15 April 2020

4 Jalan Spiritual Menghadapi Corona


Ladya Cheryl akan berperan sebagai Iteung dalam layar lebar 
Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas
 adaptasi novel karangan Eka Kurniawan berjudul sama. 
Ladya Cheryl terkenal lewat perannya di film Ada Apa Dengan Cinta sebagai Alya


BANYAK peristiwa tidak terduga bisa membuat orang mengalami epiphany dan membuatnya menjadi seorang sufi. Fariduddin Al Attar, penulis Musyawarah Burung-Burung, menjadi pesuluk lantaran disadarkan oleh perkataan seorang  pembeli parfum yang awalnya ia acuhkan.

”Sedemikiankah keterikatan engkau kepada dunia sehingga menafikan yang lainnya?” kata customer  yang membutuhkan pelayanan Al Attar, yang sebenarnya adalah seorang darwish. Saat itu Al Attar sedang sibuk sendiri di belakang.

Merasa tersinggung atas ucapan customernya, Al Attar terpancing, ”lalu apa yang sudah kau lakukan?”

”Aku berkelana ke berbagai tempat, dan berkhidmat di jalan Tuhan.”

”Lantas apa yang sudah kau peroleh dari pekerjaan itu?”

”Aku bisa tahu kapan, dan bagaimana nanti aku mati.”

Tidak lama setelah percakapan aneh itu, ketika Al Attar telah selesai dengan pekerjaannya, ia menemukan sang darwish tertidur, dan meninggal di depan toko Al Attar.

Kejadian ini seketika menghentak kesadaran Al Attar. Pasca kejadian ini ia kemudian menjadi seorang sufi.

Kisah lain datang dari Ibrahim bin Adham, sufi generasi awal dari Balkh. Ia awalnya seorang raja yang banting setir menjadi sufi berkat seekor burung gagak.

Diceritakan dalam Kitab Al-Mawa’izh Al-‘Usfuriyah oleh Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury, pada saat Ibrahim bin Adham beristirahat ketika berburu, seekor gagak mengambil makanannya dan terbang menjauh. Merasa terganggu, Ibrahim bin Adham mengejarnya ke tengah hutan.

Seketika ia terkejut. Ternyata sang gagak mencuri rotinya demi memberi makan seorang tahanan yang terikat di sebatang pohon pasca dirampok berhari-hari lamanya. Ibrahim tersentak. Seketika itu ia pun menjadi sufi.

Masih karena burung. Di Sulawesi Selatan, berkembang cerita di kalangan pattarekat, kisah pembantu pimpinan tarekat yang tidak diduga terpilih menggantikan sang guru pasca meninggal.

Cerita punya cerita, pembantu ini, yang sehari-hari hanya mengurus tetek bengek kebutuhan sang guru tarekat, mulai dari dapur sampai kandang kuda, ”mengalahkan” murid-murid terdekat sang guru yang ingin menggantikan mursyidnya.

Ia terpilih sesuai ramalan pemimpin tarekat sebelum mangkat. Menurut cerita, sang guru sudah berpesan, barang siapa kelak dihinggapi seekor burung saat jamuan doa di pundaknya setelah ia meninggal, itulah penggantinya.

Pada jamuan doa yang dimaksud, seluruh murid berkumpul berdoa sambil menunggu burung yang diceritakan. Lama mereka menunggu, dan si burung tidak datang juga. Hingga tiba-tiba muncul si pembantu dari belakang menjamu satu-satu murid gurunya. Tidak lama dari itu, datanglah burung ”ramalan” terbang di atas berkeliling dan menghinggapi si pembantu. Itulah  tandanya. Ia lah pengganti guru tarekat mereka.

Masih juga dengan burung. Kali ini kisah fiksi. Bagi pembaca Eka Kurniawan pasti mengenal Ajo Kawir, sosok dalam cerita Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas.  Ajo Kawir diceritakan mengalami impotensi akibat peristiwa mencengangkan. Ia mengintip dua anggota polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan sejak itu kemaluannya mati rasa. Cerita punya cerita, setelah berjuang mengembalikan kehidupan normal ”burungnya” dan gagal,  ia pun sadar jalan hidupnya mesti ditempuh menjadi pelaku tasawuf.

Setelah ikhlas menerima tititnya yang tak sudi ngaceng ia sadar, ini berarti ia telah berhasil menaklukkan godaan hawa nafsunya setelah ”menjinakkan” ”burungnya” agar tidak bisa lagi akan ”terbang” ke mana-mana.

Nah, dalam kisah ruhani semacam di atas, burung menjadi perlambangan signifikan mengenai gelagat hawa nafsu yang sulit diatur dan mesti dijinakkan. Sekarang, apakah anda punya burung?

Setelah membaca cerita singkat di atas, bagi yang punya burung, kamu besar kemungkinan bakal bisa menempuh jalan menjadi sufi. Minimal jika anda jomlo, contohilah jalan cerita Ajo Kawir itu. Berdialog berhari-hari dengan ”burung”.

Tapi, jika kamu tidak ingin menjadi Ajo Kawir, saat dikepung corona laknatullah seperti ini, adalah keadaan yang paling pas menjadi seorang sufi. Berikut empat tangganya.

#1. Berkhalwat selama masa physical distancing

Satu ciri kaum sufi adalah ”keterputusannya” dari urusan duniawi. Istilahnya, ia mati sebelum mati. Seperti terpisahnya jasad dari tubuh, para sufi menjalani kehidupan dengan sikap wara’, yakni, ya itu tadi, memutus seluruh godaan hawa nafsunya dari seluruh hal yang bisa mengalihkan perhatiannya hanya kepada Tuhan semata.

Nah, sekarang peluang kamu bisa mengamalkan satu kebiasan sufi di atas. Kamu bisa berkhalwat selama masa phsysical distancing. Mumpung kamu tidak bisa kemana-mana, jadikanlah rumahmu sebagai semacam gua hira. Talak tigalah seluruh urusan-urusan di luar rumahmu. Ingat jalan menuju sikap wara’ itu pertama adalah belajar berkhalwat. Jadi, selama ”mengurung” diri di rumah,  lakukanlah hal ke dua di bawah ini.

#2. Bersiap-siap puasa selama darurat sipil

Untuk membuat amalan wara’ kamu jadi lebih mantap, berpuasalah. Seluruh praktik spiritualitas tasawuf di dunia, baik yang ekstrem kanan maupun ekstrem kiri (emangnya ideologi apa!), tidak pernah menanggalkan puasa sebagai latihan spiritualnya.

Nah, untuk hal ini negara sedang memberikanmu peluang melalui rencana pembatasan sosial berskala luas, dan darurat sipil yang diumumkan Jokowi 31 Maret lalu.

Ini artinya, negara diam-diam sedang mendidik warganya untuk menjadi sufi, loh! Coba bayangkan jika semua warga berpuasa selama masa darurat sipil? Kan, negara tidak butuh banyak ongkos menyiapkan santunan sembako bagi golongan missqueen kayak kamu itu.

#3. Perbanyak ibadah, tidak terkecuali berdoa

Banyak riwayat jika Rasulullah sudah mengambil start berpuasa 2 bulan sebelum masuk bulan Ramadan (kalau mau tahu dalilnya, tanya ke ustaz-ustaz yutub aja, yah).

