15 Mei 2018

Filsuf

FILSUF. Bagi Alain Badiou –seorang filsuf marxis- ikhtiar dari filsafat adalah hasratnya untuk menemukan kebenaran. Tiada filsafat yang mendakukan dirinya selain daripada ketertarikannya mencandrai kebenaran.

Menurutnya, dalam hasrat kebenaran, filsafat memiliki 4 elemen; yang pertama adalah revolt (pemberontakan), kedua, logis (logika), berturut-turut kemudian, universalitas, dan risiko.

Kisah Socrates kisah seorang revolusioner. Ia menjadi sosok yang menggerakkan pemberontakan. Filsafat di tangan Socrates menjadi medium kritik bagi situasi yang dihadapinya saat itu. Dia menjadi media pembebasan dari alam berpikir mitologi yang dipenuhi sosok dewa-dewa.

Artinya, mitos dan sosok dewa-dewa yang menopang alam berpikir masyarakat Yunani menjadi momen pemberontakan bagi Socrates. Kebudayaan dan tradisi Yunani yang berwatak irasional, dengan kata lain adalah medan Socrates mengubah cara pandang masyarakat Yunani menjadi jauh lebih merdeka.

Itulah sebabnya, tiada filsafat yang tidak mengandung perlawanan kepada keadaan sebelumnya. Inti filsafat dalam hal ini adalah konfrontasinya dengan pikiran-pikiran umum.

Filsafat dari dimensinya ini adalah pernyataan-pernyataan yang merevisi paradigma lama dengan mengajukan pandangan baru melalui kekuatan dimensi yang kedua: logika.

Logika filsafat Socrates adalah kekuatan logis dari subjektivitas rasio yang menjadi penopang seluruh argumentasinya. Ia tidak saja menjadi sumber pengetahuan, melainkan menjadi alat praktis yang berkemampuan membebaskan masyarakat dari kekuatan yang menyesatkan pikiran.

Tanpa elemen logika, filsafat di tangan Socrates tidak jauh berbeda dengan cara berpikir lama. Sebaliknya, melalui penalaran logis, menandai pikiran Socrates yang koheren dan efektif. Dengan begitu kebenaran filsafat menjadi terang dan gamblang. Di hadapan logika, tradisi diemansipasi dari kesesatan-kesesatan berpikir.

Selain itu, otoritas tradisi yang selama ini ditopang melalui kekuatan mitos, melalui penalaran logis filsafat, memungkinkan terbukanya kemerdekaan berpikir daripada ketundukan terhadap tradisi tanpa dalil-dalil yang kuat.

Dengan begitu paras filsafat yang logis dengan sendirinya mengandaikan dirinya sebagai ajakan universal kepada kebenaran. Ini artinya, setiap pernyataan filosofis mempertanggungjawabkan dirinya sebagai ajaran yang universal. Melalui bahasa, setiap kebenaran pada dirinya adalah kebenaran bagi setiap orang.

Universalitas filosofis sebagai pernyataan umum setara dengan kedudukan logika yang menjadi medium penalaran. Denngan kata lain ini sekaligus hujjah bagi dirinya yang merupakan hak bagi setiap orang ketika mengedepankan akal sehatnya. Universalitas filsafat, singkatnya adalah jalan bagi tercapainya kebenaran fundamental sebagai standar umumnya.

Artinya, sejauh manusia memaksimalisasi peran akal sehatnya, maka dengan sendirinya akan melingkupi universalitas filsafat itu sendiri. Dengan rumus yang sama, universalitas filsafat seluas pula dengan akal sehat manusia.

Terakhir, risiko adalah implikasi nyata dari kebenaran filsafat. Setiap sudut pandang yang diambil dari cara berpikir filsafat, dengan sendirinya memiliki konsekuensi berupa risiko semenjak berkonfrontasi dengan keyakinan umum.

Dalam kisah Socrates, konfrontasi filosofisnya membawanya pada risiko berupa tidak adanya kepastian mutlak selama penggalian filosofisnya masih berjalan. Risiko filsafat dalam hal ini adalah implikasi dari kebenarannya yang mengubah sudut pandang hingga membuatnya dalam keadaan yang terus bergerak. Dengan kata lain, melalui penyelidikan mendalam, secara epistemologis, kebenaran filsafat adalah sesuatu yang terus bergerak dan berubah. Risikonya adalah seseorang dituntut berkemampuan menerima segala jenis kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Secara sosial, Socrates menghadapi kecaman dari keyakinan umum yang menganggapnya sebagai orang yang patut dikucilkan. Ia mengalami pengasingan sebagai risiko sosial akibat menanggung universalitas filsafatnya. Bahkan, risiko Socrates yang paling utama dari kebenaran filsafatnya, adalah menanggung kematian.

Syahdan, menurut Alain Badiou, di era kontemporer, hasrat kebenaran filsafat mengalami empat tantangan sekaligus melalui empat dimensinya: dunia yang terspesialiasi melalui diferensiasi sosial (pluralisme), penyebaran informasi yang tidak koheren satu dengan lainnya (nonlogis), dunia yang menyediakan kebebasan sebagai prinsip kehidupan (kemustahilan pemberontakan), dan keengganan masyarakat mengambil risiko kebenaran dengan memilih hidup mapan (risiko). Empat tantangan ini, menurut Alain Badiou mesti segera diselesaikan untuk mengubah keadaan filsafat yang semakin kehilangan relevansinya. Lalu, bagaimanakah tugas filsuf itu sebenarnya?


12 Mei 2018

Ziarah dan Ego


ZIARAH. Ziarah, jika ia adalah tali jangkar, barangkali di ujungnya juga adalah perjumpaan.

