10 Januari 2016

Derita di Rahim Kepala Penulis yang Sakit; Cinta dan Benci

Saya punya pikiran aneh bahwa seorang penulis itu sebenarnya adalah orang yang sakit. Pikirannya selalu menjadi musuh terbesarnya untuk ditaklukkan. Musababnya, di dalam kepala seorang penulis, dia selalu memelihara dua hal: benci sekaligus cinta. Dengan benci dia menulis. Melalui cinta dia bertahan dengan katakata yang minim.

Jadi sebenarnya seorang penulis itu adalah orang yang malang. Kepalanya penuh dengan bibit penyakit yang dibawanya tiap saat. Penyakit itulah musuhnya, sekaligus di dalamnya mengandung obat penawarnya; cinta itu tadi.

Makanya seorang penulis dengan sendirinya adalah orang yang kuat sekaligus lemah. Dia mudah tersentuh, itulah kelemahannya. Dia kuat karena selalu menanggung beban derita.

Saya juga menduga, sang penulis sejatinya adalah seorang yang sepi. Bahkan dari ini saya berkeyakinan bahwa karakter penulis yang sebenarnya adalah orang yang introvert. Dia selalu menyenangi sudut sempit kesepian. Atau senang merayakan kesunyian. Makanya itu kenapa menurut saya, seorang penulis memiliki teman yang sedikit, tapi mempunyai sahabat yang setia.

Orhan Pamuk setidaknya contoh yang paling jujur bagaimana penulis menjadi orang yang bisa hidup berlamalama di dalam pojok kesunyian. Selama delapan tahun ia mengurung diri di perpustakaan keluarganya hanya untuk menemukan ilham seorang penulis. Dan kita tahu, dari titik gelap bergelut dengan bukubuku, Orhan Pamuk menjadi salah satu sastrawan besar.

Orhan Pamuk, saya pikir betulbetul mengerti apa arti kesunyian bagi terang ilham seorang penulis.

Untuk itu, dari sudut ini, saya berani menimbangnimbang bahwa seorang penulis memiliki kelebihan di bawah satu tingkat seorang rasul. Musababnya sederhana belaka, selayaknya rasul, sang penulis mau bersetia di dalam peristiwa kesunyian. Dia mau berkawan dengan kesunyian dan menjadi nabi bagi karya tulisnya.

Ali Syariati juga saya pikir adalah contoh yang bisa diajukan bagi kasus ini. Terutama ketika dia mengalami keterasingan dari dirinya sendiri. Ali Syariati bukan seperti yang diduga Marx yang mengalami penjarakan antara dirinya dengan barangbarang produksi dan masyarakatnya, melainkan dia terasing justru dari sesuatu yang intim bahkan dari dirinya itu sendiri; kesadarannya.

Keterasingan Ali Syariati saya yakin adalah keterasingan yang juga banyak dialami oleh hampir sebagian penulis. Bahkan apa yang dialami Ali Syariati masih kurang dibandingkan dengan penulispenulis yang memilih bunuh diri akibat keterasingan yang menganga di dalam batinnya.

Ernest Hemingway adalah nama besar yang kita ketahui mengalami peristiwa yang sulit diterima akal sehat. Ia menderita dan kemudian mati dengan cara mengedor kepalanya. Dia meninggal dan karyanya menjadi umur panjang bagi usia Hemingway yang harus berhenti.

Ali Syariati dan Ernest Hemingway adalah tipikal penulis yang mengandung keresahannya dengan dua cara yang berbeda. Ali Syariati menemukannya di dalam cinta, tetapi Hemingway saya tak tahu.

Cinta memang kekuatan yang mendesak. Itulah yang menyebabkan Ali Syariati dapat keluar dari kerisauan akutnya. Melalui sajaksajak Jalaluddin Rumi, Ali Syariati menemukan kekuatan cinta yang dimaksud. Saya tak tahu apa yang bersemayam di kepala dan pusat batin ideolog Iran itu saat membaca teksteks Rumi. Yang saya duga, saat itu Ali Syariati tidak sedang membaca teks, justru dia membaca kenyataan.

