18 Maret 2016

Hannah Arendt dan Obrolan yang Tersisa

Muhajir mengungkap banyak hal soal pemikiran Hannah Arendt. Pertama, dia bilang, yang subtil dari Hannah Arendt adalah pemikiran politiknya. Pemikiran politik Hannah Arendt dibilang antitesa dari konsep politik kontemporer. Secara tidak langsung itu juga memberikan makna baru tentang politik. Soalnya, bilang Muhajir, politik di mata Arendt adalah "tindakan".

Antitesa politik Hannah Arendt, bilang Muhajir harus dimulai dari bagaimana Arendt melihat manusia. Manusia harus dilihat sebagai "siapa dia", bukan "apa dia". Hajir, begitu sering dipanggil, bilang pembedaan ini penting sebagai jalan masuk dalam memahami konsep politik Arendt.

"Siapa dia" sebagai suatu horison pengertian dengan sendirinya akan memberikan arti kekhasan atas manusia yang memang berbeda. Defenisi macam ini dengan sendirinya menempatkan perbedaan sebagai entitas yang tak tertolak. Manusia bukan "apa dia" yang mengaburkan pengertian manusia sebagai mahluk unik. Universalisme-esensialis yang jadi "common sense" bahwa manusia adalah mahluk rasional, ditolak karena menundukkan manusia sebagai entitas yang seragam.

Politik, daku Hajir harus dimulai dari pandangan atas manusia sebagai "siapa dia", karena hanya itulah jalan memahami politik. Politik, kalau mau dibilang, berarti berusaha memahami manusia yang berlainan, yang berbeda. Politik bukan apaapa selain afirmasi atas keberagaman.

Makanya, atas Arendt, Hajir menyebut dua antinomi; politik dan antipolitik. Upaya distingtif ini, disebut untuk menakar apa itu politik sesungguhnya. Dari titik tolak "perbedaan dan keberagaman" politik diartikan usaha manusia mengelola kehidupannya tanpa sikap diskrimintatif dan intimidatif. Politik sejauh Hajir sebut adalah medan tak ada "perintah dan yang memerintah". Narasinya yang lain, politik merupakan ruang terbuka bagi semua mengajukan kesetaraannya.

Sementara antipolitik ungkap Hajir, Arendt mengajukan dua kecenderungan yang mesti diwaspadai; tirani dan totalitarianisme. Dua wajah kekuasaan ini diwantiwanti Hajir dengan mengajukan ciriciri negara yang represif, monolit, dan menyukai penyeragaman. Sejauh ini, antipolitik dibilangkan sebagai usaha kekuasaan yang menghendaki penyamaan melalui penyeragaman cara pandang juga pemikiran.

***

Tidak banyak yang terlibat. Awalnya hanya lima orang. Bincangbincang, sesuai rencana dimulai pukul empat. Saya tiba sekitar pukul empat lebih. Agak telat. Kedatangan saya bersama Muhajir yang kali ini jadi penyerta. Juga, Pabe, yang ikut dari awal di Bunker.

Tapi, orang paling pertama di lokasi adalah Jusna. Dia sudah memesan kopi dari awal. Barangkali sudah sedari tadi tiba. Dia bilang sekira duapuluh menit lalu sampai. Itu disebut tepat waktu. Disiplin.

Akhirnya kami mengambil lokasi yang pas buat diskusi. Saya memilih di bagian depan warkop; dua meja setinggi lutut. Di situ kami duduk sembari ngobrolngobrol ringan. Tak lama Hajra datang.

Saya agak ragu banyak bakal datang. Langit mendung. Gelap dibubungan jauh. Namun itu bukan soal. Berapapun datang, diskusi harus tetap berlangsung.

Agak lama kami menunggu kedatangan kawankawan lain. Tibatiba Kanda Sulhan Yusuf menelpon. Dia sampaikan kalau tidak bisa datang, dia sedang menulis. Saya maklum. Apalagi, prinsipnya, diskusi ini hanya obrol santai. Bagi saya, jangan sampai merepotkan guru kolektif kami jauhjauh menyetel motornya hanya mau datang mendengar obrolan yang tidak pentingpenting amat. Maqamnya sudah jauh melampaui obrolan kami. Yang kayak begini, wacana yang sudah dilumatnya bepuluh tahun lalu.

Tapi, bagi kami itu sebentuk apresiasi, dukungan. Walaupun tidak bisa datang dia sempatkan menelpon. Yang lain tak ada kabar. Entah kemana.

Di atas, langit belum berubah; hitam. Seperti ada yang menumpahkan tinta hitam di situ. Lama berselang pelanpelan berubah kelabu. Biarpun begitu, tetap saja, kami masih berlima. Akhirnya diskusi dimulai. Saya membuka "forum". Hajir menarik napas, rokoknya dihisap dalamdalam, dia akhirnya berbicara.

***

Ada soal dari Hajrah; apa itu politik dari kaca mata Arendt? Hajir bilang, politik di mata Arendt berkebalikan dengan arti politik konvensional. Politik menurut Arendt, ucap Hajir diinspirasikan dari Polis Yunani Antik. Di situ, ada pemilahan tentang ruang; "yang privat" (oikos) dan "yang publik" (polis). Mengacu Arendt, politik hanya dimungkinkan di ruang publik.


"Yang publik" atau ruang publik, disebutkan mengacu kepada Polis Yunani Antik. Saat itu, di Polis, masyarakat digerakkan atas situasi yang setara. Polis, merupakan medan yang memberikan kebebasan diekspresikan. Akibatnya, tak ada semacam "kekuasaan" yang berhak menguasai perbedaan. Polis adalah ruang bersama. Polis merupakan tempat pemikiran bebas dikampanyekan.

Sedangkan, "yang privat" daku Hajir adalah tempat hirarki bermula. Karena bersifat privat, segala yang ada hanya dimiliki oleh satu orang. Privat dengan arti yang demikian bermakna penguasaan atas seseorang tanpa ada keterlibatan yang lain. Dengan sendirinya, privatisasi akhirnya menolak kolektivisme. Makanya, kata Hajir, privatisasi harus ditolak.

