Terkisah: Seorang Rabbi selalu meninggalkan Sinagognya pada
saat-saat tertentu dalam kebaktian penebebusan dosa. Dengan curiga sang murid
mengikutinya diam-diam, "jangan-jangan sang Rabbi bertemu dengan Tuhan
saat ia pergi" begitu dalam benak sang murid. Sang murid kaget ketika ia
mendapati sang Rabbi berganti pakaiannya dengan pakaian petani kasar dan pergi
kesebuah rumah cacat dan disana ia membersihkan rumah dan menyiapkan makanan
untuk sang cacat. Ketika sang murid kembali, ia ditanya "Apa yang engkau
dapatkan, apakah sang Guru naik ke Surga?", "Tidak, Bahkan Ia berada
di tempat yang lebih tinggi", jawabnya..
16 Juni 2010
15 April 2010
Mahasiswa vs. MAhasiswa
Jean Paul Sartre si
pesohor eksistensialis, pernah dipaksa turun dari podium saat ia menyampaikan
orasi. Gelombang mahasiswa kesal dan marah. Perancis saat itu sedang mengalami fase
peralihan. Sekarang bukan lagi harus Sartre, kekesalan mahasiswa telah
memuncak, Satre harus turun.
Sekarang giliran mahasiswa harus bersuara lantang. Pada momen itu mahasiswa menunjukan kesan; sudah saatnya mereka yang berbicara. Tentu bukan lagi sebagai massa yang mengekor. Ikut dalam barisan aksi berarti harus maju ke depan massa.
Sekarang giliran mahasiswa harus bersuara lantang. Pada momen itu mahasiswa menunjukan kesan; sudah saatnya mereka yang berbicara. Tentu bukan lagi sebagai massa yang mengekor. Ikut dalam barisan aksi berarti harus maju ke depan massa.
Nun jauh di negeri seberang
terlontar diktum pemimpin berkopiah: “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan
kupindahkan gunung Himalaya”. Keras gema itu membahana menjadi api penyulut semangat kaum muda Indonesia. Indonesia membutuhkan pemuda. Saat di mana Indonesia sedang berjuang keluar dari penjajahan imperialism belanda. Indonesia saat ini membutuhkan
pemuda
Jauh hari sebelumnya sebuah
ide meledak. Pemuda berusia 20-an beserta teman-temannya merencanakan satu
peristiwa penting. Peristiwa yang kelak diukir pada buku-buku sejarah.
Gerombolan ini merencanakan rencana yang sangat berani: menculik presiden RI beserta
wakilnya. Sukarni nama pemuda itu. Dia dan gerombolannya berniat memaksa
Soekarno menyatakan kemerdekaan Indonesia di hadapan warga dunia.
Ini bukan cerita film holywood
pada layar kaca Anda, melainkan fakta sejarah. Banyak kisah serupa
seperti di atas bisa kita temukan. Telisiklah sejarah perubahan dunia, maka
banyak orang-orang muda yang tak puas dengan keadaan terjajah. Tak ingin
dikibuli oleh rezim hipokrit atau dibodohi oleh sistem otoriter. Pada orang-orang muda ini ada keberanian serta mentalitas yang baja. Mereka adalah kalangan terdidik. Mereka adalah mahasiswa.
Mahasiswa adalah kaum yang berkemampuan merespon situasi secara radikal . Membaca zaman dan kemudian mengubah takdir. Di hadapan mereka ada situasi yang timpang. Ada sistem yang menjarah. Ada pemimpin yang tak adil. Di depan mata mereka ada masyarakat yang perlu disadarkan dari kejahiliaan, pembodohan oleh struktur yang tak berpendidikan. Jika semua itu terjadi mereka tak ingin diam, mereka selanjutnya bertindak.
Mahasiswa adalah kaum yang berkemampuan merespon situasi secara radikal . Membaca zaman dan kemudian mengubah takdir. Di hadapan mereka ada situasi yang timpang. Ada sistem yang menjarah. Ada pemimpin yang tak adil. Di depan mata mereka ada masyarakat yang perlu disadarkan dari kejahiliaan, pembodohan oleh struktur yang tak berpendidikan. Jika semua itu terjadi mereka tak ingin diam, mereka selanjutnya bertindak.
Mahasiswa seperti ini hidup
di dalam kampus; sebuah ruang sosial yang dimaknai sebagai sekolah. Tempat
mengasah otak dan mempertajam kepekaan. Mereka akrab dengan gagasan besar.
Intens membentuk komunitas belajar dan tentu berkutat dengan diskusi-diskusi
kebangsaan.
