05 Juni 2013

mengapa menulis

Pada awalnya adalah sabda. Tertulis demikian dalam salah satu ayat kitab kristiani. Mulanya adalah sabda tuhan, kemudian tercipta segalanya.

Dalam perdebatan ilmu kalam islam; apakah sabda (wahyu) adalah awal mulanya sesuatu ataukah tuhan dengan dirinya sendiri yang menjadi permulaan? Sebab ada titik yang kronik, dimana sabda tuhan adalah  bagian diri dari tuhan ataukah dia ciptaan yang keluar dari keberadaannya?

Namun, satu hal yang pasti. Yang namanya sabda, ‘ucapan’ tuhan, dalam agamaagama manusia adalah pendulum dari iman atas keberadaan.

Pada titik ini, ‘ucapan’ tuhan yang telah menjadi teks suci adalah turbelensi yang mengendap dan tumbuh pada hidupmati manusia. Ketika dimana wahyu yang terendap dalam teks merupakan salah satu cara tuhan membangun komunikasi dengan mahluknya.

Pada situasi demikian, wahyu yang menyejarah dalam naik turun hidup manusia, menjadi teks yang hendak meluruskan kondisi umat manusia. Sebab, disuatu waktu, pada kitabnya, dimana para malaikat sempat sanksi; apakah tuhan akan mencipta satu jenis mahluk yang saling menumpahkan darah, maka tuhan menjawab; sesungguhnya aku lebih tahu dari apa yang kalian tak ketahui.

Maka, dari untuk menjaga sejarah manusia tidak saling menumpah darah, tuhan pencipta berbahasa. Wahyu adalah caranya.

***

Disuatu waktu saya sempat diberikan pertanyaan. Mengapa harus menulis? Kirakira seperti itu ilustrasi yang terjadi. Pada saat ketika berbincang, saya menjawab; menulis itu cara kita berada. Kita berada lewat dua hal, kata dan tulisan. Lewat kata dan tulisan kita sebenaranya sedang membangun dunia. Yang mana, pada dunia yang hendak kita dirikan adalah tempat yang memberikan kita suasana yang merdeka untuk berkreasi. Seperti tuhan, menulis adalah mencipta dunia. Dengan kuasa, dengan tangan sendiri.

Dan sepertinya, dunia hari ini, hidup yang kita jalani adalah hasil tangantangan kecil tuhan. Sejarah maupun peradaban adalah ilustrasi agung yang bisa kita cerap bahwa dunia sebenarnya dibangun dari kekuatan kata dan tulisan. Dimana dari sana, pemikiran bisa disemai, dibentuk, dirubuhkan, ditata kembali dan begitu seterusnya dalam seluruh sikap hidup kita.

Sehingga konon katanya, sejarah manusia dibentuk dari tulisan yang menyejarah.  Dan tak bisa kita tolak, kemajuan peradaban manusia adalah kemajuan budaya tulisannya. Dari tahun gua sampai tahun bawah tanah; tradisi tulisan adalah unsur dasar dari kemajuan sejarah manusia. Sehingga sejarah sebenarnya adalah sejarah teks.

03 Juni 2013

Solitut

Di mana pun engkau membalikkan rupamu, maka di sanalah Tuhan. Setidaknya saya membahasakan dalam cara yang berbeda. Begitulah yang tertulis, dalam kitab suci, dalam al qur’an. Tanda itu sekiranya berpesan pada manusia, mahluk yang lemah, bahwa di manapun, kapanpun dalam kelemahanmu lihatlah sekelilingmu, Tuhan tak jauh darimu. Bahkan lebih dekat dari urat lehermu, dalam ayatnya yang lain tertulis. Maka dalam tulisantulisan ahli batin, tuhan sesungguhnya bersemayam dalam diri manusia. Sebab barangkali itulah sebab konsep penyatuan bisa kita terima, disetiap yang ‘ada’ menampil Dia yang meliputi.

