02 Agustus 2020

Pendidikan dan Aib: Takdir Hidup si Automaton


(1)

OTAK manusia, menurut ahli psikologi perkembangan, tidak sempurna kali pertama dilahirkan. Sebagai organ paling kompleks, otak manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyempurnakan pertumbuhan jaringan sel syarafnya.[1] Para ahli neurologi, karena itu menyebut otak manusia organ paling lemah dan prematur dibandingkan otak makhluk lainnya .

Berbeda dari binatang, manusia menciptakan kebudayaan demi menutupi lubang-lubang dalam kehidupannya. Melalui kebudayaan, dan dalam waktu yang sangat panjang, ia belajar menyempurnakan jaringan sel otaknya melalui revolusi kognitif. Di waktu-waktu itu juga, ia membangun rumah meninggalkan gua-gua demi berlindung dari alam rimba, menemukan sawah dan ladang-ladang, dan menciptakan revolusi agrikultur untuk bertahan hidup,[2] dan menciptakan pakaian agar berbeda dengan simpanse atau kera, kerabat dekatnya, yang masih berkeliaran bebas di hutan-hutan.

Manusia, karena itu, tampak menjadi makhluk yang paling maju dibanding hewan lainnya. Setelah ia menciptakan revolusi kognitif dan revolusi agrikultur, manusia banyak belajar dan mendidik dirinya. 

Tidak semua hal dapat dipelajari manusia, tapi melalui pendidikan, manusia menciptakan hal-hal semacam jalan raya, taman bermain, buku, perpustakaan, ruang belajar, dan sekolah, demi membuat perbedaan fundamental dengan para binatang. Semua hal-hal itu disosialisasikan bersama temuan-temuan baru selama berabad-abad, untuk memaksimalkan kerja jaringan syarafnya. Agar otak manusia mampu menjadi piranti yang membuatnya dapat menghadapi situasi yang serba berubah.

Sigmund Freud, psikoanalisis asal Swiss, mengandaikan manusia digerakkan bukan sepenunya oleh alam sadar seperti anggapan abad sebelumnya. Ibarat gunung es di atas permukaan lautan, puncak es yang tampak, hanyalah penampakan sebagian kecil dari badan gunung yang tersembunyi di dasar lautan.

Bagaikan puncak gunung es, kesadaran manusia tidak sepenuhnya tampak mandiri oleh karena ditopang kaki-kaki gunung yang tersembunyi jauh di bawah permukaan. Kaki-kaki gunung yang tersembunyi inilah alam bawah sadar manusia yang sebenarnya menopang alam sadar manusia.[3]

Di antara dua lapisan kesadaran ini, manusia mengerahkan seluruh energinya agar tidak selamanya hidup di dalam kubangan alam bawah sadar yang notabene memiliki gelagat negatif.[4] Dalam hal ini, manusia mendedikasikan kehidupannya bertahun-tahun ke dalam pendidikan untuk memperhalus perangainya, agar tidak berperilaku seperti hewan-hewan di alam rimba.

Tak bisa dimungkiri, di sisi jiwa terdalam manusia, ada sisi instingtif yang mampu menggerakkan manusia bertindak di luar batas-batas normal. Bahkan, sisi ini seringkali begitu kuat menarik alam sadar manusia jatuh ke alam bawah sadarnya yang sepenuhnya irasional, amoral, dan asosial. Meski demikian, di sinilah mengapa kehidupan masyarakat nampak percaya dan menyandarkan sepenuhnya kepada institusi sekolah agar berperan mengontrol dan mendidik sisi libidinal manusia.

Dalam kancah yang lebih luas, tatanan yang lebih mengedepankan unsur libidinal manusia akan menciptakan kondisi buruk berupa dehumanisasi dan alienasi. Kehilangan kontrol atas alam sadar akan menimbulkan kegilaan berupa kehilangan dimensi kemanusiaan yang menjadi ciri fundamental manusia.[5] Alienasi berupa keberjarakan manusia dari inti kemanusiaannya akan membuat dirinya mengalami kesalahan mengenal siapa dirinya.[6] Ia, dengan kata lain, akan mengalami krisis eksistensi berupa keterasingan akut.

Dunia memang sudah berubah dari beberapa abad sebelumnya. Meski demikian, revolusi kognitif, agrikultur, industri, dan belakangan revolusi teknologi informasi, tidak sepenuhnya mengubah kenyataan bahwa masih ada bangsa-bangsa terbelakang, kawasan-kawasan perang, dan negara-negara koloni yang belum sepenuhnya merdeka seratus persen.

Di sejumlah tempat demikian, banyak orang-orang hidup di bawah garis kemiskinan, terancam menerima risiko pembangunan berupa gizi buruk, putus sekolah, kehilangan tempat tinggal, putus kerja, pandemi, dan kematian.

Tidak juga bisa disanksikan, ketika kereta kuda telah berganti menjadi kereta supercepat, dan alat tukar sudah semakin canggih, temuan-temuan peradaban masih belum mampu mengubah cara berpikir sebagaian orang—jika bukan masyarakat—yang memercayai sebagian kawasan dunia telah menjadi tempat persembunyian alien saat datang menggunakan ufo, atau percaya dengan naif, bahwa dunia tidak sepenuhnya diciptakan menyerupai bola sepak.

Jika pendidikan seperti disebutkan oleh para ahli merupakan usaha sadar dan sistematis[7] untuk mengubah hal-hal di atas, maka perlu suatu pendekatan, jika bukan defenisi lain, untuk mengartikan pendidikan yang mengubah total seluruh dimensi diri manusia, dan bukan saja menyasar dimensi kognitif yang hanya sekian persen dari alam berpikirnya.

Dengan kata lain, pendidikan bukan saja bertanggug jawab kepada pengembangan dimensi kognitif dan afeksi manusia belaka, tapi juga mesti ikut bertanggung jawab kepada keseluruhan hidup manusia, kepada nasib dan kesejahteraannya.

Di Brazil, sosok seperti Paulo Friere, mengartikan lebih jauh apa arti pendidikan di masa kini. Menurutnya, pendidikan tidak sekadar transfer ilmu pengetahuan belaka, yang ia kritik sebagai pendidikan ala bank[8], melainkan mesti berfungsi sebagai alat pembebasan manusia dari proses dehumanisasi dan alienasi yang disebabkan sistem represif berupa negara atau sistem ekonomi politik seperti kapitalisme. Pendidikan mesti mengerahkan kemampuan peserta didik melewati tahap-tahap kesadaran—magis dan naif—mencapai kesadaran kritis.[9]

Kesadaran kritis adalah tahap kesadaran puncak setelah manusia mampu mengidentifikasi problemnya ke dalam konteks kehidupan sosial politik yang menjadi sebab mengapa ia menghadapi masalah demikian.

Kemiskinan, misalnya, konteks kehidupan yang menjadi titik tolak pendidikan ala Freire, akan berakhir sebagai kenyataan yang magis dan naif,  ketika hanya dilihat sebagai nasib masyarakat yang tidak terkait sama sekali dengan faktor-faktor sosial dan politik. Hanya kesadaran kritislah yang mampu mengemukakan faktor-faktor terkait, mengapa kemiskinan dapat terjadi. Dengan kata lain, kemiskinan dalam hal ini bukan takdir masyarakat yang sepenuhnya terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi pula dari unsur ekonomi, sosial, budaya, dan kekuasaan.

Paulo Freire, menyebut pendidikannya ini sebagai pendidikan kaum tertindas, dengan alasan dan titik tolak masih banyak orang miskin yang mengalami dehumanisasi oleh sistem represif berupa negara atau sistem ekonomi kapitalisme, serta dampak dari itu, terjadi pemiskinan besar-besaran yang membuat banyak orang hidup tanpa dipenuhi hak-hak dasarnya.[10]

Oleh sebab itu, tugas pendidikan bagi Freire adalah mengembalikan kemanusiaan yang hilang, baik dari penindasan dan masyarakat yang mengalami ketertindasan melalui suatu praksis pembebasan hadap masalah. [11] Dalam hal ini, praksis bagi Freire berarti dua unsur yang bekerja secara simultan berupa refleksi dan aksi, di mana refleksi mengandaikan proses transformasi kesadaran manusia atas keberadaaanya di dunia, dan aksi sebagai kemampuan mengubah keadaan dengan kapasitas kesadaran yang sudah sebelumnya dimiliki.[12]

Banyak kritikus pendidikan yang mendakukan bahwa dunia pendidikan adalah refleksi masyarakatnya.[13] Era sekarang, ketika kapitalisme mutakhir menjadi momok tak terhindarkan, pendidikan yang memiliki tujuan yang luhur itu pada akhirnya didudukkan berdasarkan skema masyarakat kapitalistik.

Menurut pendakuan Jean Anyon, seorang sosiolog pendidikan marxis, relasi pengetahuan yang berlaku dalam institusi pendidikan, hanyalah kebutuhan-kebutuhan yang disesuaikan dengan sistem ekonomi pasar kapitalistik.[14]

Temuan ini ia dapatkan atas fenomena yang ia hadapi sejak 1970 mengenai lima sekolah dasar yang berlatar belakang ekonomi berbeda satu sama lain: dua sekolah kelas pekerja; satu sekolah kelas menengah; satu sekolah kelas profesional; dan satu sekolah elite eksekutif. Dari penelitiannya ini, Anyon menemukan adanya pendekatan pembelajaran berupa ilmu, prosedur, dan keahlian yang berbeda dari masing-masing sekolah, yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar tempat anak-anak didik nanti bekerja.[15]

Itulah mengapa sampai hari ini, terutama dalam institusi pendidikan tinggi, banyak sekat-sekat yang membagi secara kategoris satuan belajar dimulai dari cara masuk berdasarkan tingkat ekonominya. Kata Ivan Illich, proses pendidikan yang dikonfigurasikan atas sistem ekonomi, hanya menghasilkan out put yang tak bermutu.[16] Sekolah hanya mendorong kepada pengasingan siswa dari hidup. Sekolah hanya memaksa semua anak untuk memanjat tangga pendidikan yang tidak berujung dan tidak meningkatkan mutu, melainkan hanya menguntungkan individu-individu yang sudah mengawali pemanjatan itu sejak dini. Pengajaran yang diwajibkan di sekolah membunuh kehendak banyak orang untuk belajar mandiri, pengetahuan dilakukan ibarat komoditi, dikemas-kemas dan dijajakan.[17]

Di saat itulah ilmu pengetahuan menjadi komoditi.[18] Seperti benda-benda yang terpampang dalam etalase pertokoan, kapitalisme membuat pendidikan kehilangan arah dan tujuan hakikinya untuk menciptakan peserta didik yang kritis terhadap dunia.[19]

Peradaban kiwari, jika dianalisis ke dalam pendekatan sosiologi pengetahuan, adalah stuktur kehidupan yang tidak lekang dari intervensi kekuasaan dan ideologi. Kedua hal ini, dalam kehidupan ril, bekerja sampai ke level pengetahuan dan perilaku dengan cara keterlibatan medium-medium sosialisasi seperti media massa, lembaga keluarga, lembaga hukum, dan sekolah.[20] 

Pengetahuan, dalam arti sebagai  cara pandang, kebiasaan, dan kecenderungan-kecenderungan dalam tingkah polah manusia, dengan kata lain tidak tercipta di dalam ruang hampa. Ia, betapa pun mulia tujuannya, mau tidak mau mengalami banyak bias yang dipengaruhi oleh kekuasaan dan ideologi yang bergerak secara simultan dan timbal balik dalam membentuk masyarakat.

Setidaknya ada tiga pengaruh yang ditimbulkan kapitalisme terhadap pendidikan, sebagaimana yang diungkapkan Peter McLaren. Pertama, kapitalisme menciptakan sekolah-sekolah yang menerapkan praktek penyelenggaraan pendidikan yang lebih mendukung kontrol ekonomi oleh kelas elite. Kedua, hubungan kapitalisme dan ilmu pengetahuan telah mendorong terciptanya perkembangan ilmu pengetahuan yang bertujuan mendapatkan profit material dibanding menciptakan kehidupan global yang lebih baik. Ketiga, perkawinan kapitalisme dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan telah menciptakan fondasi bagi ilmu pendidikan yang menekankan nilai-nilai korporasi dengan mengorbankan nilai keadilan sosial dan martabat manusia.[21]

 

 

(2)

ADA suatu istilah menggelitik yang diungkapkan Erich Fromm, scholar psikologi humanistik, dalam suatu artikelnya menyangkut pendidikan: Mendidik si Automaton.[22] Si Automaton merupakan penggambaran manusia yang menurut Fromm lahir dari kebebasan demokrasi, dengan hak untuk mengutarakan pendapat, tapi tidak bermakna sama sekali lantaran tidak mampu memiliki isi pikiran sendiri. Kebebasan, kata Fromm, tidak akan berarti sama sekali jika manusia masih berkubang di dalam kondisi kejiwaan tanpa subjektivitas, atau mampu menetapkan individualitasnya sendiri. Automaton, dengan kata lain, sesosok manusia yang ia sebut makhluk yang hidup terkucil, bergerak dan berpikir serupa mesin, serba otomatis.[23]

Dalam artikel itu, Fromm  mengkritisi kebudayaan yang mencetuskan model pendidikan yang menghasilkan peserta didik yang kehilangan cetusan-cetusan jiwa, perasaan, pikiran, dan harapan, yang sengaja disuntikkan dari luar.[24] Fromm, menghendaki suatu model  pendidikan yang mampu melahirkan individu-individu dengan tindakan merdeka dan autentik, yang berakar dari individu yang bersangkutan.

Melalui kritiknya ini, Fromm sebenarnya sedang mengarahkan arah kritiknya kepada suatu tradisi pendidikan yang berlandaskan paradigma dengan asas-asas positivistik, yang menghasilkan keluaran pendidikan teknokratik. Pendidikan ala positivistik, atau berdasarkan rasionalitas teknokratis punya dua unsur utama: konformitas dan uniformitas.

Konformitas adalah suatu upaya yang mengarah kepada penciptaan peserta didik yang pasif terhadap kehidupan dan teks ilmu pengetahuan. Sikap ini, dalam konteks kehidupan ril,  dengan sendirinya akan menciptakan manusia yang kehilangan gairah dan kehendak mandiri di dalam menentukan jalan nasibnya sendiri, akibat menerima keadaan apa adanya dan tanpa reserve sama sekali.

Sementara uniformitas, menciptakan keadaan masyarakat terdidik yang berdimensi tunggal melalui kesamaan cara pandang, minat, skill, dan tujuan hidupnya. Uniformitas atau penyeragaman, pada kasus-kasus tertentu seperti di Indonesia, selain dari sisi penyelenggaraan dan kurikulum, nampak kepada penggunaan seragam sekolah sebagai busana wajib bagi kalangan terdidik.

