12 Juni 2016

Puasa Abad 21


Sigmund Freud
Bapak Psikoanalisa

KIWARI, ramadan bukan lagi paras yang santun. Wajah ramadan abad 21 adalah paras yang agresif.  Hampir setiap momen ramadan menjelma kekuatan yang akumulatif: hasrat, modal, rasa sentimen, dan juga tentu ibadah.

Akibatnya, mendadak ramadan menjadi panggung perlombaan. Banyak orangorang berubah peran. Bermain drama.

Yang unik, kekuatan spiritualitas yang dikandung ramadan berjalan paralel dengan semangat instingtif manusia. Jika agama pada dasarnya adalah daya dorong kemanusiaan, saat ramadan malah bergerak ambivalen.  Di balik spiritualitas puasa, bergerak pula daya naluriah yang destruktif.

Patut dipersoalkan sejauh mana semangat ramadan menyesap memengaruhi sikap libidinal manusia. Jika meneropong keadaan sehariari, sikap manusia yang berganti peran hanya sampai kepada tataran normatif belaka. Orangorang boleh saja berpuasa, tapi itu bukan perjuangan mengelola sisi terdalam manusia.

Apalagi di abad kontemporer, hampir semua dimensi kebudayaan adalah penjelmaan tatanan yang digerakkan modal. Mari menyimak bagaimana di awal bulan ramadan, produkproduk kebudayaan yang bernuansa agamais digelar secara seremonial. Mulai dari etika berpenampilan sampai etika beribadah tak lepas dari spirit konsumerisme.

Akibatnya ramadan yang harusnya santun jadi semarak perayaan produkproduk jual beli. Tak bisa ditolak, kenyataan ramadan hanyalah media tukar antara semangat beragama dengan suka cita pencitraan.

Juga mesti disesalkan, ramadan seperti daya ungkit tekanantekanan sosial yang selama ini sulit diatur. Masyarakat yang hiperkonsumtif, malah bukan mengurangi daya beli sebagai bagian dari amal berpuasa. Puasa akhirnya hanya berfungsi sebagai katup sementara dari naluri rendah yang meledak pasca ditekan selama seharian penuh.

Dari aspek etis, ketaqwaan yang menjadi tujuan berpuasa hanyalah suara cempreng di atas mimbarmimbar mesjid. Taqwa yang berarti memelihara, menjaga, dan melindungi tak memiliki sumbangsih sosiologis apaapa jika melihat fenomena kekinian. Nampaknya, taqwa yang dipahami sebagian orang bukanlah semangat keagamaan yang menjaga sesama, bukanlah sikap yang mau melindungi sesama, malah bertindak dengan perilaku kekerasan.

Syahdan, taqwa yang agresif adalah kecemasan yang menjadi bagian dari mekanisme pertahanan ego. Akibat kecemasan yang sulit dibendung, selain agresif, ego menjadi represif menggantikan gangguangangguan yang dialaminya. Maka jangan heran, ego yang represif berubah wujud menjadi cara penyaluran yang tidak sehat berupa tindakan merusak.

Ramadan yang disikapi demikian janganjangan adalah gejala infantil. Suatu sikap kekanakkanakan. Yakni suatu pola etika yang digerakkan oleh tatanan yang mudah guyah. Bukan iman yang seharusnya mengayomi. Malah adalah ketakutan yang menjadijadi jika suatau permintaan tidak dapat terpenuhi.

Maka bisa jadi itu memang betul. Apalagi jika gejala ini ditautkan dalam pemahaman yang dibangun Sigmund Freud. Manusia, jika dia beragama hanyalah mekanisme  diri yang ingin selalu dipuaskan. Seperti anak kecil yang ingin dipenuhi seluruh kemauannya. Agama hanyalah saluran hasrat yang dialihfungsikan untuk menormalisasi dorongandorongan instingtifnya.

Menariknya, bagi Freud , manusia memiliki dua kekuatan yang dominan. Pertama adalah insting kehidupan yang mendorong manusia mencari cara agar tetap bertahan dalam tekanantekanan yang dihadapinya. Kedua adalaha insting kematian yang termanifestasi dari perilaku merusak akibat tekanan Id yang sulit dibendung.

