21 September 2019

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Peresensi


BELAKANGAN saya mulai menyadari keinginan menjadi peresensi buku. Walaupun niat ini akal-akalan saja, memang. Ya mau bagaimana lagi. Semangat membaca saya angin-anginan. Ini cara bulus belaka agar saya membaca buku.

Zaman sekarang, kita harus hidup seperti pelari maraton yang diserang kehausan. Mesti lahap menepekuri buku-buku. Coba pikirkan setiap detik bermunculan penerbit-penerbit buku. Entah legal atau liar, mayor atau indie. Dari moncong mereka kertas-kertas berubah menjadi buku-buku. Puluhan, ratusan, ribuan….

Di gawai kita, buku elekronik lintas melintas. Dunia maya perantaranya. Bergiga-giga fisik buku menjadi sekotak layar smartphone. Pindah kirim mengirim. Dari gawai satu ke gawai lain.

Namun, kecepatan perkembangbiakkan buku tidak semelimpah waktu membacanya. Seolah-olah kita dikutuk Tuhan mengalami dahaga berkepanjangan. Kita dikutuk agar mampu meneguk ”mata air” pengetahuan di buku-buku yang serba berlebihan itu. Mirisnya kita dikepung beragam kesibukan.

Belakangan saya jalan-jalan di Gramedia. Semenjak peristiwa ”perampasan” buku-buku kiri oleh segelintir orang, di jajaran etalase buku fiksi di toko buku ini mengalami perubahan. Setelah rak buku-buku sosial dan filsafat raib melompong, giliran buku-buku fiksi berbau kiri menghilang entah kemana.

Menariknya, di waktu bersamaan, buku-buku teenlit berdesakan bersaing dengan buku-buku novel populer. Untuk urusan ini buku-buku Tere Liye peringkat pertama disusul tema buku sejenis. Mengingat ”gerutuan” Tere Liye menarik bukunya dari Gramedia terkait perlakuan pemerintah terhadap pajak penulis tempo hari, malah nampak lucu melihat bukunya nangkring kembali di toko buku terbesar tanah air.

Terlepas apakah Gramedia sedang cuci gudang ”menghilangkan” buku-buku yang berpotensi mengundang masalah, saya kira Gramedia sedang menggali kuburnya sendiri. Lihat saja sekarang, menyebut Gramedia sebagi toko buku besar sudah tidak pantas lagi. Lebih cocok kalau ia disebut toko penjaja alat-alat tulis kantor.

Tidak ada urusan apakah Gramedia mau menjual buku-buku bernuansa populer. Ini bukan soal selera sastra semata. Urusan lain jika mengatakan Gramedia menjadi toko buku minim buku sastra dan humaniora.

Tapi, mendengar obrolan seorang kawan bersama Muhiddin M. Dahlan, penulis kawakan ini sudah semenjak lama memarkir naskah bukunya dari tangan editor Gramedia. ”Gramedia tidak pernah berniat membela hak-hak penulis jika buku dijualnya dipersekusi”, begitu kurang lebih pendakuan Gus Muh.

Menariknya, ketika nasib Gramedia senjakala, di perbukuan Indie sedang  cerah-cerahnya. Angin musim sedang berpihak kepada penerbit-penerbit indie.

Di pusat perbukuan indie di Jogja, penerbitan indie sedang membangun persekutuan suci menyaingi penerbit-penerbit mayor. Banyaknya festival buku di sana tidak satu pun pernah melibatkan penerbit mayor. Semakin maraknya persekutuan ini juga menghadirkan banyak penulis-penulis muda/baru yang lebih segar dan fresh.

Penerbitan indie lebih fleksibel memaksimalkan dunia maya, cepat atau lambat bakal menyaingi pangsa pasar yang selama ini dikuasai penerbit mayor. Melalui strategi PO untuk mentaktisi biaya cetak dan seluruh tetek bengeknya adalah cara ampuh meminimalisir kerugian.

Belakangan muncul gerakan beberapa penerbit di Jogja untuk segera menghentikan percetakan buku bajakan. Sudah sejauh ini dinamika literasi di Jogja!

Di Makassar, ada MIWF, festival tahunan yang menjadi wadah penulis muda bermunculan. Juga menjadi ajang bagi pembaca agar bisa bersentuhan langsung dengan penulis-penulis undangan. Namun kesemarakan festival internasional ini tidak seresah pegiat literasi di level akar rumput.

MIWF dinyatakan beberapa penggerak penerbit indie Makassar hanya menjadi jalan lapang bagi penerbit mayor menancapkan dominasinya. Otomatis karena itu penulis-penulis yang diundang hanya penulis yang terikat secara penerbitan dengan penerbit bersangkutan. Begitu juga dari segmentasi peserta, yang ikut merasakan kemeriahan MIWF hanyalah penikmat buku-buku keluaran terbitan mayor.

Itulah sebab, MIWF kurang, untuk tidak mengatakan tidak, mengapresiasi atau bahkan membuka panggung bagi penerbit indie di Kota Daeng. Atau bahkan kurang terbuka dengan penulis-penulis muda yang lahir di komunitas penerbit indie di tingkat lokal pedalaman—walaupun ada proses seleksi sebelumnya.

Barangkali, respon seperti ini-lah yang menjadi sebab kemunculan beberapa festival di daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Beberapa waktu lalu pernah tersiar kabar di Bulukumba digelar festival literasi menggaet simpul-simpul penulis lain yang berbeda kecenderungan latar belakang, gaya, tradisi, jaringan dengan kelompok penulis dominan di Makassar. Di Palopo bahkan sudah dua tahun menyelenggarakan festival kurang lebih sama dengan mengundang Muhiddin M. Dahlan sebagai tamu utamanya.

Terlepas dari itu, lain soal jika memang belum ada cetakan buku berkualitas lahir dari rahim penerbit indie di Makassar—walaupun tidak semuanya. Yang juga otomatis belum masuk kategori penerbit mapan yang layak dilibatkan.  Permasalahannya belum tampak sama sekali penulis-penulis muda bermunculan dari rahim penerbit indie di Makassar. Tapi, bukankah saling topang dan sinergi di antara penerbit mayor dan penerbit indie di Makassar bisa tumbuh subur jauh lebih dibutuhkan saat ini?

