13 Februari 2015

madah duapuluhempat

Gandhi, orang tua yang ringkih itu, barangkali tak menyangka, bahwa manusia bisa cepat berubah hanya dengan sebuah fanatisme. Gandhi, yang melakukan gebrakan di India, akhirnya tersungkur oleh tembakan, bukan dari musuh yang dikecamnya, justru dari orang yang gigih membela pandanganpandangannya. Di suatu waktu saat ia keluar menemui kumpulan orang yang menunggunya dalam suatu acara doa, tibatiba terjadilah insiden itu. Fanatisme membunuh dua korban; ingatan sang penembak dan tentu Gandhi sang penganjur perubahan.

Aksi penembakan itu membuat kita sadar bahwa betapa rentannya sebuah ide yang diperjuangkan bisa mendatangkan luka, atau bahkan kematian.

Di India, saatsaat sebuah ide diperjuangkan adalah masamasa yang kritis. Ketika sebuah ide menuntut kepastian akan sebuah komitmen. Tapi Gandhi tahu, ideide pembebasannya tak ingin membawa India pada kepemimpinan yang berdiri atas nama keyakinan, sebab dia menyaksikan sebuah keadaan yang jamak, orangorang yang menyembah banyak tuhan. Maka itulah ia tak hendak membawa sebuah ide untuk mengakui satu kelompok kepercayaan. Apalagi ini adalah urusan negara, bukan seperti urusan semacam parade yang sebentar saja bubar. Negara membutuhkan ide yang universal, bukan yang fanatik.

Tapi India  harus mengenang kehilangan Bapunya yang kharismatik itu. Orang yang setia dengan cara persuasif dalam menggugat kesewenanwenangan. Dari itu justru yang menggugat juga berarti menggugah.

Itu kejadian yang jauh di India. Di negeri kita, sejarah yang hampir sama juga terjadi. Yakni betapa susahnya membangun ide menyeluruh yang bisa mengikat keseluruhan tanpa menanggalkan sesuatu yang khas dari partikularitas. Soekarno sudah pasti tahu itu, sebab Indonesia bukan kepunyaan segelintir kelompok. Sebab negeri ini adalah jerih dan payah orangorang banyak. Ada pemikiran yang dikuras dan tenaga yang dikorbankan. Maka itu ia perlu dialog, maka itu ia perlu diskusi panjang.

Dan gagasan universal itu dibincang, para tokoh berdebat panjang. Kritik dan pertukaran pikiran tibatiba ramai. Namun suatu hal tak pernah luput bahwa semuanya demi negeri bukan kelompok. Dan ide universal itu bernama pancasila. Ide universal yang merangkum partikularitas Indonesia.

Tapi adakah pembunuhan di sana? Seperti yang di alami Gandhi? Nampaknya bisa iya, tapi sudah pasti tidak. Sejarah kita menuliskan, bahwa tak ada orang seperti Nathuram Godse yang berkepala penuh fanatisme dengan pistol ditangannya dan nekat membunuh seorang semisal Bung Karno. Tapi banyak yang harus dibunuh saat harihari perumusan yang melibatkan para tokoh untuk mencari ide yang universal. Mereka pasti yakin, sebuah ide universal yang melingkupi, harus mampu menyisihkan ego apapun di dalamnya. Sebab betapa bahayanya sebuah fanatisme. Betapa berisikonya sebuah ide tanpa akal panjang.

Apa yang diperjuangkan Gandhi di india dan Founding Father di negeri ini, sering disebut sebagai ideologi. Sebuah ide yang menjaring dan mampu mengikat keseluruhan dari bagianbagian. Di negeri ini bagianbagian itu begitu jamak. Banyak yang berbeda dan tak bisa serta merta dibayangkan sama. Maka itu, ideologi, atau pancasila, sebenarnya adalah ide yang fleksibel sekaligus ketat. Fleksibel berhadapan dengan kejamakan dan ketat sebagai panduan.

Tapi, ideologi juga bisa menyulut emosi seperti yang ditunjukkan Nathuram Godse. Tak bisa dibayangkan bagaimana India di kepala Godse yang pengikut hindu garis keras itu. Atau bagaimana pula India yang dikehendakinya dengan cara membunuh orang yang disebut Bapu itu. Tapi barangkali bisa kita tebak, kepala yang penuh dengan keyakinan yang fanatis, akan tak siap menerima beragamnya perbedaan. Kepala yang penuh ide yang sempit sudah pasti memiliki jiwa yang sempit.

12 Februari 2015

madah duapuluhtiga

Konon, di Yunani purba, tubuh merupakan wakil kebaikan dan keuletan. Ia adalah penanda supremasi manusia. Olimpiade, misalnya,  yang dilakukan selama empat tahun sekali di lereng Gunung Olimpus, merupakan pemujaan terhadap tubuh yang ideal. 

Bahkan dalam filsafat, Aristippus, teman Socrates, mengidealkan tubuh sebagai ajaran etika. "Kesenangan tubuh jauh lebih baik dari kesenangan jiwa." Di Yunani sepertinya, tiada jiwa yang ideal tanpa tubuh yang ideal.

Itulah  ada adagium yang akrab; mens sana in corpore sano, di balik tubuh yang kuat, ada jiwa yang sehat. Di balik seratserat otot yang padu, terdapat jiwa yang utuh.

