01 Desember 2019

Geetha Rani, Guru Kepala Sekolah Tegas nan Tulus


Genre: Comedy
Sutradara: Sy Gowthamraj
Penulis naskah: Bharathi Thambi
Pemaian: Jyothika, Hareesh Peradi, Poornima Bhagyaraj
Durasi: 134 minutes
Studio: Dream Warrior Pictures



GURU, pahlawan tanpa tanda jasa saya kira slogan berbahaya. Dia bisa menjadi alasan berkelit bagi kekuasaan agar guru tetap diperlakukan seadanya. Guru tak mesti diperlakukan khusus. Toh, dia mesti ikhlas bekerja. Pagi hingga sore tanpa pamrih mendidik ribuan anak-anak negeri. Jika mengeluh dan meminta haknya dipenuhi ada slogan itu tadi. Guru bukan siapa-siapa. Dia tidak mesti mendapatkan jasa balasan dari pengabdiannya selama ini.

Nasib guru ditinjau dari slogan itu cukup mengenaskan. Waktu dan tenaganya selevel dengan kerja buruh pabrik. Pagi hingga sore, tanpa sekalipun menyisakan waktu bagi keluarga, dia mesti berada di sekolah. Di dalam kelas  ia dituntut kreatif  membaca gerak gerik siswa, di hadapan sistem dia dibebani tumpukan embel-embel administrasi, di mata publik gelagatnya dicibir berperilaku kasar mendidik anak, dan di hadapan pemerintah hak-haknya banyak tidak diapresiasi.

Melihat siklus kehidupan seorang guru cukup aneh. Di hadapan negara ia jadi objek kekuasaan demi  menjadi subjek kemajuan peradaban. Banyak waktunya tercurah mendidik anak-anak orang lain, sementara di saat bersamaan waktunya ”dirampas” demi mendidik keluarganya.

Dengan kata lain, seorang guru teralienasi dari kehidupan intinya. Tanpa sadar ia menjadi objek pekerjaannya sendiri.  Mengajar, membuat RPP, mengisi berkas administrasi, secara kontinyu membuatnya ”berjarak”. Ia dekat, tapi jauh dari segi perhatian dan pendidikan keluarga.

Tapi, walaupun demikian, siklus kehidupan guru menandai bagaimana ia kerap mengutamakan kehidupan publik (pendidikan) daripada kehidupan pribadinya (rumah tangga). Ia rela urusan keluarganya dinomorduakan demi kemajuan pendidikan. Orang rela mengutamakan kehidupan banyak orang daripada kepentingan pribadinya, saya kira orang yang memiliki kualitas keikhlasan luar biasa.

Ini yang membedakan kualifikasi guru dari profesi lain. Ia sehari-hari berkecimpung di dalam ”dunia manusia” yang memiliki beragam karakter, kepentingan, motivasi, kecenderungan dan tingkat pemahaman berbeda. Di dalam lingkungan serba dinamis itu, keikhlasan dan kesabaran adalah kunci.

Lalu, jika guru tidak dapat ditandai atas jasanya, bagaimana guru mesti diapresiasi atas kerja kerasnya mendidik ”peradaban”?

Saya berpikir, satu-satunya cara mengapresiasi kerja guru tiada lain mengamalkan seluruh didikan sang guru. Guru dihargai dengan cara kita berpikir, berperasaan, dan beramal sesuai amanah ilmu yang diperoleh darinya. Apabila semua itu ingin ditandai, saya kira itulah tandanya, tanda jasanya.



DUA hari ini netizen dihebohkan pidato menteri pendidikan baru. Nadiem tidak banyak berbasa-basi. Bahkan itu sudah ia ingatkan dari isi pidato awal. Inti pidato Nadiem berkisar lima hal.

Pertama, soal guru yang menjadi lokomotif utama penggerak generasi terdidik. Kedua, kecerdasan peserta didik tidak diukur dari hasil ujian. Ketiga, guru mesti menekankan karya murid tinimbang membebani murid menghapal isi pelajaran. Keempat dan kelima, guru mesti menjadi pelaku aktif di dalam kelas, dan mesti memahami kebutuhan berbeda setiap murid.

Isi pidato Nadiem sebenarnya klise jika dibandingkan dengan isi pidato Jokowi di hari Guru tahun 2017. Terlebih lagi dari yang pernah dicanangkan Anis Baswedan dan Muhadjir Effendy.

Satu-satunya membedakan pidato Nadiem dibanding menteri sebelumnya adalah cara ia disampaikan. Sehari sebelum resmi dibacakan, beredar video naskah pidatonya di lini masa. Seolah-olah Nadiem ingin menandai bagaimana ia gesit memanfaatkan media sosial. Satu ciri milenial dan teknologis yang menjadi latarbelakangnya selama ini.

Pidato Nadiem di hari guru besar kemungkinan akan berbeda jika diucapkan di hari pendidikan. Guru dan pendidikan dua hal berbeda walaupun tidak bisa dipisahkan. Itulah sebab, tema pidato Nadiem  tidak bertumpu di atas narasi besar pendidikan, melainkan kembali mengingatkan guru sebagai garda depan yang sehari-hari berada di dalam kelas bakal menentukan arah pendidikan.

Nadiem, dengan kata lain sedang berbicara tentang sosok pahlawan. Figur merdeka yang bakal menentukan nasib masa depan banyak orang.



DIA datang tanpa banyak bersuara. Ia melihat banyak keanehan di sekolah tempatnya bakal bertugas. Sekolah orang tidak mampu itu ibarat lingkungan pasar: murid merokok dan beberapa melompat pagar, kelas amburadul, siswa-siswi berlarian tak karuan di halaman.

Guru-gurunya? Jangan tanya. Ketika Geetha Rani kali pertama datang, guru-gurunya nongkrong di ruang guru asyik bersolek. Beberapa mengajar mendengarkan lagu  dari headset sementara murid-muridnya dibiarkan bermain. Bahkan, guru-guru lelakinya malah keluyuran lari dari tugas mengajar.

Geetha Rani, perempuan guru dalam film Raatchasi (2019), tidak main-main. Ia adalah guru baru sekaligus kepala sekolah ditugaskan di sekolah karut marut. Setelah mengamati keadaan buruk sekolah dipimpinnya, ia melakukan perubahan seketika.

Melihat keadaaan ini, bagi guru bermental kerupuk, sudah pasti bakal keok di hari pertama bertugas, dan mencari cara dipindahkan secepatnya. Tapi tidak bagi Geeta. Seakan-akan menepis anggapan masyarakat sekitar sekolah, ia malah bersemangat mengubah keadaan yang semula tidak mirip sekolah itu.

