04 Maret 2018

Sakit


SAKIT. Baik Socrates maupun Platon, mendudukkan pengetahuan sebagai suatu proses. Bahkan, melalui bahasa metafora, Socrates menyinonimkan pengetahuan sebagai kelahiran seorang bayi. Pendapat ini ia sandarkan kepada keyakinan bahwa setiap manusia "sudah" memiliki pengetahuan berupa "sesuatu" yang ia kandung sendiri.

Melalui proses kelahiranlah, pengertian ini dimaksudkan Socrates bahwa pengetahuan itu tidak lahir dari proses selain dari pada "rahim" kita sendiri. Dengan kata lain, pengetahuan adalah "bayi-bayi" alami kandungan diri sendiri, bukan "bayi kloning" dari perut orang lain.

Socrates menyebut itu dengan istilah "maieutike".

Itulah sebabnya, Socrates menyebutkan pekerjaannya sebagai seorang filsuf ibarat seorang bidan. Dia hanya membantu orang-orang melahirkan sendiri pengetahuannya.

Sampai di sini eike berpikir, jika pengetahuan ibarat kelahiran seorang bayi, maka di situ ada rasa sakit yang menyertai. "Kesakitan" dengan kata lain adalah konsekuensi tak terhindarkan dari kelahiran itu sendiri.

Itu artinya, pengandaian berpengetahuan, atau dengan kata lain, berpikir, meniscayakan rasa sakit yang menjadi satu kesatuan di dalamnya.

Dari sisi ini, berpengetahuan melalui berpikir mendalam mau tidak mau memiliki risiko. Kesakitannya tiada lain adalah hasil dari kegiatan berpikir. Semakin berpikir semakin "sakit" ia. Atau sebaliknya, semakin sakit semakin dalam ia berpikir.

Tentu di sini kesakitan yang dimaksud bukanlah rasa perih yang diartikulasikan melalui pengertian medik. Melainkan kesakitan yang dilihat dari pengertian epistemik.

Rasa sakit epistemik berbeda dari rasa sakit medik yang berciri fisik dan biologis. Kesakitan epistemik jenis rasa sakit yang lebih "eksistensial". Jenis kesakitan yang melanda akal sekaligus jiwa manusia.

Bahkan, sebelum pengetahuan itu lahir, ada proses yang jauh lebih krusial lagi dan juga mengandung rasa sakit yang khas, yakni ketika pengetahuan itu menjalani masa-masa "pembatinan". Masa-masa ini adalah waktu yang paling menentukan. Ibarat bayi yang kelak akan lahir, "janin" pengetahuan pertama kali mesti "dikandung" dalam beberapa waktu. Di masa inilah, "embrio" pengetahuan mengakibatkan jenis kesakitan yang spesifik. Rasa sakit yang khas.

Rasa khas dari kesakitan hasil pembatinan inilah yang kerap mengubah kebiasaan-kebiasaan lama menjadi kebiasaan-baru. Di titik ini, pikiran banyak mengalami persesuaian dengan pengetahuan yang belum akrab dengannya. Pikiran banyak mengalami perubahan drastis hingga mengubah "caranya" beraktifitas.

Di sini-lah "pertentangan-pertentangan" muncul akibat formula-formula pengetahuan baru yang "tidak biasa". Di sinilah, rasa sakit, kepedihan, dan keperihan menjadi satu. Suatu masa yang berisiko: gugur atau tumbuh berkembang.

Dari sini, akhirnya mafhum, pengetahuan itu berakar alami dengan diri manusia. Kaki-kakinya berserabut sampai di dalam kesadaran yang paling dalam. Dia dikandung dan dilahirkan sendiri. Dari perut masing-masing.

Pengetahuan, dengan kata lain, adalah "embrio" yang sudah ada sebelumnya dimiliki masing-masing setiap orang. Dan, itu juga berarti setiap orang mesti menanggung rasa sakit jika ingin melahirkannya.

Sampai di sini mengertilah eike lebih jauh, Imam al Ghazali, sang Hujjatul Islam, yang sempat sakit keras selang beberapa lama, mesti menanggung beratnya guncangan jiwa akibat peralihan pengetahuan sebelum sampai ke medan tasawuf. Rasa sakit yang hampir membawanya ke mulut sang maut. Tapi, dia menemukan obatnya sekaligus melahirkan karya dahsyat yang sampai hari ini dibaca oleh setiap pengagum pemikirannya.

Di Eropa, Rene Descartes, barangkali adalah figur yang hampir sama dengan al Ghazali. Dia pun mengalami rasa sakit sampai harus menolak dirinya sebagai sesuatu pribadi. Tapi, dari rasa sakitnya, melalui kandungan "rahimnya," suatu zaman baru lahir di Eropa dan ikut membentuk tatanan dunia modern.

Tapi, baik Descartes maupun Imam al Ghazali, barangkali belum sampai menyerupai rasa sakit yang dirasakan Muhammad, sang nabi terakhir. Beliau, sebagai sang rasul, memiliki jenis pengetahuan yang spesifik dan khas. Bahkan pengetahuannya "ditemukan" melalui aktifitas "berpikir" yang sama sekali lain. Bahkan konsep berpikir tidak cukup untuk menjelaskan proses pencapaian epistemik (pengetahuan) yang dialaminya.

Dalam sejarah, narasi itu diliterasikan melalui penceritaan di suatu gua. Bukit-bukit tinggi tidak jauh dari Mekkah. Dan, "iqra" adalah "pengetahuan pertama" yang menjadi "pintu masuk" bagi aktifitas kenabian Rasululullah.

