![]() |
Data buku:
Judul Buku: Of Mice and Men
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Gramedia Pustaka
Tahun terbit: 2017
Tebal halaman: 144 halaman
|
01 Januari 2018
Of Mice and Men, John Steinbeck
26 Desember 2017
Tragedi dan Kelahiran Juru Selamat
JURUSELAMAT. Seperti dituliskan Eka Kurniawan melalui esai-blognya, dalam
sejarah, manusia mengenal dua sosok tragis: Socrates dan Yesus Kristus.
Socrates dikekalkan Platon sebagai orang yang rela memanggul kematian demi mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Dan Yesus dalam sejarah Kekristenan adalah juru selamat yang mengorbankan dirinya demi menjamin keselamatan umatnya.
Socrates dikekalkan Platon sebagai orang yang rela memanggul kematian demi mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Dan Yesus dalam sejarah Kekristenan adalah juru selamat yang mengorbankan dirinya demi menjamin keselamatan umatnya.
Dua sosok tragis ini,
baik melalui fiktif atau juga dalam sejarah, adalah dua narasi yang
mengidealisasi suatu model kehidupan yang kontradiktif.
Socrates pertama-tama
mati demi kehidupan yang tak ia temukan di tengah kiprah masyarakatnya. Sedangkan Yesus, seperti diketahui, sosok yang mati memanggul salib sebagai
protes terhadap dekadensi masyarakat yang ia temui.
Kelak nampaknya
seorang Socrates berkebalikan dari Yesus yang lahir dalam keadaan yatim
tanpa seorang bapak. Socrates bisa dibilang adalah figur bapak yang mati
melahirkan kebenaran tanpa kehadiran figur seorang ibu, bersedia meminum racun.
Sementara Yesus, di kisah tragedinya, menampilkan seorang figur ibu yang
mengikutinya dari belakang melihat sang anak berjalan ditawan pasukan romawi
memanggul beban seluruh umat manusia.
Betapa pedihnya hati
seorang perempuan, betapa sakitnya tragedi.
Tapi, apakah hanya
itu, atau juga kematian yang tragis? Kematian, dalam hal ini tidak saja
meninggalkan luka, namun juga sejarah.
Dengan kata lain,
sejarah adalah apa yang kita dudukkan sebagai kisah: suatu yang disebut
Clarissa Pinkola Estes –seorang scholar psikologi— sebagai cerita bagi jiwa.
Itulah sebabnya,
setiap cerita di sekitar sosok-sosok yang memainkan peran tragedi dalam
sejarah, juga sebenarnya simbol yang sangat manusiawi.
Bagiamana itu mungkin?
Bukankah dalam sejarah, yang manusiawi justru kadang kalah. Bahkan nyaris tidak
memiliki harapan. Hidup digilas kekuatan tiranik dan despotik.
Namun di situlah letak
perhatiannya. Yang manusiawi berarti hidup dalam keadaan yang sebenarnya.
Merasakan getirnya dilecehkan, juga direndahkan. Merasai bahwa kenyataan
bukanlah fantasi dunia tanpa cacat. Di situlah juga berarti yang manusiawi
adalah makhluk yang mampu membumbungkan harapan, melalui kematian sekalipun.
Di titik itulah saya
kira, sosok tragis melampaui idealisasi tindakan heroisme. Dia bukanlah
sosok-sosok yang mewakili manusia tanpa harapan. Melainkan manusia yang
mewakili bagaimana Tuhan memerhatikan kepedihan manusia.
Di kehidupan kini yang
tragis tidak lebih dari pada orang-orang kalah tanpa kekuatan kisah di
belakangnya. Bahkan sosok yang tragis nyaris hilang dalam imajinasi masyarakat
hari ini.
Tentu yang tragis di
sini bukan arti selain daripada kisah yang menyentuh. Kisah yang menyayat
sekaligus menggetarkan jiwa. Menggugat tapi juga menggugah.
Kehidupan kiwari,
nampaknya harus banyak belajar dari sosok yang dibesarkan tragedi dalam
sejarah. Di situ tidak sekedar bagaimana sosok semisal Yesus, harus berjalan
panjang memanggul kayu salib, melainkan rela berkorban demi menanggung
penderitaan umat manusia.
Kayu salib dalam
ungkapan lain tidak sekadar simbol penderitaan, melainkan tanggung jawab rela
mengambil alih peran bagi orang-orang yang tersisihkan. Suatu suara mewakili
umat yang mengalami pahitnya dikucilkan.
Juga sosok tragis
Socrates, dikekalkan tidak saja menjadi sosok sentral dalam arti figur seorang
guru. Tapi, siapa pun harus tahu, di balik kebenaran yang dinyatakan ada risiko
yang mesti ditanggung.
Kisah orang-orang
modern adalah kisah tanpa kayu salib. Kisah tanpa mau mengambil risiko
pencarian. Dua ciri yang alih-alih mesti dipahami sebagai kisah universal jiwa
yang bersetia dalam kebenaran dan rela berkorban. Tapi, malah orang-orang yang
kehilangan pesona terhadap kekuatan persona.
Kuatnya individualisme
naif merupakan anomali sejarah yang jauh dari sosok-sosok seperti Yesus juru
selamat. Dengan kata lain, nyaris di masa sekarang masyarakat adalah satuan
atomik tanpa sosial relationship. Masyarakat malah hilang dan nyaris tidak bisa
menjadi peristiwa interaktif: suatu pengertian yang mencerminkan karakter
masyarakat yang saling mengandaikan.
