15 Maret 2019

Kekerasan Seksual dalam Bayang-Bayang Era 4.0: Refleksi melalui Perempuan di Titik Nol Nawal el Saadawi


Judul : Perempuan Di Titik Nol

Penulis: Nawal El Saadawi

Penerjemah: Amir Sutaarga

Penerbit:Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Edisi: Pertama,  Juni 2010

Tebal: xiv+156 halaman

ISBN: 978-979-461-040-4





PEREMPUAN di Titik Nol adalah pernyataan yang muram sekaligus melecehkan. Dia menunjuk kepada pengertian nihilnya nilai perempuan di mata dunia patriarki, atau malah apa pun dilakukannya tidak mendapatkan pengakuan layak. Setiap pencapaian kaum perempuan tidak membuatnya mendapatkan bobot berisi. Apa pun itu ia diwakilkan dari angka nol. Secara matematis berapa pun nilai yang dikalikan kepadanya tidak akan mengubah jumlah maupun hasilnya.

Nilai matematis ini berlaku pula di ranah yang lain. Dia ditundukkan secara kultural, didomestifikasi secara sosial, dan direndahkan secara ekonomi. Bahkan dalam beberapa pandangan agama, perempuan hanyalah makhluk leceh derivat laki-laki.

Firdaus adalah sosok yang mewakili betapa perempuan di hampir setiap inci keberadaannya menjadi objek kekuasaan kaum laki-laki. Dengan gamblang, Nawal el Saadawi menceritakannya dengan cara biografis perjalanan hidup seorang Firdaus dari masa ke masa. Bagaimana ia hidup menjadi makhluk yang hampir diabaikan dan hanya sekadar pelengkap bagi kebutuhan biologis laki-laki.

Plot Perempuan di Titik Nol terbilang tidak rumit. Ia berkisah tentang Firdaus, seorang tahanan perempuan bekas pembunuh yang menceritakan latar belakang kehidupannya kepada seorang psikiater. Uniknya kisah kehidupan yang ia ceritakan tidak lama sebelum ketetapan hukuman mati yang tinggal beberapa hari akan ia alami. Belakangan diketahui, Firdaus dengan ketetapan jiwa yang bulat tidak sekalipun bergeming terhadap eksekusi yang akan diberlakukan kepadanya.

Tidak seindah namanya

Tidak seperti arti namanya, hidup Firdaus jauh dari pernak pernik surga. Kasat namanya bukan menjadi doa bagi dirinya.

Firdaus dilahirkan di dalam keluarga miskin Mesir. Bapaknya seorang petani buta huruf, tapi sekaligus muslim taat. Di keluarganya, Firdaus diberlakukan laiknya babu. Ketika bapaknya pergi beribadah, Firdaus harus berjalan jauh mengambil air dengan kendi di atas kepala ditopang leher mungilnya. Ketika bapaknya berkumpul mendengarkan khotbah, Firdaus mesti pergi di ladang memberikan makan ternak-ternaknya.

Firdaus bukanlah anak satu-satunya. Ia memiliki banyak saudara—tidak disebutkan berapa jumlahnya. Yang menarik dari keluarganya adalah kebiasaan patriarkat Arab jahiliah yang masih berlaku dalam keluarga Firdaus.

Ayah Firdaus memiliki sikap berbeda berkaitan dengan, misalnya, kematian anak-anaknya. Jika anak perempuannya mangkat, tidak ada perbedaan sama sekali ketika masih hidup atau tidak. Tanpa merasa kehilangan, di waktu makan, ia akan mengambil jatah makanan anak perempuannya yang sudah lebih dahulu meninggal.

Perbedaan mencolok ketika ada anak lelakinya yang meninggal. Ayah Firdaus akan melampiaskan kekesalannya dengan cara memukul istrinya dan tidak lama ia pergi makan dan kemudian tertidur. 

Secara psikis dan kebudayaan, perbedaan sikap ayah Firdaus ketika kehilangan anak-anaknya adalah ciri-ciri masyarakat patriarkat. Anak perempuan—seperti zaman Arab jahiliah—adalah simbol dekadensi. Keluarga yang memiliki anak perempuan tidak layak diberikan penghargaan sosial. Sementara anak laki-laki adalah simbol kekuatan, simbol maskulinitas yang menandai jalur regenerasi biologis maupun sosial.

Kelak kita bisa melihat, kebiasaan patriarkat dalam kelurga Firdaus juga menjadi sistem kebudayaan masyarakatnya. Secara dialektis, kedua sisi ini saling memengaruhi—struktur masyarakat memengaruhi struktur keluarga, begitu sebaliknya.

Singkatnya, Firdaus kecil besar di tengah keluarga muslim konservatif yang mendudukkan perempuan sebagai makhluk pekerja tanpa ada hak-hak selain dari mengikuti adat kebiasaan keluarga dan masyarakatnya.

Tidak lama setelah Firdaus disunat—kebiasaan khas masyarakat muslim konservatif—di tengah ladang penuh tanaman jagung, kali pertamanya ia mendapatkan perlakuan senonoh. Walaupun Nawal menulisnya dengan cara metafor, tetap saja itu menunjuk kepada makna yang sulit diterima:

”Muhammadain biasanya mencubit saya dari bawah dan mengikuti saya ke sebuah teratak kecil yang terbuat dari batang-batang pohon jagung. Ia menyuruh saya tiduran di atas tumpukan jerami, dan mengangkat galabeya saya. Kami bermain-main menjadi ”pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.” Dari bagian tertentu tubuh saya, di bagian mana saya tidak tahu dengan pasti, timbul suatu perasaan nikmat luar biasa.” (hal.19)

Dengan gaya semacam ini, Nawal secara tidak langsung memperlihatkan rentannya perempuan mendapatkan perlakuan pelecehan walaupun berada di lingkungan terdekatnya. Firdaus yang di bagian ini masih kanak-kanak, bukan jaminan tidak akan menjadi sasaran perlakuan demikian. Justru di waktu inilah, seringkali kepolosan anak-anak dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab ketika melakukan kekerasan—Mohammadain diceritakan teman bermain Firdaus.

Kekerasan seksual macam ini karena dilakukan kepada anak-anak sangat berisiko kepada perkembangan kejiwaannya. Anak-anak akan mengalami gangguan traumatik, depresi, disasosiasi, hilang kepercayaan dirinya, dan surut dari perolehan prestasi. Ia berubah menjadi anak yang pemurung dan hancur masa depannya. Suatu hal yang nanti akan juga dialami Firdaus di masa dewasanya.

Perlakuan sama tapi memperlihatkan relasi yang lebih timpang ditunjukkan juga dari paman firdaus. Kekejaman atas kepolosan Firdaus yang dilakukan pamannya memanfaatkan dua modalitas kekuasaan yang secara sekaligus menjadi sebab Firdaus tidak dapat melawan.

Pertama, paman Firdaus adalah seorang terdidik. Ia seorang mahasiswa yang mengambil jurusan agama di Universitas Al Azhar. Kedua, dari segi umur, paman Firdaus jauh di atas usianya yang saat itu memasuki masa remaja.

Modalitas pengetahuan yang dimiliki paman Firdaus dengan sendirinya mengukuhkannya sebagai sosok yang superior dibanding Firdaus, yang saat itu disekolahkan setara SMP. Diceritakan tindak kekerasan seksual pamannya seringkali dilakukan ketika ia membaca buku.

Sembari melakukan aktivitas membaca tangannya bergerayangan bebas di tubuh Firdaus. Coba saksikan bagaimana Nawal menceritakannya:

Galabeya saya acapkali menggelosor sehingga paha saya terbuka, tetapi tidak saya perhatikan, sampai pada suatu saat saya melihat tangan paman saya pelan-pelan bergerak dari balik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya. Saat berikutnya saya dapat merasakan tangan itu menjelajahi kaki saya sampai paha dengan gerakan yang gemetaran dan sangat berhat-hati. Setiap kali terdengar suara langkah kaki orang di pintu rumah kami, tangannya akan segera ditarik kembali.” (hal.20)

Tidak ada yang ditutup-tutupi dari cara Nawal mengisahkannya. Walaupun terkesan sangat terbuka, dari narasi ini Nawal justru menunjukkan bagaimana reka kejadian ketika kekerasan seksual dilakukan oleh pihak paling dekat, dan dalam keadaan sembunyi-sembunyi.

Walaupun ini dasarnya fiktif, tapi tidak tertutup kemungkinan adegan di atas banyak terjadi di ruang domestik masyarakat.

Apabila pengamatan sedikit lebih jeli, narasi di atas menempatkan Firdaus sebagai objek kekerasan yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Tubuhnya—yang sebenarnya adalah milik mutlaknya—menjadi sasaran kekerasan karena dua sebab.

Pertama karena ia dipandang sebagai objek dari relasi kekuasaan yang mendudukkan perempuan sebagai makhluk pasif dan dipasifkan. Ini dapat ditelusuri dari posisi Firdaus di dalam struktur kekuasaan keluarganya. Sebagai keponakan, ia hanyalah anak yang ditundukkan untuk melayani sang paman, orang tempat ia menaruh hormatnya.

Kedua, dari sisi pengetahuan, paman Firdaus memiliki kekuasaan untuk melakukan apa saja. Relasi pengetahuan ini pula yang membuat Firdaus tidak mampu berbuat apa-apa. Nampak dalam narasi, bahkan sembari membaca buku, Firdaus mendapatkan pelecehan dengan cara yang tidak diduga-duga.

Nawal, dalam adegan ini kontras menyandingkan tindakan intelektual berupa membaca buku dengan aktivitas pelecehan seksual. Adegan yang demikian ambivalen membuat pembaca menemukan kesan bahwa seterdidik-didiknya kaum laki-laki, tetap saja ada potensi berbuat senonoh. Ilmu pengetahuan tidak selamanya mewakili sisi etis manusia.

