kopi susu ketiga

02 Januari 2016 Comments Off

Tinggal di rumah sendiri itu menyenangkan bukan main. Sungguh. Di saat bangun pagi, di dapur sudah tersedia hidangan siap santap. Di atas meja, sudah ada segelas kopi susu lengkap dengan panganannya. Biasanya mamak membuatnya jadi dua. Satu untuk bapak, dan satunya lagi tentu untuk anaknya yang tanggung ini. Saya seperti mendapatkan service hotel bintang lima. Betulbetul layanan prima. Bedanya, di belakang rumah bukan kolam renang super lebar dengan air yang biru. Hanya kandang ayam.

Kebiasaan membuat kopi susu sebenarnya belum lama dilakukan mamak. Dulu, justru hanya segelas kopi dan satu ceret teh panas. Tapi semenjak bapak menyenangi kopi susu, maka kebiasaan itu berganti. Saya tak tahu kapan kebiasaan bapak minum kopi susu dimulai. Seingat saya, lemari makanan pasti tak pernah tanpa sekaleng penuh kopi hitam Nescafe. Itu loh kopi dengan kafein yang tinggi. Tapi itu dulu. Belakangan ketika sering pulang berkunjung  ke rumah, kopi yang sering bapak minum berganti kopi Torabika sachet.

Makanya di dapur selalu ada sekaleng susu cair untuk kopi bapak. Itu membuat saya senang karena tak perlu repotrepot keluar membeli susu sachet ketika membuat kopi susu. Kebiasaan meminum kopi susu bermula ketika saya suka berlamalama di warkop. Padahal sebelumnya, selera kopi saya tidak pernah lebih dari kopikopi yang dijual pedagang kaki lima di depan kampus dulu.

Ketika masih kuliah di UNM, universitas ngeri membayangkannya, begitu saya suka menyebutnya, banyak pedagang kaki lima di sepanjang tembok pagarnya. Deretan pedagang kaki lima ini sungguh telah banyak menyelamatkan mahasiswa proletar seperti saya kala itu. Coba bayangkan, hampir dari pagi sudah banyak mahasiswa sarapan dan ngopi di sana. Bahkan itu berlanjut sampai malam. Begitu seterusnya duapuluh empat jam.

Nah, bersama mahasiswa proletar inilah saya sering menghabiskan waktu di PK5. Karena hanya di mace lah satusatunya juru selamat jika kami kehabisan uang. Dan betulbetul sang mesias! Mace dengan ikhlas selalu bersedia dijadikan tulang punggung selama musim kelaparan melanda. Tak bisa dibayangkan betapa besarnya kasih sayang mace kepada mahasiswamahasiswa tengik macam kami itu. Karena kasih sayang itu jugalah, saya bisa ngutang bergelasgelas kopi di situ.


Saya ingat ketika musimmusim pergantian walikota, PK5 selalu jadi bulanbulanan kebijakan pemerintah kota. Alasannya klasik; mengganggu keindahan kota. Tak luput PK5 di depan kampus waktu itu. Maka siapa yang tak gusar jika “juru selamatnya” diutakatik penggusuran. Sebagai mahasiswa proletar, sesungguhnya itu pelecehan terhadap kaum tertindas. Mahasiswa proletar sePK5 bersatulah. Saya bersama “jutaan” mahasiswa kere akhirnya turun ke jalan. Pokoknya PK5 harus diselamatkan. Sang mesias harus ditolong.

Semenjak itu, urusan utangmengutang semakin lancar. Jika ada isu penggusuran, panggillah kami mahasiswa proletar super kere. Jika uang habis karena buku, ke macelah kami berduyunduyun. Jadi anakanak peliharaan mace. Disuapi bergalongalon kopi dan roti seribu sebungkus. Saat itu terjadi hubungan mutualisme simbiosis. Mace juru selamat kami di bidang pangan. Kami, mahasiswa proletar kere, yang bacaan marxis-nya tak jelas juntrungannya, jadi mesias PK5 di bidang politik. Begitu seterusnya hingga saya selesai.

Jadi bisa dibayangkan berapa banyak kopi yang telah saya habiskan di PK5 selama hampir tujuh tahun. Ya! Tujuh tahun coy. Empatbelas semester berkalang debu di dalam kampus yang ngeri bin apalahapalah itu (tunggu dulu! Saya tulis ini bukan berarti saya merendahkan almamater saya ya! Kampusnya aja sudah punya gedung tinggi bukan main, kok masih mau direndahrendahkan segala sih?

Dan karena itu jugalah selera saya tentang kopi tumbuh bersama deretderatan PK5 di depan kampus. Hingga keseringan nongkrong di warkop, akhirnya selera saya bergeser dari kopi sachet duaribuan, jadi kopi susu a la warkop. Sampai sekarang.

Saya sudah hampir dua bulan tinggal di rumah. Selama di rumah, mamak jadi tambah cerewet karena anaknya yang tanggung ini begitu malas membuat kopi susu. Entah mengapa di hadapan panglima besar, saya jadi anak yang manja supaya tidak dibilang malas. Begitu juga untuk urusan kopi susu. Makanya di tiap pagi selama saya di rumah, selalu ada dua gelas kopi susu di atas meja. Satu untuk bapak, dan tentu seperti saya bilang sebelumnya, satu untuk saya, anak muda harapan mamak.

Namun setelah menghidangkan kopi susu, mamak biasanya jarang diam. Ini dia yang saya bilang cerewet. Selain ngomelngomel sayang ketika membuat kopi susu, sebelum kopi susu jadi dingin, sekira lima menit perintahnya selalu datang. “Minum kopi susumu itu, nanti na minum Athaya.” Ya, di rumah selain saya ada Athaya, keponakan yang nakal nan ganteng seperti omnya ini. Ternyata kopi susu saya sering kali habis diembat bocah nakal yang baru tiga tahun itu. Dia sering kali diamdiam mendahului saya menghabiskan kopi susu di waktu pagi. Seperti kucing tetangga, merangkak pelanpelan naik di atas meja. “Kopi cucuku inieee…!! katanya dengan pede.

Semenjak itu di tiap pagi sudah ada tiga gelas kopi susu. Kalian tahu kan untuk siapa yang satunya lagi?

Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca kopi susu ketiga di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel