08 Mei 2020

Merisik 5 Jalan Permenungan dari Rumah


PANDEMI corona, selama lebih sebulan ini, diterima tidak diterima, berhasil mendesak manusia mengurung diri sampai ke pertahanan terakhirnya. Perkumpulan banyak orang di pasar, kantor, masjid, terminal, sekolah, warung kopi, dlsb., dipecah menjadi satuan atomik terpisah-pisah sampai ke rumah-rumah.

Di tempat inilah, semua pekerjaan yang sering dilakukan di luar mesti diambil alih dari rumah. Mendadak rumah jadi kantor, rumah jadi sekolah, dan rumah jadi tempat ibadah. Singkatnya, pandemi corona telah mengurai seluruh aktivitas kepublikan menjadi sebatas wilayah domestik.

Menarik sebenarnya melihat gejala ini dari sisi seperti apa masyarakat merespon perubahan mendadak ini. Di samping struktur ekonomi, politik, dan budaya ikut berubah, struktur agama juga mau tidak mau ikut berubah.

Fenomena ditutupnya masjid, berhentinya pengajian, nonaktifnya salat berjamaah, berkurangnya kas masjid, sampai menganggurnya imam memimpin salat, merupakan dampak langsung dari masifnya penyebaran corona.

Tulisan sederhana ini, ingin melihat peluang berharga apa yang bisa diambil dari ujian yang dihadapi dunia saat ini, terutama bagi umat Islam di tanah air.

1. Kembali merefleksikan yang sakral

Emile Durkheim, sosiolog Prancis dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life menulis inti seluruh agama berasal dari konsep sederhana tentang apa yang sakral dan yang tidak sakral.

Prinsip sakral tidak sakral ini merupakan ejawantah dari apa yang suci dan tidak suci. Tuhan suci maka ia sakral, malaikat suci maka ia sakral, nabi itu suci maka ia sakral. Konsep semacam ini, juga berlaku pada praktik-praktik peribadatan. Salat itu sakral karena ia ibadah yang suci. Itu sebabnya, bukan saja salat, setiap ingin melakukan peribadatan umat muslim wajib sebelumnya bersuci.

Jika, ada pertanyaan apakah salat di rumah mengurangi kadar kesakralannya dibanding salat berjamaah di masjid? Jika berdoa selain di masjid apakah mengurangi kadar pahalanya? Jika bersedekah di masjid akan sama jika itu dilakukan di tempat-tempat lain?

Selama salat, berdoa, dan bersedekah masih bisa dilakukan di rumah, semua usaha itu insya Allah tidak mengurangi kadar kesakralannya. Salat berjamaah di masjid meski penting, itu bisa disebut cara atau pakem tradisi. Berdoa di rumah Allah meski dianjurkan, merupakan kebiasaan baik yang tidak ada salahnya dapat dilakukan di banyak tempat. Bersedekah apa lagi, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Makna physical distancing, dengan melihat kenyataan di atas, dapat berfungsi sebagai wahana refleksi untuk memikirkan ulang apa sebenarnya yang kita harapkan dari cara kita beragama hari ini. Apakah kita beragama hari ini hanya sekadar mengejar ”tradisi” atau ”inti agamanya” itu sendiri?

2. Kemungkinan melakukan refleksi untuk hidup otentik

Hidup otentik adalah hidup jujur. Hidup sesuai kata hati, atau hidup atas dasar pilihan otonom sebagai mahkluk berkesadaran.

Kiwari, karena desakan publik, banyak orang hidup dengan kepalsuan. Banyak orang menjalani kehidupannya bukan atas dasar usulan-usulan kata hatinya, atau hasil pertimbangan akal budinya.
Atas dasar penampilan, banyak orang melakukan oplas. Atas nama kekuasaan, tidak sedikit pemimpin bermain peran baik. Atas nama kasih sayang, seorang suami pura-pura perhatian kepada istrinya. Atas nama agama, si munafik berpura-pura taat beragama.

Singkatnya, atas kehendak mayoritas, seseorang kehilangan suara hati dan akal sehatnya dalam menentukan keputusan pribadinya.

Corona, toh jika ia mendatangkan banyak kerugian, tetap saja menyimpan banyak hikmah. Salah satunya, kedatangannya menyediakan peluang bagi kita dapat berpikir ulang mengenai kepribadian kita.

Apakah selama ini setiap keputusan saya ambil atas desakan banyak orang atau pertimbangan pribadi? Apakah  selama ini saya bekerja untuk mencari harta atau rizki? Apakah saya menikah atas dasar kasih sayang atau nafsu semata? Apakah saya berbelanja demi kepuasan atau kebutuhan? Apakah saya beribadah agar terlihat religius atau alim? Apakah selama ini saya telah menjadi diri sendiri?

3. Banyak waktu memperdalam ilmu agama

Selama masa physical distancing banyak hal-hal kecil yang selama ini diabaikan dapat dilakukan. Jika selama dalam kedaan ”normal” kadang kita lupa merawat bunga-bunga, membersihkan gudang, menyervis kendaraan, dan merawat anak, di waktu sekaranglah momen yang tepat untuk memerhatikan hal-hal ”sekunder” semacam itu.

Selain hal-hal di atas, sekaranglah saat yang tepat agar Anda dapat kembali menyervis diri dengan memperdalam ilmu agama. Jika selama ini banyak waktu habis karena pekerjaan, sudah saatnya Anda mengambil buku di almari Anda. Buka dan bacalah tulisan-tulisan sekaliber Quraish Shihab, Gusdur, atau Jalaluddin Rakhmat untuk merefresh kembali pemahaman agama yang belakangan kian baku dan kaku.

Jika Anda ingin menukik lebih dalam, baca dan kaji dengan penuh khidmat ayat-ayat suci Al Qur’an. Bacalah dalam keadaan tartil yang jika sampai kepada ayat-ayat tentang neraka seolah-olah Anda merasakan panasnya api neraka, dan jika tiba di ayat-ayat tentang surga seakan-akan Anda ingin secepat mungkin berada di depan pintunya. Wallahu a’lam bishawab.

4. Berkhidmat kepada keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Meski demikian, anehnya, bagi masyarakat pekerja, akibat kesibukan di kantor membuat banyak waktu tersisa dari keluarga. Agak dilematis memang jika mengingat tujuan akhir semua itu dilakukan demi keluarga juga.

Berhubung sekarang sebagian besar pekerjaan dilakukan di rumah, Anda dapat lebih banyak waktu bersama keluarga. Setelah Anda selesai meeting via online dan menutup laptop, segeralah cari Anak anda. Peluk dan gendonglah ia seolah-olah itu sudah lama tidak Anda lakukan. Ajak ia bermain di teras atau berlari-lari kecil tidak jauh dari halaman rumah Anda.

Jika Anak anda sudah dewasa, ajaklah ia bersama-sama memperbaiki mesin air yang rusak, atau mengajaknya naik di loteng mencari genteng yang sudah seminggu bocor dan butuh dibetulkan.

Bagaimana dengan anak perempuan dan istri Anda? Segeralah memesan makanan via ojol, manjakan mereka dengan makanan yang sudah lama ingin mereka nikmati. Terutama istri Anda, jangan lupakan ia yang selama ini berjuang di ”belakang” demi menopang rumah tangga dapat terus berjalan. Yang terakhir ini jika dilewatkan akan panjang urusannya.