Dia pelan-pelan tapi tegas, mengubah seluruh kebiasaan buruk sekolah. Pertama ia membiasakan siswa-siswa mesti berkumpul setiap pagi sebelum masuk kelas. Kedua, ia menertibkan guru-guru bermasalah. Sebagiannya ia ”paksa” meng-upgrade pengetahuan belajar-mengajarnya. Ketiga, ia merenovasi gedung sarana prasarana sekolah. Keempat, ia membuka kelas minggu bagi anak-anak tidak sekolah ikut belajar di akhir pekan. Kelima, ia meroling setiap guru menjadi kepala sekolah harian di hari-hari berbeda. Keenam, ia mengundang orang tua murid membicarakan ide-ide perbaikannya. Intinya, Geetha Rani sedang melakukan perubahan besar-besaran nan mendasar di sekolah dipimpinnya.

Usaha revolusioner Geeta di sekolah seketika merebak seantero kampung. Sekolah dikenal sarang anak-anak nakal, murid keluarga miskin, dan guru malas, seketika diketahui banyak perubahan.

Tak disangka tindakan perbaikan Geeta membawa soal lain. Banyak pihak berkepentingan gerah atas gaya tegas kepemimpinannya–termasuk guru-guru di sekolah. Geeta dianggap banyak mengubah bukan saja keadaaan sekolah, tapi situasi status quo sosial-politik di daerah sekolah itu berdiri.

Saya tidak perlu lagi membicarakan jalan cerita film Kollywood ini (film berbahasa Tamil yang membedakan dengan Bollywood, film berbahasa Hindi). Tapi perlu saya katakan premis film ini tidak jauh berbeda dari film sejenis Taare Zameen Par (2008), Dead Poets Society (1989), atau Freedom Writers (2007), yang menempatkan peran signifikan guru mengubah penyelenggaraan pendidikan jauh lebih baik.

Seperti dua fim ini, Raatchasi dengan klise tapi begitu bersemangat mendudukkan peran ”sendirian” seorang guru, dari tindakan ”lokalnya” mengubah kebiasan buruk belajar di sekolah menjadi kembali bersemangat dan humanis.

Geetha Rani menciptakan kebiasan dan pendekatan baru dalam proses belajar mengajar.  Dari rumahnya, sepulang dari sekolah, dia menyusun strategi apa untuk mengubah eksosistem sekolah yang ideal. Pelan-pelan perubahan itu bakal mempengaruhi kehidupan sosial sampai di luar sekolah.  Ini, saya kira adalah salah satu pesan utamanya. Peluru pendidikan diciptakan di dalam kelas, dan bakal ”meledak” kelak ketika mereka berkiprah di dunia yang lebih luas.

Pelan-pelan adegan demi adegan film ini mengisi imajinasi saya tentang sosok guru diidealkan Nadiem. Guru yang disebutnya tidak mesti menunggu perintah dari ”atas”, guru yang mengutamakan karya siswa, guru yang pandai berinovasi di dalam kelas, guru yang menemukan pendekatan baru belajar mengajar, guru yang mengajak diskusi kelasnya, guru yang mesti menemukan bakat murid, guru yang….

Selamat Hari Guru, pahlawan tanpa tanda jasa.


--Telah tayang 25 November 2019 di Kalaliterasi.com


25 November 2019

Otak Manusia, Sindrom Tarzan, Kucing , dan Lelaki Harimau

Poster Film Tarzan Kota (1974)
dibintangi aktor legendaris Benyamin Sueb
dan Ida Royani


OTAK bayi manusia, saat pertama lahir, otak paling lemah dibandingkan binatang. Ahli neurologi menyebutnya otak ”prematur”. Butuh bertahun-tahun bagi bayi menyempurnakan jaringan otaknya.

Otak binatang sejak kelahiran sudah sampai ke tahap perkembangan lanjut. Bayi manusia membutuhkan banyak waktu dan ”asupan” informasi demi mencapai otak sempurna. Otak sempurna akan berengaruh kepada kematangan kemandirian berpikir manusia.

Itulah sebab, bayi manusia belum dilengkapi kecapakan berbahasa, gerak, dan perasaan saat ia lahir. Dalam sejarah, selain Isa Al Masih Tuhan tidak salah menurunkan mukjizatnya menciptakan seorang bayi mampu berbahasa sejak lahir.

Anda bukan Isa Al Masih, seorang bayi tiba-tiba berkemampuan bercakap-cakap dengan ibu yang belum lama melahirkan Anda. Itu sebab, nama Anda tidak tercatat dalam buku-buku mukjizat para rasul, atau buku sejarah masa kini.

Belum ada pula catatan sejarah berhasil menemukan seorang bayi, pasca keluar dari perut ibunya, seketika mampu berjalan dan berlari laiknya pemain sepak takraw.

Jika ada satu kemampuan bawaan bayi manusia sejak lahir, barangkali itu juga adalah mukjizat setiap bayi seperti Anda, adalah menangis. Itupun para ahli masih bingung, jenis pengetahuan (insting?) apakah yang mendorong bayi menangis pertama kali lahir.

Kata John Locke, filsuf empirisme Inggris, bayi dilahirkan ibarat kertas kosong. Putih bersih di awal kehidupan, dan seturut pengalaman kertas itu bakal terisi beragam informasi. Selama Anda menjalani lika liku kehidupan, selama itu pula ”kertas” kehidupan Anda terisi.

Tarzan, manusia hutan dibesarkan komunitas gorila dikenal tidak mampu berbahasa. Pengalaman hidupnya tidak dibentuk dari lingkungan manusia. Sehari-hari, karena diajarkan cara berpikir dan berperilaku monyet, Tarzan lebih mirip monyet daripada manusia.

Nanti, seperti di filmnya, Tarzan mengenal bahasa setelah ia bertemu seorang perempuan yang memperkenalkannya cara hidup versi peradaban manusia.

Film Tarzan mengajarkan watak perilaku manusia dibentuk lingkungannya. Jangan takut, Anda bukan Tarzan karena tidak hidup bersama seekor gorila. Warna warni ”kertas” kehidupan Anda ditentukan di komunitas apa, pendidikan apa, kebudayaan apa Anda berada, bukan di komunitas gorila apa Anda hidup. Kata pepatah Arab, sering-seringlah bergaul bersama penjual parfum, barangsiapa bergaul dengan penjual parfum, ia akan kebagian baunya juga.

Ilmu neurologi menerangkan otak manusia terdiri dari sekitar 100 miliar neuron. Setiap neuron memiliki ribuan jaringan dengan neuron lain. Di antara satu titik neuron dengan ujung neuron lain dipertemukan apa yang disebut ahli neurologi sebagai sinapsis.

Di miliaran jaringan sinapsis inilah ”bergerak” data kimia membuat jutaan sirkuit informasi setiap waktu.

Uniknya, jaringan sinapsis ini bakal tumbuh membentuk jaringan baru sesuai di lingkungan apa Anda hidup. Tarzan, kemungkinannya memiliki jaringan neuron versi gorila karena sehari-hari bergaul bersama gorila. Tarzan hanya mengenal ”bahasa” versi gorila, bukan ”bahasa” manusia.

