09 Juni 2019

Prolog Pesona Sari Diri


Pesona Sari Diri

INI pengakuan belaka ketimbang sebuah prolog.

Altruisme. Semuanya dapat diasalkan dari kata ini. Terma yang sulit berkompromi, tapi malah kerap menggembosi alam bawah sadar saya. Setiap kali bersua dengan penulis buku ini, kata ini kerap melesat mewarnai perbincangan kami.

Begitulah, kata ini adalah cara pandang, sikap moral, dan sekaligus panggilan kemanusiaan bagi penulis buku ini. Terma yang sudah menjadi airmata darah bagi Kak Sul, begitu ia akrab kami sapa.

Tidak ada salahnya jika di sini saya ceritakan sedikit latar belakang kemunculan sebagian besar esai di buku ini.

Sekali tempo, kelas literasi sudah berjalan setahun kurang lebih. Kelas ini awalnya digagas di mukim beliau. Di perpustakaan pribadi beliau tepatnya. Seingat saya kelas perdananya dimulai bertepatan 17 Agustus 2015 silam. Di hari kemerdekaan itu, kelas dibuka dengan cara yang amat sederhana. Tidak lebih dari 10 orang.

Selang setahun, di angkatan kedua, timbul gagasan membuat media cetak versi kelas KLPI. Tujuannya sederhana belaka: saluran tulisan teman-teman di kelas menulis dan bisa menjadi bacaan waktu senggang bagi mahasiswa yang menjadi sasarannya.

Tapi, bagaimana model, jenis, dan gayanya belum begitu terang. Ide terlanjur dilempar, gagasan terlanjur dimasak. Akhirnya, di titimangsa 24 Januari 2016 kali pertama, Kala, nama yang kami sepakati, terbit. Terbitan perdana itu menayangkan dua esai sekaligus: Bersua Seno Gumira Ajidarma karangan Sulhan Yusuf, dan Menulis itu Dua Hal, tulisan saya sendiri.

Perlu digarisbawahi. Kala tidak sepenampakan media cetak umumnya. Ia bukan zine media alternatif komunitas yang kerap dibubuhi gambar, atau buletin dengan sejumlah halaman tertentu. Kala juga bukan koran kampus versi pers mahasiswa. Kala hanya selebaran. Kertas HVS A4 yang dicetak landscape dengan print seadaanya. Hasil keluaran itulah yang digandakan melalui fotocopi.

Selebaran yang tidak mentereng itu cukup kami bagi-bagikan kepada teman-teman sekelas di KLPI. Kami biarkan ia digandakan sebanyak-banyak oleh siapa saja yang kebetulan menyukainya. Menyebar bak akar serabut rhizoma membentuk cabang-cabang baru, di mana pun dan kapan pun.

Lalu, apa hubungannya dengan sebagian besar tulisan-tulisan di buku ini? Di sinilah pangkal akarnya. Terutama setelah terbitan Kala ke-9. Di halaman terakhir kami bersepakat menyediakan kolom khusus bernama Unjuk Rasa. Kolom ini kami khususkan untuk Kak Sul. Di kolom mini itu kami berikan akses sebebas-bebasnya bagi Kak Sul untuk menulis apa saja.  Seunjuk-unjuknya. Terutama apa yang ia rasakan.

Di kolom itu walaupun bebas memiliki tingkat kesulitan tertentu. Ini tantangan bagi Kak Sul berkaitan bagaimana menuangkan gagasan dengan hemat kata-kata. Medium yang terbatas hanya kolom kecil tidak lebih dari setengah halaman adalah sebabnya.

600 kata. Ini aturan bakunya. Lewat dari itu tidak bakal cukup menempati kolom Unjuk Rasa. Saya sering kali keteteran mengubah ukuran font untuk menyesuaikan panjang tulisan yang tidak dimuat kolom. Memang beberapa kali ada tulisan Kak Sul yang melebihi ketermuatan kolom. Ini menandai betapa pun dibatasi jumlah katanya, kebebasan Kak Sul dalam menuangkan gagasannya sulit dibendung.

Sampai akhirnya Kala versi cetak beralih medium menjadi online. Walaupun nampak masih sederhana, Kala versi mutakhir ini rutin menerbitkan karya tulis teman-teman dari KLPI. Begitu juga Kak Sul, setelah kolom Unjuk Rasa dibuatkan khusus versi onlinenya, tulisan beliau rutin menyapa pembaca di tiap akhir pekan—hal yang sama ia lakukan di beberapa media cetak dan online nyaris di waktu yang bersamaan yang juga diterbitkan dalam buku ini.

Sampai sekarang, Unjuk Rasa masih tayang. Tanpa pernah putus.

Begitulah kisahnya. Jika pembaca menemukan penanda di akhir tulisan yang beralamat Kalaliterasi, sesungguhnya semua itu awalnya berasal dari selebaran nan sederhana. Secarik kertas bertendensi ideologis yang kemudian beralih wahana.


PESONA sari diri saya kira adalah pembuktian. Bukan kepada siapa-siapa, melainkan kepada penulis sendiri. Ini mungkin cenderung personal. Tapi, apa yang lepas dari personalitas? Tanpa personalitas yang kukuh— suatu titik subjektifitas—semuanya bakal mudah menguap. Saya kira beragam tulisan buku ini adalah energi luar biasa yang dilambari dari kekuatan diri yang dahsyat.

Itulah sebabnya, esai-esai dari buku ini tiada arti tanpa kemendasaran “diri”. “Diri” di sini tentu tidak semata-mata entitas biologik belaka. Bukan pula sekadar hubungan fisiologis yang menghasilkan gerak mekanik laiknya mesin. Namun, jauh dari tilikan materialistik, “diri” adalah suatu asal tempat berpijak “kesadaran”. Titik alamat yang menimbulkan keinsafan insani (cukup diri).

Maka, ketika keinsafan ini menjadi aktual, beragam fenomena tidak lagi menjadi data-data indrawi yang berhamburan di selaksa ruang waktu, melainkan berubah, bertransformasi, bergerak, berpindah, dan berkembang dalam kemendasaran diri penulis. Melihat, mengamati, merefleksi, dan menuangkannya ke dalam tulisan adalah buah dari semua itu.

Sudah jelas, beragam fenomena yang ditangkap dari tulisan-tulisan di buku ini adalah suatu kerja kecendekiawanan yang sesungguhnya. Tanpa bermaksud memberikan definisi ketat, dalam arti general, penulis adalah seorang cendekiawan yang tidak serta merta pelipir di tepian kejadian-kejadian belaka. Banyak contoh dari tulisan di buku ini yang membuktikan bahwa penulis begitu peduli terhadap jatuh bangunnya apa yang dikenal sebagai peradaban.

Dengan kata lain, kepedulian itulah yang mendorong penulis menulis peradaban. Atau paling tidak sedang menyusun bab-bab panjang demi lahirnya peradaban:

Peradaban diri. Kiwari, problem yang tak kalah mendasar adalah masalah kemendasaran subjek. Banyak masalah di negeri ini yang disinyalemen karena kegagalam masyarakat mengenal dirinya. Pemahaman atas “diri” kian runyam karena kuatnya komunalisme yang meringsek aspek-aspek kehidupan. Bukannya skeptis kepada kekuatan kerja sama, hanya saja tanpa kemendasaran diri sebagai pijakan keinsafan, kerja sama yang kerap menguat menjadi kolektifisme hanyalah kumpulan massa yang beringas tanpa arah yang jelas.

Di bab awal bertajuk Sari Diri, esai-esai yang terhimpun dibawahnya memiliki perhatian besar terhadap rusaknya konsep diri. 31 esai ini nyaris tanpa pernah bergeser menyoroti problem-problem kemanusiaan dengan memberikan percak-percik nilai positif dari mahluk yang bernama manusia.

Bahagia, rendah hati, cinta, kesederhanaan, kedermawanan, keihlasan adalah beberapa nilai-nilai utama yang diangkat penulis menjadi rekomendasi bagi zaman yang serba berubah ini.

Syahdan, sehimpun esai di peradaban diri Sari Diri, nyatanya adalah refleksi kuat penulis terhadap fenomena menguatnya individualitas tanpa kepedulian, dan beringasnya komunalisme tanpa penghargaan atas hak individu. Semua esai ini secara bolak-balik melihat dari kedua sisi ini.

Itulah sebabnya, pembaca akan banyak menemukan bagaimana penulis mendudukkan nilai keuatamaan manusia di atas sebagai jalan keluar problematika kemanusiaan saat ini.

Peradaban religi. Ketika agama menjadi politik dan politik menjadi agama, esai-esai di bawah atap Teras Religiusitas malah berbalik arah untuk mengembalikan semangat asal agama yang kian hari nyaris absen dalam kepublikan bangsa ini.

Kisah para nabi, sufi, ramadan, natal, masjid, adalah beberapa persinggahan bagi pembaca untuk kembali meneguk mata air spiritualitas agama. Beberapa esai ini sama halnya dengan esai-esai yang berada pada bab sebelumnya, berpijak kepada soal-soal yang melanda manusia beserta kehidupan bersamanya.

Perbedaan mencolok dari bab ini adalah, pembaca akan menemukan perspektif khas penulis ketika berbicara agama. Melalui gaya bercerita tanpa bermaksud bekhotbah, esai-esai di bawah tajuk ini ditulis dengan jarak yang bisa dibilang dekat dari fenomena yang ditulisnya.

Satu hal yang tanpa disadari adalah, ada beberapa esai menjadi tawaran dari penulis untuk menjalankan agama tidak sekadar sebagai simbol belaka, melainkan ikut juga menghayati makna esoteris dari agama itu sendiri.