Sekolah atau intitusi pendidikan seperti perguruan tinggi, sebagai lembaga pendidikan, selain berfungsi sebagai alat untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan rekayasa sosial, adalah juga wahana sosialisasi politik bagi generasi muda, termasuk di dalamnya proses seleksi, rekrutmen, dan induksi ke dalam budaya budaya politik yang sedang berlaku. [25]

Itulah sebabnya, seperti didakukan melalui perspektif mazhab pendidikan kritis, yakni pendidikan atau institusi sekolah tidaklah netral, independen, dan bebas kepentingan, tapi justru menjadi bagian dari institusi sosial yang syarat kepentingan kekuasaan, ideologi, dan pasar.

Dalam tradisi pemikiran sosiologi kritis atau posmodernis, Pierre Bourdieu dan Michele Foucault, adalah dua pemikir yang menelisik dan menemukan betapa kuatnya relasi kekuasaan terhadap ilmu pengetahuan atau institusi pendidikan. Pertautan keduanya, bisa saling mengandaikan dengan maksud sama-sama merepresentasikan kekuatan dominan yang menjadi ideologi kekuasaan saat itu.

Kritik Bourdieu terhadap pendidikan dilihatnya melalui analisis kekerasan simbolik yang inklud di dalam praktik-pratik penyelenggaraan pendidikan dalam sekolah-sekolah. Kekerasan simbolik menurut Bourdieu dapat dinyatakan sebagai pemaksaan sistem simbolisme dan makna (misalnya kebudayaan) terhadap kelompok atau kelas sedemikian rupa sehingga hal itu dialami sebagai sesuatu yang sah.[26] Konsep yang menyerupai keadaan hegemoni menurut Antonio Gramsci ini, dapat berlangsung dalam waktu yang lama dan terjadi secara gradual, dikarenakan dilegitimasi melalui kekuasaan sehingga dianggap absah.

Kekerasan simbolik juga dapat terjadi melalui mekanisme pemaksaan tata cara, kebiasaan, tradisi, mekanisme, prosedur, atau apa yang diistilahkan Bourdieu sebagai habitus,[27] ke dalam kelas tertentu dengan cara halus dan tak disadari, sehingga kelompok yang bersangkutan menerima keadaan dengan cara apa adanya.[28]

Sama seperti penemuan  Jean Anyon, Bourdieu selama melakukan riset di bidang Pendidikan di Prancis, menemukan fenomena sekolah-sekolah yang menjalankan reproduksi sosial berdasarkan fungsi atau kebutuhan kelas elite. Di saat bersamaan, sekolah gagal melakukan mobilisasi kelas bawah untuk melakukan perbaikan atas kehidupannya yang serba  berkekurangan. Sekolah dalam keadaan ini, menurut Bourdieu adalah institusi yang mempertahankan status quo berdasarkan kepentingan kekuasaan kelas dominan. Bahkan, di keadaan yang spesifik, sekolah digunakan kelas dominan untuk mengukuhkan pandangan, cara berpikir, dan kebiasaannya, melalui kekerasan simbolik atas modal kultural[29] kelas bersangkutan.[30]

Sementara Michele Foucault, melihat kekuasaan atas pendidikan didasarkan kepada pemahaman bahwa kekuasaan tidak selamanya bersifat destruktif (menghancurkan), melainkan reproduktif dan kreatif (membentuk). Itu artinya bukan saja melalui pemaksaan, perintah, pelarangan, penekanan, penyaringan, dan dominasi, kekuasaan yang disebutnya tersebar dan divergen, bekerja pula dengan cara pengontrolan atas wacana dan ilmu pengetahuan.[31]

Atas dasar itu, pengetahuan atau wacana bukan ruang steril dari kepentingan. Menurut Foucault, wacana yang menjadi bagian dari kekuasaan, ikut pula mengatur bahasa dalam rangka menerangkan realitas. Bahasa, dalam hal ini bagian aktif dari kebudayaan yang ikut mengatur cara pandang, kebiasaan, dan aturan normatif dari komunitas tertentu. Perbedaan bahasa, dengan itu akan ikut menentukan perbedaan wacana dan pengetahuan, yang semuanya ditentukan dari kekuasaan itu sendiri.

Itu artinya, kekuasaanlah yang mengatur kebenaran dan wacana macam apa yang layak diketahui, aturan manakah yang mesti diindahkan, dan kenormalan manakah yang layak disebut betul-betul alamiah.  Dalam praktiknya, kekuasaan tidak bekerja atas tubuh, melainkan melalui tubuh, yang berarti tubuh bukan objek kekuasaan melainkan alat kekuasaan untuk melalukan mekanisme kontrol aktivitas dan praktik hidup sehari-hari.[32]

Kekuasaan negara dalam pendidikan, seperti dialami anak-anak Indonesia di sebagian usianya, muncul dalam bentuk-bentuk harfiah berupa indoktrinasi wacana sejarah resmi negara melalui pelajaran kewarganegaraan yang pernah diamalkan orde baru, penerapan kurikulum, sistem penilaian, dan manajemen sekolah. Di masa sebelumnya, di masa Orba, kehadiran sekolah-sekolah yang lahir atas dasar intruksi presiden (Inpres), bukan semata-mata untuk pemerataan pendidikan saja, melainkan sebagai mekanisme kontrol negara untuk menentukan wacana dan ilmu pengetahuan macam apa yang absah dipelajari masyarakat. [33]

Dalam konteks inilah, seperti yang ditulis Darmaningtyas, pendidikan nasional Tanah Air mengalami pergeseran orientasi akibat menguatnya kepentingan kekuasaan Orde baru, yang semula bertujuan untuk pencerdasan bangsa menjadi hanya sekadar instrumen politik jangka pendek. Melalui ini, perlu direfleksikan, apakah ada sebabnya secara internal sekolah-sekolah tidak mampu memenuhi kebutuhan dan tujuan pendidikan itu sendiri,[34] sehingga mendorong tumbuh suburnya lembaga-lembaga bimbingan belajar yang mengambil alih tugas belajar sekolah.

Foucault mengatakan, di dalam zaman modern, sekolah juga menjadi intitusi yang menjalankan tugas pengkotak-kotakkan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, bukan saja menjadi rezim pengetahuan yang mendikotomikan kategori kognitif menjadi jenius-idiot, cerdas-bodoh, rajin-malas, aktif-pasif, kedalam pengorganisasian tindakan peserta didik, sekolah dan juga perguruan tinggi melalukan pemisahan berupa subjek, penjurusan, dan mata pelajaran, sehingga berpengaruh terhadap masa depan peserta didik. [35]

Foucault juga mengatakan peralihan model pendidikan tradisional ke model pendidikan modern, ikut mengubah pola hukuman yang diterapkan di dalam intitusi pendidikan. Berbeda dari pola pendidikan tradisional yang menggunakan jenis hukuman fisik, dalam pola pendidikan modern, hukuman lebih diarahkan kepada mekanisme pendisiplinan, yang menjadi karakter masyarakat modern, yakni suatu proses pengubahan individu agar bertindak dan bersikap sesuai norma dan nilai masyarakat.

Dalam ranah pendidikan, menurut Foucault, pendisiplinan bekerja dalam tiga cara. Pertama, pengamatan. Metode ini diambil dari apa yang diistilahkan Foucault sebagai metode pengawasan panopticon, yakni apa yang diilustrasikan sebagai semacam menara pengawas dalam lingkungan penjara, yang memiliki kekuasaan mengawasi tanpa diketahui oleh orang yang sedang diawasi setiap saat. Inilah salah satu yang disebut hakikat kekuasaan itu sendiri, yakni terjadi secara diam-diam dan tersembunyi.

Seragam sekolah adalah salah satu cara penerapan pengawasan model panopticon, yang mengakibatkan murid sekolah mengalami situasi pengawasan secara langsung dan tanpa diketahui, karena dengan menggunaan seragam, tidak membuatnya dapat melakukan tindakan yang bebas. Saat bolos sekolah misalnya, seragamnya membuatnya otomatis menjadi terdakwa sehingga mudah dikenali dan dihukum.[36]

Di dalam situasi belajar, murid juga mengalami situasi pengawasan melalui sejumlah mekanisme pembelajaran yang dikontrol langsung oleh guru. Seperti kekuatan mata satu menara Sauron (Barad-dur)[37] dalam serial The Lord of The Ring, sang guru memiliki pengamatan dan kewenangan tanpa batas dalam menentukan kebebasan murid di dalam bersikap selama bersekolah. 

Cara selanjutnya adalah normalisasi atau standardisasi. Dalam sekolah, normalisasi atau standardisasi adalah suatu bentuk kegiatan belajar mengajar yang mengelompokkan dan mengkategorisasi peserta didik atau satuan pendidikan ke dalam ukuran-ukuran atau standar tertentu. Munculnya ukuran kecerdasan, kesopanan, dan kepatuhan, yang membandingkan peserta didik satu sama lain menggunakan kriteria tertentu, adalah bias yang dihasilkan dari mekanisme ini. Selain akreditasi, yang merupakan wujud nyata bagaimana kekuasaan negara menstandardisasi pendidikan, setiap tahun, kenyataan yang paling terang atas ini adalah standar kelulusan yang dihasilkan dari ujian nasional.[38]

Yang ketiga adalah ujian. Ujian dalam sekolah-sekolah, meskipun bertujuan sebagai evaluasi atas capaian tugas pembelajaran, kenyataannya adalah cara kekuasaan menjalankan ganjaran dan hukuman atas dua mekanisme sebelumnya, yaitu pengawasan dan standardisasi. Jika ada peserta didik yang tidak mencapai targert mekanisme sebelumnya, maka ujian akan berfungsi bukan sekadar untuk mengevaluasi tingkat pemahaman, tapi juga mengintervensi dengan menerapkan ganjaran dan hukuman sampai ke level afeksi.[39]

Ekses negatif dari ujian adalah leluasanya kekuasaan atas nama ilmu pengetahuan, mengurutkan dengan cara sederhana peserta didik ke dalam satuan-satuan kompetensi secara bertingkat, yang semuanya akan berdampak kepada penggolongan kemampuan peserta didik.

 

(3)

JIKA dikatakan aib, pendidikan nasional saat ini ketika berani untuk dikatakan adalah suatu sistem yang mengkerdilkan hakikat manusia dan kehidupannya. Melalui anggaran yang tidak seberapa, institusi yang korup, guru-guru yang tidak inspiratif, kurikulum yang beku dan kaku, serta metode belajar tradisional, merupakan wajah kelam yang disembunyikan di bawah permadani berupa prestasi menteri pendidikan yang muda nan rupawan, guru pahlawan tanpa tanda jasa, perubahan kurikulum atas nama progresifitas, serta slogan canggih mengawang-awang merdeka belajar. Semua itu masalah hari ini yang mesti direfleksikan secara kritis terus menerus agar pendidikan tidak berkubang di dalam masalah-masalah yang sudah diuraikan di atas.

Alkisah, sebutlah seorang anak bernama Bintang, anak sulung dari empat bersaudara, hidup nyaman di dalam keluarga mapan di daerah yang jauh dari kota Makassar. Dari kecil Bintang dimanjakan dengan pola asuh ”asal boleh” tanpa reserve dari kedua orang tuanya. Ia sering dilenakan dengan mainan-mainan mahal, yang dibelikan langsung dari gaji bapaknya yang bekerja sebagai pejabat di daerahnya. Layang-layang, sawah, dan sungai adalah semesta asing sejak Bintang kecil. Tidak seperti teman-temannya, pandai memancing di sungai, bermain petak umpet di sela-sela pohon cokelat di kebun, atau bersenda gurau sambil mencari keong di sawah, Bintang  tumbuh menjadi anak periang dan miskin pergaulan. Ketika teman sebayanya sibuk mencari bambu untuk membuat layang-layang, atau membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk limau, Bintang tumbuh  di dalam rumah bersama saudara-saudara, terasing dari pergaulan di antara sepupu-sepupunya, banyak menghabiskan waktunya di depan televisi dan bermain game playstation.

Di sekolah, Bintang menjadi murid baik dengan seragam yang tak pernah kusut sedikitpun. Ia dianggap sebagai murid yang sopan karena tidak sekalipun pernah berbuat onar, pendiam, dan penurut.

Di kelas. Bintang akan bertemu satu dua guru yang inspiratif tapi miskin terobosan karena desakan RPP dan kurikulum yang kaku dan baku. Selebihnya, Bintang belajar tentang ilmu sejarah dari guru yang mengharuskannya menghapal tanggal-tanggal penting, peristiwa penting, dan nama-nama penting yang harus ia ingat sampai mati.  Ia belajar biologi dari gambar-gambar di buku panduan tanpa pernah diajak melihatnya di alam bebas, menghapal rumus-rumus matematika dan ilmu kimia tanpa diberitahukan apa kegunaan praktis jika itu dibawa ke kehidupan nyata.

Bintang kadang mesti menahan ngantuk jika jam-jam pelajaran memasuki waktu siang hari. Di saat itu, pelajaran ekonomi akan tampak membosankan sama halnya seperti mempelajari ilmu agama dari seorang guru yang lebih suka memberikannya hapalan surah-surah pendek, dan sejumlah pekerjaan rumah menyangkut isian daftar salat wajib yang mesti terisi penuh.

Dari itu semua, Bintang seolah-olah bersekolah, tapi lebih sering ia merasa sedang diburu oleh sesuatu tapi entah apa. Ia merasakan ada bagian dirinya yang dipenjara dan dituntut untuk diam daripada mengungkapkapnnya. Keresahan ini sekali dua kali ia rasakan, meskipun seiring waktu, itu bakal terhapus jika ia sibuk menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya.

Bintang tumbuh di dalam sekolah seperti anak seusianya, memilih teman perempuan atau yang lain, yang menurutnya lebih nyaman diajak ngobrol tentang anime Jepang, atau diajak bekerja sama dalam kegiatan belajar kelompok. Bersama teman terbatasnya, ia belajar menjadi murid seperti yang diharapkan gurunya. Rajin ke sekolah dan mengerjakan tugas sesuai intruksi yang tertera di buku cetaknya.

Jika ia pulang ke sekolah, pakaiannya ia gantungkan dan membiarkannya menumpuk bersama buku-buku pelajaran yang ditinggalkan begitu saja, di atas meja belajar yang jarang ia gunakan. Hari-hari demi hari ia lakukan hal yang sama, dengan seluruh kebutuhan yang ia bebankan kepada kedua orangtuanya. Bintang anak penurut yang tidak ada satu helai pun pakaian yang ia kenakan pernah ia cuci sendiri.

