09 Juni 2013

hujan

I
Sudahkah engkau mengerti, tentang hujan, tentang rinai yang bisa tampil dengan mukanya yang paling merusak. Deras berjatuhan dan tak kenal berhenti. Di mana kejatuhannya pada kotakota besar adalah perkara yang berat. Banjir dan air bah. Pada kota yang tak tentu, baik cara hidup ataukah model tata ornamennya, hujan adalah bukan berkah. Oleh sebab, tanah telah terlanjur dibanguni megah gedunggedung. Rapat mapat dengan seluruh ornamennya. Tanah lapang pada kota seperti itu adalah emas yang dicaricari.

II
Barangkali engkau tahu, perihal kiblat dunia, mengenai dunia yang dikejarkejar. Pusat perhatian yang menghendaki kemajuan. Yang mana kita tahu, kemajuan pada waktu sekarang identik dengan kota dunia; sebuah tempat yang menghabisi pinggiran dan menyulapnya menjadi episentrum aktivitas. Bahwa kota harus menampil purna dengan konstruksi yang maha dahsyat. Sehingga jika kita di sana, yang kita lihat adalah gemerlap yang tak pernah padam.

III
Kota barangkali adalah rupa yang kompleks. Di sana kemajuan dengan kemunduran berjalan dengan selaras. Di sana bisa saja kita temukan progresivitas sekaligus dehumanisasi dalam waktu yang bersamaan. Tahukah engkau pada yang pertama, di situ kita temukan tentang cara hidup yang menghentak dan spontan. Sehingga masa lalu adalah lampu teplok yang sudah ketinggalan jaman. Di sana bisa kita saksikan keramaian yang seporadis dan cair, di mana resiko kesepian begitu menganga dihadapan kita. Di sana pula percepatan tak tanggungtanggung bisa kita hentikan, oleh karena berhenti pada tempat seperti itu adalah kekonyolan.


Pada yang kedua, cara kita hidup dengan rasionalitas yang begitu tajam membuat kita menjadi manusia yang tak kepalang. Membuat kita menjadi manusia yang mengungguli batasanbatasan yang dihadapi. Tetapi di sana ada masalah yang begitu besar; manusia dalam mode ini adalah mahluk yang tak mampu menangkap kenyataan yang sebenarnya. Dan juga di kota seperti ini rasio kita harus mengalah pada kepentingan. Kita terkadang takluk pada kepentingan pribadi dibanding dengan kepentingan kekitaan. Kita juga terkadang tak hirau dengan alam. Di mana waktu sekarang alam kita mengecil pada batas temboktembok rumah kita.

IV
Bisakah engkau dengarkan bunyi air di atas atap. Rinai hujan sekali lagi harus menguji tempat kita. Sampai sejauh mana tempat yang kita tinggali adalah tempat yang paling tahan. Terhadap air, terhadap banjir, terhadap sampah, terhadap penyakit dan terhadap kesabaran kita. Hujan barangkali di waktu sekarang bukanlah proses langit yang kita tunggu, melainkan air yang sering kita hindari. Di mana hujan terkadang membuat kita lupa diri. Bahwa kota barangkali perlu untuk kita pelihara.

V
Pernahkah saya menceritakan padamu, bahwa diwaktu kecil hujan seperti di luar sana adalah berkah langit yang selalu dinantinanti. Karena hujan dahulu pada mata kecil saya adalah alat untuk meragakan kebebasan. Oleh sebab di tengah hujan, kita bisa berlari dan riang bermain bersama temanteman kita. Namun kita sekarang tengah menjauhi masa kecil kita, dan sekarang hujan bukan lagi sebagai undangan alam untuk kita permainkan. Oleh sebab, jusrtu sekarang hujan adalah amuk alam yang kita ciptakan, oleh tangantangan kita, oleh tempat yang kita tinggali. Oleh rapatmapatnya gedung yang menghabisi tanahtanah yang dahulu begitu lapang. 

08 Juni 2013

dari narasi cinta dan kemanusiaan menuju jejak dunia yang retak


Baru-baru ini, tepatnya di pekan pertama bulan juli 2012 ini, saya terlanda kebahagiaan yang amat mendalam. Setidaknya, ada dua momentum strategis dari gerakan literasi sementara mengedar. Pertama, terbitnya buku Narasi Cinta dan Kemanusiaan, yang ditulis oleh Dion Anak Zaman dan diterbitkan oleh Boetta Ilmoe. Lounchingnya telah dilaksanakan tanggal 7 juli 2012, bertempat di gedung Pertiwi, pukul 20.00-23.00 waktu setempat, Butta Toa-Bantaeng.