Perkawinan paksa dan kekerasan dalam rumah tangga

Kekerasan yang dialami Firdaus tidak behenti sampai di situ. Diceritakan semakin ia dewasa Firdaus dipandang menjadi beban keluarga pamannya. Untuk mengatasi itu atas usulan istri pamannya, Firdaus dikawinkan dengan seorang syekh yang belum lama menduda.

Pertimbangan ini diambil setidaknya dengan dua hal: pertama seperti disebutkan, eksistensi Firdaus ikut membebani kas keluarga pamannya, sehingga dengan jalan dikawinkan maka dengan sendirinya akan meringankan keadaan ekonomi keluarga bersangkutan.

Kedua, dengan dasar kebutuhan biologis, sang syekh yang kebetulan adalah paman dari istri paman Firdaus, membutuhkan seorang pendamping menggantikan istrinya yang belum lama wafat.

Keberadaan Firdaus di sisi syekh setidaknya dipandang sebagai cara menyelamatkan masa depan Firdaus dengan jaminan biaya sekolah otomatis akan ditanggung suami barunya.

Sebagaimana perkawinan paksa, kehidupan rumah tangga Firdaus tidaklah terjamin walaupun bersuamikan seorang pemuka agama. Dari kisah ini kekerasan seksual berupa kawin paksa sekaligus pernikahan di bawah umur sangat rentan menempatkan Firdaus di dalam posisi yang sulit.

Setidaknya dari yang diceritakan Nawal, Firdaus mengalami kekerasan seksual dari tiga domain sekaligus. Yang pertama adalah Firdaus sebagai seorang istri. Dalam konteks masyarakat patriarki yang kuat, perempuan dalam kehidupan rumah tangga sering diposisikan subordinat dari kehendak suami. Dalam wilayah domestiknya, istri adalah kaum lemah yang hanya beraktivitas tidak jauh dari tiga titik koordinat: kasur, dapur, dan sumur.

Kedua, walaupun tersirat, posisi suami Firdaus sebagai seorang syekh mengindikasikan perlakuan diskriminatif berupa tindakan kekerasan kepada Firdaus disinyalir berasal dari pemahaman agama konservatif yang dianut suaminya.

Tidak jarang, akibat pemahaman agama yang misoginis serta tidak berwawasan gender, perempuan hanya dinilai tidak lebih sebagai objek syariat sang suami. Dengan kata lain, dalam kasus Firdaus, ia menjadi korban dari cara memahami agama yang salah.

Untuk yang ketiga, sama halnya dengan posisi Firdaus dengan pamannya, karena rentang usia yang jauh dengan suaminya, Firdaus menjadi bulan-bulanan kekerasan hanya karena otoritas umur suaminya. Di sini sang suami bukan saja berperan sebagai pasangan Firdaus yang sudah pasti memiliki hak atas Firdaus, tapi bisa saja ia mengambil sebagai posisi orang tua dengan maksud memiliki kewenangan penuh untuk melegitimasi tindakannya.  

Sepanjang jalan cerita Perempuan di Titik Nol, banyak kekerasan seksual yang dialami Firdaus.[1] Yang paling mencolok dari sebab kekerasan terjadi karena konteks kebudayaan masyarakat yang tidak adil menempatkan posisi perempuan dalam lingkungan sosialnya.

Selain itu, lingkungan keluarga yang menganut pahaman agama konservatif turut mengukuhkan ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Perlu juga digaribawahi, terutama ketika Firdaus memilih untuk menjadi pelacur, dari sini kemudian ditemukan banyaknya profesi mulia di mata masyarakat malah ikut melanggengkan pandangan patriarkat dengan cara menyewa jasa perempuan panggilan.

Firdaus di sekitar kita

Sekarang mari kita mengumpulkan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di sekitar kita. Di bagian ini setidaknya ada tiga peristiwa yang patut diberikan perhatian khusus: pertama, kasus perkosaan yang menimpa Agni (nama samaran), seorang mahasiswi FISIP UGM di saat ia menjalani KKN di Pulau Seram, Maluku.[2] Kasus ini dinyatakan damai setelah melewati proses yang berbelit-belit.[3]

Kedua yaitu kasus pelecehan seksual yang menimpa Rizki Amelia seorang mantan staf di Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan oleh atasannya yang juga orang penting di tempat kerjanya.[4] Dan yang ketiga adalah kasus pelecehan seksual yang terjadi di Mataram: Baiq Nuril, seorang guru SMA yang menjadi korban dari perlakuan cabul kepala sekolah tempatnya bekerja. Kasus ini berakhir menggelisahkan karena Baiq Nuril selaku korban justru dijerat hukuman penjara lantaran melanggar undang-undang ITE.[5]

Apabila mendalami kasus-kasus di atas—yang hanya berupa puncak gunung es—perempuan senantiasa lebih awal distigmakan lemah dalam posisi sosialnya. Apalagi para penyintas di atas senantiasa berada pada posisi yang paling dirugikan dalam relasi kekuasaan.

Kasus yang menimpa Agni misalnya, karena ia berposisi sebagai mahasiswa yang menjadi kelas paling bawah dalam hirarki kekuasaan birokrasi kampus, belakangan mendapatkan perlakuan tidak adil dari petinggi kampusnya yang seharusnya membelanya sebagai korban. Dari laporan pemberitaan, demi menjaga nama baik kampus, pihak internal kampus nampak setengah-setengah mengusut kasus yang menimpa mahasiswanya ini. Sampai akhirnya kasus ini berakhir ”damai” setelah pihak kampus melakukan ”pendekatan” dengan korban.

Untuk kasus Rizki Amelia, setelah melihat kronologis kejadiannya, pelaku eksploitasi seksual yang dalam hal ini bernama Syafri Adnan Baharuddin, senantiasa memanfaatkan situasi kerja dalam melakukan modus kejahatannya. Pelaku dengan sengaja memanfaatkan otoritasnya sebagai atasan untuk mengintimidasi korban. Penyalahgunaan wewenang ini akhirnya membuat korban tidak mampu berbuat apa-apa karena terkait relasi kerja dan pendapatan ekonomi yang bergantung dari otoritas pelaku itu sendiri.

Posisi sosial yang tidak setara ini juga menjadi peluang berlakunya kekerasan Baiq Nuril. Di dalam lingkungan kerjanya sendiri, tempat yang semestinya menjadi arena profesionalitas, disalahgunakan pelaku yang dalam hal ini adalah kepala sekolah tempat Baiq Nuril mengajar.

Sebagaimana pandangan kebudayaan dominan, perempuan sebagai makhluk kelas dua juga berlaku dalam lingkungan kerja. Inilah sebabnya mengapa masih banyak ditemukan kasus pelecehan seksual terhadap perempuan terjadi dalam lingkungan kerja.[6]

Menurut catatan Komnas Perempuan kasus kekerasan seksual dari tahun ke tahun semakin bertambah. Di tahun 2017 saja Komnas Perempuan berhasil mencatat sebanyak 348.446 kasus dibanding dua tahun sebelumnya (2016 sebanyak 259.150 kasus dan 2015 sebanyak 321. 752 kasus). Perlu dicatat perubahan angka ini bukan berarti semakin meningkatnya kasus kekerasan seksual terjadi, melainkan semakin banyaknya para penyintas yang berani melaporkan kekerasan seksualnya yang menimpanya. Dengan kata lain, angka-angka ini hanyalah fenomena yang berhasil masuk pendataan dibanding kejahatan yang terjadi di lapangan yang sebenarnya.

Berdasarkan Catatan Tahunan 2018, dari 13.384 data yang masuk ke Komnas Perempuan dari 237 lembaga mitra pengada layanan, 71% kekerasan terhadap perempuan terjadi di ranah privat, dan 31%-nya berupa kekerasan seksual. Sementara itu, dari 26% kekerasan yang terjadi di ranah publik/komunitas, sebanyak 76% berbentuk kekerasan seksual.[7]

Catatan ini demikian kontras dari para penyintas yakni Agni, Rizki, dan Baiq Nuril, yang mengalami kekerasan seksual di ranah publik. Ini menandai bahwa betapa pun ada kecenderungan para penyintas yang sudah berani bersuara, namun belum cukup untuk menjadi deteksi betapa banyaknya kasus kekerasan yang terjadi di ranah privat. Catatan ini juga mengarahkan kepada betapa pentingnya perbaikan di lingkungan privat untuk menjamin eksistensi perempuan dari tindak kekerasan seksual.

Akhirnya, meninjau kembali bagaimana figur Firdaus yang dari lingkungan keluarganya sudah mengalami kekerasan seksual, memberikan catatan bahwa sering kali para pelaku tindakan kekerasan seksual bisa datang dari lingkungan paling dekat dari korban. Banyak kasus memberikan gambaran bahwa tindakan demikian banyak dialami dan dilakukan oleh keluarga sendiri.

Untuk cerita yang ditulis Nawal, karena tidak mendapatkan penanganan yang tepat, Firdaus malah menceburkan diri ke dalam dunia hitam. Ini juga yang sebenarnya mesti diperhatikan, seringkali banyak penanganan kasus tidak berpihak kepada si korban—liha kasus Agni—sehingga seringkali para penyintas karena dipaksa menerima jalur damai dengan pertimbangan menjaga asas kekeluargaan dan norma masyarakat, tidak sama sekali mendapatkan perlakuan adil.

Lalu apa hubungannya dengan Era 4.0?