Ramadan jika dibilang sebagai jalan ruhani seharusnya mampu mengkoordinasikan dua insting bawaan manusia di bawah terang kesadaran ilahiah. Jika tidak demikian, barangkali ada yang salah selama ini dari cara orangorang berpuasa. Janganjangan puasa hanya diartikan dalam pengertian lahiriah saja. Puasa hanyalah cara orangorang menahan lapar dan haus belaka.

Singkat cerita, apabila ramadan hanya menangkal naluri instingtif manusia, dan tidak mampu mengubahnya menjadi energi positif yang insani, maka bisa ditebak pasca sebulan penuh berpuasa, kita hanyamendapatkan kesiasiaan.

11 Juni 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 20

Kelas literasi pekan 20 berjalan apa adanya. Tanpa dua mekanisme seperti biasanya. Karena sebagian kedatangan kawankawan tanpa membawa tulisan. Hanya Putri Reski saja yang membawa tulisan. Walaupun begitu, kelas pekan ini tetap dianggap berjalan seperti harapanharapan sebelumnya.

Tulisan Putri mengambil tema parenting. Di situ dia menyoal sikapsikap orang dewasa dalam memperlakukan anak. Digambarkannya dalam hal mendidik anak sama berarti dengan mendidik sejak awal diri calon orang tua. Pengertian ini diambilnya dari hadis nabi: “didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir.”

Bicara anakanak berarti butuh pemahaman khusus. Apalagi soal bagaimana mendidiknya. Kiwari, anakanak begitu rentan dengan dunia orang dewasa. Hampir semua keperluan anakanak diintrepetasikan berdasarkan kesadaran orang dewasa. Padahal antara dunia anakanak dan kesadaran orang dewasa memiliki jarak yang jauh soal bagaimana memposisikan anakanak berdasarkan kebutuhannya.

Tak jarang dalam soal kepengasuhan, anakanak menjadi korban orang tua. Hal ini disebabkan akibat ketidakmengertian orang tua terhadap kebutuhan anakanak yang sesungguhnya. Ambil contoh, perilaku anakanak lebih banyak didasarkan kepada kebutuhan estetis untuk melakukan sesuatu dibanding orang tua yang melihat dunia dari aspek normatifnya. Dua dunia yang berbeda ini yang kadang membikin masalah bagi pertumbuhan anakanak.

Tak sedikit dalam masa pertumbuhannya, anakanak harus disesuaikan dengan kemauan orang tua. Di sini perlu kehatihatian apakah selama mendidik anak orang tua paham betul dengan kebutuhan anak dibanding kebutuhannya sebagai orang tua. Akibatnya, kadang yang terjadi sang anak lebih banyak dibentuk dengan kemauan orang tua daripada kebutuhan sang anak itu sendiri.

Alhasil banyak anakanak yang tumbuh besar dengan mananggung ambisi sang orang tua. Anakanak yang tumbuh dengan model demikian tak sedikit mengalami depresi yang mengakibatkan masa pertumbuhannya terganggu.

Lingkungan sang anakanak juga mesti diperhatikan. Tak bisa dipungkiri masa sosialisasi nilainilai melibatkan kehidupan bersama. Bagi sang anak ini adalah hal yang penting.

Anakanak semenjak awal harus diperkenalkan bagaimana menjalani kehidupan bersama. Itulah mengapa anakanak yang tumbuh dengan cara bersosialita akan memiliki kecenderungan yang berbeda dengan anakanak yang dibiarkan tumbuh di bawah kepengasuhan yang ketat.

Yang menjadi masalah jika sang anak tumbuh di dalam lingkungan yang negatif. Banyak kasuskasus kenakalan remaja jika ditelusuri akibat masa pertumbuhannya dibesarkan di dalam lingkungan yang salah. Di titik ini penting kepengawasan orang tua terhadap apaapa yang dialami sang anak saat menjalani kehidupan sosialnya.

Pola kepengasuhan juga harus memperhatikan masa pertumbuhan sang anak. Tidak mungkin menerapkan satu pola kepada masa pertumbuhan anakanak yang semakin berkembang. Dalam hal ini seorang orang tua harus tahu setiap masa umur anak membutuhkan pola pengasuhan yang berbedabeda. Jika anak berusia balita tentu berbeda jika diterapakan kepada anakanak yang beranjak dewasa. Begitu juga sebaliknya.

Yang juga kadang jadi masalah adalah banyak orang tua yang memperlakukan anaknya seperti masamasa balita. Orang tua dalam kasus ini dituntut banyak memiliki strategi dalam membangun relasi dengan anakanak yang sudah dewasa.

Kirakira seputar itulah yang diobrolkan dalam kelas literasi pekan 20. Selain pengalaman kawakawan dalam menghadapi sang anakanak yang sudah terlebih dahulu menjadi orang tua.

Di KLPI pekan 20, turut hadir Rumi. Balita sekira hampir satu tahun. Rumi buah hati pasangan Suardi dan Nasrah. Hampir semua obrolan saat itu berpangkal dari Rumi.
Yang menarik adalah pengakuan Nasrah soal kemauan masa kecilnya yang tak sempat terealisasi. Apa yang dialami Nasrah barangkali adalah juga dialami hampir setiap orang.

10 Juni 2016

bakso

Bakso. Itu makanan kesukaan saya. Ini jarang diketahui. Hanya orangorang tertentu yang tahu. Juga sangat sedikit dari mereka sering saya ajak makan bersama. Traktir.

Kala masih sekolah menengah, kala sore biasanya saya sudah standby di lorong belakang rumah. Biasa, menunggu tukang bakso langganan lewat.

Kebiasaan ini juga dilakukan temanteman sepermainan. Lengkap dengan mangkuk masingmasing.

Kalau makan bakso, kala itu harus dicampur mie instan. Namanya mie Sakura. Sekarang mie ini sudah punah. Dulu harganya lima ratus rupiah. Murah.

Entah mengapa bakso gerobakan mas langganan nikmat dicampur mie Sakura. Keyakinan kami saat itu karena mie Sakura punya bumbu yang khas. Minyak sayurnya yang maknyos. Kuning kental.

Bakso semakin nikmat bukan saja karena bumbu mie Sakura. Tapi bumbu rahasia yang dibikin mas seperti adonan kue itu. Warnanya cokelat menyerupai tai sapi kering. Jika dicampur bumbu ini saya bisa bertahan siang malam menghabiskan satu gerobak.

Yang saya sukai dari bakso sebenarnya adalah kuahnya. Saya tak peduli daging apa yang dipakai bikin pentol bakso. Entah kanji atau daging tikus saya tak peduli. Kalau sudah berbentuk bulat rasarasanya semuanya sama saja. Hanya kuahnyalah yang sebenarnya menentukan.

Makanya jika saya mendapati warung bakso di manapun, kuahnyalah yang saya nilai pertama kali. Itu juga yang jadi nilai plus bakso gerobakan langganan. Selain harganya murah. Kuahnya yang bikin ketagihan.

Kebiasaan menunggu tukang bakso juga sering dilakukan siang hari. Jadi bisa dibilang hampir duakali saya membeli bakso dalam sehari. Itu jika ada cukup duit.

Seperti obat sakit kepala kebiasaan saya ini hampir rutin. Tapi, kalau sore sepulang main sepak bola saya tidak membeli bakso, maka saya sudah tunaikan di siang bolong sepulang sekolah.

Bila saya ingin naik level dari bakso gerobakan menjadi bakso warungan, itu gampang. Di depan rumah berdiri gagah warung bakso. Kebetulan mbak penjual bakso ini tetangga saya. Nah, di warung inilah saya menaikkan derajat kelas dari pembeli bakso jalanan menjadi pembeli berduit.

Walaupun agak mahal dibanding gerobakan, bakso tetangga saya ini juga sedap rasanya. Tentu kuahnya yang bikin demikian. Ini bukan macammacam. Saya serius!

Dari saya SMP sampai sekarang, tetangga saya ini sudah hapal kuah bagaimana yang cocok dengan lidah pembelinya. Soal bakso jangan bilang, tetangga saya ini salah satu masternya. Buktinya sampai sekarang masih bertahan.

Soal pentol bakso, tetangga saya lebih terjamin. Kalau bakso gerobakan sering dominan dicampur kanji, mbak saya ini memang menggunakan daging. Barangsiapa doyan makan bakso pasti tahu perbedaan teksture mana bakso daging mana tepung kanji belaka.

