28 Agustus 2018

Membela Suara Meiliana


Erich Pinchas Fromm. 
Seorang Psikolog sosial, 
psikoanalis, sosiolog, dan filsuf berkebangsaan Jerman. 
Fromm  dikenal dengan pandangan Psikologi humanistiknya

Malangnya, becermin dari kasus ibu Meiliana, wanita asal Tanjung Balai, Sumut yang dihukum 18 bulan bui karena mengeluhkan volume azan di masjid, jangan-jangan religiusitas yang kita perjuangkan selama ini adalah jenis religiusitas yang angkuh. Namun juga sekaligus ringkih.

Religiusitas yang angkuh, entah bagaimana caranya, seolah-olah melenyapkan suatu ciri yang sudah menjadi tulang sumsum bangsa kita: kepedulian.

Dulu kepedulian itu senantiasa dipegang sama-sama, dipikul  di atas pundak bersama yang kiwari sudah kedengaran klise: tenggang rasa.

Tapi, kini semuanya kian menegang.

Semua dimulai dari suatu keyakinan yang monolitik. Suatu jenis pandangan agama yang berdiri di atas menara-menara gading dan bukan didudukkan di dalam rumah-rumah sesama.

Sudah merupakan hukumnya, di atas ketinggian, apa pun menjadi kecil. Bahkan, suara-suara hilang dibawa angin. Di ketinggian, seseorang bakal lupa diri.

Alkisah, hiduplah seorang muazin nun jauh di suatu negeri. Melalui azan, ia terobsesi menyiarkan Islam di negeri orang kafir. Tapi sayang suaranya cempreng. Dengan percaya diri, sampai juga suaranya ke telinga seorang wanita yang sedang tertarik mempelajari Islam. Lantaran penasaran bertanyalah sang wanita kepada ayahnya yang kebetulan seorang pendeta:

“Suara jelek apakah ini, Ayah?”

“Ini panggilan orang Islam untuk melaksanakan ibadah shalat, Nak,” jawab sang Ayah.

“Alangkah buruknya cara mereka memanggil kaumnya beribadah.”

Mendengar ucapan anaknya itu sang ayah yang sebelumnya khawatir anaknya masuk Islam lantas menjadi senang.

Di kisah itu, seperti sudah diketahui endingnya, sang gadis urung masuk Islam lantaran suara cempreng sang muazin. Sementara sang muazin berbangga diri merasa sudah melakukan perbuatan terpuji. Menyiarkan Islam di seantero negeri kafir.

Memang niat saja tak cukup. Yang tidak kalah utama adalah cara bagaimana niat itu direalisasi.

Terkadang banyak salah mengira tindakan dengan niat baik otomatis melahirkan perbuatan baik pula. Padahal, beda niat berbeda pula tindakan. Niat mungkin saja baik tapi belum tentu dengan caranya.

Mungkin, kini suara sang muazin itu bisa jadi adalah suara kita yang kerap merasa jemawa. Barangkali adalah hasrat kita yang kita letakkan di atas ketinggian bukit-bukit ego tanpa sedikitpun mau menyadari betapa seringkali iman kita ternyata memangkas sesuatu yang berbau kejamakan.

Namun, begitulah adanya. Iman yang berpas-pasan dan tumbuh di zaman ini memang kerap menjelma menjadi iman tanpa kepedulian sosial. Iman yang individualistik, dan bahkan formalistik.

Bukankah iman sebenarnya adalah sesuatu yang mengandung cinta. Unsur yang tidak terjebak bentuk-bentuk formal. Senyawa yang menurut Erich Fromm, scholar ilmu jiwa dapat menghidupkan empat gejala manusia: care (kepedulian), responsibility (bertanggung jawab), respect (penghormatan), dan knowledge (ilmu pengetahuan).

Dengan empat gejala ini, cinta tidaklah seperti yang dibayangkan orang-orang, buta dan nyaris tanpa akal sehat.

Kepedulian adalah gejala pertama cinta. Kepedulianlah yang rela membuat pemeluk agama mau mengorbankan sesuatu terhadap sesamanya. Kepedulian bahkan menjadi salah satu nafas utama dari religiusitas agama-agama di muka bumi.

Kedua adalah tanggung jawab. Misi agama-agama adalah melahirkan manusia-manusia yang bertanggung jawab berdasarkan posisi dan perannya secara individual maupun sosial. Rasa tanggung jawab tidak akan mungkin lahir kalau sebelumnya tidak diikutkan dari kepedulian antara sesama.

Ketiga, dalam Islam ada pengakuan terhadap pemeluk agama lain yang bersumber dari surah Al Kafirun ayat 6 yang berbunyi: “Lakum diinukum waliyadiin” (Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku). Tidak saja pengakuan, ayat ini juga bermakna pentingnya penghormatan kepada pemeluk agama lain ketika menjalankan keyakinannya.

Ilmu pengetahuan adalah gejala terakhir dari cinta. Artinya cinta mustahil menempatkan seseorang di dalam lorong kegelapan. Cinta dengan sendirinya mencerahkan. Melalui ilmu pengetahuan, atau sebaliknya, cinta, membuat seseorang mengalami pencerahan. Dengan kata lain, barang siapa mencintai, cintanya membuatnya terbebas dari kejahiliyaan.

Akhir kata, apabila konsep iman demikian dipraktekkan dalam kehidupan ril, besar kemungkinan tidak akan muncul kasus-kasus seperti yang menimpa ibu Meiliana di Tanjung Balai. Semoga.

