05 April 2017

Kebangkitan Masyarakat Sontoloyo

Kata sontoloyo pernah populer di tahun 1940-an. Orang yang mengangkatnya menjadi bahasa publik tiada lain adalah presiden pertama Indonesia. Bahkan, Soekarno memadankannya dengan kata Islam dalam artikel yang ditulisnya. Di bawah judul Islam Sontolojo, Soekarno banyak menyitir perilaku ulama dan agamawan yang terlalu fiqih oriented, literer, dan bahkan sempit dalam berwawasan.

Menurut catatan sejarah, Islam Sontoloyo Bung Karno saat itu, juga “diusik” akibat ulah seorang guru agama yang dibui akibat memerkosa murid perempuannya. Kejadian itu dimuat dalam surat kabar Pemandangan 8 April 1940.

Sontoloyo juga punya sejarah unik. Konon sontoloyo adalah nama profesi bagi masyarakat Jawa yang sehari-hari menggembalakan itik atau bebek. Tapi, ada juga yang berpendapat, huruf “s” dalam sontoloyo merupakan plesetan dari kata yang merujuk kepada kelamin laki-laki.  Berdasarkan pengertian ini, sontoloyo sering dipakai untuk merendahkan seseorang yang memiliki “kelaki-lakian” yang lemah (loyo).

Tertanggal 30 Juli 2008 Media Indonesia menurunkan tulisan berjudul Menteri Sontoloyo dalam tajuknya. Tajuk itu membabar sifat plin-plan dan mencla-mencle pejabat negara akibat beragam kepentingan yang memang saat itu adalah tahun politik. Di bulan selanjutnya terbit opini di harian Kompas: Republik Sontoloyo. Tulisan itu jelas sekali meresahkan keadaan negara yang mencemaskan dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi setelah naiknya harga BBM saat itu.

Konyol, tidak beres, bodoh. Begitu arti sontoloyo dalam KBBI. Sebagai bahasa percakapan, sontoloyo dipakai untuk menyebut perilaku yang kurang logis (konyol), tidak etik (tidak beres), dan kurang cerdas (bodoh).

Apabila sontoloyo diperluas menjadi metafora ataupun istilah yang merujuk kepada anomali masyarakat era kiwari, maka banyak gejala yang mencerminkan kebodohan dan kekonyolan.

Pertama, maraknya kelompok masyarakat yang senang dan menyebarluaskan kebodohan dan kekonyolan melalui hoax. Fenomena ini disebut kekonyolan bukan karena ditemukan dalam lapisan masyarakat tidak terdidik, melainkan kelas menengah terdidik yang justru banyak mengalaminya. Anomalinya adalah ambivalensinya kelas menengah sebagai kalangan terdidik dan sikapnya yang menyukai dan menyebarkan hoax.

Kedua, kemunculan generasi mutakhir yang terancam dari segi identitas kebangsaan. Akibat globalisasi dan kemajuan dunia teknologi informasi, identitas kebangsaan mengalami guncangan ketika diterpa berbagai macam nilai kebudayaan luar. Belakangan, munculnya isu warga pribumisasi vs. pendatang ikut turut memperkeruh suasana. Imbas dari krisis identitas, generasi mutakhir lebih banyak menyukai kebudayaan yang berbau kebarat-baratan karena menganggap budaya sendiri sebagai budaya yang kolot dan tradisional.

Ketiga, dampak dari masalah sebelumnya, ikut membentuk ciri masyarakat baru yang bercorak konsumtif. Masyarakat yang dalam kajian sosiologi disebut masyarakat posindustrial ini memiliki ciri-ciri masyarakat yang gemar berbelanja, suka berjalan-jalan ke luar negeri, dan menyenangi waktu senggang dengan menghabiskannya di mal-mal atau café-café.

Keempat, semakin naifnya masyarakat dalam mengekspresikan pilihan politiknya hanya akibat perbedaan-perbedaan kecil dibanding masalah yang sebenarnya. Politik yang sebenarnya harus digerakkan pilihan rasional, gagasan, program kebijakan dsb., malah lebih mudah digerakkan oleh isu-isu rasial dan keagamaan. Model demokrasi yang demikian tidak akan membawa Indonesia ke model masyarakat yang lebih baik akibat cara mengekspresikan pilihan politiknya yang kurang dewasa.

Kelima, merebaknya fundamentalisme keagamaan yang didorong pemahaman keagamaan ekstrim. Kehidupan antara warga yang kuat mengikat dirinya dalam perbedaan dan kemajemukan, akibat pemahaman yang mau benar sendiri secara berangsur-angsur meruntuhkan pilar keutuhan yang selama ini dibangun dengan azas-azas toleransi. Eksklusifitas keagamaan yang demikian, cepat atau lambat akan mengancam keutuhan bangsa dan bernegara dengan cara menghadap-hadapkan isu negara agama versus agama sekuler.

Keenam, masih menguatnya cara berpikir dualistik yang memperhadapkan pilihan-pilihan kepada logika hitam putih. Tradisional-modern, islam-non muslim, barat-timur, rasional-irasional, pribumi-non pribumi dls., adalah beberapa hal yang seringkali dipertentangkan tanpa bisa melihat alternatif lain dengan car berpikir dialektis dan kontekstual.

Ketujuh, kedelapan dst., merupakan persoalan-persoalan yang bisa Anda kembangkan dengan tanpa melepaskan kebodohan dan kekonyolan sebagai indikatornya. Di sekitar Anda pasti banyak masalah-masalah yang bisa disebut cara berpikir, pilihan, perilaku, kebiasaan yang disebut konyol dan bodoh.

Syahdan, jika Anda kesulitan menyebut tiga persoalan yang mencerminkan kebodohan dan kekonyolan, dan tidak beres, maka jangan-jangan Anda bagian dari bangkitnya masyarakat sontoloyo.

