30 Januari 2016

undangan kelas literasi

Selamat malam. Besok pertemuan kedua kelas literasi Paradigma Institute. Kali ini kita akan kedatangan seorang yang sedikit banyak dibesarkan dan membesarkan Paradigma Institute sampai sekarang. Alhamdulillah kanda Syafi bersedia datang membagi pengalaman dan ilmunya besok sore sekira pukul 15.00. Beliau sampai hari ini masih bergiat dengan tradisi literasi dan pengembangan keilmuan bagi anakanak muda. Bahkan itu dilakukannya ketika masih menjadi mahasiswa.

Tadi siang saya mendapat bocoran dari kanda Sulhan Yusuf bahwa beliau sedang bertandang di Makassar. Samarsamar bahwa kanda Syafi didapuk menjadi narasumber di salah satu hotel siang tadi. Alhasil atas desakan kanda Sulhan, beliau harus bisa mengisi di kelas literasi besok.

Terakhir kali kanda Syafi bertandang di Makassar sekira akhir 2015. Saat itu selain mendampingi kanda Judilherri Justam, beliau juga menjadi pembicara saat melaunching buku yang diinisiasinya; "Anak Tentara Melawan Orba", otobiografi yang ditulisnya. Bersama Alto Makmuraltoyang menjadi pembicara, kegiatan itu sukses dengan banyaknya mahasiswamahasiswa yang berdatangan. Apalagi saat itu dua nama besar; Kanda Qasim Mathar dan Alwy Rachman, juga menjadi daya tariknya. Hingga sore, akhirnya kegiatan itu berakhir.

Setelah saya menelepon, respon positif langsung diberikan kanda Syafi. Dengan senang hati beliau akan menyempatkan bertandang diParadigma Ilmu Toko Buku besok. Tak lama saya berbicara dengan beliau, sebab dari belakang sepertinya dia masih duduk jadi narasumber. Lamatlamat suara pembicara di sebelahnya sampai kedengaran. Dengan sigap saya langsung saja nyatakan niat agar kawankawan dapat bertemu tukar pikiran dengan beliau. Setelah belia iyakan, sayapun pamit.


28 Januari 2016

yang gagal dari gadis di bangku taman

Pertama, sebuah karya sastra, terutama cerpen adalah cerita yang menggambarkan suatu alur latar belakang. Terutama “sejarah” tokohnya. Banyak saya dapati, setiap cerpenis mengolah latar belakang tokohnya dari deskripsi ceritanya itu sendiri. Bahkan melalui dialog tokoh di dalamnya, pembaca secara pelanpelan mengetahui seperti apa karakter, pembawaan, sampai struktur masyarakat yang melingkupinya. Cerpencerpen Putu Wijaya, misalnya, sering memperlihatkan latar belakang tokohnya dari dialogdialog yang dilakukan tokohnya itu sendiri.

Bahkan suatu sejarah dapat diketahui berdasarkan nama tokohnya itu sendiri. Nama Minke yang digunakan Pramoedya di dalam tetralogi buruhnya, bukanlah suatu kebetulan belaka. Melalui nama yang dipakainya, Pram ingin menunjukkan suatu ragam persoalan bangsa yang dikenali dari kesalahan penyebutan nama. Bagi pembaca tetralogi buruh, pasti akan mendapatkan kesan yang implisit bahwa nama Minke adalah kesalahan pendengaran Minke sendiri dari sebutan yang disematkan kepadanya yang arti sebenarnya merujuk kepada Monkey sebagai kata yang sebenarnya.

Pram ingin bilang, melalui Minke, bahwa suatu kesadaran kebangsaan yang menolak tunduk atas gaya penjajahan tertentu di mulai dari penyelesaian atas nama yang salah. Ini mirip bagaimana teoriteori poskolonial menyadarkan manusia bahwa kesadaran atas diri bukan melalui negara bekas penjajahnya, melainkan ditemukan dari dalam bangsa itu sendiri. Artinya, Minke ketika ingin memulai suatu kesadaran baru, harus menyadari untuk keluar dari penyematan yang salah terhadapnya.

Ketika memulai membaca Gadis di Bangku Taman karya Muhajir, kekosongan yang pertama adalah ketidakberanian penulisnya dalam memberikan nama pada tokohnya. Kesalahan ini begitu fundamental karena tanpa nama, pembaca akan gagal memahami suatu karakter tokoh. Apalagi novel yang hanya dipusatkan pada si lakilaki, tidak dengan gamblang memberikan suatu gambaran selain hanya ia sebagai anak seorang ibu yang memiliki kucing yang sekaligus pengangguran.

Tidak diberikannya nama kepada tokoh cerita, menandakan Muhajir adalah orang yang gagal menghidupkan karakter tokohnya. Saya percaya, pengarang yang baik adalah pengarang yang telah siap dengan karakter tokohnya beserta bubuhan namanya. Sebab nama, seperti saya bilang adalah penanda suatu struktur kehidupan yang dari itu pembaca dapat masuk lebih jauh untuk mengenal sang tokoh. Kesalahan elementer yang di alami Muhajir ini, akhirnya memiliki dampak yang fundamental kepada keseluruhan isi ceritanya.

