01 Februari 2016

suasana kelas baru

Sudah dua pekan kelas literasi dipadati peserta. Bilik belakang yang sering ditempati, demi membuat nyaman peserta juga sudah ditata ulang. Ruangan yang semula hanya mengambil satu pojok belakang toko buku akhirnya dibuat lebar. Namun tetap saja karena peserta yang membludak, ruangan belajar yang sering dipakai jadi tidak cukup. Di pertemuan terakhir kemarin, bahkan yunda Mauliah Mulkin sudah menambahkan satu kipas angin besar di atas meja untuk membuat sirkulasi udara berjalan lancar.

Ruang kerja kanda Sulhan Yusuf  memang di enam bulan terakhir berubah jadi padat. Semenjak kelas literasi dibuka, kami sering menggunakan ruang kerjanya sebagai kelas pertemuan. Awalnya tak ada bayangan bahwa kelas akan penuh sesak, walaupun kelas sebelumnya juga sering banyak dihadiri peserta. Tapi, seperti yang saya bilang, kelas yang kedua pesertanya membludak. Akhirnya membuat tempat selama ini dipakai jadi tidak muat.

Akibatnya saya kemarin susah mengambil gambar dari berbagai sisi. Setiap sudut sudah diduduki peserta. Bahkan sampai melebar ke tengah ruangan. Makanya agak risih kalau saya mondarmandir bergerak ketika mengambil gambar. Padahal, sesi jepratjepret sudah jadi kebijakan tak tertulis untuk mengabadikan setiap momen yang terjadi. Apalagi ada sebagian kawankawan yang senang groupy kalau difoto. Mereka bisa langsung ambil gaya kalau kamera nongol.

Beberapa pertemuan belakangan ada niat keluar kandang. Mengingat kemarinkemarin yunda Muchniart Az sempat unjuk rasa. Maklum selain Putri Reski Ananda, ibu dari Za ini salah satu peserta yang jauh tinggal di pinggiran kota. Saya biasa bangga memiliki panutan seperti kak Niart, jauhjauh naik motor sambil membawa Za ikut kelas literasi.

Karena itu setelah dipikir kembali dan melihat perkembangan situasi kelas ada keinginan untuk berimprovisasi. Ujhe Eljaelani juga sempat menjelaskan kepada saya tentang pentingnya suasana kelas yang berbeda. Kata anak pendidikan ini, biar peserta tidak jenuh dan merasa ada suasana belajar yang baru setting kelas harus berubah. Masukkan Ujhe menurut saya patut dipertimbangkan.

Saya juga butuh masukkan, terutama kepada guruguru muda kayak Andi Reski JNItto Danury, dan guru di Papua sana Ikhsan Nugraha, bagaimana selayaknya membangun kelas yang nyaman dan tidak bete? Apakah perlu mengubah set interior kelas atau sekaligus pindah mencari ruangan kelas baru? Yang pertama agak susah karena kelas selama ini sudah dua kali diset ulang. Apalagi mustahil mau membongkar bukubuku kanda Sulhan yang lumayan banyaknya itu? Jadi pilihan yang paling mungkin yang kedua: kita perlu kelas baru.

Sesungguhnya saya dilema, sebab kalau kita pindah atau berimprovisasi untuk kelas baru, akan susah mempertemukan jadwal kelas parenting yang diampu kak Uli. Ada beberapa temanteman yang tergabung di kelas parenting, juga terlibat di kelas literasi. Kalau misalnya pindah, maka akan membuat sebagian temanteman bermigrasi sanasini. Nantinya malah bikin repot.
Semalam ada tawaran kalau bisa kelas literasi minggu depan diadakan di beberapa tempat. Kak Niart kepingin di danau Unhas. Ada yang ingin di Fort Rotterdam. Ada juga diadakan saja di Multimedia depan Unismuh. Bahkan ada yang bilang di benteng Somba Opu saja. Kalau yang terakhir diusulkan Heri Sitakka. Kita bisa maklum kenapa dia bilang begitu.

Pikiran saya bagaimana nasib Boufakar Sisenimangila yang sering menggunakan petepete. Belakangan ini saja dia harus jalan kaki dari Pettarani sampai masuk ke Alauddin. Masa dia harus repot lagi mengambil jalur petepete yang berbeda. Nanti dia bisa tersesat seperti kemarinkemarin.

Juga ada Ali, anak Mamuju yang tinggal di asrama itu. Sejak dia ikut kegiatan yang sering dilaksanakan di bunker, saya sering kali lihat keponakan dari Syafinuddin Al Mandari ini berjalan kaki. Kalau minggu depan bakal pindah suasana kelas, saya tak tahu dengan cara apa dia bisa ikut. Kalau masih jalan kaki, maka Ali harus lebih awal bergerak sebelum jam tiga. Kirakira jam satu siang dia sudah harus keluar berjalan kaki menyesuaikan dengan jam kelas literasi.

Dulu ada Alik Nino'Trismegistirs yang sering membantu Ali. Tapi sekarang kabarnya Khalik juga tidak punya kendaraan. Belakangan ini justru dia harus menunggu jemputan Aii Avicenna kalau mau ke manamana. Kasihan karena motornya dipakai adiknya.

