13 Januari 2016

pliss..jangan menggonggong anjing!!


Kawan, mari dengarkan cerita saya. Tolong diperhatikan ya. Jangan gawai terus yang diurus. Barangkali kalian punya masalah yang sama. Baiklah. Jujur saya sangat khawatir dengan gonggongan anjing. Bisa dibilang sebenarnya saya takut terhadap anjing. Jadi bukan saja suara gonggongannya, tapi anjingnya kawan. Kalau dibandingkan, saya lebih takut anjing daripada gonggongannya. Apalagi kalau anjingnya yang menggonggong. Bukan main dua kali lipat takutnya saya. Biarpun kafilah sudah berlalu, ketakutan saya masih saja saya rasakan sampai sekarang.

Ceritanya begini. Dahulu kala, pada suatu waktu hiduplah seekor anjing dari negeri antah berantah. Dia hidup di perkampungan penduduk yang gemar memelihara anjing. Kebiasaan perkampungan itu memelihara anjing tiada lain untuk menjaga pekarangan rumah penduduk tetap steril dari para penyamun. Alhasil untuk membuat tetap bugar sehat wal afiat, anjinganjing yang tumbuh dibiarkan berkeliaran untuk menjaga agar peka terhadap setiap sudut kampung. anjinganjing yang dibiarkan tumbuh dengan alami, akhirnya menjadi anjing yang super cepat dan tangkas. Mereka tumbuh dengan luar biasa sempurna.

Celakanya, di sebelahnya, hiduplah kakak beradik yang selalu melewati perkampungan penuh anjing hanya untuk menunaikan sebagian dari agamanya; belajar mengaji. Malangnya, selain mesjid tempat mengaji jauh, kakak beradik ini harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Ini bukan karena pertimbangan setiap langkah kaki menuju mesjid akan dihitung sebagai pahala, melainkan hanya memang lewat kampung itulah jalan pintas yang paling dekat menuju mesjid.

Nah, perlu dijelaskan di sini, kakak beradik yang belum akil balik itu harus ke mesjid tiga kali selama seminggu. Jadi bayangkan selama tiga hari mereka harus menjaga kesucian badaniahnya dari gerayangan anjinganjing. Bagi anakanak seumuran mereka, menjaga kesucian badaniah adalah prinsip utama beragama. Masak kalau mendirikan sholat,  baju harus penuh dengan bulubulu kucing. Kan kata ustadz itu najis. Apalagi kalau itu bulubulu anjing. Wah bisa runyam di akhirat nanti.

Juga kakak beradik itu sering menghabiskan waktu bermain tanah. Masak ketika pergi mengaji tubuh masih penuh dengan tanah. Nanti di saat pergi mengaji, nanti dikiranya belum mandi. Seharusnya tubuh harus bersih kan? Biarpun manusia berasal dari tanah, bukan berarti badan harus penuh tanah saat menghadap Tuhan maha pencipta tanah bukan? Makanya itu tubuh harus dijaga sesucisucinya.

Maka godaan apalagi yang paling berat selain melewati perkampungan penuh anjing tanpa mengalami hadas. Bayangkan betapa beratnya ujian yang harus dilewati kakak beradik ini. Mereka harus berjalan dengan cara pelan sepelanpelannya. Seperti sudah terbiasa melewati pekarangan rumah yang memiliki anjing. Bersabar mengayunkan kaki mereka tanpa mengundang kecurigaan anjinganjing yang tidur bermalasmalasan.

Begitulah yang dialami kakak beradik ini sampai akhirnya tiba waktu suatu kejadian yang banyak mengubah segala hal. Termasuk trauma mendalam yang di alami oleh salah satu di antaranya.

Singkat cerita, ketika hobi berlari menjadi semacam kesenangan baru bagi kakak adik ini, di saat pulang mengaji ada inisiatif aneh untuk menguji kecepatan berlari  di antara mereka. Caranya sederhana, mengganggu anjinganjing yang sedang tidur bermalasmalasan.  Mekanisme kerjanya setelah beberapa meter  jauhnya dari anjing yang ditarget, kakak beradik ini memulai aksi nekadnya; membangunkan anjing yang pulas tertidur.  Caranya sederhana, hanya menirukan suara nyalak anjing dan sedikit memperlihatkan ancangancang berlari. Tak butuh berapa lama, umpan akhirnya di makan target.

Kawan, ini bukan mancing mania, yang ketika umpan telah dimakan maka tugas pemancing hanya diam ditempat sambil menarik ikan tangkapannya. Ini anjing kawan. Yang harus kamu lakukan setelah membuat gusar anjing yang sedang asikasiknya tidur siang adalah berlari sekencangkencangnya. Apalagi ini sebenarnya adalah uji kecepatan berlari. Karena itulah siapa yang paling cepat sampai di seberang jalan maka dialah juaranya. Jadi tak ada yang disebut, mancing mania, mantap!!!

Sial, tunggu dulu, sepertinya ada yang aneh. Bukankah kalau hanya untuk menguji siapa yang paling cepat berlari tidak harus mengikutkan anjing sebagai ujiannya bukan? Kalian hanya cukup menyepakati suatu titik sebagai tujuan akhir  yang mana siapa yang paling cepat sampai maka dialah juaranya kan? Bangsat. Ide siapa sebenarnya ini. Terlanjutr nasi sudah jadi bubur. Anjing itu sudah terlanjur berlari. Sudah tidak ada waktu lagi. Maka kakak beradik itu hanya bisa berlari sekuatkuatnya agar selamat dari rahang anjing kampung dewasa.