Hal yang sama juga terjadi pada si gadis. Seperti yang terjadi pada sang lelaki, tak ada riwayat sedikitpun yang diuraikan penulis untuk menghidupkan sang tokoh perempuan. Nama, di dalam cerpen ini adalah unsur penting yang tidak dimiliki sebagai pembangun suasana tokohtokohnya. Sang gadis yang disebut di dalam judul, hanya seperti orang tanpa identitas yang tak jelas asal muasalnya. Bahkan untuk menerka seperti apa karakternya, pembaca akan sulit menelusurinya. Di sini, adagium apalah arti sebuah nama tak bisa diajukan sebagai pembelaan bagi penulisnya.


27 Januari 2016

rahmat semesta alam, pengembara tetaplah pengembara

Setelah kemarin Muhajir, kali ini saya akan memperkenalkan kawan saya,RahmatZainal. Pemuda yang seharusnya sudah memiliki satu anak. Saya heran, dosa apa yang pernah ia perbuat kepada perempuan. Sampaisampai saat ini tidak ada perempuan yang kecantol kepadanya. Barangkali nasib di langit sana, dituliskan agar Rahmat dikandangi dari perempuan. Tapi kalau mau dibilang, justru Rahmat sendirilah yang pasang tembok Berlin di hadapan cewekcewek. Bahkan Rahmat agak gagu kalau bertemu dengan seorang perempuan seusianya.

Dalam ilmu tasawuf, untuk menjaga kemurnian ilmu, seorang sufi dituntut menjaga batinnya dari dunia syahwat. Ini mirip dengan tumbuhan padi yang harus dijaga dari beragam hama. Sehat tidak tumbuhkembangnya padi, tergantung seberapa bebas ia dari serangan hama. Seorang sufi, seperti padi, harus menjauhkan dirinya dari godaan hama dunia untuk melatih dirinya agar bersih. Wanita, bagi sufi, adalah salah satu hama yang mesti dihindari.

Saya sering bercanda, Rahmat bisa jadi adalah seorang sufi metropolitan yang hidup a la pemuda kota. Sendiri tanpa kehadiran seorang perempuan. Tapi, senang kalau dikerumuni perempuanperempuan yang baru menjadi mahasiswi. Maklum, Rahmat seringkali jadi tempat konsultasi ukhtiukhti di kampusnya. Jadi, di satu sisi, perempuan jadi musuhnya, tapi di lain sisi, justru perempuan bisa menjadi setapak jalan untuk sampai ke langit.

Yang terakhir ini, saya duga malah jadi doktrin kelompokkelompok agama untuk melecut semangat jihad. Dengan semangat jihadis, anggotaangotanya dijanjikan berpuluhpuluh bidadari di surga. Barang siapa jadi "pengantin," insyaallah mabrur menjadi syahadah dengan kerumunan bidadari.

Cara instan ini bukan cara yang dipakai Rahmat ketika dia berjihad. Jihad Rahmat adalah jihad ilmu. Bukan bom bunuh diri a la "pengantin" yang kerap nongol di mediamedia belakangan ini. Kalau saja iya, sudah lama Rahmat akan berlatih militer di negerinegeri arab sana. Atau sudah bersorban dengan membentuk koloni di pelosok Sulawesi. Mencari tanah lapang berlatih perang. Memanah dan berkuda. Dan, tentu sudah pakai sapaan ente antum segala.

Bagaimana Rahmat berjihad, ada ceritanya. Baiklah pelanpelan saja. Kita mulai.
Pertama kali saya melihat Rahmat di saat jaman baheula dulu. Ketika hamparan tanah bumi masih kosong melompong. Di waktu masih banyak homo sapiens bermukim di guagua. Saat tanah belum berganti menjadi ladangladang. Tepatnya saat dunia mengalami transisi dari era mengumpulkan makanan menjadi bercocok tanam. Ini alaf jauh sebelum Galilei Galileo menentang doktrin gereja. Yang ada hanya gali lobang tutup lobang menanam bahan makanan.

Nah, saya adalah salah satu homo sapiens yang hidup primitif itu. Sampai akhirnya saya ketemu dengan rombongan hijau hitam yang berkerumun entah kenapa. Karena di ajak oleh salah satu anggotanya, saya ikut saja. Masa itu adalah masa ketika hewanhewan buruan sulit dimakan. Dagingnya kuruskurus karena kekurangan makanan. Tanpa berpikir panjang saya ikut saja dengan ajakan mahluk yang belum saya kenal itu. Perlu diingatkan saya tertarik bukan karena ajakannya yang menginginkan suatu tata peradaban yang tamadduni, melainkan hanya ingin mendapatkan makanan gratis.

Akhirnya saya terpaksa meninggalkan gua persembunyian. Di tempat yang baru, selama tujuh hari saya diperkenalkan kepada istilahistilah yang asing. Karena belum banyak bahasa yang saya kenal, saya hanya sempat mengingat katakata semisal; teologi; epistemologi; subtansi; kapitalisme; komunisme, dan beragam bahasa yang saya tak tahu muasalnya. Selama tujuh hari saya diajarkan cara hidup beradab. Saya diajarkan untuk mengenal zat yang bernama Tuhan. Padahal sebelumnya tak ada kosakata Tuhan dalam kehidupan primitif saya. Semenjak itu, kata Tuhan lebih sering saya dengar dari orangorang di sekitar saya.