Jika lingkungan Anda lingkungan tanpa ”bahasa”, jaringan sinapsis Anda bakal sulit tumbuh. Kemungkinan otak Anda akan mengecil menjadi seperti kacang polong. Sebaliknya, kalau hidup  Anda penuh ”bahasa”, menurut ahli jaringan saraf otak, otak Anda akan ”ditumbuhi” jaringan sinapsis.  Semakin banyak ”bahasa” Anda ketahui, semakin banyak serabut sinapsis muncul di otak Anda.

Tapi, masih menurut ahli neurologi, sebenarnya perkembangan jaringan sinapsis ditentukan dari ”baik buruknya”  ”bahasa” yang Anda terima. Jika Anda tiap hari menerima ”bahasa” dari orang-orang berkeperawakan mirip gorila, ahli neurologi sudah pastikan, otak Anda akan mengalami kerusakan permanen. Jaringan sinapsis otak Anda akan mengalami malfungsi.

Otak Anda bakal sehat kembali, masih menurut ahli otak, jika setiap saat Anda hanya menerima ”bahasa” kebaikan. Hanya ”bahasa” kebaikanlah yang mampu ”menghidupkan” kembali kerusakan jaringan saraf sinapsis Anda.

Jika sehari-hari Anda hidup bersama orang berkeperawakan mirip gorila, demi menyelamatkan otak Anda dari kerusakan permanen, segera-lah meninggalkan orang mirip gorila tadi. Ia hanya pandai ”berbahasa” kekerasan dan kebencian. Jika tidak segera ditinggalkan, tunggu saja, pelan-pelan hidup Anda akan seperti gorila, kejam dan sulit diatur.

Karena itu menurut ilmu neurosains, otak adalah ”benda” paling canggih sekaligus misterius. Ia sampai sekarang masih terus diteliti dan dikuak seiring pertumbuhan jaringan sinapsis.




BAYI sapi atau kuda, atau kerbau, atau jerapah, atau hewan mamalia lainnya sering membuat saya takjub. Selang beberapa menit setelah lahir mereka sudah mampu berjalan dan berlari. Banu, anak saya, di usianya sekarang –1 tahun 2 bulan—belum mampu berjalan.

Bagi bayi mamalia, alam menyediakan waktu tidak lebih satu jam agar ia bisa berjalan. Manusia bukan anak alam, kemampuan berjalan bayi manusia membutuhkan waktu hampir satu tahun. Seperti Banu, jika tidak dirangsang, pertumbuhan motoriknya membutuhkan waktu lebih lama.

Jika Anda memelihara kucing dan sedang mengandung, perhatikan anak kucing setelah dilahirkan. Gerombolan anak kucing Anda membutuhkan 9-12 minggu masa ”belajar” menjadi kucing baik. Di masa ini, seekor anak kucing akan dididik lingkungan kucing. Ia akan diajarkan ”norma-norma” kehidupan kucing.

Ingrid Johnson, aktivis International Association of Animal Behavior Consultans, menyebutkan saat rentang 12 minggu itu, kucing Anda akan belajar ”bahasa kucing”. Di masa ini ”bahasa kucing” ditentukan dari pengalaman ”bersosialisasi” sesama kucing. Semakin ia bersosialisasi, semakin ia mengenal ”bahasa kucing”. Semakin ia mengenal ”bahasa kucing”, ia tumbuh menjadi kucing peliharaan yang baik.

Inggrid menjelaskan, jika  selama masa ini anak kucing tidak ”mendapatkan” teman bermain, ia akan tumbuh menjadi kucing tanpa ”bahasa kucing”. Kucing tidak mengenal ”bahasa kucing” akan tumbuh menjadi kucing agresif. Lihat saja, kucing Anda bakal suka mendesis, senang meludah, dan gemar mencakar, hatta sesama jenisnya.

Seandainya Anda kucing, baik buruknya perangai Anda ditentukan di masa 3 bulan setelah Anda dilahirkan. Jika sehari-hari Anda berperilaku buruk, agresif, dan suka mengancam orang lain, seperti anak kucing Anda, kata Ingrid Johnson, masa 2 bulan belajar Anda tidak berjalan baik.

Mungkin Anda kurang bersosialisasi bersama kucing-kucing lain.

Kata Ingrid, kucing agresif banyak ditemukan karena dilahirkan dan hidup sendiri. Sesuai Ingrid, Anda agresif seperti kucing, karena Anda sulit menerima kehadiran orang lain.

Ingrid menulis tentang ”bahasa kucing” di bawah judul esai Tarzan Syndrome. Sindrom Tarzan, istilah Ingrid kepada kucing-kucing yang belum mampu mengenal ”bahasa kucing”. Bagi kucing yang tidak mengenal ”bahasa kucing” membutuhkan waktu lama menjadi kucing baik.

Kucing terkena sindrom Tarzan tumbuh menjadi kucing ”pemarah”, ”nakal”, ”susah diatur” dan ”sulit bersosialisasi”. Seandainya kucing peliharaan Anda terkena sindrom Tarzan, solusinya sederhana, tulis Ingrid, segeralah memperkenalkan kucing Anda kepada kucing lain. Seperti Anda yang kesepian, kucing Anda hanya butuh teman ”bersosialisasi”.




”BUKAN aku yang membunuhnya”, ia berkata dan melanjutkan, ”Ada harimau di dalam tubuhku”.

Beberapa teman saya mempunyai kemampuan ajaib jika tidak layak dikatakan aneh. Di antara mereka bisa berubah menjadi macan atau harimau. Tentu bukan macan atau harimau sesungguhnya. Hanya sifat dan keperawakannya saja. Transformasi itu pernah saya saksikan ketika mereka menguji ilmu bela dirinya.

Ketika mereka uji tanding, sambil berkeringat ada saat ruh binatang buas merasuki tubuh mereka. Kadang ruh macan. Tapi, lebih sering harimau. Jika sudah begini, mereka bakal mengaum-ngaum, mendesis, sampai menjulurkan cakar sambil berkelahi. Saat inilah arena tanding semakin sempit akibat ”tingkah” aneh mereka. Lebih aneh lagi, tidak disadari uji tanding bakal lebih mirip pertunjukkan mistis.

Kata mereka saat seperti itu kesadaran mereka lenyap entah kemana. Mereka hanya mengikuti energi yang menggerakkan tubuhnya. Kebetulan saja selama ini energi macan atau harimau kerap merasuki mereka. Makanya mereka menjadi seperti macan atau harimau. Sayang, sampai saat ini saya belum pernah menemukan mereka berubah menjadi gorila.

Lelaki Harimau novel karangan Eka Kurniawan demikian menarik menangkap fragmen seperti pengalaman mistis uji tanding di atas. Melalui Margio, tokoh utamanya, Eka mengangkat wacana psikologi-mistis yang menjadi dasar terselubung—sekalipun samar-samar—dari perilaku pembunuhan Margio atas Anwar Sadat.

