23 Juli 2018

Prasangka dalam Hermeneutika Gadamer

Perlu diketahui sebelumnya, prasangka dalam hermeneutika Gadamer bersifat netral sejauh itu dipahami sebagai perantara pemahaman manusia untuk memahami keadaan dan dunianya.

Bahkan dalam pikiran Gadamer prasangka memiliki kedudukan yang siginifikan lantaran tidak ada pemahaman yang terlepas dari prasangka. Prasangka dalam hermeneutika Gadamer, dari sifatnya demikian adalah “kaca mata” bagi seseorang untuk mengenali dan menggali dunia kehidupannya.

Secara konseptual Gadamer membagi dua jenis prasangka: pertama, prasangka yang legitim dan yang kedua, prasangka yang tidak legitim. Dua jenis prasangka ini mesti didudukkan ke dalam konsep Gadamer tentang otoritas dan tradisi.

Bagi Gadamer otoritas dan tradisi adalah dua komponen prasangka. Dengan kata lain tindakan memahami, dalam hal ini prasangka, berarti tindakan yang tidak mungkin lepas dari tradisi dan otoritas yang menyertainya. Pemahaman manusia dalam memahami sesuatu selalu dipengaruhi otoritas dan tradisi tertentu.

Gadamer mengambil contoh fenomena masyarakat Abad Pertengahan yang digerakkan otoritas dan tradisi Kekristenan di dalam membentuk horizon pemahaman masyarakat. Kasus Galileo, misalnya, adalah contoh bagaimana faktor otoritas dan tradisi Kekristenan melihat penemuan-penemuan Galileo sebagai hal yang menyimpang dari kepercayaan umum masyarakat gerejani.

Dari tilikan kebudayaan lokal, prasangka dapat ditemukan dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat berupa mitos asal usul, pandangan cksmologi, dan eskatologi  yang menjadi elemen dasar masyarakat ketika merepresentasikan kehidupannya. Melalui semua itu masyarakat mengidentifikasi serta mengelola interaksinya demi menunjang keseimbangan di dalamnya.

Sebagai misal masyarakat Bugis Makassar yang memprasangkai asal usul manusia dan kebudayaan pertama dari mitos I lagaligo. Atau juga masayarakat adat Kajang di bulukumba yang meyakini kebudayaan mereka dimulai dari kehadiran seorang yang bernama Ammatoa sebagai manusia pertama di dunia. Melalui kedua narasi mitos ini, dua kebudayaan yang disebutkan membangun prasangka yang menjadi sumber pemahaman mereka.

Berangkat dari persoalan otoritas di atas, Gadamer memberikan tilikan bahwa otoritas dan tradisi adalah sumber pemahaman yang menyerupai otoritas rasio di abad Pencerahan. Dengan kata lain, seperti kedudukan sains hari ini sebagai sumber pengetahuan, otoritas dan tradisi bagi Gadamer juga adalah sumber pengetahuan yang melandasi pemahaman manusia.

Tradisi sebagai sumber pengetahuan dicontohkan Gadamer melalui sains itu sendiri sebagai tradisi. Dalam hal ini sains dirawat melalui kebiasaan-kebiasaan ilmiah yang merupakan kaidah yang memberikan arah bagi proses pencarian kebenaran. Kebiasan-kebiasaan ilmiah ini menurut Gadamer adalah tradisi yang dimiliki sains seperti yang ditunjukkan melalui tradisi riset.

Melalui hal-hal di atas, nampak jelas bahwa hermeneutika Gadamer menjadikan prasangka melalui otoritas dan tradisi sebagai komponen yang senantiasa menyertai pemahaman. Dengan kata lain, melalui prasangka menurut Gadamer justru memungkinkan terjadinya pemahaman. Melalui dua komponen prasangka, yakni otoritas dan tradisi itulah sang pembaca teks mesti membedakan yang mana prasangka yang legitim dan prasangka yang tidak legitim.

Hermeneutika Gadamer adalah jenis hermeneutika produktif dalam pengertian manusia memiliki peluang untuk membentuk pemahaman baru dari teks yang ditafsirkannya. Tujuan ini tidak sama sekali berarti sang penafsir keluar dari otoritas dan tradisi yang melingkupi pemahamannya. Sang penafsir karena bagi Gadamer adalah orang yang hidup di dalam tradisi dan otoritas, tidak mungkin keluar dari kedua komponen pemahaman yang dimaksud. Dengan kata lain, pemahaman bagi Gadamer adalah peleburan dari apa yang dia sebut horizon-horizon tradisi, otoritas, dan penafsir itu sendiri.

Implikasi kedudukan manusia yang berada dalam sejarah berarti tidak ada pengetahuan yang bersifat objektif selain dia merupakan terbentuk dalam konteks sejarah tertentu. Manusia di dalam sejarah berarti juga kebenaran itu tidak diterima dari luar sejarah, melainkan hasil dari interaksi sang penafsir dengan perjumpaan-perjumpaan yang dialaminya dalam sejarah dan bergerak dalam ruang dan waktu.   

16 Juli 2018

Kisah Dawuk: Menggugat dengan Dongeng




Narasi Dawuk dibuka dengan gugatan dari seorang dikenal sebagai tukang kibul: Warto Kemplung. Tokoh pendongeng yang sering mangkal di warung kopi tanpa modal dan lebih mengandalkan hasil “rampasan” rokok dari orang-orang yang berhasil ia pancing untuk mendengarnya. Lalu cerita apa yang dikisahkan Warto Kemplung? Di sinilah awal mula novel ini memainkan rasa penasaran pembacanya.