5. Bersiap memasuki Ramadan

Kurang seminggu lagi umat muslim bakal memasuki bulan suci Ramadan. Tahun ini, berkat corona, umat muslim akan memasuki bulan puasa terberat dari biasanya. Meskipun demikian, bukan berarti respon umat muslim atas ujian ini mengurangi semangat kita saat menjalani ibadah puasa kelak. Bahkan semakin berat rintangannya, semakin besar pula nilai ibadah yang bakal diraih.

Sejak Indonesia darurat corona, tidak satu pun seantero negeri dibuat tenang hidupnya. Selain karena belum ditemukan obat dan anti vaksinnya, karakteristik penyebaran virus yang super cepat, serta semakin banyaknya korban berjatuhan membuat semua pihak merasa was-was, resah, khawatir, dan takut. Seolah-olah virus corona bakal datang mengetuk setiap pintu rumah  masing-masing kita. Mudah-mudahan tidak!

Sesungguhnya suatu cobaan tidak bakal melebihi kapasitas orang yang sedang diuji. Di setiap kesulitan terdapat kemudahan. Setiap ujian pasti ada hikmahnya.

Masih banyak lagi kalimat serupa yang bisa dipetik dari Al Qur’an dan hadis, yang mengindikasikan bahwa apa yang sedang melanda negeri ini merupakan ujian bagi kita semua, dan akan berakhir dengan kualitas yang lebih baik.

Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa optimis dan tidak mudah menyerah. Seberat-beratnya ujian virus corona, cepat atau lambat kita akan segera melaluinya. Satu hal yang pasti, seluruh ujian ditimbulkan dari pandemi ini merupakan pelajaran berharga bagi Ramadan nanti. Ia menjadi timbangan yang ikut menaikkan kualitas ibadah puasa nanti. Selain usaha, tawakal adalah kuncinya. Berpasrah diri kepadaNya.

07 Mei 2020

Esai Pengantar Arwah Luis Sepúlveda, Penulis Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta

Rest in Peace Luis Sepúlveda (1949-2020).

BUKU ini tipis saja, dan setelah membacanya, sampai sekarang saya masih ”berutang budi” kepada penulis buku ini. Saya belum sekalipun menyempatkan menulis beberapa kata atas pengalaman membaca kisah memukau yang ditulis orang yang pernah diasingkan rezim militer Pinochet, semenjak ia muda ini.

Sampai akhirnya saya membaca status penerjemah buku yang berjudul asli Un viejo que leia historia de amor, Ronny Agustinus, tadi malam. Pemilik penerbit Marjin Kiri itu mengabarkan sang penulis wafat karena telah seminggu lebih berjuang melawan virus corona di tubuhnya.

Diberitakan La Vanguardia, salah satu media di Spanyol, Sepúlveda mengalami gejala Covid-19 setelah pulang dari festival sastra Correntes d’Escritas in Póvoa de Varzim di Portugal.

Sepúlveda mengembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (16/4/2020), setelah lebih enam pekan sejak 25 Februari terdeteksi mengalami gejala corona di Rumah Sakit Pusat Universitas Asturias (Oviedo).

Berita kematian peraih Tigre Juan Award pada tahun 1989 atas bukunya ini, dan sudah lama berutang budi terhadap ceritanya yang berkesan, mendorong saya dengan sendirinya menulis tulisan ini.

Entah mengapa, saya seolah-olah masih terjebak di dalam belantara hutan Amazon, dan tidak bisa lepas dari keterperanjatan menyaksikan kuku cakar dan taring macan kumbang yang tiba-tiba datang, mengendus-endus, dan bergulat di perkelahian babak akhir dengan si Pak Tua Antonio Jose Bolivar Proano, tokoh kunci dari Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta.

Antonio Jose Bolivar Proano awalnya bisa dibilang bagian masyarakat koloni yang ada irisannya dengan gerakan misionaris para Jesuit di abad 19, yang masuk  berdakwah di hutan perawan Amazon.

Mereka hidup menerapkan praktik religius bersama masyarakat miskin campuran Eropa-Amerika Latin di gunung-gunung dengan menggunakan poncho, pakaian khas menyerupai mantel untuk menghalau hawa dingin angin pegunungan.

Misi kristenisasi para Jesuit ini dalam kenyataannya berdampak jauh mengubah pola hidup suku-suku asli di hutan Amazon.

Tradisi hidup ala masyarakat Eropa mau tak mau berbaur dengan masyarakat setempat melalui penggunaan bahasa Spanyol yang menggantikan bahasa asli suku pedalaman, berkurangnya peperangan antara suku, pembukaan lahan baru, dan tentu pada akhirnya, semua itu akan terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi pasar yang tidak dikenal sebelumnya di kawasan itu.

Bolivar korban pergunjingan masyarakatnya, oleh satu sebab yakni istrinya yang tak mampu menghasilkan anak dan mengalami semacam menstruasi berkepanjangan, sehingga mengundang pandangan miring dari orang di sekitarnya.

Mesti Anda ketahui bagaimana keyakinan masyarakat pedalaman hutan Amazon, terutama bagi perempuan yang mengalami menstruasi. Perempuan yang mengalami menstruasi akan dianggap kotor, najis, dan bahkan mesti dikucilkan dari pergaulan sehari-hari.

Orang-orang pedalaman Amazon bahkan rela membuatkan sebilik rumah menyerupai kandang, dan sebuah lubang di tanah menyerupai kloset jauh dari dalam pemukiman untuk mengisolasi perempuan menstruasi. Bayangkan tanpa pembalut, perempuan menstruasi hanya mengandalkan daun-daunan dan membiarkan darahnya jatuh menetes di lubang tanah yang sudah dibuat sebelumnya.

Luis Sepúlveda (1949-2020)

Tak tahan jadi korban gosip tidak-tidak, Bolivar bersama istrinya bernama lengkap Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo akhirnya mengungsi dari gunung dan masuk ke tengah hutan, dan tiba di tempat bernama El Idilio, suatu kawasan yang dibuka untuk dijadikan pemukiman baru.

Di El Idilio ini, setelah gagal hidup berbulan-bulan bercocok tanam akibat minim pengetahuan mengenai karakter lingkungannya, Bolivar bertemu orang Shuar suku pemburu yang suka menciutkan kepala musuh-musuhnya dengan cara mengawetkannya seperti dendeng sapi, atau lebih tepatnya orang Shuar-lah yang menemukan Bolivar. Bersama beberapa orang yang kelimpungan, Bolivar mulai putus asa dan merasa kalah dari hutan rimba beserta hewan-hewan buas yang menghabisi mereka satu per satu.

Orang Shuar adalah orang Indian semi nomaden yang banyak tinggal di hutan hujan tropis di antara pegunungan Andes, dan di hutan hujan tropis dan sabana di dataran rendah Amazon, di Ekuador meluas sampai ke Peru. Dari orang Shuar-lah Bolivar belajar bagaimana hidup seharusnya di tengah hutan.

”Bersama mereka ia abaikan adat kesopanan Katolik udiknya. Ia berjalan-jalan setengah telanjang dan menghindari kontak dengan pemukim-pemukim baru, yang menganggapnya orang gila” (hal. 31).

