10 Januari 2016

menulis kejujuran

Saya merasa heran bagaimana orang dapat menulis dari kebohongan. Saya menduga semua tulisan harus bertumpu pada satu kenyataan tertentu. Lantas apakah tulisan yang berasal dari kejadian yang mengadangada dapat disebut tulisan yang jujur? Bahkan apakah memang dalam menulis perlu juga nilai kejujuran sebagaimana yang dibutuhkan dalam kenyataan.

Saya merasa banyak orang yang bisa menulis apapun, tapi sangat jarang yang mau berkata jujur. Hal ini begitu lumrah di sekeliling kita. Semenjak tulisan menjadi salah satu sumber warta, penulis dituntut seperti rasul dalam menyampaikan kabar. Di mediamedia, tugas ini begitu utama, yakni wartawan yang memiliki kewajiban meneruskan hasil inderanya ke hadapan pembaca.

Tapi, semenjak dunia telah begitu terhubung antara satu dengan lain akibat kemajuan teknologi informasi, semua orang bisa menjadi pewarta berita. Di satu sisi, hal ini meluaskan kerjakerja pewarta dengan daya jangkau yang sulit dicapai sebelumnya. Namun di saat yang bersamaan, justru  karena itu akhirnya suatu kabar akan sulit dikendalikan.

Di saat itulah suatu kabar kehilangan legitimasinya. Orangorang bakal sulit mencari suatu bentuk pertanggungjawaban atas kebenaran informasi. Bahkan suatu kabar yang rancu bisa dibenarkan karena kecepatan penyebarannya.


Itu semua karena semua orang bisa bersuara tanpa mempertimbangkan kaidahkaidah penulisan apalagi prinsipprinsip jurnalisme. Mendadak ada semacam dorongan moral untuk menyampaikan berita walaupun itu tidak melewati suatu pengalaman jurnalistik. Apalagi itu dalam konteks dunia maya yang menjadi medan baru penyebaran informasi.

Hal yang sama juga di alami oleh cendikia mudamudi yang banyak bermunculan. Berubahnya medan pemberitaan mendorong netizen berpendidikan dapat masuk mengambil bagian atas dunia yang selama ini hanya dikuasai oleh pewarta berita. Latar belakang pendidikan yang semakin terbuka mendorong netizen bisa memanfaatkan perangkatperangkat teknologi untuk berperan serta dari berubahnya medan informasi. Sehingga arus informasi yang selama ini cenderung monolit akhirnya bisa dipecahkan dengan kreatifitas yang dimiliki netizen mudamudi.


08 Januari 2016

Bagaimana Penulis Menemukan Idenya

Bagi penulis handal, menulis bisa dilakukan di mana saja. Seperti bernapas belaka, ide penulis bisa lancar keluar masuk kepala dengan alami. Makanya, kalau ada pengusaha bertanya dari mana datangnya ide seorang penulis, itu sama saja menolak gejala manusia kalau sakit perut, misalnya. Itu alami. Datang begitu saja. Seperti mencratmencret yang datang tibatiba pasca menghabiskan rujak satu bakul.

Jadi stop bertanya pertanyaan membosankan itu. Seorang penulis pasti murka mendengar pertanyaan konyol itu. Ya, ide penulis bisa datang seperti taik. Begitu alami, begitu manusiawi. Dia bukan sesuatu yang dirancangrancang. Dia bisa datang tibatiba tanpa diundang.

Makanya jangan heran menemukan orang yang lama di depan layar laptop ketika nongkrong di cafe. Barangkali dia sedang "berak" tulisan. Atau menemukan seorang ibu tenggelam di gawainya saat menunggu suami diperiksa dokter di rumah sakit. Bisa saja dia sedang "berakberak" curhat menulis karena melihat dokter muda yang ganteng rupawan. Atau mahasiswa tanggung yang lama di dalam kamar mandi terminal. Jangan sampai dia memang sedang berak sambil menulis.