Nah, langkah kedua di atas sebenarnya merupakan persiapan sebelum masuk bulan Ramadan nanti. Mumpung sekarang bulan Sya’ban, selain mulai berpuasa, perbanyaklah ibadah, tak terkecuali berdoa, akhi (ukhti juga, nanti bias jender lagi)!

Kamu yang selama ini kerap melalaikan salat, segeralah perbaiki salatmu sebelum kamu disalati hanya karena corona. Kamu yang malas berdoa, mulailah perbanyak doa, minimal jika itu hanya sebatas mengirimkan surah Al Fatiha bagi siapa saja yang sedang berjuang melawan corona.

#4. Belajarlah dari Pemerintah

Selama masa pagebluk corona, pihak yang paling diharapkan bertindak cepat adalah Pemerintah. Walaupun saat dunia sedang bersiap-siap mengantisipasi virus ini  agar tidak melintasi perbatasan negaranya, di negeri sendiri masih adem ayem. Seolah-olah virus ini akan menguap dengan sendirinya ketika ingin menyebrang ke negeri gemah ripah loh jinawi ini. Walaupun akhirnya sudah terlambat, tetap saja pemerintah masih hitung-hitungan mengambil tindakan pencegahan.

Sekarang ada istilah PSBB atau pembatasan sosial besar-besaran yang terlambat dilakukan. Begitu juga program ikutannya berupa penerapan darurat sipil seolah-olah setiap di atas jengkal tanah kita sedang terjadi aksi separatis. Ingat di Indonesia, masa darurat sipil hanya pernah dilakukan di Aceh dan Papua saat disinyalir negara menjadi kawasan gerakan separatis. Jadi, bayangkan jika keadaan sekarang ibarat sedang menghadapi gerakan separatis, bukannya pendekatan medis yang bakal diutamakan, tapi militer, bung!

Nah, lambannya cara negara menangani pandemi ini, dan belakangan ada gercep dari anggota dewan ingin mengesahkan RUU kontroversial, ditambah isu pembebasan Papua koruptor, kita rakyat kecil bisa apa. Satu-satunya cara hanya bisa mengelus dada dan belajar ikhlas dan bersabar. Nah, ini jalan keempat ketika para sufi menapakai jalan spiritualitas. Ikhlas dan sabar sudah. Titik.

Nah, itu 4 jalan spiritualitas di tengah pandemi corona. Selamat berjuang.

====

Telang dimuat di Kalaliterasi.com



13 April 2020

Revolusi Senyap Covid-19: Ia Ada dan Berlipat Ganda


Ilustrasi grafis Corona.
Corona berasal dari
bahasa Latin yang berarti mahkota


SAMPAI saat ini, hanya dua ideologi pemikiran yang berhasil menciptakan revolusi sosial politik di dunia: Komunisme, dan Syiah 12 Imam. Sekarang, dunia sedang mengalami devaluasi besar-besaran.

Tatanan ekonomi dunia terancam resesi, percaturan politik ambruk, interaksi masyarakat macet, wahana kebudayaan dan pendidikan seret. Suatu disrupsi sedang mengancam kemapanan peradaban umat manusia.

Pelan namun pasti, disrupsi berskala global ini digerakkan paksa suatu revolusi sunyi bernama… SARS-COV-2, yang menyebabkan pandemi Covid-19.

Dari namanya, Covid-19 bukan istilah yang lahir dari abad 19, seperti komunisme, apalagi Syiah yang sudah ada jauh sebelumnya. Ia revolusi ala abad 21, lahir di tengah-tengah menguatnya konservatisme kanan, dan terberainya ideologi kiri tandingannya.

Itu sebab tidak seperti pemikiran yang berasal dari abad 19, Covid-19 lebih up to date dan lebih milenial dari tonggak-tonggak pemikiran revolusioner lawas.

Jika ada tesis matinya ideologi, hal ini tidak berlaku bagi Covid-19. Covid-19 melampaui ideologi. Ia dunia pasca ideologi. Tidak berbasis kelas apalagi gender. Gerakan Covid-19 menerobos sekat kebangsaan, negara, kelas ekonomi, ras, dan agama.

Jika ada ungkapan Samuel Huntington berupa benturan antara peradaban, Covid-19 malah keluar dari basis konteks semacam itu. Revolusi ala Covid-19 malah membuat peradaban bangsa-bangsa saling mengenyampingkan kepentingan negara, regional, atau kongsi politiknya. Covid-19 malah membuat Timur dan Barat jadi keok, dan bersatu membuatnya jadi musuh bersama.

Covid-19 tidak pandang bulu menerjang korbannya. Barang siapa pasang badan seketika ia dicap kontrarevolusioner dan, tunggu saja! Tidak lebih 14 hari operasi serbu senyapnya bikin korban berjatuhan.

Covid-19 banyak diberitakan muncul kali pertama di negeri Tiongkok. Sebelum RRC menguasai perekenomian dunia, Covid-19 lebih awal menjalankan operasinya di kota Wuhan pusat industrialisasi negeri Tirai Bambu itu. Sebelum ramalan-ramalan memprediksi Cina bakal memimpin dunia, semenjak itu Covid-19 menyadari di mana ia mesti melakukan serbuan vitalnya.

Tidak dengan senjata, tidak ada pamflet peringatan, barisan massa, apalagi pekik suara toa. Bukan di alun-alun kota, jalan raya, apalagi di dunia virtual. Selama 24 jam revolusi senyap Covid-19 menjalar bak akar beringin. Di Cina memakan waktu tidak lebih tiga bulan membuat kehancuran vital. Ribuan korban dipukul masuk rumah rawat inap. Cina kolaps.

Setelah berhasil melumpuhkan Cina, Covid-19 mengekspor revolusinya ke negeri-negeri tetangga. Seolah-olah belajar dari revolusi Kuba, ekspor revolusi Covid-19 berhasil menembus palang pintu negara-negara lain.

Ke wilayah barat ia menyeberang lautan ke Korea Selatan sebelum masuk ke negeri matahari terbit, Jepang. Tanpa publikasi dan dokumen tertulis, kesenyapan Covid-19 menarik garis panjangnya sampai ke Italia. Okupasi tak terduga ini bahkan membuat penyelenggaraan sepak bola di negeri Pizza berhenti.

Ke sebelah timur, pergerakan Covid-19 memiliki banyak alternatif. Sebelum tiba di negeri para Mullah, Iran, ia bisa menduduki negara-negara pecahan Uni Soviet yang belum berumur 50 tahun. Ada Kirgistan, Turkmeinistan, naik ke utara menuju Uzbezkistan, dan terus ke Kazakhstan sebelum tiba di induk negeri Komunisme pernah berjaya.

Iran adalah palang pintu bagi revolusi Covid-19 menuju negeri-negeri sabana luas. Dari negeri pengikut Syiah terbesar ini, dan seolah-olah ingin mengkooptasi revolusi Islam Iran 1979, tidak memakan waktu lama bagi ekspor impor revolusi Covid-19 menancapkan pengaruhnya di negeri Arab.

Covid-19 spring, walaupun tidak menimbulkan korban banyak, tapi lumayan efektif menggelindingkan bolanya di negeri Arab. Terbukti, misalnya, Arab Saudi, mesti mengisolasi dirinya dari interaksi global dengan menutup Mekkah dari penyelenggaraan haji dan umrah.