Pemilahan ini digambarkan Arendt sebagaimana yang tampak pada tatanan masyarakat Yunani antik. Oikos merujuk kepada lingkungan sosial rumah tangga yang di dalamnya bekerja atas logika tuan-budak. Manusia di oikos, bergerak atas kesadaran dan perilaku kepentingan pribadi atau keluarga. Sehingga di dalamnya, rumah tangga menjadi medan subordinasi dan eksploitatif terjadi.

Polis, tatanan yang mengharuskan adanya ikatan kerja sama antara sesama warga akhirnya adalah tatanan yang ideal. Asumsi ini didasarkan hanya di Polislah kepentingan bersama diperjuangkan. Di dalam polis, semua orang setara. Di polislah ikatanikatan privat seperti dalam rumah tangga ditanggalkan. Akibatnya, hanya di polis, politik itu dimungkinkan.

Dengan sendirinya, politik artinya ruang publik. Politik berarti terlibat di antara keseragaman. Soal ini, Hajir sebelumnya membagi tiga istilah kunci: kerja (labour), karya (work), dan tindakan (action). Kerja dan karya, di pemikiran Arendt, disebut bukan aktivitas politik. Sebabnya dua hal itu hanya suatu usaha soliter. Kerja maupun karya, hanya menyiratkan suatu sikap menyendiri mirip filsuf. Arendt, menampik sikap moralis dari kerja dan karya yang berdimensi individual. Bagi perempuan kekasih Heidegger ini, politik berarti tindakan.

Tindakan adalah sikap di ruang publik. Lain urusannya kerja dan karya yang ditemui di "ruang privat". Hanya "tindakanlah" perilaku manusia yang disebut politik. Ruang publik, tempattempat umum yang sering kita temui, yang difasilitasi negara, adalah tempat tindakan berlangsung.

Kalau bisa diringkas, politik berarti perilaku manusia menghadapi ruang sosial yang jamak. Perilaku, dalam cakrawala berpikir Arendt adalah tindakan yang mengandaikan kehadiran "yang lain", suatu sikap terbuka yang bebas dari penjarapenjara totalitarianisme dan tiaranis. Politik, sebut Arendt, adalah kebebasan itu sendiri.

***

Magrib datang dengan mendung yang masih bergerak lelet. Udara berubah dingin bersamaan tiangtiang lampu jalan menyala terang, kekuningan. Lenggang jalan berubah ramai. Kudakuda besi membelah puluhan sesak mobil. Suarasuara klakson memekik satu dua kali. Sekali menyapu udara, suara azan mendayudayu. Orangorang, hirau tak hirau, tak urus surau masjid penuh. Dan, kenyataannya memang begitu. Mesjid mungkin terisi setengah, dan negara, atau apalah namanya, punya banya soal.

Barangkali, di situlah medan pikiran Hannah Arendt seharusnya dibentang. Negara, institusi yang banyak masalah itu harus diteropong dengan mata kecut seorang Arendt. Dari mata perempuan pemikir politik abada 20 ini, kita bisa tahu, negara memang banyak soal.

Belakangan, atau juga separuh umur bangsa ini penuh dengan sejarah penyingkiran. Kiwari, itu banyak terjadi. Politik malah diselenggarakan sebagai "institusi privat". Akibatnya, negara menjadi wadah diskriminatif. Selain kasuskasus kebebasan beragama, penyingkiran kaum papa akibat perampasan tanah, barubaru ini pelarangan berupa festival dan pemutaran film menyeruak di lini masa dunia maya. Tanpa melupakan kasuskasus yang tidak disebutkan, negara dalam hal ini persis seperti yang dibilang Arendt; tiranis dan totaliter.

Horison pemikiran politik yang diajukan Arendt setidaknya suatu alternatif buat bangsa yang banyak "membunuh" aktivisme warganya yang membutuhkan ruang untuk bertindak. Indonesia masa kini adalah negara dengan penyelenggaraan politik yang masih bergerak atas sentimensentimen agama atau kepentingan ekonomi. Di situ, selama politik diartikan sebagai laku saling jegal dan penyingkiran kelompok, maka Indonesia dengan sendirinya mematikan "denyut" perkembangannya sendiri.

Saya kira, di suasana itulah pemikiran politik Hannah Arendt menemukan konteksnya. Di saat itulah kita butuh yang otentik, suatu politik yang lebih manusiawi.


14 Maret 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 8

Pada akhirnya, hanya dua hal; disiplin dan sikap gigih. Biar bagaimanapun jadi penulis harus disiplin. Ini berarti di situ perlu pola, suatu rencana. Agak susah mau sebut disiplin, kalau di situ tidak ada suatu rencana. Penulis, saya kira orang yang punya agenda; dia menghitung, merancang, menetapkan. Dia mengklasifikasi bacaannya. Menulis catatannya. Dan, menyusun tulisannya.

Sikap gigih, saya kira suatu cara untuk maju. Gigih berarti tak mudah menyerah. Gigih artinya ulet, tekun. Di situ artinya ada tujuan yang mau dituju. Suatu jalan yang sudah dirancang. Jalur yang sudah ditetapkan. Sikap gigihlah yang mendorong terus maju, sesuai rencananya.

Barangkali itu yang penting di pertemuan delapan, kelas menulis PI. Banyak tulisan digeledah. Banyak tulisan punya dosa. Tidak sedikit tulisan punya kasus purba; kesalahan EYD. Ini fatal. Apa kata, sudah lacur terjadi.

Yang soal sekarang adalah isi. Ada harapan kalau setiap tulisan punya bobot. Ini standar baru agar tulisan jauh lebih maju. Kelas sepakat, isi sudah harus lebih tajam, lebih peka. Jadi, barangsiapa menulis sudah bisa punya nilai jual. Ini bukan apaapa, ini indikator kemajuan.