Setelah beberapa pembahasan, pertanyaan yang sudah dari awal ditunjukkan dari judul di atas adalah, apa hubungan kekerasan seksual dengan era 4.0? Bagaimanakah nasib perempuan di masa revolusi ke empat seperti sekarang ini? Apakah ada hubungan langsung antara perubahan-perubahan dalam bidang teknologi industri dengan keberadaan kaum perempuan? Apakah ada jaminan kemajuan zaman kiwari membuat perempuan mendapatkan posisi setara dengan laki-laki? Apakah dengan memasuki era 4.0 membuat tindak kekerasan seksual dapat dicegah atau diminimalisir? Pertanyaan-pertanyan sejenis akan demikian panjang jika tidak segera dijawab satu persatu.

Era 4.0 adalah era kecepatan dan percepatan global. Meminjam istilah Yasraf Amir Piliang, kecepatan dan percepatan global telah menjadi paradigma sosial, politik, ekonomi, budaya, dan kehidupan kontemporer. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komputasi, era 4.0 juga menandai terjadinya migrasi besar-besaran dari budaya visual menuju budaya virtual yang mengikuti digitalisasi di semua lini kehidupan sebagai bagian pembuka dari era ini. Artificial intelligence,  big  data,  robotik,  internet,  mobil  tanpa  pengendara,  drone,  pencetakan  3-D, nanoteknologi, bioteknologi, ilmu material, penyimpanan energi  serta  komputasi  kuantum adalah fenomena kian akrab yang menjadi ciri era 4.0.[8]

Akhirnya, dengan adanya pengintergrasian operasi berskala besar yang terkoneksi melalui jaringan internet super cepat akan membuat segalanya menjadi lebih efisien dan efektif. Dunia seperti pendakuan Yasraf Amir Piliang, dunia akan semakin kecil. Sebuah dunia yang dilipat.

Dalam berbagai istilah ciri-ciri era 4.0 dapat dipadankan dengan konsep sosiologis yang diprakarsai beberapa kritikus ideologi. Ontologi citra (Martin Heidegger), pemampatan ruang-waktu (David Harvey), imagologi (Jean Baudrillard), cyberspace (Wertheim), McDonaldisasi dunia (George Ritzer), dunia tunggang langgang (Antony Giddens) dan Dromologi (Paul Virilio). [9] Semua perspektif ini memiliki substansi yang nyaris sama, yakni menunjuk kepada tiga pengertian utama:

Pertama adalah dunia kiwari sedang mengalami penyempitan dan pemadatan dari segi ruang dan waktu. Pandangan ini mendudukkan asumsinya kepada kehadiran media informasi digital yang menjadi sebab utama terjadinya perubahan batas-batas secara material, kultural, dan imajinal dari era sebelumnya. Perubahan ini juga kemudian ikut mengubah pola pikir dan pola perilaku masyarakat yang mengadaptasikan modus dan motifnya berdasarkan logika kecepatan. Dunia bagaikan juggernaut (kucing besar) adalah metafora Giddens dalam menggambarkan fenomena ini.

Kedua, pengaruh media internet berbasis layar secara ontologis mengubah pemahaman masyarakat mengenai realitas real. Realitas di era sekarang bukan sekadar kehadiran fisik-material yang berada dalam dimensi ruang dan waktu secara konkrit, melainkan berubah dan diwakili di dalam dunia maya. Dalam dunia virtual ini, realitas diri dan realitas lainnya beralih eksistensi dari dimensi ontologis material menjadi realitas yang berbasis virtual.[10]

Ketiga, kehadiran dunia virtual menyebabkan kehadiran tatanan dunia baru. Jika sebelumnya masyarakat real dikatakan sebagai penduduk yang menghuni suatu kawasan tertentu, maka dalam dunia virtual terbentuk komunitas masyarakat baru yang tidak terikat lagi secara teritori. Meminjam istilah George Ritzer, masyarakat dengan ciri yang kehilangan batas teritori dan kulturalnya disebut sebagai global vilage/desa global.

Disinyalir dari tiga kecenderungan ini bakal mendatangkan masalah yang jauh lebih kompleks dari era sebelumnya: kapitalisme lanjutan, globalisasi, konsumerisme, krisis lingkungan, perdagangan manusia, ekonomi virtual, simulakrum, neo-spiritualisme, dekonstruksionisme, politik identitas, super mall, LGBTQ, kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan, dlsb.

Terkait kekerasan seksual yang banyak dialami perempuan, di era 4.0 tidaklah banyak berubah. Pada kasus Baiq Nuril yang sempat diulas, justru dipidanakan kembali dengan UU ITE yang sarat dengan dimensi teknologi yang menjadi ciri 4.0. Ia yang semula memanfaatkan alat teknologi komunikasi merekam dan menjadikan percakapan mesum atasannya sebagai alat bukti digital tidak sama sekali mendapatkan penguatan untuk mendapatkan keadilan. Atas dasar pencemaran nama baik, tindakan yang diambil Baiq Nuril memanfaatkan kemajuan teknologi informasi menjadi bumerang bagi dirinya.

Hal yang sama dialami Rizki Amalia. Melalui fitur capture gawai, Walaupun ia telah menyimpan hasil percakapan berisi intimidasi seksual bekas atasannya tidak sama sekali dapat menolong dirinya untuk mendapatkan keadilan. Atasannya dengan menggunakan UU ITE memperkarakan kembali Rizki Amalia dengan dalih pencemaran nama baik.  

Dua fenomena hukum di atas menjadi kontradiksi dengan semangat era 4.0 yang mempermudah kerja manusia. Seharusnya dengan banyaknya fitur-fitur canggih alat teknologi komunikasi yang dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu korban kekerasan seksual menguatkan kedudukannya di mata hukum, mampu memberikan peluang penyintas agar lebih dekat merasakan keadilan sebagai hasil akhirnya.

Di sisi lain, kecepatan arus informasi yang juga memberikan kemudahan seseorang mengakses dunia virtual secara langsung maupun tidak menyebabkan peluang terjadinya kekerasan seksual akan semakin meningkat. Banyak contoh dari pemberitaan media massa yang menyebutkan bahwa kekerasan seksual banyak terjadi karena penetrasi media sosial.





[1] Firdaus sepanjang cerita setidaknya mengalami 8 bentuk kekerasan seksual dari 15 bentuk kekerasan seksual yang 
ditetapkan Komnas Perempuan: 1. Perkosaan, 2. Intimidasi seksual, 3. Pelecehan seksual, 4. Eksploitasi seksual, 5. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, 6. Prostitusi paksa, 7. Perbudakan seksual, 8. Pemaksaan perkawinan
[2] Pertama kali kasus ini mencuat setelah Balairung Press mengeluarkan laporan investigasinya berjudul ”Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan” tertanggal 5 November 2018. http://www.balairungpress.com/2018/11/nalar-pincang-ugm-atas-kasus-perkosaan/
[3] Lihat laporan Tirto.id dalam ”Kasus Agni Berakhir "Damai": Cermin Buram Kasus Pelecehan di Kampus”. https://tirto.id/kasus-agni-berakhir-damai-cermin-buram-kasus-pelecehan-di-kampus-dfTp
[4] Lihat laporan Tirto.id daam ”Terduga Pelaku Pelecehan Seksual BPJS-TK Lapor ke Polisi Hari Ini”. https://tirto.id/terduga-pelaku-pelecehan-seksual-bpjs-tk-lapor-ke-polisi-hari-ini-ddue
[5] Lihat infografik perjalanan kasus Baiq Nuril dalam Kompas ” INFOGRAFIK: Perjalanan Baiq Nuril, Korban Pelecehan yang Divonis Penjara”: https://nasional.kompas.com/read/2018/11/23/18191791/infografik-perjalanan-baiq-nuril-korban-pelecehan-yang-divonis-penjara
[6] Sesuai definisi Komnas Perempuan, pengalaman Rizki dan Baiq Nuril termasuk sebagai kasus eksploitasi seksual: ”kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan, ancaman kekerasan, tipu daya, rangkaian kebohongan, nama atau identitas atau martabat palsu, atau penyalahgunaan kepercayaan, agar seseorang melakukan hubungan seksual dengannya atau orang lain dan/atau perbuatan yang memanfaatkan tubuh orang tersebut yang terkait hasrat seksual, dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain.” Sayangnya seperti 14 jenis kekerasan seksual lainnya, jenis kekerasan ini belum diatur dalam KUHP, dan masih sebatas draft dalam RUU P-KS yang belum disahkan DPR Pusat
[7] Lihat laporan Komnas Perempuan dalam Mengapa Penghapusan Kekerasan Seksual Diperlukan. https://www.komnasperempuan.go.id/read-news-mengapa-ruu-penghapusan-kekerasan-seksual-diperlukan
[8] Raymond R Tjandrawinata, Industri 4.0: revolusi industri abad ini dan pengaruhnya pada bidang kesehatan dan bioteknologi. https://www.researchgate.net/publication/293695551_Industri_40_revolusi_industri_abad_ini_dan_pengaruhnya_pada_bidang_kesehatan_dan_bioteknologi
[9] Amir Piliang. Y, Sebuah Dunia yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan Edisi 3, Mizan, 2011, hlm.49
[10] Contohnya ditemukan dari kegiatan jual beli yang mengubah makna pasar melalui e-commerce atau pasar virtual melalui platform semisal bukalapak, shopee, lazada, dll.


05 Maret 2019

Don Quixote, Buku, Imajinasi, dan Cinta



Judul : Petualangan Don Quixote
Penulis: Miguel de Cervantes
Penerjemah: Muajib
Penerbit: Immortal Publisher
Edisi: Pertama,  Agustus 2017
Tebal: 124 Halaman
ISBN: 978-602-6657-62-4



SIAPA tidak mengenal Don Quixote de La Mancha, tokoh ciptaan Miguel de Cervantes sastrawan Spanyol dalam novelnya yang terkenal: Petualangan Don Quixote. Figur lugu nan kocak yang mengemban misi pembebasan orang-orang tertindas karena berkhayal dirinya seorang ksatria. 