Saya tidak akan mengemukakan kepada Anda bagaimana jalan cerita Lelaki Harimau kali ini. Itu urusan tukang ulik buku meresensi karangan sastra demikian. Sekalipun begitu, Lelaki Harimau setidak-tidaknya melalui figur Margio sedang mengetengahkan tegangan-tegangan dialami diri manusia di antara ekstrim animaliti dan ideal kemanusiaan.  Dua sisi ini, kerap mengambil tempat dan membonceng di belakang kesadaran manusia.

Produk panjang peradaban berupa kesadaran, dan ekses negatifnya berupa sisi binatang, dalam cerita Lelaki Harimau, merupakan tempaan tekanan kehidupan berupa anomali masyarakat, kehancuran keluarga, kekerasan fisik, kekecewaan, kegagalan cinta, dan iming-iming harapan palsu, yang dialami tokoh utamanya melatarbelakangi pembunuhan Anwar Sadat.

Menariknya, setelah membunuh Anwar Sadat melalui gaya terkam harimau, ungkapan kutipan Margio di atas, tidak sama sekali memberikan pemahaman terang berkaitan siapa atau apa sisi dominan yang melatarbelakangi tindakannya? Dalam ilmu psikologi, wacana ini semakin menguat ketika Sigmund Freud, mempermasalahkan ”kesadaran” sebagai anak didik peradaban manusia dengan mengajukan tesis ”irasionalisme” sebagai dasar fondasional sikap dan perilaku manusia.

Belum ada waktu paten berapa lama manusia menjadi baik dididik peradaban. Seperti Anda, saya juga bingung, jika 2 bulan dibutuhkan kucing menjadi baik, berapa lama waktu tersedia bagi kita agar tidak menjadi kucing agresif dan sulit diatur. Berapa lama waktu yang cukup bagi ”kesadaran” mengerti “bahasa” peradaban manusia?

Tahun 1894 Rudyard Klipling menulis fabel berjudul The Jungle Book  berisi kisah-kisah melukiskan hubungan dunia manusia dan binatang. Salah satu cerita terkenal dari kumpulan kisah itu adalah Mowgli, anak rimba dibesarkan srigala di pedalaman hutan lebat India. Seperti kisah Tarzan, Mowgli tumbuh tanpa sekalipun mengenal kebiasaan kehidupan manusia umumnya.  Ia menjadi anak rimba hidup bebas bersama binatang-binatang hutan lainnya.

Satu abad lebih, di tahun 1995, scholar Indologi, Wendi Doniger O’Flaherty kali pertama menggunakan istilah sindrom Mowgli melalui bukunya bertitel  Other Peoples ‘Myths: The Cave of Echoes. Kelak dalam dunia ilmu psikologi nama Mowgli dipakai mendeskrepsikan fenomena anak liar akibat hambatan mental. Seperti Tarzan sindrom, anak-anak liar terjadi karena perkembangan jiwanya terisolasi dari masyarakat, dan tidak menemukan dunia sosialisasi yang baik.

1974, aktor legendris Betawi, Benyamin Sueb, dengan jenaka memeragakan karakter Tarzan dalam film Tarzan Kota. Jalan ceritanya mengadopsi (dengan sedikit inovasi tentunya) karangan Edgar Rice Burroughs, si pencipta karakter Tarzan dalam novelnya Tarzan of the Apes.

Karakter Tarzan kota tidak seperti figur Tarzan ciptaan Hollywood bertubuh atletis dan berhidung mancung, justru Tarzan versi Benyamin bertubuh gempal, tampil lucu, dan ceria. Hanya saja, seperti Tarzan ”asli”, Tarzan Kota banyak mengalami kegagalan beradaptasi ketika hidup di tengah modernisme perkotaan. Keliaran Tarzan di tengah kota tidak berkutik hiruk pikuk peradaban kota.

Jika Tarzan kota adalah olok-olok, mungkin sasarannya adalah modernisme itu sendiri—yang notabene kehidupan kita sendiri. Kiwari, jika sindrom Tarzan, atau sindrom Mowli dipandang sebagai kritik modernisme, maka sekarang, betapa banyaknya kegagagalan kita mengenal ”bahasa” peradaban. Absennya pemahaman atas ”bahasa” peradaban, kurang lebih menciptakan kegagalan adaptasi banyak komunitas masyarakat.

Politik, ekonomi, pendidikan, seni, dan agama, saya kira dimensi kehidupan masyarakat yang mau tidak mau mesti menyediakan wahana menangkap dan mengenal ”bahasa” peradaban. Kegagalan atasnya, meminjam temuan Ingrid Johnson, hanya akan melahirkan ”kucing-kucing” agresif. Kehidupan liar versi Tarzan, tanpa moral toleran, tanpa empati.

Tentu Anda tidak ingin menjadi gorila, bukan? Atau seperti Margio, dalam Lelaki Harimau, yang membunuh ”peradaban” dengan berdalih: ”bukan aku yang membunuhnya, ada harimau di dalam tubuhku!”.

19 November 2019

Toilet dan Toleransi


Eka Kurniawan
Pengarang terkemuka Indonesia saat ini
Buku fenomenalnya: Cantik itu Luka


Bung, toilet Bung!

Di film-film hollywood berlatar kehidupan gangsters, toilet pubs atau diskotik digambarkan urakan. Alih-alih nyaman, toilet versi kehidupan malam Amerika penuh coretan gravity, ungkapan-ungkapan cabul, sampah kondom, sisa muntahan, bekas kencing dan—jika film bisa menghidupkan indera penciuman—sudah tentu bau.

Di situ, toilet diberlakukan semena-mena tanpa norma. Dia jadi ”panggung” pelampiasan hasrat tersembunyi manusia.

Tentu kehidupan ”belakang” demikian berbeda dari keberadaan toilet di lingkungan elit. Fungsi dan ornamen toilet di lingkungan berada malah jadi representasi paradigma estetis. Bahkan, toilet umum di negara-negara maju dikreasikan dengan pendekatan wacana tertentu: ada yang ramah anak, ramah lingkungan, sampai dibikin mirip dunia galaxi.

Semena-mena atau tidak perlakuan atas toilet, dikatakan World Toilet Organization sebagai cermin kebudayaan bangsa. A nation without clean toilet is a nation without culture, begitu bunyi slogannya.

Toilet, di panggung sastra diangkat Eka Kurniawan dalam kumcernya Corat-Coret di Toilet. Dengan judul sama, cerpennya ini ciamik menangkap gelagat perlawanan kaum  muda terhadap orde baru. Ibarat dinding media sosial masa kini, toilet menjadi wahana ”diskursif”. Coretan komentar saling menyambung mempertemukan kritik, harapan, masukan orang-orang berbeda.

