15 Oktober 2018

Jalan Raya: Alas Pijak Kapitalisme Global


Data buku:
Judul Buku: Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik
Penulis: Muhammad Ridha
Penerbit: Carabaca
Tahun terbit: Agustus 2018
Tebal halaman: XXIII + 156 halaman

DI ABAD modern,  sejarah jalan raya adalah sejarah modernisasi itu sendiri.  Tanpa jalan raya, percepatan modernisasi berupa perpindahan penduduk, pergerakan arus transporatasi, pembangunan infrastruktur, terbentuknya kawasan perkotaan, dan pergerakan komoditas  akan sulit terealisasi.  

Jalan raya adalah tulang punggung yang  menjadi alas sekaligus penghubung beragam penanda modernitas di atas dapat mengalami ekspansi geografis seperti yang dirasakan seperti sekarang ini.

Dengan kata lain, basis utama dari modernisasi ( yang dalam kajian kritis adalah juga kapitalisme itu sendiri) adalah jalan raya yang menjadi saluran pembuluh saraf, yang menghubungkan titik-titik terpencar dari aktivitas produksi kapital menjadi lebih terhubung dan lebih gampang terkoordinasi.
Pernyataan ini setidaknya menandai telah terjadi peralihan yang semula dapat disaksikan di tanah air sendiri berkaitan dengan pembangunan jalan-jalan raya di masa silam.

Di tanah air, jika ingin menandai kapan modernisasi pertama kali terjadi akan ditemukan dua peristiwa yang berkaitan kembali dengan sarana transportasi: pembangunan jalur rel kereta api  Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta, daerah perkebunan yang subur) yang dilaksanakan oleh Nederlandsch Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS)  dan megaproyek jalan raya dari  Anyer hingga ujung jawa Bayuwangi berupa pembangunan yang dikenal sebagai jalan raya Pos.

Pembangunan yang pertama bermaksud untuk mengangkut hasilhasil bumi berupa gula, kopi dan nila yang dikerjakan melalui sistem cultuur stelsel (tanam paksa). Sementara yang kedua  --selain karena alasan perdagangan—juga dipakai sebagai cara pemerintah Hindia Belanda  mengontrol pergerakan  dan pemberontakan pribumi-pribumi melalui patroli-patroli militer yang mengandalkan akses informasi yang cepat.

Dari kedua peristiwa di atas jalan raya menjadi jauh lebih penting dari masa sebelumnya.  Di era penjajahan jalan raya bukan saja sebagai cara pemerintah Hindia Belanda agar lebih mudah menggerakkan alat-alat militernya, melainkan lebih dari itu yakni sebagai sarana menggerakkan hasil-hasil bumi.

Di masa sekarang, aktivitas di atas jalan raya tidak serta merta difungsikan sebagai sarana transportasi belaka, melainkan juga masih mempertahan cara yang sama seperti di masa penjajahan dahulu: perdagangan.

Namun sayangnya, dari semua itu, betapa fundamentalnya peran dan kedudukkan jalan raya dalam skema pembangunan hari ini, sejauh penulis ketahui belum ada karya pikiran yang khusus mengkaji jalan raya sebagai objek perhatiannya. Padahal jika melihat peran strategisnya menghubungkan lokasi-lokasi sumber daya, dan keberadaannya yang  sangat trategis bagi percepatan pembangunan, jalan raya patut ditelaah secara kritis.

Di tengah kekosongan –dan juga luput dari perhatian--kajian kritis tentang jalan raya, beberapa waktu lalu terbit buku “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik” karya Muhammad Ridha, seorang dosen sosiologi UIN Alauddin yang setidaknya mengisi satu titik kosong di dalam perbincangan berkaitan dengan tema kritik ideologi kapitalisme.

Hendro Sangkoyo dalam kata pengantarnya di buku ini, diasalkan kepada satu pertanyaan mendasar: untuk apa jalan raya dibuat? Melalui pertanyaan utama  inilah analisis-analisis Muhammad Ridha dikembangkan dengan cara menelusuri di mulai dari sejarah jalan raya dan bagaimana posisinya hingga sekarang terutama ketika di dudukkan ke dalam format ideologi pembangunan di tanah air dan  masyarakat kapitalisme global.

Yang paling menarik dari itu, demi menguatkan tesisnya, Ridha menggunakan pendekatan studi ekonomi politik khas Marxian melalui dedah teori ruang yang diperkenalkan seorang Marxis Henri Lefebvre dan David Harvey di dalam melihat jalan raya.

Melalui pendakuan-pendakuan teoritik kedua tokoh inilah, Ridha meneropong  jalan raya dari sisi ekonomi-politik dalam struktur kepentingan kapitalisme global.

Jalan raya dalam imajinasi kapitalisme

Untuk mengemukakan penjelasan dari pernyataan di atas, Ridho memperjelasnya dari pendakuan konsepsional Hendri Lefebvre berkaitan dengan ruang. Bagi Lefebvre, jalan raya sebagai ruang tidak sekadar hanya sebagai spasio-temporal yang sangat harfiah dan tidak memiliki sangkut pautnya dengan representasi struktur sosial tertentu.

Menurut Lefebvre, seperti dikemukakan Ridho, ruang dalam hal ini jalan raya adalah medan yang sudah sebelumnya dikonstruksi elit masyarakat tertentu. (hal.24)

Dalam hal ini kontruksi jalan raya tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan-pertanyaan Ridha untuk menguji keberadaan jalan raya dari sisi politisnya, semisal yang berkaitan dengan siapa yang mengkontruksi jalan raya? Bagaimana ia diproduksi? Apa yang ingin ditunjukkan di atasnya? Untuk apa jalan raya dibangun? Siapa yang diuntungkan dari pembangunan jalan raya, dan siapa yang dirugikan? (hal.23)

Dengan kata lain, konsepsi ruang dalam hal ini juga adalah  jalan raya senantiasa berkaitan dengan eksposisi-eksposisi yang diajukan pertanyaan kritis Ridha di atas.

Sebagaimana dijelaskan menurut logika Lefebvre,  dalam masyarakat kapitalis jalan raya menjadi begitu sentral untuk menjalankan suatu pendekatan yang memeragakan tindakan produksi sekaligus menjadi arena bagi subjek tertentu menjalankan dominasinya.

Jalan raya dalam hal ini tidak terhindarkan dari praktik-praktik representasi melalui beragam subjek yang berbaur di dalamnya. Dia menjadi arena pertarungan untuk mengukuhkan suatu kecenderungan dominasi atas posisi kelas tertentu.  