Itulah mengapa penulis hebat sangat senang sakit perut. Mereka bisa makan berkilokilo mangga muda hanya untuk perut mulas. Kedondong berpohonpohon hanya karena ingin didatangi ilham taik yang mencretnya bukan main. Nah, kalau sudah begini maka tunggu saja karya intelektual bakalan lahir di dunia. Dan para pembaca sudah pasti menunggu dan menyukai taik dari seorang penulis.


Walaupun begitu, bagi penulis yang sudah ulung, tanpa mangga sebakul atau rujak setanah air pun bisa menghasilkan karya tulis yang dahsyat. Mereka bisa sakit perut tanpa harus mengunyah habis mangga ibuibu muda sejagad raya. Atau tanpa harus mengemil pepaya mengkal dengan kecap segerobak. Bagi mereka, sakit perut adalah wahyu yang hanya dikhususkan bagi profesi luhur sealam semesta. Bagi mereka menulis adalah jalan hidup.

Orangorang semacam ini tidak bakal berhenti menulis semur hidup. Artinya mereka selalu mencratmencret tanpa kenal waktu. Bayangkan kalau seorang penulis sementara antri membayar rekening listrik di bank, di kepalanya muncratmuncret ide seperti taik. Atau walaupun sedang berak menggenggam android menulis apa saja. Sembari menghela napas panjang menghayati ide yang meluber ke luar. Bahagia rasanya. Itu pasti.

Oke, bicara tentang taik, jangan sampai kau tidak tahu tentang Marquis de Sade, penulis Perancis yang hidupnya dihabiskan di atas kertas. Tulisannya jadi bacaan yang menggugah sekaligus porno. Filsuf ini juga memang memiliki selera yang ganjil. Jadi kalau dia menulis kata vagina, yang dia tulis adalah vagina yang sebenarnya. Bukan dalam arti yang hiperbolik atau simbolis. Memang de Sade dikenal sebagai penulis yang vulgar. Bahkan sadisme diambil dari namanya.

Nah, karena kevulgaran itulah dia dilarang menyebarkan tulisannya. Alasannya sederhana, tulisannya mengancam moralitas masyarakat. Karena itulah akhirnya dia dilarang menulis dan dipenjara. Tapi namanya penulis makrifat tingkat tinggi, Marquis de Sade tidak berhenti menulis. Awalnya ia menulis dengan darah sebagai tintanya, dan bajunya sebagai medium tulisannya.

Namun dasar tidak mau berhenti menulis, kemudian dia ditelanjangi dengan cara dipindahkan ke dalam kurungan bawah tanah dengan penjagaan super ketat. Dan, kalian tahu dengan apa dia menulis di dalam kurungannya, dengan taik bung! Ya, taik menjadi tinta tulisannya yang ia tulis di tembok ruangannya.

Masya allah. Dengan taik saudarasaudari sekalian, Marquis de Sade menulis! Dia betulbetul penulis ulung. Di kepalanya penuh taik mencret, dan dari lubang pantatnya saja bisa menghasilkan tulisan. Alamak! Wahyu macam apa dia terima dari sumber ilham tak terpemanai. Marquis de Sade contoh paling berani bagaimana dari taik, kotoran yang disebut sampah, menjadi karya tulis yang luar biasa.

Ada juga yang mengatakan bahwa ide penulis itu sebenarnya diciptakan. Sini saya kasih tahu! Ini rahasia. Saya mendapatkannya dari penulis misterius yang datang di mimpi saya. Dia mengatakan ide itu tidak diciptakan. Kesalahan pertama orangorang adalah menganggap ide itu dapat diciptakan. Padahal ide itu kenyataan yang sudah ada semenjak pertanyaan itu dipertanyakan. Dia ilham yang abadi. Justru orangorang datang dan pergi, yang mati ditelan bumi.

Lantas bagaimanakah dia datang. Oke, kata penulis misterius itu, yang mesti dilakukan adalah pasrah terhadap kebodohan. Berbaik hatilah dengan kebodohan, dan jadikan dia teman. Di saat itulah kebodohan akan mengarahkan kita kepada sumber ilham. Bahkan kalau kita sudah siap, ide itu sendiri yang akan datang. Jadi sabar saja. Makan mangga banyakbanyak. Dengan sendiri pasti sakit perut.