Di titik inilah, menurut saya permulaan yang menandai bagaimana Bolivar belajar dan berusaha menyatu dengan adat dan tradisi masyarakat asli Amazon, yang mendudukkan hutan sebagai episentrum kehidupan yang diistimewakan.

Di titik ini juga Bolivar belajar cara berjalan di dalam hutan, berenang,  belajar mengenal jejak hewan buruan dan berusaha mengenal hewan buruannya hanya dari warna tainya. Di lain waktu bersama sahabatnya, Nushino, berburu ular dan menukarkan bisanya dengan sebilah parang atau sekantong garam.

Di titik ini pulalah, saya bisa katakan, bagaimana seharusnya kehidupan peradaban modern mesti menghormati dan mengakui ”peradaban” lain yang dirawat dari cara hidup suku-suku asli pedalaman hutan Amazon.

”Untuk menghormatinya, mereka lukis tubuhnya dengan warna-warni ular boa dan memintanya bergabung dalam tarian” (hal.35). Penerimaan Bolivar sebagai bagian dari kehidupan asli suku Shuar diupacarakan dengan meminum natema, suatu minuman khusus yang berefek halusinatif diramu dari akar tumbuhan yahuasa.

Bolivar telah dinyatakan lulus setelah lolos dari maut yang disebut ”perploncoan” dewa-dewa jahat yang mengujinya lewat gigitan ular yang membuat tubuhnya demam dan menggigil berhari-hari saat mencari buah di dalam hutan.

Di akhir kisahnya, kematian si betina macan kumbang—hewan yang membuat cerita ini menjadi lebih menarik, bukanlah akhir pertarungan yang diharapkan Pak Tua Bolivar.

Ia bahkan diliputi rasa malu, nista, dan tak berguna sama sekali setelah membunuh hewan yang sakral bagi masyarakat dan hutan semacam Amazon.

”Lantas dengan penuh amarah ia buang senapannya dan melihatnya tenggelam tanpa kejayaan. Monster logam yang dikutuk semua mahkluk” (hal.121).

Macan, seperti juga bagi suku-suku pedalaman adalah hewan yang mesti dihormati dan menjadi simbol penghargaan atas alam rimba yang tak terpemanai.

Itulah mengapa, setelah Pak Tua menyadari betapa anggunnya hewan yang tinggal tubuh saja itu, setelah tubuhnya disobek-sobek, diterkam, dan ditindih di bawah taring yang menganga, ia menangis.
Matanya berlinang air mata, beriringan air hujan yang ikut jatuh di atas sungai yang mengalir menuju riam yang jauh.

Pak Tua menangis sebab ia tahu, yang menang bukanlah dirinya. Macan yang mati terbunuh setelah juga diburu orang-orang berkulit putih, yang tak tahu adab selama di dalam hutan, merupakan simbol kemenangan peradaban eskalatif yang bakal mengekstraksi kehidupan hutan Amazon.

”Mesin-mesin raksasa membobol jalan, dan orang Shuar jadi kian gesit. Sejak itu mereka tak lagi mengikuti adat untuk tinggal selama tiga tahun di suatu tempat sebelum pindah, guna membiarkan alam memulihkan dirinya sendiri” (hal. 39).

Begitulah, kisah Pak Tua Bolivar juga sebenarnya sedang menggaungkan suara dari  tengah hutan penghasil oksigen terbesar di dunia, mengenai ancaman peradaban  luar terhadap ekosistem hayati yang dijaga melalui budaya kehidupan suku pedalaman.

Buku yang dengan penghargaan sastra Tiger Juan, yang disebutnya tanda yang ia ingin peruntukkan kepada sahabat terkasih irit bicara, Chico Mendes, dengan sendirinya adalah buku perpisahan dengan pejuang lingkungan hidup itu. Saat penghargaan buku ini diumumkan di Spanyol, di waktu itu juga di pedalaman hutan Amazon, Chico Mendes mati ditembak oleh kaki tangan pengusahan pembalak hutan.

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta pernah digarap ke layar lebar oleh sutradara Australia Rolf de Heer  dan tayang perdana 2001 silam dengan aktor Richard Dreyfuss sebagai Antonio Bolivarnya.

Luis Sepúlveda wafat di usia 70, dan tidak banyak yang menyadari kematiannya secara tidak langsung adalah buah dari kerusakan alam besar-besaran yang mendorong perubahan drastis kehidupan hayati berserta kehidupan mikrocosmosnya.

Hutan dibabat sehingga merusak penangkaran alami yang menjaga virus-virus asing tidak keluar melintas di kehidupan manusia.

Selamat jalan ”Pak Tua” Sepúlveda.

03 Mei 2020

10 Pertanyaan Melihat Rumah dari Rumah


SETELAH hampir sebulan bermukim di dalam rumah akibat Covid-19, sering terlintas pertanyaan-pertanyaan serampangan yang membuat saya tergelitik untuk merefleksikan apa sebenarnya makna rumah bagi masyarakat Timur seperti kita ini.

Pertama, apakah kebudayaan kita, terutama Sulawesi Selatan, menganggap rumah hanya sekadar tempat tinggal? Apakah pernah ada dalam sejarah lokal yang membuat rumah berfungsi produktif ketimbang hanya dianggap ranah domestik?

Masyararakt Barat membagi dua ranah kehidupannya menjadi ruang privat dan ruang publik. Kedua, apakah rumah bagi kebudayaan lokal memposisikan hal yang serupa? Apakah urusan rumah tangga dianggap ranah privat yang tidak bisa berbaur dengan urusan publik.

Ketiga, apakah urusan rumah tangga dengan sendirinya bukan medan politis yang jauh dari urusan kepublikan?  Mungkinkah ada peluang melihatnya dengan kacamata lain, bahwa rumah dalam kearifan lokal Bugis Makassar, mendudukkan urusan rumah tangga juga sebagai bagian dari urusan pemerintahan?

Keempat, jika rumah dan ruang publik demikian lebar jaraknya, bagaimanakah hubungan antara keduanya? Apakah ada pembagian hak yang mengatur dua ranah kehidupan ini? Bagaimanakah perlakuan kekuasaan menyikapinya, apakah sama seperti bagaimana negara modern mengatur kehidupan masyarakatnya?

Kelima, jika tidak, lalu kapan ada pemilahan kehidupan yang membagi peran masyarakat ke dalam ranah privat dan ranah publik? Mengapa ada pembagian semacam ini? Apakah ada unsur kepentingan kekuasaan tertentu yang mengaturnya?

Dari segi kebudayaan. Keenam, bagaimanakah rumah dapat dilihat sebagai wahana kebudayaan? Apakah rumah selama ini sering kita andaikan sebagai arena persemaian nilai-nilai tradisi? Apakah rumah bisa diutamakan dari sekolah dengan menyebutnya sebagai sekolah pertama? Apa fungsi pendidikan rumah jika sekolah sering dianggap satu-satunya faktor penunjang pendikan?

Masyarakat pekerja melihat rumah sebagai tempat merecovery tenaga yang habis terkuras bekerja di ranah publik. Ketujuh, apakah arti rumah dalam skema global kapitalisme? Apakah rumah masih menjadi bagian dari siklus kerja perputaran modal yang berfungsi sebagai penyedia pemulihan tenaga kerja? Apakah dengan demikian sebenarnya rumah hanya properti bagi masyarakat kapitalistik untuk menunjang transaksi tenaga buruh menjadi keuntungan bagi kelas pemodal? Apakah rumah dapat diartikan partisi yang inheren dari skema kapitalisme untuk mengupayakan laba dapat terus tercipta?