Omongomong kendaraan bermotor, saya tidak ragu kalau kelas dipindahkan di mana saja. Sebab misal Muhajir AjirMuhammad Asrul Al-FatihTenry Nur AmrianiJusnawati As'SyifaSiti Zahra IndahM Yunasri RiDhohJahirNizar Fahrezi tak bakalan keberatan bila sekalipun kelas di pindahkan ke planet Pluto. Asalkan salah satunya dapat mengikutkan Sandra Ramli sebagai parnert di jalan.

Intinya saya butuh masukkan dari siapapun. Kelas kita kelas bersama. Di mana tempat yang paling cocok menurut kalian. Sekalian mari doakan Syahrul Al Farabi dan Aam Ahmad Arham salah satu peserta yang sedang sakit. Agar mereka dapat berkumpul kembali. Juga kepala sekolah kita kanda Asran Salam. Kelas sekarang butuh masukkanmasukkan dari beliau.

Nah, sekarang apakah ada sendal kalian di bawah ini? Dulu di depan pintu toko buku tidak sebanyak ini. Sebentar lagi sudah mirip mesjid. Sendalnya juga butuh diatur, juga motormotor yang bertumpuk.

Nb: Adiyat Rizki dan Akmal Qabusy AL Ghazali, bagaimana masih mau ikut kan? Oh iya bagi kalian peserta baru, saya minta pertemanannya dong? Bisa kan?

31 Januari 2016

sketsa dasar akhir pekan di kelas literasi

Saya pernah bilang menulis bagi saya lebih sama dengan melukis. Ini sketsa kasar (dasar) lukisan saya di waktu kelas literasi Paradigma Institute sore tadi: 

Syafinuddin Al Mandari
Ilmu, hal yang tak diketahui malaikat
Manusia akan jauh membuat tercengang malaikat karena ilmunya
Ilmu pengetahuan yang dikembangkan akan meninggikan dengan sendirinya derajat seseorang
Peradabanperadaban manusia yang hancur karena ilmu yang stagnan. Semua peradaban yang maju karena ilmu yang maju
Teknologi pertanian organik. Di kota yang memiliki lahan sempit dapat dimanfaatkan dengan baik kalau ditopang dengan ilmu pertanian yang baik.
Pemulung yang cerdas mengelolah pasti akan jauh lebih besar penghasilannya dibandingkan pegawai kantoran.
Di Jakarta sudah menjadi sengketa antara pemda DKI dengan Bekasi akibat TPA yang over pemakaian. Ada teknologi yang dapat membuat sampah tidak terlalu busuk
Bubuk pupuk dan pupuk cair
Kalau semua sektor disentuh dengan ilmu yang bagus pasti akan menghasilkan karya yang luar biasa. Buktibukti yang memperlihatkan kemajuan di berbagai bidang itulah yang disebut literasi
Literasi berarti pencerahan. Membuat sesuatu lebih terang
kewajiban konstitusional negara yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ranah yang luas. Sekolah hanya salah satu bagian di dalamnya. Katakata pencerahan dan literasi berarti sama. Literasi mengeluarkan orangorang dari kebutaan yang paling awal yakni buta huruf sampai buta pengertian
Literasi pekerjaan jangka panjang. Walaupun hanya lewat manuskripmanuskrip sederhana yang dilakukan selama ini
Kalau konsisten mengawal kelas literasi bisa jadi besok akan menjadi sekolah sosial yang menyebar diberbagai sektor
Lilin literasi sama halnya meledakkan bom peradaban. 
Tugas pejuang literasi, mencerahkan, mampu menguatkan cara pandang orang dengan cara berpikir yang benar
Model bentuknya. Salah satunya Memperbanyak perkumpulan (komunitas). Untuk membangun pergerakan demi perubahan.
Evaluasi
Farid Gaban, Syafinuddin, setiap pencerita sesungguhnya adalah penulis. Kedua jangan dulu diedit, biarkan pengetahuan kita disalurkan mengalir begitu saja. Anggaplah setiap ucapan itulah yang ditulis. Selanjutnya diendapkan dan kemudian disinambungkan melalui proses evaluasi
Farid Gaban: biasakan dialog, bercerita, data, memaknai data, memunculkan sudut pandang, edit. Seorang yang ingin menulis wajib membaca tulisan orang lain. Begitu bukan pembaca maka tak akan menjadi penulis.

Akhir pekan di kelas literasi

Hari ini saya punya janji untuk mengikuti kelas literasi. Mau tidak mau saya harus ikut, soalnya sudah diingatkan oleh kanda Bahrul Amsal melalui lini masa FB. Apalagi beberapa hari sebelumnya saya sudah janjian dengan Aii Avicenna, kawan saya yang juga kebelet ingin ikut. Maka, siang ini saya bersiapsiap lebih awal, sembari menunggu jemputan Aii.

Kelas literasi sebenarnya sudah lama saya ketahui dari kabar yang diceritakan kanda Bahrul. Beberapa foto kegiatannya juga sering kali nongol di FB. Melihat kegiatankegiatan mereka, saya merasa harus ikut. Namun, waktu itu kepalang kelas sudah berjalan, makanya saya agak malu bergabung. Sampai belakangan ini saya dikabari kelas literasi angkatan kedua akan dibuka. Sontak saya senang bukan main. Ini kesempatan emas, saya harus ikut.

