02 Juni 2020

Takdir Buku di Bawah Stempel Kekuasaan: Esai Hari Buku Nasional 17 Mei 2020

 

“Barangsiapa yang menghancurkan buku bagus ia sedang membunuh rasio itu sendiri…” John Milton, penyair Inggris.

 Di negeri ini, membaca buku, tidak serta merta akan menjadi pengalaman menyenangkan. Pernah suatu masa, buku menjadi benda subversif bagi kekuasaan otoriter semisal Orde Baru. Membaca saat kekuasaan bebas mengontrol lalu lintas ilmu pengetahuan, adalah tindakan radikal yang mengundang bahaya. Rasa-rasanya membaca dalam keadaan terancam, membuat setiap aksara seolah-olah adalah jembatan yang membawa pembacanya dapat langsung menuju alam baka.

Entah apa yang dikhawatirkan dari sebuah buku, selain daripada kemampuannya menggerakkan orang-orang. Di masa-masa ilmu pengetahuan masih kalah andil dari doktrin kekuasaan, buku seolah-olah benda haram jadah yang mesti dibumihanguskan.

Dalam buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa karangan Fernando Báez, dijelaskan tindakan bibliosida dapat ditarik jauh di belakang sejarah umat manusia. Uniknya tindakan penghancuran buku ini malah mengetengahkan sisi paradoksal dari sebuah peradaban yang kerap diafirmasi secara positif. Catatan Báez banyak mengungkap kemajuan suatu peradaban lebih banyak berdiri di atas sisa-sisa debu pagina buku.

Di alaf peradaban Barat misalnya, bibliosida kerap berjalan bersisian dengan gerakan misionarisme gereja. Saat itu, buku mengalami nasib tarik ulur perebutan yang berpangkal dari dua cara pandang.

Dalam hal ini, tentu saat itu cara pandang yang absah menyangkut kebenaran dan moral berasal dari paradigma keimanan yang disetujui pihak gereja. Dengan kata lain, extra ecclesiam nulla salus (tiada keselamatan di luar gereja) sebagai doktrin iman dari gereja saat itu, juga berarti berlaku bagi seluruh teks-teks di luar injil sebagai kepustakaan yang dilarang beredar karena tidak dianggap sebagai representasi pengetahuan yang absah bagi jalan keselamatan.

Itu artinya seluruh teks atau kitab yang tidak masuk dalam kategori “stempel” gereja, mesti dienyahkan dari lalu lintas pengetahuan masyarakat.

Untuk mengantisipasi ini, dalam sejarahnya, pihak gereja bukan sekadar bertindak sebagai institusi agama belaka, tapi berubah menjadi institusi koersif semimiliter dengan mengeluarkan daftar panjang buku-buku yang dipandang menyebarkan bid’ah dan kesesatan di tengah masyarakat.

Bagi masyarakat Islam, novel Animal Farm karya George Orwell di Uni Arab Emirat sejak 2002 menjadi buku terlarang. Alasan penolakan pemerintah negara itu lucu sekaligus keblinger, hanya karena salah satunya, menampilkan sesosok babi yang dapat berbicara. Menurut pengakuan pemerintah bersangkutan, buku itu bertentangan dengan spirit dan nilai-nilai Islam.

Tapi, siapa pun tahu, apa yang sebenarnya menjadi ide utama buku bernuansa politik perlawanan itu. Mungkin saja, penolakan pemerintah semisal yang terjadi di Uni Emirat Arab, lebih ditentukan oleh alasan ideologis berupa kekhawatiran terhadap naiknya taraf kesadaran rakyat seperti cerita di novel itu.

Di Iran, jangan sekali-kali membaca karya-karya Salman Rushdie sepertil Mildnight’s Children, atau The Satanic Verse. Ketika ketahuan, Anda seketika bisa berhadapan dengan pihak berwenang. Sudah sejak dari era Imam Khomeini buku-buku Salman Rusdhie dilarang dibaca karena, terutama The Satanic Verse, mengandung olok-olok terhadap figur suci Rasulullah. Karena itu, si empunya bersuaka ke luar negeri setelah difatwakan hukuman mati.

The Monument Men’s (2014) film yang cocok menyatakan bahwa keberlangsungan sejarah manusia tidak akan bisa maju pesat jika ia kehilangan benda-benda bernilai tinggi berupa karya tulis dan kesenian.

Film ini dibintangi George Clooney, Matt Damon, Bill Murray dan beberapa aktor Hollywood lainnya, yang mengungkap suatu ambisi kekuasaan yang ingin menguasai dunia dengan cara membumihanguskan peninggalan-peninggalan kebudayaan, berupa karya patung, karya tulis, dan lukisan dengan cara dibakar.

Ya, film ini mengambil konteks sejarah yang benar-benar terjadi ketika Hitler kesetanan ingin menduduki, jika tidak seluruh dunia, maka seluruh wilayah Eropa. Kegiatan antikebudayaan dengan dalih membangun kebudayaan baru ini, persis seperti perlakuan Kaisar Nero, raja Romawi ke-5 yang gemar membakar bangunan-bangunan vital negeri serbuan yang berhubungan dengan maju mundurnnya kebudayaan negeri bersangkutan.

Seolah-olah menemukan dalil historisnya, diceritakan melalui film itu, Hitler menggunakan badan-badan kebudayaan yang ditopang dengan kekuatan militernya untuk mencuri dan menghancurkan seluruh peninggalan sejarah dan kebudayaan negeri-negeri jajahannya.

Sedikit beruntung, saat itu pihak sekutu membentuk ”tim khusus” yang yang diberikan tugas untuk mencari dan menyelamatkan karya-karya seni dan barang-barang budaya penting lainnya sebelum Nazi menghancurkan atau mencurinya.

Seperti diungkapkan Robertus Robert dalam buku Fernando Báez di atas, perang dan pergantian rezim menjadi dua momentum yang berisiko menempatkan buku di dalam bahaya. Itu artinya perang bukan saja medium dua kubu yang bertemu untuk saling menghabisi, melainkan melibatkan juga beragam alasan kompleks yang salah satunya adalah penguasaan atas sejarah melalui kontrol atas buku-buku.

Di masa Tanah Air, penghancuran buku dikerjakan atas sokongan negara. Di masa Orde Lama tercatat karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Hoa Kiau di Indonesia, dan Demokrasi Kita karya Bung Hatta, serta karya-karya lain dari Mochtar Lubis, Sutan Takdir, yang menjadi objek kekerasan terhadap buku.

Meski demikian, baru di Orde Barulah gerakan pelarangan buku dilakukan dengan sistematis dan massif. Dalam hal ini, meminjam analisis Louis Althusser, pemikir Marxis Prancis, negara memerlukan dua perangkat untuk mengkonfirmasi programnya agar berjalan dengan efektif dan efisien di lapangan. Dua aparatus dimaksud, yakni aparatus keras (militer) dan aparatus lunak (lembaga pendidikan, film, dan sastra), sama-sama bertujuan untuk menghiegenisasi alam demokrasi negara dari suara-suara “sumbang” di luar kekuasaan.

Wijaya Herlambang melalui bukunya, Kekerasan Budaya Pasca 1965, dengan apik menjelaskan bagaimana untuk mendukung kegiatan pelarangan buku, negara menggunakan aparatus lunak berupa lembaga-lembaga pendidikan dan kebudayaan demi meneguhkan ideologi dominan negara. Bahkan lebih jauh, agar kekerasan budaya yang ditimbulkan negara mudah diterima dan dianggap sebagai misi bela negara, negara memberikan cukup banyak stok dalil melalui pendidikan, sastra, dan film sebagai medium cuci otaknya.