Dasar anakanak, dikepalanya belum bisa membandingkan kecepatan berlari anjing dewasa dengan kecepatan berlari anak kecil berusia dua belas tahun. Tamat SMP saja belum. Paling banter baru saja menuntaskan hapalan kalikalian sembilan sambil terseokseok dikalikalian delapan. Itupun setelah dipaksa oleh kepala sekolah yang senang mengagetkan muridnya dengan todongan pertanyaan kalikalian secara tibatiba. Jadi kalau tidak bisa menjawab akibat kaget mendapat pertanyaan ketika kepala sekolah masuk tibatiba, maka tunggu saja sampai terlambat pulang.

Sehingga modal utama kakak beradik itu hanya kesombongan dari keyakinan bahwa mereka  mampu mengalahkan kecepatan anjing berlari. Tapi ternyata itu hanyalah keyakinan di dalam kepala anak ingusan yang tak tahu diuntung.  Kejadian sebenarnya tidak sampai lima menit, posisi anjing yang semula masih terlihat jauh sudah berada beberapa meter dibelakang pantat tepos kakak beradik itu. Siapa sangka tuhan menciptakan mahluknya dengan kelebihan masingmasing. Ternyata anjing itu punya kecepatan berlari yang super cepat. Dan pantat dua anak ingusan yang jadi sasaran empuk anjing yang sedang gusar.

Entah dari mana anjing itu mendapatkan kekuatannya. Caranya berlari bukan seperti anjing panuan yang pincang akibat dihajar warga kampung. Yang ini sungguh anjing yang sehat. Entah vitamin apa yang diberikan pemiliknya. Hanya dengan perbandingan lima langkah berbanding satu, suara gonggongan anjing ini mirip sirine yang meraungraung di jalan raya yang padat. Dari caranya menyalak, jelas sekali anjing ini begitu bergairah melompati dua tubuh ceking anak ingusan yang menjadi targetnya. Ehm..keadaan nampaknya menjadi terbalik. Semula anjing ini yang dijadikan umpan berlari, tapi sekarang justru..akh kau tahulah siapa kawan.

Maka tak lama, ketika jarak bukan lagi penghalang antara dua mahluk tuhan yang berjauhan, dengan ijin yang di ataslah dua mahluk tuhan akhirnya dipersatukan. Kun faya kun, terjadi maka terjadilah, salah satu pantat dari dua anak manusia itu mau tak mau harus ikhlas disantap moncong anjing sialan tak tahu belas kasihan. Entah pantat siapa. Yang jelas bukan sang kakak yang menemukan takdirnya. Justru di sore itu, erangan sang adik membuat perlombaan itu menjadi nasib yang sial.

Ya, perlombaan itu nyatanya berubah menjadi bencana. Pantat sang adik akhirnya harus jadi ajang amukan moncong anjing. Celananya langsung sobek dicium mulut anjing. Sementara di pantatnya ada bekas gigitan anjing. Sampai di sini, kita tak tahu apakah saat itu sang anjing sudah menggosok giginya. Yang pasti, namanya anjing, giginya bukan main tajam kawan. Beruntung saat itu belum ada anjing stres akibat virus rabies. Kalau saja saat itu yang menggigit adalah anjing rabies, bisa jadi sudah banyak bekas suntikan di perutnya.

Setelah peristiwa itu terjadi, sang adik harus lama berdiam di atas tempat tidur menjaga pantatnya tetap steril. Dan kemudian, mereka berdua akhirnya kapok melewati perkampungan horor itu. Tidak lama dari kejadian itu, aktivitas mengaji jadi terhenti. Sementara sang kakak tibabtiba langsung kehilangan nyali saat melihat anjing. Apalagi mendengar suara anjing yang menyalak. Diamdiam sang kakak mengalami trauma berat pasca bencana. Ya, itu bencana kawan. Siapa yang mau pantatnya jadi santapan gratis anjing kudisan. Jadi ini bukan luka sederhana. Ini trauma yang super berat.

Kamu sudah paham kan siapa yang mengalami gangguan psikologis berat karena anjing. Sayalah orang yang kehilangan nyali kalau berhadapan langsung dengan hewan paling menakutkan sedunia itu. Bahkan saya pernah terjatuh dari motor akibat suara gonggongan anjing. Apa lacur maksud hati ingin menambah gas, justru berakhir mencium aspal jalanan. Karena itulah sampai sekarang saya trauma kalau mendengar orang menyalak, maka akan saya kira anjing. Apalagi kalau memang yang menyalak adalah anjing yang sebenarnya.

Fajar sudah besar, dan saya juga sudah besar. Yang saya sesali adalah trauma dan ketakutan saya yang semakin akut. Musababnya akhirakhir ini kalau malam, semakin banyak anjing berkeliaran di rute jalan yang sering saya lalui. Jadi pliss.. kalau kamu bertemu saya di jalan jangan sampai berteriak, apalagi menyalak, seperti yang saya bilang, kamu akan saya kira anjing. Cukuplah gerombolan berjubah saja yang sering menyalak. Mereka sebelas duabelas seperti anjing. Omongomong apakah kamu tahu cara menyembuhkan penyakit saya?


Kunci Motor Sialan!

