18 Februari 2016

Kritik atas Frankfurt School


Herbert Marcuse
Salah satu pendiri Mazhab Frankfurt
Dikenal melalui bukunya ”One Dimensional Man”



PERTAMA, kritik hak milik  ekonomi politik Marx yang mengalami pergeseran dari motif kelas menjadi motif psikologi. Pendasaran segregasi kelas yang menjadi acuan marxisme dalam menelusuri motifmotif penguasaan, di tangan pemikirMazhab Frankfurt malah mengalami penurunan ketajaman dalam menganalisis keadaan objektif masyarakat. Apabila Marx melihat asalusul penindasan secara objektif ditemukan dalam pembagian kelas masyarakat, di mana penguasaan alat produksi oleh kaum borjuasi menjadi sumber penghisapan, melalui cara pandang Mazhab Frankfurt malah dikembalikan kepada unsurunsur subjektif berupa dorongandorongan intrinsik manusia. Akibatnya, kritik Marx yang semula ditujukan kepada analisaanalisa idealistik, justru di tangan Mazhab Frankfurt terjadi repetisi atas apa yang telah Marx kritik sebelumnya.

Kedua, dalam kajian Mazhab frankfurt, pendasaran marxisme terhadap kelas buruh tak lagi mendapatkan tekanan seperti yang diharapkan Marx. Telah diketahui sebelumnya, pendakuan Marx bahwa setiap kelas bertindak atas dasar kepentingannya, dan kepentingannya ditentukan oleh situasi objektifnya,  menjadi semacam pintu masuk untuk memahami pertentangan kelas yang terjadi di dalam masyarakat kapitalis. Melalui cara ini berdasarkan kepentingan objektif yang ditentukan oleh kedudukan kelas, menuntut suatu sikap mawas diri demi menjaga eksistensi masingmasing kelas. Karena sikap inilah terjadi pertentangan kelas yang menjadi inti dari gerak masyarakat. Sebab itulah seperti yang ditekankan di dalam Manisfesto Komunis perlunya kesadaran kelas untuk mempertahankan kepentingan kelas buruh yang banyak mengalami tekanan dari kelas di atasnya. Sikap konservatif kelas borjuis yang merupakan konsekuensi dari kedudukan objektifnya di masyarakat, mau tak mau harus berhadapan langsung dengan kelas pekerja yang memiliki semangat progresif dan revoulusioner akibat dari kepentingan kelas yang bertahan di antara keduanya.

Sementara itu, akibat pembacaan yang meluas, serta beragam teoritisi yang terlibat di dalamnya, Mazhab Frankfurt  sulit mendefenitifkan keberpihakannya kepada kelas pekerja seperti dalam pemikiran Marx. Perhatianya yang meluas terhadap musik, budaya, media massa, mode, dan sebagainya yang dinyatakan sebagai industri budaya, mengakibatkan sulitnya mempertahankan pembacaan sekaligus kritik ekopol marxian yang menjadi cara pandang utama dalam tradisi marxis. Akibat lunturnya kepercayaan Mazhab Frankfurt kepada kelas pekerja, di saat yang bersamaan bergerak memasuki segmentasi kelaskelas yang lain semisal kaum radikal terdidik di kampuskampus sebagai agen perubahan.

Ketiga, penyematan label revisionisme yang diberikan pemikir marxis ortodoks, membuat Mazhab Frankurt sulit mendapatkan simpati dari gerakan kiri yang masih percaya terhadap metode pembacaan ekopol Marx. Walaupun dikatakan oleh para tokohnya bahwa usaha yang dikerjakan Mazhab Frankfurt merupakan bagian dari usaha krirtik yang pernah dilakukan Marx terhadap kapitalisme, tetap saja di luar pandangan mereka, mazhab Frankurt dinyatakan sebagai suatu aliran yang keluar dari tradisi pemikiran marxis.