Sebenarnya dari kelas ini dimulai, gaya dan konten sudah jadi prioritas. Isi dan bentuk dua hal yang jadi sorotan. Isi, dinilai baik kalau dia punya perspektif. Atau, bahkan dia punya sudut pandang yang tak diperhitungkan banyak orang. Juga, akan baik kalau isi memuat suatu soal yang baru.

Gaya, saya kira berarti bagaimana bentukbentuk kalimat dibuat. Gaya, punya hubungan dengan struktur jabaran kalimat. Banyak teknik menjabarkan suatu kalimat. Ini hanya soal suatu kalimat mengambil bentuk tertentu. Yang soal, seberapa jauh suatu gaya bisa dibuat menarik. Suatu daya ungkap yang rethoris.

Tapi, perlu hatihati, baik gaya ataupun isi, sebagaimana bentuk dan konten, juga perlu dibuat seimbang. Isi, tak mungkin sampai ditangkap pembaca kalau gaya ungkapnya cacat secara penuturan. Begitu juga sebaliknya, gaya hanyalah kemasan belaka kalau dibalik itu tak ada isi yang mau disampaikan. Dua hal ini, perlu diperhatikan, perlu diseimbangkan.

***

Kelas pekan ini juga molor. Hampir satu jam lebih. Agaknya ini perkara mental. Kurang disiplin.

Harusnya suatu pola sudah jadi mekanisme paten. Sejak dulu, target pertama adalah membangun polah disiplin. Dua hal; disiplin atas waktu, dan disiplin atas jadwal. Yang terakhir saya kira tidak rumit. Ingatan kolektif sudah mapan, kalau tiap akhir pekan kelas menulis digelar. Cuman, soal waktu kelas dimulai memang ada perubahan. Sudah dua minggu kelas dibuka pukul satu siang.

Selang berapa lama kelas dibuka. Saya bilang ada kawankawan tak sempat datang. Beberapa nama saya sebut. Juga alasannya. Walaupun ini bukan kelas formal institusional, perlu untuk disampaikan. Kawankawan yang datang punya hak informasi. Makanya perlu dibilang dari awal.

Awalnya tujuh orang. Kawankawan sudah paham, soal prinsip kelas. Terutama keberlangsungan kelas tanpa bertumpu kepada peserta. Kebutuhan kelas bukan pada banyak atau sedikit yang datang. Justru, sebaliknya, kawankawan yang membutuhkan program harus berjalan. Kelas punya aturan main programatik, bukan pesertasentris.

Makanya, seandainya cuman satu dua orang datang, program tetap jalan. Mekanisme ini sudah otomatis. Jadi, seperti sudah saya bilang, kepemimpinan bisa disematkan bukan pada persona belaka, tapi juga sistem. Ini rumus patennya.

Tak lama berselang satu persatu mulai berdatangan. Kelas tetap berjalan. Waktu pasti berputar.

Kelas, seperti sudahsudah, selalu menjalankan dua mekanisme; sesi naratif, dan sesi kritik. Yang pertama soal membangun cerita atas tulisan, mulai dari proses kreatif sampai kontennya, juga dari motif hingga sikap solutifnya. Yang kedua, sesi kritik. Kelas punya istilah sendiri soal ini; sesi penghakiman. Istilah ini bertolak dari "setiap karya punya dosa". Jadi, tak ada tulisan yang bersih, semua punya cacat.

Soal cacat, kelas kali ini sempat menyoal ihwal kritik macam apa yang harus diajukan kepada karya tulis. Ada dua pandangan berkembang, yang pertama mau menyoal kedalaman gagasan dengan melihat seberapa dalamkah suatu tema diturunkan penulis di balik struktur teks. Yang kedua, mau melihat seberapa jauh suatu tema gagasan menemukan kelogisannya di dalam struktur kalimat.

Yang pertama pandangan yang diajukan Asran Salam, bahwa seorang penulis harus bertanggung jawab atas ideidenya. Setiap gagasan kalau bisa adalah ide yang sudah matang diungkap lewat karya tulis. Akan problematik kalau menulis atas ide yang masih prematur. Ini soal serius. Tulisan dengan cara begitu akan banyak cacat. Model kayak begitu rentan dengan celah kritis.

Konsekuensi atas cara ini mengharuskan suatu penyelidikan atas maksudmaksud yang ditulis penulis. Bahkan, di tingkatan tertentu akan masuk sampai menyoal sikap ideologis penulis. Pertanyaannya, apakah sikap ideologis penulis sudah selalu ikut dalam pilihan kalimat yang ditulisnya, atau malah sebaliknya? Artinya, keberpihakan penulis di kasus ini bisa mendua, dia bisa bersikap ideologis dalam menulis, atau malah persis seperti seorang ilmuwan, mengedepankan sikap yang netral.

Perspektif ini akan dirasa perlu waktu panjang kalau diajukan sebagai pola paten sebagai mekanisme kritik, sementara waktu dirasa kurang memadai dengan jumlah tulisan yang menumpuk. Alternatifnya, kritik diajukan kepada cara kedua, yakni melihat seberapa logis makna literer dibentuk dalam suatu struktur kalimat. Pola ini juga punya konsekuensi, terutama jika dilihat dari kehadiran penulis sebagai aktor utama di balik karya tulisnya.

Prinsip kedua bertolak dari semacam asumsi bahwa dunia teks juga punya makna mandiri yang terlepas dari dunia pengarang. Artinya, makna teks bisa ditemukan tanpa kehadiran pengarang. Bagaimana teks bisa berarti tergantung dari sistem penandaan yang ada di dalam teks itu sendiri. Maksudnya, ketika suatu struktur pikiran diturunkan di dalam suatu struktur teks, maka di situ sudah ada dua yang bisa berbeda. Yang pertama adalah "yang mau dituliskan", dan yang kedua adalah "yang sudah dituliskan". Konsekuensinya, masingmasing dari itu akhirnya punya dua struktur kelogisan yang berbeda. Masalahnya, kepada yang mana kritik harus ditujukan? Kepada yang pertamakah atau yang kedua? Yang pertama akan masuk kepada soalsaoal dunia pengarang, sementara yang kedua memilih menyoal perkaraperkara yang ada di dunia teks.