Itulah yang membuat Ali Syariati selamat dari rongrongan kegalauan batinnya. Dari kenyataan yang vulgar dari teksteks Rumi, dia bisa jadi menemukan kekuatan yang paling purba dimiliki manusia; pasrah menerima dan mau membaca kenyataan.

Kemampuan inilah yang kuat dimiliki seorang penulis. Pasrah dan mau membaca kenyataan. Bukan teks. Itulah kenapa seorang penulis saya percayai sebagai seorang yang sakit. Sebab kenyataan itu adalah derita. Bahkan penderiaan adalah hakikat kenyataan itu sendiri. Dari sini saya bisa tahu, betapa bahagianya seorang penulis ketika menyungging senyum pasca aksaranya lahir. Tapi banyak yang tak tahu, bahwa di belakang itu ada hati dan pikiran yang menanggung kesakitan bertubitubi. Dia rela menampung dan mengerami kesakitannya demi melahirkan anakanak idenya.

Sebab itulah saya heran bila ada penulis yang membenci aksaranya. Pasalnya yang ia benci sejatinya adalah anak rahim pikirannya. Walaupun itu bukan disebut sebagai anak jadah, karena tulisan yang lahir dari rahim pikiran tak mengenal haram atau tidak. Toh kalau kita mau menyebut itu anakanak pikiran, yang bisa berlaku adalah sempurna tidakkah ia mengalami perkembangan. Baik tidakkah kita merawatnya.

Seorang penulis pasti tahu aktivitas yang mirip ibu itu. Setelah ia mengalami kesakitan, mengandung, dan melahirkan anak idenya, sebagaimana di dalam rahim, seorang penulis tidak berhenti merawat tulisannya. Dia harus menjaga tumbuh berkembanga tulisannya. Termasuk dalam hal ini adalah usaha editing yang dilakukan pasca penulisan. Aktivitas literasi semacam ini akhirnya membuat saya paham bahwa anak tulisan tidak dengan sendirinya sempurna, melainkan bertahap setingkat demi tingkat.

Makanya saya mulai berpikir kembali bahwa kematian seorang penulis adalah konsekuensi inheren ketika suatu karya selesai dituliskan, bisa diterima. Bahkan mau menyebut eksistensi penulis mati ketika tulisan telah menjadi kabar di hadapan publik. Asal usulnya jelas, penulis harus mengambil peran ibu untuk mendampingi tulisannya. Dia tidak layak melepaskan anaknya tumbuh berkembang dengan sendirinya. Untuk itulah sang penulis hadir secara berdampingan dengan tulisannya. Sampai kapanpun.

Melihat penulis harus berkerja dengan demikian, maka saya semakin yakin bahwa penulis adalah kutukan abadi bagi penderitanya. Pertama dia akan menjadi seorang pesakitan lantaran mengandung bibit benci dan cinta. Kedua dia harus rela terus menerus menjaga anakanaknya tumbuh besar. Ya!! Seorang penulis adalah sorang sakit yang mengandung anakanaknya lahir.


menulis kejujuran

Saya merasa heran bagaimana orang dapat menulis dari kebohongan. Saya menduga semua tulisan harus bertumpu pada satu kenyataan tertentu. Lantas apakah tulisan yang berasal dari kejadian yang mengadangada dapat disebut tulisan yang jujur? Bahkan apakah memang dalam menulis perlu juga nilai kejujuran sebagaimana yang dibutuhkan dalam kenyataan.

Saya merasa banyak orang yang bisa menulis apapun, tapi sangat jarang yang mau berkata jujur. Hal ini begitu lumrah di sekeliling kita. Semenjak tulisan menjadi salah satu sumber warta, penulis dituntut seperti rasul dalam menyampaikan kabar. Di mediamedia, tugas ini begitu utama, yakni wartawan yang memiliki kewajiban meneruskan hasil inderanya ke hadapan pembaca.