Saya itu orangnya sering kali banyak lupa. Termasuk halhal sepele. Saya seharihari  untuk ke manamana selalu menggunakan sepeda motor. Ke kampus naik motor, berkeliling mencari warkop naik motor, apalagi jalan memutarmutari kota pasti naik motor. Nah, di saat memarkir motor inilah saya sering lupa mencabut kunci dari katub motor. Entah kenapa itu sering terjadi, tapi itulah kenyataannya.

Untuk kelalaian ini saya harus banyak berterima kasih kepada orangorang yang sering menemukan kunci saya yang tergantung begitu saja. Biasanya mereka adalah tukang parkir. Coba bayangkan kalau itu ditemukan oleh orang lain. Misalnya pemuda pengangguran yang sedang lewat, sementara di kepalanya punya niat jahat lantaran hidup terluntalunta akibat krisis ekonomi. Urusannya bisa tambah runyam. Atau misalnya tukang parkirnya adalah orang yang ternyata mantan residivis kelas kakap.

Tapi ternyata masih ada orang baik. Termasuk tukang parkir yang rela berpanaspanasan itu. Bagaimana kalau motor kita tibatiba raib entah ke mana, sementara tukang parkirnya hanya bisa bengong dengan simpritan yang masih menempel di mulut ketika ditanya. Kan bisa bikin jantung copot tibatiba. Apalagi kalau saat itu ada urusan penting misal harus bayar rekening listrik yang jatuh tempo. Gawat.

Pernah suatu kali tak ada tukang parkir yang menemukan kunci saya yang hilang. Saat itu saya pikir memang tak ada tukang parkir. Apalagi tempat yang disinggahi memang bukan tempat yang memiliki lahan parkiran. Sehingga motor ditaruh begitu saja setelah distandar. Tanpa pikir panjang saya langsung bergegas pergi. Lama saya bertandang. Dan ketika pulang, astaga kunci motor tidak berada di saku celana. Pasti masih berada di motor. Benar saja.Untung masih menggelantung seperti semula. Juga motor tidak raib begitu saja. Hampir saja.

Kalau saya kemanamana, biasanya selalu tersedia tas kecil yang saya bawa. Maklum saya ingin kalau kemanamana tidak lagi ribet dengan tas ransel yang super besar. Tidak seperti dulu yang mana tas ransel merangkap jadi lemari. Jadi kalau kemanamana mirip orang yang mau mengungsi dengan tas terisi penuh bajubaju. Itu dulu waktu masih hidup nomaden. Sekarang sudah tidak. Alhamdulillah.

Sekarang justru hanya berupa tas kecil yang simpel dibawa pergi. Isinya juga semakin sedikit, hanya beberapa buku dan satu lembar baju. Serta kabelkabel cas untuk persiapan charger. Flash disk. Gunting kuku. Headset. Dan tidak lupa bulpen dan kertaskertas tidak jelas. Nah di tas inilah biasanya saya menyisipkan kunci motor.

Jadi biasanya kalau kunci motor lupa dicabut dari induknya, maka di dalam tas kecil itulah saya sering mencarinya. Setelah merogokrogoki di dalam saku celana, maka di dalam tas itulah terkadang saya menemukannya. Hanya saja beberapa kali saya tidak menemukannya di dalam kantung tas kecil hitam itu. Kalau sudah begini rasarasanya kepanikan mulai melanda. Aduh ditaruh di mana kunci kecil itu. Sialan.

Yang bikin menjengkelkan jika itu terjadi di saatsaat penting. Misalnya di saat terburuburu janjian bertemu bapak presiden. Rasanya ingin berteriak saja. Puki mak! Jangan di saat sekarang, ketika ada agenda penting. Asu! Di mana lagi besi kecil itu di letakkan. Setelah keringat habis disapu udara kering, astaga, ternyata masih setia tergantung di atas motor. Dasar tak tahu diuntung. Menjengkelkan.

Kejadian macam itu akhirnya jadi pengalaman yang sungguh tidak mengenakkan. Saking seringnya terjadi, temanteman sering bercanda coba kuncinya di miss call. Taik! memangnya handphone apa. Tapi seandainya kunci motor punya teknologi mirip handphone, sehingga bisa di hubungi via jaringan, maka saya orang pertama di dunia yang akan membelinya. Sudah pasti itu. Sungguh.

Pernah ada teknologi semacam itu, yang bisa dijadikan alat jika kunci atau barangbarang kecil lainnya lalai ketika disimpan. Alat itu dijual oleh spgspg bersamaan barangbarang semisal pencukur kumis, kanebo, baterai, bahan pencuci motor, atau bendabenda lain yang dibawanya dalam tas hitam besar. Alat itu semacam gantungan kunci yang bisa berbunyi jika menangkap suara. Jadi cara kerjanya, alat itu akan mengeluarkan bunyibunyian ketika kita mengeluarkan suara lewat siulan atau bertepuk tangan. Nah, lewat suara alat itulah kita bisa tahu di mana letak kunci yang sempat hilang akibat digantung alat unik ini.

Namun sayang, alat itu hanya dibekali baterai yang gampang soak. Juga kemasannya lebih mirip hadiah makanan ringan yang sering diselipkan untuk membuat anakanak ingusan sumringah ketika menemukannya sebagai hadiah di siang bolong. Makanya saya urung membelinya. Begitu pula saya sanksi, kok bisabisanya ada alat seperti itu. Aneh bin ajaib. Sudahlah, tanpa alat itu saya juga masih sering beruntung kalau kehilangan kunci motor.