Baiklah kalau sudah begitu menulis bisa dilakukan di mana saja. Di bawah kolong jembatan. Di pasar malam. Atau di dalam peti mayat sekalipun. Makanya banyak penulis pergi di banyak tempat menunggu kedatangan ide. Mereka ingin berak di tempat yang bisa saja di dalam masjid. Datang begitu saja. Tapi mesti diingat itu tidak langsung membuat orang menjadi penulis hebat, apalagi penulis ulung.

Jadi sekali lagi stop bertanya dari mana datang ide seorang penulis. Bung, untuk terakhir kalinya, ide itu seperti taik. Alami kedatangannya. Yang kalian harus lakukan hanya berak. Bagaimana? Sederhana kan, hanya berak. Oke perut saya sakit. Sepertinya saya mau berak.


06 Januari 2016

bungabunga mamak

Di rumah, mamak senang mengoleksi bungabunga. Kalau kalian bertandang ke rumah, sudah pasti menyaksikan puluhan potpot bunga di halaman. Berkat hobinya ini, rumah jadi adem ayem. Lumayan, bisa jadi penangkal global warming. Apalagi di depan rumah ikut tumbuh dua pohon mangga dan satu pohon nangka. Tapi kalau pohon mangga dan nangka, kenapa bisa tumbuh, itu karena dulu bapak yang menanamnya.

Hobi mamak ini sudah berlangsung bertahuntahun. Biasanya demi memperbanyak bungabunga, kalau bertandang ke rumah sejawatnya, pasti mamak membawa pulang beberapa tanaman bunga. Begitu juga sebaliknya, kalau teman sejawatnya datang ke rumah, terkadang juga pulang membawa beberapa tangkai bunga.

Akibat hubungan mutualisme simbiosis ini, mamak keseringan bertandang ke rumah temantemannya. Di bonceng oleh bapak, mereka berdua bisa lama di luar. Terkadang kalau hanya untuk urusan kebutuhan dapur, setelah dari pasar, pasti mampir di rumah teman gengnya. Mau apalagi kalau bukan urusan bungabunga.


Makanya saya mencurigai kalau mamak biasa bertandang ke rumah gengnya, barangkali itu bukan urusan tetek bengek apalahapalah, melainkan hanya sedang menarget calon bungabunga yang akan dibawanya pulang nanti. Jadi, kalau urusan ini, mamak bisa satu sampai tiga kali bertandang di rumah yang sama. Kenapa tiga kali? Ini strategi. Yang pertama tentu hanya sekedar basabasi seperti ibuibu umumnya. Ngomong sana, ngomong sini.

Nanti di pertemuan kedua baru strategi dijalankan, yakni menyampaikan niat kalau dia sedang kesemsem dengan calon bunga yang jadi target. Nah, setelah itu di perjamuan ketigalah baru eksekusi dilakukan; pulang membawa bunga kemenangan. Pelan namun pasti. Strategi yang penuh perhitungan.

Tapi biasa juga kunjungan kenegaraan itu hanya dilakukan sekali kunjungan. Usut punya usut sebelumnya sudah terbangun kesepakatan bilateral antara mamak dengan teman yang akan memberikannya bunga. Kesepakatan maniak bunga ini ternyata sudah dilakukan di sekolah tempat mamak mengajar. Jadi kesepakatannya, mereka berdua akan saling bertukar bunga. Dan itu dilakukan tanpa sorot negaranegara digdaya. Sunyi senyap. Mulus tanpa halangan.