Kalau mas gerobakan punya bumbu ulegkan khas, bakso tetangga saya punya sambalnya yang aduhai. Ini yang menambah rasanya jadi spesial. Saya yang menyukai makanan pedaspedis jadi doyan.

Biasanya jika di rumah makanan habis, bakso tetangga saya ini pilihannya. Dengan modal sembilan ribu semangkuk bakso gurih sudah bisa dibungkus pulang.

09 Juni 2016

flash disk

Hampir dua minggu belakangan saya sibuk ke kampus. Seingat saya kesibukan saya ini jarang terjadi. Apa pasal karena jelang deadline wisuda saya harus pagipagi berangkat ke kampus.

Di kampus hanya dua hal yang saya lakukan: bertemu dosen pembimbing tercinta dan melengkapi administrasi berkas wisuda. Yang pertama berkaitan dengan tesis saya. Yang kedua, kalian barangkali sudah tahu: berdiri gagah di antara ratusan wisudawan dengan toga sewaan.

Masalahnya adalah untuk urusan yang kedua susahsusah gampang. Berkas pendaftaran wisuda lumayan banyaknya. Saya sampai pusing mengerjakannya. Macammacam surat harus disediakan. Saking banyaknya tas saya sudah seperti lemari berkas pegawai negeri sipil.

Susahsusah gampang urusan ini karena banyak berkas yang harus ditanda tangani. Akan mudah jika yang menandatangani berada di tempat. Yang ribet kalau yang punya tandatangan malah keluar punya urusan. Susah.

Juga yang bikin ngosngosan karena gedung administrasi dan gedung jurusan jaraknya lumayan jauh. Kalau jalan kaki lumayan bisa bakar lemak tiga sampai lima kilo. Saya yang agak kurus ini memilih naik motor saja.

Nah, di antara dua gedung inilah saya harus bolakbalik urus ini itu. Walaupun naik motor rasarasanya sama saja. Bedanya bukan lemak saya yang terbakar habis. Justru bensin motor saya yang terkuras. Pun kalau capek itu hanya karena jarak parkiran dan gedung jurusan yang juga lumayan jauhnya.

Sekarang hari terakhir pendaftaran wisuda. Aturan mainnya sebelum pukul duabelas siang semua berkas harus rampung. Jika tidak tamat riwayat. Saya harus menunggu giliran wisuda dua tiga bulan lagi. Mampus sudah.

Berkas terakhir yang harus disetor sebelum tenggat waktu adalah lembaran distribusi tesis. Dua hari belakangan hanya ini yang bikin saya moratmarit tak karuan. Sementara tesis saya sepagi ini belum jelas. Masih di tempat penjilidan.

Khawatir bakal telat, pagipagi buta saya sudah mandi. Pukul enam lewat Bung! Pikiran saya hanya tertuju kepada berjilidjilid pagina bersampul merah itu. Kemudian satu benda yang bikin semua rencana seperti bakal berantakan: flash disk.

Ceritanya begini: benda kecil yang sering saya bawa itu tibatiba raib dari tas saya. Setelah diperiksa di kantung baju tidak ada, dan saku celana pun nihil. Apes. Saya kehilangan benda canggih itu tanpa saya dugaduga sebelumnya.

Tanpa FD itu otomatis saya tidak bisa menyetor berkas. Di dalamnya ada satu data tesis lengkap yang harus saya pdf-kan dan kemudian di CD-kan. Dan tanpa CD itu maka berkas saya yang lain jadi tidak ada artinya.

Akibat FD yang raib di bawa ketiadaan, sehari sebelumnya pikiran saya jadi mumet. Hampir semalaman pikiran saya hanya soal FD. Tak bisa dibayangkan tenggat waktu yang hanya tinggal sehari bikin hati waswas. Jangan sampai karena FD yang entah kemana saya gagal jadi wisudawan.

Makanya sore kemarin untuk mengantisipasi saya membeli FD baru. Tujuannya saya harus mengulang memasukkan datadata penting buat di CD-kan nanti di koperasi. Sembari harapharap cemas, saya berniat pagipagi buta sudah harus berada di kampus untuk mengejar setoran berkas yang belum rampung.