Implikasinya jelas, pada akhirnya tindakan sepihak untuk melarang, merazia, sampai membakar karya intelektual yang bertentangan dengan negara, masyarakat tidak akan berhadapan dengan dilema moral sama sekali. Alih-alih merasa bersalah, justru tindakan semacam di atas akan dianggap sebagai tindakan heroik yang patut diapresiasi.

Belum lama ini, beredar di lintasan dinding Facebook mengenai razia buku di Kabupaten Pinrang yang diberitakan media setempat sebagai bagian dari gerakan anarko sindikalisme. Di gambar yang mencantumkan akun Satuan Reskrim Pinrang itu menampilkan 8 buah buku, yang 4 di antaranya mencantumkan kata komunisme dan PKI.

Di Tangerang, April lalu, juga lebih awal oleh pihak kepolisian menangkap disinyalir kelompok anarko yang bertujuan ingin membuat keonaran di tengah masa pandemi korona. Sudah seperti skenario klasik, penangkapan itu juga mempertautkan buku sebagai bahan bukti yang seolah-olah berbahaya.

Akhir tahun 2019, kita juga sempat dibuat geram oleh aksi sepihak sekelompok orang yang merazia buku di toko-toko buku. Dalilnya masih sama seperti bagaimana negara menarasikan permusuhannya dengan ideologi komunisme. Semua buku-buku berhaluan marxisme—yang lucunya malah diartikan yang  “tertulis” marxisme—berhak dirazia dan diamankan.

Akan banyak daftar hitam pemerintah bertebaran di pemberitaan mengenai tindak tanduk negara yang berkaitan dengan bibliosida. Entah dalam bentuk pelarangan hingga pembumihangusan, buku senantiasa menjadi yang tertuduh dan dicurigai. Pembacanya akan segera dipandang sebagai tersangka alih-alih sebagai seorang pembelajar.

Mengingat bangsa ini mengalami krisis akut di seputar tingkat rendah dan masih minim khazanah kepustakaan, tidak berhentinya sikap permusuhan terhadap buku oleh negara ataupun institusi di bawahnya, adalah sikap kontraproduktif yang akan berefek panjang ke depan.

Buku-buku, entah ia mengandung kontroversi atau sebaliknya, merupakan aset berharga yang mesti dijaga dan dilipatgandakan. Ia mesti menjadi salah satu prioritas di dalam wacana, dan menjadi signifikan di dalam praktik berilmu pengetahuan ketika menangkal kejumudan. Meski musuh-musuh buku baik dalam bentuk rayap menjengkelkan yang siap menghadang dalam kesenyapan almari berdebu, sampai negara yang paling sering pasang badan menjadi agen pemberangus buku.

Malangnya, laporan Báez dalam bukunya di atas bertentangan dengan pendapat umum. Báez menemukan bahwa pelaku kejahatan terhadap buku-buku utamanya bukan dilakukan oleh orang awam yang kurang pendidikan dan pengetahuan, melainkan justru kaum terdidik dengan motif ideologis bermacam-macam. Lebih malang lagi, semua itu diam-diam bagian dari skenario negara tertentu untuk mengontrol rakyatnya dari elan vital roda kekuasaan.

Jangan sampai, suatu waktu nanti, nasib kita akan sama kisahnya seperti para rahib biara Benekdiktin dalam novel epik The Name of The Rose karya Umberto Eco: menjadi jenazah setelah membaca buku-buku terlarang.

Selamat Hari Buku Nasional 17 Mei 2020.

01 Juni 2020

Tiga Lapis Kejahatan Aburrahman Ibn Muljam: Kepincut Perempuan, si Penghafal Al-Qur’an Pembunuh Khalifah Ali Ibn Abu Thalib

Sosok seperti Abdurrahman Ibn Muljam, dalam tarikh Islam merupakan figur kemerosotan akidah sekaligus moral manusia. Sekalipun ia hafiz al-Qur’an, taat beribadah, dan kelihatan baik, di sisa hidupnya, jangankan berakhlak seperti anjuran al-Qur’an, ia pada akhirnya mati dengan tidak sama sekali mendapatkan berkah al-Qur’an.

Ia tamat sebagai manusia, tapi dengan cara su’ul khatimah.

Keperawakan Ibn Muljam, nyaris menyerupai iblis dalam narasi al-Qur’an mengenai kisah penciptaan Adam.

Sekali masa, setelah Allah menciptakan Adam dan mengimbau seluruh alam untuk bersujud kepadanya, ada sesosok iblis ogah melakukannya.

Dari segi usia penciptaan, ia jauh lebih tua dari umur Adam yang belum “sehari” itu. Ia telah hidup lama sepanjang lebih 80.000 tahun. Ia telah banyak makan asam garam di alam semesta tak terpemanai ini.

Dari segi kuantitas ibadah, kurang lebih di sepanjang usianya itu, tiada tempat di alam semesta yang belum ia jadikan tempat bersujud. Belum sekalipun sedetik dari semua waktu usianya ia palingkan wajahnya dari beribadah kepada Allah.

Tapi, pasca penciptaan Adam, di hari itu, karena melihat usia,  lamanya ia beribadah, dan menyatakan substansi dirinya lebih tinggi dari Adam, mahkluk ini menunjukkan sikap ganjil yang paradoksal.

Ia tidak rela bersujud.

Perintah Allah ia tolak, tapi sekaligus ingin menunjukkan sikapnya itu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

”Tiada zat yang patut aku sujud kepadanya selain kepadaMu, ya Allah. Adam bukanlah zat tempat aku bersujud”.

Ia beralasan. Ia enggan.

Dengan dalih hanya ingin bersujud kepada Allah semata, ia tolak juga perintah Allah.

Ia dengan kata lain, menolak ibadah demi “ibadah” yang lain.

Seperti diketahui, kisah ini menunjukkan iblis lebih mengutamakan egonya. Ia tidak rela bersujud kepada Adam. Ia menjadi sombong karena merasa lebih senior dan ahli ibadah dari Adam yang belum sama sekali hidup lama, walaupun itu diperintahkan Tuhan kepadanya.

Ia lebih mau beribadah (bersujud) kepada Allah, dengan tidak mau mentaati satu ibadah yang baru saja diperintahkan kepadanya, yakni bersujud kepada Adam.

Di peristiwa itu, ada dua jenis perintah ibadah sebenarnya. Yang pertama ibadah yang menyeru untuk menyembah kepada Allah, dan yang kedua adalah perintah ibadah untuk bersujud kepada Adam. Iblis bersikukuh mengikuti ibadah pertama dengan mengingkari ibadah kedua. Ia, dengan kata lain, menolak ibadah yang berpangkal dari tauhid penciptaan.

Itu artinya, si iblis di satu sisi, memang telah menjadi sosok alabid (ahli ibadah) semasa hidupnya, yang masyur seantero alam penciptaan saat itu, tapi di waktu bersamaan, menjadi satu-satunya makhluk yang tidak berhasil menjadi al-abd (hamba) untuk taat kepada perintah penciptaan.

Inilah kata kuncinya, figur ini tiada lain adalah si ahli ibadah yang arogan, yang belum mampu mengamalkan inti sari semua bentuk ibadah, yakni menjadi pribadi setaat-taatnya kepada Allah. Menjadi hamba sahaya, sekalipun mesti didudukkan bersama makhluk yang belum ada apa-apanya.

Ibnu Muljam tidak selama usia iblis ketika beribadah. Meski dalam catatan sejarah, ia salah satu sahabat yang kuat beribadah, kuat berpuasa, dan kuat merekam al-Qur’an di benaknya. Ia karena itu menyandang alabid, orang yang ahli beribadah.

Tapi, di malam yang ganjil, waktu di saat-saat beberapa tahun sebelumnya al-Qur’an “turun” di kalbu Rasulullah, ia menjelma laiknya iblis, berani dan dengan sombong menebas tengkuk khalifah saat itu.