05 Januari 2016

tumpukan buku yang bikin iri


Saya itu orangnya irian melihat tumpukan bukubuku di manapun itu berada. Apalagi kalau itu berada di kamar temanteman yang sering saya kunjungi. Puki mak! Semenjak kapan tumpukan buku itu berada di sana. Sudah berapa lama rakrak itu penuh buku. Tak habis saya pikir, berapa duit jika semua tumpukan itu dihitung jumlahnya. Atau sudah berapa lama waktu dialami untuk mendapatkan buku sebanyak itu. Taik! Kalau hitunghitungan, dari mana saya bisa dapat duit biar punya banyak buku mirip itu.

Pertama kali saya melihat tumpukan buku ketika zaman purba dulu. Ketika mamuth mudah ditemui berkeliaran mencari makan. Saat bumi masih terselimuti lapisan tebal es. Kala itu, saya masih SD. Yang saya ingat saya masih kelas satu saat itu. Karena kala itu ketika ke sekolah saya harus ditemani Ima, kakak sayanaik bemo. Maklum jarak rumah dengan sekolah tidak bisa diatasi dengan jalan kaki. Begitu tiap hari. Pulang pergi.

Nah di saat pulang pergi inilah saya selalu melewati perpustakaan provinsi. Saya sering diajak Ima untuk berkunjung di sana. Kala itu saya mangut saja. Apalagi saya memang tak tahu apaapa. Mau menolak apa daya, Bahrul kecil nan imutimut belum sanggup pulang sendiri. Jadi ya ikut saja kalau diajak. Yups, di sanalah pertama kalinya saya melihat bukubuku yang berdiri rapi di atas rakrak. Warnawarni dengan jumlah yang saya tak tahu persis.


Kebiasaan Ima sebenarnya adalah cara dia untuk bisa membaca majalah Bobo. Kalian yang masa kecilnya dihabiskan di tahun 90an pasti tahu kan majalah Bobo. Itu loh, majalah anakanak yang punya cerita Nirmala dan Oki dari negeri dongeng. Atau Husin dan Paman Kikuk yang punya anjing bernama Asta. Majalah bergambar itulah yang menyeret saya  bersama Ima yang tega meninggalkan adiknya bengong menunggu ia selesai membaca majalah yang sudah terbit dari 1973 . Sebagai adik yang patuh, ya sudah terima nasib.


Yang saya syukuri dari kebiasan Ima karena itu berdampak baik kepada saya. Semenjak saya tahu majalah bobo, yang saya sukai awalnya hanya gambargambarnya belaka. Tapi lama kelamaan dari gambar berubah ke teks. Saya mulai belajar membaca. Jadi kalian bisa tahu kan, betapa besarnya majalah Bobo terhadap kemampuan membaca saya. Luar biasa majalah bobo, amal jariahnya bukan main.

Kalau tidak salah ingat itu saya alami ketika sudah kelas dua. Di saat lapisan es di muka bumi masih tebaltebalnya. Juga ketika Ima mulai mengoleksi majalah adaptasi dari negeri kincir angin itu. Coba bayangkan, untuk urusan majalah anakanak, kita juga mengekor dari negeri Belanda bin godverdommen.

Mulai saat itu di rumah, selain buku gambar, majalah Bobo mulai banyak jumlahnya. Untuk urusan yang satu ini, salut untuk Ima, ia rela memotong uang jajannya demi Bobo, kelinci biru ikon majalah itu. Saya, yang masih ingusan akhirnya senang juga. Pasalnya saya punya bacaan di tiap minggunya. Oke saya harus jujur. Bukan bacaan, tapi ejaan. Beda kan!? Bacaan dan ejaan. Kalian tahu sendirilah.

Salah satu cerita yang saya sukai dari Bobo adalah Bona Gajah kecil berbelalai panjang. Cerita itu ditokohkan oleh sekor gajah kecil berwarna merah muda dengan seorang sahabatnya bernama Rongrong. Bona punya kehebatan, belalainya bisa menyelesaikan setiap masalah yang sering dihadapi Rongrong. Terkadang Bona memanfaatkan belalainya menjadi panjang untuk mengambil layangan Rongrong yang tersangkut di atas pohon. Kadang belalainya jadi tandu untuk menandu Rongrong yang sakit. Pun pernah belalai Bona menyelamatkan Rongrong yang hanyut dibawa arus sungai.

