20 Agustus 2012

Muhammad Iqbal

Berbicara masalah Islam dan pemikiran tokoh-tokohnya, seberapapun lamanya tidaklah cukup untuk membahasnya. Mengingat begitu banyak sekali kajian-kajian Islam berikut pemikiran-pemikiran para tokohnya, yang telah berhasil mengukir sejarah dan melahirkan peradaban baru bagi umat Islam. Salah satu tokoh di antara sekian banyak tokoh dalam khazanah pemikiran Islam adalah Muhammad Iqbal. Seorang penyair yang dikenal pula sebagai seorang filosof maupun mistikus abad 20

Muhammad Iqbal adalah sosok besar dalam khazanah kebudayaan Islam. Pemikirannya dikemasnya dalam bentuk puisi, dan itu membuatnya abadi. Muhammad Iqbal, lahir 9 November 1877 di Punjab India. Dia adalah seorang filsuf, pemikir, cendekiawan, ahli perundangan, reformis, politikus, dan yang terutama: penyair. Dia berjuang untuk kemajuan umat Islam dan menjadi “Bapa Spiritual” Pakistan.

Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara dalam keluarga Kashmir. Ayahandanya Syaikh Nur Muhammad memiliki kedekatan dengan kalangan Sufi. Karena kesalehan dan kecerdasannya, penjahit yang cukup berhasil ini dikenal memiliki perasaan mistis yang dalam serta rasa keingintahuan ilmiah yang tinggi. Tak heran, jika Nur Muhammad dijuluki kawan-kawannya dengan sebutan "sang filosof tanpa guru". Ibunda Iqbal, Imam Bibi, juga dikenal sangat religius. Ia membekali kelima anaknya, tiga putri dan dua putra, dengan pendidikan dasar dan disiplin keislaman yang kuat. Di bawah bimbingan kedua orangtuanya yang taat inilah Iqbal tumbuh dan dibesarkan. Kelak di kemudian hari, Iqbal sering berkata bahwa pandangan dunianya tidaklah dibangun melalui spekulasi filosofis, tetapi diwarisi dari kedua orangtuanya tersebut. 

Setelah dewasa ia masuk Government College di Lahore di mana dia belajar filsafat, sastra Inggris dan Arab dan memperoleh gelar Bachelor of Arts, lulus cum laude. Pada 1905, Iqbal pergi ke Inggris untuk belajar di Trinity College, Cambridge University, dan juga belajar ilmu hukum di Lincoln Inn. Dia meraih gelar Bachelor of Arts dari Cambridge University tahun 1907, dan meraih gelaran Ph.D. di bidang filsafat dari Fakulti Filsafat di Ludwig-Maximilians University di Munich di tahun yang sama. Gelaran doktoralnya ini diraihnya dengan disertasi The Development of Metaphysics in Persian dengan bimbingan Prof Dr Friedrich Hommel.

Iqbal adalah seorang pemikir yang hidup dalam kondisi dimana negaranya sedang dalam kondisi terjajah. Pada kondisi inilah Muhammad Iqbal banyak mencetuskan konsep politik yang kelak mengilhami berdirinya negara Pakistan. Berkat aktifitas politiknya, sepulang dari Eropa Ia bergabung dalam Partai Liga Muslim India, melalui partai inilah ia menjalankan aktivitas politiknya. Iqbal juga memiliki pandangan politik yang khas yaitu; gigih menentang nasionalisme yang mengedepankan sentiment etnis dan kesukuan (ras). Bagi dia, kepribadian manusia akan tumbuh dewasa dan matang di lingkungan yang bebas dan jauh dari sentiment nasionalisme. Iqbal memiliki pemikiran politik yang dinamis menyangkut pemerintahan Islam, baginya Islam dan politik bukanlah dua entitas yang dikotomis melainkan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Salah satu pemikirannya yakni umat Islam haruslah memiliki negara sendiri, hal demikian sangatlah wajar jika kita melihat bahwa dalam konteks dimana Iqbal berada India memiliki dua keyakinan yang saling berseteru yakni Islam dan Hindu.