---

Nb: Korupsi di kalangan elit ataupun di hampir setiap level instansi salah satu contoh kebodohan dan kekonyolan yang tidak pernah berhenti dibicarakan. Juga, yang paling konyol adalah memori kolektif masyarakat kita yang terbilang pendek, sehingga susah menimba pelajaran dari masa lalunya yang bergelimang persoalan hingga kini.    

---

Sumber rujukan:
1. bumisaloka.wordpress.com
2. nenekmoyang28.blogspot.co.id
3. opini.wordpress.com

03 April 2017

Bukan Bakat

Otot kepenulisan itu dibentuk dari latihan dan latihan. Ketika Anda gigih menulis, pelan-pelan otot kepenulisan Anda akan semakin terlihat. Apalagi jika itu dibarengi dengan gizi bacaan yang berserat tinggi. Sudah pasti dari hari ke hari Anda akan merasakan dan melihat perubahan dari cara Anda menulis dan bahkan bertutur.

Makanya, saya agak sangsi mendengar pernyataan menulis itu adalah bakat. Menulis itu kata kerja. Itu artinya dia diusahakan. Dilakukan tahap demi tahap. Menulis itu bagaimana Anda mau berproses dan menikmatinya. Itu saja.

Jika menulis adalah bakat, sungguh tidak adil Tuhan itu, dengan memberikan bakat kepada satu orang dan tidak kepada lainnya. Padahal cara kerjanya sederhana: Anda berusaha, maka Anda yang akan menikmati hasilnya.

"Bakat n 1 anugerah, fitrah, karunia, kebolehan, kemampuan, kodrat, talen, talenta; 2 bekas, kesan, tanda-tanda, tikas;3 alamat, faal, gejala, gelagat, indikasi, isyarat, pertanda, petunjuk, sinyal, tanda-tanda; berbakat a berpembawaan".

Itu kutipan dari KBBI. Jadi di situ jelas sekali bakat itu bukan pemberiaan alami yang dikira banyak orang. Atau kemampuan yang sudah dimiliki sejak azali. Bukan. Sama sekali bukan.

Lalu, apa yang dimaksud anugerah, fitrah, karunia, kodrat, dst. itu? Jika ada satu-satunya yang dibawa sejak lahir, yang merupakan anugerah, yang dimaksud fitrah, maka itu tiada lain merupakan nikmat akal, nikmat jiwa yang berpotensi menjadi dahsyat jika dikembangkan.

Sekarang Anda punya nikmat akal, pikiran bersih, yang digunakan sehari-hari. Anda menggunakannya untuk berpikir, berkomunikasi, dan berpartisipasi. Anda hidup dengan akal dan jiwa Anda. Bahkan, tanpa kedua itu Anda bukan apa-apa.

Pertanyaan besarnya: sudahkah Anda memaksimalkan apa yang Anda punyai? Mendayagunakan akal dan jiwa Anda untuk meningkatkan kemampuan dan talenta Anda? Dengan menulis? Menggunakan kata-kata di sekitar Anda?

Yakinlah, jika Anda memperbanyak latihan, akal dan jiwa Anda akan berkembang pesat. Otot kepenulisan Anda mulai akan berkembang. Hingga sampai di taraf tertentu beban apa pun yang Anda tuliskan akan terasa ringan. Seberapa pun beratnya. Percayalah!

28 Maret 2017

Meriwayatkan Makassar dengan Literasi Kenangan Anging Mammiri

---Catatan atas buku Anging Mammiri, Jejak Makassar Tempo Dulu;  karangan Abdul Rasyid Idris

Seorang yang menulis sejarah pasti tahu,  ingatan adalah suatu yang mudah menguap. Begitu pendakuan Goenawan Mohammad di salah satu esainya di tahun 2012. Karena itulah, sejarah mesti diabadikan. Ditulis dan diriwayatkan. Mirip origami, ingatan sangat mudah dibentuk, disusun, dibelokkan, atau bahkan silap dihimpit memori yang lain.
  
Tapi, Abdul Rasyid Idris dalam Anging Mammiri tidak sedang menulis sejarah. Melalui literasi kenangan, Abdul Rasyid hanya sedang melahirkan saudara kembar sejarah. Sebagaimana pendakuan Alwy Rachman di pengantar buku ini, Abdul Rasyid bukan dalam kapasitas menandingi sejarah Makassar sebagai kota, melainkan berusaha melahirkan kembali suatu peristiwa subjektif di era kekinian melalui kekuatan ingatan.

Ingatan, dalam Anging Mammiri memang adalah kekuatan yang sebenarnya, yang berada di balik 76 esai Abdul Rasyid Idris. Sebagaimana rasio sebagai struktur esensial manusia yang menopang modernisme, ingatan dalam Anging Mammiri juga menjadi subtansi dari sehingga mengapa Makassar dalam buku ini patut diketahui orang-orang.

Makassar dalam sorot ingatan, apalagi dalam bingkai literasi kenangan Abdul Rasyid Idris, bukan Makassar hari ini yang kadung banyak diobjektifkan melalui wacana dan pemberitaan yang memenuhi ruang publik kita. Melainkan suatu dunia subjektif, yang melihat dari “depan” suatu peristiwa masa lalu dan sebelum beralih menjadi konten yang hampir politis.

Makassar dalam Anging Mammiri, hampir semuanya dibilangkan dengan cara menghidupkan “orang-orang kecil” yang mengitari kehidupan penulis di masa lalunya. Bersamaan dengan itu, momen terhadap lokasi-lokasi yang disebutkan dalam buku ini, menjadi lokasi “bersejarah” yang patut dipersoalkan, mengingat tempat-tempat itu telah banyak mengalami perubahan.

