08 Agustus 2016

catatan kelas menulis PI pekan 24

Sesuatu yang mengejutkan. Di pekan ke-24, kelas menulis PI sedang kedatangan enam peserta baru. Lima orang yang, entahlah, belum diketahui apakah mereka memang ingin menggeliati tulis-menulis, ataukah hanya sekadar nongkrong sambil kongkow bersama teman-teman di kelas literasi PI, ataukah coba-coba lihat situasi dulu. Soalnya, dari enam orang itu, hanya satu orang yang membawa tulisan— suatu petanda niatannya untuk mengikuti pembelajaran di kelas.

Tapi kelas literasi Pi sudah selalu kedatangan tamu semacam itu. Ada yang akhirnya bertahan, dan ada yang akhirnya hanya menampakkan batang hidungnya sekali-dua kali belaka. Itu tak masalah. Kelas literasi PI memang bukan ruang di mana orang-orang dipaksa belajar. Bukan seperti itu. Kelas literasi PI hanya membuka ruang belajar mendalami perihal tulis menulis. Selebihnya, pilihan masing-masing. Sukur-sukur mereka mau nimbrung belajar di tempat ini. Artinya ada suatu semangat yang mereka bawa. Suatu gairah belajar yang jarang dimiliki oleh orang banyak.

Ya, kelas menulis PI memang dibuka untuk siapa saja yang mau belajar. Apakah mau belajar menulis, atau hanya mau mendengarkan diskursus yang muncrat di mulut para peserta kelas. Bahkan jin kapere’, genderuwo, parakang, atau babi ngepet sekalipun bisa ikut di kelas menulis PI, sejauh niatannya mau bertobat dan belajar menulis.

Dari enam orang itu, lima di antaranya mahasiswa, dan satu di antaranya tukang bentor (untuk sementara bahasa yang kugunakan seperti itu). Eitss...,tapi, jangan asal ngomong dulu! Ini orang bukan tukang bentor biasa. Dia pembaca buku yang giat. Rajin membeli buku. Dan, Kecerdasannya memang sangat terlihat saat dia mulai berbicara banyak hal di kelas PI. Mulai dari agama, sampai perdebatan klasik antara pendukung teori heliosentris dan geosentris.Jago toh? dan, untuk enam orang itu, selamat datang di kelas PI.

***

Seperti biasa, Muhajir M.A, sosok yang cerdas dan ganteng yang kata orang mirip Ariel itu, membuka kelas menulis PI dengan ucapan pembuka yang bertele-tele. Ishak Boufakar memulai membahas tulisannya. Ia yang ditunjuk pertama. Sebab, cuma ia saja yang baru datang lagi saat sudah begitu lamanya bersemedi dikampungnya.

Ishak membawa tulisan berupa cerita bersambung. Berupa kisah antara ayah dan sang anak. Di mana sang anak memiliki rutinitas yang tak disenangi ayahnya. Sementara Ari membawa dua tulisan. Satunya berupa opini, atau, bisa juga dibilangkan sebagai suatu diskursus, yang satunya berupa esai. Seperti kecenderungan Ari yang biasanya, muatan tulisannya berupa kritik-kritik sosial yang cenderung provokatif. Dan satunya lagi, tulisan berupa cerpen dari peserta baru, Ilyas Ibrahim Husain.

01 Agustus 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 23

Kelas literasi PI sudah mulai dibuka. Kemarin, 31 Juli menjadi hari pertama setelah libur panjang pasca ramadan. Pekan kemarin adalah pekan 23 setelah kelas menulis PI babak 2 dimulai awal 2016. Tak dirasa sudah setengah tahun kelas PI berjalan. Alhamdulillah.

Seperti biasanya, setiap pertemuan, kelas menulis PI merilis catatan kecil buat dijadikan semacam laporan kegiatan. Kali ini catatan ini hanya mau kembali mengingatkan, hanya mau kembali menyapa kawankawan yang terbiasa dengan catatan seperti ini.