Setelah menyasar bangsa-bangsa Asia, dan menjadikan Italia sebagai basis terbesar revolusinya, di Eropa, Covid-19 bermunculan bak cendawan di musim hujan. Kesenyapannya berkelit dari intel-intel dan rezim medis internasional, berhasil tiba tanpa jejak di Austria, Azerbaijan, Belarus, Belgia, Kroasia, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Georgia, Jerman, Yunani, Lithuania, Luxemburg, Belanda, Makedonia Utara, Norwegia, Rumania, Rusia, San Marino, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Irlandia.

Bagaimana dengan benua Amerika?  Nama negara Amerika Serikat muncul sebagai sarang pandemi di luar Eropa dan Asia. Di negeri Paman Sam ini, revolusi Covid-19 mendulang kemenangan gemilang. Grafik korban di negeri kapitalis ini terus meningkat mengungguli Cina.

Sampai sekarang, Covid-19 masih terus dianalisis pergerakannya. Epidemolog masih berkutat mencari tahu cara membekuk pergerakannya. Farmakolog dibuat siaga 24 mencari rumusan anti vaksinnya. Para dokter bertaruh nyawa berjibaku menyelamatkan pasien. Ekonom, budayawan, agamawan, dan politisi, tidak satu pun di antaranya dibuat santai demi merumuskan suatu pola kebiasaan masyarakat demi mengurung pergerakan dinamis virus ini.

Berkat daya dobraknya yang seketika dan sistemik, membuat setiap keputusan strategis mesti diputuskan holistik. Salah ambil keputusan di satu bidang bakal berdampak di bidang lain.

Covid-19 saking revolusionernya, tidak saja menggebrak infrakstruktur vital berupa ekonomi, dan politik negara bangsa, tapi melangkah jauh meneror tokoh-tokoh pentingnya. Pangeran Alberti II dari Monako menjadi pemimpin kerajaan pertama yang positif Covid-19. Di Amerika Serikat, ada Rand Paul menjadi senator pertama di AS yang terkena virus corona.

Dua wakil menteri kesehatan Iran dan Inggris, Iraj Harir-chi dan Nadine Dorries, dan wakil presiden Iran Masoumeh Ebtekar, juga menjadi korban serangan senyap Covid-19.

Tercatat pula perdana menteri Jepang Shinzo Abe positif corona setelah berkeringat batuk-batuk, dan terlihat menyeka cairan liur yang keluar dari mulutnya saat pidato di Gedung Parlemen Jepang pada Selasa, 3 Maret 2020 lalu.  

Masih ada? Keterangan resmi yang diberikan Istana Buckingham mengumumkan pada 25 Maret 2020, Putra Ratu Elizabeth II, Pangeran Charles, telah dikonfirmasi positif corona Covid-19.

Di luar dari arena pemerintahan, tercatat nama-nama beken seperti aktor Hollywood Tom Hanks, pemain belakang Juventus Daniele Rugani, ujung tombak Fiorentina Patrick Cutrone, dan pelatih Arsenal Mikel Arteta, beberapa nama yang tercatat dari sekian banyak olahragawan terjangkit Covid-19.

Di Indonesia, Covid-19 juga banyak menyerang benteng pertahanan di kubu tim medis. Seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (23/3) pekan lalu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia merilis 6 dokter yang disebutnya menjadi korban virus corona. Masing-masing tercatat: dr Hadio Ali SpS, IDI Cabang Jakarta Selatan, dr Djoko Judodjoko, SpB, IDI Cabaing Kota Bogor, dr Laurentius P, SpKJ, IDI Cabang Jakarta Timur, dr Adi Mirsaputra SpTHT, IDI Cabang Kota Bekasi, dr Ucok Martin SpP, IDI Cabang Medan, dr Toni Daniel Silitonga, IDI Cabang Bandung Barat.

Revolusi ala Covid-19 mengerikan. Ia berpotensi menumbangkan rezim pasar ekstraktif sekaligus mengancam tatanan tandingannya berupa menyerang negara-negara nonkapitalistik. Dia mengancam peradaban berhenti bergerak dan menyudutkannya sampai ke skala terkecil, yakni rumah-rumah. Menghentikan roda ekonomi, transformasi pengetahuan, dan mengindividualisasi peribadatan keagamaan.   

Revolusi Covid-19, hingga detik ini masih menghantui langit-langit negara bangsa. Ia ada dan berlipat ganda!

====

Telah tayang di Dialektikareview.org




12 April 2020

Kekuatan dan Ketakutan



Lukisan The Scream karya Edward Munch. 
Sumber: wikipedia.org


TAHUN 1883 perut gunung Krakatau meledakkan lahar panas ke udara. Dentumannya terdengar sampai di Colombo dan Sri Lanka, Afrika.

Seketika langit ditutupi debu panas berwarna merah menyala. Binatang-binatang berlarian tak karuan, apalagi manusia di bawahnya, tunggang langgang mencari perlindungan kesana kemari.

Efek 27 kali ledakan bom atom itu berefek tsunami yang memusnahkan 165 desa, dan para nelayan di Afrika mengenang peristiwa itu dengan mayat-mayat yang mengapung di lautan berhari-hari setelahnya.

Tragedi mencengangkan itu tidak saja meluluhlantakkan Nusantara, tapi juga membuat masyarakat dunia terutama benua Eropa ketakutan.

Langit dan matahari sekonyong-konyong berubah menjadi berwarna merah gelap. Saking dahsyatnya ledakan itu, efek debu ledakkan Krakatau bertahan di atas langit Eropa sampai berbulan-bulan lamanya.

Fenomena alam ini mengilhami pelukis Norwegia Edvard Munch melahirkan lukisannya yang legendaris: The Scream (jeritan), lukisan dengan tokoh seseorang yang tercengang dengan wajah menjerit ketakutan sementara di belakangnya menggelantung cakrawala berwarna merah darah.

"Saya berjalan menyusuri jalan setapak bersama dua sahabat. Matahari bersinar, tiba-tiba langit berubah menjadi merah darah. Saya berhenti, kelelahan dan bersandar pada sebuah pagar. Di atas fjord dan kota yang biru kehitaman tampak darah dan lidah-lidah api,” ungkap Munch, dikutip dari wikipedia, menerangkan keadaan yang mengilhami The Scream dalam buku hariannya.

The Scream jika dilihat sepintas nampak ganjil berkat goresan kuas yang kelihatan sembrono memainkan warna-warna gelap secara horizontal. Si manusia dilukiskan berkepala botak dengan muka seperti melongo. Walaupun demikian, lukisan ini menjadi tonggak pendekatan ekpresionis dalam seni lukis.

Sebagian ahli menafsirkan jeritan tokoh lukisan ini bercerita tentang kecemasan manusia modern dalam menghadapi angst (kecemasan eksistensial), yang disimbolkan Munch ke dalam langit Norwegia berwarna merah.

Jadi muka menjerit yang seolah-olah kehilangan kata-kata itu merupakan simbol universal bagaimana manusia senantiasa dirundung perasaan ketakutan terhadap situasi mahadahsyat yang mencemaskan. Suatu keadaan di luar kendali perhitungan, dan di luar akal sehat manusia.