“Masalah terbesarnya adalah representasi ruang elit terlalu mendominasi praktik spasial dan ruang representasional sehari-hari” (hal.25)

Mengikuti pemikiran Lefebvre, dalam struktur dan praktik sosialnya, jalan raya senantiasa dihadirkan berdasarkan logika ruang kelas pemodal demi efisiensi dan efektifitas produksinya. Dalam hal ini ruang atau jalan raya didudukkan berdasarkan kebutuhan kelas pemodal dengan pertimbangan jalan raya mesti memudahkan sirkulasi dan peredaran komoditi, dan bahkan menjadi ruang produksi itu sendiri.

Namun bagaimana sebenarnya ruang atau jalan raya berperan menjadi seperti yang dikatakan di atas sebagai “pembuluh saraf” yang menghubungkan pelbagai titik-titik sumber daya untuk mensirkulasikan pergerakan komoditas dan modal?

Di sinilah peran penjelasan David Harvey dikemukakan mengenai apa yang disebut dengan ekonomi ruang (space economy) dan spatio temporal –fixed. Kedua konsep ini pada dasarnya merujuk kepada strategi kapitalisme  untuk mengektifkan dan mengefesienkan kerja produksi dan sirkulasi komoditi  sekaligus memperluas cakupan dan modus operasionalnya demi menunda krisis yang terjadi dalam dirinya. Hal ini dilakukan dengan pergerakan menemukan dan membuka ruang baru agar terjadi perluasan dan peningkatan surplus modal dapat terus terjadi.

Dua konsep kunci inilah yang menjelaskan mengapa kapitalisme dengan cepat dapat memperluas cakupan pasar dan investasinya kepada proyek-proyek jangka panjang melalui pembangunan-pembangunan infrastruktur berskala global.

Seperti dikemukakan Ridha “di Jawa masa kolonial hingga orde baru ketika jalan berperan khusus memberikan suatu model kompresi ruang dan waktu. Jalan raya pos mengurangi waktu tempuh dan Batavia ke Surabaya yang tadinya bulanan menjadi hanya seminggu, begitu juga jaringan kereta api di Jawa yang menyebabkan pergerakan barang dan orang semakin cepat dari sebelumnya” (hal. 32)
Yang tersingkir dari pembangunan Infrastruktur

Secara kasat mata, di mana pun terjadi perluasan pembangunan infrastruktur, di situ dengan gamblang terjadi juga aktivitas penyingkiran bagi masyarakat sekitar. Pemandangan ini jamak ditemukan di bukan saja di kota-kota besar, melainkan ikut merembes ke wilayah pedalaman sesuai kebutuhan investasi pembangunan.

Menurut liputan Tirto.id tertanggal 24 November 2016 di bawah rezim Jokowi-JK  saat ini tercatat tujuh kasus yang ditimbulkan akibat pembangunan infratruktur berskala nasional.  Dimulai dari proyek pembangunan jalan tol di Kuala Namu, Sumatera Utara, Pembangunan PLTA Waduk Cirata di Purwakarta Jawa Barat, Bandara Internasional di Yogyakarta,  Pembangkit listrik panas bumi di NTT,  Perluasan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, hingga pembangunan BandaraDominique Edward Osok, Sorong Papua.

Sementara Berdasarkan Perpres Nomor 58 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, tercatat ada 248 proyek infrastruktur strategis nasional di berbagai wilayah Indonesia mulai dari jalan tol, stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, rusun, kilang minyak, Terminal LPG, SPAM, bendungan dan irigasi, peningkatan jangkauan broadband, techno park, Kawasan Ekonomi Khusus, smalter, dan pembangkit listrik.

Tidak sedikit dari pembangunan infrastruktur berskala nasional di atas menimbulkan banyak korban. Sudah barang pasti proyek pembangunan infrastruktur  di atas banyak mengubah lanskap kehidupan sosial-ekonomi-budaya masayarakat setempat. Bukan saja kehilangan nyawa, tempat tinggal, lapangan pekerjaan, melainkan juga kebiasaan-kebiasaan yang menjadi tradisi dan dasar interaksi masyarakat di dalamnya.

***

AWALNYA seperti dikatakan Ridha buku ini akan diberi judul “Merebut Kembali Jalan Raya Studi Ekonomi Politik”, namun setelah diberikan usulan oleh Eko Prasetyo buku ini sampai ke hadapan pembaca dengan judul cukup menantang: “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik”. 

Dengan melihat perubahan itu buku ini memiliki motivasi bukan saja sekadar hanya menjadi “imajinasi bagi pembaca”, seperti disebutkan Ridha dalam kata pengantarnya, melainkan sebenarnya sebuah kritik bagi ideologi pembangunan yang dianut pemerintah saat ini.

Itulah sebabnya, barangkali buku ini terkhusus ditujukan kepada mahasiswa, elemen sosial yang paling politis menggunakan jalan raya. Elemen gerakan mahasiswa seperti diketahui, seringkali menggunakan jalan raya sebagai medan terbuka melancarkan kritik-kritiknya terhadap rezim pemerintahan yang dinilai tidak adil dan demokratis.

Memang bagi kelas masyarakat tertentu, aktivitas politik mahasiswa di jalan raya ketika melakukan hajatan aksi demonstrasi, dianggap mengganggu laju lalu lalang sirkulasi transportasi. Ketika mahasiswa turun ke jalan sebagai satuan gerakan, waktu dan ruang gerak bagi pengguna jalan banyak tersita dan terbuang percuma. Karena inilah, acap kali mahasiswa dengan tradisi berlawanan demikian dinilai negatif dan terbelakang.

Namun, ketika pandangan negatif semacam selama ini dikembalikan kepada dalil teoritik dalam buku ini berkaitan dengan jalan raya sebagai ruang konstestasi dalam semesta kepentingan kapitalisme global, keresahan-keresahan berkaitan dengan aktivisme mahasiswa di jalan raya dengan sendirinya akan tertolak.

Di akhir-akhir bagian buku ini juga akan kelihatan dengan terang “semangat awal” dari Ridha ketika meletakkan keperpihakkannya kepada aktivisme kritis mahasiswa yang kerap menjadikan ruang publik sebagai medan pergerakannya. “…tepat pada logika semacam inilah tulisan  ini ingin menjadi pembelaan bagi seluruh aksi-aksi jalanan yang dilakukan oleh kaum miskin, mahasiswa dan elemen sosial lainnya yang merasa bahwa jalan bisa menjadi ruang untuk mempertaruhkan hidup dan masa depan kehidupan mereka”.