Walaupun begitu, biarlah urusan di atas dipecahkan punggawa-punggawa literasi di Kota Daeng. Urusan saya lewat tulisan ini hanya curhatan mengenai  tugas seorang pembaca mesti diradikalkan menjadi peresensi. Di masa sekarang membaca buku saja tidak cukup. Dibutuhkan langkah lebih maju mengapresiasi buku tidak melulu melalui membaca belaka.

Dengan kata lain, merensi jauh lebih produktif dari sekadar membaca. Jika membaca hanyalah suatu tindakan ”ke dalam” bagi pembaca untuk mengembangkan aspek-aspek dirinya, maka meresensi sebaliknya mengarahkan sasarannya kepada khalayak luar dengan menghasilkan suatu karya ulasan.

Peresensi itu juga suatu semesta penulis yang mesti ikut dihidupkan kembali. Belakangan dunia tulis menulis lebih banyak mengapresiasi penulis cerpen, novelis, penyair, penulis prosa, dan esais, sementara saat bersamaan memunggungi satu slot penting berupa penulis resensi buku.

Peresensi satu bagian khusus yang memiliki efek signifikan bagi jaringan dunia perbukuan. Bisa dikatakan, dari mata rantai penulis, editor, layouter, penerbit, distributor sampai penjual buku, peresensi adalah missing link yang selama ini kurang mendapat perhatian digeliatkan kembali.

Tanpa peresensi nasib suatu buku hanya bisa menempuh setengah jalan dari jaraknya kepada pembaca. Tugas resensilah dalam hal ini yang bakal meneruskan perjalanan suatu buku agar sampai dengan selamat kepada khalayak banyak. Ia bakal melengkapi paripurnanya perjalanan buku dari sejak digagas penulis hingga sampai di almari-almari pembaca.

Peresensi itu seperti tugas pelanjut risalah. Jika penulis buku adalah nabi-nabi, peresensi adalah wasinya, pelanjutnya. Dikenal tidaknya apa isi buku, merupakan tugas pertama dari peresensi untuk ”melaporkannya” ke hadapan publik. Sangat banyak buku beredar di pasaran, baik dengan kualitas berlapis-lapis, tapi berumur pendek karena tidak ada sokongan berupa resensi buku.

Bagi saya yang angin-anginan ini, seperti saya ungkapkan sebelumnya, meresensi adalah strategi keluar dari selimut kemalasan membaca. Apalagi saya mulai merasakan betapa terbatasnya daya ingat pikiran. Zaman yang tidak sekalipun menaruh ampun kepada gaya hidup selow, sedikit banyak berefek kepada perasaan takut tertinggal. Dunia ketika realitas maya mengambil alih malah mensituasikan orang-orang kepada gaya berpikir instan dan artifisial. Saya malah merasa itu juga ada pengaruhnya kepada daya ingat.

Di titik inilah merensi buku mampu membantu sisi negatif ingatan pendek. Saya tidak mesti lagi repot-repot membaca ulang keseluruhan buku jika hanya ingin tahu kisah seperti apa yang ada dalam suatu buku. Atau saya juga tidak harus membolak-balik halaman demi halaman jika itu berkaitan dengan suatu tema pemikiran atau inti suatu buku. Singkatnya meresensi sebenarnya merupakan  jalan tengah menyelamatkan daya ingat pengalaman atas membaca buku.

Tuhan, izinkan aku menjadi peresensi…

12 September 2019

10 Muharram dan Pesan Politik Pembebasan Imam Husein

Ilustrasi peristiwa Karbala

KESYAHIDAN Imam Husein ibn Ali di Karbala menandai gugurnya orang terakhir Ahlul Kisa', yakni manusia terpilih dalam peristiwa bersejarah ketika Rasulullah menyelimuti empat orang terdekatnya dengan melafalkan doa khusus.

Di peristiwa itu, Rasulullah menandai siapa-siapa yang disebut Ahlul Baitnya. Orang-orang yang bakal meneruskan risalahnya dengan bersanding bersama Al Qur'an, yang barang siapa berpegang teguh kepada keduanya, maka ia bakal selamat.

Kelak, peristiwa ini menandai sebab turunnya ayat 33 surah Al Ahzab: ”Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.

Ummu Salamah, pribadi yang juga menyaksikan kejadian itu, tidak masuk dalam naungan selimut surban (kisa') yang dipayung-lingkarkan bersama empat orang pilihannya.

Rasulullah hanya memeluk sembari menyelimuti Ali ibn Abi Thalib, Siti Fatimah binti Muhammad, Hasan ibn Ali, dan Husein ibn Ali, sembari menyatakan kepada Ummu Salamah cukuplah engkau di tempatmu, dan engkau ada dalam kebaikan.

Peragaan ini bukan sekadar peristiwa biasa, melainkan suatu isyarat berkaitan dengan kedudukan tinggi orang-orang yang ditandainya.

Secara simbolik, pelukan Rasulullah bermakna informatif berkaitan dengan siapa-siapa manusia pilihan yang dijaminkan Allah sebagai manusia tanpa cela dan tanpa dosa.

Dari sisi ini, perbedaan mendasar para Ahlul Kisa' dengan manusia lainnya adalah seperti bunyi ayat 33 surat Al Ahzab: mensucikan kamu sesuci-sucinya. Selain Ahlul Baitnya, setiap manusia gampang tergelincir menuju limbah dosa. Tidak ada dasar legitim bersifat kewahyuan seperti Ahlul Bait mendapat jaminan dari Allah Swt.

Itulah sebab, peristiwa berabad lalu di Karbala patut ditangisi. Siapakah orang yang rela membunuh pribadi yang dijamin Al Qur'an berkaitan dengan keluhuran jiwa dan kesempurnaan ahlaknya. Pribadi kesayangan Rasulullah yang paling mirip keperawakannya. Pribadi yang diselimuti Rasulullah berabad-abad lalu.