Orang-orang barat pengguna bahasa Inggris melihat rumah dalam cara yang berbeda. Secara bahasa mereka bisa mengatakan rumah dengan kata ”house”, tapi di waktu lain mereka bisa menggunakan kata ”home” juga untuk menunjuk rumah. Kedelapan, bagaimana dengan kita, apakah cara kita memahami rumah sama seperti orang barat melihatnya? Kapan kita mengatakan rumah sebagai bangunan fisik, dan saat seperti apa rumah kita maknai sebagai kehidupan yang berlangsung di dalamnya? Apakah kita kesulitan membedakannya?

I can't wait to get home and relax.” (Saya tidak sabar ingin cepat pulang ke rumah untuk bersantai). ”That’s my house, on the left.” (Itu rumah saya, di sebelah kiri). Begitu orang barat memaknai tempat tinggalnya.

Masjid bagi umat muslim di sebut rumah Allah, gereja disebut rumah Tuhan, vihara, dan kelenteng besar kemungkinan sama. Semua tempat peribadatan umumnya disematkan kata rumah di depannya. Kesembilan, mengapa demikian? Apakah Tuhan membutuhkan rumah? Jika tidak, lalu demi apa Tuhan dibawa-bawa untuk menyebut itu rumah Tuhan, sementara setiap kali sering kita temukan pintunya lebih sering dikunci rapat-rapat?

”Rumah tangga saya hancur karena corona.” Pernyataan ini sepertinya diucapkan seseorang yang sedang dilanda masalah keluarga. Mudah-mudahan pernyataan ini bukan keluar dari mulut Anda. Tapi, satu hal yang pasti kalimat ini tidak berarti rumah bangunan fisik yang ia tempati runtuh rata dengan tanah hanya karena virus ”kecil” bernama corona.

Kesepuluh, "A house is a machine for living in." Kata Le Corbusier, seniman dan penulis dari Swiss. ”Baiti jannati” kata ustaz di kanal youtube!?

02 Mei 2020

Cara Pendidikan Diktator Menciptakan Homo Academicus





TAK ada pendidikan yang baik tanpa melibatkan dialog di dalamnya. Kira-kira 300-400 tahun silam sebelum masehi, dialog sudah didudukkan sebagai bagian penting pendidikan.

Konon di masa itu, Aristoteles, senang berjalan berkeliling mengitari murid-muridnya sambil bercakap-cakap. Di akademia yang dia bangun itu, Aristoteles yang berjalan ibarat putaran jam itu kelak menginspirasi suatu pendekatan yang khas dalam wacana ilmu filsafat.

Akademianya, tempat dia mengajar, dalam sejarah, menjadi cikal bakal berdirinya universitas-universitas. Juga, sebelum Aristoteles, Socrates malah memakai dialog sebagai metode mengungkap pemahaman.

Sampai-sampai karena metodenya ia malah disebut sebagai sang bidan. Ibarat "dukun beranak" Socrates hanya bertugas membantu orang-orang melahirkan sendiri pemahamannya. Pengetahuan hanya bisa dilahirkan dari rahim orang-orang bersangkutan.

Tidak ada anak yang lahir di luar dari rahim ibunya. Begitu kira-kira maksud dari metode bidan Socrates. Itulah sebabnya pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang lahir dari rahim pikiran sendiri. Bukan dari rahim siapa-siapa. Bahkan dalam pendidikan, dialog adalah kunci.

Tapi, bagaimana mungkin menempatkan pendidikan yang ideal dalam konteks masyarakat seperti sekarang, sementara sekolah, atau bahkan intitusi pendidikan tinggi, hanyalah ruang publik yang minim dialog? Institusi yang lebih tepat disebut rezim fasis! Bukankah dialog mengandaikan hubungan yang setara? Suatu relasi yang disebut sepadan, yang memungkinkan pentingnya pertukaran pemahaman di dalamnya? Tapi fasis tetaplah fasis! Suatu mekanisme pemerintahan yang bukan saja berlaku dalam sistem politik, tapi juga dalam pendidikan. '

Dengan apik, banyak kritikus pendidikan yang mendakukan bahwa dunia pendidikan adalah refleksi masyarakatnya. Era sekarang, ketika kapitalisme mutakhir menjadi momok tak terhindarkan, pendidikan yang memiliki tujuan yang luhur itu pada akhirnya didudukkan berdasarkan skema masyarakat kapitalistik.

Menurut pendakuan Jean Anyon, seorang sosiolog pendidikan marxis, relasi pengetahuan yang berlaku dalam institusi pendidikan, hanyalah mereplika sistem transaksional jual beli masyarakat kapitalistik.

Dengan kata lain, proses sosial, hubungan sosial, dan kedudukan sosial dalam dunia pendidikan, merupakan bentuk lain dari sistem kelas masyarakat yang mensubordinasi kelas pekerja melalui ilmu pengetahuan.

Dari penelitiannya juga, Anyon menyatakan institusi-intitusi pendidikan selama ini banyak menggunakan logika pasar di dalam mengelola intitusinya.

Dimulai dari kebijakan pengembangan intitusi, sampai kepada pengelolahan kurikulum dan praktek belajar mengajar, didasarkan kepada akumulasi kapital dengan cara membentuk sistem stratifikasi kelas masyarakat berdasarkan satuan-satuan dan tingkatan-tingkatan kemampuan ekonomi.

Itulah mengapa sampai hari ini, terutama dalam institusi pendidikan tinggi banyak sekat-sekat yang membagi secara kategoris satuan belajar berdasarkan tingkat ekonominya. Kata Ivan Illich, proses pendidikan yang dikonfigurasikan atas sistem ekonomi, hanya menghasilkan out put yang tak bermutu.

Di saat itulah ilmu pengetahuan menjadi komoditi. Seperti benda-benda yang terpampang dalam etalase pertokoan. Atau bukan saja ibarat sistem jual beli, pengetahuan yang sejatinya bersifat dinamis dan berkembang hanya menjadi tanah kering yang mudah kaku akibat fasisnya sistem belajar mengajar selama di kelas-kelas. Kenapa bisa disebut fasis? Sederhana saja! Sejauh di dalam praktik-praktik berpengetahuan, nilai dan sumber-sumber pemahaman hanya diasalkan melalui satu sumber.

Dan, ini ciri yang kedua, ketika tidak ada satupun ruang terbuka untuk menyoal sesuatu, atau bahkan memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat. Proses diseminasi yang demikian, malah mengartikan ilmu pengetahuan ibarat dogma.

Kendati dikatakan sebagai proses transformasi, bentuk dan isi pengetahuan dalam situasi demikian hanya didudukkan dalam pengertian statis dan fixed. Ilmu akhirnya menjadi barang baku yang sama ketika diajarkan dan sama ketika diungkapkan kembali. Ada istilah yang khas dari Pierre Bourdieu, filsuf cum sosiolog pendidikan Perancis: homo academicus.

Dengan sinis, Bourdieu merumuskan istilah ini untuk menunjukkan betapa pragmatisnya motivasi dunia intelektual yang mengejar kedudukan akademis dengan meninggalkan hasrat pencarian ilmu pengetahuan.

