10 April 2013

Yang Agama


Apa yang kelak datang pada akhir penghayatan tentang 'ada'? 

Konon katanya, agama bermula dari kesunyian. Konon, agama merupakan titik akhir dari pen-sunyi-an. Ataukah konklusi dari penghayatan. Bentuk keinsyafan dari ego yang ditangguhkan. Yang mana cikal ujungnya berakhir kesadaran. Bilamana di sana kesadaran harus tangguh pada sesuatu yang tak terkenali, dalam situasi inilah manusia berada pada situasi yang kurang lengkap. Insan yang tiada keutuhan. Sehingga dengan posisinya  yang demikian agama mengajarkan satu hal yang utama; kerendahan hati.

Jikalau agama adalah hayat kesunyian, namun ia pun harus memahami kenyataan yang lain dari keberadaannya. Perihal alam yang berbeda dari dirinya; alam rimba ektensia, alam lain yang bermaterialkan konkrit. Suatu bentangan yang bersusunkan lapislapis bentuk yang tiga dimensi.Yang selanjutnya ia mau tak mau harus berhadapan dan mendapati dirinya pada dunia yang begitu kontras. Pada titik inilah agama terkadang harus bersilangan dengan hal yang fana; alam duniawi.

Dunia yang sekarang bukan lagi dunia yang sama ketika pertama kali agama datang. Dunia sekarang merupakan dunia dengan adabadab yang berbeda. Tempat yang menghapus bentukbentuk ke-abadi-an. Kita barangkali telah khatam, di mana agama selalu menyusun dunianya yang menampik sesuatu yang tak tetap. Selalu datang dengan cogitan yang meneguhkan 'ada', dengan penyingkiran terhadap yang badani. Yang mana badani merupakan episentrum dari hirukpikuk yang mendatangkan dosa.

Dari sinilah barangkali datangnya soal. Pada tepian antara sunyi-abadi dengan ramaipikuk-badani, agama harus menjatuhkan palunya bilamana keduanya harus dipilih. Antara badani ataukah abadi, antara dunia ekstensia ataukah kesunyian, antara absolut ataukah kefanaan. 

Antara keangkuhan-kesunyian ataukah kerendahan hati pada alam yang tak pernah tetap? 

Sekarang dunia tidak sedang jalan di tempat. Segala sesuatunya bagai bus yang kehilangan kendali. Dunia yang menyatakan dirinya untuk tidak tinggal begitu saja. Tempat yang mendapati dirinya dalam situasi terburuburu. Barangkali pula ini locus masalahnya, dunia yang tak lagi sama, tanah besar yang menjadi tempat tumbuh kembangnya kemajuan. Budaya, politik, ekonomi, bahasa, sikap hidup, ideologi, ilmupengetahuan, teknologi serta sejumlah lainnya saling silap untuk mentata dunia, sedang agama mendapati dirinya sebagai hal yang terasing. Yang mana karena tak lagi sama, maka agama memulai agendanya; gerakan 'pemurnian'. 

Dan kita pun akhirnya maklum, keabadian yang menolak kontaminasi dunia, biasanya dengan dalih pemurnian mentasdik dunia sebagai hal yang mesti tunduk?[]

Pare, awal pagi 020313 

09 April 2013

Sikap Nilai HMI

Merujuk pada Anthony Giddens. Saat ini kita berpacu dalam “dunia yang tunggang langgang”, terbirit-birit, berputar pada poros yang sama. Saat ini, dunia mengalami percepatan dan penyempitan, mode kehidupan berubah kemudian mengalami keterperosokan dalam lingkaran dendam dan kebencian yang menuai distopia dimana-mana. Situasi kontemporer ini terasa ketika kita memperhatikan dengan seksama kehidupan berbangsa. Indonesia sebagai entitas kebangsaan yang berpijak pada pancasila sebagai gugus moral dalam menjalankan praktik kehidupan yang menjelma dalam daily politics, situasi yang terbilang sebagai pembalikan dalam tubuh kebangsaan kita. Dimana-mana kekerasan mengambil bentuk dalam peristiwa yang berbeda, menggandakan diri dalam proses politik, perpecahan terajut dalam proses yang kian hari kian menggrogoti tubuh bangsa.