Iqbal juga sangat dipengaruhi oleh Jalaluddin Rumi, Mistikus asal persia. Ia juga pengagum berat Friedrich Nietzsche, Henri Bergson dan Goethe. Bahkan Iqbal menjadikan Rumi sebagai “panduannya”. Nietzsche dan Bergson sangat mempengaruhi Iqbal khususnya konsepnya tentang hidup sebagai kehendak kreatif yang terus bergerak menuju realisasi. Manusia sebagai kehendak kreatif tidak bisa dibelenggu oleh hukum mekanis maupun takdir sebagai rencana Tuhan terhadap manusia yang ditetapkan sebelum penciptaan. Namun semangat relegius Iqbal menyelamatkannya dari sikap atheisme yang dianut Nitzsche sebagai konsekuensi kebebasan kreatif manusia. Iqbal masih mempertahankan Tuhan dan mengemukakan argumentasi yang bisa mendamaikan kemahakuasaan Tuhan dengan kebebasan manusia.

Iqbal juga menolak konsep Nitzsche maupun Bergson tentang kehendak sebagai sesuatu yang buta, khaotis, tanpa tujuan. Iqbal mengatakan bagaimanapun orang sadar bahwa dalam kehendaknya ia memiliki tujuan karena kalau tidak buat apa ia berkehendak, namun Iqbal menolak tujuan sebagai tujuan yang bukan ditetapkan oleh manusia sendiri melainkan oleh takdir atau hukum evolusionistik.

Pemikiran Iqbal juga dapat kita kenali pada pengkajiannya tentang manusia terkhusus pada konsep ego yang ia tawarkan. Dalam pemikirannya tentang ego, Iqbal memberikan peristilahan yang lain. Khudi adalah istilah yang bagi Iqbal selaras dengan pemaknaan ego yang kerap kali dipakai sebagai terma kunci para sufi. Menurut Iqbal, khudi, arti harfiahnya ego atau self atau individualitas, merupakan suatu kesatuan yang riil atau nyata, adalah pusat dan landasan dari semua kehidupan, merupakan suatu iradah kreatif yang terarah secara rasional. Arti terarah secara rasional, menjelaskan bahwa hidup bukanlah suatu arus tak terbentuk, melainkan suatu prinsip kesatuan yang bersifat mengatur, suatu kegiatan sintesis yang melingkupi serta memusatkan kecenderungan-kecenderungan yang bercerai-berai dari organisme yang hidup ke arah suatu tujuan konstruktif. Ego bagi Iqbal adalah kausalitas pribadi yang bebas. Ia mengambil bagian dalam kehidupan dan kebebasan Ego mutlak. Sementara itu, aliran kausalitas dari alam mengalir ke dalam ego dan dari ego ke alam. Karena itu, ego dihidupkan oleh ketegangan interaktif dengan lingkungan. Dalam keadaan inilah Ego Mutlak membiarkan munculnya ego relatif yang sanggup berprakarsa sendiri dan membatasi kebebasan ini atas kemauan bebasnya sendiri. Menurut Iqbal, nasib sesuatu tidak ditentukan oleh sesuatu yang bekerja di luar. Takdir adalah pencapaian batin oleh sesuatu, yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dapat direalisasikan yang terletak pada kedalaman sifatnya. Pemikiran ini sekaligus menjadi bantahan terhadap pemikiran Nitzsche yang memandang ego manusia hanya ditujukan pada ekses kekuasaan.