Malam Asyura dengan kata lain malam bagi umat muslim sedunia memperingati gugurnya manusia terakhir Ahlul Kisa'. Orang terakhir yang menjadi sebab turunnya ayat Tahrir.




ABAD kiwari agama kehilangan elan vitalnya. Di skala global, agama masih sulit mendudukkan dirinya sebagai pandangan dunia yang menyaingi ideologi-ideologi berhaluan pasar.

Kuatnya pengaruh kapitalisme global dan kembali maraknya pandangan politik kanan, menjadi bukti tidak signifikannya agama menjadi pandangan dunia alternatif. Kesalahan penafsiran atas teks-teks kunci berkaitan dengan kehidupan umat, malah menimbulkan dua modus keagamaan yang sama-sama mendistorsi inti agama itu sendiri.

Pertama, modus agama yang berkecenderungan legal-formalistik yang ditandai dari upaya menegakkan negara syariat. Modus ini jika bukan mengambil bentuk negara khilafah, maka umumnya melalui proses legislasi aturan-aturan berbau syariat. Kedua model ini sama-sama gampang dikenali melalui jargon-jargon politis berlabel simbol-simbol agama.

Belakangan, secara populer, model beragama secara legal-formal menjadi pangsa pasar bagi deru derasnya perputaran ekonomi kapitalistik.

Bagi pasar, kecenderungan gerakan hijrah yang menyukai penandaan-penandaan simbolik agama, merupakan segmentasi menjanjikan meraup keuntungan. Semakin populis gerakan hijrah menujukkan tingkat religiusitas, semakin terbuka peluang pasar menyerapnya menjadi kapital.

Kedua, sebab hilangnya semangat transformatif agama karena merebaknya pola beragama yang mementingkan kesalehan individual. Sejauh agama dijalankan berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah, rasa-rasanya sudah cukup tanpa harus terbebani tanggung jawab sosial mengubah ketimpangan tatanan masyarakat.

Agama yang dijalankan dengan cara demikian adalah agama yang kehilangan visi kolektifnya. Bahkan kehilangan semangat kulturalnya hidup bersama orang-orang tertindas.

Agama mengutamakan kesalehan personal dan mengurung diri melalui ritual pragmatik individual secara tidak langsung mendistorsi makna ekopol dari konsep tauhid dalam kalimat La ilaha ilallah.

Padahal, dalam kalimat itu-- setidaknya menurut Ali Asghar Engineer-- mengandung makna hijrah dari bergerak secara pribadi (laa ilah) menjadi bergerak bersama-sama (ilallah). Atau bergerak dari diri-individual menuju diri-sosial.

Kalimat tauhid mengandung konsep sosial-politik yang berarti berani menegasikan ”ilah-ilah” palsu dalam sistem penindasan masyarakat. Ia dalam hal ini bukan sekadar pernyataan keesaan tuhan, tapi juga secara moral politik mau melebarkan pernyataan syahadah itu menjadi sebuah statement perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan masyarakat yang tidak adil.

Konsep La ilaha Ilallah dengan kata lain suatu pertanyaan ”politik kemerdekaan” umat muslim untuk mengatakan tidak ada Tuhan (berhala-berhala, kedudukan, ras, sistem ideologi, harta dlsb.) yang patut diindah-indahkan, dipuja-puji, disembah-sembah, selain Allah semata.

Peringatan sepuluh Muharram dengan figur utama cucunda Rasulullah, merupakan gerakan hijrah yang sebenarnya. Imam Husein sendiri bahkan berkata, saya berangkat ke Karbala demi menegakkan kembali agama kakekku, Muhammad.

Ia datang bukan demi menyulut peperangan selain menegakkan kalimat kemerdekaan tauhid seperti Rasulullah kali pertama memproklamirkannya.

Imam Husein dengan kisah epiknya, sampai sekarang bakal menjadi narasi keislaman memukul habis hipokrisi keagamaan yang melagengkan kebodohan, keculasan, dan ketidakadilan. Ia persis ujaran Rasulullah bahwa Husein datang dariku, dan Aku datang dari Husein.

Barang siapa tahu asal usul genetis Imam Husein, seharusnya ia juga mesti tahu dari mana genetika agama Rasulullah dapat diketahui. Dengan demikian, melalui pribadi Huseinlah spirit dan inti agama Rasulullah dapat ditemu-kenali.

Terakhir, meminjam bahasa Ali Syariati, epik Asyura tiada lain tiada bukan adalah konfrontasi revolusioner antara agama versus ”agama”. Pendakuan Ali Syariati mengenai sejarah agama bukanlah perlawanan atas non-agama. Justru di sepanjang kehidupan manusia, seteru abadi agama adalah ”agama” itu sendiri. Yakni perang antara kepercayaan atas satu Tuhan (tauhid) melawan ateisme (kufr/kafir), kepercayaan atas banyak tuhan (syirik, politeis).


27 Agustus 2019

Tirani Mayoritas


SEWAKTU domisili di Kupang, NTT, saya sering menjadi korban bully. Kekerasan rasial dengan mengejek saya Bugis kerap terjadi saat kelahi dengan teman sepermainan. Kelak saya menyadari, etnis seseorang ternyata bisa menjadi bahan kekerasan rasial ketika tinggal di daerah rantauan.