Sekarang saya sudah di TB Paradigma, tempat kelas literasi di selenggarakan. Hari ini pertemuan kedua. Banyak yang datang. Minggu kemarin kelas perdananya. Saat itu bagaikan mimpi, saya bisa berkumpul dengan orangorang yang memiliki minat yang sama. Apalagi pertemuan itu diawali dengan kuliah umum kanda Sulhan Yusuf. Beliau dengan santai omong banyak seputar gerakan literasi. Maqammaqam literasi, dan kecenderungankecenderungan orang terhadap dunia literasi. Saya tidak perlu menulisnya di sini, reportase kanda Bahrul sudah sempat membahasnya minggu lalu.

Hampir jam empat saya tiba dilokasi. Di dalam kelas ternyata sudah banyak orang. Termasuk kanda Bahrul yang datang lebih awal. Menurut info yang ditulisnya, hari ini kelas akan diisi diskusi santai bersama kanda Syafinuddin al Mandari. Katanya beliau sedang bertandang di Makassar, maka tak afdol kalau tidak mengundang beliau nimbrung di kelas.

Sambil menunggu kanda Syafi datang, begitu panggilan akrab yang saya dengar dari kawankawan, kelas dibuka dengan perkenalan singkat antara peserta. Setelah dibuka Kanda Bahrul, maka kami saling bertegur sapa mengenalkan diri. Ternyata ada duapuluh orang yang datang. Tidak semua nama saya kenal selain sebagian yang sudah saya ketahui sebelumnya. Setelah saling memperkenalkan diri, dan penjelasan Kanda Bahrul tentang mekanisme kelas yang selama ini dijalani, maka kelas dialihkan untuk mendengarkan persentase tulisan yang dibawa kawankawan. Kali ini saya sudah menyiapkan tulisan saya. Judulnya Mummy dan Ruang Anak yang Hilang.

Salah satu tulisan yang menarik ditulis Ishak Boufakar. Dia menulis tentang ilmu komuniskasi. Ulasannya menarik saat dia menjelaskan tulisannya. Juga Itto, yang sering membuat puisi tanpa judul. Memang Itto punya masalah ketika menulis puisi, ia sering membiarkannya tanpa judul. Kemudian Ali, peserta yang paling siap di antara kami. Ketika datang dia sudah menyiapkan map khusus untuk tulisantulisannya. Dia juga membawa puisi yang katanya dia tulis saatsaat galau.

Banyak hal yang diungkapkan kanda Syafi ketika ia membuka diskusi. Awalnya saya kaget dengan bahan diskusi yang menyinggungnyinggung soal pemanfaatan lahan yang minim di kota. Katanya suatu saat orangorang dengan pendekatan yang tepat dapat mengembangkan ilmu pertanian untuk memanfaatkan ketersediaan pekarangan yang minim. Sampaisampai beliau mengatakan pertanian akan jauh lebih maju dengan ilmu pertanian organik yang belakangan ini sedang marak. Jujur dipikiran saya apa kaitannya literasi dengan ilmu pertanian. Tapi saya dengarkan saja dulu ulasannya.

Saya semakin bingung ketika pembicaraannya menyinggung soal sampah. Katanya, jika seorang pemulung memiliki pengetahuan yang memadai, sampah justru dapat mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Maka, pemda DKI Jakarta tak akan bingung masalah TPA yang dipermasalahkan oleh warga Bekasi. Contoh itu diambil Kanda Syafi kalau kita mampu mengelola sampah dengan baik. Dengan ilmu yang benar, kata Kanda Syafi, sampah bisa diolah jadi pupuk bubuk dan cair yang jauh lebih baik dari pupuk urea.

Sampai di sini saya semakin bingung dengan omongan beliau. Bukankah informasi Kanda Bahrul bahwa beliau diundang karena pengalamannya di dunia literasi? Kok omongannya tentang pertanian dan sampah? Hubungannya dengan literasi di mana? Sampai akhirnya beliau bilang bahwa literasi itu sebenarnya pencerahan. Ketika sektorsektor dibidang kehidupan dikelola ilmu yang baik dan tepat guna, maka area yang masih gelap akhirnya menemukan perspektif baru yang bisa dimajukan. Itulah literasi, semangat untuk memajukan lini kehidupan dengan ilmu pengetahuan.

Sampai di sini saya kaget. Ternyata literasi memiliki makna yang begitu dalam. Tidak seperti pemahaman hanya sekitar baca tulis. Pantasan kanda Syafi sempat membahas ilmu pengetahuan dan peradaban di awal diskusi. Ternyata kuncinya di situ, setiap sektor yang diperjuangkan dengan ilmu pengetahuan, yang mencerahkan masyarakat dengan inovasiinovasi, itulah literasi. Usaha mencerdaskan bangsa, seperti amanat konstitusi kata kanda Syafi.

Pantas juga dari awal beliau menyinggung peradabanperadaban yang stagnan akibat mandegnya ilmu. Barang siapa berhenti mengembangkan ilmu pengetahuan, dengan sendirinya suatu peradaban akan tertinggal dan runtuh. Katanya ilmulahyang meninggikan derajat umat manusia. Hanya melalui ilmulah kemajuan peradaban bernilai tinggi dari peradaban sebelumnya.

Karena itulah gerakan literasi memiliki jangka yang panjang. Visi dan misinya harus menyentuh seluruh sektor kehidupan demi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Maka kanda Syafi menghimbau jangan meremehkan kelas yang kami jalani ini. Karena ini adalah salah satu cara untuk membangun gerakan literasi, walaupun denga cara mengumpulkan manuskrip setiap minggunya. Dengan cara berkumpul dalam komunitas, membangun semangat dan konsistensi.