23 Agustus 2018

Merdeka dari Kebencian

Mohammad Natsir. Pemikir dan Pendiri Masyumi
Perdana Menteri dalam pemerintahan Soekarno pada 1950. 
Perselisihannya dengan Soekarno mengenai Islam dan Sekulerisme 
masih sering mewarnai pembicaraan ideologi saat ini

Akhir Desember 2015, BBC melaporkan, di tahun yang sama adalah tahun kebencian bagi Inggris. 2015: The Year that Angry Won The Internet, begitu bunyi judulnya. Laporan itu merujuk data-data  yang dikeluarkan Demos, suatu lembaga think tank di Inggris yang merata-ratakan 480 ribu pesan berisi kebencian ras di tweet-kan melalui Twitter tiap bulan pada tahun 2015.

Jika beradasarkan hitungan Demos, di Inggris, dalam satu tahun rata-rat ada 5.760.000 ujaran kebencian beredar melalui Twitter. Hitung-hitungan ini akan jauh lebih besar kalau mengikutkan platform media sosial lain dan arus penyebarannya. Tidak bisa dibayangkan betapa besarnya arus kebencian yang malangmelintang dari hari ke hari melalui dunia maya.

Masih mengacu BBC, api pemicu ujaran kebencian itu adalah ujaran-ujaran rasial anti muslim, terorisme, pengungsi timur tengah, dan juga kelompok-kelompok perempuan dan Yahudi. Yang menarik dari laporan itu, sebagian besar ujaran kebencian tidak lagi menggunakan akun-akun palsu, melainkan terang-terangan menggunakan akun asli. Laporan BBC menulis, “banyak orang merasa kebencian mereka dapat diterima dan nyaman mempostingnya dengan nama asli atau akun media sosial reguler mereka."

Apa yang terjadi di Inggris, setidaknya menunjukkan dua hal: pertama, dari hari ke hari, kebencian berbau SARA semakin meningkat seiring massifnya penggunaan media sosial. Kedua, mengingat sebagian banyak waktu masyarakat dihabiskan di dunia maya, bukan tidak mungkin, kebencian yang sering mengemuka di dunia online adalah cermin perilaku masyarakat di dunia sehari-hari.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia sendiri hemat saya belum ada data khusus merekam perkembangan ujaran kebencian di dunia online. Walaupun demikian, fenomena kebencian semakin mengemuka semenjak munculnya kubu haters dan lovers  setelah pilpres 2014 lalu. Setelah momen pilpres 2014, fenomena kebencian di dunia maya ibarat bola salju, terutama di momen-momen politik semisal pileg dan pilkada.

Melihat trend ini, bagi bangsa Indonesia, bisa jadi tahun 2018 berganti menjadi tahun kebencian di samping tahun politik. Apalagi bukan saja di arena politik, di arena keagamaan dan kebudayaan timbul gejala yang sama seperti ditandai dari ujaran kebencian dengan kode sosial semisal “penista agama”, “cebongers”, “bani taplak”, “kaum bumi datar”, “kaum liberal”, “komunis” dlsb.

Fenomena kebencian semacam ini ditilik secara sosiologis adalah hasil konstruksi sosial yang berkembang seiring timbulnya mobilisasi dari “agen sosial” sebagai produsennya.

Menurut Gordon dalam Peterson (2005) emosi berupa kebencian dapat terbangun melalui kesadaran sosial secara kolektif melalui jaringan informasi dan teknologi. Dalam kasus ini, berdasarkan penjelasan Gordon, ungkapan kebencian yang merajalela terdorong ulah “social warriors” sebagai agen hingga massif menyebar.

Lalu siapakah “agen sosial” yang dimaksud? Tiada lain mereka yang selama ini berkedudukan sebagai pengguna medsos yang sering kali memobilisasi orang-orang dengan ujaran kebencian apalagi hoaks melalui isu SARA.

Edi Santoso dalam artikel Pengendalian Pesan Kebencian (Hate Speech) di Media Baru melalui Peningkatan Literasi Media mengemukakan ada hubungan antara ujaran kebencian dengan tindakan kekerasan dalam hal ini genosida. Dimulai dari kata-kata berupa stereotyping atau informasi negatif bisa meningkat eskalasinya hingga pembumihangusan etnis tertentu. Ditilik dari analisis ini, bukan tidak mungkin sudah dan akan terjadi (lagi) di Indonesia.

Merdeka dari

Agustus bagi bangsa Indonesia adalah masa bersejarah sekaligus romantik. Bukan saja karena di bulan ini adalah bulan kemerdekaan, tapi juga di waktu yang sama Indonesia menandai dirinya menjadi bangsa yang kian dewasa. Ibarat usia manusia, menginjak 73 di tahun ini adalah usia yang sudah matang. Seperti seorang sepuh, Indonesia sudah banyak menimba saripati kehidupan.

Namun, melihat kembali fakta-fakta di atas, masih menjadi pekerjaan berat bagi Indonesia dari perilaku warganya yang diselimuti kebencian. Pekerjaan ini akan kian berat terutama akan tampak di momen menjelang pilpres nanti. Umur Indonesia boleh kian bertambah, tapi apakah menjamin kedewasaan warganya?

Lalu apa makna kemerdekaan bakal warga Indonesia rayakan 17 Agustus nanti? Secara romantik sudah tentu merayakan kebebasan dari penjajahan bangsa asing. Mengkhidmati perjuangan pahlawan terdahulu dari agresi kolonialisme, dan ikut serta merasakan betapa susahnya mempertahankan sejengkal tanah pertiwi dari kaki-kaki bangsa penindas kala itu.

Sekarang, seharusnya, salah satu perjuangan warga Indonesia adalah melawan kebencian dari saudara setanah air sendiri. Mengembalikan makna warga negara yang berhak mendapatkan penghargaan sesamanya. Bukan saling menghujat dan menjelek-jelekkan sampai membentuk spiral kebencian di dunia nyata maupun online.

Masa lampau, kebencian kepada penjajah dikelola oleh tangan-tangan cerdas nan bijak. Untuk menyebut beberapa semisal, Sukarno, Moh. Hatta, Agus Salim, Moh. Natsir, dlsb. Para pejuang kemerdekaan tidak menjadikan kebencian terhadap bangsa asing tanpa pencerahan. 

Dengan kata lain, secara kebangsaan, kebencian dari warganya dididik, dibimbing, dan ditransformasikan menjadi aksi positif mempertahankan ibu pertiwi. Puncaknya, emosi kolektif yang sudah tercerahkan terakumulasi dengan matang pada 17 Agustus 1945 lalu.

17 agustus nanti, menghayati makna sejarah kemerdekaan, mari memerdekakan diri dari kebencian. Dari penjajahan sesama saudara sendiri.

---

06 Agustus 2018

Pad Man: Melawan Kemiskinan dengan Pembalut


Data Film:
Sutradara : R. Balki
Genre : Biografi, drama, komedi
Cast : Akshay Kumar, Sonam Kapoor, Radhika Apte
Durasi : 140 menit
Tahun rilis : 2018
Studio : Grazing Goat Pictures
Rating : 8.2/10 (IMDb), 100% (Rotten Tomatoes)

LAKSHMIKANT Chauhan dilanda kegalauan setiap istrinya memasuki masa haid. Gayatri, Istrinya, lebih memilih memakai kain lap sebagai pembalut. Kegalauan Lakshmi semakin menjadi-jadi lantaran setiap kali haid, setiap itu pula istrinya menggunakan kain yang sama sebagai penggantinya. Hingga suatu hari, dengan uang pinjaman, Lakshmi membelikan pembalut untuk istrinya. Bukannya berterima kasih, lantaran mahal, Gayatri malah menolak pembalut pemberian suaminya.

Didorong kegundahan melihat polah istrinya dan kehidupan yang dililit kemiskinan, Lakshmi bereksperimen membuat pembalut dari mesin sederhana yang diciptakannya sendiri. Setelah melalui beberapa percobaan Lakshmi kembali membujuk istrinya menggunakan pembalut buatannya. Tidak diduga sebelumnya, untuk kesekian kalinya, istri Lakshmi menolaknya.

Begitulah secuplik cerita film Pad Man yang dibintangi Akshay Kumar dan Sonam Kapoor adaptasi kisah nyata Arunachalam Muruganantham, aktivis sosial yang kini menjadi pengusaha di India. Film yang disutradai R. Balki ini mengisahkan suatu tema unik yang selama ini menjadi tabu dan hanya dibicarakan diam-diam oleh perempuan-perempuan India: menstruasi.

Penyakit dan Selimut kemiskinan

Tulang punggung film ini ada pada harapan Arunachalam Muruganantham (diperankan Akshay Kumar sebagai Lakshmikant Chauhan) agar istrinya (diperankan Radhika Apte sebagai Gayatri), termasuk perempuan-perempuan India memerhatikan kesehatan ketika tiba masa haid dengan menggunakan pembalut yang lebih higienis daripada kain lap. Harapan Muruganantham bukan tanpa sebab karena memakai kain lap saat menstruasi dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit hingga mengancam rahim perempuan terserang virus dari kain yang kotor.

Menurut laman berita BBC, survei 2011 yang dilakukan AC Nielsen oleh pemerintah India, menemukan bahwa hanya 12 % wanita di seluruh India menggunakan pembalut wanita. Sementara menurut data USAID dalam artikel yang ditulis Abijan Barua di laman KBR.id, sekitar 80 persen perempuan India hanya menggunakan potongan kain ketika menstruasi. Selama berkali-kali kain itu tetap dipakai dengan dicuci menggunakan air dingin, dan dipakai ketika masih lembab. Ini menyebabkan infeksi dan luka berkembang biak.

Hal itulah yang menyebabkan, seperti dikutip dari  Detik Healt, 70 persen dari semua penyakit reproduksi di India disebabkan kebersihan menstruasi yang buruk. Bahkan ada yang sampai berujung kematian. Hal ini karena selain menggunakan kain lap, perempuan-perempuan India, juga menggunakan pasir, daun, serbuk gergaji, bahkan abu sebagai pengganti pembalut.

Fenomena di atas seperti tampak dari adegan-adegan Padman, hanyalah efek dari situasi ekonomi masyarakat miskin India. Perempuan-perempuan di India, sengaja menggunakan kain lap karena tidak mampu membeli pembalut akibat selimut kemiskinan.

Di tengah-tengah keadaan ekonomi yang buruk, Pad Man dengan terang mengangkat pula kehidupan budaya perempuan India yang disekap pandangan dunia tradisional. Seperti diperagakan melalui adegan-adegannya, selama mens, perempuan-perempuan di desa Muruganantham harus menjalani suatu prosesi unik berupa hidup terpisah di beranda khusus menyerupai sepetak kamar. Kamar itu disusun dari sekat-sekat kayu menyerupai penjara yang diisi satu tempat tidur khusus dan tali jemuran untuk mengeringkan pakaian dan kain lap pembalut.

Kebiasaan di atas menurut  aktivis perempuan, Swapna Tripathi, dikutip dari artikel Abijan Barua dalam situs KBR.id, karena pola pikir tradisional yang menyebut para perempuan seharusnya merasa malu jika sedang mens sehingga harus tinggal terpisah.

Bahkan rasa malu karena masa haid berdampak pula kepada dunia pendidikan, terutama bagi para remaja perempuan. Esai Istri pangeran Harry, Meghan Markle seperti dilaporkan Tabloid Bintang dari laman Time mengungkapkan, perempuan-perempuan remaja yang telah memasuki masa haid merasa malu karena menganggap tubuh mereka dihuni mahluk jahat dan menjadi “kotor” ketika haid. Akibat hal ini banyak perempuan-perempuan remaja yang tidak ingin bersekolah saat haid.

Pemberdayaan perempuan

Hanya karena menstruasi istrinya, Arunachalam Muruganantham yang diperankan Akshay Kumar mengembangkan teknologi sederhana berupa mesin pembuat pembalut. Tidak lama setelah bertemu Rhea (Sonam Kapoor) yang mengikutkan alat temuannya pada ajang inovasi teknologi, seperti dikisahkan, Lakshmi berhasil menyabet penghargaan presiden berkat mesin temuannya.

Setelah menolak alat temuannya dikomersilkan dan diberi hak paten, dalam adegan, Lakshmi justru berkeinginan setiap perempuan dapat memiliki alat yang sama secara gratis. Mulai dari itulah, pelan-pelan bersama Rhea, Lakshmi mengembangkan mesinnya dengan melibatkan dan melatih perempuan-perempuan di desanya membuat pembalut.

Apa yang diusahakan secara kolektif dalam adegan-adegan film ini bersama perempuan-perempuan di desanya sebenarnya adalah usaha kritis untuk memberdayakan perempuan. Di samping mengkampanyekan bahwa masa menstruasi adalah hal yang normal, pemberdayaan perempuan melalui pabrik mini yang mereka ciptakan ikut serta membantu perekonomian keluarga-keluarga miskin di desanya dengan cara menjual pembalut buatan sendiri dengan harga yang lebih terjangkau.

Dari desa untuk dunia

Usaha Muruganantham bukan tanpa hambatan. Ketika pertama kali membuat pembalut ia ditentang istrinya sendiri karena ikut campur urusan perempuan. Perlu diketahui, di India, karena tradisi sangat tabu membicarakan masalah menstruasi apalagi bagi lelaki. Menstruasi dianggap tema pembicaraan yang tidak layak dibicarakan secara publik sekalipun dalam skala rumah tangga.

Itulah sebabnya, akibat sikap Muruganantham yang “keras kepala” ingin mencari solusi pengganti kain lap sebagai pembalut harus merelakan rumah tangganya hancur ditinggalkan istrinya. Bahkan, karena membuat malu keluarga besarnya, ia akhirnya harus pergi meninggalkan desanya setelah dihakimi secara sosial.

Tapi, niat Muruganantham sudah kepalang di atas ubun-ubun, usahanya membuat pembalut menarik minat dunia setelah ia berhasil memenangkan penghargaan inovasi dari presiden India. Diundanglah ia oleh PBB untuk membicarakan temuannya sekaligus perlawanannya melawan penyakit reproduksi yang disebabkan ketakutan menggunakan pembalut.

Berkat usahanya melawan mitos dan ketakutan seputar penggunaan pembalut, perlahan-lahan, dari desa ke desa, seiring berjalannya waktu mesin-mesin itu dapat menyebar ke 1.300 desa di 23 negara bagian.

Kini lelaki yang masuk 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia menurut majalah Time 2014 lalu telah memproduksi alat temuannya untuk disebarkan bagi 104 negara-negara miskin termasuk Kenya, Nigeria, Mauritius, Philipina, dan Bangladesh.

Berkat tindakannya ini, Muruganantham digelari sebagai “pahlawan”. “Jika di Amerika punya Superman, Batman, atau Spiderman. Maka di India ada Padman,” Ungkap Amitabh Bachchan yang muncul sebagai cameo.

---

telah terbit di kalaliterasi.com

23 Juli 2018

Prasangka dalam Hermeneutika Gadamer

Perlu diketahui sebelumnya, prasangka dalam hermeneutika Gadamer bersifat netral sejauh itu dipahami sebagai perantara pemahaman manusia untuk memahami keadaan dan dunianya.

Bahkan dalam pikiran Gadamer prasangka memiliki kedudukan yang siginifikan lantaran tidak ada pemahaman yang terlepas dari prasangka. Prasangka dalam hermeneutika Gadamer, dari sifatnya demikian adalah “kaca mata” bagi seseorang untuk mengenali dan menggali dunia kehidupannya.

Secara konseptual Gadamer membagi dua jenis prasangka: pertama, prasangka yang legitim dan yang kedua, prasangka yang tidak legitim. Dua jenis prasangka ini mesti didudukkan ke dalam konsep Gadamer tentang otoritas dan tradisi.

Bagi Gadamer otoritas dan tradisi adalah dua komponen prasangka. Dengan kata lain tindakan memahami, dalam hal ini prasangka, berarti tindakan yang tidak mungkin lepas dari tradisi dan otoritas yang menyertainya. Pemahaman manusia dalam memahami sesuatu selalu dipengaruhi otoritas dan tradisi tertentu.