Dalam esai Haji dan Pembebasan, misalnya, di situ penulis secara eksplisit mendasarkan isi ceritanya kepada dua pengertian agama: agama pribadi dan agama sosial. Di esai ini penulis memproblematisir gelar haji yang sudah mentradisi bagi siapa saja yang berpulang haji. Apakah makna haji bagi agama personal seseorang? Apakah haji menjadi kewajiban disematkan sebagai gelar seseorang di ranah agama sosial? Apakah ada hubungannya gelar haji yang menjadi simbol agama sosial dengan kesalehan individu di ranah agama personal?

Jika motivasi pertanyaan ini diperluas, secara tidak langsung esai-esai di tajuk ini layak dijadikan bahan refleksi mengingat gejala keberagamaan hari ini yang ketat di wilayah esensial tapi sangat tidak fungisional bagi kontribusi kemanusiaannya.

Peradaban masyarakat. Dirangkum dalam sehimpun bab Beranda Publik, penulis banyak mengulas dunia politik, fenomena anak muda, sepak bola, masalah perkotaan, dan tentu saja tema literasi.

Di bab ini penulis menempatkan perhatiannya lebih dekat ke soal-soal keseharian sebagai seorang warga negara. Sering kali bahkan dengan nada humor—hal yang sering ditemukan di obrolan warung kopi—penulis mengulas soal pemilihann kepala daerah, misalnya, dengan bebas tanpa mencederai pihak lain. Jika dikaitkan dengan wacana demokrasi, dari tulisan yang tersebar dari bab ini (dan juga bab lainnya) nampak memang penulis sedang menggunakan hak politiknya. Namun berbeda dari orang kebanyakan, hak politik ini—dalam hal menyampaikan pendapatnya—tidak dilakukan dengan cara serampangan, melainkan dinyatakan melalui opini dengan medium tulisan.

Kebebasan berpendapat dari penulis, seperti yang tampak dari esai-esainya ini, cukup longgar membicang apa saja, terutama kepada hal-hal yang menjadi bahan perbincangan umum. Ini mempermudah dari caranya menuangkan gagasan dan perspektifnya. Apalagi penulis memiliki interes politik yang sama sekali berbeda dari cara pandang politik kiwari dan bukan menjadi partisan dari kelompok politik tertentu. Satu-satunya interes politik penulis jika itu dapat disebut demikian adalah betapa ngototnya penulis membangun peradaban yang dilambari nilai universal kemanusiaan.

Dari sisi ini, dapat dipahami mengapa literasi menjadi satu-satunya induk pengabdian penulis yang belakangan menjadi lebih intens digelutinya. Bukan karena semata-mata tercengang dengan data-data belakangan yang menempatkan bangsa ini dalam angka literasi yang rendah, tapi sekaligus juga sebagai bagian dari kritiknya terhadap keadaan saat ini.

Tidak berlebihan jika dari sisi ini kecendekiawanan penulis kerap terasa. Kepeduliannya yang besar kepada plus minusnya keadaan masyarakat saat ini hanyalah satu tanda kecendekiawanan selain dari kritisismenya yang dituangkan dari esai-esainya ini.

Pesona Peradaban. Ini adalah bab akhir dari Pesona Sari Diri. Di bab ini pusatnya adalah idealitas kemanusiaan. Banyak kisahnya dipulangkan kepada sosok-sosok agung dan puncak. Ibarat cermin, di bab inilah tempat refleksi pembaca mencari perbandingan parasnya. Apakah pembaca selaras dengan figur-figur ideal dalam bab ini atau malah sama sekali tidak memiliki kecocokan terhadapnya.

Manusia, dalam pendekatan psikologi naratif dinyatakan sebagai kisah. Setiap manusia memiliki kisahnya masing-masing. Laiknya kisah, manusia mengalami tiga babakan episode: pembuka, pertengahan, dan penutup. Dalam babakan episode ini, setiap perilaku manusia bakal menentukan seperti apa ending kisahnya. Baik buruknya, tergantung bagaimana ia mendudukkan narasinya.

Narasi yang baik ketika ia berpijak kepada idealitas tertentu: entah sosok sejarah, budaya, agama, atau politik. Tanpa itu, kisah jiwa manusia bakal mengembara tanpa visi dan misi.

Di bab ini, pembaca ibarat menemukan jangkar kapalnya. Ia menjadi pengikat jiwa agar memiliki jalan kisah ideal. Dari Muhammad sampai Ali bin Ali Thalib, Muhammad Iqbal sampai Ali Syariati, Khomeini sampai Tjokroaminoto, bahkan dari Ahok sampai Rocky Gerung adalah panorama idealisasi paras kemanusiaan.

Seperti bab pertama, di bab terakhir ini menghimpun 31 esai. Namun tidak saja tokoh besar yang dikenal umum sebagai figur-figur ideal, di bagian ini akan kita temukan bagaimana penulis menangkap seperangkat idealitas dari orang-orang dekatnya yang telah banyak memberinya pengaruh positif bagi diri penulis. Ini wajar saja, sebab penulis bukan lagi melihat aspek-aspek kemanusiaan di dalam diri tokoh-tokoh besar saja, tapi menyadari pula setiap manusia terkandung hal yang sama, sekali pun itu adalah orang terdekatnya.      


SUATU waktu saya terlibat percakapan dengan penulis, di tempat yang sering disebut tempat persemadiannya—dikenal sebagai TB Papirus. Singkat cerita saya coba bertanya mengapa Kak Sul tidak mengambil jalan seperti orang-orang yang sudah cukup modal sosial: mencalonkan diri menjadi calon legislatif. Saya tahu, di Bantaeng, kampung halamannya, beliau sudah dianggap sebagai tokoh yang aktif memberdayakan masyarakat. Jika dihitung-hitung beliau punya kans besar jika berminat menjadi anggota parlemen di daerah. Pertanyaan saya ini iseng saja mengingat waktu itu sedang musim pencalonan. Hanya untuk menambah bahan percakapan saja.

“Sekarang saya ibaratnya sedang menyiapkan jalan pulang, Bung Bahrul.” Begitu jawaban Kak Sul saat itu. Seperti biasa jawaban ini langsung disambung dengan candaan khasnya.  

Dari situ saya semakin paham apa yang dimaksudkannya dengan altruisme itu. Semakin kesini, sikap moral Kak Sul semakin mempertegas kedudukannya sebagai seorang wise. Ini-lah yang membedakan Kak Sul dari sikap kebanyakan orang. Ketika semua orang sibuk mencari panggung membesarkan nama, citra, dan harta, ia malah memilih jalan berlainan: suatu jalan yang hanya bisa ditempuh dengan semangat altruisme itu tadi.

Lalu apa yang dimaksudkannya dengan “jalan pulang” itu tadi? Saya tidak pernah mengejarnya melalui pertanyaan tambahan. Seketika saja saya bisa menangkap kata bersayap yang sering ia pakai dipercakapan-percakapannya itu. Cukuplah saja saya kutipkan penggalan syair Lagu Seruling sufi cum penyair Jalaluddin Rumi di bawah ini:

Dengar lagu seruling bambu menyampaikan kisah pilu perpisahan. Tuturnya, “Sejak daku tercerai dari indukku rumpun bambu, Ratapku membuat lelaki dan wanita mengadu. Kuingin sebuah dada koyak disebabkan perpisahan. Dengan itu dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta. Setiap orang yang berada jauh dari tempat asalnya. Akan rindu untuk kembali dan bersatu semula dengan asalnya.

ALTRUISME. Semuanya dapat diasalkan dari kata ini. “Jalan pulang” melalui kata-kata.

31 Mei 2019

Al-Quds Sedunia: Momentum Kemanusiaan, Keberpihakan, dan Pembebasan Palestina


Poster ajakan Pembebasan Al-Quds


BULAN Ramadan adalah bulan  spiritualitas manusia, atau bulan yang memanusiakan manusia. Itu karena ditandai dengan dua momentum besar sejarah, yakni malam turunnya Al-Qur'an (lailatul qadr) dan malam  kesyahidan putra Ka'bah, sahabat utama sekaligus murid sejati Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib Kw.

Malam lailatul qadr menjadi begitu penting karena di malam-malam itulah Al-Qur’an diturunkan ke muka bumi untuk hidayah dan juga menjadi al furqan (pemisah antara hak dan bathil) bagi umat manusia. Di malam-malam itu, dunia menjadi lebih tenang dan damai lantaran itu adalah satu-satunya momen bertemunya firman suci dengan sosok agung yang telah dipilih Tuhan untuk mengemban amanah membebaskan umat manusia dari penjara penindasan.

Itulah sebabnya, Al-Qur’an dan Rasulullah adalah dua kutub kompas kebenaran yang tidak bisa dipisahkan sama sekali.

Adapun kesyahidan Ali bin Abi Thalib, yang wafat di malam 21 Ramadan, juga menjadi penanda spiritualitas manusia untuk mengenal ketinggian jiwa manusia yang bersetia dengan prinsip Islam, dan kerendahan hasrat manusia yang dikendalikan tabiat ego yang diwakilkan sosok Abdurrahman Ibnu Muljam, pembunuh pilar keadilan Rasulullah Saw.

Di seputar kisah syahidnya Ali bin Abi Thalib Kw,  Ibnu Muljam adalah figur kontardiktifnya. Sosok Khawarij ini dikenal rajin mendirikan salat, fasih membaca Al-Qur’an, gigih berperang, dan mulutnya tiada kering dari menyebut asma Allah Swt.

