15 Mei 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 16

“Saya merasa kemampuan menulisku tidak berkembang,” ucap Jusna sambil memperlihatkan mukanya yang memelas. Di kelas, Jusna membawa tulisan tentang perempuan. Tema yang selama ini dia lakoni. Dari tulisannya itu, dia menemukan suatu pemahaman bahwa dia sulit membuat tulisannya menukik kepada soalsoal konkrit. Keluhnya, selama ini dia merasa tulisannya hanya mampu menyasar kepada soalsoal yang umum tentang perempuan. Dia merasa yang umum terlampau sering ia tuliskan. Jusna bilang, dia perlu sudut pandang baru. Dia ingin tulisannya tidak seperti biasanya, tulisannya yang generalis.

Problem Jusna hakikatnya adalah masalah kolektif. Yang ia alami sesungguhnya, kalau tidak salah terka adalah pasal yang sering kali bikin kawankawan kelimpungan. Bagaimana menulis dengan tema yang sama tapi punya kebaruan di dalamnya? Bagaimana mendeskripsikan suatu soal yang sering kali umum tapi ingin menunjukkan sudut pandang yang berlainan? Atau bagaimana mengolah tematema general menjadi tematema khusus? Di forum saat itu, jawabannya (walaupun ini tidak defenitif) adalah perbanyak sumber informasi.

Informasi yang variatif dengan sendirinya akan membuat tulisan kaya alur. Ibarat aliran sungai, informasi yang banyak akan mempermudah penulis membuat cabangcabang baru dalam tulisannya. Dengan begitu, tulisan akhirnya akan menukik masuk meninggalkan aliran sungai besar yang umum orang lewati. Hanya informasi yang banyak sekaligus detaillah yang akan membuat penulis bisa membuat percabangan aliran baru yang tak banyak diketahui orang. Aliran sungai baru, yang kecilkecil inilah yang dengan sendirinya bakal memberikan kekuatan pada tulisan dengan peristiwa-peristiwa yang detail sekaligus spesifik.

Lantas bagaimanakah cara memperbanyak sumber informasi? Tidak ada cara lain dengan tanpa melakukan riset. Setiap penulis pasti punya cara risetnya masingmasing sebagai modal utama menulis. Tanpa riset tulisan bakal mentok dari informasi yang tak bisa dikelola lagi. Hanya dengan risetlah penulis mampu menemukan halhal baru yang selama ini tersembunyi entah di sudut mana. Akibatnya, dengan cara itu, informasi yang selama ini tak sempat diketahui akhirnya dimungkinkan dapat diketahui. Artinya, risetlah yang menjadi jembatan antara kertas kosong dan beragam informasi yang berada di balik mata seorang penulis.

Riset bisa dilakukan dengan banyak cara. Mulai dari memperkaya bacaan, studi lapangan, wawancara, atau berdiskusi. Bahkan duduk diam mengamati suatu peristiwa dengan pengamatan ganjil juga merupakan riset. Atau ketika anda mimpi tentang suatu peristiwa, itupun juga merupakan riset yang bisa jadi informasi berharga kala Anda ingin membuat dongeng atau cerpen. Singkatnya, riset bisa apa saja. Bisa terjadi di mana saja Anda berada.

Tulisan disebut tulisan karena dia ditulis. Ini yang membedakannya dengan karya intelektual lain. Karya intelektual lain boleh saja hanya merupakan rekaman atau penampakan suatu peristiwa, tapi kekuatan tulisan terletak ketika gagasan sudah teraktuil di atas kertas kosong. Akan nampak suatu karya tulis jika ucapan verbal dan pikiran imajinatif sudah nyata tertera melalui aksara. Itulah mengapa satusatunya jalan untuk menulis ya harus menulis. Kata laporan di suatu media massa, menulis itu bukan teori melainkan perilaku. Bukan ucapan melainkan tindakan.

Setidaknya prinsip inilah yang dipegang kawankawan di KLPI. Jalan literasi hanya satu, yakni menulis. Jadi di sini tidak berlaku bunyi pepatah itu: “banyak jalan menuju Roma.”

***

Andi hanya duduk mengamati tiap kejadian di dalam kelas. Seakanakan setiap kejadian adalah data berharga baginya. Biar bagaimanapun ini adalah hari pertamanya terlibat. Itulah sebabnya dia butuh banyak input informasi soal lingkungan baru yang dihadapinya. Ini penting untuk membandingkan ucapan yang didengar dari seniornya dengan kejadian yang sebenarnya terjadi. Keakuratan informasi itu penting, begitu barangkali batinnya. Seiring dengan itu ekor matanya diarahkan di setiap sudut ruangan yang penuh buku itu. Sepertinya ada yang ingin ditangkap dari bulatan matanya, tapi entah apa. Bukubuku yang banyak itu membuatnya bingung.

Tak jauh dari Andi duduk dua perempuan sembari membungkukbungkuk. Akibatnya hanya bayangan hitam saja yang tertangkap dari sudut tempat Andi duduk. Tak jelas bagaimana rupa dua perempuan itu. Nampak mereka berdua sedang menekuri bacaan entah apa. Andi memicingkan matanya, dari sudut jauh di tangan dua perempuan itu dia berhasil membaca satu kalimat tunggal: Kala.

“Tabe Andi, ini selebaran Kala. Buletinnya anakanak di sini.” Sodor pemuda yang menemaninya sejak pertama tiba.

“Iye.”

“Sambil menunggu, sambil dibaca.” Timpal pemuda berkaos hitam itu.

Andi membolakbalik selebaran Kala di tangannya. Di bacanya dari halaman belakang. Di situ dia berhenti; “Pembebasan dan Isra’ Mi’raj.” Lama dia berdiam. Waktu terus berjalan. Kala, selebaran yang diarsir warna biru itu dibacanya.

Tak lama selang waktu, seorang pemuda tetiba menyosor masuk ke dalam kelas. Dia, seperti mencarisesuatu di antara bukubuku yang dipajang di sepanjang rak yang menjadi dinding kelas. Tangannya melayanglayang di sekitar pagina seperti sedang ingin menggenggam sesuatu. Tak ada yang kenal pemuda itu.

06 Mei 2016

Pramoedya Ananta Toer dan Kaum Pelajar

Ada perkataan Pramoedya Ananta Toer yang masyhur jadi kutipan: “seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”.  Perkataan ini kalau tidak salah muncul di Bumi Manusia, sekuel pertama dari empat novel yang akbar disebut Tetralogi Buru. Sulit menduga apa motif Pram mengucapkan demikian, tapi memang tanpa pikiran yang adil, suatu kehidupan justru bisa berubah semenamena.

Hampir seluruh hidup Pram sesungguhnya "tumbal" dari tatanan yang tidak adil. Indonesia yang disebutnya suatu bangsa yang telah ia sumbangkan segalanya, tak seperti yang dia harapkan dari kaum yang ia sebut “seorang terpelajar”. Pengalamannya selama hidup di bawah kolong Indonesia, yang bertindak semenaena terhadap dirinya –juga orangorang sepertinya, menganggap bahwa negara bisa menjadi medium jahat kalau keadilan tidak bekerja sebaikbaiknya. Dan memang negara seperti yang ia alami adalah suatu simpul yang  memangkas habis keadilan. Lantas siapakah yang harus memulai keadilan , jika negara hanya jadi alat yang semenamena? Pram sudah bilang: “seorang terpelajar.”

Seorang terpelajar memiliki dua hal: pikiran dan perbuatan. Pikiran dan perbuatan bagi seorang terpelajar adalah modal utama. Berbeda dari pengusaha, seorang terpelajar tak memiliki modal. Berbeda dari seorang raja, seorang terpelajar tak memiliki trah kekuasaan, berbeda dari tentara, seorang pelajar hanya memiliki pikiran dan perbuatannya sebagai senjatanya. Itulah sebabnya, keadilan harus ada di dalam pikiran dan perbuatan terpelajar. Hanya di dalam pikiran dan perbuatan adil seorang terpelajarlah senjatanya satusatunya.

Lantas apakah itu keadilan? Keadilan dalam kenyataan sosial-historis adalah keseimbangan tatanan pemerintahan. Pemerintah harus menyeimbangkan kekuasaannya tanpa memilihmilah kelompok. Dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik , dan agama, pemerintah harus menyeimbangkan distribusi kekuasaannya. Keseimbangan sosial-historis mensyaratkan perlunya perhatian terhadap neraca kebutuhan.  Pemerintah, di hadapan masyarakat yang menjalani kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan agama,  harus menyeimbangkan sumber dayanya secara proporsional. Keadilan dalam tatanan sosial-historis hanya berbicara satu hal: kemaslahatan. Dengan kata lain, keadilan dalam makna ini harus terus mendorong kemaslahatan berdasarkan tujuantujuan umum yang harus dicapai.

Namun, keadilan yang esensil merupakan suatu pikiran yang menempatkan hak kepada pihak yang berhak. Keadilan macam inilah yang barangkali Pram kehendaki.  Yang artinya tempatkanlah sesuatu pada tempatnya yang layak. Prinsip keadilan macam ini mengandaikan prioritas sebagai ukurannya. Misalnya, apabila ada warga negara yang berlaku melenceng, maka tempatkanlah ia sebagai orang yang harus mendapatkan kepastian hukum. Di sini, seorang yang salah punya prioritas sebagai orang yang harus mendapatkan pembelaan, dan pengawalan perlindungan hukum. Dalam kacamata prioritas, tidak soal dia seorang pencuri ataupun bupati, keduaduanya berhak mendapatkan pembelaan dan perlakuan yang seharusnya sama di mata hukum.

Keadilan dengan sendirinya mengandaikan kebenaran. Ini lapisan kedua dari perkataan Pram soal keadilan. Dengan kata lain, jika pikiran adil maka keadilan di situ secara esensil mengandung kebenaran. Sulit rasanya jika mengucapkan keadilan tanpa mengikutkan kebenaran sekaligus, karena jika menempatkan sesuatu pada pasaknya maka itulah yang disebut kebenaran.  Dengan kata lain, keadilan adalah wajah pertama kebenaran. Atau sebaliknya, paras kebenaran yang pertama adalah keadilan. Artinya mengandaikan keadilan tanpa kebenaran sebenarnya adalah ihwal yang musykil.

Itulah akibatnya, hanya seorang terpelajarlah yang ditamsilkan Pram.  Sebab di sepanjang kenyataan sejarah, atau bahkan memang merupakan tugasnya, kaum terpelajar adalah kaum yang identik dengan keadilan dan kebenaran. Hanya dipikiran kaum terpelajarlah keadilan itu mampu diimajinasikan, dan hanya di tangan seorang terpelajarlah kebenaran itu diperbuatkan.

Makanya, di pikiran pejabat kekuasaan, perbuatan kaum hartawan, keadilan dan kebenaran adalah tamsil yang sulit ditemukan.  Di dua profesi ini, keadilan dan kebenaran bukan “raison d’etre”, yang ditemukan di dalamnya. Akibatnya keadilan hanya jadi terma yang asing di seputar kekuasaan. Itulah kenapa keadilan dan kebenaran adalah dua prinsip yang terus harus dipaksakan di dalam tatatanan kekuasaan melalui segala kekuatan yang bisa diberikan. Dan kaum yang sering menyodorkan itu tiada lain tiada bukan hanyalah kaum terpelajar.

Artinya sudah wajar  perkataan Pram bukan menyebut kaum lain selain kaum terpelajar, sebab di sepanjang hidupnya, kekuasaan yang mewujud dalam negara hanya selalu menjadi momok yang membelah keadilan. Dan, seperti yang sering disebutkan, negara kadang memang jadi alat kekuasaan untuk menilap hakhak warganya yang seharusnya mendapatkan haknya sebagai warga negara. Negara memang suatu sumber yang jarang dan bahkan susah berbicara soal keadilan. Negara di konteks ini memang hanya menjadi alat yang seperti Marx nyatakan: alat penguasa. Lantas siapakah yang harus berbicara keadilan. Pram sudah bilang, dan kita tahu siapa itu.

02 Mei 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 15

Kelas dimulai dengan suara abaaba Hajir, itu tanda forum dibuka. Setelah mengucap beberapa kata, orang pertama yang membacakan tulisannya adalah Asran Salam. “Cinta Seorang Kierkegaard,” begitu Asran Salam mengucapkan judul tulisannya. Agak lama ia mengeja tulisannya. Sekira hampir sepuluh menit. Setelah itu, satu persatu mata mempelototi naskah yang dibagikannya. Hal ini adalah kebiasaan yang sudah jadi mekanisme menggeledah tulisan. Siapa pun punya tulisan akan tetap dilucuti satusatu , entah itu soal EYD, kelogisan gagasan, keterhubungan kalimat, atau bahkan sampai soal gaya tulisan.

Tulisan Asran Salam kalau dibaca adalah esai yang menyorot sisi manusiawi filsuf eksistensialis asal Denmark: cinta. Di moment kritikal ini, ada pertanyaan yang sempat diajukan Sulhan Yusuf. Kalau tidak silap ingat adalah apakah Kierkegaard juga mengadaptasikan pandangan filsafat eksistensialisnya di saat lagi kasmaran.

Dalam tulisan Asran Salam, kasmaran filsuf ini melibatkan seorang perempuan bernama Regina. Asran Salam bilang, cinta adalah pengalaman eksistensial yang melibatkan keyakinan agar manusia dapat bertindak dan bersikap. Cinta adalah pengalaman yang ditulisnya harus menanggung konsekuensi: penantian. Sampai di sini sempat Asran Salam memapar pemikirannya lingkait filsafat eksistensialisme terutama apakah Kierkegaard mengimplementasikan filsafatnya dalam kehidupan asmaranya.

Di akhir tulisannya, Soren Abaye Kierkegaard terpaksa harus meninggalkan Regina hanya karena problem belas kasih. Ternyata, dari yang ditulis Asran Salam, cinta Kierkegaard disambut hanya dengan perlibatan belas kasih dari Regina. Cinta yang demikian bukan cinta yang sejati. Asran tulis, jalan cinta Kierkegaard adalah pilihan yang dibentang atas dasar pertimbangan filosofis. Pilihan yang disebutnya sudah jadi pilihan hidupnya.