Dengan baju zirah perang abad pertengahan, ia berkelana menggunakan kuda kurus yang ia beri nama Rozinante. Bersama pembantunya yang berhasil ia yakinkan, mengikuti kemana kudanya melangkah, mereka mengembara layaknya ksatria dari satu titik entah ke titik entah lainnya.

Don Quixote awalnya bernama Alonzo Quinjano. Ia berkhayal sebagai seorang ksatria karena gila membaca dan terbius cerita petualangan ksatria pengembara. Berkat bacaannya itu ia seketika mengubah identitasnya dari seorang peladang menjadi seorang ksatria. Dimulai dari situlah Don Quixote hidup dalam imajinasi hasil bacaannya, dan memulai petualangan liarnya.

Di dunia nyata, hubungan imajinasi dengan buku-buku seperti Don Quixote juga dialami Mark David Chapman dan John Warnock Hinkley, Jr. Bahkan lebih berbahaya lagi. Berkat buku karangan J.D Salinger, The Cather in the Rye, terobsesi tokoh utama, keduanya melakukan pembunuhan.

19 April 1995 Gedung Federal Oklahoma Amerika Serikat hancur akibat ledakan truk berisi bom amoniak. Gedung itu diledakkan penganut nazisme di Amerika Serikat. Uniknya, peledakkan itu berdasarkan jalan cerita buku The Turner Diaries karya William L. Pierce. Dalam kasus ini, ternyata “bacaan wajib” pengikut nazisme itu  menjadi panduan teknis aksi peledakkan yang dimaksud.

Hubungan buku dengan imajinasi yang mengubah perilaku pembacanya juga terjadi di Jepang. Buku Issac Assimov trilogi Foundation menginspirasi sejumah orang membentuk Sekte Kiamat. Pengikut sekte ini melihat dunia nyata seperti Galaktic Empire, dunia dalam buku itu yang karut marut dipimpin pemerintahan busuk. Karena mandeg, korup, dan represif, para pemerintah di dunia ini mesti dienyahkan. Dengan buku ini sekte kiamat menggunakan aksi terorisme dan teror bom sebagai strategi “dakwahnya”.

Itu sisi negatif bagaimana buku menginspirasi dan mengisi alam imajinasi pembacanya. Buku memiliki dampak besar bagi hidup manusia. Ia jendela dunia yang memperpanjang indera dan benak manusia. 

Berkat buku si pembaca memiliki daya jangkau demikian luas. Keterbatasan indera teratasi daya jelajah pikiran seiring membaca teks. Teks menjadi konteks dalam benak –menjelma imajinasi. Tubuh pembaca semula disekat batas-batas fisik, bertransformasi melalui imajinasi yang bebas bergerak berkat hasil bacaannya.

Bagus Takwin, seorang psikolog, mendakukan dalam bukunya Psikologi Naratif Membaca Manusia Sebagai Kisah, buku adalah medium manusia untuk memenuhi beragam kebutuhan. Buku, melalui bahasa, mampu memperkaya cakrawala pembacanya. Dia menjadi sumber pengetahuan yang mengajak pembaca memasuki dunia ilmu yang tak terpemanai.

Bagus Takwin juga menambahkan kelebihan buku adalah potensinya menjalin keintiman dengan pembacanya. Dikatakan membaca buku merupakan kegiatan personal yang aktif karena pembaca secara mental mengizinkan dirinya memasuki dunia bacaan. 

Keintiman pembaca terhadap buku juga melibatkan tubuh dan juga perasaan. Inilah yang membuat setiap pembaca buku menemukan kepuasaan di tingkat kognitif, motorik, dan afeksi sekaligus.

Dalam cerita dan kasus di atas adalah contoh bagaimana keintiman atas buku-buku melahirkan imajinasi yang mengubah perilaku melalui tubuh dan perasaan. Terlepas dari sisi negatifnya, buku dalam peristiwa di atas menjadi “otak” perubahan yang membangkitkan inspirasi, imajinasi, dan tindakan.

Kiwari, setelah dibabarkan melalui beragam riset, Indonesia seolah-olah berlari mengejar ketertinggalan tingkat literasinya dari bangsa lain. 

Di SulSel sendiri sampai di pelosok, ibarat cendawan di musim hujan, bermunculan komunitas, perpustakaan desa, kelompok diskusi, lapakan buku, arisan buku, dan toko buku demi ikut menggalakkan gerakan literasi. Semua itu menandai terjadi keintiman terhadap buku-buku.

Tapi, sejauh ini jarang terdengar bermunculan Don Quixote-Don Quixote baru, yang terbius bacaan berimajinasi sebagai ksatria literasi. Bahkan, tidak juga muncul sekte-sekte baru demi menyebarkan agama literasi dengan teror buku. Atau orang seperti Mark David Chapman yang marah dan membunuh orang karena malas membaca buku. Semua itu mungkin belum cinta buku. Bukankah keintiman membutuhkan cinta?  


Telah tayang di Geotimes

04 Maret 2019

Spiritualitas Politik, Politik Spiritualitas



Niccolò Machiavelli. 
Dikenal sebagai Bapak Politik Modern yang bertujuan memisahkan 
agama dengan urusan kenegaraan. 
Gambar dilukis Santi di Tito, Opere di Niccolò Machiavelli, before 1782

Indonesia adalah negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Walaupun demikian, bukan berarti Indonesia adalah negara agama. Tapi, bukan juga Indonesia adalah negara sekuler. Indonesia adalah negara yang khas. Ia lebih pantas disebut negara beragama.

Jumlah penduduk muslim di Indonesia sebanyak 222 juta jauh lebih besar dari Pakistan dan India yang hanya mencapai 195 juta dan 183. Jumlah penduduk muslim  yang besar ini adalah modal utama. 

Barangsiapa ingin mendapatkan legitimasi publik melalui agama pasti tahu mayoritas muslim adalah potensi. Tinggal bagaimana mengubah jumah menjadi kekuatan. Maka di situlah peran politik. Ia menjadi perangkat ilmunya. Menggiring agama keluar dari ruang privatnya.

Belakangan, dideterminasi politik, Islam menjadi agama yang paling sering melalukan show force di ruang publik. Orang-orang yang mengatasnamakan dirinya muslim seperti dibangunkan dari tidur panjangnya. Secara serempak agama dan politik kawin mawin di ruang publik. 

Tiba-tiba segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam mesti dibela dari kacamata politik. Umat Islam sudah lama menjadi korban. Begitu keyakinan umumnya.

Spiritualitas Politik

Umumnya spiritualitas diidentikan dengan agama. Pemahaman ini mendakukan bahwa nilai keruhanian agama itulah spiritualitas. Pengertian lain mengartikannya sebagai makna-makna di balik ritual agama. Ada juga yang mendefinisikan spiritualitas agama sebagai jantungnya agama yang membuat penganutnya memiliki arti lebih sebagai manusia.

Terlepas dari pergertian itu, agama tanpa spiritualitas hanyalah simbol-simbol belaka. Shalat tanpa spiritualitas hanya gerakan tanpa makna. Puasa tanpa spiritualitas hanya menahan dahaga tanpa arti. Bahkan haji tanpa spiritualitas hanya aktivitas rekreasi belaka. 

Betapa fundamennya spiritualitas agama bagi manusia sampai-sampai Teilhard de Chardin, seorang filsuf Prancis, menyebut “Kita bukanlah makhluk manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang menjalani pengalaman manusia.”

Belakangan bukan saja agama, politik juga mengandung nilai spiritualitas. Seperti agama, spiritualitas politik ditandai dari betapa bersemangatnya orang-orang mengejar kekuasaan. 

Kekuasaan dalam spiritualitas politik adalah magnet. Itulah sebabnya, tanpa spiritualitas politik, agenda-agenda politik menjadi kehilangan artinya. Mulai dari kampanye hingga diskusi warung kopi, menampakkan betapa spiritualitas politik begitu kuat menarik perhatian masyarakat. Yang paling terang bahkan ditemukan di dunia maya. Di sanalah para pelaku spiritualitas politik getol melakukan praktik-praktik agama politiknya.

Spiritualitas politik karena sudah seperti spiritualitas agama, alih-alih membuat orang tenggelam dalam kenikmatan spiritualitasnya, melainkan mengubah penganutnya sebagai manusia yang hiperaktif. Jika sebelumnya ia hanyalah orang biasa-biasa saja, setelah mencerap spiritualitas politik, ia berubah menjadi orang yang ikhlas mengkampanyekan calon pemimpinnya. 

Tidak jarang malah, lantaran takwanya kepada dunia politik, banyak cara dilakukan agar semua orang beriman laiknya dirinya.

Sangat gampang menemukan orang yang memiliki kedalaman spiritualitas politik. Pertama, imannya yang kuat terhadap politik elektoral. Hal ini dapat ditandai dari bagaimana ia mengatur hidupnya: tiada seinci pun yang ada dalam perilakunya terlepas dari lambaran politik. Kedua, baik di dunia nyata maupun dunia maya, ia akrab dengan atribut-atribut yang berhubungan dengan figur politiknya. 

Ketiga dan keempat, dapat dilihat dari akhlak politik dan lingkungan pergaulannya. Berturut-turut ia mudah gusar jika figur politiknya mendapatkan kritikan, dan selalu mengandalkan kekuatan massa yang ia atasnamakan umat.

Politik Spiritualitas

Tidak bisa dimungkiri fenomena umat Islam yang belakangan getol melakukan show force di ruang publik adalah orang-orang yang memiliki kedalaman spiritualitas politik. Tidak ada sejarah sebelumnya di mana ruang publik beralih fungsi menjadi ruang keagamaan yang dimonopoli oleh satu keyakinan. 