Tapi, ia juga sekaligus ikatan penting bagi jiwa manusia. Jiwa manusia ketika ia dibelah, kedua-keduanya adalah potongan dari dunia yang transenden. Di dunia itu, jiwa manusia diingatkan dari mana ia berasal. Di tempat itu jiwa manusia kembali diteguhkan, untuk apa ia mesti berpulang.

Dengan begitu, ziarah adalah tangga di antara dua dunia, namun juga sekaligus ikatan perjumpaan kepada rumah sejatinya.

Kedudukan manusia seperti dinyatakan para mistikus mempunyai jiwa yang menancapkan kaki-kakinya di dunia spiritual. Makhluk bidimensional kata Ali Syariati, seorang sosiolog Islam. Manusia dalam percakapan Ali Syariati ini sekaligus mendakukan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua lapisan diri.

Lapisan pertama, adalah kulit manusia yang berinteraksi melalui unsur-unsur biologisnya. Para ahli membilangkan manusia dari sisi ini adalah zoon politicon: makhluk yang berinteraksi dengan kebutuhan-kebutuhan praktisnya di dunia publik; sebagian lagi menyebutnya homo economicus sebagai eksistensi yang berkemampuan hidup melalui interaksi tukar tambah; juga sebagian lagi menyebutnya makhluk berbudaya, yakni makhluk yang hidup melalui makna-makna yang ia ciptakan.

Di lapisan pertama, manusia menggunakan kepingan jiwanya demi utuhnya keberadaannya secara fisik-biologis. Tapi kadang, lapisan kulit pertama seringkali menjatuhkan manusia ke dalam tanah yang lempung. Kata Ali Syariati, kesejatian manusia dilahirkan dari tanah yang berlumpur. Akibatnya, ia alih-alih menjadi simbol jatuhnya eksistensi manusia.

Namun, "apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". Ruh dengan kata lain adalah entitas asal dari jiwa manusia. Dituliskan melalui metafora Al Quran, Ia, Wujud di atas wujud, meniupkan dirinya kepada manusia yang terikat tanah. Sesuatu yang menjadi asal tapi juga jurang kejatuhannya.

Ali Syariati mendudukkan ayat di atas sebagai narasi penciptaan yang mendudukkan manusia sebagai makhluk yang memiliki lapisnya yang kedua: ruh spiritual. Melalui inilah, seperti kisah burung-burung dari syair-syair Fariduddin Attar, jiwa manusia mengepakkan sayapnya menuju puncak-puncak tertinggi untuk mengenal asal dirinya.

Dengan kata lain, manusia yang tercipta dari tanah, asalnya yang kotor menjadi juga tumpuannya untuk bangkit melalui kejatuhannya. Ia mesti merangkak naik menuju dunia spiritual tempat kepingan sebelah jiwanya yang lain.

Barangkali karena itulah, kata "sujud" dalam narasi di atas lebih menggambarkan suatu arti yang menunjukkan kejatuhan eksistensi manusia sekaligus cara ia merangkak naik. Sujud adalah penanda jiwa manusia mengartikan dirinya yang rendah tapi juga jalan baginya menggapai ketinggian kedudukan spiritualnya.

Itulah sebabnya, kata Ali Syariati jiwa manusia mesti dibebaskan melalui cinta. Hanya melalui cintalah sujud menjadi cara manusia menunjukkan kebangkitannya dihadapan eksistensi Maha Cinta. Suatu cara yang disebutnya jalan kemerdekaan manusia bagi jiwanya.

Tapi, kelak jika jiwa kembali jatuh di asalnya yang rendah (tanah yang kotor), di saat itulah jiwa manusia terjerat ego. Dia justru melupakan tanah seberang tempat asalnya yang sejati.

Era kiwari, ego manusia lebih banyak mengambil alih jiwa. Di kerendahan lempung tanah, ego manusia sulit merangkak naik menuju alamat abadinya. Melalui sesat pikir jabatan, nama tenar dunia, ikatan harta berlebihan, sentimentalisme agama, dan cinta terhadap kekuasaan, membuat jiwa terperangkap jauh di kubangan ego.

Syahdan, seperti pendakuan Erich Fromm, seorang ahli ilmu jiwa, manusia modern lantaran ditawan ego adalah orang-orang yang ditinggal pergi cinta. Dia menyebutnya manusia yang lebih menyukai "dicintai" dari pada "mencintai". Akibatnya, orang-orang modern sukar berempati terhadap orang lain. Mereka lebih suka menerima dari pada memberi.

Dengan kata lain, manusia modern hari ini lebih banyak membangun ikatan melalui pengertian lapisan kulit pertamanya. Mereka sibuk mengedepankan interaksi materialnya daripada mengutamakan kulit kedua yang menghubungkannya dengan suatu tatanan transendental "di atasnya".

Di konteks demikian itu, ziarah menjadi penting. Dia adalah jalan yang membangkitkan memori manusia untuk menengok asalnya. Melaluinya, sekali lagi ego yang memenjara jiwa dibebaskan dari ikatan-ikatan material menuju kebangkitannya.

Secara moral, ziarah juga berarti upaya saling mengunjungi, saling mendatangi dengan mengedepankan empatik terhadap sesama. Ziarah dengan kata lain menjadi modal sosial yang menghubungankan jaringan interaksi yang semakin hari mengalami atomisasi.

Hari-hari esok, ketika ramadan tiba, selama itu perhelatan ziarah akbar akan mengajak jiwa-jiwa manusia kembali pulang ke kampung halamannya. Dia diingatkan, jangan sekali-kali pernah jatuh akibat genangan lumpur, tapi tengoklah lapisan jiwa paling dalam melalui perjalanan ruhani. Di situ suatu alamat pulang sudah dari awal disematkan untuk saling berempati sekaligus tangganya menuju keabadian.