Daerah terutama penduduk asli dan pendatang mengalami jurang ketimpangan sosial yang dalam, bisa menjadi faktor pendorong lahirnya kekerasan sosial.
Di Kupang, mayoritas orang Bugis berprofesi sebagai pedagang. Di pasar-pasar nyaris sebagian pedagang orang Bugis. Toko-toko kelontong di pinggir-pinggir jalan, jika lumayan besar, bisa dipastikan itu adalah orang Bugis. Secara umum, tidak saja orang Bugis, di Kupang, masyarakat pendatang banyak mengambil peran strategis hampir di semua bidang kehidupan.
Walaupun demikian, masyarakat Bugis tetaplah minoritas. Ditinjau dari keyakinan agama, akan lebih banyak ditemukan gereja dibandingkan masjid. Masjid tetap pun ada, namun tidak sebanyak gereja-gereja. Di Kupang masyarakat Bugis muslim jauh lebih sedikit dibanding warga Katolik, agama mayoritas di sana.
Tidak jarang, orang-orang Bugis mengalami mobilitas sosial lumayan cepat dibanding penduduk asli. Hal ini kerap menyebabkan kecemburuan sosial. Walaupun cenderung genelaristik, di waktu itu, akan nampak mencolok perbedaan rumah hunian antara masyarakat pendatang dan penduduk setempat.
Rumah-rumah ibadah umat Katolik bisa jauh lebih besar dengan tembok dinding menjulang tinggi. Beberapa di antaranya ada kemiripan desain arsitektur Eropa. Namun, sementara gereja bisa megah mengundang keindahan estetis tertentu, tidak demikian hunian warga asli setempat.
Seolah-olah warga Katolik rela hunian mereka berdiri ala kadarnya demi rumah ibadahnya. Dengan kata lain, rumah ibadah adalah orientasi teologis. Tidak seperti pendakuan iman Calvinisme, pengorbanan demi rumah ibadah jauh lebih besar dari sekadar memiliki kemegahan hunian.
Sebaliknya, masjid-masjid di Kupang tidak semegah gereja. Sejauh ingatan, belum ada masjid dengan daya tampung melebihi wilayah kelurahan. Dipengaruhi jumlah umat muslim, masjid-masjid disesuaikan dengan kebutuhan jama’ahnya.
Berbeda orientasi teologis mengakibatkan masjid tidak bisa lebih dari sekadar tempat peribadatan belaka. Dengan kata lain, masjid tidak akan didirikan seperti gereja dengan ”kemegahan” tertentu.  Lalu kemana-kah orientasi ”kemegahan” masyarakat muslim disalurkan?  Sudah tentu adalah hunian mereka.
Itulah sebab—seperti disebutkan—hunian warga muslim tampak lebih mencolok dibanding hunian warga asli.
Dari segi tingkat pendidikan, meski tidak semua, warga pendatang jauh lebih mudah mengakses sumber daya pendidikan karena ditunjang kekuatan ekonomi. Latar belakang pekerjaan orang tua salah satu sebab ini dapat terjadi.
Sementara, penduduk asli karena lahir dari latar belakang keluarga pas-pasan, kalah ”bersaing” dengan masyarakat pendatang. Dampaknya, mobilitas sosial masyarakat setempat bergerak lebih lambat.
Di lingkungan mukim, di antara teman-teman sepermainan, baru dua orang yang saat itu memiliki sepeda. Selain saya, masih ada seorang lagi yang kebetulan orang Bugis. Sepeda bagi kami sebagian besar saat itu masih terhitung barang istimewa.
Belum semua orang bisa merasakan bagaimana rasanya bersepeda. Berkat sepeda milik saya, banyak teman-teman sepermainan mahir bersepeda. Tidak jarang bahkan ada meminjamnya hingga malam menjelang.
Perbedaan keadaan ekonomi, pekerjaan orang tua, bentuk hunian, tingkat pendidikan, warna kulit, asal usul, kebiasaan keluarga,  yang jauh berbeda sama sekali bisa memicu lahirnya perasaan cemburu antara kami. Saya menduga, dilatarbelakangi hal demikian sedikit banyak menyebabkan terjadinya perlakuan rasial.
Saya sebagai warga pendatang seringkali dongkol menerima perlakuan rasial dari teman-teman sepermainan. Walaupun itu adalah ekspresi kemarahan kanak-kanak, namun tetap saja bakal menjadi berbahaya jika itu sudah melibatkan prasangka kultural. Dorongan sebagai warga mayoritas asli setempat, tindakan rasial itu menjadi langgeng dan berulang-ulang. Stereotyping dan penggolongan macam inilah yang akhirnya juga ikut menjadi bahan bakar saat kota Kupang mengalami kerusuhan di paruh kedua 1990-an.



