17 Februari 2015

madah duapuluhdelapan

Orang itu lapar dan butuh tempat tidur. Jean Valjean, mantan napi yang nasibnya sudah buntung itu hanya butuh rumah dan makanan. Ia sudah berjalan jauh dari kotakota. Dimasukinya sebuah penginapan, namun ditolak. Juga  ketukannya terhadap pintupintu rumah yang lain menolaknya. Jean Valjean merana. Harapannya pupus. Semua pintu mengharamkan bantuan kepadanya.

Namun di suatu malam, di saat gundah dan lapar jadi sangat, ketika hampir semua pintu tak menyambutnya, di dekat pojok katedral ia bertemu seorang perempuan. "Sudahkah kau mengetuk rumah di ujung sana," perempuan tua itu menunjuk  sebuah rumah di suatu sudut dekat rumah mewah. "Belum," jawab Jean Valjean ketus. "Pergi dan ketuklah," perempuan tua itu menyarankan. Jean Valjean akhirnya beranjak dari kursi tempatnya tidur. Ditujunya sebuah rumah yang ternyata milik seorang uskup tua. Dan dari perbincangan singkat itu, di dalam sebuah rumah uskup, sebuah nasib akan bermula. Jean Valjean akan menjelma. Jean Valjean akan berubah.

Prancis di abad 18, memang mudah membikin orang menjadi sengsara. Apalagi mantan napi yang belum bebas penuh, seperti Jean Valjean, tokoh protagonis dalam novel termasyur Victor Hugo; Les Miserables. Sesiapa pun yang terlanjur menjadi masyarakat miskin, pengangguran, berpenyakitan tanpa pengharapan akan mengerti satu keyakinan; bersiap dikucilkan.

Foucault setidaknya mencatat bahwa di abadabad itu, orangorang semacam Jean Valjean, mantan narapidana, kaum miskin, kaum lepra atau tunasusila adalah korban dari kekuasaan. Bahwa mesti ada penertiban terhadap kaum papa, bahwa mesti ada penyingkiran kaum miskin terhadap tatanan masyarakat elit. Eropa saat itu memang sedang membangun sebuah rejim kaum elit, peradaban yang bersih dari orang semacam Jean Valjean.

Tetapi dalam Les Miserables, Victor Hugo menuliskan segurat nasib yang tidak lurus. Kemiskinan yang begitu dalam dialami masyarakat Prancis saat itu, digubahnya dalam kisah perjalanan seorang Jean Valjean yang mantan napi miskin, menjadi seorang walikota pengusaha yang tak abai dengan nasib manusia yang melarat. Dalam Les Miserables, Victor Hugo ingin bercerita bahwa kemiskinan dan kebaikan bisa mengubah banyak hal, termasuk hati seseorang.

Tapi kebaikan seperti apakah yang dimaksudkan oleh Victor Hugo, yang mampu mengubah Jean Valjean dari seorang papa, mantan buron menjadi orang yang berhati emas? Kebaikan itu diungkapkannya pada fragmen cerita saat Jean Valjean tertangkap pasca mencuri alat makan perak uskup yang menampungnya tidur. Di kisah itu dari pengakuan seorang uskup yang tidak diduga Valjean, akhirnya membuatnya tersentak kaget. Suatu yang tak dia bayangkan sebelumnya.

Fragmen ceritanya seperti ini: malam itu, pasca ia bertemu dengan perempuan tua yang menunjukkannya sebuah rumah, Jean Valjean beranjak pergi. Ternyata yang ditunjukinya adalah rumah seorang Uskup. Diketuknya dan tanpa didugaduga, uskup tua itu menyambutnya dengan hangat dan memberinya tumpangan untuk menginap. Tak ada rasa takut dalam hati Uskup itu. Tapi di malam itu, setelah jamuan makan malam, setelah semuanya terlelap, Jean Valjean tak tidur. Di malam buta itu ia bangkit mengambil peralatan makanan perak pastur yang ditemukannya di almari di dalam dapur. Jean Valjean mencurinya dan Dia kabur.