08 Mei 2018

Alienasi

ALIENASI. Siapapun ketika menjadi buruh, ia kehilangan kebebasan hakikinya. Buruh adalah warisan panjang dari zaman yang timpang. Ia adalah narasi orang -orang yang kalah. Orang-orang yang tercerabut kemerdekaannya.

Sudah semenjak lama ketika roda sejarah berputar: budak, hamba sahaya, dan kini kelas pekerja, diteruskan ambisi suatu golongan masyarakat yang mensegregasinya menjadi golongan-golongan. Dari sejarah demikian itu, buruh dipekerjakan, dikuasai, dan dihisap melalui suatu aktivitas kerja.
Tapi, kemerdakaan bukanlah berkah bagi kelas pekerja. Dengan kata lain, ia bekerja bukan dalam keadaan yang sejati. Tidak dalam keadaan merdeka.

Marx membedakan, pekerjaan yang merdeka itu karena didorong oleh suatu ikhtiar yang bebas. Tanpa tekanan dan intimidasi. Sedangkan buruh di bawah sistem kapitalisme menjadi mahluk determinis. Ia bekerja atas dasar tekanan dan paksaan.

Itulah sebabnya, kerja di bawah bayang-bayang kapitalisme justru tidak manusiawi. Ia menjadi proses alienatif. Kerja yang sejatinya sebagai realisasi kemanusiaan akhirnya berubah menjadi momok yang eksploitatif.

Pertama, ia tercerabut dari hasil kerjanya. Seorang pekerja sepatu, sehari-hari menghasilkan sepatu. Di pabrik-pabrik ia mengeluarkan satu-satunya yang dimilikinya: tenaga. Dari itu tercipta sepatu yang sehari-hari dijual pabrik di etalase-etalase. Namun, sepatu itu bukan miliknya, walaupun itu lahir dari tangannya.

Sepatu itu pada akhirnya bukan lagi materi yang padat. Bukan lagi seperti semula sebagai bahan-bahan yang disentuh tangannya. Ia, kata Marx, tiba-tiba "menguap begitu saja di angkasa". Kapitalisme-lah yang mentransformasikannya: semula hasil pekerjaan sang buruh, tapi dia "menguap" di etalase pasar.

Kedua, sang buruh menjadi manusia yang kehilangan dimensi sosialnya. Waktunya banyak ia berikan untuk pabrik. Selama lebih dua belas jam ia tak bisa menikmati waktu senggangnya. Ia tak bisa bersosialisasi sebagai anggota masyarakat: berinteraksi, berbelanja, jalan-jalan, menonton film, liburan, sekolah, dlsb. Singkat kata, ia menjelma mahluk asosial. Terasing dari lingkungan sosialnya.

Pada akhirnya akibat dua kenyataan di atas, sang buruh teralienasi dari dirinya sendiri. Dia tidak mampu merasakan produk kerjanya sendiri lantaran sistem jual beli pasar mentransformasikan sepatu yang dibuatnya menjadi lebih mahal dari upah yang diterimanya. Manusia yang sejatinya mahluk sosial, akibat jam kerja padat dan panjang, membikinnya berjarak dari hakikat dirinya. Dia menjadi asing atas dirinya sendiri.

Kerja macam demikian di era modern menjadi mesin raksasa yang menggerakkan sejarah. Di pabrik-pabrik, buruh bekerja bersebelahan dengan mesin-mesin yang mengambil alih tenaga manusia; di kantor-kantor: para karyawan bekerja mengolah berkas-berkas melalui meja birokrasi berlapis-lapis; di institusi-institusi pendidikan, tenaga pengajar memeras otak melalui mesin kurikulum; dokter-dokter, guru-guru, jurnalis, para hakim, sastrawan, pengacara, pramugari, seniman, programer dlsb. (profesi yang belakangan dikatakan Antonio Negri sebagai buruh immaterial), ketika semuanya hanya “menukarkan” keahlian dan tenaga di bawah sistem akumulasi modal, maka di situ-lah hak milik lenyap diambil alih “sistem raksasa” yang disebut kapitalisme.

Syahdan, kerja di hari ini tidak lagi menjadi medium maksimalisasi nilai kemanusiaan, justru sebaliknya: modal.

Modal dengan begitu adalah pokok tapi juga sekaligus momok. Dia berfungsi melipatgandakan kekayaan, alat tukar, tapi ia juga sebagai alat eksploitasi.

Dalam sejarah kontemporer, modal bertransformasi menjadi informasi: sesuatu yang beberapa dekade belakangan menggerakkan, menghubungkan, dan menguasai interaksi orang-orang, menjadi modal utama ketika dia disebut “kecerdasan umum”. Kecerdasan umum (general intellect) seperti yang dibilangkan Marx adalah kecerdasan kolektif yang diprivatisasi lantaran dia menjadi standar universal mengetahui segala jenis pengetahuan teoritis dan praktis tentang sesuatu.

Itulah sebabnya misalnya, Mark Suckerberg melalui perusahaannya banyak meraup keuntungan bukan lantaran aplikasi yang diciptakannya, melainkan karena facebook menjadi standar universal dalam berkomunikasi. Dengan kata lain, ia merebut segala ruang komunikasi dan memonopoli jalur informasi dari jenis aplikasi sepertinya. Dia menguasai pengetahuan dan melegitim “hak kekayaan intelektual” dari segala yang berkaitan dengan facebook.