Dalam pendakuan filsafat Martin Heidegger, ketakutan (furcht) dan kecemasan (angst) merupakan dua suasana hati yang demikian berbeda. Perbedaan ini secara ontologis ditentukan dari keberadaan objeknya.

Ketakutan, walaupun dikatakan Heidegger dapat mengguncang kesadaran dan pengalaman hidup seseorang, masih kurang derajatnya dari kecemasan.

Ketakutan sering terjadi karena objeknya ada, terlihat, dan jelas. Ketakutan terhadap ledakan gunung, misalnya, sekalipun itu besar pengaruhnya, sangat berbeda dengan rasa cemas atas ketidakpastian masa depan yang tidak dapat diamati, diprediksi, dan serba mungkin.

Heidegger dalam Mistik Kesehariannya Budi F. Hardiman, mengatakan kecemasan melampaui objek-objek keseharian manusia yang ditengarai motif-motif praktis.

Kecemasan bukan persoalan pertautan manusia dengan masalah sehari-hari, semisal defisit keuangan, kekuasaan otoritarian, atau kehilangan pekerjaan, melainkan ketika manusia menemukan dan menghadapi dirinya sendiri sebagai sumur anonimitas tanpa dasar.

Itu artinya, kecemasan berarti perasaan yang lahir dari ”kenyataan” asing, dalam, dan jauh dari pusat eksistensi manusia, yang sulit dikalkulasikan melalui hitung-hitungan matematis sehari-hari.

Abad 21 disebut Harari sebagai masa transisi besar-besaran dikarenakan keadaan-keadaan semisal perubahan iklim, pemanasan global, perang antar bangsa, temuan genetika, masyarakat cyber, senjata pemusnah massal, hingga penyakit, yang merupakan tantangan peradaban saat ini, yang mesti dihadapi umat manusia.

Umat manusia setiap waktu diperhadapkan kepada keadaan ketika insting bertahan hidupnya diuji oleh alam. Bukan saja alam, temuan-temuan di bidang sains, teknologi informasi, dan kebudayaan, yang telah digapai umat manusia juga menjadi batu ujian bagi kemampuan beradaptasinya.

Beberapa bulan terakhir, dunia global dihentakkan oleh pandemi corona. Penyebarannya serba cepat tidak mengenal bangsa, ras, agama, dan derajat. Di satu sisi, corona masih misteri. Watak, ciri-ciri, dan vaksinnya masih terus dicari tahu.

Kemapanan tatanan ekonomi, keputusan-keputusan politik, interaksi budaya, dan praktik agama seketika mengalami guncangan. Sekali lagi umat manusia diperhadapkan kepada ketidakpastian.

Ini membuka lebar mata dunia, revolusi sunyi corona saat ini sedang mengevaluasi capaian-capaian peradaban umat manusia. Itu artinya, kemajuan peradaban manusia sedang dipertaruhkan seperti zaman sebelumnya.

Dalam tulisan terbaru Yuval Noah Harari, yang diterjemahkan Siti Raisyah berjudul Dunia Setelah Virus Corona, tersirat mengenai perlawanan utama manusia saat ini, selain menebak bagaimanakah kehidupan bakal berubah setelah diporakkan corona, adalah bagaimana mengendalikan kecemasan itu sendiri.

Umat manusia saat ini cemas tentang tatanan dunia seperti apa yang bakal mereka hadapi di masa akan datang. Corona sekalipun merupakan masalah epidemi, berefek domino kepada keputusan-keputusan politik, ekonomi, dan juga agama.

Ini berarti tatatanan kehidupan yang selama ini dijalani bakal berubah seratus delapan puluh derajat di masa akan datang. Keputusan-keputusan hari ini bakal menentukan kehidupan macam apa setelah pandemi ini mereda.

Sebelum sampai ke tatanan baru itu, hari ini saja kita sudah disuguhkan perubahan-perubahan yang menjadi transisi besar-besaran ke suatu kemungkinan masa depan. ”Social distancing”, ”lockdown”, ”herd community”, ”sekolah online”, ”nilai tukar uang”, merupakan beberapa istilah-istilah yang mereset ulang model kehidupan saat ini.

Berkat semua itu, interaksi sosial kita belakang menjadi ganjil. Belum pernah ada dalam sejarah umat manusia, hidup terpisah sama artinya bersolidaritas untuk sesama. Kita belakangan dituntut berjarak untuk sesuatu yang bernama masyarakat.

Ini semacam kehidupan individualisme yang janggal, demi dapat mempertahankan kehidupan komunalisme yang menjadi ciri masyarakat kita.

Dalam situasi itu, ketika komunalisme kita dipecah untuk hidup sendiri, di saat bersamaan kecemasan semakin hari kian menumpuk. Kita didesak oleh suatu keadaan yang membatasi ”komunalisme” sebagai modal sosial ketika menghadapi bencana.

Tidak ada lagi pertemuan-pertemuan ala komunitas yang menjadi kekuatan bersama saat anggota-anggotanya mengalami masalah. Kapan semua ini berakhir? Sudah sejauh mana pekerjaan ilmuwan menemukan vaksinnya? Sampai kapan masjid ditutup? Bagaimana kesiapan tenaga medis? Infrastruktur rumah sakit? Sampai kapan korban berjatuhan? Pertanyaan ini hanya diiringi kecemasan tanpa memberikan peluang secercah harapan.  

Dampak revolusi senyap corona sampai saat ini belum akan diketahui. Yang kita tahu sekarang hanyalah jumlah kekalahan demi kekalahan, korban demi korban, yang semakin hari kian bertambah. Sekarang ini ia sedang bekerja dan entah sampai kapan akan berhenti. Di keadaan saat ini setiap informasi demikian berharga, walaupun kita diombangambingkan di antara ”was-was”, ”takut”, ”khawatir”, ”ragu”, ”marah”, ”jengkel”…

Kita ketakutan. Kita cemas. Tapi kita tahu, kita memiliki kekuatan, meski itu belum terlambat.

10 April 2020

As Laksana dan Bidadari yang Mengembara

Bidadari yang Mengembara



--2018-2020

DI SAAT tertentu seperti akhir pekan, ketika pikiran membutuhkan sesuatu yang menyegarkan lebih dari secangkir kopi, secara otomatis pikiran saya tertuju kepada sosok penulis yang telah banyak berkiprah dalam semesta tulis menulis tanah air: As Laksana. 

Belakangan saya baru menyadari, entah dimulai dari kapan, entah dalam tempo seminggu, tiga minggu, atau berbulan lamanya, saya terbiasa tergerak mencari tulisan-tulisannya. Selain AS Laksana, Eka Kurniawan—belakangan Gusmuh— adalah sosok lain yang hampir sama dengannya.

AS Laksana adalah sosok yang secara tidak langsung menginspirasi saya dalam menulis. Banyak tulisan-tulisannya menjadi tempat saya menimba ilmu bagaimana teknik membuka suatu tulisan agar tidak kelihatan klise, membuat kalimat tanpa bertele-tele, atau menyampaikan gagasan dengan cara yang ”ringan”.

Pernah suatu masa sosok seperti Goenawan Muhammad membuat saya tergila-gila melalui Catatan Pinggirnya, dan Ali Syariati dengan pikiran-pikirannya yang antimainstream membuat pemahaman beragama saya menjadi kritis. Dua nama ini suka tidak suka dalam waktu tertentu menjadi kiblat saya menulis.