Di sisi lain, tidak
seperti Yesus atau bahkan Socrates, pemahaman hari ini justru adalah pengertian
yang sulit dikatakan sebagai pengetahuan yang memiliki dasar. Kemampuan
epistemologi masyarakat kiwari justru adalah model pengetahuan yang khawatir
mau mengambil risiko pencarian.
Itulah mengapa,
fenomena- fenomena seperti yang ditunjukkan oleh radikalisme dan
fundamentalisme orang-orang beragama, adalah jenis pengetahuan tanpa dasar
pencarian yang mendalam. Nyaris tanpa mau melatih kesabaran, dan juga tanpa
tradisi panjang melalui dialog ilmu pengetahuan.
Itulah juga mengapa,
iman akhir-akhir ini adalah jenis keyakinan yang mudah menghardik akibat rapuhnya suatu dasar,
iman yang takut mendapatkan ujian-ujian sebagaimana persona sejarah dalam
tragedi yang mereka alami.
Kemampuan berinteraksi
manusia tanpa kekuatan persona pada akhirnya akan berakhir menjadi nihilisme.
Hilangnya pegangan. Mustahilnya suatu pencarian.
Malam ini, seperti
juga perayaan Maulid Nabi, seorang sosok lahir ke dunia dengan tanggung jawab
besar di pundaknya. Tanggung jawab yang kelak akan dipanggulnya dengan
menukarnya melalui kematian.
Seperti Muhammad,
kelahirannya bukan sebatas peristiwa biologis belaka. Namun adalah peristiwa
ideologis pula. Dengan kata lain, kelahirannya mesti didudukkan sebagai
lahirnya tanggung jawab di setiap hati umatnya, untuk mengambil alih dan
melanjutkan kayu salib yang dipikulnya: suatu risiko yang mesti diemban dengan
semangat kasihnya.
Kini, dia datang
melalui perut seorang ibu perawan dan tanpa bapak, lagi-lagi dengan kisah di
seputar tragedi yang bakal menyertainya kelak. Seperti Muhammad sang nabi
terakhir, kelahiran sang anak yatim sesungguhnya adalah peristiwa yang revolusioner.
Selamat
Natal.
22 Desember 2017
Rendra dan Kota
Yang tinggal di dalam selokan,
Yang kalah dalam pergulatan,
Yang diledek oleh impian,
Janganlah mereka ditinggalkan
(W.S. Rendra)
KOTA.
Penggalan puisi Rendra di atas mungkin adalah ungkapan yang satire sekaligus sebuah sinisme. Yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek,
adalah perantara untuk memahami kemiskinan, biar bagaimanapun adalah bagian
sebelah dari tubuh masyarakat. Orang-orang kaya, tubuh sebelah lainnya, dalam
puisi itu diingatkan Rendra: “janganlah mereka ditinggalkan.” Sampai di
sini, kita mesti mengandaikan masyarakat adalah peristiwa interaktif tinimbang
sebagai substansi satuan atomik. Itu artinya, masyarakat sebagai peristiwa
interaktif mesti melibatkan “yang lain” sebagai bagian yang setara dan mesti
ada. Bukan dibayangkan sebagai entitas atomik: satuan yang mampu berdiri
sendiri. “Janganlah mereka ditinggalkan”, juga barangkali di situ adalah
ungkapan yang menyitir masyarakat yang atomistik; suatu entitas tanpa relasi.
Hilangnya social relationship. Cara berpengalaman hidup yang kukuh
dengan semangat individualistik. Di titik ini-lah, yang satire dan yang sinis
dari syair Rendra itu. Belakangan, jaringan interaksi masyarakat tumbuh
dan berpusat kepada satu centrum: kota. Masyarakat berkembang,
sekaligus membuat kota ikut berkembang. Tapi, ditilik dari sejarah perkotaan,
seperti pendakuan Max Weber, kota tidak selamanya berarti jalinan interaksi
semata. Kota dikatakan kota karena di dalamnya terjadi interaksi ekonomi.
Dengan kata lain, dasar rasionalitas masyarakat kota hanya bisa dimengerti
ketika dia dilihat sebagai relasi yang bergerak di bidang ekonomi. Itulah
sebabnya, mengapa kota, kata Weber, disebut sebagai kawasan yang mendukung
perdagangan ketimbang pertanian. Di kota, birokratisasi yang didorong oleh
rasionalitas intrumental, mendudukkan kota sebagai tempat yang modern dibanding
kawasan lainnya. Suatu pusat yang mewadahi interaksi sosial berdasarkan relasi
ekonominya. Itulah sebabnya pula kota memiliki daya tarik tersendiri. Apa
yang modern bagi kota dengan sendirinya menarik imajinasi masyarakat untuk
dapat ikut berpartisipasi di dalamnya. Terutama jika kota dalam hal ini dilihat
sebagai pasar ketimbang lainnya. Dengan kata lain, kota tidak sekadar menjadi
pusat perekonomian yang didukung infrastruktur perindustrian, namun juga
membentuk suatu pengalaman baru yang berbeda dari pengalaman masyarakat
pedesaan. Nampaknya dari sisi itu, pengalaman baru yang hanya ditemukan di
kawasan perkotaan sekaligus juga membentuk kebiasaan-kebiasaan kultural yang
menandai berubahnya cara hidup masyarakat. Kota dengan kata lain adalah produk
kebudayaan yang lahir dari heterogenitas masyarakatnya berdasarkan hukum
transaksional. Kata Emile Durkheim, di kota, yang identik dengan modernisasi
adalah entitas kehidupan sosial yang terspesialisasi dan terdiferensiasi.