Banyak di antaranya para ilmuwan dalam institusi pendidikan tinggi, hanya mementingkan gelar akademik yang mentereng tanpa benar-benar mengindahkan aspek intelektual dari karir akademiknya. Bahkan, gelar akademik hanya dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu, semisal memperdalam dan memperluas gengsi kekuasaan.

Dengan kata lain, aristokrasi akademis menjadi satu-satunya tujuan seorang ilmuwan untuk meningkatkan kekuasaan simboliknya dalam stratifikasi ilmu pengetahuan dan masyarakat ilmiah.

Dari pengamatan yang lain, Michel Foucault lebih surut ke belakang melihat kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan. Menurutnya, pengetahuan selalu menyatakan diskursusnya dalam rangka mempertahankan posisi dominan kaum tertentu. Atau sebaliknya, kekuasaan seringkali menciptakan diskursus pengetahuannya dengan tujuan menopang secara ideologis kekuasaan itu sendiri.

Pengetahuan yang dikendalikan melalui normatifitas, dengan sendirinya akan menciptakan pendisiplinan dan pengontrolan tentang apa yang layak dipikirkan, diwacanakan, dan dilakukan. Dalam situasi demikianlah, dalam konteks pendidikan, subjek terdidik mengalami pelucutan dari kebebasannya sendiri. Pengetahuan dengan begitu, dengan kata lain hanyalah kata ganti dari kekuasaan.

Kembali ke soal dialog.

Apabila relasi pengetahuan diartikan secara sepihak, maka tidak mungkin ada dialog. Mustahil ruang diskursif sebagai wahana pertemuan gagasan dimungkinkan.

Dialog hanya mungkin jika ada posisi yang dibuat setara, ada titik-titik yang dibuat seimbang, dan hilangnya sekat-sekat yang menggambarkan keseimbangan antara posisi dominan dan posisi yang subordinat. Jika tidak, seperti kata Foucault, hubungan yang berpotensi menjadi relasi hirarkis akan menyubordinasi yang lain dengan kekuasaanya. Kalau begitu, fasis tetaplah fasis, pendidikan sekalipun!

Selamat hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020


21 April 2020

Baltazar: Si Beruang Kutub, Juru Bicara Kebebasan dari Jeruji Valle Central


Judul: Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
Penulis: Claudio Orrego Vicuna
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
ISBN: 978-979-1260-82-4
Tebal: 68 halaman




“Barangsiapa sanggup membaca apa yang ada di balik mata seseorang, atau membaca spektrum sinar mentari di lembah, atau membaca bayang pertama di atas salju putih pegunungan, ia akan bebas selamanya” (hal.66).


TIDAK seperti George Orwell melalui alegori politiknya, yang menggunakan banyak hewan-hewan dalam Animal Farm. Fabel politik Claudio Orrego Vicuna ini cuman butuh satu hewan untuk menyampaikan suasana atau gagasan mengenai kediktatoran kekuasaan politik.

Memang, dalam novelet 68 halaman ini tidak ada satupun kata politik dituliskan untuk mencerminkan bahwa ini karya berbicara fakta itu.

Tapi, jika pembaca mempertimbangkan faktor biografis, dan melihat novelet ini dari bayang-bayang penulisnya, maka tersirat dengan cara samar-samar bahwa karya ini juga implisit berbicara banyak berkaitan dengan kekuasaan.

Akan sangat berbeda ketika kebebasan sebagai esensi keutamaan manusia dibincangkan dalam spektrum politik melalui karya sastra. Apalagi jika itu dimasukkan ke dalam kehidupan binatang yang sarat perbedaan dengan manusia.

Dalam rangka itu, Claudio Orrego Vicuna hanya membutuhkan satu saja penanda untuk membenarkan hal ini: kandang binatang.

Apa boleh dikata, sepertinya hanya kandang,
 ilustrasi paling pas untuk menggambarkan makna kebebasan. Bukankah kehidupan manusia juga demikian? Hidup dalam kandang yang ia ciptakan sendiri sambil sembunyi-sembunyi mengharapkan kebebasan?

Dan, dari dunia kandang inilah, sekotak besi jeruji seekor beruang kutub, Claudio membentangkan sejumlah paradoks kemanusiaan, terutama jika itu menyangkut hal ihwal yang dialami manusia.

Ya, novelet ini bercerita tentang seekor beruang yang diberi nama Baltazar, yang namanya diberikan cuma-cuma oleh penjaga kandang. Nama itu diambil dari nama seorang majusi berkulit hitam kelak ditahbis menjadi santo, yang mengunjungi Yesus beberapa saat setelah ia lahir.

Satu-satunya yang menghubungkan Baltazar dengan namanya adalah kulit bulunya yang berlahan berubah menjadi lebih gelap setelah ia lama tinggal di dalam kandang di sebuah kawasan bernama Valle Central, Cile.

Baltazar awalnya berbulu putih bersih seputih pasir es Artik tempat ia berasal.

Suatu pagi, seperti dikisahkan Baltazar sendiri, tiba mahkluk aneh dan jahat yang datang melalui suatu ekspedisi di Artik, suatu kawasan sabana es di daerah kutub. Mereka datang demi satu misi yang kelak diketahui dilakukan untuk menghibur orang-orang dengan cara memamerkan hewan-hewan eksotik di suatu tempat yang disebut kebun binatang.

”Mereka memecah keheningan dengan seruan-seruan mereka. Ledakan mereka dibalas dengan gema yang mengerikan dari es. Segala yang ada pada mereka terlihat di mata kami sebagai penjelmaan iblis” (hal.5).

Itulah kontradiktifnya manusia, yang disebut Baltazar mahkluk aneh penjelmaan iblis. Demi menghibur banyak orang melalui kebun binatang, mereka lalui dengan cara yang ganjil. Meledakkan gunung-gunung es dan menangkap hewan liar yang hidup tentram di habitatnya.

Perlu diterangkan di sini kata liar, mengingat seluruh kisah dalam novelet ini lahir dari kenang-kenangan yang diceritakan Baltazar sendiri. Ya, Baltzarlah sang narator dalam kisah ini. Beruang yang dapat berbicara dan menceritakan kisahnya dari dalam jeruji kandangnya.

Peradaban seringkali mengonseptualisasikan kehidupan di luar dari dirinya sebagai kehidupan liar. Peradaban yang juga berarti telah beradabnya pikiran dan perbuatan manusia, utamanya mendikotomikan dua dunia dari ukuran dirinya sendiri.

Itulah sebabnya, ketika bangsa Barat melalukan ekspedisi ke tanah jauh, yang belakangan disebut dunia Timur, dan melihat pola hidup yang berbeda dari kebiasaan masyarakat Eropa, kehidupan macam itu disebut tidak beradab. Kehidupan tanpa konsensus, dan lebih mirip kehidupan binatang.

Ini persis seperti adegan pasukan Kaizar Hirohito dalam film The Last Samurai, yang berdiri di atas suatu bukit, dan memandang kehidupan masyarakat tradisional Jepang di bawahnya, yang mengatakan akan kita bangun peradaban di atas tanah ini melalui rel kereta api.

Saat itu atas nama Barat, sang jenderal sedang mengimajinasikan negerinya akan tumbuh sama seperti saat Barat membangun kehidupannya. Atas nama, apa yang diistilahkan secara akademik sebagai civilization.