Menyangkut metafisika, Iqbal pun menceburkan diri untuk bergabung bersama para filsuf untuk mencurahkan diri terhadap pengkajian terhadap masalah ketuhanan. Filsafat ketuhanan Iqbal berbeda dengan filsafat ketuhanan kontemplatif karena Iqbal berangkat dari filsafat manusia yang menekankan pengetahuan langsung tentang keberadaan ego atau diri yang bebas-kreatif. Menurut Iqbal manusia bukanlah benda statis tetapi suatu aktivitas gerak dinamis-kreatif yang terus merindu akan kesempurnaan. Baginya Cintalah yang mendorong manusia untuk melakukan penyempurnaan diri lewat proses intuitif yang mampu membawa manusia menjadi manusia yang sempurna. Iqbal menawarkan tiga tahapan yang mesti dilewati manusia untuk melakukan proses penyempurnaan. Pertama, setiap individu harus belajar mematuhi dan secara sabar tunduk kepada kodrat makhluk dan hukum-hukum ilahiah. Kedua, belajar berdisiplin dan diberi wewenang untuk mengendalikan dirinya melalui rasa takut dan cinta kepada Tuhan seraya tidak bergantung pada dunia. Ketiga, menyelesaikan perkembangan dirinya dan mencapai kesempurnaan spiritual (Insan Kamil).

Dari sudut yang lain, Iqbal adalah negarawan yang gigih mengecam alam pemikiran barat yang dinilainya sebagai pemikiran yang menyeret manusia hanya berkutat pada dimensi material. Salah satu kecamannya menyangkut budaya Barat adalah budaya imperialisme, materialisme, anti spiritual dan jauh dari norma insani. Karenanya ia sangat menentang pengaruh buruk budaya Barat. Ia juga sangat prihatin terhadap masyarakat India yang disatu sisi mendapatkan jajahan oleh koloni Inggris dan di sisi lain mendapati hampir sebahagian besar masih banyak masyarakat India yang tidak mampu memahami isi kandungan al qur’an lebih disebabkan oleh masih kentalnya ajaran hindu yang dikonsumsi oleh muslim India.

Iqbal adalah seorang yang gigih dalam menawarkan konsep pemikiran Islam sebagai alternativ untuk kemajuan manusia yang hidup dalam alam pemikiran barat. Banyak belajar di Negeri barat tak membuatnya lupa akan api Islam yang menempatkannya sebagai pemikir yang patut diberikan apresiasi yang tinggi, apalagi banyak pemikirannya yang senantiasa menjadikan dia sebagai tokoh yang mengintrepetasikan Islam sebagai ajaran yang futurustik dan dinamis. Ia memberikan pelabelan Islam tak seperti ajaran agama yang lain. Baginya Islam bukanlah ajaran yang fatalistik dimana memberikan kepasrahan bagi penganutnya sebagaimana ajaran mistisisme timur lainnya dan juga bukan sebuah ajaran yang hanya berbicara sebatas dimensi material belaka sebagaimana pemikiran barat yang materialistik. Akhirnya bukanlah Iqbal jika kita membicarakannya tanpa menghadirkan sisi mistisisme dari dirinya. Sebagaimana didalam perkataannya “Jadilah manusia-Tuhan, kandunglah rahasia dalammu”.[]

19 Juni 2012

Merawat Keberanian Anak Muda[1]

Prolog
Eko Prasetyo[2]



Barangsiapa diam di hadapan kezaliman maka dia menjadi seolah-olah seorang iblis
(Rasulullah SAW)

Hal terbaik yang dapat anda lakukan untuk orang lain bukan sekedar berbagi kekayaan Anda, melainkan membuatnya menyadari kekayaan dirinya (Benjamin Disraeli)

Kita tahu apa yang paling berharga di masa muda. Petualangan dan keberanian. Nyala keberanian itu yang membawa Che Guevara menuju Kuba. Bersama Fidel Castro dilintasi lautan dan belantara hutan untuk sebuah cita-cita yang mungkin agak nekad: kekuasaan yang bersendi keadilan. Dunia sebut perjuangan itu sebagai sosialisme. Sebagian dengan antusias memberinya julukan komunisme. Apapun itu kini Kuba berdiri dengan penuh martabat: angka melek hurufnya paling tinggi, jaminan kesehatan penduduk paling ampuh dan yang terpenting minim hutang luar negeri. Castro tua itu masih menyimpan bara semangat anak muda; diejeknya Obama dan dipujinya Hugo Chavez.

19 Mei 2012

Asketisme Leo Tolstoy

AWALNYA melimpah, selebihnya hidup dalam asketisme.