Pendidikan sebagai tempat pengetahuan kolektif, di dalam skema kapitalisme kontemporer, menjadi bagian dari skema terbentuknya “kecerdasan umum”. Ia bertindak sebagai wadah yang memproduksi bahasa, simbol, dan teks dalam rangka tindak lanjut dari produksi kapitalisme yang semula bersifat material menjadi simbolis. Melalui fungsi ini, intitusi pendidikan menjalankan fabrikasi menyiapkan tenaga-tenaga kerja ahli sesuai pekerjaan perusahaan-perusahaan.

Inilah juga mengapa ilmu pengetahuan dalam skema kapitalisme pada akhirnya diprivatisasi melalui intitusi-intitusi pendidikan (inilah dasar mengapa tenaga ahli melalui ijazah menjadi indikator pekerjaan).

Belakangan, pendidikan justru berubah mengenaskan. Alih-alih membebaskan manusia dari “situasi asal” menjadi “situasi merdeka”. Di saat yang lain, ia menjadi sumber kecemasan: biaya yang tinggi, kurikulum yang padat, penyelenggaraan yang semrawut, tenaga pengajar yang tidak kontekstual, penelitian-penelitian pesanan dan sekolah-kampus yang jadi elit.

Ia dengan kata lain menjadi asing bagi orang banyak. Ia menjadi lingkungan privat. Bahkan, pendidikan akhirnya menjadi tidak membahagiakan.

Pendidikan dengan begitu, sama halnya dengan aktivitas kerja buruh yang mengasingkan dirinya. Murid-murid, mahasiswa-mahasiswa, di jam-jam belajarnya, seolah-olah buruh pabrik yang terasing. Ilmu yang diprivatisasi, mengasingkan dirinya dari ilmu yang tidak kontekstual. Ilmu lantaran diproduksi melalui “teks kekuasaan” kenyataannya membikin pembelajar tercerabut dari fenomena hidupnya sehari-hari. Ilmu menjadi tidak praktis.

Pada akhirnya, pendidikan melalui intitusinya menjadi “ruang publik” yang sama sekali tidak “publik.” Di dalamnya, nasib publik sama sekali samar-samar mulai hilang. Lantas justru menjadi menara gading. Terasing.

03 Mei 2018

Idola

IDOLA. Eike agak kesulitan mencari cara tepat menuliskan perbedaan idola dan kebenaran. Mengingat belakangan, idola dan kebenaran dianggap identik. Bahkan dalam politik, idola dilihat sebagai representasi kebenaran itu sendiri.

Padahal idola kadang mengecoh. Ia bahkan tidak pernah bermakna apa-apa selain empity: kekosongan.

Dalam ilmu sosial (sosiologi), ada teori dramaturgi yang diperkenalkan Erving Goffman. Teorinya membilangkan setiap manusia menarasikan dirinya berdasarkan peran yang ingin ia bangun di atas panggung. Dunia sosial adalah panggung dunia peran. Begitu pendakuan Goffman.

Sayangnya, manusia memiliki sisi yang sering ia sembunyikan di belakang panggung. Di atas panggung barangkali ia memainkan peran protagonis, tapi sebaliknya berbeda ketika di belakang panggung. Ia menjadi mahluk yang sama sekali berbeda dari perannya di atas panggung.

Idola adalah peran yang disesuaikan di atas panggung. Ia disusun, dibentuk dan direkayasa. Di hadapan sorot mata orang-orang, idola adalah persona yang mengidealkan ekspektasi orang banyak. Ia kasatnya sedang bermain peran sesuai harapan orang-orang yang melihatnya.

Ketika dibelah, dunia interaksi manusia ditopang melalui dua panggung peran. Pertama, Erving Goffman menyebutnya front stage; ia adalah sisi depan panggung. Ruang pertunjukkan yang disaksikan banyak orang. Di front stage inilah, setiap idola bermain peran. Ibarat teater; sang idola mempermainkan karakter ciptaan sebagai image. Kedua adalah back stage: ini adalah sisi panggung yang tersembunyi dari pantauan orang-orang. Di sisi inilah, peran berhenti dimainkan. Sang idola kembali kepada karakter dasarnya.

Akibat panggung depan dan panggung belakang sama sekali berbeda, maka ia sesungguhnya merepresentasikan dua sosok yang juga berbeda. Ia menampilkan dan menyembunyikan dua sosok sekaligus di atas panggung. Di atas panggung sang sosok menampilkan “aku ideal” sekaligus menyembunyikan “aku real” bersama-sama. Sementara di belakang panggung “aku real” menunda “aku ideal” yang banyak berperan di atas panggung.

Dua panggung ini dengan kata lain adalah medan kontradiktif yang menunda sekaligus mengacaukan peran sesungguhnya “aku ideal” dan “aku real”. Saling bertukarnya dua peran ini pada akhirnya mengacaukan juga siapa yang sebenarnya menjadi image sesungguhnya.

Itulah sebabnya kamus Meriram-Webster’s menguraikan sembilan makna idola sebagai representative or symbol of an object of worship (perwujudan atau simbol dari sebuah objek peribadatan). False god (tuhan palsu), a likeness of something (sesuatu yang menyerupai), retender (orang yang suka berpura-pura), impostor (penipu yang lihai), a form or appereance visible but without substance (bentuk atau penampilan yang terlihat namun tak bermateri), an enchanted phantom (momok, hantu, setan yang memesonakan), an object of extreme devotion (obyek yang sangat digemari), ideal (idaman), a false conception (konsep yang salah), fallacy (pikiran yang keliru).

Asal usul kata idola berasal dari bahasa Yunani eidolon yang berarti “image” atau “form”. Dalam filsafat Yunani, filsuf yang memandang rendah “image” adalah Platon. Dia menganggap, filsafat harus menangkap “isi” bukan “image”. Kebenaran hakiki dalam hal ini menurut Platon bukanlah “citra” atau “penampakan” benda-benda melainkan “substansi” benda itu sendiri.

