27 Oktober 2019

Makassar Melawan Pembajakan Buku


BAJAK, di KBBI diartikan sebagai ”ambil alih secara paksa, disertai ancaman”. Definisi ini dibubuhi konteks lanjutan berupa ”(tentang pesawat dan sebagainya)”. Contoh ini mengingatkan saya kepada ”Air Force One” (1997), film aksi dibintangi Horrison Ford, orang yang juga sering kita saksikan memerankan Indiana Jones, seorang ahli arkeologi pemburu benda-benda kuno.
Tak perlu panjang lebar, ”Air Force One” lumayan fenomenal. Film ini berkisah tentang pembajakan pesawat kepresidenan AS oleh segerombolan teroris. Di film ini Horrison Ford berperan sebagai orang nomor satu Amerika, sekaligus menjadi pahlawan penyelamat pembajakan pesawat. Di film ini, ia berjuang sendirian. Berjibaku melumpuhkan satu per satu pembajak secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Terkesan hiperbola memang, seorang presiden sebatang diri melawan gerombolan teroris bersenjata lengkap di dalam pesawat. Tapi, begitulah Hollywood.
”Air Force One” seringkali ditayang ulang di layar kaca. Sekaligus jadi salah satu film berkesan di benak saya.
Barangkali, semenjak film ini tayang, banyak film bertema pembajakan dibuat Hollywood. Tidak main-main, beberapa film bahkan berani mengambil Gedung Putih–titik paling ketat penjagaannya di AS–sebagai  tempat paling sering dibajak–pendekatan yang belum mampu diadaptasikan sineas tanah air.
Terlepas dari itu, perlu dicermati mengapa konteks kata ”bajak” KBBI mengambil contoh peristiwa ambil alih paksa pesawat, bukan yang lain. Mengapa bukan kapal laut, kereta api, atau bahkan sebuah bus?
Mungkin memang, peristiwa fiksi semacam ”Air Force One” sering kali ditemui di dunia nyata. Di negara-negara dengan penerbangan padat berskala internasional, pembajakan pesawat sering terjadi. Terakhir memori dunia mengacu peristiwa 9/11 kejadian pengeboman gedung kembar WTC yang diliputi pro dan kontra itu.
Itulah sebab, konteks seringkali jadi latar belakang arti suatu kata. Dengan kata lain, suatu peristiwa sekaligus berfungsi membuat kata jadi terang.
Tapi, walaupun begitu, definisi paten dan demikian normatif, jadi tidak efektif. Terutama bagi kasus-kasus di luar kerangka definisi baku.
Pembajakan, kata kerja dari ”bajak”, dan ”pembajak” sebagai pelaku, hanya disebutkan diikuti konteks dalam dunia penerbangan. Tiada faktor lain yang membuka peluang konteks lain dapat muncul. Di KBBI, konteks lain itu justru ditulis hanya sebatas ”(…dan sebagainya)”.
Saya kira inilah soalnya. Di Yogyakarta pembajakan tidak terjadi dalam dunia penerbangan. Malah, ia terjadi dalam semesta suci ilmu pengetahuan. Dalam dunia berisi para pekerja buku berupa penulis, editor, proof readerlay outer, desainer,  percetakan, sampai pedagang buku. Suatu konteks yang tidak dicontohkan dalam KBBI saat ini.

Sekarang, menurut pengakuan Muhidin M. Dahlan dalam bincang-bincang Makassar Melawan Pembajakan Buku di Kopisentris (16/10), sudah sejak setahun lalu pekerja buku di Yogyakarta bergerak melawan mafia-mafia pembajak buku. Di Shopping Center, pusat penjualan buku di Yogyakarta, hampir semuanya menjajakan, dalam istilah Gus Muh, buku-buku repro.
”Bahkan, sebelum buku cetakan ori beredar, lebih dulu buku bajakannya terpampang di etalase-etalase toko buku di Shopping.”
Pendakuan Gus Muh, sapaan akrab Muhidin M. Dahlan ini mencengangkan. Terutama bagi yang pertama kali mendengarnya. Apalagi tambah Gus Muh, penerbit macam Basabasi sampai menarik ribuan bukunya dari toko-toko buku di Pasar Shopping.
”Pembajak itu menghadang di tahap akhir. Mereka memotong mata rantai proses percetakan buku.”
Gus Muh memberikan gambaran ada 15 tahap sebuah buku bisa sampai dinikmati pembaca. Dimulai dari proses kreatif penulis sampai di percetakan, semuanya menjalani proses panjang memakan waktu dan tenaga tidak sedikit.
Semua proses itu bahkan bisa disebut proses yang ”berdarah-darah.”
Saya kira, metafor yang ”berdarah-darah” ini tidak sekadar kiasan.  Ia memang harfiah. Pekerja buku bahkan bisa sampai diserang penyakit lantaran bekerja rodi mengawal satu naskah buku betul-betul sempurna sampai bisa dinikmati pembaca.
Lalu apa soal dari pembajakan buku, sebenarnya? Bukankah buku bajakan jadi solusi bagi mahasiswa berkantong kere, misalnya? Bukankah buku bajakan jadi medium percepatan dialektika pengetahuan, tinimbang buku asli yang masih lama naik cetak? Bukankah buku bajakan jadi alternatif sebaran ilmu pengetahuan jadi jauh lebih luas? Bukankah semua itu merupakan dalil melawan sistem distribusi ilmu pengetahuan yang semakin hari tidak berpihak kepada pembaca kelas bawah?
Buku bajakan bukan soal ”murah-atau tidak”, bukan soal memperluas akses buku-buku, bukan juga mengenai percepatan sebaran ilmu pengetahuan. Apalagi soal alasan melawan sistem yang tidak memihak. Malah, dalih semua ini secara kontradiktif membunuh sendiri argumentasinya.
Bagaimana mungkin buku dapat lebih murah jika di pasaran buku repro malah merusak konsensus pasar. Mereka murah karena tidak sama sekali mengeluarkan royalti bagi pekerja buku yang berjibaku menset seluruh tetek bengek mulai dari ide penulis sampai biaya produksi percetakan. Bagaimana mungkin dikatakan percepatan ilmu pengetahuan jika perputaran buku penerbit berhenti di gudang-gudang hanya karena buku-buku repro merampas tempat di etalase toko-toko buku?
Bagaimana bisa ini disebut melawan sistem distribusi bisnis perbukuan mahal, sedangkan di belakang tindakan pembajakan itu sendiri bersembunyi taipan-taipan buku repro. Di Yogya, taipan buku bajakan disebut Gus Muh sudah sampai bisa berkali-kali umrah dari keuntungan membajak buku-buku.
Ada satu alasan dikemukakan Gus Muh, yang saya kira, jauh lebih sederhana dari sejumlah alasan mengapa pembajakan buku mesti dihentikan: hak cipta.
Para pembajak buku kasadnya adalah para pencuri. Masih lebih lunak pengertian bajak diberikan KBBI. Di KBBI disebutkan pembajakan jika ada unsur terang-terangan disertai pemaksaan. Pembajak mengapa demikian jahat karena menggunakan pemaksaan, perampasan, bahkan menyertakan kekerasan sebagai cara mengambil alih.
Tapi, pembajak buku bukan saja jahat, malah itu tindakan bejat sekaligus bangsat. Pembajakan dilakukan tanpa sepengetahuan pihak penulis dan penerbit. Bahkan ia dilakukan tanpa ada unsur paksaan.
Berbeda dari sebelumnya, pembajakan buku-buku di Yogya sudah dilakukan terang-terangan dan massal. Ia tidak lagi dilakukan dan diedarkan sembunyi-sembunyi. Kini kebejatan itu bahkan dibenarkan oleh pembeli buku repro dengan dalih yang sudah dikemukakan di atas.
Di sisi lain, pembajakan buku sudah memanfaatkan kemajuan teknologi percetakan. Soesilo Toer di forum yang sama mengemukakan ada hubungan mengapa pembajakan begitu massif. Ia mengatakan jika saja mesin-mesin percetakan tidak seperti sekarang, pembajakan buku juga akan memiliki jalan cerita berbeda.
Di Makassar, temuan-temuan sederhana mengenai pemanfaatan mesin percetakan mengindikasikan sudah ada perencanaan sebagaimana  pembajakan di Yogya. Berdasarkan amatan sederhana selama ini, besarnya pangsa pasar buku repro di Makassar jadi sebab utama mengapa sudah ada pihak yang ingin mengadaptasikan percetakan repro di Makassar.
Jalan cerita ini dimulai dari kampus sebagai arena buku repro dipasarkan. Kampus secara tidak langsung menjadi medium pembajakan menjadi langgeng. Ada satu dua kasus bagi mahasiswa-mahasiswa Makassar yang menyeberang ke Yogyakarta demi menempuh pendidikan lanjutan, menjadi ”agen-agen” penyalur buku repro ke beberapa toko-toko buku di Makassar.
Dari proses di atas-lah ide mengenai  ”memiliki mesin cetak sendiri” timbul di benak sebagian mahasiswa Makassar.
Tapi, terlepas dari itu, perkataan Soesilo Toer masih bisa ditepis selama tidak ada keinginan pasar yang lebih menyukai buku repro. Artinya, selama edukasi berkelanjutan mengenai pemberhentian pembajakan, terutama bagi percetakan liar, terus digalakkan, dapat menghentikan laju produksi buku-buku bajakan.
Dengan kata lain, mesin hanyalah mesin jika tidak ada peluang niat jahat pelaku pembajakan.
Di Yogya, dalam suatu obrolan bersama Gus Muh di Paradigma Ilmu, perlawanan atas pembajakan buku sudah sampai ke pihak kepolisian. 12 penerbit yang tergabung dalam Konsorsium Penerbit Yogya, berdasarkan perkataan Gus Muh ikut menggandeng  15 pengacara untuk memperkuat gerakan perlawanan pembajakan buku.
Ketika melihat alur perjalana buku-buku repro, kedudukan Makassar menjadi kota ”penadah” dari hulunya yakni di Yoyakarta. Itu artinya, berbeda dari Yogyakarta, bagi Makassar, sasaran perlawanan terhadap buku repro ditujukan kepada pihak pembaca, perpustakaan komunitas, kampus, toko buku, dan pihak lain yang berposisi di sisi hilir penikmat buku repro.
Soesilo Toer, yang datang ikut mendukung deklarasi Makassar melawan pembajakan buku, bahkan memberikan pernyataan keras. Di forum yang diinisiasi Toko Buku Intuisi bekerja sama dengan Dialektika Warung Buku dan Paradigma Grup, defenisi pembajakan dengan sekali pukul ia katakan sebagai benalu.
”Pembajak buku itu benalu. Ia hidup dari tenaga dan pikiran orang lain.”
--Telah tayang di Kalaliterasi, 18 Oktober 2019