Akhirnya, buku ini –sekali lagi—patut diapresiasi tinggi disebabkan memberikan analisis mendalam tentang kedudukan jalan raya di dalam semesta kapitalisme global. Juga  seperti ujaran Martin Suryajaya, buku ini menambah daftar tematik di dalam mendalami kajian-kajian tentang aktivitas produkis kapitalisme yang hanya berfokus di ranah kerja dan produksi belaka. 

---

Telah tayang sebelumnya di Kalaliterasi.com

04 Oktober 2018

Kesyahidan Imam Husain dan Epik Karbala

“In a time of deceit, telling the truth is a revolutionary act. Di saat kebohongan, menyatakan kebenaran adalah sebuah tindakan revolusioner.”

Imam Husain lebih dari sebuah nama. Ia adalah sebuah pemahaman. Sebuah Perspektif.

Sebagai sebuah pemahaman, Imam Husain adalah pandangan dunia yang membetot pikiran mengenai dua sisi kontradiktif yang tidak mungkin ditengahi: kebenaran dan kebatilan.

Sebagai sebuah perspektif, pribadi Imam Husain menjadi simbol keberpihakan bagaimana suatu pandangan dunia mau tidak mau harus rela menanggung risikonya. Hatta, kematian sekalipun.

Tapi di Karbala kematiannya bukanlah risiko. Di padang itu, kesyahidannya adalah puncak tertinggi dari moralitas adihulung yang dimiliki seorang pribadi.

Dengan kata lain, epik kesyahidan Imam Husain di Karbala menjadi satu-satunya ultimate goal dari sekian pilihan yang diambilnya.

Dari sisi teori bunuh diri, kematian Imam Husain bukan kategori kematian yang dibilangkan Emile Durkheim, seorang scholar sosiologi, sebagai akibat dari melemah atau kuatnya struktur sosial yang menjadi penyebabnya. Atau  lebih-lebih disebabkan hilangnya kendali norma masyarakat yang membuatnya patah semangat.

Kematian Imam Husain adalah pilihan sadar yang melampaui syarat-syarat material masyarakat saat itu. Satu jenis kematian yang dalam pengertian Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis Jerman sebagai sterben, yakni kematian yang dijemput dan direncanakan.

Karena sifatnya direncanakan, kematian sterben berbeda dari kematian off-liven. Dalam pemaknaan Heidegger, kematian off-liven adalah kematian alami benda-benda dan binatang disebabkan datang begitu saja tanpa ada persiapan apa-apa untuk menjemputnya. Kematian yang tidak bermakna.

Sementara kematian Imam Husain adalah kematian dengan makna agung.  Ia  tidak dikondisikan keadaan. Karena itulah ia membuat gaung panjang yang memengaruhi jalannya sejarah.
Itulah sebabnya, kematian Imam Husain disebut syahid. Pilihan yang tumbuh dari jiwa yang merdeka atas suatu gagasan.

Di Karbala gagasan itu sepadan dengan kata-kata George Orwell yang saya kutip di atas tadi: In a time of deceit, telling the truth is a revolutionary act. Di saat kebohongan, menyatakan kebenaran adalah sebuah tindakan revolusioner.

Namun, bagaimana mungkin di Karbala hanyalah kisah yang menunjukkan sebuah pernyataan. Kisah 10 Muharram adalah epik sejarah yang merekam seorang pribadi yang  bukan saja menyatakan kebenaran, tapi juga sekaligus bertindak benar melalui jiwa sekaligus tubuhnya.

Karena itulah dalam tradisi pemikiran Syiah, kisah 10 Muharram menjadi inspirasi abadi untuk menyuarakan kebenaran bukan saja melalui pernyataan tapi juga tindakan.

Sebagaimana sebuah epik, dalam kisah Asyura banyak rupa kejiwaan yang merefleksikan pribadi manusia. Ibarat sebuah “pertunjukkan” melalui 10 Muharram banyak peran kemanusiaan yang ikut terlibat dan berkelindan di antara dua bentang sisi berlawanan yakni kebenaran dan kebatilan.

Melalui sejarah Karbala, walaupun sama-sama berlabel Islam, pribadi Imam Husain dan Yazid bin Muawiyah adalah dua paras ekstrim yang membentang saling menegasi. Dua-duanya sama-sama menjadi wakil gagasan, nilai, dan esensi agama yang berlainan. Imam Husain sebagai pewaris ajaran Rasulullah, dan Yazid sebagai tokoh antagonis dispotik yang memelintir ajaran Muhammad.

Dari sisi ini, pelakonan antara Imam Husain dan Yazid bin Muawiyah seperti analisis Dr. Ali Syariati, scholar sosiologi Islam yang disebutnya agama vs “agama”. 

Agama pertama yang diperjuangkan Imam Husain adalah karakteristik agama seperti yang dinubuatkan Rasulullah dengan nilai-nilai utama berupa egalitarianisme, emansipatif, dan humanis.
Sedangkan agama dalam tanda kutip seperti yang diperankan Yazid bin Muawiyah adalah sisi sebaliknya berupa agama yang menjadi sektarian, nonkoperatif, dan dispotik.

Di sekitar ketokohan Imam Husain untuk menyebut beberapa di antaranya ada sahabat-sahabat semisal Anas bin Harits Kahili, Habib bin Muzhahhar, Muslim bin Awsaja, Hani bin Urwah, Abdullah bin Baqthar Himyari, John bin Huwai yang mencerminkan sifat kerelaan dan kesetiaan terhadap pribadi Imam Husain sebagai simbol kebenaran.

Selain sanak famili, para sahabat Imam Husain menjadi contoh keberpihakan dengan menujukkan diri sebagai pribadi yang rela berkorban demi tegaknya prinsip amal ma’ruf nahi mungkar walaupun nyawa sebagai taruhannya.

Sementara di sisi seberang yang diwakili Yazid bin Muawiyah terdiri dari sosok-sosok yang dibelenggu tipu muslihat dan ego kekuasaan untuk meraih keuntungan sekaligus simpati masyarakat dengan mempermainkan agama sebagai jualannya.
Di antaranya adalah orang-orang semisal Ubaidillah bin Ziyad, Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Syimr bin Dzil Jausyan yang memeragakan lakon antagonis mengedepankan sifat tamak, serakah, dan bebal yang memanfaatkan jaringan kekuasaan demi menyudahi perjuangan Imam Husain.