Pengalaman atas kerja di kota, adalah jenis pengalaman baru dan khas yang
membagi-bagi masyarakat berdasarkan profesinya, umurnya, pendapatannya,
kebiasaannya, tempat tinggalnya, pandangan hidupnya, dlsb., yang semua itu
–seperti umumnya— didudukkan dalam konteks perdagangan. Kota juga adalah
tubuh raksasa yang sedang berkembang. Pengalaman atas ruang kota ketika
diterjemahkan oleh pengambil kebijakan bukan semata-mata melihat melalui kaca
mata ekonomi, tapi juga mengubah ruang materialnya dengan pembangunan-pembangunan
berskala besar. Fenomena berubahnya ruang kultural yang bernilai sejarah,
misalnya, tidak memiliki dasar ekonomis yang kuat jika sebelumnya tidak
diwujudkan ke dalam “hitung-hitungan perdagangan.” Artinya, fenomena
industrialisasi yang menjadi karakteristik kota di abad milenial, berubah
fungsinya menjadi kawasan yang bernilai jual beli ketika ruang itu
“dikapitalisasi” dengan membangun gedung-gedung berdaya tarik investasi. Dengan
kata lain, kota tidak saja menyandarkan dirinya kepada sektor industri, tapi
juga di era kiwari mengubah setiap ruang yang dimilikinya menjadi sektor
perdagangan dan pariwisata. Dengan cara itu, kota akhirnya tidak saja
mengubah karakternya yang semula menjadi pusat religiusitas seperti kota-kota
yang lahir di abad-abad sebelumnya, atau pusat-pusat industri seperti di awal
abad 20, dan atau sebagai produk kebudayaan yang mengafirmasi nilai-nilai ideal
kebudayaan, namun mengubah seluruh basis material dan nonmaterial yang
dicakupnya. Saat itu kelak, kota adalah ruang geografis yang dekat tapi
juga sekaligus asing. Menjadi ruang yang berkebudayaan namun juga dekaden, dan
sekaligus menjadi kawasan maju tapi di saat bersamaan meninggalkan jejak-jejak
anomali di belakangnya. Singkatnya, kota menjadi momok berparas ganda. Dia
realitas yang kontradiktif. Nampaknya, siapa pun harus kembali menafsirkan
pengalaman hidupnya ketika bermukim di dalam kota. Ketika kota hanya dipandang
sebagai daerah yang menampung hasrat ekonomi tanpa melihat dan mempertimbangkan
kebutuhan-kebutuhan nonmaterial masyarakatnya. Ketika ruang sosial menjadi jauh
lebih berjarak akibat pengalaman atas kerja, pengalaman atas ilmu pengetahuan,
pengalaman atas ekonomi, pengalaman atas agama, pengalaman atas politik, dan
pengalaman atas budaya, dibelah dan dipecah-pecah atas pembagian waktu dan
ruang yang justru terbagi-bagi. Di saat itu-lah seperti kata W.S Rendra di
atas: yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, menjadi
realitas yang dekat sekaligus diacuhkan. Mereka akhirnya dipandang sebagai
sisa-sisa interaksi yang dianggap manusiawi. Masyarakat kota akhirnya
berubah menjadi satuan-satuan yang atomistik, satuan yang individualistik
sekaligus anehnya, disebut berperadaban. Malangnya, di tengah keadaan
demikian, kota-kota dalam pengalaman benak kita tidak berbeda jauh ketika
pengalaman di atas dilihat sebagai realitas yang terpisah. Bahkan kota dalam
imajinasi masyarakat perkotaan adalah realitas subjektif yang tak memberikan
peluang atas hadirnya kelompok lain; suatu dunia yang dilihat atas dasar
kepentingan kelompoknya. Karena itulah –sekali lagi— yang miskin, yang di dalam
selokan, yang kalah, yang diledek, atau yang hancur remuk hidupnya digilas
kemiskinan, menjadi orang-orang yang tersisih dan disisihkan. Sekarang
mari kita lihat, di balik gedung-gedung megah itu, di tengah-tengah hutan
beton di kota kita, adakah yang sekarang sedang berujar seperti penggalan sajak
Rendra di atas: Janganlah mereka ditinggalkan!
21 Desember 2017
Setelah Muhammad
![]() |
Asghar Ali Engineer
Seorang reformis-penulis
dan aktivis sosial India
Dikenal secara internasional karena
karyanya tentang teologi pembebasan dalam Islam |
Barangkali dua hal ini agak jauh korelasinya: Rasulullah dan kapitalisme. Tapi, siapa pun yang menghayati sepak terjang kehidupan Nabi Muhammad Saw., akan berkesimpulan: kelahiran dan keberadaannya adalah suatu momen revolusioner, dan kelak, memiliki dampak serius bagi sistem ekonomi masyarakat jahiliah tempat ia hidup.
Bahkan, bukan saja bagi sistem
sosial ekonomi, tapi seluruh sistem kehidupan manusia. Hingga kini.
Ya, hidup Rasulullah adalah
antitesa dari kapitalisme. Ide yang belakangan mensegregasi dan memarginalisasi
umat manusia ke dalam kelas-kelas subordinat.
Narasi hidup Rasulullah bukan
sekadar kisah. Kisah hidup Rasulullah adalah narasi pertentangan. Sejak kecil
ia sudah mendapat gelar As Siddiq, suatu kualitas kemanusiaan yang sulit
didudukkan di dalam ide kapitalisme. Kejujuran, anak kandung keadilan, mustahil
menemukan momentumnya ketika kapitalisme menganut sistem yang bertentangan
dengannya.