26 Oktober 2019

Laptop si Fulan


FULAN antusias menatap layar laptop. Matanya lekat. Jemarinya kikuk bergerak dari satu tombol ke tombol lainnya. Seolah-olah ada beban berat di setiap buku-buku jarinya. Tidak lama sebaris kalimat terpampang. Seketika ia hapus kalimat itu. Kemudian, ia kembali menulis kalimat lain. Tapi, untuk kedua kalinya ia hapus kembali. Bagai mesin karat, jemarinya tiba-tiba berhenti begitu saja.

Seperti jemarinya, pikirannya ikut berhenti. Seketika, layar putih kembali kosong. Ia seperti sedang berhadapan dengan tembok tebal....

Ini kali pertama Fulan menggunakan laptop. Benda paling berpengaruh abad ini membuatnya nampak asing. Pengalaman ini tidak pernah ia alami sebelumnya.

Di kampung halaman, ia akrab dengan layang-layang, sebidang kebun, sawah, persada luas, dan sepak bola. Jika masuk waktu salat, ia bergegas meninggalkan sungai tempatnya bermain.

"Di sekolah kalau diberi tugas hanya pakai buku tulis. Tidak pakai laptop. Baru kali ini menggunakan laptop." Demikian ia mendaku.

Fulan adalah tipikal anak pelosok. Di desa kelahirannya, nun jauh di pedalaman Sulawesi, teknologi hanyalah berupa kotak-kotak yang ia lihat seperti televisi, kulkas, dan mesin cuci.

Di masjid teknologi itu berupa amplifier dan toa masjid. Di rumah tetangga ia hanya melihat teknologi berupa parabola yang sudah lama tidak berguna. Ketika ia di toko kelontong kalkulator adalah benda canggih yang mewakili kemajuan desanya.

Belakangan orang-orang menenteng benda baru berlayar kecil dan trendi. Mereka sering tepekur berlama-lama menghadap layar kaca yang mungil itu.

Anak-anak seusianya kerap ditemukan duduk di atas deker-deker lorong. Bergerombol tapi seolah-seolah terpacak tembok pemisah. Tepekur menatap layar dengan seksama.

Untuk benda terakhir ini dimulai ketika para sopir mobil datang membawa alat komunikasi baru yang belakangan menggantikan mesin berlayar hitam putih.

Pertama-tama benda itu dipakai terbatas. Para orang tua hanya menggunakannya bertukar kabar dengan sanak famili nun jauh di kota. Sesekali jika ada keperluan ke kota, alat itu dipakai memesan tumpangan mobil. Bagi pedagang, benda itu dipakai memesan barang. Jika ada pesanan yang salah seketika benda itu menjadi solusinya. Dan, tentu benda itu dilakai para sopir mobil yang sehari-hari keluar masuk desa-kota, orang yang paling sering terpapar inovasi teknologi.

Pelan-pelan benda itu kian jamak dipakai. Hampir semua orang membelinya. Bahkan lama kelamaan ia jadi semakin canggih. Kini benda itu dibekali kemampuan internet. Dunia seketika tidak lagi sesederhana kehidupan desa. Informasi cepat bergerak mengubah kenyataan sehari-hari.

Ibu-ibu muda penjaga toko-toko kelontong di pasar lebih sering menatap layar mungil dari pada sekadar ngobrol sesama pedagang di sebelahnya. Anak-anak muda kala senggang habis waktunya berselancar menonton video-video hiburan, bersosial media, dan bermain game. Anak-anak gadis berasyik masyuk mengambil dan menyimpan gambar selfie. Kecuali orang-orang tua, para ibu-ibu dan suami-suami, masih setia berkebun dan menjemur gabah-gabah di pinggir-pinggir jalan.

Tapi, tetap saja sejak perusahan komunikasi masuk di desa Fulan mendirikan tiang-tiang kerangka di puncak-puncak bukit. Benda itu jadi demikian intim sekalipun hanya dipakai sebagai hiburan maya belaka.

Begitulah, selain motor dan mobil, teknologi android mengubah kebiasan hidup desa Fulan. Tidak terasa kehidupan organik desa berganti layaknya kehidupan kota.

Walaupun perubahan itu kian terasa. Tetap saja di sekolah teknologi adalah sesuatu yang demikan jauh di mata Fulan. Guru-gurunya sekarang memang senang menenteng laptop ketika di sekolah. Tapi, tetap saja ia belum tahu apa kegunaan praktis benda itu.

Dulu, kali pertama ia saksikan laptop di sekolah, tidak sekali pun ia melihat gurunya menggunakannya. Di atas meja, benda itu tergeletak begitu saja. Bersebelahan dengan vas bunga. Seringkali bodycovernya yang mengkilap tertutupi debu bekas kapur.

Di kelasnya, kapur dan papan tulis--selain buku gurunya--adalah benda yang paling mencerminkan dunia ilmu pengetahuan. Laptop, di mata gurunya terlebih di mata Fulan, dalam pengalaman ini entah untuk semesta apa.

Hingga akhirnya Fulan beranjak meninggalkan desanya. Ia pergi ke kota menuntut ilmu. Suatu fenomena khas bagi masyarakat pedesaan karena tidak lama lagi, orang seperti Fulan bakal memiliki kebiasan baru. Itu semua akan dimulai dari berubahnya sudut pandang, pemahaman, dan pengetahuan baru. Fulan, seperti warga desa umumnya yang bergerak ke kota, akan menjadi pribadi baru.

Tapi, itu bukannya tanpa risiko. Pendidikan yang ditempuhnya mengandung soal pelik. Di titik tertentu, Fulan akan mulai melihat desanya dengan cara berbeda. Desa bakal ia lihat sebagai suatu hal yang pelan-pelan jadi titik kecil. Desa akan jadi semesta asing. Desa akan mulai ia tinggalkan.

Sebelum itu semua terjadi, Fulan mau tidak mau mesti akrab dengan satu benda yang demikian gandrung dipakai di hampir setiap pekerjaan di kota: laptop.

Laptop, bagi masyarakat kota jadi benda penting. Sepenting parang bagi pekebun, atau cangkul bagi petani. Bagi dua pekerjaan ini, parang dan cangkul seperti di desa Fulan adalah alat yang bisa dipakai hampir di semua keperluan.

Kini, belum lama menjadi mahasiswa, Fulan disuguhi tugas dari kampusnya. Ini berarti Fulan mesti menggunakan laptop. Di kota, terutama institusi pendidikannya, hampir semua aktifitas akademik mesti menggunakan perangkat ini.

Di sinilah soalnya, pengalaman belajar Fulan selama di desa melihat laptop hanya sekadar benda yang akrab dengan gurunya. Kini, benda itu mesti ia pakai. Mesti menjadi bagian langsung pengalaman belajarnya.

