24 Maret 2018

Diam

Poster film Silence, yang diperankan salah satunya oleh Liam Nelson

DIAM. Menurut eike, arti silence merujuk kepada dua hal: pertama, ia menandai iman kristiani masyarakat Jepang yang dipraktikkan secara sembunyi-sembunyi di bawah intaian kekaisaran Jepang. Di masa-masa awal gerakan Jesuit di abad itu -diperkirakan sekira abad 16 atau 17-- memang menjadi masa-masa yang mencekam. Para padre, ketika memperkenalkan iman kristus di masa kekaisaran Edo sama halnya sedang menggali liang kuburnya sendiri.

Makna silence, lebih jelas kelihatan ketika menunjukkan keadaan masyarakat yang selama beberapa tahun beragama tanpa bimbingan "sang imam" yang bakal mereka temui kelak. Selama masa kekosongan spiritual itu, orang-orang kristen beribadah tanpa bimbingan. Iman yang nyaris betul-betul polos. Iman yang bukan dibuktikan melalui dasar-dasar yang logis, melainkan suatu praktik yang dihayati tanpa pamrih.

Kedua, arti itu menandai praktik iman sang tokoh utama yang memilih diam paska dipersekusi dan diintimidasi inkuisitor kekaisaran Jepang. Di akhir hayatnya, seperti diceritakan, sang tokoh utama mengambil strategi dakwah tanpa menonjolkan simbol-simbol keagamaan di hadapan publik. Kepercayaan yang dia imani cukup dia praktikkan sejauh tiada mata yang menyaksikannya.

Sang tokoh, diceritakan akhirnya harus berdamai dengan kekuasaan. Dia memilih menjalankan keyakinannya secara sembunyi-sembunyi. Tanpa kata-kata, bahkan tanpa perbuatan.

Tapi, siapa sesungguhnya sang tokoh utama itu sendiri? Apakah sang padre atau sebenarnya seseorang yang lain. Seseorang yang tidak hadir dalam narasi, tapi ia ikut di dalam cerita.

Jangan-jangan film ini, sebenarnya ditokohi oleh kita sendiri sebagai figur utamanya. Dengan kata lain, sang tokoh utama bukan sosok yang memainkan perannya melalui drama sinematik itu, melainkan sang jiwa manusia yang yang kehilangan "dasar" iman, kehilangan sandaran untuk memercayai segala ihwal.

Memang film ini menceritakan dua misionaris Jesuit yang pergi mencari padre Ferreira nun jauh di tanah Jepang. Suatu tempat asing yang belum pernah mereka injak sama sekali. Dengan bekal informasi yang masih samar-samar berangkatlah mereka berdua bersama Kichiro sebagai penunjuk jalan. Bergegaslah mereka dari Eropa menuju dunia Timur yang sama sekali berbeda.

Padre Ferreira adalah orang yang paling berjasa bagi kekristenan saat itu. Setidaknya bagi dua padre yang menganggap ia sebagai tokoh penting bagi iman mereka. Itulah sebabnya mereka berani pergi mencarinya yang dikabarkan telah murtad. Walaupun mereka tahu, di Jepang, siapa pun yang diketahui sebagai kristiani bakal dipersekusi dan dibunuh.

Sampai di sini, kisah Silence adalah kisah mengenai pencarian. Narasi dimulai dari berita yang belum lengkap untuk mencari kepastian keberadaan sosok Ferreira. Tokoh yang samar-samar dan dinyatakan hilang.

Tapi, secara esoteris, --seperti yang ditokohkan oleh diri kita-- yang hilang sebenarnya bukanlah Ferreira. Yang hilang sesungguhnya bukanlah seorang sosok. Melainkan suatu pokok. Ferreira hanya simbol, yang menarasikan jiwa-jiwa manusia yang kehilangan "dasarnya". Kehilangan "pijakannya".

Ferreira dalam hal ini hanyalah pantulan cermin jiwa yang terkait dengan suatu asal sekaligus akhir, tempat semua telah bermula dan akan kembali kepadanya.

Itulah sebabnya, di awal cerita, Rodrigues dan Garupe kukuh untuk pergi mencari Ferreira. Bagi mereka, yang hilang bukan sekadar sosok Ferreira. Apa yang sedang mereka cari jauh melampaui suatu sosok, yakni iman itu sendiri sebagai fondasi kekristenan mereka.

Iman dengan begitu adalah ihwal yang mesti diperjuangkan. Sesuatu yang tidak boleh hilang, bahkan mesti dipertahankan.Jiwa manusia bukanlah jiwa yang sesungguhya tegar betul. Ia entitas yang mudah guyah. Tanpa "iman" jiwa hanyalah eksistensi yang telanjang dan tanpa arah.

Lalu yang manakah arah itu? Lebih tepatnya, di manakah seseorang harus mengarahkan sampannya?

Dalam Silence, arah itu justru ditunjukkan dari "sesuatu yang masih samar-samar". Sosok yang ada sekaligus dikabarkan hilang. Dengan kata lain figur "misterius" yang diperankan melalui Ferreira.

Bertolak dari "yang samar-samar" itulah sang tokoh pergi bermil-mil jauhnya. Dengan mengambil risiko mencari sosok sekaligus pokok yang sebenarnya bukanlah Ferreira, melainkan "imannya" itu sendiri.

Di titik itulah pencarian itu pada akhirnya berubah menjadi pergulatan atas diri sendiri. Mencari jiwa yang menjadi pegangan walaupun akan mengalami pembalikan dari hambatan-hambatan yang dilaluinya.

Itulah sebabnya, dalam cerita, di tengah perjalanan padre Rodrigues tidak lagi punya urusan dengan tujuan awalnya --mencari sang panutan padre Fereirra-- melainkan mencari keyakinan yang nyaris hilang dalam dirinya.