Mereka dikenal dengan
idealisme, semangat dan keberanian. Pada praktik hidupnya selalu didasari oleh
perangkat nilai. Aktivitasnya yang mendorong masyarakat sebagai civil progress
menjadi makanan sehari-hari. Di tengah-tengah masyarakat tugas mereka
memberikan kesadaran politik, membangun perkampungan-perkampungan mandiri serta
menanamkan akhlak terpuji sebagai panutan.
Mereka memiliki iman bahwa
sejarah mesti dipelajari, masyarakat harus dibaca, teori harus diurai pada
kenyataan yang dihadapi. Dengan begitu mereka menggariskan satu benang
merah agar sampai kepada zaman kelak, bahwa mahasiswa bukanlah ruang kosong
oleh pemaknaan, melainkan di dalamnya terkandung api pencerahan yang peka
terhadap ummat.
Kita pada hakikatnya telah
dibesarkan oleh sejarah perjuangan pendahulu. Mahasiswa sebagai identitas
telah kita terima sebagai baju keseharian kita. Namun malangnya baju itu
bagi kita tak laik lagi untuk dikenakan, karena bisa jadi lusuh dan warnanya
yang tak lagi cemerlang.
Hedonism:
Berhala Mahasiswa
Zaman sudah berbeda. Formasi
sosial telah berubah. Sekarang bukan lagi bicara tentang seberapa
seringkah engkau dipanggil Puang, Andi, Karaeng serta sejenis embel-embel kelas
ningrat. Malah sudah tergantikan seberapa panjangkah gelar akademik yang
diterakan pada nama. Bukan lagi baju bodo, sirrina pacce melainkan bagaimana
engkau tampil dengan barang-barang yang engkau miliki. Produk-produk telah
menggantikan pengetahuan sebagai esensi manusia. Maka zaman menjadi
“pameran akbar” para penyembah barang.
Zaman dahulu, manusia
memiliki iman tentang keberadaan benda-benda. Mereka mempercayai suatu benda
memiliki nilai keramat oleh sebab dihuni oleh roh maupun spirit kudus.
Pemberlakuan terhadap benda-benda yang dihuni roh maupun spirit diperlakukan
secara khusus. Bahkan ukuran keberadaan manusia disandarkan pada kepemilikan
barang-barang yang dimaksud. Eksistensi manusia berharga apabila menturutkan
benda-benda pusaka. Kualitas keberanian, kejantanan serta kebesaran
adalah kualitas kemanusiaan yang biasanya dihubungkan dengan keberadaan
barang-barang pusaka. Herbert Marcuss menyebutnya fethisisme.
Pada alam modern keyakinan
ini hadir dengan bentuk yang baru. Barang telah menjadi pujaan serta sembahan
yang kita sakralkan dalam keseharian. Fetisisme produk yang menganggap bahwa
barang-barang yang kita miliki memiliki unsur magis, roh dan pesona telah melahap
habis nalar yang dimiliki. Melalui apakah unsur magis, roh dan pesona itu
bekerja? Demi sebuah life style, demi sebuah prestise dan harga diri,
orang-orang ikhlas menghamburkan uangnya hanya untuk dapat eksis dan
dikenali orang-orang di sekitar. Aku bergaya maka aku ada.
Hedonisme telah mengambil
jatah tuhan dalam iman mahasiswa sekarang. Ruang parade kehidupan
kampus yang menonjol dan telah menjadi simbol hidup para pemuja berhala produk.
Keterlenaan dengan barang menjadikan mahasiswa tampil dengan isu sentral life
style. Ukuran engkau ada adalah seberapa banyakkah baju yang engkau miliki,
merek apakah barang dan dimana barang itu bisa di dapatkan. Tema-tema
besar menjadi pembicaraan sampingan, yang ada adalah tema absurd lainnya.
Dan kini menjadi ayat-ayat yang sering dijadikan zikir pada kolektivitas religi
yang dilakukan. Sebuah identitas baru telah hadir untuk menggusur keberadaan
identitas mahasiswa sejati: mahasiswa bermental pasar.
Sementara pada poros lain,
terdapat elemen berbeda yang senantiasa menanti datangnya perubahan.
Membangun kolektivitas massa melalui pertemuan-pertemuan pengetahuan.
Berdiri di tengah- tengah arus budaya hedonisme sembari memperteguh niat guna
meretas sejarah yang lebih baik. Satu identitas dengan komitmen tinggi yang
memegang teguh amanah sejarah para pendahulunya.
Mereka inilah yang kerap kali diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit untuk selalu eksis. Idiom perjuangan dan ideologisasi telah menjadi makanan keseharian mereka. Buku dan diskusi adalah tameng mereka. Dan idealisme adalah penuntun jalannya.