Agak susah bagi rutinitas yang berulang dijalankan mau terus dipacu jika sempat terhenti beberapa waktu. Kelas menulis PI sempat libur hampir sebulan lebih. Artinya, bisa saja spirit yang sudah berada pada kecepatan penuh tak bisa kembali ke jalur normal jika sebelumnya kelas menulis PI sempat "terhenti". Butuh daya dorong besar untuk memulainya kembali.

Walaupun begitu komitmen yang semula sudah ditanam tidak mesti dibuat berhenti belaka. Kelas menulis PI punya niat bagi sesiapa pun yang terlibat bakal jadi penulis terlatih.

Dari awal kelas menulis PI menasbihkan dari rahimnya, akan lahir penulispenulis bertalenta. Penulis yang cakap dan mapan. Itu sebab gerbong KLPI harus terus didorong ke depan sejauhjauhnya.

Kabar baik selama ini dari rahim mungil KLPI sudah ada penulispenulis pemula yang berani bermunculan. Di catatan ini tak perlu dituliskan satusatu namanya. Biarlah karya mereka yang berbicara. Bukankah lewat tulisan suatu pernyataan dinyatakan. Prinsip ini hampir semua kawankawan KLPI tahu.

Visi sederhana KLPI di atas selama ini diterjemahkan dengan misi, bahwa setiap yang terlibat harus punya karya tulis tiap pekan. Ini sudah rutin jadi makanan kawankawan. Misi ini sejauhjauhnya berarti kawankawan nanti punya bundelan tulisan masingmasing. Kongkritnya, kalau mau itu bisa jadi buku di akhir tahun kelak.

Imajinasi semacam itulah yang terus dikembangkan KLPI. Setiap orang satu buku. Ini dilakukan hanya dengan cara setiap yang terlibat "wajib" menyetor satu karya tulis di tiap pertemuan. Tidak ada cara lain. Hanya itu.

Makanya, bagi pendatang baru, hal pertama yang harus diketahui adalah aturan main di atas. Jika tidak kawankawan diberikan kesempatan buat nimbrung selama tiga pekan untuk belajar bersama walaupun minus tulisan. Ini sudah seringkali dialami sebagian kawankawan. Dan, berhasil. Pekan keempat mereka sudah bisa bawa tulisan karya pribadi yang genuine.

Cara kerja KLPI hanya dua sesi. Pertama, setiap karya tulis berhak dipresentasekan penulisnya. Di momen ini dengan leluasa setiap penulis bisa dengan senang hati menceritakan seluk beluk tulisannya, mulai dari proses produksi sampai konten tulisan. Dari ide yang masih berkelabat sampai karya tulis yang menjadi rapi.

Kedua, sesi kritik. Di sesi ini yang bekerja dengan pendirian tiada tulisan yang bersih dari dosa. Tiada tulisan yang licin tanpa cela. Sesiapa pun tidak lolos dari prinsip ini. Aturan ini berlaku universal kepada siapa pun, baik yang amatir maupun yang sudah expert. Semuanya sama.

Kadang sesi kritik jadi tegang akibat aura mahkamah yang dibuatbuat serius. Tidak ada mainmain di sesi ini. Jika salah maka salahlah dia. Jika benar maka jadi contohlah dia. Tapi, semua samasama tahu, betapa pun seriusnya sesi ini, selalu ada halhal yang bakal membuat encer forum. Itu sebab, sesi ini tak berat dijalani, akhirnya.

Pekan 23 KLPI kemarin, kawankawan kedatangan Muhary Wahyu Nurba. Sosok yang sarat pengalaman dunia literasi. Di Paradigma Institute, kanda Muhary bukan sosok asing. Dia pernah lama bekerja sama dengan orangorang PI, bahkan menjadi bagian dari PI. Sekarang beliau berdomisili di NTB, mengasuh satu harian surat kabar di sana.

05 Juli 2016

Mal: Spiritualisme Ramadan Abad 21

Siapa menyangka, cikal bakal mal di Indonesia ditandai dengan menggunakan nama perempuan bernama Sarinah? Begitulah, gedung perbelanjaan yang berdiri di jalan Thamrin Jakarta Pusat itu, diberi nama oleh Soekarno untuk mengenang ibu pengasuh di masa kecilnya.