Kisahnya tentang batu Hajar Aswad
menceritakan kepercayaan (al Amin) adalah modal utama bagi keberlangsungan
interaktif masyarakat. Integrasi masyarakat hanya mungkin jika pertama-tama
setiap kelompok saling percaya.
Di kisah itu, Muhammad muda menjadi penengah bagi suku-suku Quraisy yang saling bertentangan. Dengan mediasi selembar kain, dia dipercaya dan mengajukan cara agar semua pemuka suku punya kesempatan yang sama untuk bertindak sama ketika memindahkan batu Hajar Aswad. Cara yang langka, sekaligus cerdas.
Di kisah itu, Muhammad muda menjadi penengah bagi suku-suku Quraisy yang saling bertentangan. Dengan mediasi selembar kain, dia dipercaya dan mengajukan cara agar semua pemuka suku punya kesempatan yang sama untuk bertindak sama ketika memindahkan batu Hajar Aswad. Cara yang langka, sekaligus cerdas.
Bukan saja kepercayaan, tapi juga
egaliter. Di peristiwa itu, Rasulullah menempatkan semua suku memiliki
kesempatan dan kedudukan yang sederajat. Di hadapan Ka’bah, semua orang sama.
Tiada kelas lebih dominan atas kelas lainnya.
Kapitalisme merupakan fenomena khas masyarakat Eropa,
fenomena yang datang belakangan jauh setelah masa hidup Rasullullah, tapi model
sosial yang sama juga dialami masyarakat Arab saat itu. Selalu ada relasi
kuasa antara seorang bangsawan dan
budak, hamba sahaya dan seorang tuan tanah, juga laki-laki dan perempuan.
Tanah Arab di masa Rasulullah hidup
adalah tanah yang terbuka, namun juga asing. Makkah adalah pusat sekaligus
tempat yang jauh dari horizon orang-orang. Berbeda dari jazirah kawasan “bulan
sabit subur”: Mesopotamia, Syiria dan Palestina, Makkah dipenuhi sahara tandus
dan gersang. Makkah hanyalah koordinat yang menjadi kawasan singgah saling
silang, pertemuan dan kepergian masyarakat Arab.
Bertani adalah pekerjaan yang
musykil tinimbang berdagang. Makkah dengan karakter tanah berupa sahara membentuk struktur kehidupan sosial yang
adaptatif dengan perdagangan. Pertemuan antara kabilah-kabilah, singkatnya,
mengubah Makkah menjadi kota dagang.
Otomatis Makkah di dalam tradisi
sejarah masayarakat Arab tidak saja didudukkan sebagai kota keagamaan, tapi
juga menjadi kawasan yang lambat laun menjadi pasar. Aktivitas yang seketika
memformat lahirnya rulling class berupa pedagang-pedagang Arab.
Dengan kata lain, kota yang di
dalamnya berdiri Ka’bah, tidak saja ramai sebagai pusat ziarah, orang-orang
datang ke sana juga punya satu tujuan: melipatgandakan keuntungan.
Sementara itu, kabilah-kabilah,
suku-suku, diikat dengan ikatan yang dalam istilah sosiolog bernama Ibn Khaldun sebagai
asyabiah: suatu perasaan intim antara anggota suku melalui ikatan darah. Di
bawah kepemimpinan yang disebut “syekh-syekh”, ikatan asyabiah menjelma menjadi
dua tipe: masyarakat nomadik (badawah) dan masyarakat menetap (hadarah). Dua
tipologi yang ditandai Khaldun sebagai masyarakat gurun dan masyarakat perkotaan.
Makkah dengan begitu juga kota yang
mendudukkan bangsawan sebagai kelas elit masyarakat menetap. Pelan-pelan dengan
siklus yang panjang, itu diawali ketika masyarakat nomadik sudah memulai hidup
menetap dan memiliki kebiasaan baru dengan mempertahankan otoritas
kepemimpinannya kepada tokoh-tokoh tertentu sebagai pimpinannya di sekitar
Makkah. Kota yang kelak dituliskan Ibn Khaldun dipenuhi orang-orang yang mencari kesenangan, dan
kemewahan hidup lantaran meninggalkan laku hidup pengembaranya.
Itu artinya, Makkah, secara ekonomi
adalah kota yang hidup. Perniagaan adalah cara kota Makkah bertahan dari
minimnya sumber daya yang bisa dikelolanya.
Secara politik, otoritas dan
wewenang ada di tangan para pemuka-pemuka kabilah yang mampu mengintergrasikan suku-suku
sebelumnya, dan tentu para pesohor yang lahir dari sistem ekonominya sendiri:
para pedagang.
Di tengah-tengah itulah Rasulullah
tumbuh sehari-hari. Situasi yang identik dengan dekadensi moral, carut marut
budaya dan saling rebut kuasa politik. Tapi secara kontradiktif, di tengah
masyarakat dekaden itu, seorang nabi bakal diutus.
Sampai akhirnya wahyu kenabian yang
datang kepadanya adalah tanda yang khas. Tiada nabi sebelumnya yang diutus dari
bangsa di luar bangsa Arab. Kenabiannya dengan sendirinya adalah pemutusan mata
rantai tradisi. Suatu momen yang disebut Asgar Ali Engginer, seorang ilmuwan
sosial India, sebagai momen yang revolusioner.
Itulah sebabnya, kedatangannya
bukanlah diperuntukkan bagi kawasan yang terbatas. Wahyu yang diembannya bukan
untuk bangsa tertentu seperti nabi-nabi sebelumnya, dia datang bukan untuk
kelas tertentu, atau golongan tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia.