Dengan data cadangan di FD baru, saya berharap FD yang raib bisa ditemukan kembali. Agak sedih rasanya miniatur kemajuan teknologi itu tidak bisa saya gunakan lagi.

Lewat FD itu, banyak harihari yang saya lalui bersama. Mulai dari film, artikel, beberapa foto narsis, dan sejumlah esai saya abadikan di dalamnya. Kehilangannya seperti ada yang kurang. Seperti kekasih saja.

05 Juni 2016

cukur

Belakangan ini saya ingin bercukur. Rasarasanya rambut saya harus dibuat rapi. Ini akibat Jumat kemarin saya harus menghadapi ujian Tesis. Memang bukan kewajiban saat ujian akhir harus bercukur, tapi dengan rambut yang tertata rapi saat ujian meja bisa bikin rasa percaya diri jadi tumbuh. Tapi apa boleh dibilang, niat itu sampai sekarang tidak kesampaian. Rambut saya masih utuh belum dipotong. Masih seperti biasanya.

Omongomong soal cukur rambut, dulu, kala ingin memotong rambut, yang sering jadi “tukangnya” adalah Bapak saya sendiri. Kebiasaan ini sudah dimulai sejak sekolah dasar hingga masa SMA. Saat mencukur Bapak hanya punya satu gaya, yakni model potongan tentara. Saya tak tahu kenapa model itu yang sering dipilih Bapak, mungkin model seperti itu yang paling gampang dilakukan. Apalagi anak sekecil saya waktu itu tahu apa soal gaya rambut.

Kadang saya curiga, model yang bertahuntahun saya alami itu disebabkan dua hal. Pertama model belah samping itu akibat bentuk gaya sisir yang sering dilakukan Mamak kala sehabis memandikan saya sewaktu kecil.

Atau yang kedua bisa jadi ukuran kerapihan termasuk soal gaya rambut kala itu harus disesuaikan dengan etika militer yang kuat mendominasi hampir di semua dimensi kehidupan masyarakat. Yang terakhir ini malah kuat dugaan saya ada benarnya. Atau mungkin memang sebaliknya yang pertama. Entahlah.

Ingatan saya masih kuat minyak apa yang sering dipakaikan Mamak kala merapikan rambut saya. Warnanya mirip minyak goreng kehijauhijaun. Cair seperti air. Namanya minyak Orang Aring yang berwadah kaca. Minyak ini kalau dipakai bisa tahan seharian penuh. Bikin kilap dan licin. Kadang kalau pagi saya bangun, di bantal tidur saya masih tertera bekas minyak rambut ini. Minyak ini cara pakainya bisa bertahan lama akibat memang sangat irit pakainya. Cukup sekali duakali tuang sudah bisa menggenapi kepala saya kala itu.

Saat sekolah menengah pertama ada keinginan untuk memanjangkan rambut. Berbeda saat sekolah dasar, masa SMP adalah masa ajang diri, terutama soal rambut. Akibatnya, rambut saya biarkan tumbuh panjang. Ini saya lakukan agar bisa mengubah model yang semenjak SD terkesan monoton. Karena niat ingin bergaya, maka akhirnya saya harus meninggalkan minyak Orang Aring. Maklum minyak ini membuat rambut jadi mudah lunglai susah dibentuk.

Ada istilah rambut saya adalah jenis rambut air. Istilah ini kala itu merujuk kepada rambut yang lurus dan mudah jatuh terurai. Kelebihan rambut jenis ini mudah dibentuk sesuai dengan kemauan dengan syarat sedikit menambah minyak rambut yang agak kaku. Jadi biar sepanjang apapun jika ditambah minyak semacam Tancho, rambut jenis ini akan memberikan bentuk sesuai selera yang dimaui.

Semenjak menyadari bahwa minyak rambut merk Brisk bukan minyak yang tepat, maka untuk mendapatkan rambut yang tidak mudah berubah akibat angin, saya mulai mencari jenis minyak rambut yang super kaku. Pencarian ini berlangsung lama akibat riset kecilkecilan yang saya lakukan.

Tentu riset ini adalah percobaan minyak rambut sebagai bahannya, mana yang bisa membuat rambut tak mudah bergeser seinci pun. Kala itu Brisk yang sering kali meleleh jika terkena hujan sudah saya keluarkan dari percobaan. Merk ini jika terkena hujan malah luntur seperti cat yang berwarna putih. Merk ini saya blacklist sesegera mungkin.