Makassar dalam alaf dalam ingatan
  
Makassar adalah kota yang selain dihuni dan dialami langsung, juga kota yang belum defenitif. Dengan kata lain, Makassar merupakan kota yang sedang bergerak, kota yang dialiri perubahan terus-menerus. Melalui konteks ini, Makassar perlu dicermati.
  
Mencermati Makassar melalui teropong ingatan—seperti yang ditunjukkan Abdul Rasyid Idris—adalah geliat subjektif bagaimana sebuah kota ditangkap, dialami, dan diriwayatkan kembali setelah melewati pelbagai macam perubahan di dalamnya. Dengan kata lain, kota dalam ingatan merupakan suatu arus kesadaran yang hampir semua dipunyai penduduk di dalamnya. Pungkas ingatan melalui alaf waktu, yang diriwayatkan melalui tulisan, dengan ini adalah suatu cara bagaimana suatu kota, melalui ingatan penduduknya melakukan timbal balik pemaknaan untuk mengenali kembali dirinya.

Dalam Anging Mammiri, kota dalam ingatan, ditelusuri kembali melalui tiga perangkatnya: tokoh, waktu dan tempat. Melalui tiga elemen inilah, dari orang-orang seperti Daeng Torro, A Pui, Sang Guru, Tuan Manni, sampai Tanta Gode’, dapat menjadi jalan masuk mencandra kembali Makassar ketika berada di era 70-an. Begitu juga tempat-tempat semisal Pasar Butung, Pelabuhan Paotere, Pasar Senggol, Benteng Somba Opu—untuk menyebut beberapa di antaranya—menjadi situs-situs perkotaan yang dapat ditelusuri seperti apa dan bagaimana cara orang-orang Makassar dahulu menjalani kehidupannya sehari-hari.

Esai yang berjudul Kampung Antang, juga misalnya, merupakan sepercik sejarah bagaimana generasi masa kini dapat mengenali cerita di balik lokasi-lokasi yang memiliki nilai historis.  Begitu pula, penamaan Pasar Paotere, yang ditulis dengan judul yang sama, menjadi keping sejarah yang memotret bagaimana suatu kawasan kota awalnya dinamai berdasarkan aktifitas warga di dalamnya.

Pewarisan nilai-nilai

Maurice Halbwachs, seorang sosiolog sekaligus filsuf abad 20 pernah mengembangkan suatu penemuan ingatan yang bersifat subjektif, hakikatnya merupakan hasil panjang pergumulan interaksi masyarakat di dalamnya. Artinya, ingatan tidak mungkin bersifat individual melainkan hasil proses sosial yang melibatkan simbol-simbol kolektif. Di dalam konteks inilah, Anging Mammiri bukan sekadar ingatan subjektif penulisnya, tapi juga sebenarnya dapat ditarik menyentuh ingatan orang-orang yang mewakili Makassar tahun 80-an.

Tempat, lokasi, waktu, nama-nama jalan, warung kopi, terminal, pasar, areal pertokoan dlsb, yang diliterasikan melalui Anging Mammiri, sebagaimana dikatakan Maurice Halbwach, merupakan sarana ingatan bukan saja menjadi milik ingatan pribadi, tapi juga kepunyaan kolektif yang mewarisi nilai-nilai bersama agar terhindar dari kepunahan.

Sebagai pewarisan nilai-nilai melalui literasi, dalam konteks perubahan, Anging Mammiri bisa difungsikan sebagai pelengkap sejarah untuk mencipta ulang peristiwa masa lalu yang mengikutkan tempat-tempat, kejadian, waktu, dan moment peristiwa untuk menjadi dasar bagi masa kini, dan menjadi pijakan kepada masa depan yang lebih baik.

Walaupun Anging Mammiri bukan buku sejarah, dan dilihat dari proses kreatifnya yang dilahirkan dari dunia maya media sosial, merupakan suatu cara bagaimana kenangan dan teknologi dapat dipertemukan dan melahirkan input positif bagi generasi hari ini yang sulit lepas dari dunia digital. Cara Abdul Rasyid Idris, yang sudah menerbitkan dua buku sebelumnya, yang hampir semuanya lahir dan berbasis dunia digital, dengan sendirinya adalah jawaban bagaimana kenangan atas suatu kota, dapat dirawat dan diriwayatkan dengan memanfaatkan media sosial sebagai canvas pertamanya.

---

Telah dimuat di Kalaliterasi.com

27 Maret 2017

Memerdekakan Kenangan

Kota yang kita lihat memang bisa hilang, tapi sebaliknya, dalam ingatan, kenangan atas suatu kota --penduduknya, gedung-gedungnya, pasarnya, lautnya, dlsb,-- jauh lebih bertahan, dan lebih lekat sebagai suatu "sejarah" bagi generasi yang akan datang.

Itulah sebabnya, literasi kenangan, entah terhadap suatu kota mesti menopang ingatan masyarakat yang mudah silap oleh kesibukan dalam lipatan waktu. Terlebih lagi, kenangan yang diliterasikan jauh lebih dahsyat dibanding "lisan kolektif" yang hanya menjangkau jauh lebih kecil tinimbang literasi yang menghidupkan kehidupan kolektif melalui karya tulis.

Kenangan ketika dia diliterasikan, berarti perlawanan pertama terhadap ingatan yang berlahan menjadi lapuk. Di tengah deru modernisme, ketika ingatan banyak diambil memori buatan mesin-mesin canggih, literasi kenangan dengan bentuk karya tulis juga berarti cara kita menghargai masa silam.

Akhirnya, siapa pun bisa melupa, ingatan bisa silap, tapi siapa pun tidak akan bisa merdeka jika belum sebelumnya memerdekakan masa lalunya melalui literasi kenangan.

23 Maret 2017

Literasi, Riset serta Seni sebagai Basis dan Alternatif Gerakan, Benarkah?