Tapi, dia dikucilkan. Agama baru
yang diperkenalkannya mengalami banyak hambatan. Terutama dari pemuka suku
Quraisy, secara sosial politik, Rasulullah mengajarkan nilai yang sulit diterima
tradisi. Dia mengajarkan persamaan hak manusia di hadapan Tuhan.
Dengan kata lain, struktur feodal masyarakat Arab-Makkah saat itu terancam karena ide egalitarianisme yang diperkenalkan Rasulullah.
Dengan kata lain, struktur feodal masyarakat Arab-Makkah saat itu terancam karena ide egalitarianisme yang diperkenalkan Rasulullah.
Tiada tuhan selain Allah. Kalimat
ini meruyak tatanan, menimbang ulang kebiasaan-kebiasaan. Mengganti alam
berpikir masyarakat Arab-Makkah dengan paradigma yang jauh lebih canggih.
“Tiada tuhan” memiliki dampak serius dengan mengubah interaksi masyarakat di
bidang ekonomi: tiada lagi patung-patung yang harus disembah, yang berarti
tidak ada lagi patung-patung yang diperjualbelikan oleh pedagang-pedagang untuk
disembah di rumah-rumah.
Di peristiwa itu bersama sepupunya,
Ali As, Nabi Muhammad Saw. sering terlihat menyisir Ka’bah dengan membersihkan patung-patung
yang dipajang di atasnya. Tuhan bukanlah apa yang mampu direpresentasikan dari
patung-patung tanah yang dipajang dan disembah. Dia tidak menyerupai mahluk dan
bukan mahluk. Tuhan bukan eksistensi yang ada akibat transaksi jual beli.
Itulah sebabnya, makna “la ilah” adalah hal paling pertama yang diwartakan
Rasulullah.
Dengan kata lain, kalimat tauhid
itu tidak sekadar mengubah alam berpikir masyarakat Arab-Makkah tentang Tuhan,
melainkan juga jauh merembesi dan mengubah total alam tradisi masyarakat
Arab-Makkah di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Secara sosial dia memutus
tradisi perbudakan, secara ekonomi dia menghentikan tuhan-tuhan transaksional,
dan secara politik dia mengubah hubungan tuan dan budak.
Beberapa waktu lalu umat Islam baru
saja memperingati kelahirannya. Itu sekaligus cara kita mengindentifikasi diri
sebagai umat yang mengakui bahwa kelahirannya tidak sekadar peristiwa biologis
semata, melainkan juga sebagai peristiwa ideologis.
Lahirnya Rasulullah sebagai manusia menandai bahwa kelak ia akan menjadi sosok hidup yang menyejarah dan memiliki konsekuensi sejarah. Kelahirannya, menjadi momen pertama suatu risalah bakal menjadi rahmat, hikmah, gagasan, dan semangat, betapa kehidupannya diperuntukkan untuk masyarakat yang berperadaban.
Lahirnya Rasulullah sebagai manusia menandai bahwa kelak ia akan menjadi sosok hidup yang menyejarah dan memiliki konsekuensi sejarah. Kelahirannya, menjadi momen pertama suatu risalah bakal menjadi rahmat, hikmah, gagasan, dan semangat, betapa kehidupannya diperuntukkan untuk masyarakat yang berperadaban.
Sejarah Nabi Muhammad Saw. tidak seperti
sejarah manusia lainnya. Sejarahnya sejarah revolusioner. Begitu juga
kelahirannya bukan peristiwa biasa. Itulah sebabnya, mengapa kelahirannya mesti
disambut seperti kelahiran anak-anak bayi manusia. Ia membawa kabar gembira.
Tapi, kabar yang ia bawa kelak mesti didudukkan sebagai gagasan dan semangat ketimbang sekadar tradisi. Suatu kisah hidup berupa antitesis terhadap seluruh tradisi global yang hari ini menjerat umat manusia.
Tapi, kabar yang ia bawa kelak mesti didudukkan sebagai gagasan dan semangat ketimbang sekadar tradisi. Suatu kisah hidup berupa antitesis terhadap seluruh tradisi global yang hari ini menjerat umat manusia.
Salam sejahtera atasmu ya
Rasulullah.
15 Desember 2017
Buku dan Mawas Diri
Rene Descartes
Matematikawan dan Filosof
Prancis
Ditangannyalah Filsafat Modern lahir
Cogito Ergu Sum “Aku Berpikir Maka Aku Ada |
BUKU.
Ada petitih yang justru terlanjur sering diabaikan: book is a window of the world. Buku ibarat jendela dunia. Dikatakan
di situ buku bukan sebagai ”pintu”, mengingat ”jendela” lebih mewakili kegiatan
memandang daripada pintu yang menyiratkan suatu ”jalan” kepada suatu ruang. Pintu di situ bermakna jalan atas sesuatu keputusan. Tapi, sebelum
sebuah keputusan diambil, seseorang mesti memandang dengan cara menengok,
melihat dengan teliti suatu keputusan. Dengan kata lain, seseorang mesti mengambil
suatu titik mula melalui ”jendela” atau cara pandang tertentu. Di situ, kata
jendela lebih mewakili sikap semacam kehati-hatian, kewaspadaan, dan
kecermatan. Seperti sikap ”mencurigai” sebelum berhadapan dengan sesuatu.
Ibarat sang pemilik rumah yang mencermati pendatang baru melalui jendela sebelum
membuka pintu. Kehati-hatian, dengan kata lain, sikap yang perlu ketika
kedatangan sesuatu hal baru yang dianggap tidak familiar. Artinya tidak sekadar
kegiatan memandang, tapi ikut pula di situ kewaspadaan, kecermatan, dan
ketelitian terhadap segala ihwal yang baru. Dengan kata lain, pepatah itu
menganjurkan suatu dunia mesti dilihat pertama kali dengan menggunakan sikap
yang mawas diri. Bahkan, setiap dunia
mesti dibingkai melalui sekotak pigura jendela: ilmu. Itulah sebabnya, buku
lebih identik dengan sebuah jendela: suatu kotak bingkai yangmemberi fokus pemandangan.