Itulah sebabnya, di masa Platon hidup, dirinya memandang sinis pekerjaan seorang seniman. Seorang seniman, menurut Platon hanyalah orang-orang yang mempertunjukkan “image”, “citra” dan “bentu-bentuk” di atas panggung. Teater mereka hanyalah “menduplikasi” substansi dari segala sesuatu.

Alkisah, di masa hidup Nabi Musa, pengikutnya pernah “dikritik” Al Quran akibat menciptakan tuhan palsu berupa lembu emas. Kala itu, ketika Musa pergi selama 30 hari, seseorang bernama Samiri menciptakan patung lembu untuk mengembalikan keyakinan umat Musa kepada keyakinan sebelumnya. Singkat cerita tidak sedikit yang teperdaya ajakan Samiri untuk menyembah patung buatannya.

Konsep idola jika ditelusuri asal usulnya, ditemukan dari kisah umat Nabi Musa di atas. Di kisah itu, Tuhan direplika Samiri melalui patung lembu emas. Bahkan tidak sekedar direplika, lembu emas justru menjadi Tuhan itu sendiri. Momen ini juga diabadikan Al Quran untuk menarasikan suatu pengertian yang kelak disebut idolatry.

Idolatry dalam kisah Nabi Musa adalah pembendaan tuhan melalui pencitraan lembu emas. Tuhan diidentikan menjadi lembu emas. Pemujaan terhadapnya disebut pemberhalaan. Era kiwari, idolatry tidak sekedar memuja benda-benda, melainkan sosok minus pokok. Sosok tanpa pokok itulah yang disebut idola.

Dengan kata lain, ia adalah empity: kekosongan.

Tapi, sayangnya sudah dibilang sebelumnya, dunia sosial adalah dunia peran. Idola yang hari ini tampak di panggung-panggung hanyalah “bentuk-bentuk”, “citra-citra” semata. Dia bukanlah wakil absah dari suatu keyakinan. Ia, sekali lagi hanyalah kekosongan.

Lalu bagaimanakah keyakinan dapat dibuktikan keabsahannya sebagai suatu prinsip kebenaran? Dalam kitab Raudhah Al-Wa’idhin Imam Ali bin Abi Thalib menyeru: “Kebenaran tak dikenal dari orangnya (pelakunya). Kenalilah kebenaran maka kau akan mengenal pelakunya.”


12 April 2018

Ideologi

IDEOLOGI. Dua unsur penting ideologi: edios dan logos. Unsur pertama dari edios mengandaikan terbangunnya tatanan ide, gagasan, konsep pemikiran, atau sekumpulan cita-cita yang menjadi dasar harapan dari sekumpulan atau sekelompok masyarakat.

Sementara logos ditandai dari artinya sebagai kata atau ilmu yang secara sistematis menjadi basis rasional dari edios yang berfungsi sebagai sistem pengetahuannya.

Ideologi yang hanya menitikberatkan kepada unsur edios semata akan menjadi cita-cita utopis. Atau mungkin sekadar menjadi harapan kosong. Hanya sebatas angan-angan belaka.

Tanpa dasar logos, dia hanya menjadi sekumpulan visi tanpa realisasi. Cita-cita tanpa isi, bagai mimpi di siang bolong. Dia menggerakkan, tapi hanya sekadar bergerak.

Sebaliknya jika ia mengandalkan unsur logos saja, ia menjadi sains belaka. Ilmu an sich. Persis seperti kedudukan ilmu-ilmu positivistik yang tidak memiliki visi dan semangat. Dan mungkin saja gairah.

Ilmu tanpa edios, menjadi ilmu yang tak memiliki harapan, tanpa gelora dan cita-cita. Tanpa telos tertentu.

Malangnya, belakangan masyarakat banyak terkonfigurasi oleh ideologi-ideologi politik dan agama yang cacat. Ada ideologi yang hanya mengedepankan unsur edios, dan ada yang sebaliknya lebih mengedepankan unsur logos. Atau malah justru ada yang tanpa kedua-duanya.

Kelompok masyarakat yang mengonsumsi ideologi tanpa logos mudah diidentifikasi dari caranya mengampanyekan ide-idenya: janji-janji semata. Ibarat hidup di atas halimun, hanya mengandalkan surga-surga eskapisme. Jalan pelarian dengan mengandalkan imajinasi semata.

Sementara kelompok-kelompok kepentingan yang mengandalkan unsur logos semata hanya menjadi elit-elit masyarakat tanpa mampu mencium bau harapan-harapan terdalam masyarakatnya. Dia ibarat hidup di menara gading dengan kecanggihan ilmunya, tapi kaki-kakinya tidak pernah melangkah bersama di "tanah" sebenarnya.

Syahdan, ideologi tanpa logos akan menjadi penjual harapan-harapan semu. Hanya akan menjual doktrin-doktrin imajinasi yang membuat masyarakat ibarat katak yang hidup dalam tempurung.
Dan, jika tanpa edios, ideologi hanya menjadi pengetahuan minus inspirasi. Pengetahuan tanpa cita-cita dan tentu saja: cinta.

09 April 2018

Doxa


Platon adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis Philosophical Dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Platon pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Platon adalah guru dari Aristoteles.


DOXA. Doxa pertama kali diucapkan Platon dari antipodanya: episteme. Doxa dan episteme, bagi Platon dua kategori yang kontradiktif. Doxa, bagi Platon adalah jenis pengetahuan yang menyesatkan, atau opini yang tidak berbasis kebenaran. Sementara episteme, adalah tatanan ideal mengenai pengetahuan sejati. Bahkan, bagi Platon episteme adalah kebenaran itu sendiri.