Perspektif kedua diajukan oleh saya sendiri dengan menimbang dua hal; pengalaman dan waktu. Pengalaman selama ini ada beberapa tulisan yang akhirnya tidak sempat dibahas lantaran kritik yang lama. Sementara pengajuan model kritik pertama dirasa akan memakan waktu yang panjang. Makanya, bukan berarti pola kritik pertama tidak afdol, pengajuan saya ditujukan dengan melihat situasi kelas yang tidak mendukung. Akibatnya, kritik yang diajukan hanya ditujukan kepada dunia teks, bukan kepada dunia pengarang. Dengan memakai mekanisme ini, pola kedua berusaha melihat sejauh apa struktur logis itu dibangun melalui kalimat perkalimat, paragraf perparagraf. Artinya, kritik belum sampai mau menyoal bagaimana ide dipersepsi sang penulis, malah untuk sementara bagaimana mau melihat ide itu sendiri dipersepsi dari tulisan itu sendiri.

***

Selebaran Kala sudah berjalan dua bulan. Tanpa putus terbit tiap kelas dibuka. Distribusinya selama ini diampu kawankawan sendiri. Artinya, kalau ada Kala beredar di luar itu bisa jadi karena kawankawan yang jadi agennya. Prinsipnya, di tangan kawankawan Kala berlipat ganda. Menyebar.

Genap di bulan ketiga kelak, Kala punya kolom khusus. "Unjuk Rasa", nama yang dipilih untuk sekotak kolom belakang. Dulu, kolom itu diisi redaksi. Asbabnya hanya mau mengisi kekosongan yang tak cukup terisi tulisan. Sekarang, itu "milik" Sulhan Yusuf, beliau nanti bebas mau mengisinya dengan berbagai macam hal. Intinya, kolom ini ditakdirkan hanya memuat 400-500 kata. Tantangannya, dengan konsep yang minimalis, dengan tidak lebih 500 kata, pengampunya dituntut menulis apa saja, segala soal. Ini ibarat perjumpaan "dunia pemikiran yang bebas" dengan "medan teks yang terbatas". Di antara batas dua dunia itulah nanti Sulhan Yusuf akan menuliskan pikiranpikirannya.

Dengan ijin yang Maha Kuasa, Kala sudah bisa mencantumkan kolom itu diterbitan pekan depan. Kita tunggu saja, terbitan di awal bulan ketiga.

***

Maret jadi penanda kelas menulis PI angkatan dua sudah masuk bulan kedua. Banyak yang datang, tidak sedikit juga akhirnya harus pergi. Agaknya, kelas menulis sudah akrab dengan pola macam itu. Kalau mau mengingat pekan perdana angkatan kedua, kelas jadi ramai, padat. Banyak mukamuka baru. Asing akhirnya kemudian saling kenal. Itu suatu kemajuan dibanding angkatan pertama. Namun, hukum alam bekerja, siapa bisa adaptatif dia yang bertahan.

Kelas, sampai pertemuan kedelapan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau datang berbagi pengalaman seputar dunia literasi. Tak ada penolakan kepada siapa pun yang mau terlibat, selagi mau dan berminat, itu sudah jadi modal bergabung di kelas menulis PI. Cukup datang membawa karya tulis, dan niat mau belajar. Selebihnya, biar Tuhan yang mengatur, orangorang yang konsisten pasti menuai apa yang ia sudah tanam.

Syahdan, ini bukan sekedar komunitas, ini gerakan. Yang namanya gerakan butuh keberlangsungan terus menerus. Butuh kontinyuitas. Yang namanya gerakan harus punya niat yang besar, dan juga napas yang panjang. Kuncinya pada akhirnya hanya dua soal; disiplin dan sikap gigih.


12 Maret 2016

Pojok Bunker

Dua gambar di bawah menunjuk dua hal; harapan dan kenyataan. Di sebelah kiri harapan, yang lainnya kenyataan.

Begitulah, dua hari belakangan penghuni bunker sibuk. Semua berjibaku, bekerja. Hari pertama, semaksemak dibabat. Rerumputan liar dipotong. Juga,tanaman liar lainnya dicabut. Digerakkan harapan.

Hari kedua, sisa sepojok halaman belakang. Sore kemarin ramairamai kerja bakti. Mengaduk, mengangkat, membuang sampah. Hampir dua jam sampah tak habishabis. Keringat cucur. Sore jelang. Lama kemudian sampah pupus. Digerakkan kenyataan.

Begitulah, dua frame antara harapan dan kenyataan berkelindaan di benak. Bergerak dan berubah jadi otot yang tegang. Juga, tubuh yang basah. Akhirnya, yang tersisa tinggal halaman tak terpakai, ruang sekira 3×5 meter, dinding bata kecoklatan, dan ide yang harus bekerja.

Dulu tempat ini nyaris tak terurus. Dibiarkan begitu saja. Tak berguna. Jika dimanfaatkan, faedahnya hanya satu: tempat sampah. Bertahuntahun itu terjadi. Segala musim datang, juga tikus, juga berbagai serangga liar.

Lama tempat ini ditinggal berbarengan tumbuhnya tanaman entah. Hari ke hari merambati tembok yang dibiarkan berdiri tanpa atap. Menjalar sanasini dengan serabut akar halus menembusi celahcelah tembok. Di situ, juga tumbuh lelumutan, hijau. Sampah, yang ditinggal pergi, jadi lahan subur kembang biak cacing.

Tapi, tempat ini sempat punya fungsi lain. Akibat tak ada atap bergantung, di bawahnya jadi tempat jemuran. Di sini sinar matahari mulus turun. Tak ada penghalang sekalipun. Angin, yang kerap menyisir atapatap dengan bunyinya, juga bebas keluar masuk. Jemuran, apapun itu, tak bakal lama tetiba kering segera.