Konkatenasi ini akhirnya menyentuh salah satu penopang dari sebuah bangsa, yaitu kaum muda, sebagai generasi yang hampir memakan porsi terbesar dalam jumlah, tentunya kaum muda juga berperan dalam menentukan masa depan sebuah bangsa. Tidaklah berlebihan kalau situasi kontemporer saat ini “merusak” para kaum muda dengan proses politik, kaum muda terjebak dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk ikut campur tangan dalam kondisi perpolitikan yang keropos. Indonesia mengalami pembusukan, kaki-kaki bangsa yang di topang oleh kesamaan identitas, kesatuan bahasa, dan visi kedepan yang ditopang oleh moralitas yang mengejewantah dalam pancasila, semua ini mengalami kemunduran ketika imperatif moral dalam konstitusi akhirnya menemui kebuntuan, ketika konstitusi di rombak dengan amandemen, kekeroposan ini terbukti ketika langgam kebangsaan di gantikan dengan langgam komunal. Etnisitas menjadi perekat dalam mengatasi kekosongan, jarak yang panjang antara bangsa dan orang-orang yang membayangkan diri sebagai bagian dari sebuah bangsa.

Dalam kondisi politik yang tidak bersandar pada moralitas konstitusi, kehidupan politik menjadi sangat liquid dalam artian bahwa semangat untuk menegakkan politik dengan ideologi sudah berhenti. Francis Fukuyama dalam hal ini membilangkannya kedalam kematian sejarah, tidak berlebihan bahwa situasi tanpa gagasan besar atau pikiran mengenai perubahan untuk mewujudkan sebuah tatanan akhirnya melahirkan peradaban yang sentimentil dan hanya merayakan permukaan. Moment kesementaraan dalam politik ini terjadi dalam tubuh bangsa kita sendiri, pancasila sebagai totalitas dalam menjalankan politik di pinggirkan. Peminggiran ideologi seperti ini berakibat pada melemahnya komitmen kebangsaan dan konstitusi kehilangan landasan moralnya, amandemen menghasilkan penghapusan nilai dan identitas menjadi kososng, masuknya gejala internasionalisme dalam berbagai bentuk pada akhirnya memperparah pengeroposan yang terjalin dari dalam.

Henri Lefebvre pernah merumuskan sebuah adagium, bahwa pada dasarnya tidak ada ruang yang absen dari politik, menilik dengan cara seperti ini untuk melihat kenyataan politik di Indonesia adalah baru, ruang-ruang politik kita dijejali hanya dengan kesemuan pada permukaan, politik tidak menjadi semacam senjata untuk menaklukkan masa depan, politik absen pada nilai. Politik hanya menjadi hingar-bingar dan perayaan yang sementara. Mari kita arahkan politik sebagai senjata ideologis pada kaum muda, bahwa mereka memasuki ruang-ruang politik pada segala level, tetapi mereka di rusak oleh mekanisme politik dan menghablur dalam permainan yang tidak tahu dimana ujung-pangkalnya.

HMI MPO sejak awal merumuskan politik berdasarkan nilai. Hal ini terbaca dalam traktat ideologisnya yang bernama Khittah Perjuangan. Terangkum dalam tafsirnya dan visi kedepan yang mengharuskan untuk di laksanakan. Bila merujuk pada pendekatan Luhman, maka boleh dibahasakan HMI MPO adalah entitas yang selayaknya autopoietic. Konsep autopoietik ini merujuk kepada diversitas-diversitas sistem-sistem dari sel biologis. Struktur yang di dalamnya plasma-plasma menjadi pusat dari sel-sel. Metafora ini, menjelaskan bahwa HMI MPO sebagai tatanan organik, dari model seperti ini, kami hendak membawa para pembaca kepada cara pandang yang bertugas secara fungisional untuk melihat HMI MPO sebagai sebuah batang tubuh organisasi. Bila kaca mata ini kita gunakan, maka dengan serta merta akan memberikan kepada kita pandangan yang sifatnya dialektis, sebab pada pandangan Luhman, sebuah organisasi dengan segala diversitasnya akan saling mengalami proses pengaruh-mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya pada tingkatan maupun bagiannya.