TIRANI mayoritas bukan isapan jempol belaka. Secara kuantitatif tirani mayoritas dapat mengubah jalannya sejarah. Secara epistemik ia dapat memengaruhi pilihan bebas seseorang. Secara sosiologis ia dapat menentukan pola dan bentuk interaksi masyarakat. Secara politik tirani mayoritas mampu mengubah kebijakan publik sesuai hitungan-hitungan kepentingannya.
Tirani mayoritas sebagai kekuatan dominan berkorelasi dengan nuansa psikologis seseorang. Semakin seseorang menarik identitasnya ke dalam dimensi ”kerumunan”, semakin besar pula ia melambari rasa percaya dirinya.
Tirani mayoritas menjadi negatif karena melalui psikologi massa, kualitas kemanusiaan seseorang bakal hilang tenggelam dorongan irasional liar hasrat. Dalam kerumunan massa, kualifikasi rasional individu bakal terkalahkan kekuatan lebih besar dengan tujuan politis tertentu.
Selain itu, bahaya tirani mayoritas bakal menjadi dasar epistemik dan kultural melegitim tindakan kekerasan berbasis kolektivisme. Dalam massa, segala tindakan kehilangan dasar kebenarannya. Sekalipun dilakukan secara pribadi, tetap saja dorongan ditimbulkannya berasal dari kekuatan imperatif massa menghilangkan pertimbangan logis individu.
Pengecualian dari yang pernah saya alami, kecemburuan sosial bukan faktor utama pendorong lahirnya kekerasan berbasis etnis. Malah, di banyak kasus, berkat lebarnya ketimpangan sosial dan keadilan tidak merata, banyak wilayah terdorong memerdekakan diri keluar dari naungan suatu wilayah politis tertentu.  Di Indonesia, Timor Timur dan Aceh buktinya. Belakangan hal sama kembali mencuat di Papua.
Kekerasan rasial justru banyak disebabkan pandangan mengenai superioritas budaya atas budaya lainnya. Menganggap etnisnya (warna kulit, bentuk muka, postur tubuh, asal usul) paling berbudaya merupakan biang kerok kelahiran tindakan rasial. Apalagi jika rasialisme ditopang tirani mayoritas. Alih-alih memberi perlindungan kepada minoritas, malah rasialisme makin berkecambah berkat semangat asal tirani mayoritas.
Tindak lanjut dari rasialisme adalah tindakan diskrimanif, bahkan sampai menimbulkan kekerasan fisik. Secara politis, ujung dari rasialisme adalah genosida. Dampak jangka panjangnya adalah hilangnya eksistensi kebudayaan tertentu.
Peristiwa ”salib setan” dan kasus ”monyet” yang mencuat belakangan adalah satu dari banyak puncak gunung es kekerasan rasial berbasis tirani mayoritas. Keduanya dapat langgeng diucapkan sebab lahir di tengah-tengah dominasi tirani mayoritas.  Akan lain kejadiannya apabila kasus serupa dilakukan pihak minoritas.
Langgeng dan latennya kekerasan rasial dapat meledak kapan saja. Untuk kasus ”monyet” kekerasan sebenarnya malah terjadi berkali-kali di tanah Papua tanpa pernah mendapatkan perhatian serius. Kasus monyet hanya satu dari dua sisi koin yang menyembunyikan ripuh lainnya di tanah Papua.
Kepercayaan rasial (baca: paling beriman) dalam agama ditemukan dalam dalil-dalil mengatasnamakan kebaikan umat atas jaminan teologis. Bagi umat Nasrani segregasi iman melalui narasi ”gembala domba” vs ”iman kristiani” mengakibatkan pembaptisan hanyalah satu-satunya jalan masuk mendapatkan keselamatan Kristus.
Keyakinan serupa ditemukan dalam Islam melalui dalil ”73 golongan”.  Pembedaan golongan ini ibarat bara dalam sekam. Hadis ”73 golongan” dan dalil lainnya, bila ditafsirkan radikal bakal menyulut pengafiran di mana-mana.
Keyakinan teologis sempit karena dipahami secara primordial menyebabkan terkoyaknya kenyataan sosiologis yang demikian beragam. Atas tafsir tunggal keimanan tertentu, kejamakan kehidupan sosial sulit diterima sebagai skenario teleologis penciptaan.
Indonesia semenjak dahulu menanam benih-benih rasialisme. Tidak bisa dilupakan begitu saja, mulai era penjajahan (inlander-Belanda), pasca kemerdekaan (pribumi-Cina), sampai era reformasi (pribumi- asing/aseng), adalah masa-masa yang telah banyak memakan korban.  Dalam kancah politik tanah air, di ibu kota, rasialisme bahkan menjadi kekuatan naratif digunakan untuk mendulang suara.
Sekarang mari dipikirkan kembali, apa untungnya keunggulan rasial, keyakinan agama, atau bahkan keunggulan politik, jika itu hasil pengerdilan golongan tertentu? Setelah pihak lain dimatikan eksistensinya, diejek-ejek, diolok-olok!

24 Agustus 2019

Megalomaniak


Pamflet digital
diambil dari aksi solidaritas kekerasan rasial
yang dialami mahasiswa Papua
di Surabaya beberapa tempo lalu 


BELAKANGAN problem identitas mencuat ke permukaan. Akibat ulah seorang da'i, kerukunan umat beragama menjadi kritis. Tidak lama, kasus muka “monyet” menambah parah situasi. Dua kasus ini saja sudah lebih dari cukup membuktikan betapa mental megalomania kerap diidap sebagian orang di sekitar kita.

Jika Anda membuka kamus Inggris-Indonesia, jelas di situ apa arti megalomania: penyakit gila yang mengkhayalkan dirinya seperti orang agung dan mulia. Pengidap penyakit ini disebut megalomaniak, yakni orang tertentu yang menganggap rendah orang, ras, atau bangsa tertentu.

Sejarah kolonialisme atas negara-negara dunia ketiga sedikit banyak menunjukkan, betapa bangsa-bangsa yang belakangan merdeka awalnya dijajah karena perasaan megalomania bangsa-bangsa Eropa.

Dulu, atau bahkan sampai sekarang, cara pandang seperti ini masih berlaku. Terakhir, Amerika Serikat yang getol berbicara demokrasi, malah semakin menunjukkan identitas aslinya dalam rangka menguasai negeri-negeri Asia. Mental megalomaniak bahkan sering ditunjukkan Trump, orang nomor satu di negeri Paman Sam itu.

Kembali ke Indonesia. Studi-studi poskolonial menunjukkan, bekas bangsa-bangsa terjajah, Indonesia, misalnya, kerap sulit keluar dari peninggalan kebiasaan bekas negara penjajahnya. Entah itu gagasannya, praktik kebudayaannya, bentuk pemerintahannya, atau bahkan ideologinya.

Dalam hal ini kebiasan menjajah yang identik dilakukan bangsa-bangsa Eropa kepada negeri-negeri koloninya, dilakukan pula bekas bangsa jajahannya. Dalam hal ini, Indonesia, sebagai bekas negeri jajahan mengulang kembali tindakan yang sama yang pernah dilakukan bangsa penjajahnya. Lalu, kepada siapakah jajahan itu dilakukan? Tiada lain, kepada anak-anak bangsanya sendiri.

Bukan suatu kebetulan jika belakangan diksi monyet kembali diucapkan sebagai penanda etnis tertentu. Melalui Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer, kita bisa lihat nama Minke sebenarnya adalah panggilan yang diterimanya dari seorang Belanda yang berarti monyet. Relasi manusia-monyet (minke) ini uniknya, terulang kembali di masa sekarang dinyatakan bangsa sendiri dengan mereplika posisi superioritas bekas bangsa penjajah.

Gagasan superioritas yang masih bercokol demikian kuat paradoksnya menjadi medan reflektif bersikap bangsa sendiri. Alih-alih mengedepankan kesetaraan, justru pasca keluar dari penjajahan, sikap ini semakin aplikatif mewarnai praksis berkebudayaan Indonesia.

Tidak mungkin dimungkiri, keadaan bangsa kita “diciptakan” berbeda-beda. Keragaman ini walaupun sering dianggap ciri khas, masih sulit diterima sebagai kenyataan sosiologis.