Terus terang, saya sendiri tidak menyangka akan begitu banyaknya apresiasi dari kehadiran buku itu. Mulai dari begitu banyaknya komentar yang ditujukan kepada buku tersebut, dukungan spiritual dan material saat dilounching yang begitu dahsyat dan banyak, jumlah undangan yang hadir memenuhi gedung, hingga kehadiran Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, yang juga kami tidak duga sebelumnya.

Banyaknya apresiasi dan tingginya rasa antusias, serta sambutan yang meriah atas buku itu, saya menduga karena, pertama, temanya buku itu yang bertutur tentang cinta dan kemanusiaan, sebuah tema yang abadi dalam dimensi kemanusiaan kita. Kedua, karena faktor penulisnya, yang memang selama ini telah mengedar, malang melintang dalam aktivitas berkesenian dan pemberdayaan masyarakat. Ketiga, sebab digarap tidak dengan motif-motif dan kerja-kerja material, tetapi dengan semangat yang amat spiritual. Keempat, jalur penerbitan yang dipilih secara indie, yang menyebabkan semua yang terlibat dalam proses penerbitannya dapat memaksimalkan kemerdekaannya dalam berkontribusi. Kelima, situasi kelompok-kelompok sosial dan komunitas-komunitas sosial di Butta Toa-Bantaeng, sudah mulai merasakan getaran-getaran dari gerakan literasi.

Kedua, terbitnya buku Jejak Dunia Yang Retak, yang baru-baru ini, dihadiahkan kepada saya oleh para penulisnya. Buku ini adalah kumpulan tulisan dari lima orang anak muda, yang selama ini cukup intens beredar dipusaran komunitas literasi: Paradigma Insitut, Papirus Community, dan Boetta Ilmoe. Kelima penulis itu adalah: Muchniar Az (Niart), Syamsu Alam (Alamyin), Takim Mustakim, Bahrul Amsal dan Asran Lallang Salam. Tiga orang dari penulis tersebut, Muchniar, Alam dan Asran , malah terlibat langsung dalam penggarapan buku Narasi Cinta Dan Kemanusiaan. Muchniar selaku pemberi prolog, Alam selaku desainer sampul dan layout, sedangkan Asran salah seorang editornya.

Penulis-penulis muda tersebut, kalau boleh saya katakan mereka adalah kaum muda potensial dalam kepenulisan, yang selama ini bahu membahu untuk mendorong gerakan literasi di tiga komunitas tersebut. Jujur saya katakan, ada kebahagiaan yang tak terkira dengan kehadiran buku Jejak Dunia Yang Retak ini. Apalagi mereka menyebut saya sebagai salah seorang mentornya, di pengantar buku itu.

Meski buku itu tidak diterbitkan oleh Paradigma, Papirus atau Boetta Ilmoe – karena memang ketiga komunitas ini telah beberapa kali menerbitkan buku secara indie – tetapi spirit dari ketiga komunitas ini cukup memengaruhi. Sehingga, bolehlah saya katakan spiritnya adalah spirit indie, tetapi diterbitkan secara non-indie, digarap secara profesional oleh penerbit Carabaca Yogyakarta.

Saya sendiri termasuk yang mendorong agar diterbitkan mengikuti mainstrem dunia penerbitan, karena memang targetnya dari penerbitan buku itu, sebagai pembuktian bahwa menerbitkan buku banyak jalan yang bisa digunakan. Sehingga, bagi kami yang bergerak dalam dunia gerakan literasi makin kaya akan perspektif dalam mendorong gerakan ini.

Buku Jejak Dunia Yang Retak ini, diberi prolog oleh Eko Prasetyo, seorang penulis buku produktif dari Resist-Yogyakarta, dan dieditori oleh Sabbara, seorang penulis dan peneliti di Litbang Kementrian Agama, yang juga banyak menghiasi pergulatan pemikiran baik di Paradigma, Papirus maupun Boetta Ilmoe. Dan ini yang agak khas, karena diberi epilog oleh Dul Abdul Rahman, seorang penulis, novelis, cerpenis, yang juga memberikan epilog pada buku Narasi Cinta Dan Kemanusiaan.

Bolehlah saya nyatakan bahwa, hadirnya kedua buku tersebut, dalam rentang waktu yang nyaris bersamaan, semakin meyakinkan saya akan getaran literasi yang akan membuahkan gempa literasi. Perspektif kami makin luas, akan strategi gerakan literasi, karena sudah ada bentuk-bentuknya yang terakumulasi dalam model-model gerakan. Yang diperlukan adalah tetap menjaga api literasi tetap membara dan menyala pada setiap pegiat literasi, khususnya yang telah mengedar di tiga komunitas tersebut: Paradigma, Papirus dan Boetta Ilmoe.