Jika mengamati konteks cerpen Eka, toilet di waktu itu ibarat ”medan publik” bebas dan tanpa sensor. Mengingat kritik di masa orde baru begitu dibatasi, dan bahkan dibungkam, toilet malah jadi saluran alternatif menyampaikan keluh kesah yang tidak didengarkan kekuasaan.

Dengan kata lain, toilet di waktu itu, seperti fungsi toilet di film gangsters hollywood di atas, menjadi ”kebudayaan” tersembunyi yang diredam, disensor, dan sering disembunyikan dari pantauan banyak orang.

Seandainya di masa itu kita ingin melihat pikiran paling jujur dan langsung masyarakat akar rumput, tengoklah ruang tersembunyi seperti toilet. Digambarkan Eka Kurniawan, wahana demokrasi tidak ditemukan di gedung parlemen wakil rakyat. Ia malah terletak jauh di sudut ”kamar belakang”, tempat masyarakat ”membuka” kemaluannya.

Nampaknya, itu artinya toilet sering menjadi tempat aman melakukan hal-hal di luar adat umum. Terutama ketika kekuasaan demikain koersif  dan mendalam mengatur seluruh dimensi masyarakat.

Bukan saja itu, dalam tingkatan tertentu, kebudayan sosial politik demikian mengikat dan mengekang, toilet menjadi ruang ”tanpa nilai” perilaku katarsis peradaban.

Kiwari, perilaku toilet tidak saja disembunyikan. Ia justru dipaparkan gamblang di hadapan kita. Kritik ala toilet gambaran Eka bermigrasi ke dinding-dinding dunia maya. Kebebasan toilet diilustrasikan dinyatakan diam-diam dan tersembunyi, kini banyak  ditemukan berlalu lintas di lini masa.

Dengan kata lain, kebebasan toilet melalui lini masa dunia maya, menjadi setara di dinding media sosial.

Di dinding media sosial, sahut menyahut status-komentar dinyatakan bebas tanpa palang pintu. Uniknya, ”kesadaran” kerap hilang dalam toilet, juga muncul dalam dunia maya. Dengan kata lain bahasa tanpa kesadaran kerap mengemuka dan menjadi tindakan komunikasi di dunia maya.

Bahasa toilet karena saking bebas, bahasa tanpa basis nilai dan embel-embel normatif. Ia di saat bersamaan melucuti kepekaan komunikasi. Sebagaimana perilaku toilet, bahasa toilet kerap memperlihatkan bahasa telanjang, urakan, dan tanpa malu.

Seperti slogan World Toilet Organization, perilaku toilet atau bahasa toilet diam-diam wujud kebudayaan suatu komunitas. Bahkan, dia diproduksi besar-besaran melalui forum-forum akbar, majelis-majelis, diskusi-diskusi, atau percakapan kamar tertutup.

Di tempat-tempat itu perilaku toilet berupa ”telanjang”, ”tersembunyi”, ”gelap”, dan, ”pesing”, dialihbahasakan menjadi wacana ilmu pengetahuan, agama, dan politik.

Bahasa telanjang toilet, ungkapan interaksi yang melucuti ”harga diri” lawan bicara, ”menyembunyikan” kebenaran dengan praktik ”gelap” informasi, dan dengan tujuan menyebarkan ”bau pesing” seseorang di ruang publik. Walaupun kerap bahasa toilet meminjam wacana ilmu pengetahuan, politik, dan bahkan agama, tetap saja ia menampakkan dari mana sebenarnya datang bahasa toilet.

Itu sebab, saban hari kerap ditemukan orang-orang berperilaku toilet bersikap arogan seolah-olah sedang berdiri dan bersuara di atas ”mimbar” kebenaran, yang sesungguhnya letak kakinya sedang berpijak dan tergenang di atas lantai toilet.


13 November 2019

Badut, Patch Adams, dan Balada Arthur "Joker" Fleck

Poster Film Joker

Komedi adalah tragedi tanpa tangis, tragedi adalah komedi tanpa tawa


DI SUATU waktu,  ia menyelinap masuk di kamar terlarang. Hanya dokter sungguhan boleh masuk di ruangan bercat serba putih itu. Ia masuk dengan niat tulus menciptakan lelucon.  Ia tanpa segan-segan menyelinap di dalam bangsal penderita kanker otak. Di situ ia memanfaatkan alat-alat kedokteran seadanya sebagai perkakas humornya.

Ia mengubah pispot kencing menjadi sepatu raksasa, busa pompa karet menjadi hidung a la badut. Atau, pakaian dokter memeragakan kostum badut yang  melorot.

Ulahnya itu membuat ruangan sunyi melompong menjadi riuh penuh canda tawa. Ruangan seluruhnya berisikan anak-anak seketika berubah seperti taman bermain. Untuk beberapa saat mereka melupakan penderitaan penyakitnya.

Badut karakter dipilihnya demi menghibur anak-anak yang hampir semuanya berkepala botak. Di balik tingkah lucu, walaupun peluangnya kecil, pria bertubuh gempal ini berkeyakinan kesehatan dapat dikontrol dengan pikiran dan jiwa bahagia. Dengan begitu banyak penyakit dengan sendirinya sembuh karena semangat tujuan baru penderitanya.

Kisah ini dapat Anda saksikan melalui peran Robin Williams dalam Patch Adams (1998). Aktor sekaligus komedian ini, pandai menghidupkan sosok Adams ketika mengawali karirnya sebagai mahasiswa kedokteran di Medical College of Virginia.

Narasi utama Patch Adams adalah ungkapan dunia medis yang tidak manusiawi dalam menangani pasien.

Di film ini, Robin Williams sering bertingkah lucu. Ia kerap membuat petinggi kampus ”kebakaran jenggot”. Adams sebagai mahasiswa sekolah kedokteran,  memiliki paradigma berbeda mengenai tata cara menangani pasien. Ia jenius tapi juga memiliki semangat kemanusiaan yang tinggi.

Film Patch Adams kisah nyata dari orang bernama sama dengan judul filmnya. Di kehidupan nyata, pendekatan kesehatan Adams banyak mengubah kebiasaan kedokteran menangani dan merawat pasien.

Tahun 1971 bersama teman-temannya, Patch Adams mendirikan Gesundheit! Insitute, yakni rumah sakit komunitas gratis bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Yang unik, selain dokter dan aktivitis kemanusiaan, Patch Adams adalah seorang komedian. Setiap tahun ia mengorganisir sukarelawan berkeliling dunia berpakaian badut membawa humor bagi anak-anak yatim, orang miskin, dan kelompok marginal lainnya.




BADUT memang diciptakan tidak pernah lucu.

Abad ke-16 di Eropa, ada sosok Harlequin. Ia figur pemain peran di perkumpulan teater Italian Commedia dell’arte. Di atas panggung, Harlequin sering menggunakan kostum kotak-kotak, menggunakan topeng, dan memiliki sebilah tongkat kecil.