Mereka inilah yang kerap kali diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit untuk selalu eksis. Idiom perjuangan dan ideologisasi telah menjadi makanan keseharian mereka. Buku dan diskusi adalah tameng mereka. Dan idealisme adalah penuntun jalannya.
Syahdan, kampus telah
menjadi karnaval besar; ruang yang menghamparkan pertarungan abadi antara
dua identitas. Dua peran antagonism; antara hedonisme dan idealisme, antara
produk dan pikiran. Sedang didalamnya kita berada. Lantas dimanakah
anda?[]
---
Tulisan tahun 2010
10 Januari 2010
Ideologi dalam Perspektif
Pada tulisan kali ini penulis hendak memaparkan sejarah
konsep ideology sebagai studi kritis bagi pembaca untuk melihat bahwa
ideology merupakan salah satu tema yang menarik untuk di perbincangkan.
Pertimbangan ini lahir dengan asumsi sekiranya dalam sebuah diskursus atau
wacana pastinya tidak terlepas dari struktur ideology yang ada, hal inilah yang
mendorong penulis tertarik untuk membahasnya.
Ideologi sebagai istilah, pertama kali muncul dipermukaan kancah
khazanah pemikiran diperkenalkan oleh Antoine Destutt de Tracy pada abad ke 18,
walaupun akar maknanya dapat di tarik jauh kebelakang pada Bacon, Machiavelli
bahkan hingga Plato. Para pemikir sosial lebih melihat asal usul istilah dan
kajian ideology bermula dari konsep idola bacon. Hanya saja de Tracy-lah yang
berhasil menggagas ideology dengan cara yang sistematis dan tegas. De
Tracy memberikan pengertian ideology sebagai pengkajian akan ide-ide atau ilmu
pengetahuan akan ide. Dari pengertian ini de tracy memberikan garis tegas bahwa
kajian menyangkut ideology terlepas dari prangsangka-prasangka, mitos dan
takhayul.
Dengan kata lain ideology adalah ladang pengkajian yang sifatnya
netral dan dituntut untuk dipandang sebagai entitas yang objektif. Selanjutnya
oleh de Tracy bahan kajian dalam pembahasan ideology adalah asal-usul ide, mengapa
suatu ide muncul, bagaimana berkembangnya serta upaya apa yang dilakukan untuk
menangkap ide-ide itu. Penjelasan seperti ini, oleh penulis masih mendekati
pengkajian secara filosofis atau lebih tepatnya adalah epistemology, salah satu
cabang dalam filsafat.
Pemikiran de Tracy bila dilihat memiliki hilir pada
salah satu tokoh filsuf pada abad pencerahan, John Locke. Pada pemikiran John
Locke, menyatakan ide adalah hasil sensasi dari observasi yang dilakukan oleh
manusia. Lebih jauh lagi locke mengungkapkan adanya jenis-jenis ide dan
bagaimana terbentuknya dalam pemikiran manusia. Dari konsepsi inilah sehingga
tracy mendapatkan pijakannya. Oleh tracy ideology harusnya mampu
menandingi ketepatan sebagaimana ilmu alam, yang artinya ideology merupakan
kajian keilmuan yang bersandar pada sensasi yang didasarkan pada observasi. Ia
bahkan mengatakan ideology harus mampu menjadi piranti dalam dasar
bagi pendidikan dan ketertiban moral. Olehnya itu, ideology pada
pengertian ini memiliki pengertian yang positif.
Ideologi yang berstreotip negativ pertama kali digunakan oleh
Napoleon yang kecewa terhadap teman-temannya yang tak sepakat dengan sikapnya
yang cenderung diktator dalam menerapkan keputusan-keputusan di saat menjadi
penguasa Prancis. Pada saat itu, Napoleon memberikan identitas kepada
kawan-kawannya itu sebagai kaum “ideologues” yakni kaum yang
cenderung ideal dan tidak realistis. Pada pengertian ini kaum ideologues
dicirikan sebagai orang-orang yang menempatkan tujuan-tujuan ideal tanpa melihat
kondisi materil suatu masyarakat.
Karl Marx : Ideologi sebagai Kesadaran palsu
Asumsi di atas perlu disimak dari konsepsi Hegel menyangkut ide
sebagai gerak ruh absolut yang selalu menyempurna, dan kesempurnaan ruh yang
absolut termanifestasi pada Negara. Bagi Hegel Negara adalah kesempurnaan ruh
yang mengejewantah untuk mengatur masyarakat yang berada di bawahnya. Hegel pun
menjelaskan karena Negara adalah manifestasi ruh maka masyarakat harus tunduk
dan serta merta harus mengikuti jalannya sebuah Negara. Asumsi ini berdiri pada
pilar pijakan bahwa rasio manusia bukanlah sebagaimana yang dikatakan oleh
Immanuel Kant, bahwa rasio manusia mampu menjadi kritis jika terjadi upaya
refleksi dari upaya rasio itu sendiri, melainkan rasio itu bisa menjadi
kritis jika mendapatkan tantangan dari kondisi yang ada di luar dirinya.
Di satu sisi oleh Hegel, rasio menurut Kant
bersifat transcendental yakni sesuatu yang mutlak dan tak tergoyahkan
yang menempatkan rasio terlepas dari kenyataan. Pendapat inilah yang bagi
pembacaan Hegel keliru dikarenakan kesempurnaan rasio ditentukan sejauh mana
rasio itu mendapat tantangan di luar dirinya dan dari pertentangan inilah rasio
merangkak naik menuju kesempurnaannya. Proses dimana rasio mendapat ujian dari
tantangan yang ada inilah yang bagi filsuf jerman ini disebut dengan
dialektika.
Jadi bagi Hegel Negara adalah hasil dari proses
dialektika pikiran yang menyempurna dan sempurna. Karena kenyataan sejati
bersumber dari pikiran, dan Negara adalah hasil dari ide yang sempurna dari pikiran
maka yang sempurna dalam pikiran sempurna pula pada kehidupan ini.
Konsepsi diataslah yang menjadi kritikan marx terhadap pemikiran
Hegel. Bagi Karl Marx apa yang dikatakan Hegel adalah sesuatu yang sangat tidak
realistis. Kondisi social politik yang berjalan pada saat itu menjadi titik
pijakan Marx dalam membangun teorinya. Dikarenakan kondisi Negara yang pada
saat hidupnya, terlampau jauh dari apa yang pernah di gagas oleh pendahulunya,
mulailah Marx menganalisis kondisi yang terjadi pada zamannya. Marx mulai
melihat relasi yang terjadi pada masyarakat pada saat dimana kondisi social dan
budaya telah bergeser pada zaman feodalisme menuju masyarakat industry. Pada
masa transisi inilah Marx, menggerakkan penanya untuk menjadikan teorinya
sebagai salah satu pisau analasis masyarakat.
Sementara, kondisi masyarakat pada saat itu bagi marx terbagi oleh
kehadiran mesin-mesin produksi yang menghadirkan kesenjangan terhadap
masyarakat. Lebih jauh marx menjelaskan bahwa kondisi social masyarakat
dibentuk oleh sejauh mana mesin produksi ini dapat dipergunakan oleh
pemiliknya. Artinya bagi ia hubungan masyarakat ditentukan oleh relasi mereka
terhadap mesin-mesin produksi yang dimaksud. Marx pun menilai mesin produksi
yang dikuasai malah menjadikan penindasan terhadap masyarakat yang berada
dibawah komando pemilik mesin produksi. Marx menamakan orang-orang yang
menguasai alat-alat produksi dengan sebutan “borgues” dan mereka yang
dipekerjakan oleh pemilik alat-alat produksi disebut dengan “proletart”.
Dari pembacaan diataslah marx menilai Negara adalah bentukan kelas
borjuis untuk menguasai alat-alat produksi demi kejayaan mereka. Dengan apa
kaum borjuis menjadikan kelas pekerja atau masyarakat untuk ikut serta
mendukung peranan kaum borjuis?, Marx mengatakan kesadaran palsulah yang
diciptakan Negara untuk melanggengkan penindasan yang terjadi. Kesadaran palsu
inilah yang oleh Marx disebut dengan ideology.
Pada pemikiran Marx ideology adalah konsepsi palsu yang diciptakan
negara untuk memberikan “pandangan semu” menyangkut dunia bagi masyarakat dalam
system masyarakat industry. Jadi pada konten pemikiran Marx Negara adalah alat
yang dikuasai oleh kaum borjuis untuk menjalankan kepentingan pasarnya lewat
jalur eksploitasi tenaga kerja dan system produksi melalui aturan main yang
diatur oleh negara.
Ideology: Kesadaran (palsu) Revolusioner
Berbeda dengan Marx yang mengutuk ideology, justru oleh hampir
sebagian besar pengikutnya menjadikan ajaran-ajarannya sebagai ideologi. Namun
disini perlu kita lihat, mengapa oleh Marx ideology dinilai sebagai
kesadaran palsu sedangkan bagi pengikutnya malah menjadikan
pemikirannya sebagai ideology?
Hal ini dapat dijelaskan oleh penulis perancis bahwa ideology
bagaikan kata magis yang menarik pengorbanan bagi kaum muda terutama dalam
mengatasi kehidupan. Penjelasan ini juga dapat kita simak dalam
pemikiran Bacon tentang konsep “idola”. Konsep ini menjelaskan dalam watak
manusia selalu melakukan penyandaran atas dirinya terhadap sesuatu yang
dinilanya sebagai patron imajiner untuk dijadikan sebagai pantan dan
percontohan bagi segenap perilaku dan erbuatan yang dilakukan. Artimya dalam
konsep idola Bacon, ada relasi antara subjek(Manusia) dan objek(ideology) untuk
menyerap dan menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung
dalam ideology yang dipahami bagi diri, dan biasanya dalam relasinya
terjadi proses objektivikasi dan pengorbanan.
Penjelasan lain tentang ideology dikemukakan pula oleh
pemikir Marxisme strukturalis, Louis Althusser. Baginya dengan mengikuti
pemikiran Marx tanpa harus menjadi Marxis ortodoks mengungkapkan
bahwa ideology pada pembentukannya sebenarnya sudah tertanam jauh
dalam diri manusia semenjak ia lahir. Berbeda dengan Marx bahwa negaralah yang
menciptakan ideology, oleh Althusser, keluarga dan masyarakatlah yang pertama
kali menanamkan kesadaran palsu bagi manusia. Pendapat ini didasarkan kepada
pemikiran Althusser bahwa kesadaran manusia dibentuk oleh struktur yang
melingkupinya.
Sebelumnya, struktur dalam kajian strukturalisme adalah
relasi-relasi yang saling berkaitan dan berhuhubungan sampai membentuk
seperangkat system jejaring yang memiliki maknadan termanifestasi terhadap
apapun. Sederhananya, kaum strukturalisme mengatakan bahwa mulai dari bahasa
sampai budaya bahkan agama pada dasarnya terdiri dari struktur dan senantiasa
membentuk kesadaran manusia. Dalam buku Tentang Ideology, disitu Althuser
mengatakan masyarakat lewat srruktur keluarga, sudah memberikan
kerangka-kerangka yang membatasi ruang pandang individu mengenali dunia. Baginya
dunia individu semenjak semula sudah tebingkai struktur yang sudah tertanam
daam dirinya. Tumbuhlah ia, menjadi manusia yang digerakkan struktur. Tak
menyadari dan semakin menjauhlah ia dari dirinya.
Lebih jauh lagi dalam pengkajiannya, Althusser adalah tergolong
orang yang mempelopori kajian ideology mikro, ideology yang masuk sampai pada
tindakan terkecil manusia, mulai dari pembicaraan yang sederhana sampai
yang njelimet, dari sepak bola sampai bola dunia, dari pakaian sampai
politik. Sederhananya apa yang kita bicarkan dan lakukan tak terlepas dari
kungkungan ideology. Berbeda dengan Marx yang mengatakan ideology adalah
kesadarn palsu, Althusser Mengatakan ideology adalah sesuatu yang “given”,
terberi dan tak disadari oleh manusia sudah tertanam jauh dalam kehidupannya.
Ideology adalah produk sejarah yang menjelma secara alamiah.
Semenjak lahir hingga liang lahat manusia diatur sedemikian rupa lewat
mekanisme yang tak mampu disadarinya sehingga bagai kepercayaan yang irasional
dan tak memiliki landasan. Inilah penegasan ideology oleh orang yang pada akhir
hidupnya konon mengalami kegilaan.
Telah banyak pemikir yang mengulas sejauh kemampuannya mengkaji
ideology dari sudut pandang masing-masing. De Tracy mengatakan ideology
adalah ilmu tentang kumpulan ide, gagasan yang harus
mampu dibuktikan dalam alam kenyataan dan mampu membawa manusia pada jalur
moralitas, Napoleon mengatakan ideology adalah milik kaum idealis yang
cenderung tak realistis, sedang Marx ideology adalah kesadaran palsu yang
diciptkan Negara bagi kepentingannya, lain hal Althusser, ideology adalah
kepercayaan yang secara alamiah bentukan struktur yang tanpa disadari masuk
dalam diri manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa pengertian diatas secara tersirat memberikan adjektif negative(kecuali
de Tracy) terhadap ideology. Lalu kenapa banyak orang yang rela mati
demi ideologinya, mengorbankan hidup tanpa memikirkan pribadinya. Setidaknya
oleh Ali Syariati dalam buku Ideologi kaum intelektual, memberikan makna
“emosional” terhadap ideology. Artinya bahwa ideology sudah membawa peran untuk
menarik minat berbagai manusia untuk berkorban. Ali Syariati mengyakini bahwa
ideology identik dengan kaum intelektual, baginya kaum intelektual seharusnya
memiliki ide yang gamblang tentang ideologi untuk merumuskan jalan hidup.
Ali Syariati membedakan ilmu dan ideologi dan tidak seperti de
Tracy yang pengertian ideologinya masih bersifat netral
dikarenakan ideology adalah sekumpulan ilmu yang seharusnya netral.
Lain hal dengan itu, ideology dalam pemahaman Ali syariati
seharusnya tak netral, ia harus berpihak, dan jikaditanya berpihak kemana maka
akan dijawab berpihak kepada Kaum tertindas. Mengapa demikian? Ali Syariati
menjelaskan berdasarkan kajian kesejarahan menyangkut para Nabi yang diutus
oleh Tuhan bukan sekedar membawa wahyu yang mengajarkan manusia zikir dan doa
belaka, melainkan membawa pesan pembebasan akan umat yang tertindas.
Menurutnya, apa yang dibawa oleh Nabi-nabi samawi adalah ideology pembebasan,
ideology yang dibawa Musa untuk membebaskan kaum bani israil dari kezaliman
Firaun, Isa yang dengan kasih sayangnya membelah keotoritarian penguasa Romawi
dan Nabi Muhammad dengan gagasan egalitarianism dan penghulu kaum tertindas.
Baginya ideology adalah pembebasan akan kaum tertindas.
Menurut Ali Syariati, ideology adalah seperangkat sistem keyakinan
yang ditaati dan dimiliki oleh segenap kelompok, ras, bangsa, atupun kelas
sosial untuk dijadikan sebagai azas berperilaku yang sebagaimana
seharusnya. Lebih jauh lagi Ia mengatakan ideology merupakan panggilan jiwa
bagi kaum-kaum mustada’afin, dimana didalamnya memiliki kesetiaan (committed).
Ulasnya, bagi seorang ideolog, ideologinya merupakan suatu keharusan, dimulai
dengan sikap dan pandangan kritis untuk mendobrak status quo kaum mapan dari
aspek poitik, ekonomi, kebudayaan, dan moralitas.
Terlepas dari apakah ideology memiliki peran dan makna negative
ataupun terma yang memiliki daya magis, dalam kondisi seperti sekarang ini
diperlukan seperangkat sistematisasi gagasan-gagasan yang mampu memeberikan
visi dan pandangan dunia tertentu untuk merubah tatanan system yang terbangun
dari azas penindasan dan keserekahan. Tengoklah disekitaran kita, sebagaimana
yang dikatakan oleh Althusser, kita seakan-akan tak sadar dari kenyamanan dan keamanan
yang dirasakan bahwa jauh dari penginderaan kita bermain kepentingan ideologis
tertentu lewat struktur yang secara halus menindas kita.[]
11 Agustus 2009
Surat untuk Sahabat
Tahukah ternyata perubahan itu letaknya dibelakang….; disana
ada kisah, keluh kesah, pembelengguan, pembebasan, cawan air mata dengan
bingkai emosi yang meledak-ledak. Tersembunyi dalam altar pikiran yang tajam
nan progres. Hadirlah disana engkau yang bagiku senantiasa berkontradiksi,
menjadi sahabat sekaligus saudara, teman sekaligus lawan, belakang sekaligus
depan. Benar, keduaan kita senantiasa berawal dari satu yang sama. Sedianya
engkau berkata dalam batinku; jangan berhenti. Sudahkah engkau tengok,
dari cawan yang sama kita menimba gunung kita masing-masing. Hingga tak
sadar waktu menjadikan kita berbeda; kita tak sama, kita saling berlomba, namun
sedianya kita masih dalam satu ruang yang sama, altar yang sama, menara yang
sama. Dimana kita berdiri melihat, menerawang, mendiskusikan sebuah penantian
akan kebebasan, idealisme dan keadilan.
Duhai engkau yang menjadi penempa semangatku dikala
ruang baru kekenali. Tahukah engkau dari watakmu aku belajar, karaktermu aku menilai,
senyummu aku sayang dan dari marahmu aku memahami. Benarkah jika proses itu
bukanlah mengenali? melainkan mengingat. Mengingat dari yang Ada. Salahkan jika
ini salah bagimu, karena kutahu engkau memiliki sejumlah perbedaan denganku,
tapi jangan pernah engkau singkirkan dari kepalamu yang tak berhenti bekerja
bahwa kita berakar dari buku-buku yang sama, kamar yang sama, piring yang sama
bahkan sabun yang sama, tapi aneh bagiku kenapa kita senantiasa tak pernah
mengingat kenapa itu terjadi?
Wahai kawanku memilih adalah keharusan, berjalan adalah
kemestian, pilihanmu adalah penghargaanku, jalanmu adalah nilai bagaiku,
kata-katamu adalah pikir bagiku sedang suaramu adalah memoriku. Walaupun jalan
terlihat bercabang, waktu dirasa berbeda, ruang dipikir berlainan, kita adalah
anak manusia yang senatiasa berkontradiksi dalam unsur tanah yang sama dikawah
langit yang sama. Hanya saja kita memiliki salah satu ruang dalam kepala kita
yang mungkin saja berbeda. Tapi ketika engkau berfikir aku pun menggunakan alat
yang sama denganmu. Bukankah ini persamaan kita.