Sejak android menjadi mainan baru anak-anak masa kini, ia tidak pernah berpaling dari gawai canggihnya. Kebiasan mengoleksi gambar-gambar anime dan grup girlband K-Pop masih ia lakukan, di samping mengikuti serial komik online Korea. Kebiasaan itu memunculkan suatu pengetahuan baru baginya, terutama mengenai nama-nama artis dan frasa-frasa bahasa Korea yang ia hapal di luar kepala. Kemajuan ini ia rasakan dari waktu ke waktu, meski ia sadar sejak kecil tak pernah sekalipun tahu  dan mahir menggunakan bahasa ibunya dalam berkomunikasi sesama teman di daerahnya.

Setelah lulus dari SMA, yang saat masuk diupayakan orangtuanya dengan susah payah dikarenakan mesti ”membeli kursi” di sekolah yang tidak sepenuhnya sekolah favorit, kini membuatnya hidup jauh dari kedua orangtuanya di Makassar. Bintang saat ini telah menjadi seorang mahasiswa, dan tinggal sendiri di rumahnya yang jauh hari sudah dibelikan khusus untuk dirinya.

Tidak ada yang sepenuhnya berubah dari diri Bintang selain kelebihan uang jajan, dan sepeda motor yang dibelikan untuknya. Sehari-hari Bintang masih menyukai anime Jepang, dan menggandrungi game online, yang dimainkannya nyaris setiap waktu. Ia makan dengan mengandalkan uang jajan yang otomatis tidak pernah membuatnya mandiri menyiapkan makanannya sehari-hari. Jika ia makan, pandangannya tidak pernah lepas dari screen gawai menonton film selama berjam-jam.

Bintang menjalani kuliah hanya sekadar tuntutan sekolah sebagaimana kebiasaan anak-anak lain. Di kampus, ia masih melanjutkan kebiasaannya saat di SMA dulu, menjadi mahasiswa pendiam, penurut, dan mengerjakan tugas-tugas dengan cara meng-copy paste materi yang ia temukan di internet. Jika tiba waktu untuk mendiskusikannya, Bintang lebih mengandalkan kemampuan berbicara temannya daripada dirinya sendiri.

Pergaulan Bintang tidak begitu menarik diceritakan di karenakan ia begitu singkat menghabiskan waktunya di kampus. Setelah ia kuliah, yang berarti hanya mengisi absensi dan mencatat apa-apa yang dikatakan dosennya yang juga sama kurang bersemangatnya ketika mengajar, ia lekas pulang dan melanjutkan kesenangannya bermain game online sampai tengah malam.

Bintang adalah tipikal anak-anak yang terancam kehilangan kepekaan sosial, kemandirian bersikap, dan disorientasi hidup. Ia model anak-anak yang dididik di dalam pendekatan pendidikan yang sekadar menggugurkan tanggung jawab kurikulum, dan diasuh oleh kedua orangtua yang tidak tegas dan tidak berprinsip dalam mendidik. Di sepanjang usia sekolahnya, Bintang hanya menjadi objek atas pendidikan yang menjadi komoditas ekonomi dan politik.  Orientasi pendidikan yang melahirkan manusia yang mandiri, berwawasan, dan peka atas tanggung jawab hidupnya, hanyalah wacana asing yang tak pernah Bintang tahu dan dengarkan.

Praktis Bintang adalah si automaton yang diistilahkan Erich Fromm, pribadi mesin yang kehilangan individualitas atau subjektivitasnya sebagai manusia.  Manusia yang dimpor dari luar menyangkut perasaan, gagasan, cita-cita, dan harapan, yang tidak sama sekali ia sadari dan ketahui. Ia otomatis adalah pribadi yang selama bersekolah, dalam khazanah pendidikan kritis, mengalami dehumanisasi dan alienasi. Ia adalah anak didik yang terasing dan tercerabut dari keautentikan dirinya, yang terbenam dalam ilusi dan khayalan mengenai kebebasan.

Sebagai si automaton, masa depan kehidupan adalah suatu fenomena yang sudah ada begitu saja. Ia persis seperti yang dinyatakan Freire, yakni pribadi yang terjebak ke dalam pengetahuan yang dimistifikasi melalui nalar magis. Ia melihat satu fenemona dengan apa adanya tanpa mampu melihat relasi kuasa yang mempengaruhi eksistensinya. Ini menandai bahwa si automaton betul-betul laiknya mesin yang hidup secara otomatis tanpa mengalami pasang surut dialektis, yang timbul dari kemerdekaan dan kehendak bebasnya.

Si automaton, jika ditempatkan ke dalam suatu kedudukan dunia, ia menjadi pribadi yang terjebak ke dalam apa yang dinyatakan Ali Syariati, sosiolog Iran abad 20, sebagai empat penjara manusia[40], yang membuatnya menjadi makhluk pasif, irrelevan, dan tidak signifikan dalam sejarah kehidupannya. Empat penjara itu adalah:

Pertama, historisisme. Sebagai suatu istilah yang menggambarkan mazhab pemikiran dan penjara pertama manusia, historisme bertolak dari perspektif manusia sebagai produk sejarah. Dalam hal ini, sejarah menjadi kekuatan imperatif yang menentukan karakteristik, perkembangan, dan tujuan manusia. Manusia dengan kata lain, tidak dapat bergerak leluasa oleh sebab di dalam sejarah hubungan satu kejadian dengan kejadian sudah dideterminasi melalui sebab musabab yang statis dan tertutup.[41]

Kedua sosiologisme. Sosiologisme, dinyatakan Ali Syariati sebagi determinan kolektif masyarakat yangmenghilangkan aspirasi, kehendak bebas, dan identitas manusia tanpa menghargai hak-hak individualnya. Sama halnya di dalam historisisme, manusia yang terdesak ke dalam penjara sosiologisme, tidak dapat mengandaikan dirinya sejauh hanya disituasikan oleh kelompoknya, corak produksinya, tradisi, pertukaran ekonomi, hubungan antar kelas sebagai kekuatan aksiomatik yang dominan.

Kekuatan sosiologisme yang demikian kuat, akan menjatuhkan manusia ke dalam level hina dan tanpa cita-cita untuk menentukan takdirnya sendiri, setelah lama ia terkurung pembatasan-pembatasan sosial dan tradisinya. [42]

Ketiga biologisme. Biologisme, atau pandangan alam naturalistik, merupakan cara pandang yang menyatakan manusia hanya sekadar makhluk fisik belaka. Struktur fisiologis manusia yang demikian, adalah hasil dari kerja alam yang berlangsung cukup lama sebagaimana manusia menjadi pula bagian dari alam itu sendiri yang sedang berevolusi. Perspektif naturalistik melihat alam berserta hukum-hukumnya bekerja secara otomatis dan menghilangkan unsur kreatifitas yang dimiliki manusia.[43]

Sekalipun naturalisme mengandaikan manusia terbebas dari determinisme metafisikal yang mengatur kehidupannya, tetap saja biologisme menempatkan manusia di dalam suatu posisi yang tidak jauh berbeda sebagai makhluk fisiologis dan biologis ke dalam determinisme alamiah. Itu artinya, meskipun manusia adalah makhluk dengan pencapaian-pencapaian luar biasa, tidak seperti dari  wujud selain dirinya, ia masih mengalami keterikatan dan keterlibatan yang mekanik dan materialistik di dalam hukum-hukum alam.

Penjara yang keempat adalah egoisme atau psikologisme, yakni penjara yang dikatakan Ali Syariati penjara yang paling buruk dari tiga jenis penjara sebelumnya. Ia menyebutnya sebagai the dark recesses of his lower self.  Suatu kekuatan yang menawan manusia sampai ke tingkat paling rendah: lumpur yang busuk. [44]

Jika tiga jenis penjara bekerja secara determinis, mekanistik, dan materialistik menciptakan situasi batas di luar dari diri manusia, egoisme justru bekerja sebaliknya dengan cara menawan manusia dari dan di dalam dirinya sendiri.

Ali Syariati mengungkapkan, egoisme, walaupun dikatakan penjara paling buruk, kebangkitan manusia dari jenis penjara ini adalah suatu model perjuangan yang paling menantang dan terjal. Pengandaian tiga penjara sebelumnya, dikatakan Ali Syariati  dapat serta merta dikendalikan, dilihat, diraba, dan ditentukan karakteristiknya karena sifatnya berada secara eksternal di luar diri manusia, suatu hal yang cenderung mudah dan dapat teratasi melalui capaian ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebaliknya, egoisme, bukanlah tipe penjara yang mudah dan gampang diatur dikarenakan ia sulit diketahui, sulit diraba dan tidak bisa dikarakteristikkan ke dalam kategori-kategori kepastian. Ego, meskipun sangat dekat dengan diri manusia, justru adalah tipe penjara yang paling signifikan menentukan kejatuhan manusia ke dalam situasi batas yang teramat pedih dan dalam.

Atas keempat situasi batas ini, si automaton sering diilustrasikan sebagai katak yang hidup di dalam tempurung; realitas kehidupannya tidak lebih dari batok kelapa yang tidak seberapa luas dibandingkan  kehidupan di luarnya. Dalam situasi ini, si katak mengalami ilusi dan fantasi seolah-olah telah hidup bebas walaupun sebenarnya ia hanya hidup di dalam kegelapan tempurung kelapa yang menghalangi penglihatannya ke luar.

Bintang si Automaton, boleh saja pernah berseragam bersekolah, tapi ia tidak pernah tahu untuk apa ia melakukan itu. Boleh saja ia telah menghabiskan banyak waktunya duduk diam di depan papan tulis, dan mendengarkan kata-kata gurunya lamat-lamat, yang sama sekali tidak akan ia petik hikmahya dengan cara akan segera ia lupakan. Bintang si Automaton, di separuh umurnya mengorbankan dirinya untuk bersekolah, tapi tidak sama sekali terdidik. Ia betul-betul masih di masa kegelapan, di dalam kesadaran temaram tempurung kelapa.

Praktis, bagi si automaton, masa pendidikannya hanyalah jadi pion sejarah yang diombang ambingkan kebijakan tak berdasar. Karena seperti mesin, jaringan syarafnya tidak berkembang maksimal dan mengalami kelumpuhan total. Ia kelak akan menjadi pribadi kalah dan tanggung, yang tidak memiliki wawasan keilmuan, wawasan sejarah, kemerdekaan indvidu, dan etos perjuangan dalam menegakkan suatu cita-cita.

Dengan kata lain, Bintang si automaton adalah aib, tapi bukan bagi siapa-siapa. Ia aib bagi diri dan masa depannya sendiri.


---

DAFTAR RUJUKAN

Berk, Laura E. Development Through The Lifespan Edisi Kelima. Jakarta: Pustaka Pelajar, 2012.

Darmaningtyas. Sekolah yang Memiskinkan. Malang: Intrans Publishing, 2015.

Fakih, Mansour, et.al. Pendidikan Populer Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakara: Read Book, 2001.

Freire, Paulo, Ivan Illich, Erich Fromm, dkk, Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, Konservativ, Liberal, Anarkis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Freire, Paulo. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: LP3ES, 2018.

Fox, Dennis dan Isaac Prilleeltensky (editor), Psikologi Kritis, Metaanalisis Psikologi Modern. Jakarta: Teraju Mizan.

Harari, Yoval Noah. Sapiens, Sejarah Ringkas Umat Manusia dari Zaman Batu Hingga Perkiraaan Kepunahannya. Jakarta: Alvabet, 2017.

Hardiman, F. Budi, Kritik Ideologi, Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas, Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Jenkins, Richad. Membaca Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2013.

Nuryanto, M. Agus, Mazhab Pendidikan Kritis, Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan. Yogyakarta: Resist Book, 2001.

O'Neill, William F. Ideologi-ideologi Pendidikan . Pustaka Pelajar, 2011.

Santoso, Listiyono, dkk, Epistemologi Kiri, Yogyakarta: Ar Ruzz, 2007.

Smith, A William A. Conscientizacao, Tujuan Pendidikan Paulo Freire, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Storr, Antony. Freud: Peletak Dasar Psikoanalisis (Seri Empu Dunia). Jakarta: Grafiti, 1991.

Syariati, Ali. Tugas Cendikiwan Muslim. Jakarta: Srigunting, 2001.

Topatimasang, Roem. Sekolah itu Candu. Yogyakarta: Insist Press, 2010.

UU Sisdiknas Pasal 1 ayat 1

 

INTERNET

Amsal, Bahrul. Eksistensialisme Ali Syariati: Tafsir Kebebasan Manusia di Era Kenormalan Baru. http://kalaliterasi.com/2020/07/06/eksistensialisme-ali-syariati-tafsir-kebebasan-manusia-di-era-kenormalan-baru/

Kamahi, Umar. Teori Kekuasaan Michel Foucault:Tantangan Bagi Sosiologi Politik. Jurnal Al-Khitabah, Vol. III, No. 1, Juni 2017 : 117 – 133 (http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/Al-Khitabah/article/viewFile/2926/2802)

Martono, Nanang. Dominasi Kekuasaan dalam Pendidikan: Tesis Bourdieu dan Foucault tentang pendidikan, (Jurnal Interaksi, vol. 8 (1) p 28-39,  , 2014), hal. 4 (https://www.researchgate.net/publication/325119775_DOMINASI_KEKUASAAN_DALAM_PENDIDIKAN_Tesis_Bourdieu_dan_Foucault_tentang_Pendidikan)

Septiadi, Anggar. Pendidikan dan Kebutuhan Kapitalisme (2012):   https://indoprogress.com/2012/11/review-anggar-septiadi/

Siregar, Mangihut. Teori ”Gado-gado” Pierre-Felix Bourdieu. Jurnal Studi Kultural vol. 1 No.2 : 79-82 (2016) (http://media.neliti.com/media/publications/223848-teori-gado-gado-pierre-felix-bourdieu.pdf)

 

 



[1] Laura E. Berk, Development Through The Lifespan Edisi Kelima (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hal. 156

[2] Yoval Noah Harari, Sapiens, Sejarah Ringkas Umat Manusia dari Zaman Batu Hingga Perkiraaan Kepunahannya (Jakarta: Alvabet, 2017), hal. 91.

