14 Desember 2017

Bagaimana Buku-Buku dihidupkan Kembali


Carlos María Domínguez. 
Penulis dan jurnalis Argentina. 
Ia dikenal salah satunya dari noveletnya “Rumah Kertas”.

KADANG saya terkesima melihat pose foto orang-orang yang sedang membaca buku. Melihat itu, sepertinya khotbah-khotbah agama masa kini tidak lagi dibutuhkan. 

Nampaknya dengan cara foto seperti itu, semua orang diam-diam sedang bergabung dalam persekutuan suci untuk membuat dunia jauh lebih baik.

Dengan foto-foto itu, saya seperti diberikan harapan generasi masa mendatang tidak akan cepat punah hanya dengan kebodohan yang berpangkal dari debat soal jumlah massa dalam suatu pagelaran politik baris-berbaris berkedok agama.

Bukankah itu suatu kemajuan mengingat kita jarang menemukan penulis-penulis yang kita baca tulisannya, kecurian dijepret kamera sedang membaca buku. Mana ada penulis buku mau diambil atau mengambil gambarnya sedang membaca buku! Paling-paling yang kita temukan pose mereka yang sedang merokok, atau menyesap secangkir kopi, atau yang paling sering terjadi adalah pose ketika mereka sedang berbicara di suatu seminar.

Pose orang-orang yang sedang membaca seperti itu mungkin menandai suatu kegairahan tertentu kepada ilmu pengetahuan, dengan alih-alih segera mengambil gambar. Atau bahkan, itu merupakan kegilaan terhadap buku-buku.

Jika layak disebut gila, orang-orang seperti itu nyaris menjadi seperti Carlos Brauer atau seorang Delgado, tokoh karangan Carlos María Domínguez dalam Rumah Kertas yang memiliki puluhan ribu buku hingga memenuhi rumahnya.

Bayangkan Carlos Brauer saja memiliki buku hingga berserakan di kamar mandi. Tergeletak rapi bercampur dengan sabun, sikat gigi, shampo, sikat kloset dst, dst, dst. Bahkan, hingga ke loteng-loteng, yang di mulai dari dapur, juga almari.

Ibarat perpustakaan yang dikatakan Jorge Luis Borges, surga yang diidam-idamkannya berhasil diciptakan Carlos Bruer di dalam rumahnya menyerupai istana yang bergelimangan permata.

Sehingga dengan keadaan rumah seperti itu, kepala seseorang otomatis tersugesti dengan keberadaan buku-buku sebanyak itu. Ahli psikologi dan sosial punya dalil untuk ini: isi kesadaran seseorang sangat bergantung dari lingkungannya. Ingat, manusia juga species hewan yang mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Buku-buku sebanyak itu bisa memaksa seseorang seketika menjadi pembaca buku. Sehingga berpose foto sambil membaca buku merupakan kegiatan yang agak sulit terhindarkan.

Kadang kegilaan macam itu dibawa juga sampai ke toko-toko buku yang tersedia di pusat-pusat perbelanjaan.  

Walaupun demikian, mereka di satu sisi tidak segila Brauer yang demi mengisi garasinya dengan buku, rela memberikan mobilnya kepada temannya agar memiliki ruang baru untuk menempatkan buku-bukunya. Ini mustahil terjadi mengingat kebanyakan dari mereka belum memiliki garasi.

Tapi itu jauh lebih baik sekali pun itu ironi jika dibandingkan dengan rumah-rumah kumuh yang dindingnya ditempeli koran. Hidup akan menjadi mengerikan dengan dikelilingi dinding koran yang berisi berita politik, kriminal, atau teka-teki silang dengan gambar-gambar porno. Setiap hari terbangun dengan terkepung dinding beralaskan koran  dengan berita yang tak pernah berubah sedikit pun. Sungguh menjemukkan.

Tapi apa boleh buat, kegilaan muncul di mana-mana seperti foto seorang anak-pemulung “kedapatan” sedang membaca buku dalam sebuah lapakan. Ini lebih berharga dibanding berita hoax beberapa waktu lalu tentang seoang pria Jepang yang mati akibat terlindas 6 ton koleksi buku-buku pornonya.

Penelitian lawas di Rhode Island Hospital, Amerika Serikat, berhasil melihat perbedaan mendasar dari dua kelompok balita berusia delapan bulan yang dibiasakan dibacakan buku cerita oleh orang tuanya. Kelompok pertama jauh signifikan peningkatan kosa kata dan pemahamannya dibanding kelompok kedua yang tidak diberikan tindakan yang sama. Cara seperti ini kira-kira di masa depan mampu mencegah anak-anak tumbuh dari gejala berbicara yang belepotan seperti pengalaman salah satu wakil gubernur di tanah air.

Sekarang coba bayangkan jika semua anak-anak dibiasakan dengan cara demikian, kemungkinan besar di masa mendatang tidak akan muncul kelompok-kelompok masyarakat yang mudah digerakkan dan berduyun-duyun datang dari pelbagai tempat dan mau dipimpin oleh orang-orang yang mirip seperti penjual obat.

Di satu sisi tentu ini hanya mungkin jika para orang tua sebelumnya memiliki kebiasaan membaca yang baik pula.  Sehingga mustahil untuk hari-hari esok kita tidak gampang lagi menemukan anak-anak atau bahkan seorang remaja yang berjempol gempal dengan volume otak tidak lebih besar dari kacang polong.

Lalu, bagaimana buku-buku dapat terus hidup? Saya kira jawaban pertanyaan ini tergantung dari pertanyaan semacam ini: bagaimana agar Anda dapat terus hidup?

“Os livros mudam o destino das pessoas.” Buku mengubah takdir hidup orang-orang.

---

*Kutipan diambil dari buku Rumah Kertas

12 Desember 2017

TEKNOLOGI.  Eike lupa apa judul film yang diputar kala itu. Tapi garis besar ceritanya masih eike ingat: tentang kehidupan manusia yang dimanja kemajuan teknologi, hingga urusan makan si manusia tinggal duduk bersandar di atas kursi dilengkapi alat menyerupai tangan manusia untuk menyuapinya. Kepada lain-lain, persis seperti saat makan, sang manusia hanya duduk di atas kursi canggihnya dan membiarkan robot-robot dan perangkat mutakhir mengurusi segala urusan yang sebenarnya bisa dilakukan manusia itu sendiri.

Di film itu, dihubungkan dengan panel-panel di bawah kursi, kehidupan manusia diserahkan sepenuhnya kepada mesin-mesin canggih. 

Film itu, dengan gampang, adalah potret atas fenomena abad milenial ketika kemajuan teknologi menyeroboti sisi praktis masyarakat.  Tapi, juga sebenarnya adalah sisi kognitif manusia.

Di film itu nyaris tak ada tenaga manusia yang dikeluarkan, selain dari pada kemampuan menekan tombol-tombol untuk mengaktifkan mesin-mesin canggih agar berfungsi mengganti seluruh pekerjaannya. 

Secara paradoks, akibat diambil alih mesin berteknologi canggih, semua manusia di film itu menjadi mahluk gempal betubuh gemuk.

Mungkinkah itu ironi? Tapi, justru itu sebenarnya tragedi: sang manusia kehilangan kemampuan manusiawinya, yang asali menjadi hilang, saat tubuh kehilangan ruang geraknya, otot yang menjadi kendur, dan otak yang berhenti bekerja. 