Tapi, didorong ego keserakahan memonopoli kebenaran Islam,  hatinya yang dibakar hasrat berkuasa, rela membunuh Sang Putra Ka’bah di saat mendirikan salat Subuhnya.

Antara amiril mukminin Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Muljam, terbentang dua kutub yang saling bertolak belakang. Antara hak dan yang batil. Kebenaran dan kepalsuan.

Selain narasi Ramadan di atas, hakikatnya masih ada satu momentum yang mesti dikenal dunia yakni Hari Al-Quds Internasional.

Apa itu hari Al-Quds? Hari Al-Quds adalah momentum perlawanan pada hari Jumat terakhir bulan Ramadan untuk memantik kesadaran dan perhatian umat manusia menentang penjajahan Zionis Israel atas Palestina.

Hari Jum’at dipilih selain hari besar istimewa dalam Islam, juga merupakah hari kebiasaan pejuang, anak-anak muda, dan masyarakat Palestina turun ke jalan untuk menyuarakan hak-hak kemerdekaannya.

Sejarah hari Al-Quds ada kaitannya dengan pendudukan Palestina sejak awal tahun 1948. Di tahun ini, negara Israel berdiri pertama kalinya atas sokongan negara Inggris. Gerakan Zionisme akan lain ceritanya tanpa kebaikan hati Inggris. Inggris merealisasikan dukungannya sejak Deklarasi Balfour pada 2 November 1917. Semenjak itu, Palestina tidak pernah lepas dari intaian kolonialisme Israel.

Sementara walaupun banyak mengalami agresi militer dan pendudukan, deklarasi kemerdekaan Palestina dilakukan pada 15 November 1988. Proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh Yasser Arafat di sidang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang kemudian terpilih sebagai Presiden pertama Palestina.

Walaupun begitu, pasca pendudukan Israel atas Palestina membuat wajah Timur Tengah berjalan di atas sejarah ketidakpastian. Semenjak itu, Palestina menjadi pusat perhatian mayoritas ulama sedunia. Banyak tubuh yang kehilangan nyawa, penduduk yang kehilangan mukimnya, orang tua yang ditinggal pergi anaknya, anak-anak yang menjadi yatim, dan sebuah negara yang dicuri kedaulatannya.

Tanda empati

Sudah semenjak awalnya hari Al-Quds diinisiasi untuk memantik empati kepada saudara-saudara jauh kita yang ada di Palestina. Palestina sampai hari ini adalah satu kawasan yang tidak berhenti bergejolak. Konflik berkepanjangan membuat penduduk Palestina sudah seperti ditakdirkan hidup bersisian dengan perang.

Debu, dentuman martir, reruntuhan genting rumah, dan tubuh yang sewaktu-waktu menjadi mayat adalah pemandangan sehari-hari. Palestina seperti akan dikisahkan hingga akhir nanti menjadi negeri yang timbul tenggelam di dalam gemuruh perang tanpa henti. 

Palestina adalah kata yang kelabu sekaligus sebaliknya. Ketika menyebut Palestina, berarti menunjuk suatu komunitas masyarakat yang disingkirkan dari ruang hidupnya; berarti mengacu kepada anak-anak yang putus sekolah; berarti tertuju kepada pemuda-pemuda yang kehilangan akses pekerjaan; berarti berhadapan dengan suatu realitas masyarakat yang mengalami diskrimanasi akut di semua dimensi kehidupannya.

Menyebut Palestina juga menandai perhatian kita untuk ikut merasakan penderitaan suatu bangsa yang dicabut hak asasinya. Ikut berempati sekaligus mencari cara agar mengerahkan selemah-lemahnya iman persaudaraan sesama manusia agar mengutuk penjajahan yang dialami Palestina.

Palestina dengan kata lain bukan sekadar teritori suatu negara, melainkan juga menandai keluasan jiwa manusia untuk mengenal kemana ia mengarahkan solidaritas kemanusiaannya.

Hikmah puasa

Kunci puasa adalah mengendalikan hawa nafsu. Dalam makna lain, puasa adalah jalan manusia untuk menegakkan kembali rasionalitas kemanusiaannya ketimbang diamuk hasrat rendah kebinatangan.
Puasa juga lebih dari itu, ia demikian berarti karena ingin memukul mundur hasrat kuasa manusia yang seringkali menjadi motivasi utama ketika bertindak. Ia bertujuan menetralisir dimensi tabiat libidinal manusia yang sudah demikian purba ini.

Puasa karena bertujuan mengembalikan kedudukan martabat dan harkat manusia dari penjajahan dan penguasaan ego kuasa, memiliki sumbangsih spiritual kepada hari Al-Quds yang dilaksanakan di akhir Ramadan.

Dengan kata lain, hikmah peringatan hari Al-Quds pada momen Ramadan berarti perlawanan terhadap seluruh bentuk kolonialisme yang digencarkan bangsa-bangsa penjajah.

Jika puasa diartikan sebagai wahana agar manusia memerangi hawa nafsunya, maka peringatan Al-Quds adalah saluran mengecam dan menolak penjajahan bangsa Israel atas Palestina; simbol antara keteladanan perlawanan bangsa terjajah kepada bangsa penjajahnya.

Syahdan, Al-Quds dapat dikatakan hari kebangkitan politik kemanusiaan untuk melegitimasi ibadah puasanya demi menunjukkan bukti keberpihakan atas prinsip Islam yang anti perbudakan.

Seruan kemanusiaan

Hanya dua bangsa yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia: Palestina dan Mesir.

Mengingat ini, Indonesia mempunyai warisan sejarah atas Palestina. Bahkan Soekarno pada tahun 1962 lantang bersuara bahwa, selama kemerdekaan tidak diberikan kepada orang-orang Palestina maka dalam waktu itu juga bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.

Sejarah panjang Palestina sama tuanya dengan munculnya agama-agama di dunia. Bahkan, tidak ada dataran tanah yang paling banyak melahirkan nabi-nabi dalam sejarah manusia selain Palestina. Di Palestina pula Nabi Muhammad saw. menandakan momentum peristiwa Isra Mikraj setelah akhirnya memindahkan arah kiblat umat Islam.

Singkatnya Palestina punya ikatan khusus dengan bangsa Indonesia apalagi umat Muslim. Tanpa Palestina, barangkali sejarah agama-agama dunia bakal berbeda sama sekali.

Oleh sebab itu, melalui tulisan sederhana ini, semoga menjadi pemantik kesadaran bagi siapa saja agar Ramadan kali ini ikut memberikan dukungan moril dan doa agar Palestina, sebagai suatu bangsa, sesegera mungkin merasakan kemerdekaan hakikinya.

Olehnya itu Hari Al-Quds  bukan milik umat Islam belaka, melainkan milik seluruh umat manusia. Hari Al-Quds sebagaimana makna puasa adalah hari pembebasan umat manusia dari perbudakan, perampasan, diskriminasi, embargo, penindasan, penjajahan, dan pendudukan dari bangsa penjajah seperi Israel.

Di awal tulisan ini sengaja dibuka dengan menyampir malam Lailatur Qadr dan Kesyahidan amiril mukminin Ali bin Abi Thalib, dengan maksud dua momen spiritual dan historis tersebut memiliki hubungan maknawi dan saling mengisi terhadap hari Al-Quds atau pembebasan Palestina.

Malam diturunkannya Al-Qur'an adalah malam penuh berkah, mati syahid seperti yang diraih Sayyidina Ali adalah kematian yang diberkahi Tuhan, dan Palestina, seperti diriwayatkan adalah tanah yang diberkahi Tuhan.

Sebagaimana maksud Allah memilih ada tempat-tempat yang diberkahi, benda-benda yang diberkahi, manusia-manusia yang diberkahi, dan tentu waktu-waktu yang juga diberkahi.

Mari serentak berharap berkah Ramadan dengan tiga momen di atas. Setelah meraih malam lailatul qadr dan menghayati makna kesyahidan amirul mukminin Ali bin Abi Thalib, mari berdiri bersama demi Palestina mengutuk segala bentuk ketidakadilan Israel.

29 Mei 2019

Belajar Gerakan Sosial dari Chico Mendez

Francisco Alves Mendes Filho, lebih dikenal sebagai Chico Mendes
Seorang penyadap karet Brasil, pemimpin serikat buruh dan pencinta lingkungan. 
Dia berjuang untuk melestarikan hutan hujan Amazon, 
dan mengadvokasi hak asasi petani Brasil dan masyarakat adat.

GERAKAN sosial dalam arti defenitifnya selalu ditandai dengan tindakan kolektif yang bersifat spontan dan massif. Pengertian ini juga mengacu pada tindakan masyarakat yang mengarah pada tujuan bersama sejauh ikatan-ikatan yang bersifat semi organisasional terbangun.

Beberapa pengertian yang diberikan ahli sosial misalnya, melihat gerakan sosial merupakan bagian integral dalam masyarakat yang berfungsi sebagai kekuatan pendorong perubahan. Dengan kata lain, gerakan sosial yang merupakan kesatuan integral dalam tatanan masyarakat, memposisikan dirinya sebagai kekuatan yang memiliki fungsi penyeimbang bahkan sebagai bentuk pembaharuan tatanan itu sendiri.

Pengertian lain diberikan Blummer, misalnya, yang melihat signifikansi gerakan sosial dalam pengaruhnya terhadap penciptaan nilai-nilai baru yang menggantikan anutan-anutan lama di masyarakat. Hal ini menjadi salah satu indikator untuk mengukur capaian-capaian gerakan sosial sebagai kekuatan perubah yang merembesi sistem nilai dalam suatu masyarakat.