Takdir bangsa yang berbeda-beda, dengan kata lain, malah direfleksikan dengan cara menganggap etnis berbeda sebagai “yang lain”. Seperti bekas bangsa penjajahnya dahulu, perlakuan ini justru lahir akibat cara melihat yang bias.

Relasi timpang ini tidak akan berakhir selama masih ada perasaan atau cara pandang megalomania. Cara pandang ini demikian berbahaya karena lahir atas ketidakadilan itu sendiri. Orang-orang pengidap megalomaniak merasa agung dan mulia tidak datang dari kebesarannya sendiri, melainkan dihasilkan dari memproduksi identitas lain dengan cara mengerdilkan dan mencelanya habis-habisan.

Sikap begini tidak sulit dikemukakan belakangan ini. Kita dengan mudahnya mencela pihak lain demi keagungan tertentu. Kita ingin mulia, dengan menghina pihak lain.

Yang mengerikan, semua itu dilakukan bukan karena kegilaan. Semua itu nyaris dengan kesadaran seterang-terangnya. Sejelas-jelasnya.

21 Agustus 2019

Idul Qurban dan Kemerdekaan


AGUSTUS kali ini demikian unik lantaran memperingati dua momentum sejarah sekaligus. Hari raya Idul Qurban dan kemerdekaan Indonesia. Dua peristiwa ini memiliki arti mendalam bagi rakyat Indonesia, terkhusus umat muslim.

Bagi umat muslim Idul Qurban mengajarkan umat manusia arti pengorbanan kepada kaum tertindas. Sementara peristiwa kemerdekaan Indonesia merupakan momen reflektif rakyat Indonesia mengenang dan menginternalisasi perjuangan bangsa ini melawan penjajajahan.

Walaupun berbeda alaf sejarah, dua peristiwa ini sama-sama menarasikan pengorbanan sebagai keutamaan manusia. Bukan saja itu, pengorbanan dalam dua kisah ini juga sama-sama mengisahkan kemerdekaan sebagai nilai kehidupan yang paling penting dan fundamental.

Kepasrahan Nabi Ibrahim-Ismail

Kisah Nabi Ibrahim-Ismail bukan narasi di luar sejarah manusia. Mereka berdua bukan mahluk suprahistoris seperti dalam legenda ataupun mitos. Ibrahim dan Ismail mahluk berdaging yang menandai keberadaan historisnya. Al Quran, karena itu menganjurkan agar kisah kedua manusia agung ini diceritakan terus menerus sepanjang masa. Pertanyaannya, mengapa Al Quran sampai mengabadikan kisah antara ayah dan anak ini?

Ego adalah ”kuda liar” bagi agama-agama. Ia mesti diatur agar manusia tidak jatuh ke dalam kesengsaraan. Tujuan setiap agama mengendalikan ego agar berjalan seiring terang cahaya wahyu. Ego dalam kendali wahyu akan berbuah hasil kepasrahan dan kesetiaan total kepada seluruh perintah dan larangan agama. Kepasrahaan dan kesetiaan, dengan kata lain, adalah inti terdalam praktik agama.

Pengorbanan dalam kisah Ibrahim dan Ismail berakar dari kepasrahan dan kesetiaan total kepada perintah Tuhan. Mereka berdua telah melampaui sekat penjara ego. Jiwa insan mereka telah tunduk sepasrahnya seperti pasrahnya alam semesta terhadap hukum Tuhan. Bergerak tanpa sedikitpun melahirkan sangsi dan protes.

Itulah sebabnya, kisah kedua manusia ini dikukuhkan Al Quran. Sebagai kisah pengorbanan, Ibrahim rela melepas satu-satunya keinginan selama yang telah ia damba-dambakan. Ismail, anak yang ditunggu-tunggunya, juga menunjukan kebaktian pengorbanan tiada bernilai. Baik Ibrahim dan Ismail, sesungguhnya mengajarkan nilai moral puncak: rela melepaskan keinginan yang paling dicintai.

Kesetiaan, kerelaan, dan ketundukkan Ibrahim dan Ismail kepada Tuhannya merupakan tanda manusia merdeka.  Kedua nabi ini, dengan kata lain, adalah contoh bagaimana manusia mesti memerdekakan dirinya dari penjajahan ego. Sebagaimana ungkapan Rasulullah, perjuangan manusia paling dahsyat perjuangan melawan hawa nafsunya. Begitu pula kemerdekaan, kemerdekaan hakiki adalah kebebasan manusia dari perintah hawa nafsunya.

Peristiwa Ibrahim membebaskan prasangka teologis menghancurkan patung-patungg raja Namrud, bukti lain agar manusia selain melawan egonya  jangan sampai terjebak kepada kekuasaan tuhan-tuhan palsu. Kemerdekaan atas tuhan-tuhan palsu diajarkan Nabi Ibrahim masih relevan sampai masa kiwari.

Dalam konteks bangsa-bangsa dunia, tuhan-tuhan palsu sering menjelma ke dalam berbagai bentuk dan dimensi, salah satunya penjajahan politik dan budaya.

Korban Kemerdekaan

Bangsa Indonesia diakui sebagai negara merdeka berkat jasa pahlawan-pahlawannya. Baik tidak tercatat maupun disebut-sebut dalam buku sejarah, pejuang kemerdekaan silam telah mengorbankan seluruh dirinya kepada bangsa ini. Sulit dibayangkan bagaimana besarnya cinta mereka kepada bangsa ini sampai rela berkorban demi kemerdekaan Indonesia. Satu hal bisa dipetik dari pengorbanan pejuang kemerdekaan, yakni kerelaannya melepas apa yang paling dicintainya kepada bangsa ini: nyawa dan segala apa yang mereka miliki.

Pejuang kemerdekaan silam enggan dijajah melalui kepemimpinan politik dan budaya asing. Mereka sadar betul tidak ada kekuasaan patut direlakan selain kekuasaan politik bangsa sendiri. Kesetiaan kepada tanah air sendiri tidak sebanding kerelaan kepada penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan hakiki bukan hidup dalam naungan bangsa asing, melainkan bangsa yang dapat menentukan sendiri nasib dan takdir kebangsaannya.