Tapi, pertama-tama mari kita nilai sedikit siapa Warto Kemplung mengingat narasi novel ini disanggah oleh cerita yang ia kisahkan.

Warto Kemplung adalah seorang bekas TKI yang berhasil memiliki teman seorang pejabat di negeri Jiran tempatnya bekerja. Lantaran kisah-kisah perjuangan yang ia ceritakan, membuatnya dekat dengan mantan majikannya dan berhasil mendapatkan nomor pribadinya. Peristiwa ini terjadi ketika ia menjadi tukang renovasi rumah yang kebetulan adalah rumah sang pejabat. Di sela-sela istirahat Warto Kemplung sering menceritakan cerita-cerita seorang tokoh yang berasal dari negerinya. Saat itulah sang pejabat sering mencuri dengar kisah si Warto dan mulai tertarik mengikuti kisahnya. Itulah awal bagaimana mereka berdua bisa dekat.

Lalu kenapa Kemplung menjadi nama belakang si Warto? Akibat kemahirannya bercerita sampai kadang ceritanya dinilai tidak masuk akal sehingga disangka bohongan belaka. Si pembual, itulah julukan si Warto dengan “Plung” sebagai nama panggilan pendeknya. Warto Si pembual begitulah arti namanya.

Dengan arti nama seperti itu, di sinilah pertaruhan novel ini: seolah-olah kisah Dawuk adalah narasi yang ditopang oleh sejenis rasa tidak percaya dan aura “kebohongan”. Bagaimana mungkin seseorang dapat memercayai cerita dari seorang yang sering kali dianggap sebagai pembohong? Walaupun benar, apakah kebenaran itu akhirnya akan dianggap sebagai kebohongan hanya karena diucapkan oleh seorang yang kredibilatasnya diragukan?

Di titik inilah, novel ini berusaha mengingatkan pembacanya dengan situasi zaman sekarang di mana fakta dan fiksi berbaur sulit dibedakan. Ketika benar dan salah saling mengisi kepercayaan dengan caranya yang tidak pernah dibayangkan.

Dalam pribadi Warto Kemplung kebenaran fakta dan narasi fiksi sulit dipisahkan mengingat kredibilitasnya yang dijuluki si pembual. Walaupun demikian kisah yang diceritakannya merupakan “fakta historis” dari desa Rumbuk Randu. Tapi tetap saja, niat tulusnya untuk mengungkap kebenaran di desanya menjadi muskil mengingat setiap warga Rumbuk Randu “bersepakat” menyembunyikan sejarah yang mereka ketahui bersama.

Dari sudut ini, keberadaan Warto Kemplung ibarat catatan kaki yang mengingatkan pembaca kepada sejarah kelam negeri yang bernama Indonesia yang beberapa dekade dicoba ditutup-tutupi oleh pemerintah. (untuk ini Mahfud Ikhwan menulis: mahluk-mahluk malang dengan kemampuan mengingat sependek ikan sepat.)

Inti Dawuk adalah kisah tentang sepasang kekasih ganjil dengan latar belakang hidup yang demikian kontras: Mat Dawuk dan Inayatun. Mat Dawuk digambarkan sebagai pribadi buangan yang sejak kecil dianggap hina penuh celaan dan dianggap tidak ada oleh orang sekampungnya. Tumbuh menjadi anak pendiam dan misterius dengan wajah yang jelek bin mengerikan sehingga tidak ada yang sudi melihatnya. Demikian pula nasibnya yang terbilang jauh lebih jelek dari rupanya. Tapi biarpun begitu ketika dewasa ia menjadi seorang pembunuh dengan kekuatan tubuh kekar.

Sementara Inayatun adalah bunga desa yang lahir dengan paras rupawan. Semenjak kecil menjadi anak idaman semua ibu-ibu di Rumbuk Randu lantaran bukan saja mukanya yang jelita tapi bentuk tubuhnya yang berisi. Biarpun demikian menjelang dewasa, ia menjadi gadis badung yang suka berganti-ganti pacar. Kemudian dikenal sebagai gadis genit yang membuat hampir semua lelaki Rumbuk Randu ingin menidurinya. Inayatun adalah anak seoang tokoh agama di desanya.

Kisah percintaan Mat Dawuk dan Inayatun merupakan kisah yang tidak diinginkan siapa pun di desanya. Di Rumbuk Randu mereka berdua adalah aib yang mesti dienyahkan. Setiap warga Rumbuk Randu ogah menanggung keberadaan mereka berdua lantaran merasa tidak nyaman. Usut punya usut, perkawinan Mat Dawuk dan Inayatun mengulang sebuah kisah kutukan yang selama ini tidak disukai oleh semua warga Rumbuk Randu. Akibat itulah, ditambah dendam dua keturunan dan skenario pembunuhan, Mat Dawuk berusaha mereka binasakan dengan cara penyerbuan di suatu malam yang berdarah.