Manusia boleh saja merayakan kemajuan peradabannya, tapi dia tidak bisa bermain-main dengan ciptaan dirinya sendiri. 

Di film itu, sang manusia tanpa disadari menjadi mahluk yang teralienasi dari dirinya sendiri. Agak sedikit menyerupai Marx, manusia tertawan dari apa yang dia hasilkan sendiri. 

Jika film itu dapat disebut potret bagi masa kini, maka dunia hari ini adalah fenomena yang berhasil ditangkapnya. Walaupun tidak sepenuhnya juga benar, tapi garis besarnya masih juga sama: pertautan manusia dengan mesin teknologi nyaris mengambil seluruh pekerjaan manusia. 

Dari itu, di sini kita perlu kembali mendudukkan sejarah kelahiran teknologi ketika diciptakan untuk mengatasi alam dan membantu keterbatasan manusia. Teknologi  dalam kedudukannya yang demikian dinyatakan oleh para ahli sebagai bagian manusia untuk survival. Yakni, ihwal yang masih menjadi satu kesatuan dengan manusia secara alamiah.

Kata Heidegger, teknologi sebagai mode kehidupan adalah cara manusia mengungkap makna Ada, meneroka arti dunia untuk menemukan hal ihwal kebaruan. Arti ini diambil dari makna poesis yang sepadan dengan kata techne itu sendiri sebagai makna dari to create (bagaimana mencipta).

Namun dalam situasi sekarang, teknologi tidak lagi dinyatakan hanya dalam rangka survival, melainkan menjadi praxis teknis yang jauh berkembang menghancurkan fondasi esensialitas manusia. Dia bukan dalam kedudukannya sebagai poetik sebagaimana dalam seni, tapi berubah menjadi “sistem mandiri” yang mengamputasi sisi alamiah manusia.

Teknologi berupa benda-benda canggih, seperti ditunjukkan film itu, memang sangat dominan mendeterminasi manusia. Membuat orang-orang hanya duduk dengan sekotak layar kaca sebagai dunia kehidupannya, persis seperti seorang bayi yang diperlakukan tanpa memiliki kehendak dan kemauan.

Di film itu, nyaris semua kemampuan kodrati manusia luruh dan hilang semata-mata demi kenyamanannya sendiri

Tapi, jauh sebelum digambarkan melalui film itu, teknologi dalam pengertiannya yang paling mengancam adalah apa yang sudah dikemukakan Max Weber di akhir abad 19 sebagai gejala dari rasio instrumental.

Seperti didakukan Val Dusek, teknologi sebagai cara berpikir, diperantarai dengan alur logika rasionalisasi atas tujuan. Efektifitas dan efesiensi, dua hal yang menjadi pokok di dalamnya, adalah faktor utama yang melandasi suatu cara pandang yang kelak disebut cara pandang teknoratis. Cara pandang ini praktis menyingkat, memotong, dan memperpendek suatu proses pekerjaan demi tercapainya tujuan secara intrumental.

Seperti yang dinyatakan Weber, sebagai tanda dari modernisasi, cara demikian juga menandai peralihan daya kerja kognitif manusia menjadi jauh lebih praktis dan pragmatis.

Itulah sebabnya, melalui cara berpikir demikian, benda-benda teknologis diperlakukan dengan cara dalil efektifitas dan efesiensi, bahkan sebaliknya seperti pendakuan Jurgen Habermas secara intensif hukum dan logika teknologi mendudukan rasio manusia menjadi sekadar alat teknis belaka.

Di titik itulah ironi itu sebenarnya terjadi, selain menjadi tragedi, bukan saja alienasi, sang manusia diambil alih oleh ciptaannya sendiri. Persis seperti yang diceritakan dalam film itu.

Secara apik, pendakuan Habermas juga melihat implikasi rasio yang bekerja dengan sistem kerja teknologi (efektifitas dan efisiensi) dalam memberlakukan ilmu-ilmu. Pendakuannya menyasar kepada bahwa ilmu-ilmu selama ini hanya alat kontrol atas alam. Dengan kata lain, kerja fungsional ilmu-ilmu selama ini hanya demi memenuhi hasrat penundukkan dan manipulasi alam.

Alam dengan kata lain hanyalah objek taklukan daripada ilmu tinimbang dilihat sebagai posisi yang setara dengan manusia.

Belakangan, makna teknologi diidentikkan dengan kemajuan di bidang informasi dan  komunikasi. Melalui jaringan alat komunikasi, manusia menjadi terhubung satu sama lain. Keterhubungan ini ditandai dengan luruhnya batas-batas wilayah geografis. Tiba-tiba dunia hanya sebesar dan semungil telapak tangan.

Di satu sisi hilangnya sekat-sekat secara geografis memunculkan masalah-masalah di bidang kultural, sosial dan politik berupa terancamnya lokalitas masyarakat melalui globalisasi, migrasi besar-besaran akibat konflik sosial, dan pudarnya pesona negara bangsa melalui hilangnya integritas nasionalisme .

Bukan saja itu, majunya dunia informasi melalui basis internet, melalui screen menghilangkan pula batas antara dunia real time (realitas ril) dan dunia maya (realitas simulakrum).

Melalui kemajuan teknologi komunikasi pula, teknologi mendapat dasar kedudukan yang menyatukan beragam komponennya ke dalam satu sistem tunggal. Dilihat dari sisi inilah, teknologi bukan lagi artefak berupa benda-benda ciptaan manusia, melainkan secara integral sudah menjadi sistem kebudayaan manusia.

Masa kini teknologi sebagai artefak tidak lagi sebatas instrumen peradaban untuk memahami dan mencandrai dunia. Secara ontologis teknologi telah meluas dan membentuk dunianya sendiri. Dengan kata lain, secara teknis fungsional teknologi tidak saja terkait langsung pengalaman kongkrit manusia, melainkan dirinya menjadi “tatanan” dunia baru yang berjarak dengan manusia.

Tepat di titik itulah, sebagaimana cerita dalam film The Matrix, kita mesti bertanya-tanya, di mana posisi manusia dalam kebudayaan teknologis saat ini: diakah yang menjadi subjek otonom atau sebaliknya, teknologilah yang berbalik memperalat manusia?

Eike rasa jawabannya kita sudah sama-sama tahu: di titik itulah ironi itu sebenarnya terjadi, selain menjadi tragedi, bukan saja alienasi, sang manusia diambil alih oleh ciptaannya sendiri.

04 Desember 2017

Meneroka Tutur Jiwa

--Apresiasi Kritis atas buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf

Tutur Jiwa
Pertama, pendakuan Alwy Rachman berkaitan dengan penamaan bentuk dan gaya kepenulian dalam buku terbaru Sulhan Yusuf “Tutur Jiwa” yang disebutnya “literasi paragraf tunggal” nyatanya tidak memberikan signifikansi apa-apa selain –menurut hemat penulis- hanya untuk membedakannya dengan bentuk atau gaya kepenulisan lainnya. Dengan kata lain, penamaan ini hanya berupa hipotesis akibat belum teruji melalui pelbagai forum pembicaraan selain daripada penilaian sepihak Alwy Rachman.

Kedua, walaupun demikian, “Tutur Jiwa” dapat diteroka bukan saja dari sekadar perilaku tulis paragraf tunggalnya, melainkan sisi lain berupa gaya kepenulisan epigram yang berisikan nasihat, petunjuk dan petuah-petuah untuk melakukan hal-hal yang dianggap baik.