Artinya di sekeliling kita adalah Tuhan. Setidaknya Dia tampil dalam beragam tempat dan rupa; di kantorkantor, bukitbukit, di atas motor, Mall, kemarahan, Gudang, Mesjidmesjid, Gerejagereja tua, belas kasih, dalam Bis Kota, hutan belantara, kebencian, pasarpasar, rumah sakit, ganggang sempit, dendam ditengah lautan, di sekolahsekolah atau disamping dirumah kita sendiri. Ataukah bahkan kita adalah Tuhan itu sendiri. Dimana dalam bahasa yang lain hukum tuhan bekerja ditengahtengah kita. Melalui tangantangan kita sendiri.

Namun juga tuhan barangkali tengah cuti. Duduk santai kemudian sesekali menyeruput kopi. Berlibur di masa yang lain tengah sibuk, oleh sebab banyak yang telah menggantikan tempatnya. Di mana dia bosan dengan kekuatannya sendiri sehingga dia pergi meninggalkan kita. Berjalan pelanpelan menyelinap dari rutin kita yang melupakannya. Sehingga yang tersinya adalah kesendirian tuhan dalam rutin yang melupakan.

Maka barangkali Tuhan tengah sunyi, jauh dari mata kita..

25 Mei 2013

Banalitas Politik dan Postspiritualitas Partai Agama

Pada dua puluh Mei kemarin, bangsa Indonesia baru saja memperingati hari kebangkitan nasional. Momen yang merefleksikan sikap bangsa atas sejarah hari lahirnya Boedi Utomo dan Sumpah Pemuda. Sikap kebangkitan atas keterjajahan yang dialami Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah terdahlu.

Jika ditilik dari sejarah, bangsa Indonesia telah memperingatinya selang selama seratus lima puluh tahun. Dimana bukan waktu yang singkat dalam proses pendewasaannya. Artinya bangsa Indonesia bukan lagi bangsa yang kerdil dan kecil, melainkan bangsa yang selalu tumbuh besar dan  memetik pelajaran ditiap tahunnya untuk menampil perbaikan dari waktu kewaktu. Namun jika kita melihat kenyataan bangsa Indonesia di waktu sekarang, rasa-rasanya bangsa Indonesia banyak mengalami cobaan yang menghambatnya untuk menjadi bangsa yang digdaya. Banyak hal yang membuat kita miris. Salah satunya adalah bidang perpolitikan.

Politik sejatinya adalah penyelenggraan kekuasaan Negara dalam rangka untuk menetapkan tujuan dari suatu kebijakan. Dengan tujuan untuk mengikat kepentingan bersama dalam rangka pemenuhan hak-hak dari seluruh masyarakat. Dalam hal ini selama politik dijalankan atas etika pemenuhan hak-hak rakyatnya, maka suatu bangsa telah menyelenggarakan kekuasaannya dengan baik atas dasar kepentingan bersama.

Tetapi apa yang banyak kita simak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maupun apa yang diberitakan oleh media-media massa justru sebaliknya. Peragaan parlemen yang sering kita saksikan adalah ilustrasi perpolitikan yang banal dan dangkal. Dalam pengertian ini, anggota-anggota dewan sebagai the second hand Politic menampilkan perayaan akan matinya nalar etis berpolitik.

Politik;Banalitas Kekerasan

Banalitas kekerasan pertama kalinya dibilangkan oleh seorang filsuf politik kontemporer Hanna Arend dalam mengkonseptualisasikan situasi pelaku kekerasan yang tak memiliki tanda-tanda pernah berbuat tindak kekerasan. Hal demikian dilihatnya bahwa seorang pelaku kekerasan merasa wajar berbuat demikian (kekerasan) karena mendapatkan legal prosedural dari sistem yang menyituasikannya. Atau dengan kata lain suatu mekanisme kekerasan dapat terjadi berkat adanya dukungan kekuasaan yang membenarkannya.