Kanda Syafi juga menyinggung tugastugas pejuang literasi. Menurutnya yang utama dari gerakan literasi adalah membuat orang sadar dengan pandangannya. Bahkan memperkuat pandangan seseorang dengan jalan berpikir yang benar. Inilah esensi pencerahan. Esensi literasi yang sesungguhnya. Sehingga orang yang bergerak dan sadar dengan literasi bisa menjadi lilin yang menerangi di mana pun berada. Dengan begitu akan tercipta apa yang beliau sebut ledakan bom peradaban.

Terakhir kanda Syafi bilang, mudahmudah komunitas semacam ini bisa menjadi sekolah sosial yang berefek kepada banyak orang. Kalau konsisten, maka tidak tidak mungkin hal itu bisa tercapai. Asalkan kita mau terus menggalakkan gerakan literasi. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, melalui tulisantulisan yang cemerlang. Agar tercipta perubahan di segala sektor kehidupan.

Berikut fotofoto yang diambil kanda Bahrul di saat beliau beraksi. Tak lupa pula beberapa kawankawan yang ikut bertanya seputar kiatkiat menulis. Bagaimana agar menulis dapat dimulai? Seperti apa tahapantahapan menulis? Bagaimana cara memancing ide menulis? Semuanya dijawab apik oleh Kanda Syafi. Kalau kamu masih penasaran, ikut saja kelas di minggu depannya. Dijamin menyenangkan loh?

30 Januari 2016

undangan kelas literasi

Selamat malam. Besok pertemuan kedua kelas literasi Paradigma Institute. Kali ini kita akan kedatangan seorang yang sedikit banyak dibesarkan dan membesarkan Paradigma Institute sampai sekarang. Alhamdulillah kanda Syafi bersedia datang membagi pengalaman dan ilmunya besok sore sekira pukul 15.00. Beliau sampai hari ini masih bergiat dengan tradisi literasi dan pengembangan keilmuan bagi anakanak muda. Bahkan itu dilakukannya ketika masih menjadi mahasiswa.

Tadi siang saya mendapat bocoran dari kanda Sulhan Yusuf bahwa beliau sedang bertandang di Makassar. Samarsamar bahwa kanda Syafi didapuk menjadi narasumber di salah satu hotel siang tadi. Alhasil atas desakan kanda Sulhan, beliau harus bisa mengisi di kelas literasi besok.

Terakhir kali kanda Syafi bertandang di Makassar sekira akhir 2015. Saat itu selain mendampingi kanda Judilherri Justam, beliau juga menjadi pembicara saat melaunching buku yang diinisiasinya; "Anak Tentara Melawan Orba", otobiografi yang ditulisnya. Bersama Alto Makmuraltoyang menjadi pembicara, kegiatan itu sukses dengan banyaknya mahasiswamahasiswa yang berdatangan. Apalagi saat itu dua nama besar; Kanda Qasim Mathar dan Alwy Rachman, juga menjadi daya tariknya. Hingga sore, akhirnya kegiatan itu berakhir.

Setelah saya menelepon, respon positif langsung diberikan kanda Syafi. Dengan senang hati beliau akan menyempatkan bertandang diParadigma Ilmu Toko Buku besok. Tak lama saya berbicara dengan beliau, sebab dari belakang sepertinya dia masih duduk jadi narasumber. Lamatlamat suara pembicara di sebelahnya sampai kedengaran. Dengan sigap saya langsung saja nyatakan niat agar kawankawan dapat bertemu tukar pikiran dengan beliau. Setelah belia iyakan, sayapun pamit.


28 Januari 2016

yang gagal dari gadis di bangku taman

Pertama, sebuah karya sastra, terutama cerpen adalah cerita yang menggambarkan suatu alur latar belakang. Terutama “sejarah” tokohnya. Banyak saya dapati, setiap cerpenis mengolah latar belakang tokohnya dari deskripsi ceritanya itu sendiri. Bahkan melalui dialog tokoh di dalamnya, pembaca secara pelanpelan mengetahui seperti apa karakter, pembawaan, sampai struktur masyarakat yang melingkupinya. Cerpencerpen Putu Wijaya, misalnya, sering memperlihatkan latar belakang tokohnya dari dialogdialog yang dilakukan tokohnya itu sendiri.

Bahkan suatu sejarah dapat diketahui berdasarkan nama tokohnya itu sendiri. Nama Minke yang digunakan Pramoedya di dalam tetralogi buruhnya, bukanlah suatu kebetulan belaka. Melalui nama yang dipakainya, Pram ingin menunjukkan suatu ragam persoalan bangsa yang dikenali dari kesalahan penyebutan nama. Bagi pembaca tetralogi buruh, pasti akan mendapatkan kesan yang implisit bahwa nama Minke adalah kesalahan pendengaran Minke sendiri dari sebutan yang disematkan kepadanya yang arti sebenarnya merujuk kepada Monkey sebagai kata yang sebenarnya.