Saya merasa jengkel ketika mendapati tema diskusi: “Literasi, Riset Serta Seni Sebagai Basis dan Alternatif Gerakan”. Tema diskusi ini lahir dari lingkungan akademik kampus. Percik pikiran yang lahir dari masyarakat ilmiah. Apa yang salah dari tema tersebut? Alasannya sederhana: menempatkan literasi, riset, dan seni sebagai alternatif gerakan! Padahal, tidak ada satupun lingkungan ilmiah yang tidak bekerja tanpa mendasarkan literasi dan riset, juga seni sebagai basis fundamentalnya. Dengan kata lain, menulis, memperkaya pustaka, meneliti, dan bergerak dalam seni adalah bukan gerakan alternatif. Dia sebenar-benarnya pekerjaan ilmiah yang harus diutamakan.

Artinya ada persepsi yang salah. Atau mungkin tradisi aktivisme selama ini yang melenceng dari “khittahnya”. Menempatkan literasi, riset dan seni sebagai subordinat dalam aktivisme kampus, adalah soal serius. Apalagi jika itu dianggap biasa, maka soal ini jauh lebih serius.

Tradisi akademik dan aktivisme kampus sejatinya merupakan kerja intelektual yang berbasis literasi dan riset. Jika Anda menjadi seorang mahasiswa, paper; makalah; jurnal; buletin; skripsi; tesis; buku adalah benda-benda intelektual yang akrab di lingkungan Anda. Risetlah yang menjadi pekerjaan dasar menghadirkan itu semua.

Sementara pusat seni, studio, laboratorium, pusat kajian, perpustakaan, lembaga penerbitan, audotorium, dan pusat kegiatan mahasiswa, merupaka teritori yang membentuk lingkungan kampus menjadi lebih beradab. Tempat-tempat ini adalah ruang diskursif yang menghidupkan literasi sebagai batang pokoknya. Dan, tentu semua itu menjadi tempat pertanggungjawaban ilmiah atas riset dan kerja-kerja intelektual. 

Semua itu sadar tidak sadar adalah tanda bahwa Anda hidup di dalam suatu masyarakat elit yang disebut ilmiah.

Pembalikkan

Selama ini ada perdebatan kuno yang kadung tercemari pembelahan: perdebatan yang mana utama aksi atau diksi; praktik atau teori. Seakan-akan dua dimensi itu berbeda. Padahal, jika ditelisik, dua hal itu saling mengandaikan alih-alih saling meniadakan.

Malangnya, tradisi intelektual seringkali diplesetkan jika itu hanya rangkaian praksis yang bersinggungan dengan rapat aksi dan jalan raya. Outputnya sudah pasti akan berakhir di depan pintu-pintu gedung parlemen atau rektorat. Di situasi ini orientasinya jelas: kekuasaan.

Dikotomi intelektualisme seperti ini kadung mengartikan kegiatan berwacana sebagai aktivitas yang buang-buang waktu. Keadaan diibaratkan seperti kapal karam yang segera harus diselamatkan dengan berbuat sesuatu. Semakin lama mengambil tindakan dengan berpikir dan berwacana, maka semakin berisiko membuat kapal cepat tenggelam.

Bahkan, berteori, atau kegiatan membangun diskursus dianggap tidak memiliki sumbangsih apa-apa. Model intelektualisme yang semacam itu dianggap eskapisme dari keadaan yang tidak mampu dihadapi. Praktik lebih penting dari teori adalah satu-satunya teori yang harus diteguhkan.

Miskin epistemologi

Sumber-sumber pengetahuan di kampus sangat berlimpah ditunjang kepustakaan yang kaya. Hampir semua disiplin keilmuan memiliki basis data yang terhubung langsung dengan sumber-sumber pengetahuan semisal perpustakaan, penyimpanan arsip akademik, situs jurnal, dan artikel-artikel ilmiah. Namun, imbas dari perspektif intelektualisme yang lebih mementingkan aksi daripada teori, membuat semua itu tidak memiliki manfaat yang banyak.

Energi yang terlalu besar terhadap aksi dibanding membangun wacana, akibatnya mensituasikan cara pandang gerakan menjadi minus kerangka epistemologi yang mumpuni. Sekarang, sangat jarang ditemukan komunitas mahasiswa yang mau bersabar membangun paradigmanya dengan literasi dan riset sebagai perhatian utamanya.

Imbas paradigma gerakan yang miskin epistemologi, otomatis berimplikasi terhadap kurangnya inovasi di dalam merumuskan metode aktivisme yang kompatibel dengan situasi. Bahkan, hilangnya sumber-sumber kemandirian dalam berparadigma, membuat betapa gampangnya aktivisme mahasiswa diombang-ambing tren isu. 

Bersabar

Selain pemisahan antara aksi dan teori yang menyebabkan aktivisme kampus menjadi garing, justru tanpa disadari, aktivisme kemahasiswaan berlahan-lahan menjauh dari tradisi literasi dan riset.

Aktivisme literasi dan riset yang terkadang membutuhkan waktu jauh lebih lama, disinyalir menjadi hal yang enggan diaplikasikan sebagai tradisi aktivisme. Sifat menggebu-gebu yang kadang tidak disertai perhitungan yang matang, juga menjadi sebab mengapa literasi dan riset sulit menyatu dengan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan masa kini.

Yang lucu, di balik tradisi aksi yang terkadang hanya mengakui praksis sebagai satu-satunya paradigma aktivisme, menjadi saluran hasrat katarsis. Akibat tekanan beban akademik dan dipersempitnya ruang gerak di dalam kampus, mahasiswa menjadikan aksi jalanan sebagai medium pelepas penat dan pikiran. Dibandingkan disalurkan dalam bentuk karya tulis, pikiran dan aspirasi akhirnya habis menguap begitu saja tanpa bisa memberikan efek jangka panjang.