Fulan yang dari pelosok, dan teman-temannya yang berasal dari kota, bukanlah generasi yang setara. Infrastruktur pendidikan di kota jauh lebih maju dari desa. Di kota, anak-anak seusia Fulan sejak awal sudah diperkenalkan laptop. Di kelas-kelas, mereka bisa belajar sejarah dari video-video, menyatakan pikiran menggunakan slide presentasi, mengutip pernyataan dari buku elektronik, dan membuat tugas dengan aplikasi khusus.

Singkatnya, anak-anak di kota lebih kreatif dibanding anak-anak desa. Kemampuan operasional atau skill mereka bagai langit dan bumi. Kini, jika mereka masuk ke jenjang perguruan tinggi, keterampilan dan pemahaman mereka bakal menjadi modal pengembangan dalam proses belajar mengajar.

Itulah sebab, sekarang Fulan kelimpungan di hadapan benda bernama laptop. Ia menjadi demikian berjarak. Teknologi untuk kasus Fulan, justru tidak mampu mengefesienkan pekerjaannya. Fulan belum punya bekal apa-apa untuk menggunakan laptop. Ia malah lebih akrab dengan androidnya

Sepupunya yang lebih dulu mengenyam pendidikan di kota dari tadi setengah mendikte mengajarkan bagaimana cara menulis di microsoft words. Fulan bingung dengan beragam menu di atas bar. Ia belum tahu apa kegunaan semua itu.

"Tekan 'control A'". Perintah sepupu Fulan.

Fulan gagap mencari tombol dimaksud.

"Sudah? Baru 'Control C'... Setelah itu 'Control V'".

Fulan terperangah. Seketika layar laptopnya penuh tulisan. Ia senang. Itu artinya ia tidak perlu lagi berpikir panjang.

11 Oktober 2019

Merebut Aku Otentik a la Soren Aabye Kierkegaard

Judul: Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Penulis: Thomas Hidya Tjaya
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edisi: Ketiga, April 2018
Tebal: XVII+ 178 halaman
ISBN: 978-602-424-850-5

Orang-orang berpikir bahwa dunia ini membutuhkan republik, dan mereka berpikir bahwa yang dibutuhkan adalah tatanan sosial baru, dan agama baru—tetapi tak seorang pun pernah berpikir bahwa apa yang sekarang dibutuhkan oleh dunia, membingungkan tapi sebenarnya juga sudah banyak diketahui, adalah seorang Socrates.

Anti-Climacus,
The Sickness Unto Deatth, Appendix 223

SEANDAINYA Kierkergaard hidup di masa sekarang, ia bakal getol bersuara mengingatkan publik. Seluruh kritik filsafatnya menemukan momentumnya saat ini.

Di ranah individu, manusia kehilangan orientasi didera krisis eksistensi. Di ranah sosial, masyarakat menjadi kerumunan. Kerumunan melenyapkan kepribadian individu yang khas, dinamis dan bebas. 

Di ranah etika, manusia lebih mengutamakan hasrat kenikmatan daripada anjuran moral universal. Di panggung budaya, hasrat mengorientasikan masyarakat ke dalam jebakan konsumerisme. Bahkan di ranah agama, religiusitas terjebak ke dalam formalisme kerumunan dan ritualisme belaka.

Kierkegaard merupakan filsuf eksistensialis. Proyek filosofisnya bertolak dari eksistensi manusia sebagai dasar pemikirannya. Bagi Kierkegaard, filsafat mesti menjadi panduan bagi tindakan manusia. Filsafat bukan argumentasi abstrak yang diidealisasi hingga tidak sama sekali mampu menyelesaikan fenomena konkret manusia. Sesungguhnya, filsafat di mata Kierkegaard adalah jalan tengah yang mendamaikan pilihan-pilihan hidup yang demikian sulit dielakkan.

Dengan kata lain, filsafat bukan bekerja di ranah ”apa itu” (what is that?), melainkan ”bagaimana itu” (what I do?) (hal.63).

Itulah sebab, filsafat Kierkegaard dapat dikatakan filsafat manusia. Tiada filsafat yang bertolak dari manusia, begitu kurang lebih dakuan filsafat Kierkegaard.

Filsafat manusia Kierkeegard nampak terang jika dilihat dari kritiknya terhadap filsafat Hegel. Setidaknya ada tiga wilayah kritik filsuf Denmark ini terhadap Hegel.

Pertama, di mata Kierkegaard Hegel terlampau jauh mendudukkan manusia ke dalam idealisasi pergerakan ruh (sejarah). Bagi Hegel hakikat kenyataan adalah dialektika, dan seluruh kehidupan manusia berpijak atas hukum ini. Manusia dalam pemikiran Hegel senantiasa menemukan ketegangan-ketegangan antara pikiran dan kenyataan. Dialektika antara das sein (realitas pikiran) dan das solen (realitas faktual), dengan kata lain adalah rumus paten segala fenomena dunia.

Walaupun demikian, dialektika Hegel bakal dijembatani pemikiran baru berupa sintesis dari pertentangan sebelumnya. Das sein berupa kedamaian dunia (tesis) dan konfrontasinya dengan perang dunia (antitesis) akan ditengahi kenyataan baru berupa kedamaian abadi (sintesis). Kedudukan manusia dalam kasus ini di mata Hegel adalah bagian perubahan yang disebutnya sejarah ruh.

Dalam arti lain, bagi Hegel, seluruh pertentangan dunia fenomenal merupakan dialektika ruh dalam mengidealisasikan (men-sejarah-kan) dirinya menjadi ruh absolut (ruh sadar diri).

Di titik inilah Kierkegaard meletakkan kritiknya kepada filsafat sejarah Hegel. Bagi Kierkegaard, manusia dalam wilayah sejarah ruh Hegel terlampau teridealisasi menjadi semata-mata abstrak. Kedudukan  manusia seperti ini mengandung kontradiksi sebab manusia di kehidupan sehari-hari berkembang berdasarkan kebutuhan-kebutuhan konkret.

Sejarah manusia bukan manifestasi pergerakan ruh yang bergerak menuju satu telos (sintesis) sembari meleburkan pertentangan-pertentangannya (tesis-antitesis). Sejarah manusia adalah emosi, kegelisahan, kerisauan, kemarahan, cinta, dan benci yang secara personal jauh dari idealisasi ruh absolut seperti pendakuan Hegel.

Dari wilayah ini pula Kierkegaard menyatakan pertentangan manusia tidak dapat sepenuhnya lenyap setelah dikonsitusikan ke dalam sintesa baru. Jika Hegel memandang roh obsolut (sintesis) sebagai tujuan akhir pergerakan sejarah, dan itu bakal mendamaikan seluruh konflik dunia fenomenal (tesis-antitesis), bagi Kierkegaard kemelut pertentangan yang dialami manusia akan tetap eksis.

Dengan kata lain, sepanjang sejarah, manusia tidak sepenuhnya bisa keluar dari pertentangan-pertentangan eksistensial dirinya (hal.53).

Kedua, filsafat Hegel adalah filsafat yang ambisius menempatkan dirinya sebagai satuan sistem tunggal. Dalam arti ini, Hegel ingin mengatasi segalanya melalui sistem ilsafatnya. Ruh absolut yang dikatakan Hegel sebagai tujuan segala pertentangan-pertentangan bakal mendamaikan kenyataan ke dalam eksistensi tunggal yang maha menutupi.

Kritik Kierkegaard terhadap pemikiran Hegel ini ia nyatakan sebagai comical lantaran Hegel terlampau jauh meninggalkan kenyataan konkret manusia. Bagi Kierkegaard, pengalaman manusia tidak dapat diletakkan begitu saja ke dalam satuan sistem gagasan. Atau dengan kata lain, dari tilikan filsafat Hegel yang universalis, pengalaman unik dan khas manusia tidak serta merta dapat digeneralkan ke dalam satuan sistem begitu saja. Pengalaman khas manusia hanya bisa dipahami dari pergulatan hidupnya sendiri. Itu artinya manusia tidak begitu saja mampu diterangkan apalagi dipahami dari kaca mata seperti yang dinyatakan Hegel.

Pemikiran Hegel dinyatakan Kierkegaard mengabaikan termporalitas manusia yang hidup dalam ruang dan waktu. Sistem filsafat Hegel dalam hal ini bakal menghilangkan dinamika konkret kehidupan manusia. Dengan kata lain, sistem filsafat Hegel, tidak sama sekali menempatkan manusia sebagai eksistensi penting sebagai tilikan refleksinya.

Ketiga, fungsi filsafat Hegel dinyatakan Kierkegaard tidak sama sekali berfaedah bagi keputusan-keputusan praktis eksistensial manusia. Filsafat Hegel terlampau spekulatif dan abstrak sehingga tidak relevan menjadi pegangan hidup.