Dari semua lakon yang terjadi, peristiwa Asyura adalah kisah epik tiada duanya. Ia adalah kisah yang bertutur melalui puncak-puncak nilai kemanusiaan. Hanya di peristiwa Karbala-lah, semua ketinggian nilai kemanusiaan ditemukan, tapi juga sebaliknya secara bersamaan menunjukan peran yang mencerminkan nilai antikemanusiaan.

Kiwari, ketika kisah-kisah kemanusiaan banyak dikalahkan oleh narasi modernisme dalam ingatan kolektif masyarakat, peristiwa Karbala-lah kisah agung yang berdiri di atas pengisahan gugatan dan gugahan bagi siapa saja yang menyadarinya. Sebuah kisah yang mampu didudukkan sebagai gagasan trasnformatif untuk merevitalisasi cara masyarakat beragama agar tidak terjebak ke dalam simbolisme agama dan politik atas nama agama.

Pada akhirnya, kisah Karbala adalah kisah kemanusiaan-universal. Kenyataannya, 10 Muharam bukan sekadar penanda atas waktu suatu peristiwa epik. Melainkan merupakan penanda ingatan dan jiwa, yang menjadi suluh keduanya agar terus berjangkar kepada puncak-puncak kemanusiaan demi menegakan spirit Islam yang diajarkan Rasulullah.

Semua ingatan adalah Asyura, semua tubuh adalah Karbala.

---

Tayang sebelumnya di Geotimes.co.id

22 September 2018

Pengetahuan Abnormal a la Jurgen Habermas


Jurgen Habermas
filsuf dan sosiolog Jerman.
Ia adalah generasi kedua dari Mazhab Frankfurt.
 Jurgen Habermas adalah penerus Teori Kritis oleh para pendahulunya:
Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse


Jurgen Habermas membedakan dua jenis pemahaman, yakni pemahaman yang normal dan pemahaman abnormal.  Pemahaman yang normal menurut Habermas adalah jenis pengetahuan saling mengerti antara dua orang yang berkomunikasi. Kesalingpengertian ini bisa dimungkinkan lantaran berasal dari titik berangkat yang sama berupa bahasa yang sama-sama saling dipahami sebagai medium komunikasinya.

Contoh misalnya, dua warga Indonesia yang setiap hari berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Dua warga ini tidak bakal menemukan kesulitan saat  menyatakan pikirannya  dan menangkap maksud percakapan lantaran sama-sama mengerti  setiap arti dari bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi.

Bagi Habermas, dua warga Indonesia ini kecil kemungkinan terjerumus ke dalam kesalahpahaman. Hal ini akibat sejauh dua warga ini “sadar” dan “memahami” sendiri “bahasa” yang dia utarakan, maka “kesalahpahaman” akan terhidarkan. (Habermas juga mengingatkan dalam kasus dua orang yang saling memahami dengan perantara dua bahasa yang berbeda bukan merupakan soal akibat pengertian yang ada dapat diartikan melalui penerjamahan.)

Masalah akan muncul jika ada jenis pemahaman yang berangkat dari bahasa dan tindakan yang tidak diketahui penutur itu sendiri. Dalam hal ini pengguna bahasa (penafsir) akan menghadapi kebuntuan akibat tidak mengenali sendiri bahasa dan tindakan yang digunakannya.

Berdasarkan penelusuran Habermas, ada kondisi-kondisi tertentu manusia yang mengalami pengetahuan yang abnormal. Pertama adalah kasus psikopatologis, atau gangguan kejiwaan. Seperti umumnya orang mengalami gangguan jiwa, sang penutur adalah orang yang tidak mengerti dan memahami bahasa dan tindakan yang ditunjukkannya. Akibat terjadi gangguan di dalam kesadarannya, proses saling memahami dengan sendirinya menjadi tidak mungkin.

Dalam skala yang lebih luas  jauh lebih rumit karena ditemukan di dalam kondisi ketika bukan lagi individu, melainkan kelompok yang kehilangan kesadaran. Hal ini dijelaskan Habermas terkait pemahaman masyarakat yang salah kaprah akibat indoktrinasi. Dalam kasus ini, pemahaman akan mengalami gangguan akibat sang penutur  dan lawan bicara tidak menyadari efek indoktrinasi yang terjadi dalam proses komunikasi.

Yang lebih kompleks dikatakan Habermas walaupun sang penutur dan penafsir sama-sama mengetahui bahasa dan tindakannya, namun mereka tidak menyadari adanya gangguan bersifat internal yang terjadi di dalam kesadaran mereka. Melalui ungkapan lain, ini seperti efek dari kesadaran palsu yang dikemukakan Marx, bahwa orang yang mengalaminya kehilangan kontak dari kenyataan yang sebenarnya akibat proses indoktrinasi.

Bila argumentasi di atas ditelusuri dalam kehidupan sehari-hari, betapa banyaknya peluang jaringan kekuasaan mengintrodusir jenis pengetahuan yang berpotensi menjadi pengetahuan abnormal.

Ambil kasus di negara sendiri berkaitan dengan peristiwa 30 September. Walaupun kedengarannya klasik, contoh ini paling baik menjelaskan bagaimana kekuasaan memutus hubungan pemahaman masyarakat tentang sejarah ril yang terjadi dengan pengetahuan yang sesuai format kekuasaan. Dengan kata lain, pengetahuan yang diciptakan kekuasaan melalui indoktrinasi menjauhkan masyarakat dari sumber-sumber pengetahuan yang lebih terpercaya berkaitan dengan peristiwa 30 September.

Dalam perspektif cultural studies, iklan yang beroperasi melalui bahasa dan simbol merupakan contoh yang juga dapat diajukan di sini. Melalui elemen bahasa dan simbol, hampir semua iklan membentuk cakrawala pemahaman yang tidak sesuai kenyataan. Analisis Jeang Baudrillard tentang simuklarum adalah model penjelasan yang dapat menerangkan betapa iklan dapat juga membentuk pemahaman abnormal sebagaimana pendakuan Habermas.

Kata “santri” dan “ulama” dalam konstelasi pilpres belakangan ini yang menguat dan menyedot perhatian publik merupakan kasus lain dan unik lantaran sifat dan prosesnya dapat dikembalikan kepada analisis Habermas di atas.