Karena tulisan ini, juga sempat ada perbedaan konseptual soal apa yang dinyatakan cinta sebagai pengalaman eksistensial. Cinta bagaimanakah yang disebut pengalaman eksistensial? Kalau pengalaman cinta Kierkegaard dan Regina adalah fenomena eksistensial, lantas apa yang membuat dia begitu khas dari pengalaman yang semua orang rasakan? Bukankah cinta adala gejala universal? Kalau begitu, cinta khas yang bagaimanakah jika mau disebut pengalaman eksistensial? Cinta yang khas dialami seorang diri, bukan cinta yang dipersepsi oleh “kita” atau banyak orang?

***

Sekarang hari Jumat, belum ada email yang masuk. Maklum, tiap hari Jumat saya jadi orang pertama yang akan membaca tulisannya. Akibatnya, jika Jumat jelang saya bakal menunggu tulisannya via surat elektronik. Kebiasaan ini sudah dimulai dari beberapa pekan silam. Biasanya, jika matahari sudah meninggi di waktu itu pula tulisannya masuk. Kalau sudah begitu saya bakal lega.

Tapi kala sore tulisannya pun belum jua datang. Saya pikir barangkali lepas magrib tulisannya bakal masuk. Barangkali beliau masih kurang enak badan hingga memperlambat mengirim tulisan. Info ini saya dapat kala berkunjung di mukimnya di sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan hari Kamis kemarin.

Dari anaknya yang paling gede, saya dapat kabar kalau beliau kecapean paska dari Bantaeng, kampung halamannya yang sering dikunjunginya akhirakhir ini. “Sakitki Abi kodong, kecapeanki dari Bantaeng,” begitu ucap Aqila kala saya datang bertandang.

Aqila hanya sendiri bersetia dengan tumpukan bukubuku yang dijagainya. Di waktu saya datang nampak wajahnya kelelahan, atau mungkin boring. Tak lama berselang saya menerka wajahnya yang agak kusut itu kalau tidak salah akibat memikirkan tugas akhirnya. Saya tahu itu selang setelah beberapa lama bercerita, Qila telah mengubah perencanaan penulisan penelitiannya. Dulu dia bilang bakal meneliti kecenderungan aktifitas kawula mudamudi yang disebutnya masuk kategori gerakan sosial baru. Kiwari, indikator yang dibilangnya itu adalah tipe aktifivis kampus yang senang mengikuti kegiatankegiatan programatik yang tak mengikat secara total. Aktifitas ini hanya diikat oleh kontrak secara temporal. Contoh kongkritnya dibilangnya adalah anakanak muda yang suka jadi volunteer.

Sekarang malah dia berencana bakal mengorek gerakan literasi di kampung ayahnya, Bantaeng. Penelitiannya diarahkan kepada soal –kalau tidak salah mengapa ada perbedaan minat baca anakanak muda di kota dan desa. Apa kondisi yang menyituasikannya demikian? Apa asbabnya, dan bagaimana hubungannya dengan Boetta Ilmu, komunitas yang digerakkan Ayahnya selama ini? Apakah ada signifikansinya atau tidak?

Pertanyaan pertama saat saya mendengarnya: “mengapa di Bantaeng?” Qila hanya bilang, santai, “ada Abiku bisa jadi informannya nanti.” Mendengarnya saya hanya tertawa.

Saya juga mendengar bahwa ia sedang mengumpukan bahanbahan yang berkaitan dengan perencanaan penelitiaanya. Persiapan ini sering dibilang dengan istilah reading course. Singkatnya, Qila harus banyakbanyak membaca seluruh literatur yang bisa ditemukannya yang berbicara soal seluk beluk dunia literasi.

Selang limabelas menit saya bergegas pulang, membelah punggung aspal panas yang diterpa kuning matahari. Berpacu dengan kuda besi yang meraungraung. Kota adalah kota, terutama di jalan raya waktu adalah waktu. Yang cepat pastilah yang ideal.

Namun, jelang malam tulisan yang ditunggu tak jua datang. Akhirnya, kesimpulan diambil. Masih ada hari Sabtu besok. Yakin dan percaya tulisannya bakal datang. Seperti biasanya, dia bakal menelpon atau sms bertukar kabar kalau tulisannya baru saja dikirim.

***

Menulis di kelas literasi sudah jadi program paten. Jadi bagi kawankawan yang mau terlibat maka harus mengikuti rumus ini. Setiap pekan harus membawa tulisan. Dan, di dalam KLPI setiap tulisan langsung ditakwilkan sebagai karya yang lahir dari seorang tersangka.

Karena ditulis oleh seorang tersangka, tulisannya akhirnya jadi sorotan. Logikanya, setiap omongan tersangka patut dicurigai sebagai cara untuk menutupi kesalahannya. Apalagi kalau seorang tersangka menulis, maka tulisannya pasti adalah pledoi yang dipakainya untuk menutupi dosadosa yang telah diperbuatnya. Karena itulah, di KLPI setiap tulisan mengandung dosa, tak ada tulisan yang bersih dari kesalahan.

Untuk sampai kepada tulisan yang licin, maka di kelas selama ini menggunakan dua tahapan introgatif. Pertama, karya yang dibawa bakal dibacakan (sekaligus dinarasikan), dan kedua adalah momen ktitikal dari setiap mata yang mempelototi tulisan yang disangkakan bersih oleh penulisnya.

Jadi kalau ada kawankawan yang mau ikut KLPI, maka salah berkeyakinan bahwa orangorang yang terlibat di dalamnya adalah orangorang bersih secara literatif. Justru, yang berkecimpung di dalamnya adalah tersangkatersangka yang ikut di mahkamah literasi dalam rangka membersihkan jarijarinya dari kesalahan di saat menulis. Dengan kata lain, orangorang di KLPI adalah orangorang yang banyak dosa literasinya, mulai dari EYD sampai pola gagasannya.

Kalau sudah begitu, penolakan kawankawan yang kadung menampik ikut terlibat di KLPI bisa dibilang orangorang yang mendaku telah bersih jarinya dari dosa literasi. Atau orangorang yang tak mau dihakimi tulisannya di hadapan majelis hukum literasi KLPI. Kalau begitu, sudah sampai di mana kemaksuman literatif orangorang yang menampik terlibat?

***

Ari membawa tulisan yang lumayan unik. Karya tulisnya mau dia tujukan kepada Rektor terpilih UNM. Agak tepat tulisan ini kalau disebut surat terbuka, walaupun dia memberi judul dengan mengikutkan kata catatan di dalamnya. Seperti biasa, tulisannya penuh nuansa kritik soal pendidikan.

Isu pendidikan adalah tema yang konsisten dibetot Ari. Di tulisannya kali ini dia banyak menyampir mulai dari tukang sapu kampus sampai penyelenggaraan pendidikan di UNM. Walaupun itu ditulisnya di bawah bayangbayang sebagai seorang mahasiswa UNM, tulisannya itu sekaligus bisa jadi cermin buat keadaan kampuskampus lain saat ini. Artinya esai Ari itu bergerak dari subjetivitasnya sebagai mahasiswa UNM menjadi refleksi atas keadaan objektif kampuskampus masa kiwari.