Silence dalam arti ini berarti kisah tentang jiwa manusia yang mencari jiwanya yang terasing, jauh, sekaligus juga samar-samar.

Melalui Al Qur'an Islam menyebutkan percayalah kepada yang ghaib. Entitas yang melampaui ruang dan waktu, dan sekaligus sesuatu yang disebutkan "samar-samar".

Yang ghaib, disebutkan dalam allaziina yu'minuna bilghaibi. "Mereka yang beriman kepada yang ghaib". Surah Al Baqarah ayat 3.

Di situ iman --seperti dijelaskan dari ayat sebelumnya--- dikatakan iman ketika didasarkan kepada sesuatu yang diberikan bagi yang menginginkan petunjuk, yakni orang-orang yang percaya kepada yang ghaib.

Percaya terhadap yang ghaib dengan kata lain adalah tanda bagi orang-orang yang bertaqwa.

Jiwa dalam tasawuf dibilangkan menjadi tiga paras. Paras yang pertama adalah jiwa mutmainnah, jiwa yang tenang dan akrab dengan sang asal. Yang kedua adalah jiwa lawwamah, yakni paras jiwa yang bisa merangkak menjadi mutmainnah tapi mudah tergelincir menjadi jiwa dengan paras yang ketiga, yakni jiwa amarah.

Jiwa lawwamah adalah jiwa yang bisa naik ke ketinggian paras mutmainnah ketika dia berhubungan dengan sang asal, tapi bisa jatuh ke kerendahan wajah amarah jika ia melupakan sang asal.

Selama pencarian Ferreira, Rodrigues (dan Garupe) ditemani sosok Kichiro. Kichiro diceritakan sebagai sosok yang ambigu. Suatu waktu ia membantu dan menjadi umat Rodrigues, tapi di waktu yang lain ia mengkhianati demi sekantung uang.

Dia sosok yang terjebak di antara iman dan penyangkalan akibat tekanan-tekanan yang dilaluinya. Dia ibarat jiwa lawwamah yang mudah bergerak di antara dua paras jiwa.

Kichiro dalam hal ini adalah narasi tentang jiwa yang belum berkembang purna. Ia mewakili jiwa manusia yang plin plan akibat tegangan antara dunia dengan sang asal. Ia ibarat sisi libidinal jiwa yang bergerak atas dasar hasrat tapi sekaligus menjadi jiwa yang merindukan tempat dirinya berasal.

***

Abad 17 adalah bagian dari sejarah panjang kolonialisme. Di bawah semboyan gold, glory, dan gospel, Eropa memperluas cakrawala dunianya dengan mendirikan koloni di negeri-negeri timur. Semenjak itu dunia timur-barat menjadi hubungan yang timpang. Timur direpresentasikan menjadi negeri-negeri terbelakang, dan bangsa-bangsa barat adalah bangsa yang mewakili kemajuan.

Hubungan yang timpang itu pula yang nampak mencolok dalam Silence. Di luar konteks ceritanya, perspektif orientalisme masih kukuh mempertahankan ketergantungan negeri-negeri timur dari barat. Hal ini dilihat dari sosok Rodrigues dan Garupe yang mewakili barat sebagai kiblat, dan bangsa Jepang sebagai negeri yang belum dimerdekakan dengan iman kristiani.

Melalui penjelasan inilah, mengapa intitusi kekuasaan Jepang menganggap iman kristus dalam film ini adalah keyakinan yang tidak dapat tumbuh di tanah Jepang. Pohon yang tumbuh di tanah seberang, seperti perkataan Inoe Sama di saat berbicara dengan Rodrigues, adalah pohon yang tidak dapat tumbuh di negeri lain. “Daunnya membusuk di sini, dan tunasnya mati.”

Percakapan yang dilakukan Inoe Sama dan Rodrigues (01:30:21) adalah dialog yang memperlihatkan tegangan antara lokalitas masyarakat Jepang dengan kristiani sebagai ajaran yang sama sekali asing. Agama kristiani dilihat sebagai irisan langsung dari kolonialisme bangsa Eropa. Itu artinya klaim universal yang diwakilkan dalam pendakuan Rodrigues, tidaklah sama di mata Jepang. Di mata Jepang, apa pun yang datang dari Eropa adalah modus lain dari kolonialisme.

Terakhir, narasi penutup dari Silence adalah adegan-adegan yang berangkat dari akhir hayat Rodrigues. Pada akhirnya dia mesti mengambil jalan lain, yakni jalan sunyi ketika imannya tidak mampu ia percakapkan melalui kata-kata, dan tak bisa ia perlihatkan melalui perbuatan.


15 Maret 2018

Perempuan

PEREMPUAN. Eike sampai sekarang seringkali takjub dengan perempuan. Secara biologis, dia mampu menanggung "dua nyawa" sekaligus di masa-masa yang sangat khas. Suatu masa yang sangat feminin. Masa waktu yang tak dipunyai oleh mahluk selain sepertinya. Pengalaman yang tidak mungkin dimiliki laki-laki sekalipun.

Di masa itu, seorang perempuan bertaruh nyawa detik demi detik untuk menahan sakit demi "setengah" jiwa yang ditanggungnya. Dari sisi ini, kata perempuan lebih bermakna dari kata wanita. Terma perempuan, lebih jelas menggambarkan kualitas khusus yang hanya dimilikinya. Empu, seperti ditemukan dalam nama Empu Tantular, dengan kata lain lebih pantas disematkan kepada mahluk yang sering kali direndahkan itu.

Perempuan sering kali dilecehkan, didiskriminasikan, dan bahkan mengalami kekerasan akibat cara pandang yang tidak adil. Secara ideologis, pandangan dunia patriarki masih kuat menempatkan perempuan ke titik subordinat. Secara simbolik, bahasa lebih banyak diucapkan menurut artikulasi laki-laki, sehingga bahasa percakapan lebih beraroma maskulin tinimbang feminin. Dan, secara biologis, perempuan kadang mendapatkan perlakuan kasar secara fisik maupun psikis.

