22 Januari 2015

madah tiga


Belakangan ini waktu senggang jadi demikian langka. Nampaknya dinamika zaman yang dimisalkan Giddens ibarat juggernaut, memang bukan main-main: berlari kencang dan tanpa arah.

Juggernaut sebagai macan besar memang masalah. Pertama ia tak bisa dikendalikan, dan kedua ia buta tujuan. Itu sebabnya, waktu bagi masa sekarang demikian berharga. Tiap detik, menit, jam, bahkan hari mesti dikalkulasi menjadi kapital. Waktu adalah uang, begitu adagium masyarakat modern. Di titik ini, manusia modern kehilangan kepekaan atas waktu. Kehilangan penghayatan atas waktu.

Lalu untuk apa waktu dihayati? Martin Heidegger punya jawabannya. Filsuf gaek Jerman ini mengajukan satu pilihan, menjadi das Sein atau das Man?

Das Sein adalah istilah khas Heidegger bagi mahluk yang berkemampuan menanyakan eksistensinya selama di dunia. Das Sein secara etimologis berarti ”yang ada di sana”. Dalam bahasa khas fenomenology Heidegger, das Sein adalah satu-satunya mahluk berkesadaran yang mampu mengartikan keberadaannya di dunia melalui reflesksi pertanyaan kritis berupa mengapa kita terlempar (berada) di dunia ini?

Manusia, dengan kata lain, adalah mahluk penggelisah berkaitan dengan keberadaannya yang sudah ada ”di sana”, di dalam dunia.   Atau dalam bahasa yang lain ”yang di sana” tempat yang dikatakan sebagai dunia mukim tempat kita berada sudah selalu ”di sana”, dan akan tetap ”di sana”. Ini berarti ”yang sudah selamanya di sana” adalah dunia yang mesti dipertanyakan.

Mengapa sudah ada dunia ”yang sudah ada di sana?” atau, akhirnya menjadi mengapa aku ”sudah selalu ada di sana”. Das Sein, atau aku yang gelisah atas eksistensinya di dunia, di titik kesadaran tertentu, kata Heidegger akan berbalik mempertanyakan ”ada” itu sendiri. Apakah arti ”ada”? Bagi das Sein, apa sesungguhnya arti ber-Ada?

Bila menengok seluruh keberadaan, samakah beradanya aku dengan keberadaan yang lain? Yang lain bisa ada tetapi tidak mengada. Keberadaan ada secara eksistensi, tapi ia tidak bereksistensi. Ia sekadar ada namun tidak berkemampuan menyadari eksistensinya. Dengan kata lain, hanya das Sein, yang mampu mempersalahkan keberadaannya dalam ruang dan waktu. Dari cara demikian, kata Heidegger, das Sein adalah orang-orang yang ingin selalu mencandra ”Sang Ada” melalui penghatan atas waktunya.

Waktu pada akhirnya nampak tidak sederhana lagi. Ia medan manusia mengartikan keberadaannya. Hanya manusialah yang mengalami waktu demikian intim dari keberadaa lain. Keintiman ini demikian sublim sehingga manusia tidak sekadar ada di dalam waktu. Ia malah ”ada bersama waktu”. Ia tidak tenggelam begitu saja di dalam waktu, justru ”bersama” waktu ”di dalam waktu” dalam ”kemewaktuan” dirinya.

Melalui itulah waktu menjadi eksponen penghayatan manusia. Menjadi medium pembebasan. Itu artinya manusia mengada bukan sebagai ada yang lain semisal kursi, lilin, meja, bunga, buku dsb, yang hanya sekedar benda-benda tanpa menyertakan waktu.

Ada bersama waktu inilah waktu senggang berkemampuan memerdekakan manusia dari waktu berbasis kecepatan. Juggernaut memang cepat, tetapi ia belum tentu ”ada bersama waktu.” Sang Juggernaut sama halnya benda-benda yang lain. Dikontrol waktu, menerima waktu, di dalam waktu begitu saja. Ia bukan das Sein. Ia justru das Man, figur mayoritas yang diarak waktu tanpa ampun. Figur orang banyak yang kehilangan kepekaan atas waktu.

Maka di pacuan Juggernaut tak ada momen permenungan atas waktu. Tidak ada momen pembebasan. Suatu momen melihat waktu seperti pertama kali melihat tampakan-tampakan realitas. Saat pertama kali manusia terperanga dan terpesona.

Masyarakat modern sudah kehilangan pesona atas  segala hal. Tidak melihat seperti dari sudut mata anak kecil yang melihat gedung-gedung pencakar langit, luasnya angkasa, teriknya matahari, ramainya ibu kota. Ia terpesona atas segala kebaruan. Sesuatu demikian asing tapi sekaligus memukau.

Dan memang dunia telah kehilangan pesona. Ini sudah jauh hari dibilangkan Weber semenjak rasionalitas datang dan merengkuh serta menafsir dunia. Semenjak itulah dunia, yang belum ditaklukkan, menjadi kenyataan yang diefisienkan, diefektifkan dan ditakar. Oleh karena itulah, dunia akhirnya menjadi semakin rasional dan meninggalkan ketakjuban dari alam dunia yang maha dahsyat. Semenjak itulah kapitalisme berawal tumbuh dan tumbuh, hingga akhirnya hari ini, waktu ini.

Dan waktu di hadapan kapitalisme harus diburu cepat sebab tiada ruang selain pertukaran. Di saat inilah waktu senggang akhirnya menjadi konsumtif. Dan waktu yang ingin kita merdekakan dari koloni modal itu, memang suatu yang langka akhir-akhir ini.