Ari bilang tulisannya ini bakal ia lombakan. Profesi, UKM Pers UNM memang saya dengar sedang membuat lomba membikin surat buat rektor barunya. Walaupun niatannya dimulai dengan pragmatisme literatif, tulisannya itu memang berangkat dari keresahannya yang hidup total di dalam lingkungan kampus.

Tulisan Ari memang mirip surat, maka pasca ia membacanya ada saran kalau lebih tepat judul tulisannya diubah jadi “Surat Terbuka Buat Rektor.” Pertimbangan ini diambil untuk mengikuti trend esai yang berkembang saat ini.Apalagi Muhiddin M. Dahlan bilang dalam bukunya Inilah Esai, esai itu seperti surat. Karena itulah tulisan yang memang mirip surat itu diberi judul eksplisit saja: Surat Terbuka Buat Rektor.

Tak tahu apakah judul karya literatifnya sudah dibuat judul baru. Soalnya Ari bilang bakal dia kirim malam harinya, batas waktu pengiriman kalau mau ikut lomba. Mudahmudahan tulisannya dapat satu posisi di situ. Ini sebagai tanda bahwa KLPI punya dampak serius dengan karyakarya yang teruji di mata publik.

***

Saya datang bersamaan hujan yang pecah pasca mendung menggelantung. Kala, buletin yang sedari Sabtu kemarin dikerjakan sudah diambil alih Hajir untuk digandakan. Makanya, saya berani menembus pecahan hujan. Tak ada Kala yang dirisaukan karena basah hujan.

Sekira lima menit menembus tirai hujan bukan soal buat KLPI. Keyakinan ini sama di mata kawankawan, akhir pekan adalah hari khusus buat kelas menulis PI.

Setiba di lokasi sudah ada beberapa yang lebih awal datang. Sulhan Yusuf, pimpinan Paradigma Institute dengan kaos oblong putih khasnya duduk diapit Asran Salam dan Muhajir tepat di sampingnya. Nampaknya mereka sedang mengobrolkan sesuatu. Saya yang baru saja tiba hanya duduk di atas jok motor mengeringkan baju yang kadung basah.

Nampaknya di hari yang sama sudah digelar sebelumnya Kelas Parenting. Itulah sebabnya ada Muchniart datang bersama dua orang lainnya, Nasrah dan Retno Sari. Mereka sibuk membolak balik buku dari pajangan yang ada di rakrak panjang TB Paradigma. Sedang di belakang mereka, Muchniart sedang mengobrolkan sesuatu dengan Mauliah Mulkin, orang yang menginisiasikan kelas parenting selama ini.

Tak lama berselang entah siapa yang menggiring kawankawan masuk di ruangan belakang tempat kelas sering dilaksanakan. Nampaknya, di dalam sudah ada Hajrah yang duduk memegang Kala. Raut mukanya agak lesu. Ternyata dia masih sakit dan baru saja datang dari Bulukumba. Tidak seperti biasa, Hajrah yang kerap bikin forum jadi ramai kali ini hanya lebih banyak diam. Barangkali akibat sakit yang dideritanya. Dia lebih banyak memerhatikan yang lain bercerita.

Seperti janjinya minggu lalu, Hajrah datang dengan membawa langsat. Sekantung plastik penuh dibawanya beserta beberapa biji rambutan. Saya yang baru saja datang tak banyak pikir langsung mengambil beberapa biji. Satu biji, dua biji, tiga biji dan seterusnya…

Tak lama saya memanggil Andang dan Sakman masuk ke dalam kelas. Dua orang ini datang berboncengan bersama saya dari awal. Andang, yang beberapa hari lalu datang dari Majene akan saya antar pulang kembali ke tempat penyewaan mobil sebelum jam tujuh nanti.

Berselang beberapa menit forum bersiap dimulai. Jam sudah hampir pukul empat sore. Hajir didaulat jadi pimpinan forum. Dia mengucap beberapa kata, tanda kelas di mulai. Sementara di luar kelas dikepung hujan. Tik tik tik, begitu bunyinya. 

waktu dan pram

Sudah semenjak terakhir kali membaca Cantik Itu Luka, saya agak ragu mau membaca novel yang bejibun pagina. Agaknya, kekhawatiran ini ditenggarai ketidaksanggupan melumat habis bacaan. Ini makin krusial, karena di situ soalnya ada yang genting: waktu akhirnya jadi medan yang tak lagi bulat. Waktu jadi semacam garis putusputus, tak lengkap.

Saya selalu meyakini, membaca bukan saja peristiwa kesadaran yang mau masuk terlibat dalam dunia teks dengan segala kemungkinannya, melainkan di situ ada medan waktu yang jadi ukuran panjang pendeknya kesadaran yang ikut di dalamnya. Membaca dengan arti ini sederhana, suatu keadaan yang mau membangun pemahaman dengan teks sekaligus juga ingin bersetia di dalam bulatan waktu.

Karena itulah kalau melihat buku yang tebaltebal, suatu kesadaran bakal menjadi ciut. Kiwari, di dalam kesadaran saya, waktu bukan lagi pengalaman semacam garis lengkung lingkaran, suatu horison yang tanpa pangkal dan ujung. Waktu yang bulat adalah waktu yang tidak ditandai titik permulaan dan akhiran. Yang ada hanya suatu peristiwa totalitas. Suatu keutuhan.

Sementara jika mau membaca suatu novel,  itu berarti mau sabar mengakrabi lintasan waktu kehidupan tokohtokohnya.. Mau ikut di dalam keseluruhan kehidupan yang dikisahkan cerita di dalamnya. Novel dalam pengertian saya ini adalah rangkaian cerita yang terjalin atas ikatan totalitas. Hanya dalam novel-lah kita menemukan tokohtokohnya tampil lengkap seperti manusia nyata: ia lahir dengan tangisan, hidup dengan beragam pengalaman, dan akhirnya mati meninggalkan banyak orang. Membaca novel akhirnya sama dengan membaca kehidupan itu sendiri.

Itulah sebabnya, membaca novel perlu waktu yang bulat. Waktu yang tak putus. Namun, apa boleh buat, kehidupan sekarang adalah suatu aktifitas yang ditentukan waktu yang terbelahbelah, putusputus tanpa meninggalkan ikatan dengan totalitas. Sekarang, karena seluruh pengalaman manusia adalah pengalaman yang tak lagi disertai kesadaran yang padu, aktivitas yang berbeda di tiap waktunya, akhirnya membikin manusia tidak akrab dengan kesetiaan. Sehingga bagi pegiat bacaan, waktu harus kembali dinetralisir. Jadi kalau mau membaca buku, maka waktu harus betulbetul bebas dari perbudakan. Setiap pembaca harus setia dengan dan di dalam waktu.

Omongomong setia dalam waktu, saya mau sebut Pram. Orang yang pernah dikirimi mesin tik oleh Jean Paul Sartre kala menjalanai masa tahanan di Pulau Buru. Di masa tahanannya, waktu bagi Pram adalah media tukar untuk bertahan lama. Masa tahanan sepuluh tahun dipertukarkannya dengan wujud yang bakal sulit di hapus: berjilidjilid kisah Minke dan Indonesia.