20 Juni 2009
Surat untuk Sahabat; Mengenang
Sejarah pastilah sekumpulan kisah yang terajut ikatan waktu
dan barangkali abstrak dalam kepala. Setidaknya itu, Duhai sobat yang dengan
kata engkau menafsirkan rasa lewat imajimu. Tak disadari kita menjadi Sang
Alkhemis, manusia dengan imaji masing-masing. Tentunya engkau masih mengingat
buku yang lapuk oleh tangan kita; yang bergantian mengejanya. Buku yang
bertutur tentang Santiago, anak yang menggembala dengan domba-dombanya mencari
hakiki hidup. Berbaring dengan tebal buku diselimuti alam, dimana gemintang
adalah syair-syair yang selalu ia senangi. Pernahkah engkau ingat itu Sobat?
Kita mungkin berjalan dengan Al Khemis masing-masing, cuman bedanya kita tak
memiliki domba untuk digembalakan, kita adalah imaji dengan domba yang abstrak.
Setidaknya engkau masih menyimpan memori. Ingatan
memori yang terperangkap jauh dari kepala kita. Dimana dalam sudut
kamar-kamarmu yang laksana kapal pecah, disanalah kita menghabiskan waktu dan
kata untuk bertukar rasa. Menjerat diri dalam hiruk pikuk yang entah kita
pahami. Dengan satu lembaran tebal Sang pemimpi, kita menjejalkan batu-batu
untuk naik di langit kepala masing-masing. Mulailah kita memiliki endapan masa
depan untuk melabrak zaman yang edan. Dari buku itu pun kita selalu menjalani
hari dimana kue-kue perasaan menjadi perayaan. Alangkah indahnya kenangan itu?
Tibalah engkau memiliki impian dengan belahan yang jiwa. Merangkai nasib untuk
masa yang bergelimangan air mata. Mulailah kita memiliki bumi yang berbeda.
Tetapi aku hargai pilihanmu, pilihan yang bagimu adalah hidup yang konsekuen,
hidup yang olehnya aku belajar. Wahai sobat ingatlah kita setidaknya pernah satu senyuman,
satu kemarahan dan satu atap. Sedianya engakau jangan sisihkan pada hari tuamu
kelak..Bicarakan tentang kami, satu yang revolusi baginya jalan dan satu yang
olehnya revolusi bukanlah letupan. Duhai kawan, kita adalah luapan dari kisah yang
belum usai.
Tulisan tahun 2009; berdasarkan ingatan
19 Mei 2009
Kaum Muda Menentang Kapitalisme Global
(Tulisan ini merupakan tulisan di sekitar tahun 2006/2007, dengan telah
mengalami editan sana sini)
pada titik ketertindasan dari hak-hak yang ada
Maka Kaum muda adalah hati nurani
Yang selalu berteriak dengan semangat perlawanan
terhadap
Penindasan apapun
Sistem ekonomi kapitalisme memiliki mekanisme kerja berdasarkan tiga
komponen utama yakni kaum pemodal, tenaga kerja, dan pasar melalui corak
hubungan produksi. Keuntungan kapital kaum
pemodal, telah melahirkan banyak implikasi terhadap kondisi
masyarakat yang dijadikan sebagai lahan komoditinya. Proses kerja dari
tiga komponen basis struktur kemudian mengarahkan kita pada arena
pasar bebas, di mana di dalamnya terjadi pembantaian
secara massal akan nasib berjuta-juta manusia.
Lahirnya kesenjangan kelas, bertambahnya masyarakat yang hidup dibawah
garis kemiskinan, banyaknya anak-anak didik yang putus sekolah, berdiri dan
bertambahnya gedung-gedung pencakar langit hingga sampai menyituasikan kondisi
masyarakat yang berwatak konsumerisme adalah beberapa fenomena yang lahir
akibat permainan apik dari sistem kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme dengan
perangkat hegemonik melalui mekanisme penghisapan
dan penindasan, telah melahirkan penjajahan bergaya baru dengan
cara konsep depedensi ekonomi. Dampaknya cukup
luar biasa terhadap segala sendi kehidupan umat manusia.