Platon menarasikan doxa dan episteme melalui dua tatatanan dunia: intelligible world (dunia idea) dan visible world (dunia fisik). Melalui “pergerakan” jiwa manusia mampu mengakses tatanan intellegible world untuk menemukan pengetahuan sejati. Menurut Platon, jiwa sebelum disandera jasad, bebas bergerak di alam intelligible world. Menurut Platon, di alam visible world, jiwa mengalami keterbatasan akses akibat terbatasnya modalitas jasadiah ketika mengarahkan perhatiannya kepada alam dunia idea.

Bagi Platon, pengetahuan yang lahir dari dunia visible world bukanlah pengetahuan sesungguhnya tentang sesuatu. Ia hanyalah “replika” sesuatu yang berasal dari dunia intelligible world. Karena karakter ruang dan waktu dunia visible world, seluruh pengetahuan yang berasal dari sana hanyalah imitasi, semu, dan mudah lenyap.

Itulah sebabnya, untuk mengetahui sesuatu yang sesungguhnya manusia mesti membebaskan jiwa dari tatanan visible world. Platon menganjurkan perhatian manusia menuju tatanan intelligible world. Membebaskan jiwa dari doxa yang menjadi karakter visible world menuju episteme hakikat dari tatanan intelligible world.

Hanya di dalam intelligible world-lah pengetahuan sejati sebenarnya ditemukan.

Teori alegory of cave Platon adalah narasi yang paling banyak dirujuk untuk mengilustrasikan peran doxa dan episteme.

Manusia menurut Platon adalah mahluk yang terjebak alegori; pengetahuan yang masih samar-samar. Manusia bisa jatuh dan terjebak ke dalam “bayang-bayang” realitas jika dia tidak keluar melampaui “api” sebab bayang-bayang itu berasal. Manusia mesti membebaskan dirinya keluar dari mulut gua, menuju tepi batas dan merangkak naik menuju satu-satunya sumber segala cahaya di luar gua.

Doxa adalah bayang-bayang, pantulan api yang dikira pengetahuan yang benar. Sementara, episteme adalah sumber yang dilupakan dalam narasi “mahluk gua” Platon. Suatu sumber di mana perhatian mesti ditempatkan.

Kisah manusia gua Platon adalah kisah betapa jiwa manusia begitu rentan terperangkap alegori. Dia bisa jatuh dan mendera sakit akibat terjebak doxa. Atau sebaliknya, mengoptimalisasi jiwanya menuju episteme sebagai sumber kebenaran.

Teori alegory of cave Platon sebenarnya salah satu part dari teori pengetahuannya. Bagi Platon, sesungguhya jiwa manusia adalah manifes episteme. Dengan begitu dia menyimpan pengetahuan dalam dirinya semenjak asal. Namun, akibat jiwa mengalami “kejatuhan” ke dalam jasad. Seketika manusia kehilangan akses untuk mengetahui episteme segala sesuatu.

Melalui narasi inilah Platon sebenarnya mengingatkan, jalan pulang manusia menuju dunia sejati hanya mampu ditempuh melalui jalan pengetahuan. Kembalinya jiwa tidak seperti narasi yang dikembangkan agama-agama bahwa ia akan kembali dengan membawa amal-amalnya ke alam “pertanggung jawaban” akhirat. Bagi Platon, jiwa kembali hanya dengan satu syarat: episteme.

Dengan kata lain, dunia pasca kematian adalah dunia pengetahuan. Ia hanya bisa diakses dan ditempuh oleh satu-satunya modal yang dimiliki manusia: penalaran.

Itulah sebabnya, masih menurut Platon, bukan doxa, melainkan penalaran episteme, yang mampu mendudukkan kembali jiwa ke asalnya. Dunia pertama tempat jiwa-jiwa bercengkerama dengan hakikat ilmu-ilmu.

Malangnya, tidak semua jiwa manusia mampu menempuh dan mengakses dunia episteme. Bahkan ada jiwa-jiwa yang tak mampu kembali ke dunia episteme lantaran tidak memaksimalkan daya penalarannya. Akibatnya manusia justru bertungkuslumus di dalam doxa akibat sulit membedakan yang mana sebenarnya doxa dan yang mana sejatinya episteme. Dia akhirnya menjadi mahluk yang terjebak alegori, atau karena minimnya penalaran ia bahkan jatuh disekap doxa.

Doxa banyak mengalami transformasi di dalam pengalaman masyarakat modern. Iman agama yang sebelumnya dianggap doxa akibat bersandar kepada mistisme dan mitos mengalami pasang surut lantaran evolusi pemikiran manusia melalui momentum renaisance. Seketika seluruh artikulasi pengalaman manusia mesti diterjemahkan melalui pendekatan sains.

Dalam tinjauan sains, doxa adalah seperangkat pemahaman yang tidak memiliki bukti-bukti empiris. Dia opini yang berkembang tanpa melibatkan penyelidikan kritis. Atau keyakinan umum yang dipegang begitu saja tanpa diketahui sumber dan bagaimana dia mesti diyakini.

Diskursus marxian menyinonimkan doxa dengan false consciousness (kesadaran palsu). Kesadaran palsu dicurigai pemikir marxian sebagai “wacana” yang dikembangakan elit masyarakat borjuis untuk mengibuli masyarakat umum. Kesadaran palsu karena demikian dia bersifat ideologis.

Kesadaran palsu bekerja melalui dua modus pengalaman manusia: politik dan ekonomi. Melalui politik doxa berkembang menjadi ideologi. Sementara melalui interaksi ekonomi masyarakat, doxa berperan dalam membentuk pasar. Ideologi dan pasar adalah dua modus pengalaman yang berkembang dan membentuk struktur kapitalisme modern.