Melalui mulut Warto Kemplung-lah kisah berdarah nan pilu Mat Dawuk dan Inayatun dari Rumbuk Randu didedahkan. Warto Kemplung yang dinarasikan pengarang sebagai pencerita ulung nampaknya berusaha menghidupkan kekuatan dongeng yang semakin tersingkirkan dengan tradisi tulisan. Melalui kekuatan oral-ah kisah ini mengalir menelusup sampai ke telinga pendengarnya termasuk kepada seorang wartawan lokal bernama Mustofa Abdul Wahab yang dibuat penasaran tentang kisah dari Rumbuk Randu. Menariknya kisah ini selalui diceritakan di warung kopi, tempat kesukaan Warto Kemplung yang belakangan bernama Anwar Tohari.

Novel yang masuk penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, selain ditopang oleh pengisahan melalui cerita lisan, juga memiliki kekuatan suspense melalui kemampuan bercerita Warto Kemplung. Sampai akhirnya seorang bernama Mustofa Abdul Wahab yang seorang wartawan itu mengangkat kisahnya di koran lokal menjadi cerbung dan memunculkan seseorang bernama mengaku Mat dan teka-teki di akhir ceritanya.

15 Juli 2018

Radix Cordix

RADIX CORDIX. Akan lebih menyenangkan melakukan pekerjaan tetek bengek semisal menyemir sepatu, membuat kopi susu, atau melihat aneka produk di online shop walaupun sekadar cuci-cuci mata. Mengembangkan imajinasi ibarat seorang ibu pekerja di pagi hari atau membayangkan diri menjadi orang kaya yang dapat membeli segalanya, rasa-rasanya jauh lebih tidak menggelikan daripada menemukan dua orang di dunia maya berdebat saling menghujat lantaran beda keyakinan.

Setiap waktu meladeni orang-orang keras kepala di dunia maya sepertinya pekerjaan yang paling tidak membahagiakan.

Asu, memang!

Mungkin ada faedahnya meladeni orang-orang keras kepala yang sedikit-sedikit membawa agama sampai di dunia maya. Misalnya bikin sakit hati lawan bicara. Sepertinya ada kepuasaan hakiki jika lawan bicara mati kutu tidak mampu memberikan pendapat balik. Biasanya di titik ini, perbincangan semakin tidak logis. Status saling balas membalas akhirnya menjadi lebar ke mana-mana.


Eike tidak yakin ada faedah dari tindakan netizen yang sehari membesarkan urat leher hanya untuk meyakinkan orang tentang sebiji kebenaran. Walaupun berambisi menjadi nabi menyebar kebenaran, tapi jika itu dilakukan bersama orang-orang keras kepala, maka apa pun itu akan terpental begitu saja. Orang-orang keras kepala sekalipun jika diberikan pernyataan-pernyataan logis akan merasa apa pun yang diberikan kepadanya adalah pernyataan yang tidak layak diindahkan.

Di titik ini ada teori yang disebut Dunning-Kruger effect. Dalam psikologi istilah ini mengacu kepada gejala ilusif orang-orang yang menganggap dirinya sebagai sang ahli. Bahkan, mereka menganggap orang lain tidak berhak mengkonfirmasi keyakinan yang mereka imani. Inti teori ini adalah jika Anda menyatakan kesalahan seseorang, maka mereka semakin yakin bahwa yang mereka yakini akan semakin benar.

Ya. Semakin Anda menunjukkan letak kesalahan mereka, orang-orang keras kepala akan semakin yakin terhadap keimanannya.

Di dunia maya, eike banyak melihat contoh-contoh ini. Sudah sangat gamblang eike kira. Bahkan fenomena ini sudah menjadi seperti yang dinyatakan Tom Nicols sebagai fenomena matinya sang ahli (the death expertise), yakni banyaknya orang yang bermunculan untuk mengemukakan pendapatnya mengomentari pelbagai kejadian hanya dari satu dua buku, wikipedia, atau menurut "om google".

Dari contoh-contoh itu, kebenaran malah semakin kabur ditimpa egoisme, taklid buta dan emosionalisme. Justru yang nampak dipermukaan malah pertunjukkan superioritas kelompok menindas kelompok-kelompok yang berbeda paham. Apalagi di momen-momen politik seperti ini, justru konflik semakin tajam.

Tapi, apa sih tujuan dari hanya selain menampakkan superioritas atas iman, keyakinan, atau bahkan pengetahuan jika hasil dari saling balas komen itu hanya menjauhkan kita dari interaksi yang harmonis. Justru tidak produktif malah.

Banyak di antara kita memang yang tidak pernah dibesarkan dalam momen-momen dialogis. Bergesekan dalam tradisi berpikir. Dan tumbuh dalam lingkungan yang mengedepankan perbedaan. Sehingga, ketika diperhadapkan dalam dunia yang heterogen, orang-orang keras kepala akan merasa terancam dan bahkan akan saling mempertahankan apa yang paling mereka yakini.

Keyakinan sebagian kita memang dipandang sudah fix, complit, dan juga final. Iman ibarat tuhan yang eksis di luar sejarah, lepas dari pengaruh waktu dan tempat. Ia dilihat sebagai entitas yang murni tanpa sentuhan ikhtiar manusia.

Sehingga ibarat gedung yang sudah berdiri kokoh sudah tidak perlu lagi diutak-atik. Namun masalahnya, gedung yang sudah terlanjur berdiri sering kali tidak dibangun dari fondasi yang juga kuat, dari tatakan yang mengakar. Inilah masalahnya, gedung yang punya tiang-tiang tinggi tidak nampak berdiri kuat lantaran fondasi yang mudah guyah.