Selama tujuh hari, saya mendapatkan temanteman baru. Entah dari gua mana datangnya. Mereka seperti jenis homo erectus yang pernah saya lihat. Homo erektus ini banyak juga yang ikut, bersamaan dengan homo javakensis yang datang berbondongbondong. Tapi kebanyakan yang datang adalah homo sapiens yang tiba dengan batubatu di tangannya. Saya sendiri yang berjenis sama akhirnya bergabung bersama mereka selama tujuh hari di tempat yang lebih mirip penjara.

Di penjara itulah saya bertemu Rahmat. Dia tidak seperti homo jenis lainnya. Dia jenis baru yang tidak masuk kategori jenis manapun saat itu. Kedatangannya juga secara tibatiba. Seingat saya, dia datang di hari kelima ata keenam. Tapi yang saya ingat dia sudah duduk di belakang saya dengan memegang buku yang saya tak tahu judulnya. Buku, saat itu belum saya ketahui sebagai benda yang penting. Dengan model kehidupan primitif, yang saya tahu hanya batu berbentuk kapaklah yang bisa membuat saya bertahan hidup. Tapi Rahmat justru berbeda, dia selain datang dengan misterius, juga membawa buku yang kelak jadi benda paling penting dikehidupan kami.

Waktu itu Rahmat sudah bisa berbahasa peradaban. Cara berpikirnya jauh lebih maju. Mulutnya lancar menyebut istilahistilah yang saya tak tahu dapatnya dari mana. Saya berpikir saat itu, di gua mana ia pernah tinggal sampai memiliki bahasa semacam itu. Cerita punya cerita, ternyata ia tidak tinggal di gua. Nyatanya ia sering pindahpindah dari satu tempat penuh buku ke tempat penuh buku lainnya. Begitu seterusnya.

Hingga akhirnya saya jarang bertemu dengannya. Pernah suatu waktu saya mendengar kabar bahwa dia jadi anggota koloni yang gemar membentuk khilafah. Lama dia di sana sampai suatu saat dia sendiri yang bilang bahwa sudah murtad. Kabar terakhir yang saya dengar, dia ternyata adalah anak fakultas bahasa dan sastra di perguruan tinggi yang sama dengan saya. Hanya itu yang saya tahu saat itu. Ini kirakira ketika guagua banyak dimasuki beruang, dan saya sudah mulai tinggal di dalam kampus sendiri.

Rahmat itu seorang pengembara. Bayangkan dia sudah tiga kali menaiki gununggunung besar di Makassar. Tidak seperti orang lain yang hanya sanggup menaklukkan satu gunung saja. Toh kalau ada palingpaling hanya dua gunung saja. Sini saya kasih tahu, di Makassar setidaknya ada tiga gunung besar yang menjulang tinggi sampai angkasa. Di puncak inilah Rahmat telah menjejakkan kakinya. Pertama Gunungsari, tepatnya Gunung UNM. Di puncaknyalah Rahmat pernah lama menghabiskan waktu. Sebagai pengembara, ia banyak mengajarkan ilmu sakti hasil dari pengembaraanya kepada orangorang di sana.

Di gunung UNM, saya menduga, di sinilah dia pertama kali meniatkan dirinya untuk menaklukkan gununggunung tinggi di Makassar. Di waktu inilah saya pertama kalinya melihat Rahmat. Ketika bersama kerumunan hijau hitam dulu. Di UNM, Rahmat sudah menjelma pengembara tak bertuan. Buktinya dia minggat dari perguruan silat yang maunya khilafah melulu. Barangkali, di waktu inilah ia menemukan rahasia pengembara, tak punya urusan emosi dengan bendera apapun. Sejatinya pengembara adalah orang yang tak terikat dengan apapun.

Yang kedua, setelah lama hidup mengabdi di gunung UNM, rahmat melanjutkan perjalanannya menuju suatu gunung yang konon punya ilmu ayam sakti. Orangorang menyebutnya Unhas. Setelah lama mendaki di kaki gunungnya, ia tiba dipuncaknya hanya dalam hitungan jari. Di sana, dia banyak menimba ilmu sambil menyempurnakan ilmuilmu sebelumnya. Di saat ini, Rahmat sudah menjelma bak pendekar yang punya mantramantra sakti. Omongannya banyak yang anehaneh, tapi nyatanya banyak yang ingin mendengarnya. Sebagai pengembara, Rahmat sering membagi cumacuma mantra yang ia dapati dari guru sakti yang sering dia temui di puncak gunung Unhas.

Di puncak gunung Unhas, Rahmat sering berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya. Bahkan di setiap kampung tidak sedikit yang menjadi muridnya. Ini saya tahu ketika saya sering bertemu pasca ia bermigrasi ke gunung Unhas. Saat itu, Rahmat sudah tidak bisa disaingi. Ilmunya sakti mandraguna. Tak heran banyak yang ingin berguru kepadanya.
Seperti Che Guevarra yang sering memicu revolusi, Rahmat akhirnya melanjutkan pengembaraanya ke gunung yang terakhir; gunung Alauddin. UIN nama lain gunung itu. Di sini adalah tempat terakhir perjalanan Rahmat. Untuk sementara di tempat inilah dia mengasah kembali ilmuilmunya. Sembari bersamasama kawankawannya, mengembangkan suatu ilmu yang entah apa namanya. Ilmu ini sering dia keluarkan di saat genting. Saya pernah satu dua kali menyaksikannya. Kalau yang ini saya menduga jurus rahasianya. Tapi banyak yang tak tahu.