Apa yang menghebohkan kita dari penyelenggaraan politik tanah air, dengan banyaknya kasus yang menjerat para pelaksana mandat politik rakyat, mendapatkan ilustrasinya dari apa yang dinyatakan oleh Hanna Arendt di waktu yang lain sebagai thoughtlessness (ketiadaan Pikiran).  Thoughtlessness adalah keadaan dimana penyelenggaraan kekerasaan atau kejahatan yang oleh pelaku dilakukan dengan kondisi psikis dan pikiran yang tampak biasa-biasa saja. Dimana kejahatan yang terjadi, dilakukan pada saat normal seperti manusia biasa pada umumnya, tanpa menyadari bahwa apa yang sebenarnya sedang dilakukan adalah sebuah tindak kejahatan.  Bisa kita bayangkan, di saat sedang menjalankan tugas sebagai seorang wakil rakyat yang notabene adalah warga pilihan, seorang koruptor dengan leluasanya menjalankan aksi kejahatannya tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang yang akan di alami oleh Negara dan keberlangsungan hajat orang banyak. Lebih mengecewakan lagi, ketika diproses dan diberikan tindak hukum, dijalani dengan berpenampilan seperti orang yang normal dan tampak lugu

Bisa kita lihat dari banyaknya kasus-kasus korupsi yang menimpa elit-elit parpol di tanah air, yang selama menjalani proses hukum berpenampilan seperti orang yang tak  pernah melakukan kejahatan apapun. Yang mana kesan yang diperankan seperti orang yang tampak religius, bermoral, taat hukum dan lain sebagainya. Dimana salah satu contohnya adalah kasus dagang sapi yang menimpa salah satu kader partai yang berlabelkan agama di tanah air akhir-akhir ini. Kasus yang turut melibatkan perempuan-perempuan cantik, perhiasan, uang dan mobil ini merupakan penanda bahwa kekerasan politik yang dilakukan memiliki spektrum yang luas dengan dukungan kekuasaan di dalamnya. Dimana kekerasan yang berlangsung mendapatkan legitimasinya dari embel-embel agama di belakangnya. Sehingga kekerasan yang ditampilkan adalah kejadian yang tampak normal akibat polesan dari yang berbau agama.

Postspritualisme partai agama

Apa yang dimaksud dengan postspiritualisme adalah keadaan dimana nilai-nilai dari suatu agama baik etis, moral, hukum, dan spritualitas mengalami kelampauan dari agama itu sendiri. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, terbalik dan terjungkirnya sistem tatanan nilai yang dimiliki oleh ajaran yang di anut oleh para penganut suatu agama. Dimana terjadi kekaburan pemaknaan antara yang hak dan yang bathil, yang bermoral dan yang amoral, yang sakral dan yang profane maupun yang halal dan yang haram.

Dari kasus yang menimpa salah satu partai agama di Negara ini, merupakan kondisi yang menjungkirbalikkan seluruh proses edukasi politik dalam era demokrasi sekarang ini. Dalam hal ini partai yang merunut seluruh visi misi politiknya berdasarkan suatu ajaran agama, mendapati dirinya dalam situasi yang tragis. Tentu demikian, karena partai yang bernafaskan agama, notabene adalah partai yang dianggap mengemban amanah politiknya berdasarkan prinsip-prinsip yang berasal dari agama yang bersangkutan. Dimana figur-figur yang ada adalah orang-orang yang dipilih dan dianggap mampu menjalankan amanah berdasarkan prinsip-prisnsip etis agamanya.

Namun apa yang dihadapi sekarang merupakan kenyataan yang sungguh mengenaskan. Oleh sebab terbaliknya apa yang dijargonkan dengan apa yang dilaksanakan. Keadaan ini secara kebudayaan adalah cermin buruk yang mengekspresikan dari apa yang di bilangkan oleh Yasraf Amir Pilliang sebagai dromologi politik. Yang mana penggambarannya dapat kita simak yakni, terjadinya pembalikkan dengan percepatan tiada tara atas nilai-nilai etis dalam dimensi politik. Sehingga nilai-nilai yang dianut dalam penyelenggaraan politik mengalami erosi penandaan dengan terjadinya pendangkalan arti dan kehilangan makna secara cepat.