Di sini, suatu masa dimulai. Dan, Rasulullah menanggung dua jenis kesakitan sekaligus. Secara fisik dia menanggung sakitnya dikucilkan dari keluarga dan masyarakatnya. Serta, dari sisi kejiwaan suatu "sakit" yang hanya identik dirasakan oleh dirinya seorang (dikisahkan, Rasulullah sampai mengalami sakit fisik berupa badan yang menggigil berkeringat pasca "diturunkannya" wahyu pertama kalinya).

Melalui ini suatu pemahaman terbit. Sementara akhirnya dari risiko yang dibawanya, suatu agama "lahir" dan menginspirasi terbentuknya tatanan dunia yang teologis dan humanis

Menurut eike, ditilik dari sudut ini, sejarah hidup Rasulullah adalah sejarah bagaimana seorang manusia yang berhasil menduduki pengetahuan tertinggi dengan menanggung dan melampaui rasa sakit yang inheren di dalamnya. Sejarah tentang betapa "sakitnya" Rasulullah "membawa" apa yang "dikandungnya". Rasa "sakit" yang sungguh dahsyat dan tidak akan pernah dialami satu manusia sekalipun.

Tapi, begitulah. Tiada pengetahuan tanpa kesakitan. Bahkan, itulah jalannya.

Syahdan, di era kiwari, untuk memulai suatu pemahaman, orang-orang nyaris tidak ingin mengambil risiko berpengetahuan. Mereka khawatir menanggung kesakitan dan kepedihan, sekaligus mencari cara untuk menghindarinya dengan mencari "paket-paket" pengetahuan yang sudah fix. Orang-orang macam begini, enggan merawat bayi pengetahuannya. Bahkan, ogah mengandung dan melahirkannya.

Dengan kata lain, pengetahuan di masa sekarang hanyalah hasil fabrikasi "kekuatan-kekuatan" eksternal di luar rahim manusia. Manusia hanya menjadi pengkloning pengetahuan tanpa mengetahui proses dan ikut terlibat di dalamnya. Hanya mau menerima "kotak instan" yang sudah dikemas dan distandarnisasi.

Lalu, jika demikian, siapa lagi saat ini yang dengan rela mau memikul sakitnya berpengetahuan? Proses luar biasa yang menghujam pikiran dan jiwa, bahkan berisiko maut.

24 Februari 2018

Iman dan Cinta

Iman. Sayangnya, iman agama yang kita menangkan belakangan ini adalah jenis iman tanpa cinta. Bahkan, mungkin kebencian.

Iman minus cinta adalah iman destruktif, iman yang menghancurkan. Itulah sebabnya dia menyerupai kebencian, sifat bejat manusia yang justru ibarat kanker. Ia tumbuh merusak dari dalam.

Lalu, seperti yang kerap terjadi, dari situ iman yang susut dari cinta memasang tiang pancang. Menarik garis batas tanpa tedeng aling-aling. Membelah "kita" menjadi "kami", pun juga dengan model ke-aku-an yang nyaris asosial

Di medan kehidupan ril, iman yang dianut nyaris menyerupai ranting kering. Ia tungkai yang kaku. Sulit beradaptasi. Tapi juga sekaligus gampang terbakar.

Jika demikian, bagaimanakah iman dengan cinta?

Iman dengan cinta adalah iman yang ditopang dengan empat gejala. Seperti pendakuan Erich Fromm, seorang ahli ilmu jiwa, cinta yang sehat adalah cinta yang memiliki care (kepedulian), responsibility (bertanggung jawab), respect (penghormatan), dan knowledge (ilmu pengetahuan). Dengan empat gejala ini, cinta tidaklah seperti yang dibayangkan orang-orang, buta dan nyaris tanpa akal sehat.

Kepedulian adalah gejala pertama dari cinta, dia begitu peka terhadap keberlangsungan seseorang. Dia begitu mudah "berair" dan "terluka" demi sesuatu yang dicintainya. Kadang, karena peduli, nyaris di titik ini "akal sehat" menjadi tidak bekerja demi kebaikan sesuatu yang dia cintai.

Akibatnya, dia menjadi seorang yang rela mengambil peran sehubungan dengan sesuatu yang dicintainya. Dia menjadi sadar hak dan kewajiban dirinya. Kepeduliannya pada akhirnya membuatnya bertanggung jawab.

Di saat yang bersamaan, di balik hak dan kewajibannya, dia sekaligus merealisasi hak dan kewajiban pribadi yang dicintainya pula. Cara ini adalah upayanya mendudukkan kehormatan "sang kekasih" ke tempat yang layak. Sang kekasih dengan kata lain adalah pihak yang dia junjung sekaligus ia hormati sekaligus.

Ilmu pengetahuan adalah gejala terakhir dari cinta. Artinya cinta mustahil menempatkan seseorang di dalam kolong kegelapan. Cinta sudah dengan sendirinya mencerahkan. Melalui ilmu pengetahuan, atau sebaliknya, cinta menjadikan seseorang mengalami pembalikan sepenuhnya. Jiwanya dipenuhi kesadaran berbasis ilmu pengetahuan. Cintanya bersifat membebaskan.

Dari semua itu, cinta pada akhirnya akan melahirkan dua anak kandung: truth (kebenaran) dan fidelity (kesetiaan).

Tapi, kebenaran seperti yang menjadi sisi kanan sampannya adalah risiko. Dan sisi sampan kirinya adalah risiko yang lain...

Artinya, siapa pun yang mencintai bakal menuai risikonya. Siapa pun yang mencintai akan dituntut kesetiaannya.

Lalu, bagaimanakah cinta yang ternyata senantiasa membawa suffering (penderitaan)?

Dalam sejarah, orang-orang besar yang memanggul cinta memang berkembaran dengan penderitaan. Itulah risikonya yang lain. Bahkan, sebenarnya itulah jalannya.

