19 Februari 2015

madah tigapuluh

Betapa mudahnya hukum ditegakkan, tapi betapa sulitnya keadilan ditemukan.

Barangkali karena itulah Socrates mati. Sebab tak ada keadilan di dalam suara terbanyak. Kita tahu,  pengadilan yang menjatuhi hukuman mati bagi filsuf itu, tak pernah mengakui aktifitas Socartes; berfilsafat.

Di Yunani, di saat itu, betapa mudahnya keadilan dipermak. Apakah adil itu? Pertanyaan seperti ini adalah penanda bagaimana keadilan memang tak selamanya jelas. Dalam pengadilan itu, yang menolak argumentasi pembelaan dari Socrates, memutuskan keadilan diberlangsungkan dengan cara suara terbanyak.

Apakah adil itu? Pertanyaan ini barangkali adalah pertanyaan yang memang tak sepenuhnya tuntas. Di saat ketika Socrates hidup, betapa banyaknya kaum sophis, golongan yang pandai membangun opini atas argumentasinya yang menyesatkan. Keadilan memang tak sepenuhnya dapat dijelaskan, sebab tak ada yang disebut kebenaran yang pasti, Phiro mengyakininya demikian. Kebenaran yang pasti sulit dijangkau. Kita, manusia tak bisa menyentuhnya. Kebenaran suatu yang misterium.

Sebab itulah Socrates bangkit melawan. Sebab di Yunani, saat itu sesat pikir jadi massal. Keadaan jadi simpang siur akibat kaburnya ukuranukuran. Filsafat bukan berarti keahlian yang tanpa hormat. Filsafat harus sampai pada satu simpul kebenaran. Kaum sophis salah. Kebenaran pasti ada, sebab itulah filsafat harus mencarinya.

Tapi, bagi banyak orang terutama orangorang kaya, kaum sophis sangat berguna. Keahlian mereka dalam menyusun argumentasi yang alot sangat dibutuhkan. Sebab di waktuwaktu tertentu, argumentasi mereka digunakan untuk berdagang. Retorika mereka sangat tepat untuk menarik perhatian orang. Dalam sejarah Yunani, mereka banyak ditemukan dirumahrumah orang kaya.

Itulah mengapa Socrates membenci kaum sophis. Keahlian yang mereka miliki justru membuat manusia tak hormat terhadap kebijaksanaan. "Aku bukanlah orang yang bijak, tetapi aku mencintai kebijaksanaan." Sepertinya sebab itulah ia tak ingin disebut sophis walau arti dari kata itu sebenarnya suatu yang baik; bijaksana. Tapi, karena orangorang yang menjual kebijaksanaan di pintupintu orang kaya, kata itu jadi cacat. Kata itu jadi rusak.

Di negeri ini, sebagai suatu yang sophis banyak sekali ditemukan. Bahasa kebenaran jadi kabur oleh ketidaklogisan katakata. Dalam hukum, bahasa menjadi medium yang mendua. Bahasa seperti ungkapan kaum sophis, tak mampu menyampaikan apaapa. Bahasa justru menjadi penjara dari apa yang ingin disampaikan. Bahasa tak bisa membawa manusia menjadi lebih tahu. Karena itulah tak ada yang bisa menangkap maksud. Tak ada yang bisa dirumuskan. Juga keadilan.

Keadilan memang suatu yang harus dicari dan diperjuangkan. Di negeri semacam ini, keyakinan sophisme memang tak seperti di Yunani era Socrates yang terang benderang ditemukan. Juga keyakinan mereka tentang kemustahilan ditemukannya kebenaran, tak membuat jemu orangorang mencarinya. Di sini, ditempattempat keadilan ditegakkan justru disaat yang bersamaan, keadilan disembunyikan. Atau yang lebih malang adalah keadilan dibungkam.

18 Februari 2015

madah duapuluhsembilan

Louis Althusser, filsuf marxis Perancis yang akhinya gila itu memiliki keyakinan, filsafat seharusnya menjadi tajam. Filsafat seharusnya memiliki sumbangsih. Filsafat harus menjadi senjata revolusi. Bukunya yang dituliskannya dengan judul "Filsafat Sebagai Senjata Revolusi", nampaknya teguh mengikuti bahasa Marx; filsafat tidak sekedar menafsir dunia, melainkan mengubahnya.

Saya agak sulit membayangkan, filsafat yang ditandai sebagi ilmu yang abstrak dapat jauh menyentuh halhal yang kongkrit, yakni suatu kehidupan praktis. Dalam hal ini malah mendorong suatu perubahan masyarakat; revolusi.

Tapi, di mata orangorang semacam Louis Althusser, atau yang teguh dengan marxisme, itu adalah hal yang mesti. Filsafat tidak seperti ungkapan Hegel yang berpretensi atas gerak ruh yang menyejarah dalam alam. Dalam marxisme, jusru sejarah adalah milik manusia kongkrit. Sejarah adalah milik orangorang yang ingin keluar dari tindihan beban kerja. Dalam sejarah sebenarnya adalah perubahan yang dicipta kaum pekerja. Dan di sanalah filsafat bekerja, di antara orangorang yang dihimpit beban kerja.