Basis keilmuan

Banyak ditemukan jika basis keilmuan seorang mahasiswa dikesampingkan jika sudah masuk di dalam lingkaran aktivisme kemahasiswaan. Seakan-akan basis keilmuan yang dipupuk dari kegiatan akademik tidak memiliki hubungan dengan agenda-agenda perubahan. Padahal, jika basis keilmuan dipakai sebagai cara pandang menganalisis persoalan, sudah tentu mahasiswa tidak sekadar menghapal teori dari ruang akademik, tapi dapat menghidupkan khazanah keilmuannya sebagai pisau bedah realitas. Bahkan, apabila seluruh basis keilmuan saling dipertemukan, dengan sendirinya akan membentuk suatu analisis komperehensif atas suatu soal.

Akademik sebagai momok dan aktivisme sebagai satu-satunya kegiatan diskursif masih menjadi tren persepsi yang diyakini sebagian komunitas mahasiswa hari ini. Belum sinerginya kegiatan akademik yang ditunjang dengan pendekatan ilmiah dengan aktivisme kampus, juga menjadi salah satu sebab mengapa terjadi pembelahan yang menganggap literasi dan riset sebagai model gerakan nomor dua. Alih-alih menganggapnya sebagai basis fundamental aktivisme, justru ada juga menganggapnya tidak penting.

Sekarang buang jauh-jauh bahwa literasi, riset dan seni adalah seolah barang-barang baru yang harus Anda perkenalkan. Sebaliknya, Anda yang baru menyadari bahwa itu semua penting. Bahkan, akibat Anda yang selama ini belum menemukan lingkungan aktivisme yang ideal, membuat seakan-akan Anda hidup terpisah dari tradisi literasi, riset, dan seni. Saat sekaranglah memutus mata rantai “pembodohan” yang menganggap aktivisme hanyalah suara megaphone yang menyalak-nyalak di jalan raya. Anda keliru, membangun gerakan itu jauh lebih panjang dari usia Anda selama di kampus. 

22 Maret 2017

Memahami Seni Memahami: Pengantar ke Hermeneutika Friedrich Schleiermacher

---catatan singkat atas Seni Memahaminya F. Budi Hardiman

Manusia mahluk simbolik. Begitu pendakuan scholar kebudayaan. Bahkan Clifford Geertz, antropolog abad 20 menyatakan, manusia adalah mahluk yang tidak lepas dari jebakan simbol. Lebih radikal lagi, Gertz mengatakan manusia dalam kehidupannya senantiasa dijerat makna-makna.

Itu artinya secara sosiologis interaksi manusia tidak terlepas dari cara mereka menangkap makna. Bagaimana diartikan dan diaplikasikan melalui hubungan tingkah laku antara sesama. Dengan kata lain, interaksi manusia hanya mampu dimungkinkan jika diperantai makna. Tanpa makna, hampir semua hubungan manusia dalam masyarakat mengalami defisit eksistensi dan tanpa arti.

Makna sebagai satuan pengikat yang memperantai komunikasi antar individu, komunitas, bangsa, agama, ras, kebudayaan dlsb., sangat rentan mengalami bias yang mendatangkan kesalahpemahaman. Disebabkan bentuk, tingkatan, situasi, tradisi, tempat, waktu, dan latar belakang pengetahuan, pemahaman begitu krusial dipertahankan akibat keadaan yang tidak sepadan. Itulah sebabnya, “memahami” sebagai konsep ideal dalam praktik keseharian begitu penting dibutuhkan.

Karena itu, melalui tulisan ini, memahami sebagai diskursus ataupun wacana akan mengambil percik pikiran Schleiermacher tentang hermeneutika demi kebutuhan membangun cara pandang baru dalam memahami kehidupan beserta dinamikanya.

Apa itu hermeneutika?

Secara etimologik, hermeneutika terkait dengan Hermes, tokoh mitologi Yunani yang bertindak sebagai utusan dewa-dewa dalam menyampaikan pesan ilahi kepada manusia. Sebagai perantara pesan bahasa dewa-dewa kepada alam berpikir manusia, Hermes memiliki keahlian memahami bahasa dewa-dewa dan kemudian menerjemahkan maksud yang diinginkan dewa-dewa dengan ungkapan bahasa manusia.

Kemampuan memahami yang dimiliki Hermes dinyatakan F.Budi Hardiman memiliki kerumitan tersendiri. Pertama, pihak yang menyampaikan pesan harus memahami pesan yang dibawanya. Kedua, agar maksud pesan dapat disampaikan, sang pembawa pesan harus membuat artikulasi yang sesuai dengan maksud pemberi pesan. Kesenjangan yang terbentang antara pemberi pesan, penyampai pesan, dan penerima pesan inilah yang nantinya menjadi medan kerja hermeneutika.

Sementara apabila diasalkan kepada arti Yunaninya, hermenueuein, hermeneutika berarti “menerjemahkan” atau “bertindak sebagai penafsir”. Di dalam kegiatan yang bersinggungan dengan teks, hermeneutika berarti kegiatan mengungkap dan menyingkap makna sebuah teks. Sementara yang dipahami teks di sini adalah jejaring makna atau struktur simbol-simbol yang tertuang entah dalam bentuk teks ataupun bentuk lainnya.

Dengan kata lain, sebagai sebuah jejaring makna, teks juga dapat diartikan dalam bentuk sikap, perilaku, tindakan, norma, benda kebudayaan, hukum, ideologi, dlsb.  Sebagai sebuah makna yang ditangkap manusia, semua yang disebutkan sebelumnya, bahkan kebudayaan, agama, politik, masyarakat, dan negara adalah teks itu sendiri.