Namun itu di Yunani, suatu masa ketika tubuh ditempatkan sebagai ekspresi atas yang ideal, yang dipuja dan dipuji. Sesuatu yang sempurna.

Bagi sebagian orang ada keyakinan tubuh adalah medium kejahatan. Tubuh sudah terlanjur dianggap musuh kemurnian. Tubuh adalah ruang yang gelap dan tak harus dicandra. Dari itu, tubuh dijauhi. Dari itu, tubuh diasingkan.

Di Yunani sendiri, sebelumnya ada Platon. Ia berpendapat tubuh adalah kuburan jiwa. Jiwa diandaikannya sebagai entitas ideal yang murni, yang disebutnya hidup dalam archetype. Di sana adalah kebebasan sejati, jiwa hidup bebas dan tiada batas. Namun jiwa mengalami keturunan dan terperangkap dalam tubuh. Jiwa, yang semula hidup bebas akhirnya terpenjara dan terkurung. Dan tubuh adalah dunia yang gelap bagi jiwa; bayangbayang.

Maka itu tubuh dipandang nisbi dan membelenggu. Tanda nisbi pada tubuh, yakni sesuatu yang mengalami spasial. Tanda pembelengguan pada  tubuh, yakni ia meruang dan itu berarti ada jarak dan terbatas. Oleh sebab itulah, tubuh tak memberikan kebebasan. Oleh sebab itulah jiwa mesti dibebaskan. 

Platon memang memiliki pandangan yang tak sepenuhnya mewakili keyakinan umum Yunani. Pandangannya yang diimplisitkan dalam filsafatnya tak juga dapat dikatakan adalah produk kehidupan Yunani. 

Namun Platon tak bisa lepas dari tubuh sebagai modus keyakinannya dieksplisitkan. Sebut saja tumos, salah satu bagian tubuh yang ia sebutkan dalam menjelaskan arete sebagai jalan keutamaan. Tubuh nampaknya, dalam pikiran Platon adalah apa yang disebut Socrates sebagai perangkap jiwa; kelemahan yang terus menerus memotong, mengganggu, memecahmecah dan menghalangi manusia dari kebenaran.

Barangkali sebab itulah tubuh dianggap bertentangan dengan kehendak jiwa. Barangkali inilah maksudnya; yang utama bagi Platon adalah jiwa. Yang ideal bagi Platon adalah unsur yang tak dapat dibagi; sesuatu yang tak berkekurangan; sesuatu yang disebut ultim. Atau apa yang disebut yang real. 

Maka itu yang lain hanyalah bayangbayang; yang lain adalah semu; yang lain adalah palsu; dan yang lain adalah pantulan dari yang substansi. Jika yang lain sudah seperti pantulan, barangkali wajar saja yang lain akhirnya sesuatu yang tak layak diutamakan.

Dengan demikianlah tubuh dilabeli dan diberikan arti yang defenitif; sesuatu yang rendah dan tak berarti. Juga dalam agama, tubuh adalah elemen yang tak selamanya bersih dari sumbersumber petaka. Tubuh dalam agama, sama dengan arti pengutamaan atas jiwa. Tubuh dalam agama, sama berarti adalah bagian yang ditundukkan atas superioritas jiwa.

Tapi ada sebuah keyakinan; firman telah menjadi daging. Ini ada dalam maksud seperti yang dimiliki Kristiani, yakni tuhan menjadi manusia. Keilahian dimanusiakan dan ini juga berarti sebaliknya, segala "kedagingannya", kemanusiaan diilahikan. 

Sebuah tubuhkah daging itu? Yang pasti ada kisah disaat perjamuan terakhir; “Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memotong-motongnya, lalu memberikan kepada murid-muridnya dan berkata; ambillah, makanlah, inilah tubuhku. Sesudah itu ia mengambil cawan, mengucap syukur, lalu memberikannya kepada mereka dan berkata; minumlah kamu semua dari cawan ini, sebab ini darahku.” (Matius 26: 26-27)

Dalam itu, ada sebuah peristiwa menyangkut tubuh yang disucikan. Daging, yang nampaknya dianggap tak memiliki apaapa diubah menjadi hal yang mitis, bahkan ilahiat. Tubuh dalam perjamuan itu ibarat suatu bagian yang tak terpisah dari yang ilahiat. Dalam kisah itu, sang juru selamat berkata; “ambillah, makanlah, inilah tubuhku.” Ada yang ditranformasikan disitu, bahkan ada yang tidak sekedar diubah di situ, melainkan dicipta, yakni yang dalam Platon adalah "kuburan jiwa", justru menjadi bagian yang kudus.

Sementara yang kudus dalam tubuh, hari ini, justru perayaan atas tubuh yang lain, yakni tubuh yang tak pernah disentuh yang kudus. Yang ilahiat, atau yang kudus, hari ini juga ditranformasi. Namun, bukankah saat ini kita samasama tahu apa arti tubuh dalam pasar? Bahkan apa arti tubuh dalam kekuasaan? Hari ini tubuh yang ditranformasi, entah itu pasar atau kekuasaan atau lainnya, adalah tubuh yang bukan milik kita. Tubuh yang tanpa pribadi.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...