Siapa pula menduga, Sarinah yang resmi dibuka 15 Agustus 1966, adalah pusat perbelanjaan yang dibangun dengan spirit nasionalisme kala itu? Semenjak dibangun, Sarinah sudah dirancang sebagai media dan alat distribusi barang-barang ke masyarakat luas.  Sarinah dibangun untuk menstabilisasi struktur perekonomian Indonesia.

Juga siapa yang tahu jika Sarinah didirikan dari harta rampasan perang Jepang? Dibangun melalui tangan arsitektur berkewarganegaraan Denmark, Abel Sorensen? Juga Sorensen pula, yang merancang Hotel Indonesia, hotel berbintang pertama di Indonesia untuk menyambut Asian Games IV tahun 1962.

Syahdan, Sarinah hanyalah satu dari mal-mal besar yang sekarang berdiri. Sampai tahun 2012, di Indonesia sudah ada 240  mal berdiri. Berdasarkan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) semenjak tahun 2014, tercatat  250 mal beroperasi di Indonesia. Jumlah ini lebih besar dibandingkan Hong Kong yang hanya sebanyak 200 mal.

Bisa dibayangkan, akhir-akhir ini, mal yang sekarang berjibun itu menjadi centrum konsumerisme. Tak pernah berhenti menyedot uang masyarakat. Di kota-kota besar, mal menjadi bangunan yang paling ramai dikunjungi. Apalagi jelang Ramadan tiba, mal adalah satu-satunya tempat yang paling ramai dibandingkan tempat-tempat peribadatan.

Memang paradoks, kala menjelang awal dan akhir Ramadan, spiritualitas puasa yang diperjuangkan selama sebulan penuh bergerak ambivalen dengan spiritualitas abad modern: agama konsumerisme.

Konsumerisme memang bukan lagi sekedar praktik manusia mencari nilai guna barang-barang. Konsumerisme abad 21 adalah praktik kebudayaan yang menandai perlunya identitas kelas, gaya hidup, dan status sosial tertentu. Di titik ini, kosumerisme adalah penanda baru suatu gaya hidup. Suatu cara manusia berekspresi untuk bersentuhan langsung dengan makna-makna di balik produk-produk yang diperjual belikan. Cara manusia menemukan kebahagiaan. Itu sebab, konsumerisme menjelma menjadi agama baru abad kiwari.

Sekarang, konsumerisme juga dipandang sebagai fenomena tak sadar. Melalui cara ini, konsumsi atas barang-barang tiada lain merupakan dorongan bawah sadar yang merangsang batin primordial manusia: hasrat. Seperti agama, konsumerisme mampu menggerakkan manusia melampaui ukuran-ukuran rasionalitas demi suatu pencapaian transrasional. 

Itu sebab, dorongan-dorongan primordial berdasarkan hasrat berbelanja inilah yang mampu mengubah watak manusia menjadi konsumeris.

Akhir Ramadan, kota Makassar adalah menjadi kota yang demikian sibuk. Mal-mal kian menarik pengunjung. Jamak ditemukan praktik jual beli menjadi ritual konsumerisme. Barang-barang berpindah tangan. Dan uang begitu cepat raib berpindah kantung. 

Juga masjid-masjid menjadi kembali ramai. 10 hari akhir Ramadan orang-orang menghabiskan waktu di bawah lingkaran kubah masjid. Berzikir dan mekhatamkan al Qur’an. Memperkuat ibadah kala Ramadan mencapai penghabisan. Nampaknya, ibadah dan konsumerisme merupakan dua “agama” yang berjalan beriringan.

Tapi siapa bakal menolak, jika puasa hanya menjadi ibadah berwatak maskulin. Yakni motif-motif beribadah yang berubah agresif, tangkas, dan dominan. Orang-orang berperilaku agresif di samping berperilaku konsumtif, membeli segala. Orang-orang bergerak tangkas dan cepat menyambangi areal pusat perbelanjaan. Dan, orang-orang begitu dominan ditemukan bergerombol menghabiskan uang bertukar barang-barang.

