-kapal dari benua Eropa mulai menarik jangkar dan berlayar menuju negeri-negeri jauh di sebelah Selatan dan Timur Eropa. La Virginie –kapal yang ditumpangi Robinson Cruose—diceritakan akan menuju Chili dalam rangka perdagangan.

Tapi apa daya, di tengah lautan badai menyergap. Kapal LaVirginie karam setelah menghantam gugusan batu karang. Dari kejadian itu hanya Robinson Crusoe yang selamat. Ia kemudian terdampar di suatu pulau tak berpenghuni yang tak diketahui siapa pun.

Seketika siuman dan berbulan-bulan membuat perahu penyelamatan dan kemudian gagal, Robinson menyadari bakal hidup lama dan jauh dari kehidupannya semula. Dengan kata lain, ia satu-satunya manusia di pulau itu, dan tak ada satupun alat yang mampu menghubungkannya dengan dunia luar. Seolah-olah yang namanya kehidupan harus dimulai lagi dari titik nol. Dan satu-satunya manusia yang diberikan tugas untuk memulainya adalah Robinson sendiri.

Dengan bekal apa adanya setelah lolos dari depresi dan halusinasi Robinson mulai  terbuka dengan kehidupan pulau itu. Pertama-tama ia membangun tempat tinggal di dalam gua, membangun benteng pertahanan, menetapkan sumber-sumber makanan, beternak, bercocok tanam, dan membuat peraturan-peraturan dan mengangkat dirinya sebagai gubernur di pulau itu dan berbagai hewan liar dan tumbuhan sebagai penduduknya.

Setelah merasa mantap Robinson kemudian  menamai pulau itu Speranza yang berarti harapan.

Vendredi si teledor pencetus revolusi

Vendredi mulanya datang tanpa sengaja bersama sekelompok suku Indian yang dipimpin seorang dukun. Mereka singgah di pulau tempat Robinson tinggal untuk melakasanakan ritual penebusan. Tanpa diduga, setelah  melalukan jampi-jampi, sang dukun menunjuk Vendredi sebagai tersangka baru dan juga harus segera dibunuh ke dalam api unggun. Dengan kaget Vendredi tidak terima dan berusaha kabur ke dalam hutan pulau. Di dalam hutan, tanpa sepengatuan mereka peristiwa itu diintip Robinson di balik semak-semak.

Dengan sekali tembakan Robinson menyelamatkan Vendredi dari kejaran orang Indian di belakangnya. Sontak melihat ada yang mati karena letusan tembakan membuat orang Indian tersisa  kabur meninggalkan pulau. Vendredi selamat dan berhutang budi kepada Robinson.

Peristiwa itu membuat keduanya seperti menemukan oase di padang pasir. Robinson setelah bertahun-tahun hidup sendiri akhirnya menemukan seseorang yang bisa diajaknya berbicara. Bagi Vendredi, Robinson adalah juru selamat yang menyelamatkan nyawanya dan oleh karena itu ia rela dipertuan Robinson.

Maka untuk pertama kalinya pulau itu diisi dua sosok manusia. Sebagai gubernur pulau Speranza, Robinson banyak mengajari tata krama dan aturan main selama hidup di pulau kepada Vendredi. Memberinya tugas memerah susu kambing, bercocok tanam hingga membuka ladang baru dan memetik buah-buahan. Selama hidup di pulau tak sedikit pun Vendredi menunjukkan gelagat perlawanan. Ia patuh dan taat kepada Robinson. Bahkan hanya untuk menunjukkan sikap orisinilnya sebagai suku Indian pun tidak.
Sampai akhirnya terjadi peristiwa  yang sudah diceritakan di awal. Suatu ledakan mengubah segalanya. Mirip-mirip ledakan revolusi, ledakan di pulau Speranza  membalikkan keadaan 180 derajat dan mengaturnya kembali.

Tidak ada lagi hunian yang pernah didirikan Robinson, peternakan dan ladang-ladang hangus terbakar. Kambing-kambing lepas menjadi liar kembali. Dan gua-gua tempat penyimpanan harta benda yang disembunyikan Robinson raib ditelan reruntuhan dinding gua. Singkatnya, semuanya  di pulau itu dimulai dari nol kembali.

Perubahan drastis ini juga berdampak dari bebasnya Vendredi terhadap tuntutan-tuntutan yang semula dibebankan kepadanya. Ia tidak lagi bekerja rutin seperti biasanya lantaran tidak ada lagi yang patut dikerjakan.