Percobaan saya ini selain melakukannya sendiri juga melibatkan kawankawan yang berniat sama dengan saya. Kadang jika melihat rambut kawan saya yang tak berubah dari pagi hingga sepulang sekolah maka pertanyaan saya adalah apa merk minyak rambut yang dipakai.

Dari berbagai macam informan maka ditemukanlah beberapa merk saat itu: Casablanca, Tancho, Casanova, dan juga Brisk. Yang terakhir ini saya maklum. Kawankawan saya memakainya bukan untuk membuat rambut tampak kaku, jutru hanya mau mendapatkan efek mengkilat kala memakainya.

Makanya pasca riset sederhana yang dilakukan, hampir semua merk yang disebutkan sudah semuanya saya uji secara langsung. Namun aneh, semuanya siasia tidak membuat rambut saya tampak “tegar” diterpa angin. Karena belum menemukan hasil, akhirnya riset buat membuat rambut jadi kaku terus saya lakukan.

Hingga suatu waktu jawaban yang saya nantinantikan datang dari sobat saya: Amir Barata. Perlu diketahui hobi kami sepulang sekolah sering kali dihabiskan di permandian umum bernama Oeba. Di sana ada kolam mata air dua petak berukuran panjang sekira sepuluh meter. Permandian ini selain tempat anakanak seusia kami berenang ria juga ditempati ibuibu mencuci pakaian. Oeba adalah kolam mata air yang betulbetul menyenangkan.


mempuasakan tulisan

Di bulan Ramadan nanti, sesiapa pun umat muslim harus menjaga hati, lisan, dan perbuatannya. Ini adalah tuntutan agama. Puasa, ritual yang digelar penuh selama sebulan itu memang bermaksud sebagai momen penyucian.

Dari situ manusia diharapkan mengambil suatu kesadaran baru, bahwa yang namanya jiwa perlu dibebaskan dari seluruh sampah yang menghambat perkembangannya. Tuhan tahu, mahluk kecil bernama manusia itu butuh surga kecil, butuh jedah, suatu masa waktu segala niat dan sikap harus dibersihkan ulang dan dilipatgandakan  rewardnya. Dan puasa adalah medianya.

Puasa jika itu cara agar manusia hatihati, juga harus bekerja dari cara manusia berkomunikasi. Apalagi di masa sekarang tak semua informasi yang dikonsumsi adalah bahan obrolan yang bersih. Kadang akibat motifmotif tertentu suatu informasi malah hanya berisi rasa sentimen dan kecurigaan berlebihan terhadap sesuatu, juga tidak sedikit dari informasi yang lahir dengan cara itu tak lebih dari kebohongan belaka.

Ditinjau dari massifnya informasi yang beredar, bisa dibilang informasi yang berisi kebohongan malah jauh lebih banyak dikonsumsi orangorang dari pada informasi yang benar. Di sini bukan malah amal jariah yang terjadi, justru dosa jariah.

Makanya, bagi seorang yang sering menyebarkan informasi lewat tulisan punya sedikit tantangan lebih besar dibanding orangorang. Seorang penulis di kasus ini, selain tubuh dan jiwanya yang harus berpuasa, juga harus lebih berhatihati dalam menyatakan pikirannya. Bagi seorang penulis, tulisannya harus sedikit diperhatikan. Adakah tulisannya bukan issu semata? bukan gonjangganjing belaka? Atau kebohongan itu sendiri? Syahdan apapun informasinya seorang penulis juga harus meramadhankan buah pikir karya tulisnya. Tulisannya juga harus berpuasa.

Lalu bagaimanakah tulisan yang berpuasa itu? Pertama, caranya tentu harus dimulai dari bacaan yang harus seselektif mungkin. Yang pertama ini lumayan susahsusah gampang, soalnya tidak semua bacaan itu bersih dari kontenkonten vulgar. Apalagi bacaan  terutama sastra, tidak sedikit prosaprosa mutakhir malah mengeksplore tema seksualitas sebagai pabrik wacananya. Bahkan di dalamnya kadang digambarkan suatu peristiwa yang “anehaneh” soal persetubuhan dua mahluk biologis.