Kata “santri” dan “ulama” dalam ruang kebudayaan masyarakat merupakan terma kultural yang mengakar kuat dan dalam sebagai kata yang secara semantik berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Namun, dalam kontestasi politik tanah air, belakangan dua kata ini menjadi lebih politis dan justru menciptakan pemahaman baru yang bermakna lain dari makna asalnya.

Perubahan dari makna asal menjadi makna yang diprakarsai jaringan kepentingan politik pada akhirnya menjadi pemahaman yang ditangkap masyarakat. Masalah semakin menjadi runyam karena pemahaman yang sudah terlanjur terbentuk di sosialisasikan berulang-ulang melalui jaringan media sosial secara massif.

Akhirnya pemahaman masyarakat di seputar makna “santri” dan “ulama” menjadi terdistorsi atau bahkan berlainan dari maknanya yang sebenarnya akibat terjadi pemutusan secara semantik melalui perulangan makna baru yang diciptakan melalui perangkat media sosial.

Diputusnya pemahaman masyarakat dari pengetahuan asli menjadi pengetahuan abnormal diistilahkan Habermas sebagai “komunikasi yang terdistorsi secara sistematis.”

Frase “secara sistematis” di sini merujuk pada pengertian ketika terjadinya isolasi informasi sang pelaku dari akal sehatnya, sehingga pengetahuan yang dihasilkan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah akal sehat itu sendiri. 

Dalam kasus-kasus di atas, terutama dalam kasus kelompok yang terindoktrinasi terjadi bukan tanpa permasalahan setelahnya, melainkan akan berdampak sampai kepada ranah sosial yang lebih luas, semisal terhapusnya ingatan masyarakat kepada sejarah asli negaranya.

11 September 2018

5 Jenis Mahasiswa Senior Bakal ditemui ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Menjadi mahasiswa baru adalah pengalaman tersendiri bagi sebagian orang. Selain merupakan masa transisi dari kehidupan “pra-pencerahan”, ia juga menjadi penanda bertambahnya tanggung jawab sebagai pelanjut generasi bangsa.

Dunia kemahasiswaan adalah semesta pengalaman yang unik. Ketika jemenjadi mahasiswa baru, je bakal menemukan dunia yang berbeda dari masa SMA dulu. Mulai dari beban sks,  gonta-ganti jadwal mata kuliah, teman nongkrong kece-kece(le), aneka ragam dosen kelas bulu sampai kelas berat, pembayaran ini itu, aktifitas organisasi macam-macam, hingga tentu senior-senior kegatelan ingin mendekati je seperti calo tiket terminal.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan amatiran eike, tulisan ini ingin menyajikan 5 jenis mahasiswa senior yang bakal je temui ketika menjadi mahasiswa baru.

1. Senior tipe ustaz/ustazah

Tipe pertama senior ini banyak bermunculan ketika kampus dikepung organ-organ berhaluan agama. Mulai dari organ tipe liberal sampai konservatif. Namun, sekira lima tahun belakangan organ agama kemahasiswaan yang dominan adalah ah-je-tahu-sendiri-yang-eike-maksud.

Ciri-ciri organ ini gampang diidentifikasi ketika mereka sedang menguasai masjid-masjid kampus. Dalam suatu artikel, Azyumardi Azra seorang cendikiawan muslim Indonesia sekaligus mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah mengatakan, organ-organ ini bisa merebak bak bakteri akibat tidak ada wacana Islam tandingan yang lebih moderat.

Yups, benar sekali. Mereka gampang dikenali dari paham keagamaan mereka yang menghendaki berdirinya negara agama.

Mahasiswa senior macam begini punya strategi rekuitmen kader bekerja sama dengan dosen-dosen buta politik. Dengan dalih kajian keagamaan banyak mahasiswa baru kepincut ikut organ ini yang berafiliasi dengan ormas-ormas keagamaan berhaluan konservatif.

Yang unik dari organ tempat jenis mahasiswa senior ini berkecamba,  mengikuti kegiatan mereka ikut menentukan bagus tidaknya nilai mata kuliah agama di kurikukulum tingkat jurusan.

Senior tipe ustaz/ustazah sangat gampang ditemui di lingkungan sekitar masjid-masjid kampus. Mereka getol berdakwah bahkan sampai berburu di rumah kos-kosan mahasiswa baru.

2. Senior ala kadarnya

Senior ala kadarnya adalah mahasiswa akhir yang tidak terlalu ambil pusing ketika mahasiswa baru pertama kali menginjakkan kakinya di aula-aula kampus.

Senior tipe ini adalah satu jenis mahasiswa yang sehari-harinya mempraktikkan etika mahasiswa 3K: kampus, kamar kos, dan kakus. Di tiga semesta inilah senior tipe ini mengekalkan kehidupannya.
Karena prinsip etika 3K, senior seperti ini lebih mengedankan kehidupan akademik yang layak. 

Kuliah hanyalah satu-satunya aktivitas mereka. Bagi mahasiswa tipe ala kadarnya nilai A+ di atas ijazah adalah satu-satunya summum bonum yang mesti diperjuangkan seluruh mahasiswa.

Itulah sebabnya, kehadiran mahasiswa baru ketika masa PMB dan setelahnya, tak sedikit pun mengalihkan perhatian mereka.

Oh iya, senior jenis ala kadarnya  adalah mahasiswa yang paling banyak berkembang biak di dalam kampus. Mereka kelas mahasiswa mayoritas yang paling banyak memenuhi isi kantin jika rehat dari jam perkuliahan.

3. Senior masih dunia lain

Senior masih dunia lain adalah senior yang misterius. Tidak banyak informasi dapat diketahui dari senior jenis ini. Namanya juga senior masih dunia lain! Kampus bukanlah alam hidup mereka.

4. Senior aktivis sampai mampus

Nah, kalau yang ini adalah senior yang sering gagah-gagahan menggunakan Pakaian Dinas Harian (PDH) organisasi. Ibarat pegawai negeri sipil, baik kuliah atau sedang ee di kamar mandi seragam PDH adalah satu-satunya busana yang dikenakan. Mirip tentara, PDH adalah lambang kesetiaan kepada organisasi.

Senior dari klasifikasi ini merupakan mahasiswa penghuni sekretariat-sekretariat sebagai kantor mereka. Di masa OSPEK PMB tiba, mereka inilah yang paling sibuk menyiapkan penyambutan mahasiswa baru.