Dunia, biar bagaimanapun adalah realitas tak terpemanai, di mana di mata
manusia, dia tetaplah entitas yang mesti diberikan batas agar mudah dimengerti,
dan tak sulit untuk didefenisikan. Barangkali ada kesamaan makna ”jendela” dalam
petitih itu dengan arti ”theoria”
sebagai asal kata ”teori”, yang berarti ”memandang”, ”melihat”, dan juga
bermakna “visi”. Selain bingkai jendela dengan sendirinya memancang batas
penglihatan, dia juga --seperti arti teori-- memberikan ”penglihatan ke depan”:
sifat prediktif sebagaimana yang dimiliki ilmu-ilmu. Dengan kata lain, dari
titik suatu ”jendela”, pertama kali seseorang harus melihat sesuatu melalui
gagasan atas, bukan yang lain. Atau dengn semacam sikap yang diperkenalkan
filsuf bernama Rene Descartes dengan nama ”kesangsian metodelogis”, suatu cara yang
sudah jauh hari diperagakan oleh seorang filsuf Islam. Kini, orang-orang
nampaknya mulai kembali menghargai buku-buku seperti mereka mengharapkan
lahirnya kehidupan yang baru. Itu berarti tiada dunia sebelumnya selain
dipandang melalui sikap yang hati-hati, tidak tergesa-gesa ketika menghadapi
suatu soal. Tapi, yang ironi dari itu masih banyak pula orang-orang seperti
menolak pandangan dunia dari sebuah ”jendela” dengan tergesa-gesa memasuki
sebuah ”pintu” kepastian tanpa pertimbangan: suatu keputusan yang tidak disertai
kecermatan dan hati-hati. Di situ sebuah ”pintu” jauh lebih penting dibanding ”jendela”,
akibat kehendak buta yang sulit dibendung untuk mencari jawaban. Artinya suatu
soal tidak mesti dilihat dengan cara cermat, tidak mesti lagi ditimbang-timbang,
dan tidak perlu lagi perlu sikap sabar. Hari ini bagi mereka suatu ”kepastian”
jauh lebih penting di balik sebuah “pintu” dari pada sebuah buku yang
menawarkan pelbagai macam panorama dunia.
14 Desember 2017
Bagaimana Buku-Buku dihidupkan Kembali
![]() |
Carlos María Domínguez.
Penulis dan
jurnalis Argentina.
Ia dikenal salah satunya dari noveletnya “Rumah Kertas”.
|
KADANG saya terkesima melihat pose foto orang-orang yang sedang membaca buku. Melihat itu, sepertinya khotbah-khotbah agama masa kini tidak lagi dibutuhkan.
Nampaknya dengan cara foto seperti itu, semua orang diam-diam sedang bergabung dalam persekutuan suci untuk membuat dunia jauh lebih baik.
Dengan
foto-foto itu, saya seperti diberikan harapan generasi masa mendatang tidak
akan cepat punah hanya dengan kebodohan yang berpangkal dari debat soal jumlah
massa dalam suatu pagelaran politik baris-berbaris berkedok agama.
Bukankah
itu suatu kemajuan mengingat kita jarang menemukan penulis-penulis yang kita
baca tulisannya, kecurian dijepret kamera sedang membaca buku. Mana ada penulis
buku mau diambil atau mengambil gambarnya sedang membaca buku! Paling-paling
yang kita temukan pose mereka yang sedang merokok, atau menyesap secangkir
kopi, atau yang paling sering terjadi adalah pose ketika mereka sedang berbicara
di suatu seminar.
Pose
orang-orang yang sedang membaca seperti itu mungkin menandai suatu kegairahan
tertentu kepada ilmu pengetahuan, dengan alih-alih segera mengambil gambar.
Atau bahkan, itu merupakan kegilaan terhadap buku-buku.
Jika
layak disebut gila, orang-orang seperti itu nyaris menjadi seperti Carlos
Brauer atau seorang Delgado, tokoh karangan Carlos María Domínguez dalam Rumah
Kertas yang memiliki puluhan ribu buku hingga memenuhi rumahnya.
Bayangkan
Carlos Brauer saja memiliki buku hingga berserakan di kamar mandi. Tergeletak rapi
bercampur dengan sabun, sikat gigi, shampo, sikat kloset dst, dst, dst. Bahkan,
hingga ke loteng-loteng, yang di mulai dari dapur, juga almari.
Ibarat
perpustakaan yang dikatakan Jorge Luis Borges, surga yang diidam-idamkannya
berhasil diciptakan Carlos Bruer di dalam rumahnya menyerupai istana yang
bergelimangan permata.
Sehingga
dengan keadaan rumah seperti itu, kepala seseorang otomatis tersugesti dengan
keberadaan buku-buku sebanyak itu. Ahli psikologi dan sosial punya dalil untuk
ini: isi kesadaran seseorang sangat bergantung dari lingkungannya. Ingat,
manusia juga species hewan yang mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Buku-buku
sebanyak itu bisa memaksa seseorang seketika menjadi pembaca buku. Sehingga
berpose foto sambil membaca buku merupakan kegiatan yang agak sulit
terhindarkan.
Kadang
kegilaan macam itu dibawa juga sampai ke toko-toko buku yang tersedia di
pusat-pusat perbelanjaan.