Tidak juga dalam dunia maya, belum ada referensi satu pun yang menunjukkan tingginya tensi politik di dalamnya. Itu semua tiada lain karena betapa dalamnya kecintaan warga kepada politik. Betapa politik sudah menjadi agama.

Sebaliknya, di saat bersamaan agama berubah menjadi politik. Jika agama politik menandai tingginya tingkat sipritualitas di dalamnya, sementara dalam agama yang berubah menjadi politik malah memperlihatkan menurunnya tingkat spritualitas. Peralihan ini ditengarai dari hilangnya semangat cinta damai antara sesama, dan juga saling menjaga sikap untuk tidak saling menyakiti.

Pupusnya nilai kebaikan dalam agama mesti dialamatkan kepada naiknya spiritualitas politik tadi. Orang-orang hanya karena berbeda pilihan politik malah memutuskan hubungan silaturahmi. Seketika kerukunan yang berasal dari kasih sayang ajaran agama kalah kuat dengan saling hujat dari ajaran politik. Singkatnya, karena hanya mengagung-agungkan politik, orang-orang malah melupakan esensi ajaran agamanya: ahlak.

Ahlak adalah buah spiritualitas agama. Sementara buah spiritualitas politik adalah perpecahan. Sulit rasanya memadukan agama dengan politik tanpa terjebak di dalam perpecahan. Kuncinya satu: Beragamalah dengan cara agama, berpolitiklah dengan cara politik. Jangan dibalik-balik.


Terbit di Tribun Timur 2 Maret 2019

03 Maret 2019

Sastra, Filsafat, dan Seperti Politik, Akal Sehat Harus Dibayar Tuntas


Judul : Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Pertama,  2014
Tebal: 243 halaman
ISBN: 9786020303932

IGNAS Kleden menyebutkan sastra di tingkatan tertentu melukiskan kecenderungan-kecenderungan utama dalam masyarakat. Dalam arti sadar-tidak sadar, sengaja-tidak sengaja, teks bisa saja mengungkapkan atau menutupi kecenderungan yang sedang marak di masyarakat.

Bahkan, sebuah cerita disebutkan Ignas Kleden, bisa saja menggambarkan situasi kejiwaan seorang individu, yang sekaligus menjadi metafor bagi keadaan masyarakat secara luas.

Ajo Kawir dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas karangan Eka Kurniawan, misalnya, adalah personifikasi ketakutan masyarakat yang mengalami ”impotensi” terhadap rezim pemerintahan yang totaliter.

Lenyapnya ”akal sehat” masyarakat di hadapan negara, ditandai dari ”mati-rasanya” kemaluan Ajo Kawir pascamenyaksikan pemerkosaan dua orang polisi terhadap seorang perempuan gila.

Secara olok-olok, jika bukan metafor, tokoh polisi memerkosa perempuan gila bernama Rona Merah di awal-awal novel itu, mengandaikan suatu pemaknaan yang kurang lebih sama dengan kecenderungan umum negara memberlakukan warganya sebagai the other.

Bisa disinyalir pula nama Rona Merah dalam novel ini merupakan kata ganti yang dipakai Eka demi melukiskan sikap negara terhadap komunisme: ambivalen, intimidatif, semena-mena, dan mengolok-olok.

Sebagai perempuan, Rona Merah juga memperagakan posisi perempuan dan laki-laki dalam struktur kekuasaan masyarakat patriarkis. Dari sini, melalui perempuan gila, Eka seolah-olah mendengungkan kembali analisis Michel Foucault tentang kecenderungan negara dalam memberlalukan warganya berdasarkan tilikan episteme yang disepakati negara.

Ihwal ini pula yang menjadi dasar mengapa dalam novel ini, Rona Merah menjadi warga asing dan diasingkan dari lingkungan sehari-hari, persis seperti Foucault menerangkan relasi pengetahuan dengan disiplin atas tubuh dalam jaringan kekuasaan negara.

Bila mengikuti keseluruhan cerita Seperti Dendam-nya Eka, yang paling terang ditemukan adalah usaha Ajo Kawir dalam ”membangkitkan” kembali burungnya.

Beragam cara sudah ia lakukan, mulai dari memajang poster perempuan seksi di kamar mandi, terapi lebah, mendatangi pelacur, hingga menggosokkan cabai rawit di kemaluannya. Namun, nahas, burung Ajo Kawir tetap saja sulit ngaceng. Mati suri.

Maka, menarik mencermati tingkah jenaka Ajo Kawir yang lama kelamaan mengambil jarak dari burungnya. Penjarakan ini sekaligus memberi peluang Ajo Kawir memberlakukan burungnya sebagai subjek mandiri.

Itulah sebabnya, Ajo Kawir menganggap burungnya sebagai kawan yang layak diajak berbicara. Dalam beberapa kesempatan, walaupun ia sudah tahu tidak akan bersuara, Ajo Kawir sering mengajak burungnya berdialog.

Tapi, tanpa disadari, proses itu menjadi cara Ajo Kawir mengatasi inhibisi yang dialami dirinya. Tak dinyana, burungnya yang impoten menyebabkan dirinya mengalami lonjakan spiritualitas sampai ia menjadi orang laiknya sufi.

Sulit menolak untuk dikatakan bahwa novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas masih relevan untuk membicarakan konteks masyarakat kiwari. Suasana yang terbangun dalam novel ini seolah-olah berserdawa di tengah alam politik kebangsaan belakangan ini.

Suasana teks dengan para pembaca, dengan berhasil menjadi otonom bercerita, tanpa sekadar menjadi inskripsi pengarang, seolah-olah itu menjadi corong tempat mengasalkan suaranya.

Itulah sebabnya, teks yang telah berubah menjadi suasana dapat dilekatkan kepada keadaan kekinian, terutama bagaimana politik ibarat keadaan psikologis Ajo Kawir yang mengalami berbagai kendala akibat kemaluan yang impoten.

Selama 32 tahun alam demokrasi mengalami mati suri. Persis seperti burung Ajo Kawir. Secara alegoris itu menunjukkan hilangnya ”akal sehat” dalam kehidupan yang serba tenang dan damai. Anehnya, kehilangan akal sehat ini, justru ambivalen ketika direfleksikan kepada keadaan sekarang yang berbeda jauh dari 32 tahun silam.

Reformasi, bagi bangsa ini adalah penanda bangkitnya impotensi ”akal sehat” selama lebih tiga dekade. Sekonyong-konyong, seluruh saluran lubang diciptakan demi menyalurkan hasrat bersuara. Praktis, terbebasnya kekangan berekspresi dan bersuara—terutama dipengaruhi kemajuan teknologi media sosial— di sisi lain malah menurunkan derajat ”akal sehat”.

Singkatnya, secara kualitatif kualitas rasional ”akal sehat” kalah dari serbuan kuantitatif suara maya netizen.

Menjelang Pilpres, politik mendadak menjadi narasi banyak orang. Sampai-sampai keriuhan politik ikut menyeret filsafat dan sastra di tengah gelanggang perdebatan. Itu semua dilakukan atas nama ”akal sehat”.

Namun sayang, lantaran terlampau riuhnya alam demokrasi, kejernihan ”akal sehat” hanya menghasilkan noise dari pada voice. Habitat ”akal sehat” yang diperjuangkan filsafat dan sastra selama ini dilecehkan melalui retorika dan puisi seolah-olah banting harga.

Kedalaman ”akal sehat” dalam filsafat karena dipoles dengan cara retoris, hanya bisa mengajak orang-orang membuat suara gaduh (noise) dari pada keugaharian berpendapat (voice).

”Akal sehat” yang mempersyaratkan dialog terbuka, tidak ditemukan lantaran senantiasa menggunakan cara massifikasi yang diletupkan demi mendapatkan pengikut-pengikut—sisi negatif demokrasi.

Cara itu persis dilakukan para kaum Sophis pada masa Sokrates dulu. Ia menggunakan kata-kata bersayap agar terkesan sophisticated, tapi sebaliknya tidak mencerahkan sama sekali.

Sementara puisi dan doa—seperti dilakukan Fadli Zon dan Neno Warisman—belakangan ini hanyalah gimmick, tinimbang suara hati yang bisa menggugah ”akal sehat”.

Puisi-doa elit partai ini sama halnya kaum Sophis, menipu dan berkepentingan. Ia tidak lahir dari permenungan panjang seperti sastrawan mengalaminya, melainkan datang dari kepraksisan politik yang penuh saling sikut.

Pseudo-filsafat dan pseudo-sastra yang diperagakan belakangan ini sudah pasti bukanlah asal dari mana voice itu bakal datang. Sebab mereka tidak sama sekali mewakili siapa-siapa.

Di dalam suara gaduh yang mereka ciptakan, malah sebaliknya mengimpotensi peluang masyarakat menemukan ”akal sehatnya” kembali. Ibarat Ajo Kawir, nyatanya ”akal sehat” bangsa ini belum benar-benar merdeka.

Syahdan, jika politik bukan wadah ”akal sehat” merekah, lalu di mana dan siapakah yang bakal membayar tuntas ”akal sehat”, hingga pungkas?

--

Telah tayang di Lontar.id

28 Februari 2019

Bulan Turun: Sastra Perang ala John Steinbeck


Judul: Bulan Turun
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Basabasi
Edisi: Pertama,  November 2018
Tebal: 204 halaman
ISBN: 9786025783548


BANYAK contoh antara sastra dan kemerdekaan begitu lekat. Di tanah air, sosok Pramoedya Ananta Toer merupakan tonggak kepenulisan yang mendudukkan karangannya sebagai medium kemerdekaan. Bahkan hampir semua cerita yang ditulisnya adalah usaha terus-menerus demi meraih kemerdekaan yang direnggut negara dari dirinya.