Gadamer mengambil contoh fenomena masyarakat Abad Pertengahan yang digerakkan otoritas dan tradisi Kekristenan di dalam membentuk horizon pemahaman masyarakat. Kasus Galileo, misalnya, adalah contoh bagaimana faktor otoritas dan tradisi Kekristenan melihat penemuan-penemuan Galileo sebagai hal yang menyimpang dari kepercayaan umum masyarakat gerejani.

Dari tilikan kebudayaan lokal, prasangka dapat ditemukan dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat berupa mitos asal usul, pandangan cksmologi, dan eskatologi  yang menjadi elemen dasar masyarakat ketika merepresentasikan kehidupannya. Melalui semua itu masyarakat mengidentifikasi serta mengelola interaksinya demi menunjang keseimbangan di dalamnya.

Sebagai misal masyarakat Bugis Makassar yang memprasangkai asal usul manusia dan kebudayaan pertama dari mitos I lagaligo. Atau juga masayarakat adat Kajang di bulukumba yang meyakini kebudayaan mereka dimulai dari kehadiran seorang yang bernama Ammatoa sebagai manusia pertama di dunia. Melalui kedua narasi mitos ini, dua kebudayaan yang disebutkan membangun prasangka yang menjadi sumber pemahaman mereka.

Berangkat dari persoalan otoritas di atas, Gadamer memberikan tilikan bahwa otoritas dan tradisi adalah sumber pemahaman yang menyerupai otoritas rasio di abad Pencerahan. Dengan kata lain, seperti kedudukan sains hari ini sebagai sumber pengetahuan, otoritas dan tradisi bagi Gadamer juga adalah sumber pengetahuan yang melandasi pemahaman manusia.

Tradisi sebagai sumber pengetahuan dicontohkan Gadamer melalui sains itu sendiri sebagai tradisi. Dalam hal ini sains dirawat melalui kebiasaan-kebiasaan ilmiah yang merupakan kaidah yang memberikan arah bagi proses pencarian kebenaran. Kebiasan-kebiasaan ilmiah ini menurut Gadamer adalah tradisi yang dimiliki sains seperti yang ditunjukkan melalui tradisi riset.

Melalui hal-hal di atas, nampak jelas bahwa hermeneutika Gadamer menjadikan prasangka melalui otoritas dan tradisi sebagai komponen yang senantiasa menyertai pemahaman. Dengan kata lain, melalui prasangka menurut Gadamer justru memungkinkan terjadinya pemahaman. Melalui dua komponen prasangka, yakni otoritas dan tradisi itulah sang pembaca teks mesti membedakan yang mana prasangka yang legitim dan prasangka yang tidak legitim.

Hermeneutika Gadamer adalah jenis hermeneutika produktif dalam pengertian manusia memiliki peluang untuk membentuk pemahaman baru dari teks yang ditafsirkannya. Tujuan ini tidak sama sekali berarti sang penafsir keluar dari otoritas dan tradisi yang melingkupi pemahamannya. Sang penafsir karena bagi Gadamer adalah orang yang hidup di dalam tradisi dan otoritas, tidak mungkin keluar dari kedua komponen pemahaman yang dimaksud. Dengan kata lain, pemahaman bagi Gadamer adalah peleburan dari apa yang dia sebut horizon-horizon tradisi, otoritas, dan penafsir itu sendiri.

Implikasi kedudukan manusia yang berada dalam sejarah berarti tidak ada pengetahuan yang bersifat objektif selain dia merupakan terbentuk dalam konteks sejarah tertentu. Manusia di dalam sejarah berarti juga kebenaran itu tidak diterima dari luar sejarah, melainkan hasil dari interaksi sang penafsir dengan perjumpaan-perjumpaan yang dialaminya dalam sejarah dan bergerak dalam ruang dan waktu.   

16 Juli 2018

Kisah Dawuk: Menggugat dengan Dongeng




Narasi Dawuk dibuka dengan gugatan dari seorang dikenal sebagai tukang kibul: Warto Kemplung. Tokoh pendongeng yang sering mangkal di warung kopi tanpa modal dan lebih mengandalkan hasil “rampasan” rokok dari orang-orang yang berhasil ia pancing untuk mendengarnya. Lalu cerita apa yang dikisahkan Warto Kemplung? Di sinilah awal mula novel ini memainkan rasa penasaran pembacanya.

Tapi, pertama-tama mari kita nilai sedikit siapa Warto Kemplung mengingat narasi novel ini disanggah oleh cerita yang ia kisahkan.

Warto Kemplung adalah seorang bekas TKI yang berhasil memiliki teman seorang pejabat di negeri Jiran tempatnya bekerja. Lantaran kisah-kisah perjuangan yang ia ceritakan, membuatnya dekat dengan mantan majikannya dan berhasil mendapatkan nomor pribadinya. Peristiwa ini terjadi ketika ia menjadi tukang renovasi rumah yang kebetulan adalah rumah sang pejabat. Di sela-sela istirahat Warto Kemplung sering menceritakan cerita-cerita seorang tokoh yang berasal dari negerinya. Saat itulah sang pejabat sering mencuri dengar kisah si Warto dan mulai tertarik mengikuti kisahnya. Itulah awal bagaimana mereka berdua bisa dekat.

Lalu kenapa Kemplung menjadi nama belakang si Warto? Akibat kemahirannya bercerita sampai kadang ceritanya dinilai tidak masuk akal sehingga disangka bohongan belaka. Si pembual, itulah julukan si Warto dengan “Plung” sebagai nama panggilan pendeknya. Warto Si pembual begitulah arti namanya.