Sulit rasanya mau bilang bahwa tanpa kesetiaan terhadap waktu, karyakarya Pram bakal lahir. Pram sebagai seorang pengarang cerita tentu bakal menggunakan waktunya bukan dalam pengertian yang terputus, sebab jika membangun suatu cerita mirip Tetralogi Buru misalnya, mustahil tanpa ingatan yang mencakup keseluruhan bulatan peristiwa yang sudah ditulisnya.

Kesadaran Pram adalah kesadaran yang bulat, sekaligus bukan dibangun di atas waktu yang putusputus. Dalam seluruh kehidupan Pram, waktu akhirnya suatu bulatan yang diniatkan hanya untuk menulis. Sebab itulah dia bilang, menulis adalah keabadian. Tak ada ujung tak ada permulaan.

30 April 2016

Sampul Buku


Model sampul buku anak-anak SD zaman 90-an

Sampul buku itu penting. Dia ibarat kulit, melindungi. Sampul, karena itu jadi barang wajib. Tanpa sampul, buku tak bisa tahan lama. Akibatnya, buku yang bersampul punya masa lebih panjang dua kali lipat dari buku yang tak bersampul.

Dulu bagi anakanak sekolah dasar, sampul harus ada jika punya buku baru. Musababnya karena hampir setiap guru bersepakat, buku yang baik adalah buku yang bersampul. Makanya bagi anak sekolah dasar buku apapun modelnya akhirnya jadi seragam.

Buku yang bersampul juga karena itu jadi ukuran kerapihan. Kadang bagi siswa, ketika mengumpulkan tugas, buku yang tanpa sampul tidak bakal diterima guru. Itu juga mengapa buku tanpa sampul adalah ukuran kepatuhan. Jadi di kelas gampang menilai mana murid patuh mana murid nakal.

Seingat saya sampul paling terkenal kala masih sekolah dasar adalah sampul berwarna cokelat. Pembungkusnya agak mirip kertas minyak. Biasanya dijual satu lusin di hampir tiap kios dekat sekolahsekolah. Kadang sampul itu banyak jenisnya. Bahkan biasanya di bagian depannya lengkap dengan katakata mutiara semisal rajin pangkal pandai; hemat pangkal kaya; sabar adalah kunci ilmu dsb.

Untuk membedakan setiap buku pelajaran, sampul yang dipakai sudah dilengkapi daftar isian jenis buku di sebelah kiri atas. Sehingga kalau mau menulis buku mata pelajaran "matematika" misalnya, cukup langsung ditulis di tempat yang sudah disediakan. Ini bagi anak sekolah dasar adalah pekerjaan yang menyenangkan, sebab bisa belajar mengklasifikasikan buku berdasarkan mata pelajaran sebelum kelas tahun pertama dibuka.

Sekarang agak sulit menemukan sampul cokelat seperti yang dipakai anak sekolah dulu. Anak sekolah sekarang lebih suka memamerkan gambargambar yang melekat di halaman kulit depan buku. Ini terjadi terutama jika sudah kelas empat ke atas. Bagi anak kelas empat atau di atasnya, buku bersampul cokelat justru membuat buku tidak tampak gagah. Apalagi mulai di kelas inilah buku pelajaran sudah mulai digabunggabung. Mata pelajaran yang berbedabeda cukup satu atau dua buku saja.

Kegiatan menyampul buku sekarang hanya penting bagi orangorang pecinta buku. Cuman berbeda dari anak sekolah dasar, sampul yang dipakai adalah sampul plastik transparan. Agak lucu kalau sekarang setiap koleksi buku berwarna cokelat. Juga akan menyusahkan kalau bukubuku susah dibaca sampulnya jika diperlukan.

Makanya penting jika setiap buku punya sampul. Setidaknya dari situ cara manusia mencintai peradabannya. Menyampul buku karena itu tindakan paling sederhana menjaga kepunahan peradaban. Cuman bedanya, tidak seperti anak sekolahan, kegiatan itu dilakukan bukan karena perintah guru, melainkan suatu sikap yang didorong rasa suka. Ya, rasa suka, atau barangkali cinta.

25 April 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 14

Orangorang berkumpul hanya ingin banyak berbicara, orangorang menepi hanya untuk menulis. (Bahrul Amsal)

Suatu tindakan harus dimulai dengan satu kemauan, sekaligus karena itu di baliknya perlu ada seribu kesabaran.

Kelas literasi PI, awalnya bukan mau menyoal jumlah. Pertama kali dirintis, kalau tidak salah ingat, kelas dibangun berdasarkan visi gerakan. Sementara logika gerakan bukan mengutamakan jumlah. Itulah sebabnya KLPI menaruh utama pada niat. Kemauan. Karena itu semua kawankawan mesti tahu, kunci gerakan satusatunya adalah niat mau memikul visi. Makanya, sampai hari ini KLPI belum mau membikin barisan massa. Yang jadi tujuan orangorang yang mau belajar. Yang mau menerima visi literasi. Cukup itu saja.

Jumlah kadang membuat soal. Karena perkara jumlah kadang suatu niat jadi matematis. Dan apabila suatu maksud jadi matematis, kadang di situ suatu harap berubah untung rugi. Bicara gerakan kami sudah mewanti dari awal, yang mendasar merupakan kesabaran. Yang bikin gerakan nampak istikomah karena mau bersetia. Ini prinsip kedua; setia pada visi.

***

Akhir pekan ini hari yang sibuk. Hampir sebagian kawankawan punya tugas masingmasing. Juga ada yang mengalami gangguan kesehatan. Apa boleh dikata biar minim kelas mau tak mau harus terus berjalan.

Di kelas seperti biasa selalu ada tema yang jadi bahan omongan. Kali ini menyoal kebiasaan buruk saat mahasiswa hendak ujian meja; parsel. Agaknya ini memang sudah jadi tradisi. Akibatnya, tak banyak yang mau menggubris. Padahal, jika mau menelisik masuk ke dalam soal, kebiasaan ini nyatanya bikin banyak mahasiswa resah. Sumber keresahan pertama, pasal biaya. Informasi yang beredar kalau mau setor parsel harus macammacam isinya. Ari bilang bahkan sampai gula pasir jadi isinya. Karena itulah banyak fulus harus dikeluarkan jika menyediakan satu parsel. Masalah makin berat kalau parsel disediakan buat empat sampai lima orang dosen. Jadi masingmasing punya satu parsel buat dibawa pulang.

Kedua, parsel yang dibeli mahal itu katanya sudah dijatah. Ini yang bikin sesak. Cerita yang berkembang karena banyaknya mahasiswa ujian tiap periode waktu tertentu, biar tidak bosan, parsel dijatah model dan isinya. Contoh, jika ada ujian hari pertama bawa parcel berisi ratarata makanan manismanis, besok kalau bisa bawa jenis paganan yang harus berbeda. Bahkan urusan nasi kotak, kalau bisa jangan ituitu saja. Misalnya sering pakai jatah Wong Solo, besokbesok seleranya kepingin nasi padang misalnya.