Di masa itu kadang mahasiswa senior dari kelas ini jarang sekali pulang ke rumah hanya untuk menghibahkan waktunya demi dedek-dedek mahasiswa baru.

Tidak jarang, dari senior seperti inilah lahir macan-macan kampus. Kelas mahasiswa minoritas yang garang di jalanan tapi malas membaca buku.

Berkat kehidupan altruis mereka, mantan macan kampus yang sudah lebih dahulu diusir dari kampus menitipkan tanggung jawab kelembagaan di atas pundak mereka. Kadang lantaran tanggung jawab ini mereka sampai mampus hidup abadi di dalam kampus.

5. Senior ala KRS (Korban Retorika Senior)

“Sepertinya kita hidup di waktu yang salah,” seloroh kawan eike ketika ngopi di salah satu kampus di Makassar. Ucapannya itu dia maksudkan kepada mahasiswi-mahasiswi yang saat itu asik merumpi di sudut kantin. Tapi bukan isi obrolan yang ia sasar dari mahasiswi-mahasiswi itu, melainkan paras mereka yang cantik rupawan.

Waktu itu kami sudah lama meninggalkan kampus, dan ketika datang bertandang dalam suatu kegiatan di kampus, kawan eike terkesima melihat mahasiswi-mahasiswi generasi milenial yang lebih fesyienebel dari zaman kami sebelumnya. Dengan paras rupawan dan tampilan yang lebih stelish mahasiswi sekarang jauh lebih sadar penampilan dari generasi sebelumnya.

Kepada mereka inilah sekaum mahasiswa senior menjadikan mereka sebagai calon gebetan. Bagi mahasiswa senior yang sering ikut kajian retorika walaupun tidak tuntas-tuntas, sering menggunakan disiplin ilmu ini sebagai senjatanya.

Melalui obral kata-kata, mahasiswi-mahasiswi yang masih polos kerap menjadi korban senior jenis kelima ini. Sejak dijadikan pacar unyu-unyu, mahasiswi seperti mereka menjadi bamper bertahan hidup mulai dari ongkos ngerokok sampai belanja quota data mingguan.

Karena semua itulah mahasiswi-mahasiswi yang termakan kata-kata senior seperti ini sering disebut mahasiswi KRS (korban retorika senior).

Kadang, lantaran saking KRS-nya, mereka sering diPHP-kan di akhir semester nanti. Cinta akhirnya tak seawet empat belas semester.

Seperti senior tipe aktivis, senior ala KRS sering cari-cari muka ketika  mahasiswa baru pertama kali menjalani hari-hari pertamanya di selasar kampus.

Itulah 5 jenis mahasiswa senior yang bakal kamu temui saat menjadi mahasiswa baru. Tidak ideal, memang. Hidup mahasiswa.

---

Telah tayang di Kalaliterasi.com


01 September 2018

Pertanyaan untuk Sang Pengarang

Cerpen bukan hanya keterampilan seni bercerita. Atau sekadar menyusun urutan-urutan peristiwa berdasarkan hukum kausalitas tertentu, dan menempatkan ”peristiwa kunci” di akhir cerita yang sering membuat orang merasa kaget.

Cerpen juga bukan seolah-olah menceritakan belaka pengalaman-pengalaman di sekitar sang pengarang sembari ikut mengubahnya berdasarkan kreatifitas imajinasinya.

Cerpen, sejauh yang dipahami juga adalah media penceritaan yang menggambarkan seberapa tekun sang pengarang mau ikut serta menciptakan kehidupan yang bermartabat dan bebas dari beban sosial yang melingkupinya.

Akhir-akhir ini situasi masyarakat banyak mengalami anomali-anomali. Semakin ke sini, dilatarbelakangi globalisasi, menguatnya masyarakat pos industrial, merebaknya pemahaman ekstrim politik keagamaan, maraknya hoax, serta kemunculan generasi mutakhir digital native, kehidupan kita banyak dibebani dan diharuskan menyelesaikan persoalan-persoalannya dengan cara yang jauh lebih bijak dari cara-cara sebelumnya. Termasuk bagi pengarang, seperti beragam profesi lainnya, harus turut serta ikut memperbaiki keadaan yang banyak membuat orang terkaget-kaget.

Melalui konteks demikianlah, seorang pengarang tidak sekadar ”bercerita”, tapi juga lebih afdol jika karangan-karangannya sedikit banyak mampu mendesak pemahaman pembaca untuk mau menyadari kehidupannya.

Hal terakhir di atas itulah yang menurut saya mesti muncul dalam karya sastra seseorang. Tentu pemahaman ini tergantung dari pertanyaan, semisal, untuk apa seorang pengarang menuliskan karyanya? Apa hikmat yang mau disampaikan melalui cerita-cerita yang ditulisnya? Jawabannya sudah pasti akan beragam, dan ini akan lebih mudah jika dipertanyakan langsung kepada hadapan pembaca.

Kiwari, mengabadikan karya tulis dalam bentuk buku merupakan keistimewaan. Sekaligus itu cara cepat menamakan diri sebagai seorang pengarang/penulis. Yang mesti diingat, kemudahan ini sekaligus liang kubur bagi seseorang yang sudah terlanjur menyebut diri sebagai penulis. Kemudahannya terdapat dalam betapa banyaknya penerbit-penerbit yang sukarela mau menerbitkan karya-karya pemula dengan menghadapi risiko pasar yang lumayan berat.

Namun, liang kuburnya adalah pasca penerbitan itu sendiri. Ketika karya telah dicetak, itu berarti telah menjadi produk siap saing dengan ratusan, ribuan, atau jutaan karya serupa yang beredar memenuhi jagad literasi. Pertanyaannya, apa keistimewaan karya yang sudah go publik? Apa keunggulannya? Kelebihannya? Kalau hanya mengandalkan kemampuan sekadar bercerita, lalu apa perbedaannya?

Kiwari semakin banyak bermunculan pengarang-pengarang yang andal bin kreatif. Bahkan pakem-pakem penceritaan konvensional dicoba direnovasi dengan temuan gaya penceritaan yang semakin maju dari sebelumnya. Bukan saja itu, menyangkut tema juga demikian. Ada-ada saja tema kehidupan yang belakangan banyak diangkat menjadi cerita yang unik.