Dengan arti nama seperti itu, di sinilah pertaruhan novel ini: seolah-olah kisah Dawuk adalah narasi yang ditopang oleh sejenis rasa tidak percaya dan aura “kebohongan”. Bagaimana mungkin seseorang dapat memercayai cerita dari seorang yang sering kali dianggap sebagai pembohong? Walaupun benar, apakah kebenaran itu akhirnya akan dianggap sebagai kebohongan hanya karena diucapkan oleh seorang yang kredibilatasnya diragukan?

Di titik inilah, novel ini berusaha mengingatkan pembacanya dengan situasi zaman sekarang di mana fakta dan fiksi berbaur sulit dibedakan. Ketika benar dan salah saling mengisi kepercayaan dengan caranya yang tidak pernah dibayangkan.

Dalam pribadi Warto Kemplung kebenaran fakta dan narasi fiksi sulit dipisahkan mengingat kredibilitasnya yang dijuluki si pembual. Walaupun demikian kisah yang diceritakannya merupakan “fakta historis” dari desa Rumbuk Randu. Tapi tetap saja, niat tulusnya untuk mengungkap kebenaran di desanya menjadi muskil mengingat setiap warga Rumbuk Randu “bersepakat” menyembunyikan sejarah yang mereka ketahui bersama.

Dari sudut ini, keberadaan Warto Kemplung ibarat catatan kaki yang mengingatkan pembaca kepada sejarah kelam negeri yang bernama Indonesia yang beberapa dekade dicoba ditutup-tutupi oleh pemerintah. (untuk ini Mahfud Ikhwan menulis: mahluk-mahluk malang dengan kemampuan mengingat sependek ikan sepat.)

Inti Dawuk adalah kisah tentang sepasang kekasih ganjil dengan latar belakang hidup yang demikian kontras: Mat Dawuk dan Inayatun. Mat Dawuk digambarkan sebagai pribadi buangan yang sejak kecil dianggap hina penuh celaan dan dianggap tidak ada oleh orang sekampungnya. Tumbuh menjadi anak pendiam dan misterius dengan wajah yang jelek bin mengerikan sehingga tidak ada yang sudi melihatnya. Demikian pula nasibnya yang terbilang jauh lebih jelek dari rupanya. Tapi biarpun begitu ketika dewasa ia menjadi seorang pembunuh dengan kekuatan tubuh kekar.

Sementara Inayatun adalah bunga desa yang lahir dengan paras rupawan. Semenjak kecil menjadi anak idaman semua ibu-ibu di Rumbuk Randu lantaran bukan saja mukanya yang jelita tapi bentuk tubuhnya yang berisi. Biarpun demikian menjelang dewasa, ia menjadi gadis badung yang suka berganti-ganti pacar. Kemudian dikenal sebagai gadis genit yang membuat hampir semua lelaki Rumbuk Randu ingin menidurinya. Inayatun adalah anak seoang tokoh agama di desanya.

Kisah percintaan Mat Dawuk dan Inayatun merupakan kisah yang tidak diinginkan siapa pun di desanya. Di Rumbuk Randu mereka berdua adalah aib yang mesti dienyahkan. Setiap warga Rumbuk Randu ogah menanggung keberadaan mereka berdua lantaran merasa tidak nyaman. Usut punya usut, perkawinan Mat Dawuk dan Inayatun mengulang sebuah kisah kutukan yang selama ini tidak disukai oleh semua warga Rumbuk Randu. Akibat itulah, ditambah dendam dua keturunan dan skenario pembunuhan, Mat Dawuk berusaha mereka binasakan dengan cara penyerbuan di suatu malam yang berdarah.

Melalui mulut Warto Kemplung-lah kisah berdarah nan pilu Mat Dawuk dan Inayatun dari Rumbuk Randu didedahkan. Warto Kemplung yang dinarasikan pengarang sebagai pencerita ulung nampaknya berusaha menghidupkan kekuatan dongeng yang semakin tersingkirkan dengan tradisi tulisan. Melalui kekuatan oral-ah kisah ini mengalir menelusup sampai ke telinga pendengarnya termasuk kepada seorang wartawan lokal bernama Mustofa Abdul Wahab yang dibuat penasaran tentang kisah dari Rumbuk Randu. Menariknya kisah ini selalui diceritakan di warung kopi, tempat kesukaan Warto Kemplung yang belakangan bernama Anwar Tohari.

Novel yang masuk penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, selain ditopang oleh pengisahan melalui cerita lisan, juga memiliki kekuatan suspense melalui kemampuan bercerita Warto Kemplung. Sampai akhirnya seorang bernama Mustofa Abdul Wahab yang seorang wartawan itu mengangkat kisahnya di koran lokal menjadi cerbung dan memunculkan seseorang bernama mengaku Mat dan teka-teki di akhir ceritanya.

15 Juli 2018

Radix Cordix

RADIX CORDIX. Akan lebih menyenangkan melakukan pekerjaan tetek bengek semisal menyemir sepatu, membuat kopi susu, atau melihat aneka produk di online shop walaupun sekadar cuci-cuci mata. Mengembangkan imajinasi ibarat seorang ibu pekerja di pagi hari atau membayangkan diri menjadi orang kaya yang dapat membeli segalanya, rasa-rasanya jauh lebih tidak menggelikan daripada menemukan dua orang di dunia maya berdebat saling menghujat lantaran beda keyakinan.

Setiap waktu meladeni orang-orang keras kepala di dunia maya sepertinya pekerjaan yang paling tidak membahagiakan.

Asu, memang!