[3] Sigmund Freud membagi struktur jiwa manusia menjadi tiga lapisan: Id, ego, dan super ego. Id adalah lapisan terdalam yang bergerak atas prinsip kesenangan, tanpa aturan, dan sulit dikendalikan. Ego adalah unsur yang sudah mengalami moderasi atas tekanan id dengan kenyataan yang berisi aturan dan nilai-nilai. Super ego adalah tatanan yang menjadi nilai-nilai ideal yang dicerminkan ke dalam aturan bersama berupa norma, hukum, dan pranata ideal lainnya. Lihat Antony Storr, Freud: Peletak Dasar Psikoanalisis (Seri Empu Dunia), (Jakarta: Grafiti, 1991), hal. 70

[4] ibid

[5] Lihat pengertian gangguan kejiwaan dalam tinjaun mazhab Frankurt yang menerapkan gejala psikopatologis berupa histeria, halusinasi, fobia, neurosis ke alam kehidupan sosial masyarakat yang menunjukkan represi dan penipuan atas ideologi oleh kekuasaan negara. Lihat F. Budi Hardiman, Kritik Ideologi, Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hal. 58

[6] Tod Sloan, Teori-teori Kepribadian: Ideologi dan Yang Melampauinya dalam Dennis Fox dan Isaac Prilleeltensky, Psikologi Kritis, Metaanalisis Psikologi Modern, (Jakarta: Teraju Mizan), hal. 112

[7] UU Sisdiknas Pasal 1 ayat 1 menyebutkan: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

[8] Pendidikan ala bank adalah metode belajar yang melihat peserta didik seperti bejana kosong. Seperti bank, peserta didik diposisikan benda mati dan diisi investasi (pengetahuan) sekehendak sang guru (investor).

[9] Mansour Fakih, et.al. Pendidikan Populer Membangun Kesadaran Kritis (Yogyakara: Read Book, 2001), hlm. 23-24

[10] William A. Smith, Conscientizacao, Tujuan Pendidikan Paulo Freire, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hal. 2

[11] Listiyono Santoso, dkk, Epistemologi Kiri, (Yogyakarta: Ar Ruzz, 2007), hal.135

[12] Ibid. hal. 135

[13] Dalam buku Mazhab Pendidikan Kritis, pendidikan atau institusi sekolah tidaklah netral, independen, dan bebas kepentingan, tapi justru menjadi bagian dari institusi sosial yang syarat kepentingan kekuasaan, ideologi, dan pasar. Lihat Mazhab Pendidikan Kritis, Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan, (Yogyakarta: Resist Book, 2011), hal. 2

[14] Anggar Septiadi, Pendidikan dan Kebutuhan Kapitalisme (2012):   https://indoprogress.com/2012/11/review-anggar-septiadi/

[15] Ibid

[16] Mengenai output pendidikan atau sekolah, penulis ingat dengan kedudukan sekolah yang diuraikan Adam Smith, pencetus ekonomi liberal, dalam The Wealth of Nations, yang memandang sekolah mesti berposisi sebagai skrup-skrup industri, yang berarti, tujuan utama sekolah tiada lain untuk menyediakan tenaga kerja profesional bagi keberlangsungan ekonomi industri (pasar)

[17] Paulo Freire, Ivan Illich, Erich Fromm, dkk, Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, Konservativ, Liberal, Anarkis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 517

[18] M. Agus Nuryanto, Mazhab Pendidikan Kritis, Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan, (Yogyakarta: Resist Book, 2011), hal. 57

[19] Tujuan pendidikan dalam arti seluas-luasnya dapat diuraikan ke dalam taksonomi pendidikan Bloom, yaitu menyasar tiga ranah kemampuan manusia/peserta didik. Pertama adalah ranah kognitif peserta didik, yang dijabarkan menjadi keterampilan berpikir, kemandirian berpikir, dan hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan dimensi intelek peserta didik. Kedua yakni ranah afeksi, yang meliputi perilaku-perilaku emosi dan perasaannya berupa minat, kecenderungan, dan sikapnya sebagai manusia. Ketiga yaitu ranah psikomotorik yang menekankan kecapakan atau keahlian khusus semisal kemampuan bermusik, melukis, menulis, mengoperasikan alat-alat teknologi. Ki Hajar Dewantoro memiliki ungkapan berbeda dengan maksud yang sama: membentuk cipta, karya, dan rasa manusia.

[20] Baca Ideologi-ideologi Pendidikan tulisan William F. O'Neill yang diterbitkan Pustaka Pelajar, 2011.

[21] Ibid, hal. 57

[22] Paulo Freire, Ivan Illich, Erich Fromm, dkk, Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, Konservativ, Liberal, Anarkis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 343

[23] Ibid, hal. 344

[24] Inilah dampak yang dihasilkan dari pola pendidikan gaya bank yang menghasilkan budaya bisu. Menurut Freire, ada 10 model pendidikan ala bank: 1) Guru mengajar, siswa diajar. 2) Guru tahu segalanya, siswa tidak tahu segalanya. 3) Guru berpikir, siswa dipikirkan. 4) Guru bicara, siswa mendengarkan. 5) Guru mengatur, siswa diatur. 6) Guru memilih dan memaksakan pilihannya, siswa menuruti. 7) Guru bertindak, siswa membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan guru. 8) Guru memilih apa yang diajarkan, siswa menyesuaikan diri. 9) Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dan wewenang profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan siswa-siswa. 10) Guru adalah subjek proses belajar, siswa adalah objeknya. Lihat Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, (Jakarta: LP3ES, 2018), hal. 54

[25] Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu, (Yogyakarta: Insist Press, 2010), hal. 36

[26] Richad Jenkins, Membaca Pemikiran Pierre Bourdieu (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2013) hal. 157

[27] Habitus dalam bahasa latin mengacu kepada kondisi, penampakan, atau situasi yang tipikal, khusunya pada tubuh. Bourdieu mengartikannya sebagai suatu sistem melalui kombinasi struktur objektif dan sejarah personal, disposisi yang berlangsung lama dan berubah-ubah yang berfungsi sebagai basis generatif bagi praktik-praktik yang terstruktur dan terpadu secara objektif. Habitus adalah hasil internalisasi struktur dunia sosial, atau struktur sosial yang dibatinkan. Lihat Teori ”Gado-gado” Pierre-Felix Bourdieu yang ditulis Mangihut Siregar di Jurnal Studi Kultural vol. 1 No.2 : 79-82 (2016) (http://media.neliti.com/media/publications/223848-teori-gado-gado-pierre-felix-bourdieu.pdf)

[28] Nanang Martono, Dominasi Kekuasaan dalam Pendidikan: Tesis Bourdieu dan Foucault tentang pendidikan, (Jurnal Interaksi, vol. 8 (1) p 28-39,  , 2014), hal. 4 (https://www.researchgate.net/publication/325119775_DOMINASI_KEKUASAAN_DALAM_PENDIDIKAN_Tesis_Bourdieu_dan_Foucault_tentang_Pendidikan)

[29] Modal kultural (ilmu dan pengetahuan) adalah satu dari empat modal yang menurut Bourdieu sangat penting dimiliki oleh seseorang. Tiga di antaranya adalah modal ekonomi (dapat dikonversi langsung ke bentuk uang dan hak milik secara institusional), modal sosial (koneksi dan obligasi sosial serta dapat dikonversi ke dalam modal ekonomi dan status kebangsawanan), dan modal simbolik (modal—dalam bentuk apapun—selama direpresentasi secara simbolik).

[30] Ibid

[31] Umar Kamahi, Teori Kekuasaan Michel Foucault:Tantangan Bagi Sosiologi Politik, Jurnal Al-Khitabah, Vol. III, No. 1, Juni 2017 : 117 – 133 (http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/Al-Khitabah/article/viewFile/2926/2802)

[32] opcit

[33] Sejak dekade 1970-an, Orde baru melalukan pembangunan gedung-gedung sekolah berskala nasional melalui surat bernomor 10 Tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Gedung SD, yang berhasil mendirikan gedung SD sebanyak 150.595 unit dalam kurun waktu 25 tahun. Lihat Darmaningtyas, Sekolah yang Memiskinkan (Malang: Intrans Publishing, 2015), hal. 7-11

[34] Salah satu uraian menarik dan reflektif mengenai kedudukan sekolah dapat Anda temukan dalam buku Sekolah itu Candu yang ditulis Roem Topatimasang terbitan Insist Press (2007, 2009, 2010) dan sebelumnya oleh Pustaka Pelajar (1998).

[35] Nanang Martono, Dominasi Kekuasaan dalam Pendidikan: Tesis Bourdieu dan Foucault tentang pendidikan, (Jurnal Interaksi, vol. 8 (1) p 28-39, 2014), hal. 8 (https://www.researchgate.net/publication/325119775_DOMINASI_KEKUASAAN_DALAM_PENDIDIKAN_Tesis_Bourdieu_dan_Foucault_tentang_Pendidikan)

[36] ibid

[37] Menara tinggi yang di puncaknya menyala api milik Sauron berbentuk mata yang terletak di gunung tertinggi Mordor. Suatu kawasan dalam legendarium di film fiksi The Lord of The Ring.

[38] opcit

[39] opcit

[40] Lihat Ali Syariati, Tugas Cendikiwan Muslim, (Jakarta: Srigunting, 2001), hal.49 

[41] Bahrul Amsal, Eksistensialisme Ali Syariati: Tafsir Kebebasan Manusia di Era Kenormalan Baru (http://kalaliterasi.com/2020/07/06/eksistensialisme-ali-syariati-tafsir-kebebasan-manusia-di-era-kenormalan-baru/)

[42] Ibid

[43] opcit

[44] opcit


(Disampaikan dalam diskusi terbatas yang diadakan LDSI Al Muntazhar 26 Juli 2020)



28 Juli 2020

Palestina dan Google Map

APALAH arti sebuah nama suatu bangsa dibandingkan suatu museum sejarah yang beralihfungsi menjadi masjid. Sebuah nama, sebuah identitas, yang menandai sesuatu yang hidup, berkembang, dan memiliki takdirnya sendiri.

Apa jadinya jika suatu nama hilang, atau dihilangkan? Itu artinya hilang pula suatu kehidupan, diberhentikannya pula suatu yang sedang berkembang. Dengan kata lain, maka hilang tanpa bekas itu yang namanya takdir hidupnya.

Palestina, kini hilang—atau tepatnya dihilangkan. Pelan-pelan dan bertahap. Awalnya orang Yahudi datang, berkabilah, berduyun-duyun, kemudian mengisi tanah-tanah di hampir segala penjuru. Mereka hidup dan beranak pinak di sana, dan tibalah suatu waktu di tingkatan global, berkumpul orang-orang elite mereka, yang memikirkan kaumnya dan berinisiatif membentuk suatu negara, bukan bangsa.

Negara itu diberi lambang Bintang Sulaiman, suatu simbol dari masa lalu yang bersisi enam sudut menandai enam penjuru. Kini, lambang itu kian hari jadi makin agresif dan politis menyerobot tanah-tanah yang masih lapang, atau pemukiman-pemukiman tidak bertenaga, dilemahkan, tapi enggan menyerah.  

Sampai sekarang, dan ketika dunia saling terhubung dalam lalu lintas informasi yang kian cepat, nama Palestina dihapus. Bukan dalam benak, tapi dalam peta dunia, tepatnya dunia maya. Meski hal ini adalah tanda, Palestina akan dihapuskan dari peta dunia yang sesungguhnya.

Itu artinya, kelak Palestina akan hilang dalam ilmu pengetahuan; pertama-tama hilang dalam ilmu geografi, ilmu sosiologi, dan ilmu ekonomi. Kemudian, masyarakat dunia tidak akan berbicara tentang Palestina di dalam ilmu politik, karena kedaulatan negara dan kekuasaan tidak relevan bagi mereka, yang artinya  ia juga tidak akan diberikan tempat dalam sejarah dunia.

Palestina hilang dalam ilmu pengetahuan, yang tidak akan dipelajari, dipikirkan, apalagi dibicarakan.

Semua itu berarti hanya satu, Palestina lenyap di dunia  selama-lamanya.

Saya ingat suatu bacaan tentang aktivis pendidikan bernama Jane, yang beberapa waktu hidup bersama-sama anak Palestina, dalam gejolak perang dan mayat yang tiap hari bagai pelangi yang muncul pasca hujan. Akrab tapi sekaligus, akan pergi.

Jane bersaksi, suatu waktu bangsa Palestina akan merdeka, entah dengan kegigihannya berjuang, dan atau tekanan internasional—yang sebagian negara masih hitung-hitungan memperjuangkannya—tapi, di waktu itu, bangsa Palestina akan menghadapi kenyataan pahit berupa anak-anak mereka yang dinilai lebih mencintai perang daripada hal lainnya.

Jane, dalam penilaiannya menggunakan analisis Erich Fromm mengenai gejala nekrofilia—fenomena menyenangi yang berbau kematian—yang bakal timbul akibat hidup di tengah peperangan dan kekerasan, dan kematian yang jadi pemandangan sehari-hari, yang lamat-lamat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan harapan anak-anak Palestina.

Mereka, kata Jane, enggan bersekolah dan lebih senang diberikan senjata atau jika mesti bersekolah di tenda-tenda pengungsian, mesti diajari cara merakit bom, strategi taktik perang, teknik sabotase, atau latihan para-militer. Mereka lebih mudah diajak berjuang, daripada duduk manis di kelas mendengarkan pelajaran tentang puisi, matematika, atau astronomi.

Mereka menurut Jane, hidup secara tidak normal dibandingkan anak-anak lainnya di dunia. Mereka tumbuh dengan kehilangan masa anak-anak yang mestinya tumbuh riang gembira, bermain, dan bernyanyi selayaknya anak-anak tumbuh.

Kata Jane lagi, coba bayangkan apa yang bakal terjadi jika anak-anak tumbuh tanpa kehangatan keluarga, ketulusan, kasih sayang, dan persahabatan, yang dari kecil tidak pernah sama sekali mempercayai suatu itukad baik selain dari golongan mereka sendiri? Apa jadinya suatu bangsa, yang kelak diisi oleh anak yang tumbuh dari keadaan semacam ini?

Itu pertanyaan retoris dari Jane yang tidak bermaksud untuk ia jawab, walaupun mendengarnya otomatis kita sendiri tahu jawabannya meski tidak pernah diucapkan.

Apalah arti sebuah nama kata Shakespeare, yang nampak puitis diucapkan di atas panggung drama, di taman-taman atau di festival sastra, tapi tidak bagi Palestina setelah mereka kehilangan anak-anak, orang tua, kedaulatan, dan masa depan.

Dulu, saat Adam kali pertama dicipta, ia diajarkan nama-nama, yang kelak berlapis-lapis generasi setelah pembunuhan pertama Qabil membunuh Habil, anak-anaknya meneruskan tradisi kekerasan Qabil melalui spiral yang tiada ujung. Yang dominan menghilangkan yang tertindas, dibinasakan demi supremasi ras, agama, dan entah apa lagi. 

Sebelumnya suatu bangsa saling membinasakan, dengan pedang, bom dan meriam, kini, saat  progresivitas zaman ditentukan dari penguasaan ilmu pengetahuan, suatu bangsa bisa hilang dan dihilangkan dimulai dalam lalu lintas pengetahuan umat manusia.