Itulah sebabnya, kapitalisme adalah produk pemikiran yang paling dicela pemikir marxisme. Hal ini karena secara politik kapitalisme menjadi sumber berkembangnya praktik-praktik penjarahan di muka bumi. Melalui modus pasar bebas, kapitalisme membelah masyarakat menjadi dua tatanan: proletar dan borjuis. Kapitalisme-lah satu-satunya ideologi yang sampai hari ini masih bertahan akibat mampu menyembunyikan praktik penindasan atas nama hak-hak asasi individu.

Belakangan, doxa berkembang pesat di dalam struktur masyarakat informasi. Doxa dalam era kiwari mudah dikenali dengan nama hoaks. Hoaks adalah pemahaman khas dari jaringan kompleks informasi media massa. Ciri utama hoaks adalah informasi yang tidak ditopang oleh dua syarat: bukti empiris dan analisis logis.

Bagi masyarakat yang belum melek literasi, dua syarat di atas belum menjadi syarat utama ketika mengonsumsi informasi. Hilangnya dua syarat di atas diakibatkan lumpuhnya modalitas utama manusia berupa penalaran logis yang dikendalikan dua arus utama: fundamentalisme agama (ekstrimisme agama) dan fundamentalisme pasar (kapitalisme).

Melalui fundamentalisme agama, tradisi pemikiran keagamaan menjadi tidak bermakna apa-apa selain berupa doktrin, dan melalui fundamentalisme pasar, kehidupan sosial ekonomi masyarakat hanya menjadi arena saling berebut keuntungan.

Lantas bagaimanakah fundamentalisme pasar dan fundamentalisme agama bisa menjadi langgeng?

Hoaks. Hanya lewat hoaks-lah jaringan kesadaran masyarakat dipertahankan sedemikian rupa demi mempertahankan relasi kekuasaan.

Itulah sebabnya, akhir-akhir ini hoaks berkembang pesat melalui dua modus utama (politik dan ekonomi) dengan memanfaatkan dua arus besar yang paling banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat: agama dan pasar.

Syahdan, di masa sekarang ketika informasi menjadi salah satu variabel penting bagi interaksi masyarakat, hoaks banyak tersebar dan dikonsumsi masyarakat. Bahkan ia adalah doxa yang memerangkap pemahaman manusia menjadi pengetahuan palsu. Malangnya, doxa di era pasca-kebenaran banyak menyekap jiwa manusia dengan simbol-simbol agama sekalipun.

28 Maret 2018

Badaruddin Amir: Esai itu Tulisan yang Genit


Esai itu tulisan yang genit. Dia diibaratkan seseorang yang datang dan mencubit pipimu dan kemudian pergi. Begitulah esai di mata Badaruddin Amir. Pendakuan ini ia sampaikan saat menyampaikan materi dalam pelatihan menulis esai bagi Guru-Guru Bahasa se-Kabupaten Sidrap beberapa waktu lalu.

Badaruddin Amir seorang sastrawan Sulsel. Dia tangkas menghidupkan suasana forum. Sebelumnya, forum ibarat ruang tunggu yang sepi lantaran materi yang cenderung teoritis. Kaku. Dan mungkin membosankan.

Sebelum Pak Badar, begitu ia disapa, eike yang berkesempatan pertama kali memberikan materi. Begitulah, semenjak Pak Badar mendapatkan giliran, dengan pengalamannya yang segudang mengampu pelatihan-pelatihan menulis, forum berubah 180 derajat.

Sebenarnya slide-slide materi yang disampaikan Pak Badar tidak jauh berbeda dari apa yang sudah eike sampaikan. Tapi, dari cara penyampaian, dan beragamnya contoh pengalaman yang ia ajukan, membuatnya menjadi bintang forum. Ya, semenjak mengetahui akan dipanel dengan beliau, dari awal eike sudah memosisikan diri sebagai peserta kesekian yang kebetulan duduk di sebelah Pak Badar.

Kalau mau jujur, selama ini Badaruddin Amir tidak familiar di telinga eike. Ini bukan karena Pak Badar tidak tenar dalam dunia kesusastraan maupun literasi di Sulawesi Selatan, melainkan lingkaran pergaulan eike yang masih selebar daun kelor. Juga jelajah bacaan eike yang tidak meningkat-meningkat sehingga belum sempat membaca tulisan-tulisannya.

Nama Badaruddin Amir pertama kali eike temukan di dunia maya. Secara tidak sengaja eike melihat postingan cerpen beliau yang kebetulan nongol di beranda Fb. Karena merasa ganjil, kala itu eike memberanikan diri mengomentari beberapa kata dalam cerpennya. Tidak disangka komentar itu memancing pendiskusian yang lumayan panjang. Bahkan mengundang orang-orang dekat Pak Badar turut berkomentar.  Akibat saling kritik, eike mencoba mengintip-intip dinding Pak Badar. Setelah beberapa saat, rasa-rasanya beliau ini bukan orang biasa.

Tak disangka kami dipertemukan dalam kegiatan yang sama.

“Rival saya ini,” canda Pak Badar sambil menyalami eike ketika pertama kali bertemu. Sebelum forum dibuka kami sempat terlibat diskusi ringan. Pak Jamal selaku pihak yang mengundang heran. Dia mengira kami sama sekali belum saling mengetahui. Ternyata aksi “kritik-mengkritik” di Fb beberapa waktu lalu cukup berkesan bagi Pak Badar. Dia tidak semata-mata lupa dengan eike.