Tapi, ah sudahlah. Berdiskusi, apalagi berdebat dengan orang-orang yang seringkali jatuh kepada --meminjam istilah Jean Cauvin (dari namanya Calvinisme diambil)-- "radix cordix", justru tidak menerbitkan kesepahaman, apalagi kesalingpengertian. Malah justru kedongkolan. Sontoloyo, memang.

Mari, hanya kopi yang mempersatukan kita!

30 Mei 2018

Ramadan

PENGALAMAN puasa adalah pengalaman manusia menemukan otentisitas “sang aku”. Ia cara manusia membebaskan diri “dari” sesuatu dan “untuk” sesuatu. Agama menyebutnya  “sang aku” yang menahan  diri dari  godaan hawa nafsu, sekaligus juga untuk meraih apa yang dibilangkan agama sebagai puncak puasa: takwa.

Dengan kata lain, puasa adalah mekanisme  diri untuk kembali ke keaslian parasnya dengan taqwa sebagai puncaknya.

Mengupayakan keotentikan diri selama berpuasa sepadan dengan bunyi hadis qudsi yang mengatakan barang siapa mengenal dirinya dia mengenal Tuhannya. “Sang aku” yang ril disebutkan ceruk yang mampu membawa pemahaman manusia  mengenal siapa Tuhannya. Dari sang diri yang otentik, manusia dapat membangun kontak dengan Tuhannya. Bahkan diri yang otentik adalah tempat pancaran Tuhannya.

Barangkali karena itulah ramadan berarti membakar. Itulah juga arti selama berpuasa segala kecenderungan yang bersumber dari ego individual dihilangkan dengan cara berpuasa. Ibarat membakar logam untuk menemukan emas murni. Puasa adalah cara diri menempa pembakaran demi menemukan keaslian diri.

Selama ramadan, demi mencari diri otentik, “sang aku” mesti mengedepankan “kemauan Tuhan”. Mengapa “kemauan Tuhan”? Karena selama berpuasa, dalam setiap aktifitas, tidak layak memperturutkan kemauan ego disamping mengedepankan “kemauan Tuhan”. Selama berpuasa kita diwajibkan meninggalkan seluruh pekerjaan yang mengutamakan diri manusia. Semuanya mesti mengutamakan “kemauan Tuhan.” “Sang aku” diwajibkan menahan hawa nafsunya semata-mata agar jiwa melakukan semua perintah Tuhan.

Dari kacamata sufistik selama berpuasa “diri individual” dikekang dan ditiadakan demi “diri ilahiah”. Ego manusia dilenyapkan untuk memancarkan “diri-Nya”. Dengan begitu, diri ilahiah adalah diri yang “terhubung” langsung secara ruhaniah dengan Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain setiap tindakan manusia adalah cermin tindakan Tuhan. Para sufi menyebutnya berakhlak dengan akhlak Tuhan.

Itulah sebabnya, jika sebelumnya bulan Sya’ban adalah bulan milik Rasulullah, maka bulan Ramadan semata-mata bulannya Allah. Semua tindakan kita diusahakan merupakan representase kemauan Tuhan. Karena itu sering dikatakan setiap amalan selama Ramadan akan langsung dibawa ke hadapan Allah tanpa ada penghalang sedikitpun.

Dalam wacana filsafat fenomenologi, ramadan ibarat waktu destitute time-nya Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis Jerman. Destitute time, bisa dibilang merupakan situasi “kekosongan atas kekosongan”, atau dalam konotasi Heidegger sebagai keterputusan manusia terhadap “benda-benda” yang mengikat dirinya.

Menurut Heidegger, dalam situasi ini manusia akan menemukan kedaan natural atas dirinya. Manusia akan menemukan “dasar” dirinya dalam keberadaannya yang penuh. Di kondisi ini manusia mengalami dirinya dengan maksud mencari makna terdalam sekaligus menjadi tempat makna itu sendiri. Menurut kaca mata Heidegger, selama berpuasa manusia memutuskan “keaukannya” dari ikatan-ikatan artifisial yang memalsukan dirinya.

Itulah sebabnya, di batas akhir selama sebulan berpuasa, ada hari khusus untuk merayakan pembebasan “sang aku” setelah keluar dari perjuangannya menaklukkan sang ego. Di hari itu, semua manusia akan mengucap takbir dan menyebut diri telah kembali kepada makna asalnya: fitrah.

Di kondisi fitrahlah, manusia menemukan makna otentiknya. Menjadi manusia seutuhnya.



AWAL abad modern, keutuhan manusia dialamatkan kepada kemampuan berpikirnya. Je pense donc je suis, ungkap Rene Descartes. Aku berpikir karena itu aku ada.

Tapi, di era kiwari keotentikan diri selalu ditandai dengan konsumerisme. I buy therefore I am. Aku berbelanja maka aku ada. Diri otentik bukan ditandai dari perjuangannya mengendalikan hawa nafsu. Malah sang ego dipermak melalui tindakan berbelanja.

Dengan kata lain, otentisitas diri manusia modern bukan melalui perjalanan panjang membangun jarak dengan benda-benda, melainkan upayanya untuk menimbun barang-barang melalui praktik konsumeristik. Melalui semua itu, manusia modern merasa yakin telah memperbarui dirinya dengan barang-barang baru yang dibelinya.