Dengardengar, pasa ketiga yang bikin miris, kebiasaan ini akhirnya menciptakan lapangan kerja baru. Hanya karena kebiasaan ini jadi ramai akibat masingmasing jurusan jadikan ajang saing parsel, di situ timbul hasrat ekonomi. Makanya pasar tercipta dengan terbentuknya semacam penyedia parcel mirip kathering makanan. Katanya, kalau informasi ini valid, usaha ini dilakukan ibuibu pegawai fakultas. Nampaknya, kali ini hukum ekonomi tercipta: pasar selalu tercipta seiring kebutuhan manusia.

Yang terakhir, parsel akhirnya jadi prasyarat ujian. Padahal tak ada aturan manapun yang mengharuskan bawa parsel. Malangnya akibat sudah kebiasaan, walaupun tak ada aturan, cara ini bekerja berdasarkan konsensus antara mahasiswa dan dosen bersangkutan. Ini terjadi akibat proses sosialisasi yang kemudian terinternalisasi menjadi nilai asupan. Peter L Berger bilang, kemudian proses lanjutan dari model semacam itu akhirnya terinsititusikan dengan caracara tertentu. Sosiolog ini menegaskan, apabila sudah terinstitusikan maka pasti ada proses legitimasi yang menopang keadaan baru yang terterima begitu saja. Ini dibilangnya sebagai bagaimana kenyataan sosial itu terbentuk.

Artinya kebiasaan ini bukan tanpa sebab. Hasil omongan kemarin, asalusul tradisi ini dimulai kisaran tahun 2009 atau 2010. Hitunganhitungannya, jika kuliah dianggap normal dihabiskan selama 4 sampai 5 tahun, maka kebiasaan ini dilakukan mahasiswa angkatan 2004 atau 2005. Ini baru analisis sederhana. Namun, coba tebak, tradisi apa yang melatarbelakangi jika di tahuntahun itu kebiasaan ini bermula? Situasi akademik macam apa yang memungkinkan perilaku macam demikian terjadi?

Sebenarnya, banyak juga dosen yang tidak sepakat soal itu. Cuman secara politik dosendosen yang menolak kalah dominan jika bicara pengaruh. Akibatnya, walaupun katanya sudah ada pelarangan secara lisan dari pimpinan kampus, tetap saja kalau perilaku itu tetap dijalankan. Kalau bicara benar salah, dosen yang menolak sudah benar. Itu niat yang memang diharapkan. Tapi bicara sikap belum tentu, soalnya apa daya jika pernyataan lisan berkata tolak tapi tidak ada tindakan nyata meminimalisir kebiasaan buruk parsel.

Ini perlu sikap nyata soalnya parsel bisa jadi saluran kepentingan busuk. Kadang parsel diungkapkan sebagai bentuk terimakasih kepada dosen karena sudah meluangkan waktu buat bimbingan. Itu barangkali bisa diterima. Tapi, bagaimana jika niatnya bukan soal itu, melainkan usaha membikin urusan beres. Kalau begini, parsel terhitung gratifikasi. Akibatnya, parsel merusak hubungan objektif dari segi penilaian, sehingga siapa paling “ramai” parselnya maka kemungkinan besar dia bisa dapat nilai tinggi. Bayangkan praktek suap seperti ini ternyata dimulai dari institusi pendidikan. Gawat.

Kadang pula parcel dihitung sebagai honorarium penguji saat ujian. Pertanyaannya, kemana pembagian pembiayaan buat dosen pembimbing yang sudah diatur sebelumnya. Bukankah semua itu sudah disusun jadi bagian pendapatan dosen. Apalagi, bimbingan dan pengujian penyelesaian sudah merupakan tugas dosen di kampus. Artinya tidak perlu lagi biayabiayaan kalau mau membimbing atau menguji. Itu sudah punya anggaran khususnya dari pihak fakultas atau universitas.

Masalah di atas kalau mau diteruskan maka juga melibatkan urusan manajemen keuangan kampus. Apakah selama ini soal anggaran bimbingan tidak punya anggaran? Kalau ada, apa soal sampai tidak diberikan kepada dosen yang punya hak. Lantas kemana uang selama ini yang dipakai atas sumbangan pembiayaan pendidikan yang berjuta itu? Janganjangan ada penggelapan anggaran dari mekanisme yang tidak transparan?

Obrolan ini akhirnya jadi panjang. Mulai dari kasus parsel tak disangkasangka sampai menyinggung soal mekanisme penyelenggaraan pendidikan, menyitir soal kebijakan institusi kampus, bahkan sikap intelektual dosendosen. Nampaknya jika diteruskan soal perbincangan kemarin bisa banyak membuka soalsoal laten yang tersembunyi saat ini. Tapi, ada tulisan yang harus pula dibahas.

***

Kalau tidak ada aral melintang, di waktu ke depan ada perencanaan mengundang seorang penulis novel ke KLPI. Ini belum jadi informasi umum, tapi kemarin sempat disinggung bahwa agaknya perlu memberikan semacam asupan materi yang berkaitan dengan penulisan fiksi. Pertimbangan ini didasarkan karena tiga pekan belakangan kecenderungan tulisan banyak menyentuh jenis tulisan bergenre sastra. Selain itu, ini bisa menjadi faktor pendorong agar kelas menemukan energi baru untuk merefresh suasana kelas yang agak menurun.

24 April 2016

Mahasiswa dalam Hegemoni Media

Mahasiswa dalam hegemoni media adalah statemen yang mendua. Pertama, dalam konteks apa mahasiswa mengalami situasi pasif di balik transformasi besarbesaran media massa? Kedua, kekuatan apa yang dipunyai mahasiswa jika menjadi subjek tindakan atas media massa yang dipergunakan? Dua pertanyaan ini setidaknya menjadi jalan masuk mengetahui posisi gerakan mahasiswa kekinian di mana di saat bersamaan turut menguatnya pula media massa sebagai kekuatan pendorong terjadinya perubahan sosial.

Media Virtual: Suatu Simulacra

Kiwari, kemajuan media massa bukan saja membahasakan kembali realitas dengan cara virtual maupun visual, melainkan menjadi realitas itu sendiri.  Akibatnya, kehidupan seharihari penuh sesak dengan dunia tiruan. Jean Baudrillard mendaku, dunia baru yang diciptakan media massa nantinya akan menggusur habis kenyataan dengan imajinasi yang dimiliki di dalam dunia kreasi media massa. Baudrillard menyebut dunia baru itu sebagai simulakrum, yakni realitas virtual yang memposisikan kesadaran manusia menerima apa yang disimbolkan oleh simulakrum itu sendiri. Dengan kata lain, simulakrum menjadi realitas baru yang melampui kenyataan yang sebenarnya akibat kemampuannya menciptakan simbolsimbol, tandatanda, citra, dan imajinasi.