Eike berusaha berhati-hati memberikan pegamatan terhadap buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf. Pertama soal objektifitas. Kedua, eike harus menempuh semacam jalan "kesangsian" agar tidak terjebak kepada glorifikasi terhadap teks Sulhan Yusuf. Biar bagaimana pun penjarakan terhadap teks Tutur Jiwa bisa meminimalisir pandangan yang bersifat mengelu-elukan sang penulis. Berikut beberapa hasil pengamatan eike setelah menggunakan dua cara di atas.

Totalitarian

Jika relasi Sang Guru dan Han dilihat sebagai dua titik yang berhubungan, maka relasi itu gampang kita katakan tak seimbang. Kenapa demikian? Sederhana, Sang Guru adalah sosok yang maha tahu, maha bijak, dan maha memahami segala soal. Sementara Han, figur pasif tak berdaya jika berhadapan dengan Sang Guru. Ibarat relasi hirarkis, ketika tidak ada persilangan di antara keduanya, maka itu disebut totalitarian.

Penggunaan dialog (kata dialog agak rentan karena dalam Tutur Jiwa tidak satu pun terjadi pertukaran informasi antara Sang Guru dengan Han) dengan kata lain hanyalah strategi. Walaupun cara itu implisit menunjukkan adanya suatu interaksi yang seolah-olah proporsional. Padahal, jika diamati dengan baik, strategi sang penulis justru menggunakan dialog demi mempertahankan semacam relasi yang tidak mudah goyah oleh pertukaran pikiran. Artinya relasi dialogis Sang Guru dengan Han, adalah hubungan yang mempertahankan status quo Sang Guru. Relasi yang secara halus anti kritik.

Dari  cara demikian, Sang Guru menyimbolkan sosok The Big Father yang banyak dicela sebagai pusat, poros, norma, sistem pengetahuan, dan jaringan kekuasaan, yang tidak memberikan kesempatan sekalipun kepada “yang lain” untuk mengemuka dan menyatakan pendapatnya. Itulah sebabnya, mengapa Han hanya figur subordinat menerima begitu saja apa-apa yang disampaikan Sang Guru.

Melalui konteks di atas, “aku” sebagai kata ganti dipakai untuk menunjuk diri Han hanyalah hasil kontrusksi Sang Guru sebagai The Big Father. Han kehilangan otonominya dengan hanya mengamini setiap tutur yang keluar dari mulut Sang Guru. Dengan kata lain, “aku” yang kerap muncul menggantikan Han, hanyalah pseudo-aku, yang tidak sama sekali mencerminkan makna “aku” itu sendiri sebagai subjek yang merdeka dengan mengajak Sang Guru bertikai pikiran.

Alat bahasa

Dari gaya penuturan sang penulis, dapat dilihat bahwasannya strategi literer yang dipakai melalui dialog hanyalah cara untuk menyampaikan pesan-pesan dari mulut sang penulis itu sendiri. Dengan kata lain, Sang Guru hanyalah alat dari sang penulis untuk menyampaikan hikmah-hikmah yang diberolehnya dari beragam kejadian.

Namun di situlah masalahnya, figur Sang Guru hanyalah tokoh imajiner yang menduplikasi sang penulis. Sang penulis dengan posisinya yang demikian, menjadi sosok penutur yang selalu ada dan hadir di balik setiap teks dalam Tutur Jiwa.

Konsekuensinya apa? Sang Guru hanya medium, dan bahasa hanya alat untuk meredam sisi heroisme sang penulis. Meminjam istilah dari A.S Laksana, seorang esais dan cerpenis, perilaku tulis seperti ini disebut sebagai kecenderungan kenabian.  

Kecenderungan kenabian ini menjadi penting karena menurut eike ini salah satu konsep kunci untuk membedakan Tutur Jiwa sebagai teks otonom setelah melewati proses kreatif sang penulis, atau sekadar teks yang diperalat untuk menjadi corong suara sang penulis. Implikasi dari pilihan yang pertama seperti yang didadukan Roland Barthes akan menghilangkan jejak sang pengarang, dengan konsekuensi teks menjadi merdeka.  Implikasi dari pilihan yang kedua, sebaliknya, sang pengarang kerap membuntuti sang pembaca untuk mengarahkan maksud dari setiap tuturannya.

Dua konsekuensi di atas akan bermuara pada “terlindunginya” sang penulis dari kritik, masukan, atau bahkan cibiran dengan mengandalkan kredo the death of author. Dengan kata lain, melalui dalil otonomi teks, sang pengarang kebal kritik akibat bersembunyi di balik teks walaupun di waktu yang bersamaan, sang pengarang itu sendiri masih hadir dalam teksnya ketika menyampaikan pesan melalui mulut Sang Guru.

Syahdan, di bagian akhir (hal. 209), berangkat dari pemahaman Sang Guru dan Han yang sebenarnya adalah orang yang sama, yakni sang penulis itu sendiri, mesti dipersoalkan penasbihan Han yang diangkat menjadi Guru Han oleh Sang Guru. Tindakan ini walaupun terjadi dalam dunia teks “Tutur Jiwa”, malah menguatkan kecurigaan orientasi perilaku “diktator” yang menghinggapi hampir setiap orang ketika menasbihkan dan “memilih” dirinya sendiri sebagai seorang penguasa. Bukankah ini semacam legitimasi untuk mendapatkan pengakuan? Mudah-mudahan tidak. 