Walaupun itu bisa dimaknai sebagai metafora, namun tetap saja bacaan demikian selalu mengambil reka peristiwa yang melibatkan tubuh manusia sebagai medium pemaknaannya. Di titik ini kadang dua lapis pemaknaan berlaku sekaligus: makna harfiah dan metaforis. Jika kesadaran itu bersifat transfiguratif, maka itu malah akan membuat sang pengimajinasi bisa “liar” menggambarkan peristiwa yang dimaksud. Dari pada itu terjadi, maka lebih baik bacaan demikian harus ditunda sementara. Puasa bukan saja soal tubuh dan sikap, tapi juga imajinasi.

Kedua soal motif. Seorang penulis bisa melahirkan beragam motif di balik proses kreatif  tulisannya. Kadang waham kebesaran adalah motif yang kuat yang sering kali mendorong seorang penulis menuliskan karyanya. Motif ini juga kerap hadir bersamaan dengan motif kepahlawanan.

Dua motif ini walaupun agak berbeda tapi memiliki tujuan yang sama, yakni dari tulisan yang dibuatnya bisa mendatangkan citra kebesaran. Dari kacamata sufistik, motif ini disebut bisa mendatangkan riya’. Tentu tulisan yang riya’ adalah tulisan yang tak berharga apaapa selain makna kesombongan itu sendiri. Di saat puasa dengan tulisan macam demikian tentu akan mengurangi pahala dari ibadah yang sedang dijalankan. Makanya, karena itu, berhatilahhatilah membangun motif dibalik tulisan Anda. Niatkanlah hanya untuk ibadah semata.

Informasi yang baik adalah kabar yang menyertakan fakta. Dengan kata lain apa yang disampaikan merupakan apa yang terjadi itu sendiri. Itulah sebabnya kebenaran begitu krusial dalam konteks pekerja informasi. Bahkan kebenaran adalah sentral yang harus ada dalam setiap pengetahuan yang ingin disampaikan.

Bagi seorang sastrawan, yang kadang menulis dengan bentukbentuk kebenaran yang disamarkan barangkali bisa berkelit soal informasi yang ditulisnya. Seorang sastrawan memang punya semacam kekuasaan dalam memberlakukan informasi agar terkesan ambigu.

Tapi, bagi orangorang semisal wartawan, atau orangorang yang sering menyampaikan kebenaran lewat artikel, kebenaran adalah kebenaran. Tak peduli informasi apa yang sampaikannya selain itu memang pengetahuan yang berbasis kenyataan atau akal sehat. Yang terakhir ini malah penting dalam konteks kiwari di mana banyak informasi hoax yang kerap beredar. Dengan kata lain, tulisan yang diramadankan adalah karya yang ditulis atas asas kejujuran.

Terakhir adalah soal tujuan karya itu ditulis. Apabila dunia maya jadi medan penilaian, maka kadang banyak ditemukan informasiinformasi yang bertujuan untuk membangun sentimentalisme kelompok dengan menyulut nuansa emosi pembacanya. 

Tulisan semacam ini seringkali ditemukan dari situssitus berbasis keagamaan dan kesukuan yang menghujani pembacanya dengan informasiinformasi yang tidak bertanggung jawab. Padahal jika suatu karya berita ditulis berdasarkan kaidah jurnalisme, maka hampir sebagian besar informasi yang disebut ini adalah berita yang tidak memiliki sumber yang valid.

04 Juni 2016

catatan menulis PI, pekan 19

Pertemuan kali ini tanpa melibatkan karya tulis siapa pun. Kali ini KLPI bukan mau menjalankan rutin soal kritik karya tulis. Pun juga tidak ada soal karya yang dibacakan. Dengan kata lain dua mekanisme KLPI seperti biasa dilakukan ditangguhkan.

Pertemuan kali ini kawankawan hanya mau datang akibat ajakan untuk mendengar pengalaman dari seorang yang sudah akrab: Alto Makmuralto. Kawankawan dipanggil atas undangan sebelumnya yang mau menyoal suatu tema: “Literasi dan Aksi: Literasi sebagai Aktivisme”. Dan Alto Makmuralto, penulis yang sudah dikenal itu sebagai pembicara tamunya.