Sebab itulah filsafat diperuntukkan untuk kaum pekerja. Bukan untuk orangorang yang banyak memiliki waktu luang dan dengan enteng berpikir akan halhal yang jauh di atas batasbatas imajinasi. Filsafat demikian disebut Marx adalah pemikiran yang berjalan dengan halhal yang abstrak, filsafat yang berjalan dengan kepala. Filsafat yang untuk kaum pekerja harus diawali dari penyelidikan kongkrit. Dari hidup seharihari. Dari masalahmasalah praktis. Filsafat ini punya nama; materialisme historis.

Dengan demikianlah Louis Althusser menganjurkan sebuah cara berpikir yang historis. Yakni penyelidikan atas asalusul kehidupan yang dialami dan dijalani. Suatu cara materialisme untuk mengubah sejarah. Suatu filsafat emansipatif. Suatu filsafat revolusioner sebagai senjata perubahan.

Dalam arti itulah filsafat memiliki dengan sendirinya suatu tanggung jawab. Kata Alain Badiou suatu resiko. Resiko sebagai suatu konsekuensi atas sudut pandang. Dengan begitu filsafat menjadi konsekuen.

Filsafat yang konsekuen itu barangkali dapat kita temukan dalam kisah seorang Socrates, filsuf yang mati dengan menanggung resiko sudut pandang yang ia teguhi. Di sana, di suatu sudut penjara kota Athena ia membuktikan ucapannya; berfilsafat berarti bersiap menanggung mati dikemudian kelak.

Melalui cara pandang yang diperjuangkannya, akhirnya Socrates mati dengan cara yang teguh; keyakinannya ia pertahankan hingga racun cemara merenggutnya bersamaan dengan kematiannya.

Dan tak ada yang lebih puitis dari berbicara tentang kebenaran. Frase ini pernah diucap Gie. Anak muda yang resah sekaligus risau atas keadaan di sekitarnya. Kerisauannya kita tahu, ia tuliskan dalam catatan yang akan terkenal kelak; "Catatan Seorang Demonstran."

Melalui catatancatatanya kita akhirnya bisa tahu bahwa Gie adalah orang yang mudah risau. Sebab ia menanggung sebuah cara pandang yang konsekuen terhadap keyakinannya. Cara pandangnyalah yang sebenarnya membuatnya harus bersikap demikian teliti terhadap keadaan di sekitar. Dan dari sanalah ia menulis catatancatatannya. Dari keresahan.

Baik Socrates atau pula Gie, mungkin tidak seperti yang dikehendaki Althusser, bahwa konsekuensi dan keresahan dari suatu pandangan tidak berhenti pada suatu ruangan gelap penjara dan bukubuku catatan. Filsafat harus jauh menaksir yang tak pernah tersentuh oleh capaian perubahan manapun. Dalam marxisme, keyakinan demikian mereka sebut sebagai hukum dialektis.

Oleh cara demikianlah filsafat menjadi ilmu yang bekerja dalam sejarah. Mao menyebutkannya dengan cara berpikir dua tahap: pencerapan dan pengamatan. Dengan cara demikian, Mao menyepakati suatu keyakinan purba dalam ilmuilmu; teori dan praktik adalah dua hal yang tak bisa ditanggalkan salah satunya.

Sebab itulah fisafat yang disebut Althusser sebagai senjata revolusi yang ilmiah. Ini berarti seluruh asumsi filsafat harus diujicobakan dalam kehidupan praktis. Ini berarti filsafat juga mesti dipraksiskan. Dengan kata lain, filsafat sebagai senjata revolusi adalah jenis ilmu yang menjawab kebutuhan praktik seharihari. Ilmu yang menutupi kekurangan seharihari.

Tapi kata Alain Badiou filsafat hari ini sedang mati suri. Di kehidupan seharihari ia diserang sanasini oleh alam yang tak jemujemu menawarkan kebebasan, kesimpangsiuran, ketidaklogisan dan keacuhan terhadap komitmen. Filsafat menjadi ilmu yang tersisihkan dari kehidupan yang tak bertujuan. Filsafat kata Badiou harus dibangkitkan. Filsafat harus dibangunkan dari tidur panjangnya. Filsafat ia sebut sedang sakit bahkan sekarat. "Tapi saya yakin dunia," ungkapnya di suatu waktu, "sedang berkata pada filsafat: "bangkit dan berjalanlah!"

Hanya saja bagaimana ia harus dibangkitkan? Jika ingin disebut sebagai senjata revolusi? Jika Socrates, barangkali ia akan menuruni keramaian dan bertanya kepada banyak orang akan segala hal ikhwal, seperti saat ia berkeliling di Agora untuk berdiskusi dengan siapa saja. Atau seperti Gie yang memilih jalan memutar untuk menyimpannya dalam bentuk refleksi pemikiran; menulis catatancatatan. Atau seperti marxisme yang menganjurkan cara praksis revolusioner gerakan massa. Atau di luar dari semua itu, bahwa seperti keyakinan Heidegger; berjalanlah sebagaimana anak kecil untuk pertama kalinya melihat alam yang asing.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...