Di negara tetangga, Filipina, kita mengenal José Rizal yang menerbitkan novel provokatif berjudul Noli Me Tangere. Novel ini lahir setelah José Rizal berkeliling Eropa Utara dan diterbitkan di Berlin. Novel ini berisikan kritikan kepada penjajahan Spanyol di Filipina. Berkat novelnya ini pula menyebabkan dirinya mati. Dalam suatu tulisan, Benedict Anderson menyebutkan kematiannya sebagai mati syahid. Mati demi mencari kemerdekaan.

Sastra terlepas dari bagaimana ia dituliskan akan selalu menjadi corong suara kemanusiaan. Merdeka tidak merdeka, dijajah tidak dijajah, sastra di mana pun akan berkembang seiring semangat kebebasan manusia.

Novel berjudul Bulan Turun yang ditulis John Steinbeck ini salah satu contoh lainnya. Ia ditulis kurang lebih sama dengan semangat dua contoh di atas. Bedanya, novel ini ditulis dalam masa Perang Dunia II. Masa ketika Hitler “kesetanan” ingin menduduki Eropa melalui ideologi fasismenya.

Dari sudut pandang ini wajar jika karangan Steinbeck ini beraroma anti Nazi –pandangan yang mewakili kubu demokrasi pada PD II. Bahkan, seperti dijelaskan Donald v. Coers dalam halaman-halaman depan buku ini, Steinbeck sudah sebelumnya berdiskusi dengan Donovan –kepala organisasi cikal bakal CIA di Amerika—untuk menuliskan suatu karya bernada propaganda demi mengangkat moral sekutu dari pendudukan Jerman di Eropa.

Syahdan, terlepas dari kontestasi politik PD II, dan kepentingan ideologis ke-Amerika-an dalam Bulan Turun, Steinbeck –seperti sastrawan ulung lainnya—lebih mengedepankan nilai-nilai kebebasan anti penindasan sebagai moral utama yang dikandung dalam karangannya ini.

Kota tenang menjelma teror

Bulan Turun bercerita tentang sebatalion pasukan tentarayang menyerbu suatu kota kecil penghasil batu bara di suatu pagi yang lenggang. Kedatangan pasukan penyerbu ini datang begitu cepat sambil menembaki pasukan kota beranggotakan pemuda-pemuda tanggung. Berkat caranya itu, pasukan penyerbu ini dengan mudah dapat menduduki kota, dan tanpa ba bi bu segera membentuk pemerintahan a la militer pasca mendatangi rumah walikota bernama Orden.

Kedatangan pasukan penyerbu ini terkait sumber daya alam yang dimiliki kota ini. Karena perang masih panjang, kedatangan mereka ingin merebut  tambang-tambang batu bara untuk dijadikan sumber energi tambahan bagi negara induk mereka.

Batalion yang diketahui dipimpin Kolonel Lanser itu digambarkan sebagai tentara yang ramah tapi juga sekaligus intimidatif. Sikap yang pertama ini sungguh menjengkelkan, terutama ketika dalam keadaan pendudukan dan dalam masa perang. Sikap demikian ibarat topeng yang memberi kesan kebaikan tapi membuat orang justru khawatir tentang gerangan apa wajah yang bersembunyi di belakangnya.

Keramahan tentara-tentara ini mengingatkan kepada tesis Hannah Arendt seorang filsuf perempuan, berkaitan dengan banalitas kekerasan. Tesis ini dikatakannya bahwa kejahatan yang sering kali kejam akan dianggap biasa lantaran dinilai sebagai panggilan suci demi mengemban suatu amanah. Hal ini karena kejahatan yang bersangkutan lahir dan dilegitimasi oleh tatanan isme-isme berupa misalnya nasionalisme negara. 

Kota pimpinan walikota Orden ini adalah kota dengan sejarah yang tak pernah sekalipun dijajah.  Karena itu, serangan secara mendadak  membuat warga kota ini menjadi lemah dan tak sigap. Tiadanya sejarah perlawanan adalah sebab utama kenapa kota ini begitu mudah ditaklukkan. Mereka hanya pasrah dan menyerahkan seluruh urusannya kepada pucuk pimpinan, siapa lagi kalau bukan Walikota Orden.

Walikota Orden tidak sendiri. Diceritakan ia memiliki rekan sejawat bernama Winter. Winter adalah seorang dokter kota. Berbeda dari Walikota Orden yang berkeperawakan gemuk dan berkumis, Dokter Winter lebih menyerupai Sherlock Holmes, berbadan tinggi sedikit kurus dengan pandangan mawas ketika berbicara. Ia dokter yang cemerlang dan seringkali memiliki pandangan-pandangan yang dibutuhkan sang walikota.

Lantaran warga kota mengalami demoralisasi setelah pendudukan, kepada dua figur inilah nasib kota dipertaruhkan. Walaupun mereka berdua mengalami ketakutan yang sangat, tapi tetap saja sebagai pejabat publik mereka memiliki amanah yang lumayan berat untuk dilakukan saat-saat ini: mempertahankan kota dari pendudukan.


Kepiawaian Steinbeck dalam hal ini, dengan cemerlang menghidupkan tokoh-tokohnya melalui dialog sebagai cermin psikologis terutama ketika menghadapi suasana teror. Sebagai misal Walikota Orden yang secara pribadi merasakan ketakutan, namun dengan elegan mampu memperlihatkan keberanian kepada  Kolonel Lanser di saat terjadi negoisasi pembentukan pemerintahan boneka. Sebagai pemerintah, ia enggan melakukan kerja sama mengingat kepercayaan publik kepada dirinya.

“Pak, saya bagian dari masyarakat ini…ada masyarakat yang menerima pemimpin yang ditunjuk, dan mematuhinya. Tetapi rakyat saya telah memilih saya. Mereka menjadikan saya dan bisa memberhentikan saya. Mungkin itu yang akan mereka lakukan bila mereka pikir saya telah berpihak kepada Anda.” (hal. 52)

Keberanian Walikota Orden sangat penting karena ia adalah tembok terakhir kotanya. Di titik ini, Steinbeck mengisyaratkan bagaimana karakter seorang pemimpin menjadi faktor fundamen yang bisa memengaruhi psikologi bawahannya. Ia adalah sumber atas berani tidaknya warga ketika menghadapi situasi genting dan runyam.

Mengingat kota yang dipimpinnya sama sekali tidak memiliki riwayat pendudukan dan otomatis tidak ada sejarah perlawanan warga terhadap penjajah, Walikota Orden betul-betul menyadari bahwa dirinya-lah yang menjadi faktor yang dapat membangkitkan perlawanan warganya.

Di sisi ini, sejarah mesti memberikan ruang besar bagi kekuatan individu. Dengan kata lain, bagi keadaan seperti kota ini, warga tidak bisa mengharapkan spirit kebangkitan dari referensi sejarah perlawanan yang memang belum mereka punyai. Mereka sadar bukan warga yang tinggal di kota yang penuh cerita-cerita kepahlawanan, yang bisa menjadi narasi bersama untuk memupuk keberanian.

Itulah sebabnya perlu memulai dan menciptakan sejarah perlawanannya sendiri. Ini penting untuk masa depan agar tidak terjadi kali keduanya. Dan, mereka memulainya dari diri sendiri, menjadi pahlawan itu sendiri, tanpa bersandar kepada kekuatan sejarah yang tidak sama sekali memberi faedah.

Selanjutnya, seperti pada peristiwa pendudukan lainnya, kota menjadi ladang teror. Perasaan mereka seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Terutama bagi pasukan penyerbu yang kian lama tinggal mulai merasa galau. Pendudukan yang entah sampai kapan membuat mereka menjadi rindu kampung halaman, makanan rumah,  dan pacar-pacar mereka di negeri seberang. Moral mereka ciut.

Sebaliknya, bagi warga kota semakin lama mereka mengumpulkan keberanian yang dikoordinir Walikota Orden dan Dokter Winter.  Di bawah kepemimpinan mereka berdua, diam-diam warga kota menyusun serangan balasan. Dengan kata lain mereka tengah menciptakan sejarah perlawanan bagi kota mereka sendiri.

Menuai kritik

Ciri kepenulisan Steinbeck yang sering mengusung kaum proletar tidak kelihatan dalam Bulan Turun. Alasan ini salah satu kritikan terhadap karangannya ini. Apalagi banyak yang meragukan unsur kesastraannya lantaran Bulan Turun dinilai tidak lebih dari tulisan propaganda.

Walaupun tidak dituliskan di kota mana ia menaruh konteks ceritanya, sudah jelas setiap latar belakang yang Steinbeck suguhkan dalam ceritanya adalah versi halus yang memperhadapkan Amerika vis a vis Jerman saat itu.

Terkait dirinya pernah bekerja dalam Office of Strategic Service (OSS) yang jadi cikal bakal organisasi mata-mata Central Intelligence Agency (CIA), dan dalam suasana PD II semakin memperkuat dugaan itu.

Terlepas dari kritikan yang diberikan kepada buku ini, novel ini tidak salah untuk dikatakan sebagai bacaan yang mampu menerbitkan nasionalisme kebangsaan. Logika buku ini yang menaruh simpati kepada warga kota yang diduduki sebatalion tentara, dapat ditarik ke alam kenyataan seperti dialami bangsa-bangsa (atau kawasan-kawasan) yang sampai saat ini mengalami penjajahan.

Secara psikologis, moralitas pembaca akan mudah berempati kepada seperti yang dialami warga kota ini. Bahkan, perubahan sikap warga kota yang mendapatkan keberaniannya dari Walikot Orden untuk melakukan perlawanan adalah ajakan yang sangat terang bahwa di mana pun penjajahan mau tidak mau mesti dilawan. 