At last, saya akhiri dulu tulisan ini bung. Persetan dengan alat macammacam itu. Emosi saya sudah setinggi gunung kilimanjaro. Semoga kamu juga tidak bakalan naik pitam. Kalau naik haji bolehlah. Itu sebaikbaiknya usaha. Semoga haji kalian mabrur. Semabrurmabrurnya. Dan...waduh sepertinya saya sudah gagal fokus. Bangsat! Ini karena besi kecil itu hilang lagi. Oke bung. Emosi saya bakalan meledak. Saya harus bergegas mencari kunci sialan itu. Taik.


11 Januari 2016

awas, kamar mandimu!!


Kau tahu kawan, tempat yang paling mengerikan itu ternyata kamar mandi. Ya, kamar mandi. Sudut kecil yang jarang terurus. Karena sering diabaikan, makanya jadi tempat paling membahayakan. Itu saya tahu ketika baru saja menurunkan jangkar di kamar mandi teman saya. Sorry, bukan punya teman saya, tepatnya kamar mandi sejuta umat; rumah kos.

Seperti Descartes, di tempat kutu kumpret itu, saya menemukan terang kesadaran yang jelassejelasnya, yakni nyawa bisa hilang tibatiba di dalam kamar mandi. Kenapa bisa? Kawan, sini saya beri tahu. Di kamar mandi, terutama kamar mandi sejuta umat, bekas sabun bisa menjadi sebab dominan kematian seseorang. Efeknya hampir sama dengan racun yang dimasukkan ke dalam tubuh Munir oleh Pollycarpus. Musababnya sederhana, yakni karena dia licin. Maksudnya?

Oke. Baiklah sepertinya saya harus menjelaskan secara kronologis. Perhatikan baikbaik kawan. Siap. Mari mulai. Kapan kalian sering mengunjungi lubang abadi di closet itu? Di waktu pagi? Saat kalian bangun setelah bermimpi bertemu bidadari? Atau saat menghabiskan satu aliran air sungai gangga? Atau saat menjelang tidur malam? Ketika mata sudah beratberatnya? Atau.. Akh saya pikir hampir di tiap saat kita masuk berziarah ke dalam kamar mandi. Nah kalian tahu kawan, di saat itulah nyawa kalian jadi taruhannya. Sudah mulai paham?

Begini. Kita pelanpelan membahasnya. Nah ketika kamu masuk di dalam kamar mandi, entah karena ingin berak atau mandi besar, sabun adalah benda paling penting di dalam kamar mandi. Sabun, kamu tahu, benda yang hampir semuanya berbahan lilin itu sangat peka dengan air. Bahkan penggunaannya diwajibkan menggunakan air. Jadi bukan sunnah. Artinya kamu tidak bisa memilih untuk tidak menggunakan air di saat memakai sabun. Orang gila namanya itu, menggosokan sabun tanpa air. Nah, karena air inilah sabun menjadi berbahaya. Sudah paham?

Sepertinya saya harus bersabar. Tidak apaapa saya masih punya banyak waktu. Jadi sabun yang habis terpakai sudah takdirnya meninggalkan bekas yang mendalam di lantai kamar mandi. Ini terjadi karena sabun memang memiliki zat kimia yang tidak mudah hilang begitu saja. Zat kimia inilah unsurunsur yang setiap saat menjadi ancaman bagi kamu pengguna kamar mandi. Apalagi kalau kamar mandi yang digunakan sangat jarang dibersihkan. Sudah berapa banyak timbunan lilin yang melekat begitu saja di atas lantai.

Bagaimana sudah mulai jelas kan? Ya, betul sekali. Kamu bisa terpeleset jika tak kokoh menginjakkan kaki di atas lantai. Parahnya kalau itu tidak dibarengi dengan daya cengkram yang kuat kepada sesuatu. Maksud saya tangan anda yang tidak memiliki pegangan hidup. Perlu dipahami, ini pegangan hidup yang berarti sebenarbenarnya pegangan hidup. Arti harfiahnya kawan. Kalau sudah begitu banyak kemungkinan yang akan terjadi. Kamu bisa terpeleset dan langsung jatuh, atau jatuh terpeleset langsung mati. Kalian tahu kan bedanya. Yang kedua itu nyawa langsung terbang melalui atap bocor di atas kamar mandi anda.

Itu baru sabun kawan. Kamu tahu kan kalau di kamar mandi sabun bukanlah satusatunya benda penting. Maksud saya sabun itu mirip konsep nilai tukar dalam ekopol marxisme. Dia memiliki hubungan dalam satu proses jejaring. Sabun memiliki hubungan bendabenda yang terkait di dalam kamar mandi. Di situ ada shampo, pasta gigi, pencuci muka, deodorant, bahkan sabun cuci juga ada. Dengan bendabenda lainnya, terjadi kontadiksi internal secara dialektis yang menyebabkan lantai menjadi licin.

Kalau sudah begitu, lantai tempat semua dialektika itu terjadi akan menjadi super licin. Lantai akan semakin beresiko menyabung nyawa kamu kawan. Karena itu hatihatilah melangkah di dalam kamar mandi. Paling banter akan nginap tiga hari di rumah sakit akibat kepala yang bocor. Kan lucu kalau ada dua hal yang bocor. Cukup atap seng kamu saja kawan. Tapi kalau teledor, justru bukan rumah sakit, malah kamu akan berhenti di dalam peti mati. Sial kan.