Akibatnya, puasa sekadar menjadi alat yang sublimatif. Spiritualitas agama ditransformasikan menjadi sikap agama konsumtif. Motif menahan hasrat akhirnya meledak kala malam menjelang. Puasa hanya ibadah siang hari untuk digantikan saat tenaga mulai cukup kala malam datang untuk menjajaki pusat-pusat perbelanjaan.

Sebelumnya, pusat belanja yang dibangun Soekarno diberi nama Sarinah untuk menjadi simbol kesabaran  dari sosok ibu yang mengasuhnya. Menggunakan dana rampasan perang Jepang untuk menunjukkan kedaulatan ekonomi. Dari dua hal ini, kesabaran dan nasionalisme adalah motivasi awal untuk mendasari praktik perekonomian bangsa Indonesia.

Namun, sekarang mal adalah cagar budaya transinternasional masyarakat modern yang menampung hasrat berbelanja berlebihan. Di sana ditemukan produk-produk luar negeri yang bikin silau mata. Merk-merk berlabel internasional begitu gampang dibeli dengan iming-iming perbaikan status kelas sosial. Tanpa kesabaran dan sikap kesederhanaan, orang-orang menjadi agresif meninggalkan spritualitas puasa yang mengajarkan bagaimana hasrat dikontrol demi mencapai manusia yang mulia.

Malang, pusat perbelanjaan seperti Sarinah—yang mempelopori kehadiran mal, dan pusat perbelanjaan lainnya, sekarang bukan ditunjukkan untuk mendistribusikan kebutuhan sandang pangan masyarakat dengan cara merata. Mal justru –apalagi di bulan Ramadan adalah ruang yang membelah masyarakat menjadi dua golongan secara ekonomi. Tidak bisa disangkal, pusat-pusat perbelanjaan sekarang adalah representasi gaya hidup mewah yang jauh dari tuntutan agama untuk berbagi.

Akhirnya, mal adalah mal, dan Ramadan adalah Ramadan. Konsumerisme begitu mencolok dan demikian sulit dikendalikan . Dan lagi-lagi mal tak sedikit pun tersentuh efek spiritualitas puasa. Bisakah anda bayangkan, 250 mal yang tersebar di Indonesia, saat ini sedang ramai berlangsung suatu ibadat baru, agama konsumerisme? Sementara masih banyak pula golongan masyarakat miskin yang tak tersentuh sama sekali dari kebaikan kaum kaya?

---

Dimuat di kolom Opini harian Fajar, 4 Juli 2016

30 Juni 2016

pantofel

Hari ini saya bakal ikut malam ramah tamah. Acara makanmakan buat calon wisudawan tempat saya sekolah pascasarjana. Sedari sore saya sudah harus di Hotel Clarion, tempat acara dihelat.

Tentu ini bukan sekadar acara makanmakan belaka. Sudah pasti ada acara pidatopidatoan. Dari rektor, dekan sekolah pascasarjana, atau juga dari ketua prodi sekalian. Kalau perlu ada sesi testimoni dari perwakilan calon wisudawan. Dan seabrek agenda acara yang saya tak tahu juntrungannya.

Sepanjang kuliah, ini pertama kalinya saya harus ikut kegiatan macam beginian. Dulu kala, tujuh tahun di strata satu, saya ogah ikutikutan. Pasalnya, saat itu yang penting saya dapat ijazah. Tak pikir buat acaraacaran ramah tamah. Waktu itu dapat menyelesaikan kuliah saja syukur bukan main. Buat saya, sudah cukup tujuh tahun ramah tamah dengan kampus. Jadi, tak ada urusan dengan Belanda!

Akibatnya, kala itu saya hanya ikut acara wisudaan. Pakai toga, ikut barisan, dan masuk gedung. Selesai perkara. Setelah sesi fotofoto sebentar, kemudian tak pikir panjang langsung hengkang dari gedung acara.

Malang, pasca itu tak ada foto terpampang di dinding rumah. Seperti lazimnya mantan mahasiswa, foto dengan seragam toga hanyalah imajinasi belaka. Mamak hanya menghela nafas. Bapak diam saja.