Ia terdorong dendam kesumat pasca perang Shiffin dan Nahrawan. Ia menolak keputusan Ali sebagai khalifah yang memilih jalan tengah saat mengakhiri peristiwa tahkim dengan kubu Muawiyah.

Menurut riwayat dari Ibn Sa’ad, selain dendam kekalahan pemberontak Khawarij di perang Nahrawan, Ibn Muljam terdorong membunuh Imam Ali karena kepincut seorang perempuan Kufah bernama Qatham binti Syajnah, anak pembesar Khawarij yang jadi korban perang Nahrawan, yang dijanjikan akan menjadi istrinya jika berhasil menghabisi nyawa Imam Ali.

Kelompok khawarij adalah kelompok pemberontak yang keluar dari konsensus saat itu, dan memilih jalur politik kekuasaan yang memicu perdebatan teologis menyangkut isu kekafiran. Ditinjau dari Ibn Khaldun, sejarawan cum sosiolog, kelompok khawarij rata-rata pendatang yang merupakan kluster masyarakat nomadik dan udik, yang diikat solidaritas golongan (asabiyyah) sebagai bagian suku-suku pengelana yang berwatak keras dan fanatik buta (ta’ashub; akar kata istilah asabiyyah yang dipakai Ibn Khaldun).

Kefanatikan golongan khas khawarij yang mendasari paradigma keagamaan Ibn Muljam, melihat  dua kubu ini tidak amanah berdasarkan hukum Allah. La hukmillah, tiada hukum selain kekuasaan Allah. Ali dan Muawiyah, dua orang yang telah kafir setelah memutuskan kesepakatan bukan berdasar kepada al-Qur’an.

Imam Ali tersungkur dari sujudnya. Suatu posisi paling sempurna untuk menjukkan kehambaan total dan paripurna. Dalam keadaan salat, yang juga merupakan ibadah paling baik menunjukkan kehambaan, ia berujar, “demi Allah sang pemilik Ka’bah, sungguh aku telah menang.”

Darah mengalir sampai ke janggutnya, sementara di belakangnya, Ibn Muljam, yang sesegera mungkin diringkus jemaah salat subuh, seketika menjadi pribadi kalah.

Ibn Muljam kalah bukan dari siapa pun, melainkan kalah dari amal ibadah yang ia kerjakan selama hidupnya. Ia kalah lantaran tidak mampu mengelola egonya, lebih-lebih menekannya demi memenuhi ambisi sektariannya.

Ibn Muljam dengan kata lain, kalah dari ekpektasi dirinya untuk menjadi pribadi yang taat sebagai hamba Allah.

Peristiwa bersejarah di malam-malam lailatul qadr itu, kelak memberikan suatu gambaran klasik mengenai dua kepribadian, atau malah dua simbol agama berkaitan seperti apa orientasi menjadi mukmin sebenarnya.

Ibn Muljam, praktis setelah kejadian pemberontakan sepihak itu, sebenarnya menjadi pribadi yang melecehkan dan mengingkari setidaknya tiga hal sekaligus.

Pertama, sebagai warga negara yang hidup di dalam kepemimpinan ulil amrinya, ia sama sekali tidak mencerminkan menjadi ”warga negara” yang baik. Justru ia  menjadi warga yang khianat terhadap negara yang datang dari kelompok pemberontak Khawarij. Kelompok ini awalnya merupakan mantan pasukan Imam Ali yang membelot dan membentuk kubu perlawanan di suatu tempat sebelum Kufah bernama Harura.

Saat pertama kali ia memiliki niat untuk menebas kepala khalifah saat itu, saat itu pula ia dikategorikan sebagai ”warga negara” pemberontak yang melenceng dari kewajibannya mematuhi kepala negara (agama). Dalam konteks kehidupan saat itu, melawan ”negara” sama artinya melawan hukum agama.

Kedua, karena mengangkangi salat untuk membunuh Imam Ali, otomatis Ibn Muljam sedang menghina agamanya sendiri. Ia telah memanfaatkan medium agama demi memenuhi ambisi pribadinya. Ia jadikan salat sebagai sarana perilaku kejamnya.

Saat itu, ia mirip fenomena selama ini, yakni banyak orang yang memanfaatkan agama demi akses kepada kehidupan yang lebih sejahtera. Rela menjual agama untuk kepentingan pribadi, atau kelompoknya. Tidak bisa dibayangkan, kejahatan macam apa yang lebih keji selain dilakukan bersamaan di dalam salatnya?

Ketiga, percobaan pembunuhan dilakukan Ibn Muljam, adalah jenis kejahatan tingkat tinggi karena bertujuan menghilangkan nyawa sesama umat muslim, apalagi dalam hal ini adalah Imam Ali yang menjabat sebagai khalifah saat itu. Motif kejadian dilakukan di saat sedang melaksanakan salat, dan terjadi di dalam masjid, tempat suci yang dipakai beribadah bagi umat muslim, adalah dua alasan lain mengapa tindakan Ibn Muljam ini mesti dihukum berat.

Selain dilakukan di dalam masjid, semua kejahatan Ibn Muljam ia lakukan dalam keadaan mabuk setelah menenggak khamr, dan terjadi di jelang sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Coba perhatikan dengan saksama, itu menandai betapa Ibn Muljam hanyalah pribadi tanpa ilmu (jahil) dan beragama hanya karena dorongan nafsu semata, sehingga hanya mementingkan kepentingan kelompok politiknya (ta’ashub). Ia mewakili figur orang beragama yang asbun (asal bunyi). Si abid yang merasa benar sendiri dan merasa paling mewakili kebenaran al-Qur’an.

Dalam suatu perjalanan menuju negeri-negeri pelosok, Ibn Batutah, seorang traveler muslim di Abad Pertengahan, menemukan suatu kawasan tanah hitam yang berbeda dari tanah di sekitarnya, di Kufah bagian barat saat ia meneliti di kawasan itu. Menurut masyarakat Kufah, itulah kuburan Ibn Muljam si pembunuh Imam Ali, yang setiap tahunnya dijadikan tempat membakar kayu  selama tujuh hari tujuh malam di atasnya. Catatan ini diabadikan di dalam kitab Batutah yang terkenal berjudul Tufatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amār wa ʿAjāʾibil Asfār (Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib).

Ibnu Muljam. Ia tamat, tapi dengan cara su’ul khatimah.

