04 Juni 2013
03 Juni 2013
Solitut
Di mana pun engkau membalikkan
rupamu, maka di sanalah Tuhan. Setidaknya saya membahasakan dalam cara yang
berbeda. Begitulah yang tertulis, dalam kitab suci, dalam al qur’an. Tanda itu
sekiranya berpesan pada manusia, mahluk yang lemah, bahwa di manapun, kapanpun
dalam kelemahanmu lihatlah sekelilingmu, Tuhan tak jauh darimu. Bahkan lebih
dekat dari urat lehermu, dalam ayatnya yang lain tertulis. Maka dalam
tulisantulisan ahli batin, tuhan sesungguhnya bersemayam dalam diri manusia.
Sebab barangkali itulah sebab konsep penyatuan bisa kita terima, disetiap yang
‘ada’ menampil Dia yang meliputi.
Artinya di sekeliling kita
adalah Tuhan. Setidaknya Dia tampil dalam beragam tempat dan rupa; di
kantorkantor, bukitbukit, di atas motor, Mall, kemarahan, Gudang,
Mesjidmesjid, Gerejagereja tua, belas kasih, dalam Bis Kota, hutan belantara,
kebencian, pasarpasar, rumah sakit, ganggang sempit, dendam ditengah lautan, di
sekolahsekolah atau disamping dirumah kita sendiri. Ataukah bahkan kita adalah
Tuhan itu sendiri. Dimana dalam bahasa yang lain hukum tuhan bekerja
ditengahtengah kita. Melalui tangantangan kita sendiri.
Namun juga tuhan barangkali tengah cuti. Duduk santai kemudian sesekali menyeruput kopi. Berlibur di masa yang lain tengah sibuk, oleh sebab banyak yang telah menggantikan tempatnya. Di mana dia bosan dengan kekuatannya sendiri sehingga dia pergi meninggalkan kita. Berjalan pelanpelan menyelinap dari rutin kita yang melupakannya. Sehingga yang tersinya adalah kesendirian tuhan dalam rutin yang melupakan.
Maka barangkali Tuhan tengah sunyi, jauh dari mata kita..
25 Mei 2013
Banalitas Politik dan Postspiritualitas Partai Agama
Pada dua puluh Mei kemarin,
bangsa Indonesia baru saja memperingati hari kebangkitan nasional. Momen yang
merefleksikan sikap bangsa atas sejarah hari lahirnya Boedi Utomo dan Sumpah
Pemuda. Sikap kebangkitan atas keterjajahan yang dialami Indonesia dari
bangsa-bangsa penjajah terdahlu.
Jika ditilik dari sejarah, bangsa Indonesia telah memperingatinya selang selama seratus lima puluh tahun. Dimana bukan waktu yang singkat dalam proses pendewasaannya. Artinya bangsa Indonesia bukan lagi bangsa yang kerdil dan kecil, melainkan bangsa yang selalu tumbuh besar dan memetik pelajaran ditiap tahunnya untuk menampil perbaikan dari waktu kewaktu. Namun jika kita melihat kenyataan bangsa Indonesia di waktu sekarang, rasa-rasanya bangsa Indonesia banyak mengalami cobaan yang menghambatnya untuk menjadi bangsa yang digdaya. Banyak hal yang membuat kita miris. Salah satunya adalah bidang perpolitikan.
Politik sejatinya adalah
penyelenggraan kekuasaan Negara dalam rangka untuk menetapkan tujuan dari suatu
kebijakan. Dengan tujuan untuk mengikat kepentingan bersama dalam rangka
pemenuhan hak-hak dari seluruh masyarakat. Dalam hal ini selama politik
dijalankan atas etika pemenuhan hak-hak rakyatnya, maka suatu bangsa telah
menyelenggarakan kekuasaannya dengan baik atas dasar kepentingan bersama.
Tetapi apa yang banyak kita simak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maupun apa yang diberitakan oleh media-media massa justru sebaliknya. Peragaan parlemen yang sering kita saksikan adalah ilustrasi perpolitikan yang banal dan dangkal. Dalam pengertian ini, anggota-anggota dewan sebagai the second hand Politic menampilkan perayaan akan matinya nalar etis berpolitik.