Banyak orangorang menyelamatkan nyawanya di kamar mandi dengan menggunakan sendal jepit. Bagi mereka selain menghindarkan dari terpeleset, juga dipandang bersih. Saya tidak tahu peradaban mana yang memulai menggunakan sendal di kamar mandi. Hanya saja sepertinya itu efektif menyelamatkan populasi penduduk akibat kematian siasia di dalam kamar mandi.

Tapi harus diingat. Sendal justru juga bisa menjadi benda yang mematikan setelah pelbagai bendabenda seperti sabun dan keluarganya. Sederhana belaka musababnya, yakni bagian bawah sendal yang sudah aus. Kamu tahu kan yang saya maksud? Itu loh bagian bawah sendal yang bergerigi. Kalau bagian itu sudah semulus pipi Dian Sastro, saran saya gantilah dengan yang baru. Jangan sampai karena Dian Sastro kamu jadi mati kejedot sudut bak mandi. Mengerikan.

Makanya rajinrajinlah membersihkan kamar mandimu bung! Kalau perlu sikat sampai kerakkeraknya terangkat. Jangan sampai mirip kamar mandi teman kos saya itu. Masya allah, lantainya itu, bahkan sudah berlumut. Licinnya bukan main. Saya selalu diingatkan kematian kalau masuk di dalamnya. Salah sedikit bisa gawat, nyawa tebusannya. Makanya di situ perjuangan saya kalau masuk hanya untuk berdiri dengan sigap susahnya bukan main. Betulbetul perjuangan.

Itulah mengapa kalau di rumah, mamak panglima besar tak bosanbosan memberikan instruksi kenegaraan; jangan lupa kamar mandi seringsering dibersihkan. Kalau tidak, kamu tahu kan kawan, bagaimana seorang panglima besar marah. Ahok saja yang mukanya oriental begitu bukan main kejam kalau marah, apalagi muka mamak yang asli orang bugis itu. Jangan sampai deh.

Kemudian yang terakhir, orang bisa saja mati begitu saja di kamar mandi karena memang sudah suratan takdir. Kalau yang ini biar bagaimana pun cara untuk menghindarinya tetap saja akan terjadi. Yang namanya takdir ya begitu. Yang penting jangan sampai itu terjadi di saat kamu lagi jongkok buang air besar, kan tidak lucu? Makanya berdoalah jika masuk ke dalam kamar mandi. Mudahmudahan takdirnya berubah. Begitu.

Bagaimana kawan, kamu masih disitu? Kamu tidak sedang di dalam kamar mandi kan? Sudah paham? Alhamdulillah. Saya kira belum pahampaham juga. Baiklah kalau begitu. Oh iya, tadi kan saya bilang kalau barusan dari kamar mandi sejuta umat, melihatnya saya teringat nasib kamar mandi di rumah saya sekarang. Apalagi panglima besar mamak, tidak mungkin dia yang jongkok membersihkan kamar mandi di rumah sekarang. Bisa kualat saya. Makanya sayangi mamakmu kawan. Minimal kamar mandimu Bung! I love you mom.


10 Januari 2016

Derita di Rahim Kepala Penulis yang Sakit; Cinta dan Benci

Saya punya pikiran aneh bahwa seorang penulis itu sebenarnya adalah orang yang sakit. Pikirannya selalu menjadi musuh terbesarnya untuk ditaklukkan. Musababnya, di dalam kepala seorang penulis, dia selalu memelihara dua hal: benci sekaligus cinta. Dengan benci dia menulis. Melalui cinta dia bertahan dengan katakata yang minim.

Jadi sebenarnya seorang penulis itu adalah orang yang malang. Kepalanya penuh dengan bibit penyakit yang dibawanya tiap saat. Penyakit itulah musuhnya, sekaligus di dalamnya mengandung obat penawarnya; cinta itu tadi.

Makanya seorang penulis dengan sendirinya adalah orang yang kuat sekaligus lemah. Dia mudah tersentuh, itulah kelemahannya. Dia kuat karena selalu menanggung beban derita.

Saya juga menduga, sang penulis sejatinya adalah seorang yang sepi. Bahkan dari ini saya berkeyakinan bahwa karakter penulis yang sebenarnya adalah orang yang introvert. Dia selalu menyenangi sudut sempit kesepian. Atau senang merayakan kesunyian. Makanya itu kenapa menurut saya, seorang penulis memiliki teman yang sedikit, tapi mempunyai sahabat yang setia.

Orhan Pamuk setidaknya contoh yang paling jujur bagaimana penulis menjadi orang yang bisa hidup berlamalama di dalam pojok kesunyian. Selama delapan tahun ia mengurung diri di perpustakaan keluarganya hanya untuk menemukan ilham seorang penulis. Dan kita tahu, dari titik gelap bergelut dengan bukubuku, Orhan Pamuk menjadi salah satu sastrawan besar.

Orhan Pamuk, saya pikir betulbetul mengerti apa arti kesunyian bagi terang ilham seorang penulis.

Untuk itu, dari sudut ini, saya berani menimbangnimbang bahwa seorang penulis memiliki kelebihan di bawah satu tingkat seorang rasul. Musababnya sederhana belaka, selayaknya rasul, sang penulis mau bersetia di dalam peristiwa kesunyian. Dia mau berkawan dengan kesunyian dan menjadi nabi bagi karya tulisnya.