Cinta seperti yang dinyatakan sebelumnya, membawa empat gejala. Apakah itu arti lain dari perkataan Jalaluddin Rumi, "di dalam negeri cinta, akal digantung?"

Apakah itu tiada lain seperti perkataan banyak orang cinta berarti "perasaan" di mana akal dimatikan? Ataukah justru sebaliknya dengan arti ini: akal ibarat matahari yang "tergantung" dan mesti diletakkan diketinggian, dia sulit disaksikan langsung, tapi cahayanya justru mencerahkan.

Cinta memang tidak buta.

18 Februari 2018

Lima Prinsip

Lima Prinsip. Setidaknya menurut eike ada lima prinsip pokok yang mesti dijadikan ukuran untuk mendudukkan agama sebagai agama. Lima prinsip ini juga pertama-tama merupakan suatu cara yang bagi eike dapat dijadikan jalan keluar untuk memahami ide-ide substantif dari agama yang belakangan ini banyak termodifikasi melalui kosakata-kosakata kepentingan primordial dan sektarian. Kedua, walaupun bersifat sederhana, lima prinsip yang eike susun ini, terutama dalam Islam, adalah suatu kerangka epistemologis untuk menjawab fenomena faktual masyarakat kiwari yang terjebak ke dalam cara pandang agama secara esensialis.

Lima prinsip itu yang pertama adalah: prinsip logos.

Prinsip logos adalah azas pertama yang bermaksud untuk mendudukkan statment-statment agama di atas aturan bahasa yang rasional. Artinya, setiap bahasa agama ketika diucapkan ke dalam konsep-konsep pikiran mesti mencerminkan kemasuk-akal-an. Artinya pertanggungjawaban epistemologis dari proposisi-proposisi agama jika dikembalikan kepada prinsip kebenaran maka ia tidak melanggar dan mengingkari kebenaran dari dirinya sendiri. Dengan kata lain, di dalam statmentnya itu sendiri tidak mengandung kesalahan berpikir.

Prinsip logos jika direalisasikan akan mengandaikan tiga hal. Pertama adalah keterbukaan, yakni suatu kualifikasi yang menerima masukan dari mana pun untuk memperkaya dirinya. Dengan kata lain, pengandaian ini menghendaki penerimaan terhadap segala informasi baru selama saling menguatkan masing-masing pendiriannya.

Keterbukaan karenanya adalah modal pertama dari prinsip logos untuk menempatkan kebenaran misalnya, dengan mempertimbangkan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Pengandaian yang kedua adalah dialogis. Syarat ini adalah konsekuensi dari keterbukaan sebagai cara untuk melakukan tukar tambah pengetahuan. Dialogis merupakan prasyarat kedua agar kebenaran dapat berfungsi secara komunikatif. Dengan kata lain tidak ada pernyataan-pernyataan kebenaran yang tidak dapat dikomunikasikan. Itu artinya, dialog adalah kemampuan dari logos untuk mempercakapkan dirinya dengan cara-cara terbuka sebagai bagian dari demonstrasi kebenarannya. Tentu prinsip ini mesti dilakukan di tengah-tengah kepelbagaian yang mengitarinya.

Pengandaian logos yang ketiga adalah emansipatoris. Kualifikasi ini adalah kaki-kaki prinsip logos untuk mau mengemansipasi pihak lain di luar dirinya. Artinya bahwa kemampuan emansipasi adalah kata lain dari suatu upaya untuk memberdayakan pihak lain dengan cara terbuka dan dialogis sebagai hal penting yang saling terkait.

Terbuka, dialogis dan emansipatoris dengan begitu adalah tiga prasyarat dari rasional tidaknya suatu pengetahuan agama.

Prinsip yang kedua adalah prinsip kemanusiaan. Dalam Islam, prinsip ini kerap disepadankan dengan kosa kata "al ukhuwah al insaniyah" (persaudaraan antarmanusia). Pokok ini mengartikan setiap umat manusia dipersatukan di dalam satu ikatan yang bersifat universal. Ikatan ini adalah jenis ikatan yang melampaui kedekatan suku, agama, budaya, atau bahkan pertalian sedarah.

Persaudaraan antarmanusia juga merupakan pertalian yang menghubungkan sekaligus meminimalisir perbedaan-perbedaan yang bersifat permukaan ke dalam suatu pemahaman tentang kemanusiaan sejati.

Dengan kata lain, prinsip kemanusiaan adalah azas yang melampaui dan sekaligus mesti diletakkan di atas konsep-konsep universal semisal konsep kebangsaan dan kesukuan yang sering kali memicu sobeknya apa yang disebut "tissue social."

Dalam Islam, banyak ditemukan ayat-ayat yang menggunakan kalimat seruan "wahai manusia" dan bukan lainnya. Dari ungkapan ini Islam sesungguhnya sangat menghargai manusia sebagai ciptaan Allah paling paripurna. Itulah sebabnya ungkapan ini bukan sekadar ungkapan retoris yang tanpa bermaksud apa-apa, melainkan suatu model komunikasi Ilahi yang berarti bahwa Islam senantiasa menempatkan seluruh nilainya agar selaras dengan nilai dasar kemanusiaan.

Prinsip yang ketiga adalah penghargaan terhadap ajaran agama lain. Prinsip eike kira adalah prinsip yang menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat hari ini mengingat semakin defisitnya konsep keberagamaan yang melandasi interaksi masyarakat Indonesia. Belakangan, bagi kelompok-kelompok agama tertentu, akibat tidak hadirnya penghargaan sesama pemeluk agama lain banyak mengakibatkan retaknya kohesi sosial masyarakat.