Dengan kata lain, baik ideologis, simbolik, dan biologis, perempuan secara berlapis mengalami penindasan. Di bidang ekonomi, dia dinarasikan sebagai orang yang mesti didomestifikasikan di dalam dapur. Di bidang sosial budaya, kehidupan sosialita perempuan tidak jauh dari "dunia sumur" sebagai ruang pengalamannya yang paling jauh. Dan, yang paling miris, secara seksual, dia hanya dilihat sebagai mahluk yang harus ditundukkan di atas "kasur."

Pertanyaannya, jika hampir semua medan pengalaman perempuan mengalami penindasan sehingga tidak dapat menunjukkan jati dirinya, maka dari manakah perempuan mesti menempatkan pijakannya agar dapat setara dengan laki-laki? Bukankah semua ruang pengalaman manusia sudah dari awal dinarasikan melalui cara pandang laki-laki?

Belakangan, ideologi gender banyak menuai kritik melalui perspektif feminisme yang kadang secara global tidak mampu menerjemahkan permasalahan lokal para perempuan. Di tingkat yang paling kecil, kadang feminisme global mengalami kebuntuan. Perspektif yang terlampau barat, malah justru menjadi soal tersendiri. Feminisme barat, dalam hal ini dengan kata lain terlampau eropasentris. Terlalu kebarat-baratan.

Itulah sebabnya, perjuangan perempuan di manapun mesti mengambil pijakannya bukan dari panggung yang sudah diciptakan barat. Pijakannya, dengan kata lain, mesti bertolak dari "tanahnya" sendiri, tempat perempuan-perempuan menjalani kehidupannya.

Narasi feminisme selama ini yang terlampau eropasentris, mau tidak mau mesti didudukkan dengan hati-hati. Imajinasi feminisme barat adalah imajinasi yang lahir tidak jauh dari hubungan kolonialisme barat dengan negeri-negeri koloninya. Dia, ibarat "suara pembebasan" yang terdengar asing. Di sana-sini apa yang dibangun secara konseptual, di banyak hal tidak cocok dengan kebudayaan masyarakat timur yang tipikal dan khas.

Itulah sebabnya, kesadaran perempuan mesti digali dari tempatnya hidup itu sendiri. Bahasa perjuangannya mesti diucapkan melalui "lidahnya" sendiri. Diambil dari "perutnya" itu sendiri. Dari kehidupannya yang paling intim sekalipun.

Atas dasar itulah, eike menyarankan, mulai saat ini perjuangan perempuan mesti menggunakan bahasa lokalnya, bahasa yang dipakai sehari-hari sebagai bahasa kesadarannya, di mana dari itu kehidupan kultural perempuan bermula.

Sampai di sini, perjuangan perempuan bukanlah mau menyasar kehidupan sehari-hari yang nampak alami. Seolah-olah natural dan tanpa bias gender walaupun di balik semua itu ada ideologi dominan yang berperan besar menciptakannya. Perjuangan perempuan, singkat kata, hingga saat ini adalah perjuangan kultural, bukan menerima kehidupan natural yang selama ini mengelilinginya.

Dengan kata lain, dari semua itu perempuan mesti menciptakan budayanya sendiri. Kehidupan yang bersih dari cara pandang laki-laki yang mensubtitusinya.


04 Maret 2018

Sakit


SAKIT. Baik Socrates maupun Platon, mendudukkan pengetahuan sebagai suatu proses. Bahkan, melalui bahasa metafora, Socrates menyinonimkan pengetahuan sebagai kelahiran seorang bayi. Pendapat ini ia sandarkan kepada keyakinan bahwa setiap manusia "sudah" memiliki pengetahuan berupa "sesuatu" yang ia kandung sendiri.

Melalui proses kelahiranlah, pengertian ini dimaksudkan Socrates bahwa pengetahuan itu tidak lahir dari proses selain dari pada "rahim" kita sendiri. Dengan kata lain, pengetahuan adalah "bayi-bayi" alami kandungan diri sendiri, bukan "bayi kloning" dari perut orang lain.

Socrates menyebut itu dengan istilah "maieutike".

Itulah sebabnya, Socrates menyebutkan pekerjaannya sebagai seorang filsuf ibarat seorang bidan. Dia hanya membantu orang-orang melahirkan sendiri pengetahuannya.

Sampai di sini eike berpikir, jika pengetahuan ibarat kelahiran seorang bayi, maka di situ ada rasa sakit yang menyertai. "Kesakitan" dengan kata lain adalah konsekuensi tak terhindarkan dari kelahiran itu sendiri.

Itu artinya, pengandaian berpengetahuan, atau dengan kata lain, berpikir, meniscayakan rasa sakit yang menjadi satu kesatuan di dalamnya.

Dari sisi ini, berpengetahuan melalui berpikir mendalam mau tidak mau memiliki risiko. Kesakitannya tiada lain adalah hasil dari kegiatan berpikir. Semakin berpikir semakin "sakit" ia. Atau sebaliknya, semakin sakit semakin dalam ia berpikir.

Tentu di sini kesakitan yang dimaksud bukanlah rasa perih yang diartikulasikan melalui pengertian medik. Melainkan kesakitan yang dilihat dari pengertian epistemik.

Rasa sakit epistemik berbeda dari rasa sakit medik yang berciri fisik dan biologis. Kesakitan epistemik jenis rasa sakit yang lebih "eksistensial". Jenis kesakitan yang melanda akal sekaligus jiwa manusia.