Rasanya ingin segera memberi ucapan selamat kepada diri sendiri, atas kebahagiaan yang begitu melimpah ini, karena memang telah terasa getarannya. Tetapi sebelumnya, terlebih dahulu kuucapkan selamat kepada kalian berlima, para penulis muda, buah cerahan pikiranmu dan benih keruhanian hatimu, senantiasa kami tunggu pada barisan para pegiat literasi, di bawah naungan spirit alturuisme, seperti yang telah didedahkan oleh para altruist sebelum kita. Wallahu ‘alam bissawab.

Oleh Sulhan Yusuf
(Pegiat Komunitas dan Gerakan Literasi Makassar)

bahrulamsal punya blog: Anakanak dan Masa yang hilang

bahrulamsal punya blog: Anakanak dan Masa yang hilang: Dunia anakanak adalah dunia yang penuh dengan keriangan. Di masa anakanak dunia selalu ditafsirkan sebagai kenyataan yang dinamis. Sebuah ...

05 Juni 2013

mengapa menulis

Pada awalnya adalah sabda. Tertulis demikian dalam salah satu ayat kitab kristiani. Mulanya adalah sabda tuhan, kemudian tercipta segalanya.

Dalam perdebatan ilmu kalam islam; apakah sabda (wahyu) adalah awal mulanya sesuatu ataukah tuhan dengan dirinya sendiri yang menjadi permulaan? Sebab ada titik yang kronik, dimana sabda tuhan adalah  bagian diri dari tuhan ataukah dia ciptaan yang keluar dari keberadaannya?

Namun, satu hal yang pasti. Yang namanya sabda, ‘ucapan’ tuhan, dalam agamaagama manusia adalah pendulum dari iman atas keberadaan.

Pada titik ini, ‘ucapan’ tuhan yang telah menjadi teks suci adalah turbelensi yang mengendap dan tumbuh pada hidupmati manusia. Ketika dimana wahyu yang terendap dalam teks merupakan salah satu cara tuhan membangun komunikasi dengan mahluknya.

Pada situasi demikian, wahyu yang menyejarah dalam naik turun hidup manusia, menjadi teks yang hendak meluruskan kondisi umat manusia. Sebab, disuatu waktu, pada kitabnya, dimana para malaikat sempat sanksi; apakah tuhan akan mencipta satu jenis mahluk yang saling menumpahkan darah, maka tuhan menjawab; sesungguhnya aku lebih tahu dari apa yang kalian tak ketahui.

Maka, dari untuk menjaga sejarah manusia tidak saling menumpah darah, tuhan pencipta berbahasa. Wahyu adalah caranya.

***

Disuatu waktu saya sempat diberikan pertanyaan. Mengapa harus menulis? Kirakira seperti itu ilustrasi yang terjadi. Pada saat ketika berbincang, saya menjawab; menulis itu cara kita berada. Kita berada lewat dua hal, kata dan tulisan. Lewat kata dan tulisan kita sebenaranya sedang membangun dunia. Yang mana, pada dunia yang hendak kita dirikan adalah tempat yang memberikan kita suasana yang merdeka untuk berkreasi. Seperti tuhan, menulis adalah mencipta dunia. Dengan kuasa, dengan tangan sendiri.

Dan sepertinya, dunia hari ini, hidup yang kita jalani adalah hasil tangantangan kecil tuhan. Sejarah maupun peradaban adalah ilustrasi agung yang bisa kita cerap bahwa dunia sebenarnya dibangun dari kekuatan kata dan tulisan. Dimana dari sana, pemikiran bisa disemai, dibentuk, dirubuhkan, ditata kembali dan begitu seterusnya dalam seluruh sikap hidup kita.

Sehingga konon katanya, sejarah manusia dibentuk dari tulisan yang menyejarah.  Dan tak bisa kita tolak, kemajuan peradaban manusia adalah kemajuan budaya tulisannya. Dari tahun gua sampai tahun bawah tanah; tradisi tulisan adalah unsur dasar dari kemajuan sejarah manusia. Sehingga sejarah sebenarnya adalah sejarah teks.