Berbicara dari segi kedudukannya, tiadanya prinsip ini seringkali menjadi dasar mengapa agama-agama lain di luar dari keimanannya dilihat sebagai agama yang tidak layak disejajarkan dengan agamanya sendiri. Hal ini berdampak serius dengan ditandai berupa menguatnya kecurigaan antar sesama pemeluk keyakinan berbeda. Bukan saja itu, lenyapnya prinsip ini membuat konsep-konsep kebenaran dalam agama menjadi gagasan-gagasan yang bernilai sempit dan sulit didialogkan.

Kosakata agama mayoritas-agama minoritas, akhir-akhir ini menjadi bahasa publik yang sepertinya berdiri di atas kekosongan prinsip penghargaan terhadap pemeluk agama lain. Ruang publik masyarakat akibatnya mau tidak mau terseret kepada logika pemahaman agama yang menegasikan pihak lain dengan cara mengasingkan pemeluk agama berbeda ke ruang jauh keterasingan. Bahkan bukan saja pengasingan, seringkali tindakan ini berujung kepada perilaku diskriminatif dan mengancam.

Pentingnya prinsip ini sebenarnya bukan saja karena kebutuhan mendesak masyarakat sekarang, melainkan memang dari segi kenyataannya, bangsa ini sejatinya ditopang dari kepelbagaian perbedaan yang sebenarnya adalah rahmat bagi negeri ini. Secara kebudayaan misalnya, negeri Indonesia sejatinya adalah negeri yang lahir dari ibu kandung multikulturalisme. Kenyataan ini sulit dibantah dan oleh sebab itu cara merespon fenomena ini yang menjadi kekayaan yang berlimpah tiada lain dengan mengafirmasi prinsip penghargaan sesama pemeluk agama berbeda.

Cinta dan spiritualitas adalah prinsip keempat yang eike rasa adalah salah satu solusi untuk membenahi kehidupan umat beragama bangsa Indonesia. Cinta dapat menjadi medium yang menghadirkan rasa kasih sayang terhadap sesama di antara jaringan interaksi masyarakat. Tanpa cinta, interaksi masyarakat besar kemungkinannya akan terjebak kepada perasaan sentimentil yang memicu kebencian. Sementara spiritualitas adalah kualitas ruh agama yang mesti selalu hadir bukan saja di dalam praktik-praktik peribadatan syariat, tapi juga di dalam setiah hubungan kemanusiaan kita. Arti penting cinta dan spiritualitas, dengan kata lain merupakan esensi agama yang mesti dihidupkan lebih jauh agar tidak sekadar menjadi doktrin beribadah semata melainkan juga mengcover seluruh praktik kehidupan masyarakat.

Terakhir prinsip yang kelima adalah mencintai al Qur'an. Prinsip ini dapat diterangkan bahwasannya al Quran mesti menjadi pustaka utama bagi setiap kebutuhan manusia. Mencintai al Quran dalam arti ini bukan seolah-olah mendudukkan teks-teksnya menjadi kata-kata benda, melainkan dia mesti menjadi teks-teks aktif yang membunyikan dan menerangi setiap pencapaian pengetahuan manusia. Al Quran dari sisi ini, berarti adalah kitab yang sangat peduli dengan ilmu pengetahuan dan inovasi-inovasi yang ditemukan di zaman ini sehingga benarlah seperti yang diartikan selama ini bahwa al Quran senantiasa selaras dengan perkembangan umat manusia dari masa ke masa.

Prinsip ini juga dapat diartikan sebagai peneguhan kepada figur Rasulullah sebagai manusia yang paling paripurna. Secara epistemologi, wahyu al Quran merupakan pencapaian ilmu pengetahuan Rasulullah yang bersumber langsung dari sumber ilmu pengetahuan itu sendiri yakni Allah semata-mata. Dengan kata lain, secara pemaknaan diri Rasulullah adalah sosok nyata dari hakikat al Quran yang dibuktikan dari ucapan istrinya bahwa akhlak Rasulullah adalah al Quran itu sendiri. Prinsip mencintai al Quran dengan begitu sama artinya dengan mencintai Rasulullah sebagai sosok khusus yang menjadi medium dan pembawa wahyu ilahi.

Di dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, prinsip mencintai al Quran setidak-tidaknya bertujuan untuk menghidupkan ruh Islam di tengah-tengah gempuran nilai-nilai nonilahiat yang mengkerdilkan nilai kemanusiaan.

Syahdan, lima prinsip ini menurut eike bisa menjadi indikasi untuk meraba-raba sejauh apa agama itu sendiri, terutama Islam telah berperan selama ini dengan mengedepan inti ajarannya. Walaupun demikian, lima prinsip ini bukanlah indikator satu-satunya di dalam melihat Islam sebagai nilai universal. Seperti yang eike bilang semenjak awal, lima prinsip ini hanyalah ukuran sederhana yang eike susun sendiri untuk menakar, katakanlah Islam substantif yang berbeda dari Islam aksidental, satu paras Islam yang belakangan menggenapi cara masyarakat Indonesia beragama.


17 Februari 2018

Melihat dari Jauh



Aristoteles, Murid Platon
dikenal dengan konsep Hylemorpisnya



Melihat dari Jauh. Mungkin, cikal bakal intelektualisme adalah pengasingan.

Di masa-masa Platon hidup, intelektualisme dinyatakan dengan cara mendirikan komunitas-komunitas belajar yang jauh dari pemukiman kota Athena. Sang filsuf, dinarasikan dalam sejarah, sering kali pergi mengasingkan diri dengan mengumpulkan murid-muridnya di suatu tempat agar menemukan suasana belajar yang bebas dan steril dari segala kepentingan. Toh jika ada kepentingan, Platon mungkin bilang, yang ada hanyalah demi kepentingan ilmu pengetahuan.