Harlequin bertingkah gesit, susah diatur, dan nakal. Di Abad 16, peran Harlequin dalam komedi dianggap mewakili ”setan nakal” alih-alih dikatakan lucu.

Beralih ke Inggris, saat pertunjukkan drama, Harlequin sering berpasangan dengan Zanni, sosok pelayan badut kecil dengan versi lebih gila dan brutal. Zanni, karakter ”pekerja” yang mewakili sosok tanpa aturan dan bertingkah bodoh.

Seperti Italian Commedia delle’arte ”induk” pertunjukkannya di Itali, drama di Inggris saat itu banyak memerankan karakter-karakter berupa orang tua bodoh, ayah serakah, pelayan licik, si tentara pengecut, atau dokter yang maha tahu segalanya.

Baik dari karakter pelayan licik, sampai dokter yang sok tahu, tipe sosial mewakili kepalsuan sifat hipokrit yang sering terjadi dalam masyarakat.

Dalam khazanah bahasa Inggris, Shakespeare orang pertama menggunakan kata ”clown” (badut) untuk menggambarkan karakter bodoh dan tolol dalam pertunjukkan perannya.

Karakter badut macam demikian dalam rentang sejarah tertentu, sering berposisi sebagai perkakas kritik. Bahkan, jauh di peradaban Mesir kuno, karakter badut seperti juga cerita-cerita sufistik, kerap menggunakan lelucon satir untuk menguak kebohongan kekuasaan. Hal ini ekspresi paling mungkin dan aman ketika rezim kekuasaan sedang sadis-sadisnya.

Berbeda dari kritik verbal, badut melayangkan kritik menggunakan gestur, mimik, dan tingkah lucu saat menyampaikan aspirasinya.

Itu artinya, badut tidak sekadar lelucon belaka. Ia melampui kelucuan dan rasa humor yang sering kali lebih ”memukul” dari gaya kritik apa pun.

Badut terkenal di abad 19 walaupun dengan versi berbeda adalah si Charlie yang diperankan Sir Charles Spencer Chaplin. Charlie Chaplin mengembangkan versi badut pantomim untuk menggambarkan kepelikan dunia. Lewat tertawa, humor Chaplin mengajak penontonnya melihat dunia melalui cara berbeda.

Dari setting masyarakat industri melalui film semisal The Modern Time dan City Light, Chaplin menciptakan sosok Tramp untuk menunjukkan kontradiksi-kontradiksi kemanusiaan yang ditimbulkan masyarakat industrial.

Lewat karakter Adenoid Hynkel, Chaplin memeragakan humor gaya mengejek dalam film The Great Dictator.

Semua yang pernah menyaksikan tahu, dari film itu, sosok sasaran Chaplin adalah Adolf Hitler, tokoh penyulut Perang Dunia ke-2.

Humor Chaplin, humor tanpa kata. Tapi bukan berarti tanpa ”bahasa”. Melalui peran jenaka, bahasa humornya dapat ditangkap melalui mimik, gerak-gerik, dan petingkahnya sebagai teks. Peragaan tanpa kata itu berhasil mengaduk sense of humor setiap penontonnya.




HASIL penelitian di Inggris menunjukkan sangat jarang anak-anak menyukai badut. Peragaan lucu sering ditampilkan di acara ulang tahun anak-anak itu, alih-alih dapat menciptakan kesenangan dan rasa lucu, malah hasil riset itu menunjukkan anak-anak akan ketakutan, cemas, dan menangis.

Dalam jurnal New Ideas in Psichology, Frank T. McAndrew  menjelaskan hasil riset Sifat-sifat Kengerian. Kengerian, disebutkan datang karena ambiguitas si badut. Menurut riset itu, orang sering takut karena sulit bertindak dari apa yang tidak dikenalnya.

Ciri-ciri fisik berupa mata besar, senyuman aneh, atau jari-jari panjang badut, bukanlah faktor utama mengapa anak-anak menjadi takut.

Melalui riset itu, ada pertanyaan diajukan McAndrew tentang profesi apa yang mewakili rasa ngeri respondennya. Jawabannya mencengangkan. Badut adalah profesi paling sering membuat orang merasa ngeri.

Rami Nader, psikolog asal Kanada, memiliki penjelasan serupa  McAndrew. Ia memperkuat temuan McAndrew bahwa kengerian terhadap badut karena ketidakjelasan badut itu sendiri. Riasan badut jadi sebabnya. Tiada yang mengetahui apa karakter orang sesungguhnya di balik riasan menor dan kelucuan badut.

Hasil penelitian McAndrew seperti demikian patut diduga karena pengaruh keberadaan John Wayne Gacy, seorang peraga badut sekaligus pembunuh berantai. Di tahun 1970-an, ia dikenal sebagai psikopat. Ia sering menjadi badut di acara-acara ulang tahun anak, dan telah membunuh kurang lebih 33 orang. Di mana Gacy menguburkan korbannya? Ia mengubur mayat setiap korban di rumahnya di Chicago, Amerika Serikat.

Imajinasi dan memori masyarakat Amerika semakin mengerikan ketika Hollywood banyak merilis film-film bertema badut.  Bukannya menampilkan kelucuan, film-film rilisan Holywood lebih banyak menampilkan kekejaman dan keangkeran.

Tahun 2009 dan 2017 dunia perfilman Hollywood meremake IT, film horor dengan badut Pennywise sebagai tokohnya.

Jauh sebelum itu ada The Clown at Midnight (1998), dan Camp Blood (1999). Clown (2014), hingga karakter pembunuh berantai Twisty the Clown yang muncul di musim keempat serial American Horror Story (2014-2015). Semua film ini membalikkan kelucuan dan keceriaan badut menjadi kelam dan menakutkan.




DALAM salah satu adegan Joker (2019) warga kota Gotham berbondong-bondong turun ke jalan. Mereka menyeruak ke jalan-jalan menganggap kota Gotham  tidak lagi representatif menjadi hunian idaman.

Alih-alih aman, Gotham kota dengan tingkat kriminalitas tinggi. Lapangan pekerjaan sulit, disparitas ekonomi melebar antara si kaya dan si miskin, transportasi publik tidak menyenangkan, pendapatan kota menukik turun, dinamika politik perkotaan tidak stabil, serta elit politik yang rakus kekuasaan.
Massa aksi turun ke jalan ini memiliki kesamaan ciri. Mereka menggunakan topeng badut sebagai olok-olok kepada pemerintah kota Gotham. Topeng badut dipilih di saat persamaan kota sedang menghadapi teror badut yang telah membunuh tiga orang pelajar di jalur subway bawah tanah.

Joker, adalah kisah transformatif seorang Arthur Fleck menjelma sebagai badut pembunuh berdarah dingin. Dia adalah cerita orang pinggiran, kesepian, tak berdaya, korban bully, dan tidak dianggap, yang sekaligus pengidap mental illnes. Arthur memilih jalan hidup ektrem karena masyarakat yang kehilangan empati.