Hadirnya negara-negara
kapitalis pasca perang dunia kedua pada sepanjang abad ke-20 telah menggerakkan
modalnya berupa uang, aset, dan sumber-sumber dayanya dari lingkup negaranya
untuk ditanamkan terhadap lokasi yang memiliki potensi besar untuk menanamkan
investasinya. Dengan cara itu mereka mendapatkan laba yang besar dari
berkurangnya biaya-biaya produksi dengan adanya pengangkutan barang-barang
melalui udara, berkembangya infrastruktur komunikasi dan teknologi informasi
untuk melakukan kontrak-kontrak produksi sampai kebelahan dunia manapun.
Corak baru hubungan produksi seperti demikianlah yang kemudian melahirkan sistem
kapitalisme global. Sistem yang pada akhirnya berujung pada
imperialisme pasar. Sistem kapitalisme global yang telah melahirkan
penghapusan-penghapusan akan batas-batas lokal sebuah kawasan yang nantinya
akan membuka peluang bagi pihak-pihak pemodal untuk membentuk perusahaan yang
berskala transnasional agar bersatu dalam satu korporasi internasional.
Korporasi-korporasi inilah yang akan memainkan arah pasar, tarif harga yang
dipakai sampai bentuk dan corak dari suatu barang yang diperdagangkan.
Berbicara mengenai “pasar” yang merupakan tempat perdagangan bebas bagi pihak
kapitalisme adalah bagaimana agar mereka dapat mendapatkan keuntungan
sebesar-besarnya dengan cara apapun. Sesuai dengan logika
mereka yaitu logika akumulasi modal. Untuk memenangkan kompetisisi di pasar
maka biaya produksi harus lebih kecil daripada saingannya atau memperkecil
jumlah pesaing dengan cara peleburan. Dengan cara ini maka
beberapa pelaku pasar akan berkurang sehingga akan berdampak pada pembentukan
sistem monopoli pasar yang dikemudikan oleh segelintir perusahaan.
28 April 2009
Surat untuk Sahabat; Eksentrik
Silong, ingin kuawali tulisanku dengan sapaan anak dari
utara. Sapaan yang terkesan primordial, namun bagiku dan bagimu itu adalah kata
yang menyimpan emosi dan jiwa kita. Akhir-akhir ini aku mulai lupa kapan kita
pernah bertemu, tapi masih tergiang benar dalam benakku bahwa kita berkenalan
pada saat semuanya mencari teman.
Masihkah engkau mengingat jawaban yang engkau berikan
dengan jawaban yang berubah-ubah jika ada yang menanyaimu, itu membuatku
bingung pada saat itu, tapi akhirnya jelas kita ternyata bernaung dalam satu
jurusan yang sama. Tempat dimana nantinya kita akan menemui manusia-manusia
yang memiliki pendirian teguh. Dari sanalah kita akan bersama dalam mencari
diri kita yang belum kita kenali. Satu tempat yang memiliki kamar-kamar kita
sendiri.
Akhir-akhir
ini akupun semakin lupa mengenai kisah kita semua, tapi dari kisahmu denganku
tentang pada saat kita berpuasa, melewati malam-malam sahur saat kau menguasai
berpuluh kepala ditempat dimana kau menjadi pemimpinnya. Malam itu malam yang
masih melekat benar dalam kepalaku. Sungguh memori yang tak bisa kulupa.
Tahuku engkau adalah teman yang sulit melihat saudaranya dalam keadaan susah,
sisi inilah dimana aku belajar darimu, satu sifat Tuhan yang mungkin aku belum
memilikinya.
Engkau adalah saudaraku yang berbeda dengan lainnya.
Seseorang yang pandai memainkan ritme-ritme emosi pada saat semuanya kaku, itu
hal yang belum aku miliki. Pula, engkau tak banyak berceloteh tentang dunia
dengan seisinya, berbeda dengan aku yang melihat dunia dari kepalaku, engkau
justru melihat dan mengubah dunia dengan lelucon dan tutur katamu, sungguh
pribadi yang patut aku pelajari.
Hai punggawa dari utara, akhir-akhir ini dan dari awal
engkau menjadi orang yang optimis, jujur ajari aku untuk seperti itu! bahkan
engkau sekarang sedang dalam garis depan, sebentar lagi akan membalikkan kapalmu
menuju bukit-bukit utara dan membuat kami kecil yang berdiri di tepian bibir
pantai.
Kawanku, camkanlah kisah kita semua, Antara Si
Revolusioner yang eksentrik, Si Penyair yang erotis dan sobatmu yang masih
belajar belum usai. Kita laksana pelangi yang ujung satunya berawal dari lembah
pegunungan yang berlumut menuju ujung yang lain di atas perbukitan yang tak
satu pun pohon kita kenali. Lanjutkan utopiamu sertakan kami sebagai catatan
kecil untuk hari esok.
Salam Sayang Dariku.
Tulisan tahun 2009; Berdasarkan Ingatan.
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...