Jika mengajukan pertanyaan ini kepada Hegel ”apa hubungan dialektika sejarah ruh terhadap keputusan Si A memilih pasangan hidup?”, maka nampak sulit menemukan hubungannya. Bagi Kierkegaard, filsafat mesti memproblematisir masalah-masalah manusia, bukan ihwal yang jauh dari kebutuhan praktis manusia.

Dengan kata lain, di mata Kierkergaard spekulasi rasional filsafat Hegel tidak memadai untuk memahami pergulatan eksistensial manusia dalam kehidupan sehari-hari (hal. 65).

Tiga kritik Kierkegaard terhadap filsafat Hegel ini sedikit banyak memperlihatkan kecenderungan orientasi eksitensialisme Kierkegaard. Tesis Kierkegaard atas pemikiran Hegel merupakan turning point yang meletakkan kecenderungan semangat idealisme kepada soal-soal pergulatan konkret manusia. Di mata Kierkegaard, pergulatan eksistensi manusia jauh lebih menantang  diajukan ke dalam refleksi filosofis. Ini akan nampak jelas jika sejarah hidup Kierkegaard ikut jadi pertimbangan mengapa filsafatnya berorientasi eksistensialis.




ALAM pemikiran Kierkegaard tidak bertolak dari titik hampa. Kenyataannya, pemikirannya merupakan refleksi atas situasi yang ia hadapi. Di masa Kierkegaard hidup ada dua keadaan sosial yang menjadi tujuan kritiknya. Pertama adalah crowd, kerumunan (publik). Dan, yang kedua adalah formalisme agama.

Proposal utama filsafat Kierkegaard adalah perjuangan manusia menemukan akar kepribadiannya. Dengan kata lain, dorongan agar manusia bertindak otentik. Otentisitas karena itu merupakan refleksi penting dalam filsafat Kierkegaard.

Kierkegaard menyatakan otentisitas atau keaslian diri mesti bertolak dari subjektivitas. Subjektivitas bagi Kierkegaard hanya berarti jika itu ditopang keyakinan atas kebenaran. Uniknya kebenaran bagi Kierkegaard bukan pernyataan objektif, universal, dan diandaikan ”di luar” atas keselarasan ”pikiran” dan ”objek pikiran”, melainkan sebagai sesuatu yang berhubungan langung dengan dirinya.

Itu artinya kebenaran  adalah hubungan subjektif manusia dengan kebenaran yang ia yakini. Kebenaran dalam hal ini tidak dapat diandaikan dari apa hakikat kebenaran itu sendiri, melainkan seberapa dekat dan taat manusia kepada kebenaran yang dipegangnya. 

Singkatnya, kebenaran bukan dilihat dari sisi kepentingan objeknya, tapi dari sudut bermanfaat tidakkah bagi penganutnya (hal.68).

Itulah sebab, otentisitas dan kepalsuan dalam kerumunan adalah dua wilayah yang tidak dapat didamaikan. Bagi Kierkegaard, otentisitas merupakan pergulatan manusia dengan kebenaran yang dianutnya. Otentisitas hanya bisa diraih melalui usaha manusia menemukan pusat subjektivitas atas keyakinan yang ia pegang.

Bagi Kierkegaard kebenanaran tidak dapat diandaikan ”di luar” manusia, dan tidak ditemukan di permukaan kerumunan, melainkan ”di dalam” kedalaman diri manusia selama ia berusaha bergulat mencarinya.

Masih menurut Kierkegaard, kerumunan, satuan wahana yang menghilangkan subjektivitas manusia. Di dalam kerumunan subjek kehilangan peluang mengemukakan kesadarannya.

Manusia yang tenggelam dalam kerumunan mengalami transformasi dari pribadinya yang unik, khas, bebas, dan rasional menjadi pribadi massa yang monoton, imperatif, dan irasional.

Dari sudut pandang ini, kerumunan mensubordinasi individu sampai ke tingkat nihilistik. Melalui keadaan ini otentisitas individu menjadi tidak mungkin. Otentisitas individu di dalam kerumunan, dengan kata lain, menjadi subordinat hanya sekadar objek kekuasaan.

Kerumunan juga diandaikan Kierkegaard tidak hanya sebagai kelompok atau satuan massa, tapi juga diidentikkan sebagai cara pandang dan sistem nilai mayoritas. Cara pandang ini seringkali menjadi ukuran kebaikan, kebenaran, kesopanan dan kepantasan walaupun tidak sama sekali menyediakan ruang reflektif bagi individu.

Dalam arti ini, subjektifitas manusia hanya merupakan dorongan-dorongan imperatif kelompok yang sama sekali berbeda dari kesadaran individu itu sendiri.

Menurut Kierkegaard, individu yang hidup dalam imperatif kelompok akan menjadi pribadi inotentik. Pribadi inotentik adalah pribadi palsu yang tercerabut dari akar kesadarannya. Atau dengan kata lain, pribadi yang tidak sama sekali memiliki kekuatan reflektif mengenai eksistensinya.

Menariknya, dalam kehidupan Kierkegaard, kerumunan atau publik mendiami wilayah yang sama dengan kehidupan religius masyarakatnya. Artinya, kehidupan umat beragama di masa Kierkegard hidup menggunakan cara pandang yang sama dalam kerumunan. 

Orang beragama disebut religius hanya karena mengikuti ritual mayoritas umat beragama. Dengan bahasa lain, otentisitas yang diinginkan Kierkergaad tidak ditemukan dari cara orang menghayati agamanya. Orang banyak malah terjebak ke dalam ritualisme formal dan pelabelan-pelabelan kelompok bergama.

Masyarakat kehilangan gairah dan kedalaman dalam beragama diibaratkan Kierkegaard seperti orang yang menaiki perahu di atas lumpur. Tidak ada lagi kekuatan yang mampu mendorongnya maju ke tempat-tempat yang dimungkinkan.

”Pernahkah Anda melihat sebuah perahu yang terjebak dalam lumpur? Perahu itu hampir tidak mungkin berlayar lagi karena tidak bisa didayung lagi…Dayung pun tidak dapat mencapai dasar sungai sehingga tidak ada tumpuan untuk menggerakkan perahu. Demikianlah seluruh generasi terjebak di pinggiran akal-budi yang berlumpur…” (hal.77).

Itulah sebab, agama bagi Kierkegaard adalah pengalaman personal individu. Ia pengalaman pribadi yang demikian subjektif. Pengalaman agama bukan sekadar iman hasil konseptualisasi kelompok. Ia mesti merupakan penghayatan yang didorong gelora dan semangat dari kekuatan subjektivitas manusia.

Dengan kata lain, kemampuan publik tempat individu mensubordinatkan dirinya bagi Kierkegaard, tidak bakal cukup membangun pengertian tentang Tuhan. Tuhan bukanlah pengertian dari cara pandang kerumunan. Apalagi hanya sekadar mengandalkan common sense. Tuhan hanya bisa dihayati melalui refleksi subjektif penganutnya. Antara penganut agama dengan Tuhannya sendiri.




EKSISTENSI manusia senantiasa berkembang sesuai cara pandang melihat kenyataan. Seringkali paradigma manusia tidak sesuai dengan kenyataan. Harapan, keinginan, pemikiran, dan cita-cita, yang tidak sesuai kenyataan ini seringkali membuat manusia gamang dan gelisah.

Kegelisahan semakin dalam apabila manusia diperhadapkan kepada berbagai macam pilihan hidup yang masih relatif dan tidak pasti. Itulah sebab, di balik kegelisahan, manusia dituntut memiliki dasar kuat keyakinan otentik agar tidak diombang ambing gelombang samudera kehidupan.

Kierkegaard mengembangkan tiga wilayah eksistensi (spheres of existense) yang menandai perkembangan eksistensi manusia (stages on life’s way). Masing-masing wilayah eksistensi ini  menjadi ziarah manusia di dalam menemukan otentisitasnya.

Pertama, level eksistensi estetis (the aesthetic). Di wilayah ini orientasi kehidupan manusia terpaku kepada sensas-sensasi kesenangan dari objek-objek di sekitarnya. Eksistensi manusia hanya bergerak di level suka tidak suka, senang tidak senang, dan puas tidak puas. Kierkegaard menyatakan keadaan perilaku manusia pada wilayah ini tidak merujuk kepada apa yang baik (good)dan apa yang jahat (evil), melainkan hanya mengedepankan sensasi (aisthesis) perasaan (hal.88).

Wilayah kedua adalah eksistensi etik (the ethical). Model eksistensi ini bertumpu di atas anjuran-anjuran moral. Orang di level ini bertindak atas larangan tertentu yang menganjurkannya apakah boleh atau tidak boleh, pantas tidak pantas, dan layak tidak layak. Di level ini tindakan seseorang tidak lagi diperantai sensasi untuk segera dilakukan, melainkan melalui tahap refleksi akal budi. 