Bahkan, sebelum pengetahuan itu lahir, ada proses yang jauh lebih krusial lagi dan juga mengandung rasa sakit yang khas, yakni ketika pengetahuan itu menjalani masa-masa "pembatinan". Masa-masa ini adalah waktu yang paling menentukan. Ibarat bayi yang kelak akan lahir, "janin" pengetahuan pertama kali mesti "dikandung" dalam beberapa waktu. Di masa inilah, "embrio" pengetahuan mengakibatkan jenis kesakitan yang spesifik. Rasa sakit yang khas.

Rasa khas dari kesakitan hasil pembatinan inilah yang kerap mengubah kebiasaan-kebiasaan lama menjadi kebiasaan-baru. Di titik ini, pikiran banyak mengalami persesuaian dengan pengetahuan yang belum akrab dengannya. Pikiran banyak mengalami perubahan drastis hingga mengubah "caranya" beraktifitas.

Di sini-lah "pertentangan-pertentangan" muncul akibat formula-formula pengetahuan baru yang "tidak biasa". Di sinilah, rasa sakit, kepedihan, dan keperihan menjadi satu. Suatu masa yang berisiko: gugur atau tumbuh berkembang.

Dari sini, akhirnya mafhum, pengetahuan itu berakar alami dengan diri manusia. Kaki-kakinya berserabut sampai di dalam kesadaran yang paling dalam. Dia dikandung dan dilahirkan sendiri. Dari perut masing-masing.

Pengetahuan, dengan kata lain, adalah "embrio" yang sudah ada sebelumnya dimiliki masing-masing setiap orang. Dan, itu juga berarti setiap orang mesti menanggung rasa sakit jika ingin melahirkannya.

Sampai di sini mengertilah eike lebih jauh, Imam al Ghazali, sang Hujjatul Islam, yang sempat sakit keras selang beberapa lama, mesti menanggung beratnya guncangan jiwa akibat peralihan pengetahuan sebelum sampai ke medan tasawuf. Rasa sakit yang hampir membawanya ke mulut sang maut. Tapi, dia menemukan obatnya sekaligus melahirkan karya dahsyat yang sampai hari ini dibaca oleh setiap pengagum pemikirannya.

Di Eropa, Rene Descartes, barangkali adalah figur yang hampir sama dengan al Ghazali. Dia pun mengalami rasa sakit sampai harus menolak dirinya sebagai sesuatu pribadi. Tapi, dari rasa sakitnya, melalui kandungan "rahimnya," suatu zaman baru lahir di Eropa dan ikut membentuk tatanan dunia modern.

Tapi, baik Descartes maupun Imam al Ghazali, barangkali belum sampai menyerupai rasa sakit yang dirasakan Muhammad, sang nabi terakhir. Beliau, sebagai sang rasul, memiliki jenis pengetahuan yang spesifik dan khas. Bahkan pengetahuannya "ditemukan" melalui aktifitas "berpikir" yang sama sekali lain. Bahkan konsep berpikir tidak cukup untuk menjelaskan proses pencapaian epistemik (pengetahuan) yang dialaminya.

Dalam sejarah, narasi itu diliterasikan melalui penceritaan di suatu gua. Bukit-bukit tinggi tidak jauh dari Mekkah. Dan, "iqra" adalah "pengetahuan pertama" yang menjadi "pintu masuk" bagi aktifitas kenabian Rasululullah.

Di sini, suatu masa dimulai. Dan, Rasulullah menanggung dua jenis kesakitan sekaligus. Secara fisik dia menanggung sakitnya dikucilkan dari keluarga dan masyarakatnya. Serta, dari sisi kejiwaan suatu "sakit" yang hanya identik dirasakan oleh dirinya seorang (dikisahkan, Rasulullah sampai mengalami sakit fisik berupa badan yang menggigil berkeringat pasca "diturunkannya" wahyu pertama kalinya).

Melalui ini suatu pemahaman terbit. Sementara akhirnya dari risiko yang dibawanya, suatu agama "lahir" dan menginspirasi terbentuknya tatanan dunia yang teologis dan humanis

Menurut eike, ditilik dari sudut ini, sejarah hidup Rasulullah adalah sejarah bagaimana seorang manusia yang berhasil menduduki pengetahuan tertinggi dengan menanggung dan melampaui rasa sakit yang inheren di dalamnya. Sejarah tentang betapa "sakitnya" Rasulullah "membawa" apa yang "dikandungnya". Rasa "sakit" yang sungguh dahsyat dan tidak akan pernah dialami satu manusia sekalipun.

Tapi, begitulah. Tiada pengetahuan tanpa kesakitan. Bahkan, itulah jalannya.

Syahdan, di era kiwari, untuk memulai suatu pemahaman, orang-orang nyaris tidak ingin mengambil risiko berpengetahuan. Mereka khawatir menanggung kesakitan dan kepedihan, sekaligus mencari cara untuk menghindarinya dengan mencari "paket-paket" pengetahuan yang sudah fix. Orang-orang macam begini, enggan merawat bayi pengetahuannya. Bahkan, ogah mengandung dan melahirkannya.

Dengan kata lain, pengetahuan di masa sekarang hanyalah hasil fabrikasi "kekuatan-kekuatan" eksternal di luar rahim manusia. Manusia hanya menjadi pengkloning pengetahuan tanpa mengetahui proses dan ikut terlibat di dalamnya. Hanya mau menerima "kotak instan" yang sudah dikemas dan distandarnisasi.

Lalu, jika demikian, siapa lagi saat ini yang dengan rela mau memikul sakitnya berpengetahuan? Proses luar biasa yang menghujam pikiran dan jiwa, bahkan berisiko maut.

24 Februari 2018

Iman dan Cinta

Iman. Sayangnya, iman agama yang kita menangkan belakangan ini adalah jenis iman tanpa cinta. Bahkan, mungkin kebencian.

Iman minus cinta adalah iman destruktif, iman yang menghancurkan. Itulah sebabnya dia menyerupai kebencian, sifat bejat manusia yang justru ibarat kanker. Ia tumbuh merusak dari dalam.