Sebagai sebuah plasma yang inheren dengan sub-sub sistemnya, maka HMI MPO tentunya memiliki sistem dasar yang menjadi fungsi integritas bagi jaringan kerja sistem-sistemnya. Islam sebagai plasma dasar, di dalam habitus organisasi yang memiliki fungsi sebagai gugusan system of thought bagi organisasi, bisa jadi mengalami proses konvergensi dengan tata gugus pemikiran lain yang berasal dari luar batasannya. Jika perihal ini terjadi, Islam sebagai autopoietic telah menagalami kondisi self organizing. Self organizing adalah bentuk pengorganisasian tentang bentuk diri yang melakukan dua model kerja sekaligus. Model kerja yang pertama, yakni Islam dalam pengertian HMI MPO akan melakukan proses pembatasan sistem-sistemnya dan kedua menerapkan pengorganisasian strukrur internalnya sendiri. HMI MPO lahir dalam sebuah alur konjuktural sejarah. Kaum muda menjadi subjek bagi Khittah Perjuangan. Segala praktik hidup di dasarkan pada aksioma yang telah di bangun dari landasan ini, terutama bagaimana menafsirkan keindonesiaan dan kebangsaan dalam bingkai ideologi islam, menyelamatkan kaki-kaki bangsa kita dari kehancuran dan menjadikan Islam sebagai karunia bagi semua yang ada dimuka bumi adalah tugas terpenting, dimana saat ini dignitas tidak lagi digenggam dalam tangan dan kedaulatan terampas. []

Tulisan ini pernah dimuat di pbhmi.net


08 April 2013

Di Tengah Madah; Alegoristik

'Madah masih saja terus berlari. Langkahnya semakin berat. Dan malam masih sama; gelap berkalang kabut. Selebihnya dingin.'

Sudahkah engkau tahu, tentang pengandaian yang mengandung kompleksitas permasalahan bilamana sebuah isyarat akan tesampaikan? Mengenai medan masalah yang secara teoritis mempunyai lapis kedalaman untuk diselami? Yang mana kemertian terkadang jatuh tergelincir pada situasi yang subtil; ketidaktahuan. Dapatkah engkau memahaminya? Perihal  dari apa yang saya tenggarai? Barangkali saja engkau sudah terlanjur tidak mengerti, tentang triadikal itu. Tentang konsep yang berunut panjang dilingkungan ahli bahasa. Mengenai sebuah pesan yang mendatangkan permasalahannya jika ia dituturkan?

Bahasa adalah isyarat pesan. Sebuah pengandaian untuk mengungkapkan kenyataan. Seperti itulah barangkali yang kupahami tentang bahasa. Barangkali juga dahulu pada masa yang lampau, masa ketika manusia menjadi asing, kenyataan hanyalah ia yang belum terkenali. Selubung cangkang yang berkalang tebal misteri. Kemudian manusia datang dan menyadari. Tentang selubung kenyataan yang sama sekali anonim. Dimana disituasi demikian, situasi yang bias pada ketertutupannya, manusia pun takjub. Kemudian akhirnya ia berbahasa.

Dan di sanalah bahasa menjadi bentuk pengungkapan dari apa yang tersaksikan. Menjadi media bagi kita untuk memediasi ruang antara. Sebuah ruang yang kita sebut konsepsi, dengan tujuan menengahi persentuhan kita saat berhubungan dengan kenyataan.