Takdir kebangsaan Indonesia ditandai dari beragam suku, bangsa, dan agama. Secara geografis takdir kita hidup dipisah lautan antar pulau-pulau. Begitu pula di masa depan tidak bisa dielakkann bangsa ini mengalami ledakan populasi akibat bonus demografi. Seluruh takdir ini mau tidak mau melahirkan beragam perbedaan dan keanekaan. Dengan kata lain, sudah takdirnya bangsa Indonesia beragam dan  berbeda satu sama lain.

Tidak akan berubah nasib suatu kaum tanpa kaum itu sendiri mengubahnya. Ini juga merupakan takdir Tuhan bahwa segala hal bisa berganti ketika ada kemauan untuk berubah. Agustus adalah hasil ikhtiar bangsa Indonesia memilih untuk merdeka. 

Rakyat Indonesia silam telah menentukan takdirnya melalui kemampuan mengubah penjajahan menjadi kemerdekaan.  Akan lain ceritanya jika seluruh peristiwa perjuangan Indonesia silam tidak memilih mengubah nasibnya. Kemerdekaan hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Sekarang perjuangan Indonesia adalah perjuangan mengelola perbedaan, keanekaan, dan kemajemukan.  Manusia Indonesia harus keluar dari cangkang egonya demi memupuk kemerdekaan atas sesama. Manusia Indonesia harus pandai-pandai berkorban demi kemajemukan status sosial, peran, dan keyakinan agama. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, atau para pejuang kemerdekaan: rela melapangkan sesuatu yang dinginkan egonya. Memerdekakan diri dari penjajahan ego demi bangsa dan negara.

Telah tayang di Geotimes.go.id


19 Agustus 2019

Khotbah


PERTANYAAN. Pertanyaan yang baik adalah sebagian dari ilmu.

Tapi, kiwari, di majelis-majelis keagamaan, yang gandrung merebak di masjid-masjid, mungkin lupa hadis Rasulullah di atas.

Di majelis-majelis itu, pertanyaan yang datang kadang hanya permainan belaka. Atau bisa jadi berupa gimmick semata. Sengaja dipesan entah oleh siapa yang kita tak tahu wujudnya, untuk memancing, untuk merebut perhatian.

Atau, karena ia bakal tersiar di kanal-kanal sosial media, bakal menarik pendapatan adsense.

Pertanyaan lewat secarik kertas itu memang membuat waktu jadi efisien, ia bisa langsung sampai di atas mimbar. Tapi sesungguhnya malah memangkas ihwal yang intim.

Sang da'i tidak bakal tahu siapa sesungguhnya yang bertanya. Ia tak tahu raut muka si penanya. Bagaimana gesture rupanya, intonasi suaranya, gerakan tangannya.

Dengan kata lain, sang da'i tidak bakal menangkap kesungguhan si penanya. Seserius apakah ia mencari tahu.

Dalam kondisi demikian, kita sulit menangkap siapa sebenarnya yang sedang memegang kendali. Di layar kaca, si da'i bagai orang yang sedang memegang kontrol forum. Ia lihai menjawab pertanyaan membangun argumen dengan mengikutkan prasangka. Di atas forum ia-lah pusat perhatian.

Tapi, siapa yang bakal mencari tahu, siapa yang bertanggung jawab berada di belakang panggung. Yang mengendalikan alur masuk pertanyaan. Memilah-milah kertas pertanyaan mana yang layak naik, mana yang sekadar sensasi belaka.

Di majelis keagamaan, lantaran ia bukan forum layaknya pertemuan ilmuwan, tidak ada proses sortir demikian. Siapa saja bisa bertanya, seaneh apapun jenis pertanyaannya.

Malangnya, entah sudah dipikirkan matang-matang, si da'i, yang seharusnya menjadi palang pintu terakhir penyortiran, di banyak kasus juga gagal memilih bijak.

Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan bernada sinis, mengejek, melecehkan, mendeskreditkan, jadi ajang si da'i membabat habis semua jenis pertanyaan. Ia berubah seolah-olah mesti bertanggung jawab atas semua pertanyaan dengan menjawab semuanya. Padahal ia lupa, ia punya pilihan, punya pertimbangan yang mana pertanyaan yang ia layak tolak mentah-mentah.

Sampai di sini, majelis-majelis pengajian di layar kaca itu membuat kita curiga, seberapa seriuskah jamaah-jamaah itu berniat memperdalam agamanya. Seberapa bijakkah da'i-da'i itu menanggapi pertanyaan yang kerap melecehkan.

Malah bahkan, pertanyaan-pertanyaan yang datang ibarat memancing di air keruh.

Kiwari dunia layar kaca mengubah segalanya menjadi hiburan. Setiap konten seserius apa pun itu bakal diset seperti pertunjukkan. Ada fokus kamera, sorot layar, pembesar suara, pengaturan cahaya, penonton bayaran...

Itulah sebab, sebagaimana hiburan, di majelis pengajian itu perlu glorifikasi dan kemeriahan. Bahkan ia perlu seorang aktor yang mampu menyedot penonton. Dan jika mesti, ia perlu bermain adegan dramatik agar menjaring nama.

Tapi, karena ia telah menjadi hiburan membuat kita mesti was-was. Mesti bertanya-tanya: sudah semurah itukah agama hari-hari ini? Bahkan, dengan jenis pertanyaan murahan karena salib?


10 Agustus 2019

Mengapa Mereka Begitu Pandai Merazia Buku?


SAYA tiba-tiba merasa menjadi orang goblok selama 17 detik melihat sekumpulan orang yang merazia buku. Mereka gagah berdiri bebas memegang buku yang dianggap mampu meracuni pikiran orang banyak. Merekamnya dengan gawai canggih tanpa rasa was-was. Pose mereka ini mirip dengan calon guru besar yang hendak mendatangi podium pengukuhan. Menenteng buku-buku sampai membutuhkan asisten berkaca mata.