Nama yang pertama membuat saya kepincut dengan gaya menulis yang identik dengan pendekatan puisi, walaupun akhirnya saya menyadari cara itu hanya membuat tulisan saya jadi acak kadut seperti orang yang sedang mengigau. Saya menyadari gaya menulis itu tidak bisa saya jadikan contoh karena saya tidak memiliki kepekaan puitik seperti GM. Apalagi, suatu waktu saya semakin yakin gaya menulis GM akan membuat saya semakin jauh dari gaya menulis saya yang otentik.  

Ali Syariati sosok kedua yang lumayan besar pengaruhnya bagi perkembagan pemahaman keagamaan saya. Tulisan-tulisannya menginspirasi saya bahwa agama bukan sekadar pengalaman hidup yang mesti dinikmati sendiri. Agama punya semangat dan ruh egaliter dan memiliki inisiatif perubahan memberbaiki keadaan masyarakat.

Selama masih menjadi mahasiswa, dan kerap mengikuti banyak forum diskusi, tulisan-tulisan Ali Syariati bukan saja menginspirasi melainkan ikut membentuk pandangan dunia saya. Dari sini, jangankan pandangan dunia, ideologi dan gaya menulisnya pun sering saya jadikan contoh.

Seiring memiliki kesenangan menulis, seiring itu pula saya bertemu nama AS Laksana.

Saya agak lupa kapan sebetulnya saya mengenal AS Laksana. Satu hal yang pasti perkenalan saya dengannya ditandai dari salah satu bukunya bertahun lalu. Saat itu di sebuah kafe yang menjajakan juga buku-buku saya tertarik dari sebuah judul buku berwarna merah menyerupai pink: Bidadari Yang Mengembara. Hurufnya dibikin kapital dengan ukuran besar yang hampir memenuhi luas sampulnya. Di atasnya tertera nama penulisnya: A.S LAKSANA.

Buku itu adalah 12 kumpulan cerpennya dengan “Bidadari Yang Mengembara” sebagai cerpen urutan nomor dua dalam daftar isinya.

Bidadari Yang Mengembara bercerita tentang seorang tukang urut yang menemukan cinta matinya melalui persetubuhan tanpa sengaja dengan Alit yang kehilangan kesadaran dan mengigau. Tanpa ia sadari dalam igauannya ia bercumbu dengan seorang perempuan yang ia kira adalah kekasihnya. Bagi si wanita, peristiwa ini begitu menyenangkan karena menandai bahwa mereka telah menjadi sepasang kekasih.

Tidak perlu saya ceritakan di sini buku terbitan Gagas media itu. Sejak saat itu jika ingat saya bakal mencari tulisan-tulisannya di jagadmaya. Dari pencarian saya ini, AS Laksana selain cerpenis, juga seorang penulis esai yang lantip, yang menjalani profesi wartawan di detik (yang pernah diberedel Orba) sebagai pekerjaan utamanya.

Satu hal yang samar-samar saya iyakan dalam hati, suatu karya tulis yang digarap dengan sepenuh hati pasti akan menginspirasi banyak orang. AS Laksana bukan saja seperti yang saya katakan demikian. Pengalamannya sudah bercerita banyak hal di mana dan seperti apa posisinya dalam jagad kepenulisan Tanah Air.

Oh ya. Tulisan AS Laksana dulu sering nangkring di kolom khusus Jawa Pos bertajuk Kolom Putih, Kumparan, dan satunya lagi di Beritagar.id—sekarang sudah almarhum—dan ini yang unik, ia memiliki banyak blog pribadi yang semuanya bisa kita akses sampai hari ini. Jika Anda butuh sekadar bacaan menyegarkan dan lebih dari itu, pencerahan—entah dengan beragam maknanya—silakan Anda kunjungi saja nama-nama situs yang saya sebutkan di atas.

06 April 2020

Setelah Mengepung Kota, Corona Turba ke Desa-Desa



Corona berasal dari bahasa Latin 
yang berarti "mahkota". 
Duri berbentuk seperti 
mahkota di permukaan
virus itu adalah alasan kenapa
 ia diberi nama tersebut.




SAYA membuat tulisan ini di dalam wc saat BAB setelah melihat postingan FB Puthut EA tentang foto-foto lokdon ala kampung di Yogyakarta. Bukan soal apanya. Corona membuat kita harus lebih aptudet mengikuti informasi setiap waktu, di setiap kondisi dan keadaan.

Bagi orang awam seperti saya ini  informasi adalah kunci, sama seperti para ilmuwan dunia dikejar waktu mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang seluk beluk, karakter, dan esensi corona demi menciptakan vaksinnya.

Informasi adalah kunci.

Saat ini penyebaran informasi belum merata. Jauh dari pusat kota, banyak masyarakat desa masih mengira keadaan aman-aman saja.

Di desa saya tinggal, banyak warga mendengar Covid-19 melalui televisi, dan sekali pernah diumumkan lewat toa masjid mengenai ajakan sosial distansing. Tapi tetap saja mereka mengira penyakit ini sama seperti diare sehingga untuk sembuh, cukup diberikan obat generik yang gampang ditemukan di warung-warung terdekat.

Sosial distansing hanya istilah orang kota yang membingungkan, dan karena diare mudah mereda, banyak orang masih suka pergi kesana kemari. Saling mengunjungi, dan berkumpul tipikal masyarakat komunal.

Saat ini, masih gampang menemukan anak muda di desa berkumpul sore-sore saling menggeber motor seolah-olah jalan desa adalah arena balap. Mudah menemukan ibu-ibu berkumpul bertukar cerita di bale-bale tetangga.

Juga sama gampangnya melihat bapak-bapaknya bermain kartu sambil ngopi bertukar gelas.

Di ga’de-ga’de, aktivitas jual beli sama seperti hari-hari biasa, sama persisnya seperti penjual sayur keliling yang mondar-mandir dari pasar-pasar ke rumah-rumah warga.

Di kantor desa, perangkat desa tenang-tenang saja, seolah-olah corona bukan ancaman yang mustahil melewati pematang sawah dan menyisir satu-satu penduduk desa.

Bagaimana dengan masjid di desa-desa? Jangan dikira pengurus masjid di desa mau begitu saja mengindahkan imbauan pemerintah. Sampai sekarang masjid masih membuka lebar pintunya untuk salat berjamaah.

“Mau ikut perintah Tuhan atau perintah pemerintah!” Kata seorang lelaki yang marah-marah saat salat Jumat ditiadakan di masjid al Markas, Makassar.

Itu di kota Makassar. Coba bayangkan bagaimana keadaannya di desa-desa, yang keadaan masyarakatnya belum tahu banyak tentang bahaya corona.

Informasi, sekali lagi adalah kunci.

Corona sampai saat ini barangkali bukan ancaman bagi masyarakat desa, tapi yakin saja, virus ini bakal turba ke desa-desa. Setelah kota-kota besar dikepung corona, tidak akan mengambil banyak waktu lagi bagi corona melebarkan jangkauannya sampai di rumah-rumah panggung tetangga Anda.