Paginya ketika uskup telah menyadari ditipu mentahmentah. Datang sekumpulan polisi yang membawa serta Jean Valjean. Ternyata ia ditangkap karena dicurigai membawa barang yang dinilai tak sanggup ia miliki. Jean Valjean merana, pikirannya kalut. Baru saja ia mendapatkan kebebasannya, ternyata nasib tak berubah. Ia akan dipenjara lagi. Tetapi saat itu, saat polisi mempertemukan Jean Valjean dengan Uskup, ia justru kaget bukan kepalang. Sang uskup dengan senyum malah menyambutnya. Polisi kaget. Jean Valjean apa lagi.

Ternyata sang uskup malah mengatakan kepada polisi bahwa ia sebenarnya yang memberikan peralatan makan itu kepada Jean Valjean. Bukan seperti dugaan polisi. Sontak karena pengakuan uskup bahwa tak ada barang sesuatu pun yang dicuri Valjean, maka ia dilepaskan. Akhirnya polisi pergi. Yang tinggal adalah Valjean yang merasa heran dan bersalah. Pagi itu ia menemukan kebaikan yang tak pernah diduganya. Jean Valjean gemetar.

Dalam kisah itu ada kebaikan yang janggal atau bahkan tak biasa. Yakni kebaikan hati dari seorang uskup tua terhadap seorang mantan buronan yang mencuri di rumahnya. Kebaikan yang sulit ditafsir oleh hukum moral. Kebaikan ini barangkali yang disebut dalam etika kristiani “jika engkau ditampar pada pipi kiri, maka berikan juga pipi kanannmu.” Suatu kebaikan yang tanpa konteks. Suatu kebaikan yang tak punya sangkut paut oleh pretensi apapun selain kebaikan itu sendiri. Barangkali kebaikan demikianlah kebaikan yang dimaksudkan Kant, ketika kebaikan dilakukan oleh karena tanpa syarat apapun.

Namun, kebaikan sang uskup melepaskan Jean Valjean pada kisah Les Miserables itu, menjadi penanda bagaimana kebaikan mampu mengguyah hati seorang Jean Valjean. Sebab dalam cerita yang konon banyak membuat tangisan saat mencetaknya, pasca kejadian itu Jean Valjean akhirnya menjadi pribadi yang berubah baik. Dari seorang mantan napi menjadi walikota yang punya peka terhadap nasib orangorang kecil.

16 Februari 2015

madah duapuluhtujuh

Suatu kota bisa jadi ruang yang begitu bising, tetapi barangkali justru asing. 

Kota, sudah jadi bagian dari sebuah skema kemajuan. Sejak suatu tempat tersentuh perencanaan pembangunan, maka di saat yang bersamaan di sana ada maksud untuk membangun keramaian. Tapi keramaian suatu kota, justru bukan dalam arti soliditas yang kolektif, melainkan justru adalah penanda betapa keterasingan adalah suatu hal yang kronik.

Suatu kota memang membikin asing. Suatu kota memang tak hendak untuk membangun suatu hidup yang hening.

Filsuf Jerman Martin Heidegger pernah menyitir suatu hal yang subtil; keheningan dan kesepian. Kota menurut Heidegger adalah tempat yang tak mampu mencandra keheningan. Justru di desa, tempat di mana langit menjadi ruang yang bersih dari polusi, dan tanah yang lapang dengan ilalang, adalah dunia tempat keheningan akrab ditemui.

Keheningan disebutnya adalah kekuatan asli yang khas dari manusia. Sesuatu yang tak pernah mengisolasi diri manusia. Dengan keheningan, filsuf bertubuh gempal itu menyebut keheningan adalah media yang mampu memproyeksikan eksistensi. Keheningan adalah ruang yang beririsan dengan hakikat segala sesuatu. Suatu wesen, suatu inti.

Sebab itulah, Heidegger katakan orangorang kota sering heran terhadap orangorang petani, ibuibu pekebun, anakanak penggembala, yang hidup betah dengan lama jauh dari suara gemuruh kota. Oleh karena, di sana, di lerenglereng gunung, pinggir pesisir, di tengahtengah sabana padi yang kemuning, keheningan datang dan akrab membentuk sebuah identitas; masyarakat yang arif.