---
Dimuat di Harian Fajar, Minggu 3 Desember 2017 

30 November 2017

HALAMAN RUMAHKeberadaan pekarangan rumah dalam masyarakat pra industrial bukan saja menjadi ruang antara yang menjembatani dua wilayah secara spasial yakni alam yang bersifat natural dan rumah yang bersifat kultural, melainkan juga menjadi ruang sosial dalam pengertiannya yang paling intim. Melalui pekarangan rumah, masyarakat agraris menjadikan sebidang tanah di sekitar mukimnya sebagai medan terjadinya proses sosial. Bukan saja itu, melalui halaman rumah, secara kebudayaan pekarangan rumah dijadikan tempat dilaksanakannya praktik-praktik kultural yang bersifat domestik maupun perayaan. Kita bisa ambil contoh ketika musim panen, pekarangan rumah menjadi penting lantaran di situlah tempat dilaksanakannya pekerjaan-pekerjaan pasca panen berupa aktivitas mengeringkan padi, menumbuk padi, hingga menapis beras. Di musim kawin, pekarangan juga dipakai sebagai tempat diberlangsungkannya ruang tatap muka di saat merayakan perkawinan. Dengan konsep demikian, pekarangan rumah menjadi jembatan interaktif antara ruang mukim yang bersifat pribadi dan ruang sosial yang bersifat kepublikan. Bahkan di konteks masyarakat tertentu, pekarangan rumah malah menjadi ruang preventif yang menciptakan rasa aman bagi anggota masyarakat yang membutuhkan. Bagi masyarakat Bugis-Makassar misalnya, menjadi tidak berlaku bagi masyarakat untuk menghakimi orang yang diperkirakan bersalah jika yang bersangkutan meminta perlindungan ketika memasuki pekarangan rumah seseorang. Ini dapat terjadi karena pekarangan rumah adalah representasi kewenangan dan kekuasaan dari pemilik rumah. Dengan kata lain, dalam hal ini pekarangan rumah adalah juga bagian penting yang mencerminkan otoritas tertentu yang tidak bisa diganggu gugat oleh pihak luar selain dari pada anggota keluarga itu sendiri. Jika dilihat dari cara itu, mungkin ada korelasi kenapa setiap rumah-rumah bangsawan Bugis-Makassar, atau keluarga-keluarga raja memiliki pekarangan yang cukup luas. Itu disebabkan pekarangan yang luas bukan saja sebagai tanda atas kekayaan, tapi juga memiliki fungsi untuk mengayomi siapa saja yang membutuhkan perlindungan ketika berada di dalamnya. Di sinilah makna penting selain sebagai tanda kebesaran, pekarangan tanah yang luas juga menandai besarnya rasa pengayom dan perlindungan bagi yang memilikinya. Selain memiliki makna kebudayaan dan sosial, fungsi pekarangan juga ditandai dari dimanfaatkannya setiap bidang tanah untuk menunjang keberlangsungan ketersediaan bahan makanan. Selain sawah, masyarakat agraris juga menyandarkan kebutuhan sandang makanannya kepada pemeliharaan pekarangan dengan menanam jenis-jenis tumbuhan yang bisa diperoleh dalam waktu yang singkat. Untuk hal ini dapat kita lihat kebiasaan masyarakat agraris yang banyak menanam tanaman semisal tomat, cabai, mangga, pisang, atau bahkan ubi kayu sebagai makanan penunjang selain padi. Semua itu berlaku juga ketika pekarangan rumah dipakai sebagai apotek hidup dengan memelihara tanaman obat-obatan. Kiwari, beberapa fungsi pekarangan semakin minim ketika tanah menjadi komoditi. Pekarangan dengan begitu, dalam konteks ekonomi ditandai hanya sebagai aset kekayaan yang sewaktu-waktu dapat dijual-belikan. Berubahnya pekarangan menjadi aset ekonomi, dengan sendirinya mengubah makna kebudayaan dan sosial yang semula dimiliki dari sebidang tanah. Implikasi dari bergesernya pekarangan menjadi komoditas berlahan-lahan menjadi sebab hilangnya tradisi dan kebiasaan masyarakat yang berlangsung di atasnya. Dengan kata lain, minimnya lahan pekarangan mengancam juga ruang sosial masyarakat menjadi hilang. Di sisi lain, bahkan implikasinya yang paling mengkhwatirkan, adalah hilangnya sejarah suatu komunitas masyarakat seiring raibnya tanah itu sendiri. Tidak bisa dimungkiri, setiap kejadian, peristiwa, interaksi, dan kegiatan masyarakat hanya dapat berlangsung alami salah satunya jika terjadi dalam pekarangan rumah-rumah warganya. Dalam proses itulah dengan sendirinya pekarangan juga menyimpan dan mengabadikan situs-situs ingatan warganya. Dari semua itu, itulah mengapa tanah bagi masyarakat agraris bernilai istimewa. Dia bukan istimewa lantaran nilai ekonomisnya, melainkan nilai sosial, budaya, dan sejarahnya. Sekarang, ketika setiap rumah kehilangan sebidang tanahnya, maka di saat itulah dia mengalami keterputusan bukan saja dengan alamnya sendiri, namun juga kebudayaannya, kehidupannya itu sendiri.

27 November 2017

1001 Pertanyaan untuk Tutur Jiwa

Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf
Ibarat rongga yang luas, semua bisa saja masuk dan ditampung di dalamnya. Begitu metafor yang disematkan Alwy Rachman terhadap perilaku tulis ”paragraf tunggal” Sulhan Yusuf dalam buku terbarunya Tutur Jiwa. Meskipun bernada afirmatif, mesti ditelusuri apa arti di balik ”rongga yang luas” itu sebenarnya? Biar bagaimana pun metafor bukanlah arti sebenarnya. Metafor bisa saja merupakan strategi bahasa untuk menyembunyikan kenyataan yang terjadi sebaliknya.

Rongga yang luas bisa berarti tidak berisi sesuatu yang padat di dalamnya. Seperti lorong kereta api yang kosong melompong agar gerbong kereta api mampu melewatinya. Lorong kereta api bukan tempat yang diciptakan untuk pemberhentian kereta api, dia hanya jalan, tempat silih berganti jalur laju kereta api. Dengan kata lain, tidak ada tempat tetap untuk berhenti di dalam lorong. Kereta api diharuskan terus bergerak agar dapat mengantar penumpangnya sampai ke tempat tujuan. Pengertian, dengan begitu, tidak bisa ditemukan dalam lorong, di dalam rongga-nya.

Rongga yang luas hanya bermakna tidak ada pengertian yang ajeg, yang fixed. Dalam Tutur Jiwa, bisa jadi semua percakapan antara Sang Guru dan Han hanyalah lorong kosong tanpa maksud apa-apa. Sang pembacalah gerbong kereta api-nya, dia bebas mengarahkan percakapan-percakapan dalam Tutur Jiwa berdasarkan terminal-terminal peristiwa yang dia jadikan tujuan kisahnya. Latar belakang kejadian dalam Tutur Jiwa hanyalah kisah aksesoris. Kisah yang sebenarnya ada dalam setiap benak sang pembaca. Di situlah sebenarnya arti rongga yang luas itu, mungkin.

Atau sebaliknya,”rongga yang luas” merupakan kata lain dari tidak berdayanya Sulhan Yusuf ketika mengemas epigramnya ke dalam satu frame utama dari mana dia melihat beragam kejadian yang dia tuliskan. Dari seluruh kisah epigram yang dituliskannya, ini menandakan Sulhan Yusuf ibarat ”disetir” beragam kejadian dengan sesekali mendomplengnya untuk menyampaikan pesan, nasehat, dan petuah melalui percakapan yang dibuatnya.

Dugaan ini menjadi cukup beralasan apabila mencermati banyaknya judul berulang yang bahkan ditulis di hari bersamaan atau di hari yang berturut-turut (Altruis, hal. 34 dan 35; Biji, hal. 51 dan 52; Buah, hal. 53 dan 54; Buku, hal. 54 dan 56; Cermin, hal. 62, 63 dan 64 dlsb). Dalam proses kreatif kepenulisan, judul yang berulang juga menandai minimnya dimensi eksploratif dan kreatif itu sendiri sebagai satu satuan dasar untuk menciptakan karya tulis.   

Juga label ”literasi paragraf tunggal” mesti digeledah karena secara sepihak dipakai Alwy Rachman untuk menyebut gaya dan bentuk kepenulisan Sulhan Yusuf yang konon berbeda dari bentuk dan gaya kepenulisan lainnya.  Jika penggeledahan dilakukan dengan sodoran pertanyaan, maka menjadi semisal: betulkah bentuk kepenulisan Sulhan Yusuf dalam Tutur Jiwa-nya adalah bentuk kepenulisan yang baru? Apakah memang betul-betul baru, dengan kata lain tidakkah ada kesamaan dengan bentuk kepenulisan sastra lainnya selama ini? Jika memang tidak ada, mengapa mesti disebut ”literasi paragraf tunggal”? Apakah ada pertimbangan khusus dengan nama yang diberikan? Jika memangg ada, apakah pertimbanganya?

Pertanyaan di atas dapat juga diperpanjang menjadi: apakah penyematan ”literasi paragraf tunggal” terhadap Tutur Jiwa, hanya dipakai akibat bertolak dari ”prinsip perbedaan” semata? Artinya, itu hanya sekadar identitas pembeda saja dengan bentuk kepenulisan yang pernah ada selama ini, selain tanpa ada maksud apa-apa?  Jika memang penyematan itu didasarkan atas suatu prinsip “yang esensial”, apa indikatornya? Dengan apa kita mengenalnya?