Bahkan, keotentikan manusia kiwari banyak mengalamatkan dirinya kepada citra-citra imajinatif. Melalui dunia informasi identitas manusia menjadi jauh lebih problematis akibat bingkai dunia maya yang banyak menyuguhkan fantasi dan glorifikasi.

Arus informasi yang deras tak terkendali, menurut Heidegger hanya menciptakan apa yang ia katakan sebagai idle talk (obrolan kosong), yakni kondisi komunikasi dalam perbincangan yang tidak membicarakan apa-apa. Tidak ada makna sekali pun di dalamnya. Kata Peter Sloterdjik dalam Heidegger and the Media, “media membicarakan semua hal, namun tidak menjelaskan apa-apa mengenai apa pun” (remotivi.or.id)

Di dalam idle talk, “sang aku” kehilangan dasar kontekstualnya akibat aliran deras informasi. Pemahaman “sang aku” terhadap dirinya yang otentik mengalami kegoyahan lantaran hilangnya ruang permenungan. Tak ada sama sekali waktu yang kosong dari hiruk pikuk interaksi.

Dari pengalaman itu, puasa yang bermakna transformasi ego “diri individual” menuju “diri ilahiah”  tidak sama sekali membekas sebagai praktik moral masyarakat modern. Selama berpuasa akibat “sang aku” yang masih terikat kepada dunia yang serba artifisial ia pada akhirnya hanya menjadi sebatas makna ritual ketimbang transformasional.

Lalu, apa sesungguhnya makna fitrah di hari fitri kelak? Sementara “sang aku” masih ditawan sang ego. Di medan budaya, ego menjelma menjadi pribadi yang gamang dengan identitas dirinya, di medan ekonomi, “sang aku” menyeruak membeli dan menimbun barang-barang, di medan politik “sang ego” membangun sekat sentimentalisme sempit demi kekuasaan, dan di medan hidup sehari-hari praktik kehidupan sosial lebih mudah menyimpan benci daripada menebar rahmat.

*Telah terbit di Kalaliterasi.com

15 Mei 2018

Filsuf

FILSUF. Bagi Alain Badiou –seorang filsuf marxis- ikhtiar dari filsafat adalah hasratnya untuk menemukan kebenaran. Tiada filsafat yang mendakukan dirinya selain daripada ketertarikannya mencandrai kebenaran.

Menurutnya, dalam hasrat kebenaran, filsafat memiliki 4 elemen; yang pertama adalah revolt (pemberontakan), kedua, logis (logika), berturut-turut kemudian, universalitas, dan risiko.

Kisah Socrates kisah seorang revolusioner. Ia menjadi sosok yang menggerakkan pemberontakan. Filsafat di tangan Socrates menjadi medium kritik bagi situasi yang dihadapinya saat itu. Dia menjadi media pembebasan dari alam berpikir mitologi yang dipenuhi sosok dewa-dewa.

Artinya, mitos dan sosok dewa-dewa yang menopang alam berpikir masyarakat Yunani menjadi momen pemberontakan bagi Socrates. Kebudayaan dan tradisi Yunani yang berwatak irasional, dengan kata lain adalah medan Socrates mengubah cara pandang masyarakat Yunani menjadi jauh lebih merdeka.

Itulah sebabnya, tiada filsafat yang tidak mengandung perlawanan kepada keadaan sebelumnya. Inti filsafat dalam hal ini adalah konfrontasinya dengan pikiran-pikiran umum.

Filsafat dari dimensinya ini adalah pernyataan-pernyataan yang merevisi paradigma lama dengan mengajukan pandangan baru melalui kekuatan dimensi yang kedua: logika.

Logika filsafat Socrates adalah kekuatan logis dari subjektivitas rasio yang menjadi penopang seluruh argumentasinya. Ia tidak saja menjadi sumber pengetahuan, melainkan menjadi alat praktis yang berkemampuan membebaskan masyarakat dari kekuatan yang menyesatkan pikiran.

Tanpa elemen logika, filsafat di tangan Socrates tidak jauh berbeda dengan cara berpikir lama. Sebaliknya, melalui penalaran logis, menandai pikiran Socrates yang koheren dan efektif. Dengan begitu kebenaran filsafat menjadi terang dan gamblang. Di hadapan logika, tradisi diemansipasi dari kesesatan-kesesatan berpikir.

Selain itu, otoritas tradisi yang selama ini ditopang melalui kekuatan mitos, melalui penalaran logis filsafat, memungkinkan terbukanya kemerdekaan berpikir daripada ketundukan terhadap tradisi tanpa dalil-dalil yang kuat.

Dengan begitu paras filsafat yang logis dengan sendirinya mengandaikan dirinya sebagai ajakan universal kepada kebenaran. Ini artinya, setiap pernyataan filosofis mempertanggungjawabkan dirinya sebagai ajaran yang universal. Melalui bahasa, setiap kebenaran pada dirinya adalah kebenaran bagi setiap orang.

Universalitas filosofis sebagai pernyataan umum setara dengan kedudukan logika yang menjadi medium penalaran. Denngan kata lain ini sekaligus hujjah bagi dirinya yang merupakan hak bagi setiap orang ketika mengedepankan akal sehatnya. Universalitas filsafat, singkatnya adalah jalan bagi tercapainya kebenaran fundamental sebagai standar umumnya.