Tapi, semenjak dunia telah begitu terhubung antara satu dengan lain akibat kemajuan teknologi informasi, semua orang bisa menjadi pewarta berita. Di satu sisi, hal ini meluaskan kerjakerja pewarta dengan daya jangkau yang sulit dicapai sebelumnya. Namun di saat yang bersamaan, justru  karena itu akhirnya suatu kabar akan sulit dikendalikan.

Di saat itulah suatu kabar kehilangan legitimasinya. Orangorang bakal sulit mencari suatu bentuk pertanggungjawaban atas kebenaran informasi. Bahkan suatu kabar yang rancu bisa dibenarkan karena kecepatan penyebarannya.


Itu semua karena semua orang bisa bersuara tanpa mempertimbangkan kaidahkaidah penulisan apalagi prinsipprinsip jurnalisme. Mendadak ada semacam dorongan moral untuk menyampaikan berita walaupun itu tidak melewati suatu pengalaman jurnalistik. Apalagi itu dalam konteks dunia maya yang menjadi medan baru penyebaran informasi.

Hal yang sama juga di alami oleh cendikia mudamudi yang banyak bermunculan. Berubahnya medan pemberitaan mendorong netizen berpendidikan dapat masuk mengambil bagian atas dunia yang selama ini hanya dikuasai oleh pewarta berita. Latar belakang pendidikan yang semakin terbuka mendorong netizen bisa memanfaatkan perangkatperangkat teknologi untuk berperan serta dari berubahnya medan informasi. Sehingga arus informasi yang selama ini cenderung monolit akhirnya bisa dipecahkan dengan kreatifitas yang dimiliki netizen mudamudi.


08 Januari 2016

Bagaimana Penulis Menemukan Idenya

Bagi penulis handal, menulis bisa dilakukan di mana saja. Seperti bernapas belaka, ide penulis bisa lancar keluar masuk kepala dengan alami. Makanya, kalau ada pengusaha bertanya dari mana datangnya ide seorang penulis, itu sama saja menolak gejala manusia kalau sakit perut, misalnya. Itu alami. Datang begitu saja. Seperti mencratmencret yang datang tibatiba pasca menghabiskan rujak satu bakul.

Jadi stop bertanya pertanyaan membosankan itu. Seorang penulis pasti murka mendengar pertanyaan konyol itu. Ya, ide penulis bisa datang seperti taik. Begitu alami, begitu manusiawi. Dia bukan sesuatu yang dirancangrancang. Dia bisa datang tibatiba tanpa diundang.

Makanya jangan heran menemukan orang yang lama di depan layar laptop ketika nongkrong di cafe. Barangkali dia sedang "berak" tulisan. Atau menemukan seorang ibu tenggelam di gawainya saat menunggu suami diperiksa dokter di rumah sakit. Bisa saja dia sedang "berakberak" curhat menulis karena melihat dokter muda yang ganteng rupawan. Atau mahasiswa tanggung yang lama di dalam kamar mandi terminal. Jangan sampai dia memang sedang berak sambil menulis.

Itulah mengapa penulis hebat sangat senang sakit perut. Mereka bisa makan berkilokilo mangga muda hanya untuk perut mulas. Kedondong berpohonpohon hanya karena ingin didatangi ilham taik yang mencretnya bukan main. Nah, kalau sudah begini maka tunggu saja karya intelektual bakalan lahir di dunia. Dan para pembaca sudah pasti menunggu dan menyukai taik dari seorang penulis.


Walaupun begitu, bagi penulis yang sudah ulung, tanpa mangga sebakul atau rujak setanah air pun bisa menghasilkan karya tulis yang dahsyat. Mereka bisa sakit perut tanpa harus mengunyah habis mangga ibuibu muda sejagad raya. Atau tanpa harus mengemil pepaya mengkal dengan kecap segerobak. Bagi mereka, sakit perut adalah wahyu yang hanya dikhususkan bagi profesi luhur sealam semesta. Bagi mereka menulis adalah jalan hidup.