Pram ingin bilang, melalui Minke, bahwa suatu kesadaran kebangsaan yang menolak tunduk atas gaya penjajahan tertentu di mulai dari penyelesaian atas nama yang salah. Ini mirip bagaimana teoriteori poskolonial menyadarkan manusia bahwa kesadaran atas diri bukan melalui negara bekas penjajahnya, melainkan ditemukan dari dalam bangsa itu sendiri. Artinya, Minke ketika ingin memulai suatu kesadaran baru, harus menyadari untuk keluar dari penyematan yang salah terhadapnya.

Ketika memulai membaca Gadis di Bangku Taman karya Muhajir, kekosongan yang pertama adalah ketidakberanian penulisnya dalam memberikan nama pada tokohnya. Kesalahan ini begitu fundamental karena tanpa nama, pembaca akan gagal memahami suatu karakter tokoh. Apalagi novel yang hanya dipusatkan pada si lakilaki, tidak dengan gamblang memberikan suatu gambaran selain hanya ia sebagai anak seorang ibu yang memiliki kucing yang sekaligus pengangguran.

Tidak diberikannya nama kepada tokoh cerita, menandakan Muhajir adalah orang yang gagal menghidupkan karakter tokohnya. Saya percaya, pengarang yang baik adalah pengarang yang telah siap dengan karakter tokohnya beserta bubuhan namanya. Sebab nama, seperti saya bilang adalah penanda suatu struktur kehidupan yang dari itu pembaca dapat masuk lebih jauh untuk mengenal sang tokoh. Kesalahan elementer yang di alami Muhajir ini, akhirnya memiliki dampak yang fundamental kepada keseluruhan isi ceritanya.

Hal yang sama juga terjadi pada si gadis. Seperti yang terjadi pada sang lelaki, tak ada riwayat sedikitpun yang diuraikan penulis untuk menghidupkan sang tokoh perempuan. Nama, di dalam cerpen ini adalah unsur penting yang tidak dimiliki sebagai pembangun suasana tokohtokohnya. Sang gadis yang disebut di dalam judul, hanya seperti orang tanpa identitas yang tak jelas asal muasalnya. Bahkan untuk menerka seperti apa karakternya, pembaca akan sulit menelusurinya. Di sini, adagium apalah arti sebuah nama tak bisa diajukan sebagai pembelaan bagi penulisnya.


27 Januari 2016

rahmat semesta alam, pengembara tetaplah pengembara

Setelah kemarin Muhajir, kali ini saya akan memperkenalkan kawan saya,RahmatZainal. Pemuda yang seharusnya sudah memiliki satu anak. Saya heran, dosa apa yang pernah ia perbuat kepada perempuan. Sampaisampai saat ini tidak ada perempuan yang kecantol kepadanya. Barangkali nasib di langit sana, dituliskan agar Rahmat dikandangi dari perempuan. Tapi kalau mau dibilang, justru Rahmat sendirilah yang pasang tembok Berlin di hadapan cewekcewek. Bahkan Rahmat agak gagu kalau bertemu dengan seorang perempuan seusianya.

Dalam ilmu tasawuf, untuk menjaga kemurnian ilmu, seorang sufi dituntut menjaga batinnya dari dunia syahwat. Ini mirip dengan tumbuhan padi yang harus dijaga dari beragam hama. Sehat tidak tumbuhkembangnya padi, tergantung seberapa bebas ia dari serangan hama. Seorang sufi, seperti padi, harus menjauhkan dirinya dari godaan hama dunia untuk melatih dirinya agar bersih. Wanita, bagi sufi, adalah salah satu hama yang mesti dihindari.

Saya sering bercanda, Rahmat bisa jadi adalah seorang sufi metropolitan yang hidup a la pemuda kota. Sendiri tanpa kehadiran seorang perempuan. Tapi, senang kalau dikerumuni perempuanperempuan yang baru menjadi mahasiswi. Maklum, Rahmat seringkali jadi tempat konsultasi ukhtiukhti di kampusnya. Jadi, di satu sisi, perempuan jadi musuhnya, tapi di lain sisi, justru perempuan bisa menjadi setapak jalan untuk sampai ke langit.

Yang terakhir ini, saya duga malah jadi doktrin kelompokkelompok agama untuk melecut semangat jihad. Dengan semangat jihadis, anggotaangotanya dijanjikan berpuluhpuluh bidadari di surga. Barang siapa jadi "pengantin," insyaallah mabrur menjadi syahadah dengan kerumunan bidadari.

Cara instan ini bukan cara yang dipakai Rahmat ketika dia berjihad. Jihad Rahmat adalah jihad ilmu. Bukan bom bunuh diri a la "pengantin" yang kerap nongol di mediamedia belakangan ini. Kalau saja iya, sudah lama Rahmat akan berlatih militer di negerinegeri arab sana. Atau sudah bersorban dengan membentuk koloni di pelosok Sulawesi. Mencari tanah lapang berlatih perang. Memanah dan berkuda. Dan, tentu sudah pakai sapaan ente antum segala.

Bagaimana Rahmat berjihad, ada ceritanya. Baiklah pelanpelan saja. Kita mulai.
Pertama kali saya melihat Rahmat di saat jaman baheula dulu. Ketika hamparan tanah bumi masih kosong melompong. Di waktu masih banyak homo sapiens bermukim di guagua. Saat tanah belum berganti menjadi ladangladang. Tepatnya saat dunia mengalami transisi dari era mengumpulkan makanan menjadi bercocok tanam. Ini alaf jauh sebelum Galilei Galileo menentang doktrin gereja. Yang ada hanya gali lobang tutup lobang menanam bahan makanan.