Namun adakah yang memahami betul, pun engkau? Bahwa bahasa bisa mendatangkan soal? Bahwa bahasa juga bisa menjadi hulu perkara? Jika disana mengandung kompleksitas yang akut. Yang mana dirinya menjadi soal. Jika tanda antara 'yang menandai' dan dengan 'yang ditandai' mengalami bias, mengalami kesenjangan. Dimana bukan saja kesenjangan, melainkan diantaranya tiada memiliki hubungan sama sekali. Tentang ini mereka, kalangan ahli bahasa itu, menyebutnya sebagai kasus kesemenamenaan; arbiter.

Maka dari kesemenaan itu, ketidakmengertian bisa datang meliputi. Serempak dan menipu. Sebab siapa duga, bahasa dengan maksudnya yang murni hendak menyatakan dunia kenyataan, justru menjadi soal sendiri. Akhirnya bahasa muncul dalam kevulgarannya yang paling ekstrim; banalitas. Dan disanalah saatsaat makna menjadi langka. Disaat inilah bahasa harus dikuak. Sebab bahasa telah bergeser melencengi tugasnya. Saat ini juga dimana makna yang telah langka harus diperjuangkan.

Namun, masihkah engkau menyimak? Persoalannya; mungkinkah bahasa tampil sebagai perwujudan kenyataan itu sendiri atau bilamana ia menjadi jejaring yang memerangkap kenyataan? Dahulu, pada alaf yang lain, bahasa dipakai dan disambut sebagai optik kenyataan. Bertugas menjadi ceruk untuk menampilkan kenyataan. Oleh karenanya, kenyataan lewat bahasa dapat tersajikan dan tesampaikan. Namun pada sekarang, dunia dengan erosi dimanamana, hadir dengan peradangan yang akut betul. 

Yang mana bahasa tiada fungsi selain untuk mendompleng kuasa. Dan malangnya, bahasa yang demikian, yang mengandung kecacatan fungsi itu, oleh apa yang kita sebut kuasa, bisa berfungsi massif. Tujuannya; penghisapan. Bukan dengan yang lain, melainkan bahasa. Sebab benarlah sudah bahwa bahasa juga bisa mendatangkan satu soal baru; keterasingan. Dimana dia tiada kita duga bersama; bahasa pun justru menjadi selubung kenyataan.

'...Madah masih terus berlari. Langkahnya semakin berat.
Berkalang kabut; yang ia lihat tiada selain gelap'
Masihkah engkau disana?

Pare, harimalam 130313


Kelupaan H di Tengah Madah; Mencari Rumah

Tirulah dari apa yang hendak engkau persamakan. Bukankah peniruan bilamana disana engkau bisa setara. Suatu sanksi jika disana ada keutamaan, sementara dirimu masih berkalang enggan.

Madah, Madah, Madah.

Sastra saya pahami adalah dunia yang menampik untuk tunggal; paham. Bilamana sastra berusaha di mapankan dalam bentuknya yang mono, maka konsepsi hanya bisa mencelos, bahkan bisa jadi tampil dalam bentuknya yang otoriter; rejim pikiran. Sebab konsep terkadang menghendaki jalur yang sempit. Kemapatan antara dua persisian yang mesti rapat; ide dan dunia. 

Maka, sastra bukan saja pada dua tepian realitas, dimana terkadang antara keduanya; imagi dan kenyataan, hanyalah mediasi untuk kedalaman seseorang.

Demikian pula sastra tidak menghendaki adanya kepurnaan. Sebab sastra tidak bertugas untuk memberi konklusi. Dan sastra justru hadir pada tampilannya yang murni; jedah batin yang terputus dari kenyataan. Dan disanalah interupsi diperlukan; kontemplasi. Dimana subjek harus memasukinya; ruang yang menuntut keterpisahan. Bukan dengan konsepsi, melainkan suatu yang bersebarangan dari dan dengannya; ego. Walaupun ia bisa terjatuh pada pemadatanpemadatan dari nilai yang sudah tertanam secara konvensional. 