Di sini, perlu dijelaskan sepintas mengenai tiga tradisi atau pendekatan seputar metode pembacaan terhadap Das Capital Marx yang sampai hari ini masih berlangsung, yang dikemukakan oleh Harry Cleaver. Pertama, tradisi ekonomi politik. Pendekatan tradisi ini mesti dipahami  pada konteks International II berlangsung (1889-1916).  Problemnya berkisar pada persoalan determinasi ekonomi dan teks acuannya, tentu saja, adalah Contribution to a Critique of Political Economy, di mana Marx berbicara tentang relasi ekonomi sebagai basis masyarakat yang darinya muncul bangunan suprastruktur yang bersifat legal politis.  Dalam konteks ini terjadi perdebatan antara Edduart Bernstein dengan Rosa Luxemburg tentang apakah krisis ekonomi yang akan menumbangkan kapitalisme itu niscaya atau tidak. Melalui bukunya Evolutionary Socialism, Bernstein mengajukan pendapat bahwa krisis itu tidak niscaya menghancurkan kapitalisme, krisis itu hanya akan memperlambat akumulasi kapital sementara kaum kapitalis akan dapat mengkonsolidasikan diri menghindari krisis ini. Maka itu bagi Bernstein perjuangan yang mesti dilancarkan melawan kaum kapitalis adalah perjuangan ekonomi seraya menggabungkan diri ke dalam parlemen.

Hasil pembacaan Bernstein atas Kapital ini segera dilawan oleh Rosa Luxemburg dalam Reformasi atau Revolusi (1900) dan Akumulasi Kapital (1913). Luxemburg menyatakan bahwa krisis kapitalisme tak terhindarkan justru, berkebalikan dengan Bernstein, karena akumulasi kapital akan memuncak dalam konflik antar negara. Berdasarkan pengertian ini, Luxemburg memberikan solusi yang berbeda, yakni persiapan revolusi dan penolakan atas sekedar reformasi. Keduanya mewakili posisi dasar pembacaan ekonomi politik atas Das Capital yang akan membayangi para penafsir selanjutnya. Penekanan Bernstein pada reformasi gradual melalui jalur intra-parlementer (dan karenanya lebih dekat dengan tendensi sosial-demokrat) akan diteruskan oleh Karl Kautsky, Rudolf Hilderling, Otto Bauer, Fritz Sternberg, sementara ketidakpercayaan Luxemburg pada perjuangan ekonomi-parlementer dan penekanannya pada revolusi atau jalur ekstra-parlementer akan diteruskan oleh Lenin, Anton Pannekoek dan Paul Mattick.

Sementara di luar konteks internasional kedua, terutama disekitar tahun 1940/50an, berkembang tipe pemikiran yang berusaha mensintesakan kritik ekopol Marx dengan teoriteori yang diajukan Keynes. Tradisi pemikiran ini berkembang di dunia Anglo-Amerika, yakni neo-marxis keynesian. Tokoh-tokohnya adalah Michael Kalecki, Joan Robinson, Paul Sweezy dan Paul Baran. Menurut tradisi ini, pendekatan ekopol Marx yang tertuang dalam Das Capital memiliki beberapa kekurangan terhadap situasi perkembangan kapitalisme. Sebab itulah, mereka berusaha mengkombain dengan memasukkan pembacaan Keynesian terhadap analisis ekopol marxis.  Model pembacaan yang demikian akhirnya menjauhkan tradisi ini dengan sendirinya dari kritik Marx yang bersandar pada suatu analisis yang hanya mencomot beberapa analisis Marx.  Dalam perkembangannya, tradisi inilah yang menginisiasi lahirnya gerakan kiri baru (new left movement) Eropa di sekira tahun 6oan.

Yang kedua adalah tradisi filsafat. Cleavert membaginya menjadi dua, yakni tradisi yang dikembangkan oleh Louis Althusser bersama muridmuridnya (Balibar hingga Badiou) dan yang kedua adalah revisionisme yang menjadi bagian di dalamnya yakni, Marxisme Barat (Western Marxism): György Lukács, Antonio Gramsci, Karl Korsch—semuanya menekankan pengaruh Hegel dalam Marx, Marxis Neo-Kantian: Galvano, Delavolpe dan Lucio Colletti, Marxis-Hegelianisme: Alexandre Kojéve dan Jean Hyppolite, Marxis-eksistensialisme: JeanPaul Sartre, Simone de Beauvoir dan Maurice Merleau-Ponty. Marxisme fenomenologis: Tran Duc Thao dan Karel Kosik, Teori Kritis Mazhab Frankfurt: Herbert Marcuse, Theodor Adorno, Max Horkheimer, Walter Benjamin dan Jürgen Habermas.

Oleh Cleaver, pembagian kubu ortodoks dan revisionis ini dijelaskan melalui dua tendensi yang berbeda: sementara Althusser mencoba menghidupkan kembali doktrin diamat (dialectical materialism) melalui pembacaan atas Kapital, Mazhab Frankfurt dan tendensi Marxisme Barat justru mengutamakan peran kebudayaan dalam analisis Marxis. Diamat versus kulturalisme—pertentangan inilah yang menerangkan dasar perbedaan posisi antara Marxis ortodoks dan Marxis revisionis.