Walaupun
demikian, mereka di satu sisi tidak segila Brauer yang demi mengisi garasinya
dengan buku, rela memberikan mobilnya kepada temannya agar memiliki ruang baru
untuk menempatkan buku-bukunya. Ini mustahil terjadi mengingat kebanyakan dari
mereka belum memiliki garasi.
Tapi
itu jauh lebih baik sekali pun itu ironi jika dibandingkan dengan rumah-rumah kumuh
yang dindingnya ditempeli koran. Hidup akan menjadi mengerikan dengan dikelilingi
dinding koran yang berisi berita politik, kriminal, atau teka-teki silang
dengan gambar-gambar porno. Setiap hari terbangun dengan terkepung dinding
beralaskan koran dengan berita yang tak
pernah berubah sedikit pun. Sungguh menjemukkan.
Tapi
apa boleh buat, kegilaan muncul di mana-mana seperti foto seorang anak-pemulung
“kedapatan” sedang membaca buku dalam sebuah lapakan. Ini lebih berharga dibanding
berita hoax beberapa waktu lalu tentang seoang pria Jepang yang mati akibat
terlindas 6 ton koleksi buku-buku pornonya.
Penelitian
lawas di Rhode Island Hospital, Amerika Serikat, berhasil melihat perbedaan
mendasar dari dua kelompok balita berusia delapan bulan yang dibiasakan
dibacakan buku cerita oleh orang tuanya. Kelompok pertama jauh signifikan peningkatan
kosa kata dan pemahamannya dibanding kelompok kedua yang tidak diberikan
tindakan yang sama. Cara seperti ini kira-kira di masa depan mampu mencegah anak-anak
tumbuh dari gejala berbicara yang belepotan seperti pengalaman salah satu wakil
gubernur di tanah air.
Sekarang
coba bayangkan jika semua anak-anak dibiasakan dengan cara demikian, kemungkinan
besar di masa mendatang tidak akan muncul kelompok-kelompok masyarakat yang mudah digerakkan dan berduyun-duyun datang dari pelbagai tempat dan mau dipimpin oleh orang-orang yang mirip seperti penjual obat.
Di satu
sisi tentu ini hanya mungkin jika para orang tua sebelumnya memiliki kebiasaan
membaca yang baik pula. Sehingga mustahil
untuk hari-hari esok kita tidak gampang lagi menemukan anak-anak atau bahkan
seorang remaja yang berjempol gempal dengan volume otak tidak lebih besar dari
kacang polong.
Lalu,
bagaimana buku-buku dapat terus hidup? Saya kira jawaban pertanyaan ini
tergantung dari pertanyaan semacam ini: bagaimana agar Anda dapat terus hidup?
“Os livros mudam o destino das
pessoas.” Buku
mengubah takdir hidup orang-orang.
---
*Kutipan diambil dari buku Rumah Kertas
12 Desember 2017
TEKNOLOGI. Eike lupa apa judul film yang diputar kala itu. Tapi garis besar ceritanya
masih eike ingat: tentang kehidupan manusia yang dimanja kemajuan teknologi,
hingga urusan makan si manusia tinggal duduk bersandar di atas kursi dilengkapi
alat menyerupai tangan manusia untuk menyuapinya. Kepada lain-lain, persis
seperti saat makan, sang manusia hanya duduk di atas kursi canggihnya dan
membiarkan robot-robot dan perangkat mutakhir mengurusi segala urusan yang
sebenarnya bisa dilakukan manusia itu sendiri.
Di
film itu, dihubungkan dengan panel-panel di bawah kursi, kehidupan manusia
diserahkan sepenuhnya kepada mesin-mesin canggih.
Film
itu, dengan gampang, adalah potret atas fenomena abad milenial ketika kemajuan
teknologi menyeroboti sisi praktis masyarakat. Tapi, juga sebenarnya
adalah sisi kognitif manusia.
Di
film itu nyaris tak ada tenaga manusia yang dikeluarkan, selain dari pada kemampuan
menekan tombol-tombol untuk mengaktifkan mesin-mesin canggih agar berfungsi
mengganti seluruh pekerjaannya.
Secara
paradoks, akibat diambil alih mesin berteknologi canggih, semua manusia di film
itu menjadi mahluk gempal betubuh gemuk.
Mungkinkah
itu ironi? Tapi, justru itu sebenarnya tragedi: sang manusia kehilangan
kemampuan manusiawinya, yang asali menjadi hilang, saat tubuh kehilangan ruang
geraknya, otot yang menjadi kendur, dan otak yang berhenti bekerja.
Manusia
boleh saja merayakan kemajuan peradabannya, tapi dia tidak bisa bermain-main
dengan ciptaan dirinya sendiri.
Di
film itu, sang manusia tanpa disadari menjadi mahluk yang teralienasi dari
dirinya sendiri. Agak sedikit menyerupai Marx, manusia tertawan dari apa yang
dia hasilkan sendiri.
Jika
film itu dapat disebut potret bagi masa kini, maka dunia hari ini adalah
fenomena yang berhasil ditangkapnya. Walaupun tidak sepenuhnya juga benar, tapi
garis besarnya masih juga sama: pertautan manusia dengan mesin teknologi nyaris
mengambil seluruh pekerjaan manusia.
Dari
itu, di sini kita perlu kembali mendudukkan sejarah kelahiran teknologi ketika diciptakan
untuk mengatasi alam dan membantu keterbatasan manusia. Teknologi dalam kedudukannya yang demikian dinyatakan
oleh para ahli sebagai bagian manusia untuk survival. Yakni, ihwal yang masih
menjadi satu kesatuan dengan manusia secara alamiah.