Politik;Banalitas Kekerasan
Banalitas kekerasan pertama
kalinya dibilangkan oleh seorang filsuf politik kontemporer Hanna Arend dalam
mengkonseptualisasikan situasi pelaku kekerasan yang tak memiliki tanda-tanda
pernah berbuat tindak kekerasan. Hal demikian dilihatnya bahwa seorang pelaku
kekerasan merasa wajar berbuat demikian (kekerasan) karena mendapatkan legal
prosedural dari sistem yang menyituasikannya. Atau dengan kata lain
suatu mekanisme kekerasan dapat terjadi berkat adanya dukungan kekuasaan yang
membenarkannya.
Apa yang menghebohkan kita
dari penyelenggaraan politik tanah air, dengan banyaknya kasus yang menjerat
para pelaksana mandat politik rakyat, mendapatkan ilustrasinya dari apa yang
dinyatakan oleh Hanna Arendt di waktu yang lain sebagai thoughtlessness (ketiadaan
Pikiran). Thoughtlessness adalah keadaan dimana
penyelenggaraan kekerasaan atau kejahatan yang oleh pelaku dilakukan dengan
kondisi psikis dan pikiran yang tampak biasa-biasa saja. Dimana kejahatan yang
terjadi, dilakukan pada saat normal seperti manusia biasa pada umumnya, tanpa
menyadari bahwa apa yang sebenarnya sedang dilakukan adalah sebuah tindak
kejahatan. Bisa kita bayangkan, di saat sedang menjalankan tugas sebagai
seorang wakil rakyat yang notabene adalah warga pilihan, seorang koruptor dengan
leluasanya menjalankan aksi kejahatannya tanpa memikirkan konsekuensi jangka
panjang yang akan di alami oleh Negara dan keberlangsungan hajat orang banyak.
Lebih mengecewakan lagi, ketika diproses dan diberikan tindak hukum, dijalani
dengan berpenampilan seperti orang yang normal dan tampak lugu
Bisa kita lihat dari banyaknya kasus-kasus korupsi yang menimpa elit-elit parpol di tanah air, yang selama menjalani proses hukum berpenampilan seperti orang yang tak pernah melakukan kejahatan apapun. Yang mana kesan yang diperankan seperti orang yang tampak religius, bermoral, taat hukum dan lain sebagainya. Dimana salah satu contohnya adalah kasus dagang sapi yang menimpa salah satu kader partai yang berlabelkan agama di tanah air akhir-akhir ini. Kasus yang turut melibatkan perempuan-perempuan cantik, perhiasan, uang dan mobil ini merupakan penanda bahwa kekerasan politik yang dilakukan memiliki spektrum yang luas dengan dukungan kekuasaan di dalamnya. Dimana kekerasan yang berlangsung mendapatkan legitimasinya dari embel-embel agama di belakangnya. Sehingga kekerasan yang ditampilkan adalah kejadian yang tampak normal akibat polesan dari yang berbau agama.
Postspritualisme partai agama
Apa yang dimaksud dengan
postspiritualisme adalah keadaan dimana nilai-nilai dari suatu agama baik etis,
moral, hukum, dan spritualitas mengalami kelampauan dari agama itu sendiri.
Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, terbalik dan terjungkirnya sistem
tatanan nilai yang dimiliki oleh ajaran yang di anut oleh para penganut suatu
agama. Dimana terjadi kekaburan pemaknaan antara yang hak dan yang bathil, yang
bermoral dan yang amoral, yang sakral dan yang profane maupun
yang halal dan yang haram.
Dari kasus yang menimpa salah satu partai agama di Negara ini, merupakan kondisi yang menjungkirbalikkan seluruh proses edukasi politik dalam era demokrasi sekarang ini. Dalam hal ini partai yang merunut seluruh visi misi politiknya berdasarkan suatu ajaran agama, mendapati dirinya dalam situasi yang tragis. Tentu demikian, karena partai yang bernafaskan agama, notabene adalah partai yang dianggap mengemban amanah politiknya berdasarkan prinsip-prinsip yang berasal dari agama yang bersangkutan. Dimana figur-figur yang ada adalah orang-orang yang dipilih dan dianggap mampu menjalankan amanah berdasarkan prinsip-prisnsip etis agamanya.