Artinya, sejauh manusia memaksimalisasi peran akal sehatnya, maka dengan sendirinya akan melingkupi universalitas filsafat itu sendiri. Dengan rumus yang sama, universalitas filsafat seluas pula dengan akal sehat manusia.

Terakhir, risiko adalah implikasi nyata dari kebenaran filsafat. Setiap sudut pandang yang diambil dari cara berpikir filsafat, dengan sendirinya memiliki konsekuensi berupa risiko semenjak berkonfrontasi dengan keyakinan umum.

Dalam kisah Socrates, konfrontasi filosofisnya membawanya pada risiko berupa tidak adanya kepastian mutlak selama penggalian filosofisnya masih berjalan. Risiko filsafat dalam hal ini adalah implikasi dari kebenarannya yang mengubah sudut pandang hingga membuatnya dalam keadaan yang terus bergerak. Dengan kata lain, melalui penyelidikan mendalam, secara epistemologis, kebenaran filsafat adalah sesuatu yang terus bergerak dan berubah. Risikonya adalah seseorang dituntut berkemampuan menerima segala jenis kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Secara sosial, Socrates menghadapi kecaman dari keyakinan umum yang menganggapnya sebagai orang yang patut dikucilkan. Ia mengalami pengasingan sebagai risiko sosial akibat menanggung universalitas filsafatnya. Bahkan, risiko Socrates yang paling utama dari kebenaran filsafatnya, adalah menanggung kematian.

Syahdan, menurut Alain Badiou, di era kontemporer, hasrat kebenaran filsafat mengalami empat tantangan sekaligus melalui empat dimensinya: dunia yang terspesialiasi melalui diferensiasi sosial (pluralisme), penyebaran informasi yang tidak koheren satu dengan lainnya (nonlogis), dunia yang menyediakan kebebasan sebagai prinsip kehidupan (kemustahilan pemberontakan), dan keengganan masyarakat mengambil risiko kebenaran dengan memilih hidup mapan (risiko). Empat tantangan ini, menurut Alain Badiou mesti segera diselesaikan untuk mengubah keadaan filsafat yang semakin kehilangan relevansinya. Lalu, bagaimanakah tugas filsuf itu sebenarnya?


12 Mei 2018

Ziarah dan Ego


ZIARAH. Ziarah, jika ia adalah tali jangkar, barangkali di ujungnya juga adalah perjumpaan.

Tapi, ia juga sekaligus ikatan penting bagi jiwa manusia. Jiwa manusia ketika ia dibelah, kedua-keduanya adalah potongan dari dunia yang transenden. Di dunia itu, jiwa manusia diingatkan dari mana ia berasal. Di tempat itu jiwa manusia kembali diteguhkan, untuk apa ia mesti berpulang.

Dengan begitu, ziarah adalah tangga di antara dua dunia, namun juga sekaligus ikatan perjumpaan kepada rumah sejatinya.

Kedudukan manusia seperti dinyatakan para mistikus mempunyai jiwa yang menancapkan kaki-kakinya di dunia spiritual. Makhluk bidimensional kata Ali Syariati, seorang sosiolog Islam. Manusia dalam percakapan Ali Syariati ini sekaligus mendakukan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua lapisan diri.

Lapisan pertama, adalah kulit manusia yang berinteraksi melalui unsur-unsur biologisnya. Para ahli membilangkan manusia dari sisi ini adalah zoon politicon: makhluk yang berinteraksi dengan kebutuhan-kebutuhan praktisnya di dunia publik; sebagian lagi menyebutnya homo economicus sebagai eksistensi yang berkemampuan hidup melalui interaksi tukar tambah; juga sebagian lagi menyebutnya makhluk berbudaya, yakni makhluk yang hidup melalui makna-makna yang ia ciptakan.

Di lapisan pertama, manusia menggunakan kepingan jiwanya demi utuhnya keberadaannya secara fisik-biologis. Tapi kadang, lapisan kulit pertama seringkali menjatuhkan manusia ke dalam tanah yang lempung. Kata Ali Syariati, kesejatian manusia dilahirkan dari tanah yang berlumpur. Akibatnya, ia alih-alih menjadi simbol jatuhnya eksistensi manusia.

Namun, "apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". Ruh dengan kata lain adalah entitas asal dari jiwa manusia. Dituliskan melalui metafora Al Quran, Ia, Wujud di atas wujud, meniupkan dirinya kepada manusia yang terikat tanah. Sesuatu yang menjadi asal tapi juga jurang kejatuhannya.

Ali Syariati mendudukkan ayat di atas sebagai narasi penciptaan yang mendudukkan manusia sebagai makhluk yang memiliki lapisnya yang kedua: ruh spiritual. Melalui inilah, seperti kisah burung-burung dari syair-syair Fariduddin Attar, jiwa manusia mengepakkan sayapnya menuju puncak-puncak tertinggi untuk mengenal asal dirinya.

Dengan kata lain, manusia yang tercipta dari tanah, asalnya yang kotor menjadi juga tumpuannya untuk bangkit melalui kejatuhannya. Ia mesti merangkak naik menuju dunia spiritual tempat kepingan sebelah jiwanya yang lain.