26 Mei 2020

Nama-nama yang Mesti Dikenang di Hari Pendidikan Nasional


Di hari pendidikan ini, ingin saya tulis nama-nama guru-guru yang telah berjasa bagi pendidikan saya selama ini. Tentu tidak semua dikarenakan tidak semua guru membuat kesan kuat dalam ingatan saya:
  1. Guru dan wali kelas SD kelas 1. Bertahun-tahun setelah saya dewasa, saya kesulitan mengingat nama-nama guru terutama saat duduk di bangku sekolah dasar tahap awal. Nama wali kelas saat itu juga tidak saya ingat, apalagi wajahnya. Mungkin, suka duka para guru-guru SD terutama di kelas-kelas awal, adalah betapa sulitnya mereka diingat oleh murid-muridnya kelak. Meskipun demikian, merekalah para pelopor pendidikan di periode awal pertumbuhan seorang anak. Tanpa mereka apa jadinya kita ini.
  2. Ibu Bene dan Ibu Mince. Dua nama ini paling saya ingat selain Ibu Jum, guru agama saya saat bersekolah di SD N 1 Bonipoi Kupang, NTT. Ibu Bene adalah wali kelas saat saya duduk di kelas 6, dan Ibu Mince merupakah guru olahraga sekolah yang berpenampilan tegas, bersuara lantang, dan tomboi. Ibu Bene guru yang baik, dan sulit saya lupakan jika ia bermuka ketus mengembalikan buku pekerjaan tugas saya pasca ia memeriksanya. Ibu Mince, seperti saya bilang, suaranya lantang dan memotong pendek rambutnya menyerupai laki-laki. Untuk ukuran saat itu, Ibu Mince tergolong guru yang ”galak”. Naik ke SMP, saya hanya berhasil menyelamatkan beberapa nama-nama guru. Saya menjalani satu tahun sekolah menengah pertama di kota Kupang. Kerusuhan 98 di Kupang membuat bapak mengambil langkah pulang kampung ke Bulukumba (bandingkan dengan pengertian mudik yang sempat heboh itu). Praktis sejak saat itu saya pindah sekolah, menemukan kehidupan baru, dan juga guru-guru baru.
  3. Ibu Syarwana. Belio saya ingat karena dialah guru bahasa daerah saat saya menjadi murid baru di SMPN 2 Bulukumba.  Saya selalu kesusahan mengikuti pelajarannya untuk mengingat huruf-huruf asing yang kelak saya tahu sebagai aksara bugis. Belio saat itu sudah lumayan tua, dan mungkin mendekati masa pensiunnya. Ketika sering saya mendengar anak-anak muda Bugis yang tidak mengetahui aksara lokalnya, terlintas Ibu Syarwana ini.
  4. Pak Nurdin dan Pak Syahrir. Dua guru ini saya ingat karena hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran berbau teknis. Pak Nurdin guru teknik saat saya duduk di kelas 3, yang memperkenalkan kami kepada benda-benda kecil bernama transistor dan sejenisnya. Ia suka menggambar garis-garis pendek berbentuk seperti denah rumah yang dalam ilmu teknik elektro sebagai rangkaian listrik. Belio ini tergolong guru yang sering membuat kami takut, apalagi jika belio yang mengambil alih urusan yang berhubungan dengan murid-murid nakal. Pak Syahrir guru muatan lokal kami yang sering membawa kami keluar kelas di halaman sekolah untuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh berantakan. Kadang kami harus mencangkul, mengecat pagar, sampai merapikan penataan bunga-bunga sebagai  bagian dari mata pelajarannya.
  5. Guru-guru yang hanya saya ingat wajahnya tapi tidak (lagi) namanya. Pertama guru pendidikan kewarganegaran, seorang ibu bertubuh pendek saja, yang ternyata nenek dari seorang teman bernama Adi Zulhikam. Adi penggemar Jamrud, band rock yang sedang naik daun saat itu, dan memiliki ruas-ruas goresan silet di lengannya yang selalu ia sembunyikan dari guru-guru. Kedua, dua orang ibu guru Matematika dan bahasa Indonesia di kelas tiga. Seorang bapak guru fisika, dan bapak guru mata pelajaran kewarganegaraan.
  6. Seharusnya guru-guru semasa SMA jauh lebih mudah diingat karena masih dekat dengan kehidupan kita saat ini. Tapi apa bloeh buat, saya adalah orang dengan kemampuan ingatan yang buruk. Berikut nama-nama guru di tingkat pendidikan yang disebut-sebut paling indah itu: Ibu Harwati dan Pak Djabar. Yang pertama adalah wali kelas saya ketika kelas 1 empat. Belio ini suka berkomentar lucu-lucu dan mengampu pelajaran fisika. Suami belio guru bahasa indonesia bernama Pak Djabar. Ya mereka berdua pasangan suami istri, dan keduanya merupakan om dan tante saya. Berturut-turut Ibu Hartanti, guru bahasa Inggris yang lumayan judes, ibu Ragwan yang sering dipanggil Ibu Rage dan sering mengeluarkan humor lucu saat mengajar, guru agama. Ibu Darmawati guru PPKN, Pak Karim, Pak Safar, guru sejarah dan guru olahraga. Pak Yasin guru BP. Belio ini salah satu guru angker di sekolah kami. Dia pernah memiting kakak kelas mirip dipertandingan smackdown. Pak Hadis guru geografi, dan… sampai di sini saya mulai lupa nama-nama dan hanya mampu mengingat muka-muka tulus guru-guru saya mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Mereka semua ikut andil dalam membentuk paras pendidikan saya.

 Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020

25 Mei 2020

Riwayat Kepunahan Sapiens: Dari Wadah menjadi Wabah



Creation of Ai


SEJARAH makhluk hidup berupa hewan purba yang sering saya lihat melalui layar kaca lebih satu dekade lalu, memperlihatkan bahwa hewan-hewan bertubuh besar, punah oleh benda-benda raksasa.

Sekitar dua ratus juta tahun lalu, batu-batu panas berukuran raksasa turun seperti hujan, dan  membuat kelompok hewan eksotik bernama dinosaurus seketika punah. Saat itu setengah isi bumi meleleh, dan sisanya tenggelam sekaligus membentuk gugusan pulau-pulau baru.

Sekarang, hujan batu-batu itu sering diabadikan dan dipertontonkan untuk mengingatkan, kelak peristiwa yang sama akan juga kita alami.

Di saat malam hari, kadang peristiwa hujan batu yang lain membuat orang melayangkan doa seolah-olah benda itu jatuh dapat mengubah jalan hidup seseorang.

Di lain waktu, bintang jatuh meninggalkan ekor panjang berwarna orange, sehingga banyak orang menganggap kejadian itu sebagai pengalaman yang mengagumkan.

Di balik kekaguman kita terhadap benda angkasa berukuran jumbo yang bisa melayang itu, justru banyak kehidupan benda-benda superkecil yang tidak kalah mengagumkan.

Di atas punggung kerbau  di sawah, siapa menduga hidup ratusan kutu yang kerap jadi sasaran burung pemangsa. Di sudut-sudut rumah dan di bawahnya, bisa jadi hidup koloni semut berbaris panjang berpusat sampai kepada ratunya. Di sela-sela almari, siapa pernah memerhatikan, hidup bersembunyi ribuan rayap yang menggerogoti pagina buku seperti orang kelaparan.

Siapa juga bakal menyadari, di kaki kaki atau tubuh lalat, hidup hewan kecil bernama tungau yang menumpang pula di beberapa jenis kumbang. Jauh di bawah tanah, lebih kecil dari semut dan rayap,  hidup mikroorganisme yang dijuluki ”hewan pertama” bernama protozoa, yang juga banyak hidup di dalam air.

Hewan-hewan ”mini” ini hidup tanpa sekalipun kita sadari keberadaannya.  Meraka dianggap tidak signifikan bagi kehdupan manusia. Meski demikian, mereka bergerak dalam jumlah jutaan di hampir semua permukaan bumi, dan sebagiannya melayang-layang bebas di udara.

Belakangan, ketika ilmu pengetahuan semakin maju, dan alat indera buatan semakin mutakhir, ditemukan kehidupan lain jauh lebih spektakuler dari hewan-hewan mini di atas.

Hewan supermini ini, tidak bisa lagi diderivasi kedalam taksonomi kehidupan hewan. Bahkan oleh para ilmuwan, keberadaan kategori makhluk ini berada pada jenjang batas antara hidup atau mati. Ia sulit dikatakan makhluk hidup, tapi tidak bisa juga disebut benda mati.  

Dengan alat khusus yang menciptakan cahaya untuk melihatnya, para ahli baru pertama kali ”menemukannya” dua abad lalu. Mereka bersepakat makhluk ini disebut dengan sebutan virus.

Melalui alat-alat canggih, kehidupan makhluk hidup supernano ini dicari tahu dan ditelisik lebih jauh. Apakah mereka berjenis kelamin? Apakah mereka beranak pinak? apakah mereka makan dan minum? Apakah mereka berusia panjang? Apakah mereka bisa dikendalikan?