Baudrillard menyatakan bahwa kemampuan simulakrum mengubah kenyataan dialami berdasarkan tiga tahapan. Tahap pertama, menurut Baudrillard, simulasi masih merupakan pantulan yang mencerminkan kenyataan sebagaimana kenyataan itu sendiri (basic reality). Kemudian tahap kedua, simulasi akan menutup dan membelokkan kenyataan sehingga kenyataan tidak tampil apa adanya. Akibatnya realitas yang diacunya terdistorsi oleh simulasi itu sendiri. Tahap selanjutnya, simulasi akan memutus habis ikatan penandaan dari realitas yang diacunya dengan menghadirkan dirinya sendiri sebagai realitas itu sendiri. Di tahap ketiga ini, simulasi menjadi simulakrum murni yang mengacu dalam dirinya sendiri.

Sesungguhnya apa yang dialami sekarang merupakan kenyataan yang sudah dibilangkan Al Gore sebagai zaman information superhigway.(1) Selain simulakrum yang mengepung dunia kesadaran manusia, di saat bersamaan turut pula informasi begitu massif beredar tanpa kontrol. Apa yang diacu oleh Al Gore adalah suatu keadaan informasi yang digerakkan internet dalam mengatasi hambatanhambatan komunikasi yang dialami media tradisional sebelumnya. Bahkan keberadaan internet bukan saja memberikan cara baru bertukar informasi, melainkan turut menyatukan media tradisional dalam satu dunia berbasis virtual.

Melubernya informasi akibat mediasi internet, akhirnya turut mengubah pola interaksi yang sebelumnya tidak pernah ditemukan. Jika sebelumnya internet hanya menunjang komunikasi terbatas via email atau penjelajahan tanpa batas via World Wide Web, maka kemajuan dunia informasi telah mengenalkan masyarakat dalam melakukan transaksi ekonomi, konsultasi kesehatan, melakukan konferensi jarak jauh, bahkan sampai relasi seksualitas jarak jauh dengan suatu model berbasis dunia virtual. Akibatnya, kecenderungan interaksi berbasis dunia virtual, memberikan dampak mengecilnya dunia sosial seharihari.

Dunia sosial sebagai medan pertemuan masyarakat, melalui kecanggihan dunia informasi, selain mengalami penyempitan, juga berdampak buruk matinya dunia sosial. Matinya dunia sosial ditandai dengan berubahnya kesadaran manusia melakukan interaksi bukan berbasis kenyataan seharihari melainkan via dunia virtual yang bisa dilakukan kapan saja. Hubungannya dengan interaksi sebagai kunci integritas masyarakat, interaksi dunia virtual justru menghilangkan unsurunsur kenyataan yang menjadi domain penting dalam melakukan relasi sosial kemasyarakatan. Akses dari cara demikian, maka kenyataan sosial hanyalah dunia yang berbalik menjadi kenyataan nomor dua tinimbang dunia virtual itu sendiri.

Kemunculan Generasi Digital Natives

Digital Natives merupakan kriterium sosial yang merujuk kepada generasi mutakhir yang hidup secara organik di tengahtengah kemajuan alat canggih media informasi dan komunikasi. Lapisan muda ini memiliki kecenderungan sosial yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Jika diperhadapkan terhadap konsepkonsep kemajuan, generasi digital natives jauh lebih peka dan cekatan tinimbang generasi terdahulu yang banyak mengalami cultural lag. Keterbukaan terhadap ideide baru setidaknya secara epistemik memudahkan generasi digital natives untuk mencandra  seluruh arus informasi yang beredar di kehidupan seharihari. Namun, akibat kemudahan ini, secara kultural menyebabkan lapisan ini lebih menyukai “citra” dibanding “kedalaman”, “bentuk” dibandingkan “isi”, “aksi” dibanding “teori”, dan “bermain” dibanding “serius.”

Generasi digital natives juga merupakan generasi abad 21 yang merayakan kebudayaan populer sebagai perspektif kebudayaannya. Kebudayaan populer mudah diterima akibat secara simultan menjadi bagian seharihari yang diproduksi secara massal melalui media massa. Efek informasi yang menyuguhkan beragam pencitraan kebudayaan, merupakan sebab mendasar terjadinya perpaduan selera maupun pilihan kultural di mana turut membentuk segmentasi kebudayaan baru di tengah pelbagainya identitas yang mengemuka. Akibatnya, berbagai macam ekspresi kultural dapat ditemui dalam kehidupan seharihari generasi mutakhir.

Kuatnya peredaran arus informasi, di satu sisi menyebabkan kesadaran generasi digital natives tidak mampu mencapai tahap reflektif ketika mencerna sebuah informasi. Sehingga, banyaknya informasi yang dicerna bisa menyebabkan dua hal. Pertama, sulitnya menemukan kedalaman di saat yang bersamaan akibat gempuran berbagai macam informasi. 

Kedua, yakni beresikonya terjadi ledakan informasi di dalam kesadaran itu sendiri. Implikasi yang kedua ini dibilangkan Baudrillard sebagai implosif,  yakni ledakan informasi yang bergerak ke dalam kesadaran manusia tanpa menyisakan informasi apaapa. Berbeda dengan daya ledak eksplosif, implosif justru merusak struktur dalam kesadaran manusia hingga mampu menggoyah struktur ego manusia. akibatnya, ledakan informasi di dalam kesadaran manusia berimplikasi terhadapa gangguan  mental manusia.

Hilangnya nuansa refektif bagi kaum mutakhir, secara ideologis justru menyebabkan suatu gaya hidup yang lebih menyukai ikatanikatan seremonial dibandingkan kultural. Ikatan seremonial banyak terjadi dari suatu relasi yang tidak menyertakan komitmen ideologis tertentu sebagai basis gerakannya. Hubungan macam ini hanya didasarkan atas unsur kesenangan belaka dibandingkan kemauan menemukan kesetiaan pada satu pegangan pemikiran. 

Berbeda dengan generasi sebelumnya, yang sarat dengan lingkungan ideologis , menyebabkan mungkinnya terjadi internalisasi nilai yang kuat. Ekspresi kehidupan sosial seperti ini lebih didasarkan kepada hubunganhubungan organik berbasis perjuangan yang dilandasi suatu ajaran moral tertentu. Sehingga apa yang menandakan suatu ikatan dinilai atas seberapa kuatkah pegangan moral tertentu dijadikan visi dan misi bermasyarakat.

Generasi digital native memiliki kesamaan dengan generasi multitasking yang diperkenalkan Hikmat Budiman. Dalam Lubang Hitam Kebudayaan, menurut Hikmat Budiman generasi multitasking adalah generasi yang tumbuh atas situasi yang serba kontradiktif dan bertentangan. Namun, di antara pilihanpilihan kontradiktif, generasi multitasking mampu mengambil dua pilihan sekaligus yang pada dasarnya bertentangan.

Lebih jauh, menurut Hikmat Budiman, generasi multitasking adalah generasi yang keluar dari imperatifimperatif lama yang menganjurkan pilihanpilihan yang terbatas. Imperatif lama tidak terterima akibat logika dualistik yang mengharuskan sebuah pilihan menolak secara bersamaan pilihan yang lain. Misalkan jika Anda seorang marxis itu berarti Anda adalah orang yang menolak kapitalisme, dengan sendirinya Anda menghindari diskotik, mall, dan café. Setidaknya di level gagasan semua pertautan yang diingkari marxisme otomatis tertolak dengan sendirinya. Namun, seperti yang dibilangkan sebelumnya, generasi multitasking adalah golongan muda yang bisa saja memilih keduanya sebagai ekpresi pemikiran maupun tindakan kulturanya. Akibatnya, yang semula terang antara ideologis dan nonideologis, dalam cakrawala kesadaran kaum multitasking merupakan batas yang kehilangan garis pemisahnya.