Begitulah kisah persahabatan Bona gajah kecil berbelalai panjang dengan Rongrong kucing kecil yang selalu mendapatkan masalah. Bona yang baik hati, perhatian dan Rongrong yang selalu setia menemani Bona. Saya selalu senang membaca kisah mereka disampul belakang majalah Bobo. Kala itu, majalah itulah yang bisa mengalihkan saya dari pekerjaan rumah yang diberikan sekolah.

Semenjak Ima sering mengoleksi Bobo, kami sering berkunjung di toko buku yang tak jauh dari halte tempat kami menunggu bemo. Saya tak tahu dari mana ia mendapatkan informasi tentang toko buku itu. Dugaan saya kala itu dari Puput, teman sekelas Ima yang sering juga menjadi teman kami pulang. Toko buku inilah juga menjadi tempat saya melihat buku berakrak jumlahnya. Tapi sayang di situ tidak seperti di perpustakaan yang bukunya bisa dilihatlihat. Kami hanya datang membeli Bobo di situ. Maaf, yang saya maksud Ima yang membelinya. Dan kemudian kami pulang dengan muka berkacakaca bahagia. Satu edisi baru Bobo di dalam tas Ima.

Di dua tempat itulah saya pertama kali bersentuhan dengan buku yang super banyak. Perpustakaan dan toko buku yang tak pernah saya tahu namanya. Dulu belum ada rasa iri seperti sekarang. Kala itu hati Bahrul kecil belum tersentuh penyakit hati yang sering diwantiwanti setiap ustadz. Hatinya hanya polos mirip kapas putih. Putih seputihputihnya. Toh kalau iri, itupun kepada Ima, karena dia yang selalu memegang uang di waktu saya masih ikut pulang pergi dengannya ke sekolah. Dia yang membayarkan uang bemo saya. Begitu selama hampir tiga tahun berturutturut. Dasar sial.

Sekarang, kalau bertandang di kamar temanteman yang punya koleksi buku, atau tempatempat penuh buku, Bahrul yang sekarang sudah tumbuh menjadi anak ganteng kesayangan mamak, terkadang kesemsem melihat itu semua. Buku yang ditumpuk rapi. Alamak! Cantik nian susunannya. Bikin iri saja. Puki mak! Rasarasanya ingin membawanya pulang saja. Persetan dibaca atau tidak, yang penting…aduh, susunannya itu loh. Sekali lagi bikin kesemsem. Ya, Bahrul yang dulu bukan Bahrul yang sekarang. Melihat buku bertumpuktumpuk, rasarasanya betul kata Luis Borges, surga itu adalah perpustakaan yang besar penuh bukubuku. Siapa sih yang tak mau surga di rumahnya!?


02 Januari 2016

kopi susu ketiga

Tinggal di rumah sendiri itu menyenangkan bukan main. Sungguh. Di saat bangun pagi, di dapur sudah tersedia hidangan siap santap. Di atas meja, sudah ada segelas kopi susu lengkap dengan panganannya. Biasanya mamak membuatnya jadi dua. Satu untuk bapak, dan satunya lagi tentu untuk anaknya yang tanggung ini. Saya seperti mendapatkan service hotel bintang lima. Betulbetul layanan prima. Bedanya, di belakang rumah bukan kolam renang super lebar dengan air yang biru. Hanya kandang ayam.

Kebiasaan membuat kopi susu sebenarnya belum lama dilakukan mamak. Dulu, justru hanya segelas kopi dan satu ceret teh panas. Tapi semenjak bapak menyenangi kopi susu, maka kebiasaan itu berganti. Saya tak tahu kapan kebiasaan bapak minum kopi susu dimulai. Seingat saya, lemari makanan pasti tak pernah tanpa sekaleng penuh kopi hitam Nescafe. Itu loh kopi dengan kafein yang tinggi. Tapi itu dulu. Belakangan ketika sering pulang berkunjung  ke rumah, kopi yang sering bapak minum berganti kopi Torabika sachet.