Padahal di acara itu mamak bapak turut serta berdesakdesakan. Ikut iringiringan keluarga wisudawan lain. Berpanaspanasan sambil berteduh di bawah pohon. Namun sudah saya katakan, tak ada foto bersama keluarga. Lagilagi mamak menahan napas. Bapak seperti biasa, diam saja.

Namun yang bikin hati mamak berbungabunga, terpampang besar baliho saya di sudut gerbang pintu masuk kegiatan. Baliho itu berukuran sekira lapangan tenis meja. Mirip baliho caleg. Muka saya jelas di situ, dengan ucapan selamat dari salah satu lembaga yang pernah saya ketuai.

“Ita sai anaknu, engka balihona di gettung!”

“Wahaa, iga kebbu’i? Loppo paha?” Bapak terkagetkaget.
“Hebatto bella.”

“Magai mak, dek sambarang tu niga engka balihona. Teppe’ ni’?!" Saya membusung dada.

Baliho itu jelas bikin kaget mamak, apalagi bapak. Mereka tak menyangka akan menemukan kejutan kayak begitu. Baliho itu memang dibuat oleh beberapa adikadik mahasiswa yang tak saya sangkasangka. Saya kira mereka hanya bercanda bakal bikin baliho sebagai ucapan selamat dan terima kasih. Tapi nyatanya mereka serius. Saat itu saya satusatunya mahasiswa yang punya baliho mirip caleg itu.

Baliho itu bertahan beberapa hari di kampus. Jadi omongan adikadik mahasiswa di fakultas. Di terpa sinar matahari bikin satpamsatpam kampus bingung. Memangnya siapa muka di baliho berwarna dasar biru itu. Mahasiswa terbaik saja bukan. Tak jelas!

Saya curiga baliho itu akhirnya dicabut satpam setelah berharihari dipampang. Atau diambil mahasiswa diamdiam jadi karpet di sekretariat. Pun bisa jadi diambil tukang becak buat penghalang panas penumpangnya. Tak soal, yang penting berfaedah muka saya jadi hiasan kemanamana.

Kembali ke acara malam ramah tamah. Yang bikin kikuk, kali ini saya harus memakai sepatu pantofel buat acara nanti. Sepatu yang ogah saya pakai selama ini. Bahkan saat acara wisuda di strata satu, saya acuh saja pakai sepatu kets merk Converse. Tak peduli apa kata orang, apalagi kala itu dipadankan dengan celana levis hitam.

28 Juni 2016

Rumah

Pada akhirnya rumah menjadi hal yang penting. Jelang tutup ramadan orangorang mulai menautkan segalanya pada tempat asal usul bermula. Dari tempat di mana pelbagai cerita dimulai.

Di titik ini rumah menjadi ikatan yang primordial. Rumah dengan sendirinya adalah kampung halaman, rumah adalah tradisi, dan rumah adalah tempat segala identitas azali dibentuk.

Urbanisasasi yang begitu mencolok membuat rumah kian terasing. Dengan sendirinya asal usul jadi kenangan. Orangorang pergi mencari mukim baru. Membangun kehidupan. Membentuk diri baru. Kemudian pelanpelan akhirnya kota jadi sarang segalanya.

Di kota segalanya jadi mungkin. Orangorang bekerja. Orangorang bersekolah. Orangorang jadi lebih lebih manusiawi.

Tapi tidak semua yang manusiawi menjadi betulbetul manusia. Di kota, orangorang disulap berbagai hal. Imajinasi manusia santun seketika menjelma manusia kota yang soliteris; sendiri dalam keramaian masingmasing. Menjadi mahluk yang menyukai diri sendiri.

Saat itulah gugusan kota mengambil alih. Memproyeksikan suatu tujuan yang progressif. Kota, dengan segala jejaring kepentingannya tak menyisakan sedikit pun apa yang pernah hidup menjadi memori kolektif orangorang berkampung halaman; solidaritas.

Solidaritas memang berparas ganda. Durkheim memilahnya jadi dua. Sosiolog Prancis ini menamsil, di kota tempat di mana terma modern begitu menggugah, orang perorang jadi terbelah. Yang ada hanyalah ikatan atas dasar spesialisasi. Orang berinteraksi bukan karena dasar atas usul yang sama, tapi sejauh apa suatu identitas profesional dibangun.