Generasi multitasking adalah generasi yang merayakan kontradiksi ideologis bersamaan dengan apa yang semula dilawannya. Hikmat Budiman menulis: “menjadi generasi multitasking bukan lain adalah menjadi bagian dari orang kebanyakan. Mereka sangat peduli pada penderitaan rakyat, tapi tidak terlalu tangguh untuk jadi pahlawan. Mereka ingin pemerintahan modern, beradab dan bermoral, tanpa harus berhenti menjadi bintang sinetron dan model sensual majalah dewasa, mahasiswa yang patuh pada dosen sekaligus kekasih anak pejabat korup yang ditentangnya. Menentang monopoli Tommy Soeharto, tanpa harus membenci café, atau mobil pribadi. Siang berteriak di jalan, malam apa salahnya minum satu dua cawan Tequila di café Jimbani atau Lamborghini.”(2)

Mahasiswa: Generasi Multitasking?

Mahasiswa hakikatnya adalah terma yang politis. Secara semantik kesejarahan, pengertian mahasiswa adalah agen sejarah yang punya tanggung jawab perubahan. Namun, dalam konteks akademik modern, mahasiswa menjadi agen pembelajar yang dijauhkan dari tugastugas perubahannya.

Hampir semua bangsabangsa, di beberapa titik sejarahnya diisi  dan digerakkan peran mahasiswa. Indonesia sendiri, di beberapa momen historisnya justru diawali oleh inisiasi mahasiswa. Mulai dari tahun 1920 hingga abad ini, mahasiswa menjadi kelompok yang turut memberikan sumbangsih terhadap kemajuan kehidupan berkebangsaan.  Hal ini dimungkinkan karena mahasiswa selain agen pembelajar, juga merupakan agen pembaharu.

Di satu sisi mahasiswa juga merupakan golongan masyarakat yang paling lama mengalami sosialisasi politik dibandingkan golongan masyarakat lain mengakibatkan mahasiswa menjadi elit masyarakat yang paling mungkin melibatkan diri pada gerakan sosial politik. Itulah sebabnya mengapa mahasiswa disebut kaum intelektual.

Makna intelektual artinya bekerjanya daya akal yang melibatkan suatu visi atas arah suatu kemajuan. Intelektual juga berarti beroperasinya kritisisme terhadap segala ada yang menghambat kemajuan. Karena pasal ini juga, mahasiswa adalah kaum yang mendamba perubahan ke arah yang lebih maju.

Dari hal di atas, maka mahasiswa merupakan golongan masyarakat yang akrab dengan ideide kritis, progres, dan visioner. Waktu yang dimilikinya adalah modalitas pertama dibanding kelas masyarakat lainnya yang memungkinkan ketiga daya sebelumnya dimaksimalkan. Tinimbang kelompok masyarakat lain, mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang mengarahkan waktunya hanya untuk bercengkrama total dengan ilmu pengetahuan. Akibatnya, seluruh inti sari ilmu pengetahuan menjadi identik dengan mahasiswa.

Malangnya mahasiswa, apabila mengacu kepada konsep hegemoni Gramsci, menjadi kaum yang lumat  oleh transformasi media massa. Sehingga idealisme mahasiswa yang awalnya merupakan kekuatan penggerak sejarah malah berputar sebaliknya. Akibatnya, mahasiswa tidak berbeda dengan segmentasi masyarakat umumnya, jadi bagian yang tersapu dunia imaji media massa.

Akhirakhir ini, terutama media massa virtual, menguat suatu kecenderungan fundamentalisme religius dan pasar yang bergerak membangun kesadaran masyarakat atas sentimentalisme keagamaan, kesukuan dan modal. Berbeda dari media massa cetak, sifat media massa virtual, orangorang bukan lagi sebagai pembaca informasi, namun juga bergerak lebih jauh menjadi produsen informasi. Dalam media virtual, hirarki informasi yang ditemukan dalam media cetak hampir tidak ditemukan. Imbasnya, seluruh informasi menjadi liar tanpa bisa dikontrol. Melalui celah ini, fundamentalisme religius dan pasar mengkonsolidasikan potensinya memanfaatkan kekuatan media massa virtual membangun audience seperti yang mereka harapkan. Sayangnya gerakan ini hampir tak tertandingi akibat betapa banyak dan massifnya gerakan serupa.

Mahasiswa yang notabene adalah generasi mutakhir diperhadapkan dalam situasi macam ini memiliki dua kemungkinan. Pertama, menjadi golongan tanpa harus ada pretensi apaapa sekaligus tidak melibatkan diri untuk membangun budaya tanding terhadap pendangkalan pengetahuan yang dilakukan gerakan fundemantalisme religius dan pasar. Atau yang kedua, membangun kesadaran kolektif via dunia virtual demi menyerukan suatu budaya alternatif demi menangkal arus informasi yang bisa menyudutkan bahkan membangun sentimentalisme tak berdasar.

Artinya, alihalih menjadi bagian generasi multitasking, mahasiswa harus mampu menggunakan kemajuan media informasi sebagai bagian dari visi perubahannya. Padahal, di satu sisi mahasiswa sebagai agen sejarah yang memiliki modal perubahan yang kuat, bisa dimaksimalkan oleh keberadaan media informasi.

Setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu memaksimalkan pemanfaatan atas media. Pertama adalah kemampuan literasi. Kemampuan literasi diawali dengan terbangunnya tradisi paling mendasar yakni kebiasaan baca tulis. Ditingkatan kedua, teks tidak sekedar diafirmasi sebagai bacaan, melainkan mampu menarik makna dan arti yang bisa kontekstualisasikan di berbagai medan persoalan. Tingkatan ketiga yakni teks maupun makna yang tergali mampu membangun kembali keadaan yang dianggap problematis.

Kemampuan yang kedua adalah mahasiswa seharusnya memiliki pers independen yang menjadi panggung bersuara. Sejarah kaum muda Indonesia pra kemerdekaan merupakan contoh terang bagaimana kekuatan pers adalah kekuatan nomor satu sebagai media penyebar gagasan. Setidaknya, pers mahasiswa independen mampu menjadi kekuatan penyeimbang di antara beragamnya media yang berkepentingan atas nilai modal.

Ketiga, mahasiswa dituntut mampu membangun jaringan berskala luas dengan memanfaatkan media. Tak bisa ditolak, tumbangangnya rezim orba sedikit banyaknya dipengaruhi oleh jaringan gerakan mahasiswa yang memanfaatkan media sebagai penghubung di antara beragamnya kelompok mahasiswa. Media dalam konteks ini memiliki faedah menyatukan berbagai macam kelompok berbeda menjadi gerakan kolektif.

--- 

(1)(2) Hikmat Budiman. Lubang Hitam Kebudayaan. Kanisius. 2006. 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...