Sehingga dari apa yang kita saksikan dalam pelaksanaan demokrasi pada perpolitikan kita adalah keadaan yang kehilangan rujukan nilainya. Oleh karena perpolitikan yang dalam mekanisme dan pengaplikasiannya ditampilkan dalam hingar binggar yang sarat kehampaan. Dimana efek dari keadaan demikian adalah degradasi yang membawa masyarakat pada keadaan yang bisa jadi berujung pada sikap apolitis. Hal ini dimungkinkan dengan  sebab maraknya letusan bencana yang menimpa para elit parpol selama ini.

22 Mei 2013

Anakanak dan Masa yang hilang

Dunia anakanak adalah dunia yang penuh dengan keriangan. Di masa anakanak dunia selalu ditafsirkan sebagai kenyataan yang dinamis. Sebuah kenyataan yang tidak hendak untuk diseriusi. Dimana pada kenyataan demikian, kesadaran anakanak tidak sama dengan logika manusia dewasa yang selalu menganggap dunia sebagai masa yang di amanahi tanggung jawab. Singkat kata, kenyataan di masa anakanak adalah kenyataan yang diterima tanpa ada intrepertasi normative. Dunia anakanak adalah dunia bermain.

Maka tak heran jika dimasa kanakkanak, dalam memperkenalkan kenyataan yang akan di jalani kelak, sedikit banyak bersentuhan dengan dunia permainan.  Anakanak dan permainan merupakan dunia yang memiliki hukum logika tersendiri. 

Tidak seperti dunia orang dewasa yang penuh dengan tanggung jawab, aturan, maupun ikatan imperative yang mengikat, dunia anakanak adalah permainan dengan alam kebebasan. Dalam bermain, anakanak bisa melakukan apa saja, tidak ada jejaring kekuasaan berlaku. Dimana permainan menyituasikan anakanak sebagai subjek yang merdeka, tanpa harus khawatir melakukan sesuatu. Di waktu inilah daya imajinasi mendapatkan posisinya sebagai bahasa anakanak.

Kaum Muda Menentang Kapitalisme Global

(Tulisan ini merupakan tulisan di sekitar tahun 2006/2007, dengan telah mengalami editan sanasini)

Hati nurani pasti terketuk
pada titik ketertindasan dari hak-hak yang ada
Maka Kaum muda adalah hati nurani
Yang selalu berteriak dengan semangat perlawanan terhadap
Penindasan apapun.

Sistem ekonomi kapitalisme memiliki mekanisme kerja  berdasarkan  tiga komponen utama yakni kaum pemodal, tenaga kerja, dan pasar melalui corak hubungan produksi. Keuntungan kapital kaum pemodal, telah melahirkan banyak implikasi terhadap kondisi masyarakat yang dijadikan sebagai lahan komoditinya. Proses kerja dari tiga komponen basis struktur kemudian mengarahkan kita pada arena pasar bebas, dimana di dalamnya terjadi pembantaian secara massal akan nasib berjuta-juta manusia.

Lahirnya kesenjangan kelas, bertambahnya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, banyaknya anak-anak didik yang putus sekolah, berdiri dan bertambahnya gedung-gedung pencakar langit hingga sampai menyituasikan kondisi masyarakat yang berwatak konsumerisme adalah beberapa fenomena yang lahir akibat permainan apik dari sistem kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme dengan perangkat hegemonik melalui mekanisme penghisapan dan penindasan, telah melahirkan penjajahan bergaya baru dengan cara konsep depedensi ekonomi. Dampaknya cukup luar biasa terhadap segala sendi kehidupan umat manusia.

20 Mei 2013

Zaman

Zaman tak selamanya bisa dilawan. Yang mana di suatu waktu, arti sebuah perlawanan adalah persepsi yang dibangun dari situasi yang melingkupi. Zaman boleh saja meninggalkan halhal yang kita jaga dari percepatan waktu. Tetapi kekuatan sebuah perlawanan selalu bermula dari seberapa besar persepsi yang kita berikan kepada kenyataan. Dimana pada kekuatan persepsi, kenyataan menjadi berbeda dan lain. Barangkali disinilah letak perbedaan orangorang besar, bahwa hakikat kenyataan terkadang membutuhkan pikiran besar.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...