Kala itulah kebersamaan jadi suatu ikatan yang formal. Masyarakat hanya bisa menjalin suatu ikatan kolektif atas suatu tema pekerjaan; suatu modalitas yang selama ini dibentuk atas dasar unsurunsur kapital.

Akibatnya interaksi hanya berumur jika itu bertahan atas dasar profesionalisme. Durkheim menyebut ikatan ini sebagai solidaritas organik. Hubungan yang hanya mungkin berlangsung karena didorong atas suatu imbalan.

Itu sebab, kota hanya jadi tempat yang rentan. Orangorang hanya terkoneksi dari ikatan yang guyah. Pekerjaan, pendidikan, profesi, hubungan komunitas, dan jejaring interaksi yang lain mudah bergeser, gampang berubah. Di kota, berlaku rumusan tak ada yang abadi, segalanya berubah.

Barangkali, karena itu tak ada kenangan bisa bertahan di kota. Di kota orangorang hanya mengejar satu hal; masa depan.

Yang malang, masa depan berarti memilah suatu bulatan yang gampang pecah. Yakni suatu identitas yang dibentuk dari rumah. Di rumah, suatu medan orangorang dibentuk tradisi, berubah modern yang memotong nilainilai kolektif.

Dari rumah, suatu tempat keluarga menjalin kekerabatan dipangkas menjadi manusia yang lupa dari mana manusia-rumah akan berpulang. Di kota, rumah yang bagi orangorang berkampung halaman menjadi tempat segala simpul berawal, dicacah habis dengan silet masa depan.

Karena itu kota selalu dilihat sebagai tempat anti masa silam. Membelahnya jadi bagianbagian yang sulit disembuhkan. Semakin orangorang beraktivitas di dalamnya, semakin manusia-berkampung halaman lupa siapa dia sejatinya.

20 Juni 2016

mercon

Petasan meletus di manamana. Tidak di sekitar masjid, tidak di pinggir jalan. Hampir semua tempat bunyi letusan bekejaran.

Bila magrib tiba anakanak sudah siap berhamburan di pekarangan masjid. Turut meramaikan malammalam ramadan. Bergerombolan membunyikan petasan. Sekali bakar bikin kaget siapa saja.

Sebelumnya mereka berbaris di saf paling belakang. Ikut sholat sembari mengerjai kawannya yang lain. Jika imam berkata amin, koor panjang pasti ikut: aaamiiiin.

Sebelum imam tuntas mengucap salam, mereka sudah berlari mirip semut disiram minyak tanah. Bikin ramai masjid. Sandal jamaah dinjak. Bikin berhamburan. Berlari menuju jalan raya.

Petasan sudah di tangan. Korek tinggal setengah. Tapi lumayan masih bisa dipakai satu malam. Bila habis besok tinggal beli. Jalan sudah ramai. Cari waktu yang tepat. Butuh momen yang pas. Korek dinyalakan. Duaar! Satu petasan menggema. Bunyinya bikin jengkel satu masjid.

Yang menarik jika petasan punya bunyi yang dahsyat. Kalau bunyinya kecil dianggap belum pas. Apalagi bikin puas. Karena itu butuh petasan yang besar. Bunyinya juga pasti besar.

Bagi anakanak, petasan wajib dipunyai kala ramadan tiba. Pasalnya tidak semarak tanpa petasan. Tempat yang paling sering dibikin arena bermain, ya di pekarangan masjid. Kalau bosan, ya di pinggirpinggir jalan.

Bagi ibuibu, petasan bikin kempis dompet. Anakanak merengek minta dibelikan petasan. Jika tidak bakal ngambek. Karena itu mau tak mau harus dibelikan. Namanya juga anakanak.

Anakanak yang lebih besar tak perlu minta uang. Banyak cara mendapatkan uang buat beli petasan. Kerja paru waktu di pasarpasar, malamnya sudah sekantung petasan. Kalau belum cukup jadi tukang parkir. Sepuluh duapuluh motor, petasan sudah pasti dibawa pulang.