“Dulu di Pedoman Rakyat tradisi kritik diapresiasi. Saling kritik itu baik, yang penting tidak membawa personalitas di dalamnya” begitu seingat eike perkataan Pak Badar ketika kami duduk berdiskusi ringan. Dia juga menerangkan posisinya terkait “polemik” yang ditimbulkan Denny JA yang belakangan booming. Bahkan dia menilai usaha Denny JA dalam memperkenalkan  “puisi esai-nya” sudah tidak wajar.

“Di Sulawesi Selatan saya yang pertama kali dihubungi Denny JA untuk ikut mengapresiasi puisi esainya,” ucap Pak Badar di saat mengatakan penolakannya. “Dampak-dampaknya kelak berbahaya,” sambungnya.  Apa yang dikatakan Pak Badar ini jelas merujuk kepada upaya yang dilakukan Denny JA menghimpun sastrawan-sastrawan di seluruh daerah Tanah Air dengan memberikan bayaran sebanyak lima juta dengan catatan mau menulis puisi-esai dalam rangka ikut mempromosikannya.
Bahkan kalau tidak salah ingat, ia juga sempat mengatakan sudah menulis beberapa pandangannya tentang puisi-esai dalam esai yang diikutkan dalam kelompok penulis yang tidak sepakat dengan sepak terjang Denny JA.

Di siang itu forum berjalan lancar-lancar saja. Walaupun sebelumnya eike mesti bergegas dari Makassar semenjak Subuh agar sampai di lokasi kegiatan pukul 8 pagi. Langit yang tidak berubah cerah dan hujan yang awet ikut menemani selama perjalanan.

Apa boleh buat, keadaan tidak bisa dilawan sepenuhnya. Eike tiba pukul delapan lewat. Hampir pukul sembilan, bahkan.

Ketika naik ke lokasi kegiatan di lantai dua, sepintas eike melihat seorang pria paruh baya duduk mengenakan topi hitam melalui celah pintu. Tidak langsung masuk, eike memilih duduk sebentar di bagian depan sambil mengatur napas. Dengan terkejut eike bertemu seorang senior semasa di kampus. Sekarang ia menjadi seorang guru sejarah. Ternyata ia salah satu peserta di kegiatan ini. Tak dinyana, sekarang eike yang bergantian memberikan materi seperti yang pernah ia lakukan di masa masih mahasiswa dulu. Ah, begitulah, dunia bekerja.

Pria paruh baya itulah Pak Badaruddin Amir. Ia datang lebih awal dengan menggunakan topi dan duduk sembari menengok layar gawainya. Nampaknya Pak Badar lumayan aktif di dunia maya. Cerpen maupun esainya, sering ia posting di sana.

“Tulisan yang kamu komentari itu sebelumnya sudah saya kirim di Fajar, tapi saya enggan memotongnya menjadi lebih pendek,” ungkap Pak Badar. Ia nampaknya tidak setuju jika karya tulisnya mesti dipermak sampai harus memenuhi kolom “sempit” yang disediakan koran-koran selama ini. Itulah sebabnya ia lebih memilih memostingnya di dunia maya yang jauh lebih banyak memberikan ruang bagi karya tulis yang panjang.

Di tengah pemaparan materi memang ada sedikit pembahasan tentang apa yang dimaksudkan “pendek” ketika mengartikan cerpen. Apakah ia ditentukan oleh faktor internal semisal jumlah karakter? Atau jalan cerita yang sekali dibaca sudah dapat menangkap karakter tokohnya? Atau memang lebih ditentukan oleh faktor eksternal semisal medium cerita itu diterbitkan, yang dalam hal ini sangat ditentukan oleh space yang ada pada setiap koran, majalah, atau junal?

Pertanyaan ini akan makin membingungkan jika tradisi kepenulisan cerpen dikaitkan dengan tradisi tulis menulis di luar negeri. Pengalaman Eka Kurniawan ketika menerjemahkan karya-karya cerpennya ke bahasa asing  misalnya, menggambarkan ternyata cerpen-cerpen yang ditulis penulis-penulis luar negeri jauh lebih panjang dari apa yang dituliskan cerpenis-cerpenis dalam negeri. Kala itu seperti yang dituliskan Eka melalui blognya, editor yang menerbitkan tulisannya sempat membandingkan cerpen-cerpennya yang lebih pendek dari cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan.

Menurut Eka, cerpen-cerpen yang ditulis di Tanah Air selama ini lebih banyak ditentukan oleh kolom yang disediakan media cetak. Sehingga ikut memengaruhi cara bercerita cerpenis ketika membangun narasinya. Menurut eike, efek paling membahayakan bagi pembaca adalah batas kemampuan membaca yang akhirnya tidak tahan membaca narasi yang panjang. Kata “pendek” dengan kata lain sudah pertama kali mendikte pembaca sehingga sulit memiliki energi lebih ketika berhadapan dengan narasi yang lumayan panjang.

Salah satu yang menarik selama pemaparan, menulis diibaratkan Pak Badar seperti berenang. Semua orang tahu seluruh gaya berenang, mereka tahu perbedaan di antara gaya kupu-kupu dengan gaya punggung, tapi itu hanya sebatas pengetahuan. Berenang yang sesungguhnya adalah ketika seseorang sudah di dalam air. Ketika dia sudah berpraktik. Sudah mau melakukannya. Begitulah yang dimaksudkan Pak Badar, menulis hanya disebut menulis ketika dia dilakukan.

Sebelumnya, eike sempat malu sendiri. Pasalnya tidak ada tandamata berupa buku yang eike hadiahkan kepada Pak Badar. Sebaliknya, sebagai pamungkas dan tanda karya, eike diberikan buku kumcer beliau Latopajoko & Anjing Kasmaran. Di sini kelihatan kan, siapa sebenarnya penulis?

---

Terbit sebelumnya di Kalaliterasi.com


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...