Lalu, seperti yang kerap terjadi, dari situ iman yang susut dari cinta memasang tiang pancang. Menarik garis batas tanpa tedeng aling-aling. Membelah "kita" menjadi "kami", pun juga dengan model ke-aku-an yang nyaris asosial

Di medan kehidupan ril, iman yang dianut nyaris menyerupai ranting kering. Ia tungkai yang kaku. Sulit beradaptasi. Tapi juga sekaligus gampang terbakar.

Jika demikian, bagaimanakah iman dengan cinta?

Iman dengan cinta adalah iman yang ditopang dengan empat gejala. Seperti pendakuan Erich Fromm, seorang ahli ilmu jiwa, cinta yang sehat adalah cinta yang memiliki care (kepedulian), responsibility (bertanggung jawab), respect (penghormatan), dan knowledge (ilmu pengetahuan). Dengan empat gejala ini, cinta tidaklah seperti yang dibayangkan orang-orang, buta dan nyaris tanpa akal sehat.

Kepedulian adalah gejala pertama dari cinta, dia begitu peka terhadap keberlangsungan seseorang. Dia begitu mudah "berair" dan "terluka" demi sesuatu yang dicintainya. Kadang, karena peduli, nyaris di titik ini "akal sehat" menjadi tidak bekerja demi kebaikan sesuatu yang dia cintai.

Akibatnya, dia menjadi seorang yang rela mengambil peran sehubungan dengan sesuatu yang dicintainya. Dia menjadi sadar hak dan kewajiban dirinya. Kepeduliannya pada akhirnya membuatnya bertanggung jawab.

Di saat yang bersamaan, di balik hak dan kewajibannya, dia sekaligus merealisasi hak dan kewajiban pribadi yang dicintainya pula. Cara ini adalah upayanya mendudukkan kehormatan "sang kekasih" ke tempat yang layak. Sang kekasih dengan kata lain adalah pihak yang dia junjung sekaligus ia hormati sekaligus.

Ilmu pengetahuan adalah gejala terakhir dari cinta. Artinya cinta mustahil menempatkan seseorang di dalam kolong kegelapan. Cinta sudah dengan sendirinya mencerahkan. Melalui ilmu pengetahuan, atau sebaliknya, cinta menjadikan seseorang mengalami pembalikan sepenuhnya. Jiwanya dipenuhi kesadaran berbasis ilmu pengetahuan. Cintanya bersifat membebaskan.

Dari semua itu, cinta pada akhirnya akan melahirkan dua anak kandung: truth (kebenaran) dan fidelity (kesetiaan).

Tapi, kebenaran seperti yang menjadi sisi kanan sampannya adalah risiko. Dan sisi sampan kirinya adalah risiko yang lain...

Artinya, siapa pun yang mencintai bakal menuai risikonya. Siapa pun yang mencintai akan dituntut kesetiaannya.

Lalu, bagaimanakah cinta yang ternyata senantiasa membawa suffering (penderitaan)?

Dalam sejarah, orang-orang besar yang memanggul cinta memang berkembaran dengan penderitaan. Itulah risikonya yang lain. Bahkan, sebenarnya itulah jalannya.

Cinta seperti yang dinyatakan sebelumnya, membawa empat gejala. Apakah itu arti lain dari perkataan Jalaluddin Rumi, "di dalam negeri cinta, akal digantung?"

Apakah itu tiada lain seperti perkataan banyak orang cinta berarti "perasaan" di mana akal dimatikan? Ataukah justru sebaliknya dengan arti ini: akal ibarat matahari yang "tergantung" dan mesti diletakkan diketinggian, dia sulit disaksikan langsung, tapi cahayanya justru mencerahkan.

Cinta memang tidak buta.

18 Februari 2018

Lima Prinsip

Lima Prinsip. Setidaknya menurut eike ada lima prinsip pokok yang mesti dijadikan ukuran untuk mendudukkan agama sebagai agama. Lima prinsip ini juga pertama-tama merupakan suatu cara yang bagi eike dapat dijadikan jalan keluar untuk memahami ide-ide substantif dari agama yang belakangan ini banyak termodifikasi melalui kosakata-kosakata kepentingan primordial dan sektarian. Kedua, walaupun bersifat sederhana, lima prinsip yang eike susun ini, terutama dalam Islam, adalah suatu kerangka epistemologis untuk menjawab fenomena faktual masyarakat kiwari yang terjebak ke dalam cara pandang agama secara esensialis.

Lima prinsip itu yang pertama adalah: prinsip logos.

Prinsip logos adalah azas pertama yang bermaksud untuk mendudukkan statment-statment agama di atas aturan bahasa yang rasional. Artinya, setiap bahasa agama ketika diucapkan ke dalam konsep-konsep pikiran mesti mencerminkan kemasuk-akal-an. Artinya pertanggungjawaban epistemologis dari proposisi-proposisi agama jika dikembalikan kepada prinsip kebenaran maka ia tidak melanggar dan mengingkari kebenaran dari dirinya sendiri. Dengan kata lain, di dalam statmentnya itu sendiri tidak mengandung kesalahan berpikir.

Prinsip logos jika direalisasikan akan mengandaikan tiga hal. Pertama adalah keterbukaan, yakni suatu kualifikasi yang menerima masukan dari mana pun untuk memperkaya dirinya. Dengan kata lain, pengandaian ini menghendaki penerimaan terhadap segala informasi baru selama saling menguatkan masing-masing pendiriannya.