23 Juli 2020

Masjid dan Politik

MASJID, kiwari bukan sekadar tempat suci yang terpaut dengan Tuhan belaka, melainkan ikut diseret-seret dan terperosok ke dalam kepentingan politis. Jika dulu peruntukkan masjid utamanya untuk melakukan ibadah kepada Tuhan, di masa ketika dunia jadi runcing dan saling kancing, masjid kadang tidak lebih seperti podium-podium politik.

Memang tidak seharfiah itu, tapi begitulah bagi sebagian kelompok umat muslim. Mendiami masjid sama artinya dengan kekuasaan untuk mengkapling jamaah. Pertama-tama menjadi marbot, jadi takmir, dan ujung-ujungnya jadi imam dan pengurus masjid.  Di saat itu, masjid jadi juru bicara mazhab, jadi tempat kampanye ideologi keagamaan.

Ada suatu masa, dalam sejarah Islam, masjid jadi bagian kekuasaan kekhalifahan, yang berarti apa yang sah dan absah dilakukan dalam masjid menjadi kewenangan sepenuhnya bagi kekuasaan saat itu. Coba telusuri cek-cok dan pertikaian antar mazhab dalam Islam, masjid alih-laih jadi tempat reproduksi peradaban, sebaliknya, ia malah jadi tempat ajang kafir-mengkafirkan.

Bahkan dalam sejarah kekhalifahan Islam, masjid jadi tempat saling bantai membantai.

Tidak sepenuhnya negatif, saat masjid jadi salah satu pusat-pusat barak atau pertahanan ketika Islam melakukan ekspansi besar-besaran setelah sukses mengubah kawasan Arab menjadi pusat penyebaran Islam. Saat itu, meskipun terjadi pergeseran pola dakwah Islam dari dialog persuasif menjadi metoda ujung pedang, masjid tidak tergantikan sebagai penanda kekuatan Islam. Di mana-mana ketika Islam datang mewakili suatu keyakinan baru bagi kota-kota yang diekspansi, masjid segera dibangun dan menjadi simbol pendudukkan.

Mungkin saja, pola dakwah semacam itulah yang dipakai jamaah tertentu saat ini. Menguasai masjid menjadi cara strategis untuk menduduki suatu pemukiman. Tidak selamanya baik memang, dikarenakan paradigma dakwah yang dianut tidak jauh berbeda dengan suatu masa ketika agama-agama saling ekspor dan impor kepentingan lewat cara perang dengan berang. Perbedaannya hanya satu, kini perangnya berubah menjadi perang untuk meng-gol-kan kepentingan kelompoknya, alih-alih membangun perdamaian antara mazhab yang kadung direspon secara parsial dan negatif di negeri ini.

Masjid, kiwari bukan sekadar tempat suci yang terpaut dengan Tuhan saja, tidak saja dikooptasi oleh tujuan-tujuan politik belaka, tapi karena era berganti, juga ikut diseret-seret dan terperosok ke dalam pemujaan ekonomis. 

Sebagai suatu bangunan, masjid pada akhirnya tidak selamanya seperti dugaan banyak orang, menjadi tempat pemujaan Tuhan, tapi jadi kontruksi yang profan; ia dirancang di dalam suatu kebudaayaan, dipengaruhi perkembangan bentuk-bentuk arsitektur, dinilai untung ruginya, dan juga dipertimbangkan megah tidaknya. 

Di titik ini, masjid menjadi satu di antara deret-deretan bangunan di sekelilingnya; menjadi simbol kekayaan, simbol prestise, yang sudah tentu ia malah berubah menjadi simbol kelas tertentu.

Masjid, karena itu, dengan kata lain, tidak sepenuhnya menjadi ruang kudus dikarenakan sudah menjadi teater kebanggaan kelas masyarakat; jadi tempat pemujaan berhala-berhala kekayaan.

Itu sebabnya, masjid-masjid sekarang bisa dibilang terisolasi dari tujuannya sendiri. Ia megah di tengah-tengah kemiskinan. Tinggi menjulang di tengah-tengah keterpurukan kaum marginal. Ia pongah di balik suara spiritual yang sering dikumandangkannya. 

Atap-atap masjid dibentuk menjadi kerucut yang naik ke atas dalam arti sebagai simbol yang mewakili ketinggian jiwa luhur manusia. Di bangun menyerupai mangkuk terbalik dengan maksud mengayomi, menjadi payung teduh menandai ketinggian spiritualitas. Secara simbolik ia menyerupai misykat—ilustrasi al-Qur’an tentang ”mangkuk” dalam jiwa yang memancarkan cahaya ilahi.

Namun sayang, kubah-kubah masjid tidak sama sekali, atau lebih banyak tidak memberikan inspirasi bagi orang yang bersujud di bawahnya.

Orang-orang berdoa di bawahnya, sembari di lain kesempatan membuat dalil dan dalih untuk melegetimasi dan mencari pembenaran. Orang-orang korup, jumawa, sombong, dan penimpun, berbaur bersama si arif, si dermawan, orang-orang penyabar, orang tertindas, ke dalam satu saf yang sama, satu tempat sujud yang sama.

Tidak bisa ditampik saat doa jadi dalih, permohonan jadi desakan, dan aniaya jadi tangisan kepada yang Maha Gaib, mereka merasakan dekat dengan Tuhannya, tapi tidak sedikit di antara itu, sebagiannya sedang  memutus hubungan dengan lingkungannya, teman-temannya, saudara-saudaranya.

Sesungguhnya dihitung lalai salatnya jika ia masih melihat keluarga miskin, anak-anak putus sekolah, orang tua renta, anak-anak kekurangan gizi, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, tanpa simpati, apalagi empati. Tanpa keberpihakan kepada mustad’afin, dan golongan yang dilemahkan dan dipinggirkan.

Di masa pandemi ini, masjid tidak seheroik saat Nabi menjadikannya sebagai simbol keperpihakan umat. Kini ia jadi bangunan bisu dan dingin. Kiwari, mana ada masjid yang berubah jadi barak-barak bantuan, jadi pusat-pusat bantuan kemanusiaan?

22 Juli 2020

Eksistensialisme Ali Syariati: Tafsir Kebebasan Manusia di Era Kenormalan Baru



Tulisan ini terdiri dari lima partisi yang mendedah filsafat eksistensialisme secara umum berdasarkan pemikiran Jean Paul Sartre, dan eksistensialisme Ali Syariati yang dilihat dari filsafatnya tentang manusia. Pada dua bagian akhir, akan dipaparkan korelasi filsafat eksistensialisme dengan keadaan pandemi saat ini dengan mengajukan eksistensialisme Ali Syariati sebagai salah satu solusi alternatif bagi masyarakat untuk dapat bertindak secara optimistik tanpa melanggar konsensus-konsensus protokol kesehatan. Itu artinya, dengan eksistensialisme Ali Syariati korona bukanlah penghalang yang mesti dikhawatirkan secara fatalistik sekaligus dihadapi dengan sikap yang berlebih-lebihan. Versi rekaman esai ini dapat didengarkan di sini




(1)

JEAN Paul Sartre, salah satu tokoh filsafat eksistensialisme, dalam tulisannya Existensialism is Humanism, merumuskan apa itu filsafat eksistensialisme. Eksistensialisme bukan ajaran yang menganjurkan pesimisme, tidak bermutu, dan tidak bertanggung jawab, seperti yang kerap dituduhkan kepada filsafat yang berkembang pasca Perang Dunia Ke- 2 ini. Buku pembelaannya itu, yang sebenarnya merupakan tanggapan atas tuduhan yang berkembang saat itu, dapat dipadatkan ke dalam suatu frase: eksistensi mendahului esensi. Prinsip ini, Sartre kemukakan berkenaan dengan apa yang ia jelaskan sebelumnya mengenai apa itu subjektivitas.

Subjektivitas sangat penting di dalam filsafat eksistensialisme. Masih dari buku  yang sama, Sartre memberikan ilustrasi apa itu subjektivitas, melalui contoh pisau pemotong kertas yang berelasi secara esensialis dengan si pembuatnya—yang ia analogikan juga seperti Tuhan dengan ciptaannya—yang sebelum menentukan seperti apa penampakan pemotong kertas, sudah memiliki daftar konsepsi di dalam perencenaannya berupa apa, bagaimana, dan untuk apa gunting pemotong kertas itu diciptakan. Melalui ilustrasi ini, Sartre ingin mengatakan bahwa otonomi dan kemandirian gunting pemotong kertas sangat tergantung dari tujuan dan nilai guna yang sudah dirumuskan terlebih dahulu oleh pembuatnya. Andaikata dalam contoh ini, gunting pemotong kertas diganti dengan manusia, maka manusia menjadi pihak yang tidak memiliki kebebasan dalam menentukan arah dan tujuan hidupnya. Selamanya, tujuan manusia serta-merta sudah dirumuskan di dalam perencanaan Tuhan yang sama sekali tidak melibatkan manusia di dalamnya.

Terlalu cepat agaknya, tapi pemahaman umum dapat dipetik dari bagaimana Sartre merumuskan subjektivitas, yang ia andaikan sangat khas dimiliki manusia, yakni suatu kemampuan bebas manusia dari kekuatan-kekuatan yang mengatur eksistensinya.

Meminjam pendakuan Martin Heidegger, Sartre menempatkan subjektivitas manusia di dalam kehidupan ini seperti bagaimana Heidegger mengonseptualisasi Dasein (konsep manusia menurut Heidegger) yang ada di dunia dengan cara berada yang tidak sama sekali terkait dengan entitas spiritual, seperti misalnya, dalam kejadian penciptaan manusia.

Subjektivitas manusia, dengan kata lain, menurut Sartre adalah kemampuan otonom manusia yang didasarkan kepada hakikat dirinya sendiri sebagai makhluk yang tidak sama sekali berhubungan dengan Tuhan. Itu artinya, bernuansa sama dengan konsep Dasein Heidegger, manusia adalah makhluk bebas dan merdeka tanpa embel-embel teologis (A strong emphasis on the individual).

Lalu, apa arti eksistensi mendahului esensi?

”Seorang eksistensialis memandang dirinya sebagai eksistensi yang tidak dapat didefenisikan karena ia tahu ia memulai hidup atau eksistensinya dari ia yang bukan apa-apa. Ia tidak akan menjadi ’apa-apa’ sampai ia menjadikan hidupnya ’apa-apa’.”

Eksistensialisme dalam hal ini membalikkan asumsi filsafat yang menekankan esensi; konsep; forma; gagasan; roh atas pembedaan sesuatu dengan yang lain, sebagai entitas utama dari pada eksistensi; aktualitas; keberadaan, yang dianggap entitas kedua. Penekanan eksistensi dalam hal ini adalah suatu titik tolak yang lebih konkret karena mengada di dalam ruang dan waktu, tidak seperti esensi sebagai kategori pikiran yang abstrak dan teoritik.

Itu artinya, gagasan tidak lebih utama dari keberadaan, ide tidak lebih signifikan dari tindakan, konsep tidak lebih penting dari perbuatan. Esensi tidak lebih penting dari eksistensi. Yang lebih utama, dengan itu berarti bukan defenisi-defenisi, gagasan-gagasan, atau konsepsi abstrak menyangkut sesuatu itu, melainkan ”sesuatu” itu sendiri sebagai titik tolak keberadaannya.

Menyangkut ini, Sartre pernah mengajukan semacam trik untuk menantang orang-orang, dalam hal bagaimana ia menjelaskan apa itu eksistensi dengan cara mengajukan pertanyaan, bagaimana cara Anda menggambar dua objek berupa ”kucing” dengan ”kucing yang ada”. Di level wacana, struktur bahasa seolah-olah mampu menjelaskan eksistensi kucing melalui kalimat: (kucing)+(Ada) dengan kata ”kucing” itu sendiri.  Tapi, bagaimana jika Anda berusaha menggambarkannya di atas secarik kertas? Bagaimana Anda menjelaskan perbedaan ”kucing” dan ”kucing yang ada”  melalui penggambaran Anda?

Itulah sebabnya, eksistensi menurut eksistensialisme bukan struktur pemaknaan yang mampu dirumuskan  ke dalam konsep atau bahasa. Eksistensi, karena itu, tidak bisa digambarkan dengan cara seperti bahasa menyatakannya, melainkan hanya dengan pengalaman konkret lah eksistensi itu dapat dijelaskan. 

Atau dengan kata lain, eksistensi itu ada sejauh manusia mengalaminya.
Atas dasar inilah, dapat dimengerti eksistensialisme sangat menekankan tindakan manusia sebagai medium atau modus beradanya. Berbeda dengan tradisi filsafat tradisional, dalam hal ini aliran idealisme, atau materialisme, yang berfilsafat di seputar kata-kata ”cogito”, ”kesadaran”, ”ide”, ”materi”, ”Tuhan”, ”gerak”, ”ruh”, dlsb., filsafat eksistensialisme justru masuk ke jantung kehidupan manusia itu sendiri sebagai bidang refleksi filsafatnya.

Dengan model berfilsafat yang langsung dari jantung eksistensi manusia, maka tekanan besar eksistensialisme ke dalam dimensi ini adalah kebebasan manusia. Eksistensialisme, jika diamati dari bagaimana cara Sartre merumuskan kebebasan, terpaut dengan kesadaran sebagai eksistensi yang menjadi bagian dari jenis keberadaan ”ada untuk dirinya” (being-for-itself), yang berbeda dari jenis keberadaan ”ada dalam dirinya” (being-in-itself).

Syahdan, kesadaran hanya ada pada keberadaan being-for-itself, yakni manusia yang secara fenomen berbeda dengan eksistensi benda-benda yang disebut keberadaan being-in-itself. Kesadaran karena dia senantiasa menyadari dirinya sendiri (sadar menyadari atas kesadarannya), dan atas sesuatu yang lain (sadar menyadari atas ”sesuatu”), maka ia otomatis mengetahui bahwa dirinya bukanlah sesuatu itu sendiri.

Jadi, sebagai misal ketika saya menyadari ”buku”, berarti dengan sendirinya muncul kesadaran bahwa saya juga bukan ”buku’ itu. Kesadaran atas buku dan bukan buku itu hanya bisa jika ada jarak, dan dengan sendirinya memberikan peluang untuk berkata ”aku bukan buku”. Itu artinya di saat menyadari ”buku”, di saat yang sama berlaku prinsip negasi atas yang lain. Saya menyadari ”gelas” yang berarti ”saya bukan gelas”, saya menyadari ”kopi” yang berarti ”saya bukan kopi”, saya menyadari ”rokok” yang berarti ”saya bukan rokok”.