Pernah juga, dibuat semacam balebale di situ. Sekira dua tahun kemarin. Rencananya jadi tempat alternatif akibat hawa panas bunker. Jadi tempat diskusi.

Saya tak tahu siapa pernah berjibaku membangunnya. Saat itu, saya sempat lama meninggalkan bunker. Ketika datang, sudah berdiri empat tiang beratap spanduk bekas.

Jadi, struktur tiang dibuat dari kayu balok. Lantainya juga kayu yang disusun. Kemudian dua tiang lain disandarkan di atas bubungan atap. Di atasnya, dihampar spanduk bekas. Yang terakhir mudah didapat, tapi balok tiang berkualitas bagus itu saya tak tahu siapa membawanya.

Cuman, kebiasaan berkumpul di bawahnya tak sempat lama. Biasanya di situ ditempati ngopi, berdiskusi, sesekali ketawaketiwi. Balebale berbentuk kotak itu bisa muat empat sampai lima orang. Lamalama, satusatu pergi. Balebale akhirnya ditinggalkan.

Kejadian itu bersamaan musim penghujan. Kala air deras menyapu, tak ada mau duduk di bawahnya. Karpet yang jadi pengalas ikut basah. Orang akhirnya ogah mau berdiskusi di situ. Basah. Becek.

Bila malam jelang, tempat ini beralih jadi lahan parkir. Akibat tempatnya tertutup, motormotor aman ditaruh di situ. Jika dihitung, tempat ini muat menampung sampai sepuluh motor. Itu jika diparkir kayak model rapat pusatpusat belanjaan.

Sekarang tempat ini kosong menganga. Kalau mau dibilang agak lumayan bersih. Rambatan tetumbuhan di temboktembok juga sudah tercabut. Satusatunya yang masih tertinggal di sana hanyalah ide yang mau dibuat jadi kenyataan.


09 Maret 2016

internasional women's day

Bukan siapasiapa selain perempuan, hanya perempuan, yang bisa bikin maju kaumnya. Kiwari, perempuan harus maju di depan dengan sikap percaya diri, dengan keberaniannya. Perempuan bisa jadi apa saja; guru, direktur perusahaan, pebalap, ilmuwan, supir angkutan, penyair dsb.

Sejarah sudah banyak sebut contoh soal perempuanperempuan hebat. Mulai dari ujung Sumatera hingga ujung timur Indonesia. Dari masa lalu sampai hari ini. Di situ banyak sosok, juga pokok.

Perempuanperempuan yang berjuang di masa lalu bukan saja bergerak atas nama kaumnya, tapi karena rasa keadilan. Mereka punya kesadaran bahwa semua punya hak diperlakukan sama. Perempuan, sama halnya lakilaki adalah bagian dari umat yang sama, karena itu tidak bisa dibedakabedakan.

Makanya pokok itu yang penting, bahwa perempuan juga sama dengan lakilaki. Tidak ada perbedaan mencolok antara perempuan dengan lakilaki selain struktur anatomisnya. Perempuan dan lakilaki hanya beda biologis, selebihnya sama saja.

Yang malang, kadang masih banyak orangorang menempatkan perempuan sebagai kaum nomor dua. Mendeskripsikan perempuan sebagai manusia yang tidak sempurna, yang semuanya berasal dari perbedaan biologis. Akibatnya, di dalam tatanan sosial, perempuan jadi bulanbulanan objek penindasan.

07 Maret 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 7

Pekan ke tujuh, kelas menulis PI agak molor. Hampir dua jam. Kesepakatannya, kelas harus dibuka pukul satu siang. Minggu lalu masih menumpuk beberapa tulisan, makanya perlu tambah waktu. Tapi, kelas dimulai sekira pukul tiga. Kawankawan satu persatu datang. Kelas mulai ramai.

Yang buka kelas Heri. Saya, yang diplot jadi ketua kelas memilih bagi tugas. Kebiasaan ini agaknya perlu, sembari mengedukasi kawankawan, bahwa kepemimpinan tidak mesti diampu sendiri. Saya kira kepemimpinan harus jadi kolektif. Maksudnya: agar tidak dominan.

Soal kepemimpinan, agaknya mesti diujicobakan, terutama sifatnya yang kolektif. Kelas menulis PI sebenarnya sudah digerakkan sistem. Persona, yang sering jadi motor bukan rumus paten. Di kelas menulis, fungsi diutamakan tinimbang sosok. Fungsi adalah pokok.

Itulah kenapa, kepemimpinan harus dipengalamanbersamakan. Kawankawan bisa silih berganti, jadi ketua, sebagai fungsi. Artinya, kelas tetap berjalan tanpa digerakkan status, tapi peran yang bisa disematkan kepada siapa saja.

Sudah jadi tradisi, kritik karya tulis jadi prioritas. Empat belas naskah digeledah, sekalikali didedah. Awalnya, kawankawan sudah mendedah karya tulisnya, macammacam. Tapi, hanya ada dua genre; esai dan cerpen. Tajuknya yang purnaragam, soal tulisan yang menyitir falsafah dasar manusia, sampai Nietzsche, filsuf yang menganggap dirinya dinamit itu. Puisi, yang kerap jadi bahan omongan, kali ini absen.

Yang pokok dari pekan ini nampaknya karya tulis Sulhan Yusuf. Sudah ghirahnya barangkali, pendiri PI ini menulis esai. Ini bukan pengecualian bahwa puisi juga jadi pilihan literasinya. Cuman, esainya kali ini digadang punya bentuk baru. Bilangnya, setiap paragrafnya bisa mandiri bila berdiri sendiri.

Ini mirip, sebut saja air. Rumus kimiawinya, air dibentuk hidrogen dan oksigen yang masingmasing bisa lepas dan berdiri sendiri. Namun, kesemuanya jadi unsur baru tanpa meleburkan masingmasing identitas. Hidrogen tetaplah hidrogen, dan oksigen hanyalah oksigen walaupun bersatu dalam air. Masingmasing otonom.