Akan menjadi lebih panjang jika pertanyaan-pertanyaan sebelumnya dilengkapi dengan beberapa pertanyaan baru seperti: kepada apa literasi paragraf tunggal sebenarnya digolongkan, kepada perilaku tulis Sulhan Yusuf atau teks-nya itu sendiri? Pertanyaan ini didasarkan dari perbedaan antara perilaku tulis Sulhan yang memproduksi teksnya melalui bentuk paragraf tunggal atau dengan isi teksnya itu sendiri yang mengisahkan kejadian-kejadian tunggal di dalamnya?

Eksposisi terhadap gaya dan bentuk tulisan Sulhan Yusuf kali ini mesti diangkat ke atas meja bedah yang mampu menerangkan apa maksud dari ”literasi paragraf tunggal” itu, yang disebut Alwy Rachman memberikan “rongga yang luas”? Suatu pelabelan yang belakangan membuat beberapa pihak bertanya-tanya.

Dua pokok terakhir, berkaitan dengan metode percakapan yang dipakai penulis ketika menghidupkan karakter Sang Guru. Pertama apa arti dari percakapan yang disebutkan Alwy Rachman dalam Pracita-nya? Meskipun sebenarnya tidak ada satu pun percakapan terbangun antara Sang Guru dengan Han dalam Tutur Jiwa. Akan riskan jika mau menyebut percakapan karena seluruh nasehat atau petuah Sang Guru ditanggapi tanpa ada percakapan balik dari Han! Bukankah percakapan mensyaratkan komunikasi timbal-balik? Suatu perbincangan yang disebut seimbang? Dalam hal ini, pasif-nya Han menerima ”segala” masukan dari Sang Guru juga dapat dipersoalkan!

Kedua, ini hanya mempertegas dugaan eike berkaitan dengan ”pengangkatan” Han menjadi Guru Han oleh Sang Guru (hal. 209). Penisbahan Han menjadi Guru Han nampak aneh mengingat Sang Guru dan Han sebagai tokoh fiktif merupakan dua orang yang sama, yakni sang penulis itu sendiri. Walaupun itu terjadi dalam dunia teks Tutur Jiwa, gelagat berbahaya akan terasa jika itu terjadi dalam realita sehari-hari: mirip seseorang yang menasbihkan dirinya sendiri sebagai penguasa, dengan cara memilih dirinya sendiri? Bukankah itu terasa janggal?

23 November 2017

Ektopik.  Pria itu terkulai lemah. Selang kecil terpasang di hidungnya seperti ular pipih yang masuk merayap ke sarangnya. Dua pergelangan tangannya tak bergerak. Jarum infus menancap di urat venanya. Ukuran kantungnya lebih besar dari kantung infus biasanya. Wajahnya pias. Kulitnya yang cokelat legam tak bisa menyembunyikan mukanya yang pucat.

Di sekitar tubuhnya dua tiang dipasang menyangga kantung darah yang berwarna merah gelap. Sementara monitor EKG berbunyi dengan irama yang konstan. Penanda jantungnya berdetak normal. Juga pernapasannya. Walaupun begitu, sesekali pria itu menengok resah garis-garik hijau yang bergerak berubah naik turun. 

Pria itu semenjak kemarin baru saja menjalani operasi akibat lambungnya yang pecah. 

“Sebelumnya dia menolak dipasangi selang dari mulut menuju lambungnya,” ungkap istrinya yang cemas. 

Istri pria itu merujuk kepada prosedur yang biasa disebut sebagai nasogastrik tube, pemasangan selang berisi cairan bagi pasien yang mengalami muntah-muntah tak berkesudahan. Gejala yang sering kali ditemui bagi orang-orang maag akut atau lambung yang sudah boyak. 

“Setahun lalu dia sempat beradu fisik dengan keluarga sendiri akibat harta warisan. Karena itu ia dipenjara selama 12 tahun, dia membunuh kemenakannya sendiri.” Beber kakak sang pasien. 

Caranya berbicara, dengan bahasa bugis yang khas mengingatkan eike kepada kabupaten yang bersebelahan langsung dengan Bulukumba. 

“Selama setahun di penjara dia terserang maag akut,” cerita sang kakak melanjutkan. 

“Tapi, memang sebelumnya lambungnya bermasalah, barangkali selama di penjara makannya tidak teratur.” Dia berucap lagi.  

Sampai di sini eike tiba-tiba teringat istri eike yang terbaring menahan sakit pasca operasi. Dia terkulai lemah seperti baru saja menghadapi kejadian dahsyat. 

Tapi memang dia baru saja melewati peristiwa yang benar-benar kritis. Dengan kata lain peristiwa yang betul-betul tak biasa. Peristiwa yang memang di luar dugaan. Masa-masa yang sulit diucapkan.Perutnya baru saja dibelah menyerupai prosedur cesar. 

Sekarang, kadar hemoglobinnya belum normal. Itu menyebabkan parasnya putih pucat. Bibirnya tidak semerah biasanya. Matanya memejam. 

Dia hanya terbaring dipenuhi alat-alat bantu pernapasan, infus, dan sekantung darah yang tergantung di sampingnya. Dua lembar sarung menutupi tubuhnya yang dingin. 

Monitor elektro kardio grafi berbunyi menunjukkan garis-garis kritis tubuhnya. 

Di ruang ICU itu, istri eike hanya berdua dengan pria yang lambungnya sobek tadi.  

Selebihnya, berjejer deretan panjang tempat tidur kosong. Dan kesunyian. 

***

Minggu pagi eike segera mempercepat laju motor sebelum lepas subuh meninggalkan rumah. Di rumah, Lola, istri eike, sebelumnya mengabari perutnya yang sakit.    

Belakangan, disela-sela aktivitasnya dia sering kali mengeluhkan sakit di bagian perutnya. Maag, eike menduganya. 

Karena berbeda dari dua kali keguguran sebelumnya, kali ini tidak ada fleg atau darah yang mengalir dari rahimnya. Janinnya yang sudah 8 minggu, sepertinya baik-baik saja.  

Setiba di rumah, eike melihat ia mengerang kesakitan. Tangan kirinya tergeletak di atas perutnya. Matanya memejam. Kakinya ia angkat dengan dinding sebagai penahannya. 

Sepertinya dia baru saja berganti pakaian. Pagi itu dia berencana menghadiri pelatihan yang jauh-jauh hari sudah ia persiapkan. Tapi, dia belum sempat mengenakan jilbabnya. 

Eike menduga, sebelum mengenakkan jilbab sakit itu datang lagi menyerang perutnya. Kali ini disertai dadanya yang ia rasakan seperti dipukul seseorang. 

Maag. Itu gejala maag. Eike langsung teringat beberapa tahun silam ketika ia tergeletak hampir pingsan ketika masih kuliah. Kala itu maagnya kambuh sehingga harus segera dibawa ke rumah sakit. Pasca kejadian itu dia dirawat  beberapa hari di rumah temannya yang jauh dari tempat kosnya.

Tak lama melihatnya terbaring memendam perih perutnya, eike keluar berkendara secepatnya membelikannya biskuit serta minuman ringan sari kacang hijau. 

Biskuit konon ampuh meredakan  penderita maag yang tiba-tiba diserang asam lambung. Kacang hijau untuk memberikan asupan gizi yang segera dibutuhkan tubuh. 