Kata
Heidegger, teknologi sebagai mode kehidupan adalah cara manusia mengungkap
makna Ada, meneroka arti dunia untuk menemukan hal ihwal kebaruan. Arti ini
diambil dari makna poesis yang
sepadan dengan kata techne itu
sendiri sebagai makna dari to create
(bagaimana mencipta).
Namun
dalam situasi sekarang, teknologi tidak lagi dinyatakan hanya dalam
rangka survival, melainkan menjadi praxis teknis yang jauh
berkembang menghancurkan fondasi esensialitas manusia. Dia bukan dalam
kedudukannya sebagai poetik sebagaimana
dalam seni, tapi berubah menjadi “sistem mandiri” yang mengamputasi sisi
alamiah manusia.
Teknologi
berupa benda-benda canggih, seperti ditunjukkan film itu, memang sangat dominan
mendeterminasi manusia. Membuat orang-orang hanya duduk dengan sekotak layar
kaca sebagai dunia kehidupannya, persis seperti seorang bayi yang diperlakukan
tanpa memiliki kehendak dan kemauan.
Di
film itu, nyaris semua kemampuan kodrati manusia luruh dan hilang semata-mata
demi kenyamanannya sendiri
Tapi,
jauh sebelum digambarkan melalui film itu, teknologi dalam pengertiannya yang
paling mengancam adalah apa yang sudah dikemukakan Max Weber di akhir abad 19 sebagai
gejala dari rasio instrumental.
Seperti
didakukan Val Dusek, teknologi sebagai cara berpikir, diperantarai dengan alur
logika rasionalisasi atas tujuan. Efektifitas dan efesiensi, dua hal yang
menjadi pokok di dalamnya, adalah faktor utama yang melandasi suatu cara
pandang yang kelak disebut cara pandang teknoratis. Cara pandang ini praktis menyingkat,
memotong, dan memperpendek suatu proses pekerjaan demi tercapainya tujuan
secara intrumental.
Seperti
yang dinyatakan Weber, sebagai tanda dari modernisasi, cara demikian juga
menandai peralihan daya kerja kognitif manusia menjadi jauh lebih praktis dan
pragmatis.
Itulah
sebabnya, melalui cara berpikir demikian, benda-benda teknologis diperlakukan
dengan cara dalil efektifitas dan efesiensi, bahkan sebaliknya seperti
pendakuan Jurgen Habermas secara intensif hukum dan logika teknologi mendudukan
rasio manusia menjadi sekadar alat teknis belaka.
Di
titik itulah ironi itu sebenarnya terjadi, selain menjadi tragedi, bukan saja
alienasi, sang manusia diambil alih oleh ciptaannya sendiri. Persis seperti
yang diceritakan dalam film itu.
Secara
apik, pendakuan Habermas juga melihat implikasi rasio yang bekerja dengan
sistem kerja teknologi (efektifitas dan efisiensi) dalam memberlakukan
ilmu-ilmu. Pendakuannya menyasar kepada bahwa ilmu-ilmu selama ini hanya alat kontrol atas alam. Dengan kata lain, kerja fungsional ilmu-ilmu selama ini
hanya demi memenuhi hasrat penundukkan dan manipulasi alam.
Alam
dengan kata lain hanyalah objek taklukan daripada ilmu tinimbang dilihat
sebagai posisi yang setara dengan manusia.
Belakangan,
makna teknologi diidentikkan dengan kemajuan di bidang informasi dan komunikasi. Melalui jaringan alat komunikasi,
manusia menjadi terhubung satu sama lain. Keterhubungan ini ditandai dengan luruhnya
batas-batas wilayah geografis. Tiba-tiba dunia hanya sebesar dan semungil
telapak tangan.
Di
satu sisi hilangnya sekat-sekat secara geografis memunculkan masalah-masalah di
bidang kultural, sosial dan politik berupa terancamnya lokalitas masyarakat
melalui globalisasi, migrasi besar-besaran akibat konflik sosial, dan pudarnya
pesona negara bangsa melalui hilangnya integritas nasionalisme .
Bukan
saja itu, majunya dunia informasi melalui basis internet, melalui screen menghilangkan
pula batas antara dunia real time (realitas ril) dan dunia maya (realitas
simulakrum).
Melalui
kemajuan teknologi komunikasi pula, teknologi mendapat dasar kedudukan yang
menyatukan beragam komponennya ke dalam satu sistem tunggal. Dilihat dari sisi
inilah, teknologi bukan lagi artefak berupa benda-benda ciptaan manusia,
melainkan secara integral sudah menjadi sistem kebudayaan manusia.
Masa
kini teknologi sebagai artefak tidak lagi sebatas instrumen peradaban untuk
memahami dan mencandrai dunia. Secara ontologis teknologi telah meluas dan
membentuk dunianya sendiri. Dengan kata lain, secara teknis fungsional
teknologi tidak saja terkait langsung pengalaman kongkrit manusia, melainkan
dirinya menjadi “tatanan” dunia baru yang berjarak dengan manusia.
Tepat
di titik itulah, sebagaimana cerita dalam film The Matrix, kita mesti
bertanya-tanya, di mana posisi manusia dalam kebudayaan teknologis saat ini:
diakah yang menjadi subjek otonom atau sebaliknya, teknologilah yang berbalik
memperalat manusia?
Eike
rasa jawabannya kita sudah sama-sama tahu: di titik itulah ironi itu sebenarnya
terjadi, selain menjadi tragedi, bukan saja alienasi, sang manusia diambil alih
oleh ciptaannya sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...