Tendensi kulturalisme yang banyak dikembangkan Mazhab Frankfurt disebutkan Cleavert akibat ketokohan Friedrich Polloch. Melalui bukunya Automation, Pollock memperlihatkan adanya kecenderungan akumulasi kapital oleh kapitalisme negara dan negara otoritarian yang menyebabkan perluasan penghisapan kapitalisme di seluruh sendisendi kehidupan masyarakat. Pendektannya yang memperlihatkan perluasan penghisapan kapitalisme dari pabrikpabrik menuju masyarakat yang lebih luas, mengakibatkan adanya indikasi suatu pembacaan masyarakat yang lebih luas dari hanya sekedar penjelasan ekopol marxis. Menurut Cleavert dari sinilah bermula adanya pembacaan kultural yang menjadi pembacaan dominan atas masyarakat di dalam tradisi pemikiran Mazhab Frankfurt.

Tradisi yang ketiga adalah pendekatan politis seperti yang ditokohkan Lenin. Tradisi ini berputar dalam problem perlunya pendekatan secara strategis dan taktis untuk mewadahi perjuangan kaum proletariat.  Seperti yang dituliskannya dalamWhat Is to be Done?, Lenin menganjurkan betapa pentingnya membangun partai payung dengan kemampuan disiplin yang tinggi untuk melakukan perjuangan. Partai garis depan ini, disebutkan Lenin adalah partai yang bertujuan merangkum seluruh gerakangerakan buruh di dunia. Hanya lewat cara inilah Lenin berkeyakinan revolusi dapat dimungkinkan.

Keempat, peralihan penekanan kritik yang diajukan Jurgen Habermas melalui rasionalitas komunikatifnya, memberikan efek yang berbeda dari intuisi marxisme yang semula bersifat radikal dan revolusioner. Pendekatan komunkatif yang diajukan Habermas sebagai jalan keluar persitengangan antara marxisme dan kapitalisme, malah menjadi suatu pendekatan yang mengabaikan unsurunsur di luar dari komunikasi itu sendiri. Pengandaian Habermas bahwa di dalam tindakan komunikasi dengan sendirinya akan menetralkan suatu posisi dan kepentingan, justru tidak bekerja seperti yang diharapkannya di dalam level praktik. Komunikasi yang disebutnya sebagai tindakan praktis, malah justru menguatkan posisi dari awal bagaimana kepentingan kelas borjuis bekerja untuk mendominasi kelas proletariat. Wacanawacana yang dikembangkan kelas borjuis melalui tindakan komunikasi justru kembali melanggengkan kepentingan melalui subordinasi pengetahuan yang dimilikinya.

Kelima, Cakupan dan rentang penelitian yang luas dari orang-orang yang terlibat dalam Mazhab Frankfurt dinilai sebagai perkembangan yang inkonsisten dengan rancangan awal proyek mereka, dan inkonsistensi ini dianggap sebagai kelemahan paling mendasar dari Teori Kritis. Para pendukung Cultural Studies menuduh bahwa terdapat indikasi kesukaan Mazhab Frankfurt pada “budaya tinggi”, walau gagasan Mazhab Frankfurt juga menjadi inspirasi dan dipraktekkan oleh para environmentalis dan teoretisi teknologi dan alam seperti SF Schumacher.

16 Februari 2016

Bunker di Kala Deras Hujan

Kalau hujan tiba, bunker jadi mirip tenda pengungsi. Bocor sanasini. Kami sering khawatir kalau hujan tiba, apalagi disertai angin kencang. Soalnya, atap seng sudah banyak lepas pakunya. Sekali tiup, lubang seketika. Untung itu belum terjadi. Kami masih beruntung. Untuk kesekian kalinya.

Kalau dulu, bunker sering kebanjiran. Maklum, tanah yang ditempati agak rendah dibanding daerah sekitar. Apalagi ketika rumahrumah mulai meninggikan lantainya, praktis air tergenang begitu saja tanpa bisa keluar. Ditambah memang tak ada selokan yang bisa dijadikan saluran air. Kalau sudah begini tunggu saja. Banjir.

Kami sering dibuat kesal kalau tetangga sebelah membuang sampah sembarangan. Jengkel sampai diubunubun ketika sampahnya dibuang begitu saja di teras depan bunker. Soal ini kami sering menegur bahkan sering kali melibatkan emosi, tapi tetap saja, yang namanya mental yang rusak pasti akan lewat begitu saja tanpa perhatian. Kami menduga, hal ini sudah jadi karakter yang sulit diubah. Persis orangorang yang tak tahu malu mengotori lingkungan tanpa rasa bertanggung jawab.