Atas logika semacam itulah Baltazar kemudian ditangkap dan dibawa pergi meninggalkan kampung halaman. Ia dipisahkan jauh sampai ke tempat para manusia tinggal berbondong-bondong. Tidak seperti padang es yang maha luas, hening, dan selalu menyediakan keterpukauan oleh sebab hari-hari baru yang terus berubah.

”Masa-masa itu, hidup begitu merdeka, dan mudah. Jangan kira ini hanya karena kami masih muda, sekalipun itu bisa jadi salah satu bagian cerita. Namun juga karena lanskap putih yang mahaluas itu sungguh indah” (hal.4).

Atas nama peradaban, si beruang Baltazar dengan sepihak mesti melayani kebutuhan umat manusia. Dalam hal ini, ia seolah-olah berada di lapangan bundar dalam tenda besar sepasukan badut sirkus, menjadi objek tontonan demi menyenangkan hati manusia.

Semua pandangan itu—dan juga stigma dalam kehidupan manusia—lahir dari bias kehidupan antroposentris yang menganggap manusia sebagai titik gravitasi kehidupan alam semesta. Di luar dari itu, seluruh eksistensi hanyalah realitas sekunder yang berfungsi sebagai faktor penunjang. Dari kehidupan mickrowujud hingga manusia, semua itu mengalami pelapisan secara hirarkis yang mendudukkan manusia di atas puncaknya.

Lalu bagaimana dengan kebebasan?

Baltazar berkisah: ”Untuk menjadi bebas tidaklah cukup dengan hanya bisa bergerak di atas dunia ini atau di antara orang-orangnya. Bebas bergerak hanya sarana untuk menemukan makna yang lebih dalam dari hal ihwal. Tapi itu sendiri belum berarti apa-apa” (hal.62).

Suatu refleksikah ini?

Yang jelas, dari balik jerujinya, Baltazar dapat berkesimpulan demikian ketika melihat muka-muka orang yang ia katakan berwajah kelabu, suatu warna yang ia kontraskan dengan warna putih, warna yang mewakili dunianya.

Di atas serbuk-serbuk es, Baltazar, bersama teman-temanya, dan juga anjing-anjig laut, bisa melakukan apa saja: berburu ikan, menyelam, atau berseluncur di atas bukit-bukit es padat. Di tempat ini, malam dan siang sama saja, kemana pun Baltazar mendongakkan kepalanya hanyalah horizon berwarna putih maha luas.

Dalam konteks ini, seperti Luis Sepulveda, pengarang Cile penulis Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, Claudio Orrego Vicuna juga menjadi musuh Augusto Pinochet, yang  menyublim suara protesnya kedalam renungan-renungan reflektif selama kediktatoran Pinochet berdiri. Satu tema yang mencolok dari karyanya ini sudah tentu kebebasan.

Baltazar, si beruang sekalipun mengatakan, untuk menjadi bebas tidak cukup hanya bisa bergerak di atas dunia dan antara orang-orang, itupun dikatakan belum ada apa-apanya.

Toh pada akhirnya, kebebasan bukan soal tempat, atau bahkan seperti kehidupan maha luas di atas hamparan salju seperti di kutub utara. Baltazar menemukannya, melalui wadah yang juga menjadi senjata satu-satunya dari orang seperti penulisnya: pikiran dalam benaknya.

”Aku takkan pernah benar-benar bebas, tapi aku telah menaklukkan dunia sekelilingku ke dalam benakku… Apa yang bisa diperbuat si pengurung terhadap pikiranku” (hal.62).

“Sebelum itu terjadi, tak ada gunanya mengurung kami di balik jeruji. Orang lebih bebas di balik jeruji ini ketimbang di luarnya, di kota-kota kelabu yang tak mengenal riangnya terang..., bahwa kuperoleh kebebasanku saat berada di balik jeruji penjara dan bahkan aku menganggap diriku lebih tinggi dibanding para pengurungku” (hal. 66).

Demikianlah, di titik ini novelet berjudul asli Las sorprendentes memorias de Baltazar: cuento, gamblang menyorot kebebasan ke dalam pemilahan yang kadang kabur antara makna ”di dalam kandang” dan ”di luar kandang”.

Tentu, bukan kabur di mata seekor Baltazar, tapi kehidupan manusia yang kiwari demikian sulit keluar dari jeruji rutinitasnya, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam. Terjebak di dalam gelembung ideologi, pasar bebas, dan juga agama.

Semua itu kian kesini makin  mirip kandang jeruji Baltazar. Semakin hari makin sesak saja.

16 April 2020

Surrogates dan Lubang Hitam Masyarakat Maya


Poster Surrogates (2009)
Sutradara: Jonathan Mostow
Pemain: Bruce Willis
Radha Mitchell
Rosamund Pike
Boris Kodjoe
Tanggal rilis: 24 September 2009


LIMBO. Setelah hampir sebulan kita dipukul mundur oleh Covid-19 sampai ke barak terakhir, nampaknya seluruh ruangan rumah jadi semakin intens membentuk pemahaman ulang mengenai apa arti rumah sebenarnya. 

Rumah kian menjadi lebih diskursif karena akhirnya saya bisa memahami rumah bukan sekadar tempat mukim belaka. Bagi kelas pekerja, inilah saatnya untuk mengetahui lebih jauh apa sebenarnya fungsi rumah alih-alih melihatnya sebagai unit penunjang bagi pergerakan laba oleh sistem global kapitalisme. 

Selama masa swakarantina, rasa-rasanya banyak kegiatan produktif bisa lebih bebas dilakukan tanpa khawatir disituasikan oleh logika kerja.

Di pagi hari saya bisa leluasa menghabiskan banyak waktu bersama Banu mengajaknya menikmati sinar matahari sebelum membawanya ke belakang untuk dimandikan. Saya bisa  lebih banyak waktu bermain balon, membiarkan ia membongkar tumpukan mainannya, dan tentu sesekali membebaskannya membongkar buku-buku di almari yang menjadi kesenangannya.

Menjelang siang, Banu akan mulai kelelahan dan di waktu inilah ia mulai merengek meminta menyusu kepada ibunya.

Bermain bersama Banu dari pagi hingga sore, secara tidak sadar akhirnya ikut membuatnya dapat mengoleksi sejumlah kata-kata baru, yang dengan gaya tertentu akan ia ucapkan dari mulut kecilnya. Semakin banyak bermain bersama Banu semakin baik baginya untuk merangsang ia dapat mengenal kosa kara baru, tentu dengan mengajaknya berbicara seolah-olah seperti ia memahaminya.

Di lain waktu saya bisa memanfatkan beberapa waktu untuk membaca buku-buku yang selama ini hanya ditinggalkan setelah dibaca pengantarnya saja. Atau, mengepel seisi rumah setelah sebelumnya disapu tanpa meninggalkan seruangan yang terlewati.

Melihat beberapa teman dosen yang memosting kegiatan belajar mengajar melalui wahana maya, entah jika ia sedang duduk sembari menikmati pisang goreng membuat saya bertanya-tanya apakah ruang kelas masih dapat dipertahankan sebagai medium transformasi pengetahuan?