Itu dapat terjadi jika masyarakat desa tidak mengantisapasi sejak awal mengenai penyebaran penyakit jahanam ini. Salah satu caranya adalah masyarakat desa mesti melek informasi mengenai seluk beluk penyakit ini. Sebelum sosial distansing diterapkan, informasi mengenai penyakit ini mesti tersosialisasi dengan baik.

Miskin informasi tentang corona, dan lambat mengantisipasi diri, hancur sudah! Sekali lagi, kuncinya adalah informasi.

Kota seperti Jakarta, atau Surabaya, mungkin tidak akan sulit membendung sebaran corona jika dari awal mengendalikan arus informasi demi mengontrol lalu lintas manusia.

Melalui jaringan informasi menggunakan algoritma tertentu, kota besar bisa lebih efektif memanfaatkan kemajuan teknologi informasi demi membendung sebaran corona yang kian sulit dikontrol.

Coba bayangkan jika setiap layar iklan berbasis elektronik dimanfaatkan dari awal, sama jika jaringan pertelevisian dapat tanggap mengingatkan warganya mengenai bahaya corona. Di bandara, pelabuhan, terminal, bahkan di tiap gawai, bekerjasama dengan provider mengirim pesan peringatan untuk memperkecil ruang interaksi manusia.

Di desa, okelah, anak-anak muda sudah banyak melek teknologi. Tapi siapa duga mereka lebih asik bermain gem onlen dibanding mengapdet informasi perkembangan corona.

Dan, orang-orang tua mana tahu tentang yang namanya smartpon. Mereka hanya tahu perkakas pertanian daripada benda-benda yang kini membuat dunia kian ciut.

Itu artinya, selama ini, walaupun terkesan ciri-ciri  pembeda masyarakat desa dan kota sudah nampak kabur, tapi tetap saja dalam kenyataan sehari-hari kejomplangan informasi masih kerap terasa.

Lalu, kepada siapa tanggung jawab sosialisasi dibebankan? Menurut saya, ya itu tadi. Para perangkat desa, mulai dari kepala desa hingga kepala dusun mesti mulai menyadari kondisi saat ini. Mereka-mereka ini mesti gencar mengedukasi warga desa agar paham betapa berbahayanya yang namanya corona ini.

Para perangkat desa mesti proaktif mengingatkan warga desa sebelum semuanya terlambat. Mereka harus tahu tipikal masyarakat desa berbeda dengan masyarakat perkotaan. Tidak seperti di kota, meski bermobilitas tinggi imbauan pemerintah masih signifikan mempengaruhi sikap mereka.

Di desa, yang kental dengan spirit komunalnya, boro-boro legawa menerima ajakan sosial distansing. Sosial distansing jika itu dipahami dan diterapkan secara ketat sama artinya mereka bakal kehilangan basis interaksi sosial ekonominya.

Interaksi sosial ekonomi di desa tidak seintens masyarakat kota. Dari segi kebutuhan ekonomi, masyarakat desa masih bisa mengandalkan kebaikan-kebaikan tetangga jika kekurangan bahan pangan. Mereka masih bisa bertukar makanan apabila salah satu di antaranya memasak lebih dari kebutuhan keluarga.

Jika ada prosesi upacara pernikahan, para tetanggalah  yang paling pertama ikut membantu di belakang dapur. Jika ada keluarga sakit tetangga juga yang ikut menghibur si sakit. Mereka juga akan sering ditemui bersenda gurau di halaman-halaman tetangga jika sore tiba.

Interaksi-interaksi semacam ini bakal ikut hilang jika sosial distansing diterapkan sepenuhnya. Bakal ada ruang sosial yang kosong yang ikut mempengaruhi daya tahan pangan, komunikasi, dan bahkan agama masyarakat desa (jika desa lumpuh, logikanya tidak bakal ada lagi sokongan logistik ke kota-kota).

Yang terakhir ini, mengapa di desa-desa sampai sekarang masih tetap menjalankan aktivitas salat berjamaah di masjid-masjid, itu tiada lain bukan sekadar untuk mengisi kebutuhan ibadah semata, tapi juga sebagai moda bertukar informasi setelah seharian bekerja terpisah di ladang-ladang.

Jadi, berbeda dari masyarakat perkotaan yang terhubung 24 jam dalam lintasan jaringan dunia maya, kebutuhan komunikasi masyarakat desa tidak dapat ditemui selain dari tempat dan pertemuan semacam hal di atas.

Sebenarnya, dalam tilikan seperti analisis di atas, masjid bisa menjadi sarana efektif menggencarkan sosialisasi berkaitan bahaya pandemi corona. Ya, masjid sampai saat ini di desa masih dipercaya sebagai tempat yang memiliki otoritas dan dipercaya dalam mengatur masyarakat. Selain institusi lembaga desa, masjid dan imam desa (dan tentua tetua-tetua adat) adalah dua modal sosial desa yang lumayan signifikan mampu mempengaruhi sikap warga.

Itu artinya, alih-alih mempertahankan sikap ambivalen, masjid-masjid di desa yang enggan menonaktifkan kegiatan ibadah berjamaah mesti sadar diri berkaitan dengan perannya yang kadang terlupakan ini.

Jadi, coba bayangkan, apabila toa masjid difungsikan selama lima kali sehari untuk mengingatkan, mengimbau, dan mewanti-wanti mensosialisasikan segala hal tentang pandemi corona ini.  Bukan tidak mungkin informasi dan kewaspadaan tentang corona akan lebih mudah direspon dan diterima warga desa.

Sebenarnya, masih ada satu dua elemen di desa yang memiliki daya potensial untuk meggerakkan warga desa agar tanggap. Ya, para pendamping desa.

Seperti dijelaskan dalam Permendesa PDDT2019, selain berfungsi untuk memfasilitasi, mengedukasi, memediasi dan meadvokasi masyarakat desa berkaitan dengan potensi tersembunyi desa, pendamping desa juga bisa memasukkan skenario gerak cepat untuk memperingati bahaya pandemi corona kepada warga desa.

Lalu, bagaimana itu dilakukan jika dalam keadaan social distansing? Pendamping desa bisa menyandarkan pekerjaannya itu kepada perangkat teknologi desa yang sekarang sudah mulai berbasis internet.

Toh, jika itu tidak terjadi, pendamping desa bisa bergerak dalam satuan-satuan kerja berskala kecil bergerak langsung berosialisasi di pusat vital pertemuan desa.

Lantas siapa yang kedua. Sudah tentu para pemuda. Skenario gerakan para pemuda dapat diinkludkan ke dalam jaringan kerja pendamping desa di atas. Dengan pertimbangan memiliki gerak mobilitas yang tinggi, dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat, para pemudalah elemen penting jika ingin menjalankan rencana di atas.

Jika Anda membaca esai Puthut EA di Mojok tentang lokdon ala Yogyakarta di awal tulisan, para pemudalah yang kelihatan di gambar-gambar tampil bergerak melakukan inisiatif gerakan lokdon mandiri di Yogyakarta. Mereka terlihat memblokade jalan keluar masuk desa dengan bahan seadanya berupa bambu atau kayu-kayu bekas.

Para pemuda di Yogya disebut Puthut bisa melakukan gerakan mandiri ini karena dibentuk dua momen bencana yang pernah dialami Yogyakarta, yakni gempa bumi tahun 2006 dan erupsi gunung merapi di 2010 lalu.