Dari sanalah barangkali kita bisa memberikan pengandaian terhadap triadikal itu; id, ego dan superego. Yang mana selalu ada yang menghendaki untuk teridentitaskan, membuncah dari kedalaman. Namun pada persentuhan terakhirnya mengharapkan penyesuaianpenyesuaian dengan dunia di luar; hukumhukum. Kemudian disinilah kebebasan biasanya mengandung kompleksitas beserta pengandaianpengandaian yang bersilangan.

'Ma[h]dah mantap,, Matanya.. Matanya tajam...'

Seperti apa yang terlupakan; h. Jatuh dan tibatiba dan rapat pada Madah. Disana, pada Madah, proyeksi tentang kedalaman yang terpenggal begitu saja. Terpotongpotong dalam ruasruas waktu yang santer. H, ia bukanlah bentuk material dari bilik konsepsi. Ia datang begitu tibatiba, serempak meloncati, dan kemudian tetap. Kedatangannya sesuatu yang tak diduga. Perihal yang melintasi tanpa singgah tinggal dalam alam pikir.

'Ma[h]dah berlari,, Ia membelah malam.' 

Saya pernah mendengar ini; waktu internal dan waktu eksternal. Pengandaian ini mengisyaratkan dua peng-alam-an yang berbeda. Dua rujukan yang bersilangan. Bahwa masingmasing memiliki sistem yang berlainan dan saling bernegasi, terus dan terus.

'Ma[h]dah, Ma[h]dah...masih saja berlari setelah kematian di bawahnya; Abah.

Madah bisa saja memilih keduanya, antara rumah inferiornya atau bisa saja bergegas menuju rumah eksteriornya. Namun madah tahu; di luar sana dunia sedang kembang kempis, membangun megah rumahrumah ekterior. Dengan material yang tak pernah ada ditemukan sebelumnya; teknologi, dimana berlombalomba dengan dirinya pada percepatan yang sulit dibendung. Madah sanksi; kita lupa kemana harus kembali, kemana rumah yang harusnya kita datangi.

Pada persilangan waktu; Ma[h]dah masih berlari.

Pare, hari siang 120313

07 April 2013

Chavez


Chavez kritis. Ia bernapas meradang. Kemudian, di pembaringannya ia mangkat. Di usia 58.

Chavez bersusah payah melawan kanker: sakit yang menggerogoti sisa usianya. Beberapa kali operasi berjalan. Dokter terbaik berjibaku. Di rumah sakit Kuba, tempat sekutunya domisili, Castro, menjadi tempat terakhir sebelum akhirnya ia dipulangkan. Venezuela.

Dari atas dipan bilik rumah sakit militer ia masih memimpin rakyatnya. Instruksi-instruksi: bagaimana pun juga pemerintahan harus tetap bergerak. Negara, institusi politik yang ia kuasai tak mengenal ampun. Batapa pun sakit, negara adalah segalanya.

Namun, Selasa di suatu sore, 16.25, waktu berubah genting. Sesuatu mesti dikabarkan. Maduro, wakil Chaves mengumumkan: ”Kami telah menerima sebuah informasi yang paling tragis dan memilukan. Hari ini, pukul 04.25 sore, Presiden Hugo Chavez Frias meninggal dunia.” Suaranya tersedak, wakil presiden itu menangis. Selang detik kemudian Venezuela berkabung.
Chavez telah tiada.

kepergiannya tiada meninggalkan sesuatu selain dua hal: sosialisme dan negaranya tercinta.
Venezuela, seperti halnya negeri-negeri pewaris sosialisme: kesetiaan rakyat, pemerintahan demokratis, dan setiap inci tanah kemerdekaan, mau tak mau memiliki agenda total. Ketika Chavez memerdekakan Venezuela dari komparador kapitalis, sosialisme harus sampai ke rumahrumah warga. Tiada lagi warga melarat. Sosialisme satu-satunya juru selamat.