Setidaknya itu yang dialami Leo Tolstoy. Bak seorang manusia suci mengalami sebuah pergolakan batin. Barangkali ia rindu pada apa yang menjadi harapan semua orang yakni hidup di dalam rahmat Tuhan.  

Tapi, terkadang kerinduan membutuhkan satu pengorbanan besar di mana hidup harus dipandang dengan cara tak biasa. Leo Tolstoy mengalami pengalaman batin mendorong ia menanggalkan segalanya:  gelar, status sosial bahkan berhektar-hektar tanah yang ia miliki.

Transformasi hidup kerap dimulai dari kegoncahan iman. Hingga akhirnya suatu pilihan mesti dibayar dengan harga yang mahal. Keberanian mengubah bukan berarti tanpa risiko. Dalam hal ini Leo Tolstoy meninggalkan kemapanan hidup demi menemukan ihwal yang subtil dalam kehidupan.

Syahdan, ia hidup dikepung harta benda tak terhingga. Ia menjadi tuan tanah dengan ratusan petani pekerja. Hidup di dalam rumah bak istana raja.  Lengkap dengan lakon hidup teratur di dalamnya.
Namun ia menemui batu besar dalam dirinya. Sebuah pertanyaan mendasar yang belum mampu ia tuturkan dalam deret argumentasi yang teoritik. Ia menulis;

”Pertanyaan -yang memenuhi benakku pada usia 50 tahun membuatku hampir bunuh diri- adalah pertanyaan paling sederhana…”

Dalam satu tarikan napas:

”…yang tertanam di dalam jiwa setiap orang, mulai anak yang bodoh hingga orang dewasa yang paling bijak. Itu adalah pertanyaan tanpa jawaban yang tak bisa ditangung seorangpun sebagaimana kuketahui dari pengalaman. Pertanyaan itu adalah apa yang akan terjadi dari apa yang kulakukan hari ini atau yang akan kulakukan besok? Apa yang akan terjadi dengan seluruh hidupku?”

Di usia 50 ia terdorong keluar dari pemikiran mapan. Pemikiran yang dimulai pada masa kanak-kanak berupa iman Kristen ortodoks. Masa kecil yang disokong sakramen-sakramen upacara misa dan puasa-puasa ketat.

Dengan kata lain, di usia 50 ia mengambil jedah. Dengan pertanyaan ini, ia menampik hidup untuk sebuah jawaban yang entah. Sebuah permulaan yang meneruskan satu sikap hidup yang bakal mengubah segalanya.

Hidup dalam ukuran seorang Tolstoy; menulis, meminum anggur, pesta dansa, dan wanita, di mana hidup sebagai seorang muda dijalani dengan pandangan hidup anti kristus. Menjadi seorang pada tahun-tahun di mana menghabiskan waktu di meja judi adalah kehidupan yang dinilai normal namun sekaligus menjemukkan;

”…aku tak bisa memikirkan tahun-tahun itu tanpa kengerian, perasaan muak sekaligus kepiluan. Aku telah membunuh banyak lelaki….aku kalah dalam permainan kartu, memeras tenaga para petani, menjatuhkan mereka dalam hukuman…Aku menipu, merampok, berzina…dan orang-orang sezamanku dianggap dan menganggapku sebagai orang yang termasuk bermoral.”

Namun interupsi itu datang. “Apa yang akan terjadi dengan seluruh hidupku?” Sebuah pilihan untuk hijrah.

Hijrah? Mungkin adalah keniscayaan gerak. Proses yang harus dialami seluruh manusia. Di mana konsekuensinya adalah sebuah jalan tak punya ujung. Dan di sana ada pilihan. Maka seorang Tolstoy mengerti; hidup adalah perjalanan yang dirunut untuk dilangkahi. Ia, seorang tua, bermula dari sebuah pertanyaan yang eksplosiv; apa hujung dari apa yang kita sebut sebagai hidup?