Di tempat itu, yang sering disebut academia, Platon mendudukkan murid-muridnya sebagai teman dialog. Melalui percakapan melingkar, Platon dan murid-muridnya menjadikan cara itu untuk mendiskusikan segala ihwal. Suatu cara berdialog yang disinyalir pernah dipraktekkan Socrates dengan nama "metode bidan".

Barangkali, pengasingan Platon adalah suatu strategi belajar untuk mengafirmasi gagasannya tentang suatu dunia yang ia sebut sebagai dunia idea. Dunia idea, bagi Platon adalah dunia sebelum jasad yang tanpa cela dan tanpa cacat. Kata Platon, dunia idea adalah dunia tempat jiwa bersemayam dan bebas bergerak dengan ide-ide universal.

Barangkali dengan arti itu pula perlu ada ruang ideal yang mencerminkan dunia tanpa gangguan sebagai tempat mengasah pikiran. Suatu dunia seperti yang mampu mewakili dunia idea: tempat yang lowong, tanpa beban dan bebas memungkinkan pikiran bergerak dialektis tanpa dikerdilkan kepentingan sesaat.

Singkatnya, pengasingan dengan begitu adalah suatu mekanisme sosial yang mengambil jarak dari beban pikiran sehari-hari yang tidak substansial.

Suatu cara membebaskan jiwa agar dapat berkembang dengan sehat.

Orang-orang Yunani menyebut ini sebagai katarsis.

Kelak Aristoteles murid Platon, akan meneruskan model ini dan akan menjadi batu pertama bagi berdirinya institusi-institusi belajar modern semisal perguruan tinggi.

***

Orang-orang kota, di tiap akhir pekan seringkali pergi jauh dari mukimnya untuk menikmati waktu lowong. Pantai atau daerah pegunungan seringkali menjadi pilihan utama dari aktifitas semacam ini. Di tempat-tempat itu mereka mengasingkan diri sejenak dari rutinitas harian. Mencari energi baru dan inspirasi. Menyegarkan kembali pikiran selama dijejali tanggung jawab pekerjaan.

Orang-orang menyebut ini sebagai rekreasi. Cara mengasingkan diri yang menyenangkan.

Sementara masyarakat terdidik terutama mahasiswa sampai sekarang masih menerapkan "pengasingan Platon" sebagai bagian dari rutinitas intelektualismenya.

Di tiap akhir pekan, tempat-tempat yang jauh dari pemukiman kota dipilih sebagai lokasi kegiatan-kegiatan pelatihan. Di tempat-tempat itulah suasana belajar yang jauh lebih bebas mereka temukan. Tempat yang jauh berbeda dari kampus yang kerap masih berlaku hirarki tuan-hamba.

Di Makassar, tidak jauh dari pusat kota, umumnya ada dua tempat sering digunakan masyarakat terdidik untuk menciptakan "pengasingan Platon". Pertama adalah situs peninggalan Benteng Somba Opu yang berisikan replika rumah-rumah adat dari pelbagai kabupaten di Sulawesi Selatan. Yang kedua, agak jauh dari pusat kota yakni di sekitar pesisir pantai yang menghadap selat Makassar: Tanjung Bayang. Dua tempat ini selain Malino, cukup mewakili karakter suasana yang cenderung bebas dan tanpa tekanan, dua prasyarat agar pikiran bekerja maksimal.

Di dua tempat inilah, dua pengasingan sekaligus dilakukan. Jika pengasingan sepadan dengan penjarakan, maka pengasingan yang pertama adalah metodelogi belajar yang mirip dan yang pernah diupayakan Platon dan murid-muridnya. Yakni, metode menempa pikiran dengan cara mencari tempat-tempat jauh dari kesibukan masyarakat urban yang mampu mensterilkan akal sehat.

Pengasingan yang kedua dapat dipahami melalui konsepsi "abstraksi" Aristoteles. Metode abstraksi dari filsafat Aristoteles adalah kualitas pikiran manusia yang mampu menarik kesamaan-kesamaan dari perbedaan objek dengan mengambil ide-idenya sebagai konsep universalnya. Kemampuan ini sering dilakukan manusia dengan cara mengeneralkan sesuatu dari perbedaan yang dimiliki objek-objek tertentu.

Ibarat satuan pasir, pikiran mampu menyaring pasir perbedaan demi menemukan pasir halus yang jauh lebih mewakili harapan sang manusia. Atau, seperti metode penyulingan ketika ingin menemukan zat cair yang jauh lebih jernih.

Dua pengasingan ini, sadar tidak sadar adalah proses penyubliman pikiran yang sampai sekarang menjadi cara paling ampuh untuk menjaga pikiran dapat terus sehat.

Melalui dua mekanisme ini, bukan saja masyarakat terdidik, melainkan kelompok masyarakat lainnya, menemukan waktu dan ruang yang lebih memadai untuk melihat dan menilai dari sudut tertentu tentang apa yang sudah ada selama ini. Bahkan, di sisi tertentu mempertanyakan kembali apa-apa manfaat dari sesuatu terhadap keberlangsungan diri selama ini.

Dengan proses inilah refleksi dimungkinkan.

Syahdan, walaupun demikian di satu sisi "pengasingan Platon" sering kali diejek sebagai model belajar yang mengedepankan kontemplasi dari pada aksi. Kontemplasi bahkan dinilai sebagai bentuk eskapisme terselubung. Cara orang-orang lari dari kenyataan dengan memasuki dunia "khayalan".