Di saat inilah saya banyak bertemu dengannya. Saat ini Rahmat masih jadi pengembara. Sekarang muridmuridnya bertebaran seantero Makassar. Bahkan saya diamdiam jadi muridnya sembari berpurapura sok tahu di depannya. Ya, di hadapannya, kamu iyakan saja apa yang ia omongkan, sebab dari situ banyak yang bakalan kamu tak ketahui. Itu satu petanda betapa tinggi ilmu kembaranya.


Itulah kenapa saya sering bercanda sendiri kalau Rahmat adalah seorang sufi. Tepatnya sufi pengembara. Seorang yang naik turun bukit melewati banyak lembah seorang diri. Kadang ketika dia lelah, dia sering menjamu dirinya dengan ramuanramuan kopi. Kalau yang ini Rahmat kerap di temui di warkopwarkop langganannya. Di situ dia sering memberikan ilmuilmu hasil perjalanan panjangnya. Makanya tidak ada ruginya bersamanya di saat menyaru kopi.

Seperti gambar di bawah ini. Saya berusaha mengambil gambarnya hanya untuk menceritakan sedikit ihwal tentangnya. Ini saya ambil dari salah satu warkop tempat saya nongkrong. Bagi saya penting kalian tahu tentang pengembara yang satu ini. Barangkali saja ada perempuan yang kecantol dengannya. Apalagi ilmunya, busyet! Saya saja harus berguru di banyak pendekar kalau ingin mengetahui ilmunya. Bagi saya Rahmat ini tipe manusia yang aneh. Dia sering mengembara, tapi namanya pengembara pasti ada yang disebut surat sakti dari setiap gunung yang ditaklukkannya. Tapi, apalah arti surat sakti bagi Rahmat. Seorang pengembara tetaplah pengembara. Yang ada hanya segudang ilmu dikepalanya, dan orangorang yang mau mendengarkan kisahnya.

26 Januari 2016

muhajir: lakilaki panggilan

Pemuda tanggung ini bernama Muhajir. Hanya Muhajir saja. Tidak ada nama belakang seperti nama orangorang umumnya. Saya menduga kedua orang tua Hajir, begitu ia disapa, memberikannya nama begitu karena terinspirasi dari nama sebuah masjid entah di mana. Atau karena terngiangiang kisah orangorang muhajirin di masa Rasulullah dulu. Atau memang ada harapan kelak, Hajir di suatu waktu mendirikan masjid dengan Muhajir sebagai nama masjidnya. Atau Muhajirin. Ya, tanpa embelembel nama dibelakangnya. Singkat saja.

Gambar ini saya ambil ketika dia sedang bersiapsiap mengisi diskusi salah satu lembaga di kampus orange. Akhirakhir ini Hajir memang sering jadi lelaki panggilan. Dia dalam seminggu saja bisa berkeliling tiga kali bak ustadz mengisi forumforum pengajian. Dipanggil sanasini tanpa rela dibayar. Kadang dia harus rela mengisi forum dua kali dalam sehari. Betulbetul tanpa ongkos.

Kadang saya berpikir, sebagai orang yang sering melihatnya mondarmandir dari forum satu ke forum lainnya, dia sebelas duabelas mirip tukang pijit. Hampir sebagian waktunya hanya untuk orangorang yang membutuhkan. Pergi pagi pulang sore dengan menenteng tas penuh bukubuku. Ikhlas dituntun oleh satu forum ke forum lainnya.

Kadang juga saya punya prasangka buruk tentangnya. Tidak burukburuk amat sih sebenarnya. Saya curiga dia begitu bersemangat diundang karena senang kalau di forum yang dihadirinya banyak cewekcewek yang gemesin bukan main. Biasanya, orangorang yang mendapatkan kesempatan berbicara di depan cewekcewek ala JKT48, akan begitu bersemangat mengeluarkan skill ilmu komunikasinya. Bahkan serumit apapun pembahasannya akan nampak ringan diulasnya. Janganjangan di bagian ini Hajir sudah huduri ilmunya. Semoga saja.

Kalau sudah begitu siapa yang mau mirip tukang pijat. Buta pun ogah, apalagi berjalan menentengnenteng tongkat. Bahkan bukan bau minyak gosok lagi yang tercium, justru berganti parfum akibat forum yang dipenuhi ukhtiukhti hijabers. Tapi itu jarang saya temukan. Hajir bukan tipe orang yang melek karena ukhti chibichibi. Satu hal yang bisa membuatnya begitu bersemangat mengisi kajian di manamana; makan gratis.