Barangkali karena itulah, kata "sujud" dalam narasi di atas lebih menggambarkan suatu arti yang menunjukkan kejatuhan eksistensi manusia sekaligus cara ia merangkak naik. Sujud adalah penanda jiwa manusia mengartikan dirinya yang rendah tapi juga jalan baginya menggapai ketinggian kedudukan spiritualnya.

Itulah sebabnya, kata Ali Syariati jiwa manusia mesti dibebaskan melalui cinta. Hanya melalui cintalah sujud menjadi cara manusia menunjukkan kebangkitannya dihadapan eksistensi Maha Cinta. Suatu cara yang disebutnya jalan kemerdekaan manusia bagi jiwanya.

Tapi, kelak jika jiwa kembali jatuh di asalnya yang rendah (tanah yang kotor), di saat itulah jiwa manusia terjerat ego. Dia justru melupakan tanah seberang tempat asalnya yang sejati.

Era kiwari, ego manusia lebih banyak mengambil alih jiwa. Di kerendahan lempung tanah, ego manusia sulit merangkak naik menuju alamat abadinya. Melalui sesat pikir jabatan, nama tenar dunia, ikatan harta berlebihan, sentimentalisme agama, dan cinta terhadap kekuasaan, membuat jiwa terperangkap jauh di kubangan ego.

Syahdan, seperti pendakuan Erich Fromm, seorang ahli ilmu jiwa, manusia modern lantaran ditawan ego adalah orang-orang yang ditinggal pergi cinta. Dia menyebutnya manusia yang lebih menyukai "dicintai" dari pada "mencintai". Akibatnya, orang-orang modern sukar berempati terhadap orang lain. Mereka lebih suka menerima dari pada memberi.

Dengan kata lain, manusia modern hari ini lebih banyak membangun ikatan melalui pengertian lapisan kulit pertamanya. Mereka sibuk mengedepankan interaksi materialnya daripada mengutamakan kulit kedua yang menghubungkannya dengan suatu tatanan transendental "di atasnya".

Di konteks demikian itu, ziarah menjadi penting. Dia adalah jalan yang membangkitkan memori manusia untuk menengok asalnya. Melaluinya, sekali lagi ego yang memenjara jiwa dibebaskan dari ikatan-ikatan material menuju kebangkitannya.

Secara moral, ziarah juga berarti upaya saling mengunjungi, saling mendatangi dengan mengedepankan empatik terhadap sesama. Ziarah dengan kata lain menjadi modal sosial yang menghubungankan jaringan interaksi yang semakin hari mengalami atomisasi.

Hari-hari esok, ketika ramadan tiba, selama itu perhelatan ziarah akbar akan mengajak jiwa-jiwa manusia kembali pulang ke kampung halamannya. Dia diingatkan, jangan sekali-kali pernah jatuh akibat genangan lumpur, tapi tengoklah lapisan jiwa paling dalam melalui perjalanan ruhani. Di situ suatu alamat pulang sudah dari awal disematkan untuk saling berempati sekaligus tangganya menuju keabadian.


08 Mei 2018

Alienasi

ALIENASI. Siapapun ketika menjadi buruh, ia kehilangan kebebasan hakikinya. Buruh adalah warisan panjang dari zaman yang timpang. Ia adalah narasi orang -orang yang kalah. Orang-orang yang tercerabut kemerdekaannya.

Sudah semenjak lama ketika roda sejarah berputar: budak, hamba sahaya, dan kini kelas pekerja, diteruskan ambisi suatu golongan masyarakat yang mensegregasinya menjadi golongan-golongan. Dari sejarah demikian itu, buruh dipekerjakan, dikuasai, dan dihisap melalui suatu aktivitas kerja.
Tapi, kemerdakaan bukanlah berkah bagi kelas pekerja. Dengan kata lain, ia bekerja bukan dalam keadaan yang sejati. Tidak dalam keadaan merdeka.

Marx membedakan, pekerjaan yang merdeka itu karena didorong oleh suatu ikhtiar yang bebas. Tanpa tekanan dan intimidasi. Sedangkan buruh di bawah sistem kapitalisme menjadi mahluk determinis. Ia bekerja atas dasar tekanan dan paksaan.

Itulah sebabnya, kerja di bawah bayang-bayang kapitalisme justru tidak manusiawi. Ia menjadi proses alienatif. Kerja yang sejatinya sebagai realisasi kemanusiaan akhirnya berubah menjadi momok yang eksploitatif.

Pertama, ia tercerabut dari hasil kerjanya. Seorang pekerja sepatu, sehari-hari menghasilkan sepatu. Di pabrik-pabrik ia mengeluarkan satu-satunya yang dimilikinya: tenaga. Dari itu tercipta sepatu yang sehari-hari dijual pabrik di etalase-etalase. Namun, sepatu itu bukan miliknya, walaupun itu lahir dari tangannya.

Sepatu itu pada akhirnya bukan lagi materi yang padat. Bukan lagi seperti semula sebagai bahan-bahan yang disentuh tangannya. Ia, kata Marx, tiba-tiba "menguap begitu saja di angkasa". Kapitalisme-lah yang mentransformasikannya: semula hasil pekerjaan sang buruh, tapi dia "menguap" di etalase pasar.