Joker bukan sekadar film banyak mengedepankan anasir-anasir psikologis belaka. Poin lain film ini banyak mengetengahkan satire atas timpangnya masyarakat, dan potongan-potongan kebijaksanaan melalui sudut pandang Arthur Fleck.

Sebagai pribadi kesepian tanpa ayah, Arthur hidup bersama ibunya yang sakit-sakitan. (Melalui teori atheisme, pribadi anak dibesarkan tanpa ayah akan hidup tanpa pegangan. Ia mudah rapuh dan terbawa situasi. Hilangnya pegangan hidup akan membuat si anak tidak akan mudah percaya kepada anjuran-anjuran berbau agama).

Hubungan dua manusia ini selama dalam film tidak sama sekali mencerminkan kejahatan. Dari kaca mata keluarga,  kedekatan Arthur dengan ibunya justru memperlihatkan kedalaman kebaktian  antara seorang anak kepada ibunya.

Walaupun demikian, Todd Philps, sutradara film ini, menyimpan satu kata kunci menjelaskan apa sebenarnya terjadi dalam keluarga kecil Arthur.

Lubang kunci itu adalah panggilan ”Happy” untuk Arthur. Nampaknya, ”Happy” adalah panggilan konstitutif bagi keluarga Arthur. Mereka tak pernah sama sekali bahagia. Panggilan ”Happy” Arthur hanyalah kanal saluran atas kelamnya sejarah hidup ibu Arthur.

Athur bukanlah anak diinginkan. Ia anak pungut. Itulah sebab dari kecil ia mendapatkan perlakuan buruk ibunya. Ini juga melatarbelakangi penyakit mental Arthur yang dibawanya dari kecil.

Di beberapa adegan sering terlihat Arthur membawa jurnal harian. Kesuraman inti buku hariannya ini. Banyak catatan hariannya tidak sama sekali membantu penyembuhan penyakit mentalnya. Masalah semakin runyam ketika psikiater tempatnya berkonsultasi menyatakan akan tutup akibat pemotongan anggaran.

Bagi seorang psikolog atau psikiater, jurnal seperti kepunyaan Athur sangat penting melihat dunia lebih dalam simptom penyakit mental. Lebih jauh, buku catatan penderita  berkelainan mental  dapat menentukan perkembangan dan pendekatan intervensi apa yang layak bagi  si penderita. Ia ibarat catatan medis bagi dunia kedokteran.

Tapi, ketika Arthur bertranformasi menjadi Joker, jurnal hariannya menjadi inspirasi kejahatan. Catatan hariannya itu menjadi literasi titik balik ego Arthur Fleck. Dalam istilah Joker, melalui catatannya, ia mengubah tragedi kemanusiaan menjadi komedi.

Keluarga cacat kasih sayang, karut marut norma masyarakat, tidak diterima di dunia kerja, serta latar belakang penyakit mentalnya, sudah lebih dari cukup bagi Arthur mentransformasikan benak dan perasaannya menjadi antitesa semua idealitas normatif dambaan masyarakat Gotham.

Badut adalah wajah sekaligus kepribadian sosial yang lebih mudah bagi diri Arthur. Arthur bukanlah siapa-siapa tanpa kostum badutnya. Ia pribadi lemah dan dilemahkan. Sementara Joker identitas baru melampaui inferioritas watak Arthur yang simpatik dan pengasih.

Dengan kata lain, Joker merupakan pribadi mewakili kegoncangan benak dan jiwa terdalam Arthur. Joker adalah pintu sosialisasi Arthur menyatakan gagasan dan benaknya.

Ia adalah produk masyarakat kota Gotham sendiri. Ia hasil internalisasi dan kristalisasi Arthur dari kegagalan harapannya, keinginannya, perasaannya, dan cita-citanya di hadapan sistem.  Yang semua itu di luar kendali dirinya menghendaki empati dari orang-orang di sekitarnya.

Jika mengacu kepada teori bunuh diri sosiolog Prancis, Emile Durkheim, pilihan logis Arthur setelah melalui kehidupan kelam adalah bunuh diri—beberapa adegan menunjukkan gelagat ini. Tapi. Arthur ”melampaui” pilihan ini. Ia beralih dari pribadi kalah menjadi optimis, walaupun rasa optimis yang liyan dan ganjil.

Itulah sebab, Joker merupakan watak berbahaya. Kejahatannya tanpa motif.  Delusional, tanpa perasaan, dan tanpa rasa kasihan.

Seluruh tayangan Joker berpijak dari kekacauan. Gotham bukanlah kota idaman. Di tataran makro, diceritakan Gotham mengalami krisis dan dekadensi akut. Struktur dan norma masyarakat mengalami kerapuhan. Kekacauan di tingkat makro ini melahirkan tragedi kemanusiaan berupa masyarakat tanpa bimbingan. Serta di puncaknya, secara diam-diam dan tanpa komando, memobilisasi ledakan emosi warga Gotham di jalan-jalan.

Di tengah kebrutalan itulah sosok Joker menemukan momentum kelahirannya. Bagai seorang anak, ia lahir dari rahim anomie dan patologi masyarakat. Ini sekaligus menandai kekacauan di tingkat mikro seperti kehancuran psikis Arthur.

Dari kacamata ini, tidak heran Joker adalah pribadi tanpa emosi dan kognisi yang baik. Dua fakultas ini telah malfungsi. Ia tertawa tapi menangis, atau menangis dengan tertawa.

Nilai kemanusiaan Joker  tidak lagi relevan. Ia melihat jauh di keramaian publik, tapi di sana tidak ada harapan dan pegangan. Ia melihat ke jantung jiwanya, lebih dahsyat lagi, di sana kosong melompong setelah dihempas masyarakatnya.

Lalu nilai apa yang relevan bagi Joker? Mungkin nihilisme!

Joker setidaknya memunculkan dua kesimpulan. Pertama, kota yang salah urus akan menciptakan ”pribadi” masyarakat beringas. Kedua, di saat bersamaan, entah bagaimana prosesnya, ketidakadilan bertemu dengan pribadi seperti sejarah Arthur Fleck, akan melahirkan pribadi bengis, culas, dan intoleran.


--Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu.


30 Oktober 2019

Si Pengintip yang Genit dan Perkasa

Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis
Inninawa (2007)

SAYA kira cukup mudah bagi kita menunjukkan keperkasaan. Apalagi jika anda seorang polisi, maka jauh lebih gampang lagi. Cukup memajang residivis kambuhan dengan tulang kering berlubang karena lahar panas. Setelah ditangkap diintai berhari-hari menggunakan mobil kijang tanpa nomor plat, segeralah ambil gambar. Di foto itu, bakal kelihatan siapa jagoan dan siapa bajingannya.