Sebagai contoh, perubahan cara mengidentifikasi masyarakat Amerika dalam kaitannya dengan perjuangan Apertheid kulit hitam yang lambat laun akhirnya berubah pasca munculnya gerakan sosial yang dimotori Malcolm X. Dalam kasus ini kita bisa menyaksikan dampak perubahan sosial yang ditimbulkan gerakan civil society sebagai variabel yang juga menentukan perubahan dalam sistem nilai masyarakat Amerika.

Penciptaan nilai baru yang dimaksudkan Neil Smelser yakni sebagai upaya penataan ulang nilai-nilai lama yang dianut sebagai alasan bertindak. Dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai kolektif, semisal keadilan, pengetahuan, kebaikan, kasih sayang, demokrasi dsb, secara prinsipal menjadi sandaran epistemologis dalam bersikap. Pada kasus Apertheid, gerakan yang di motori Malcolm X tidak saja mengubah secara sosiologis posisi masyarakat kulit hitam, melainkan secara paradigmatik memberikan nilai baru secara kultural terhadap keberadaan kulit hitam di tengah-tengah masyarakat kulit putih Amerika.

Gerakan sosial sebagai tindakan kolektif juga dapat kita temukan misalnya tahun 1999 di Seatle Amerika Serikat. Kala itu hampir 40.000 masyarakat pekerja, aktivis NGO, kaum anarkhi, aktivis lingkungan hidup, serta pembela hak-hak asasi manusia tumpah ruah di jalan-jalan menentang pertemuan tingkat dunia yang diselenggarakan WTO. Dalam konteks peristiwa, gerakan sosial yang menolak isu neoliberalisme kala itu juga memperlihatkan  bentuk spontanitas sebagai salah satu indikator gerakan sosial yang bisa menjadi titik permulaan dari kegiatan kolektif.

Sebagai kekuatan penggerak masyarakat, gerakan sosial adalah sarana alternatif yang menjadi pendorong perubahan ketika dimensi struktural kemasyarakatan tak menghasilkan pemenuhan hak-hak dasar kemasyarakatan.

Kecenderungan ini termuat dalam pembacaan yang bersifat marxian ketika melihat ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh struktur kelas masyarakat atas dasar dominasi kapital oleh kelas masyarakat tertentu. Model gerakan sosial marxian banyak kita temukan pada negara-negara belahan dunia ke tiga yang rentan akibat disparitas ekonomi sebagai penyebab ketidakpuasan masyarakat.

Gerakan sosial yang ditemukan di belahan dunia ketiga memiliki ciri ikatan yang bersifat normatif. Ikatan ini merupakan gagasan bersama sebagai bentuk kepahaman yang bersifat kolektif. Ikatan normatif ini memiliki arti ideologis untuk mempersatukan visi dan misi sebagai tujuan gerakan bersama. Contoh kasus misalnya, gerakan petani karet di Brazil yang dipelopori Chiko Mendes pada tahun 1987, dipersatukan oleh keyakinan umum yang melatarbelakangi munculnya penentangan terhadap pembabatan hutan oleh korporasi saat itu. Keyakinan mereka terhadap pemanfaatan hutan secara ekologis menjadi pemahaman dasar sehingga sampai saat ini Brazil memiliki 48 lokasi seluas 12 juta hektar di hutan Amazon yang berstatus kawasan suaka ektraktif.

Dari beberapa kasus di atas, cara-cara yang ditempuh dari gerakan sosial merupakan sikap kolektif yang berada di luar mekanisme sistem institusi yang ada. Dalam hal ini apabila institusi kemasyarakatan tidak memberikan dampak sosial yang diharapkan, maka kolektifitas dari gerakan sosial adalah mekanisme yang ditempuh untuk menjadi alternatif dari institusi yang ada.

Merujuk hal di atas, juga diungkapkan Antony Giddens dan Calhoun yang menyebutkan bahwa gerakan sosial sering kali memiliki ciri-ciri dari penggunaan cara-cara di luar sistem yang dianut. Tindakan aksi massal masyarakat sipil, pemberontakan kaum tani, dan kelompok-kelompok minoritas yang memperjuangkan hak-hak sipilnya, memang selalu menggunakan cara-cara yang tak lazim dianut dalam kebiasaan-kebiasaan masyarakat.

Apabila dilihat dari tatanan struktural masyarakat, gerakan sosial juga dapat diidentifikasi sebagai respon dari kalangan elit yang berada pada puncak hirarki kelas masayarakat. Pengertian ini mengacu pada aktivitas elit masyarakat sebagai agen gerakan sosial yang memberikan pengaruhnya terhadap masyarakat dominan untuk mengarahkan perubahan yang dikehendaki.

Perlawanan dari gerakan yang diprakarsai elit adalah gerakan dari bawah yang bersumber dari masyarakat luas sebagai bentuk kebersamaan. Gerakan yang berasal dari bawah ini adalah gerakan yang mengikutkan kolektifitas masyarakat sebagai eksponen gerakannya.

***

SERATUS orang tanpa pendidikan itu pemberontakan, satu orang berpendidikan adalah awal sebuah pergerakan.(1) Saya kira, ini soal yang utama.

Perlawanan tanpa pendidikan sama halnya pemberontakan. Pemberontakan boleh saja disebut radikal, tapi belum tentu punya maksud (crowd). Pemberontakan bisa jadi pembebasan, namun tidak bisa disebut perlawanan. Perlawanan di mana pun itu pasti punya gagasan. Punya ide. Dua hal inilah yang memberikan arah. Menunjuk suatu cara yang etik juga strategik. Mendes melihat itu, dan hanya satu yang mampu memediasinya; ilmu pengetahuan.

Begitulah yang bisa dibilangkan dari suatu adegan The Burning Season (1994). Film produksi Warner Bros besutan John Frankenheimer. Film yang bercerita banyak hal soal suatu kepentingan global yang merangsek masuk  merombak habis ekosistem hutan beserta kebudayaan di dalamnya. Banyak merembesi dimensi sosial masyarakat pedalaman yang dirusak akibat kekuatan kapital. Menggoyah tradisi kultural, merobek paras kebudayaan, dan membelah tatanan sosial jadi timpang.

Semua bermula dari satu konsep; kapitalisme. Akibatnya, di film yang berbasis kenyataan itu dibuka dengan tatanan yang ambruk. Di Chacoeira saat itu, dari mata polos Mendes kecil, kapitalisme bisa menjelma apa saja. Ia melihat masyarakat yang ditilap tengkulak medioker. Masyarakat penyadap karet yang hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Orang-orang yang tak bisa berbuat banyak akibat hutang berlapis-lapis. Situasi dekaden tanpa hukum. Suatu realitas kehidupan yang membuat Mendes kecil mulai menyoal, apa itu keadilan?

Dari mata kecil Mendes, keadilan harus bekerja betapapun sederhananya. Di tempat Mendes kecil tinggal saat itu,  keadilan harus ada di saat orang-orang menimbang getah karet. Keadilan harus ada ketika pertukaran terjadi. Tak soal betapapun digitnya. Keadilan di kehidupan masyarakat Chacoeira, saat itu sama artinya dengan  keberlangsungan hidup yang harus terus dikayuh. Keadilan, dengan arti lain—juga sampai hari ini, bukan pasal transaksi ekonomi belaka, melainkan bagaimana mau jujur terhadap kenyataan yang terjadi.

Tapi, keadilan jika sudah lacur akibat kepentingan ekonomis, maka itu disebut kezaliman. Dan itulah yang membuat sesal Mendes kecil kelak. Akibatnya, dia harus memperkarakan sikap mangut ayahnya pasca menukar hasil getah karet. Penggalan pengamalaman itulah yang bikin sesak. Barangkali di hati kecil Mendes saat itu, apapun bentuknya kezaliman harus tumbang.

Saya kira jika mau mencermati adegan awal film ini, ada dua hal yang penting. Pertama, sikap kritis Mendes kecil yang diajukan kepada ayahnya pasca menjual getah karet. Kedua, keberadaan sosok laki-laki yang datang mengajari Mendes kecil pengetahuan matematis.

Kritisisme itu penting. Apalagi jika itu pada konteks masyarakat Chacoeira tempat Mendes hidup. Yang patut disadari, kritisisme itu bukan dimulai dari dunia kesadaran orang-orang dewasa masa itu, melainkan dari seorang Mendes kecil.

Di sini penting memahami kritisisme, dari adegan itu kritisme mau dibilangkan sebagai kualitas manusia yang paling hakiki. Esensi kemanusiaan yang paling muda. Itulah mengapa hanya Mendes kecil yang punya, bukan yang lain. Orang-orang tua, dengan umur yang berjibun pengalaman kadang harus takluk dengan berbagai macam pertimbangan dan juga kepentingan. Namun, sebagaimana ilmu pengetahuan itu bermula, kritisisme selalu dimulai dari kesadaran polos layaknya anak kecil.

Artinya kesadaran kritis selalu lebih dahulu dari berbagai macam pengalaman. Dengan kata lain, kesadaran kritis hanya butuh satu modalitas manusiawi; rasa ingin tahu. Dan semua orang punya itu, termasuk Chico Mendes.

Jika pendidikan itu dimulai oleh rasa tahu, maka Mendes kecil memulainya dengan cara yang tepat. Di sinilah relevansi kedatangan sosok pria yang mengajarinya ilmu berhitung. Ilmu yang adaptable dengan kehidupan Mendes kelak. Yang menarik, ilmu yang dipertukarkan melalui relasi timbal balik antara Mendes dan sosok pria misterius itu dilakukan melalui praktek naratif.