Filsafat eksistensialisme dengan cara seperti itu, yakni manusia sebagai being-for-itself, bisa menjadi apa saja tepat karena ia bukan apa-apa. Filsafat eksistensialisme dengan karakter berfilsafat seperti itu dikatakan juga filsafat negasi, yakni mentidakkan sesuatu atas sesuatu. Nah, di dalam proses penegasian inilah kebebasan dimungkinkan, sebab hanya kebebasanlah yang memberikan ruang gerak bagi manusia agar bisa memilih dengan menolak menjadi bukan sesuatu. 

Melalui uraian di atas, dapat dirumuskan beberapa hal berkaitan dengan filsafat eksistensialisme. Pertama, filsafat eksistensialisme, adalah filsafat manusia, dalam arti bahwa eksistensi manusia merupakan titik tolak ontologisnya. Dalil ini merupakan suatu tantangan yang kuat terhadap filsafat tradisional dengan segala bentuknya, sebab filsafat tradisional mengarahkan obyek filsafatnya ke dalam refleksi dan peremenungan filsafat yang abstrak dan jauh dari hakikat pengalaman manusia.
K. Bertens, menyebutkan dalam Sejarah Filsafat Kontemporer Prancis, basis ontologis eksistensialisme yang menaruh pengalaman manusia sebagai dasar utamanya, menjadikan ontologi eksistensialisme sebagai antropologi.

Kedua, eksistensialisme adalah gerakan protes terhadap konsep-konsep berupa ”akal/kesasaran” dan ”alam/kosmologi” yang menjadi titik tekan filsafat Abad Pertengahan hingga era Rene Descartes. Muhammad Nur Jabir, pegiat pemikiran Jalaluddin Rumi, karena itu dalam suatu kesempatan menyebut filsafat eksitensialisme memiliki wacana berbeda dari tradisi pemikiran filsafat lainnya berupa pendekatan non historical approach. Pendekatan filsafat ini berarti suatu tradisi pemikiran yang keluar dari ”rantai pemikiran” filsafat yang sudah terbangun antara satu filsafat dengan aliran filsafat lainnya, dalam rentang waktu berabad-abad.

Ketiga, eksistensialisme dapat disebut sebagai filsafat pemberontakan, yang ditandai oleh dua hal, yakni pertama, penekanan yang besar atas kebebasan manusia, yang kerap berkonfrontasi dengan lingkungan yang membatasi dan menghambat tindakan manusia. Kedua, ditandai dari pemberontakan terhadap alam industri modern atau zaman teknologi yang menghilangkan secara impersonal kepribadian otentik manusia, serta pemberontakan massa yang melenyapkan individu atas nama  totalitarianisme, fasisme, dan komunisme.

Keempat, kebebasan sebagai ciri khas manusia membuat dirinya lebih bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Kebebasan di sini bukan berarti tanpa dasar sama sekali, yakni seolah-olah kebebasan versi alam bebas, melainkan kebebasan yang dipelopori kesadaran sebagai acuan subjektivitasnya. Menurut Sartre, manusia yang sadar adalah manusia yang bertanggung jawab dan memikirkan masa depan, inilah inti ajaran utama dari filsafat eksistensialisme. Bila manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri, bukan berarti ia hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, tetapi juga pada seluruh manusia.


(2)

ALI Syariati menyatakan, problem kemanusian tidak dapat tidak, hanya bisa dipecahkan melalui penafsiran yang komprehensif menyangkut makna kedaulatan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Melalui bundelan kuliah-kuliahnya bertitel Man and Islam—yang diterjemahkan Amien Rais menjadi Tugas Cendekiawan Muslim—Ali Syariati menguraikan otonomi manusia dengan meninjau konsep tujuan penciptaan manusia seperti yang dinarasikan di dalam al Qur’an.

Sebagai seorang pemikir denial, Ali Syariati mesti menguraikan terlebih dahulu kedudukan manusia di tengah perspektif sempit konsep kemanusiaan materialistik yang menempatkan manusia hanya sebatas wujud material belaka, dan konsep manusia sufistik yang mengedepankan askestisme pasif tanpa uraian tanggung jawab sosial yang melingkupinya.

Melalui konsep humanismenya yang khas, akan terlihat proyek raksasa Ali Syariati yang sebenarnya, yakni menyediakan dasar-dasar Islam kemanusiaan yang kompatibel dengan zaman, tanpa mesti meninggalkan ajaran intinya, yakni Tauhid, sebagai sumber inspirasi dan tindakan manusia.

Hal ini akan terurai lebih rinci setelah ia menjelaskan apa arti manusia dalam Islam, dan bagaimana Ali Syariati mendedah empat rintangan yang mengkofigurasi produk kebudayaan manusia ke dalam situasi situasi batas yang disebut the four prisons of man (empat penjara manusia).

Dengan demikian, pandangan dunia Tauhid lah yang bakal menjadi medium pembebasan manusia beserta komunitasnya, setelah sebelumnya mengalami proses dehumanisasi dan alienasi oleh sistem pemikiran sekuler dan kapitalistik, dengan cara mendudukkan rausyan fikr sebagai representasi manusia merdeka dan teriluminasi atas sipirit ruhaniah di bawah panji-panji Tauhid.

Di bab-bab awal Man and Islam, diuraikan dengan gamblang bagaimana manusia diciptakan melalui sintesis yang unik dari tanah lumpur dan spirit (ruh) Allah. Narasi penciptaan manusia dalam al-Qur’an, oleh Ali Syariati dinyatakan sebagai rumusan simbolik mengenai manusia sebagai makhluk dua dimensi (bidimensional). Konsep manusia yang dua dimensi ini dinyatakannya memiliki maksud tertentu yang bertujuan tinggi dan mulia lebih dari sekadar tujuan-tujuan materialistik dan idealistik, yakni spiritualistik sebagaimana manusia yang menjadi bagian dari spirit Allah.

Atas ulasan itu, Ali Syariati mengemukakan tiga karakteristik khas manusia: berpengetahuan (kesadaran), iradah (kehendak bebas), dan daya kreasi (daya cipta). Karakteristik yang pertama digambarkan Ali Syariati melalui peristiwa pasca penciptaan Adam yang diajarkan nama-nama (asma-asma) oleh Allah secara langsung sebagai bagian identifikasi Adam atas segala sesuatu yang terhampar di atas muka bumi. Proses ini, dimaknai Ali Syariati sebagai bagian penting bagi Adam yang menjadikan Allah sebagai guru pertamanya, yang berarti pertalian pengetahuan antara Adam atas segala sesuatunya di muka bumi, hanya mungkin ketika  melibatkan Allah sebagai pemberi ilmu pengetahuan.

Dalam kaitannya dengan dimensi pengetahuan manusia, para  filsuf menyatakan kesadaran yang paling fundamental adalah kesadaran manusia atas dirinya. Melalui kesadaran ini, manusia “memperluas” kesadarannya dalam mempersepsi dunia dan hubungan kesadarannya dengan dunianya. Kesadaran diri, dengan kata lain adalah “kesadaran pertama” yang menjadi dasar manusia ketika membangun pemahamannya terhadap realitas apa saja yang dipersepsi dan dipikirkannya.

Konteks nama-nama yang dinyatakan Ali Syariati diajarkan langsung dari Allah, berarti pula pengetahuan filosofis menyangkut kesadaran manusia atas dirinya. Tanpa ini, secara epistemologis, dalil-dalil ilmu pengetahuan, termasuk nama-nama yang diajarkan Allah akan kehilangan dasar pijakannya. Dengan dasar ini pula, capaian-capaian ilmu pengetahuan berkembang dinamis dan pesat.

Kedudukan manusia atas capaian ilmu pengetahuan inilah yang dinyatakan Ali Syariati menjadi sebab mengapa para malaikat bersujud di hadapan Adam. Jadi, menurut Ali Syariati, keunggulan manusia atas peristiwa itu menandai suatu penghargaan Islam atas keluhuran ilmu pengetahuan, dan bukan dari keunggulan ras dan golongan  seperti yang diharapkan iblis saat memprotes tujuan penciptaan Adam.

Manusia yang memiliki unsur ilahiat di samping unsur tanah, berpotensi mendorong pencapaian kejiwaannya sampai ke ranah yang lebih tinggi, atau bahkan sampai ke level realitas ketuhanan. Karena demikian, manusia menurut Ali Syariati dikaruniai kebebasan seperti salah satu sifat Allah itu sendiri.

Sebagaimana kesadaran, kehendak bebas adalah potensi yang hanya dimiliki manusia. Tiada makhluk selain manusia yang memilikinya. Kehendak bebas memberikan peluang manusia untuk berkemampuan dalam menentukan pilihannya. Letak keistimewaan kehendak bebas adalah kemampuannya dalam menentukan pilihan yang berbeda, dan mampu melawan kecenderungan-kecenderungan biologis, alam, masyarakat, maupun dorongan psikologisnya. Dengan kemampuan yang dimiliki dari kehendak bebaslah yang ketika digunakan akan mampu mentransformasikan manusia tidak sekadar benda-benda, melainkan mampu melewati kebiasaan-kebiasaan yang telah menjadi kecenderungannya.

Eksistensi manusia dengan demikian, dinyatakan Ali Syariati sebagai eksistensi yang berpeluang besar mengalami lonjakan-lonjakan kualitatif secara spiritual sebagaimana yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Setelah manusia menolak dorongan-dorongan instingtifnya, khalifah dalam hal ini, dengan kata lain, tidak serta merta diartikan sebagai wakil tuhan semata, melainkan di atas muka bumi, ia turut membawa kualifikasi-kualifikasi ketuhanan yang menjadi bagian perangkat kemanusiaannya.

Meski demikian, kebebasan yang dimiliki manusia tidak serta merta membuatnya berhak menerobos batas-batas eksistensi dan kedudukannya sebagai khalifah. Dalam hal ini, implikasi imperatif dari iradah manusia adalah tanggung jawabnya sebagai khalifah untuk memikul tugas-tugas khusus yang diamanahkan kepadanya. Dalam hal ini, Ali Syariati menyebutkan, di antara seluruh eksistensi makhluk di jagad semesta, hanya manusia lah yang suka rela menerima amanat penciptaan, setelah Tuhan menawarkannya kepada kalangan binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan jin.

Atas amanat itu, penciptaan manusia melahirkan kualitas internal yang terpatri menjadi daya kreasi. Dengan daya kreasi, manusia bisa menciptakan apa saja: mulai dari hal-hal sederhana sampai teknologi canggih masa kini. Peradaban bisa sampai pada wujudnya sekarang akibat dari daya kreatif manusia dalam mengeksplorasi temuan-temuannya, dan mengembangkannya sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Pencapaian-pencapaian yang sudah dimiliki manusia melalui seni dan kebudayaan, misalnya, tidak lain merupakan cipta karsa daya cipta yang bertujuan memenuhi kebutuhan spiritual manusia.

Tiga kualifikasi kualitatif dimiliki manusia ini, akan mengalami dinamika berkepanjangan selama dua kutub, yang disebutkan sebelumnya, yakni kutub tanah-lumpur, dan kutup spirit Tuhan masih mengalami tarik menarik secara berkelanjutan. Kecenderungan yang nyatanya tiada akhir ini, bakal tergopoh-gopoh di antara sisi—memakai terminologi Al Qur’an—basyar dan sisi insan.

Di bagian sebelumnya, konfigurasi dan lanskap kehidupan manusia di dalam kenyataan sosial kebudayaannya, menjadi medan eksistensi yang mengamputasi manusia. Dalam hal ini, Alam material manusia dalam peradaban manusia senantiasa ikut menentukan ikatan-ikatan sosialnya. 

Hubungan manusia dengan sesamanya dalam kurun waktu tertentu akan membentuk kebiasaan-kebiasaan, tradisi, kemudian menjadi budaya. Selama kurun waktu itu pula manusia beserta masyarakatnya mengalami ruang dan beragam waktu, dan pada akhirnya menemukan dirinya sebagai makhluk yang mengalami sejarah. Alam tempat manusia hidup, memiliki hukum-hukum kausalistik yang sering disalahartikan manusia. Akibat manusia tidak mampu “memanfaatkan” hukum-hukum alam, manusia bisa terjebak di dalam silih bergantinya situasi alam. Ego, sebagai hasrat bawaan manusia, ibarat kuda liar yang mesti diarahkan jika ingin melihatnya berkembang secara normal.

Untuk itu perlu dijelaskan apa saja empat hal yang membentuk situasi batas bagi manusia, yang kerap menghantui, membuatnya hanya sekadar sebagai makhluk pasif, irrelevan, dan tidak signifikan.

Historisisme, sebagai suatu istilah yang menggambarkan mazhab pemikiran dan penjara pertama manusia, bertolak dari perspektif manusia sebagai produk sejarah. Dalam hal ini, sejarah menjadi kekuatan imperatif yang menentukan karakteristik, perkembangan, dan tujuan manusia. Manusia dengan kata lain, tidak dapat bergerak leluasa oleh sebab di dalam sejarah hubungan satu kejadian dengan kejadian sudah dideterminasi melalui sebab musabab yang statis dan tertutup.

Secara panjang lebar Ali Syariati membahas historisisme dalam Man and Islam, tiada lain karena gamblang Ali Syriati menolak perspektif materialistik yang dikandung di dalam marxisme. Marxisme, singkatnya, memandang manusia tidak berkemampuan keluar dari batas-batas eksistensinya, selain hanya dibentuk oleh hukum besi tahapan hitoris masyarakat ke dalam tahap-tahap berjenjang, berupa tahap primitif, tribalisme, feodalisme, kapitalisme, dan komunisme.

Kedua sosiologisme. Sosiologisme, dinyatakan Ali Syariati menjadi kecenderungan demikian mencolok ketika kolektivisme masyarakat menenggelamkan aspirasi, kehendak bebas, dan identitas manusia tanpa menghargai hak-hak individualnya. Sama halnya di dalam historisisme, manusia yang terdesak ke dalam penjara sosiologisme, tidak dapat mengandaikan dirinya sejauh hanya disituasikan oleh kelompoknya, corak produksinya, tradisi, pertukaran ekonomi, hubungan antar kelas sebagai kekuatan aksiomatik yang dominan.

Kekuatan sosiologisme yang demikian kuat, akan menjatuhkan manusia ke dalam level hina dan tanpa cita-cita untuk menentukan takdirnya sendiri, setelah lama ia terkurung pembatasan-pembatasan sosial dan tradisinya.

Ketiga biologisme. Biologisme, atau pandangan alam naturalistik, merupakan cara pandang yang menyatakan manusia hanya sekadar makhluk fisik belaka. Struktur fisiologis manusia yang demikian, adalah hasil dari kerja alam yang berlangsung cukup lama sebagaimana manusia menjadi pula bagian dari alam itu sendiri yang sedang berevolusi. Perspektif naturalistik melihat alam berserta hukum-hukumnya bekerja secara otomatis dan menghilangkan unsur kreatifitas yang dimiliki manusia.