21 Januari 2015

madah dua

DALAM arti apa Muhammad kita katakan sebagai nabi, dan dengan maksud seperti apa Muhammad, orang yang hidup di Mekkah berabad lalu, disebut manusia biasa? Persoalan ini penting dan sekaligus juga genting. Penting sebab ia seorang nabi, genting oleh karena ia juga manusia.

Berarti sampai di sini ada yang mesti kita jernihkan. Muhammad ”yang teologis” dan Muhammad ”yang antropologis” dua maksud yang berbeda. Walaupun kita menyadari, dia, Muhammad, sebagai ”yang ilahiat” dan ”manusiawi” merupakan Muhammad yang sama.

Belakangan ini hari-hari genting. Bahkan kita sudah sampai pada masa yang perlu diinterupsi. Zaman, seperti yang didorong semangat modernisme, atau bahkan pascamodernisme, sudah meninggalkan ”yang ilahiat” jauh di belakang sejarah.

Saat ini, penting membuat penanda di antara tegangan zaman ”yang profan” dan ”yang sakral”. Untuk mengguncang, mengingatkan. Bahwa ”yang ilahiat” nampaknya masih punya denyut dan detak. Bahwa ”yang ilahiat”, ”yang transenden”, sesungguhnya ada bersamaan perubahan zaman yang kita alami kiwari.

Tapi, tidak selamanya modernisme satu-satunya tonggak pemikiran yang sanksi terhadap dimensi ilahiat kehidupan. Bahkan di dalam tubuh agama sendiri, yang dikatakan Will Durant tak sanggup mati-mati, juga berkeyakinan sama dengan modernisme, yakni menolak sakralitas ”keilahian.” 

Di dalam Islam, iman yang menolak sakralitas itu, berkepercayaan agama seharusnya cukup dimaknai dari apa yang tersurat. Jika itu tak bisa menghadirkan terang pengertian, penafsiran merupakan perbuatan bid’ah. Teks sudah siap, tak usah ditafsir-tafsir. Teks agama tinggal taken for granted. Dan iman yang dibangun dengan cara itu, adalah keyakinan yang menghalau dialog dan logos.

Apa ”yang ilahiat” ataupun ”yang sakral” itu sebenarnya? Ini juga masalah, sebab dengan kata lain usaha mencari dimensi ”ilahiat” berarti merupakan usaha melampaui apa di balik penampakan. Artinya, mencari maksud di balik teks adalah upaya menyelami teks agama dengan memasuki dimensi kedalamannya. Dengan kata lain, penafsiran adalah usaha yang tidak bisa dihindarkan.

Tapi, bukankah ini sebuah tindakan keluar dari bahasa literer teks. Bagi kaum anti penafsiran ini sebuah pencemaran iman. Tak ada sesuatu apa pun di balik teks. Tak ada yang disebut metafisika, dunia berobjek sakral . Apalagi dunia ilahiat.

Dari itulah persona nabi tanpa sakralitas dibangun, yang sesungguhnya merupakan pencitraan dari manusia biasa. Tak ada keistimewaan Rasulullah selain orang yang menerima wahyu, menyampaikan Islam, membina umat, dan melahirkan peradaban baru. Atau tidak lebih dari kepercayaan dalam teks, seperti nabi-nabi sebelumnya, orang yang diberikan amanah dan mukjizat.

Inikah nabi “yang antropologis”?

Bisa jadi nabi antropologis adalah personifikasi seperti dimaksudkan Al Qur’an. Yakni dimensi al Basyar dan al Annas. Nabi antropologis adalah orang yang hidup dengan hukum biologis dan takdir sosiologis. Ia hidup berkembang berinteraksi di tengah masyarakat. Orang yang dibentuk alam dan kebudayaan, yang menangis dan tertawa, juga tentu bekerja seperi orang umumnya.

Nabi antropologis adalah nabi yang jatuh bangun dalam sejarah, hidup dalam kebudayaan, dan mati sebagai mahluk biologis.

Lantas di mana gentingnya? Agama kehilangan sakralitas, barangkali tak ingin memahami Nabi sebagai al Insan. Nabi yang melampaui gerak sejarah, dinamika kebudayaan, bahkan hukum-hukum biologis. Dalam arti inilah mengapa Rasulullah disebut mahluk sempurna, ketika al Insan kita padankan dengan al Kamil. Di saat ketika ”yang antropologis” itu menjadi ”yang ilahiat”. Di saat nabi yang sukses melakukan revolusi itu, layak kita sebut manusia yang melampaui.

Dalam arti itulah, nabi ”yang antropologis” menjadi nabi ”yang teologis.” Inilah nabi sebagai orang yang tidak sekalipun kehilangan ciri kemanusiaannya, tapi mampu menggapai ketinggian alam ilahiat. Apakah itu mungkin? Apakah itu bid’ah, jika menganggap nabi sudah persis tanpa cela, tanpa salah, atau dengan kata lain sempurna?

Bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pasti, wahyu yang ilahi itu, yang dari Tuhan, mustahil mampu diterima mahluk yang tidak siap menerimanya. Bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pasti nabi yang kita anggap ummi itu adalah orang dengan kualifikasi di luar kebiasaan umum. Kenapa? Sebab jika ia seperti yang umum, persis seperti yang jahil di masyarakatnya, maka mustahil dia bisa berdialog dengan jibril.

Ini penting dan juga genting.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...