Selang beberapa saat setelah meneguk minumannya, dia ingin muntah. Kuat dugaan ini sepertinya memang maag. 

"Perutku sepertinya tambah membesar," tiba-tiba dia berucap. 

"Kan sedang mengandung," eike memberikan jawaban seadanya, agar ia tidak berpikir macam-macam. 

"Tapi, kok sakit kalau ditekan?" 

"Mungkin maagnya memang kambuh,"

"Sebelah kanan?" Istri eike menimpali dengan kalimat tanya. 

Istri eike, memang sering kali banyak bertanya tentang hal-hal baru yang sering ia temui. Termasuk gejala tubuhnya yang sering ia anggap ada perubahan. 

Pernah suatu kali, eike dibuat kagok atas pertanyaan-pertanyaan praktisnya soal agama. Maklum, eike berbeda pandangan keagamaan dengannya. Kalau sudah begitu, untuk meminimalisir kekalahan, eike hanya bilang, baiknya baca saja buku, lebih praktis. "Malas, justru tugas Kakak untuk membacanya. Nanti setelah itu baru dijelaskan kepada saya". Begitu selalu kalimat ampuhnya. 

Sepengetahuan eike, penderita maag sering mengeluhkan lambungnya yang kerap perih. Bahkan ada yang sampai sakit bukan main. Lambung berada di sebelah kiri. Sumber sakit di perut Lola berada di sebelah kanan. Eike mulai curiga. 

Kalau dalam mazhab politik, kata kanan diidentikkan dengan golongan yang pro pemerintah. Dalam politik, yang kanan itu memuakkan, konservatif dan, menjengkelkan untuk diajak melakukan perubahan. 

Walaupun  ini tubuh perut istri eike, memang kanan kali ini menjengkelkan. Ditambah lagi mengkhawatirkan. 

Tidak lama Lola, muntah kedua kalinya. Eike melihat air muntahnya berwarna cokelat menyerupai air teh. Sepertinya zat kacang hijau barusan dilemparkan keluar dari lambungnya. 

Ia mengerang.  

Tubuhnya seketika tidak bisa bergerak luwes. Perutnya mengejang.

Parasnya mengeluarkan keringat. Dan, tanpa ditanya seperti sebelumnya, tiba-tiba dia meminta untuk segera dibawa ke rumah sakit. Kali ini sakitnya tak tertahankan. 

“Sakit.”

Segera saja eike memesan grab. Mustahil bagi eike membawanya dengan motor mengingat kondisinya yang sulit bergerak. Setiap guncangan akan membuat perutnya tambah sakit. Tak lama setelah banyak yang menolak, seorang pria menerima bookingan dengan melayangkan pesan terkait alamat rumah. 

Semenjak dari keluar dari kamar, Lola nampak masih bisa menahan-nahan rasa sakitnya. Dia berusaha dengan hati-hati menghindari otot perutnya banyak bergerak yang sewaktu-waktu sakit datang menusuk-nusuk. Dari kamar kos kami di lantai dua dituruninya dengan pelan dengan kaki kanan terlebih dahulu di setiap anak tangga. 

Tak lama berselang dengan wajah yang memelas kami sudah berada di atas mobil. Mobil diarahkan segera menuju rumah sakit Haji. Tak jauh dari mukim kami. Dengan menempuh waktu selama kurang lebih dua puluh menit kami sudah tiba di IGD rumah sakit. Kami berdua segera masuk dan seorang suster menghampiri. Kami pun dibawa ke sebuah ranjang yang dipisahkan tirai-tirai plastik berwarna hijau peroz. 

Agak lama kami dibiarkan sendiri dengan suster-suster yang lalu lalang entah mengurus apa. Eike baru saja menaruh tas di sebelah tempat tidur yang kosong ketika seorang suster datang untuk meminta eike mendaftar di bagian administrasi. Selang kembali mendaftarkan istri eike, Lola baru saja dihampiri seorang suster yang mengecek kesehatan dengan beberapa pertanyaan.

Semenjak ditanyai keluhan yang diderita istri eike, keterangan belum jelas terkait sakit yang dideritanya. Berdasarkan informasi dari seorang bapak yang sedari tadi menulis-nulis beberapa kalimat di atas kertas dari IGD, maag dan usus buntu adalah penyakit yang diduga dialami Lola. Dia hanya duduk di balik mejanya sembari melihat gejala-gejala yang ditanyakannya sebelumnya. Tapi, bagaimana dengan kandungan istri eike? 

Setelah diketahui Lola sedang mengandung, tak lama kami dibawa oleh dua orang suster ke ruangan yang belakangan eike tahu tempat khusus bagi ibu-ibu yang akan bersalin. Lola ditempatkan di sebuah ruangan setelah ia sebelumnya bersusah payah memekam sakit selama perjalanan di atas kursi roda.  Sesekali ia mengeluarkan suara seperti berteriak.

Segera ia dibawa dan dibaringkan di atas tempat tidur. Tapi, tubuhnya menolak. Goyang sedikit saja perutnya merasakan sakit. Ia berusaha untuk kedua kalinya. Masih saja tidak bisa. Lalu ia mengubah gaya duduknya untuk kemudian berusaha rebahan, namun tetap saja tak bisa. Wajahnya berkeringat. Keningnya dipenuhi titik-titik air yang mulai menetes tanda ia menahan sakit yang sangat.  

Suster-suster yang melihat Lola bersusah payah memegang perutnya berusaha memeriksa tubuhnya. Sambil duduk istri eike menjawab setiap pertanyaan dengan bicara seadanya. Cara itu dilakukan agar ia bisa mengambil napas agar perutnya bisa bertahan menahan beban sakitnya. Dari belakang datang dokter muda yang eike duga bukan dokter yang sebenarnya. Dia menanyai keluhan istri eike dengan perhatian yang khas dokter muda. Tetap saja Lola bicara secukupnya. Keringatnya semakin banyak. 

Setelah dianalisis dengan cara memegang dan menekan di beberapa bagian perut,  dan Lola yang merasakan sakit di bagian tertentu, dokter muda itu menampakkan raut muka yang berubah. Mimiknya seolah menemukan sesuatu yang mengganjal. 

Sontak ruangan semakin gaduh dengan bertambahnya suster-suster yang berdatangan. Mereka sesekali bergantian datang melihat istri eike yang duduk tak bergerak bagai patung. Nampaknya ada hal yang baru yang dimiliki tubuh Lola yang mesti mereka ketahui. Seketika istri eike jadi objek.  

Sementara di luar ruangan, eike memerhatikan dokter muda tadi berkonsultasi via telepon dengan suara entah milik siapa. Setelah mendengar pembicaraannya dengan seksama, eike duga kalau yang berbicara dengannya adalah seorang dokter ahli kandungan. Nampaknya dokter muda tadi sedang melaporkan temuan-temuannya dari tubuh Lola kepada sang dokter .

Pelan-pelan eike menenangkan diri berusaha menangkap setiap gelagat perawat yang masuk melihat istri eike. Setiap mereka masuk seperti ada yang hendak mereka sembunyikan. Tapi entah apa. Eike mulai merasa was-was.

Lola yang dari tadi memegang perutnya hanya bisa pasrah mengeluhkan ulu hatinya. Entah dari mana ia tahu bahwa ulu hatinya yang sebenarnya sakit. Tapi, begitu yang ia sampaikan ketika ada perawat baru yang masuk menanyakan lagi keluhannya.