ADA adagium masyur dari Socrates; hidup tak terperiksa adalah hidup yang tak patut dijalani.  Dan mungkin saja di suatu waktu,  kita mendapati kenyataan yang tak bisa kita duga sebelumnya, kemudian membuat kita terhenyak. Berusaha melihat secara terbuka untuk mencari jalan keluar dari apa yang terjadi. Dan di sini, pada titik ini, barangkali adagium dari Socrates kemudian berlaku. Di mana sebuah permenungan kemudian menjadi aktifitas yang menuntut laku sunyi; refleksi diri.

Namun, di mana zaman tengah tumbuh melesat, melakoni hidup seperti orang-orang soliter menjadi kian sulit. Di luar sana, pada apa yang kita katakan sebagai kehidupan, sedang terburu buru membawa dirinya pada titik entah. Di mana waktu dan ruang dimobilisasi sedemikian cepat, sehingga membuat hidup menjadi hal yang begitu cepat menguap.  Barangkali itulah hukum modernitas, segala begitu cepat berlalu, semuanya begitu licin dipertahankan.

Dari diri Tolstoy kita bisa belajar harta benda, status sosial, dan kekuasaan tak membuatnya harus takluk. Suatu waktu ia bakal tahu, apa yang ia miliki bisa menjerumuskannya pada situasi yang mencuri kedaulatannya.

Setidaknya dari seorang Tolstoy maupun Socrates kita bisa belajar, modernitas atau zaman yang ugalugalan ini, dengan percepatan komoditas, mobilisasi waktu, pemapatan ruang,  di mana terjadi pembalikan pada seluruh tatanan nilai, membuat kita harus tahu dan percaya tentang satu hal; di luar sana, nilai kedaulatan kita sebagai manusia tengah direcoki.[] 

30 Maret 2012

Ihwal Perubahan

Hari-hari ke depan mungkin akan penuh gemuruh. Jalan raya menjadi ramai, dan mahasiswa tentu punya agendanya sendiri. Harihari belakangan ini, kita dibuat resah, banyak caci maki menjadi hal yang mendekati ujaran yang banal, aspirasi menjadi ihwal yang penting, sebab di penghujung bulan nanti, presiden RI akan berdiri di atas podium Negara, berdiri menghadap seluruh masyarakat sabang merauke, dan tentu dengan kesannya yang kita kenal betul; mimik muka yang melankolis, tutur ucap yang telah ditata, dibagian mana intonasi harus ditekan pada katakata tertentu,  warna baju apa yang harus melambangkan  kecocokan dengan audiens dan tentu isi pengumuman itu sendiri, dengan teori-teori ekonomi makro mutakhir, tentang nasib, tentang naik tidaknya bahan bakar minyak.

Pidato, Jalan raya dan mahasisiwa di harihari ini kerap semakin akrab. Agenda yang serempak harus segera dijalankan. Agenda pemerintah dengan menaikkan harga bahan bakar minyak menjadi topik yang tibatiba genting. Dan jalan raya menjelma sebagai narasi yang mempertautkan ideide perubahan yang selama ini dilancung oleh sistem. Maka analisis tentang perihal kebijakan dihampar pada setiap ruang-ruang dialog. Di mana di sana ada persandingan isu-isu tentang perubahan sebuah negeri yang ingin merdeka. Teori-teori perubahan sosial pun pada akhirnya kembali mendapatkan momennya untuk dibincang kembali. Namun pada negara seperti Indonesia, seluruh teori yang punya kesan ingin merubah tatanan sistem pemerintahan dipending untuk diajarkan. Bahkan sekalipun bisa jadi harus di berangus. Maka antara hari-hari kemarin dan hari-hari seperti ini, ide-ide perubahan mendapatkan sinyalemennya yang kurang tegas.

Sebagai narasi, maka sebuah penceritaan selalu dimulai dengan permulaan.  Mengkisahkan aktoraktor yang punya peran di dalamnya, dan apa yang dilakukan belakangan ini; apa yang sering dikatakan sebagai aksi jalanan, sedang dalam kehilangan aktornya.  Maka di saat seperti ini, jalan raya menjadi pentas  yang memainkan peran-peran pada sebuah gerakan yang tak memiliki aktornya.