Dengan metode itu, ilmu berhitung bukan sekedar angka-angka matematis imajinal yang dijumlahkurangkan, tapi juga dibangun dengan kekuatan cerita yang berbasis pengalaman. Artinya pendidikan bukan soal sejauh mana transfer pengetahuan diberlangsungkan, tapi sejauh apa bermanfaat bagi kehidupan kongkrit masyarakat.

The Burning Season salah satu film yang menyediakan perangkat pengetahuan soal membangun gerakan sosial. Dan saya kira film ini tidak soal diasumsikan demikian, walaupun begitu banyak medan adegan bisa membuka perspektif lain. Namun, jika banyak beragam pemikiran terbangun di film itu, akan sia-sia belaka kalau tidak bisa menjadi perangkat pemahaman memahami dunia pembaca. Saya kira ini yang penting, bagaimana mendialogkan adegan demi adegan (dunia simbol, teks) dengan kehidupan sehari-hari kita (dunia pembaca).

Apabila dibuatkan skema triadik, antara dunia pengarang (sutradara, produser, kru film, dan seluruh tenaga produktif di balik layar), dunia teks (konten film adegan per adegan, simbol demi simbol), dan dunia pembaca (penonton, penafsir bebas), maka yang mau diharapkan bagaimana pesan film itu bukan semena-mena punya pembuat film maupun konten film itu sendiri, tapi maksud apa yang bisa kita artikan terlepas dari kepentingan film di belakangnya. Apa faedahnya buat kita?

Saya kira perjuangan Chico Mendes (sebelumnya Wilson Pinheiro) mewakili soal-soal masyarakat perkotaan dan pedalaman kekinian. Di Sulawesi Selatan-- tanpa lupa menyebut kasuskasus agraria di berbagai kawasan Indonesia, juga mengalami hal yang sama. Di Makassar sendiri, yang paling kekinian adalah keinginan Pemkot Makassar mereklamasi kawasan pesisir yang sudah dimulai sekira tahun 2000. Saya kira pada konteks inilah The Burning Season harus ditempatkan.

Perlawanan terhadap jejaring kekuasaan di mana pun jika ditarik kembali pada pertanyaan mendasar: bagaimana cara membangun gerakan perlawanan, berarti harus menyoal hal-hal elementer seperti 1) apa yang dilawan? 2) mengapa perlu ada perlawanan? 3) untuk apa membangun perlawanan? Chiko Mendes jelas atas tiga soal dasar ini. Dia melawan perusahaan yang membakar lahan semenamena, dia melawan akibat penyalahgunaan lahan mengancam keberlangsungan hidup masyarakatnya, dan Chiko Mendes melawan untuk menjaga generasi depan dapat merasai kehidupan layak.

Di konteks kita belakangan ini, kadang tiga pertanyaan elementer itu membuat soal baru. Niat membangun gerakan selalu patah lantaran pembacaan situasi yang tidak komprehensif. Khusus soal apa guna membangun perlawanan justru hanya merupakan saluran rangkaian proses memperbaiki jiwa personal. Banyak ekses yang timbul akibat gerakan yang jadi lancung. Yang paling fundamental adalah, berubahnya karakter gerakan sekedar aksi seremonial belaka. Saya kira, selain pragmatisme perlawanan yang kadang menyampir kekuasaan, moralitas gerakan berbasis gagasan juga jadi soal antik yang harus dipecahkan.

Perlawanan Mendes adalah gerakan dari lokalitas menuju globalitas. Di tataran lokalitas, dia melawan tengkulak kaki tangan perusahanperusahan, orang-orang apatis, dan juga pihak keamanan. Di tataran global, Mendes bersuara di tengahtengah glamourisme kapitalisme global. Di dua level itulah medan perlawanan Mendes dengan membangun Serikat Pekerja Pedesaan (Sindicato). Mendes bergerak bersama orangorang yang resah, orang-orang malang yang mau melihat keadilan tak cuma konsep di atas mimbarmimbar ilmu pengetahuan. Dan, yang tak kalah penting, perjuangan Mendes bukan sekedar perjuangan moral belaka. Mendes membangun gerakan politik.

Perlawanan Mendes mengkonsolidasikan kebutuhan masyarakat  dari kebutuhan ekonomis sampai keperluan membangun gerakan politik, sebenarnya merefleksikan tesistesis yang dikandung dalam marxisme. Pencalonan Mendes mau menjadi pemimpin daerah, jangan diartikan pilihan pragmatis sebagaimana politisi medioker di negeri kita. Dalam konteks Mendes, pencalonannya mewakili suara golongan marginal yang tersisihkan akibat logika kapital. Mendes menjadi simpul kelompok-kelompok masyarakatnya di bawah satu tema perlawanan. Dengan cara ini, Mendes menaikkan level gerakan tidak sekedar dari dimensi ekonomi melainkan sampai menyentuh dimensi politik. Dengan kata lain, pencalonan Mendes adalah radikalisasi gerakan serikat dari asumsi ekonomis menjadi politik.

Sisi lain juga harus dicermati adalah kehadiran Steven Kaye, seorang film maker. Tanpa kehadiran tokoh ini, perjuangan Mendes barangkali tak akan dikenal seperti sekarang ini. Banyak adegan menunjukkan, kala Mendes mendapatkan informasi dari Kaye yang signifikan memberikan perspektif baru bagi perjuangan serikat pekerja. Banyak momen penting akibat pertukaran informasi melalui mediasi Kaye. Akibatnya, Mendes mendapati suatu horison baru dalam mendudukkan perjuangannya. Di sini unsur media menjadi faktor ampuh membuat suara Mendes akhirnya punya gaung di kancah internasional.

Masa perjuangan Mendes terjadi sekira tahun 80an. Masa kala Brazil sedang gencargencarnya melakukan perubahan mendasar. Sama halnya di Indonesia, developmentalisme jadi kiblat pembangunan. Itulah sebabnya, hutan tak punya tempat dalam skema pembangunan berdimensi industrial. Menarik kalau mau memperhadapkan dua konteks tradisi yang samarsamar diperlihatkan dalam The Burning Season. Tradisi pertama tentu diwakili mitos kemajuan yang dikandung dalam developmentalisme itu sendiri.

Konsepkonsep dasar dari developmentalisme begitu terang ditunjukkan dengan bendabenda semisal traktor, gergaji mesin, dan juga konsepkonsep kekayaan yang diartikan sebagai keberlimpahan finansial. Sementara tradisi kedua adalah apa yang ditunjukkan dari mitos-mitos yang kerap tumbuh dalam masyarakat agraris berupa simbolisme binatang sebagai ratu adil. Dua tradisi inilah yang sebenarnya juga diperlihatkan sebagai latar imajinal yang ada dalam The Burning Season.  Akan sangat menarik jika dua tradisi besar ini; tradasionalisme dan modernisme, diuji kembali relevansinya melalui film berdurasi 108 menit ini.

Gerakan sosial manapun akan selalu mengandaikan subjek perubahan. Tesis ini sudah rumus paten. Yang soal adalah bagaimana subjek perubahan harus dipahami. Apakah dia sesuatu ihwal yang metafisis atau sebaliknya. Apakah dia seorang mesias atau suatu kaum. Tapi sejauh film ini disaksikan dua antinomi inilah yang secara dialektis berproses. Banyak frame adegan yang selalu dimulai dari tubuh patung Yesus yang disalib dengan anak panah yang menancap. Secara simbolis itu bisa dibaca dua hal: agama jadi mandul di hadapan masyarakat tertindas, atau justru agama, seperti ditampakkan Wilson Pinheiro membangun kesadaran di dalam gereja, adalah kekuatan aktif yang bisa menyulut perlawanan.

Sebagai suatu subjek aktif, Mendes diposisikan sebagai pelanjut perlawanan yang sudah digagas Pinheiro dari awal. Ini indikasi terang bahwa gerakan sosial hanya bisa berlangung dalam sistem yang terus berlanjut. Gerakan sosial, bukan gerakan sekali pukul, melainkan suatu pola sistemik dengan rancangan programprogram. Atau dengan kata lain gerakan sosial adalah perlawanan yang  terencana secara terus menerus.

Di dalam formasi itulah penting melibatkan dua kekuatan utama yang lain, intelektualisme ekologis dan aktivisme serikat pekerja. Yang pertama di wakili oleh Regina de Carvalho, mahasiswa perguruan tinggi Sao Paulo Brazil yang juga sekaligus aktivis lingkungan. Sedangkan yang kedua adalah Wilson Pinheiro itu sendiri. Kedua simbolisme ini, secara organik seperti yang dibilangkan Antonio Gramsci, Pemikir Marxis Italia, sebagai intelektual yang turut aktif melibatkan diri langsung di kehidupan masyarakat tertindas. Intelektual organik macam itulah, yang membuat kelompok perlawanan Sindicato terus bergerak dengan asupan teoritik dan praktik.

Itulah sebabnya, agen aktif sebagai subjek gerakan dimulai dari suatu tim kerja. Di sinilah arti penting kesadaran organisasional. Saya kira hal ini terang ditampakkan dari skema kerja yang dilakukan Mendes. Dia memimpin organisasi, menyusun rangkaian kerja, dan memasang target periodik. Dan, itu dilakukan secara kolektif, bukan ketokohan personal.

Hal inilah yang juga harus kita ambil, yakni gerakan sosial selalu dimulai dengan kesadaran kolektif. Dua antinomi yang kerap hadir; kekuatan metafisis dan daya intelektual, dua modalitas yang mesti didialogkan. Ini perlu apalagi, seperti masyarakat tempat Mendes berjuang, agama merupakan kekuatan alam bawah sadar yang potensial jadi motor perubahan.