Tulisan Sulhan Yusuf, diberi judul "Pendidikan Literasi dan Politik." Kalau tidak salah disusun oleh duabelas paragraf. Kalau dibilang setiap paragraf bisa mandiri, artinya bila dicomot satu paragraf tidak mengubah inti gagasan secara keseluruhan. Begitu juga lain sisi, paragraf yang sudah dicomot, jadi gagasan baru yang bisa dikembangkan. Kirakira begitu yang diajukan saat Sulhan mendedah karya tulisnya.

Saya kira, ini soal baru. Pasalnya, kalau dilihatlihat, struktur paragraf tulisan kawankawan pakai pola linear. Model ini gaya konvensional, yakni setiap paragraf dibiarkan bergerak berdasarkan kaidahkaidah garis lurus. Skemanya seperti linearitas bilangan asli; 1-10. Akibatnya, jika angka 2 atau 7 dicopot, maka runutannya akan berhamburan. Pikiran akan merasai agaknya ada yang tidak inklud dalam hitungan.

Dari obrolan pasca kelas, diketahui kalau macam tulisan Sulhan Yusuf, bukannya tanpa pola, justru seperti yang disebutnya memakai pola zigzag. Pola ini nampak jelas kalau hubungannya dilihat dari skema paragraf satu dengan paragraf tiga, paragraf dua dengan empat, lima dengan tujuh, enam dengan delapan, sembilan berpasangan dengan paragraf sebelas, begitu seterusnya.

Tidak semua tulisan habis digeledah. Soalnya waktu dirasa minim. Akibatnya, simpulannya dibuat mapat jadi dua garis besar; EYD, dan konten tulisan. Dua hal ini memang setua kehadiran karya tulis. Kalau mau ditarik ke belakang, ke masa filsuffilsuf, soal gaya dan isi sudah problematik. Makanya, saya kira ini juga jadi perkara laten di kelas menulis PI. Memang sudah dari sononya perkara ini dimulai. Jadi, agaknya perlu sikap sabar. Soal EYD dan konten hanya soal waktu belaka. Lamalama akan punah sendirinya.

Cuman ada wantiwanti, kalau EYD bukan lagi harus jadi kasus primer. Ini perkara elementer, artinya kawankawan harus punya sikap serius berbenah diri. Kawankawan harus disiplin mengajukan kritik internal kalau tulisan yang dilahirkan sudah layak baca. Salah satu ukuran layak baca, tidak ada lagi dosa purba EYD. Bersih.

Jelang magrib, sisa waktu, dipakai obrolobrol lepas, tapi jelas. Pertama, lagilagi soal kasus Saut Situmorang. Tak jelas siapa yang mulai, tibatiba saja sudah diomongkan. Agaknya, beberapa kawankawan belum tahu soal ini, makanya ada sedikit ulasan kalau kasus ini sedang masa persidangan dengan Saut tersangkanya. Juga sempat diungkap ulang kronologis polemik yang disulut buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh." Dua, bahkan tiga nama disebut; Denny J.A, Fatin Hammama, dan Saut sendiri, yang sedang bersengketa hukum.

Tapi, setidaknya ada dua poin genting buat kawankawan. Pertama, menjadi sastrawan, atau profesi apapun butuh proses panjang. Tidak ada usaha karbitan menjadi profesi yang dimaui. Segala butuh disiplin dan ketekunan. Di balik, misalnya, Pramoedya Ananta Toer, ada beriburibu peristiwa untuk disebut sastrawan besar. Di setiap profesi, selalu mengandung pertaruhan waktu. Barangsiapa gigih, dia tuai hasil.

Kedua, puisi esai yang lekat dengan jenis baru Denny J.A. Ini perkara baik untuk bisa masuk di wacana yang lebih luas. Maksudnya, lewat model yang diperkenalkan Denny J.A, puisi esai, kawankawan bisa sekaligus mengumbar macammacam jenis atau bentuk puisi. Atau, bahkan mempersoalkan apakah yang ditulis Denny J.A merupakan puisi? Kalau iya, adakah model semacam itu sebelumnya? Kalau tidak, kenapa disebut puisi esai? Apa itu puisi esai? Dsb.

Obrolan juga sempat singgung politik sastra. Ini agak peka, perkara bawabawa mazhab sastra. Di kelas menulis, soal ini kurang dapat perhatian. Ini hanya perbincangan orangorang tertentu. Kelas menulis prinsipnya tak hirau soalsoal macam itu. Toh kalau ada, lagilagi itu hanya melibatkan segelintir orangorang. Kelas menulis terbuka segala macam mazhab kesusastraan, mulai dari realisme sampai lirisme. Dari humanisme universal hingga sastra sebagai panglima.

Pasca makan malam bersama, kelas menulis PI lakukan evaluasi. Yang utama ihwal keseriusan membangun tradisi membaca dan menulis. Juga, bagaimana kawankawan banyak membaca karangan penulis ternama, tujuannya agar bisa membangun sudut pandang. Begitu juga cerpen, bagi yang senang menulisnya bisa bereksperimen seperti apa konflik menjadi unsur utama cerita. Bagaimana menciptakan karakter, membangun plot, dan menutup cerita dengan ending memesona.

Kala juga jadi sorotan, terutama soal jumlah tulisan yang mau dimuat . Selebaran ini, sekali terbit sampai edisi ke tujuh hanya menurunkan dua tulisan. Jika dua tulisan menyisakan kolom kosong di halaman terakhir, redaksilah yang mengisi. Keadaan ini sudah tiga pekan terjadi, yang artinya tugas redaksi harus mengisinya. Ini akibat minimnya tulisan yang masuk ke meja redaksi. Walaupun tulisan selalu diambil dari karya kawankawan, tetap saja minim. Makanya, mulai pekan depan sudah ada mekanisme menentukan tulisan siapa layak muat. Ini sekaligus menjadi ajang saing, internal kelas menulis tentunya.