Panorama ini lumayan intimidatif. Terutama bagi penjahat yang masih berkeliaran bebas. Coba bayangkan sebelum didiamkan di dalam sel, mesti foto bersama polisi-polisi berotot plus berambut gondrong. Saya yakin, si bajingan yang jadi bulan-bulanan nanti ini lumayan makan hati. Kecut nian perasaannya.
Sudah dihadiahi pelor panas, dijadikan objek selfie-selfie pula.
Entah semenjak kapan ada kebiasaan ini. Tapi begitulah ketika selfie jadi tren. Di tangan polisi-polisi berpenampilan preman, residivis kambuhan yang tidak punya daya apa-apa lagi ini jadi mainan sesaat. Di hadapan kamera smartphone ia jadi objek kekuasaan.

Bahkan, di ujung kamera itu untuk membenarkan kerah baju saja ia tak berdaya. Apalagi membereskan sedikit muka bonyok pasca digasak bogem polisi.
Sial betul.
Saya kira ini suatu keadaan unik ketika kejahatan diolah menjadi ajang keperkasaan.
Muhiddin M. Dahlan, lewat esai di Fajar bertarikh 16 Oktober 2019 lalu, kurang lebih menyitir kelakuan ”perkasa” Achmad Fadil Muzakki Syah, anggota DPR fraksi Nasdem, saat pelantikan. Anggota dewan ini, di hari pertamanya bertugas, bukan main, membawa dan berfoto bersama tiga istrinya sekaligus.
Esai Gus Muh menarik. Fragmen Lora Fadil menampilkan tiga istrinya mencerminkan tema besar disebutnya ”dunia ranjang”. Dunia ini kurang lebih merupakan hasil panjang kebudayaan di mana Bugis menjadi salah satu pemasoknya.
Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis ditulis Muhlis Hadrawi terbitan Inninawa pada 2007, disebut di esainya itu, banyak memberikan perspektif adab dan ritus bersenggama dalam ”dunia ranjang” itu.
Menurut Gus Muh inti buku persenggamaan ini berusaha mendudukkan seks sebagai bagian integral ibadah.
”Apa yang Anda bayangkan? Ya, seks bagian yang inheren dengan dunia peribadatan. Seks itu sesuatu yang suci (berwudu). Ia memiliki dimensi spiritualitas. Melakukannya dengan cara yang benar sejatinya mengagungkan proses penciptaan.”
Di buku Assikalaibineng, sepenuturan Gus Muh, menjelaskan prosesi persetubuhan antara lai (lelaki) dan bineng  (perempuan) dengan tahap-tahap yang mencerminkan betapa persenggamaan mesti dilakukan dengan kelembutan dan kasih sayang.

Satu tilikan penting bisa diambil dari buku yang diurai Gus Muh di esainya berjudul Bugis dan Ranjang Indonesia itu. Keperkasaan atau kekuasaan lelaki yang lahir dari kualitas maskulin mesti disterilkan dari praktik kekerasaan. Seks betapa pun sering dipandang kegiatan profan belaka, mau tidak mau mesti dimaknai sebagai kegiatan yang setara (cinta).

Itu artinya, keperkasaan lelaki kerap muncul dalam praktik seks mesti lenyap, bukan malah sebaliknya.
Lalu, bagaimanakah melihat praktik ”kekuasaan” dalam foto Lora Fadil bersama ketiga istrinya? Keperkasaan jenis ini tidak berdiri di kaki-kaki kejahatan. Malah bisa jadi ia ditopang oleh semangat patriarkat yang mengakar kuat di benak lelaki macam Lora Fadil.
Anda bisa sepakat, Lora Fadil adalah tipikal lelaki berprestasi. Ia berhasil ”mengumpulkan” tiga perempuan di bawah satu atap rumah. Malah, ”di atas ranjang,” prestasinya lebih dahsyat lagi.
Prestasi ini persis seperti harapan ”ahli” poligami yang jadi pembicara di forum-forum berjenis ”ayo poligami” itu.
Di ranah politik, prestasinya ya itu tadi, lolos menduduki ”kursi kekuasaan” sebagai wakil rakyat.
Itu artinya, saat Lora Fadil menginjak lantai di Gedung Senayan dengan memboyong ketiga istrinya yang notabene adalah simbol kekuasaan di negeri ini, ia sedang menunjukkan satu jenis keperkasaan maskulin sekaligus.
Dengan kata lain, ia sedang mengembangkan ”ekor merak” keperkasaan menapaki dan menaklukkan dua ranjang sekali kibasan: kekuasaan politik dan seksualitas.
Dua ranjang ini dapat saling mengandaikan. Keperkasaan Lora Fadil mengandaikan barang siapa bisa ”menundukkan” tiga hati perempuan, berarti ia bisa ”merangkul” purnaragam kepentingaan politik. Atau sebaliknya, barang siapa mampu ”menegosiasikan” kekuasaan, itu sama artinya bisa memperistri banyak perempuan.
Tapi, sudahlah. Seperti Gus Muh dalam esainya, saya tidak ingin memperpanjang suasana jadi keruh.
Kiwari, keperkasaan sehari-sehari jadi ajang tanding. Bangsa Indonesia setelah mengalami 32  tahun mati suri mengalami perubahan mendasar atas nama demokrasi. Kekuasaan yang selama ini berpusat dan dikontrol oleh rezim Soeharto, terpecah-pecah, terpencar-pencar, dan terbagi-bagi, kepada siapa saja. Jika politik di masa sebelumnya hanyalah mainan elit ”di atas”, sekarang malah ia jadi konsumsi massal.
Di saat bersamaan, globalisasi abad 21 membuat dunia ibarat kawah mendidih. Kendati ada ekspresi untuk menghentikan laju zaman dengan membangun dinding perbatasan, semua itu tidak menghentikan umat manusia pecah ruah saling bercampur akibat deru deras informasi.
Itu artinya, ketika luberan informasi jadi kian merembes, setiap orang jadi kehilangan garis tepi kebudayaan, politik, dan agama.
Di kawah informasi yang mendidih itu tidak ada lagi Indonesia, Polandia, Spanyol, Amerika, Prancis dlsb.  Dengan kata lain, masyarakat global menjadi era yang sulit dielakkan.
Esai Eka Kurniawan di Jawa Pos 12 Oktober 2019 lalu cukup menarik menangkap perilaku manusia ”saling mengintip” berkat pergeseran zaman yang kian terbuka. Perilaku ”saling intip” kian banyak ditemukan melalui aktifitas maya. Kita hari demi hari makin bebas genit mengintip linimasa satu sama lain; status, hoaks, kisah, petuah, omelan, cibiran, iklan, percakapan, dan segala apa pun.
Uniknya, di kegiatan macam itu, tidak sedikit dari kita sebelum diintip tangkas memasang keperkasaan melalui layar smartphone. Tidak jauh berbeda seperti foto polisi preman itu, hanya saja tanpa muka bonyok si residivis.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...