Robinson juga sudah legowo menerima keadaan yang baru ini. Dan Vendredi untuk pertama kalinya bebas melakukan apa saja sesuai keinginannya.
Ledakan itu dengan kata lain telah membebaskan Vendredi dari aturan main yang dibuat Robinson.  Tidak ada lagi siapa tuan siapa hamba. Tidak ada lagi Robinson yang superior menentukan gerak gerik Vendredi. Begitu pula Vendredi bukan lagi objek tindakan yang inferior.  Berkat ledakan itu Vendredi dan Robinson mengawali suatu hubungan yang cenderung aneh untuk ukuran saat itu: mereka setara secara kemanusiaan.

Dialog peradaban

Hidup bebas yang diterima Vendredi membuat Robinson banyak belajar dari dirinya. Jika sebelum ledakan Vendredi cenderung pasif menerima belajar apa saja dari Robinson, kali ini malah Robinson-lah yang banyak belajar dari Vendredi.

Seolah olah dalam interaksi Robinson dan Vendredi sama-sama mewaliki dua pengalaman kebudayaan yang saling belajar satu sama lain. Semula Venderi diajarkan bahasa inggris agar bisa berkomunikasi dengan Robinson. Dia diajarkan cara memerah susu, bercocok tanam, dan lain sebagainya agar dapat hidup harmonis di dalam pulau. Tapi itu saja tak cukup, di luar pemahaman Robinson, Vendredi malah memiliki segudang pengalaman yang bersumber dari pengalaman kolektifnya selama hidup sebagai seorang Indian.

Misalkan saja, Vedredi mengajarkan pengetahuan kuliner kepada Robinson, sesuatu yang tidak ia temukan dalam hidup orang-orang Eropa. Bagaimana membuat burung bakar tanpa repot-repot mencabuti bulunya dengan membakarnya setelah digulung menggunakan lumpur basah. Bagaimana memanfaatkan getah tanaman manis untuk membuat gula cair dan karamel. Bagaimana membuat makanan kaya rasa dengan mencampur buah-buahan yang berlainan rasa…

Robinson juga ditunjukkan cara membuat panah unik dari batang pohon yang menjadi mainan bagi Vendredi. Cara membuat busurnya, dengan apa ekornya dibuat, dan menggunakan bahan apa untuk membuat mata anak panah agar memiliki laju yang baik ketika di udara…

Di lain waktu dengan memanfaatkan tulang-tulang kambing, Vendredi berhasil membuat takjub Robinson ketika menciptakan alat musik menyerupai harpa. Dan yang tak kalah uniknya berkat kulit kambing yang dikeringkan, Vendredi membuat layang-layang yang dapat diterbangkan untuk memancing ikan.

Semua hal itu adalah hal-hal baru yang dilihat Robinson. Selama ini melalui peradaban Eropa-nya ia mengira telah menjadi satu-satunya wakil kebudayaan. Tidak diduga, di luar dari jangkauan pengetahuan Eropanya, masih banyak jenis pengetahuan yang berasal dari kebudayaan-kebudayaan yang beraneka ragam.

Kritik modernisme

Setelah lebih 30 tahun—Robinsont tidak mengetahui hal ini karena tidak ada kalender dan alat hitung waktu semacamnya—untuk pertama kalinya sebuah kapal singgah di pulau Speranza. Peristiwa langka itu juga menunjukkan untuk pertama kalinya Robinson melakukan kontak dengan orang-orang luar.

Pertemuan itu serasa ganjil dan aneh di mata Robinson. Setelah hidup bertahun-tahun oleh alam liar, hati Robinson sangat peka terhadap perilaku yang tidak menunjukkan rasa hormat dan  sopan santun. Hal ini dirasakannya dari sifat awak kapal yang semaunya mengobrak-abrik isi pulau karena dianggap masih liar; mengambil air semena-mena, memotong pohon tanpa sikap hormat, dan menyembelih kambing tanpa rasa kasihan.

Semua itu membuat Robinson merasa sanksi terhadap peradaban yang melahirkan orang-orang semacam itu. Dalam hatinya ia mempertanyakan kehidupan macam apa yang telah membuat orang-orang menjadi beringas dan tak bersopan santun.  Ia lebih baik hidup di alam liar dan jauh dari peradaban jika itu satu-satunya model kehidupan yang lebih manusiawi.