Yang baru dari Kala, mulai terbitan minggu depan, kolom yang sering diisi redaksi akibat ruang kosong akan diampu langsung Sulhan Yusuf. Halaman terakhir ini mirip Catatan Pinggir Tempo yang ditulis Goenawan Mohammad, atau Catatan Dahlan Iskan di kolom koran besutan Jawa Pos. Artinya, pria berkepala plontos ini harus menulis sekira 500 kata tiap akhir pekan di kolom yang direncanakan mengambil nama "Unjuk Rasa."

Akhir kelas, kawankawan menaruh perhatian soal swasembada di sektor ekonomi. Keputusan menerapakan iuran dirasa perlu akibat kebutuhan kelas. Kebijakan ini sekaligus jadi indikator seberapa jauh perhatian kawankawan terhadap keberlangsungan kelas menulis PI. Alokasinya bisa banyak hal, mulai air minum, langganan koran, sampai ongkos produksi selebaran Kala. Selebihnya barangkali hanya buat kebutuhan teknis.

Yang terakhir, ada kesadaran membuat website. Pilihan ini masih mau dibicarakan kembali, berhubung Icha punya pengalaman membuat website. Soal kelanjutannya, agaknya jadi tanggung jawab Icha, kawan yang sudah dua pekan terlibat kelas menulis PI. Kalau diamanahkan dia siap. Kelas sepakat.

Awal maret, seorang kawan merasai tulisan pertamanya terbit. Saya kira, bagi penulis manapun, tulisan pertama tembus surat kabar punya kesan yang sulit dilukis. Tapi, kalau ibarat warna, hati Ishak Boufakar sudah berubah jadi warna lapislapis pelangi yang tetiba tumpah, meleleh dan saling menindih. Teradukaduk. Bercampur. Warnawarni.

Syahdan, ini awal Maret yang panas. Seperti akhir Februari yang basah, awal Maret jadi deret pekan yang menyulut asa. Tidak boleh seret, besok, di pekan yang lain, kertas masih banyak kosong. Tulislah, semampunya saja.


06 Maret 2016

Bertanya itu Bukan Tabu


Henry A. Giroux 
Kritikus budaya dan Amerika . Salah satu teoritikus pendiri pedagogi kritis di Amerika Serikat 
Giroux terkenal karena karya perintisnya dalam pedagogi publik, studi budaya, studi pemuda, pendidikan tinggi, studi media  dan teori kritis. 
Pada 2002 Routledge menyebut Giroux sebagai salah satu dari lima puluh pemikir pendidikan terkemuka di zaman modern.

BUKU filsafat tertua di dunia berupa dialog. Buku karangan Platon, misalnya. Politeia/The Republic, buku yang mengulas filsafat politik, menggunakan dialog sebagai strategi literernya.

Sesungguhnya di dalam dialog ada dua elemen penting yang dikandung: pertanyaan dan jawaban.  Dua elemen ini bukan sekedar metode, melainkan esensi filsafat itu sendiri.

Melalui dua hal itu ilmu pengetahuan berkembang. Bahkan pertanyaan jauh lebih penting dari jawaban. Akhirnya dengan pertanyaan, sejarah maju meninggalkan kabut kejumudan.

Karib filsuf Levinas, Jacques Rolland, menyatakan, bertanya adalah suatu proses berpikir. Ketika seseorang bertanya, maka di situ ada proses berpikir. Di peristiwa itu, ada soalsoal yang bakal dipecahkan. Ada pemahamanpemahaman yang digugat. Dan, kemudian akal bekerja.

Zaman berkembang, dan malang dunia hari ini adalah masa yang banyak menyingkirkan pertanyaan. Orangorang berbondong duduk di hadapan guru untuk menemukan jawaban. Anakanak muda sulit lepas dari gawainya berselancar dengan sekali klik. Bila di layar kaca, ketika sebuah forum pendidikan ada pertanyaan, maka sesungguhnya pertanyaan itu juga sudah dipesan sebelumnya.

Jamaknya fenomena itu bukanlah simptom alami. Tradisi menelan jawaban adalah gejala yang sudah lama dialami dari model belajar selama ini. Bahkan, ilmu di dalam tradisi pendidikan kita selalu diandaikan sebagai paket yang sudah fix. Ilmu bukan terdiri dari pernyataanpernyataan terbuka yang patut digubris dengan deretan pertanyaanpertanyaan kritis. Perlakuan ilmu yang demikian, sama halnya dengan iman yang harus diterima dalam doktrin agamaagama.

Kebudayaan menelan jawaban paralel dengan merebaknya budaya bisu. Kritisisme justru dianggap anomali. Apalagi bangsa ini secara kultural masih terus dibayangbayangi oleh suatu paradigma yang sudah dibangun di dalam rezim yang hegemonik. Selama tiga dekade, di dalam rezim yang hegemonik itu, imajinasi dan kreativitas berpikir adakalanya bisa diartikan sebagai modus untuk membangkang.

Di mata pendidik a la rezim hegemonik, orangorang semacam itu akan dianggap sebagai anak yang tidak patuh. Ini persis seperti desain peristiwa penciptaan Adam. Di sana, ada sang penanya yang menggugat. Sang Iblis dengan rasa ingin tahunya memiliki hasrat menguak tujuan penciptaan Adam. Pasca kejadian itu Iblis di anggap menyimpang, dan akhirnya disingkirkan.

Malangnya, proses edukasi selalu mengambil inspirasi dari peristiwaperistiwa agama semacam itu. Agama memang baik, tapi nampaknya ilmu selalu disinonimkan sebagaimana doktrin dalam agama. Ilmu selalu dibangun atas dasar relasi struktural yang hirarkis. Dan ketika suatu hirarki terbangun, maka sesungguhnya di situ telah berlaku kekuasaan.

Relasi struktural semacam itu dinyatakan Henry A. Giroux sebagai derivasi persepsi tradisional konservatif  yang memandang tatanan hirarki adalah suatu yang tebangun alamiah. Giroux mempercakapkan relasi itu digunakan dalam struktur pengetahuan antara pendidik dan peserta didik. Pendidik sebagai posisi pada lapisan atas, sementara peserta didik harus rela dilapis bawah. Di dua lapis itulah pengetahuan diturunkan tanpa terbangun momentum dialog, sehingga pengetahuan diselenggarakan tanpa melalui momenmomen kritis.