Di atas mimbar tukang khotbah megapmegap. Nafasnya memburu. Suaranya kalah saing. Di luar satu petasan meledak. Satu gang di buat jantungan.

Jamaah kurang fokus. Pikiran jadi kacau. Antara suara petasan dengan khotbah katib. Sayupsayup satu hadis sudah dikutip. Tapi apa lacur sudah gagal fokus. Lewat lagi satu pesan mulia.

Jelang khotbah mengucap tutup, sebagaian yang lain sudah memacu motor. Mondarmandir dari satu gang ke gang lain. Bunyi knalpot meraungraung. Bikin bensin habis. Yang penting bisa cari muka sama gadisgadis gang sebelah.

Dalam masjid ibuibu paruh baya, juga bapakbapak dibuat kaget. Bikin sholat tidak tenang. Tibatiba, satu lagi petasan meledak. Bikin jantung tinggal setengah. Hampir mati berdiri.

Pengendara terlebih lagi. Di buat kesal. Belum lama berbuka puasa, petasan sudah seperti perang, bunyi sana bunyi sini. Kadang bikin tidak fokus berkendara. Letusannya buat degdegan.

13 Juni 2016

motor

Sudah hampir sebulan motor saya mirip rongsokan. Tergeletak begitu saja. Apa pasal jika tungkai persenelennya dol.

Sekarang jika kemanamana saya menggunakan motor kepunyaan Fajar, adik saya. Kebetulan belakangan dia lebih banyak di rumah. Nongkrong seharian penuh. Apalagi jelang hari keempat puasa dia pulang kampung.

Praktis saya jadi penguasa tunggal motor matik bermerk Honda Beat itu. Selama menggunakan motor matik, besokbesok saya juga ingin punya motor yang sama. Pasalnya motor matik tidak ribet. Tinggal menarik gas saya sudah berada di tengah jalan.

Tapi bicara nilai sejarah, motor saya banyak kesannya. Yamaha Jupiter tahun 2005 itu sulit tergantikan. Hampir sepanjang usia saya di ibu kota Makassar selalu menggunakan motor berwarna biru putih ini.

Dulu kala pertama kali masih kinclong saya sudah memacunya sampai Polewali. Setelah itu tak terhitung berapa kabupaten di Sulawesi selatan yang pernah dipacunya.

Pernah juga motor saya dibikin ceper. Maklum dimodifikasi. Jadi kala menungganginya saya dibuat nungging. Apalagi ditambah sadelnya yang dipapas.

Akibatnya tak ada yang mau saya boncengi. Terutama cewekcewek. Ogah. Nanti dikira seperti cewekcewek di kalender otomotif.

Lama motor saya jadi begitu. Selama berjalan motor saya harus di aspal yang mulus. Kalau melintas polisi tidur jangan dikira polisinya harus bangun dulu. Maaf, maksudnya saya yang harus berhatihati.

Kalau jalan berlubang tentu saya putar balik. Cari jalan lain. Soalnya, jalan berlubang bikin bahaya. Motor saya bisa rusak shockbreakernya.

Motor saya juga kala itu mirip keramik kaca. Anti debu. Ini agar motor mengkilap bersih. Jika ada sedikit debu tunggu saja pasti bakal lenyap secepat kilat. Dilap pakai kit. Hilang sudah.

Yang dibenci saat motor kinclong sekinclongnya adalah hujan. Kalau sudah begitu jangan harap motor berpindah tempat. Sebisa mungkin jangan tersentuh air hujan. Apalagi air genangan jalan yang cokelat itu. Ogah.

Tapi akhirnya semua berubah total. Suatu waktu saya mengalami kecelakaan. Karena ingin mendahului petepete, tak disangka muncul pengendara lain dari arah berlawanan. Brakk. Saya jatuh beberapa meter. Motor sosor. Bambu depannya bengkok. Akibatnya, ban motor saya jadi rapat dengan spakbornya.

Shockbreaker yang semula ceper harus dikembalikan ke keadaan semula. Mulai saat itu motor saya kembali normal. Saya mengembalikannya seperti keadaan pabrik. Kecuali sadelnya yang sudah dibikin tipis.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...