Dalam proses itu mahasiswa juga bisa berada di mana saja, dan bisa dalam keadaan apa saja, tapi ia masih bisa disebut belajar atau hadir sebagai mahasiswa selama ia terhubung real time via aplikasi yang digunakan untuk itu.

Belajar dengan gaya seperti ini, pada kenyataannya akan mengubah sudut pandang mengenai apa manfaat gedung-gedung kelas kampus.

Apakah  pasca pandemi, suasana belajar masih akan ikut bertahan seperti model pertemuan tatap muka selama ini, atau ada kemungkinan berubah mengikuti alternatif kelas semacam suguhan wahana maya itu?

Lebih jauh lagi, apakah mungkin akan ada yang namanya kampus virtual? Suatu wahana belajar pascamodern yang digelar secara fleksibel dan dengan tenaga pengajar macam-macam tanpa mesti dilegitimasi oleh negara bahwa ia adalah abdi negara?

Mungkinkah semua itu dilakukan dari rumah-rumah dengan perantaraan institusi maya?

Mungkinkah birokrasi yang ribet itu dapat dialihwahanakan ke dalam algoritma tertentu sehingga seseorang disebut berkantor cukup terhubung dengan lini maya internet?  

Jika ada pasar maya, bisakah ada rumah sakit maya? Perpustakaan maya? Rumah peribadatan maya?

Bisakah kehidupan ini menjadi serba maya?

Di titik ini saya teringat film fiksi ilmiah dibintangi Bruce Willis berjudul Surrogates (2009) di mana setiap manusia beraktivitas diperantai semacam robot replika dirinya.

Dalam film ini, dunia kenyataan tidak benar-benar dialami, oleh sebab si pemakai robot cukup tidur-tiduran dalam suatu alat panel yang menghubungkannya dengan replika dirinya, sehingga jika ia ke salon yang dicukur sebenarnya adalah rambut serat nilon robot replika dirinya. 

Dengan menggunakan surrogates siapa pun bisa melakukan apa saja seperti Anda benar-benar melakukannya. Selain ke salon, Anda bisa berjalan-jalan ke mall, ke diskotik, ngerumpi di warung kopi, membaca buku di perpustakaan, bahkan beribadah cukup menggunakan robot replika yang Anda kemudikan jauh dari rumah Anda.

Semua aktivitas ini walaupun yang Anda alami bukanlah kenyataan itu sendiri, tapi tetap saja secara tujuan apa yang Anda inginkan dapat tercapai.

Diceritakan dalam film, bahkan jika Anda mau dan memiliki banyak uang, Anda bisa mengganti surrogates dengan identitas yang berbeda-beda sama seperti saat Anda membuat akun Facebook menggunakan nama samaran yang Anda inginkan.

Ini persis seperti saat ini, ketika banyak orang karena malu atau faktor identitas lainnya, banyak menggunakan identitas maya (palsu) selama ia hidup dalam dunia virtual.

Orang dengan modus eksistensi seperti ini, umumnya lebih menyukai kehidupan maya daripada kehidupan nyata sehari-hari. Mereka lebih memilih kehidupan simulakrum penuh fantasi, sensasi, dan imitasi, ketimbang menghadapi persoalan kongkret dunia nyata.

Cara hidup seperti ini nyaris menyerupai kehidupan ”para pemimpi” dalam film Inception (2010), yang mengkonsumsi ramuan kimia agar dapat tidur selamanya dan hidup di dalam alam bawah sadarnya berupa mimpi fantasi.

Di sana berdasarkan kehidupan versi “para pemimpi” tidak ada namanya penderitaan, kekecewaan, kesakitan, kemiskinan...

Di dunia mimpi, ”para pemimpi” bisa membangun kehidupannya sama mudahnya seperti ketika ia ingin mengimajinasikan sesuatu.

Satu-satunya yang mesti dihindari ”para pemimpi” dalam dunia mimpi adalah ”limbo” yakni dunia bawah sadar yang menyerupai blackhole yang tidak terkontrol dan tak terbatas sehingga mampu menjebak siapa saja selama-lama di dalamnya. 

Dunia modern, adalah dunia limbo. Setelah di penghujung abad 19 mereka menghancurkan mitos-mitos, nampaknya dunia modern saat ini belum sepenuhnya bebas darinya.

Sains, ideologi, internet, dan juga agama adalah semesta abstrak yang hari ini banyak mempengaruhi umat manusia dan berpeluang menjadi mitos baru.

Besar kemungkinan semua sistem abstrak itu bakal manjadi limbo jika manusia mati-matian melihatnya hanya sebagai kenyataan satu-satunya. Satu-satunya kebenaran tunggal.

Belakangan ini, siapa yang menyangkal jika semua tindakan pengrusakan berupa pencemaran alam, penghisapan tenaga manusia, perang bangsa-bangsa, bom bunuh diri, dan sejumlah masalah global lainnya lahir dari sejenis fantasi.

Dari semacam mimpi yang diberikan bobot ilmiah, dalil, dan pekik kerumunan massa.



15 April 2020

4 Jalan Spiritual Menghadapi Corona


Ladya Cheryl akan berperan sebagai Iteung dalam layar lebar 
Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas
 adaptasi novel karangan Eka Kurniawan berjudul sama. 
Ladya Cheryl terkenal lewat perannya di film Ada Apa Dengan Cinta sebagai Alya


BANYAK peristiwa tidak terduga bisa membuat orang mengalami epiphany dan membuatnya menjadi seorang sufi. Fariduddin Al Attar, penulis Musyawarah Burung-Burung, menjadi pesuluk lantaran disadarkan oleh perkataan seorang  pembeli parfum yang awalnya ia acuhkan.

”Sedemikiankah keterikatan engkau kepada dunia sehingga menafikan yang lainnya?” kata customer  yang membutuhkan pelayanan Al Attar, yang sebenarnya adalah seorang darwish. Saat itu Al Attar sedang sibuk sendiri di belakang.

Merasa tersinggung atas ucapan customernya, Al Attar terpancing, ”lalu apa yang sudah kau lakukan?”

”Aku berkelana ke berbagai tempat, dan berkhidmat di jalan Tuhan.”

”Lantas apa yang sudah kau peroleh dari pekerjaan itu?”

”Aku bisa tahu kapan, dan bagaimana nanti aku mati.”

Tidak lama setelah percakapan aneh itu, ketika Al Attar telah selesai dengan pekerjaannya, ia menemukan sang darwish tertidur, dan meninggal di depan toko Al Attar.

Kejadian ini seketika menghentak kesadaran Al Attar. Pasca kejadian ini ia kemudian menjadi seorang sufi.

Kisah lain datang dari Ibrahim bin Adham, sufi generasi awal dari Balkh. Ia awalnya seorang raja yang banting setir menjadi sufi berkat seekor burung gagak.

Diceritakan dalam Kitab Al-Mawa’izh Al-‘Usfuriyah oleh Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury, pada saat Ibrahim bin Adham beristirahat ketika berburu, seekor gagak mengambil makanannya dan terbang menjauh. Merasa terganggu, Ibrahim bin Adham mengejarnya ke tengah hutan.

Seketika ia terkejut. Ternyata sang gagak mencuri rotinya demi memberi makan seorang tahanan yang terikat di sebatang pohon pasca dirampok berhari-hari lamanya. Ibrahim tersentak. Seketika itu ia pun menjadi sufi.