Untuk urusan makan, di bungker memang musim paceklik tak pernah pergipergi. Makanya, Hajir sebagai salah satu penghuninya punya profesi sebagai intelektual panggilan. Jadi semacam mengadu nasib dengan kelaparan yang kerap melanda. Makanya ada semacam hubungan simbiosis mutualisme antara pengetahuan yang dimilikinya dengan orangorang yang mengundangnya. Jadi, sebagai pengisi diskusi, Hajir akan mendapatkan makanan gratis, dan orangorang yang mendengar kuliahnya mendapatkan ilmu gratis.

Namun saya yakin justru bukan makan gratis yang diidamidamkan lakilaki tanggung ini. Hajir sebagaimana pemuda umumnya, adalah pemuda yang pernah tumbuh di luar pengawasan orang tua. Anakanak muda yang sering menghabiskan waktunya bermain gitar di ujung lorong yang angker. Lakilaki yang kalau magrib tiba segera mandi dan muncul kembali di tikungan jalan mengondos cewekcewek kampung. Di saat itulah dijemarinya mengapit sebatang rokok untuk memberikan kesan macho. Rokok bagi anak muda yang baru tiga tahun mengalami mimpi basah, adalah benda yang paling ajaib yang bisa dihisap mulut.

Rokok, betul rokok, yang membuat Hajir rela begadang membukabuka buku untuk mengisi kajian esok harinya. Saya sanksi Hajir akan membenarkan perkataan saya ini. Tapi, kuat dugaan saya, seperti saya dulu, rokok bisa membuat orang betah mulutnya berbusabusa demi perbincangan yang tiada ujungnya. Sehingga mudah ditebak, makanan gtatis hanya nilai tukar yang tak bermakna apaapa dibandingkan sebungkus rokok.

Malam ini saya sempatkan mengambil gambarnya, karena Hajir orang yang saya kenal menyukai foto yang memuat dirinya. Kalau kalian melihat gambar di bawah ini, jangan percaya dia serius membaca catatannya. Sungguh itu hanya akalakalannya saja ketika saja saya memberitahunya akan mengambil gambarnya. Sontak dia langsung purapura serius menekuni laptopnya. Padahal saya tahu, dia biasa membawa diskusi tanpa membaca lebih dahulu. Ada beberapa tema yang sudah dia hapal di luar kepala.

Itu saya tahu karena saya orang yang sedikit banyak bersentuhan dengan aktivitasnya di kampus. Dulu ketika masih urakan dia sempat rajin mengikuti kelas logika yang saya bawakan. Saya masih ingat gayanya yang menyerupai vokalis band antah berantah dengan kalung di leher dengan rambut yang dibuat miripmirip Andika kangen band. Rambutnya ya! Bukan mukanya, catat! Tapi sekarang penampilannya sudah jauh berbeda. Juga kesenangannya kepada bukubuku.

Karena bukulah Hajir jadi lakilaki panggilan. Juga dengan bukulah ilmu yang dia miliki dibagi cumacuma di manamana. Serta tujuh tahun menjadi mahasiswa melalanglang buana ditempa di macammacam forum. Entah jadi peserta, dan sekarang jadi pembicara dadakan. Ya, sering kali dia diundang dadakan, dan sering kali pula dia senyumsenyum sendiri.

Oh iya, Hajir juga penulis muda yang sedang panaspanasnya mengurus blog. Alamat blognya www.alhegoria.blogspot.co.id.. Ups, salah, maaf itu alamat blog saya. Sorry. Alamatnya, kalian tanya dia saja langsung. Kalian punya pin BBM kan, mumpung dia sedang asik BBMan dengan gawai barunya. Kalau tentang tulisannya, kalian tidak bakalan rugi membacanya. Dia juga bisa kalian temui di kelas literasi Paradigma Institute. Tiap akhir pekan dia aktif di sana. Bahkan dia salah satu orang yang turut membawa nama Paradigma Institute sebagai background namanya.

Yang terakhir, Hajir pernah berkata akan melanjutkan studinya. Hajir anak pendidikan. Seperti yang saya bilang, dia menghabiskan tujuh tahun di kampus. Sempurna. Menurut saya, Hajirlah satusatunya orang yang menghabiskan karirnya sampai berdebu di kampus seperti saya. Sekarang dia berkeras ingin kuliah kembali. Namun, bukan tujuh tahun ya! Mudahmudahan kalau dia sudah lanjut, dia masih bisa diajak berdiskusi sebagai lakilaki panggilan. Amin ya Allah.


25 Januari 2016

bunker dan seekor anak kucing

Sore kemarin sepulang dari TB Paradigma, saya menyempatkan singgah di Bunker. Bunker adalah istilah untuk menyebut rumah yang kami sewa sebagai sekretariat. Kalau mau dilihat, rumah yang kami tempati sebenarnya sudah tidak layak huni. Atapnya banyak yang reyot bocorbocor. Temboknya sudah retakretak. Lantainya saja banyak yang terisi pasir. Kalau hujan, jangan bilang, kamu bisa mancing ikan di dalamnya. Kalau bukan ruang tengah yang bertegel, barangkali tak ada yang mau tinggal di sana.

Sejarahnya panjang mengapa kami bisa tergusur sampai ke sana. Itupun sebenarnya kami hanya menumpang. Asli menumpang bung! Karena berdasarkan perjanjian, kami harus angkat kaki dari tempat itu. Hanya saja, pemiliknya masih berbaik hati agar kami menempatinya. Kabarnya, tempat itu akan dia jadikan koskosan, tapi karena masih menunggu waktu yang tepat ia urungkan niatnya.