Sekalipun naturalisme mengandaikan manusia terbebas dari determinisme metafisikal yang mengatur kehidupannya, tetap saja biologisme menempatkan manusia di dalam suatu posisi yang tidak jauh berbeda sebagai makhluk fisiologis dan biologis ke dalam determinisme alamiah. Itu artinya, meskipun manusia adalah makhluk dengan pencapaian-pencapaian luar biasa, tidak seperti dari  wujud selain dirinya, ia masih mengalami keterikatan dan keterlibatan yang mekanik dan materialistik di dalam hukum-hukum alam.

Penjara yang keempat adalah egoisme atau psikologisme, yakni penjara yang dikatakan Ali Syariati penjara yang paling buruk dari tiga jenis penjara sebelumnya. Ia menyebutnya sebagai the dark recesses of his lower self.  Suatu kekuatan yang menawan manusia sampai ke tingkat paling rendah: lumpur yang busuk.

Jika tiga jenis penjara bekerja secara determinis, mekanistik, dan materialistik menciptakan situasi batas di luar dari diri manusia, egoisme justru bekerja sebaliknya dengan cara menawan manusia dari dan di dalam dirinya sendiri.

Ali Syariati mengungkapkan, egoisme, walaupun dikatakan penjara paling buruk, kebangkitan manusia dari jenis penjara ini adalah suatu model perjuangan yang paling menantang dan terjal. Pengandaian tiga penjara sebelumnya, dikatakan Ali Syariati  dapat serta merta dikendalikan, dilihat, diraba, dan ditentukan karakteristiknya karena sifatnya berada secara eksternal di luar diri manusia, suatu hal yang cenderung mudah dan dapat teratasi melalui capaian ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebaliknya, egoisme, bukanlah tipe penjara yang mudah dan gampang diatur dikarenakan ia sulit diketahui, sulit diraba dan tidak bisa dikarakteristikkan ke dalam kategori-kategori kepastian. Ego, meskipun sangat dekat dengan diri manusia, justru adalah tipe penjara yang paling signifikan menentukan kejatuhan manusia ke dalam situasi batas yang teramat pedih dan dalam.

Selain itu kesulitan manusia menundukkan ego, ditengarai juga oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang ikut bersama manusia terperanjat ke dalam penjara egio itu sendiri. Jika bagi tipe penjara sebelumnya ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi jalan pembebasan atas determinisme alam, sejarah, dan masyarakat,  kali ini, tidak berlaku di dalam penjara ego. Bersama dengan keterasingan manusia yang sulit mengendalikan egonya, keakuan manusia juga berpotensi menjadikan ilmu pengetahuan dan pencapaian teknologi tidak berarti apa-apa sama sekali.
Syahdan, kata Syariati ego adalah tipe penjara yang penjara dan tawanannya adalah satu kesatuan dan sulit dibedakan. Ia bersama manusia dan ada di sepanjang hidup manusia


(3)

DAWAM Rahardjo mengungkapkan, dimensi pemikiran Ali Syariati multi fased—berdimensi banyak, sehingga siapa pun yang menggali gagasan-gagasannya, bakal menemukan inti sari yang beragam, sesuai sudut pandang dan tema apa yang melatarbelakangi suatu permasalahan. Itulah mengapa tidak seperti cendekiawan lainnya, Ali Syariati tampil sebagai seorang pemikir yang denial mampu mengulas suatu problem dengan beragam cara analisis yang menjadi salah satu kekuatan intelektualnya.

Dari sisi lain, keunikan Ali Syariati sebagai seorang pemikir, ditandai dari cara kita mengakses pandangan dunia, pemikiran, dan sikap keberpihakannya, yang tidak menemukannya secara utuh di dalam satu buku yang padat. Menurut Ali Rahmena dalam Ali Syariati Biografi Politik Intelektual Revolusioner, di sepanjang kehidupannya, hanya ada dua tulisan atau pemikiran Ali Syariati yang ia rangkum dan dituliskan demi menjadi sebuah buku, yakni Kavir dan Hajj (Haji), untuk yang terakhir ini adalah sebuah buku yang ditulisnya setelah pulang dari ibadah haji di sekitar  1969 dan 1970.

Haji adalah buku yang khas dan benuansa berbeda dari kebanyakan ulama, ketika membicarakan makna ritual haji hanya melalui pendekatan legal-formal. Somayah dan Yasser, penterjemah buku ini mengungkapkan, perbedaan Syariati terlihat dari keunikan ucapan dan istilah-istilah yang rumit tapi bernuansa khas yang digunakannya saat mengekspresikan pemikirannya.

Steve Benson, seorang penyair Amerika, menyebut buku ini sebagai ”a mystical handbook for revolusionaries”, yang  membuat seorang muslim dapat berpartisipasi aktif dan penuh di dalam kehidupan modern, dengan pencampuran kombinasi mistik dengan kesadaran sosial dan kebebasan individunya.

Implikasi kepadatan pemikiran Syariati yang tidak ditemukan di dalam satu buku utuh, membuat tema pikiran-pikirannya, terutama yang berhubungan dengan eksistensialisme, agak sulit diidentifikasi, karena tidak pernah sekalipun Syariati memproklamirkan diri sebagai pemikir eksistensialis. Meskipun demikian, jika kita meneropong perjalanan intelektualnya, beserta dua buku dan kompilasi ceramah-ceramahnya dalam Man and Islam dan Hajj, akan ditemukan eksplanasi-eksplanasi Syariati yang menyerupai pemahaman eksistensialisme.

Selain George Gurwitsch, sosiolog Prancis yang memperantai pemikiran Syariati ke dalam wacana marxisme, saat ia menjalani studi selama di Sorborne, Prancis, Ali Syariati juga membangun kontak dengan tokoh pemikir-pemikir semisal Louis Massignon (orientalis Prancis), Jasques Barque (sosiolog Prancis dan ahli bahasa Arab), serta Franz Fanon (tokoh revolusi Aljazair). Selain tokoh-tokoh yang disebutkan sebelumnya, Ali Syariati juga terlibat dalam percakapan intens dengan Jean Paul Sartre, yang kala itu tengah menjadi sosok intelektual paling populer di Prancis karena mengusung dan memproklamirkan suatu jenis filsafat yang berbeda dari tradisi filsafat sebelumnya, yang disebut dengan nama eksistensialisme.

Dalam Man and Islam, pertemuan Ali Syariati dengan eksistensialisme bukan dalam bentuk konfirmasi atas pemahaman-pemahaman pokok eksistensialisme. Seperti juga perlakuannya terhadap marxisme, eksistensialisme terutama eksistensialisme Sartre, diberlakukan dengan kritis dan konfrontatif oleh Ali Syariati. Ia menyebutkan kendati Sartre berprinsip eksistensi mendahului esensi, atau mengutamakan tindakan manusia bebas daripada ditentukan oleh kategori-kategori esensial berupa konsep, gagasan, dan tujuan, adalah suatu ajaran yang berujung kepada kehampaan cita-cita luhur manusia itu sendiri.

Dari sisi ini, secara ambivalen, humanisme yang diprakarsai Sartre melalui eksistensialismenya, digugat dengan menunjukkan bahwasannya kehidupan manusia di muka bumi ini, tidak serta merta hidup bebas dengan konsekuensi terapung-apung tanpa makna dan tujuan, melainkan mengemban amanah penciptaan seperti yang ia utarakan lebih dulu melalui penjelasannya menyangkut hakikat penciptaan Adam (manusia).

Eksistensialisme, seperti juga diakui Sartre sendiri dalam Existensialism is Humanism, terbelah ke dua jenis orientasi, yakni eksistensialisme religius dan eksistensialisme atheistik. Seperti juga Heiddegger, Sartre menyandarkan konsep kebebasan manusianya di alam terbuka yang telah dibersihkan sebelumnya dari campur tangan kehendak tuhan. Itu berarti, ketika poros kehidupan yang bertumpu ke dalam wujud mutlak Tuhan, dilucuti dan diambil alih oleh manusia, membuat manusia itu sendiri sebagai makhluk yang bebas tanpa beban moril normatif, nilai-nilai, dan teologis, yang menyebabkan tindakan-tindakannya jauh lebih otonom dan dinamis.

Seperti dijelaskan sebelumnya, kebebasan bagi Sartre hanya berlaku kepada keberadaan yang disebut being-for-itself, bukan being in it self, yang ada begitu saja tanpa melekat predikat-predikat semacam aktif-pasif, positif-negatif, hidup-mati, dan sejenisnya, yang  mensinyalemenkan keadaan yang dapat bergerak dan berubah. Manusia sebagai kategori being-for-itself, adalah keberadaan yang bukan sekadar ada tapi juga mampu menyadari keberadaannya dalam ruang lingkup kesadarannya yang berhubungan dengan keberadaan yang lain. Atas dasar inilah, maka kesadaran menjadi prasyarat bagi manusia untuk mengatakan ”saya ada dan sekaligus bukan ‘gelas’” yang membuatnya mampu menentukan cara beradanya di dunia. 

Ali Syariati, sangat jelas menolak konsep manusia yang semacam itu, yakni dalam ruang lingkup ketika manusia diartikan sebagai ada yang ada terlempar begitu saja di dunia (lihat konsep Dasein menurut Heidegger). Model manusia seperti ini mengimplisitkan bahwa ada, sejak awal tidak berhubungan dengan suatu proses atau sebab mengapa ia ada begitu saja. Pandangan religius Syariati serta merta menolak maksud demikian, dikarenakan telah ia uraiakan di dalam Man and Islam, bahwa manusia setelah diciptakan (ada), memiliki tujuan khusus untuk menjadi khalifah Allah di atas muka bumi ini. Atas konteks penciptaan inilah, Ali Syariati membagi dua jenis ada, yang mana satu di antaranya merupakan manusia yang hidup dengan suatu amanah langsung dari Allah.

Ali Syariati memilah dua jenis keberadaan, yakni keberadaan planeter yang dijelaskannya tidak mampu mengemban amanah penciptaan dari Allah sebagai wujud materil (basyar), serta wujud dinamis, yakni manusia sebagai makhluk spiritual (insan).

Basyar dan insan, adalah dua termin Al Qur’an yang digunakan Syariati dalam mengemukakan keberadaan statis (being) dan keberadaan dinamis (becoming). Sepadan dengan konsep being-for-itself Sartre, manusia menurut Syariati adalah jenis keberadaan yang memiliki kemampuan berada (mode of being), dengan daya ”menjadi” (becoming).

Kemampuan ”menjadi” ini bagi Syariati adalah kualitas yang tidak dimiliki oleh benda-benda, binatang, dan tumbuhan yang hanya sekadar ada. wujud-wujud planter ini, karena itu tidak memiliki kebebasan untuk bergerak menuju suatu titik aktual yang menjadi tujuan kesempurnaannya.
Bagi Syariati, manusia yang ”menjadi” inilah yang disebut insan, dan bukan sekadar ada, yang merupakan sisi statis dari basyar manusia. Itu artinya, manusia yang bergerak dari titik material-biologisnya (basyar) menuju tujuan kesempurnaan dirinya lah (insan) yang layak disebut khalifah.  Sebaliknya, manusia yang hanya berdiam diri tenggelam dalam dimensi basyarnya belaka tanpa “menjadi” insan, akan berderajat rendah lebih buruk dari wujud-wujud planeter.

Lalu, kemanakah manusia mengerahakan kemampuan  menjadinya? Atau dengan kata lain, kemanakah gerak arah insan yang menyempurnakan dirinya? Di sinilah letak fundamental sekaligus kritik Syariati terhadap Sartre yang merumuskan kebebasan tindakan manusia (menjadi) tanpa arah dan tujuan. Di titik ini, bukan saja Sartre, Syariati juga secara tegas mengkritik filsuf lainnya yakni Nietzsche, dengan mengemukakan bahwa tujuan kemenjadian manusia itu adalah Allah itu sendiri.

Meski mengandaikan suatu tujuan kepada Allah, Syariati tidak sependapat dengan pandangan sufistik yang menjadikan Allah sebagai titik final kesempurnaannya. Ayat innalillah wa inna ilaihi rojiun, bagi Syariati, tidak bisa diartikan suatu perjalanan ”ke dalam Allah”. Kata ilaihi, diterjemahkan Syariati sebagai ”kepadaNya”, bukan ”di dalamNya” seperti penafsiran konvensional ulama. Arti dari ini dinyatakan Syariati bahwa kesempurnaan manusia tidak berada di dalam suatu titik, suatu pusat, yang mengandaikan titik akhir, tetapi suatu proses perjalanan terus menerus di dalam alam ketuhanan maha luas dan tak terpemanai. Itulah makna khalifah, wakil tuhan yang senantiasa menunda titik akhir.

Perjalanan manusia menuju kesempurnaan bukan tanpa hambatan sebelumnya. Manusia sebagai proses menjadi khalifah, seperti diungkapkan di bagian sebelumnya, mesti melawan sekaligus membebaskan dirinya dari empat penjara yang mensituasikan manusia ke dalam situasi batas. Tanpa pernah melangkah keluar dari situasi batas empat penjara ini, maka selamanya manusia akan teralienasi dan terdehumanisasi dari amanah yang diberikan kepadannya.

Sampai di sini, penolakan Ali Syariati atas konsep dasar eksistensialisme Sartre berupa ada (being-in-itself dan being-for-itself), serta manusia dan kebebasannya, dengan sendirinya memasukkan Ali Syariati ke dalam eksplorasi wacana eksistensialisme yang menempatkan dirinya sebagai wakil tokoh eksistensialisme Islam, meskipun ia sendiri tidak pernah mengakuinya.

Wacanan eksistensialisme Ali Syariati, sampai di sini akan terasa lebih jelas jika kita mendedah buku Haji, yang sudah disebutkan di atas, yang di dalamnya menyiratkan pemahaman evolusi manusia melalui ritual haji, seperti ditumakan di dalam eksistensialisme Barat. Selain itu, jika kita menyandingkan gagasan Syariati dengan tokoh eksistensialisme lainnya, terutama Soren Abye Kierkegaard, maka akan banyak kemiripan di antara keduanya, terkhusus tujuan paling dasar manusia beserta tiga wilayah eksistensi manusia yang diperkenalkan Kierkegaard.