Henry A. Giroux adalah pemikir pendidikan kritis yang mengandaikan bahwa penyelenggaraan pendidikan sudah diberlangsungkan dengan logika pasar. Kapitalisme tidak saja bergerak melalui matra ekonomi, melainkan menyusup melalui pendidikan dengan mengubah polapola kebudayaan di dalamnya. Atas dasar hukum efisiensi, pendidikan hanya ditimbang berdasarkan kekuatan modal . Giroux mendaku pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan hukumhukum pasar, akan mereduksi hakikat pendidikan itu sendiri.

Hilangnya kemampuan bertanya akhirnya hanya merepetisi/mengulang pengetahuan yang ditransformasikan. Ini artinya pengetahuan hanya akan menjadi pernyataanpernyataan anti perubahan. Malah pengetahuan yang tidak disertai pertanyaanpertanyaan kritis justru akan melegitimasi status quo. Maka jangan heran untuk mengucapkan kemajuan dalam pengajuanpengajuan pembangunan kebudayaan, orangorang susah melek karena tidak diawali dengan tindak kritisisme pertanyaan.

Sikap kritis untuk bertanya didaku Bambang Sugiharto sudah dimiliki semenjak kanakkanak. Namun, guru besar ilmu filsafat di Universitas Parahyangan Bandung itu bilang, ketika anakanak sudah mulai masuk ke dalam institusi pendidikan, rasa ingin tahu sang anak justru menjadi tumpul oleh sistem pendidikan yang tidak humanis. Pendidikan yang tidak humanis disebutnya adalah model pendidikan yang membunuh rasa ingin tahu menjadi manutmanut.

Malu bertanya sesat di jalan, begitu pepatah sering diucapkan. Sebenarnya frasa itu mau menerangkan bahwa keberanian adalah kualitas jiwa untuk bertanya. Barangsiapa tidak berani bertanya, tunggu saja akan menemukan jalan buntu. Di situ betapa pentingnya keberanian sebagai elemen dasar dari ilmu pengetahuan. Keberanian bertanya berarti ada keinginan mencari tahu lebih jauh sebagai fitrah dasar manusia.

Hilangnya budaya tanya anehnya berbarengan dengan betapa massifnya perkembangan informasi. Bahkan hampir di setiap saat, secara otomotatis mesin telepon pintar dipenuhi notifikasi tentang informasi yang terus berkembang. Bisa dibilang hampir semua informasi berada dalam satu genggaman. Tapi itu semua justru tidak mengikutkan suatu kultur bertanya untuk mempertanyakan kebenaran dari suatu informasi secara kritis.

Hasrat untuk mencari kebenaran tidak saja perlu bagi filsafat seperti yang dinyatakan Alain Badiou, filsuf kontemporer Perancis. Tapi itu penting bagi kita yang dikepung berjuta informasi. Betapa banyaknya informasi datang tanpa refleksi. Dan betapa sedikitnya informasi yang kita terima menjadi pengetahuan. Sebab tanpa budaya tanya, informasi yang dicerap hanya berupa pernyataanpernyataan tidak berbobot. Sampai di sini, apapun informasi yang datang pada Anda, sempatkanlah untuk bertanya. Sesungguhnya bertanya itu bukan tabu.

05 Maret 2016

Tere Liye dan Kesadaran Sejarah

Mendadak novelis kondang, Tere Liye, jadi sorotan. Statusnya di lini masa FB biangnya. Status yang tidak lebih dari tiga paragraf itu dianggap buta sejarah. Pasalnya dia menamsil, selain pejuang agamawan, tidak ada pejuang semisal pemikir komunis, sosialis, HAM, maupun liberal yang pernah berjibaku membela tanah pertiwi. “Coba cari,” kalau ada katanya.

Selanjutnya, Tere Liye bilang, jangan mau terpesona dengan pemikiran dari luar, seakanakan tak ada sejarah dan kearifan dalam negeri yang bisa diambil hikmahnya.

Sikap Tere Liye ini bisa disebut sebagai orang yang naif melihat sejarah Indonesia. Kalau mau jujur, banyak namanama pejuang pra dan pasca kemerdekaan yang berhaluan sosialis atau bahkan komunis. Di mulai dari Syarikat Islam, Partai Komunis Indonesia, sampai Founding Father, contoh yang paling terang.

Yang paling lucu adalah kalau dibilang tak ada “kearifan dalam” yang bisa digali untuk dijadikan pelajaran. Di sini, agaknya Tere Liye terjebak dengan cara pikir dualisme antara “dalam” dan “luar.” Kebudayaan Indonesia, dalam analisis tertentu malah bilang kalau Indonesia adalah “inkubator” yang berisi beragam persentuhan pemikiran dan kebudayaan.  Hasilnya adalah sintesa baru dalam perwujudan yang membentuk ciri khas tertentu. Artinya, Indonesia adalah tempat “yang dalam” dan “yang luar” bertemu  dan saling melengkapi. Jadi, bicara yang khas dari Indonesia, ruparupanya hanyalah hasil perpaduan antara kebudayaan “luar” dan “dalam”.

Tere Liye,  saya kira adalah prototype anak negeri yang ditilap politisasi kesadaran sejarah. Pengalaman sejarah Indonesia, sampai detik ini adalah sejarah dominan. Yakni, sejarah yang ditulis dengan tinta kepentingan kekuasaan. Sejarah yang ditulis sebagai “cerita sejarah,” bukan “peristiwa sejarah.” Layaknya fiksi, di dalam “cerita sejarah” plot atas kesadaran tertentu dapat dibuat sekehendak pihak tertentu. Beda dengan “peristiwa sejarah” plot hanya sampiran, bahkan di nomor duakan, sebab bahan utamanya adalah kejadiankejadian yang berbasis fakta.Akhirnya, saya kira, jangan lupakan sejarah!!

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...