Keterbukaan karenanya adalah modal pertama dari prinsip logos untuk menempatkan kebenaran misalnya, dengan mempertimbangkan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Pengandaian yang kedua adalah dialogis. Syarat ini adalah konsekuensi dari keterbukaan sebagai cara untuk melakukan tukar tambah pengetahuan. Dialogis merupakan prasyarat kedua agar kebenaran dapat berfungsi secara komunikatif. Dengan kata lain tidak ada pernyataan-pernyataan kebenaran yang tidak dapat dikomunikasikan. Itu artinya, dialog adalah kemampuan dari logos untuk mempercakapkan dirinya dengan cara-cara terbuka sebagai bagian dari demonstrasi kebenarannya. Tentu prinsip ini mesti dilakukan di tengah-tengah kepelbagaian yang mengitarinya.

Pengandaian logos yang ketiga adalah emansipatoris. Kualifikasi ini adalah kaki-kaki prinsip logos untuk mau mengemansipasi pihak lain di luar dirinya. Artinya bahwa kemampuan emansipasi adalah kata lain dari suatu upaya untuk memberdayakan pihak lain dengan cara terbuka dan dialogis sebagai hal penting yang saling terkait.

Terbuka, dialogis dan emansipatoris dengan begitu adalah tiga prasyarat dari rasional tidaknya suatu pengetahuan agama.

Prinsip yang kedua adalah prinsip kemanusiaan. Dalam Islam, prinsip ini kerap disepadankan dengan kosa kata "al ukhuwah al insaniyah" (persaudaraan antarmanusia). Pokok ini mengartikan setiap umat manusia dipersatukan di dalam satu ikatan yang bersifat universal. Ikatan ini adalah jenis ikatan yang melampaui kedekatan suku, agama, budaya, atau bahkan pertalian sedarah.

Persaudaraan antarmanusia juga merupakan pertalian yang menghubungkan sekaligus meminimalisir perbedaan-perbedaan yang bersifat permukaan ke dalam suatu pemahaman tentang kemanusiaan sejati.

Dengan kata lain, prinsip kemanusiaan adalah azas yang melampaui dan sekaligus mesti diletakkan di atas konsep-konsep universal semisal konsep kebangsaan dan kesukuan yang sering kali memicu sobeknya apa yang disebut "tissue social."

Dalam Islam, banyak ditemukan ayat-ayat yang menggunakan kalimat seruan "wahai manusia" dan bukan lainnya. Dari ungkapan ini Islam sesungguhnya sangat menghargai manusia sebagai ciptaan Allah paling paripurna. Itulah sebabnya ungkapan ini bukan sekadar ungkapan retoris yang tanpa bermaksud apa-apa, melainkan suatu model komunikasi Ilahi yang berarti bahwa Islam senantiasa menempatkan seluruh nilainya agar selaras dengan nilai dasar kemanusiaan.

Prinsip yang ketiga adalah penghargaan terhadap ajaran agama lain. Prinsip eike kira adalah prinsip yang menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat hari ini mengingat semakin defisitnya konsep keberagamaan yang melandasi interaksi masyarakat Indonesia. Belakangan, bagi kelompok-kelompok agama tertentu, akibat tidak hadirnya penghargaan sesama pemeluk agama lain banyak mengakibatkan retaknya kohesi sosial masyarakat.

Berbicara dari segi kedudukannya, tiadanya prinsip ini seringkali menjadi dasar mengapa agama-agama lain di luar dari keimanannya dilihat sebagai agama yang tidak layak disejajarkan dengan agamanya sendiri. Hal ini berdampak serius dengan ditandai berupa menguatnya kecurigaan antar sesama pemeluk keyakinan berbeda. Bukan saja itu, lenyapnya prinsip ini membuat konsep-konsep kebenaran dalam agama menjadi gagasan-gagasan yang bernilai sempit dan sulit didialogkan.

Kosakata agama mayoritas-agama minoritas, akhir-akhir ini menjadi bahasa publik yang sepertinya berdiri di atas kekosongan prinsip penghargaan terhadap pemeluk agama lain. Ruang publik masyarakat akibatnya mau tidak mau terseret kepada logika pemahaman agama yang menegasikan pihak lain dengan cara mengasingkan pemeluk agama berbeda ke ruang jauh keterasingan. Bahkan bukan saja pengasingan, seringkali tindakan ini berujung kepada perilaku diskriminatif dan mengancam.

Pentingnya prinsip ini sebenarnya bukan saja karena kebutuhan mendesak masyarakat sekarang, melainkan memang dari segi kenyataannya, bangsa ini sejatinya ditopang dari kepelbagaian perbedaan yang sebenarnya adalah rahmat bagi negeri ini. Secara kebudayaan misalnya, negeri Indonesia sejatinya adalah negeri yang lahir dari ibu kandung multikulturalisme. Kenyataan ini sulit dibantah dan oleh sebab itu cara merespon fenomena ini yang menjadi kekayaan yang berlimpah tiada lain dengan mengafirmasi prinsip penghargaan sesama pemeluk agama berbeda.

Cinta dan spiritualitas adalah prinsip keempat yang eike rasa adalah salah satu solusi untuk membenahi kehidupan umat beragama bangsa Indonesia. Cinta dapat menjadi medium yang menghadirkan rasa kasih sayang terhadap sesama di antara jaringan interaksi masyarakat. Tanpa cinta, interaksi masyarakat besar kemungkinannya akan terjebak kepada perasaan sentimentil yang memicu kebencian. Sementara spiritualitas adalah kualitas ruh agama yang mesti selalu hadir bukan saja di dalam praktik-praktik peribadatan syariat, tapi juga di dalam setiah hubungan kemanusiaan kita. Arti penting cinta dan spiritualitas, dengan kata lain merupakan esensi agama yang mesti dihidupkan lebih jauh agar tidak sekadar menjadi doktrin beribadah semata melainkan juga mengcover seluruh praktik kehidupan masyarakat.