Biografi singkat

Pendakuan Schleiermacher sebagai filsuf masih agak rentan mengingat tradisi pemikirannya yang dibangun dalam tradisi teologi kristiani. F. Budi Hardiman dalam suatu ceramahnya bahkan menyebut tokoh ini sebagai teolog dibanding filsuf. Tapi, mengingat kiprahnya membangun hermeneutika lepas dari tradisi eksegesis dan filologi, dan membuatnya menjadi pendekatan yang lebih univesal, belakangan akan banyak mempengaruhi filsuf-filsuf abad 20.

Schleiermacher adalah anak  seorang pendeta tentara di Silesia Utara. Kedua orang kakeknya juga pendeta. Ayahnya yang memiliki kecenderungan pietis (gerakan yang menekankan doktrin alkitabiah, kesalehan pribadi, dan kehidupan Kristen yang berkobar-kobar) yang kuat, mengirimnya ke seminar Moravian di Barby dengan harapan supaya segala kecenderungan ini akan bertambah berkembang di dalam diri anaknya.

Schleiermacher disebutkan tidak pernah menulis suatu traktat sistematik tentang hermeneutika. Tapi melalui dua ceramah di depan Akademi Prussia dan catatan-catatan pinggirnya, Schleiermacher telah meletakkan dasar-dasar hermeneutika modern.

Perlu digarisbawahi, sampai saat ini belum ada teks terjemahan Jerman tentang karya Platon sebaik hasil terjemahan Schleiermacher. Melalui aktifitas penerjemahan ini, Schleiermacher banyak terinspirasi pemikiran-pemikiran Platon. Melalui konteks ini pula, hermeneutika yang dikembangkannya sedikit banyak dipengaruhi cara berpikir Platonian. Di satu sisi, idealisme Jerman terutama melalui pikiran-pikiran Schelling, Fitche, dan Hegel, juga memberikan warna tertentu dalam pemikiran Schleiermacher.

Schleiermacher mengambil studi teologi, filsafat, dan filologi di Halle (kemudian menjadi pusat pemikiran radikal di Jerman) dan pertama kalinya membaca filsafat kritis Kant. Schleiermacher juga bergabung di perkumpulan para penulis dan pujangga Romantik ketika sekembalinya dari Berlin. Disinyalir melalui kelompok ini, pandangan romantik Schleiermacher semakin tajam dan banyak menolak ide-ide pencerahan yang menekankan rasio jauh lebih utama dari misteri, imajinasi, serta intuisi.

Melalui gerakan romantik, minat Schleiermacher mulai memperhatikan hermeneutika sebagai suatu kajian. Di bawah kerinduan atas ajaran kebijaksanaan kuno dalam tradisi mitos dan agama, hermeneutika Schleiermacher di satu sisi adalah suatu kegiatan penafsiran teks untuk menemukan “isi” atau “inti sari” yang bersifat nonrasional/psikologistis.

Hermeneutika: seni memahami

Situasi mendasar hermeneutika Schleiermacher bukan pemahaman, melainkan kesalahpahaman. Artinya, dalam situasi yang majemuk dan beragam kebudayaan, tradisi, cara hidup, pandangan dunia, sistem moral dlsb., adalah medan hermeneutika Schleiermacher. Bahkan, kesalahpamahan yang lumrah terjadi bukan saja ditengarai akibat perbedaan konteks waktu dan tempat, melainkan prasangka yang lebih mementingkan perspektif pribadi dibanding memahami kawan bicara.

Di situasi itu dibutuhkan seni memahami. Seni di sini diandaikan sebagai suatu keahlian khusus, kemahiran, atau kepiawaian sebagaimana orang-orang yang memiliki kualitas dan “kelincahan” tertentu dalam satu bidang.

F. Budi Hardiman menuliskan dua hal mengapa hermeneutika disebut seni memahami. Pertama, karena dasar situasi yang mengalami kesenjangan kepahaman sehingga membutuhkan kecakapan khusus untuk memahami.  Kedua, di situasi itu, keadaan membangun pemahaman tidak dialami secara spontan, melainkan perlu menerapakan kaidah-kaidah tertentu.

Rekonsepsi: hermeneutika universal

Schleiermacher meyakini prinsip-prinsip penafsiran dapat diperluas di luar dari teks-teks yang disakralkan. Sejauh bahasa memiliki tata aturan gramatik yang memungkinkan penarikan makna atasnya, pembedaan teks suci dan tidak suci tidak lagi relevan bagi Schleiermacher.

Berbeda dari prinsip hermeneutika filologi yang concern terhadap teks-teks kuno, dan eksegesis biblikal yang mendasari penafsiran hanya berlaku di dalam teks-teks sakral, Schleiermacher meradikalkan kegiatan penafsiran ke dalam teks-teks yang jauh lebih umum.

Imbas prinsip hermeneutika yang melihat adanya hukum gramatikal yang tidak banyak berbeda dari semua teks, Schleiermacher menekankan arah baru kegiatan penafsiran jauh lebih luas dari para pendahulunya. F. Budi Hardiman menyebutnya hermeneutika universal.

Sebelumnya kegiatan hermeneutis dalam teks-teks kuno maupun dalam kegiatan eksegesis hanya bertujuan untuk menemukan makna mendasar yang menjadi latar belakang suatu kebudayaan (kesadaran kolektif, roh, volksgeits, seitgeits). Dilatari semangat idealistik demikian, kegiatan hermeneutik juga berusaha menjangkau relasi pikiran subjektif yang ditunjukkan dari ungkapan, pikiran, minat, pandangan dunia dengan akal budi bersama yang dipadatkan dalam akal universal. Kelak Schleiermacher mengembangkan model ini melalui prinsip “lingkaran hermeneutis”.

Cara di atas juga dilengkapi dengan menempatkan kegiatan mengintrepetasi sebagai tindakan dialogis antara penafsir dengan penulis teks. Bentuk komunikasi yang diandaikan melalui kegiatan membaca teks dan dengan “membayangkan” alam pikiran penulisnya, disebutkan sebagai proses kreatif yang tidak sekadar menganalisis kata. 