Perihal ini, Weber, seorang jerman, punya teori. Perubahan penting untuk dimulai dengan kepemimpinan, yang mana punya posisi strategis dalam  penentuan arah perubahan sosial. Tentu weber memiliki iman bahwa massa jalanan tak selamanya adalah hal yang sadar dengan kondisi yang melatarbelakanginya. Menyangkut ini, Weber menampik jenis gerakan yang akhirnya bisa jadi  lancung di tengah jalan. Yang mana sebuah arah bisa jadi adalah kehendak yang menampik ruang permenungan. 

Dengan begitu, galibnya sebuah suara protes di tengah gerombolan massa hanya menjadi suara yang panca. Maka kehadiran ideide perubahan harus disemai di tengahtengah massa. Teori-teori harus menjadi bagian integral dalam menata realitas, bergumul dengan realitas sebagai jalan dialektis.  Di mana pada titik seperti ini, kerap teori-teori besar harus kembali di ujicoba, difalsifikasi pada tepian realitas yang kerap jamak, sehingga tak ada ide yang mutlak tunggal, yang berarti ada kemungkinan sebuah teori besar harus memberi jalan bagi ide-ide yang minor.

Namun jalan perubahan, tak selamanya mengisyaratkan perlunya sebuah ide yang sempurna betul. Sebab ide yang sempurna betul punya jalannya sendiri.   Terkadang ide yang sempurna hadir dengan jaraknya yang jauh dengan kondisi keadaan manusia. Kita lihat betapa ide-ide besar menjadi teropong yang memberi batas pada apa yang dapat dilihat dan apa yang tak dapat dilihat. Dan dengan demikian perubahan dengan mengusung ideide besar harus takluk dihadapan konteks yang tak dikenalinya. Bisa jadi karena itulah, ide-ide yang datang pada penghujung zaman terkadang lebih mampu diterima dibandingkan dengan ide-ide yang ada sebelumnya.

Berkat itulah, Hegel punya keyakinannya sendiri. Ide dalam pandangannya mengisyaratkan perubahan yang terus menerus, yang berkelindan dalam zaman. Sebuah ide dipahami sebagai gerak yang melampaui batas-batas teritorial temporal. Sebab ide pada hakikatnya adalah sempurna. Namun kesempurnaan adalah ihwal yang juga menjadi hal yang kerap kali ditolak pada momenmomen yang menghendaki adanya perbuatan yang segera.  Di sini, tindakan menjadi nyata dibandingkan ide yang terlampau abstrak. Dan di sinilah masalahnya, ide selalu menuntut keterlepasan dari tindakan yang kongkret.

04 Maret 2012

Pesan Socrates


Socrates mati meneguk racun cemara.

Sebelum hukuman mati menimpa, Socrates  memiliki kebiasan berkeliling di sudut-sudut Athena. Ia gemar berdiskusi. Menjalani laku kehidupan melalui bertanya sebagai makanan sehari-hari. Socrates memang senang bertanya, dari situ ia kerap berdiskusi dengan siapa pun.

Terkadang jawaban tak lebih eksplosif daripada menghadirkan sebuah pertanyaan. Dan itulah filsafat.  Socrates seorang filsuf.

Socrates tak berbeda dengan kita. Tentu ia seorang manusia. Dan karena ia manusia akal budilah ciri khasnya. Akal budi di tangan Socrates menjadi penting dengan menempuh dua cara: berpikir benar dan bicara benar. Ada kemungkinan dari sisi ini, kita tak seperti Socrates.

Namun Socrates punya pesan bagi siapa saja, entah  ia seorang digdaya atau budak sahaya: hidup yang tak dihayati adalah hidup yang tak layak dijalani. Caranya manfaatkanlah akal budi sebagai pintu masuknya. Berpikir. Berenung.