Nah, saya adalah salah satu homo sapiens yang hidup primitif itu. Sampai akhirnya saya ketemu dengan rombongan hijau hitam yang berkerumun entah kenapa. Karena di ajak oleh salah satu anggotanya, saya ikut saja. Masa itu adalah masa ketika hewanhewan buruan sulit dimakan. Dagingnya kuruskurus karena kekurangan makanan. Tanpa berpikir panjang saya ikut saja dengan ajakan mahluk yang belum saya kenal itu. Perlu diingatkan saya tertarik bukan karena ajakannya yang menginginkan suatu tata peradaban yang tamadduni, melainkan hanya ingin mendapatkan makanan gratis.

Akhirnya saya terpaksa meninggalkan gua persembunyian. Di tempat yang baru, selama tujuh hari saya diperkenalkan kepada istilahistilah yang asing. Karena belum banyak bahasa yang saya kenal, saya hanya sempat mengingat katakata semisal; teologi; epistemologi; subtansi; kapitalisme; komunisme, dan beragam bahasa yang saya tak tahu muasalnya. Selama tujuh hari saya diajarkan cara hidup beradab. Saya diajarkan untuk mengenal zat yang bernama Tuhan. Padahal sebelumnya tak ada kosakata Tuhan dalam kehidupan primitif saya. Semenjak itu, kata Tuhan lebih sering saya dengar dari orangorang di sekitar saya.

Selama tujuh hari, saya mendapatkan temanteman baru. Entah dari gua mana datangnya. Mereka seperti jenis homo erectus yang pernah saya lihat. Homo erektus ini banyak juga yang ikut, bersamaan dengan homo javakensis yang datang berbondongbondong. Tapi kebanyakan yang datang adalah homo sapiens yang tiba dengan batubatu di tangannya. Saya sendiri yang berjenis sama akhirnya bergabung bersama mereka selama tujuh hari di tempat yang lebih mirip penjara.

Di penjara itulah saya bertemu Rahmat. Dia tidak seperti homo jenis lainnya. Dia jenis baru yang tidak masuk kategori jenis manapun saat itu. Kedatangannya juga secara tibatiba. Seingat saya, dia datang di hari kelima ata keenam. Tapi yang saya ingat dia sudah duduk di belakang saya dengan memegang buku yang saya tak tahu judulnya. Buku, saat itu belum saya ketahui sebagai benda yang penting. Dengan model kehidupan primitif, yang saya tahu hanya batu berbentuk kapaklah yang bisa membuat saya bertahan hidup. Tapi Rahmat justru berbeda, dia selain datang dengan misterius, juga membawa buku yang kelak jadi benda paling penting dikehidupan kami.

Waktu itu Rahmat sudah bisa berbahasa peradaban. Cara berpikirnya jauh lebih maju. Mulutnya lancar menyebut istilahistilah yang saya tak tahu dapatnya dari mana. Saya berpikir saat itu, di gua mana ia pernah tinggal sampai memiliki bahasa semacam itu. Cerita punya cerita, ternyata ia tidak tinggal di gua. Nyatanya ia sering pindahpindah dari satu tempat penuh buku ke tempat penuh buku lainnya. Begitu seterusnya.

Hingga akhirnya saya jarang bertemu dengannya. Pernah suatu waktu saya mendengar kabar bahwa dia jadi anggota koloni yang gemar membentuk khilafah. Lama dia di sana sampai suatu saat dia sendiri yang bilang bahwa sudah murtad. Kabar terakhir yang saya dengar, dia ternyata adalah anak fakultas bahasa dan sastra di perguruan tinggi yang sama dengan saya. Hanya itu yang saya tahu saat itu. Ini kirakira ketika guagua banyak dimasuki beruang, dan saya sudah mulai tinggal di dalam kampus sendiri.

Rahmat itu seorang pengembara. Bayangkan dia sudah tiga kali menaiki gununggunung besar di Makassar. Tidak seperti orang lain yang hanya sanggup menaklukkan satu gunung saja. Toh kalau ada palingpaling hanya dua gunung saja. Sini saya kasih tahu, di Makassar setidaknya ada tiga gunung besar yang menjulang tinggi sampai angkasa. Di puncak inilah Rahmat telah menjejakkan kakinya. Pertama Gunungsari, tepatnya Gunung UNM. Di puncaknyalah Rahmat pernah lama menghabiskan waktu. Sebagai pengembara, ia banyak mengajarkan ilmu sakti hasil dari pengembaraanya kepada orangorang di sana.

Di gunung UNM, saya menduga, di sinilah dia pertama kali meniatkan dirinya untuk menaklukkan gununggunung tinggi di Makassar. Di waktu inilah saya pertama kalinya melihat Rahmat. Ketika bersama kerumunan hijau hitam dulu. Di UNM, Rahmat sudah menjelma pengembara tak bertuan. Buktinya dia minggat dari perguruan silat yang maunya khilafah melulu. Barangkali, di waktu inilah ia menemukan rahasia pengembara, tak punya urusan emosi dengan bendera apapun. Sejatinya pengembara adalah orang yang tak terikat dengan apapun.