Empati

Salah satu konsep inti dari hermeneutika Schleiermacher adalah divinatory, yakni kemampuan subjektif seseorang untuk menyeberangi dan masuk ke dalam alam pemikir si penulis teks. Konsep yang dibilangkan bercorak psikologistik ini mengandaikan kegiatan menafsirkan berarti masuk ke dimensi pikiran, batin, dan kejiwaan untuk sekaligus menemukan latar belakang apa yang mendasari si penulis teks menuliskan isi pikirannya.

Dalam situasi ini, berempati adalah model pengoperasian divinatory untuk mau masuk ke dalam cakrawala pikiran dan batin si penulis teks. Kegiatan mengintrepetasi teks melalui alam berpikir penulisnya ini lebih menekankan aspek-aspek di luar teks akibat lebih banyak menyorot sisi subjektif penulisnya.

Divinatory ini sepadan dengan pengertian intuisi yang terinspirasi dari Platon. Dengan kata lain, ketika aktifitas ini diterapkan dalam hermeneutika Schleiermacher, itu berarti menafsirkan adalah mengabstraksi (meramal, membayangkan) kembali latar belakang penulis teks entah itu situasi apa, pemikiran apa, dalam momen apa, melalui cara apa, dlsb., ketika penulis menurunkan isi pikirannya menjadi suatu teks. Hermeneutika Schleiermacher menyebut cara ini sebagai empati psikologis.

Tapi, empati psikologis juga harus dijalankan bersamaan dengan interpretasi gramatikal sebagai satu kesatuan kegiatan hermeneutis. Tanpa itu, maka kegiatan menafsirkan hanya akan bertolak belaka kepada “dunia pikiran penulisnya” tanpa memerhatikan teks penulis yang bagi Schleiermacher adalah dua hal yang setara. Artinya, tanpa interpretasi gramatikal (objektif), intrepetasi psikologis tidak akan memberikan pandangan yang bisa dibilang utuh. 

Dengan dua model ini, maka pemahaman bagi Schleiermacher adalah menghadirkan kembali dunia mental penulis teks. F. Budi Hardiman menyebutnya sebagai suatu usaha merekonstruksi kembali pegalaman mental pengarang. Dengan kata lain ada transposisi, yakni penafsir demi pemahaman, mesti menempatkan dirinya seolah-olah menjadi sang pengarang dalam melihat dan menuliskan teksnya dalam pengalaman tertentu yang khas.

Lingkaran hermeneutis

“Kita memahami bahasa lewat pemakainya, tetapi pemakai bahasa dapat dipahami lewat bahasa yang dipakainya”. Pendakuan ini dipakai Hardiman untuk memutuskan lingkaran setan yang mengakui isi pikiran pengarang jauh lebih utama daripada teksnya, atau sebaliknya, teks jauh lebih penting dari isi pikiran pengarang ketika menuliskan karyanya.

Schleiermacher menekankan dua model interpretasi (gramatikal dan psikologis) dalam keadaan yang saling mengandaikan dan mengisi. Maksudnya, tidak ada hubungan kausalistik yang saling menegasi, dua-duanya setara dan utama. Kesetaraan antara dua model inilah yang disebut lingkaran hermeneutis (hermeneutischer zirkel).

Dalam konteks interpretasi teks, lingkaran hermeneutika bekerja dengan pemahaman atas pengarang melalui teksnya (gramatikal), dan sekaligus memahami teks melalui kepribadian pengarangnya (psikologis).   Inilah yang sebelumnya disebut hubungan café dialektika, yakni untuk memahami sebagian melalui keseluruhan, dan juga mengetahui keseluruhan dari bagian-bagiannya.

Melawan literalisme

Literalisme adalah pemahaman terhadap teks yang hanya didasarkan atas makna harfiah belaka. Dalam keyakinan agama-agama, selain sebab lainnya, literalisme banyak bersinggungan langsung dengan aksi-aksi kekerasan. Bahkan aksi kekerasan yang diistilahkan dengan ekstremisme agama, disebabkan akibat cara pandang literalis yang hanya mengakui penafsiran dari “permukaan” teks belaka.

Imbas cara memahami teks dari “permukaan”, literalisme dengan sendirinya menolak berbagai penafsiran. Secara pemaknaan, literalisme hanya mengakui satu pengertian tunggal dari apa yang sudah dikatakan teks secara harfiah. Maka, konsekuensinya terhadap kebenaran, literalisme hanya mengakui satu penafsiran tunggal selain dari kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lainnya.

F. Budi Hardiman melalui Seni Memahaminya menyatakan model hermeneutika Schleiermacher adalah cara memahami teks yang “melawan” literalisme. Membaca teks apa adanya seperti ditemukan dalam literalisme bukanlah metode hermeneutika Schleiermacher yang menawarkan cara membaca teks (kalimat) di antara teks (kalimat). Strategi pemahaman di antara teks ini memungkinkan untuk masuk ke dalam dunia penulis dan konteks kehidupannya yang secara tersembunyi tidak dinyatakan langsung di dalam teks yang ada.

Itu artinya sebuah teks tidak dapat dengan sendirinya menjelaskan dirinya. Di sana pemahaman mesti menangkap “sesuatu” yang lain di luar teks, yakni bangunan mental pengarang (serta konteks kehidupannya) dan juga teks-teks berkaitan, yang membentuk pengertian jauh lebih luas.