Makanya di dapur selalu ada sekaleng susu cair untuk kopi bapak. Itu membuat saya senang karena tak perlu repotrepot keluar membeli susu sachet ketika membuat kopi susu. Kebiasaan meminum kopi susu bermula ketika saya suka berlamalama di warkop. Padahal sebelumnya, selera kopi saya tidak pernah lebih dari kopikopi yang dijual pedagang kaki lima di depan kampus dulu.

Ketika masih kuliah di UNM, universitas ngeri membayangkannya, begitu saya suka menyebutnya, banyak pedagang kaki lima di sepanjang tembok pagarnya. Deretan pedagang kaki lima ini sungguh telah banyak menyelamatkan mahasiswa proletar seperti saya kala itu. Coba bayangkan, hampir dari pagi sudah banyak mahasiswa sarapan dan ngopi di sana. Bahkan itu berlanjut sampai malam. Begitu seterusnya duapuluh empat jam.

Nah, bersama mahasiswa proletar inilah saya sering menghabiskan waktu di PK5. Karena hanya di mace lah satusatunya juru selamat jika kami kehabisan uang. Dan betulbetul sang mesias! Mace dengan ikhlas selalu bersedia dijadikan tulang punggung selama musim kelaparan melanda. Tak bisa dibayangkan betapa besarnya kasih sayang mace kepada mahasiswamahasiswa tengik macam kami itu. Karena kasih sayang itu jugalah, saya bisa ngutang bergelasgelas kopi di situ.


01 Januari 2016

binte biluhuta di awal 2016

Tadi setelah dari warkop, saya tiba di rumah pukul duapuluhdua. Setiba di rumah, saya mengira orangorang di rumah sedang berkumpul menyambut pergantian tahun. Minimal bapak dan ibu sedang asyikasyiknya menonton televisi. Kebiasaan akhirakhir ini ketika mereka menonton acara dangdut sekelas Asia di salah satu stasiun tv itu. Tapi kebiasaan itu tidak berlanjut pasca acara itu dimenangkan Danang alamumni Dangdut Akademi dua beberapa hari lalu. Justru yang saya dapati adalah kakak ipar saya sendirian di depan televisi. Sementara kakak saya, asyik bermainmain bersama anaknya di kamarnya. Sial.

Ya, di rumah tak ada tandatanda menyambut tahun baru. Lurus saja. Seperti harihari biasa. Toh jika ada tandatanda acara menyambut tahun baru, barangkali hanya jagung yang direbus mamak sebakul penuh. Entah jagung dari mana. Yang jelas jagung itu sudah masak ketika saya tiba di dapur. Itupun hanya dibiarkan di atas kompor setelah masak. Begitu saja. Tak ada yang menyuguhkannya.

Tandatanda tak ada acara di rumah –sebenarnya, semenjak kapan ada acara tahun baru di rumah!- semakin jelas ketika saya melihat bapak dan mamak sudah tidur pulas di pembaringan. Bayangkan! Jam sepuluh malam sudah pulas melanglang terbang di alam tidur. Alamak, bukankah itu sinyalemen tak ada acara menyambut tahun baruan? Akhirnya saya harus ikhlas melewati malam tahun baru seperti tak terjadi apaapa.

Sebenarnya, jauh di lubuk hati paling dalam, saya juga tidak berharap jika orangorang di rumah menyiapkan acara pergantian tahun. Bagi orangorang di rumah, terutama panglima besar mamak saya, pergantian tahun tak lebih dari pergantian kalender saja. Sementara menurut bapak saya, ya tentu sudah pasti ikut dengan panglima besar kan!! Tak ada acara tahun baruan segala. Cukup. Hargai itu. Ini adalah penerapan ideologi Muhammadiyah yang dianut bertahuntahun sekaligus turun temurun. Melawan artinya bid'ah. Nanti kafir. Sekali lagi cukup!!