Mungkin ada faedahnya meladeni orang-orang keras kepala yang sedikit-sedikit membawa agama sampai di dunia maya. Misalnya bikin sakit hati lawan bicara. Sepertinya ada kepuasaan hakiki jika lawan bicara mati kutu tidak mampu memberikan pendapat balik. Biasanya di titik ini, perbincangan semakin tidak logis. Status saling balas membalas akhirnya menjadi lebar ke mana-mana.


Eike tidak yakin ada faedah dari tindakan netizen yang sehari membesarkan urat leher hanya untuk meyakinkan orang tentang sebiji kebenaran. Walaupun berambisi menjadi nabi menyebar kebenaran, tapi jika itu dilakukan bersama orang-orang keras kepala, maka apa pun itu akan terpental begitu saja. Orang-orang keras kepala sekalipun jika diberikan pernyataan-pernyataan logis akan merasa apa pun yang diberikan kepadanya adalah pernyataan yang tidak layak diindahkan.

Di titik ini ada teori yang disebut Dunning-Kruger effect. Dalam psikologi istilah ini mengacu kepada gejala ilusif orang-orang yang menganggap dirinya sebagai sang ahli. Bahkan, mereka menganggap orang lain tidak berhak mengkonfirmasi keyakinan yang mereka imani. Inti teori ini adalah jika Anda menyatakan kesalahan seseorang, maka mereka semakin yakin bahwa yang mereka yakini akan semakin benar.

Ya. Semakin Anda menunjukkan letak kesalahan mereka, orang-orang keras kepala akan semakin yakin terhadap keimanannya.

Di dunia maya, eike banyak melihat contoh-contoh ini. Sudah sangat gamblang eike kira. Bahkan fenomena ini sudah menjadi seperti yang dinyatakan Tom Nicols sebagai fenomena matinya sang ahli (the death expertise), yakni banyaknya orang yang bermunculan untuk mengemukakan pendapatnya mengomentari pelbagai kejadian hanya dari satu dua buku, wikipedia, atau menurut "om google".

Dari contoh-contoh itu, kebenaran malah semakin kabur ditimpa egoisme, taklid buta dan emosionalisme. Justru yang nampak dipermukaan malah pertunjukkan superioritas kelompok menindas kelompok-kelompok yang berbeda paham. Apalagi di momen-momen politik seperti ini, justru konflik semakin tajam.

Tapi, apa sih tujuan dari hanya selain menampakkan superioritas atas iman, keyakinan, atau bahkan pengetahuan jika hasil dari saling balas komen itu hanya menjauhkan kita dari interaksi yang harmonis. Justru tidak produktif malah.

Banyak di antara kita memang yang tidak pernah dibesarkan dalam momen-momen dialogis. Bergesekan dalam tradisi berpikir. Dan tumbuh dalam lingkungan yang mengedepankan perbedaan. Sehingga, ketika diperhadapkan dalam dunia yang heterogen, orang-orang keras kepala akan merasa terancam dan bahkan akan saling mempertahankan apa yang paling mereka yakini.

Keyakinan sebagian kita memang dipandang sudah fix, complit, dan juga final. Iman ibarat tuhan yang eksis di luar sejarah, lepas dari pengaruh waktu dan tempat. Ia dilihat sebagai entitas yang murni tanpa sentuhan ikhtiar manusia.

Sehingga ibarat gedung yang sudah berdiri kokoh sudah tidak perlu lagi diutak-atik. Namun masalahnya, gedung yang sudah terlanjur berdiri sering kali tidak dibangun dari fondasi yang juga kuat, dari tatakan yang mengakar. Inilah masalahnya, gedung yang punya tiang-tiang tinggi tidak nampak berdiri kuat lantaran fondasi yang mudah guyah.

Tapi, ah sudahlah. Berdiskusi, apalagi berdebat dengan orang-orang yang seringkali jatuh kepada --meminjam istilah Jean Cauvin (dari namanya Calvinisme diambil)-- "radix cordix", justru tidak menerbitkan kesepahaman, apalagi kesalingpengertian. Malah justru kedongkolan. Sontoloyo, memang.

Mari, hanya kopi yang mempersatukan kita!

30 Mei 2018

Ramadan

PENGALAMAN puasa adalah pengalaman manusia menemukan otentisitas “sang aku”. Ia cara manusia membebaskan diri “dari” sesuatu dan “untuk” sesuatu. Agama menyebutnya  “sang aku” yang menahan  diri dari  godaan hawa nafsu, sekaligus juga untuk meraih apa yang dibilangkan agama sebagai puncak puasa: takwa.

Dengan kata lain, puasa adalah mekanisme  diri untuk kembali ke keaslian parasnya dengan taqwa sebagai puncaknya.

Mengupayakan keotentikan diri selama berpuasa sepadan dengan bunyi hadis qudsi yang mengatakan barang siapa mengenal dirinya dia mengenal Tuhannya. “Sang aku” yang ril disebutkan ceruk yang mampu membawa pemahaman manusia  mengenal siapa Tuhannya. Dari sang diri yang otentik, manusia dapat membangun kontak dengan Tuhannya. Bahkan diri yang otentik adalah tempat pancaran Tuhannya.

Barangkali karena itulah ramadan berarti membakar. Itulah juga arti selama berpuasa segala kecenderungan yang bersumber dari ego individual dihilangkan dengan cara berpuasa. Ibarat membakar logam untuk menemukan emas murni. Puasa adalah cara diri menempa pembakaran demi menemukan keaslian diri.