Ali Syariati juga saya pikir adalah contoh yang bisa diajukan bagi kasus ini. Terutama ketika dia mengalami keterasingan dari dirinya sendiri. Ali Syariati bukan seperti yang diduga Marx yang mengalami penjarakan antara dirinya dengan barangbarang produksi dan masyarakatnya, melainkan dia terasing justru dari sesuatu yang intim bahkan dari dirinya itu sendiri; kesadarannya.

Keterasingan Ali Syariati saya yakin adalah keterasingan yang juga banyak dialami oleh hampir sebagian penulis. Bahkan apa yang dialami Ali Syariati masih kurang dibandingkan dengan penulispenulis yang memilih bunuh diri akibat keterasingan yang menganga di dalam batinnya.

Ernest Hemingway adalah nama besar yang kita ketahui mengalami peristiwa yang sulit diterima akal sehat. Ia menderita dan kemudian mati dengan cara mengedor kepalanya. Dia meninggal dan karyanya menjadi umur panjang bagi usia Hemingway yang harus berhenti.

Ali Syariati dan Ernest Hemingway adalah tipikal penulis yang mengandung keresahannya dengan dua cara yang berbeda. Ali Syariati menemukannya di dalam cinta, tetapi Hemingway saya tak tahu.

Cinta memang kekuatan yang mendesak. Itulah yang menyebabkan Ali Syariati dapat keluar dari kerisauan akutnya. Melalui sajaksajak Jalaluddin Rumi, Ali Syariati menemukan kekuatan cinta yang dimaksud. Saya tak tahu apa yang bersemayam di kepala dan pusat batin ideolog Iran itu saat membaca teksteks Rumi. Yang saya duga, saat itu Ali Syariati tidak sedang membaca teks, justru dia membaca kenyataan.

Itulah yang membuat Ali Syariati selamat dari rongrongan kegalauan batinnya. Dari kenyataan yang vulgar dari teksteks Rumi, dia bisa jadi menemukan kekuatan yang paling purba dimiliki manusia; pasrah menerima dan mau membaca kenyataan.

Kemampuan inilah yang kuat dimiliki seorang penulis. Pasrah dan mau membaca kenyataan. Bukan teks. Itulah kenapa seorang penulis saya percayai sebagai seorang yang sakit. Sebab kenyataan itu adalah derita. Bahkan penderiaan adalah hakikat kenyataan itu sendiri. Dari sini saya bisa tahu, betapa bahagianya seorang penulis ketika menyungging senyum pasca aksaranya lahir. Tapi banyak yang tak tahu, bahwa di belakang itu ada hati dan pikiran yang menanggung kesakitan bertubitubi. Dia rela menampung dan mengerami kesakitannya demi melahirkan anakanak idenya.

Sebab itulah saya heran bila ada penulis yang membenci aksaranya. Pasalnya yang ia benci sejatinya adalah anak rahim pikirannya. Walaupun itu bukan disebut sebagai anak jadah, karena tulisan yang lahir dari rahim pikiran tak mengenal haram atau tidak. Toh kalau kita mau menyebut itu anakanak pikiran, yang bisa berlaku adalah sempurna tidakkah ia mengalami perkembangan. Baik tidakkah kita merawatnya.

Seorang penulis pasti tahu aktivitas yang mirip ibu itu. Setelah ia mengalami kesakitan, mengandung, dan melahirkan anak idenya, sebagaimana di dalam rahim, seorang penulis tidak berhenti merawat tulisannya. Dia harus menjaga tumbuh berkembanga tulisannya. Termasuk dalam hal ini adalah usaha editing yang dilakukan pasca penulisan. Aktivitas literasi semacam ini akhirnya membuat saya paham bahwa anak tulisan tidak dengan sendirinya sempurna, melainkan bertahap setingkat demi tingkat.

Makanya saya mulai berpikir kembali bahwa kematian seorang penulis adalah konsekuensi inheren ketika suatu karya selesai dituliskan, bisa diterima. Bahkan mau menyebut eksistensi penulis mati ketika tulisan telah menjadi kabar di hadapan publik. Asal usulnya jelas, penulis harus mengambil peran ibu untuk mendampingi tulisannya. Dia tidak layak melepaskan anaknya tumbuh berkembang dengan sendirinya. Untuk itulah sang penulis hadir secara berdampingan dengan tulisannya. Sampai kapanpun.

Melihat penulis harus berkerja dengan demikian, maka saya semakin yakin bahwa penulis adalah kutukan abadi bagi penderitanya. Pertama dia akan menjadi seorang pesakitan lantaran mengandung bibit benci dan cinta. Kedua dia harus rela terus menerus menjaga anakanaknya tumbuh besar. Ya!! Seorang penulis adalah sorang sakit yang mengandung anakanaknya lahir.


menulis kejujuran

Saya merasa heran bagaimana orang dapat menulis dari kebohongan. Saya menduga semua tulisan harus bertumpu pada satu kenyataan tertentu. Lantas apakah tulisan yang berasal dari kejadian yang mengadangada dapat disebut tulisan yang jujur? Bahkan apakah memang dalam menulis perlu juga nilai kejujuran sebagaimana yang dibutuhkan dalam kenyataan.

Saya merasa banyak orang yang bisa menulis apapun, tapi sangat jarang yang mau berkata jujur. Hal ini begitu lumrah di sekeliling kita. Semenjak tulisan menjadi salah satu sumber warta, penulis dituntut seperti rasul dalam menyampaikan kabar. Di mediamedia, tugas ini begitu utama, yakni wartawan yang memiliki kewajiban meneruskan hasil inderanya ke hadapan pembaca.