Terbukti hal demikian terjadi di Eropa Barat: Norwegia, Denmark, Belanda dan Prancis, Bulan Turun diterbitkan dan dibaca secara sembunyi-sembunyi. Ia dijilid seadanya beredar dari satu pos ke pos pihak sekutu, bersembunyi dari intaian pasukan Nazi. Menjadi bacaan perlawanan dan menerbitkan asa kemerdekaan. 


Telah tayang di Nyimpang.com

24 Februari 2019

Komunisme dan Lelucon


"Forward! To the West!" Viktor Ivanov, 1942.

Puki mai e. Di sela-sela melihat Banu tertidur, video ini menjelaskan banyak hal. (click video di sini)

Pertama, kekuasaan sering kali jadi soal karena disulut hasrat menguasai perempuan. Perang Troya antara bangsa Yunani dan bangsa Sparta salah satu contohnya. Helena, perempuan di tengah-tengah perang akbar itu, menjadi pemicunya.

Di video ini, disebutkan Raisa adalah kunci. Jangan-jangan semua hasrat kekuasaan di balik gelagat baik politik hanyalah tameng untuk menyembunyikan keinginan yang sama demi menguasai perempuan.

Kedua, olok-olok adalah cara lain untuk mempermainkan kebenaran. Miguel Cervantes si pencipta Don Quixote adalah contoh yang baik dalam hal ini.

Di novel itu Don Quixote memperagakan keberanian yang datang dari khayalannya. Ia berkhayal sebagai seorang ksatria abad pertengahan yang hidup di Spanyol modern. Ia lantaran didorong khayalannya menjadi hero di tengah-tengah zaman yang sudah tidak mengenal lagi konsep itu.

Kehadiran Don Quixote yang jenaka dan berkhayal persis menjadi kisah anakronisme di situasi seperti sekarang. Melalui video ini, hero bukanlah siapa-siapa. Dan toh jika ia ada, yang ia perjuangkan hanyalah seorang perempuan belaka.

Dengan kata lain, ia mesti ditertawakan. Tanpa harus malu-malu.

Ketiga, video ini tanpa takut memperlihatkan simbol-simbol yang selama ini dilarang negara. Tapi dengan cara mengubahnya menjadi lelucon, ini cara satir bagi siapa saja yang masih terkooptasi negara dalam melihat sejarah masa lalu.

Sejarah, seserius apa pun ia dibentuk, akan dengan mudah berganti sudut pandang dan optiknya jika ditempuh cara-cara seperti ini. Ingat, Gus Dur adalah figur yang menggunakan lelucon sama seriusnya ketika membabar fakta-fakta sejarah.

Keempat, dengan gaya lelucon, video ini mengetengahkan insight yang segar tentang bagaimana kita berhadapan dengan kebenaran sejarah. Yakni, dengan dibiarkannya tertawa melalui olok-olok adalah suatu kesedian yang mahal harganya untuk mengakui kerendahhatian.

Saya masih ingat di masa-masa mahasiswa, ada anjuran agar tidak terlalu serius memberlakukan kebenaran. Cara yang paling asyik ketika menemukan kebenaran adalah menertawakannya. Mungkin, itulah maksudnya, menertawakan kebenaran yang ditemukan diri sendiri juga berarti cara lain untuk mengakui betapa rendahnya diri kita sehingga pantas ditertawakan.


Memang, sekarang tertawa mahal harganya. Ia kualitas manusia yang ringsek dimakan ambisi politik belakangan ini.

23 Februari 2019

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: Kemelut Manusia Modern dalam cerita Obrolan Sederhana


Judul: Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Insist Press
Edisi: Maret 2009
Tebal: xii + 160 halaman
ISBN: 978-602-8384-20-9

ADA tiga hal ditemui dari Obrolan Sederhana dalam kumcer Puthut EA, Seekor Bebek Yang Mati di Pinggir Kali. Pertama, esensi manusia sebagai makhluk sosial. Kedua, sebagai makhluk sosial, selalu ada dorongan untuk berinteraksi walau dua orang itu tidak diperantai keakraban

Dan yang ketiga,  obrolan remeh temeh dari dua orang yang tidak saling kenal, dan hanya dipertemukan lantaran tidak sengaja, bisa menjadi pintu masuk kepada sebuah problem yang lebih pelik: permenungan atas centang-perenang kehidupan manusia.

Obrolan Sederhana dimulai dari tokoh Aku yang tak sengaja dipertemukan dengan seseorang akibat hujan. Di cerita itu, si Aku secara kebetulan lewat di depan vila seseorang yang tak dikenal pasca membeli rokok. Tak dinyana ketika si Aku lewat, seseorang di balik pagar mengajaknya masuk berteduh dari lebatnya hujan.

Di beranda rumah tetangga yang mengajaknya masuk itulah berlangsung hampir keseluruhan cerita yang ditulis Puthut. Sampai di sini melalui dialog pembuka yang dipakai, pembaca bisa langsung menangkap suasana ketika mengalami hal yang sama: hujan lebat datang, tanpa payung, dan tibatiba harus berteduh di beranda rumah yang tak kita kenal.

Peristiwa semacam itu sering kali dialami siapapun. Tapi sangat jarang di saat demikian seseorang bisa terlibat pembicaraan yang akrab sekaligus mendalam. Apalagi dalam konteks masyarakat perkotaan yang dikenal sebagai pribadi yang individualis. Namun di Obrolan Sederhana, Puthut justru memperlihatkan karakter tak didugaduga yang dimiliki manusia perkotaan: sikap toleran.

Karakter yang tak disangka ini bukan berarti tak dipunyai oleh masyarakat perkotaan umumnya, namun membayangkan itu sebagai sesuatu yang diharapkan agaknya terkesan berlebihan mengingat cara hidup perkotaan yang sering kali acuh antar sesama.

Hal itulah yang menurut saya ingin ditolak Puthut, dan sekaligus ingin memperlihatkan betapa sering abainya manusia perkotaan, perhatian antara sesama justru bisa datang dari obrolan sederhana di beranda suatu vila di atas bukit. Dan kejadian itu malah terjadi di saat yang tak terdugaduga. Saat hujan lebat.

Sebagaimana kaum lelaki perkotaan, rokok menjadi kunci penghubung dua orang yang semula tak saling kenal. Puthut menggambarkan hal itu sebagai jembatan untuk membuka obrolan di mana pembicaraan selanjutnya sedikitbanyak menyentuh tema-tema yang realatif berat. Melalui rokok, simbol yang kuat penekanan maskulinnya menjadi cara Puthut mendialogkan dua tokoh ceritanya sembari menyeruput kopi yang mengencerkan suasana.

Dari perkenalan masing-masing tokoh, awalnya cerita disuguhkan dengan perbincangan ala kadarnya seperti perbincangan orang biasa, namun setelah perkenalan basa-basi dengan saling memberikan nama palsu, obrolan dua orang asing ini akhirnya menukik ke persoalan pribadi masing-masing.

Yang unik dari obrolan ini sekaligus dalam ceritanya,  adalah keengganan tokohnya  memberikan identitas asli walaupun dimulai dengan sebuah perkenalan. Saya menduga Puthut sengaja memberlakukan ceritanya dengan cara demikian karena ingin menekankan isi obrolan dari dua tokohnya.

Sebab itulah barangkali cerita ini diberi judul obrolan sederhana. Tapi justru pelan-pelan melalui obrolan tokohnya, nantinya pembaca akan dibawa memasuki problem-problem yang dirasakan tokoh-tokohnya.

Sampai di sini cerita akan terasa memasuki satu level pembicaraan yang terbilang serius. Apalagi di saat tokohnya sudah melibatkan arak yang menggantikan kopi sebagai suguhan perbincangan.

Kalau dipilah, ada tiga tema yang secara tidak sadar mengalir begitu saja di antara obrolan dua tokoh ini. Pertama, soal asmara yang dihadapi oleh tokoh kedua sebagai penyedia tumpangan vila. Kedua, adalah soal kebahagiaan dan ketidakbahagiaan yang dirasakan oleh masingmasing tokoh, terutama tokoh kedua. Dan yang ketiga adalah soal hidup yang dirundung pekerjaan yang tak bermakna apa-apa selain ketidakjujuran.

Tiga hal ini bagi orang kebanyakan, tema perbincangan yang sulit diungkapkan kepada orang yang baru pertama kali bertemu. Kita akan sulit menemukan teman bicara di terminal, misalnya, yang mau bersedia mendengarkan keluh kesah yang dirasakan sembari saat menunggu bus. Toh kalau pun ada, paling tidak pembicaraan hanya pembicaraan yang artifisial.

Tapi, kesan itu malah berbeda dari sikap kedua tokoh ini, terutama tokoh pemilik vila yang disinggahi. Obrolannya menjadi lebih sensistif ketika dia mengajukan pernyataan yang tak lazim dikemukakan kepada orang yang belum dekat. “Aku sedang bimbang, dan aku ingin menyepi.” Sontak penyataannya membuat kaget lawan bicaranya. Tanpa dibalas dia langsung bilang “setahun yang lalu, aku menginap seminggu di vila ini sebelum memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku. Keputusan yang berat saat itu. Dan kini aku berharap, dalam beberapa hari ini, bisa memutuskan, apakah aku akan segera melamar kekasihku atau tidak.”

Bagian dialog inilah perbincangan antara pelaku cerita memasuki tahap perbincangan yang lebih serius. Begitu juga jawaban yang diberikan oleh tokoh kedua ketika menjawab beberapa dialog lanjutan yang bernada pernyataan tentang keharusan meneruskan hubungan yang dijalani tokoh pertama dengan kekasihnya. “Pasangan yang terlalu membuatmu banyak berpikir, apalagi sampai mengasingkan diri, kurasa bukan pasangan yang tepat.” Jawab singkat tokoh kedua.