Seperti juga hewan-hewan mini lainnya, virus hidup berpindah-pindah dalam satuan dengan jumlah besar. Bermigrasi dengan cara mereplika dirinya dari satu wadah ke wadah lain sebagai inangnya. Dari tumbuhan ke tumbuhan, dari binatang ke binatang, dan bahkan, tanpa dirasakan tidak sedikit yang hidup berpindah-pindah dari satu tubuh manusia ke tubuh manusia lainnya.

Pernah pada suatu alaf sejarah kehidupan umat manusia, masyarakat hidup berbaur dengan kepercayaan takhayul, dan menganggap penyakit sebagai respon tubuh atas gangguan roh jahat. Demam, atau cacar, misalnya, saat itu akan dianggap sebagai tanda tubuh sedang didiami makhluk jahat yang berniat memberikan pelajaran terhadap suatu komunitas.

Sekarang,   tidak semua tubuh demam bagian dari interaksi tubuh dengan alam gaib. Dibantu alat teknologi medis, umat manusia sudah memiliki jenis pengetahuan yang lebih maju dari dua atau tiga abad lalu, sehingga bukan lagi gangguan makhluk halus manusia mengalami kelainan panas tubuh. 

Ternyata demam menjadi tanda bagi tubuh yang telah menjadi wadah bagi kehidupan makhluk supernano bernama virus ini, yang berkemampuan merusak sistem daya tahan tubuh manusia.

Daya serang makhluk supernano ini, meskipun berwujud sangat kecil, sampai hari ini telah mencatat sejarah panjang mengenai wabah yang mengguncang kehidupan umat manusia. Flu Spanyol, Cacar, Campak, Sampar, HIV AIDS, Ebola, dan kini Covid-19 adalah nama-nama penyakit hasil dari daya dobrak virus superkecil itu.

Dari satu jenis penyakit ke jenis penyakit lainnya, virus ini juga berevolusi melewati seleksi alam, bergerak meningkatkan kualitas eksistensinya, bergerak dari satu wadah ke wadah lainnya.
Dan, jika mereka menemukan wadah terbaik, tanpa persetubuhan, bukan dengan kesadaran, tidak juga dengan menggunakan organ lainnya, apalagi memanfaatkan sel yang mustahil mereka miliki, cukup ”mereplika” diri dari satu inang protein, mampu berlipat ganda menghasilkan wabah berkepanjangan.   

Antara wabah dan wadah, di abad 21 kini, di dalam tubuh inangnya,  ia bermutasi di antara kesenyapan suara dan gemerlap ingar bingar lampu-lampu gedung pencakar langit, di antara migrasi tubuh manusia dan hilir mudik transportasi super  jet,  di antara keheningan rumah-rumah ibadah dan dentuman musik diskotik, di antara kaki-kaki penjual pedagang kali lima hingga ruangan dingin pejabat negara.

Ia hidup dan bertahan di antara gerak super cepat peradaban, mati atau tidak,  selama ia mendiami satu inang, toh ia memiliki kemampuan bertahan yang spektakuler, jauh di ujung mata peradaban.  Tepat jika ia dikatakan oleh para ahli virologi sebagai makhluk ”organisme di ujung kehidupan”.  Sesuatu yang jauh di belakang kehidupan manusia. Ada, tapi tidak sama sekali diketahui pasti.

Syahdan, jika  ratusan juta tahun lalu  hewan-hewan raksasa punah karena benda-benda berukuran besar,  kelak dan mungkin kini, umat manusia, bakal punah hanya karena ”sentuhan kecil” makhluk supermini ini.

===

Sudah dimuat di Dialektikareview.org dengan judul Dari Wabah ke Wadah Manusia dan Riwayat Kepunahannya 


24 Mei 2020

Bangsa-Bangsa Empatik


Ilustrasi kapal-kapal di masa lalu
yang dijadikan transportasi antar bangsa


Awal waktu Covid-19 merajalela di negeri Tirai Bambu Cina, beredar di jaringan dinding dunia maya, gambar kardus-kardus bantuan alat kesehatan dari Jepang. Yang unik, saat perhatian Cina terkuras untuk mengatasi pandemi ini, diselipkan sebait puisi di kotak bantuan berisi masker dari Jepang itu: ”Meski berasal dari tempat yang berbeda, namun kita berada di bawah langit yang sama.”

Sejarah puisi ini diambil dari kata-kata Daiwaj Tseiden, sebuah cerita Jepang tentang biksu Buddha Cina Jianzhen yang bepergian di Jepang pada abad ke-8. Dikutip dari Tempo, baris puisi ini dijahit dan diberikan kepada Jianzhen dari seorang kaizar Nagaya yang mengundangnya untuk berceramah tentang ajaran Buddha di Jepang. Merasa tersentuh atas undangan itu, Jianzhen menyanggupi undangan sang raja.

Belakangan, ketika Cina berangsur pulih menyatakan menang atas keganasan virus corona, Cina berbalik mengirimkan bantuan alat kesehatan ke negara-negara yang masih melawan corona dengan cara yang sama seperti dilakukan Jepang.

Ketika Cina mengirimkan bantuannya kepada Korea Selatan, di kotak kirimannya diselipkan kutipan syair dari zaman Dinasti Joseon. Bunyinya ditulis begini: ”Pohon pinus dan pohon cemara di musim dingin, tidaklah saling melupakan satu sama lain.” Walupun kedua negara ini bersaing secara ekonomi, syair ini mengingatkan, Cina dan Korea Selatan, adalah ”dua tanaman yang tumbuh di musim yang sama.”

Iran, negeri jauh dari seberang Cina, dan berjatuhan banyak korban mendapatkan perlakuan serupa. Di kotak kiriman alkes, ”dilabeli” sajak tua dari Dinasti Persia: ”Keturunan Adam adalah seperti bagian tubuh, diciptakan dari satu sumber, ketika ada bencana yang menimpa satu bagian tubuh, bagian tubuh yang lain tidaklah mungkin dapat berdiam diri.”

Di dua negara Eropa, seperti Jerman dan Italia, Cina juga melayangkan kiriman bantuan alkes dengan mengutip pula kata-kata arif yang diambil dari sejarah negeri bersangkutan.

Di Jerman, jika Anda tinggal di sana saat ini, bantuan alkes dari negeri  Tembok Cina itu diikutkan sajak bertulis: ”Gunung dan lembah tidaklah bersatu, tapi berbeda dengan manusia.” Kutipan barusan diambil dari abad Pertengahan, ketika Eropa sedang mengalami transisi kemanusiaan dari Abad Kegelapan menuju Renaisance.

Bagaimana dengan Italia? ”Kita adalah ombak dari laut yang sama, daun dari pohon yang sama, dan bunga dari kebun yang sama.” Begitu kutipan kata-kata yang diambil dari zaman Romawi kuno, yang ditempel di ribuan kardus bantuan Cina, untuk menyemangati negeri pizza dari sebaran corona yang kian eskalatif.

Apa yang sebenarnya terjadi di antara bangsa-bangsa ini? Mengapa mesti syair?

Syair adalah bahasa paling universal dan tua bagi peradaban manusia. Dalam tinjauan ilmu jiwa, syair merupakan bahasa yang mampu menenangkan jiwa ketika menghadapi guncangan. Syair, jika diurutkan bersama usia manusia, dia sudah ada dan berumur sama tuanya dengan peradaban manusia.

Cina, Iran, Jepang, Jerman, Italia, dan Korea Selatan, adalah negeri-negeri yang memiliki sejarah panjang. Bahkan beberapa di antaranya memiliki peninggalan peradaban tinggi. Iran, misalnya, adalah negeri  berperadaban Persia dengan capaian seni, arsitektur, filsafat, dan sastra yang gemilang di masa lalu.

Jepang pun demikian. Sampai hari ini masyarakatnya hidup dengan kearifan Shinto  yang diterapkan dalam kehidupan modern saat ini.