Selama ramadan, demi mencari diri otentik, “sang aku” mesti mengedepankan “kemauan Tuhan”. Mengapa “kemauan Tuhan”? Karena selama berpuasa, dalam setiap aktifitas, tidak layak memperturutkan kemauan ego disamping mengedepankan “kemauan Tuhan”. Selama berpuasa kita diwajibkan meninggalkan seluruh pekerjaan yang mengutamakan diri manusia. Semuanya mesti mengutamakan “kemauan Tuhan.” “Sang aku” diwajibkan menahan hawa nafsunya semata-mata agar jiwa melakukan semua perintah Tuhan.

Dari kacamata sufistik selama berpuasa “diri individual” dikekang dan ditiadakan demi “diri ilahiah”. Ego manusia dilenyapkan untuk memancarkan “diri-Nya”. Dengan begitu, diri ilahiah adalah diri yang “terhubung” langsung secara ruhaniah dengan Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain setiap tindakan manusia adalah cermin tindakan Tuhan. Para sufi menyebutnya berakhlak dengan akhlak Tuhan.

Itulah sebabnya, jika sebelumnya bulan Sya’ban adalah bulan milik Rasulullah, maka bulan Ramadan semata-mata bulannya Allah. Semua tindakan kita diusahakan merupakan representase kemauan Tuhan. Karena itu sering dikatakan setiap amalan selama Ramadan akan langsung dibawa ke hadapan Allah tanpa ada penghalang sedikitpun.

Dalam wacana filsafat fenomenologi, ramadan ibarat waktu destitute time-nya Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis Jerman. Destitute time, bisa dibilang merupakan situasi “kekosongan atas kekosongan”, atau dalam konotasi Heidegger sebagai keterputusan manusia terhadap “benda-benda” yang mengikat dirinya.

Menurut Heidegger, dalam situasi ini manusia akan menemukan kedaan natural atas dirinya. Manusia akan menemukan “dasar” dirinya dalam keberadaannya yang penuh. Di kondisi ini manusia mengalami dirinya dengan maksud mencari makna terdalam sekaligus menjadi tempat makna itu sendiri. Menurut kaca mata Heidegger, selama berpuasa manusia memutuskan “keaukannya” dari ikatan-ikatan artifisial yang memalsukan dirinya.

Itulah sebabnya, di batas akhir selama sebulan berpuasa, ada hari khusus untuk merayakan pembebasan “sang aku” setelah keluar dari perjuangannya menaklukkan sang ego. Di hari itu, semua manusia akan mengucap takbir dan menyebut diri telah kembali kepada makna asalnya: fitrah.

Di kondisi fitrahlah, manusia menemukan makna otentiknya. Menjadi manusia seutuhnya.



AWAL abad modern, keutuhan manusia dialamatkan kepada kemampuan berpikirnya. Je pense donc je suis, ungkap Rene Descartes. Aku berpikir karena itu aku ada.

Tapi, di era kiwari keotentikan diri selalu ditandai dengan konsumerisme. I buy therefore I am. Aku berbelanja maka aku ada. Diri otentik bukan ditandai dari perjuangannya mengendalikan hawa nafsu. Malah sang ego dipermak melalui tindakan berbelanja.

Dengan kata lain, otentisitas diri manusia modern bukan melalui perjalanan panjang membangun jarak dengan benda-benda, melainkan upayanya untuk menimbun barang-barang melalui praktik konsumeristik. Melalui semua itu, manusia modern merasa yakin telah memperbarui dirinya dengan barang-barang baru yang dibelinya.

Bahkan, keotentikan manusia kiwari banyak mengalamatkan dirinya kepada citra-citra imajinatif. Melalui dunia informasi identitas manusia menjadi jauh lebih problematis akibat bingkai dunia maya yang banyak menyuguhkan fantasi dan glorifikasi.

Arus informasi yang deras tak terkendali, menurut Heidegger hanya menciptakan apa yang ia katakan sebagai idle talk (obrolan kosong), yakni kondisi komunikasi dalam perbincangan yang tidak membicarakan apa-apa. Tidak ada makna sekali pun di dalamnya. Kata Peter Sloterdjik dalam Heidegger and the Media, “media membicarakan semua hal, namun tidak menjelaskan apa-apa mengenai apa pun” (remotivi.or.id)

Di dalam idle talk, “sang aku” kehilangan dasar kontekstualnya akibat aliran deras informasi. Pemahaman “sang aku” terhadap dirinya yang otentik mengalami kegoyahan lantaran hilangnya ruang permenungan. Tak ada sama sekali waktu yang kosong dari hiruk pikuk interaksi.

Dari pengalaman itu, puasa yang bermakna transformasi ego “diri individual” menuju “diri ilahiah”  tidak sama sekali membekas sebagai praktik moral masyarakat modern. Selama berpuasa akibat “sang aku” yang masih terikat kepada dunia yang serba artifisial ia pada akhirnya hanya menjadi sebatas makna ritual ketimbang transformasional.

Lalu, apa sesungguhnya makna fitrah di hari fitri kelak? Sementara “sang aku” masih ditawan sang ego. Di medan budaya, ego menjelma menjadi pribadi yang gamang dengan identitas dirinya, di medan ekonomi, “sang aku” menyeruak membeli dan menimbun barang-barang, di medan politik “sang ego” membangun sekat sentimentalisme sempit demi kekuasaan, dan di medan hidup sehari-hari praktik kehidupan sosial lebih mudah menyimpan benci daripada menebar rahmat.

*Telah terbit di Kalaliterasi.com

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...