Orangorang semacam ini tidak bakal berhenti menulis semur hidup. Artinya mereka selalu mencratmencret tanpa kenal waktu. Bayangkan kalau seorang penulis sementara antri membayar rekening listrik di bank, di kepalanya muncratmuncret ide seperti taik. Atau walaupun sedang berak menggenggam android menulis apa saja. Sembari menghela napas panjang menghayati ide yang meluber ke luar. Bahagia rasanya. Itu pasti.

Oke, bicara tentang taik, jangan sampai kau tidak tahu tentang Marquis de Sade, penulis Perancis yang hidupnya dihabiskan di atas kertas. Tulisannya jadi bacaan yang menggugah sekaligus porno. Filsuf ini juga memang memiliki selera yang ganjil. Jadi kalau dia menulis kata vagina, yang dia tulis adalah vagina yang sebenarnya. Bukan dalam arti yang hiperbolik atau simbolis. Memang de Sade dikenal sebagai penulis yang vulgar. Bahkan sadisme diambil dari namanya.

Nah, karena kevulgaran itulah dia dilarang menyebarkan tulisannya. Alasannya sederhana, tulisannya mengancam moralitas masyarakat. Karena itulah akhirnya dia dilarang menulis dan dipenjara. Tapi namanya penulis makrifat tingkat tinggi, Marquis de Sade tidak berhenti menulis. Awalnya ia menulis dengan darah sebagai tintanya, dan bajunya sebagai medium tulisannya.

Namun dasar tidak mau berhenti menulis, kemudian dia ditelanjangi dengan cara dipindahkan ke dalam kurungan bawah tanah dengan penjagaan super ketat. Dan, kalian tahu dengan apa dia menulis di dalam kurungannya, dengan taik bung! Ya, taik menjadi tinta tulisannya yang ia tulis di tembok ruangannya.

Masya allah. Dengan taik saudarasaudari sekalian, Marquis de Sade menulis! Dia betulbetul penulis ulung. Di kepalanya penuh taik mencret, dan dari lubang pantatnya saja bisa menghasilkan tulisan. Alamak! Wahyu macam apa dia terima dari sumber ilham tak terpemanai. Marquis de Sade contoh paling berani bagaimana dari taik, kotoran yang disebut sampah, menjadi karya tulis yang luar biasa.

Ada juga yang mengatakan bahwa ide penulis itu sebenarnya diciptakan. Sini saya kasih tahu! Ini rahasia. Saya mendapatkannya dari penulis misterius yang datang di mimpi saya. Dia mengatakan ide itu tidak diciptakan. Kesalahan pertama orangorang adalah menganggap ide itu dapat diciptakan. Padahal ide itu kenyataan yang sudah ada semenjak pertanyaan itu dipertanyakan. Dia ilham yang abadi. Justru orangorang datang dan pergi, yang mati ditelan bumi.

Lantas bagaimanakah dia datang. Oke, kata penulis misterius itu, yang mesti dilakukan adalah pasrah terhadap kebodohan. Berbaik hatilah dengan kebodohan, dan jadikan dia teman. Di saat itulah kebodohan akan mengarahkan kita kepada sumber ilham. Bahkan kalau kita sudah siap, ide itu sendiri yang akan datang. Jadi sabar saja. Makan mangga banyakbanyak. Dengan sendiri pasti sakit perut.

Baiklah kalau sudah begitu menulis bisa dilakukan di mana saja. Di bawah kolong jembatan. Di pasar malam. Atau di dalam peti mayat sekalipun. Makanya banyak penulis pergi di banyak tempat menunggu kedatangan ide. Mereka ingin berak di tempat yang bisa saja di dalam masjid. Datang begitu saja. Tapi mesti diingat itu tidak langsung membuat orang menjadi penulis hebat, apalagi penulis ulung.