Tapi, semenjak dunia telah begitu terhubung antara satu dengan lain akibat kemajuan teknologi informasi, semua orang bisa menjadi pewarta berita. Di satu sisi, hal ini meluaskan kerjakerja pewarta dengan daya jangkau yang sulit dicapai sebelumnya. Namun di saat yang bersamaan, justru  karena itu akhirnya suatu kabar akan sulit dikendalikan.

Di saat itulah suatu kabar kehilangan legitimasinya. Orangorang bakal sulit mencari suatu bentuk pertanggungjawaban atas kebenaran informasi. Bahkan suatu kabar yang rancu bisa dibenarkan karena kecepatan penyebarannya.


Itu semua karena semua orang bisa bersuara tanpa mempertimbangkan kaidahkaidah penulisan apalagi prinsipprinsip jurnalisme. Mendadak ada semacam dorongan moral untuk menyampaikan berita walaupun itu tidak melewati suatu pengalaman jurnalistik. Apalagi itu dalam konteks dunia maya yang menjadi medan baru penyebaran informasi.

Hal yang sama juga di alami oleh cendikia mudamudi yang banyak bermunculan. Berubahnya medan pemberitaan mendorong netizen berpendidikan dapat masuk mengambil bagian atas dunia yang selama ini hanya dikuasai oleh pewarta berita. Latar belakang pendidikan yang semakin terbuka mendorong netizen bisa memanfaatkan perangkatperangkat teknologi untuk berperan serta dari berubahnya medan informasi. Sehingga arus informasi yang selama ini cenderung monolit akhirnya bisa dipecahkan dengan kreatifitas yang dimiliki netizen mudamudi.


08 Januari 2016

Bagaimana Penulis Menemukan Idenya

Bagi penulis handal, menulis bisa dilakukan di mana saja. Seperti bernapas belaka, ide penulis bisa lancar keluar masuk kepala dengan alami. Makanya, kalau ada pengusaha bertanya dari mana datangnya ide seorang penulis, itu sama saja menolak gejala manusia kalau sakit perut, misalnya. Itu alami. Datang begitu saja. Seperti mencratmencret yang datang tibatiba pasca menghabiskan rujak satu bakul.

Jadi stop bertanya pertanyaan membosankan itu. Seorang penulis pasti murka mendengar pertanyaan konyol itu. Ya, ide penulis bisa datang seperti taik. Begitu alami, begitu manusiawi. Dia bukan sesuatu yang dirancangrancang. Dia bisa datang tibatiba tanpa diundang.

Makanya jangan heran menemukan orang yang lama di depan layar laptop ketika nongkrong di cafe. Barangkali dia sedang "berak" tulisan. Atau menemukan seorang ibu tenggelam di gawainya saat menunggu suami diperiksa dokter di rumah sakit. Bisa saja dia sedang "berakberak" curhat menulis karena melihat dokter muda yang ganteng rupawan. Atau mahasiswa tanggung yang lama di dalam kamar mandi terminal. Jangan sampai dia memang sedang berak sambil menulis.

Itulah mengapa penulis hebat sangat senang sakit perut. Mereka bisa makan berkilokilo mangga muda hanya untuk perut mulas. Kedondong berpohonpohon hanya karena ingin didatangi ilham taik yang mencretnya bukan main. Nah, kalau sudah begini maka tunggu saja karya intelektual bakalan lahir di dunia. Dan para pembaca sudah pasti menunggu dan menyukai taik dari seorang penulis.


Walaupun begitu, bagi penulis yang sudah ulung, tanpa mangga sebakul atau rujak setanah air pun bisa menghasilkan karya tulis yang dahsyat. Mereka bisa sakit perut tanpa harus mengunyah habis mangga ibuibu muda sejagad raya. Atau tanpa harus mengemil pepaya mengkal dengan kecap segerobak. Bagi mereka, sakit perut adalah wahyu yang hanya dikhususkan bagi profesi luhur sealam semesta. Bagi mereka menulis adalah jalan hidup.

Orangorang semacam ini tidak bakal berhenti menulis semur hidup. Artinya mereka selalu mencratmencret tanpa kenal waktu. Bayangkan kalau seorang penulis sementara antri membayar rekening listrik di bank, di kepalanya muncratmuncret ide seperti taik. Atau walaupun sedang berak menggenggam android menulis apa saja. Sembari menghela napas panjang menghayati ide yang meluber ke luar. Bahagia rasanya. Itu pasti.

Oke, bicara tentang taik, jangan sampai kau tidak tahu tentang Marquis de Sade, penulis Perancis yang hidupnya dihabiskan di atas kertas. Tulisannya jadi bacaan yang menggugah sekaligus porno. Filsuf ini juga memang memiliki selera yang ganjil. Jadi kalau dia menulis kata vagina, yang dia tulis adalah vagina yang sebenarnya. Bukan dalam arti yang hiperbolik atau simbolis. Memang de Sade dikenal sebagai penulis yang vulgar. Bahkan sadisme diambil dari namanya.

Nah, karena kevulgaran itulah dia dilarang menyebarkan tulisannya. Alasannya sederhana, tulisannya mengancam moralitas masyarakat. Karena itulah akhirnya dia dilarang menulis dan dipenjara. Tapi namanya penulis makrifat tingkat tinggi, Marquis de Sade tidak berhenti menulis. Awalnya ia menulis dengan darah sebagai tintanya, dan bajunya sebagai medium tulisannya.