Selain itu, memang karena di rumah tidak seperti keluarga Indonesia umumnya. Keluarga saya bisa dibilang pada halhal tertentu kolotnya bukan main. Apalagi mau rela begadang sampai tengah malam hanya menunggu jarum jam bergeser. Percuma. Tidak tidur sampai jam sebelas saja sudah hebat, apalagi mau menunggu sampai jam duabelas malam. Haibatnya luar biasa kalau itu terjadi. (oh iya, waktu nonton dangdut juga begitu loh, bapak dan mamak cuman bisa tahan sampai jam sebelas belaka. Lebih dari itu sudah keok lari ke dalam kamar tidur)


Ketika Memulai Menggambar

Kebiasaan menulis saya pertama kali tumbuh ketika mahasiswa. Itupun semester banyak. Menggelikan. Sepanjang ingatan saya, sebelum itu, menulis sebagai aktifitas menulis pernah sekali saya lakukan ketika mengikuti pelajaran bahasa indonesia di Sekolah Dasar. Itupun hanya berupa membuat karangan bebas sebagai tugas akhir pekan. Mendengar kata “bebas” waktu itu senangnya tak ketulungan. Saya bisa berimajinasi sesuka hati. Apalagi itu diungkapkan melalui cerita. Maka untuk pertama kalinya, yang namanya imajinasi di kepala saya, bisa melayanglayang.

Omongomong soal imajinasi, sebenarnya itu sudah dipunyai oleh siapapun ketika anakanak. Itu dialami ketika saya sering melakukan dan menyalurkannya melalui gambar. Di waktu kecil memang saya gemar menggambar. Saya rasa ini dialami hampir semua anakanak. Kalau tidak percaya, coba datang ke rumah saya melihat keponakan imutimut nan jail saya yang hampir tiap sudut tembok rumah sudah dicoretinya.

Kala itu, pertama kalinya saya punya gema suara di dalam kepala bahwa saya punya bakat menggambar. Berdasarkan keyakinan mungil saya ini, saya mulai sering meniru dan menggambar bentukbentuk manusia yang saya lihat di majalah Bobo langganan kakak saya. Kelak majalah anakanak ini pula yang mengajari saya untuk belajar membaca pertama kalinya.

Aktivitas menggambar akhirnya membawa saya dan beberapa temanteman mewakili TK tempat saya belajar (lebih tepatnya bermain sih!), mengikuti lomba menggambar. Lumayan, pasca lomba, saya dapat membawa pulang satu piala kecil plastik berwarna emas. Bahagia bukan main. Dan, mulai saat itu pula terbersit di dada saya, saya berniat menjadi pelukis.

Citacita itu bertahan cukup lama seiring dengan bangganya saya ketika sering ditanyai kelak mau jadi apa. Pelukis tentu jawaban saya, suatu pekerjaan yang menurut saya bercita rasa tinggi. Citacita ini juga terus hidup dari kegemaran menggambar yang semakin berapiapi. Sampaisampai ketika ada lomba menggambar di majalah Bobo, maka dengan semangat membara, akan saya ikuti tanpa menghiraukan aral melintang. Pokoknya, saat itu menggambar adalah citacita luhur saya. Tak ada yang boleh membendungnya.

Makanya sampai saya menginjak sekolah dasar, pelajaran menggambar yang paling saya sukai. Kesukaan saya ini melebihi pelajaran bahasa indonesia yang di situ ada mengarang sebagai salah satu pelajarannya. Saya merasa, lewat menggambar saya bisa lebih ekspresif dibandingkan dengan menyusun kata malaupun itu mengarang. Apalagi saya senang mencampurcampur warna untuk mendapatkan kesan yang indah. Untuk yang satu ini, saya rela menangis berjamjam hanya untuk mendapatkan pensil warna yang kala itu bisa berubah cat air. Luna nama pensil warna itu.