Jadi sekali lagi stop bertanya dari mana datang ide seorang penulis. Bung, untuk terakhir kalinya, ide itu seperti taik. Alami kedatangannya. Yang kalian harus lakukan hanya berak. Bagaimana? Sederhana kan, hanya berak. Oke perut saya sakit. Sepertinya saya mau berak.


06 Januari 2016

bungabunga mamak

Di rumah, mamak senang mengoleksi bungabunga. Kalau kalian bertandang ke rumah, sudah pasti menyaksikan puluhan potpot bunga di halaman. Berkat hobinya ini, rumah jadi adem ayem. Lumayan, bisa jadi penangkal global warming. Apalagi di depan rumah ikut tumbuh dua pohon mangga dan satu pohon nangka. Tapi kalau pohon mangga dan nangka, kenapa bisa tumbuh, itu karena dulu bapak yang menanamnya.

Hobi mamak ini sudah berlangsung bertahuntahun. Biasanya demi memperbanyak bungabunga, kalau bertandang ke rumah sejawatnya, pasti mamak membawa pulang beberapa tanaman bunga. Begitu juga sebaliknya, kalau teman sejawatnya datang ke rumah, terkadang juga pulang membawa beberapa tangkai bunga.

Akibat hubungan mutualisme simbiosis ini, mamak keseringan bertandang ke rumah temantemannya. Di bonceng oleh bapak, mereka berdua bisa lama di luar. Terkadang kalau hanya untuk urusan kebutuhan dapur, setelah dari pasar, pasti mampir di rumah teman gengnya. Mau apalagi kalau bukan urusan bungabunga.


Makanya saya mencurigai kalau mamak biasa bertandang ke rumah gengnya, barangkali itu bukan urusan tetek bengek apalahapalah, melainkan hanya sedang menarget calon bungabunga yang akan dibawanya pulang nanti. Jadi, kalau urusan ini, mamak bisa satu sampai tiga kali bertandang di rumah yang sama. Kenapa tiga kali? Ini strategi. Yang pertama tentu hanya sekedar basabasi seperti ibuibu umumnya. Ngomong sana, ngomong sini.

Nanti di pertemuan kedua baru strategi dijalankan, yakni menyampaikan niat kalau dia sedang kesemsem dengan calon bunga yang jadi target. Nah, setelah itu di perjamuan ketigalah baru eksekusi dilakukan; pulang membawa bunga kemenangan. Pelan namun pasti. Strategi yang penuh perhitungan.

Tapi biasa juga kunjungan kenegaraan itu hanya dilakukan sekali kunjungan. Usut punya usut sebelumnya sudah terbangun kesepakatan bilateral antara mamak dengan teman yang akan memberikannya bunga. Kesepakatan maniak bunga ini ternyata sudah dilakukan di sekolah tempat mamak mengajar. Jadi kesepakatannya, mereka berdua akan saling bertukar bunga. Dan itu dilakukan tanpa sorot negaranegara digdaya. Sunyi senyap. Mulus tanpa halangan.


05 Januari 2016

tumpukan buku yang bikin iri


Saya itu orangnya irian melihat tumpukan bukubuku di manapun itu berada. Apalagi kalau itu berada di kamar temanteman yang sering saya kunjungi. Puki mak! Semenjak kapan tumpukan buku itu berada di sana. Sudah berapa lama rakrak itu penuh buku. Tak habis saya pikir, berapa duit jika semua tumpukan itu dihitung jumlahnya. Atau sudah berapa lama waktu dialami untuk mendapatkan buku sebanyak itu. Taik! Kalau hitunghitungan, dari mana saya bisa dapat duit biar punya banyak buku mirip itu.

Pertama kali saya melihat tumpukan buku ketika zaman purba dulu. Ketika mamuth mudah ditemui berkeliaran mencari makan. Saat bumi masih terselimuti lapisan tebal es. Kala itu, saya masih SD. Yang saya ingat saya masih kelas satu saat itu. Karena kala itu ketika ke sekolah saya harus ditemani Ima, kakak sayanaik bemo. Maklum jarak rumah dengan sekolah tidak bisa diatasi dengan jalan kaki. Begitu tiap hari. Pulang pergi.

Nah di saat pulang pergi inilah saya selalu melewati perpustakaan provinsi. Saya sering diajak Ima untuk berkunjung di sana. Kala itu saya mangut saja. Apalagi saya memang tak tahu apaapa. Mau menolak apa daya, Bahrul kecil nan imutimut belum sanggup pulang sendiri. Jadi ya ikut saja kalau diajak. Yups, di sanalah pertama kalinya saya melihat bukubuku yang berdiri rapi di atas rakrak. Warnawarni dengan jumlah yang saya tak tahu persis.


Kebiasaan Ima sebenarnya adalah cara dia untuk bisa membaca majalah Bobo. Kalian yang masa kecilnya dihabiskan di tahun 90an pasti tahu kan majalah Bobo. Itu loh, majalah anakanak yang punya cerita Nirmala dan Oki dari negeri dongeng. Atau Husin dan Paman Kikuk yang punya anjing bernama Asta. Majalah bergambar itulah yang menyeret saya  bersama Ima yang tega meninggalkan adiknya bengong menunggu ia selesai membaca majalah yang sudah terbit dari 1973 . Sebagai adik yang patuh, ya sudah terima nasib.


Yang saya syukuri dari kebiasan Ima karena itu berdampak baik kepada saya. Semenjak saya tahu majalah bobo, yang saya sukai awalnya hanya gambargambarnya belaka. Tapi lama kelamaan dari gambar berubah ke teks. Saya mulai belajar membaca. Jadi kalian bisa tahu kan, betapa besarnya majalah Bobo terhadap kemampuan membaca saya. Luar biasa majalah bobo, amal jariahnya bukan main.

Kalau tidak salah ingat itu saya alami ketika sudah kelas dua. Di saat lapisan es di muka bumi masih tebaltebalnya. Juga ketika Ima mulai mengoleksi majalah adaptasi dari negeri kincir angin itu. Coba bayangkan, untuk urusan majalah anakanak, kita juga mengekor dari negeri Belanda bin godverdommen.

Mulai saat itu di rumah, selain buku gambar, majalah Bobo mulai banyak jumlahnya. Untuk urusan yang satu ini, salut untuk Ima, ia rela memotong uang jajannya demi Bobo, kelinci biru ikon majalah itu. Saya, yang masih ingusan akhirnya senang juga. Pasalnya saya punya bacaan di tiap minggunya. Oke saya harus jujur. Bukan bacaan, tapi ejaan. Beda kan!? Bacaan dan ejaan. Kalian tahu sendirilah.

Salah satu cerita yang saya sukai dari Bobo adalah Bona Gajah kecil berbelalai panjang. Cerita itu ditokohkan oleh sekor gajah kecil berwarna merah muda dengan seorang sahabatnya bernama Rongrong. Bona punya kehebatan, belalainya bisa menyelesaikan setiap masalah yang sering dihadapi Rongrong. Terkadang Bona memanfaatkan belalainya menjadi panjang untuk mengambil layangan Rongrong yang tersangkut di atas pohon. Kadang belalainya jadi tandu untuk menandu Rongrong yang sakit. Pun pernah belalai Bona menyelamatkan Rongrong yang hanyut dibawa arus sungai.

Begitulah kisah persahabatan Bona gajah kecil berbelalai panjang dengan Rongrong kucing kecil yang selalu mendapatkan masalah. Bona yang baik hati, perhatian dan Rongrong yang selalu setia menemani Bona. Saya selalu senang membaca kisah mereka disampul belakang majalah Bobo. Kala itu, majalah itulah yang bisa mengalihkan saya dari pekerjaan rumah yang diberikan sekolah.