Sampai di sini waktu terus berjalan tanpa kepastian bahwa penyakit apa yang sebenarnya sedang mendera istri eike.

***

Air mukanya masih belum berubah. Masih sepucat setelah dari ruang bersalin. Matanya hanya menatap kosong menghadap ke atas. Bibirnya sudah hampir berwarna putih. Walaupun begitu kesadarannya masih tetap terjaga. Eike hanya bisa menggenggam tangannya berusaha memberikan kekuatan kepada dirinya yang terlentang di atas meja roda yang membawanya ke suatu ruangan.

Setelah menemani Lola sampai ke ruang tungggu untuk dibersihkan. Eike kembali mengingatkan dan membisikkan dekat di telinganya agar ia banyak-banyak bersalawat. Segera eike menyebutkan nama seorang perempuan suci agar ia tetap mengirimkan salawat kepadanya.

Selang beberapa meter, eike ditinggalkan sendirian setelah dia dibawa masuk menuju meja operasi.

***

Beberapa waktu sebelum itu, dalam laporan awal dari IGD disebutkan istri eike mengalami APP, istilah medis yang menyebut pecahnya usus buntu. Tapi, keterangan yang eike berikan kemungkinannya Lola menderita maag akut mengingat kejadian beberapa tahun sebelumnya.

Simpang siur masih terjadi sampai Lola akan dipindahkan kembali ke ruangan yang lain karena ia menempati bagian pemeriksaan yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Kemungkinan besarnya ia akan dipindahkan ke ruang bedah setelah saya mendengar bahwa kemungkinan ususnya memang pecah.

Saat ia akan dibawa kembali ke ruangan lainnya, Lola sulit berjalan. Kursi roda yang disediakan buatnya pun tak sanggup ia duduki. Ia seketika berteriak. Perutnya goyang. Suaranya membuat semua perawat merasa merana. Hingga dari ujung pintu seorang perawat yang lebih tua melihat dan merasa curiga atas raut muka istri eike yang drastis menjadi semakin pucat.

“Coba periksa kembali, ini mungkin bukan APP?”, sembari ia meraba-raba tubuh istri eike yang seketika dingin. Mukanya nampak keheranan. Sementara Mata istri eike memandang sesuatu seperti kehilangan daya. Melihat sorot matanya yang berbeda, perasaan tak enak seketika menggerayangi tubuh eike.

“Ini nampaknya karena kandungannya, coba kembalikan ke tempat tidur. Ini pasien kita!”

Eike mulai merasakan hal yang tak enak.

“Tapi keterangannya tertulis APP!”

“Coba periksa lagi, sepertinya ini di luar kandungan”

Mendengar kata yang terakhir itu pikiran eike semakin menjadi-jadi. Ada apa dengan kandungannya? 

Di meja lain seorang perempuan dokter muda mengecek kembali data pasien yang diberikan dari ruang IGD. Tertulis jelas APP di kolom penyakit yang diderita. Di samping kanan kirinya dua orang perawat ikut memerhatikan kertas keterangan yang tertulis nama istri eike di salah satu kolomnya. Mereka menampakkan keheranan, antara keterangan yang tertera di atas kertas dan kemungkinan baru yang disebutkan sang perawat senior barusan.

Demi memastikan kembali keterangan yang diterakan dari IGD, sang dokter muda cepat-cepat menghubungi seorang dokter ahli. Dia mengabarkan tentang kemungkinan baru yang diinformasikan sang perawat. Pernah sebelumnya sang perawat menemukan gejala yang sama pada pasien yang dia sebut hamil di luar kandungan. Gejala yang sama ia lihat dialami Lola.

Sementara itu sahabat-sahabat istri eike datang satu persatu. Mereka adalah orang pertama yang Lola kabari via grup whatsapp sebelumnya ketika dia masuk di IGD. Mereka duduk harap-harap cemas sembari menunggu kabar terbaru dari kondisi Lola.

Tidak lama berselang, seorang perempuan berbaju training datang dan langsung masuk tanpa babibu. Nampaknya ia baru saja pulang dari acara olah raga kelompok entah di mana. Melihat kedatangannya, seorang suster mengambil mesin USG yang diambil entah dari mana. Tidak lama seluruh perawat dan sang dokter muda berdiri membentuk setengah lingkaran di belakang sang perempuan. Mata mereka tertuju ke layar USG setelah sang dokter mengecek keluhan istri eike dengan beberapa pertanyaan. Tidak lama sang dokter mengambil dan menggerakkan gagang alat pindai di perut Lola.

“Coba lihat,” Ia memberikan arahan kepada seluruh orang yang berada di belakangnya. Ia menggerak-gerakkan dari kanan ke kiri alat USG di perut Lola, seperti mencari sesuatu.   

“Ini sudah pendarahan.” Ia berkata sambil menunjukkan suatu gambar yang eike tak mengerti. Gambar di layar mengingatkan eike kepada pola-pola zat yang dibesarkan beratus-ratus kali melalui mikroskop.

“Perhatikan ini?” ia menggerakkan gagang USG. “Itu cairan darah semua”.

Semua orang di belakangnya serius memerhatikan sang dokter.

“Ini hamil di luar kandungan.”

Istri eike akhirnya positif dinyatakan mengalami kehamilan di luar kandungan.

Sekira tidak sampai satu menit ketika dokter Fatmawati memberikan “kuliah singkat” kepada perawat-perawat yang mengelilinginya, ia berkata: “Tolong siapkan ya, kita operasi sekitar satu setengah jam ke depan. Bisa ya!”.

Tiba-tiba ada yang lekas hilang tercerabut dari tubuh eike setelah mendengar langung ucapan sang dokter. Di pintu tempat eike berdiri, eike melihat seketika para perawat yang kembali lalu lalang menyiapkan berkas-berkas untuk operasi. Ya, tidak lama lagi Lola akan segera dioperasi. Sungguh di luar dugaan.

Eike segera menenangkan diri, berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Dan berusaha mengingat siapa-siapa yang segera harus eike informasikan berkaitan dengan keputusan dokter yang tiba-tiba itu.

“Sebaiknya Bapak cepat-cepat menghubungi siapa saja keluarga Bapak,” ucap perawat tempat eike memberikan tanda-tangan sebagai persetujuan operasi.

Operasi tidak bisa ditunda-tunda lagi. Dan itu satu-satunya jalan!

“Dan mohonkan doa,” ucap perawat menambahi.

Eike tertegun sejenak. Ada yang berubah seketika dari tubuh eike.

***

Baru saja eike meninggalkan ruangan operasi yang tertutup bagi siapa pun kecuali dokter dan perawat-perawatnya. Sahabat-sahabat dari istri eike berada di luar menunggu pada kursi yang tersedia seadanya. Sementara teman-teman dekat eike satu persatu mencari tempat rebahan juga untuk menunggu. Istri eike beberapa menit yang lalu baru saja masuk setelah tubuhnya dibersihkan. Cincin dan anting-atingnya juga dilepas. Praktis ia hanya menggunakan baju khusus bagi orang-orang yang akan menjalani operasi.

Pintu ruang operasi sudah ditutup rapat. Terakhir sebelum meninggalkan, dokter Fatmawati berpesan agar eike memanjatkan doa. Dia juga mengatakan operasi tidak akan lama dari satu jam. Dia pun akhirnya masuk. Sepenuhnya istri eike, eike pasrahkan kepada Sang Maha Penentu.