Tentu kematian Socrates tak sia-sia. Ia menjadi narasi bagi pegiat pertanyaan. Di waktu pengadilan, ia bisa saja mengikuti kehendak hakim meninggalkan Athena. Tetapi Socrates punya kehendak lain. Ia memilih mati mempertahankan azas kebenaran. Dan dengan meneguk saripati racun cemara ia meninggalkan sahabatnya. Hatta kehidupannya sekalipun.

Sekarang bukan zaman seperti Socrates hidup. Bukan lagi alaf waktu berabad-abad lalu. Tetapi kita di dunia yang sama dengan dunia yang pernah ditinggali Socrates. Tentu banyak perubahan, tentu banyak yang tak lagi memiliki padanan dengan waktu lampau. Namun sekarang, ada negara, ada pemerintahan, ada kebijakan, ada masyarakat. Hidup seperti ini banyak kebutuhan, banyak pilihan, banyak alternatif.

Socrates tak pernah meminta kita memilih baju apa yang  layak kita pakai, makanan apa yang mampu mengenyangkan kita, rumah apa yang bisa kita gunakan bermukim, buku apa yang harus kita baca, serta siapa layak menjadi pasangan hidup. Socrates tak pernah menyebut dirinya sebagai orang benar, seperti orang yang banyak tahu. Ia menolak menjadi tahu segalanya. Socrates hanya memilih menyenangi kebijaksanaan.[]

04 Januari 2012

Ingatan

Entah seberapa jauh kita mengingat masa-masa di mana kita kecil? Mungkin banyak yang terlupakan, tetapi bisa jadi tidak sedikit yang masih tersimpan. Ingatan punya aturannya sendiri; tentang apa yang layak tersimpan dan apa yang mesti kita lupakan, sebab ingatan di waktu tertentu punya masa-masa ia datang kembali; menemukan gejala yang menghubungkan akan dua peristiwa, di mana masa lalu bisa kita rasakan pada masa sekarang yang punya kemiripan. Karena perihal ini, maka terkadang ingatan bisa menjadi hal yang perlu diatur, apalagi menyangkut ingatan orang banyak. Di mana ingatan bisa mendatangkan isyarat apa yang patut dan yang harus dibuang jauh-jauh. Maka bisa saja ingatan kehilangan tentang apa yang sepantasnya diingat, tak terkecuali masa kita anak-anak.

Ingatan bisa jadi hal yang memupuk harapan atau sebaliknya? 

Harapan?...bisa dikata sejenis utopia; sesuatu tempat yang menempatkan cita-cita yang ideal di dalamnya. Atau sesuatu yang tinggi tempatnya, perihal akan segala sesuatu yang menjadi perlawanan dari kehidupan “bawah” yang serba tak berkecukupan, tak lengkap, tak utuh, tak genap, atau sejenisnya dan sejenisnya: atau bisa dikata sesuatu yang sempurna.

Yang mana keberadaannya melampaui jenis kehidupan yang dipredikatkan oleh label yang tak sempurna, kehidupan manusia yang terapit serba katakcukupan. Lantas bisakah ia menjadi hal yang benar-benar dirasakan, sesuatu yang betul-betul dialami, yang mana “keseluruhan” dari diri kita betul-betul identik pada apa yang kita harapkan.

02 November 2011

Sejarah

Kita pun tahu sejarah adalah perihal tentang waktu.

Dengannya waktu, sesuatu bisa jadi datang dengan kebaruan ataupun sebaliknya, ia bisa ditinggal pergi, usang.

Sejarah pun bisa datang dengan lapik-lapik enigma yang anonim, atau pun datang berkelit dengan terang benderang. Sejarah memanglah bak hakim yang bisa memvonis  siapa saja dengan putusannya yang tak disangka-sangka. Ia bisa membela atupun menampik sesuatu yang telah jelas untuk disudutkan di hadapan mahkamah hari depan...

Sejarah, barangkali adalah hal yang harus kita pegang betul... Sejarah, di suatu waktu adalah momen yang menuntut untuk diperjuangkan. Selebihnya, sejarah punya putusannya sendiri..

[Tatal 2, 01:41. 31 Oktober 2011]


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...