03 Juni 2013

Solitut

Di mana pun engkau membalikkan rupamu, maka di sanalah Tuhan. Setidaknya saya membahasakan dalam cara yang berbeda. Begitulah yang tertulis, dalam kitab suci, dalam al qur’an. Tanda itu sekiranya berpesan pada manusia, mahluk yang lemah, bahwa di manapun, kapanpun dalam kelemahanmu lihatlah sekelilingmu, Tuhan tak jauh darimu. Bahkan lebih dekat dari urat lehermu, dalam ayatnya yang lain tertulis. Maka dalam tulisantulisan ahli batin, tuhan sesungguhnya bersemayam dalam diri manusia. Sebab barangkali itulah sebab konsep penyatuan bisa kita terima, disetiap yang ‘ada’ menampil Dia yang meliputi.

Artinya di sekeliling kita adalah Tuhan. Setidaknya Dia tampil dalam beragam tempat dan rupa; di kantorkantor, bukitbukit, di atas motor, Mall, kemarahan, Gudang, Mesjidmesjid, Gerejagereja tua, belas kasih, dalam Bis Kota, hutan belantara, kebencian, pasarpasar, rumah sakit, ganggang sempit, dendam ditengah lautan, di sekolahsekolah atau disamping dirumah kita sendiri. Ataukah bahkan kita adalah Tuhan itu sendiri. Dimana dalam bahasa yang lain hukum tuhan bekerja ditengahtengah kita. Melalui tangantangan kita sendiri.

Namun juga tuhan barangkali tengah cuti. Duduk santai kemudian sesekali menyeruput kopi. Berlibur di masa yang lain tengah sibuk, oleh sebab banyak yang telah menggantikan tempatnya. Di mana dia bosan dengan kekuatannya sendiri sehingga dia pergi meninggalkan kita. Berjalan pelanpelan menyelinap dari rutin kita yang melupakannya. Sehingga yang tersinya adalah kesendirian tuhan dalam rutin yang melupakan.

Maka barangkali Tuhan tengah sunyi, jauh dari mata kita..

25 Mei 2013

Banalitas Politik dan Postspiritualitas Partai Agama

Pada dua puluh Mei kemarin, bangsa Indonesia baru saja memperingati hari kebangkitan nasional. Momen yang merefleksikan sikap bangsa atas sejarah hari lahirnya Boedi Utomo dan Sumpah Pemuda. Sikap kebangkitan atas keterjajahan yang dialami Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah terdahlu.

Jika ditilik dari sejarah, bangsa Indonesia telah memperingatinya selang selama seratus lima puluh tahun. Dimana bukan waktu yang singkat dalam proses pendewasaannya. Artinya bangsa Indonesia bukan lagi bangsa yang kerdil dan kecil, melainkan bangsa yang selalu tumbuh besar dan  memetik pelajaran ditiap tahunnya untuk menampil perbaikan dari waktu kewaktu. Namun jika kita melihat kenyataan bangsa Indonesia di waktu sekarang, rasa-rasanya bangsa Indonesia banyak mengalami cobaan yang menghambatnya untuk menjadi bangsa yang digdaya. Banyak hal yang membuat kita miris. Salah satunya adalah bidang perpolitikan.

Politik sejatinya adalah penyelenggraan kekuasaan Negara dalam rangka untuk menetapkan tujuan dari suatu kebijakan. Dengan tujuan untuk mengikat kepentingan bersama dalam rangka pemenuhan hak-hak dari seluruh masyarakat. Dalam hal ini selama politik dijalankan atas etika pemenuhan hak-hak rakyatnya, maka suatu bangsa telah menyelenggarakan kekuasaannya dengan baik atas dasar kepentingan bersama.

Tetapi apa yang banyak kita simak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maupun apa yang diberitakan oleh media-media massa justru sebaliknya. Peragaan parlemen yang sering kita saksikan adalah ilustrasi perpolitikan yang banal dan dangkal. Dalam pengertian ini, anggota-anggota dewan sebagai the second hand Politic menampilkan perayaan akan matinya nalar etis berpolitik.

Politik;Banalitas Kekerasan

Banalitas kekerasan pertama kalinya dibilangkan oleh seorang filsuf politik kontemporer Hanna Arend dalam mengkonseptualisasikan situasi pelaku kekerasan yang tak memiliki tanda-tanda pernah berbuat tindak kekerasan. Hal demikian dilihatnya bahwa seorang pelaku kekerasan merasa wajar berbuat demikian (kekerasan) karena mendapatkan legal prosedural dari sistem yang menyituasikannya. Atau dengan kata lain suatu mekanisme kekerasan dapat terjadi berkat adanya dukungan kekuasaan yang membenarkannya.