Akibatnya konon katanya, dunia tidak akan berubah hanya dengan cara berkontemplasi. Kontemplasi ditengarai menjadi sebab mengapa banyak orang memilih hidup menjauh dari kehidupan ril itu sendiri. Bahkan kontemplasi membuat siapa pun yang melakukannya menjadi pasif. Tidak punya greget dan semangat dalam hidup.

Itulah sebabnya, kata aksi bagi sebagian mahasiswa masih lebih mulia daripada terma kontemplasi. Kata aksi lebih mewakili jiwa muda mahasiswa, tinimbang kontemplasi yang dianggap lebih mewakili semangat kaum tua.

07 Februari 2018

Kontradiktif. Menurut eike gambar iklan dari film Silariang ini nampak ganjil. Secara semiotik gambar yang diwakili dua tokoh film ini tidak mewakili keadaan sosio-psikis yang sering dialami orang-orang yang melakukan silariang. Bagaimana mungkin dua tokoh ini masih bisa tersenyum berlari ketika mengalami peristiwa yang dinilai terlarang. Sulit membayangkan dua sosok pemuda-pemudi masih senyam senyum ketika silariang.

Silariang, kita tahu adalah tindakan terlarang dalam tradisi Bugis-Makassar. Silariang bukan mekanisme sosial dari tradisi nenek moyang yang dianjurkan untuk memediasi dua sejoli yang sedang jatuh cinta dan akan melabuhkan perasaannya ke dalam perkawinan. Tidak ada pemuda pemudi silariang yang bergembira melakukannya. Lalu apa pesan moril dari gambar yang kontradiktif ini?

Secara sosiologis, tradisi dinyatakan sebagai kategori sosial yang imperatif, yang memaksa. Tapi, dikatakan ahli ilmu masyarakat, saking imperarifnya, masyarakat mau tidak mau mesti mentaatinya agar terjadi keselarasan dalam praktik hidup bermasyarakat. Dalam kehidupan modern seperti sekarang banyak tradisi yang mengalami tegangan dengan semangat kebebasan manusia. Di satu sisi manusia disebut mahluk bebas, tapi di sisi lain ada tradisi yang ibarat penjara membatasi gerak gerik sang manusia. Silariang, eike kira adalah film yang juga mengangkat kisah semacam itu. Antara kebebasan menentukan pilihan pribadi atau "terpaksa" mengikuti kebiasaan tradisi.

Tapi, melihat kembali gambar iklan film ini, nampaknya dua sejoli ini seolah-olah tidak memberi kesan yang normal di hadapan tradisi masyarakatnya. Buktinya, lihat saja gambar iklannya. Dua sejoli yang tidak getar getir ketika melawan adat istiadatnya.

Ditinjau dari sudut penyiaran, fenomena iklan ini kontradiktif dengan pesan yang ingin disampaikannya. Secara semiotik penandaan senyuman dari dua tokoh ini tidak sama sekali terkait dengan makna budaya dari kata silariang itu sendiri.

Tapi, tentu tulisan ini akan jauh berbeda artinya jika melihat secara keseluruhan isi filmnya. Eike yakin dua tokoh ini tidak sedang ketawa ketiwi ketika sedang silariang.

03 Februari 2018

Menjinakkan Harimau Kata-Kata

Mulutmu adalah harimaumu. Ungkapan ini jelas maknanya: mulut bisa melukai dengan kata-kata kasar. Atau sebaliknya, mulut bisa berbalik membuat si pengucap mendapatkan “terkaman” orang lain.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi hari ini sudah “menyulap” harimau tidak saja menjadi metafora bagi mulut, tangan, bagian tubuh yang lain juga bisa menjadi “cakar” bagi orang lain.  Zaman ketika mulut lebih banyak dialihfungsikan kepada sentuhan tangan di layar gadget, membuat daya jangkau “harimau” kata-kata jauh lebih luas dari masa sebelumnya.

Era informasi seperti sekarang memang zaman penuh “harimau-harimau” yang leluasa meloncati batas-batas kultural, keyakinan, dan kebiasaan masyarakat. Melalui layar sentuh, siapa saja bisa melepaskan “harimau-nya” sesuai dengan keinginan dan harapan si pemilik. Entah ingin membuat takut orang-orang, atau –seperti dialami dari fenomena hoax—membuat luka sayatan yang membelah dan menyakiti perasaan orang-orang.

Kata-kata memang licin karena itu sulit untuk dikendalikan. Seperti harimau, dia mesti “dijinakkan” sebelum “dipentaskan” ke hadapan khalayak. Ibarat sang pawang harimau, sang pengucap mesti “melatih” terlebih dahulu kata-katanya agar tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Bahkan demi kebaikan bersama, harimau kata-kata mesti terlebih dahulu “dikandangkan.”

Ada peribahasa dari sahabat, sepupu, menantu, sekaligus pengikut setia Rasulullah, Ali bin Abi Thalib: lidah orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya. Kalimat ini begitu cerkas mensituasikan bagaimana sebaiknya kata-kata mesti didudukkan tanpa memperkeruh dan menyinggung batin dan pikiran lawan bicara.

Di situ orang-orang dianjurkan agar berhati-hati mengucapkankan kata-kata dengan menempatkan “lidahnya” di belakang “hatinya.” Kata-kata yang mesti diucapkan, dengan kata lain adalah kata-kata yang sudah sebelumnya dipertimbangkan matang-matang melalui perantaraan “hati.”

Di situ kedudukan “hati” jauh lebih utama di saat berkata-kata demi menjaga perasaan orang lain.

Di era “perang” kata-kata seperti sekarang, “lidah harimau” mesti dijinakkan terlebih dahulu. “Hati” sebagai metafora perasaan, kelembutan, dan ketenangan, adalah “kunci” dari bagaimana orang-orang mengontrol “harimau” kata-katanya.