Semenjak Ima sering mengoleksi Bobo, kami sering berkunjung di toko buku yang tak jauh dari halte tempat kami menunggu bemo. Saya tak tahu dari mana ia mendapatkan informasi tentang toko buku itu. Dugaan saya kala itu dari Puput, teman sekelas Ima yang sering juga menjadi teman kami pulang. Toko buku inilah juga menjadi tempat saya melihat buku berakrak jumlahnya. Tapi sayang di situ tidak seperti di perpustakaan yang bukunya bisa dilihatlihat. Kami hanya datang membeli Bobo di situ. Maaf, yang saya maksud Ima yang membelinya. Dan kemudian kami pulang dengan muka berkacakaca bahagia. Satu edisi baru Bobo di dalam tas Ima.

Di dua tempat itulah saya pertama kali bersentuhan dengan buku yang super banyak. Perpustakaan dan toko buku yang tak pernah saya tahu namanya. Dulu belum ada rasa iri seperti sekarang. Kala itu hati Bahrul kecil belum tersentuh penyakit hati yang sering diwantiwanti setiap ustadz. Hatinya hanya polos mirip kapas putih. Putih seputihputihnya. Toh kalau iri, itupun kepada Ima, karena dia yang selalu memegang uang di waktu saya masih ikut pulang pergi dengannya ke sekolah. Dia yang membayarkan uang bemo saya. Begitu selama hampir tiga tahun berturutturut. Dasar sial.

Sekarang, kalau bertandang di kamar temanteman yang punya koleksi buku, atau tempatempat penuh buku, Bahrul yang sekarang sudah tumbuh menjadi anak ganteng kesayangan mamak, terkadang kesemsem melihat itu semua. Buku yang ditumpuk rapi. Alamak! Cantik nian susunannya. Bikin iri saja. Puki mak! Rasarasanya ingin membawanya pulang saja. Persetan dibaca atau tidak, yang penting…aduh, susunannya itu loh. Sekali lagi bikin kesemsem. Ya, Bahrul yang dulu bukan Bahrul yang sekarang. Melihat buku bertumpuktumpuk, rasarasanya betul kata Luis Borges, surga itu adalah perpustakaan yang besar penuh bukubuku. Siapa sih yang tak mau surga di rumahnya!?


02 Januari 2016

kopi susu ketiga

Tinggal di rumah sendiri itu menyenangkan bukan main. Sungguh. Di saat bangun pagi, di dapur sudah tersedia hidangan siap santap. Di atas meja, sudah ada segelas kopi susu lengkap dengan panganannya. Biasanya mamak membuatnya jadi dua. Satu untuk bapak, dan satunya lagi tentu untuk anaknya yang tanggung ini. Saya seperti mendapatkan service hotel bintang lima. Betulbetul layanan prima. Bedanya, di belakang rumah bukan kolam renang super lebar dengan air yang biru. Hanya kandang ayam.

Kebiasaan membuat kopi susu sebenarnya belum lama dilakukan mamak. Dulu, justru hanya segelas kopi dan satu ceret teh panas. Tapi semenjak bapak menyenangi kopi susu, maka kebiasaan itu berganti. Saya tak tahu kapan kebiasaan bapak minum kopi susu dimulai. Seingat saya, lemari makanan pasti tak pernah tanpa sekaleng penuh kopi hitam Nescafe. Itu loh kopi dengan kafein yang tinggi. Tapi itu dulu. Belakangan ketika sering pulang berkunjung  ke rumah, kopi yang sering bapak minum berganti kopi Torabika sachet.

Makanya di dapur selalu ada sekaleng susu cair untuk kopi bapak. Itu membuat saya senang karena tak perlu repotrepot keluar membeli susu sachet ketika membuat kopi susu. Kebiasaan meminum kopi susu bermula ketika saya suka berlamalama di warkop. Padahal sebelumnya, selera kopi saya tidak pernah lebih dari kopikopi yang dijual pedagang kaki lima di depan kampus dulu.