Melalui perantara akal budi inilah tindakan seseorang memasuki pilihan-pilihan yang mengikutkan komitmen dan tanggung jawab di dalamnya.

Eksistensi religius (the religious) merupakan puncak kedua wilayah sebelumnya. Di wilayah ini tanpa mensubordinatkan dua wilayah sebelumnya, eksistensi diri bergerak naik ke level tindakan religius.

Dalam wilayah eksistensi religius, Tuhan menjadi satu-satunya orientasi hidup. Pertimbangan baik dan jahat seperti di level etik tidak lagi memadai menjadi dasar utama bertindak. Tindakan dalam wilayah ini meletakkan orientasi pribadi di atas kedekatan dengan Tuhan. Dengan kata lain, eksistensi diri yang bergerak atas dorongan pribadi, di wilayah religius berubah menjadi ketaatan total kepada tujuan Tuhan.




KEMAMPUAN Thomas Hidya Tjaya menyatakan pemikiran Kierkegaard ke dalam bahasa yang lugas dan mudah dicerna patut dihargai. Buku ini walaupun tidak sepenuhnya memberikan cakupan luas atas pemikiran Kierkegaard, setidaknya sudah lebih dari cukup untuk mengantar pembaca ke dalam ”pergulatan” pemikiran Kierkegaard yang demikian khas.

Eksistensialisme Kierkegaard yang tidak sepenuhnya ateis seperti pemikir eksistensialis lainnya sedikit banyak cocok dengan tujuan berpikir masyarakat kita yang sulit melepaskan pengaruh Tuhan ke dalam seluruh aktivitas masyarakat. Artinya, jika pembaca khawatir menjadi ateis pasca mendalami pemikiran eksistensialis Barat, saya kira Kierkegaard adalah pengecualian. Tidak seperti Jean Paul Sartre, misalnya, Tuhan bahkan entitas penting di dalam eksistensialisme Kierkergaard.

Singkat cerita, buku ini masih relevan dengan suasana kebangsaan belakangan dan masa akan datang. Terlebih lagi buku ini menganjurkan satu adagium yang nyaris terlupakan bagi kehidupan politik, budaya, dan agama: be your self!   

Judul            : Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Penulis         : Thomas Hidya Tjaya
Penerbit        : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edisi             : Ketiga, April 2018
Tebal            : XVII+ 178 halaman
ISBN             : 978-602-424-850-5


27 September 2019

Tobat


Semalam Fulan bertanya: bagaimana niat salat tobat?

Belum lama ia telaten menulis ulang di buku kecil catatannya. Setelah pulang dari masjid, ia duduk memunggungi daun pintu. Tepekur di atas sofa merekam apa pun. Apa saja ia temukan di mesin pencari. Kata-kata inspirasi, petuah-petuah moral, bacaan doa-doa salat, isi ceramah ustad Abdul Somad....

....termasuk niat salat Tahajut.

”Niat itu sudah cukup dalam hati”. Saya menimpali.

”Ah...masa?” Ia sanksi.

”Kalau begitu silakan cari di google. Di sana banyak kok.”

“Pokoknya, saya sudah memutuskan. Saya ingin tobat. Saya ingin berperilaku yang baik-baik saja.”

”Saya ingin salat tobat!!”

Tanpa ada bertanya ia menyatakan sikap.

Demikianlah. Tingkah polah Fulan bin Fulan, sebut saja begitu. Membuat saya menarik diri dari perbincangan tak terduga itu. Berusaha berpikir. Merenung.

Kadang saya sulit menemukan jalan tengah. Petitih bilang: ”be your self” jadilah dirimu sendiri. Al Qur'an mengingatkan: dalam diri Rasulullah terdapat contoh yang baik. Anjuran pertama mengajak kita jangan jadi orang lain. Jadilah dirimu sendiri.

Bagi agama, diri yang baik adalah menjadi ”orang lain” sebagaimana diri Rasulullah. Ia-lah sebaik-baiknya tauladan.

Self, diri, aku, jiwa, merupakan semesta misterium. Banyak sudah telaah analisis, kritis, bahkan menyangsikan apa "diri" itu sebenarnya.

Tapi, bagaimana cara menemukan jawaban yang baik. Tentang ”aku” yang ”bukan orang lain”. Dengan ”aku” yang ”identik” seperti Rasulullah.

Inilah soalnya. Alam kebebasan menganjurkan ”diri” berhak menentukan sendiri siapa dia. Bahkan, ”diri” jangan dibiarkan berdiri tanpa kaki pijak ”kesadaran”. Walaupun kiwari, di layar kaca, idola bagai prototype menyedot perhatian ”diri” keluar dari kemandiriannya.

”Diri” apa pun itu namanya, sebisa mungkin harus mampu memperjuangkan ontentisitasnya. Dia wajib mengenal siapa dia sebenarnya. ”Diri” jangan sampai tergiur—meminjam analisis Heidegger—pesona ”das man”. Kesadaran kerumunan yang mengahalau jalan menuju keinsafan diri.

Dengan kata lain, ”diri” terang Heidegger, sepatutnya masuk ”ke dalam” kedalaman eksistensi. Bagaimana caranya? ”Das sein” harus bertanya apa makna menjadi ”ada”. Apa artinya ”berada”?

Tapi, siapa yang mau? Eksistensi manusia dikepung kesibukan. Waktu luang kini kehilangan dimensi pembebasannya. Waktu, era kiwari sudah menjadi kategori, dipilah-pilah, dibagi-bagi. Dari jam demi jam. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun.

Singkatnya, waktu kehidupan sudah jadi mekanik. Jadi jadwal. Menjadi rutinitas.

Itulah sebab, manusia era kiwari sulit ”mendalami” waktu. Ia hanya mengapung-apung di permukaan realitas. Kesadarannya kian jadi mesin. Ia jadi tonggak yang kehilangan permenungan.

Padahal, dalam al Qur'an, Tuhan bersumpah atas nama waktu. Merugilah orang-orang yang tidak mampu menghayati waktunya. Menyelami ”aliran” nikmat yang hanya ”sekali” terjadi.

Barangkali itulah yang ingin dilakukan Fulan. Ia menolak dilahap waktu. Ia memilih memerdekakan waktu melalui kegiatan produktif. Agak milenial memang. Gawainya sulit lepas dari pengisi daya. Ia mencatat, menghafal, mendengar ceramah....

Datang suara azan. Ia bergegas ke masjid. Berjalan kaki.

Sampai akhirnya datanglah pertanyaan itu. Bagaiamana cara bertobat? Apa niat salatnya?
Seumur-umur salat tobat belum pernah saya lakukan. Itulah sebab, jawaban saya diplomatis. Niat sudah cukup.

Tapi, ia butuh redaksi lengkap....




DALAM diri Rasulullah terdapat tauladan paling baik. Begitu al Qur'an mengingatkan. Barang siapa ingin meneguk mata air keteladanan, Rasulullah-lah hulunya.

Rasulullah, dengan kata lain tidak sekadar manusia. Ia karakter, pemikiran, nilai, dan sekaligus akhlak.

Bahkan, Rasulullah adalah pusat pencarian segala ”diri”.

Ia ibarat ka'bah kesadaran. Satu-satunya di dunia tempat berpulangnya segala macam pengembaraan.

Barangkali dalam arti ini-lah tobat sesungguhnya. Kita bukan diimbau mencari keteladanan lain. Jalan pulang kita jelas. Siapa diri sebenarnya, dengan kata lain adalah ”diri” kepunyaan Rasulullah.

Itu artinya, ”jadilah dirimu sendiri” bisa jadi adalah ilusi modernisme. Kita diimbau menegakkan ”keakuan” tapi tanpa tauladan. Jika pun itu dibangun di atas pondasi kesadaran. Walapun pada akhirnya, ”keakuan” dalam ”jadilah dirimu sendiri” membuat ”diri” kita lebih bebas.

Sampai di sini, pernyataan pertobatan Fulan jadi tidak sederhana lagi. Ia bukan sekedar pengertian, apalagi pernyataan. Ia lebih dari itu.

Tobat, tidak seperti banyak orang belakangan melakukannya. Ia tidak selamanya lurus dan lapang. Ia demikian jadi jalan terjal, berliku, dan panjang.

21 September 2019

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Peresensi


BELAKANGAN saya mulai menyadari keinginan menjadi peresensi buku. Walaupun niat ini akal-akalan saja, memang. Ya mau bagaimana lagi. Semangat membaca saya angin-anginan. Ini cara bulus belaka agar saya membaca buku.

Zaman sekarang, kita harus hidup seperti pelari maraton yang diserang kehausan. Mesti lahap menepekuri buku-buku. Coba pikirkan setiap detik bermunculan penerbit-penerbit buku. Entah legal atau liar, mayor atau indie. Dari moncong mereka kertas-kertas berubah menjadi buku-buku. Puluhan, ratusan, ribuan….