Namun apa yang dihadapi sekarang merupakan kenyataan yang sungguh mengenaskan. Oleh sebab terbaliknya apa yang dijargonkan dengan apa yang dilaksanakan. Keadaan ini secara kebudayaan adalah cermin buruk yang mengekspresikan dari apa yang di bilangkan oleh Yasraf Amir Pilliang sebagai dromologi politik. Yang mana penggambarannya dapat kita simak yakni, terjadinya pembalikkan dengan percepatan tiada tara atas nilai-nilai etis dalam dimensi politik. Sehingga nilai-nilai yang dianut dalam penyelenggaraan politik mengalami erosi penandaan dengan terjadinya pendangkalan arti dan kehilangan makna secara cepat.
Sehingga dari apa yang kita saksikan dalam pelaksanaan demokrasi pada perpolitikan kita adalah keadaan yang kehilangan rujukan nilainya. Oleh karena perpolitikan yang dalam mekanisme dan pengaplikasiannya ditampilkan dalam hingar binggar yang sarat kehampaan. Dimana efek dari keadaan demikian adalah degradasi yang membawa masyarakat pada keadaan yang bisa jadi berujung pada sikap apolitis. Hal ini dimungkinkan dengan sebab maraknya letusan bencana yang menimpa para elit parpol selama ini.
22 Mei 2013
Anakanak dan Masa yang hilang
Dunia anakanak adalah
dunia yang penuh dengan keriangan. Di masa anakanak dunia selalu ditafsirkan
sebagai kenyataan yang dinamis. Sebuah kenyataan yang tidak hendak untuk
diseriusi. Dimana pada kenyataan demikian, kesadaran anakanak tidak sama dengan
logika manusia dewasa yang selalu menganggap dunia sebagai masa yang di amanahi
tanggung jawab. Singkat kata, kenyataan di masa anakanak adalah kenyataan yang
diterima tanpa ada intrepertasi normative. Dunia anakanak adalah dunia bermain.
Maka tak heran jika dimasa
kanakkanak, dalam memperkenalkan kenyataan yang akan di jalani kelak, sedikit
banyak bersentuhan dengan dunia permainan. Anakanak dan permainan merupakan dunia yang
memiliki hukum logika tersendiri.
Tidak seperti dunia orang dewasa yang penuh dengan tanggung jawab, aturan, maupun ikatan imperative yang mengikat, dunia anakanak adalah permainan dengan alam kebebasan. Dalam bermain, anakanak bisa melakukan apa saja, tidak ada jejaring kekuasaan berlaku. Dimana permainan menyituasikan anakanak sebagai subjek yang merdeka, tanpa harus khawatir melakukan sesuatu. Di waktu inilah daya imajinasi mendapatkan posisinya sebagai bahasa anakanak.
Kaum Muda Menentang Kapitalisme Global
(Tulisan ini merupakan tulisan di sekitar tahun
2006/2007, dengan telah mengalami editan sanasini)
Hati nurani pasti terketuk
pada titik ketertindasan dari hak-hak yang ada
Maka Kaum muda adalah hati nurani
Yang selalu berteriak dengan semangat perlawanan
terhadap
Penindasan apapun.
Sistem ekonomi kapitalisme memiliki mekanisme kerja
berdasarkan tiga komponen utama yakni kaum pemodal, tenaga kerja, dan
pasar melalui corak hubungan produksi. Keuntungan kapital kaum pemodal, telah melahirkan banyak implikasi
terhadap kondisi masyarakat yang dijadikan sebagai lahan komoditinya. Proses kerja dari tiga komponen basis struktur kemudian mengarahkan kita pada arena
pasar bebas, dimana di dalamnya terjadi pembantaian secara
massal akan nasib berjuta-juta manusia.
Lahirnya kesenjangan kelas, bertambahnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, banyaknya anak-anak didik yang putus sekolah, berdiri dan bertambahnya gedung-gedung pencakar langit hingga sampai menyituasikan kondisi masyarakat yang berwatak konsumerisme adalah beberapa fenomena yang lahir akibat permainan apik dari sistem kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme dengan perangkat hegemonik melalui mekanisme penghisapan dan penindasan, telah melahirkan penjajahan bergaya baru dengan cara konsep depedensi ekonomi. Dampaknya cukup luar biasa terhadap segala sendi kehidupan umat manusia.