Ketika masih kuliah di UNM, universitas ngeri membayangkannya, begitu saya suka menyebutnya, banyak pedagang kaki lima di sepanjang tembok pagarnya. Deretan pedagang kaki lima ini sungguh telah banyak menyelamatkan mahasiswa proletar seperti saya kala itu. Coba bayangkan, hampir dari pagi sudah banyak mahasiswa sarapan dan ngopi di sana. Bahkan itu berlanjut sampai malam. Begitu seterusnya duapuluh empat jam.

Nah, bersama mahasiswa proletar inilah saya sering menghabiskan waktu di PK5. Karena hanya di mace lah satusatunya juru selamat jika kami kehabisan uang. Dan betulbetul sang mesias! Mace dengan ikhlas selalu bersedia dijadikan tulang punggung selama musim kelaparan melanda. Tak bisa dibayangkan betapa besarnya kasih sayang mace kepada mahasiswamahasiswa tengik macam kami itu. Karena kasih sayang itu jugalah, saya bisa ngutang bergelasgelas kopi di situ.


01 Januari 2016

binte biluhuta di awal 2016

Tadi setelah dari warkop, saya tiba di rumah pukul duapuluhdua. Setiba di rumah, saya mengira orangorang di rumah sedang berkumpul menyambut pergantian tahun. Minimal bapak dan ibu sedang asyikasyiknya menonton televisi. Kebiasaan akhirakhir ini ketika mereka menonton acara dangdut sekelas Asia di salah satu stasiun tv itu. Tapi kebiasaan itu tidak berlanjut pasca acara itu dimenangkan Danang alamumni Dangdut Akademi dua beberapa hari lalu. Justru yang saya dapati adalah kakak ipar saya sendirian di depan televisi. Sementara kakak saya, asyik bermainmain bersama anaknya di kamarnya. Sial.

Ya, di rumah tak ada tandatanda menyambut tahun baru. Lurus saja. Seperti harihari biasa. Toh jika ada tandatanda acara menyambut tahun baru, barangkali hanya jagung yang direbus mamak sebakul penuh. Entah jagung dari mana. Yang jelas jagung itu sudah masak ketika saya tiba di dapur. Itupun hanya dibiarkan di atas kompor setelah masak. Begitu saja. Tak ada yang menyuguhkannya.

Tandatanda tak ada acara di rumah –sebenarnya, semenjak kapan ada acara tahun baru di rumah!- semakin jelas ketika saya melihat bapak dan mamak sudah tidur pulas di pembaringan. Bayangkan! Jam sepuluh malam sudah pulas melanglang terbang di alam tidur. Alamak, bukankah itu sinyalemen tak ada acara menyambut tahun baruan? Akhirnya saya harus ikhlas melewati malam tahun baru seperti tak terjadi apaapa.

Sebenarnya, jauh di lubuk hati paling dalam, saya juga tidak berharap jika orangorang di rumah menyiapkan acara pergantian tahun. Bagi orangorang di rumah, terutama panglima besar mamak saya, pergantian tahun tak lebih dari pergantian kalender saja. Sementara menurut bapak saya, ya tentu sudah pasti ikut dengan panglima besar kan!! Tak ada acara tahun baruan segala. Cukup. Hargai itu. Ini adalah penerapan ideologi Muhammadiyah yang dianut bertahuntahun sekaligus turun temurun. Melawan artinya bid'ah. Nanti kafir. Sekali lagi cukup!!

Selain itu, memang karena di rumah tidak seperti keluarga Indonesia umumnya. Keluarga saya bisa dibilang pada halhal tertentu kolotnya bukan main. Apalagi mau rela begadang sampai tengah malam hanya menunggu jarum jam bergeser. Percuma. Tidak tidur sampai jam sebelas saja sudah hebat, apalagi mau menunggu sampai jam duabelas malam. Haibatnya luar biasa kalau itu terjadi. (oh iya, waktu nonton dangdut juga begitu loh, bapak dan mamak cuman bisa tahan sampai jam sebelas belaka. Lebih dari itu sudah keok lari ke dalam kamar tidur)


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...