Syahdan, kolektivisme bukanlah prinsip yang nihil. Chavez belajar dari pengalaman masa lalunya. Kolektivitas adalah sisi terang yang mengatasi kemiskinan. Gagasan ini ia rawat semenjak dari militer. Baginya, militer bukan garis diametral yang menjauh dari entitas tempat mengabdi: rakyat. Militer dipahami sebagai sosialisme yang mengacung moncong senapan kepada penjarah tanah air. Militer sesungguhnya sosialisme berseragam. Ia  mekanisme pertahanan negara menghadapi ancaman apapun. Termasuk jenderal-jenderal sayap kanan berpolah korup. Chavez meyakini militer yang korup adalah musuh kemanusiaan.

Dari sosialisme jenis demikianlah ia hendak menata kembali Venezuela. Kemudian: kudeta militer dikerahkan. Walau akhirnya ia mengumumkan;

”Kamerad, sayang sekali untuk saat ini misi yang kami rancang gagal dijalankan di ibu kota. Beberapa di antara kita yang berada di Caracas tidak merebut kekuasaan. Di manapun kalian berada, kalian telah melakukan hal terbaik, tetapi sekarang adalah masa untuk merenung. Kesempatan baru akan muncul dan negara ini harus diarahkan ke masa depan yang lebih baik.”

Ia gagal.

Ia menunggu sembari menyusun rencana lain.

Venezuela dikeruk aksi pemerintahan korup. Oligarkhi kian liat. Agen-agen neolib bercokol di pemerintahan. Minyak melimpah, namun kemiskinan kian meluas. Saat-saat seperti ini revolusi satu-satunya jalan.

Kini, permasalahannya berbeda. Sosialisme bukan semata-mata rumusan mengelola negara. Bukan jargon yang harus dikhatamkan begitu rupa. Sosialisme tidak bakal tumbuh di tanah kering. Sosialisme tidakuntuk dijiplak.

Dengan kata lain, tidak seperti bangsa phobia perubahan, revolusi harus berangkat dari ingatan terdalam sejarahnya sendiri. Dan sosialisme, pada tafsirnya yang lain, di mana Chavez telah gagal memiliki isyarat: marxisme sudah uzur.

Itulah sebab, sosialisme dibersihkan dari kekolotan Leninisme. Apa yang menjadi aturan pakai, revolusi Venezuela kembali dengan tema besar: Revolusi Bolivarian. Dan akhirnya, dari partai, serempak sosialisme yang dinspirasi revolusi Bolivarian menjadi pekerjaan 24 jam. Kemudian dimulailah agenda besar itu: penyejahteraan berkala.

Hingga kini pasca pengumuman itu, 4000 lebih dewan-dewan komunal menemukan kenyataan, dan bisa jadi masalah; Chavez betul-betul mati.

Spekulasi di balik kematiannya bermunculan. Chavez diracun. Agen CIA dalangnya. Itu asumsi kalangan internal pemerintahan Venezuela. Walau demikian, umur Chavez tak sepanjang sosialismenya. Tanpa Chavez setelahnya, Revolusi Bolivarian bakal dirundung ujian.

Revolusi di manapun adalah batas antara ”yang konservatif” dengan ”yang revolusioner”. Revolusi bagai gerbong yang membutuhkan masinis. Apapun skenarionya mesti ada seseorang berdiri di depan menyisihkan lengan baju. Dan semuanya harus percaya. Tetapi kepercayaan bukanlah tanpa risiko, terlebih ketika sang masinis mangkat tanpa usul pengganti.

Walaupun demikian, bagi negeri-negeri sosialis keyakinan terhadap sosialisme ibarat jubah yang membutuhkan sosok, sekalipun ia sudah mangkat. Sosialisme dan sosok mesti abadi. Ia kedap perubahan.

Seperti Lenin maupun Mao, di Venezuela, sosialisme mau tak mau harus menjadi tubuh yang awet. Tujuannya kelak agar ingatan tak mudah disalib lupa. Sebagai simbol sebagai monumen ingatan. Di negeri sosialisme setiap pemimpin sesungguhnya berumur panjang.