Namun dasar tidak mau berhenti menulis, kemudian dia ditelanjangi dengan cara dipindahkan ke dalam kurungan bawah tanah dengan penjagaan super ketat. Dan, kalian tahu dengan apa dia menulis di dalam kurungannya, dengan taik bung! Ya, taik menjadi tinta tulisannya yang ia tulis di tembok ruangannya.

Masya allah. Dengan taik saudarasaudari sekalian, Marquis de Sade menulis! Dia betulbetul penulis ulung. Di kepalanya penuh taik mencret, dan dari lubang pantatnya saja bisa menghasilkan tulisan. Alamak! Wahyu macam apa dia terima dari sumber ilham tak terpemanai. Marquis de Sade contoh paling berani bagaimana dari taik, kotoran yang disebut sampah, menjadi karya tulis yang luar biasa.

Ada juga yang mengatakan bahwa ide penulis itu sebenarnya diciptakan. Sini saya kasih tahu! Ini rahasia. Saya mendapatkannya dari penulis misterius yang datang di mimpi saya. Dia mengatakan ide itu tidak diciptakan. Kesalahan pertama orangorang adalah menganggap ide itu dapat diciptakan. Padahal ide itu kenyataan yang sudah ada semenjak pertanyaan itu dipertanyakan. Dia ilham yang abadi. Justru orangorang datang dan pergi, yang mati ditelan bumi.

Lantas bagaimanakah dia datang. Oke, kata penulis misterius itu, yang mesti dilakukan adalah pasrah terhadap kebodohan. Berbaik hatilah dengan kebodohan, dan jadikan dia teman. Di saat itulah kebodohan akan mengarahkan kita kepada sumber ilham. Bahkan kalau kita sudah siap, ide itu sendiri yang akan datang. Jadi sabar saja. Makan mangga banyakbanyak. Dengan sendiri pasti sakit perut.

Baiklah kalau sudah begitu menulis bisa dilakukan di mana saja. Di bawah kolong jembatan. Di pasar malam. Atau di dalam peti mayat sekalipun. Makanya banyak penulis pergi di banyak tempat menunggu kedatangan ide. Mereka ingin berak di tempat yang bisa saja di dalam masjid. Datang begitu saja. Tapi mesti diingat itu tidak langsung membuat orang menjadi penulis hebat, apalagi penulis ulung.

Jadi sekali lagi stop bertanya dari mana datang ide seorang penulis. Bung, untuk terakhir kalinya, ide itu seperti taik. Alami kedatangannya. Yang kalian harus lakukan hanya berak. Bagaimana? Sederhana kan, hanya berak. Oke perut saya sakit. Sepertinya saya mau berak.


06 Januari 2016

bungabunga mamak

Di rumah, mamak senang mengoleksi bungabunga. Kalau kalian bertandang ke rumah, sudah pasti menyaksikan puluhan potpot bunga di halaman. Berkat hobinya ini, rumah jadi adem ayem. Lumayan, bisa jadi penangkal global warming. Apalagi di depan rumah ikut tumbuh dua pohon mangga dan satu pohon nangka. Tapi kalau pohon mangga dan nangka, kenapa bisa tumbuh, itu karena dulu bapak yang menanamnya.

Hobi mamak ini sudah berlangsung bertahuntahun. Biasanya demi memperbanyak bungabunga, kalau bertandang ke rumah sejawatnya, pasti mamak membawa pulang beberapa tanaman bunga. Begitu juga sebaliknya, kalau teman sejawatnya datang ke rumah, terkadang juga pulang membawa beberapa tangkai bunga.

Akibat hubungan mutualisme simbiosis ini, mamak keseringan bertandang ke rumah temantemannya. Di bonceng oleh bapak, mereka berdua bisa lama di luar. Terkadang kalau hanya untuk urusan kebutuhan dapur, setelah dari pasar, pasti mampir di rumah teman gengnya. Mau apalagi kalau bukan urusan bungabunga.


Makanya saya mencurigai kalau mamak biasa bertandang ke rumah gengnya, barangkali itu bukan urusan tetek bengek apalahapalah, melainkan hanya sedang menarget calon bungabunga yang akan dibawanya pulang nanti. Jadi, kalau urusan ini, mamak bisa satu sampai tiga kali bertandang di rumah yang sama. Kenapa tiga kali? Ini strategi. Yang pertama tentu hanya sekedar basabasi seperti ibuibu umumnya. Ngomong sana, ngomong sini.

Nanti di pertemuan kedua baru strategi dijalankan, yakni menyampaikan niat kalau dia sedang kesemsem dengan calon bunga yang jadi target. Nah, setelah itu di perjamuan ketigalah baru eksekusi dilakukan; pulang membawa bunga kemenangan. Pelan namun pasti. Strategi yang penuh perhitungan.

Tapi biasa juga kunjungan kenegaraan itu hanya dilakukan sekali kunjungan. Usut punya usut sebelumnya sudah terbangun kesepakatan bilateral antara mamak dengan teman yang akan memberikannya bunga. Kesepakatan maniak bunga ini ternyata sudah dilakukan di sekolah tempat mamak mengajar. Jadi kesepakatannya, mereka berdua akan saling bertukar bunga. Dan itu dilakukan tanpa sorot negaranegara digdaya. Sunyi senyap. Mulus tanpa halangan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...