Terakhir prinsip yang kelima adalah mencintai al Qur'an. Prinsip ini dapat diterangkan bahwasannya al Quran mesti menjadi pustaka utama bagi setiap kebutuhan manusia. Mencintai al Quran dalam arti ini bukan seolah-olah mendudukkan teks-teksnya menjadi kata-kata benda, melainkan dia mesti menjadi teks-teks aktif yang membunyikan dan menerangi setiap pencapaian pengetahuan manusia. Al Quran dari sisi ini, berarti adalah kitab yang sangat peduli dengan ilmu pengetahuan dan inovasi-inovasi yang ditemukan di zaman ini sehingga benarlah seperti yang diartikan selama ini bahwa al Quran senantiasa selaras dengan perkembangan umat manusia dari masa ke masa.

Prinsip ini juga dapat diartikan sebagai peneguhan kepada figur Rasulullah sebagai manusia yang paling paripurna. Secara epistemologi, wahyu al Quran merupakan pencapaian ilmu pengetahuan Rasulullah yang bersumber langsung dari sumber ilmu pengetahuan itu sendiri yakni Allah semata-mata. Dengan kata lain, secara pemaknaan diri Rasulullah adalah sosok nyata dari hakikat al Quran yang dibuktikan dari ucapan istrinya bahwa akhlak Rasulullah adalah al Quran itu sendiri. Prinsip mencintai al Quran dengan begitu sama artinya dengan mencintai Rasulullah sebagai sosok khusus yang menjadi medium dan pembawa wahyu ilahi.

Di dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, prinsip mencintai al Quran setidak-tidaknya bertujuan untuk menghidupkan ruh Islam di tengah-tengah gempuran nilai-nilai nonilahiat yang mengkerdilkan nilai kemanusiaan.

Syahdan, lima prinsip ini menurut eike bisa menjadi indikasi untuk meraba-raba sejauh apa agama itu sendiri, terutama Islam telah berperan selama ini dengan mengedepan inti ajarannya. Walaupun demikian, lima prinsip ini bukanlah indikator satu-satunya di dalam melihat Islam sebagai nilai universal. Seperti yang eike bilang semenjak awal, lima prinsip ini hanyalah ukuran sederhana yang eike susun sendiri untuk menakar, katakanlah Islam substantif yang berbeda dari Islam aksidental, satu paras Islam yang belakangan menggenapi cara masyarakat Indonesia beragama.


17 Februari 2018

Melihat dari Jauh



Aristoteles, Murid Platon
dikenal dengan konsep Hylemorpisnya



Melihat dari Jauh. Mungkin, cikal bakal intelektualisme adalah pengasingan.

Di masa-masa Platon hidup, intelektualisme dinyatakan dengan cara mendirikan komunitas-komunitas belajar yang jauh dari pemukiman kota Athena. Sang filsuf, dinarasikan dalam sejarah, sering kali pergi mengasingkan diri dengan mengumpulkan murid-muridnya di suatu tempat agar menemukan suasana belajar yang bebas dan steril dari segala kepentingan. Toh jika ada kepentingan, Platon mungkin bilang, yang ada hanyalah demi kepentingan ilmu pengetahuan.

Di tempat itu, yang sering disebut academia, Platon mendudukkan murid-muridnya sebagai teman dialog. Melalui percakapan melingkar, Platon dan murid-muridnya menjadikan cara itu untuk mendiskusikan segala ihwal. Suatu cara berdialog yang disinyalir pernah dipraktekkan Socrates dengan nama "metode bidan".

Barangkali, pengasingan Platon adalah suatu strategi belajar untuk mengafirmasi gagasannya tentang suatu dunia yang ia sebut sebagai dunia idea. Dunia idea, bagi Platon adalah dunia sebelum jasad yang tanpa cela dan tanpa cacat. Kata Platon, dunia idea adalah dunia tempat jiwa bersemayam dan bebas bergerak dengan ide-ide universal.

Barangkali dengan arti itu pula perlu ada ruang ideal yang mencerminkan dunia tanpa gangguan sebagai tempat mengasah pikiran. Suatu dunia seperti yang mampu mewakili dunia idea: tempat yang lowong, tanpa beban dan bebas memungkinkan pikiran bergerak dialektis tanpa dikerdilkan kepentingan sesaat.

Singkatnya, pengasingan dengan begitu adalah suatu mekanisme sosial yang mengambil jarak dari beban pikiran sehari-hari yang tidak substansial.

Suatu cara membebaskan jiwa agar dapat berkembang dengan sehat.

Orang-orang Yunani menyebut ini sebagai katarsis.

Kelak Aristoteles murid Platon, akan meneruskan model ini dan akan menjadi batu pertama bagi berdirinya institusi-institusi belajar modern semisal perguruan tinggi.

***

Orang-orang kota, di tiap akhir pekan seringkali pergi jauh dari mukimnya untuk menikmati waktu lowong. Pantai atau daerah pegunungan seringkali menjadi pilihan utama dari aktifitas semacam ini. Di tempat-tempat itu mereka mengasingkan diri sejenak dari rutinitas harian. Mencari energi baru dan inspirasi. Menyegarkan kembali pikiran selama dijejali tanggung jawab pekerjaan.

Orang-orang menyebut ini sebagai rekreasi. Cara mengasingkan diri yang menyenangkan.

Sementara masyarakat terdidik terutama mahasiswa sampai sekarang masih menerapkan "pengasingan Platon" sebagai bagian dari rutinitas intelektualismenya.

Di tiap akhir pekan, tempat-tempat yang jauh dari pemukiman kota dipilih sebagai lokasi kegiatan-kegiatan pelatihan. Di tempat-tempat itulah suasana belajar yang jauh lebih bebas mereka temukan. Tempat yang jauh berbeda dari kampus yang kerap masih berlaku hirarki tuan-hamba.