Barangkali inilah yang ingin dicapai para filsuf atau sufi. Suatu sikap yang tanpa pretensi dalam menjalani suatu nasib. Suatu mental yang disebut Nietzsche sebagai kearifan yang tak sombong terhadap alam kenyataan. Yakni tindak hidup aktif tanpa ingin memanipulasi alam kenyataan yang dihadapi. Suatu sikap yang hanif terhadap alam yang akbar.

Orangorang kota sepertinya tak sanggup untuk melakoni hidup tanpa pretensi. Sebab, hidup di dalam kota serba terencana, serba sistematis. Suatu hidup yang dibentuk oleh rasio yang instrumentalistik. Dari rasio instrumentalistik kenyataan diatur dan diprediksi atas efektifitas, efisiensi dan ketepatan. Maka itulah suatu kenyataan sudah harus fix dalam perencanaan yang matang. Sebagai suatu rencana yang matang, hidup akan menjadi arena yang saklek atas ketatnya rel yang telah ditarik lurus.

Sosiolog Prancis Emhile Durkheim melihat yang saklek itu sebagai penanda kota. Ia menyebutkan berawal dari bergesernya ikatan kultural menjadi normatif, solidaritas juga berubah. Ikatan solidaritas menjadi renggang oleh terciptanya spesialisasi yang menghancurkan gotong royong. Yang kolektif tibatiba dihancurkan atas solidaritas organis. Sehingga komunitas yang dipersatukan oleh ikatan komunal bersama, menjadi tatanan yang diatur atas individualitas. Akibatnya, pribadi desa dihapus menjelma pribadipribadi yang otonom.

Dari itu ada dua hal dalam kota; rasionalitas dan individualitas. Perencanaan dan pembagian kerja. Dari itulah kota tampak cekatan dalam merencanakan sebuah skenario. Di dalam suatu skenario tentu ada rasio yang istrumental mengefektifkan suatu rencana. Juga suatu rencana agar dapat efisien, maka suatu pembagian kerja mesti dilakukan. Dengannya, akhirnya kota menjadi tempat agenda pasar diberlangsungkan, kekuasaan diselenggarakan, dan kebudayaan dipertaruhkan.

Memang kota adalah manifestasi sebuah agenda dijalankan. Pusatpusat didirikan; kantorkantor, sekolah, rumah sakit, rumahrumah mewah, malmal, pusat hiburan, kebugaran, rukoruko, diskotik, pabrikpabrik dsb. Tapi di balik berdirinya temboktembok pusat, di sana juga menyisihkan dan membangun yang lain; kenangan dan keasingan.

Sebab itulah saya selalu senang sekaligus miris mendengar "ujung aspal pondok gede", lagu Iwan Fals itu. Dalam lagu itu ia bicara tentang perubahan, ia bicara tentang suatu rencana pembangunan, suatu keserakahan kota yang menyisihkan "wajah murung pribumi" dan "suara langkah hewan bernyanyi."

Dalam lagu itu ada yang dihidupkan sekaligus hilang begitu saja. Saya menjadi orang yang tibatiba sadar masa lalu, sadar terhadap kenangan masa kecil. Suatu saat ketika saya bermain di tanah lapang dan halaman masjid yang berdiri tak jauh dari rumah. Suatu sudut ruang atas kenangan yang sudah menjadi samarsamar sekarang. Suatu kenangan yang lamat dalam waktu dan hilang dalam ruang. Karena itulah sesuatu tempat bisa menjadi asing dari suatu kenangan.

Iwan Fals pandai sekali menuliskan momen semacam itu; tanah yang dulu tempat pepohonan tumbuh, pondok rumah yang berdiri hingga senja berganti malam, ruang mesjid tempat bermain, akhirnya menjadikan tanah tempat kenangan dibentuk, digilas "sebuah rencana dari serakahnya kota."

Sebab itulah kota menjadi tempat yang ramai dan bising. Sebab itulah orangorang kota sekaligus kesepian dan juga sebenarnya asing.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...