Saya menduga mereka sudah melakukan penelitian berhari-hari, berbulan-berbulan, atau bertahun-tahun, atau beribu-ribu tahun sampai abad pertengahan bahwa buku  memiliki pengaruh langsung terhadap bentuk pemikiran orang-orang. Seolah-olah teks memiliki akses langsung mengubah paradigma seseorang.

Padahal antara buku dan jaringan sinapsis dalam sistem saraf manusia mesti melewati bermiliar-miliar terminal jaringan untuk sampai menerbitkan pemahaman.

Membaca adalah peristiwa yang kompleks. Jarak antara teks dan kesadaran manusia begitu panjangnya. Apalagi rangsangan-rangsangan syaraf ini dialiri kejutan-kejutan listrik yang luar biasa banyaknya.

Buku tidak selamanya menentukan jenis pemahaman. Tidak selamanya memberikan warna pemikiran.

Tapi mau bagaimana lagi. Kita sedang menghadapi  orang-orang yang diberi kewenangan istimewa. Tanpa surat pengantar pengadilan pun mereka dapat terdorong berarak menuju rak-rak buku. Kewenangan gerombolan ini lebih dahsyat dari sekompi tentara. Tanpa mesti berseragam loreng ilham mereka berhasil membuat gentar anak-anak muda yang ingin mengembangkan wawasannya.

Mereka adalah para wakil ilmu pengetahuan yang lebih paham dari kita, yang membutuhkan dua kali putaran jam hanya untuk menyelesaikan bacaan sebuah buku.

Buku yang mereka pegang itu sudah menunjukkan gelagat intelektuil dan visioner. Mereka telah berkumpul dan berembuk mengulas kata demi kata, tanda baca dari tanda baca, paragraf demi paragraf, bahwa buku bergambar seorang pria dari masa silam masih bergentayangan di langit-langit persada.

Jadi, berterima kasihlah kepada mereka. Jibaku mereka telah memangkas rentetan panjang suatu alur intelektualitas, dari membaca, berdiskusi, berdebat, dan menyimpulkan, mengenai tradisi intelektual. Merekalah avant garde peradaban yang telah memutuskan takdir ilmu pengetahuan masyarakatnya. Menentukan pengetahuan apa yang layak diketahui setiap manusia.

Beberapa hari sebelumnya, mereka juga bekerja dengan baik menentukan apa yang pantas dikonsumsi orang-orang. Babi sekalipun adalah daftar pertama yang tidak layak dipajang di etalase pertokoan. Jika pun harus, setelah memastikan kebersihan udara dan penciuman dari aroma Babi, mereka akan berencana mengecek satu-satu mulut orang-orang yang ditemui. ”Sedang mengunyah apakah Anda?”

Mulut dan otak adalah bagian penting yang mesti suci. Mereka tidak peduli di mulut orang-orang banyak bakteri yang bertugas menghancurkan makanan. Mereka juga tidak peduli otak adalah satu organ/benda yang sampai hari ini menyimpan misteri peradaban. Satu saja keyakinan mereka, mulut dan otak harus steril dari babi-babi komunisme.

Kepandaian kelompok ini lebih imajinatif dari Don Quixote. Don Quixote sejenaka-jenakanya ia, masih menyandarkan imajinasinya kepada buku-buku petualangan ksatria. Tidak lama setelah itu ia berubah menjadi ksatria pengelana dan melihat segala hal dari kacamata seorang ksatria. Dalam keyakinannya, kincir angin yang ditemui adalah monster yang harus diterabasnya.

Sementara kelompok ini melampaui teks dan konteks. Kesadaran mereka tidak berjejak di literatur mana pun. Seolah-olah mereka ini diciptakan kembali oleh zaman ini dari masa ketika pengadilan Socrates terjadi. Dengan cerdik mereka katakan, buku hanyalah penipu ulung yang menyesatkan. Dan zaman ini harus dikembalikan seperti saat kitab-kitab suci pertamakali dituliskan.

Ketakutan mereka adalah ketakutan atas kekosongan. Ketakutan mereka bukan jenis yang lahir dari dialektika pemikiran, apalagi datang dari bacaan buku-buku. Keberaksaraan mereka tidak pernah berkembang kemana-mana. Jika ada yang disebut buta huruf fungsional, merekalah orangnya.

Kepandaian inilah yang mendorong mereka menggemakan takbir di mana-mana sebagai tanda kemenangan. Walaupun sulit mereka terima, dalam takbir itu marwah agama yang menurunkan firman pertamanya dengan perintah membaca sedang jadi lelucon di tangan mereka sendiri. Sungguh kecendekiawanan mereka gamblang dapat diukur dari hal-hal semacam ini. Islam manakah yang mereka amalkan sebenarnya!

Itulah sebabnya, seperti ungkapan Voltaire yang tidak mereka kenali kiprahnya: di hadapan uang agama semua orang sama. Jangan-jangan mereka-mereka ini adalah satu sel yang bergerak bersama atas kepentingan tertentu. Merangsek toko-toko buku, forum-forum, seminar-seminar, lapakan-lapakan, komunitas-komunitas yang mampu melahirkan pemikiran kritis demi lapangnya jalan keyakinan tertentu?

Tapi. Mungkin itu teori konspirasi! Tidak ada faedahnya dipikirkan.

Sudah saatnya jika Anda sampai di bagian ini, berpikirlah 45 detik lamanya kemudian pertimbangkan untuk hijrah dari kebiasaan mengecam mereka, apalagi mengutuk perbuatannya. Sudah saatnya kita yang demikian jahanam di mata mereka, berbalik arah dan menyumbangkan semua buku-buku yang dimiliki. Itulah tanda kemerdekaan manusia seperti kita ini oleh sebab merekalah satu-satunya palang pintu ilmu pengetahuan dengan menutup jendela ilmu yang lain. Kepada merekalah nasib bangsa ini diwariskan.

Dalam kehidupan, kiprah mereka ini terlampau suci dituliskan dalam sejarah peradaban yang karut marut ini. Oh Tuhan, mengapa mereka begitu pandai merazia buku?


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...