Dengan pendekatan interpretasi psikologis dan interpretasi gramatikal, memungkinkan pemahaman menangkap keluasan konteks dari bagaimana teks dibaca sebagai suatu anyaman yang saling berkaitan. Juga, melalui prinsip “keseluruhan dan sebagian” teks akhirnya menjadi dialektis yang berarti membuka pengertian-pengertian jauh lebih variatif daripada makna teks apa adanya

---

Sebagian besar ide tulisan ini diambil dari buku Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman, termasuk kutipan di dalamnya. Juga pada bagian yang menjelaskan biografi, penulis mengambilnya dari www.biokristi.sabda.org

---

Disampaikan pada program diskusi Membaca Cafe Dialektika 21 Maret 2017

17 Maret 2017

Misykat

Di setiap peradaban, baik Timur maupun Barat, ketika membangun suatu kota, misalnya, bangunan seperti masjid, merupakan tautan tempat semua bermula. Itu sebabnya, di situ ditetapkan sebagai pusat. Segala hal ditentukan dari sana; nilai, pandangan dunia, moral, tradisi, dan bahkan agama. 

Masjid, atau pusat spiritualitas seperti gereja, di masa itu memang menjadi tempat di mana mata tuhan melihat dan menyapa realitas. Dari kubah-kubah masjid, atau menara-menara gereja, tuhan berswastika di hati orang-orang yang beribadah di bawahnya. 

Dalam Islam, kubah masjid ibarat misykat, simbol mangkuk terbalik yang dimiliki jiwa setiap insan. Di dalam mangkuk itulah sumber cahaya ilahi memancar. Al quran menyebutnya seolah-olah pantulan cahayanya menembusi minyak di bawahnya, melampaui dinding-dindingnya di barat dan di timur. 

Misykat inilah yang kadang bergetar-getir ketika nama tuhan bersentuhan dengan indera pendengar. Di dalam hati, bagian tubuh yang bergetar itu, adalah tanda berimannya seseorang. 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka..." Begitulah literasi yang diabadikan al quran. 

Tapi kata ahli-ahli suluk, misykat yang kotor mustahil cepat dibuat bergetar. Ibarat kaca keramik yang tertutup debu, cahaya yang berpendar-pendar di dalamnya, hanyalah temaram yang luput menembusi hati. Jiwa yang terbengkalai, apa daya tak mampu dibuat bergetar. 

Barangkali karena itu kubah masjid dibuat mirip misykat jiwa manusia. Untuk mengingatkan, dan atau bahkan menggugat, kita yang mudah lupa. 

Tapi, ketika masjid bukan lagi pusat, atau gereja bukan lagi titik Tuhan bermanifes, hati yang bergetar bukan akibat suara tuhan yang dipancar melalui cahaya di hati orang-orang. 

Kini, hati orang-orang lebih mudah bergerak ketika pusat itu berbentuk mal, gym, swalayan, tokoh politik, atau bahkan dunia maya.

Sudah banyak yang bilang, zaman yang bergerak di atas layar media, adalah zaman yang memangkas segala hal. Dunia makin kecil, tak bersekat hingga yang digital menggantikan realitas yang sebenarnya. Juga, Tuhan, yang menjadi pusat di tempat-tempat semisal masjid, akhirnya hanya suara lirih yang tertatih-tatih di antara dering gadget. 

Kini bahkan Tuhan juga mesti tunduk di dalam imajinitas dunia digital. Tuhan, realitas yang ultim itu, juga harus bersaing dengan munculnya tuhan-tuhan digital, realitas-realitas maya yang memenuhi ruang sadar manusia modern. 

Sementara di luar dunia maya, yang pusat mudah ditemukan di tempat-tempat ketika uang berputar dengan cepatnya. Ketika masjid sudah kehilangan pesona, dan hanya jadi tempat bersinggah sementara, kini orang-orang sulit dibuat bergetar hatinya akibat dentumannya lebih kukuh bergaung di sela-sela etalase produk-produk pasar di pusat perbelanjaan.

Di situ, akhirnya,Tuhan berlahan-lahan mengecil di hati yang semakin sulit berpaling. 

Bahkan, Tuhan yang kecil, menjadi lebih berbahaya ketika itu diucapkan dengan motif-motif kekuasaan. Atau bahkan Tuhan dimodifikasi dengan ambisi-ambisi yang lebih rendah: politik. 

Itu sebabnya, di ibu kota negara, pusat yang sering membuat daerah-daerah sekitarnya lebih panas dari biasanya, politik menjadi titik singgung dan titik temu segala kepentingan. Di saat itu, Tuhan ibarat kata-kata yang lebih mirip slogan dan jargon. 

Tuhan yang dibungkus politik pada akhirnya hanya bisa membangun sekat, bahkan sekam di dalam rumah yang sama, keluarga yang sama, atau bangsa yang sama. Tuhan dengan nada yang politis sebenarnya bukan Tuhan yang sebenarnya, tuhan yang welas asih.

Sekarang, masjid-masjid hanyalah bangunan yang dilimpahi bebatuan mahal tanpa dihinggapi suatu pesan sejarah. Ketika masjid adalah titik tolak peradaban digagas, bagaimana kebudayaan dibangun, dan saat kehidupan begitu harmonis dan hanif.

Bahkan, di timur tengah, tempat pusat spiritualitas ditautkan dari seluruh penjuru, Ka’bah nampak polos dikepung ambisi kerdil yang mengitarinya: pusat perbelanjaan, hotel-hotel mewah, kantor-kantor mentereng, dengan gedung yang super canggih.

Itu berarti, konsep tentang pusat, sekarang, hanyalah tempat segala hasrat, ambisi, nafsu serakah, bertemu dan saling silang. Membuat yang peradaban nampak koyak dan boyak.


Makanya nampak wajar, sekarang jika menyebut sesuatu adalah pusat, jika itu adalah kota, ibu kota negara, atau ataupun daerah-daerah yang dianggap titik nol, adalah tiada lain silang sengkarut yang nampak tak bersahaja, semuanya tidak lebih dari wadah kepentingan rendah peradaban dipertautkan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...