Masih karena burung. Di Sulawesi Selatan, berkembang cerita di kalangan pattarekat, kisah pembantu pimpinan tarekat yang tidak diduga terpilih menggantikan sang guru pasca meninggal.

Cerita punya cerita, pembantu ini, yang sehari-hari hanya mengurus tetek bengek kebutuhan sang guru tarekat, mulai dari dapur sampai kandang kuda, ”mengalahkan” murid-murid terdekat sang guru yang ingin menggantikan mursyidnya.

Ia terpilih sesuai ramalan pemimpin tarekat sebelum mangkat. Menurut cerita, sang guru sudah berpesan, barang siapa kelak dihinggapi seekor burung saat jamuan doa di pundaknya setelah ia meninggal, itulah penggantinya.

Pada jamuan doa yang dimaksud, seluruh murid berkumpul berdoa sambil menunggu burung yang diceritakan. Lama mereka menunggu, dan si burung tidak datang juga. Hingga tiba-tiba muncul si pembantu dari belakang menjamu satu-satu murid gurunya. Tidak lama dari itu, datanglah burung ”ramalan” terbang di atas berkeliling dan menghinggapi si pembantu. Itulah  tandanya. Ia lah pengganti guru tarekat mereka.

Masih juga dengan burung. Kali ini kisah fiksi. Bagi pembaca Eka Kurniawan pasti mengenal Ajo Kawir, sosok dalam cerita Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas.  Ajo Kawir diceritakan mengalami impotensi akibat peristiwa mencengangkan. Ia mengintip dua anggota polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan sejak itu kemaluannya mati rasa. Cerita punya cerita, setelah berjuang mengembalikan kehidupan normal ”burungnya” dan gagal,  ia pun sadar jalan hidupnya mesti ditempuh menjadi pelaku tasawuf.

Setelah ikhlas menerima tititnya yang tak sudi ngaceng ia sadar, ini berarti ia telah berhasil menaklukkan godaan hawa nafsunya setelah ”menjinakkan” ”burungnya” agar tidak bisa lagi akan ”terbang” ke mana-mana.

Nah, dalam kisah ruhani semacam di atas, burung menjadi perlambangan signifikan mengenai gelagat hawa nafsu yang sulit diatur dan mesti dijinakkan. Sekarang, apakah anda punya burung?

Setelah membaca cerita singkat di atas, bagi yang punya burung, kamu besar kemungkinan bakal bisa menempuh jalan menjadi sufi. Minimal jika anda jomlo, contohilah jalan cerita Ajo Kawir itu. Berdialog berhari-hari dengan ”burung”.

Tapi, jika kamu tidak ingin menjadi Ajo Kawir, saat dikepung corona laknatullah seperti ini, adalah keadaan yang paling pas menjadi seorang sufi. Berikut empat tangganya.

#1. Berkhalwat selama masa physical distancing

Satu ciri kaum sufi adalah ”keterputusannya” dari urusan duniawi. Istilahnya, ia mati sebelum mati. Seperti terpisahnya jasad dari tubuh, para sufi menjalani kehidupan dengan sikap wara’, yakni, ya itu tadi, memutus seluruh godaan hawa nafsunya dari seluruh hal yang bisa mengalihkan perhatiannya hanya kepada Tuhan semata.

Nah, sekarang peluang kamu bisa mengamalkan satu kebiasan sufi di atas. Kamu bisa berkhalwat selama masa phsysical distancing. Mumpung kamu tidak bisa kemana-mana, jadikanlah rumahmu sebagai semacam gua hira. Talak tigalah seluruh urusan-urusan di luar rumahmu. Ingat jalan menuju sikap wara’ itu pertama adalah belajar berkhalwat. Jadi, selama ”mengurung” diri di rumah,  lakukanlah hal ke dua di bawah ini.

#2. Bersiap-siap puasa selama darurat sipil

Untuk membuat amalan wara’ kamu jadi lebih mantap, berpuasalah. Seluruh praktik spiritualitas tasawuf di dunia, baik yang ekstrem kanan maupun ekstrem kiri (emangnya ideologi apa!), tidak pernah menanggalkan puasa sebagai latihan spiritualnya.

Nah, untuk hal ini negara sedang memberikanmu peluang melalui rencana pembatasan sosial berskala luas, dan darurat sipil yang diumumkan Jokowi 31 Maret lalu.

Ini artinya, negara diam-diam sedang mendidik warganya untuk menjadi sufi, loh! Coba bayangkan jika semua warga berpuasa selama masa darurat sipil? Kan, negara tidak butuh banyak ongkos menyiapkan santunan sembako bagi golongan missqueen kayak kamu itu.

#3. Perbanyak ibadah, tidak terkecuali berdoa

Banyak riwayat jika Rasulullah sudah mengambil start berpuasa 2 bulan sebelum masuk bulan Ramadan (kalau mau tahu dalilnya, tanya ke ustaz-ustaz yutub aja, yah).

Nah, langkah kedua di atas sebenarnya merupakan persiapan sebelum masuk bulan Ramadan nanti. Mumpung sekarang bulan Sya’ban, selain mulai berpuasa, perbanyaklah ibadah, tak terkecuali berdoa, akhi (ukhti juga, nanti bias jender lagi)!

Kamu yang selama ini kerap melalaikan salat, segeralah perbaiki salatmu sebelum kamu disalati hanya karena corona. Kamu yang malas berdoa, mulailah perbanyak doa, minimal jika itu hanya sebatas mengirimkan surah Al Fatiha bagi siapa saja yang sedang berjuang melawan corona.

#4. Belajarlah dari Pemerintah

Selama masa pagebluk corona, pihak yang paling diharapkan bertindak cepat adalah Pemerintah. Walaupun saat dunia sedang bersiap-siap mengantisipasi virus ini  agar tidak melintasi perbatasan negaranya, di negeri sendiri masih adem ayem. Seolah-olah virus ini akan menguap dengan sendirinya ketika ingin menyebrang ke negeri gemah ripah loh jinawi ini. Walaupun akhirnya sudah terlambat, tetap saja pemerintah masih hitung-hitungan mengambil tindakan pencegahan.

Sekarang ada istilah PSBB atau pembatasan sosial besar-besaran yang terlambat dilakukan. Begitu juga program ikutannya berupa penerapan darurat sipil seolah-olah setiap di atas jengkal tanah kita sedang terjadi aksi separatis. Ingat di Indonesia, masa darurat sipil hanya pernah dilakukan di Aceh dan Papua saat disinyalir negara menjadi kawasan gerakan separatis. Jadi, bayangkan jika keadaan sekarang ibarat sedang menghadapi gerakan separatis, bukannya pendekatan medis yang bakal diutamakan, tapi militer, bung!

Nah, lambannya cara negara menangani pandemi ini, dan belakangan ada gercep dari anggota dewan ingin mengesahkan RUU kontroversial, ditambah isu pembebasan Papua koruptor, kita rakyat kecil bisa apa. Satu-satunya cara hanya bisa mengelus dada dan belajar ikhlas dan bersabar. Nah, ini jalan keempat ketika para sufi menapakai jalan spiritualitas. Ikhlas dan sabar sudah. Titik.

Nah, itu 4 jalan spiritualitas di tengah pandemi corona. Selamat berjuang.

====

Telang dimuat di Kalaliterasi.com



Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...