Kedua, sang buruh menjadi manusia yang kehilangan dimensi sosialnya. Waktunya banyak ia berikan untuk pabrik. Selama lebih dua belas jam ia tak bisa menikmati waktu senggangnya. Ia tak bisa bersosialisasi sebagai anggota masyarakat: berinteraksi, berbelanja, jalan-jalan, menonton film, liburan, sekolah, dlsb. Singkat kata, ia menjelma mahluk asosial. Terasing dari lingkungan sosialnya.

Pada akhirnya akibat dua kenyataan di atas, sang buruh teralienasi dari dirinya sendiri. Dia tidak mampu merasakan produk kerjanya sendiri lantaran sistem jual beli pasar mentransformasikan sepatu yang dibuatnya menjadi lebih mahal dari upah yang diterimanya. Manusia yang sejatinya mahluk sosial, akibat jam kerja padat dan panjang, membikinnya berjarak dari hakikat dirinya. Dia menjadi asing atas dirinya sendiri.

Kerja macam demikian di era modern menjadi mesin raksasa yang menggerakkan sejarah. Di pabrik-pabrik, buruh bekerja bersebelahan dengan mesin-mesin yang mengambil alih tenaga manusia; di kantor-kantor: para karyawan bekerja mengolah berkas-berkas melalui meja birokrasi berlapis-lapis; di institusi-institusi pendidikan, tenaga pengajar memeras otak melalui mesin kurikulum; dokter-dokter, guru-guru, jurnalis, para hakim, sastrawan, pengacara, pramugari, seniman, programer dlsb. (profesi yang belakangan dikatakan Antonio Negri sebagai buruh immaterial), ketika semuanya hanya “menukarkan” keahlian dan tenaga di bawah sistem akumulasi modal, maka di situ-lah hak milik lenyap diambil alih “sistem raksasa” yang disebut kapitalisme.

Syahdan, kerja di hari ini tidak lagi menjadi medium maksimalisasi nilai kemanusiaan, justru sebaliknya: modal.

Modal dengan begitu adalah pokok tapi juga sekaligus momok. Dia berfungsi melipatgandakan kekayaan, alat tukar, tapi ia juga sebagai alat eksploitasi.

Dalam sejarah kontemporer, modal bertransformasi menjadi informasi: sesuatu yang beberapa dekade belakangan menggerakkan, menghubungkan, dan menguasai interaksi orang-orang, menjadi modal utama ketika dia disebut “kecerdasan umum”. Kecerdasan umum (general intellect) seperti yang dibilangkan Marx adalah kecerdasan kolektif yang diprivatisasi lantaran dia menjadi standar universal mengetahui segala jenis pengetahuan teoritis dan praktis tentang sesuatu.

Itulah sebabnya misalnya, Mark Suckerberg melalui perusahaannya banyak meraup keuntungan bukan lantaran aplikasi yang diciptakannya, melainkan karena facebook menjadi standar universal dalam berkomunikasi. Dengan kata lain, ia merebut segala ruang komunikasi dan memonopoli jalur informasi dari jenis aplikasi sepertinya. Dia menguasai pengetahuan dan melegitim “hak kekayaan intelektual” dari segala yang berkaitan dengan facebook.

Pendidikan sebagai tempat pengetahuan kolektif, di dalam skema kapitalisme kontemporer, menjadi bagian dari skema terbentuknya “kecerdasan umum”. Ia bertindak sebagai wadah yang memproduksi bahasa, simbol, dan teks dalam rangka tindak lanjut dari produksi kapitalisme yang semula bersifat material menjadi simbolis. Melalui fungsi ini, intitusi pendidikan menjalankan fabrikasi menyiapkan tenaga-tenaga kerja ahli sesuai pekerjaan perusahaan-perusahaan.

Inilah juga mengapa ilmu pengetahuan dalam skema kapitalisme pada akhirnya diprivatisasi melalui intitusi-intitusi pendidikan (inilah dasar mengapa tenaga ahli melalui ijazah menjadi indikator pekerjaan).

Belakangan, pendidikan justru berubah mengenaskan. Alih-alih membebaskan manusia dari “situasi asal” menjadi “situasi merdeka”. Di saat yang lain, ia menjadi sumber kecemasan: biaya yang tinggi, kurikulum yang padat, penyelenggaraan yang semrawut, tenaga pengajar yang tidak kontekstual, penelitian-penelitian pesanan dan sekolah-kampus yang jadi elit.

Ia dengan kata lain menjadi asing bagi orang banyak. Ia menjadi lingkungan privat. Bahkan, pendidikan akhirnya menjadi tidak membahagiakan.

Pendidikan dengan begitu, sama halnya dengan aktivitas kerja buruh yang mengasingkan dirinya. Murid-murid, mahasiswa-mahasiswa, di jam-jam belajarnya, seolah-olah buruh pabrik yang terasing. Ilmu yang diprivatisasi, mengasingkan dirinya dari ilmu yang tidak kontekstual. Ilmu lantaran diproduksi melalui “teks kekuasaan” kenyataannya membikin pembelajar tercerabut dari fenomena hidupnya sehari-hari. Ilmu menjadi tidak praktis.

Pada akhirnya, pendidikan melalui intitusinya menjadi “ruang publik” yang sama sekali tidak “publik.” Di dalamnya, nasib publik sama sekali samar-samar mulai hilang. Lantas justru menjadi menara gading. Terasing.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...