20 Mei 2013
Zaman
Zaman
tak selamanya bisa dilawan. Yang mana di suatu waktu, arti sebuah perlawanan
adalah persepsi yang dibangun dari situasi yang melingkupi. Zaman boleh saja
meninggalkan halhal yang kita jaga dari percepatan waktu. Tetapi kekuatan
sebuah perlawanan selalu bermula dari seberapa besar persepsi yang kita berikan
kepada kenyataan. Dimana pada kekuatan persepsi, kenyataan menjadi berbeda dan
lain. Barangkali disinilah letak perbedaan orangorang besar, bahwa hakikat
kenyataan terkadang membutuhkan pikiran besar.
Togel, Urbanisasi dan Kemiskinan
Di suatu pagi, seperti di harihari
biasa; kota yang rapat mapat, aktivitas penduduk yang lalu lalang, jalan raya
padat kendaraan, seperti kotakota besar dengan gerak mobilitas yang tinggi,
handphone saya berbunyi. Sebuah pesan singkat, kurang lebih begini yang
tertulis;
”Dari
Udin berhasil sukses menang Togel. Bagi saudara2 kami yang sering kalah dalam
permainan angka Togel,, hub Mbah Sugem. 082333854*** dijamin 100% tembus.”
Jika mengandalkan ingatan, hampir
di tiap hari, sms serupa masuk melalui handphone saya. Dan barangkali pesan
yang serupa pun dialami oleh banyak orang. Togel atau kupon putih, atau apapun
namanya, telah menjadi massif. Dengan pola random, nomor diacak, bagi
pengirimnya di sana ada keuntungan. Dan ini, pada perhelatan dinamika kehidupan
kolektiv, pada tingkat yang paling elementer adalah sebuah masalah sosial.
Kehidupan yang serba cepat,
mobilitas yang tinggi, urbanisasi yang menyulap kota, punya ampasnya;
kemiskinan. Kemiskinan adalah situasi yang memedihkan. Dari matra ekonomi,
barangkali kita miris melihat perkembangan kenaikan kuota orangorang yang tak
mampu menghidupi diri maupun keluarganya. Jika kita mengacu pada standar badan
pusat statistik, diantara empat belas kriteria, kemiskinan adalah pendapatan
ekonomi seseorang yang tak lebih dari enam ratus ribu perhari atau Rp166.697
per kapita per bulan.
Namun kemiskinan, pada analisis
yang lebih kompleks, bukan lagi urusan statistik hukum ekonomi. Barangkali
pemerintah bisa yakin betul dengan sihir statistik ekonomi makronya, bahwa di
tiap kebijakan ekonominya berhasil menyulap si miskn menjadi masyarakat yang
merangkak naik 11,66 persen per tahunnya. Namun togel ataupun sejenisnya adalah
ilustrasi mental masyarakat yang punya unsur kebudayaannya sendiri.
Togel bukan saja sekedar aktivitas
masyarakat arus bawah. Togel adalah sebuah peristiwa. Dahulu, di tahun 80an,
togel adalah aktivitas legal yang diumumkan di akhir pekan oleh RRI. Dengan
maksud untuk memberikan sumbangan terhadap kegiatan olahraga dengan nama
sumbangan dana sosial berhadiah (SDSB). Namun mengalami banyak pertentangan
dari banyak pihak termasuk oleh MUI yang mengharamkannya sebagi aktivitas
perjudian.
Di tengah-tengah masyarakat miskin,
SDSB bermetamorfosis seiring perkembangan kebutuhan yang semakin mendesak.
Togel menjadi aktivitas kolektiv yang menyertakan banyak orang. Media loncatan
yang diharapkan mendongkrak stratifikasi. Di titik ini, togel melibatkan
hitunghitungan, harapan, keluh kesah, emosi mengenai tujuan untuk menggapai
hidup makmur. Togel atau aktivitas perjudian semacamnya adalah etalase
masyarakat bawah untuk mensejajarkan diri dengan kelas masyarakat atas. Maka dengan sejumlah taruhan, ada
harapan untuk keluar dari lingkaran limbah kemiskinan yang akut.
Urbanisasi dan developmentalisme
adalah palu godam yang dahsyat. Pukulannya telah menggiring kehidupan
sosio-ekonomi masyarakat menjadi peta yang rinci mendeskripsikan posisi
kelaskelas masyarakat. Betapa gampangya
ditemukan kolonikoloni perkotaan yang termarginalkan pada aksesakses perkotaan.