Yang mesti kamu tahu, selain tempatnya yang di bawah hunian layak. Kata bunker bisa menjelaskan karakter hunian tempat kami. Dulu tempat kami memiliki pandangan yang luas menghadap ke selatan. Sedangkan di sebelah barat ada bekas bangunan yang diruntuhkan. Akibatnya, di sebelah barat juga memiliki pandangan yang luas.

Namun, setahun belakangan tepat di depan pintu, dibangun rumah berlantai tiga. Sedangkan lahan kosong yang ditinggal bangunan runtuh ditumbuhi semaksemak belukar. Akhirnya, karenanya rumah kami jadi tempat yang tersembunyi. Bahkan nyaris tidak kelihatan kalau kamu melewatinya dari sebelah barat. Bagi orangorang yang lewat pasti tidak menyadari kalau di situ ada rumah berdiri.


24 Januari 2016

Sulhan Yusuf: "Ini Mirip-Mirip Komunis"

Kemampuan menulis selalu ditopang dengan kemampuan membaca. Begitu pesan pembuka yang disampaikan Sulhan Yusuf ketika memberikan kuliah umum di Inaugural Class Sekolah Literasi Paradigma Institute, 24 Januari, berlokasi di TB Paradigma Ilmu, Pabbentengan, Makassar.

Tidak ada penulis yang baik, sebelum menjadi pembaca yang baik, dijelaskan Sulhan adalah rumusan paten bagi siapa pun yang ingin menjadi penulis. Hubungan ini sifatnya komplementer, yang satu hanya bisa bekerja kalau yang lain diandaikan secara bersamaan.

Di pertemuan perdana ini, Sulhan juga menjelaskan tentang maqammaqam literasi. Maqam pertama adalah tingkatan baca dan tulis. Tingkatan baca tulis adalah kemampuan elementer tiap orang. Di tingkatan kedua, menulis karena kewajiban. Orang menulis sering karena tuntutan profesi. Orang menulis hanya memenuhi tuntutan kerja. Kedua maqam ini disebutkan Sulhan terjadi hanya karena ada tekanan eksternal. Terkadang katanya, mahasiswa menulis karena didorong oleh dosen yang memerintahkannya. Di tingkatan ini seseorang belum seperti di maqam ketiga, maqam ruhani. Maqam ruhani diungkapkan Sulhan, karena tulismenulis sudah merupakan panggilan ruhani.

Setiap maqam menurut pria berkepala plontos ini, harus diikat dengan apa yang disebutnya asas kejujuran. Baginya banyak penulispenulis yang sering tidak jujur dalam menulis. Banyak penulis yang memiliki kemampuan literasi yang baik, malah kadang tidak jujur. "Bahkan dari pengalaman saya, ada beberapa tulisan saya yang sering dimanfaatkan pihak tertentu dengan cara copy paste. Bahkan mau diikutkan lomba," bebernya.

Di maqam ruhani, ungkap Sulhan, tulisan menjadi sidik jari bagi penulisnya. "Kata kak Alwy Rahman, melalui sidik jari, seseorang dapat mengekalkan identitasnya." "Makanya kalau menulis, seseorang mudah dikenali dari tulisannya," lanjutnya.

Internalisasi, kata Sulhan mirip dengan aktifitas makan yang dibutuhkan oleh seorang penulis pemula. Namun, sebagai konsep, ruhani membutuhkan makanan ruhani pula untuk dikelola qalbu. Ruhani, disebutkan banyak membutuhkan asupanasupan gizi lebih dari sekedar makanan biasa. Hal ini karena qalbu akan menjadi powerfull lebih dari kualitas sebelumnya. Kaitannya dengan bacaan, diharapkan pagi penulispenulis muda harus banyak melahap habis bacaanbacaan berkualitas. Tujuannya, tambah Sulhan, itu akan mendorong lahirnya tulisantulisan yang berkelas.

Kelas literasi kali ini tidak jauh berbeda dengan kelas angkatan pertama. Semua yang terlibat bisa menyetor tulisannya berupa cerpen, novel, puisi, berita, esai, kritik sastra, drama, atau opini. Semua bisa memilih beragam genre tulisan yang dibagi menurut fisksi atau non fiksi. "Sebenarnya kalau dibilang kelas baru bukan juga, karena peserta kelas lama juga bisa nimbrung di kelas yang baru. Lagian tidak ada yang namanya penulis hebat di sini. Semuanya sama," jelas Ceo Paradigma Insitute ini.

Di pertemuan perdana ini juga dijelaskan mekanisme teknis kelas literasi. "Kelas dibuka tiap pekan pukul 14.00. Syarat utamanya setiap anggotanya wajib membawa tulisan sebagai bahan omongan di saat kelas berlangsung. Jadi, barang siapa yang ingin datang dengan hanya membawa gagasan tanpa tulisan maka dengan sendirinya akan ditolak," tegas Sulhan.