Sebenarnya ide ini sudah bergulir di dua pekan sebelumnya. Namun akibat suatu hal, baru pekan 19 rencana ini terealisasi.

Seperti biasa kelas bukan lagi ruang yang ramai. Kali ini hanya ada beberapa muka yang sudah dihapal betul. Juga ditambah dua muka baru. Yang terakhir ini belum jelas betul apa motivasinya terlibat, tapi ada dugaan nama Alto Makmuralto yang jadi magnetnya. Jika ditotal KLPI pekan 19 hanya diisi 8 orang, plus pembicara tamu maka berjumlah 9 orang.

Kelas dimulai pukul dua. Di siang yang agak menyengat pembicaraan tidak langsung menjurus ke soal tema. Seperti laiknya persamuhan komunitas, unsur nonformal lebih dominan menjadi bahan obrolan.

Kali ini MIWF kemarin jadi tema pembuka pembicaraan. Terutama terkait sehalaman Kompas yang menurunkan berita acara tahunan itu. Dari situ akhirnya obrolan pelanpelan masuk ke halhal yang bersangkupaut dengan literasi. Mulai dari kelompokkelompok penulis sampai soal kubukubu sastrawan. Dari emerging writers sampai penulis bloger. 

Hingga akhirnya tanpa mesti diabaaba forum dirasa mesti dibuka secara formal. Muhajir, yang sering didapuk jadi moderator mulai angkat bicara. Tak lama Alto Makmuralto ambil giliran.

Penulis novel Sekuntum Peluru ini membuka pembicaraan dengan isuisu yang pernah aktual di tahuntahun 1960, soal pertentangan mazhab sastra. Dari situ Alto, begitu nama akrabnya, mengambil konteks bahwa literasi sebagai aksi bisa terkait langsung dengan selera seorang penulis. Terkait dengan pilihan ideologis, literasi bisa mengandung beragam polemik, apakah menulis hanya soal ekspresi kebebasan atau jauh melibatkan diri kepada komitmen perubahan.

Dua perspektif ini disebutnya  pernah nampak menjadi perdebatan dan mempengaruhi jalannya kesusastraan Indonesia. Akibatnya, menulis dikatakannya bisa hanya soal selera atau ada sangkutpautnya dengan isuisu politik.

Alto juga menyinggung ihwal wacana sastra kontekstual. Yang ini adalah suatu pemikiran yang pernah dipopulerkan Ariel Heryanto  dan Arief Budiman di seputar tahun 80an.  Awalnya perdebatan Sastra Kontekstual meneruskan tradisi kritisisme sebagai respon terhadap pandangan Sastra Humanisme Universal yang mengandaikan sastra adalah suatu upaya yang lahir dari nilainilai yang akrab di seputar sastrawan.

Berbeda dengan pandangan Sastra Universal, Sastra Kontekstual lebih menekankan kemungkinankemungkinan yang tak teramati dari kecenderungan anutan sastra universal yang identik dengan selera kelas menengah terdidik. Dengan kata lain, Sastra Kontekstual menginginkan bahwasannya sastra harus mampu terserap bukan saja buat segelintir orangorang terdidik, melainkan bagi masyarakat yang jauh lebih luas.

Perdebatan akademis ini sesungguhnya sedikit banyak pernah jadi problem di KLPI beberapa bulan yang lalu. Bahkan saat itu pembicaraan sedikit menyampir kasus sastrawan Saut Situmorang yang dilaporkan Fatin Hamama akibat pelecehan nama baik.

Namun, saat itu ada dua pandangan umum soal bagaimanakah suatu karya harus dipahami, apakah suatu karya sastra seperti posisi ilmuilmu sosial yang notabene berfungsi sebagai cerminan realitas sosialnya, ataukah sastra memiliki cara yang lain ketika hendak menyuarakan aspirasinya, di mana dalam konteks ini sastra adalah karya yang bisa saja tidak terikat sama sekali dari keadaan sosio-historis masyarakat tertentu.

Pandangan pertama akan menempatkan sastra sebagai bagian ilmuilmu yang rasional dan kaku, sementara kecenderungan kedua akan membuat sastra seperti induknya itu sendiri yakni dia adalah seni atas sesuatu.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...