Itulah sebabnya,  di akhir cerita Robinson memilih untuk tinggal di Speranza selama-lamanya. Peradaban di luar sudah tidak cocok dengan jiwanya. Ia lebih merasa manusiawi hidup di alam liar dari pada harus dituntut ini-itu oleh perabadan yang ia nilai penuh keangkuhan.

Bagaimana dengan Vendredi? Setelah tercengang oleh arsitektur kapal yang baru pertama kali dilihatnya, ia melarikan diri di malam hari dan ikut berlayar bersama kapal di pagi hari yang masih kental. Ia kali kedua berbuat teledor. Itu artinya Vendredi akan ikut bergabung ke dalam kehidupan peradaban yang makin saklek, imperatif, dan tidak manusiawi. Setidaknya dari mata seorang Robinson.

21 Desember 2018

Agama dan Toleransi

TOLERANSI. Waktu masih domisilika di Kupang, NTT, sebelum meletuski kerusuhan 98 dan kasus Tim-Tim, yang namanya perbedaan atas keyakinan belum menjadi masalah kayak begini. Tetangga-tetanggaku tidak pernah pusing kalo di lingkungan mereka hidup keluarga-keluarga muslim.

Bahkan, yang namanya urusan ibadah setiap tetangga bebas melakukan tanpa ada beban moral merasa tertekan dan was-was. Kami, yang hari itu memang minoritas muslim, begitu juga. Tidak ada itu dibilang ada unsur masyarakat yang kajili-kajili menegur kalo mereka merasa terganggu. Semua baik-baikji.

Waktuka SD ketua kelasku muslim. Dan perempuanki juga --yang mungkin hari ini sulitmi didapat karena biar masalah agama dibawa-bawa juga sampai di lingkungan sekolah. Uniknya di kelasku mayoritas murid-murid Kristen. Ibu wali kelasku juga Kristen. Kepala sekolah juga Kristen, dan memang rata-rata guru-guruku mayoritas Kristen. Tapi biar mamo Kristen, mereka semua baik-baik. Tidak pernahji bawa-bawa agama ketika mengajar. Cara memperlakukan murid juga begitu.

Yang unik kalo pelajaran agama, digabungki kelasku menjadi satu kelas dari kelas A dan kelas B. Jadi ceritanya murid-murid muslim digabung menjadi satu, dan yang Kristen digabungki juga. Karena bersampinganji kelaska saat itu, biasaka sayup-sayup dengarki pelajaran agama Kristen di kelas sebelah. Sementara di kelasku nama Muhammad sering disebut-sebut, oleh ibu Bene --wali kelasku yang merangkap guru agama Kristen--sering kudengar nama Yesus disebut-sebut. Yang beginian biasaji bagi kami. Tidak ada yang mesti ditanggapi bagaimana. Alhamdulillah tidak tonja pindah agama.

Pernah tong dulu kakakku, Ima, seringka na ejek-ejek sama teman perempuanku. Jadi dulu ada temanku namanya Elizabeth, dia hitam, rambutnya sering diikat pake gelang tangan, dan ditaumi kalo masih SD, masih belumpi ada cantik-cantikna. Intinya ini Elizabeth lucu-lucuki mukanya --untuk tidak mengatakan jelek--lebih seperti kalo muka mengantuk diliat.

Nah, seringka biasa naganggu-ganggu kalo macewe-ceweka sama itu Elizbeth. Caranya mengejek napanggilka dengan nama Elizabeth dengan nada tertentu yang didayu-dayukan. Kalo begitumi, biasaka jengkel, dan anehnya kalo marahka bukan karena dia Kristen. Tapi hanya karena itu jelekki kulihat.

Di sini seandainya sensitifki karena agama, pasti dasar penolakanku --walaupun masih kecilka--sudah mengatasnamakan agama. Tapi, kenyataannya ndak begituji. Semata-mata memang tidak kusukaki.

Di Kupang tidak banyakji masjid. Tapi tidak bagus tong dibilang kalau jarang ditemukan. Yang sering banyak ditemukan di Kupang adalah Gereja. Kalo ke sekolahka dan memang dekat sekolahku ada gereja besar bercat putih. Bangunanya jammaki bilang, besar dan tinggi-tinggi. Kalo nontonki film-film bersetting abad 19, mirip-miripki bangunannya.