Setiap perjuangan mengandung resiko. Bahkan resiko sebenarnya bagian inheren perjuangan. Akan naif bagi orangorang yang berjuang tanpa mau menerima resiko. Chico Mendes sudah tahu, resiko yang bakal ditemuinya bisa saja seperti nasib Wilson Pinheiro; kematian. Di kemungkinan inilah idealisme perjuangan Mendes dipertautkan melalui aksi non kekerasan. Akibatnya Mendes sadar, idealisme perjuangan memang melampaui tubuh yang bisa koyak akibat peluru panas. Kecuali ada jaminan kurir langit yang menggaransi kematian satu orang membuat korporasi berhenti membabat hutan. Begitu ucapnya di suatu adegan bersama Ilzamar, istrinya.

Perjuangan Mendes dan serikatnya terus berlanjut. Banyak korban berjatuhan. Akibatnya, pihak perusahan terdesak menghentikan pembabatan akibat dukungan pemerintah. Namun apa boleh dikata, selalu ada pihak yang sulit menerima kenyataan. Pasca kepala daerah setempat menyatakan melindungi kawasan hutan. Mendes meregang nyawa. Tubuhnya dikoyak pelor panas tepat dikediamannya. Dia dibunuh seperti kawankawan sebelumnya. Chocheiro berduka.

Tak ada perjuangan yang siasia. Tahun 1990 tertanggal 12 Maret, Pemerintahan Brazil menetapkan 2,5 juta are kawasan di sekitar sungai amazon sebagai hutan suaka yang dilindungi dari penebangan, pembakaran dan pembukaan lahan. Tempat itu bernama Suaka Alam Chico Mendes.

Syahdan, seperti mahluk bernyawa lain, Chico Mendes sudah dahulu berpulang. Tapi seperti yang diucapkannya, perlawanannya tidak berhenti. Selalu ada pekerjaan warisan bagi orang-orang setelahnya.

---

[1] Perkataan Chico Mendes kepada Wilson Pinheiro di kala bermain kartu di suatu bar (24:43). Dalam The Burning Season

Daftar bacaan
  1. Sosiologi Perubahan Sosial. Piotr Sztompka.2008
  2. Lubang Hitam Kebudayaan. Hikmat Budiman.2006
  3. Bergerak Bersama Rakyat. Suharsih dan Ign Mahendra.2007
  4. http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/14/10/07/nd2h0a19-revolusi-payung, diakses pada Senin 10 November 2014


-Disampaikan pada LK 2 BEM FIS UNM Mei 2019

17 Mei 2019

Puasa dan Kuasa


Friedrich Wilhelm Nietzsche  
Filsuf Jerman dan seorang ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kunopenyair dan komposer.  
Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme.
Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra).

PUASA adalah wahana manusia menjadi adimanusia. Cara manusia menyerupai sifat Tuhan: tidak makan dan tidak minum.

Itulah sebabnya puasa adalah ibadah yang tinggi derajatnya. Ia cara Tuhan mengajak manusia “merasakan” langsung dimensi ketuhanan. Caranya dengan memutus hubungan dari aktivitas yang mengikutkan hasrat libidinal manusia: makan, minum, seks, dengki, marah, dll. Ibarat Tuhan yang suci, melalui puasa, manusia diajak mensucikan dirinya dari godaan yang membuatnya ”kotor” dan hina.

Puasa juga merupakan ibadah personal. Berbeda dari salat misalnya, ibadah puasa tidak menampakkan langsung bentuk praktiknya. Salat ketika dilaksanakan memungkinkan banyak orang melihatnya. Sementara puasa, saking personalnya, selama ia dikerjakan dengan penuh komitmen, adalah rahasia  pelaku puasa dengan Tuhannya belaka.

Agama mengandung dua dimensi: eksoteris dan esoteris. Dimensi eksoteris agama adalah ”praktik” syariat yang dikerjakan manusia. Ia adalah aspek ”luaran” agama; tampakan lahiriah yang mewakili nilai agama melalui cara, model, bentuk, atau metode tertentu. Perbedaan tata cara menyembah tiap agama adalah contoh aspek ”luaran” yang  berpangkal dari pemahaman syariat yang berbeda-beda.

Kadang di suatu masjid ditemukan seseorang menangis ketika salat. Air matanya berlinang saat menundukkan kepalanya. Sehabis salat ia melanjutkan ibadahnya dengan berdoa. Sesekali ia sesenggukan masih menangis. Sementara tidak jauh dari tempatnya, jamaah yang lain nampak biasa-biasa saja melakukan salat. Jangankan bersedih, air mata yang mengalir di pipinya pun tak ada.

Dua orang di atas sama-sama melakukan rukun salat secara tertib. Dari takbir hingga mengucapkan salam. Namun hanya seseorang yang menangis dalam salatnya. Si abid yang menangis ini sedang “menghayati” pengalaman beribadahnya. Ia sedang merasakan dimensi “dalaman” salat. Tidak sekadar bergerak melaksanakan rukun salat, ia terhanyut di dalam spiritualitas salat. Jiwanya tergetar saking khusuknya. Orang yang menangis ini sesungguhnya sedang menyerap dimensi esoteris ibadah. Sementara jamaah yang sama sekali tidak menangis hanya bergerak di tataran eksoteris belaka.

Puasa karena tidak nampak pelaksanaannya—selain waktu menahan dan berbuka, bisa dilakukan dalam berbagai aktifitas. Puasa bisa dijalankan sambil bekerja di kantor, menarik becak, berjualan di pasar, atau sambil tidur-tiduran di rumah sekalipun. Bahkan puasa adalah ibadah yang unik karena bisa sekaligus dilaksanakan dalam ibadah lain. Sambil puasa seseorang masih dapat melaksanakan salat secara bersamaan. Berbeda misalnya, salat. Tidak mungkin pelaksanaan salat dirangkaikan sekaligus dengan ibadah haji.

Karena puasa adalah ibadah di dalam ibadah, ia sesungguhnya berkaitan erat dengan dimensi esoteris manusia. Tujuan puasa adalah penajaman dimensi kejiwaan manusia dari hasrat rendah ego. Selain menahan lapar dan dahaga, puasa melibatkan pengelolaan jiwa agar tidak terjebak ke dalam niat buruk dan jahat kebinatangan.

Tahun kedua Hijriah, di bulan Ramadan sepulang dari perang badar, Rasulullah mengingatkan para sahabat bahwa sesungguhnya mereka baru pulang dari perang kecil dan akan segera menghadapi perang besar. Sahabat yang heran bertanya: ”Perang besar apalagi yang akan kita hadapi, ya Rasulullah?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “jihaadun nafsi (perang melawan hawa nafsu).”

Melalui narasi filosofis Nietzsche, filolog asal Jerman, manusia didakukan sebagai mahluk yang memendam hasrat berkuasa. Kata Nietzsche, niat beragama, berbudaya, berekenomi, dan berpolitik adalah wujud dari kehendak manusia untuk berkuasa. Jika ada representasi moral dari tindak tanduk perilaku manusia, kata Nietzsche, itu hanyalah topeng dalam rangka menguasai.

Dalam arena keseharian, kekuasaan gamblang dipraktikkan sehari-hari. Terkadang hawa nafsu menjadi sumber produksi kekuasaan. Di medsos orang bebas berkuasa mengatakan apa saja. Hasratnya untuk menguasai pikiran netizen ditampakkan dari kerajinannya bersilat lidah. Tidak jarang lidahnya menyakiti lebih tajam dari sebilah pedang.

Di mal-mal, uang menjadi alat kekuasaan paling destruktif menciptakan hasrat berbelanja tingkat tinggi. Era sekarang era masyarakat konsumsi. Begitu pendakuan ahli ilmu-ilmu sosial. Berbelanja menjadi trend dan praktik sehari-hari. Banyak orang berkuasa demi membeli sebanyak mungkin barang-barang. Aku berbelanja maka aku ada. Demikian keyakinan masyarakat berbelanja.

Di ruang publik, banyak bermunculan kelompok-kelompok sosial melaksanakan aksi protes. Tidak jarang demi kekuasaan mereka menguasai jalan raya hingga menimbulkan kemacetan. Akhirnya di jalan raya kekuasaan kelompok massa mau tidak mau berhadapan dengan kekuasaan pihak kepolisian demi menciptakan ketertiban umum.

Di tingkatan elit politik, kekuasaan adalah magnet. Kekuasaan dibicarakan dan tidak jarang malah diperebutkan. Tidak segan-segan, bahkan banyak elit politik memanfaatkan kekuasaan demi mempertahankan posisi dan kepentingannya. Kekuasaan di tingkatan elit adalah jenis kekuasaan yang melibatkan banyak pihak. Itulah sebabnya, kekuasaan di tingkatan elit paling banyak menyedot perhatian.

Singkatnya kekuasaan ada di mana-mana. Ia tampil dalam berbagai bentuk dan motivasi. Namun seperti perkataan Rasulullah di atas, tiada kekuasaan yang paling besar untuk ditundukkan selain hawa nafsu. Hawa nafsu-lah cikal bakal seseorang diikat ambisi kekuasaan. Oleh sebab itu ramadan adalah momen yang tepat untuk mendidik hasrat manusia dari hawa nafsu berkuasa. Memutus mata rantai kepentingan dan kepongahan. Mendudukkannya kembali di bawah terang cahaya ilahi.