Dua momen ini mau tidak mau memaksa para warga Yogya terutama para pemudanya mesti bergerak sendiri melakukan sesuatu saat menghadapi bencana. Nah, karena punya pengalaman cepat tanggap inilah, mengapa anak muda Yogyakarta tidak tinggal diam menghadapi bahaya corona saat ini.

Pertanyaan pentingnya saat ini, ketika pemerintah pusat sudah berniat akan melakukan pembatasan sosial berskala luas yang diikuti kebijakan darurat sipil, yang berpeluang membuat negara bakal represif dan membiarkan masyarakatnya mandiri sejadi-jadinya tidak ditanggung negara, apa yang sudah dilakukan seluruh elemen desa di tempat Anda?

======


Telah dimuat di Kalaliterasi.com


04 April 2020

Menulis dari ”Rumah”


Sutardji Calzoum Bachri
Dijuluki ”Presiden Penyair Indonesia”
Terkenal dengan kredonya: Kata bukan beban makna





EVERY writer has an address, kata Isaac Bashevis Singer, penulis Yahudi peraih nobel sastra 1978.

Setiap penulis pasti memiliki alamat. Tanpa alamat, rumah menjadi dislokasi. Dia ada tapi tidak dapat diketahui, apalagi dijangkau.

Rumah tanpa alamat hanya menjadi tempat asing yang berarti tempat yang terputus dari denyut aktifitas, wahana tanpa interaksi. Sudah pasti ia bakal menjadi kawasan terisolasi, sekaligus bukan tempat terjadinya sosialisasi.

Bagi seorang penulis, di mata Isaac Bashevis Singer, alamat menjadi penting karena itulah portofolio seorang penulis.

Ekosistem pemikiran, jaringan berkubuan, buku bacaan, tradisi literasi, hingga jalinan lintasan gagasan menjadi penanda di mana seorang penulis pernah tinggal bertaut, dan tumbuh berkembang di dalam ”rumahnya”.

Alamat menunjukkan rumah. Rumah merawat habitus. Habitus bakal menopang kelahiran tradisi, dan hasil di ujungnya adalah kebudayaan.

Itu artinya, penulis tidak datang sekonyong-konyong lahir tanpa dasar pemikiran dan gagasan diskursif yang menopang cara pandangnya.

Ia, dengan kata lain, mesti berkecimpung dari dalam rumah, habitus tempat ia bergumul dengan kebudayaannya. Menyerap suasana batin, lintasan pemikiran dan gagasan, membentuk wawasan pengalaman, dan berdialektika di dalamnya.

Tanpa alamat, atau dengan kata lain, suatu tradisi pemikiran, penulis hanya menjadi sosok tak bertempat dan tak bernama.  Karya-karyanya bakal sulit mendapatkan tempat, diapresiasi, dan dikenang.

Babakan era kepenulisan Tanah Air menunjukkan, setiap masa melahirkan alamat rumah berbeda-beda.

Pujangga Lama, Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, hingga kiwari, merupakan kelindan lintasan alamat yang membentuk tonggak-tonggak tradisi kepenulisan.

Jangan sepelekan bagaimana angkatan-angkatan ini saling menuding, berselisih, dan kritik alamat satu sama lain. Saling menggedor-gedor pintu rumah masing-masing, menyoal cara pandang, pendekatan, tradisi, perkubuan, yang dianggap tidak mewakili keabsahan suatu kebudayaan yang saat itu disebut budaya Indonesia.

Antara Sutan Takdir Alisjahbana vs. Sanusi Pane, Manikebu vs. Lekra, Pramoedya Ananta Toer vs. Buya Hamka, Humanisme Universal vs. Realisme Sosialis, adalah terminal-terminal sejarah, bukan saja yang berkaitan dengan tradisi kepenulisan, melainkan juga ideologi kepenulisan.

Perdebatan di antara begawan ini, mustahil lahir tanpa alamat yang menghubungkan mereka satu-sama lain. Alamat dalam hal ini bagai resume curriculum vitae lengkap dengan sinopsis bagi penulisnya untuk memasuki ruang pemikiran yang lebih besar.

Jadi, kritik mengkritik menjadi lumrah di sepanjang alamat semacam ini yang dipakai. Ingat, rumah berarti segalanya bagi penulis. Ia tradisi, pendekatan, dan latar belakang sejarah kepenulisannya.

Meski dipisahkan melalui alamat, atau bahkan dijauhkan akibat alamat yang berbeda-beda, tetap saja para pesohor ini memiliki satu hal yang membuat pemikiran dan kritik berjalan dalam lintasannya. Kesamaan itu yakni mereka dapat berbicara melalui dan dari dalam ”rumah” masing-masing.

Sutardji Calzoum Bachri, si Presiden Penyair, mengatakan setiap penulis tidak pernah menulis di atas ”kertas kosong.” Setiap penulis pasti bakal memulai lembaran tulisannya melalui kebudayaan tertentu.

Betul setiap penulis memiliki keotentikannya masing-masing, yang menunjukkan ciri khasnya, tapi tetap saja ia tidak hidup di dalam ruang hampa kebudayaan.

Ia, artinya, mau tidak mau, dan tidak bisa keluar dari sifat dan karakteristik habitat di mana ia berkecimpung menanam kaki-kaki pengalamannya.

Itu berarti, setiap penulis sebenarnya menjadi satu mata rantai dari lapisan-lapisan kebudayaan sebelumnya. Bagai lapisan tanah, ia menempati satu kontur tanah tertentu, hidup menyejarah dari itu, dan bertunas dari dalam.

If you want to live the life that can best bring you into a sense of being a civilized person, then you have to seize I through your own culture,  kata Cynthia Ozick sastrawan Amerika. Setiap penulis mau tidak mau bakal membawa sifat-sifat kebudayaannya.

Dalam skala global, dunia kiwari tidak bisa sepenuhnya seperti pendakuan para sosiolog yang dikatakan terhubung satu-sama lain, yang mengakibatkan universalisasi budaya. Toh jika itu terjadi bukan berarti setiap ”rumah” kebudayaan hilang sama sekali.

Malah, belakangan muncul istilah glokalisasi, yakni menguatnya nilai lokal yang terpancar dari kearifan masing-masing budaya di kancah global, yang ikut mewarnai kecenderungan dunia.

Ini sedikit banyak membuat rumah-rumah kebudayaan masih bisa eksis dengan segenap dinamikanya tanpa mengalami pengaruh universalisasi sama sekali. Tetap ada yang namanya cita rasa, kebiasaan, dan pandangan dunia yang eksis mempertahankan orisinalitasnya di tengah alamat globalisasi.

Ini artinya setiap rumah kebudayaan  memiliki kesempatan untuk dapat saling terkoneksi. Indonesia sebagai satu rumah kebudayaan berkesempatan dapat "mengirimkan" alamat tradisi, pendekatan, karya, dan sejarah kepenulisannya ke rumah budaya lain demi agar dapat saling mengenal dan mempelajari.

Kita mengenal alamat sastra Amerika Latin, Tradisi Prancis, Sastra Inggris, Sastra Afrika, yang besar melalui rumah kebudayaan khas masing-masing. Mereka para penghuni rumah-rumah besar yang sampai saat ini kita baca karya-karyanya. Dari mereka kita dapat belajar cara, kebiasaan, dan pendekatan bagaimana mereka membentuk rumahnya masing-masing.