Sekarang istri eike sedang bertarung. Eike sendiri, berusaha menguat-kuatkan diri, menuju mushola untuk bersujud seikhlas-ikhlasnya. 

19 November 2017

FASIS. Tak ada pendidikan yang baik tanpa melibatkan dialog di dalamnya. Kira-kira 300-400 tahun silam sebelum masehi, dialog sudah didudukkan sebagai bagian penting pendidikan. Konon di masa itu, Aristoteles, senang berjalan berkeliling mengitari murid-muridnya sambil bercakap-cakap. Di akademia yang dia bangun itu, Aristoteles yang berjalan ibarat putaran jam itu kelak menginspirasi suatu pendekatan yang khas dalam wacana ilmu filsafat. Akademianya, tempat dia mengajar, dalam sejarah, menjadi cikal bakal berdirinya universitas-universitas. Juga, sebelum Aristoteles, Socrates malah memakai dialog sebagai metode mengungkap pemahaman. Sampai-sampai karena metodenya ia malah disebut sebagai sang bidan. Ibarat "dukun beranak" Socrates hanya bertugas membantu orang-orang melahirkan sendiri pemahamannya. Pengetahuan hanya bisa dilahirkan dari rahim orang-orang bersangkutan. Tidak ada anak yang lahir di luar dari rahim ibunya. Begitu kira-kira maksud dari metode bidan Socrates. Itulah sebabnya pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang lahir dari rahim pikiran sendiri. Bukan dari rahim siapa-siapa. Bahkan dalam pendidikan, dialog adalah kunci. Tapi, bagaimana mungkin menempatkan pendidikan yang ideal dalam konteks masyarakat seperti sekarang, sementara sekolah, atau bahkan intitusi pendidikan tinggi, hanyalah ruang publik yang minim dialog? Institusi yang lebih tepat disebut rezim fasis! Bukankah dialog mengandaikan hubungan yang setara? Suatu relasi yang disebut sepadan, yang memungkinkan pentingnya pertukaran pemahaman di dalamnya? Tapi fasis tetaplah fasis! Suatu mekanisme pemerintahan yang bukan saja berlaku dalam sistem politik, tapi juga dalam pendidikan. Dengan apik, banyak kritikus pendidikan yang mendakukan bahwa dunia pendidikan adalah refleksi masyarakatnya. Era sekarang, ketika kapitalisme mutakhir menjadi momok tak terhindarkan, pendidikan yang memiliki tujuan yang luhur itu pada akhirnya didudukkan berdasarkan skema masyarakat kapitalistik. Menurut pendakuan Jean Anyon, seorang sosiolog pendidikan marxis, relasi pengetahuan yang berlaku dalam institusi pendidikan, hanyalah mereplika sistem transaksional jual beli masyarakat kapitalistik. Dengan kata lain, proses sosial, hubungan sosial, dan kedudukan sosial dalam dunia pendidikan, merupakan bentuk lain dari sistem kelas masyarakat yang mensubordinasi kelas pekerja melalui ilmu pengetahuan. Dari penelitiannya juga, Anyon menyatakan institusi-intitusi pendidikan selama ini banyak menggunakan logika pasar di dalam mengelola intitusinya. Dimulai dari kebijakan pengembangan intitusi, sampai kepada pengelolahan kurikulum dan praktek belajar mengajar, didasarkan kepada akumulasi kapital dengan cara membentuk sistem stratifikasi kelas masyarakat berdasarkan satuan-satuan dan tingkatan-tingkatan kemampuan ekonomi. Itulah mengapa sampai hari ini, terutama dalam institusi pendidikan tinggi banyak sekat-sekat yang membagi secara kategoris satuan belajar berdasarkan tingkat ekonominya. Kata Ivan Illich, proses pendidikan yang dikonfigurasikan atas sistem ekonomi, hanya menghasilkan out put yang tak bermutu. Di saat itulah ilmu pengetahuan menjadi komoditi. Seperti benda-benda yang terpampang dalam etalase pertokoan. Atau bukan saja ibarat sistem jual beli, pengetahuan yang sejatinya bersifat dinamis dan berkembang hanya menjadi tanah kering yang mudah kaku akibat fasisnya sistem belajar mengajar selama di kelas-kelas. Kenapa bisa disebut fasis? Sederhana saja! Sejauh di dalam praktik-praktik berpengetahuan, nilai dan sumber-sumber pemahaman hanya diasalkan melalui satu sumber. Dan, ini ciri yang kedua, ketika tidak ada satupun ruang terbuka untuk menyoal sesuatu, atau bahkan memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat. Proses diseminasi yang demikian, malah mengartikan ilmu pengetahuan ibarat dogma. Kendati dikatakan sebagai proses transformasi, bentuk dan isi pengetahuan dalam situasi demikian hanya didudukkan dalam pengertian yang statis dan fixed. Ilmu akhirnya menjadi barang baku yang sama ketika diajarkan dan sama ketika diungkapkan kembali. Ada istilah yang khas dari Pierre Bourdieu, filsuf cum sosiolog pendidikan Perancis: homo academicus. Dengan sinis, Bourdieu merumuskan istilah ini untuk menunjukkan betapa pragmatisnya motivasi dunia intelektual yang mengejar kedudukan akademis dengan meninggalkan hasrat pencarian ilmu pengetahuan. Banyak di antaranya para ilmuwan dalam institusi pendidikan tinggi, hanya mementingkan gelar akademik yang mentereng tanpa benar-benar mengindahkan aspek intelektual dari karir akademiknya. Bahkan, gelar akademik hanya dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu, semisal memperdalam dan memperluas gengsi kekuasaan. Dengan kata lain, aristokrasi akademis menjadi satu-satunya tujuan seorang ilmuwan untuk meningkatkan kekuasaan simboliknya dalam stratifikasi ilmu pengetahuan dan masyarakat ilmiah. Dari pengamatan yang lain, Michel Foucault lebih surut ke belakang melihat kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan. Menurutnya, pengetahuan selalu menyatakan diskursusnya dalam rangka mempertahankan posisi dominan kaum tertentu. Atau sebaliknya, kekuasaan seringkali menciptakan diskursus pengetahuannya dengan tujuan menopang secara ideologis kekuasaan itu sendiri. Pengetahuan yang dikendalikan melalui normatifitas, dengan sendirinya akan menciptakan pendisiplinan dan pengontrolan tentang apa yang layak dipikirkan, diwacanakan, dan dilakukan. Dalam situasi demikianlah, dalam konteks pendidikan, subjek terdidik mengalami pelucutan dari kebebasannya sendiri. Pengetahuan dengan begitu, dengan kata lain hanyalah kata ganti dari kekuasaan. Kembali ke soal dialog. Apabila relasi pengetahuan diartikan secara sepihak, maka tidak mungkin ada dialog. Mustahil ruang diskursif sebagai wahana pertemuan gagasan dimungkinkan. Dialog hanya mungkin jika ada posisi yang dibuat setara, ada titik-titik yang dibuat seimbang, dan hilangnya sekat-sekat yang menggambarkan keseimbangan antara posisi dominan dan posisi yang subordinat. Jika tidak, seperti kata Foucault, hubungan yang berpotensi menjadi relasi hirarkis akan menyubordinasi yang lain dengan kekuasaanya. Kalau begitu, fasis tetaplah fasis, pendidikan sekalipun!

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...