Dalam khazanah tasawuf, “hati” tidak saja didudukkan sebagai organ biologis semata. Dari sisi epistemologi, “hati” adalah sumber pencerahan. “Hati” bahkan didudukkan menjadi fakultas penting sebagai sumber dan alat pengetahuan. Bagi seorang sufi-pesuluk, “hati” adalah sumber ilmu dan kearifan paling paripurna dibandingkan sumber-sumber pengetahuan lainnya.

Di titik ini, “lidah” yang diletakkan di belakang “hati”, dengan kata lain adalah suatu cara untuk mengatakan tanpa pertimbangan ilmu, kata-kata yang diucapkan hanyalah bunyi-bunyian tanpa makna. Kata-kata tanpa penyelidikan ilmu lebih banyak mudharatnya daripada faedahnya.  

Itulah sebabnya, jika “lidah” lebih didahulukan selama berkata-kata tanpa mengikutkan “hati”, seperti pendakuan Ali bin Abi Thalib: itulah orang-orang yang bodoh. Itulah harimaunya.

Yang menarik jika ditelisik, “mulutmu harimaumu” juga bisa jadi adalah ungkapan yang secara simbolik mau menerangkan sisi instingtif-naluriah yang dimiliki manusia. Sisi binatang dari diri manusia. Para ahli ilmu-ilmu jiwa menyepadankan sisi animalitas yang dipunyai manusia ini dengan istilah id.

Sigmund Freud, psikoanalisis yang mempopulerkan id melalui trikotomi id, ego, dan super ego-nya menyatakan, di balik kesadaran manusia yang mencerminkan sisi normatifitas nilai-nilai, menyembunyikan sisi chaotic-libidinal yang sulit dibendung dan dikendalikan. Id dalam hal ini adalah dasar libidinal yang sulit terpuaskan dan bahkan tidak akan pernah terpuaskan. Akibatnya, demi memenuhi hasrat bawaannya, id yang berwatak chaotik sering kali menyilang dan menyeroboti normatifitas yang dikendalikan unsur ethic manusia.

Dengan kata lain, sisi ethic yang kehilangan kendali atas sisi chaotic, mengakibatkan leluasanya sisi animalitas manusia menyimpang dari sisi manusiawinya. Di saat itulah melalui peran tutur lisan (atau tulisan), kata-kata justru berubah menjadi medium hasrat yang menerabas tatanan keharmonisan. Mulutmu akhirnya menjadi harimaumu.

Implikasi secara sosial dan kultural, kata-kata yang berhasrat dengan demikian mampu mengancam integritas yang sudah ada di dalam komunitas masyarakat. Bukannya menjadi medium pemersatu, justru kata-kata yang tidak “jinak” menjadi pemicu lahirnya perpecahan.

Syahdan, masyarakat hari ini dipenuhi anomalitas atau penyimpangan yang ditandai dari berubahnya keadaan ethic manusia menjadi situasi chaotik. Di medan bahasa, banyak sekali kata-kata beterbaran yang belum sempat dijinakkan. Kebudayaan akhirnya menjadi kawasan yang mirip hutan rimba; tanpa kendali dan karut marut. Bahkan tidak sedikit liarnya kata-kata, memakan banyak korban akibat dominannya sisi animalitas manusia.

Maka jangan heran, belakangan ini jika kita menengok di sekitar kita akan banyak kita temukan orang-orang yang memelihara harimau sebagai sarana wicaranya. Tak jarang bahkan tutur katanya lebih tajam dari sebilah pisau.

Nampaknya memang betul, sekarang banyak orang-orang menempatkan “hatinya” di belakang “lidahnya”.  

--

Terbit sebelumnya di Locita.co

22 Januari 2018

Revolusi a la Gabriel Garcia Marquez


Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan. Begitu pendakuan Gabriel Garcia Marquez, sastrawan masyur yang menulis One Hundred Years of Solitude. 

Marquez tidak seperti para pengkotbah di negeri ini yang meyakini perubahan hanya bisa disandarkan kepada kebutuhan untuk bersuara. Tentunya ini bukan sekedar trik Marquez untuk menyeret orang-orang dari “pusaran suara” menuju “pusaran aksara.” Apalagi menganggapnya sebagai strategi untuk menarik minat orang-orang agar menyenangi quote-quote inspiratif.

Sebaliknya,  menurut eike ini cara Marquez untuk menyampaikan suatu pengertian yang jauh lebih ke belakang, jauh lebih fundamental: menghayati aksara dengan beragam risikonya.

Pertama-tama, ini mungkin spekulatif: tidak ada penghayatan terhadap aksara tanpa sebelumnya beririsan dengan dirinya sendiri. Dalam konteks dunia yang mengakomodir publisitas sebagai indikator kemajuan, seseorang mesti pertama kali menaklukkan dirinya untuk mau menepi di pesisir kesunyian.

Konon Orhan Pamuk, sebelum menjadi penulis seterkenal sekarang, kurang lebih banyak mengurung dirinya selama delapan tahun di perpustakaan tanpa diganggu peristiwa sehari-hari. Entah apa yang terjadi di kala itu.

Tapi, dari pengalamannya macam demikian, kita bisa menarik faedah kira-kira apa yang terjadi jika Anda mengurung diri selama bertahun-tahun di dalam ruangan yang penuh buku-buku? Mungkin Anda mampu menghapal pelbagai macam judul buku beserta deretannya di atas almari. Atau mengetahui hampir semua isi buku yang mengelilingi Anda? Apakah Anda akan menjadi Orhan Pamuk yang lain? Mungkin.