Di gawai kita, buku elekronik lintas melintas. Dunia maya perantaranya. Bergiga-giga fisik buku menjadi sekotak layar smartphone. Pindah kirim mengirim. Dari gawai satu ke gawai lain.

Namun, kecepatan perkembangbiakkan buku tidak semelimpah waktu membacanya. Seolah-olah kita dikutuk Tuhan mengalami dahaga berkepanjangan. Kita dikutuk agar mampu meneguk ”mata air” pengetahuan di buku-buku yang serba berlebihan itu. Mirisnya kita dikepung beragam kesibukan.

Belakangan saya jalan-jalan di Gramedia. Semenjak peristiwa ”perampasan” buku-buku kiri oleh segelintir orang, di jajaran etalase buku fiksi di toko buku ini mengalami perubahan. Setelah rak buku-buku sosial dan filsafat raib melompong, giliran buku-buku fiksi berbau kiri menghilang entah kemana.

Menariknya, di waktu bersamaan, buku-buku teenlit berdesakan bersaing dengan buku-buku novel populer. Untuk urusan ini buku-buku Tere Liye peringkat pertama disusul tema buku sejenis. Mengingat ”gerutuan” Tere Liye menarik bukunya dari Gramedia terkait perlakuan pemerintah terhadap pajak penulis tempo hari, malah nampak lucu melihat bukunya nangkring kembali di toko buku terbesar tanah air.

Terlepas apakah Gramedia sedang cuci gudang ”menghilangkan” buku-buku yang berpotensi mengundang masalah, saya kira Gramedia sedang menggali kuburnya sendiri. Lihat saja sekarang, menyebut Gramedia sebagi toko buku besar sudah tidak pantas lagi. Lebih cocok kalau ia disebut toko penjaja alat-alat tulis kantor.

Tidak ada urusan apakah Gramedia mau menjual buku-buku bernuansa populer. Ini bukan soal selera sastra semata. Urusan lain jika mengatakan Gramedia menjadi toko buku minim buku sastra dan humaniora.

Tapi, mendengar obrolan seorang kawan bersama Muhiddin M. Dahlan, penulis kawakan ini sudah semenjak lama memarkir naskah bukunya dari tangan editor Gramedia. ”Gramedia tidak pernah berniat membela hak-hak penulis jika buku dijualnya dipersekusi”, begitu kurang lebih pendakuan Gus Muh.

Menariknya, ketika nasib Gramedia senjakala, di perbukuan Indie sedang  cerah-cerahnya. Angin musim sedang berpihak kepada penerbit-penerbit indie.

Di pusat perbukuan indie di Jogja, penerbitan indie sedang membangun persekutuan suci menyaingi penerbit-penerbit mayor. Banyaknya festival buku di sana tidak satu pun pernah melibatkan penerbit mayor. Semakin maraknya persekutuan ini juga menghadirkan banyak penulis-penulis muda/baru yang lebih segar dan fresh.

Penerbitan indie lebih fleksibel memaksimalkan dunia maya, cepat atau lambat bakal menyaingi pangsa pasar yang selama ini dikuasai penerbit mayor. Melalui strategi PO untuk mentaktisi biaya cetak dan seluruh tetek bengeknya adalah cara ampuh meminimalisir kerugian.

Belakangan muncul gerakan beberapa penerbit di Jogja untuk segera menghentikan percetakan buku bajakan. Sudah sejauh ini dinamika literasi di Jogja!

Di Makassar, ada MIWF, festival tahunan yang menjadi wadah penulis muda bermunculan. Juga menjadi ajang bagi pembaca agar bisa bersentuhan langsung dengan penulis-penulis undangan. Namun kesemarakan festival internasional ini tidak seresah pegiat literasi di level akar rumput.

MIWF dinyatakan beberapa penggerak penerbit indie Makassar hanya menjadi jalan lapang bagi penerbit mayor menancapkan dominasinya. Otomatis karena itu penulis-penulis yang diundang hanya penulis yang terikat secara penerbitan dengan penerbit bersangkutan. Begitu juga dari segmentasi peserta, yang ikut merasakan kemeriahan MIWF hanyalah penikmat buku-buku keluaran terbitan mayor.

Itulah sebab, MIWF kurang, untuk tidak mengatakan tidak, mengapresiasi atau bahkan membuka panggung bagi penerbit indie di Kota Daeng. Atau bahkan kurang terbuka dengan penulis-penulis muda yang lahir di komunitas penerbit indie di tingkat lokal pedalaman—walaupun ada proses seleksi sebelumnya.

Barangkali, respon seperti ini-lah yang menjadi sebab kemunculan beberapa festival di daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Beberapa waktu lalu pernah tersiar kabar di Bulukumba digelar festival literasi menggaet simpul-simpul penulis lain yang berbeda kecenderungan latar belakang, gaya, tradisi, jaringan dengan kelompok penulis dominan di Makassar. Di Palopo bahkan sudah dua tahun menyelenggarakan festival kurang lebih sama dengan mengundang Muhiddin M. Dahlan sebagai tamu utamanya.

Terlepas dari itu, lain soal jika memang belum ada cetakan buku berkualitas lahir dari rahim penerbit indie di Makassar—walaupun tidak semuanya. Yang juga otomatis belum masuk kategori penerbit mapan yang layak dilibatkan.  Permasalahannya belum tampak sama sekali penulis-penulis muda bermunculan dari rahim penerbit indie di Makassar. Tapi, bukankah saling topang dan sinergi di antara penerbit mayor dan penerbit indie di Makassar bisa tumbuh subur jauh lebih dibutuhkan saat ini?

Walaupun begitu, biarlah urusan di atas dipecahkan punggawa-punggawa literasi di Kota Daeng. Urusan saya lewat tulisan ini hanya curhatan mengenai  tugas seorang pembaca mesti diradikalkan menjadi peresensi. Di masa sekarang membaca buku saja tidak cukup. Dibutuhkan langkah lebih maju mengapresiasi buku tidak melulu melalui membaca belaka.

Dengan kata lain, merensi jauh lebih produktif dari sekadar membaca. Jika membaca hanyalah suatu tindakan ”ke dalam” bagi pembaca untuk mengembangkan aspek-aspek dirinya, maka meresensi sebaliknya mengarahkan sasarannya kepada khalayak luar dengan menghasilkan suatu karya ulasan.

Peresensi itu juga suatu semesta penulis yang mesti ikut dihidupkan kembali. Belakangan dunia tulis menulis lebih banyak mengapresiasi penulis cerpen, novelis, penyair, penulis prosa, dan esais, sementara saat bersamaan memunggungi satu slot penting berupa penulis resensi buku.

Peresensi satu bagian khusus yang memiliki efek signifikan bagi jaringan dunia perbukuan. Bisa dikatakan, dari mata rantai penulis, editor, layouter, penerbit, distributor sampai penjual buku, peresensi adalah missing link yang selama ini kurang mendapat perhatian digeliatkan kembali.

Tanpa peresensi nasib suatu buku hanya bisa menempuh setengah jalan dari jaraknya kepada pembaca. Tugas resensilah dalam hal ini yang bakal meneruskan perjalanan suatu buku agar sampai dengan selamat kepada khalayak banyak. Ia bakal melengkapi paripurnanya perjalanan buku dari sejak digagas penulis hingga sampai di almari-almari pembaca.

Peresensi itu seperti tugas pelanjut risalah. Jika penulis buku adalah nabi-nabi, peresensi adalah wasinya, pelanjutnya. Dikenal tidaknya apa isi buku, merupakan tugas pertama dari peresensi untuk ”melaporkannya” ke hadapan publik. Sangat banyak buku beredar di pasaran, baik dengan kualitas berlapis-lapis, tapi berumur pendek karena tidak ada sokongan berupa resensi buku.

Bagi saya yang angin-anginan ini, seperti saya ungkapkan sebelumnya, meresensi adalah strategi keluar dari selimut kemalasan membaca. Apalagi saya mulai merasakan betapa terbatasnya daya ingat pikiran. Zaman yang tidak sekalipun menaruh ampun kepada gaya hidup selow, sedikit banyak berefek kepada perasaan takut tertinggal. Dunia ketika realitas maya mengambil alih malah mensituasikan orang-orang kepada gaya berpikir instan dan artifisial. Saya malah merasa itu juga ada pengaruhnya kepada daya ingat.

Di titik inilah merensi buku mampu membantu sisi negatif ingatan pendek. Saya tidak mesti lagi repot-repot membaca ulang keseluruhan buku jika hanya ingin tahu kisah seperti apa yang ada dalam suatu buku. Atau saya juga tidak harus membolak-balik halaman demi halaman jika itu berkaitan dengan suatu tema pemikiran atau inti suatu buku. Singkatnya meresensi sebenarnya merupakan  jalan tengah menyelamatkan daya ingat pengalaman atas membaca buku.