Kembali kepada pertanyaan awal. Bagaimanakah maksud dari pengarang yang ikut pula menciptakan kehidupan yang bermartabat dan bebas dari beban sosial? Alih-laih menemukan terobosan baru terhadap pakem-pakem sastra, tanggung jawab sosial atas karya sang pengarang seharusnya menjadi lebih utama ketimbang soal-soal estetis lainnya. Tapi apakah ini berarti bermaksud menciptakan karangan yang sarat nilai-nilai etis, atau seperti yang sudah-sudah, yakni sastra gigantis yang penuh dengan ide-ide besar.  

Tentu jawaban pertanyaan ini akan ikut serta di saat sang pengarang menuliskan karyanya?

28 Agustus 2018

Membela Suara Meiliana


Erich Pinchas Fromm. 
Seorang Psikolog sosial, 
psikoanalis, sosiolog, dan filsuf berkebangsaan Jerman. 
Fromm  dikenal dengan pandangan Psikologi humanistiknya

Malangnya, becermin dari kasus ibu Meiliana, wanita asal Tanjung Balai, Sumut yang dihukum 18 bulan bui karena mengeluhkan volume azan di masjid, jangan-jangan religiusitas yang kita perjuangkan selama ini adalah jenis religiusitas yang angkuh. Namun juga sekaligus ringkih.

Religiusitas yang angkuh, entah bagaimana caranya, seolah-olah melenyapkan suatu ciri yang sudah menjadi tulang sumsum bangsa kita: kepedulian.

Dulu kepedulian itu senantiasa dipegang sama-sama, dipikul  di atas pundak bersama yang kiwari sudah kedengaran klise: tenggang rasa.

Tapi, kini semuanya kian menegang.

Semua dimulai dari suatu keyakinan yang monolitik. Suatu jenis pandangan agama yang berdiri di atas menara-menara gading dan bukan didudukkan di dalam rumah-rumah sesama.

Sudah merupakan hukumnya, di atas ketinggian, apa pun menjadi kecil. Bahkan, suara-suara hilang dibawa angin. Di ketinggian, seseorang bakal lupa diri.

Alkisah, hiduplah seorang muazin nun jauh di suatu negeri. Melalui azan, ia terobsesi menyiarkan Islam di negeri orang kafir. Tapi sayang suaranya cempreng. Dengan percaya diri, sampai juga suaranya ke telinga seorang wanita yang sedang tertarik mempelajari Islam. Lantaran penasaran bertanyalah sang wanita kepada ayahnya yang kebetulan seorang pendeta:

“Suara jelek apakah ini, Ayah?”

“Ini panggilan orang Islam untuk melaksanakan ibadah shalat, Nak,” jawab sang Ayah.

“Alangkah buruknya cara mereka memanggil kaumnya beribadah.”

Mendengar ucapan anaknya itu sang ayah yang sebelumnya khawatir anaknya masuk Islam lantas menjadi senang.

Di kisah itu, seperti sudah diketahui endingnya, sang gadis urung masuk Islam lantaran suara cempreng sang muazin. Sementara sang muazin berbangga diri merasa sudah melakukan perbuatan terpuji. Menyiarkan Islam di seantero negeri kafir.

Memang niat saja tak cukup. Yang tidak kalah utama adalah cara bagaimana niat itu direalisasi.

Terkadang banyak salah mengira tindakan dengan niat baik otomatis melahirkan perbuatan baik pula. Padahal, beda niat berbeda pula tindakan. Niat mungkin saja baik tapi belum tentu dengan caranya.

Mungkin, kini suara sang muazin itu bisa jadi adalah suara kita yang kerap merasa jemawa. Barangkali adalah hasrat kita yang kita letakkan di atas ketinggian bukit-bukit ego tanpa sedikitpun mau menyadari betapa seringkali iman kita ternyata memangkas sesuatu yang berbau kejamakan.

Namun, begitulah adanya. Iman yang berpas-pasan dan tumbuh di zaman ini memang kerap menjelma menjadi iman tanpa kepedulian sosial. Iman yang individualistik, dan bahkan formalistik.

Bukankah iman sebenarnya adalah sesuatu yang mengandung cinta. Unsur yang tidak terjebak bentuk-bentuk formal. Senyawa yang menurut Erich Fromm, scholar ilmu jiwa dapat menghidupkan empat gejala manusia: care (kepedulian), responsibility (bertanggung jawab), respect (penghormatan), dan knowledge (ilmu pengetahuan).

Dengan empat gejala ini, cinta tidaklah seperti yang dibayangkan orang-orang, buta dan nyaris tanpa akal sehat.

Kepedulian adalah gejala pertama cinta. Kepedulianlah yang rela membuat pemeluk agama mau mengorbankan sesuatu terhadap sesamanya. Kepedulian bahkan menjadi salah satu nafas utama dari religiusitas agama-agama di muka bumi.

Kedua adalah tanggung jawab. Misi agama-agama adalah melahirkan manusia-manusia yang bertanggung jawab berdasarkan posisi dan perannya secara individual maupun sosial. Rasa tanggung jawab tidak akan mungkin lahir kalau sebelumnya tidak diikutkan dari kepedulian antara sesama.

Ketiga, dalam Islam ada pengakuan terhadap pemeluk agama lain yang bersumber dari surah Al Kafirun ayat 6 yang berbunyi: “Lakum diinukum waliyadiin” (Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku). Tidak saja pengakuan, ayat ini juga bermakna pentingnya penghormatan kepada pemeluk agama lain ketika menjalankan keyakinannya.

Ilmu pengetahuan adalah gejala terakhir dari cinta. Artinya cinta mustahil menempatkan seseorang di dalam lorong kegelapan. Cinta dengan sendirinya mencerahkan. Melalui ilmu pengetahuan, atau sebaliknya, cinta, membuat seseorang mengalami pencerahan. Dengan kata lain, barang siapa mencintai, cintanya membuatnya terbebas dari kejahiliyaan.

Akhir kata, apabila konsep iman demikian dipraktekkan dalam kehidupan ril, besar kemungkinan tidak akan muncul kasus-kasus seperti yang menimpa ibu Meiliana di Tanjung Balai. Semoga.