03 Maret 2013

batas

Apa yang datang kelak pada akhir dari penghayatan tentang 'ada'? 

Konon katanya, agama bermula dari kesunyian. Konon, agama merupakan titik akhir dari pen-sunyi-an. Ataukah konklusi dari penghayatan. Bentuk keinsyafan dari ego yang ditangguhkan. Yang mana cikal ujungnya berakhir kesadaran. Bilamana disana kesadaran harus tangguh pada yang tak terkenali, sehingga batas darinya harus memaklumkan ada rendah hati. 

Jikalau agama adalah citra kesunyian, namun ia pun harus memahami kenyataan yang lain dari keberadaannya. Perihal alam yang berbeda dari dirinya; alam rimba ektensia, alam lain yang bermaterialkan konkrit. Yang selanjutnya ia mau tak mau harus berhadapan dan mendapati dirinya pada dunia yang begitu kontras. Pada titik inilah agama terkadang harus bersilangan dengan hal yang fana; alam duniawi.

Dunia yang sekarang bukan lagi dunia yang sama ketika pertama kali agama datang. Dunia sekarang merupakan dunia dengan adabadab yang berbeda. Tempat yang menghapus bentukbentuk ke-abadi-an. Kita barangkali telah khatam, dimana agama selalu menyusun dunianya yang menampik sesuatu yang tak tetap. Selalu datang dengan cogitan yang meneguhkan 'ada', dengan penyingkiran terhadap yang badani. Yang mana badani merupakan episentrum dari hirukpikuk yang mendatangkan dosa. 

Dari sinilah barangkali datangnya soal. Pada tepian antara sunyi-abadi dengan ramaipikuk-badani, agama harus menjatuhkan palunya bilamana keduanya harus dipilih. Antara badani ataukah abadi, antara dunia ekstensia ataukah kesunyian, antara absolut ataukah kefanaan. Antara keangkuhan-kesunyian ataukah kerendahhatian pada alam yang tak pernah tetap? 

02 Maret 2013

peng-alam-an

Setahuku waktu adalah ukuran jarak. Perluasan antara keduanya; ruang. Yang mana keduanya bisa jadi saling bersilangan. Dari sanalah ruang datang. Ruang bisa saja terberi begitu saja, atau bagaimana kehendak untuk menempati. Dari kehendaklah isyarat tentang waktu terkadang menyisakan tuai; peng-alam-an. 


Waktu adalah batas peng-alam-an, dan ruang adalah monumentnya. Dan kita, pada apa yang dimiliki, mempunyai inti yang sublim. Tentang yang membatasi kita dari ekstensia lain; potensi pikir. Berawal dari sanalah datang segala lainnya. Dan peng-alam-an adalah residu yang membatu. Bisa jadi guna jikalau terbagikan. 

Bicara peng-alam-an, ada Iqbal, dengan scribnya tentang semesta yang tak kenal konklusi. Bahwa alam bukanlah rentetan event yang selesai, bukan kesimpulan dari kreasi Tuhan. Melainkan waktu yang menubuh pada pikiran manusia. Yang mana kita adalah 'usaha' Tuhan yang hendak meng-ada. Darinya Tuhan hendak berbagi peng-alaman.

Namun tak selamanya murni mendatangkan kesucian. 


Terkadang kemurnian bisa jadi pilar yang membatasi. Mendatangkan bakhil pada situasi yang primordial. Sebut saja Agama, kuasa politik, ras beserta klaim lainnya yang bisa kita deret pada alam kenyataan. 


Peng-alam-an adalah waktu yang menubuh ruang. Namun pula, kadang ia menjadi hal yang menyisakan lampau. Pada titik ini kadang peng-alam-an mesti men-tabik, pada apa yang akan datang. Dan disana sejumlah alam yang asing dikehendaki untuk dijamah?.

Pare, sela waktu 010313

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...