Apa yang menghebohkan kita dari penyelenggaraan politik tanah air, dengan banyaknya kasus yang menjerat para pelaksana mandat politik rakyat, mendapatkan ilustrasinya dari apa yang dinyatakan oleh Hanna Arendt di waktu yang lain sebagai thoughtlessness (ketiadaan Pikiran).  Thoughtlessness adalah keadaan dimana penyelenggaraan kekerasaan atau kejahatan yang oleh pelaku dilakukan dengan kondisi psikis dan pikiran yang tampak biasa-biasa saja. Dimana kejahatan yang terjadi, dilakukan pada saat normal seperti manusia biasa pada umumnya, tanpa menyadari bahwa apa yang sebenarnya sedang dilakukan adalah sebuah tindak kejahatan.  Bisa kita bayangkan, di saat sedang menjalankan tugas sebagai seorang wakil rakyat yang notabene adalah warga pilihan, seorang koruptor dengan leluasanya menjalankan aksi kejahatannya tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang yang akan di alami oleh Negara dan keberlangsungan hajat orang banyak. Lebih mengecewakan lagi, ketika diproses dan diberikan tindak hukum, dijalani dengan berpenampilan seperti orang yang normal dan tampak lugu

Bisa kita lihat dari banyaknya kasus-kasus korupsi yang menimpa elit-elit parpol di tanah air, yang selama menjalani proses hukum berpenampilan seperti orang yang tak  pernah melakukan kejahatan apapun. Yang mana kesan yang diperankan seperti orang yang tampak religius, bermoral, taat hukum dan lain sebagainya. Dimana salah satu contohnya adalah kasus dagang sapi yang menimpa salah satu kader partai yang berlabelkan agama di tanah air akhir-akhir ini. Kasus yang turut melibatkan perempuan-perempuan cantik, perhiasan, uang dan mobil ini merupakan penanda bahwa kekerasan politik yang dilakukan memiliki spektrum yang luas dengan dukungan kekuasaan di dalamnya. Dimana kekerasan yang berlangsung mendapatkan legitimasinya dari embel-embel agama di belakangnya. Sehingga kekerasan yang ditampilkan adalah kejadian yang tampak normal akibat polesan dari yang berbau agama.

Postspritualisme partai agama

Apa yang dimaksud dengan postspiritualisme adalah keadaan dimana nilai-nilai dari suatu agama baik etis, moral, hukum, dan spritualitas mengalami kelampauan dari agama itu sendiri. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, terbalik dan terjungkirnya sistem tatanan nilai yang dimiliki oleh ajaran yang di anut oleh para penganut suatu agama. Dimana terjadi kekaburan pemaknaan antara yang hak dan yang bathil, yang bermoral dan yang amoral, yang sakral dan yang profane maupun yang halal dan yang haram.

Dari kasus yang menimpa salah satu partai agama di Negara ini, merupakan kondisi yang menjungkirbalikkan seluruh proses edukasi politik dalam era demokrasi sekarang ini. Dalam hal ini partai yang merunut seluruh visi misi politiknya berdasarkan suatu ajaran agama, mendapati dirinya dalam situasi yang tragis. Tentu demikian, karena partai yang bernafaskan agama, notabene adalah partai yang dianggap mengemban amanah politiknya berdasarkan prinsip-prinsip yang berasal dari agama yang bersangkutan. Dimana figur-figur yang ada adalah orang-orang yang dipilih dan dianggap mampu menjalankan amanah berdasarkan prinsip-prisnsip etis agamanya.

Namun apa yang dihadapi sekarang merupakan kenyataan yang sungguh mengenaskan. Oleh sebab terbaliknya apa yang dijargonkan dengan apa yang dilaksanakan. Keadaan ini secara kebudayaan adalah cermin buruk yang mengekspresikan dari apa yang di bilangkan oleh Yasraf Amir Pilliang sebagai dromologi politik. Yang mana penggambarannya dapat kita simak yakni, terjadinya pembalikkan dengan percepatan tiada tara atas nilai-nilai etis dalam dimensi politik. Sehingga nilai-nilai yang dianut dalam penyelenggaraan politik mengalami erosi penandaan dengan terjadinya pendangkalan arti dan kehilangan makna secara cepat.

Sehingga dari apa yang kita saksikan dalam pelaksanaan demokrasi pada perpolitikan kita adalah keadaan yang kehilangan rujukan nilainya. Oleh karena perpolitikan yang dalam mekanisme dan pengaplikasiannya ditampilkan dalam hingar binggar yang sarat kehampaan. Dimana efek dari keadaan demikian adalah degradasi yang membawa masyarakat pada keadaan yang bisa jadi berujung pada sikap apolitis. Hal ini dimungkinkan dengan  sebab maraknya letusan bencana yang menimpa para elit parpol selama ini.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...