Cina apalagi, negeri yang digadang-gadang bakal menguasai perekonomian dunia, sering dicap melalui hadis Nabi agar bersegera belajar sampai ke negerinya. Belajarlah sampai ke negeri Cina, begitu sering diucapkan, yang berarti ada ”sebongkah” pelajaran di sana sehingga Rasulullah mewantinya.

Korea selatan, Italia, dan Jerman, negeri-negeri yang kiwari jadi kiblat kemajuan seni peran, olahraga, dan teknologi. Dari Cina sampai Iran, Jepang sampai Italia, Jerman hingga Korea Selatan, meski jauh dipisahkan jarak, tapi dekat secara kemanusiaan.  "Kita adalah ombak dari laut yang sama, daun dari pohon yang sama, dan bunga dari kebun yang sama," kata syair Romawi kuno.

Syair adalah bahasa peradaban, yang lahir dari jiwa luhur kemanusiaan. Coba tengok peradaban-peradaban tua, hampir semua pencapaiannya dinarasikan dengan syair, dan jiwa manusialah pusat dan sasarannya. Itu artinya, sepanjang kemanusiaan kerap jadi sasaran tragedi, di sepanjang itu pula jiwa kemanusiaan membutuhkan kearifan syair.

Kiwari, dunia sedang menghadapi tragedi. Tidak ada satu bangsa pun merasa aman dari tragedi kali ini, yang sekarang datang dalam wujud pandemi mematikan. Pelan dan hampir pasti, seolah-olah di layar kaca, tiap menit angka kematian bermain teka-teki. Akan sampai berapakah misteri jumlah angka kematian akibat tragedi ini?

Sembari melawan misteri angka-angka korban pandemi, setiap bangsa-bangsa terdorong berpegang tangan mengirim bantuan dari masing-masing peradaban.

Kata Ernest Renan, sebuah bangsa adalah sebuah jiwa. Bangsa bukan saja berisi sejumlah tubuh, melainkan dibangun di atas jiwa. Tubuh bangsa bukan sekadar fisik, melainkan diikat jiwa sebagai unsur utamanya. Bangsa-bangsa, bagi Renan merupakan wujud dari apa yang ia sebut ”le desir de vivre ensemble”, panggilan untuk hidup bersama.


Kini setiap bangsa-bangsa—tidak terkecuali Indonesia— sedang  memperjuangkan kehidupan bersama. Saling bahu membahu mengirim spirit dan energi satu sama lain agar dapat bangkit dari keterpurukan pandemi. Peragaan ini sesungguhnya cerwin jiwa bangsa yang besar dan kuat. Indonesia harus belajar dari bangsa-bangsa ini. Bangsa-bangsa berjiwa empatik.

===

Sudah dimuat sebelumnya di https://belopainfo.id/

19 Mei 2020

Kapitalisme Waktu: Bagaimana Si Kaya Mati (Suatu Telaah atas in Time (2011))


Ilustrasi aktivitas pabrik. Salah satu kunci kemenangan kapitalisme
Sumber gambar di sini


Film fiksi ilmiah in Time (2011), saya kira, kisah fiksi yang kurang lebih dekat dengan pengertian marxisme dalam melihat kancah kehidupan masyarakat yang dikuasai modal. 

Dalam film ini setiap manusia terlahir membawa tanda jam digital dilengannya, dan berhenti menua di usia 25 tahun. Tanda jam digital yang tertanam di tiap lengan manusia menandai saldo waktu yang sekaligus menjadi tanda usia mereka. Untuk mencegah kelebihan penduduk, waktu menjadi mata uang dan alat untuk membeli barang mewah dan keperluan lainnya. 

Film in Time awalnya berjudul i’m.mortal untuk mengesankan bahwa cita-cita setiap orang dalam hidup adalah keabadian. Meski demikian dalam in Time keabadian itu bukan merupakan dunia metafisis pasca kematian, melainkan suatu eksistensi berbasis materil yang ditandai dari kepemilikan saldo waktu tanpa batas.

Coba bayangkan jika saldo ATM Anda tertulis angka 9999.9999. 9999. 9999. 9999…, yang berarti merupakan angka tak terhingga yang tidak akan habis dipakai untuk membeli apa saja.  Dalam in Time seseorang bisa hidup abadi jika memiliki quota waktu tak terbatas, sekaligus bisa melakukan apa saja atas waktu melimpah yang dimiliki.

Kapitalisme waktu: si Miskin vs. si Kaya

Dalam dunia in Time kehidupan masyarakat terbelah atas penguasaan kapital berupa saldo waktu. Ibarat uang, penguasaan politis atasnya membuat masyarakat tersegregasi menjadi dua kubu tak berimbang berupa kaum kaya dan kaum miskin.

Kaum kaya ditandai oleh kemampuan mereka yang dapat mengakses apa saja dari  saldo waktu mereka yang tak terbatas. Sementara bagi si miskin, saldo waktu yang terbatas membuat mereka mesti perhitungan menggunakannya saat bertransaksi.

Bagi si miskin, ia diwajibkan mesti ”berburu waktu” demi mempertahankan eksistensinya. Waktu, seperti yang dibayangkan setiap orang demikian berharga. Jika ada adagium waktu adalah uang, dalam in Time lebih dalam lagi maknanya: waktu adalah nyawa.

Dunia kehidupan yang berbasis pertukaran waktu ini juga mewujud ke dalam lingkungan tempat tinggal. In Time memeragakan kehidupan kelas elite waktu dari kluster pemukiman yang indah, teratur, dan aman. Sementara di sepanjang sisi area itu terdapat kehidupan masyarakat kelas dua yang serba terancam dan nyaris bangkrut akibat tingkat keamanan yang minim.

Jelas kelihatan, jika selama ini penguasaan atas aset dan modal dinyatakan melalui kekayaan atas uang, dalam in Time jika dapat diterima, memperlihatkan suatu pengertian lain menyangkut kapitalisme. Selama ini dalam kajian kritik ideologi, kapitalisme senantiasa dilihat sebagai kekuatan ekonomi politik yang bergerak memonopoli alat produksi dan tenaga kelas pekerja.

Melalui film ini, kapitalisme mewujud menjadi kekuatan produksi yang menguasai waktu sebagai kekuatan materialnya. Dengan kata lain, alat kekayaan yang selama ini disandarkan kepada modal dan aset-aset ekonomi, tidak ditemukan dalam film ini, yang justru memberikan suatu penafsiran berbeda mengenai waktu sebagai wahana penghisapan umat manusia.

Itu artinya, dilihat dari sisi ini, kapitalisme bukan semata-mata bergerak dalam rangka mengakumulasi modal, namun juga ikut mengakumulasi waktu yang hakikatnya inheren dalam gerak perputaran modalnya.

Akumulasi atas waktu ini, diduga kuat mengimplikasikan munculnya kelas penikmat waktu luang (the leisure class) yang memiliki peluang, dan kemerdekaan yang lebih dari cukup saat menikmati waktunya. Dan di satu sisi, kelas ini dengan arogan menindas kaum miskin yang menggunakan waktu yang serba terbatas, saat mengakses kebutuhan pokoknya yang serba terbatas pula.

Keberlimpahan waktu senggang

Dalam in Time saldo waktu memiliki dua pengertian, selain menjadi penanda sampai kapan orang dapat terus hidup. Pertama sebagai saldo, kredit waktu setiap orang menjadi alat ukur bagi kemampuan mengakses kebutuhan yang ditransaksikan melalui mekanisme pertukaran waktu sebagai alat tukarnya.

Dalam hal ini, uang, alat tukar yang kerap dijumpai untuk melakukan transaksi jual beli, tidak berlaku kecuali kredit waktu sebagai saldonya. Melalui model transaksi semacam ini, waktu adalah segalanya.   