Kemelut manusia modern

Kita ini mengalami zaman edan
di dalamnya setiap orang kebingungan
orang tak bisa ikut-ikutan ngedan
namun kalau tidak ikut ngedan
orang tidak akan dapat bagian
dan malah akibatnya orang akan mati kelaparan
Ya, Allah; salah adalah salah
berbahagialah mereka yang lupa
tapi lebih berbahagia lagi

mereka yang ingat dan memiliki tilikan yang mendalam1

Abad 21 adalah tonggak modernitas: kecepatan, efektifitas, rasionalitas, birokratisasi, universalisme, logosentrisme, dan kapitalisme; yang mendewasakan manusia dari masa kekanak-kanakannya menjadi titik tolak segala ukuran; estetik, hukum, logis, dan yang kudus. Tidak ada di luar manusia selain ke-aku-annya sebagai fundamen segala sesuatu. Ini adalah salah satu ciri yang disebut Edward Shils, seorang sosiolog A.S sebagai “kehendak-untuk-menjadi-modern.”

Tapi, tidak ada yang tanpa risiko. Justru di belakang panggung pencapaiannya, modernitas banyak memakan korban. Dan korban utamanya sudah tentu adalah manusianya.

Manusia terpapar keterasingan di ceruk-ceruk gedung pencakar langit, di ruang antara keramaian penduduk, di sela-sela etalase gemerlap toko-toko, di hilir mudik kendaraan kekinian sampai nyala-padam lampu-lampu pusat hiburan. Di satu titik semesta itu, jiwa manusia koyak dan jatuh di lubang sumur tanpa dasar.

Kesepian adalah kemelut manusia modern.

Dengan apik nuansa ini yang eksplisit dalam cerpen Obrolan Sederhana. Tanpa diduga perbincangan dua orang ini mengarah ke soal-soal kritis yang menyasar eksistensi kejiwaan. Dialog mereka berdua semakin ke sini bernuansakan pribadi yang dipapar kesepian laiknya manusia modern umumnya.

Kedua tokoh ini bahkan sampai tinggal di vila puncak sampai berminggu-minggu lamanya tanpa ditemani seorang pun. Ini metafora pribadi kota yang ulet mengejar impian dan butuh waktu jedah setelah menemukan palang pintu yang menyegel jiwa mereka.

“”Apakah kamu bahagia akhir-akhir ini…” kataku sambil mencoba tersenyum.

“Ia tertawa sampai terbatuk-batuk. Lalau segera meracik lagi minuman, kami bersulang lagi.”

“untuk kebahagian yang tinggal sesloki””(hal.30)

Penggalan dialog dua tokoh ini sekiranya cukup mengidentifikasi apa problem eksistensial yang mendera mereka berdua. Kebahagian, entitas kualitatif yang nirfisik bukanlah capaian yang ditemukan dari kehidupan mereka sehari-hari. Ibarat buruh pabrik, jiwa mereka teralienasi secara berlapis di balik pekerjaan yang kian mendesak.

Dengan kata lain, pekerjaan manusia modern bukanlah perolehan yang dicapai secara kualitatif. Di kantor-kantor, perusahaan, swalayan, pemerintahan, sekolah, perguruan tinggi, manusia modern nampak maju dengan peran sosial sebagai makhluk ekonomikus. Tapi, tanpa disadari pekerjaan –sesuatu yang bergerak berdasarkan logika efisiensi dan efektifitas–yang mereka lakoni malah membuat lubang di jiwa mereka.

Secara kuantitatif perolehan fisik manusia modern malah menimbun jiwa mereka. Jiwa yang sejatinya memerlukan capaian-capaian kualitatif, malah rusak akibat berat beban dari peradaban materialisme.

Itulah sebabnya, kebahagiaan bagi manusia modern menjadi utopia. Bahkan demi meraihnya cenderung melahirkan distopia.

Tapi, tidak juga dapat dikatakan kedua tokoh ini larut dalam kekalutan jiwa mereka. Justru keberadaan mereka di puncak, dengan mendiami vila, adalah strategi hidup membuat jarak dengan keseharian kota. Dengan kata lain, mereka melakukan kritik internal terhadap jiwa mereka. Merefleksi.

”“kenapa kita tidak seperti banyak orang yang lain? Mencari tempat yang lebih hingar, untuk mengusir rasa seperti ini.”

“karena kita mencoba menghadapinya. Bukan melarikan diri”” (hal.30)

Orang kebanyakan jika menemukan problem kejiwaan, umumnya mencari ruang eksterior untuk mengkompromikan dirinya. Mal dan diskotik adalah dua tempat yang sering disasar untuk menghilangkan kepenatan jiwa. Terkadang obat-obatan terlarang juga dikonsumsi demi menambah efek ekstase dalam rangka menyelesaikan masalahnya.

Namun, kedua tokoh ini mengambil jalan berbeda. Ibarat pengertian Das Sein Heidegger, mereka membedakan diri dengan Das Man, orang kebanyakan yang tidak mengupayakan suatu jalan masuk ke dalam ruang interior dirinya; jiwanya.

Lewat cara mengambil vila, kedua tokoh ini mengambil jarak memasuki dunia kritis berupa refleksi terhadap problem yang sedang mereka hadapi. Karena kita mencoba menghadapinya. Bukan melarikan diri, kata tokoh kedua di atas.

““kamu mungkin benar. Pagi tadi, aku melihat seorang petani mencangkul sawah di depan sana. Mungkin pemilik vila ini sengaja mendirikan bangunan ini agar kita, para penghuninya, menonton petani itu sebagai bentuk eksotisme. Biasanya, aku melihatnya seperti itu. Tetapi pagi tadi… Aku melihat sebuah spiritualitas yang dijejakkan ke bumi. Dalam satu bulir padi yang ia tanam kelak, akan menghasilkan beratus-ratus bulir. Dan mungkin ini klise, padi yang ia tanam, padi pulalah yang akan ia panen.””(hal.32)

Setiap orang bisa saja menemukan insight yang menyentuh jiwanya. Tokoh di atas menemukannya melalui seorang petani sederhana. Bukan saja insight yang bermakna keindahan yang disebutnya eksotis, melainkan sebuah spiritualitas. Inilah salah satu makna penjarakan, yakni menemukan penekananan jiwa yang berbeda dari fenomena yang sering disaksikan. Si Aku menemukannya pada peristiwa sederhana dan biasa. Yang sering ia saksikan. Berkat penjarakan dengan kesehariannya.

Yang menarik pula disimak adalah penanda semakin personalnya pembicaraan mereka, maka suguhan yang mereka nikmati ikut berganti. Yang dimaksud di sini adalah disuguhkannya arak setelah kopi mereka berdua tandas.

Kopi, jika bisa diartikan sebagai minuman pengencer suasana, maka arak lebih maju lagi dalam pengertian ia sebagai minuman pendobrak yang tidak lagi mempedulikan segala hal yang ditutupi, bahkan yang tabu. Kopi walaupun sering dipakai sebagai minuman yang menandai kedekatan, tapi masih memberikan peluang bagi orang untuk menjaga normatifitas saat bercakap-cakap. Arak sebaliknya, ia penghangat tapi sekaligus mampu membalik dan bahkan meniadakan batas-batas yang menjadi acuan kemaluan percakapan.

Barangkali, itulah sebabnya mengapa setelah minuman berganti arak, obrolah dua tokoh ini kian dekat. Bahkan seolah-olah mereka adalah kawan lama yang sudah saling mengenal luar dalam. Hal inilah yang menjadikan obrolan mereka kian terbuka dan kian jujur.

““Aku orang yang tidak jujur. Bahkan kepada diriku sendiri. Dan sesuatu di luar sana, entah apa, sedang menghukumku. Aku tidak bahagia”” (hal.33)

Pernyataan ini adalah sebuah pengakuan Aku –pemilik vila. Pengakuan yang justru memperlihatkan kejujurannya kepada diri sendiri, bahwa ia tidak jujur. Yang menarik ugkapan ini lahir setelah obrolan mereka ditemani arak —yang menandakan keterbukaan jiwa tanpa khawatir setelah dikemukakan.

Ini jika dikembalikan ke dalam kenyataan sehari-hari akan ditemukan betapa manusia modern bukanlah pribadi-pribadi yang jujur. Lantaran khawatir penghakiman-hukum sosial, pribadi modern cenderung  menjadi pribadi hipokrit. Mereka mendayagunakan segala ketrampilan untuk membentuk jati diri kedua demi menyembunyikan alter egonya. Dengan kata lain, pribadi manusia modern bukanlah pribadi otentik karena hanya ingin tampil seperti yang diinginkan banyak orang.

Itulah mengapa orang modern sulit menemukan kebahagian. Mereka sulit terbuka dan jujur kepada diri mereka sendiri. Padahal, salah satu pintu kebahagian sederhana belaka, yakni mau menerima diri apa adanya. Mau jujur dengan apa yang ada dan tidak ada dalam diri sendiri.

Obrolan Sederhana sampai di sini nyatanya bukan obrolan yang sederhana lagi. Puthut lihai menggiring jalan ceritanya menjadi kian berbobot dan reflektif. Terbukti salah satu srateginya adalah tidak ada nama tokoh dikemukakan di sini. Hanya Aku yang berdialog dengan Aku yang lain yang dalam hal ini tidak saling mengenal. Mungkin bisa dipahami penggunaan kata ganti orang pertama tunggal ini adalah cara cerpen ini mengidealisasi percakapan menjadi dialog yang akan dialami pembacanya sendiri. Sudahkah Aku bahagia?


1] Dikutip dari buku Melampaui Positivisme dan Modernitas karangan F. Budi Hardiman hal.105. Di situ Hardiman tidak menyebutkan nama penyair puisi ini. Ia hanya menyebutkan Penyair Jawa. 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...