Di satu sisi, hal yang sama dapat terjadi bagi kita. Dunia luar dapat juga mengunjungi rumah kebudayaan kita. Mengenal ciri-ciri masyarakatnya, sistem pengetahuannya, tradisi literasinya, karya-karyanya, karakteristik kekuasaannya, yang dilakukan untuk mengenal latar belakang mengapa Indonesia mampu melahirkan penulis sekaliber Pramoedya Ananta Toer, misalnya.

Syahdan, tidak ada penulis tanpa alamat. Justru ia membutuhkan alamat untuk membentuk kepribadian dan orisinalitas kepenulisannya.

Alamatlah yang menghubungkan kita kepada rumah-rumah para pesohor. Kepada mereka kita bisa belajar berkaitan dengan alam kebiasaan, tradisi bacaan, dan jaringan gagasan yang membentuk suatu rumah kebudayaan. Kepada mereka kita mesti banyak berinteraksi dan berpijak.

Ayo, bung! Menulis dari ”rumah”.

======


Telah dimuat di Belopainfo.id

01 April 2020

Perkubuan dan Perbukuan



Bung Hatta dan Bung Sjahrir
Saat berada di Pulau Banda Neira
di Belakang nampak badan pesawat Catalina milik Belanda



Buku
: Jeihan

bukuku
kubuku



1973    


KISAH Sukarno adalah kisah perkubuan buku. Kisah Mohammad Hatta adalah kisah perkubuan buku. Kisah Tan Malaka adalah kisah perkubuan buku. Kisah Sjahrir adalah kisah perkubuan buku. Semua founding fathers bangsa Indonesia, mulai dari Tirto Adhi Suerjo hingga H.O.S Cokroaminoto kisah perkubuan buku.

Buku adalah palang pertama dan kubu terakhir. Kisah Sukarno menyusun naskah Indonesia Menggugat adalah kisah keintiman buku, yang secara cemerlang ia susun dari bahan baku 66 nama tokoh yang tersebar di 33 judul buku.

Mulai dari Albarda sampai Engels, Herbert Spencer sampai Karl Kautsky, Sun Yan Set hingga Snouck Hurgonje. Mulai dari Bagawad Gita sampai Das Capital, Max Havelaar sampai The Outline of History,  dari Bintang Timoer sampai The Great Pacific War.

Kisah Mohammad Hatta meminang istrinya dengan buku Alam Pikiran Yunani karangannya sendiri, juga kisah perkubuan buku. Ia rela menerima tubuhnya dikerangkeng sekat tembok, sekaligus menolak pikirannya tunduk oleh sekotak sel penjara, hanya dengan buku.

Saat pulang dari pulau pengasingan Banda Neira, Hatta kelimpungan 16 peti bukunya tidak sanggup diangkut pesawat Catalina milik Dinas Militer Belanda. Buku adalah kunci kebebasaannya melayangkan sayap-sayap pikiran dan imajinasi ke dalam dunia tak terpemanai.

Tan Malaka apalagi. Jomlo revolusioner ini mesti rela berkali-kali gagal membina hubungan asmara karena aktivitas politiknya yang lebih intim dengan perbukuan.  Ia malah rela tidak makan asal bisa membeli buku.


Jalur gerilyanya dari Belanda, Manila, Shanghai, Xiamen, Singapura, dan tiba di Jakarta, tidak bisa dibilang hanya aktivitas kejar-kejaran dengan intel-intel penjajah. Itu juga merupakan rangkaian jaringan pengetahuan dari buku sebagai teman perjalanannya.

”Seumur hidupnya, Tan hanya punya satu stel pakaian, buku tulis, helm, dan topi. Yang lainnya tidak ada,” kata Harry Poeze, seperti dikutip dalam Kehidupan dan Kematian Tan Malakadari, Lokadata.id.

Buku Naar de Republiek Indonesia (1925) yang berisi pemikiran soal kemerdekaan Indonesia, adalah anak ideologisnya dari keintimannya berkubu buku.

Jangan lupakan Sutan Sjahrir. Sosok dari Tiga Serangkai di masa perjuangan, yang selama bersekolah di Mulo, Medan, sudah banyak menghabiskan buku-buku novel berbahasa Belanda.

Tidak kalah dari Sukarno dan Bung Hatta, si Bung Kecil ini juga pelahap buku. Semenjak bersekolah di Belanda ia kerap membuat seniornya kerepotan meminjam buku.

Kisah perkubuan Buku Sjahrir dicatat Rudolf  Mrazek dalam biografi Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia sebagai peminjam buku bebal yang tidak pernah ia kembalikan.  

”Saya masih terus disibukkan dengan nota-nota, surat-surat dari Perpustakaan Leiden yang meminta agar saya mengembalikan buku-buku itu, atau membayar dendanya,” ujar Joss Riekerk, senior Sjahrir selama di Belanda, kepada Mrazek dalam Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Buku, Historia.id.

Di masa pergolakan, kehidupan begawan bangsa membuat buku sebagai bahan baku perjuangan. Buku sebagai alat taktis merupakan demarkasi penentuan di kubu mana keberpihakan diletakkan. 

Sukarno menggugat persidangan Belanda melalui buku, seperti Hatta melawan kerangkeng tembok penjara dengan buku, juga sebagaimana Sjahrir membangkang lewat buku.

Buku di tangan mereka menjadi kubu pertahanan yang difungsikan untuk menyerang kolonialime, walaupun portofolio pendiri bangsa ini hasil rahim pendidikan tuan-tuan negeri asing.

Coba lihat, seperti  kubu yang berisi pasukan, alutista, dan logistik,  buku juga berisi pikiran, gagasan, dan sekaligus perasaan yang mencerminkan kekuatan pertahanan pemikirnya.

Itu sebab, buku bukan saja sebagai demarkasi politis yang memantik nasionalisme, buku juga memiliki daya perubahan sosial mengubah nilai-nilai kemanusiaan, bahkan dalam keadaan terjajah sekalipun.

Jadi jelas artinya. Buku tidak sekadar tanda nama yang menunjukkan jabatan, rekam jejak, dan profesi seseorang. Ia malah melebihi kualitas cover semacam itu, yang membuat orang lupa, buku juga berarti olahan gagasan untuk menyatakan sikap dan tanggung jawab perubahan.

”Senjata yang kukuh dan berdaya hebat untuk melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial, termasuk perubahan nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan, adalah buku,”  ungkap Mochtar Lubis.

Sekarang, semesta perbukuan marak dengan jaringan perkubuan. Masing-masing dengan ragam dan metodenya memiliki visi yang kurang lebih mirip satu sama lain: memukul mundur kepandiran.

Itu artinya, melawan kepandiran sama politisnya perkubuan buku founding fathers. Mereka tahu, aktivitas perjuangan mesti disigi buku-buku. Membangun suatu bangsa mesti digalakkan dari sikap elegan berpihak kepada gagasan dan pemikiran yang ditemukan dalam buku.

Bukuku kubuku, kata penyair Jeihan di atas. Perhatikan! Yang mana barak pertahanan, dan yang mana  alutistanya? 

=====

Telah tayang di DialektikaReview.Org

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...