Kedua, waktu bagi setiap orang juga menjadi tanda eksistensi kehidupannya. Dalam arti ini, ia juga bertindak sebagai durasi kehidupan, yang bagi setiap orang berbeda-beda. Perbedaan ini selain ditentukan oleh aset waktu turun temurun, juga ditentukan melalui interaksi pertukaran sehari-hari, entah melalui transasksi ekonomi, atau pemberian cuma-cuma dari kebaikan orang lain.

Dua pengertian atas waktu ini, pada kenyataannya memiliki irisan di dalam kenyataan hari ini mengenai masyarakat kelas atas yang keberlimpahan modal. Bukan saja sebagaimana modal yang bisa membuka peluang penguasaan di dalam kehidupan ekonomi, waktu dalam in Time, juga berimplikasi kepada keberlimpahan waktu senggang.

Data film:
Genre: Sains fiksi
Pemeran: Amanda Seyfried, Justin Timberlake,
Olivia Wilde Matthew Bomer
Rilis:   Oktober 28, 2011
Direktur: Andrew Niccol
Screenplay: Andrew Niccol
Producer: Marc Abraham, Amy Israel,
Kristel Laiblin, Eric Newman
Distributor: 20th Century Fox


Itu artinya, semakin seseorang memiliki banyak modal/waktu, semakin besar peluangnya untuk menikmati waktu senggang yang menjadi wahana leyeh-leyeh. Di waktu yang bersamaan, karena keberlimpahan modal/waktu, membuat kelas kaya tidak mesti ambil bagian dalam aktivitas produksi, yang membutuhkan tenaga dan pikirannya untuk memperjuangkan kehidupan mereka yang serba tak terbatas.

Secara budaya dan pendidikan, keberlimpahan waktu senggang membuat kesenjangan begitu jauh antara kelas kaya dan kelas miskin. Kelas kaya sebagai penikmat waktu senggang mampu mengkompensasikan waktu luangnya ke wilayah-wilayah kehidupan sekunder yang berhubungan dengan kebiasaan rekreatif tanpa ada beban politis sama sekali.

Di lain waktu, keberlimpahan waktu yang ada dapat dipertukarkan dengan kegiatan produktif demi peningkatan kualitas kejiwaan dan pikirannya, semisal les piano, les bahasa, megikuti kelas-kelas kebudayaan, pengajian, atau sekaligus memanfaatkan waktunya untuk berbelanja dan menonton di pusat perbelanjaan.

Menurut Thorstein Veblen, yang mempopulerkan istilah the leisure class  dalam The Theory of The Leisure Class, aktivitas sehari-hari the leisure class adalah menikmati hidup dengan cara mengonsumsi waktu luang.

Waktunya tiada lain ”dikorbankan” hanya untuk kenikmatan bagi diri atau kelompoknya. Veblen menyebut aktivitas tersebut sebagai tindakan ”konsumsi yang mencolok” (conspicuous consumption). Conspicious consumption diartikannya tidak memiliki tujuan apa-apa selain untuk melanggengkan kesenjangan dan hierarki sosial.

Bagaimana dengan si miskin? Waktu bagi si miskin malah berfungsi kebalikan dengan kelas si kaya. Jangankan bisa dipakai demi pemenuhan kebutuhan sekunder, seperti dipakai berjalan-jalan atau arisan, justru ia habis dimanfaatkan untuk mempertahankan kebutuhan primernya ke dalam aktivitas kerja yang kian hari menjadi sulit dipenuhi lantaran digerogoti oleh kerakusan kaum kaya.

Kutukan keabadian

Banyak orang mengira, keabadian adalah hal yang menyenangkan dan patut untuk diusahakan. Dalam kenyataan sehari-sehari, segala upaya melalui pendekatan medis, ekonomi, budaya, dan agama, berpacu menarasikan suatu usaha agar orang dapat hidup abadi, atau setidaknya dapat berumur panjang. Keadaan ini seolah-olah ingin menjamin hasrat terdalam manusia demi mencari kehidupan abadi.

Berbeda dari pernyataan di atas, in Time justru membalik perkiraan ini. Keabadian bukan anugerah yang menyenangkan, tapi malah menjadi kutukan.

Diceritakan pasca Will Salas (Justin Timberlake), seorang pemuda yang lahir dari keluarga kelas bawah, bertemu Hanry Hamilton (Matthew Bomer), seorang miliarder waktu yang memberikannya waktu melimpah karena telah bosan hidup abadi, mengalami banyak masalah.

Belum lama memiliki quota waktu seabad, Salas ditetapkan sebagai buronan oleh Timekeeper, sejenis FBI, karena diduga terlibat pembunuhan miliarder di kotanya.

Berawal dari sinilah, kehidupan abadi Salas mengalami banyak masalah. Ia dikejar Timekeeper dan juga kelompok perompak waktu yang mengincar orang-orang kaya waktu.

Narasi kehidupan abadi Salas bukannya mengandung kebaikan-kebaikan bagi nasibnya. Justru waktu melimpah yang dimilikinya menjerumuskannya ke dalam kehidupan yang serba mawas diri, persis seperti orang super kaya yang setiap hari sibuk memikirkan keamanan harta bendanya.

Sama seperti Hanry Hamilton, si jutawan waktu yang telah bosan hidup abadi, keabadian seharusnya menempatkan seseorang kepada tingkat yang lebih hakiki, bukan malah membuat seseorang mengalami depresi dan gangguan orientasi hidup.

Nampak jelas di sini, keabadian, jika ia memang betul-betul dapat dibuktikan di alam kehidupan ini, akan mendatangkan kemungkinan kehidupan yang jauh lebih berisiko dari kehidupan saat ini.

Dengan kata lain, sekalipun itu itu mungkin, hidup dengan umur tak terbatas berpeluang melahirkan sosok semacam Logan ”Wolvrine” dalam kisah X-Men, yang sepanjang usianya tersiksa gangguan pengalaman-pengalaman traumatis dari kehidupan masa lalunya.

Zaman dromologi

Apakah film ini juga berbicara mengenai dromologi? Dromologi adalah ilmu kecepatan. Dalam lanskap pemikiran dromologi, segala sesuatu mesti dipresentasikan secepat mungkin. Makanan cepat saji, hitung cepat, flash sale, kecepatan lalu lintas, cepat nikah, cepat lulus kuliah, rapid test, merupakan fenomena-fenomena berpengalaman yang memanfaatkan waktu serba cepat.

Ada dua kemungkinan mengapa ini bisa terjadi. Pertama, kontur masyarakat kapitistik menekankan efisiensi sebagai modus pengalaman yang membuat masyarakat mesti memanfaatkan waktu seefesien mungkin. Ini ketika ditarik ke dalam mekanisme produksi masyarakat kapitalisme, seluruh pemaanfaatan atas waktu mesti disingkronkan dengan gerak perputaran modal.

Sekolah mesti cepat karena di ranah kerja, tenaga buruh segera diperlukan. Tubuh mesti cepat sehat karena di pabrik-pabrik kekurangan tenaga kerja. Pajak mesti cepat dibayar karena negara defisit pemasukan. Handphone harus segera diganti karena produk menumpuk di gudang-gudang. Berbelanja mesti cepat karena modal mesti terus bergerak.

Kedua, faktor efektivitas. Faktor ini berhubungan langsung dengan efesiensi waktu dan tenaga yang diperlukan bagi aktivitas kerja produksi. Artinya, akan sia-sia jika penggunaan waktu yang serba cepat, tetapi tidak tepat sasaran dari tujuan dikeluarkannya waktu bersangkutan.

Di dalam ranah kerja, buruh yang cepat menghasilkan suatu produk belum terhitung menguntungkan jika tidak efektif mencapai target.  Itulah sebab agar efektif, buruh mesti memiliki skill yang terlatih melalui pendidikan atau pelatihan.