Di tengah penyampaiannya, Rezky, salah satu peserta baru mempertanyakan soal bagaimana caranya menghilangkan rasa kurang percaya diri ketika mem-publish karya tulis sementara akan ada orang yang mengklaim bahwa itu bukan karya kita sebenarnya. "Itu karena kita tidak jujur dalam menulis, kalau kita menulis dengan jujur mustahil kita akan takut. Kalau memang ada bagian tulisan kita yang mengutip, maka jujurlah sertakan dari mana Anda mengutip," tangkas Sulhan.

Sementara itu salah satu peserta baru, Jahir, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kelas literasi Paradigma Institute. "Di sini ternyata ada tiga hal yang dieksplore, pertama tindakan menulis, kedua tindakan membaca, dan ketiga yakni kemampuan mempersentase. Jadi sekali ikut bisa tiga kualitas yang diasah," ungkapnya setelah mengikuti kuliah umum.

Bukan Ajang Tanding

Ditemui pasca kelas perdana, bersama pesertapeserta baru, Sulhan, kembali membeberkan bahwa di kelas literasi tidak ada ajang tanding. "Kelas literasi bukan ajang tanding. Setiap peserta memiliki pertofolio yang akan dijadikan sebagai bahan evaluasi. Prinsipnya setiap pekan, peserta menabung tulisannya untuk dijadikan naskah evaluasi. Sehingga setiap minggu kita bisa melihat sejauh apa perkembangannya. Cara kerja seperti ini dianggap efektif untuk menghilangkan suasana persaingan antara peserta." Katanya diselasela perbincangan.

Output dari mekanisme yang diterapkan, Sulhan katakan akan ditandai dengan publikasipublikasi yang ditujukan ke korankoran lokal. Publikasi adalah salah satu capaiancapaian yang memang menjadi tujuan dari kelas literasi. Bahkan Sulhan menabalkan, setiap tulisan yang dikumpulkan bisa diterbitkan menjadi suatu karya tulis berupa buku.

Paradigma Institute, dijelaskan Sulhan selama ini sudah banyak menginisiasi penerbitan beberapa karya tulis buku. Untuk menyebut diantaranya adalah Airmatadarah, Dari Rumah Untuk Dunia, Ziarah Cinta dari beberapa penulis. Bahkan, bocornya, tahun ini Paradigma Institute sedang menyiapkan beberapa naskah untuk diterbitkan.

Di kelas literasi sikap solidaritas dan altruis merupakan semangat bersama yang sampai hari ini menjadi ikatan bersama. Bahkan kelas literasi tidak sama sekali dibebankan biaya pendaftaran dan administrasi. "Tidak ada uang apapun yang dipungut. Ini miripmirip komunis" canda Sulhan. "Intinya cara kami menjalankan kelas literasi menggunakan prinsip kerjasama," tambahnya.

Dari bocoran yang didapatkan melalui sumber yang tak ingin disebutkan namannya, kelas tahun ini "berani" menerbitkan semacam buletin yang terbit perdana di bulan Januari. "Kala nama selebarannya, ini mengingatkan bahwa dulu perjuangan literasi ditopang dengan selebaranselabaran macam begini. Bahkan koran dimulai dari selebaranselebaran" jelasnya sambil memperlihatkan selembar kertas copyan putih. Disebutkan pula, Kala akan terbit tiap pekan dengan memuat tulisantulisan kelas literasi Paradigma Insitute. "Iya, rencananya Kala akan terbit tiap pekan, kalau mau bisa digandakan," pungkasnya.

23 Januari 2016

Buku, Tuhan dan Kucing-kucing Kesepian

Untuk urusan membeli buku, kadang saya jadi irasional. Apalagi kalau membeli buku yang lama dicaricari. Tanpa banyak perhitungan walaupun uang sekadarnya, hasrat memiliki buku jauh lebih besar dibandingkan urusan bertahan hidup. 

Saya pikir beberapa hari kurang makanan tidak akan membuat saya menjadi pengemis, apalagi mati kelaparan. Sejak dulu saya punya prinsip, orang gila  yang tidak memiliki apaapa bisa bertahan hidup, apalagi orang yang punya akal sehat. Di manamana, akal sehat kalau digunakan dengan baik pasti akan memberikan jalan keluar. Makanya saya berani berkorban membeli buku.

Berani berkorban inilah yang saya sebut irasional. Anda boleh sepakat atau justru memiliki pendapat  berbeda tentang rasional tidakkah sikap berkorban itu sebenarnya. Tapi saya memiliki pendapat orang yang melakukan bom bunuh diri, rela mati demi meninggalkan orangorang yang dicintainya karena suatu alasan di luar akal sehat. Kalau dia berpikir rasional mana mungkin dia mau mengambil sikap yang destruktif seperti itu. Rela berkorban dalam kasus bunuh diri, bisa panjang urusannya kalau kita mempersoalkan dahulu apa itu tindakan rasional, apakah melakukan sesuatu demi tujuan yang jauh lebih besarlah yang disebut rasional. Atau karena tindakan yang diambil telah ditimang dengan ukuranukuran tertentulah suatu tindakan disebut rasional?