Yang kedua, setelah lama hidup mengabdi di gunung UNM, rahmat melanjutkan perjalanannya menuju suatu gunung yang konon punya ilmu ayam sakti. Orangorang menyebutnya Unhas. Setelah lama mendaki di kaki gunungnya, ia tiba dipuncaknya hanya dalam hitungan jari. Di sana, dia banyak menimba ilmu sambil menyempurnakan ilmuilmu sebelumnya. Di saat ini, Rahmat sudah menjelma bak pendekar yang punya mantramantra sakti. Omongannya banyak yang anehaneh, tapi nyatanya banyak yang ingin mendengarnya. Sebagai pengembara, Rahmat sering membagi cumacuma mantra yang ia dapati dari guru sakti yang sering dia temui di puncak gunung Unhas.

Di puncak gunung Unhas, Rahmat sering berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya. Bahkan di setiap kampung tidak sedikit yang menjadi muridnya. Ini saya tahu ketika saya sering bertemu pasca ia bermigrasi ke gunung Unhas. Saat itu, Rahmat sudah tidak bisa disaingi. Ilmunya sakti mandraguna. Tak heran banyak yang ingin berguru kepadanya.
Seperti Che Guevarra yang sering memicu revolusi, Rahmat akhirnya melanjutkan pengembaraanya ke gunung yang terakhir; gunung Alauddin. UIN nama lain gunung itu. Di sini adalah tempat terakhir perjalanan Rahmat. Untuk sementara di tempat inilah dia mengasah kembali ilmuilmunya. Sembari bersamasama kawankawannya, mengembangkan suatu ilmu yang entah apa namanya. Ilmu ini sering dia keluarkan di saat genting. Saya pernah satu dua kali menyaksikannya. Kalau yang ini saya menduga jurus rahasianya. Tapi banyak yang tak tahu.

Di saat inilah saya banyak bertemu dengannya. Saat ini Rahmat masih jadi pengembara. Sekarang muridmuridnya bertebaran seantero Makassar. Bahkan saya diamdiam jadi muridnya sembari berpurapura sok tahu di depannya. Ya, di hadapannya, kamu iyakan saja apa yang ia omongkan, sebab dari situ banyak yang bakalan kamu tak ketahui. Itu satu petanda betapa tinggi ilmu kembaranya.


Itulah kenapa saya sering bercanda sendiri kalau Rahmat adalah seorang sufi. Tepatnya sufi pengembara. Seorang yang naik turun bukit melewati banyak lembah seorang diri. Kadang ketika dia lelah, dia sering menjamu dirinya dengan ramuanramuan kopi. Kalau yang ini Rahmat kerap di temui di warkopwarkop langganannya. Di situ dia sering memberikan ilmuilmu hasil perjalanan panjangnya. Makanya tidak ada ruginya bersamanya di saat menyaru kopi.

Seperti gambar di bawah ini. Saya berusaha mengambil gambarnya hanya untuk menceritakan sedikit ihwal tentangnya. Ini saya ambil dari salah satu warkop tempat saya nongkrong. Bagi saya penting kalian tahu tentang pengembara yang satu ini. Barangkali saja ada perempuan yang kecantol dengannya. Apalagi ilmunya, busyet! Saya saja harus berguru di banyak pendekar kalau ingin mengetahui ilmunya. Bagi saya Rahmat ini tipe manusia yang aneh. Dia sering mengembara, tapi namanya pengembara pasti ada yang disebut surat sakti dari setiap gunung yang ditaklukkannya. Tapi, apalah arti surat sakti bagi Rahmat. Seorang pengembara tetaplah pengembara. Yang ada hanya segudang ilmu dikepalanya, dan orangorang yang mau mendengarkan kisahnya.

26 Januari 2016

muhajir: lakilaki panggilan

Pemuda tanggung ini bernama Muhajir. Hanya Muhajir saja. Tidak ada nama belakang seperti nama orangorang umumnya. Saya menduga kedua orang tua Hajir, begitu ia disapa, memberikannya nama begitu karena terinspirasi dari nama sebuah masjid entah di mana. Atau karena terngiangiang kisah orangorang muhajirin di masa Rasulullah dulu. Atau memang ada harapan kelak, Hajir di suatu waktu mendirikan masjid dengan Muhajir sebagai nama masjidnya. Atau Muhajirin. Ya, tanpa embelembel nama dibelakangnya. Singkat saja.

Gambar ini saya ambil ketika dia sedang bersiapsiap mengisi diskusi salah satu lembaga di kampus orange. Akhirakhir ini Hajir memang sering jadi lelaki panggilan. Dia dalam seminggu saja bisa berkeliling tiga kali bak ustadz mengisi forumforum pengajian. Dipanggil sanasini tanpa rela dibayar. Kadang dia harus rela mengisi forum dua kali dalam sehari. Betulbetul tanpa ongkos.

Kadang saya berpikir, sebagai orang yang sering melihatnya mondarmandir dari forum satu ke forum lainnya, dia sebelas duabelas mirip tukang pijit. Hampir sebagian waktunya hanya untuk orangorang yang membutuhkan. Pergi pagi pulang sore dengan menenteng tas penuh bukubuku. Ikhlas dituntun oleh satu forum ke forum lainnya.