(4)

ERA kenormalan baru (new normal) tidak sepenuhnya adalah situasi yang kita harapkan. Malah, akibat pandemi berkepanjangan ini, mengkerucutkan pengalaman hidup manusia ke dalam situasi-situasi batas yang membuat manusia kehilangan ruang geraknya. Secara global, meski telah memasuki kehidupan normal baru, pandemi korona memaksa peradaban mesti bertindak hati-hati dikarenakan ada empat kecenderungan yang tengah terjadi. Mengutip Martin Suryajaya dalam esainya, Membayangkan Ekonomi Dunia Setelah Korona Atau Cerita Tentang Dua Virus, empat kecenderungan dunia itu adalah: de-industrialisasi, de-finansialisasi, diskoneksi fisik, dan pelokalan global.

Gejala de-industrialisasi dibayangkan Martin merupakan suatu keadaan di mana indsutri manufaktur padat karya mengalami kekeroposan. Industrialisasi berserta skema kerja dan distribusi barangnya menemukan jalan buntu ketika seluruh modal, bahan dasar, tenaga, dan mesinnya berhenti bergerak. Hal ini menyebabkan terjadinya kelangkaan barang, pasar ditutup, meluasnya penggangguran berskala besar, dan kerugian finansial yang tidak main-main.

Kehancuran industrialisasi ini, berimbas ke wilayah kehidupan masyarakat yang mesti melakukan semuanya dari dalam rumah. Sebagai benteng terakhir, dunia industrial beserta derivasi kehidupan ekonominya, tidak terjamin lagi keamanannya, dan mengharuskan orang mesti tinggal di dalam rumah sebagai satu-satunya tempat yang masih mendapat jaminan langsung dari penghuninya.

Kematian kehidupan publik yang meluas ini, menandai dan berefek langsung kepada tiga kecenderungan lainnya, yaitu kemerosotan dunia finansial berupa pasar saham anjok, pendapatan negara turun drastis, investasi terhenti, dan nilai tukar mata uang yang tak pasti; yang mengakibatkan negara-negara mengalami krisis kehidupan berupa terjadinya diskoneksi fisik di bidang-bidang pariwisata, pusat-pusat kebudayaan, pasar modern, tempat-tempat hiburan, dan pusat-pusat peribadatan.

Puncak dari itu akan membawa kehidupan manusia ke kecenderungan ketiga berupa pelokalan global, yakni suatu keadaan ketika suluruh aktifitas manusia hanya bisa dilakukan dalam ruang lingkup yang terbatas. Tidak bisa dibayangkan seluruh koneksi peradaban masyarakat yang selama ini telah mencapai skala global, pada akhirnya dimundurkan kembali ke suatu bentuk interaksi sederhana seperti dalam model masyarakat tradisional.

Apa yang dibayangkan Martin Suryajaya, cukup menarik untuk ditelaah dan dilihat kemungkinan-kemungkinannya, terutama ketika terjadi peralihan dari kehidupan terisolasi menuju kenormalan baru, apakah kehidupan akan kembali seperti sediakala, dalam arti tidak ada upaya antisipasi untuk menanggulangi kerusakan dan kehancuran sendi-sendi kehidupan akibat pandemi korona, dan membiarkan kehidupan ini berjalan apa adanya, ataukah ada semacam kewaspadaan baru yang menimbulkan keantisipasian berupa strategi kehidupan, agar seluruh dimensi peradaban masyarakat ini dapat terselamatkan.

Meski masalah yang diajukan Martin Suryajaya cukup mendasar, tapi masih ada satu problem mendesak yang dirasa perlu juga untuk diberikan perhatian, yakni kebebasan manusia di saat seluruh bidang kehidupan mengalami disrupsi. Dalam hal ini, wacana yang diajukan Martin, merupakan suatu eksposisi yang memproblematisir kehidupan eksternal manusia dengan mempermasalahkan disrupsi yang terjadi di bidang sosial, terutama dimensi perekenomiannya.

Masalah-masalah yang coba diterangkan Martin memang sudah dirasakan sebelumnya, dan berdampak serius bagi kehidupan manusia. Meski demikian, masalah kebebasan manusia yang tiba-tiba terbatasi oleh keadaaan, juga membawa dampak lumayan serius, yakni depresi, stress berkepanjangan, kemarahan, dan bahkan jauh lebih dalam, yakni kecemasan yang menjadi problem eksistensial manusia.

Dengan kata lain, seluruh ekspresi masyarakat di hampir semua bidang kehidupan mengalami situasi batas yang menyebabkan semakin terasingnya manusia ke dalam kehidupan isolatif dan depresif. Ini tiada lain, merupakan masalah di wilayah internal manusia. Masalah tersendiri yang langsung mendekam di kedalaman diri manusia yang berefek besar jika tidak segera diidentifikasi dan dipecahkan.

Karena itu, menarik ditelusuri apakah kebebasan manusia masih mungkin diberikan posisi yang cukup signifikan dalam era kenormalan baru ini, atau tidak sama sekali, mengingat hidup bebas seperti sebelum korona tidak mungkin sama sekali dan cukup berisiko jika diaktualkan. Jika tidak, apakah keadaan saat ini mengancam eksistensi manusia, terutama saat ia kehilangan medan ekspresi atas tindakan-tindakannya di ranah kehidupan yang saat ini sedang berubah?

Manusia dikatakan filsafat eksistensialisme hanya dapat dikatakan eksis jika ia memiliki ruang agar dapat bertindak otentik sesuai kebebasan dan jati dirinya. Dalam hal ini, apakah kenormalan baru menjadi situasi batas baru sebagaimana ruang publik sebelumnya yang mengalami pembatasan besar-besaran, memberikan cukup ruang kebebasan agar manusia dapat mengaktualisasikan tindakan-tindakannya?  Apakah kenormalan baru, dengan begitu, membuat kehendak bebas manusia saat ini  mesti diatur sedemikian rupa, agar manusia tidak kehilangan orientasi kehidupannya? 

Salah satu risiko yang banyak dituai dari kebebasan bertindak selama ini adalah kematian. Kematian sebagai situasi batas yang tidak bisa dilampaui manusia, menjadi masalah besar bagi saat ini dikarenakan betapa banyaknya nyawa hilang begitu saja oleh sebab-sebab yang tidak mampu ia kendalikan. Sistem-sistem kendali yang tak bisa dijangkau manusia itu sendiri, menjadi semakin berbahaya karena penanganan yang juga serampangan dan terlambat.

Negara, dalam hal ini pemerintah, menjadi salah satu sistem yang selama ini menangani korona dengan cara serampangan dan asal kerja, dan tidak memiliki rencana besar sama sekali. Sistem negara yang selama ini diandalkan, sama guyahnya dengan sistem pemakanaan dari budaya dan agama yang kelihatan melihat pandemi ini dengan kacamata fatalistik. Budaya dan agama, yang seharusnya menjadi sumber inspirasi dan sumber pemakanaan, nyatanya menjadi biang kerok pengecer paradigma yang menganggap rendah kebebasan manusia dan kematian itu sendiri.

Dikarenakan situasi masyarakat yang dibawa ke dalam kawah kematian dan keserbaterimaan nasib, maka perlu untuk merevitalisasi ulang cara manusia bertindak. Tepat di titik inilah, sumbangsih eksistensialisme yang sedikit banyak sudah kita bahas di atas, cukup relevan dikemukakan.

Tapi, mengapa mesti eksistensialisme, terkhusus eksistensialisme Ali Syariati, dan bukan eksistensialisme dari pemikir lainnya? Setidaknya ada dua sebab utamanya, mengapa eksistensialisme Ali Syariati yang paling tepat untuk ditelaah dan diajukan sebagai alternatif, demi memberikan pemaknaan ulang menyangkut kebebasan, tindakan, dan cara berpikir masyarakat, terkhusus di bangsa ini.

Pertama, terkhusus konteks di tanah air, saat korona kian nyata, muncul respon ekstremis dari sebagian kelompok keagamaan, yang menawarkan sudut pandang fatalistik saat menghadapi korona. 

Bagi kelompok ini, manusia sebagai penerima nasib, mesti memasrahkan diri kepada takdir Tuhan yang menciptakan korona sebagai batu ujian keimanan. Bentuk kepasrahan fatalistik ini mengenyampingkan kehendak bebas manusia  untuk merespon lingkungan kehidupannya yang berubah, sehingga menempatkan manusia hanya sebagai selaiknya boneka di atas panggung kehidupan. Akibatnya, kepasrahan negatif ini membuat kelompok ini cenderung sinis kepada upaya pencegahan meminimalisir penyebaran korona. Mereka serta merta tidak mengindahkan imbauan pihak berwenang agar menjaga diri dari peluang kecepatan dan kemassifan penyebaran korona.

Kasus pertemuan akbar beberapa waktu lalu di Gowa, Sulawesi Selatan, yang mengumpulkan  ribuan jamaah tabligh, masjid-majid yang tetap dibuka, pertemuan ibadat gereja di NTT, adalah beberapa contoh betapa berbahayanya pandangan berterimaan nasib negatif ini.

Kelompok-kelompok keagamaan semacam ini, selain fatalistik, juga deterministik di dalam melihat rangkaian peristiwa yang disertai korona. Kematian yang semakin banyak jumlahnya, tidak sama sekali mengubah pandangan mereka mengenai nasib yang dianggap sudah diatur melalui rentetan hukum besi yang tidak sama sekali bisa diubah.

Kedua, agama bagi kehidupan bangsa ini salah satu faktor yang berpengaruh kuat bagi masyarakat. Agama masih menjadi sumber dan acuan nilai masyarakat dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Meski demikian, tidak sepenuhnya agama berkontribusi positif bagi banyak pihak. Meluas dan ditemukannya kelompok-kelompok konservatif dan radikal dalam menafsirkan agama secara serampangan dan semena-mena, menjadi tantangan tersendiri untuk merekontekstualisasikan ajaran agama agar lebih humanis, spiritualis, dan dinamis.  

Dalam hal ini, jenis pandangan keagamaan fatalistik dan deterministik di atas, ditopang oleh suatu struktur teologi negatif, yang mendehumanisasi peran manusia hanya sebatas makhluk alamiah saja

Perspektif seperti ini, sama fatalnya dengan pandangan naturalistik, bahwa seluruh ekspresi manusia, dideterminasi oleh hukum mekanik alam semesta. Hanya saja, jika naturalisme mengandaikan manusia sebagai makhluk fisis semata, dan diatur melalui sebab-sebab determinan lingkungan alam, maka bagi pandangan teologi kelompok ini menganggap manusia sebagai wujud pasif yang tidak sama sekali memiliki kualitas pengetahuan dan daya cipta yang menjadi kualifikasi kemanusiaannya.

Lalu, bagaimanakah meletakkan makna eksistensialisme Ali Syariati ke dalam konteks kenormalan baru? Satu-satunya cara adalah dengan menjadikannya sebagai cara pandang alternatif di dalam menyikapi keadaan saat ini. Atau dengan kata lain, penting untuk merefleksikannya ke wilayah eksistensial diri kita, sehingga mampu menjadi inspirasi dan sumber acuan baru dalam berpikir dan bertindak. Itu berarti, mungkinkah menjadi seorang eksistensialis dengan di saat bersamaan, melalukan kritik kepada paham religius yang membekukan agama sebatas ajaran ritual formal semata? Dengan kata lain, mungkinkah menjadi seorang muslim sekaligus bertindak eksistensialis dengan cara bertindak bebas demi menemukan kepribadian yang otentik, meskipun sedang mengalami kenormalan baru? Kebebasan manusia macam apakah yang diharapkan mampu eksis saat dunia sedang melawan pandemi berkepanjangan ini?


(5)

EKSISTENSIALISME Ali Syariati adalah kesegaran baru yang cukup relevan di keadaan kenormalan baru. Konsep subjektivitas ala eksistensialis yang dijelaskan melalui termin insannya, dapat mengajak individu agar tidak kehilangan orientasi hidup di masa pandemi ini. Situasi serba tidak terkendalikan, bukan faktisitas yang serta merta mesti diratapi, melainkan medan kehidupan tempat manusia merealisasikan tindakannya.

Keadaan pandemi tanpa arah ini, akan membuat sebagian orang kehilangan orientasi hidupnya, dikarenakan hanya bergerak sekadar ada (basyar) saja, sehingga terombang-ambing tanpa kepastian. Selain menjadi tawanan empat penjara, manusia yang bergerak atas dimensi basyarnya belaka, juga akan mengalami kekeringan maknawi dan spiritualitas. Berbeda dengan itu, manusia yang ”menjadi” (insan) akan senantiasa memandang setiap keadaan yang dihadapinya sebagai bagian dari tahapan kesempurnaan eksistensinya.

Eksistensialisme Ali Syariati dengan begitu menjadi sebuah pilihan paling mungkin di antara isme-isme dunia yang mendangkalkan manusia hanya sekadar makhluk satu dimensi dan materialistik. Senada dengan itu, keyakinan religius yang berpasrah diri secara fatalistik, dan memandang manusia sebagai makhluk deterministik, juga tidak dapat menjadi pilihan dikarenakan hanya memberikan eskapisme seolah-olah agama adalah candu.

Dengan tiga atribut berupa kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas, manusia menjadi makhluk yang tidak serta merta berpasrah diri menerima takdir alam, ataupun takdir Tuhan itu sendiri. Ketiga atribut yang dimiliki manusia, bukan berarti kualifikasi kemanusiaan yang berhadapan langsung dengan kehendak Tuhan, melainkan dari tujuan penciptaannya, justru tujuan manusia dihadirkan di muka bumi merupakan bagian dari rencana Tuhan demi menciptakan kebaikan dan kemakmuran bagi masyarakat.

Inti eksistensialisme Ali Syariati, adalah pemikiran yang membangun proyek pembebasan dari dehumanisasi dan materialisasi manusia. Tidak sama seperti isme-isme lainnya, terutama juga eksistensialisme Barat yang menyebabkan diri manusia terasing dan kehilangan orientasi, eksistensialisme Ali Syariati justru adalah suatu jalan transendensi diri dari tindakan dan tanggung jawab manusia menuju kesempurnaan wujudnya, sekalipun itu melewati dunia kematian.

Syahdan, kematian dan masalah-masalah eksistensial berupa kecemasan, kegelisahan, kebebasan, dan keterasingan, bukanlah soal-soal fundamental bagi seorang insan. Dalam Man and Islam, Ali Syariati menyebutkan penawar dari agar mampu keluar dari situasi batas empat penjara manusia: cinta. Hanya cintalah kekuatan kreatif dan dinamis yang mampu membuat seorang insan dapat ”menjadi” sebagai agen bebas dan bertanggung jawab. Hanya cintalah, hatta, kematian sekalipun, faktisitas yang otomatis bukan rintangan bagi seorang khalifah, untuk menuju kesempurnaan dengan bahagia dan terbuka pasca kematian mendatangi dan  meninggalkan dunia ini.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...