Saya kira di kota ini masih banyak orangorang yang semacam itu. Warga kota yang tak tahu hak dan kewajibannya sebagai masyarakat. Makanya agak susah memang mau berubah secara seksama, kalau masih ada orang yang tak tahu diri dan tak tahu malu. Bagaimana kota mau disebut bersih, semnentara mental warganya masih bersikap primitif. Anti peradaban.

Sekarang bunker lumayan aman. Banjir sudah bukan masalah. Jalan masuk air sudah dibuatkan penghalang. Di pintu depan sudah ada tembok yang menghalangi laju air. Jadi kalau pun masuk tidak akan sampai di ruang tengah, tempat penghuninya beraktifitas.

Satusatunya yang bikin waswas soal seng bocor itu tadi. Kalau hujan tak henti mendera, air yang masuk malah bisa bikin repot. Bukan apanya, karena kami tidur di satusatunya ruangan yang terpakai, kalau air merembes, otomatis tak ada tempat lain untuk pindah. Masalah ini sebenarnya kerap terjadi di dua minggu terakhir. Tepatnya kalau hujan lagi garanggarangnya.

Karena tak mau dikudeta oleh air bocor, solusi satusatunya adalah mentalangi air dengan kotak kue bekas. Di bunker, entah datang dari mana, banyak kotakkotak bekas kue yang tak terpakai. Kalau diingatingat kembali, kotakkotak itu bekas kegiatan yang kerap dilakukan di bunker. Biasanya adaada saja yang datang membawa makanan dengan memakai kotakkotak plastik. Ukurannya macammacam. Ada yang setinggi tiga sentimeter sampai lima sepuluh sentimeter. Belum lagi bekasbekas ricecooker yang rusak. Semuanya dipakai mewadahi air yang jatuh.

Kepada bendabenda itulah keberlangsungan aktivitas kami bergantung. Kalau sudah malam dan jam tidur, dan hujan deras melanda, bendabenda itu jadi benda paling penting. Untuk sementara bisa menunda air yang bisa merembes masuk.

Makanya harapan kami salah satunya jangan sampai hujan berjamjam lamanya. Kami bisa dibuat tidak tidur akibat air yang tak cukup ditampung. Apalagi tak ada yang mau bangun hanya untuk mengecek tampungan kotak jika penuh. Apabila sudah pulas, jangankan bangun untuk membukakan pintu apabila ada yang pulang larut malam, menengok kotak yang penuh air saja ogah.

Bunker punya lima ruangan. Dua ruangan kamar, satu ruangan tamu, satu bagian dapur plus kamar mandi, dan ruangan utama yang kami jadikan pusat aktivitas. Seharihari di bunker hanya menggunakan dua ruangan. Selain kamar mandi, yang terpakai hanya ruang tengah dan dapur. Selebihnya tak terurus. Penghuninya radarada malas mau pakai ruangan yang lain, padahal bisa dibersihkan dan ditempati.

Sekarang hujan belum juga reda. Bunyibunyi air yang menetes jadi irama sahutmenyahut. Kami satu persatu mulai kantuk. Kotakkotak penadah sudah dipasang dari tadi. Posisinya sudah pas. Tak bakalan meleset dari seng di atasnya yang bocor. Ada lebih dari lima titik kebocoran. Hitunghitungannya, kalau sampai pagi hujan belum reda, dengan dua kali tetes tiap detiknya, dan kotak kecil penadah yang tidak terlalu besar, maka dalam waktu kurang lebih lima jam, prediksinya air akan merembes di sekira jam empat atau lima subuh. Dugaan saya, orang yang tidur paling ujung tak jauh dari titik kebocoran, adalah orang yang lebih awal bangun di subuh nanti.

Mudahmudahan prediksi saya tepat. Masalahnya kalau hitunganhitungannya meleset, kejadiannya bisa lebih cepat terjadi. Kasihan orang yang tidur paling ujung. Bisabisa belum lama menutup mata, karpetnya jadi basah. Kalau saya punya tempat yang paling strategis. Selain paling ujung, tempat saya paling jauh dari sumber rembesan air. Di saat begini, saya paling berterimakasih menjadi senior. Di manamana senior punya kemudahan. Yang yunior maklum itu. Apalagi urusan tempat tidur. Hidup senioritas.

Baiklah saya sudahi dulu. Saya mau tidur saja. Senior tidak pernah bersalah..

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...