Kadang juga saya punya prasangka buruk tentangnya. Tidak burukburuk amat sih sebenarnya. Saya curiga dia begitu bersemangat diundang karena senang kalau di forum yang dihadirinya banyak cewekcewek yang gemesin bukan main. Biasanya, orangorang yang mendapatkan kesempatan berbicara di depan cewekcewek ala JKT48, akan begitu bersemangat mengeluarkan skill ilmu komunikasinya. Bahkan serumit apapun pembahasannya akan nampak ringan diulasnya. Janganjangan di bagian ini Hajir sudah huduri ilmunya. Semoga saja.

Kalau sudah begitu siapa yang mau mirip tukang pijat. Buta pun ogah, apalagi berjalan menentengnenteng tongkat. Bahkan bukan bau minyak gosok lagi yang tercium, justru berganti parfum akibat forum yang dipenuhi ukhtiukhti hijabers. Tapi itu jarang saya temukan. Hajir bukan tipe orang yang melek karena ukhti chibichibi. Satu hal yang bisa membuatnya begitu bersemangat mengisi kajian di manamana; makan gratis.

Untuk urusan makan, di bungker memang musim paceklik tak pernah pergipergi. Makanya, Hajir sebagai salah satu penghuninya punya profesi sebagai intelektual panggilan. Jadi semacam mengadu nasib dengan kelaparan yang kerap melanda. Makanya ada semacam hubungan simbiosis mutualisme antara pengetahuan yang dimilikinya dengan orangorang yang mengundangnya. Jadi, sebagai pengisi diskusi, Hajir akan mendapatkan makanan gratis, dan orangorang yang mendengar kuliahnya mendapatkan ilmu gratis.

Namun saya yakin justru bukan makan gratis yang diidamidamkan lakilaki tanggung ini. Hajir sebagaimana pemuda umumnya, adalah pemuda yang pernah tumbuh di luar pengawasan orang tua. Anakanak muda yang sering menghabiskan waktunya bermain gitar di ujung lorong yang angker. Lakilaki yang kalau magrib tiba segera mandi dan muncul kembali di tikungan jalan mengondos cewekcewek kampung. Di saat itulah dijemarinya mengapit sebatang rokok untuk memberikan kesan macho. Rokok bagi anak muda yang baru tiga tahun mengalami mimpi basah, adalah benda yang paling ajaib yang bisa dihisap mulut.

Rokok, betul rokok, yang membuat Hajir rela begadang membukabuka buku untuk mengisi kajian esok harinya. Saya sanksi Hajir akan membenarkan perkataan saya ini. Tapi, kuat dugaan saya, seperti saya dulu, rokok bisa membuat orang betah mulutnya berbusabusa demi perbincangan yang tiada ujungnya. Sehingga mudah ditebak, makanan gtatis hanya nilai tukar yang tak bermakna apaapa dibandingkan sebungkus rokok.

Malam ini saya sempatkan mengambil gambarnya, karena Hajir orang yang saya kenal menyukai foto yang memuat dirinya. Kalau kalian melihat gambar di bawah ini, jangan percaya dia serius membaca catatannya. Sungguh itu hanya akalakalannya saja ketika saja saya memberitahunya akan mengambil gambarnya. Sontak dia langsung purapura serius menekuni laptopnya. Padahal saya tahu, dia biasa membawa diskusi tanpa membaca lebih dahulu. Ada beberapa tema yang sudah dia hapal di luar kepala.

Itu saya tahu karena saya orang yang sedikit banyak bersentuhan dengan aktivitasnya di kampus. Dulu ketika masih urakan dia sempat rajin mengikuti kelas logika yang saya bawakan. Saya masih ingat gayanya yang menyerupai vokalis band antah berantah dengan kalung di leher dengan rambut yang dibuat miripmirip Andika kangen band. Rambutnya ya! Bukan mukanya, catat! Tapi sekarang penampilannya sudah jauh berbeda. Juga kesenangannya kepada bukubuku.

Karena bukulah Hajir jadi lakilaki panggilan. Juga dengan bukulah ilmu yang dia miliki dibagi cumacuma di manamana. Serta tujuh tahun menjadi mahasiswa melalanglang buana ditempa di macammacam forum. Entah jadi peserta, dan sekarang jadi pembicara dadakan. Ya, sering kali dia diundang dadakan, dan sering kali pula dia senyumsenyum sendiri.

Oh iya, Hajir juga penulis muda yang sedang panaspanasnya mengurus blog. Alamat blognya www.alhegoria.blogspot.co.id.. Ups, salah, maaf itu alamat blog saya. Sorry. Alamatnya, kalian tanya dia saja langsung. Kalian punya pin BBM kan, mumpung dia sedang asik BBMan dengan gawai barunya. Kalau tentang tulisannya, kalian tidak bakalan rugi membacanya. Dia juga bisa kalian temui di kelas literasi Paradigma Institute. Tiap akhir pekan dia aktif di sana. Bahkan dia salah satu orang yang turut membawa nama Paradigma Institute sebagai background namanya.

Yang terakhir, Hajir pernah berkata akan melanjutkan studinya. Hajir anak pendidikan. Seperti yang saya bilang, dia menghabiskan tujuh tahun di kampus. Sempurna. Menurut saya, Hajirlah satusatunya orang yang menghabiskan karirnya sampai berdebu di kampus seperti saya. Sekarang dia berkeras ingin kuliah kembali. Namun, bukan tujuh tahun ya! Mudahmudahan kalau dia sudah lanjut, dia masih bisa diajak berdiskusi sebagai lakilaki panggilan. Amin ya Allah.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...