Yang pastinya, akal sehat saya hanya bekerja pasca membeli buku. Terutama bagian ketika bagaimana memperpanjang hidup dengan kekurangan uang. Saat inilah saya harus memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Memutar otak yang saya bilang tentu bukan arti harfiahnya, malah saya kira anda tahu maksud yang dirujuk istilah itu. Di pikiran saya, salah satu cara untuk bertahan ialah memanfaatkan relasi pertemanan. Ini cara yang selalu berhasil saya lakukan. Terutama saat hidup kere di kampus.

Biasanya, lapar secara berjamaah jauh lebih baik dibandingkan sendirisendiri. Di saat itulah akal bersama akan bekerja lebih canggih ketika itu dibandingkan tanpa ikatan kebersamaan. Hidup bersama kawanan memiliki dampak buruk, sikapsikap manja akan terbersit jika ada halhal yang sebenarnya bisa dilakukan secara sendiri, malah meminta bantuan kepada kawan yang ada. Hidup kawanan tidak bisa menjadikan Anda seperti elang, tapi malah membuat Anda jadi seperti seekor kucing.

Namun, di saat lapar, kucing bisa menjadi hewan yang baik. Dia rela memberikan pertolongan bagi sejumlah kawanannya. Ketika memiliki sedikit makanan, pasti dia menyisihkan seperempatnya biarpun itu hanya berupa tulang ikan. Kesetiakawanan kucing, sering saya temukan di dalam hati temanteman di saat waktu makan siang atau malam. Di saat pagi malah jarang karena memang di waktu itulah kami bertahan tanpa makanan.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kucingkucing juga terkadang egois. Apalagi jika menyangkut musim kawin. Terkadang di masamasa itu kucingkucing jadi sensitif. Hingga itu berefek kepada saat berbagi rezeki. Jangankan berbagi, untuk mengajak makan bersama saja batang hidungnya tidak bakalan kelihatan. Toh kalau muncul, perutnya sudah besar akibat makan bersama kucing jenis hello kitty. Saya yang sudah kepalang lapar, harus mencari kucingkucing kesepian yang bernasib sama.

Ada artikel yang sempat saya baca mengenai bagaimana sikapsikap orang berhubungan dengan buku. Bahkan sikap bagimana manusia memberlakukan buku dibaginya bertingkattingkat berdasarkan kesenangan dan kecintaan. Disebutkan bahkan ada orang yang membeli rumah hanya untuk menampung jutaan buku yang dipunyai. Juga, banyak orang yang mempunyai ribuan buku, dituliskan justru tak satupun pernah dibacanya. Orangorang macam ini, disebutnya dengan suatu istilah yang saya lupa namanya. Semacam istilah dalam ilmu psikologi.

Menggilai buku juga disebut sebagai suatu sikap yang mendua. Ada orangorang yang senang melihat keindahan bukubuku dijejer di rakrak buku. Ada orang yang memang memiliki buku atas dorongan ilmu pengetahuan. Juga, banyak orang yang mengoleksi buku atas kesenangan semata. Sikap ini miripmirip kolektor prangko. Yang dilihatnya bukan isi bukunya itu sendiri, melainkan malah berupa gambargambar yang nampak dari cover atau halamanhalamannya.

Bahkan, perlakuan negatif terhadap buku juga sempat disebut dalam artikel yang saya sudah lupa di mana menemukannya. Perlakuan negatif ini berupa aksiaksi kekerasan yang ditunjukkan dengan cara merampas bahkan sampai membakar. Motivasinya bisa saja karena kebencian terhadap ilmu pengetahuan, atau memang ingin menghilangkan ilmu pengetahuan dari peredaran peradaban. Yang terakhir ini, banyak ditemukan di negerinegeri yang belum menyadari arti penting bukubuku. Bahkan ada negeri yang sudah berperadaban, justru menghilangkan bukubuku karena khawatir kekuasaan pemerintahannya terganggu.

Untuk tingkatan tertentu, memang ada orang yang seperti kesurupan kalau ingin memiliki buku. Mereka bisa jadi orang gila kalau melihat paginapagina tersusun rapi. Kesadarannya bahkan langsung lenyap seketika. Yang ada hanya b-u-k-u di dalam kepalanya. Tiada yang lain. Mungkin Tuhan juga hilang. Bahkan buku itu sendirilah Tuhannya. Orang jenis ini sangat jarang ditemui. Tapi yakin dan percaya, mereka bisa jadi berada di sekitar Anda.

Saya belum sampai ke tingkat yang demikian. Buku belum menjadi Tuhan bagi diri saya. Ilmu tauhid masih bekerja dengan baik di kepala saya, mana Tuhan sesungguhnya, mana buku ciptaan Tuhan. Walaupun terkadang yang terjadi lewat buku saya mengenal Tuhan. Begitu pula saya masih bisa tahu lewat buku, orang bisa menjaga kesadarannya. 

Itulah sebabnya, semalam saya rela membeli buku walaupun harihari ke depan saya harus mencari kucingkucing yang senasib. Karena saya tahu, bersama kucingkucing lapar, Tuhan kerap datang untuk bilang "sembunyikan cakarmu, walau belangmu berbeda." Di situ saya jadi sadar, lewat kelaparan bersama kucing senasib, kita bisa bersamasama duduk dengan Tuhan sembari bincangbincang tentang buku baru yang sempat dibeli.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...