Tuhan, izinkan aku menjadi peresensi…

12 September 2019

10 Muharram dan Pesan Politik Pembebasan Imam Husein

Ilustrasi peristiwa Karbala

KESYAHIDAN Imam Husein ibn Ali di Karbala menandai gugurnya orang terakhir Ahlul Kisa', yakni manusia terpilih dalam peristiwa bersejarah ketika Rasulullah menyelimuti empat orang terdekatnya dengan melafalkan doa khusus.

Di peristiwa itu, Rasulullah menandai siapa-siapa yang disebut Ahlul Baitnya. Orang-orang yang bakal meneruskan risalahnya dengan bersanding bersama Al Qur'an, yang barang siapa berpegang teguh kepada keduanya, maka ia bakal selamat.

Kelak, peristiwa ini menandai sebab turunnya ayat 33 surah Al Ahzab: ”Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.

Ummu Salamah, pribadi yang juga menyaksikan kejadian itu, tidak masuk dalam naungan selimut surban (kisa') yang dipayung-lingkarkan bersama empat orang pilihannya.

Rasulullah hanya memeluk sembari menyelimuti Ali ibn Abi Thalib, Siti Fatimah binti Muhammad, Hasan ibn Ali, dan Husein ibn Ali, sembari menyatakan kepada Ummu Salamah cukuplah engkau di tempatmu, dan engkau ada dalam kebaikan.

Peragaan ini bukan sekadar peristiwa biasa, melainkan suatu isyarat berkaitan dengan kedudukan tinggi orang-orang yang ditandainya.

Secara simbolik, pelukan Rasulullah bermakna informatif berkaitan dengan siapa-siapa manusia pilihan yang dijaminkan Allah sebagai manusia tanpa cela dan tanpa dosa.

Dari sisi ini, perbedaan mendasar para Ahlul Kisa' dengan manusia lainnya adalah seperti bunyi ayat 33 surat Al Ahzab: mensucikan kamu sesuci-sucinya. Selain Ahlul Baitnya, setiap manusia gampang tergelincir menuju limbah dosa. Tidak ada dasar legitim bersifat kewahyuan seperti Ahlul Bait mendapat jaminan dari Allah Swt.

Itulah sebab, peristiwa berabad lalu di Karbala patut ditangisi. Siapakah orang yang rela membunuh pribadi yang dijamin Al Qur'an berkaitan dengan keluhuran jiwa dan kesempurnaan ahlaknya. Pribadi kesayangan Rasulullah yang paling mirip keperawakannya. Pribadi yang diselimuti Rasulullah berabad-abad lalu.

Malam Asyura dengan kata lain malam bagi umat muslim sedunia memperingati gugurnya manusia terakhir Ahlul Kisa'. Orang terakhir yang menjadi sebab turunnya ayat Tahrir.




ABAD kiwari agama kehilangan elan vitalnya. Di skala global, agama masih sulit mendudukkan dirinya sebagai pandangan dunia yang menyaingi ideologi-ideologi berhaluan pasar.

Kuatnya pengaruh kapitalisme global dan kembali maraknya pandangan politik kanan, menjadi bukti tidak signifikannya agama menjadi pandangan dunia alternatif. Kesalahan penafsiran atas teks-teks kunci berkaitan dengan kehidupan umat, malah menimbulkan dua modus keagamaan yang sama-sama mendistorsi inti agama itu sendiri.

Pertama, modus agama yang berkecenderungan legal-formalistik yang ditandai dari upaya menegakkan negara syariat. Modus ini jika bukan mengambil bentuk negara khilafah, maka umumnya melalui proses legislasi aturan-aturan berbau syariat. Kedua model ini sama-sama gampang dikenali melalui jargon-jargon politis berlabel simbol-simbol agama.

Belakangan, secara populer, model beragama secara legal-formal menjadi pangsa pasar bagi deru derasnya perputaran ekonomi kapitalistik.

Bagi pasar, kecenderungan gerakan hijrah yang menyukai penandaan-penandaan simbolik agama, merupakan segmentasi menjanjikan meraup keuntungan. Semakin populis gerakan hijrah menujukkan tingkat religiusitas, semakin terbuka peluang pasar menyerapnya menjadi kapital.

Kedua, sebab hilangnya semangat transformatif agama karena merebaknya pola beragama yang mementingkan kesalehan individual. Sejauh agama dijalankan berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah, rasa-rasanya sudah cukup tanpa harus terbebani tanggung jawab sosial mengubah ketimpangan tatanan masyarakat.

Agama yang dijalankan dengan cara demikian adalah agama yang kehilangan visi kolektifnya. Bahkan kehilangan semangat kulturalnya hidup bersama orang-orang tertindas.

Agama mengutamakan kesalehan personal dan mengurung diri melalui ritual pragmatik individual secara tidak langsung mendistorsi makna ekopol dari konsep tauhid dalam kalimat La ilaha ilallah.

Padahal, dalam kalimat itu-- setidaknya menurut Ali Asghar Engineer-- mengandung makna hijrah dari bergerak secara pribadi (laa ilah) menjadi bergerak bersama-sama (ilallah). Atau bergerak dari diri-individual menuju diri-sosial.

Kalimat tauhid mengandung konsep sosial-politik yang berarti berani menegasikan ”ilah-ilah” palsu dalam sistem penindasan masyarakat. Ia dalam hal ini bukan sekadar pernyataan keesaan tuhan, tapi juga secara moral politik mau melebarkan pernyataan syahadah itu menjadi sebuah statement perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan masyarakat yang tidak adil.

Konsep La ilaha Ilallah dengan kata lain suatu pertanyaan ”politik kemerdekaan” umat muslim untuk mengatakan tidak ada Tuhan (berhala-berhala, kedudukan, ras, sistem ideologi, harta dlsb.) yang patut diindah-indahkan, dipuja-puji, disembah-sembah, selain Allah semata.

Peringatan sepuluh Muharram dengan figur utama cucunda Rasulullah, merupakan gerakan hijrah yang sebenarnya. Imam Husein sendiri bahkan berkata, saya berangkat ke Karbala demi menegakkan kembali agama kakekku, Muhammad.

Ia datang bukan demi menyulut peperangan selain menegakkan kalimat kemerdekaan tauhid seperti Rasulullah kali pertama memproklamirkannya.

Imam Husein dengan kisah epiknya, sampai sekarang bakal menjadi narasi keislaman memukul habis hipokrisi keagamaan yang melagengkan kebodohan, keculasan, dan ketidakadilan. Ia persis ujaran Rasulullah bahwa Husein datang dariku, dan Aku datang dari Husein.

Barang siapa tahu asal usul genetis Imam Husein, seharusnya ia juga mesti tahu dari mana genetika agama Rasulullah dapat diketahui. Dengan demikian, melalui pribadi Huseinlah spirit dan inti agama Rasulullah dapat ditemu-kenali.

Terakhir, meminjam bahasa Ali Syariati, epik Asyura tiada lain tiada bukan adalah konfrontasi revolusioner antara agama versus ”agama”. Pendakuan Ali Syariati mengenai sejarah agama bukanlah perlawanan atas non-agama. Justru di sepanjang kehidupan manusia, seteru abadi agama adalah ”agama” itu sendiri. Yakni perang antara kepercayaan atas satu Tuhan (tauhid) melawan ateisme (kufr/kafir), kepercayaan atas banyak tuhan (syirik, politeis).


27 Agustus 2019

Tirani Mayoritas


SEWAKTU domisili di Kupang, NTT, saya sering menjadi korban bully. Kekerasan rasial dengan mengejek saya Bugis kerap terjadi saat kelahi dengan teman sepermainan. Kelak saya menyadari, etnis seseorang ternyata bisa menjadi bahan kekerasan rasial ketika tinggal di daerah rantauan.