Saya tak tahu apakah pensil warna itu masih bertahan sampai sekarang. Tapi saat itu, pensil warna itu saya anggap pensil warna yang paling keren. Di saat itu belum ada pensil warna yang bisa diubah layaknya cat air, sehingga menggunakannya kita bisa mencampurcampur warna menjadi lebih menarik. Menggunakan pensil warna yang bisa berubah cat air itu, menjadikan saya bak pelukis profesional. Betapa gembiranya saya.

Namun sayang, untuk menggunakan pensil warna itu, konsekuensinya saya harus memiliki buku gambar yang berkertas tebal. Karena jika hanya menggunakan buku gambar murahan dengan kertas tipis, maka kertasnya akan mudah robek ketika diberikan air. Akhirnya, saya harus membujuk bapak untuk membelikan buku gambar yang setara dengan pensil warna yang saya punyai. Dengan berurai air mata, akhirnya saya punya lengkap, buku gambar kertas tebal dan pensil warna yang bisa berubah cat air.

Tapi sayang semakin saya naik kelas, pelajaran kesenian terutama menggambar jadi sosor. Itu saya rasakan ketika kelas tiga SD, pelanpelan mata pelajaran saya tidak menyertakan menggambar sebagai aktivitas belajarmengajar di dalamnya. Apalagi saat itu ada hapalan kalikalian yang sudah mulai harus kami hapalkan. Pelanpelan, minat saya yang menggebugebu itu akhirnya tertimbun jauh tanpa dasar. Hingga akhirnya ekspresi menggambar, saya salurkan ke mejameja dalam kelas.

Di waktu SD, saya juga senang menghabiskan kapur tulis. Apalagi kalau kapurnya berwarnawarni. Itu sudah cukup membuat saya senang, karena dengan itu saya bisa menggambar apa saja di papan tulis lengkap dengan warnawarninya. Walaupun saya tahu setelah keluar bermain usai, gambar itu bakal dihapus. Dengan berat hati kejadian itu saya anggap sebagai perilaku yang tidak saya sukai. Karya gambar saya tidak diapresiasi, langsung dihapus begitu saja. Menjengkelkan.

Kelak kebiasaan saya itu jadi bumerang. Soalnya ketika saya menggambar, saya jadi lebih sering dimarahi guru karena menghabiskan persediaan kapur di kelas. Maka mau tak mau, kebiasaan saya itu pelanpelan saya tinggalkan. Capek diomeli terus. Tapi hal itu tidak berlaku bagi kesukaan saya menggambar di mejameja kelas. Kelak kebiasaan ini terus berkanjut sampai SMA, bahkan saya berani menggambar di baju sekolah saya.

Tapi tunggu dulu. Ini penting. Sebenarnya saya ingin menulis tentang kapan saya memiliki kesenangan menulis, bukan menggambar. Tapi perlu saya katakan di sini (ini amanah hati saya), kebiasaan menggambar saya sudah mulai berkurang ketika saya menginjak SMP, dan di SMA hanya saya lakukan jika saya mau. Tapi itu tidak membuat saya kehilangan skill menggambar. Buktinya ketika menjadi mahasiswa, setiap ospek, sayalah yang menggambar mukamuka tokoh terkenal sosiologi di kainkain spanduk yang super besar dan panjang itu. Kalau sekarang, mau coba kemampuan saya?

Namun satu hal yang saya rasarasai, kecenderungan menulis saya, sedikit banyaknya dipengaruhi dengan kesukaan menggambar ketika kecil saya dulu. Hal ini saya sadari ketika saya mulai menyamakan aktifitas menulis sama halnya dengan menggambar. Jadi ketika saya menulis, sebenarnya energi yang sama saya miliki ketika saya menggambar. Saat itu di kepala saya seperti ada bentubentuk yang harus saya keluarkan dari imajinasi saya.  Seperti ada yang saya bayangkan ketika menggambar. Bedanya ketika saya menulis, saya menggambar melalui katakata, sementara gambar yang sebenarnya selalu beterbangan di dalam benak saya. Jadi saya kira ini hanya soal berubah cara saja. Selebihnya tak beda. Oke kepala saya seperti diikat karet ban, keras sekali. Saya sudahi dulu.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...