Di mana akses kebutuhan sandang, pangan maupun papan, menjadi minim untuk
dinikmati oleh masyarakat bawah. Nampak kasat kesenjangan yang mensubordinatkan
keberadaan masyarakat miskin hanya sebagai penyuplai kebutuhan pokok kelas
atas.
Tumbuh berkembangnya bisnis
perumahan yang massif di kotakota besar sebagai syarat urbanisasi juga memiliki
dampak yang serius terhadap eksistensi kaum miskin perkotaan. Penghidupan yang
menuntut aktivitas yang tinggi dan efisiensi kerja, semakin mempersempit lahan
kota untuk dibanguni komplekskompleks elit. Keberadaan bisnis perumahan secara
pelanpelan semakin menggusur keberadaan tempat tinggal yang dimiliki oleh kaum
miskin kota kewilayahwilayah pinggiran.
Developmentalisme yang pernah
diterjemahkan oleh masa orde baru dengan konsep repelita, menghendaki situasi
perekonomian yang mapan sebagai penopang gerak laju pertumbuhan kota. Akses
yang mendorong akan hal itu adalah investasi yang masuk untuk merangsang
pendapatan perkapita di tiap tahunnya. Tumbuh berkembangya pusatpusat hiburan
dan perbenlanjaan, secara ekonomi mempengaruhi sebuah kawasan menjadi kota
urban yang maju. Keberadaan pusatpusat hiburan dan perbelanjaan, hanya semakin
memperparah posisi kelas bawah sebagai bagian yang pasif dalam perannya sebagai
masyarakat kota.
Semakin padatnya pembangunan di
tempattempat penting, menjadikan pusat sebuah perkotaan tidak lagi terpusat
pada satu titik konsenstrasi. Pusat sebagai titik pertemuan tak lagi bisa
ditentukan secara defenitif pada kotakota urban. Dengan hadirnya pusat
perbelanjaan, pusat administrasi, pusat kebugaran, pusat pendidikan, pusat
kesehatan, pusat perumahan yang menyebar dengan perencanaan pembangunan kota,
akhirnya semakin memperluas kawasan padat penduduk yang menyingkirkan keberadaan
masyarakat marginal.
Di tengah situasi demikianlah,
masyarakat kota selalu mereposisi keberadaannya. Ditengarai himpitan ekonomi,
tertutupnya akses kesehatan, pendidikan, kebudayaan maupun politik,
menyituasikan kalangan kaum miskin kota menjadi orangorang yang bergerak berdasarkan
insting hidup dibawah garis kelayakan. Pada akhirnya mentalitas kebudayaan yang
dikorup oleh kondisi kota, menempatkan kaum marginal kota menjadi kalangan yang
terbelakang.
Kemiskinan seandainya sebagai
mahluk biologis, barangkali sudah ditebas. Setidaknya itu yang pernah diucapkan
oleh Ali bin Abi Thalib di suatu waktu, menantu Rasulullah. Ilustrasi ini, bisa
kita bayangkan betapa berbahayanya kemiskinan. Kemiskinan bisa menjadi lumbung
kejahatan. Kekerasan tak jarang selalu berawal dari daerahdaerah kumuh. Namun
bukan berarti kemiskinan adalah identik dengan kekerasan. Hanya saja gugatan
kemiskinan selalu mendorong kenekatan untuk berbuat sesuatu keluar dari
tipologi rasionalitas.
Dahulu Marx punya citacita, sebuah
jalan bagi masyarakat kelas bawah untuk keluar dari keterpurukannya. Ia
mentaklik revolusi kelas bawah sebagai suluk yang pasti di tengah sejarah
masyarakat kapitalis. Namun, ramalannya hanya menjadi rapalan kosong. Kapital
semakin massif, industri tumbuh menjamur, kota digerakkan urbanisasi yang
pesat, sehingga tinggalah, harapan yang mengendap bersama kemiskinan, dan togel
dengan keterlibatan masyarakat bawah adalah bentuk kontra hegemoni bagi mesin
besar kapital. Dari togel, uang berputar di tengah pusaran kehidupan kelas tak
berpunya. Membangun mekanisme kerjanya sendiri dengan hitungan rumusrumus
dengan mimpi yang dikalkulasi.
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...