Secara ilustratif, model hidup semacam itu kemungkinan besar akan dicela sebagai kehidupan yang mengingkari kehidupan bermasyarakat. Seperti kaum sufi yang mentalak dunia demi pencapaian spiritualitas tingkat tinggi. Namun, dunia justru membuktikan, jalannya sejarah perabadan manusia kadang sangat ditentukan dari pencapaian orang-orang yang bercengkrama dengan kesendirian.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu sebagai suatu pernyataan sampai sekarang masih sering membuat eike takjub terhadap kandungan makna yang ada di baliknya. Bagaimana mungkin seorang bisu mampu bernyanyi? Situasi apakah yang mendorong seorang bisu harus bernyanyi di dalam kesunyian? Dalam situasi itu, jenis suara seperti apakah yang dihasilkan dari nyanyian seorang yang bisu?

Terlepas dari eksposisi di atas, di situ sunyi dan bisu bagi eike adalah dua situasi yang extraordinary. Melalui situasi itulah sunyi dan bisu  yang dimaksud dari buku Pramoedya Ananta Toer menemukan momentum pemakanaannya.

Biografi Pamuk dan terlebih lagi Pram adalah biografi orang-orang yang dipapar kesunyian. Mereka adalah orang-orang yang mengelola kesunyian menjadi kekuatan. Bagi eike, di titik inilah momen revolusioner diciptakan. Dan menulis adalah strategi mereka untuk melancarkan suatu gema, suatu suara. Barangkali inilah suatu cara terbaik yang dikatakan Marquez sebagai jalan untuk menjalankan revolusi.

Kedua, dilihat dari konteks abad ini, menulis adalah pekerjaan yang sama berartinya dengan pekerjaan-pekerjaan teknis lainnya. Dia sama revolusionernya dengan penggunaan gadget dewasa ini. Dengan kata lain, menulis memiliki pengaruh yang cukup signifikan di dalam menciptakan perubahan sosial.

Sebagai perbandingan, setelah tradisi lisan dipentaskan di atas podium-podium agama, tulisan-tulisan Martin Luther yang ditujukan untuk mengkritik doktrin gereja abad pertengahan menjadi medium baru dan mampu mengkonsolidasikan suatu pandangan baru sebagai basis keimanan. Semenjak kritik teologi yang ditulisnya disebarluaskan, sejarah kekristenan berubah dengan  munculnya aliran baru yang hari ini dikenal sebagai Protestanisme.

Memang agak klise, tapi perubahan sejarah kekristenan itu sepakat atau tidak, ditengarai melalui medium tulisan. Dengan sokongan revolusi mesin cetak Guttenberg, tulisan semenjak itu mulai mengubah bentuk kesadaran yang beralih dari suara menjadi aksara. Dengan cepat terjadi liberalisasi ilmu pengetahuan dengan menerobos sekat-sekat kelas masyarakat saat itu.

Di masa sekarang, kejelian ramalan Alvin Toffler mengenai kedudukan sejarah di masa akan datang menemukan momentumnya. Dengan tesis yang pernah ia ajukan tentang buta huruf, secara patologis menggambarkan kebutaan secara informatif masyarakat gelombang ke tiga ditunjukkan bukan dari mereka yang tidak bisa baca tulis, melainkan ketidakmampuan orang-orang mengelola informasi dan keengganan untuk belajar seiring perubahan yang terjadi.

Dengan kata lain, keberlimpahan informasi yang mengepung kehidupan masyarakat hari ini tidak menjamin kemajuan secara epistemik masyarakat itu sendiri.

Justru kenyataan sebenarnya adalah, banyak orang-orang yang masih buta huruf akibat tidak mampu mendudukkan informasi sebagai data penting untuk memajukan kehidupannya.

Dari konteks di atas, dengan begitu menulis sama berartinya sebagai pekerjaan yang memukul buta huruf. Suatu upaya melawan kebodohan. Di situ ada kegiatan pengelolaan informasi menjadi data, membaca pelbagai referensi, membandingkan data-data, dan menganalisis hasil bacaan. Dengan kata lain, suatu tindakan revolusioner.

Ketiga, menulis dengan sebaik yang dapat ia lakukan berbeda dengan hanya sekedar menulis. Sebaik yang dapat  dilakukan adalah kuncinya. Frasa itu menandai pentingnya segala upaya dan tenaga sebagai daya dorong bagi seseorang untuk memberikan yang terbaik dari kemampuan menulis yang dimilikinya.

Sebaik yang dapat  dilakukan dengan kata lain adalah parameter yang memisahkan mana penulis yang mau berjibaku dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, dan yang mana penulis yang pada akhirnya berhenti dan menyerah dengan hanya memberikan kemampuan ala kadarnya.

Ini artinya seperti seseorang yang melawan dirinya sendiri untuk menetapkan batas-batas terjauh dari kemampuan dirinya. Esok bukanlah hari ini, dengan sekaligus harus jauh lebih baik dari hari sekarang.

Dengan kata lain, ini adalah suatu ritme. Suatu tindakan keberlanjutan terus menerus.

Syahdan, perkataan Marquez di atas memang bukan frasa yang akrab ditemui jika berbicara mengenai perubahan sosial. Apalagi jika itu mau dikatakan sebagai anjuran-anjuran revolusioner yang kerap mengundang orang-orang agar mau berkumpul di jalan raya. Revolusi Marquez dengan kata lain bukan jenis revolusi yang berbasis barisan orang-orang. Dia sesuatu yang lain, sesuatu yang membutuhkan ruang tersendiri untuk menyusunnya. Suatu pekerjaan soliter.

Akhir kata, ketika hari ini banyak pekik suara-suara yang mengepung di atas udara, bisa jadi itu hanya jenis suara yang banal. Mungkin itu bukanlah sumber perubahan?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...