Waktu masih tinggal di sekitar jalan Lalamentik, Oebofu, setiap hari minggu ada tetanggaku yang adakan sekolah minggu. Di situ, di terasnya, selalu banyak kulihat anak-anak berkumpul kayak tong pengajian. Kegiatannya kalo tidak salahkan diisi dengan ceramah keagamaan. Kadang tong tentang kisah-kisah murid-muridnya Yesus.

Biasa tong kalo akhir pekan, tetangga-tetanggaku bersembahyang dengan menyanyi-nyanyi berisi puja pujian. Kalo dekat dari gereja, enak tong kudengar kalo suara puji-pujiannya dinyanyikan secara bersama-sama. Samar-samar ada yang bergerak dalam hatiku. Mungkin itumi dibilang iman. Tapi, bukanki iman yang adami labelnya. Ini imannya iman. Yang dimiliki tong semua agama. Kalo bulan Desember begini bulan paling bahagia. Waktunya libur sekolah. Banyak tommi film-film kartun bisa dinonton. Kalo di rumah datangmi itu teman-temannya mamakku bikin kue dan buras menyambut idul fitri --dulu ndak tau kenapa selalu berdekatan dengan hari Natal.

Kalo maumi masuk minggu-minggu akhir barusannya itu rumah-rumahnya tetanggaku banyak dipasangi lampu-lampu hiasan. Ada tong lengkap dengan pohon natal dan patung-patung Yesus. Karena maumi natal, banyak teman-temanku sibuk semuaki ke gereja.

Yang kusuka kalo natalmi waktunyami pergi siarah di tetangga-tetanggaku. Biasa penuh kantongku dengan kue. Kalo beruntung biasa banyak kubawa pulang coca cola, sprite, atau fanta. Semua senang semua bahagia sama-sama merayakan hari natal. Tidak ada yang saling mawas apalagi berprasangka buruk.

Di Kupang itu mayoritas Kristen Katolik. Ada tong tetanggaku Kristen Adven. Kalo yang ini berpantang tidak makan daging. Ada juga orang Hindu yang di depan rumahnya lengkap didirikan tiang-tiang tempatnya nasimpan benda-benda peribadatannya. Masih kuingat di depannyami rumahnya tetangga Hinduku seringka ambil lempar asam. Kalo hari raya Nyepi, tidak pernah keluar-keluar tetanggaku seharian. Tetanggaku yang Kristen juga supaham, tidak ada yang bikin aktivitas-aktivitas mencolok.

Di Kupang juga banyak anjing. Ada beberapa tetanggaku pelihara anjing. Kadang kalo sore-sore main bolaka, ada tommi anjing ikut-ikut berkeliaran kemana tuannya pergi. Jinakki anjingnya. Cuman biasa takutka dekat-dekat karena haram kena air liurnya. Walaupun begitu tidak pernahka risih kalo adaki itu tetanggaku datang dengan anjingnya.

Satu contoh toleransinya tetanggaku yang nonmuslim, kalo ada mau nakasihki makanan bukan makanan jadi, tapi makanan kemasan. Bahkan kalo nakasihki ayam, ayam hidup nakasihki karena nataumemammi beda carata potong ayam. Mereka paham kalo orang Islam mau makan ayam jika napotong pasti ada dibacai.

Satu hal yang tidak bisa kulupa. Ketika kerusuhan 98 dan merebak kasus Tim-Tim ke kota Kupang --tidak lama dari kasus Ambon-- saat banyak rumah-rumah orang Islam dirusak dan ada yang dibakar, tetangga-tetanggaku yang Kristen yang bersedia tampungka sekeluarga di rumahnya. Saat takut sekaliki tinggal di rumah karena jangan sampai ikut jadi korbanki juga. Makanya dengan ikutki di rumahnya tetanggaku mereka yang pasang badan kalo ada apa-apa.

Saat itu memang mencekam. Sering mati lampu. Kalau malam sering didengar tiang listrik dipukul-pukul. Banyak rumah jadi korban. Sekolah-sekolah diliburkan. Bahkan hampir satu kota Kupang mendadak sunyi dan tidak ada aktifitas. Tidak lama didengarmi banyak orang Islam dicari-cari.

Tapi itu hanya dipermukaan. Di lingkunganku yang belum termakan provokasi malah tetangga Kristenku yang bantuki. Mereka yang amankan kami-kami di rumah-rumahnya. Dengan begitu kami sekeluarga cukup merasa aman.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...