---

Telah terbit sebelumnya di Tribun Timur edisi 15 Mei 2019

12 Mei 2019

Ziarah


Ziarah adalah tanda etik manusia. Tanpa ziarah, manusia menjadi pribadi yang kehilangan hormat dengan dunia metafisikal tempatnya berasal.

Itulah sebabnya, berziarah juga sekaligus menjadi tanda "kenangan" bagi jiwa yang rindu kepulangan di kampung abadi. Ia tanda sehanif-hanifnya jiwa. Bahwa dunia hanyalah terminal persinggahan yang tidak perlu direspon berlebihan. Hiduplah seolah-olah kau akan mati esok. Begitu perkataan Rasulullah.

Sebelum dan sesudah ramadan, ziarah banyak dilakukan orang-orang untuk menandai dua bentuk kunjungannya: bersilaturahmi dengan sanak kerabat dan mengunjungi makam orang-orang yang telah mendahului ke alam kepulangan.

Ziarah yang pertama adalah wahana manusia mempererat hubungannya dengan sesama, sekaligus cara mempertebal ikatan intim dengan pribadi-pribadi yang hanya sesekali bertemu.

Zaman kiwari, saling menziarahi hanyalah pertemuan tanpa bekal kasih sayang. Kata Erich Fromm, di hati manusia modern memendam keinginan untuk "dicintai" tinimbang "mencintai". Mereka enggan "mencintai" lantaran enggan berbagi. Di jiwanya hanya diliputi keinginan untuk mendapatkan perhatian.

"Mencintai" sama halnya memberikan perhatian kasih sayang; sesuatu yang tak dimiliki manusia modern lantaran disedot ke-aku-an yang akut.

Lalu, bagaimanakah ziarah yang sepatutnya? Ziarah yang diperkuat asas cinta. Ziarah yang disebut silaturahmi.

Sebagaimana etimologinya, ziarah ini merupakan interaksi yang diperantai motif kasih sayang. Ibarat ikatan tali yang renggang, kasih sayang-lah yang mempererat ikatan yang aus karena jarang berjumpa dan jarang berkabar. Saling memberikan perhatian, dengan begitu merupakan obat bagi sakitnya suatu hubungan.

Silaturahmi karena itu disebutkan Nabi dapat memperpanjang umur. Jika kelak manusia mati, banyak orang-orang bakal mendoakannya. Doa-doa yang "naik" ke alam penantian menjadi bekal bagi ia yang telah berpulang. Semakin banyak ia bersilaturahmi, semakin banyak pula kemungkinan orang mendoakannya. Semakin panjang-lah umurnya.

Berziarah ke makam-makam adalah tanda orang beriman. Sering-seringlah mengunjungi makam orang yang telah wafat, itu akan mengingatkan jiwa kepada asalnya. Demikian pendakuan Rasulullah. Dengan begitu, manusia dapat sadar bahwa ia adalah mahluk yang dibekali batas di antara dua dunia.

Orang dengan iman, disebutkan dalam al-Qur'an ditandai dari kepercayaannya terhadap hari akhir. Hari yang dibatasi hanya melalui keberadaan makam-makam. Di baliknya, terdapat "dunia" nirbatas; dunia kekal nan abadi.

Dari sini, maka teranglah siapa itu manusia sebenarnya. Ia adalah mahluk kerdil yang sebenarnya mendamba kekekalan. Dan, ziarah adalah "memo" bagi kehidupan masa kini, bahwa yang disebut pertemuan sudah dengan pasti ada perpisahan.

Sesudah kehidupan, ada gerbang kematian menuju alam asali.

10 Mei 2019

Tubuh dan Puasa

Ali Syariati
Sosiolog dan Ideolog Revolusi Islam Iran 1979

TUBUH adalah kuburan jiwa. Begitu pendakuan filsuf Yunani purba, Platon, berabad-abad silam. Jiwa sebenarnya asali namun terperangkap tubuh. Itulah sebabnya jiwa mengalami tarik ulur antara kemauannya untuk ”terbang” dengan hasrat rendah badaniah. Tubuh membuat jiwa lupa asal usulnya. Begitu pula jiwa akhirnya kehilangan kebebasannya.

Tubuh seringkali dijadikan tersangka peradaban. Dia dipandang tidak mewakili ”diri” yang ingin merdeka. Tubuh sering dimejahijaukan karena selalu bertolak belakang dengan jiwa. Hanya jiwa-lah yang patut diapresiasi lantaran paling mengenal seluk beluk  sang ”diri”.

Saking rendahnya tubuh, sosiolog Islam Iran Ali Syariati, mengidentikannya dengan tanah lempung. Ia bukan sekadar tanah belaka, tapi tanah yang menyerupai lumpur. Manusia, kata Ali Syariati bisa melampaui tubuhnya jika mengedepankan sisi ruhaniyah yang ”ditiupkan” Tuhan kepadanya. Sebaliknya, tubuh akan sulit diatur seperti sulitnya lumpur menyerupai bentuk-bentuk tertentu, selama ia menjatuhkan dirinya di genangan tanah jelantah.

Kiwari tubuh dipaksa laiknya mesin. Ia dipajang bak komoditi. Tubuh bukan sekadar serat daging dan batang tulang sebagai kerangkanya. Melalui kapitalisme tubuh menjadi medium hasrat. Di atas catwalk, tubuh dikomodifikasi berdasarkan kriteria masa kini yang lebih langsing dan ramping. Di ujung pisau operasi tubuh dipotong, dibelah dan dipermak habis-habisan menghilangkan bentuk alami demi gengsi kecantikan. Di gym-gym, tubuh didaur ulang mengejar body goal hanya untuk merepresentasikan otot maskulin. Di atas layar TV, tubuh dikapitalisasi menjadi papan iklan membrending merek-merek dunia.

Selain menjadi arena produksi dan promosi, di alam keseharian, masyarakat memperagakan praktik tubuh sebagai medan konsumsi. Sehari-hari tubuh diseret memenuhi insting biologisnya melalui praktik konsumsi tingkat tinggi. Praktik demikian dapat dikembalikkan kepada tindakan paling remeh tapi serius bagi masyarakat: berbelanja dan makan.

Berbelanja dan makan adalah ciri masyarakat modern. Demi menunjang dua aktifitas ini, tubuh dimanjakan melalui kehadiran ruang eksterior megah berupa pusat-pusat perbelanjaan. Di etalase dan restoran siap saji, tubuh diringsek untuk mengakomodir hasrat konsumtif masyarakat modern. Tubuh kemudian dipaksa menjelajahi eksterioritas  semesta komoditas demi melampiaskan hasrat konsumtifnya. Di waktu-waktu kemudian, berlahan-lahan tubuh kehilangan fungsi geraknya.  Ia mengalami obesitas dan lamban.

Makan dan berbelanja, dengan demikian, bukan lagi didorong hanya  sekadar pemenuhan kebutuhan biologis belaka, melainkan telah menjadi penanda status sosial seseorang. Semakin giat seseorang berbelanja dan makan di tempat-tempat siap saji, semakin tinggi seseorang mengisi kekosongan slot kelas sosial tertentu. Sebaliknya, semakin jarang seseorang berbelanja dan mengonsumsi makanan siap saji, semakin ia dipandang remeh dan receh oleh masyarakat.

Al-Qur'an memiliki narasi khas tentang tubuh. Tubuh dilihat dari lapisan terdalamnya berupa insan, nas, dan basyar sebagai kulit terluarnya. Tubuh, melalui tiga lapis narasi Quranik ini berbeda-beda dari segi makna dan tujuannya.

Insan adalah lapisan paling dalam menarasikan tubuh. Ia adalah sisi subtantif yang mengakomodasi dinamika transendental manusia berupa kemampuan intelektual dan merasanya. Insan adalah pribadi yang unik. Tubuh dari sisi insan, tidak bisa disamakan walaupun diperhadapkan kepada dua anak kembar sekalipun.

Nas sering dipakai al-Qur'an untuk menunjuk tubuh sosial manusia. Nas adalah kualifikasi interaktif tubuh ketika berhubungan dengan sejarah dan kebudayaannya. Ia bakal langgeng ketika tubuh mengalami ”perbauran” dan ”persatuan” bersama tubuh lain di masyarakat. Tubuh sosial dengan kata lain adalah pribadi yang tak dapat berdiri sendiri tanpa berhubungan dengan tubuh lainnya.

Sementara basyar adalah unsur fisikalitas manusia. Tanpa unsur ini, tubuh tidak mungkin tersusun berdasarkan urutan dan fungsi biologisnya. Basyar merupakan kulit paling terdepan manusia yang membentuk anatomi khusus dari organ-organ pembentuknya. Basyar sering dirujuk al-Qur'an ketika menarasikan tubuh yang berkaitan dengan perkembangan dan kebutuhan biologisnya.

Kiwari eksploitasi tubuh menemukan momentum pembebasan melalui ritual puasa. Selama tiga puluh hari lamanya, tubuh akan ditempatkan kepada kedudukannya yang lebih agung melalui latihan spiritual yang mendidik dirinya. Tubuh akan dibawa kepada proses sakralisasi dengan menahan hasrat yang dikandung dalam dirinya. Di bawah madrasah puasa, tubuh insan, nas, dan basyar dididik kembali untuk ”mengingat” fungsi dan tujuannya.

Jika selama ini tubuh-basyar mengalami obesitas akibat terlalu banyak mengonsumsi barang-barang, tubuh-nas terlalu ringkih akibat keegoisan memutus kekerabatan, dan tubuh-insan yang ”kering” karena terpenjara tujuan rendah duniawi, maka puasa-lah arena pembebasannya. Dengan puasa tubuh diidealisasi melalui sejumlah aturan menahan dahaga lapar dan kerakusan agar ia kembali bersih.