Di Makassar, tidak jauh dari pusat kota, umumnya ada dua tempat sering digunakan masyarakat terdidik untuk menciptakan "pengasingan Platon". Pertama adalah situs peninggalan Benteng Somba Opu yang berisikan replika rumah-rumah adat dari pelbagai kabupaten di Sulawesi Selatan. Yang kedua, agak jauh dari pusat kota yakni di sekitar pesisir pantai yang menghadap selat Makassar: Tanjung Bayang. Dua tempat ini selain Malino, cukup mewakili karakter suasana yang cenderung bebas dan tanpa tekanan, dua prasyarat agar pikiran bekerja maksimal.

Di dua tempat inilah, dua pengasingan sekaligus dilakukan. Jika pengasingan sepadan dengan penjarakan, maka pengasingan yang pertama adalah metodelogi belajar yang mirip dan yang pernah diupayakan Platon dan murid-muridnya. Yakni, metode menempa pikiran dengan cara mencari tempat-tempat jauh dari kesibukan masyarakat urban yang mampu mensterilkan akal sehat.

Pengasingan yang kedua dapat dipahami melalui konsepsi "abstraksi" Aristoteles. Metode abstraksi dari filsafat Aristoteles adalah kualitas pikiran manusia yang mampu menarik kesamaan-kesamaan dari perbedaan objek dengan mengambil ide-idenya sebagai konsep universalnya. Kemampuan ini sering dilakukan manusia dengan cara mengeneralkan sesuatu dari perbedaan yang dimiliki objek-objek tertentu.

Ibarat satuan pasir, pikiran mampu menyaring pasir perbedaan demi menemukan pasir halus yang jauh lebih mewakili harapan sang manusia. Atau, seperti metode penyulingan ketika ingin menemukan zat cair yang jauh lebih jernih.

Dua pengasingan ini, sadar tidak sadar adalah proses penyubliman pikiran yang sampai sekarang menjadi cara paling ampuh untuk menjaga pikiran dapat terus sehat.

Melalui dua mekanisme ini, bukan saja masyarakat terdidik, melainkan kelompok masyarakat lainnya, menemukan waktu dan ruang yang lebih memadai untuk melihat dan menilai dari sudut tertentu tentang apa yang sudah ada selama ini. Bahkan, di sisi tertentu mempertanyakan kembali apa-apa manfaat dari sesuatu terhadap keberlangsungan diri selama ini.

Dengan proses inilah refleksi dimungkinkan.

Syahdan, walaupun demikian di satu sisi "pengasingan Platon" sering kali diejek sebagai model belajar yang mengedepankan kontemplasi dari pada aksi. Kontemplasi bahkan dinilai sebagai bentuk eskapisme terselubung. Cara orang-orang lari dari kenyataan dengan memasuki dunia "khayalan".

Akibatnya konon katanya, dunia tidak akan berubah hanya dengan cara berkontemplasi. Kontemplasi ditengarai menjadi sebab mengapa banyak orang memilih hidup menjauh dari kehidupan ril itu sendiri. Bahkan kontemplasi membuat siapa pun yang melakukannya menjadi pasif. Tidak punya greget dan semangat dalam hidup.

Itulah sebabnya, kata aksi bagi sebagian mahasiswa masih lebih mulia daripada terma kontemplasi. Kata aksi lebih mewakili jiwa muda mahasiswa, tinimbang kontemplasi yang dianggap lebih mewakili semangat kaum tua.

07 Februari 2018

Kontradiktif. Menurut eike gambar iklan dari film Silariang ini nampak ganjil. Secara semiotik gambar yang diwakili dua tokoh film ini tidak mewakili keadaan sosio-psikis yang sering dialami orang-orang yang melakukan silariang. Bagaimana mungkin dua tokoh ini masih bisa tersenyum berlari ketika mengalami peristiwa yang dinilai terlarang. Sulit membayangkan dua sosok pemuda-pemudi masih senyam senyum ketika silariang.

Silariang, kita tahu adalah tindakan terlarang dalam tradisi Bugis-Makassar. Silariang bukan mekanisme sosial dari tradisi nenek moyang yang dianjurkan untuk memediasi dua sejoli yang sedang jatuh cinta dan akan melabuhkan perasaannya ke dalam perkawinan. Tidak ada pemuda pemudi silariang yang bergembira melakukannya. Lalu apa pesan moril dari gambar yang kontradiktif ini?

Secara sosiologis, tradisi dinyatakan sebagai kategori sosial yang imperatif, yang memaksa. Tapi, dikatakan ahli ilmu masyarakat, saking imperarifnya, masyarakat mau tidak mau mesti mentaatinya agar terjadi keselarasan dalam praktik hidup bermasyarakat. Dalam kehidupan modern seperti sekarang banyak tradisi yang mengalami tegangan dengan semangat kebebasan manusia. Di satu sisi manusia disebut mahluk bebas, tapi di sisi lain ada tradisi yang ibarat penjara membatasi gerak gerik sang manusia. Silariang, eike kira adalah film yang juga mengangkat kisah semacam itu. Antara kebebasan menentukan pilihan pribadi atau "terpaksa" mengikuti kebiasaan tradisi.

Tapi, melihat kembali gambar iklan film ini, nampaknya dua sejoli ini seolah-olah tidak memberi kesan yang normal di hadapan tradisi masyarakatnya. Buktinya, lihat saja gambar iklannya. Dua sejoli yang tidak getar getir ketika melawan adat istiadatnya.

Ditinjau dari sudut penyiaran, fenomena iklan ini kontradiktif dengan pesan yang ingin disampaikannya. Secara semiotik penandaan senyuman dari dua tokoh ini tidak sama sekali terkait dengan makna budaya dari kata silariang itu sendiri.

Tapi, tentu tulisan ini akan jauh berbeda artinya jika melihat secara keseluruhan isi filmnya. Eike yakin dua tokoh ini tidak sedang ketawa ketiwi ketika sedang silariang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...