23 Agustus 2018

Merdeka dari Kebencian

Mohammad Natsir. Pemikir dan Pendiri Masyumi
Perdana Menteri dalam pemerintahan Soekarno pada 1950. 
Perselisihannya dengan Soekarno mengenai Islam dan Sekulerisme 
masih sering mewarnai pembicaraan ideologi saat ini

Akhir Desember 2015, BBC melaporkan, di tahun yang sama adalah tahun kebencian bagi Inggris. 2015: The Year that Angry Won The Internet, begitu bunyi judulnya. Laporan itu merujuk data-data  yang dikeluarkan Demos, suatu lembaga think tank di Inggris yang merata-ratakan 480 ribu pesan berisi kebencian ras di tweet-kan melalui Twitter tiap bulan pada tahun 2015.

Jika beradasarkan hitungan Demos, di Inggris, dalam satu tahun rata-rat ada 5.760.000 ujaran kebencian beredar melalui Twitter. Hitung-hitungan ini akan jauh lebih besar kalau mengikutkan platform media sosial lain dan arus penyebarannya. Tidak bisa dibayangkan betapa besarnya arus kebencian yang malangmelintang dari hari ke hari melalui dunia maya.

Masih mengacu BBC, api pemicu ujaran kebencian itu adalah ujaran-ujaran rasial anti muslim, terorisme, pengungsi timur tengah, dan juga kelompok-kelompok perempuan dan Yahudi. Yang menarik dari laporan itu, sebagian besar ujaran kebencian tidak lagi menggunakan akun-akun palsu, melainkan terang-terangan menggunakan akun asli. Laporan BBC menulis, “banyak orang merasa kebencian mereka dapat diterima dan nyaman mempostingnya dengan nama asli atau akun media sosial reguler mereka."

Apa yang terjadi di Inggris, setidaknya menunjukkan dua hal: pertama, dari hari ke hari, kebencian berbau SARA semakin meningkat seiring massifnya penggunaan media sosial. Kedua, mengingat sebagian banyak waktu masyarakat dihabiskan di dunia maya, bukan tidak mungkin, kebencian yang sering mengemuka di dunia online adalah cermin perilaku masyarakat di dunia sehari-hari.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia sendiri hemat saya belum ada data khusus merekam perkembangan ujaran kebencian di dunia online. Walaupun demikian, fenomena kebencian semakin mengemuka semenjak munculnya kubu haters dan lovers  setelah pilpres 2014 lalu. Setelah momen pilpres 2014, fenomena kebencian di dunia maya ibarat bola salju, terutama di momen-momen politik semisal pileg dan pilkada.

Melihat trend ini, bagi bangsa Indonesia, bisa jadi tahun 2018 berganti menjadi tahun kebencian di samping tahun politik. Apalagi bukan saja di arena politik, di arena keagamaan dan kebudayaan timbul gejala yang sama seperti ditandai dari ujaran kebencian dengan kode sosial semisal “penista agama”, “cebongers”, “bani taplak”, “kaum bumi datar”, “kaum liberal”, “komunis” dlsb.

Fenomena kebencian semacam ini ditilik secara sosiologis adalah hasil konstruksi sosial yang berkembang seiring timbulnya mobilisasi dari “agen sosial” sebagai produsennya.

Menurut Gordon dalam Peterson (2005) emosi berupa kebencian dapat terbangun melalui kesadaran sosial secara kolektif melalui jaringan informasi dan teknologi. Dalam kasus ini, berdasarkan penjelasan Gordon, ungkapan kebencian yang merajalela terdorong ulah “social warriors” sebagai agen hingga massif menyebar.

Lalu siapakah “agen sosial” yang dimaksud? Tiada lain mereka yang selama ini berkedudukan sebagai pengguna medsos yang sering kali memobilisasi orang-orang dengan ujaran kebencian apalagi hoaks melalui isu SARA.

Edi Santoso dalam artikel Pengendalian Pesan Kebencian (Hate Speech) di Media Baru melalui Peningkatan Literasi Media mengemukakan ada hubungan antara ujaran kebencian dengan tindakan kekerasan dalam hal ini genosida. Dimulai dari kata-kata berupa stereotyping atau informasi negatif bisa meningkat eskalasinya hingga pembumihangusan etnis tertentu. Ditilik dari analisis ini, bukan tidak mungkin sudah dan akan terjadi (lagi) di Indonesia.

Merdeka dari

Agustus bagi bangsa Indonesia adalah masa bersejarah sekaligus romantik. Bukan saja karena di bulan ini adalah bulan kemerdekaan, tapi juga di waktu yang sama Indonesia menandai dirinya menjadi bangsa yang kian dewasa. Ibarat usia manusia, menginjak 73 di tahun ini adalah usia yang sudah matang. Seperti seorang sepuh, Indonesia sudah banyak menimba saripati kehidupan.

Namun, melihat kembali fakta-fakta di atas, masih menjadi pekerjaan berat bagi Indonesia dari perilaku warganya yang diselimuti kebencian. Pekerjaan ini akan kian berat terutama akan tampak di momen menjelang pilpres nanti. Umur Indonesia boleh kian bertambah, tapi apakah menjamin kedewasaan warganya?

Lalu apa makna kemerdekaan bakal warga Indonesia rayakan 17 Agustus nanti? Secara romantik sudah tentu merayakan kebebasan dari penjajahan bangsa asing. Mengkhidmati perjuangan pahlawan terdahulu dari agresi kolonialisme, dan ikut serta merasakan betapa susahnya mempertahankan sejengkal tanah pertiwi dari kaki-kaki bangsa penindas kala itu.

Sekarang, seharusnya, salah satu perjuangan warga Indonesia adalah melawan kebencian dari saudara setanah air sendiri. Mengembalikan makna warga negara yang berhak mendapatkan penghargaan sesamanya. Bukan saling menghujat dan menjelek-jelekkan sampai membentuk spiral kebencian di dunia nyata maupun online.

Masa lampau, kebencian kepada penjajah dikelola oleh tangan-tangan cerdas nan bijak. Untuk menyebut beberapa semisal, Sukarno, Moh. Hatta, Agus Salim, Moh. Natsir, dlsb. Para pejuang kemerdekaan tidak menjadikan kebencian terhadap bangsa asing tanpa pencerahan. 

Dengan kata lain, secara kebangsaan, kebencian dari warganya dididik, dibimbing, dan ditransformasikan menjadi aksi positif mempertahankan ibu pertiwi. Puncaknya, emosi kolektif yang sudah tercerahkan terakumulasi dengan matang pada 17 Agustus 1945 lalu.

17 agustus nanti, menghayati makna sejarah kemerdekaan, mari memerdekakan diri dari kebencian. Dari penjajahan sesama saudara sendiri.

---

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...