Tubuh selama puasa, dengan begitu akan mengalami transformasi secara fisik maupun spiritual. Karena gemuk, ringkih, dan kering, tubuh akan digembleng habis-habisan demi mencapai kemerdekaannya di hari raya nanti. Di waktu itu tiba, tidak ada lagi tubuh yang bakal memenuhi obsesi pasar, kecantikan, dan body goal versi mesin hasrat ekonomi dan life style. Tidak ada lagi tubuh kuburan bagi jiwa. Tubuh seperti juga jiwa akan sama-sama menyambut kemenangan yang fitri.


09 Mei 2019

Menadaburi Perjalanan Cinta


Identitas buku:
Judul: Perjalanan Cinta
Penulis: Abdul Rasyid Idris
Penerbit: Liblitera
Tahun: Januari 2019
Tebal halaman: 302 Halaman
Nomor ISBN: 978-602-6646-19-4

BUKU Perjalanan Cinta dibuka dengan secuplik figur Maemunah. Seorang ibu penjaja warung makanan kecil-kecilan di sebuah kota kecil Sulawesi Utara. Esai ini tidak berbicara banyak selain dari kebajikan Ibu Maemunah yang berhasil “dipungut” dari sekian banyak kisah-kisah inspiratif nan menggugah tentang kebaikan yang dilakoni “orang-orang kecil”.

Di esai ini kesimpulannya cukup sederhana, tapi mahal harganya: apa pun lakon Anda, bekerjalah dengan jujur, ikhlas, dan senantiasa berpikir positif. “Insya Allah, hidup kita akan mabarakka‘ (berkah)” ungkap Maemunah di esai berjudul Bunda Maemunah itu.

Itu kisah Ibu Maemunah, yang “dicuplik” Abdul Rasyid Idris, penulis buku ini. Di esai ke-42 penulis menulis kisah lain: kisah hari Paskah.

Paskah, judul esai ini, menangkap fenomena toleransi di sebuah kota yang tidak jauh dari Gorontalo. Di Festival Paskah itu, penulis menyatakan diri kaget, fenomena yang disaksikannya itu beranggotakan panitia inti yang berkeyakinan muslim. Bagaimana mungkin perayaan Hari Paskah, berpanitiakan perempuan-perempuan muslim? Bukankah semestinya setiap hari besar agama-agama umumnya hanya digelar oleh pemeluknya sendiri? Itukah yang disebut toleransi?

Di halaman 54 Abdul Rasyid, menulis kisah seorang office boy –yang sebenarnya seorang perempuan– yang bekerja sambil menjual penganan melalui lapakan yang ia gelar begitu saja. Bagi pegawai-pegawai tempat office boy itu bekerja, untuk membeli jajalan penganan tinggal ambil kemudian pergi tanpa berinteraksi dengan si penjualnya. Bagaimana cara mereka membayar? Disebutkan, sepulang bekerja baru para pembeli membayar satu-satu penganan yang sudah sebelumnya diambil. Ketika ditanya apakah tidak tekor cara bayar seperti itu? “Tidak bahkan selalu lebih karena di antara pencicip itu ada yang sengaja melebihkan pembayarannya”. Di esai ini, penulis menangkap suatu hal yang istimewa: “Ibu Office Boy itu memulai suatu usaha kecil-kecilan dengan prasangka baik dan ketulusan…”

Tiga kisah di atas adalah kisah orang-orang di “pedalaman” keseharian. Kisah tentang fenomena dalam arti sesungguhnya, yang sering kali jarang ditangkap sebagai suatu pengertian, atau pembelajaran bagi kita. Kisah-kisah kecil yang memiliki daya gugat demikian besar bagi pengalaman hidup bersama yang seringkali diabaikan.

Di buku ini, kisah-kisah demikian ditulis dengan sederhana, langsung, dan lugas oleh penulis tanpa bermaksud membesar-besarkan peristiwa yang dialaminya.

Peristiwa di atas hanyalah contoh bagaimana penulis merasa peka dengan gejala keseharian, yang dengan sendirinya membuat tulisan-tulisannya cukup dekat dengan imajinasi pembaca. Bukannya memilih peristiwa-peristiwa yang sedang trend dan banyak dibicarakan orang, sebagian besar esai-esai buku ini lebih menekankan kepada sejumlah kejadian yang lebih sosiologis ketimbang politis–tema tulisan yang paling banyak mengemuka belakangan ini.

Proses kreatif Perjalanan Cinta dikembangkan penulis dari persentuhannya dengan berbagai tempat yang dikunjunginya. Sembari bekerja sebagai konsultan CSR di penjuru pulau Sulawesi dan beberapa kali ke luar Sulawesi, tidak lupa penulis mengisahkan pengalamannya melalui narasi-narasi deskriptif, dan tidak jarang merefleksikan pengalamannya ke dalam suatu tilikan yang semi ilmiah.

Walaupun nampak sederhana, dan ditulis a la travel writing, langsung maupun tidak, tidak sedikit tulisan di buku ini menyuguhkan ulasan-ulasan yang bersifat etnografik, historis, dan bahkan religius.

Perjalanan Cinta, dengan kata lain, karena ditulis menyerupai travel writing, membuka peluang dirinya dapat berbicara banyak hal. Satu hal yang dapat dikatakan kekuatan sekaligus kelemahan buku ini.

Sebagai seorang yang melakukan perjalanan, interaksi adalah ihwal penting untuk menemukan informasi berkaitan suatu tempat, entah sejarahnya, budayanya, ekonominya, dan sebagainya, yang sayangnya tidak menjadi perangkat investigasi dalam sebagian besar esai buku ini.

Hal di atas cukup elementer mengingat nuansa esai ini menyandarkan dirinya pada “perjalanan” sebagai kekuatannya, yang notabene ibarat pelancong yang ingin banyak tahu setiap tempat yang dikunjunginya. Walaupun demikian, kekurangan ini cukup tertutupi melalui bagian-bagian reflektif-kritis yang dihasilkan melalui penjarakan penulis dengan peristiwa yang melingkupinya.

Apabila melihat isi buku ini melalui temanya, nampak jelas “aliran” buku ini sesuai dengan di mana sang penulis berada. Kadang suatu waktu di warung kopi, di pedalaman desa, surau masjid, di kamar tidur, kampus, coffee shop, gedung kesenian, mall, toko buku, dll, yang semuanya sengaja ataupun tidak memberikan insight bagi penulis untuk menggerakkan penanya.

Namun, jika dikembalikan kepada simpul apa yang dapat mengikat beragam tema di buku ini, rasanya sulit untuk dilakukan. Perjalanan Cinta jika disebut tema utama, rupanya hanya dua judul di antara esai-esai di buku ini.

Ketimbang mengambil tema umum yang mampu mengcover keseluruhan esai di buku ini, Perjalanan Cinta lebih tepat diartikan sebagai catatan yang merefleksikan pekerjaan penulis dari pada bagian proses kreatif untuk melahirkan tulisan-tulisan buku ini.

Di sisi ini, muncul pertanyaan mendasar atas buku ini? Yang mana paling menentukan, apakah ide/obsesi tulisan-tulisan yang lahir dari “perjalanan” pekerjaan penulis, ataukah profesi penulis itu sendiri yang kebetulan memberikan akses yang luas untuk mengenyam banyak perjumpaan di keberbagaian fenomena yang ditemuinya.

Dengan kata lain, jika sang penulis tidak melakukan tanggung jawab pekerjaannya di daerah-daerah, apakah akan melahirkan buku ini?

Sejumlah polemik ini, dengan sendirinya akan menggugat beberapa hal semisal seberapa lapang-kah “intuisi” kepenulisan penulis jika sebelumnya tidak mengikuti rutinitas tanggung jawab profesinya? Bukankah intuisi kepenulisan tidak mesti terkondisikan dengan faktor-faktor yang telah menjadi rutin seperti misalnya pekerjaan? Lalu, seberapa reflektifkah tulisan-tulisan yang dilahirkan dari kejar-kejaran rutinitas tanggung jawab pekerjaan. Pertanyaan ini akan lebih mudah dijawab jika tidak ada dualisme dari sisi diri penulis itu sendiri, apakah penulis adalah konsultan yang “nyambi” sebagai penulis, atau penulis adalah penulis yang kerja satu-satunya hanyalah menulis?

Terlepas dari itu, buku ini justru menjadi bukti kekuatan kreatif penulis. Di sela-sela tanggung jawab pekerjaannya, dapat menarasikan sejumlah pengalamannya ke dalam kertas putih. Di sinilah unsur subjektivitas penulis mengambil peran lebih jauh “membunyikan” sejumlah peristiwa yang sama-sama banyak dialami orang-orang. Setiap orang dapat menjalani satu peristiwa yang sama, tapi tidak semua dapat “mengabadikannya” melalui proses kreatif kerja-kerja kepenulisan.

Syahdan, buku ini alih-alih bukan berupa esai-esai yang membuat pembaca menemukan kebaruan sudut pandang dan sejumlah proposisi yang memantik sejumlah pertanyaan di benak pembaca, melainkan lebih menjadi tulisan yang bisa membuat pembaca merasakan pengalaman penulis ketika mengunjungi suatu tempat. Dari aspek ini, tulisan demikian cukup berhasil menghidupkan indera (dan juga imajinasi) pembaca walaupun tidak sedang mempersepsi langsung objek di hadapannya.

Terakhir, melalui bahasanya yang mudah dan tidak bertele-tele, buku ini cocok dibaca siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

---

Telah terbit di kalaliterasi.com

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...