Daerah terutama penduduk asli dan pendatang mengalami jurang ketimpangan sosial yang dalam, bisa menjadi faktor pendorong lahirnya kekerasan sosial.
Di Kupang, mayoritas orang Bugis berprofesi sebagai pedagang. Di pasar-pasar nyaris sebagian pedagang orang Bugis. Toko-toko kelontong di pinggir-pinggir jalan, jika lumayan besar, bisa dipastikan itu adalah orang Bugis. Secara umum, tidak saja orang Bugis, di Kupang, masyarakat pendatang banyak mengambil peran strategis hampir di semua bidang kehidupan.
Walaupun demikian, masyarakat Bugis tetaplah minoritas. Ditinjau dari keyakinan agama, akan lebih banyak ditemukan gereja dibandingkan masjid. Masjid tetap pun ada, namun tidak sebanyak gereja-gereja. Di Kupang masyarakat Bugis muslim jauh lebih sedikit dibanding warga Katolik, agama mayoritas di sana.
Tidak jarang, orang-orang Bugis mengalami mobilitas sosial lumayan cepat dibanding penduduk asli. Hal ini kerap menyebabkan kecemburuan sosial. Walaupun cenderung genelaristik, di waktu itu, akan nampak mencolok perbedaan rumah hunian antara masyarakat pendatang dan penduduk setempat.
Rumah-rumah ibadah umat Katolik bisa jauh lebih besar dengan tembok dinding menjulang tinggi. Beberapa di antaranya ada kemiripan desain arsitektur Eropa. Namun, sementara gereja bisa megah mengundang keindahan estetis tertentu, tidak demikian hunian warga asli setempat.
Seolah-olah warga Katolik rela hunian mereka berdiri ala kadarnya demi rumah ibadahnya. Dengan kata lain, rumah ibadah adalah orientasi teologis. Tidak seperti pendakuan iman Calvinisme, pengorbanan demi rumah ibadah jauh lebih besar dari sekadar memiliki kemegahan hunian.
Sebaliknya, masjid-masjid di Kupang tidak semegah gereja. Sejauh ingatan, belum ada masjid dengan daya tampung melebihi wilayah kelurahan. Dipengaruhi jumlah umat muslim, masjid-masjid disesuaikan dengan kebutuhan jama’ahnya.
Berbeda orientasi teologis mengakibatkan masjid tidak bisa lebih dari sekadar tempat peribadatan belaka. Dengan kata lain, masjid tidak akan didirikan seperti gereja dengan ”kemegahan” tertentu.  Lalu kemana-kah orientasi ”kemegahan” masyarakat muslim disalurkan?  Sudah tentu adalah hunian mereka.
Itulah sebab—seperti disebutkan—hunian warga muslim tampak lebih mencolok dibanding hunian warga asli.
Dari segi tingkat pendidikan, meski tidak semua, warga pendatang jauh lebih mudah mengakses sumber daya pendidikan karena ditunjang kekuatan ekonomi. Latar belakang pekerjaan orang tua salah satu sebab ini dapat terjadi.
Sementara, penduduk asli karena lahir dari latar belakang keluarga pas-pasan, kalah ”bersaing” dengan masyarakat pendatang. Dampaknya, mobilitas sosial masyarakat setempat bergerak lebih lambat.
Di lingkungan mukim, di antara teman-teman sepermainan, baru dua orang yang saat itu memiliki sepeda. Selain saya, masih ada seorang lagi yang kebetulan orang Bugis. Sepeda bagi kami sebagian besar saat itu masih terhitung barang istimewa.
Belum semua orang bisa merasakan bagaimana rasanya bersepeda. Berkat sepeda milik saya, banyak teman-teman sepermainan mahir bersepeda. Tidak jarang bahkan ada meminjamnya hingga malam menjelang.
Perbedaan keadaan ekonomi, pekerjaan orang tua, bentuk hunian, tingkat pendidikan, warna kulit, asal usul, kebiasaan keluarga,  yang jauh berbeda sama sekali bisa memicu lahirnya perasaan cemburu antara kami. Saya menduga, dilatarbelakangi hal demikian sedikit banyak menyebabkan terjadinya perlakuan rasial.
Saya sebagai warga pendatang seringkali dongkol menerima perlakuan rasial dari teman-teman sepermainan. Walaupun itu adalah ekspresi kemarahan kanak-kanak, namun tetap saja bakal menjadi berbahaya jika itu sudah melibatkan prasangka kultural. Dorongan sebagai warga mayoritas asli setempat, tindakan rasial itu menjadi langgeng dan berulang-ulang. Stereotyping dan penggolongan macam inilah yang akhirnya juga ikut menjadi bahan bakar saat kota Kupang mengalami kerusuhan di paruh kedua 1990-an.



TIRANI mayoritas bukan isapan jempol belaka. Secara kuantitatif tirani mayoritas dapat mengubah jalannya sejarah. Secara epistemik ia dapat memengaruhi pilihan bebas seseorang. Secara sosiologis ia dapat menentukan pola dan bentuk interaksi masyarakat. Secara politik tirani mayoritas mampu mengubah kebijakan publik sesuai hitungan-hitungan kepentingannya.
Tirani mayoritas sebagai kekuatan dominan berkorelasi dengan nuansa psikologis seseorang. Semakin seseorang menarik identitasnya ke dalam dimensi ”kerumunan”, semakin besar pula ia melambari rasa percaya dirinya.
Tirani mayoritas menjadi negatif karena melalui psikologi massa, kualitas kemanusiaan seseorang bakal hilang tenggelam dorongan irasional liar hasrat. Dalam kerumunan massa, kualifikasi rasional individu bakal terkalahkan kekuatan lebih besar dengan tujuan politis tertentu.
Selain itu, bahaya tirani mayoritas bakal menjadi dasar epistemik dan kultural melegitim tindakan kekerasan berbasis kolektivisme. Dalam massa, segala tindakan kehilangan dasar kebenarannya. Sekalipun dilakukan secara pribadi, tetap saja dorongan ditimbulkannya berasal dari kekuatan imperatif massa menghilangkan pertimbangan logis individu.
Pengecualian dari yang pernah saya alami, kecemburuan sosial bukan faktor utama pendorong lahirnya kekerasan berbasis etnis. Malah, di banyak kasus, berkat lebarnya ketimpangan sosial dan keadilan tidak merata, banyak wilayah terdorong memerdekakan diri keluar dari naungan suatu wilayah politis tertentu.  Di Indonesia, Timor Timur dan Aceh buktinya. Belakangan hal sama kembali mencuat di Papua.
Kekerasan rasial justru banyak disebabkan pandangan mengenai superioritas budaya atas budaya lainnya. Menganggap etnisnya (warna kulit, bentuk muka, postur tubuh, asal usul) paling berbudaya merupakan biang kerok kelahiran tindakan rasial. Apalagi jika rasialisme ditopang tirani mayoritas. Alih-alih memberi perlindungan kepada minoritas, malah rasialisme makin berkecambah berkat semangat asal tirani mayoritas.
Tindak lanjut dari rasialisme adalah tindakan diskrimanif, bahkan sampai menimbulkan kekerasan fisik. Secara politis, ujung dari rasialisme adalah genosida. Dampak jangka panjangnya adalah hilangnya eksistensi kebudayaan tertentu.
Peristiwa ”salib setan” dan kasus ”monyet” yang mencuat belakangan adalah satu dari banyak puncak gunung es kekerasan rasial berbasis tirani mayoritas. Keduanya dapat langgeng diucapkan sebab lahir di tengah-tengah dominasi tirani mayoritas.  Akan lain kejadiannya apabila kasus serupa dilakukan pihak minoritas.
Langgeng dan latennya kekerasan rasial dapat meledak kapan saja. Untuk kasus ”monyet” kekerasan sebenarnya malah terjadi berkali-kali di tanah Papua tanpa pernah mendapatkan perhatian serius. Kasus monyet hanya satu dari dua sisi koin yang menyembunyikan ripuh lainnya di tanah Papua.
Kepercayaan rasial (baca: paling beriman) dalam agama ditemukan dalam dalil-dalil mengatasnamakan kebaikan umat atas jaminan teologis. Bagi umat Nasrani segregasi iman melalui narasi ”gembala domba” vs ”iman kristiani” mengakibatkan pembaptisan hanyalah satu-satunya jalan masuk mendapatkan keselamatan Kristus.
Keyakinan serupa ditemukan dalam Islam melalui dalil ”73 golongan”.  Pembedaan golongan ini ibarat bara dalam sekam. Hadis ”73 golongan” dan dalil lainnya, bila ditafsirkan radikal bakal menyulut pengafiran di mana-mana.
Keyakinan teologis sempit karena dipahami secara primordial menyebabkan terkoyaknya kenyataan sosiologis yang demikian beragam. Atas tafsir tunggal keimanan tertentu, kejamakan kehidupan sosial sulit diterima sebagai skenario teleologis penciptaan.
Indonesia semenjak dahulu menanam benih-benih rasialisme. Tidak bisa dilupakan begitu saja, mulai era penjajahan (inlander-Belanda), pasca kemerdekaan (pribumi-Cina), sampai era reformasi (pribumi- asing/aseng), adalah masa-masa yang telah banyak memakan korban.  Dalam kancah politik tanah air, di ibu kota, rasialisme bahkan menjadi kekuatan naratif digunakan untuk mendulang suara.
Sekarang mari dipikirkan kembali, apa untungnya keunggulan rasial, keyakinan agama, atau bahkan keunggulan politik, jika itu hasil pengerdilan golongan tertentu? Setelah pihak lain dimatikan eksistensinya, diejek-ejek, diolok-olok!

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...