Di luar dari itu, dua prinsip kunci kapitalisme ini juga menjadi paradigma yang jauh lebih luas sampai menyasar bidang kehidupan lain. Hal ini dikarenakan universalisasi kapitalisme itu sendiri yang banyak menguasai sendi-sendi kehidupan. Di model masyarakat kapitalistik inilah waktu menjadi serba mengalir mengimplikasikan segala mesti  bersicepat memburu dan diburu waktu.

Meski demikian, tidak semua kelas dapat ditundukkan melalui prinsip-prinsip di atas. Kelas kaya, dengan segala akses dan modalnya yang tak terbatas, tanpa pamrih menikmati privilege atas semua itu.

Lalu, jika bisa disebut pertanyaan utama, lantas bagaimana si kaya mati? Agak terdengar retoris, meski demikian, akan lebih mudah memberikan suatu gambaran dari pertanyaan sebaliknya, bagaimana cara si miskin mati?

17 Mei 2020

Utopia Kuburan Kapitalisme di Hari Buruh Sedunia


Gambar pamflet peringatan Hari Buruh
Sumber gambar di sini

BURUH atau kelas yang tertindas itu memang tragis. Tak memiliki apa-apa selain tenaga. Tak memiliki apa-apa selain otot. Dalam sistem pemuja kapital, tenaga dan otot mereka dikuras dan diisap. Mereka mengalami keterasingan, dari mesin-mesin, dari barang-barang, juga dari masyarakat.

Alienasi itu memang ajaib mengubah manusia. Kerja satu-satunya milik buruh berubah menjadi milik tuan pemodal. Dengan upah, tuan-tuan modal memiliki semacam mukjizat, semacam kelebihan: menyulap buruh jadi alat kekayaan.

Maka dari itu buruh jadi manusia yang kerdil. Di dalam sistem kapitalistik, buruh bukan berarti pribadi individualistik. Di dalam roda industrialisasi, buruh jadi kelas, buruh jadi kaum.

Sebab itulah di balik sistem kapitalistik, ada penjajahan massal. Di dalam urat nadi industrialisasi kaum buruh menjadi seperti atom di dalam tatanan akbar kapitalisme. Ia kecil tapi signifikan justru bukan bagi kelasnya. Di dalam tatanan akbar itu, buruh kian dirundung masalah.

Kapitalisme, yang diriwayatkan tamat oleh Karl Marx itu nyatanya bertransformasi. Ia berkembang berjilid-jilid. Dari kapitalisme tua, pramodern, modern, hingga kapitalisme lanjut. Semula, buruh adalah kaum pekerja yang dikuasai tuan pemodal di dalam pabrik-pabrik.

Tapi itu tadi, zaman berubah, dan kapitalisme juga berubah: sekarang struktur berubah, juga pasar, dan kapitalisme tidak sekedar sistem tunggal, melainkan jamak menjadi struktur kekuasaan yang berlapis dan bersusun.

Di dalam sistem yang berubah itulah buruh berubah dari pekerja menjadi profesi yang luas. Dalam arti inilah seorang guru juga seorang buruh, seorang dokter juga berarti proletar, seorang polisi berarti pekerja, seorang pegawai berarti budak. Juga yang lain, di dalam pasar, hampir semuanya menjadi alat kekayaan tuan-tuan kapital.

Sebuah penghisapan massalkah ini?

Sepertinya tak ada yang absen dari logika kapital. Kerja dalam arti kapitalistik sama halnya menjual jasa pada sistem yang belum tamat ini. Kerja di abad kiwari, bukan lagi persis seperti di abad lalu yang mesti bersentuhan langsung dengan alat produksi berupa mesin di pabrik-pabrik.

Kerja, dengan semangat zaman yang baru, adalah pertukaran tenaga dan keahlian menjadi keuntungan kapital bagi nama baik perusahaan, rating tinggi media, citra baik pemerintah, atau bahkan nilai sempurna akreditasi perguruan tinggi. Abad kiwari, setiap tetes keringat akan ditransformasikan menjadi kapital baru. Dari tenaga menjadi keahlian. Dari otot diganti otak.

Tiada yang abadi di dalam kapitalisme selain kerja. Kerja atau mekanisme menggerakkan modal dari cukup menjadi berlipat ganda adalah inti sistem global saat ini. Siapa pun mau tidak mau, atas nama apa pun bakal disedot masuk mengisi satu slot ruang pekerja. Entah menggunakan seragam, helm pengaman, atau stetoskop. Dipaksa atau terpaksa.

Karl Marx sudah jauh hari mewaspadai, di dalam sistem masyarakat kapitalistik, kerja yang dilakukan tanpa gairah dan kebebasan akan menjadi petaka.  Akan menjadi alienatif. Kerja  macam inilah yang disebut mengkerdilkan kemanusiaan. Menciutkan arti hakikat manusia seolah-olah seperti binatang.

Kerja, bagi Marx adalah modus sejarah. Kerja adalah cara manusia mengelola apa yang awalnya nature menjadi culture. Dari kerjalah manusia mengubah alam yang asing menjadi ruang yang akrab. Marx mengyakini, kerja adalah aspek manusiawi dari manusia. Kerja adalah upaya meneguhkan ekspresi hidup manusia. Dengan begitu, kerja berarti memanusiakan manusia.

Tapi sekali lagi, di dalam cara bereproduksi, kekejaman kapitalisme mampu mendesak kerja yang manusiawi menjadi nonmanusiawi. Mau tidak mau buruh yang tak memiliki apa-apa menjual jasanya. Dengan menjual tenaganya berarti buruh menjual dirinya. Dengan tangan kosong buruh menggadai kebebasannya. Sebab itulah kerja menjadi tidak manusiawi. Karena itulah kerja menjadi alienatif.

Sulit ditampik bagaimana Marx begitu mencela kapitalisme. Dia mungkin kecewa. Dia mungkin risau. Tapi mungkin juga geram. Itulah barangkali mengapa ia menulis manifesto yang terkenal itu. Mengajak siapapun di bawah sistem tunggal kapitalisme. “Wahai kaum buruh sedunia, bersatulah!” Dan kita tahu, tulisan yang diawali frase itu, banyak menginspirasi hampir banyak orang.

Buruh hari ini sudah tidak segeram Marx menghardik sistem yang tak mati-mati itu. Tapi juga bukan lapisan kelas yang gampang dikibuli tuan-tuan pemodal. Mereka punya taktik melawan kapitalisme. Mereka punya front perjuangan atau bahkan punya partai perjuangan. Mereka bersatu dalam satu keyakinan yang pasti: di manapun, bagi buruh, kapitalisme harus tumbang.

Dengan itu sepertinya buruh yakin atas ramalan Marx. Kapitalisme akan menggali kuburannya sendiri. Sistem kapitalisme akan terjerat pertarungannya sendiri. Marx menyebutnya kontradiksi internal: iman yang pasti akan keruntuhan dengan sendirinya kapitalisme. Meski itu bakal lama terjadi. Meski bisa sebaliknya, itu bakal tidak mungkin terjadi.

Adakah yang salah dengan itu? Adakah yang mesti dibuktikan di situ? Saya pikir ramalan bukan berarti urusan keyakinan yang harus dibuktikan. Justru sebaliknya, karena tidak pernah terbukti, sesuatu itu semakin menjadi keyakinan. Sesuatu utopiakah ini? Rasa-rasanya optimisme itu penting: karena suatu cita-cita jadi utopia, maka ia mesti terus diperjuangkan. Juga buruh yang jadi alat kekayaan pemodal itu, semakin diisap semakin melawan. Ini memang mirip pegas.
Selamat hari Buruh Internasional. 1 Mei 2020

===

Telah tayang di Kalaliterasi.com

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...